Connect with us

Art & Culture

Linguistik dan Strukturalisme Noam Chomsky

mm

Published

on

Bila minat dan pujian dijadikan ukuran, maka Noam Chomsky bisa dilihat sebagai ahli linguistik paling berpengaruh dalam abad kedua puluh ini. Chomsky mendapatkan pendidikan linguistiknya di bawah arahan Leonard Bloomfield yang empirisisme behavioristiknya mendominasi linguistik Amerika Serikat selama tahun 1930-an dan 1940-an, serta dari Zellig Harris yang pandangan-pandangan politiknya selama tahun 1950-an disukai Chomsky lebih daripada gaya strukturalisme linguistiknya.

Secara garis besar ada tiga sumbangan yang Chomsky berikan pada linguistik, yang berarti juga pada pemikiran modern. Yang pertama, ia mengalihkan penekanan linguistik dari tingkat deskriptif dan induktif yang ketat (tingkat pengkatalogan ujaran tak berkesudahan yang kemudian menjadi sumber/dasar pengambilan kesimpulan tentang tata bahasa) ke tingkat “Struktur dalam” dan kompetensi ideal, tingkatan yang membuka aspek kreatif dalam bahasa. Singkatnya, Chomsky menunjukkan bahwa bahasa itu lebih dari sekadar tindakan materialnya. Kedua, ia adalah orang pertama yang mengusulkan pengkajian ulang pengajaran bahasa dengan alasan bahwa kemampuan berbahasa tidak diperoleh secara induktif melalui pengkondisian behavion is mengenai rangsangan tanggapan, tetapi merupakan kosekuensi dari kapasitas kognitif bawaan yang dimiliki manusia. Dengan kata lain, kebebasan linguistik dan kreativitas tidak datang dari luar, tetapi selalu ada sebagai suatu keadaan apriori yang melakukan kendali. Ketiga, perbedaan antara “kompetensi” dan “kinerja” (performance) – bahkan ketika dipahami secara kurang memadai – menjadi suatu perlambang tentang telaah struktural dalam bidang lain seperti filsafat dan sosiologi (bdk., pengertian Habermas tentang “kompetensi komunikatif”, dan pengertian Bourdieu tentang habitus – pengertian yang menyuarakan  konsep pelaku menurut Chomsky).

Perlu diingat bahwa Chomsky juga adalah seorang intelektual liberal-kiri yang cukup vokal menentang keterlibatan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam, dan menulis sejumlah buku tentang masalah-masalah politik dalam dan luar negeri yang penting pada masanya. Beberapa yang cukup terkenal dari karyanya adalah: American Power and the New Mandarins (1969); The Backroom Boys (1973); Human Rights and American Foreign Policy (1978); The Fateful Triangle; The United States, israel, and the Palestinians (1983); Necessary illusions: Thought Control in Democratic Societies (1989); dan Deterring Democracy (1991).

Dalam sebuah tindakan yang tampaknya merupakan sebuah langkah mundur dalam pandangan politiknya Chomsky – yang adalah seorang Yahudi (ayahnya adalah seorang sastrawan Yahudi) – pada tahun 1980 menulis Pengantar pada karya terkenal Robert Faurisson yang tidak mengakui eksistensi kamar-kamar gas Nazi. Chomsky menuliskan Pengantar ini berdasarkan pada suatu prinsip (yang salah arah) bahwa untuk menjadi seorang liberal dalam bidang politik maka segala jenis opini memiliki hak yang sama untuk didengarkan.

Noam Chomsky lahir di Philadelphia pada tahun 1928. Pendidikan dasar ditempuhnya dalam sebuah “sekolah progresif eksperimental”, dan di Central High School, Philadelphia. Di University of Pennsylvania ia belajar matematika, dan filsafat serta linguistik di bawah arahan Zellig Harris. Meskipun gelar Ph.D. diperolehnya di University of Pennsylvania, sebagian besar waktu yang dipakai untuk menyelesaikannya dihabiskan di Harvard University antara tahun 1951 dan 1955. Sejak tahun 1955 Chomsky mengajar di Massachusetts Institute of Technology dan menjadi profesor di Institut tersebut sejak tahun 1976.

Melalui ayahnya – yang menerbitkan Hebrew: The Eternal Language  (1958) – Chomsky berkenalan dengan linguistik historis. Karya pokok pertama adalah tesis Masternya – juga tentang bahasa Ibrani (Yahudi) – berjudul Morphophonemics of Modern Hebrew (1951). Oleh karena Chomsky berminat juga pada logika dan matematika, maka tidak mengherankan bahwa ia lebih tertarik pada karya-karya para ahli logika (Goodman, Quine, Kripke, Lakatos, Hintikka) dan para filsuf analitis (Austin dan Wittgenstein) daripada karya-karya filsuf atau ahli linguistik dari yang disebut sebagai tradisi Kontinental. Minat semacam ini kadang-kadang memberikan gaya kaku yang umum berlaku dalam ilmu-ilmu alam. Seperti yang sudah dikatakanya, misalnya pada fisika, minat intelektual linguistik lebih banyak terdapat pada kekuatan penjelas prinsip-prinsipnya daripada gejalanya (produk bahasa)[1].  Menurut Chomsky “ilmu pengetahuan alam, yang berbeda dari sejarah alam, tidak terkait dengan gejala-gejala itu sendiri melainkan dengan prinsip dan penjelasan yang bisa mereka berikan”.[2] Pendekatan semacam itu – yang tampak juga dalam logika – mensyaratkan bahwa gaya-gaya tertentu (penggunaan notasi), format (pemakaian contoh-contoh kecil), dan metode (idealissi) dianggap sudah menjadi aksioma dan pada umumnya tidak perlu mendapatkan telaah kritis. Ini berarti bahwa meskipun karyanya sudah dipakai ditempat lain (seperti di Prancis), Chomsky sering belum bisa terlibat dalam dialog dengan para ahli linguistik dengan pra-anggapan yang diwarisi dari tradisi yang berbeda.

Pada awalnya Chomsky berupaya menjelaskan bagaimana seorang pemakai bahasa yang ideal bisa membangkitkan dan memahami kalimat-kalimat gramatikal baru dan unik tanpa harus menemuinya dalam praktek. Kemudian ia berusaha menunjukkan bahwa sekumpulan aturan transformasi terbatas yang berhingga dan terinci membentuk “kompetensi” seorang pemakai bahasa yang ideal, dan kompetensi ini akan menghasilkan kalimat-kalimat gramatikal. Menurut Chomsky, “kinerja” yang sesuai dengan sejumlah kalimat gramatikal tertentu yang diungkapkan oleh seorang pemakai bahasa memberikan bukti (korpus) untuk melihat kompetensi orang ini, dan ia menambahkan bahwa kompetensi tidak dengan sendirinya melahirkan suatu apresiasi yang jernih dan pelaksaan aturan-aturan generatif pada si pemakai bahasa. Namun, kompetensi harus dilihat sebagai yang setara dengan  cara meng-ada –nya sang pembicara didalam bahasa. Dengan kata lain, kompetensi adalah kondisi kemungkinan kemampuan berbahasa; kompetensi menyatu dengan pembicara, lebih daripada cara-cara lainnya.

Sekarang kita beralih pada aspek-aspek teori bahasa menurut Chomsky, dan pertama-tama kita memusatkan diri pada pengertian tentang  tata bahasa “generatif”. Tata bahasa adalah sejenis sistem aturan dasar yang secara rekursif mendefinisikan dan membentuk transformasi kalimat. Hal ini terkait dengan “kompetensi” dasar seorang pembicara-pendengar yang ideal, suatu kompetensi yang memungkinkan dibentuknya kalimat-kalimat sempurna dengan potensi jumlah yang tak terbatas. “Generatif” memunculkan istilah matematis “generator”. Yang terakhir ini menghasilkan “fungsi pembangkit” (generating function) – misalnya, 2x + 3y + z = 0 – yang memberikan solusi yang tak berhingga jumlahnya. Chomsky sendiri mendefinisikan tata bahasa generatif sebagai sekumpulan aturan yang dalam mendefinisikan satu himpunan (objek) “bisa dianggap membangkitkan himpunan ini”[3] Kemudian ia melanjutkan:

Sebuah tata bahasa (generatif) bisa dianggap membangkitkan serangkaian deskripsi struktural yang secara ideal masing-masingnya memasukkan sebuah struktur dalam, struktur permukaan, interprestasi semantik (dari struktur dalam), dan interpretasi fonetik (dari struktur permukaan).[4]

Dengan mengikuti pendekatan Chomsky dalam Syntactic Structures, struktur sebuah tata bahasa generatif akan memiliki tiga tipe pokok (perlu diingat bahwa tata bahasa menjelaskan bagaimana kalimat itu dimunculkan):

Tata bahasa keadaan terbatas: hanya bersifat linear, sehingga kalimat-kalimat dimunculkan dengan menggunakan pilihan sederhana dari kiri ke kanan dan yang dipilih di depan akan membatasi pilihan yang ada di belakangnya.

Tata bahasa struktur frase: ini terkait dengan upaya parsing (klasifikasi unsur-unsur pembentuk struktur “permukaan” sebuah kalimat), dan terkait dengan makna ganda yang mungkin ditimbulkannya dalam susunan frase yang sama: “laki-laki dan wanita tua” (mengikuti contoh dari Lyons) bisa berarti  “laki-laki dan (wanita tua)”, atau “(laki-laki dan wanita) tua”.

Tata bahasa transformasional: ini adalah sebuah cara untuk membentuk suatu struktur baru (seperti bentuk aktif ke pasif) melalui sekumpulan aturan yang didasarkan atas rantai horizontal struktur frase dasar (yang diwakili oleh penanda frase) dan pada “pohon” vertikal yang muncul pada saat dilakukan pengkajian mengapa rantai ini muncul.

Chomsky mampu menunjukkan bahwa baik tata bahasa struktur frase maupun tata bahasa transformasional lebih kuat (yaitu bisa melakukan lebih banyak ) daripada tata bahasa keadaan terbatas (finite state grammar), dan bahwa tata bahasa transformasional itu merupakan tata bahasa yang lebih kuat daripada tata bahasa struktur frase. Pada dasarnya tata bahasa transformasional adalah sumbangan Chomsky pada teori umum tentang  tata bahasa. Kedua tata bahasa lainnya – meskipun belum terformalkan sebelumnya – sudah ada dalam linguistik sebelum munculnya karya Chomsky. Tata bahasa transformasional sajalah yang bisa membentuk aturan-aturan dasar yang tercakup pada pembicara-pendengar ideal pada satu bahasa, misalnya bahas Inggris. Logika di balik tata bahasa transformasional adalah bahwa jika setiap ujaran mengandung suatu aturan unik sebagai prasyarat keterterimaannya, maka aturan yang harus dipertimbangkan akan terlalu banyak. Jelas bahwa jumlah aturan tidak setara dengan jumlah ujaran; inilah yang dikandung oleh tata bahasa mana pun. Di sisi lain, Chomsky menunjukkan bahwa jika berbagai kalimat – yang tampaknya berbeda pada tingkatan “permukaan” tata bahasa struktur frase – sebenarnya adalah transformasi dari satu aturan yang sama, maka tata bahasa ini bisa menjadi sangat rumit dan kurang memiliki kekuatan penjelas. Oleh sebab itu, tata bahasa struktur frase akan menjadi terlalu rumit jika ia dijejali dengan semua aturan pembentukan kalimat pada pembicara-pembicara ideal. Secara singkat bisa  dikatakan bahwa sebuah tata bahasa transformasional adalah satu cara agar aturan pembentukan kalimat direduksikan sampai sekecil-kecilnya. Dari sudut yang agak berbeda, tata bahasa transformal yang memberikan aturan-aturan kompetensi, setara dengan pengertian pemikiran Chomsky tentang “struktur dalam”.

Kita perlu meninjau satu sisi lain dari teori bahasa Chomsky sebelum sedikit mengkaji karya-karyanya. Hal ini terkait dengan upayanya untuk menyederhanakan teorinya tentang tata bahasa generatif dengan mengaitkannya pada pengertian tentang “kapasitas kognitif”.[5]

Karena ia yakin bahwa secara induktif kita tidak bisa menjelaskan kemampuan berbahasa dan kompetensi bahasa (yang mensyaratkan kreativitas bahasa), atau dalam kerangka teori rangsangan-tanggapan, maka dalam upaya menjelaskan sifat bahasa manusia, Chomsky menyandarkan diri pada pengertian bahasa sebagai sesuatu yang bersifat bawaan dan khas ada pada manusia. Secara khusus ia terpengaruh oleh pandangan Descartes tentang bahasa dan pikiran yang terikat begitu erat sehingga pengetahuan tentang bahasa bisa membuka pengetahuan tentang pikiran manusia. Oleh sebab itu, bagi penemu tata bahasa generatif ini, secara mendasar bahasa adalah bagian dari psikologi manusia – psikologi yang dipahami sebagai teori tentang kemampuan pikiran manusia. Dengan demikian, asal usul kompetensi bahasa lebih bersifat psikologis daripada linguistik; maka, tidakkah sebaiknya kita mengatakan bahwa asal usul bahasa itu merupakan bidang kajian psikologi? Dalam pandangan ini Chomsky mendapatkan pengaruh dari Descartes dan tradisi rasionalis ilmiah abad ketujuh belas. Bukannya memberi bahasa suatu status otonom – seperti yang berlangsung pada abad kedua puluh dengan pandangan strukturalis dari Saussure – rasionalisme abad ketujuh belas melihat bahasa sebagai suatu ungkapan dri subjek psikologis. Tampaknya Chomsky percaya bahwa hanya dengan mengidentifikasikan diri dengan tradisi ini kita bisa bersikap adil terhadap esensi kreatif dan dinamis dari bahasa, dan menghindarkan diri dari kemunduran ke arah upaya penjelasan secara empiris. Menurut Chomsky, sebenarnya empirisisme Saussure yang baru berkembang (atau bahkan yang sudah berkembang) membuatnya kurang bisa diterima penganut linguistik generatif. Menurut para ahli linguistik penganut Cartesian, akhirnya Saussure lebih mengistimewakan parole (wicara) dari pada langue (struktur gramatikal).[6]

Jika  demikian, apa yang bisa kita peroleh dari karya Chomsky? Kita akui bahwa kajian mendalam tentang tata bahasa generatif perlu memanfaatkan keahlian teknis Chomsky dalam linguistik. Di luar itu ada banyak yang masih harus diperdebatkan, bahkan untuk orang awam sekalipun. Maka, meskipun teori tata bahasa generatif itu jelas merupakan salah satu keberhasilan intelektual abad kedua puluh, paling tidak ia memiliki empat kekurangan.

Kekurangan pertama terkait dengan pemahaman idealisasi. Dalam kaitan ini kita ingat bahwa yang dimaksudkan dengan kompetensi di sini adalah “kompetensi pembicara-pendengar yang ideal”. Masalah yang muncul tidak terkait dengan semunya “kompetensi” ini (yaitu yang tidak pernah direalisasikan secara empiris, tetapi dengan situasi bahwa kompetensi ini diidentifikasikan dengan suatu unsur non-linguistik, yaitu “pembicara-pendengar”, bukannya dengan bahasa itu sendiri. Di sini idealisasi setara dengan pandangan rasionalis Chomsky yang mengatakan bahwa bahasa itu merupakan  ungkapan dari sesuatu yang lain yaitu, sesuatu kemampuan kognitif seseorang yang tidak bisa dipisahkan dari psikologi individu. Lalu muncul pertanyaan, bahasa macam apa yang bisa menjadi ungkapan psikologi individual. Namun, apakah bahasa itu hanya merupakan ungkapan sesuatu? Apakah ia melelu bersifat transparan? Semiotika dan poetika modern menghendaki bahwa jawabannya adalah tidak, karena ada juga bahasa puitis; bahasa yang bersifat (relatif) kabur.

Kita andaikan bahwa Chomsky akan menjawab dengan mengatakan bahwa idealisasi adalah sebuah keniscayaan metodologis dan tidak boleh dikacaukan dengan cara kerja bahasa itu sendiri. Kesulitannya adalah bahwa kita tidak mungkin menghindari pandangan bahwa idealisasi itu terkait dengan prinsip kompetensi itu sendiri – kompetensi yang setara dengan kalimat yang tak berhingga banyaknya ( = ideal). Masalah lain yang terkait dengan idealisasi ini adalah – seperti yang ditunjukkan Kristeva – bahwa ia (idealisasi) tidak mampu memahami bahasa sebagai suatu proses realisasi. Tingkatan “kinerja” menurut Chomsky tidak berhasil mengubah hal ini. Ini karena kinerja hanya memfokus pada ujaran yang sudah diucapkan; ia tidak memikirkan proses realisasi itu sendiri, yang diistilahkan sebagai tingkatan diskursus menurut Benfeniste. Sebagai akibatnya, pandangan dan pemahaman bahasa menurut Chomsky lebih bersifat statis daripada dinamis.

Masalah lain yang terdapat pada pandangan linguistik Chomsky ini menjalar dari penekanannya pada kompetensi seorang pembicara bahasa ibu (native speaker) sebagai pembicara model suatu bahasa. Paling tidak ada dua masalah yang muncul di sini. Yang pertama adalah apakah seorang pembicara bahasa ibu adalah  sebuah model yang memadai tentang cara kerja bahasa. Meskipun dalam meninjau adalah ketatabahasaan ada beberapa keuntungan bila kita mengandalkan seorang penutur bahasa ibu, tidak bisakah dinyatakan bahwa secara ideal para penutur ini (entah native speaker atau bukan) mendapatkan kefasihannya dengan banyak cara? Kenyataannya adalah bahwa hal-hal ini tidak bisa dianggap berasal dari bahasa saja. Kedua, bisa dikemukakan bahwa satu aspek pokok dari bahasa adalah kemungkinan keterjemahanya. Chomsky melupakan aspek ini dalam upayanya memberikan penekanan pada kompetensi seorang penutur bahasa asli (native speaker)

Akhirnya, tampak bahwa rasionalisme Chomsky ini merupakan sebuah reaksi berlebihan terhadap karakter behaviorisme dan empirisisme dalam lingkungan filosofis dan linguistik Anglo-Amerika tempat ia dibesarkan dan dididik. Sebagai akibatnya, ia sering tampak sebagai seorang rasionalis yang bersusah payah berjuang melawan kekuatan empirisisme. Walaupun begitu, jelas bahwa sekarang ini perdebatan teoretis yang penting tentang bahasa dan filsafat tidak terbatas pada pertentangan yang muncul antara rasionalisme dan empirisisme. Ketidakmampuan Chomsky untuk menyadari hal ini tampak merupakan suatu kelemahan yang sirius. (*)

*John Lechte, FIlsuf.

[1] Noam Chomsky, Language and Responsibility, Based on Conversations with Mitsou Ronat, terjemahan John Ciertel. New York, Pantheon Books, 1979, hlm. 58-59.

[2] Ibid., hlm 59.

[3] Noam Chomsky, Language and Mind, (edisi besar), New York, Harcourt Brace Jovanovich, 1972, hlm. 126.

[4] Ibid.

[5] Sebagai contoh, lihat karya Noam Chomsky, Reflections on Language, London, Temple Smith dalam kerja sama dengan Fontana Books, 1976 (dicetak ulang 1977), Bab 1 dan passim.

[6] Ironisnya adalah bahwa sebagian besar kritikus Saussure (seperti Bourdieu) cenderung mengatakan bahwa ia lebih mengutamakan langue daripada parole.

Continue Reading
Advertisement

Art & Culture

Arus Balik Nusantara dan Kemacetan Kesadaran Bahari

mm

Published

on

Getty Image/ Ivan Aivazovsky--Along the Coast

Masih dapatkan arus balik membalik lagi? Itulah pertanyaan dalam epos “Arus Balik” karya Alm. Pramoedya Ananta Toer, juga pertanyaan utama bangsa ini sejak abad 16 lalu yang belum kunjung terjawab hingga sekarang ini. Dan kini kita menyaksikan dengan kengiluan bagaimana kehidupan para nelayan yang terlunta dan tersandera oleh kebijakan, kultur sekalian kesadaran bangsanya sendiri atas kebahariannya.

Oleh Susan Herawati *)

Siapakah kita, siapakah bangsa indonesia? Bagi kami yang hidup berdampingan dengan kehidupan para nelayan, masyarakat pesisir, laki-laki dan perempuan; kita, indonesia adalah nusantara—yang di dalamnya terkandung kekuatan dan kesatuan maritim, bangsa bahari yang pernah memiliki epos paling megah dan akbar di muka bumi ini! Kekuatan dan kesatuan maritim yang pada masa jayanya pernah menjadikan bangsa ini sebagai bangsa laut terbesar di antara bangsa-bangsa beradab di muka bumi.

Di mana seperti dikabarkan sastrawan besar kita Pramoedya Ananta Toer dalam epos dari karya Pulau Buru Arus Balik: “Kejayaan bahari kita menjadikan arus di muka bumi ini bergerak dari selatan ke utara, segalanya; kapal-kapalnya, manusianya, amal perbuatannya, cita-citanya, semua bergerak dari Nusantara di selatan, ke ‘atas angin’ di utara di Eropa, di Amerika. Sampai ketika zaman berubah…Arus berbalik—bukan lagi dari selatan ke utara tetapi sebaliknya dari utara ke selatan. Utara kuasai selatan, menguasai urat nadi kehidupan Nusantara.. perpecahan dan kekalahan demi kekalahan seakan menjadi bagian dari Nusantara yang beruntun tiada henti.” Inikah potret besar bangsa kita hari ini?

Lepas dari itu bagaimana pun tetap akan ada tokoh seperti Wiranggaleng, juga Idayu, pemuda dan pemudi desa nelayan yang sederhana, keduanya bertarung sampai ke pusat kekuatan Utara, ia memberi segala-galanya—walau hanya secauk pasir sekalipun—untuk membendung arus Utara. Lalu masih dapatkan arus balik membalik lagi?

Itulah pertanyaan dalam epos “Arus Balik” karya Alm. Pramoedya Ananta Toer, juga pertanyaan utama bangsa ini sejak abad 16 lalu yang belum kunjung terjawab hingga sekarang ini. Dan kini kita menyaksikan dengan kengiluan bagaimana kehidupan para nelayan yang terlunta dan tersandera oleh kebijakan, kulturl dan kesadaran bangsanya sendiri, masyarakat pesisir yang bersetia menjaga lautnya siang dan malam itu, para anak turun sang Wiranggaleng, Idayu, Rama Cluring… anak kandung bangsa bahari yang pernah paling Berjaya dan perkasa di atas muka bumi, kini hidup dalam periuk kemiskinan yang inti.

*

Mari kita kenang sejenak dan menjauhkan cakrawala batin kita tanpa bermaksud mengajak romantisme dalam glorifikasi semu, mari melihat lembar sejarah agar kita mengingat dan menumbuhkan kepercayaan diri akan siapa kita? Bahwa kita adalah bangsa bahari dari Selatan, yang pada abad-abad lalu, kapal-kapal angin dari Negeri Utara, dari bangsa-bangsa Eropa dan Amerika itu—apalah artinya, hanya saumpama kambinng di sebelah kuda, begitu kecil dan lambat dibanding kapal-kapal Nusantara yang besar dan laju! Ingatkah kabar yang ditulis sastrawan kita Pramoedya…

“Dahulu adalah seorang anak desa dari kampung nelayan Tuban, Nala Namanya, kelak ia adalah empu kapal sekaligus ahli kayu yang menjelajah muka bumi dan tahu hanya jenis kayu lunas namanya, terbaik yang bisa menghadapi laut dan hanya bangsa nusantara yang punya, menempel di dinding-dinding kapal-kapal kita yang bak elang! Bocah Nala itu dikarunia oleh para dewa dengan banyak cipta. Untuk majapahit dia menciptakan kapal-kapal besar dari lima puluh depa panjang dan sepuluh depa lebar, bisa mengangkut sampai delapan ratus orang prajurit dan dua ratus tawanan, kapal-kapal besar, ya terbesar di dunia ini, di selurh jagad ini. Pada tiang agungnya selalu terpasang bendera merah-putih yang berkibar tak jemu-jemunya. Seperti bendera kapal-kapal kecil Tuban saat ini, hanya lebih pendek.
Beratus-ratus kapal semacam itu dibuat di galangan-galangan Majapahit di Tuban, Gresik, Kawal, Panarukan, Pasuruan, Pacitan, Juana.. aku kira jumlahnya takkan kurang dari tiga ribu. Penuhlah laut dengan armada bangsa Nusantara. Setiap di antaranya pasti akan kalian sangka istana Dewi lautan. Dan setiap kapal pimpinan selalu berlayar sutra kuning gemerlapan.. tak ada yang menyerupai besar dan kelajuannya. Kapal-kapal atas angin itu, huh, apalah artinya, seperti kambing di sebelah kuda saja. Dan bila semua layar telah dikembangkan, laksana elang ia meluncur meninggalkan di belakangnya semua bikininan manusia yang terapung di atas laut. Seribu bajak takkan bisa memburu apalagi mengepungnya!”
*
Begitulah bangsa indonesia tercinta ini adalah bangsa besar dan disegani bangsa-bangsa lain di muka bumi ini sebelum arus itu berbalik. Kita adalah bangsa dengan sejarah sebagai penentu garis utama peradaban dunia baik dalam ilmu pengetahuan, teknologi inovasi, kekayaan, politik dan ekonominya. Pelaut dan nelayan kita adalah para pemberani, para kstaria, masyarakat produktif yang mampu berdaulat, mendiri dalam mengibarkan panji-panji kejayaannya. Kemakmuran dan kekayaan dikelola dalam sistem perdagangan global yang adil, bangsa dan rakyat yang disegani dunia karena kamajuan, kesatuan dan kekuatan baharinya. Nyatalah kita bukan bangsa kerdil yang menjadi buruh dan miskin persis di tepi lautnya sendiri.

Tapi kita hari ini telah ratusan tahun, berabad  sejak arus berbalik dari utara ke selatan, kita seakan dininabobokan dan dikalahkan sehingga seakan menjadi bangsa kerdil akibat dari kekosongan dan kekalahan penguasaan pengetahuan modern, sistem moral yang menjungkirkan egalitarianisme, kesetaraan gender, juga kosongnya kepemimpinan dalam arti moral dan historis dimana kebaharian justeru diabaikan dan nyaris tak pernah lagi mendapat prioritas kebiajakan strategis nasional dalam semua ihwal rencana visi dan misi kepemimpinan indonesia sejak abad 16 lalu !

Kita memalingkan muka dan nyaris saja meninggalkan sejarah bangsa sendiri, bahwa kita bahari, kita bangsa produktif, kita bangsa inovatif, bangsa dengan masyarakatnya yang cerdas, mampu mengurus sumber dayanya sendiri, sanggup mengurus lautnya sendiri, sanggup berdaulat dan bersikap adil atas nama kemanusiaan.

*
Karenanya hari ini penting untuk bangkit, membangun sistem ekonomi, sistem sosial, pengetahuan dan moral berdasar pada artikulasi historis kita sebagai bangsa bahari. Nusantara yang produktif, berdaulat, mendiri dan sanggup mengurus lautnya sendiri.

Para elit negeri, percayakan laut pada mereka nelayan laki-laki dan perempuan, mereka tahu caranya mengurus lautnya, berdaulat pangan dari kekayaan lautnya, melestarikan dan menciptakan inovasi ekonomi dari sumber daya agararia kelauatan.

Misi indonesia sebagai bangsa bahari modern harus memastikan kesadaran yang tidak macet, kesadaran akan pentingnya ekonomi nasional yang bertumpu pada pemajuan ekonomi bahari, komoditas laut kita harus diurus dan dikelola oleh bangsa sendiri, oleh nelayan baik laki-laki mau pun perempuan; industri kelauatan modern harus dibangun, tidak lagi menjadi bangsa pragmatis yang menjual komoditas mentahnya ke ekspor global sementara kita bisa menciptakan nilai tambah luar biasa besar dari kekayaan sumber daya agraria kelautan kita.

Kita bahkan sama sekali tidak perlu impor garam, ikan, dan pangan laut lainnya selama ribuan tahun asal pemerintah dan kita semua benar-benar memiliki kesadaran kebangsaan bahari dan mau berpihak serta bekerja keras mengembalikan arus agar berbalik dari indonesia ke dunia!

Pada akhirinya, ini soal itikad sejarah dan kehendak bersama untuk mengakhiri kemacetan kesadaran kebaharian kita yang telah mandek sejak berabad lalu dalam sistem politik, sistem ekonomi juga perangkat pengetahuan dan ekonomi kita. Kita tak perlu   lagi mewacanakan kepemimpinan bahari indonesia di dunia jika para pihak khususnya para pemimpin indonesia tidak kunjung bertaubat nasuha dari kesadaran keliru atas sejarah kejayaan bangsanya sendiri !

*) Susan Herawati, Pecinta Laut, Puisi, dan Masyarakat Bahari Indonesia.

Continue Reading

Art & Culture

Rekki Zakkia: Dalam Kehilangan dan Jalan Ketuhanan nun Indah

mm

Published

on

Saya memutuskan menapaki jalan sepiritual sambil berharap Tuhan masih memeberi kesempatan untuk saya dapat menulis keindahan-keindahanya.

Oleh : Doel Rohim *)

Malam itu, saya berkesempatan bertemu Rekki Zakkia. Generasi saat ini tentu bertanya siapa nama dan sosok itu? Tapi pada akhir 90an atau awal tahun 2000an dia adalah salah satu sastrawan yang namanya juga turut beredar mengisi ruang sastra generasi saat itu.

Dia eorang sastrawan yang hampir kehilangan imaji sastranya, bahkan semangat hidupnya setelah sekian lama memerangi penyakit Skizofrenia yang di deritanya. Baru-baru ini ia seperti menemukan gairah hidupnya kembali,  setelah mengeluarkan sebuah kumpulan sajaknya yang sudah lama hilang. Kumpulan puisi yang ia sebut sebagai anak ruhaninya ini baru saja ia temukan, yang ternyata disimpan oleh sahabatnya yang ia pikir sudah tidak bisa diselamatkan.

Beberapa kumpulan puisi ini, merupakan catatan dirinya dalam menghayati dinamika sosial politik, agama hingga identitas dirinya sebagai manusia dalam priode tahun 1998-2009.

Waktu yang cukup menguras energinya dalam menapaki pergulatan batin yang lebih sering terbentur hingga akhirnya ia tak lagi punya daya untuk sekedar menulis sajak, yang pernah menjadi jalan sunyi yang digelutinya.

Kali ini saya ingin mengajak Rekki untuk menyusuri ingatannya kembali terkait proses kepenulisan dan kesustraanya kembali. Di temani segelas kopi dan sebungkus rokok saya pelan-pelan masuk dengan beberapa pertanyaan. Ia bicara pelan, tapi sepenuhnya masih sastrawan.

Sejak kapan anda mulai menulis?

Saya menulis sejak SMP, orang tua saya seorang seniman juga, bisa dikatakan pendakwah, akses buku di rumah sudah lumayan banyak, dari sana saya suka menulis. Begitupun orang tua saya tidak pernah mendorong untuk menjadi penulis, tetapi dengan apa yang dikerjakan ayah saya dengan pergaulanya bersama para kiai dan seniman, itu mendorong saya. Gairah menulis saya mulai muncul.

Apakah anda punya pengalaman terkait kepenulisan

di masa awal anda menggeluti dunia tulis menulis?

Ada, saat itu ketika saya masih SMP ada mahasiswa KKN dari IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta yang datang ke rumah saya, ia seorang sastrawan dari Teater Eska, saya memberanikan untuk tanya menggenai puisi, dan jawabanya hanya “pertanyaanmu itu puisi”, jawaban itu seperti petir yang menyambar kepalaku, dari sanalah saya yakin menulis menjadi jalan hidupku. Dari situ juga mulai mendalami kepenulisan mulai dari, puisi, esai dan cerpen.

Bisa di ceritakan peran ayah anda dalam proses kepenulisan anda?

Bapak saya sangat berperan dalam proses kepenulisan saya, beliau memberi kebebasan pada anak-anaknya dan memberi akses yang luas terhadap ilmu pengetahuan, menyediakan banyak buku dan jaringan para sastrawan yang bisa saya kenal dari bapak saya. Selain itu bapak saya juga memberi tauladan dalam membicarakan gerakan sosial kepada masyarakat yang bagi saya luar biasa, ia selama hampir 30 tahun memasukan kultur santri yang sebelumnya sangat jauh dari masyarakat saya, hingga perubahanya bisa dirasakan sampai sekarang. Dari sanalah saya mulai tertarik dengan gerakan sosial sejak kecil, hingga waktu SMA saya menjadi aktifis Frond Perjuangan Pemuda Indonesia, basis pelajar di Yogyakarta.

Anda masuk sebuah basis gerakan sosial sejak SMA, apa yang anda fikirkan saat itu?

Saya tidak tahu itu mengalir saja, awalnya ketika saya memilih sekolah SMA 8 di Yogyakarta. Kondisi sosial politik di masa akhir orde baru saat itu sangat bergejolak termasuk di Yogya, hampir setiap hari ada demonstrasi, berbekal pengetahuan dari buku yang saya baca panggilan untuk terlibat dalam aksi-aksi itu tak bisa dihindarkan, dan akhirnya saya masuk ke forn pelajar Yogya bergabung dengan mahasiswa ikut aksi-aksi menggulingkan Soeharto.

Apakah kondisi seperti itu berpengaruh dalam beberapa puisi yang anda tulis?

Masa puncak priode kepenulisan saya terhitung sangat pendek, tahun 96 sampai 98. Saat itu tulisan saya banyak di muat media di Indonesia, bahkan esai saya pernah menjadi yang terbaik di majalah Horison. Jelas, dalam rentang waktu yang pendek dengan latar kondisi sosial politik yang panas seperti itu, saya juga meresponya dengan beberapa puisi. Namun saat puncak demonstrasi sekitar tahun 98, saya lebih sibuk ke gerakan hingga saya sudah jarang menulis kembali.

Saya membaca beberapa puisi dalam buku yang anda cetak,

bernuansa spiritual dan itu sekitar tahun 98, apakah ada hubungannya dengan situasi saat itu?

Secara langsung tidak, itu moment bulan puasa saja, dimana saat itu saya mengalami situasi batin yang teramat rumit, mempertanyakan identitas diri begitupan eksistensi Tuhan dan munculah beberapa puisi yang bisa anda baca tersebut.

Adakah pengalaman tragis yang bisa anda ceritakan terkait proses kepenulisan anda?

Ini yang saya katakan saya kehilangan anak ruhani saya. Saat itu saya sedang mencintai seorang wanita, cinta yang tidak hanya sekedar cinta monyet seperti anak SMA. Tapi lebih dalam dari pada itu, seperti getaran batin yang hanya ada untuknya, kalau anda pernah dengar kisah cinta penyair besar Umbu Landu Paranggi kira-kira seperti itulah gambaranya. Hingga akhirnya saya menuliskan beberapa surat puisi untuknya,  terhitung hampir ratusan yang saya berikan padanya. Dalam surat tersebut tidak hanya sekedar puisi cinta tapi termasuk catatan saya terkait sosial politik yang saya kemas melalui bait-bait sajak. Saat beberapa kali saya kasih tahu pada teman yang bergelut di dunia sastra terkait karya tersebut, ia merekomendasikan untuk menerbitkanya. Dan saya sendiri yakin itu master pice dari proses kepenulisan saya, saat itu juga saya sudah ingin menerbitkanya menjadi buku, bahkan sudah ada judulnya.

Namun naas, bebarengan perempuan yang saya cintai itu menikah, dan akhirnya karya itu juga tidak terselamatkan. Ketika saya tanyakan, ia tak pernah bisa menjawab, mungkin sudah di bakar. Mulai dari sana hancurlah sebagian dari hidup saya, seperti halnya kehilangan anak ruhani yang saya persiapkan kelahiranya, namun hal tersebut tak pernah terjadi. Semenjak itu saya tak sanggub menulis puisi lagi.

Saat menceritakan prihal di atas, anda begitu haru dan emosional,

apa pengaruhnya dalam hidup anda?

Setelah kejadian itu, saya tak punya daya lagi untuk sekedar menulis, aktifitas gerakan setelah jatuhnya rezim Soeharto pun berhenti, para aktivis tercerai berai. Di masa awal kejatuhan Soharto saya masih berusaha bangkit Bersama kawan-kawan saya menghidukan dan menjalani agenda gerakan social bersama FFPI (Front Perjuangan Pemuda Indonesia). Secara otomatis aktifitas menulis saya sudah tidak saya lakukan lagi. Tahun 2002 saya terkena sakit Skizofrenia, saat-saat seperti itu kegiatan intelektual saya berhenti karna takut mengganggu proses penyembuhan. Tahun  2009 saya berusaha bangkit dengan masuk kampus UNY jurusan sastra, baru dapat satu semester kondisi tidak setabil kembali.

Akhirnya saya memutuskan menapaki jalan sepiritual sambil berharap Tuhan masih memeberi kesempatan untuk saya dapat menulis keindahan-keindahanya. (*)

____

Pewawancara: Doel Rohem—penulis lepas, menempa proses kreatif dunia menulis di LPM ARENA Yogyakarta. | Editor: Sabiq Carebesth.

 

 

 

 

 

 

 

Continue Reading

Art & Culture

Irfan Afifi dalam Kejawaan dan Keislaman Yang Gelisah

mm

Published

on

Kondisi keberislaman kita hari ini, sebenarnya bukan suatu yang tiba-tiba terjadi, bahasa jawane ujug-ujug ana. Ada proses sejarah panjang yang sering kali, kita luput untuk memperhatikanya. Bahwa apa yang disebut sebagai “Islam” sering kali dikatakan oleh para orientalis hanya sebagai “lapisan tipis” dari kebudayaan Jawa. Ada beberapa orientalis yang kurang lebih berkata sama seperti karya-karya Geertz, Snock Hurgronje, Pigued, De Graff dan  juga yang lainya, setidaknya memberi label Islam yang ada di Nusantara mereka sebut sebagai “Islam sinkretis” dengan seluruh kandungan peyoratif yang dikandungnya yakni bercampur aduknya dalam sebuah adukan yang kurang lebih tidak jelas. Kira-kira seperti itu banyak dari para orientalis memposisikan Islam di kebudayaan Jawa. –Irfan Afifi

Oleh; Doel Rohim *)

Baru-baru ini penulis Irfan Afifi mengeluarkan sebuah buku yang di bicarakan oleh banyak orang. Buku yang diberi judul Saya, Jawa, dan Islam ini, mengulas pergulatan batin Irfan mengenai identitas kejawaan dan keberislaman yang mulai luntur bahkan hilang dalam dirinya.

Sejak itulah ia mencari, membangun batu bata pengetahuanya kembali, untuk menemukan jawaban atas kegelisahanya tersebut. Buku Saya, Jawa dan Islam, merekam dengan baik perjalanan pencarian diri yang hilang, yang sampai buku ini diterbitkan  sebenarnya belum selesai ia susun. Lelaki yang keseharianya tinggal di Yogyakarya ini, sampai hari ini masih bergelut dengan pencarian dirinya, sambil terus menulis di media yang ia gawangi Langgar.co ia mendokumentasikan catatan perjalanan pencarianya yang filosofis.

Saya berkesempatan menemui Irfan secara langsung di rumahnya Kamis (30/4/2019), untuk mencari tahu bagaimana proses kreatif kepenulisan hingga kegelisahan semacam apa hingga buku ini dapat respon positif dari banyak kalangan. Berikut ‘obrolan’ lengkapnya:

Bisa anda jelaskan konteks personal kenapa anda menulis buku Saya, Jawa, dan Islam?

Awalnya tulisan yang ada di buku itu adalah kumpulan dari tulisan saya di beberapa kesempatan yang semuanya berasal dari kegelisahan saya atas ke Islaman dan  ke Jawa-an dalam diri saya, yang seperti hilang dalam hidup ini.  Rasa kehilangan yang begitu dalam membuat diri saya merasa kurang lengkap, jiwa saya kering, hingga akhirnya saya mulai mencari dan mengidentifikasi ulang diri saya. Dari sanalah peoses awal saya mendalami identitas Jawa dan Islam saya yang hilang, yang ternyata selama ini dikaburkan oleh proses pajang sejarah bangsa ini terutama masa kolonialisme.

Sebelum jauh membicarakan buku anda, anda sekarang tergolong produktif menulis di media termasuk media anda sendiri Langgar.co mungkin juga yang lainya, bisa ceritakan kapan anda pertama kali menggenal dunia tulis menulis?

Haha saya belajar menulis sejak kuliah tepatnya saat saya masuk di Lembaga Pers Mahasiswa Balairung UGM tahun 2000-an. Kalau ingget dulu, kelihatanya saat itu saya tergolong paling aktif di LPM, bahkan hampir separo masa kuliah di kampus saya habiskan di bilik kantor Balairung, berangkat ke kantor mulai sore, hingga menjelang subuh saya baru pulang ke kontrakan dan gak jadi kuliah (tertawa lepas). Mungkin itu, pertama kali saya bersingungan dengan dunia tulis menulis. Saya masih ingat sejak SMA bahkan sampai masuk kuliah saya tidak banyak punya uang untuk sekedar membeli buku. Paling-paling pinjam buku, tapi karna saya tumbuh di tradisi pesantren budaya literasi saya terbantu dengan terbiasa membaca kitab kuning ayah saya.

Sebelum anda menulis biasanya mempunyai ritual khusus atau tidak, sebelum menggoreskan kata pertama?

Apa ya, saya terbiasa menulis setiap pagi setelah habis shubuh. Selain itu harus minimal dua bungkus rokok gudang garam yang menemani. Hahah biasannya baru bisa mulai nulis, di saat yang tepat biasanya saya seperti kejatuhan ilmu Tuhan dari langit , hahah.

Saya akan masuk lebih dalam buku yang anda tulis, dalam bab pertama buku Saya Jawa dan Islam, tulisan anda terlihat begitu emosional menceritakan proses awal kepenulisan buku ini hingga bisa diterbitkan, bisa anda jelaskan?

Haha iya memang, dalam bab pertama tersebut sebenarnya saya sedikit banyak menceritakan bagaimana proses awal saya menemukan identitas kultural saya yang hilang, yang sebenarnya sudah lama saya gelisahkan.  Pada awal tahun 2007 saat saya dipertemukan dengan salah seorang tukang pijat disekitar kontrakan saya dekat UGM, tiba-tiba saya di beri wejangan untuk mulai mandeg pribadi, mengatur empat pribadi dalam diri sedulur papat limo pancer, agar juga tidak hanya keseimbangan diri yang terpenuhi melainkan juga menemukan “makna” atau “diri “ itu sendiri. Wejangan tersebut membuat saya terperangah. Selain juga menyentil identitas ke Jawaan saya. Hal itu juga setidaknya meruntuhkan seluruh bangunan filsafat yang saya pelajari secara kukuh saat berada di bangku kuliah filsafat UGM. Dari sanalah saya mulai putar arah, menengok kembali identitas ke Jawaan dan ke Islaman saya, dengan mulai masuk dan tenggelam ke dalam wacana yang tersimpan dalam kesustraan lama Jawa seperti serat, suluk, dan babad. Bagi saya pilihan tersebut sungguh tidak mudah, saya perlu menata bangunan pengetahuan saya dari awal kembali menyusun sedikit demi sedikit, mencarinya di berbagai tempat di tengah posisi saya sudah mulai memikirkan kebutuhan keluarga. Itu sungguh pilihan sulit bagi saya saat itu.

Anda sering menggatakan bahwa proses yang anda lakukan saat ini sebagai “suluk” kira-kira apa makna kata tersebut dalam perjalanan pencarian anda?

Kata suluk sebenarnya kata kunci dalam tradisi tasawuf yang mempunyai arti “berjalan” atau “perjalanan”.  Dan perjalanan yang dimaksut di sini adalah menuju sangkan paran, jadi dalam kerangka keber “ada” an hidup manusia Jawa ia sedang melakukan perjalanan besar dari Allah menuju Allah. Atau bisa dikatakan sebuah gerak yang di “ada” kan (dumadi/maujud) menuju yang “ada” atau yang meng ”ada”kan (dadai wujud). Gampangnya sebuah perjalanan manusia dari sejak ia dalam sebuah kandungan menuju kematian, atau perjalanan dari Nya menuju Nya. Konsep sebuah “perjalanan”  tersebut oleh para wali atau ulama di tanah Jawa dahulu dalam bhasa Jawanya sepadan dengan ata laku, mlaku, lelaku, lelakon yang mempunyai arti harfiah “berjalan” atau “perjalanan”. Lha kata tersebut sering diterjemahkan dalam sebuah istilah baru sebagai “suluk” yang juga kata kunci dalam tradisi tasawuf Islam. Saya memposisikan proses perjalanan saya saat ini kira-kira seperti itu, sebuah perjalanan besar yang nantinya juga akan kembali kepadaNya.

Dalam buku yang anda tulis ini, anda berusaha mendekonstruksi wacana Islam Jawa yang sudah mapan. Selain itu anda juga sering menggatakan bahwa pangkal permasalahan besar keberislaman kita hari ini adalah konstruksi para orientalis  terkait  Islam Jawa lebih jauh kebudayaan kita. Bagaimana anda menjelaskan itu semua?

Sebelumnya saya ingin mengatakan bahwa kondisi keberislaman kita hari ini, sebenarnya bukan suatu yang tiba-tiba terjadi, bahasa jawane ujug-ujug ana. Ada proses sejarah panjang yang sering kali, kita luput untuk memperhatikanya. Bahwa apa yang disebut sebagai “Islam” sering kali dikatakan oleh para orientalis hanya sebagai “lapisan tipis” dari kebudayaan Jawa. Ada beberapa orientalis yang kurang lebih berkata sama seperti karya-karya Geertz, Snock Hurgronje, Pigued, De Graff dan  juga yang lainya, setidaknya memberi label Islam yang ada di Nusantara mereka sebut sebagai “Islam sinkretis” dengan seluruh kandungan peyoratif yang dikandungnya yakni bercampur aduknya dalam sebuah adukan yang kurang lebih tidak jelas. Kira-kira seperti itu banyak dari para orientalis memposisikan Islam di kebudayaan Jawa.

Dari sana saya mencari penjelasan lain dengan sudut pandang “rasa” keislaman saya. Mulai dari para pemikir muslim Indonesia seperti Hamka, Rasyidi, hingga karya-karya  Simuh Islam Mistis Ranggawarsita, ternyata juga tidak bisa memuaskan saya dengan penjelasan yang kurang lebih hampir sama memposisikan Islam Jawa bercampur aduk, tidak jelas bahkan saling kontradiktif.

Dari hal tersebut saya tersuruk untuk kedua kalinya, identitas yang membentuk saya, Jawa dan Islam saat ini ternyata saling menegasikan. Ada perselisihan atau tepatnya saling berhadap-hadapan yang sempat mengguncang diri saya. Dari sana juga saya mulai menyadari bahwa ada narasi kolonialisme, yang sejak lama tertimbun dan membentuk bingkai keislaman kita, yang sayangnya hingga hari ini terus menerus menjadi narasi besar para sarjana maupun akademisi kita yang selalu direproduksi sedemikian rupa hingga Islam Jawa tak pernah menemukan esensinya.

Secara umum buku anda membicarakan problem identitas yang banyak di alami oleh anak muda saat ini, ada pesan bagi anak muda kayak saya ini?

Memang banyak anak muda hari ini gagal mendefinisikan identitas kulturalnya sendiri. Sehingga cendrung terjebak pada pola pikir Barat yang menawarkan kebebasan, universalitas, yang menggaburkan identitas dirinya sebagai orang Jawa, Nusantara dan Indonesia. Cara berfikir barat yang lebih dominan masuk ke alam fikir kita saat ini, yang diharapkan membawa kemajuan dan akan semakin menemukan esensi kemanusiaan, ternyata menggiring kita untuk hanya menjadi manusia mekanik robot-robot berjalan. Dan apa yang kita sebut sebagai kemajuan di sisi lain juga secara tidak sadar beriringan dengan kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan. Hal tersebut secara tidak langsung bukan malah menuntun jalan kita untuk menemukan esensi kemanusiaan kita seutuhnya. Tapi kebalikanya kontraproduktif dengan jalan yang sebenarnya sudah digariskan oleh para leluhur kita melalui ekspresi tradisi budaya yang menyimpan pengetahuan untuk menemukan hakikat kemanusia kita. Temukan pancer dalam diri agar tegak, dapat menciptakan keseimbangan dalam diri, tahu dengan sangkan paran asal usul manusia dan akan dikembalikan kemana. Lha untuk menemukan pancer dalam diri di tradisi Jawa orang harus melakukan proses lelaku, laku, (suluk), dengan memaksimalkan semua potensi fakultas dirinya, dari lahir hingga batin mulai hati, jiwa, dan raganya. Dari sanalah manusia akan ketemu dengan hakikat hidup dan akan kemana hidup ini berjalan.

Kira-kira seperti itulah, doakan saya bisa istiqomah menjalankan proses lelaku perjalanan ini, yang entah sampai kapan dan dimana nanti ujungnya.

 

*) Doel Rohim: Penghuni Pondok Pesantren Kaliopak Yogyakarta dan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

 

 

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending