Connect with us

Art & Culture

Linguistik dan Strukturalisme Noam Chomsky

mm

Published

on

Bila minat dan pujian dijadikan ukuran, maka Noam Chomsky bisa dilihat sebagai ahli linguistik paling berpengaruh dalam abad kedua puluh ini. Chomsky mendapatkan pendidikan linguistiknya di bawah arahan Leonard Bloomfield yang empirisisme behavioristiknya mendominasi linguistik Amerika Serikat selama tahun 1930-an dan 1940-an, serta dari Zellig Harris yang pandangan-pandangan politiknya selama tahun 1950-an disukai Chomsky lebih daripada gaya strukturalisme linguistiknya.

Secara garis besar ada tiga sumbangan yang Chomsky berikan pada linguistik, yang berarti juga pada pemikiran modern. Yang pertama, ia mengalihkan penekanan linguistik dari tingkat deskriptif dan induktif yang ketat (tingkat pengkatalogan ujaran tak berkesudahan yang kemudian menjadi sumber/dasar pengambilan kesimpulan tentang tata bahasa) ke tingkat “Struktur dalam” dan kompetensi ideal, tingkatan yang membuka aspek kreatif dalam bahasa. Singkatnya, Chomsky menunjukkan bahwa bahasa itu lebih dari sekadar tindakan materialnya. Kedua, ia adalah orang pertama yang mengusulkan pengkajian ulang pengajaran bahasa dengan alasan bahwa kemampuan berbahasa tidak diperoleh secara induktif melalui pengkondisian behavion is mengenai rangsangan tanggapan, tetapi merupakan kosekuensi dari kapasitas kognitif bawaan yang dimiliki manusia. Dengan kata lain, kebebasan linguistik dan kreativitas tidak datang dari luar, tetapi selalu ada sebagai suatu keadaan apriori yang melakukan kendali. Ketiga, perbedaan antara “kompetensi” dan “kinerja” (performance) – bahkan ketika dipahami secara kurang memadai – menjadi suatu perlambang tentang telaah struktural dalam bidang lain seperti filsafat dan sosiologi (bdk., pengertian Habermas tentang “kompetensi komunikatif”, dan pengertian Bourdieu tentang habitus – pengertian yang menyuarakan  konsep pelaku menurut Chomsky).

Perlu diingat bahwa Chomsky juga adalah seorang intelektual liberal-kiri yang cukup vokal menentang keterlibatan Amerika Serikat dalam Perang Vietnam, dan menulis sejumlah buku tentang masalah-masalah politik dalam dan luar negeri yang penting pada masanya. Beberapa yang cukup terkenal dari karyanya adalah: American Power and the New Mandarins (1969); The Backroom Boys (1973); Human Rights and American Foreign Policy (1978); The Fateful Triangle; The United States, israel, and the Palestinians (1983); Necessary illusions: Thought Control in Democratic Societies (1989); dan Deterring Democracy (1991).

Dalam sebuah tindakan yang tampaknya merupakan sebuah langkah mundur dalam pandangan politiknya Chomsky – yang adalah seorang Yahudi (ayahnya adalah seorang sastrawan Yahudi) – pada tahun 1980 menulis Pengantar pada karya terkenal Robert Faurisson yang tidak mengakui eksistensi kamar-kamar gas Nazi. Chomsky menuliskan Pengantar ini berdasarkan pada suatu prinsip (yang salah arah) bahwa untuk menjadi seorang liberal dalam bidang politik maka segala jenis opini memiliki hak yang sama untuk didengarkan.

Noam Chomsky lahir di Philadelphia pada tahun 1928. Pendidikan dasar ditempuhnya dalam sebuah “sekolah progresif eksperimental”, dan di Central High School, Philadelphia. Di University of Pennsylvania ia belajar matematika, dan filsafat serta linguistik di bawah arahan Zellig Harris. Meskipun gelar Ph.D. diperolehnya di University of Pennsylvania, sebagian besar waktu yang dipakai untuk menyelesaikannya dihabiskan di Harvard University antara tahun 1951 dan 1955. Sejak tahun 1955 Chomsky mengajar di Massachusetts Institute of Technology dan menjadi profesor di Institut tersebut sejak tahun 1976.

Melalui ayahnya – yang menerbitkan Hebrew: The Eternal Language  (1958) – Chomsky berkenalan dengan linguistik historis. Karya pokok pertama adalah tesis Masternya – juga tentang bahasa Ibrani (Yahudi) – berjudul Morphophonemics of Modern Hebrew (1951). Oleh karena Chomsky berminat juga pada logika dan matematika, maka tidak mengherankan bahwa ia lebih tertarik pada karya-karya para ahli logika (Goodman, Quine, Kripke, Lakatos, Hintikka) dan para filsuf analitis (Austin dan Wittgenstein) daripada karya-karya filsuf atau ahli linguistik dari yang disebut sebagai tradisi Kontinental. Minat semacam ini kadang-kadang memberikan gaya kaku yang umum berlaku dalam ilmu-ilmu alam. Seperti yang sudah dikatakanya, misalnya pada fisika, minat intelektual linguistik lebih banyak terdapat pada kekuatan penjelas prinsip-prinsipnya daripada gejalanya (produk bahasa)[1].  Menurut Chomsky “ilmu pengetahuan alam, yang berbeda dari sejarah alam, tidak terkait dengan gejala-gejala itu sendiri melainkan dengan prinsip dan penjelasan yang bisa mereka berikan”.[2] Pendekatan semacam itu – yang tampak juga dalam logika – mensyaratkan bahwa gaya-gaya tertentu (penggunaan notasi), format (pemakaian contoh-contoh kecil), dan metode (idealissi) dianggap sudah menjadi aksioma dan pada umumnya tidak perlu mendapatkan telaah kritis. Ini berarti bahwa meskipun karyanya sudah dipakai ditempat lain (seperti di Prancis), Chomsky sering belum bisa terlibat dalam dialog dengan para ahli linguistik dengan pra-anggapan yang diwarisi dari tradisi yang berbeda.

Pada awalnya Chomsky berupaya menjelaskan bagaimana seorang pemakai bahasa yang ideal bisa membangkitkan dan memahami kalimat-kalimat gramatikal baru dan unik tanpa harus menemuinya dalam praktek. Kemudian ia berusaha menunjukkan bahwa sekumpulan aturan transformasi terbatas yang berhingga dan terinci membentuk “kompetensi” seorang pemakai bahasa yang ideal, dan kompetensi ini akan menghasilkan kalimat-kalimat gramatikal. Menurut Chomsky, “kinerja” yang sesuai dengan sejumlah kalimat gramatikal tertentu yang diungkapkan oleh seorang pemakai bahasa memberikan bukti (korpus) untuk melihat kompetensi orang ini, dan ia menambahkan bahwa kompetensi tidak dengan sendirinya melahirkan suatu apresiasi yang jernih dan pelaksaan aturan-aturan generatif pada si pemakai bahasa. Namun, kompetensi harus dilihat sebagai yang setara dengan  cara meng-ada –nya sang pembicara didalam bahasa. Dengan kata lain, kompetensi adalah kondisi kemungkinan kemampuan berbahasa; kompetensi menyatu dengan pembicara, lebih daripada cara-cara lainnya.

Sekarang kita beralih pada aspek-aspek teori bahasa menurut Chomsky, dan pertama-tama kita memusatkan diri pada pengertian tentang  tata bahasa “generatif”. Tata bahasa adalah sejenis sistem aturan dasar yang secara rekursif mendefinisikan dan membentuk transformasi kalimat. Hal ini terkait dengan “kompetensi” dasar seorang pembicara-pendengar yang ideal, suatu kompetensi yang memungkinkan dibentuknya kalimat-kalimat sempurna dengan potensi jumlah yang tak terbatas. “Generatif” memunculkan istilah matematis “generator”. Yang terakhir ini menghasilkan “fungsi pembangkit” (generating function) – misalnya, 2x + 3y + z = 0 – yang memberikan solusi yang tak berhingga jumlahnya. Chomsky sendiri mendefinisikan tata bahasa generatif sebagai sekumpulan aturan yang dalam mendefinisikan satu himpunan (objek) “bisa dianggap membangkitkan himpunan ini”[3] Kemudian ia melanjutkan:

Sebuah tata bahasa (generatif) bisa dianggap membangkitkan serangkaian deskripsi struktural yang secara ideal masing-masingnya memasukkan sebuah struktur dalam, struktur permukaan, interprestasi semantik (dari struktur dalam), dan interpretasi fonetik (dari struktur permukaan).[4]

Dengan mengikuti pendekatan Chomsky dalam Syntactic Structures, struktur sebuah tata bahasa generatif akan memiliki tiga tipe pokok (perlu diingat bahwa tata bahasa menjelaskan bagaimana kalimat itu dimunculkan):

Tata bahasa keadaan terbatas: hanya bersifat linear, sehingga kalimat-kalimat dimunculkan dengan menggunakan pilihan sederhana dari kiri ke kanan dan yang dipilih di depan akan membatasi pilihan yang ada di belakangnya.

Tata bahasa struktur frase: ini terkait dengan upaya parsing (klasifikasi unsur-unsur pembentuk struktur “permukaan” sebuah kalimat), dan terkait dengan makna ganda yang mungkin ditimbulkannya dalam susunan frase yang sama: “laki-laki dan wanita tua” (mengikuti contoh dari Lyons) bisa berarti  “laki-laki dan (wanita tua)”, atau “(laki-laki dan wanita) tua”.

Tata bahasa transformasional: ini adalah sebuah cara untuk membentuk suatu struktur baru (seperti bentuk aktif ke pasif) melalui sekumpulan aturan yang didasarkan atas rantai horizontal struktur frase dasar (yang diwakili oleh penanda frase) dan pada “pohon” vertikal yang muncul pada saat dilakukan pengkajian mengapa rantai ini muncul.

Chomsky mampu menunjukkan bahwa baik tata bahasa struktur frase maupun tata bahasa transformasional lebih kuat (yaitu bisa melakukan lebih banyak ) daripada tata bahasa keadaan terbatas (finite state grammar), dan bahwa tata bahasa transformasional itu merupakan tata bahasa yang lebih kuat daripada tata bahasa struktur frase. Pada dasarnya tata bahasa transformasional adalah sumbangan Chomsky pada teori umum tentang  tata bahasa. Kedua tata bahasa lainnya – meskipun belum terformalkan sebelumnya – sudah ada dalam linguistik sebelum munculnya karya Chomsky. Tata bahasa transformasional sajalah yang bisa membentuk aturan-aturan dasar yang tercakup pada pembicara-pendengar ideal pada satu bahasa, misalnya bahas Inggris. Logika di balik tata bahasa transformasional adalah bahwa jika setiap ujaran mengandung suatu aturan unik sebagai prasyarat keterterimaannya, maka aturan yang harus dipertimbangkan akan terlalu banyak. Jelas bahwa jumlah aturan tidak setara dengan jumlah ujaran; inilah yang dikandung oleh tata bahasa mana pun. Di sisi lain, Chomsky menunjukkan bahwa jika berbagai kalimat – yang tampaknya berbeda pada tingkatan “permukaan” tata bahasa struktur frase – sebenarnya adalah transformasi dari satu aturan yang sama, maka tata bahasa ini bisa menjadi sangat rumit dan kurang memiliki kekuatan penjelas. Oleh sebab itu, tata bahasa struktur frase akan menjadi terlalu rumit jika ia dijejali dengan semua aturan pembentukan kalimat pada pembicara-pembicara ideal. Secara singkat bisa  dikatakan bahwa sebuah tata bahasa transformasional adalah satu cara agar aturan pembentukan kalimat direduksikan sampai sekecil-kecilnya. Dari sudut yang agak berbeda, tata bahasa transformal yang memberikan aturan-aturan kompetensi, setara dengan pengertian pemikiran Chomsky tentang “struktur dalam”.

Kita perlu meninjau satu sisi lain dari teori bahasa Chomsky sebelum sedikit mengkaji karya-karyanya. Hal ini terkait dengan upayanya untuk menyederhanakan teorinya tentang tata bahasa generatif dengan mengaitkannya pada pengertian tentang “kapasitas kognitif”.[5]

Karena ia yakin bahwa secara induktif kita tidak bisa menjelaskan kemampuan berbahasa dan kompetensi bahasa (yang mensyaratkan kreativitas bahasa), atau dalam kerangka teori rangsangan-tanggapan, maka dalam upaya menjelaskan sifat bahasa manusia, Chomsky menyandarkan diri pada pengertian bahasa sebagai sesuatu yang bersifat bawaan dan khas ada pada manusia. Secara khusus ia terpengaruh oleh pandangan Descartes tentang bahasa dan pikiran yang terikat begitu erat sehingga pengetahuan tentang bahasa bisa membuka pengetahuan tentang pikiran manusia. Oleh sebab itu, bagi penemu tata bahasa generatif ini, secara mendasar bahasa adalah bagian dari psikologi manusia – psikologi yang dipahami sebagai teori tentang kemampuan pikiran manusia. Dengan demikian, asal usul kompetensi bahasa lebih bersifat psikologis daripada linguistik; maka, tidakkah sebaiknya kita mengatakan bahwa asal usul bahasa itu merupakan bidang kajian psikologi? Dalam pandangan ini Chomsky mendapatkan pengaruh dari Descartes dan tradisi rasionalis ilmiah abad ketujuh belas. Bukannya memberi bahasa suatu status otonom – seperti yang berlangsung pada abad kedua puluh dengan pandangan strukturalis dari Saussure – rasionalisme abad ketujuh belas melihat bahasa sebagai suatu ungkapan dri subjek psikologis. Tampaknya Chomsky percaya bahwa hanya dengan mengidentifikasikan diri dengan tradisi ini kita bisa bersikap adil terhadap esensi kreatif dan dinamis dari bahasa, dan menghindarkan diri dari kemunduran ke arah upaya penjelasan secara empiris. Menurut Chomsky, sebenarnya empirisisme Saussure yang baru berkembang (atau bahkan yang sudah berkembang) membuatnya kurang bisa diterima penganut linguistik generatif. Menurut para ahli linguistik penganut Cartesian, akhirnya Saussure lebih mengistimewakan parole (wicara) dari pada langue (struktur gramatikal).[6]

Jika  demikian, apa yang bisa kita peroleh dari karya Chomsky? Kita akui bahwa kajian mendalam tentang tata bahasa generatif perlu memanfaatkan keahlian teknis Chomsky dalam linguistik. Di luar itu ada banyak yang masih harus diperdebatkan, bahkan untuk orang awam sekalipun. Maka, meskipun teori tata bahasa generatif itu jelas merupakan salah satu keberhasilan intelektual abad kedua puluh, paling tidak ia memiliki empat kekurangan.

Kekurangan pertama terkait dengan pemahaman idealisasi. Dalam kaitan ini kita ingat bahwa yang dimaksudkan dengan kompetensi di sini adalah “kompetensi pembicara-pendengar yang ideal”. Masalah yang muncul tidak terkait dengan semunya “kompetensi” ini (yaitu yang tidak pernah direalisasikan secara empiris, tetapi dengan situasi bahwa kompetensi ini diidentifikasikan dengan suatu unsur non-linguistik, yaitu “pembicara-pendengar”, bukannya dengan bahasa itu sendiri. Di sini idealisasi setara dengan pandangan rasionalis Chomsky yang mengatakan bahwa bahasa itu merupakan  ungkapan dari sesuatu yang lain yaitu, sesuatu kemampuan kognitif seseorang yang tidak bisa dipisahkan dari psikologi individu. Lalu muncul pertanyaan, bahasa macam apa yang bisa menjadi ungkapan psikologi individual. Namun, apakah bahasa itu hanya merupakan ungkapan sesuatu? Apakah ia melelu bersifat transparan? Semiotika dan poetika modern menghendaki bahwa jawabannya adalah tidak, karena ada juga bahasa puitis; bahasa yang bersifat (relatif) kabur.

Kita andaikan bahwa Chomsky akan menjawab dengan mengatakan bahwa idealisasi adalah sebuah keniscayaan metodologis dan tidak boleh dikacaukan dengan cara kerja bahasa itu sendiri. Kesulitannya adalah bahwa kita tidak mungkin menghindari pandangan bahwa idealisasi itu terkait dengan prinsip kompetensi itu sendiri – kompetensi yang setara dengan kalimat yang tak berhingga banyaknya ( = ideal). Masalah lain yang terkait dengan idealisasi ini adalah – seperti yang ditunjukkan Kristeva – bahwa ia (idealisasi) tidak mampu memahami bahasa sebagai suatu proses realisasi. Tingkatan “kinerja” menurut Chomsky tidak berhasil mengubah hal ini. Ini karena kinerja hanya memfokus pada ujaran yang sudah diucapkan; ia tidak memikirkan proses realisasi itu sendiri, yang diistilahkan sebagai tingkatan diskursus menurut Benfeniste. Sebagai akibatnya, pandangan dan pemahaman bahasa menurut Chomsky lebih bersifat statis daripada dinamis.

Masalah lain yang terdapat pada pandangan linguistik Chomsky ini menjalar dari penekanannya pada kompetensi seorang pembicara bahasa ibu (native speaker) sebagai pembicara model suatu bahasa. Paling tidak ada dua masalah yang muncul di sini. Yang pertama adalah apakah seorang pembicara bahasa ibu adalah  sebuah model yang memadai tentang cara kerja bahasa. Meskipun dalam meninjau adalah ketatabahasaan ada beberapa keuntungan bila kita mengandalkan seorang penutur bahasa ibu, tidak bisakah dinyatakan bahwa secara ideal para penutur ini (entah native speaker atau bukan) mendapatkan kefasihannya dengan banyak cara? Kenyataannya adalah bahwa hal-hal ini tidak bisa dianggap berasal dari bahasa saja. Kedua, bisa dikemukakan bahwa satu aspek pokok dari bahasa adalah kemungkinan keterjemahanya. Chomsky melupakan aspek ini dalam upayanya memberikan penekanan pada kompetensi seorang penutur bahasa asli (native speaker)

Akhirnya, tampak bahwa rasionalisme Chomsky ini merupakan sebuah reaksi berlebihan terhadap karakter behaviorisme dan empirisisme dalam lingkungan filosofis dan linguistik Anglo-Amerika tempat ia dibesarkan dan dididik. Sebagai akibatnya, ia sering tampak sebagai seorang rasionalis yang bersusah payah berjuang melawan kekuatan empirisisme. Walaupun begitu, jelas bahwa sekarang ini perdebatan teoretis yang penting tentang bahasa dan filsafat tidak terbatas pada pertentangan yang muncul antara rasionalisme dan empirisisme. Ketidakmampuan Chomsky untuk menyadari hal ini tampak merupakan suatu kelemahan yang sirius. (*)

*John Lechte, FIlsuf.

[1] Noam Chomsky, Language and Responsibility, Based on Conversations with Mitsou Ronat, terjemahan John Ciertel. New York, Pantheon Books, 1979, hlm. 58-59.

[2] Ibid., hlm 59.

[3] Noam Chomsky, Language and Mind, (edisi besar), New York, Harcourt Brace Jovanovich, 1972, hlm. 126.

[4] Ibid.

[5] Sebagai contoh, lihat karya Noam Chomsky, Reflections on Language, London, Temple Smith dalam kerja sama dengan Fontana Books, 1976 (dicetak ulang 1977), Bab 1 dan passim.

[6] Ironisnya adalah bahwa sebagian besar kritikus Saussure (seperti Bourdieu) cenderung mengatakan bahwa ia lebih mengutamakan langue daripada parole.

Continue Reading
Advertisement

Milenia

Mary Wollstonecraft: Pikiran Tidak Memliki Jenis Kelamin

mm

Published

on

Let women share the rights and she will emulate the virtues of man—dalam sebagian besar sejarah yang tercatat, perempuan dilihat sebagai bawahan laki-laki.

Tetapi pada abad ke-18, keadilan atas stigma ini mulai ditantang secara terbuka. Di antara suara-suara yang paling menonjol dalam membongkar paradigma tentang ketertindasan perempuan adalah Mary Wollstonecraft (17591797)—seorang perempuan radikal, penulis dan filsuf berkebangsaan Inggris.

Banyak pemikir sebelumnya telah menyebutkan perbedaan fisik antara kedua jenis kelamin untuk membenarkan ketidaksetaraan sosial antara perempuan dan laki-laki. Namun, dalam masa pencerahan, yaitu selama abad ke-17, beberapa pemikir telah merumuskan pandangan dan gagasan yang mencoba mendobrak diskriminasi kepada perempuan.

Contohnya Filsuf besar John Locke yang menyatakan bahwa pengetahuan diperoleh melalui pengalaman dan pendidikan, validitas pemikiran memang dipertanyakan tapi tidak gender dari si pemikir. Artinya, sebuah gagasan atau hasil dari pemikiran dan perenungan tidak memiliki gender, bisa saja datang dari laki-laki ataupun perempuan.

Pendidikan Setara

Wollstonecraft berpendapat bahwa jika laki-laki dan perempuan diberikan pendidikan yang sama, baik laki-laki dan perempuan akan mendapatkan karakter yang sama dan pendekatan rasional yang sama terhadap kehidupan, karena pada dasarnya mereka memiliki otak dan pikiran yang sama secara mendasar.

Buku karya Wollstonecraft berjudul A Vindication of the Rights of Woman diterbitkan pada tahun 1792, isi dari karya Wollstonecraft merupakan tanggapan terhadap karya Jean-Jacques Rousseaus’s berjudul Emile (1762), yang merekomendasikan bahwa anak perempuan dididik secara berbeda dari pendidikan yang diberikan kepada anak laki-laki, dan pada akhirnya mereka akan belajar tentang rasa hormat.

Tuntutan Wollstonecraft bahwa perempuan harus diperlakukan sebagai warga negara yang setara—dengan hak hukum, sosial, dan politik—masih ditanggapi dengan penuh ejekan hingga akhir abad ke-18. Tapi hal itu akhirnya menabur benih-benih hak pilih dan gerakan feminis yang akan berkembang di abad ke-19 dan ke-20.

Wollstonecraft terus mengajak perempuan untuk menyuarakan hak politik mereka, salah satunya adalah hak untuk memilih anggota dewan yang sebelumnya suara perempuan tidak pernah dihitung. Gagasan Wollstonecraft tentang keadilan bagi perempuan telah menabur benih-benih hak politik bagi perempuan, salah satunya adalah hak untuk memilih anggota dewan.

Nama Wollstonecraft mungkin tidak seterkenal Simone de Beauvoir, namun Wollstonecraft secara tegas dan telah menginspirasi sedari mulanya, menyatakan jika gagasan dan sebuah pemikiran tidak memiliki gender. Gagasan yang baik bisa lahir dari seorang perempuan ataupun laki-laki, dan perempuan sejatinya diberikan hak yang sama dengan laki-laki baik dalam politik dan pendidikan, hingga pada akhirnya kebaikan untuk semua manusia lahir; tanpa harus menegasikan yang lain. (*)

*) diterjemahkan Susan Gui (ed; Sabiq Carebesth), dari Mary Wollstonecraft  and A Vindication of the Rights of Woman” (The Philosohy Book; DK London, 2011).

Continue Reading

Interview

Edmund Husserl: “Pengalaman Itu Sendiri Bukan Sains”

mm

Published

on

Menjelang akhir karirnya, Husserl menulis bahwa impiannya untuk meletakkan sains di atas pondasi yang kuat; telah berakhir! Apa yang terjadi? Sementara filsafat fenomenologi karyanya bahkan telah menjadi salah satu paling diminati dan menjadi pondasi bagi kemajuan filsafat sejak abad 20?

Edmund Husserl adalah filsuf yang dihantui mimpi yang latarnya telah dipenuhi oleh para pemikir sejak zaman Socrates: mimpi tentang kepastian!

Untuk Socrates, masalahnya seperti ini: meskipun kita mudah mencapai kesepakatan tentang pertanyaan yang berkaitan dengan hal-hal yang dapat kita ukur (misalnya, “berapa banyak zaitun yang ada di botol ini?”), namun ketika sampai pada pertanyaan filosofis seperti “apakah keadilan itu?” atau “apa itu kecantikan?”, sepertinya tidak ada cara yang jelas untuk mencapai kesepakatan definisi atas pertanyaan itu. Dan jika kita tidak tahu pasti apa itu keadilan, lalu bagaimana kita bisa berbicara tentang keadilan itu?

Masalah Kepastian

Husserl adalah seorang filsuf yang memulai “keheranannya” sebagai seorang matematikawan. Dia bermimpi dan terus memikirkannya; permasalahan seperti “apa itu keadilan?” bisa diselesaikan seperti bagaimana seorang menyelesaikan masalah matematika “berapa banyak zaitun yang ada di toples?” dengan kata lain, Husserl berharap untuk menempatkan semua ilmu pengetahuan—apapun cabang pengetahuan dan aktifitas manusia, dari matematika, kimia dan fisika hingga etika dan politik–dalam dasar yang lebih utuh.

Teori-teori ilmiah didasarkan pada pengalaman. Tetapi Husserl percaya bahwa pengalaman saja tidak menambah ilmu pengetahuan, karena sebagaimana diketahui oleh semua ilmuwan, pengalaman penuh dengan semua jenis asumsi, bias, dan kesalahpahaman.

Husserl ingin melepaskan semua ketidakpastian ini untuk memberikan kepada ilmu pengetahuan suatu pondasi dasar yang pasti.

Untuk melakukan ini, Husserl menelaah pemikiran filsafat dari seorang filsuf abad ke-17; Rene Descartes. Seperti Husserl, Descartes ingin membebaskan filsafat dari semua asumsi, bias, dan keraguan. Descartes menulis bahwa meskipun hampir semuanya bisa diragukan, ia tidak dapat meragukan bahwa ia meragukannya—layaknya adagium cogito ergo sum—saya berpikir maka saya ada.

Fenomenologi

Husserl mengambil pendekatan yang mirip dengan Descartes, tetapi menggunakannya secara berbeda. Dia menyarankan bahwa jika kita mengadopsi sikap ilmiah untuk mengalami, mengesampingkan setiap asumsi yang kita miliki (bahkan termasuk asumsi bahwa dunia eksternal ada di luar kita), maka kita dapat memulai filsafat dengan bersih, bebas dari semua asumsi.

Husserl menyebut pendekatannya ini dengan “fenomenologi”: penyelidikan filosofis tentang fenomena pengalaman. Kita perlu melihat pengalaman dengan sikap ilmiah, meletakkan ke satu sisi (atau “mengurung keluar” sebagaimana Husserl menyebutnya) setiap asumsi kita. Dan jika kita melihat dengan hati-hati dan cukup sabar, kita dapat membangun landasan pengetahuan yang dapat membantu kita mengatasi masalah filosofis yang telah ada bersama kita sejak awal filsafat.

Namun, para filsuf yang berbeda mengikuti metode Husserl dan mendapatkan hasil yang berbeda, dan ada sedikit perbedaan tentang apa sebenarnya metode itu, atau bagaimana seseorang mempraktikkannya.

Menjelang akhir karirnya, Husserl menulis bahwa impiannya untuk meletakkan sains di atas pondasi yang kuat; telah berakhir!

Tetapi meskipun fenomenologi Husserl gagal mendorong filsafat dengan pendekatan ilmiah untuk pengalaman, atau untuk memecahkan masalah filsafat yang telah bertahan lama, tetapi pemikiran Husserl bagaimana pun telah melahirkan salah satu tradisi terkaya dalam pemikiran abad ke-20. (*)

*) diterjemahkan Susan Gui (ed; Sabiq Carebesth), dari Edmund Husserl and Phenomenology  (The Philosohy Book; DK London, 2011).

Continue Reading

Kajian

Jacques Derrida dan Dekonstruksi Anti Marxis?

mm

Published

on

Belum lama ini, Jacques Derrida memperluas lingkup karyanya saat buku karangannya tentang Marx terbit. Ia mengatakan bahwa filsafat dekonstruksinya tidak bisa secara sederhana dikatakan sebagai anti-Marxis. Maka, sekarang ini, ada yang menunggu-nunggu untuk melihat apakah ada unsur politik dalam gramatologi Derrida.

Derrida, seorang Yahudi Aljazair, lahir di Aljazair pada tahun 1930 dan pindah ke Prancis pada tahun 1959. Ia belajar di Ecole Normale Superieure (re d’Ulm) di Paris, dan mulai memperoleh perhatian publik pada akhir tahun 1965 saat ia menerbitkan dua artikel panjang yang mengulas buku-buku tentang sejarah dan bentuk penulisan pada sebuah jurnal Paris, Critique.[1] Karya ini membentuk landasan bagi buku Derrida yang mungkin paling terkenal, yiatu Of Grammatology.

Ada sejumlah kecenderungan penting yang mendasari pendekatan Derrida pada filsafat, dan lebih khusus lagi, pada tradisi pemikiran Barat. Yang pertama adalah pemkiran untuk bercermin pada tradisi pemikiran Barat dan mengurangi ketergantungan tradisi ini pada logika identitas. Logika identitas diturunkan dari karya Aristoteles, dan, seperti kata Bertrand Russell, terdiri atas unsur-unsur pokok berikut:

  1. Hukum identitas: “Sesuatu adalah sesuatu itu sendiri.”
  2. Hukum kontradiksi: “Sesuatu tidak bisa serentak menjadi ada dan tiada.”
  3. Hukum tidaknya yang berada di tengah: “Antara ada dan tiada tidak boleh ada apa pun juga.”[2]

“Hukum-hukum” pikiran ini tidak hanya mengandaikan adanya suatu koherensi logis, mereka juga mengarah ke sesuatu yang mendalam dan mencirikan tradisi yang terkait dengan suatu realitas pokok – asal usul – yang merujuk hukum-hukum ini. Untuk memelihara koherensi logisnya, asal usul ini haruslah “sederhana” (yaitu bebas dari kontradiksi), homogen (berupa substansi dan keteraturan yang sama), sesuai dengan dirinya sendiri (yaitu berada terpisah dan berbeda dari segala pengantaran, sadar akan dirinya sendiri tanpa ada kesenjangan antara asal usul dengan kesadaran). Jelas bahwa “hukum-hukum” ini menghendaki dikesampingkannya ciri-ciri tertentu seperti: kerumitan, pengantaran, dan perbedaan – singkatnya ciri-ciri yang memunculkan “ketidakmurnian”, atau kerumitan. Proses pengesampingan ini berlangsung dalam tataran umum, metafisis, di mana di dalamnya dilembagakan satu keseluruhan sistem konsep (yang terindra-yang terpikirkan; ideal-nyata; internal-eksternal; fiksi-kebenaran; alam-kultur; lisan-tulisan; keaktifan-kepasifan, dan sebagainya) yang mengendalikan proses pemikiran yang berlangsung di Barat.

Melalui suatu pendekatan yang disebut sebagai “dekonstruksi”. Derrida memulai penelitian mendasar pada bentuk tradisi metafisis Barat dan dasar-dasarnya dalam hukum-hukum identitas. Secara kasar bisa dikatakan bahwa hasil dari penelitian ini tampaknya menyingkap sebuah tradisi yang dipenuhi dengan paradoks dan aporia logis – seperti yang ada dalam filsafat Rousseau berikut ini.

Suatu ketika Rousseau berpendapat bahwa kita harus mendengarkan suara alam. Alam ini identik dengan dirinya sendiri, suatu kumpulan yang tidak perlu ditambah atau dikurangi. Akan tetapi, ia juga menunjuk pada kenyataan bahwa kadang-kadang dalam alam itu terdapat kekurangan – sebagaimana halnya seorang ibu tidak bisa memberikan air susu yang cukup kepada anaknya. Sekarang ini keadaan berkekurangan dilihat sebagai yang umum terdapat di alam, jika bukan sebagai karakteristiknya yang paling umum. Oleh sebab itu, Derrida menunjukkan bahwa alam yang menurut Rousseau itu “cukup-diri” ternyata juga berkekurangan.[3] Keadaan berkekurangan ini malah mengganggu kecukupan diri alam itu sendiri – yaitu identitasnya, atau seperti kata Derrida, kehadiran dirinya. Kecukupan diri alam hanya bisa dipenuhi bila kekurangan ini bisa ditutup. Walaupun begitu, agar logika identitas bisa dipertahankan, kalaupun alam memerlukan penambahan ia juga tidak bisa cukup dengan dirinya sendiri (identik dengan dirinya). Ini karena kecukupan diri dan kekurangan adalah dua hal yang paling bertentangan: salah satu bisa menjadi landasan identitas, tetapi bukan kedua-duanya bila kontradiksi ingin dihindari. Ketidakmurnian identitas, atau dilemahkannya eksistensi diri ini tidak bisa dihindarkan karena, pada umumnya setiap asal usul yang tampaknya “sederhana” mungkin saja datang dari yang bukan asal usul. Manusia memerlukan pengantaran kesadaran, atau cermin bahasa, untuk bisa memahami diri sendiri dan dunia; akan tetapi, pengantaran atau cermin (ketidakmurnian) ini harus disingkirkan dari proses perolehan pengetahuan. Kedua hal itu memang memungkinkan diperolehnya pengetahuan, tetapi tidak termasuk di dalam proses itu. Jika demikian halnya, seperti pada filsafat kaum fenomenologis, maka semua ini (kesadaran, subjektivitas, bahasa) menjadi setara dengan sejnis keberadaan yang identik dengan dirinya.

Proses “dekonstruksi” yang meninjau dasar-dasar pemikiran Barat modern tidak dilakukan dengan harapan agar paradoks atau kontradiksi ini juga tidak mengklaim bahwa ia bisa melepaskan diri dari hal-hal yang mendasari tradisi ini dan membentuk suatu sistem yang berlandaskan pada pemahamannya sendiri. Akan tetapi, perlu dipahami bahwa di sini terpaksa digunakan konsep-konsep yang sebenarnya tidak bisa dipertahankan dalam kerangka klaim yang dibuatnya untuk itu. Singkatnya, ia juga (paling tidak untuk sementara) harus mendukung klaim-klaim ini.

Secara filosofis, dorongan untuk melakukan dekonstruksi tidak hanya untuk menunjukkan bahwa “hukum-hukum” pemikiran itu tidak lengkap. Akan tetapi, kecenderungan yang tampak jelas dalam oeuvre Derrida adalah untuk membangkitkan pengaruh, untuk membuka wilayah baru dalam dunia filsafat sehingga terus bisa menjadi ajang kreativitas dan penemuan baru. Pengertian tentang perbedaan, atau differance, mungkin mengarah kepada kecenderungan kedua yang tampak dalam karya Derrida – yang terkait erat dengan keinginan untuk terus memelihara kreativitas dalam filsafat.

Differance adalah istilah yang diusulkan Derrida pada tahun 1968 dalam hubungannya dengan penelitiannya tentang teori Saussurean dan teori bahasa sturkturalis. Bila Saussure bersusah payah dalam upayanya untuk menunjukkan bahwa dalam bentuknya yang paling umum bahasa bisa dipahami sebagai suatu sistem perbedaan, “tanpa isitilah positif”, maka Derrida melihat bahwa implikasi penuh dari konsep ini tidak dipahami baik oleh kaum strukturalis kontemporer maupun Saussure sendiri. Perbedaan tanpa istilah positif menghendaki secara tak langsung bahwa dimensi bahasa ini harus tetap tidak bisa dikonsepkan. Pada Derrida, perbedaan menjadi prototipe dari hal-hal yang tetap berada di luar lingkup pemikiran metafisis Barat karena kondisi kemungkinan pemikiran ini. Tentu saja, dalam kehidupan sehari-hari orang-orang berbicara tentang segala perbedaan. Sebagai contoh, kita katakan bahwa “x” (yang memiliki kualitas tertentu) berbeda dari “y” (yang memiliki kualtias lain), dan yang biasanya kita maksudkan adalah bahwa di sini dimungkinkan untuk mengungkapkan segala kualitas yang mengakibatkan segala perbedaan ini. Walaupun begitu, ini sebenarnya memberikan pemahaman positif terhadap perbedaan – yang menghendaki bahwa ia bisa berbentuk suatu gejala – sehingga hal ini bukanlah merupakan perbedaan yang dinyatakan Saussure, yaitu yang secara efektif tidak bisa dikonsepkan. Oleh sebab itu, menjadi jelaslah alasan pertama neologisme Derrida: ia ingin memisahkan perbedaan menurut akal sehat yang bisa dikonsepkan dengan perbedaan yang tidak dikembalikan kepada tatanan yang sama dan menerima identitas melalui suatu konsep. Perbedaan itu bukanlah suatu identitas; ia juga bukan merupakan perbedaan dari dua identitas yang berbeda. Perbedaan adalah perbedaan yang di-tunda (defer) – dalam bahasa Prancis, kata kerja yang sama (defferer) bisa berarti membedakan (to differ) atau menangguhkan (to defer). Differance mengingatkan kita pada sekumpulan istilah yang berkembang dalam karya Derrida di mana strukturnya mutlak bersifat ganda: pharmakon (baik racun maupun obat); supplement (baik surplus maupun tambahan yang diperlukan); hymen (baik yang berada di luar maupun yang berada di dalam).

Pembenaran lain untuk neologisme Derrida juga datang dari teori bahasa Saussure. Menurut Saussure, tulisan itu bersifat sekunder bila dibandingkan dengan wicara yang diucapkan oleh semua anggota komunitas bahasa. Bagi Saussure, tulisan itu bahkan merupakan suara bentuk bahasa yang “cacat bentuk” dalam pengertian bahwa (melalui tata bahasa) ia dianggap menjadi representasi sejati darinya, sedangkan Saussure menfklaimbahwa pada kenyataannya esensi bahasa terkandung didalam wicara yang dijalani, yang selalu berubah. Derrida mempertanyakan perbedaan ini, karena dalam perbedaan, ia melihat bahwa baik Saussure maupun kaum strukturalis (bdk. Levi-Strauss) meninjau bahasa tulisan dengan menggunakan pengertian tulisan seperti yang ada dalam kehidupan sehari-hari, yaitu yang berusaha mengabaikan segala kerumitan. Oleh sebab itu, tulisan dianggap sebagai yang sepenuhnya bersifat grafis, yang mungkin bisa membantu ingatan, namun dibandingkan wicara ia tetap bersifat sekunder; secara mendasar ia dianggap fonetik, dan mewakili suara dari bahasa. Wicara itu sendiri dianggap lebih dekat dengan pikrian, yang berarti pada emosi, gagasan, dan kehendak si pembicara. Oleh sebab itu, sebagai primer dan yang lebih asli, wicara dipertentangkan dengan tulisan yang bersifat sekunder dan representatif. Sebagai seorang gramatologis (teoretisi tentang tulisan) Derrida berusaha menunjukkan bahwa pembedaan ini tidak bisa bertahan. Sebagai contoh, istilah differance itu sendiri memiliki unsur grafis yang tak tereduksi lagi, yang tidak bisa diamati pada tataran suara. Selain itu, klaim yang mengatakan bahwa tulisan fonetik itu seluruhnya bersifat fonetik, atau wicara itu seluruhnya terkait dengan pendengaran menjadi dipertanyakan saat tanda baca yang sepenuhnya bersifat rafis muncul, bersama dengan saat diam (spasi) dalam wicara yang tidak bisa terwakili.

Entah bagaimanapun, seluruh oeuvre Derrida merupakan suatu penjelajah bentuk tulisan dalam pengertiannya yang paling luas sebagai suatu differance. Sampai pada titik tulisan itu mencakup unsur-unsur piktografik, ideografik, dan fonetik, tulisan memang tidak identik dengan dirinya sendiri. Oleh sebab itu, tulisan itu selalu tidak murni, dan dengan demikian menantang pengertian tentang identitas, dan akhirnya pengertian tentang asal usul sebagai sesuatu yang “sederhana”. Hal ini bisa seluruhnya ada atau tidak ada, tetapi ini adalah jejak dari penghapusannya dalam upaya mengejar transparansi. Lebih dari itu, di satu sisi tulisan itu lebih “asli” daripada bentuk fenomenalnya. Tulisan sebagai jejak, tanda, grafen menjadi prasyarat bagi semua bentuk fenomental. Pengertian inilah yang secara implisit terdapat dalam salah satu bab Of grammatalogy yang berjudul “The end of the book and the beginning of writing”. Bab ini menunjukkan bahwa dalam pengertiannya yang ketat, tulisan itu bersifat semu, bukan fenomenal; ia bukan apa yang dihasilkannya, melainkan yang memungkinkan dihasilkannya sesuatu. Ia membangkitkan seluruh medan sibernetika, matematika teoretis, dan teori informasi.[4]

Dalam perenungan tentang tema-tema keksusastraan, seni dan psikoanalisis, seperti juga tema-tema fislafat sejarah, salah satu strategi Derrida adalah menampakkan “ketidakmurnian” tulisan (dan identitas apa pun). Derrida sering berupaya memberikan pembenaran secara filosofis dengan menerapkan strategi retoris, grafis, dan puitis (seperti pada Glas, atau The Post Card: From Socrates to Freud and Beyond) sehingga menyadarkan para pembaca akan kaburnya perbatasan antara disiplin (seperti filsafat dan sastra), dan materi-subjek (seperti karya tulis/filsafat dan autobiografi). Dalam presentasi pertamanya di Sorbonne pada tahun 1968 yang membahas difference secara lebih luas dan mendalam, seorang hadirin yang kritis mengatakan, meskipun dengan penuh penyesalan, “Dalam karya Anda, ungkapan itu begitu penting sehingga perhatian pendengar terus-menerus terpecah dan terarah, di satu sisi kepada cara Anda berbicara, dan di sisi lain kepada hal yang ingin Anda katakan.”

Derrida kemudian menjawab hal ini dengan mengatakan, “Saya berusaha menempatkan diri saya pada satu titik di mana hal yang ditandakan tidak lagi bisa dibedakan dengan mudah dari penandanya.”[5]

Petunjuk yang mengatakan tentang tidak mungkinnya memisahkan secara ketat dimensi puitis-serta-retoris naskah (tataran penanda) dari “kandungan” pesan atau makna (tataran yang ditandakan) adalah gerakan yang paling penting dan kontroversial dalam seluruh eksplorasi yang dilakukan Derrida. Meskipun beberapa kritikus sastra Amerika cukup tertarik pada strategi ini, ada yang berpikir sampai sejauh mana sang filsuf mampu mengendalikan strategi ini (secara sadar). Jika perbatasan disiplin dan genre sebenarnya adalah konvensi dengan sejarah tertentu – yaitu, bila mereka dibangun berdasar semacam keyakinan – di sini ada kemungkinan besar untuk merusaknya. Maka yang kemudian dirusak sebenarnya adalah prinsip kerja yang relatif rapuh, bukan suatu prinsip pokok yang sangat mendasar. Dalam karya Laclau (yang diilhami oleh Derrida) tentang teori politik, kerapuhan identitas inilah yang tampaknya memberikan kesegaran baru pada politik. Karena identitas adalah hasil bentukan dan bukan yang paling dasar, mereka pasti rapuh, tetapi tidak kurang penting.

Dari sudut “Yang Lain”, karya Derrida membuka suatu kreativitas baru yang olehnya minat terhadap tulisan sebagai gramatologi memiliki dampak praktis. Di sini kita ingat Derrida pernah menunjukkan bahwa landasan prinsip-prinsip metafisis itu rapuh dan sangat mendua. Karena ia memiliki identitas yang tetap, maka apa yang benar dan “sesuai” (seperti kata benda nama diri), akhirnya akan memunculkan suatu dekonstruksi dari yang “sesuai” ini (misalnya, sebuah nama tidak hanya menunjuk ke suatu objek atau pribadi yang sederhana, “nyata”, atau fenomenal; karena ia juga memiliki dimensi retoris yang memungkinkan adanya permainan kata). Bila sebuah nama diri ditunjukkan sebagai yang “tidak” sesuai, muncullah “tulisan” dalam pengertian Derrida. Nama penyair Prancis, F. Ponge (yang dalam sebuah esai terkenal Derrida diubah menjadi eponge [spon]), menjadi sumber tulisan filosofis yang kreatif dan kritis. Dalam bahasa Inggris, agar muncul serangkaian asosiasi yang “tidak tepat” (improper), kita hanya perlu memikirkan Wordsworth dan “joy” (kegembiraan) dalam nama Jocye. Melalui permainan kata, anagram, etimologi, atau berbagai ciri diakritis (ingat “joy” pada Joyce), nama diri bisa dikaitkan dengan berbagai sistem konsep, gagasan, atau kata-kata (termasuk yang ada dalam bahasa lain). Selain itu Derrida sebenarnya mengaitkan nama diri dengan berbagai jenis citra (imaji) dan suara sehingga, dari satu sudut pandang, naskah rujukan tampak memiliki hubungan yang sangat sedikit dengan naskah yang diulas (lihat perlakuannya terhadap karya Jean Genet dalam Glas; atau esai Signeponge tentang karya Francis Ponge). Sebenarnya, bila kritik sastra tradisional cenderung mencari kebenaran (baik itu semantik, puitis, maupun ideologis) pada naskah sastra yang ditulis sesamanya, dan kemudian menerapkan peranan sekunder dan terhormat saat berhadapan dengan “keunggulan” naskah tersbut, Deriida malah mengubah naskah “primer” menjadi sumber ilham dan kreativitas baru. Sekarang ini para kritikus/pembaca tidak lagi hanya melakukan penafsiran (yang memang tidak pernah sepenuhnya demikian), tetapi bahkan menjadi “penulis”.

Selain itu, bila akal sehat cenderung mengandaikan bahwa keberulangan kurang lebih merupakan kualitas bahasa yang bersifat kebetulan, sehingga kata, frase, kalimat, dan sebagainya bisa diulang-ulang dalam konteks yang berbeda-beda, maka sebenarnya ini adalah kualitas yang menurut Derrida memisahkan tataran penanda dengan yang ditandakan. Oleh sebab itu, jika makna itu terkait dengan konteks, maka dalam kaitannya dengan struktur bahasa, tidak akan ada konteks yang tepat untuk memberikan bukti pada makna akhir. Seperti dikatakan Jonathan Culler, konteks itu tak terbatas. Perdebatan Derrida dengan filsuf Amerika, John R. Searl tentang teori “perfomatif” dari J.L. Austin adalah persis tentang hal ini. Bila Austin berupaya untuk membuat perfomasi yang sesuai (melakukan sesuatu dengan mengatakannya – seperti saat membuat janji) bergantung pada realisasinya dalam konteks yang tepat oleh pelaku yang tepat, maka perfomasi yang tidak sesuai – seperti saat sseseroang mengucapkan “saya mau” di luar upacara perkawinan, atau saat rapat dibuka oleh orang yang salah – tidak bisa dihapuskan dari bahasa. Derrida menegaskan, hal ini terjadi karena ketidaksesuaian terkandung di dalam struktur perfomatif itu sendiri: kualitas keberulangan berati bahwa bahasa – termasuk tanda tangan – bisa dipakai oleh siapa pun pada setiap saat. Oleh sebab itu, keberulangan mensyaratkan kemungkinan adanya tanda tangan yang dipalsukan.

Singkatnya, pencarian filosofis Derrida ini mengklaim untuk melakukan dekonstruksi terhadap semboyan-semboyan yang dipakai secara luas baik dalam dunia akademik maupun dalam bahasa kehidupan sehari-hari. Bahasa sehari-hari itu tidak netral; di dalamnya terdapat berbagai pra-anggapan dan asumsi kultural dari keseluruhan tradisi. Pada saat yang sama, penataan ulang secara kritis pada landasan filsofis dari tradisi ini, mungkin secara tak terduga, menghasilkan suatu penekanan baru terhadap otonomi individu dan kreativitas peneliti/filsuf/pembaca. Mungkin unsur yang bersifat anti-populis tetapi juga anti-Platonis dalam gramatologi adalah sumbangan Derrida yang paling penting bagi pemikiran zaman sesudah perang. (*)

[1] Lihat Jacques Derrida, ‘De Ia grammatologie (I), Critique, 223 (Desember 1965), hlm. 1016-1042; dan ‘De la grammatologie (II)’, Critique, 224 (Januari 1966), hlm. 23-53.

[2] Bertrand Russell, The Problems of Philosophy, London, New York, Oxford University Press, dicetak ulang tahun 1973, hlm. 40.

[3] Jacques Derrida, Of Grammatology, diterjemahkan oleh Gayatri Chakravorty Spivak, Baltimore dan london, Johns Hopkins University Press, 1976, hlm. 145.

[4] Ibid., hlm. 9

[5] David Wood dan Robert Bernasconi (ed.), Derrida and Differance’, Evanston, Northwestern University Press, 1988, hlm. 88.

Continue Reading

Trending