© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Malam yang Tak Terlupakan

BILA kita menuruni bagian pelabuhan kota Kopenhagen, kita akan tiba di sebuah jalan raya yang baru tetapi sepi bernama Vestervold. Di kiri-kanannya terdapat beberapa rumah dan di atas jalan itu bergantungan beberapa lampu gas yang meneranginya pada waktu malam. Jarang sekali terlihat orang di situ. Bahkan hal ini masih saja kita jumpai dalam musim panas.

Malam kemarin aku mengalami suatu peristiwa di jalan itu. Aku naik-turun melalui jalan itu beberapa kali. Dari jauh tampak seorang wanita yang berjalan ke arahku. Tak seorang pun yang kelihatan selain wanita itu. Lampu-lampu gas telah terpasang, tapi nyalanya agak suram, sehingga muka wanita itu tidak begitu jelas tampaknya. Aku berpikir, mungkin seorang anak yang lain akan berjalan di belakang membuntutinya.

Pada ujung jalan raya itu, aku berbalik. Wanita itu berbalik juga. Aku cepat-cepat melewatinya. Mungkin dia sedang menantikan seseorang, demikian pikirku.

Ketika untuk ketiga kalinya kami berpapasan, kubuka topiku.

“Selamat malam! Anda sedang menunggu seseorang?” ujarku menyapanya.

“Tidak……”

“Bolehkah aku menemani Anda?”

Ia mengucapkan terima kasih padaku. Sebetulnya ia tidak sedang menunggu seseorang, hanya sekedar berjalan-jalan, demikian katanya. Jalan raya sepi-mati. Kami berjalan berdampingan, sambil bersenda gurau. Lenganku kuulurkan padanya.

“Terima kasih,” ujarnya seraya menggelengkan kepala.

Dalam kesuraman sinar lampu itu, aku tak dapat melihat mukanya dengan jelas. Kunyalakan geretan dan menerangi arloji tanganku. Nyala geretan itu kunaikkan sehingga menerangi mukanya.

“Jam 9.30,” ujarku.

Tiba-tiba ia menggigil.

“Kau kedinginan tentu. Marilah kita pergi mencari minuman penyegar. Ke mana? Ke Trivoli? National?”

“Aku tak dapat pergi sekarang,” katanya perlahan-lahan. Dalam samar cahaya malam itu masih sempat kulihat ia memakai selubung perkabungan yang panjang sekali.

Aku minta maaf, lalu melembarkan putung anak geretan itu ke dalam gelap. Melihat caranya memaafkan aku, dapatlah kutarik kesimpulan bahwa ia bukan wanita malam yang biasa.

“Kepitlah lenganku ini dan kau akan merasa hangat,” aku berkata sambil menyodorkan lenganku padanya. Lenganku dikepitnya.

Kami berjalan-jalan, ke sana kemari begerapa lamanya. Tiba-tiba ia menyuruhku untuk melihat jam sekali lagi.

“Jam sepuluh,” jawabku. “Di mana kau tinggal?”

“Di Gamle Kongevei.”

Wanita itu kuhentikan.

“Bolehkah aku mengantarmu?”

“Jangan, jangan! Kau tidak boleh mengantarkan aku ….. Bukankah kau tinggal di Bredegade?’

“Bagaimana kau tahu?” aku bertanya keheranan.

“Telah kutahu siapa kau,” jawabnya.

Hening. Kami berjalan bergandengan menuju terang lampu. Ia berjalan tergesa-gesa, sehingga selubungnya yang panjang  itu berkibar-kibar.

“Cepat!” katanya.

Di depan pintu gerbang rumahnya yang terletak di Gamle Kongevei, ia berbalik ke arahku, seakan-akan hendak mengucapkan terima kasih karena telah sudi mengawaninya. Kubukakan pintu untuknya. Perlahan-lahan ia masuk ke dalam. Pintu gerbang itu kudorong kembali pelan-pelan dengan bahuku, lalu berjalan di belakangnya. Di sini ia mencekal tanganku. Kami tak sanggup mengeluarkan kata-kata.

Kami menaiki tangga rumah itu dan berhenti pada tingkat kedua. Ia sendiri membuka pintu depan, kemudian pintu berikutnya, membimbing tanganku dan aku diantarnya masuk ke dalam. Di depan pintu ia berhenti beberapa saat. Tiba-tiba aku didekapnya, lalu dikecupnya dengan penuh birahi. Seluruh tubuhnya gemetar. Aku dikecupnya dengan mutulutnya!

“Duduklah sekarang,” katanya, “akan kunyalakan  lilin sebentar.”

Mataku menjalar melihat sekelilingku, dipenuhi oleh perasaan aneh dan ragu. Aku berada dalam sebuah rumah yang besar, sebuah kamar tamu yang mewah terhias. Beberapa pintu yang menuju ke kamar-kamar di sekitarnya tampak terbuka. Aku tak bisa membayangkan, manusia manakah yang sedang kuhadapi sekarang ini.

“Alangkah indahnya! Kau tinggal di sini?” aku bertanya.

“Ya, inilah rumahku,” jawabnya.

“Ini rumahmu? Kau seorang putri dalam rumah ini?”

Ia tertawa.

“Tidak, aku telah lama kawin. Nati akan kaulihat sendiri.”

Ia menanggalkan mantel dan selubungnya.

“Lihatlah,” katanya, lalu merangkul dan mendekapku sekali lagi dengan tiba-tiba, dihanyutkan oleh perasaan meluap yang tak terkendalikan.

Umurnya kira-kira dua puluh dua atau dua puluh tiga tahun. Pada jari kanannya terdapat sebentuk cicin. Ia cantik? Tidak, pada mukanya terdapat beberapa tahi lalat dan alis matanya hampir-hampir tidak ada. Tetapi pada wajahnya terlukis kegembiraan dan mulutnya bagus.

Ingin kutanyakan namanya dan di mana suaminya. Aku ingin mengetahui lebih jauh, dalam rumah siapa sekarang ini aku berada. Tetapi ketika mulutku hendak kubuka, ia menontarkan tumbuhnya kepadaku, seakan-akan melarang aku merasa aneh berada disitu.

“Namaku Ellen. Kau suka minum? Tentu, nanti kupesan, Tetapi sekarang juga kau harus masuk ke sana, ke kamar tidur.”

Aku masuk ke dalam kamar tidur. Lampu yang terpasang di kamar tamu  masih dapat menerangi kamar itu. Di situ terpasang dua ranjang yang rapi teratur. Ellen menekan bel dan memesan anggur. Kudengar bunyi langkah seorang gadis membawa minuman yang dipesan tadi, kemudian langkahnya menghilang, menjauhi kamar tamu. Ellen segera masuk. Sejenak ia berdiri di depan pintu memandang ke arahku. Aku bangkit berjalan ke arahnya. Tanpa menghiraukan apa-apa, ia berlari memburuku, tepat pada saat yang bersamaan……….

Peristiwa itu terjadi kemarin malam.

Ketika aku terbangun, hari telah siang. Cahaya siang menerobos masuk melalui kedua sisi tudung jendela. Ellen terbangun juga. Lengannya putih dan lembuh laksana berludru. Dadanya menonjol ke atas, sangat indah. Aku berbisik kepadanya, tetapi mulutku dikatupkan rapat-rapat dengan kedua bibirnya. Hening. Yang terdengar hanya detak jantung dan desah napas kami masing-masing. Hari bertambah terang juga.

 

***

 

DUA JAM kemudian aku bangkit. Demikian juga Ellen. Ia mengenakan pakaiannya. Di depan wastefel aku berdiri mematut-matutkan diriku, Ellen kemudian keluar untuk suatu keperluan di kamar sebelah. Ketika ia membuka pintu, aku menoleh dan melihat kedalam. Angin pagi yang sejuk berembus melalui jendela yang lebar terbuka. Aku terkejut, darahku seakan-akan berhenti berdesis. Di atas meja yang terletak di  tengah-tengah ruangan itu, terbujur mayat laki-laki dalam peti jenazah. Ia berpakaian putih, cambang dan jenggotnya berwarna kelabu. Kedua lututnya yang kurus menonjol kaksana sebuah tinju yang terkepal, serta mukanya pucat mengerikan. Semua itu kulihat dalam terang-siang. Aku berpaling kembali tanpa mengucapkan sepatah kata. Sampai saat ini, kengerian itu masih saja merayapi seluruh badanku. Hhhh!

Ketika Ellen masuk, aku sudah selesai berpakaian. Aku tak berdaya membalas dekapannya. Ia mengenakan beberapa macam pakaian lagi. Ia ingin mengantarkan aku sampai ke pintu gerbang. Hal itu kubiarkan saja. Di pintu gerbang ia menempelkan tubuhnya rapat-rapat pada tembok agar jangan kelihatan.

“Sampai berjumpa lagi!” bisiknya.

“Sampai besok?” aku bertanya sekadar hendak menguji hatinya.

“Jangan, lain kali saja.”

“Kenapa?”

“Ssst! Diamlah, kekasihku. Aku akan ke pekuburan besok. Seorang keluargaku meninggal. Kau sudah mengerti, bukan?”

“Lusa?”

“Ya, lusa saja, di pintu gerbang ini. Aku akan menunggumu.”

Aku pergi ………

 

***

 

SUNGGUH-SUNGGUH aneh! Siapa wanita itu? Lalu mayat siapakah yang terbujur dalam peti jenazah itu? Alangkah ngerinya; tinjunya terkepal, mulutnya kejang-kaku. Seolah-olah ia sedang melihat suatu komedi yang sangat aneh! Lusa ia mengharapkan kedatanganku lagi. Aku akan ke sana nanti?

Langsung saja aku berjalan ke Kafe Bernina, lalu kutanyakan jalan itu kepada seorang penunjuk jalan. Kucari nomor demi nomor pada Gamle Kongevei. Nah, nama itu sudah kutemukan. Di depan berada rumah, aku menanti sejurus, menanti datangnya harian pagi; mataku segera mencari , siapa orang yang meninggal hari ini. Nama itu kutemukan, tercetak dengan huruf tebal pada permulaan daftar itu. Suamiku meninggal hari ini setelah berbulan-bulan lamanya menderita sakit. Umurnya empat puluh tiga tahun. Tanggal pemberitahuan itu dua hari yang lalu.

Aku duduk beberapa lamanya merenungkan peristiwa itu. Memang aneh! Masih mungkinkan mereka itu suami-istri? Alangkah besar perbedaan umur keduanya. Dua puluh tahun bukanlah jumlah sedikit. Penyakitnya telah merenggutnya dari hidup bedampiingan dengan istri yang muda belia itu.

Tiga-tiba janda muda itu telah mengambang di dalam kepalaku. Ia tidak lagi menjalankan peranannya sebagai istri yang setia ………

 

KNUT HAMSUN

Lahir di Gudbransdal, Norwegia tahun 1859 dan meninggal tahun 1952. Hamsun, atau nama lengkapnya Knut Pedersen Hamsun, lewat karya-karyanya dianggap telah mencanangkan suatu zaman baru bagi sastra dunia. Ia sering disebut sebagai sang pemula dalam arus sastra modern yang memengaruhi banyak sastrawan yang muncul kemudian, mulai dari Maxim Gorki, Thomas Mann, Stefan Zweig, hingga Ernest Hemigway dan William Faulkner. Hamsun lebih dikenal sebagai novelis, meski ia juga menulis puisi. Sejak novel pertamanya Sult (1890) namanya mulai dikenal, disusul dengan novel Mysterier (1892) dan Pan (1899). Kemudian Svaermere (1904) dan mencapai puncaknya dalam Markens Grade (1917), yang diterjemahkan ke bahasa Inggris menjadi Growth of the Soil. (*)

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT