Connect with us

Cerpen

Leo Tolstoy: Seusai Pesta Dansa

mm

Published

on

Seusai Pesta Dansa

“Sesuatu terjadi, saya sangat jatuh cinta. Jatuh cinta, saya banyak sekali, tetapi ini adalah cinta saya yang paling kuat. Ini urusan di waktu lalu, wanita itu memiliki anak-anak yang telah bersuami sekarang. Itu adalah B, ya, Varenka B.” Ivan Vasilyevich menyebutkan nama keluarga. “Dalam usia lima puluh tahun, dia masih cantik gemilang, tetapi pada masa mudanya, saat berumur delapan belas tahun, dia mempesona: tinggi, ramping, anggun dan mulia, terutama mulia. Dia selalu mempertahankan dirinya luar biasa tegak, seolah-olah tidak dapat membungkuk, mencondongkan kepalanya sedikit ke belakang, dan itu memberikan, dengan kecantikan dan tubuhnya yang jangkung, tanpa melihat pada kekurusannya, bahkan tonjolan tulangnya yang kelihatan, kepadanya perbawa ratu dan perbawa dari dia itu membuat takut, jika saja dia tidak lemah lembut, selalu memiliki senyum riang dan mulutnya, matanya bersinar cemerlang, keseluruhan manusia muda yang memikat.”

Oleh: Leo Tolstoy | Penerjemah: Ladinata

_____

“Jadi kalian berpendapat, bahwa manusia tidak dapat secara mandiri mampu memahami, apa yang baik, apa yang buruk, bahwa segalanya adalah soal lingkungan, bahwa lingkungan mencengkram manusia. Tetapi saya berpikir, bahwa semua itu adalah masalah terjadinya suatu peristiwa. Saya akan bercerita mengenai diri saya sendiri.”

Demikianlah kata Ivan Vasilyevich, laki-laki terhormat, selepas perbincangan yang berlangsung di antara kami tentang, bahwa untuk penyempurnaan diri harus terlebih dulu mengubah keadaan-keadaan, yang di dalamnya manusia hidup. Pada hakikatnya, tidak satu orang pun yang berkata, bahwa tidak mungkin untuk memahami, apa yang baik, apa yang buruk, tetapi Ivan Vasilyevich, mempunyai kebiasaan menjawab atas pikiran-pikirannya sendiri, yang muncul sebagai akibat perbincangan dan dengan alasan pikiran-pikiran tersebut dia memaparkan peristiwa-peristiwa dari dalam hidupnya. Dia sering lupa pada dalih, ketika dia terpikat oleh sebuah kisah, yang membuat dia benar-benar bercerita, apalagi dia bercerita dengan begitu sungguh hati dan berterus terang.

Begitulah, sekarang dia melakukannya.

“Saya akan menceritakan mengenai diri sendiri. Seluruh hidup saya jadi seperti ini, bukan melalui cara lain, bukan lantaran lingkungan, tetapi karena sesuatu yang benar-benar berbeda.”

“Karena apatah itu?” tanya kami.

“Ya, ini adalah cerita yang panjang. Untuk memahami, harus banyak yang diceritakan.”

Ivan Vasilyevich mulai berpikir, menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ya,” katanya. “Seluruh hidup saya berubah pada suatu malam, atau lebih ke arah pagi.”

“Apatah yang terjadi?”

“Sesuatu terjadi, saya sangat jatuh cinta. Jatuh cinta, saya banyak sekali, tetapi ini adalah cinta saya yang paling kuat. Ini urusan di waktu lalu, wanita itu memiliki anak-anak yang telah bersuami sekarang. Itu adalah B, ya, Varenka B.” Ivan Vasilyevich menyebutkan nama keluarga. “Dalam usia lima puluh tahun, dia masih cantik gemilang, tetapi pada masa mudanya, saat berumur delapan belas tahun, dia mempesona: tinggi, ramping, anggun dan mulia, terutama mulia. Dia selalu mempertahankan dirinya luar biasa tegak, seolah-olah tidak dapat membungkuk, mencondongkan kepalanya sedikit ke belakang, dan itu memberikan, dengan kecantikan dan tubuhnya yang jangkung, tanpa melihat pada kekurusannya, bahkan tonjolan tulangnya yang kelihatan, kepadanya perbawa ratu dan perbawa dari dia itu membuat takut, jika saja dia tidak lemah lembut, selalu memiliki senyum riang dan mulutnya, matanya bersinar cemerlang, keseluruhan manusia muda yang memikat.”

“Perian yang bukan main, Ivan Vasilyevich.”

“Memerikan tidak boleh demikian, tetapi bagaimana pun juga perikanlah; itu agar kalian mengerti, bagaimana dia dulu. Tetapi bukan dalam hal itu masalahnya: apa yang akan saya ceritakan, terjadi pada tahun empat puluhan. Saat itu saya adalah seorang mahasiswa di universitas, di suatu provinsi. Saya tidak tahu, baikkah itu atau buruk, tetapi ketika itu kami tidak memiliki kelompok studi, tidak juga teori, di universitas, kami hanyalah manusia muda dan hidup, seperti biasanya orang-orang muda: belajar dan riang gembira. Saya orang muda yang riang dan enerjik dan juga berada. Saya punya seekor kuda kereta yang gesit, saya mengendarainya dari atas gunung dengan para perempuan muda (seluncur ketika itu masih belum jadi kebiasaan), saya pergi melakukan pesta-pesta minum dengan kawan-kawan universitas (saat itu kami tidak minum apa-apa, kecuali sampanye; uang tidak ada, kami tidak minum sesuatu pun, tetapi kami tidak minum, seperti galibnya sekarang, vodka). Kesenangan saya yang utama adalah pesta-pesta dan pesta dansa. Saya menari dengan baik dan tentu saja saya tidaklah jelek.”

“Ayo, jangan terlalu rendah hati,” seorang wanita, dari orang-orang yang mendengarkan, menyelanya. “Kami mengetahui potret daguerrotype[1]Anda. Tidak, Anda tidaklah jelek. Anda adalah seorang laki-laki rupawan.”

“Rupawan, boleh jadi dulunya. Tetapi soalnya bukan itu. Soalnya adalah pada saat cinta yang paling kuat saya kepadanya, saat hari terakhir Shrovetide[2], saya berada di pesta dansa Marshal of Nobility[3], seorang laki-laki tua baik hati, manusia berharta yang murah hati dan seorang kamerger[4]. Sebagaimana sang suami, istrinya juga sangat baik hati, menerima kami, para tamu, mengenakan gaun panjang beludru berwarna merah kecoklatan, di kepalanya ada tiara berlian, bahu dan lehernya yang terbuka, tampak tua, putih dan padat, seperti potret Elizaveta Petrovna[5]. Pesta dansa begitu menakjubkan: ruang dansanya mentereng, dengan paduan suara dan para pemain musik dari kaum hamba sahaya, yang ketika itu terkenal, merupakan milik tuan tanah, pecinta musik, makanan berlimpah dan lautan sampanye mengalir. Meski saya pemburu sampanye, saya tidaklah minum, karena tanpa anggur, saya telah mabuk cinta, meski demikian saya menari sampai saya jatuh, saya berdansa quadrille[6],waltz[7],polonaise[8],dan tanpa perlu dikatakan, sejauh ada kemungkinan, saya ingin melakukan semua itu dengan Varenka. Dia mengenakan baju putih dengan selempang pinggang warna merah muda, sarung tangan halus putih, yang tidak begitu menjangkau siku tangannya yang kurus dan menonjol, dan sepatu satin warna putih. Mazurka[9] saya dirampas: seorang insinyur yang menyedihkan bernama Anisimov, sampai sekarang saya tidak pernah dapat memaafkannya, meminta Varenka untuk berdansa dengannya, saat Varenka baru masuk ke dalam ruang dansa, sedangkan saya ketika itu pergi dulu ke tukang pangkas rambut serta membeli sarung tangan dan saya terlambat. Karena itulah saya tidak menari mazurka dengannya, tetapi dengan seorang perempuan Jerman, yang sebelumnya saya pernah agak kerajingan. Tetapi saya khawatir, pada malam itu, saya sangat tidak santun kepadanya, tetapi saya hanya memandang pada seseorang bertubuh tinggi, ramping, yang mengenakan baju putih dengan selempang pinggang warna merah muda, wajahnya yang berlesung pipi bersinar-sinar, kemerah-merahan, sorot matanya lembut dan sejuk. Bukan hanya saya sendiri, tetapi semua orang melihat kepadanya dan mengaguminya, baik itu laki-laki, maupun perempuan, mengagumi, dengan tidak memandang pada, bahwa dia membelakangi mereka semua. Sangat tidak mungkin untuk tidak mengaguminya.

Menurut aturan, demikianlah yang dilisankan, saya tidak menari mazurka dengannya. Dia, dengan tanpa tersipu, berjalan langsung ke arah saya melewati panjangnya ruang dansa dan saya bangkit, tidak menanti permintaan dan dia berterima kasih melalui senyuman kepada saya atas perkiraan saya tersebut. Ketika kami, para lelaki, diarahkan kepadanya, dia tidak dapat menebak karakter pokok saya[10], dia, seraya mengulurkan tangan bukan kepada saya, tetapi kepada orang lain, mengangkat bahunya yang kurus, sebagai tanda penyesalan dan pelipur lara dan dia memberikan senyuman kepada saya.

Ketika mazurka diganti dengan waltz, begitu lama saya menari waltz dengannya dan dia, sambil sering menghela nafas, tersenyum dan berkata kepada saya: “Encore[11]”. Dan saya terus-menerus menari waltz dan tidak merasakan tubuh sendiri.”

“Mana bisa Anda tidak merasakannya, saya pikir, Anda sangat merasakannya, ketika Anda merengkuh pinggangnya, bukan hanya badan Anda sendiri, tetapi juga tubuhnya,” kata salah seorang dari para tamu.

Ivan Vasilyevich tiba-tiba memerah dan dia dengan marah hampir berteriak:

“Ya, begitulah kalian, orang muda zaman sekarang. Kalian itu, kecuali tubuh, tidak ada sesuatu pun yang dilihat. Pada zaman kami tidaklah demikian. Semakin kuat saya jatuh cinta, semakin dia bagi saya jadi tidak bersifat badaniah. Kalian sekarang hanya melihat kaki, pergelangan kaki dan juga yang lainnya, kalian menelanjangi perempuan, yang kalian cintai, buat saya, seperti yang dikatakan Alphonse Karr[12], seorang penulis yang bagus, selalu ada baju zirah dari perunggu pada objek cinta saya. Kami tidak menanggalkan pakaian, tetapi kami berusaha menyembunyikan ketelanjangan, seperti anak nabi Nuh yang baik hati[13]. Tetapi sudahlah kalian tidak akan memahami hal ini.”

“Jangan dengarkan dia. Selanjutnya bagaimana?” kata seorang dari kami.

“Ya. Begitulah, saya terus berdansa dengannya dan tidak memperhatikan, bagaimana waktu berlalu. Para pemain musik dengan kelelahan yang sangat, kalian tahu, itu selalu terjadi pada setiap akhir pesta dansa, terus memainkan motif mazurka, dari meja kartu di ruang tamu para orang tua beranjak, mempersiapkan diri untuk makan malam, secara lebih kerap pelayan-pelayan berlarian, sambil membawa sesuatu. Sudah pukul tiga; menit-menit yang penghabisan, mestilah, dipergunakan. Sekali lagi saya memintanya untuk berdansa dan kami untuk yang keseratus kalinya melalui panjangnya ruang dansa.”

“Selepas makan malam, bolehkan saya menjadi partner Anda untuk quadrille?” kata saya kepadanya, sambil membawanya kembali ke tempatnya.

“Tentu saja, jika saya tidak dibawa pulang,” katanya sambil tersenyum.

“Tidak akan saya biarkan,” kata saya.

“Kipas tangan saya, tolong berikan,” katanya.

“Menyesal saya harus mengembalikannya,” kata saya, seraya memberikan kepadanya kipas tangan putih yang tidaklah mahal.

“Kalau begitu ini untuk Anda, agar Anda tidak merasa menyesal,” katanya, seraya melepaskan selembar bulu kipas tangan dan memberikannya kepada saya.

“Saya mengambilnya dan hanya dengan tatapan saya mengungkapkan rasa terpaku dan rasa terima kasih. Saya bukan saja riang dan senang, saya bahagia, terberkati, saya dipenuhi kebajikan, saya sudah bukan saya, tetapi saya adalah mahluk di luar bumi, yang tidak mengenal kejahatan dan hanya dapat melakukan kebaikan. Saya menyimpan selembar bulu itu ke dalam sarung tangan dan saya berdiri saja, tidak memiliki kekuatan untuk menjauh darinya.”

“Lihat, ayah diminta untuk berdansa,” katanya kepada saya, sambil menunjuk pada sosok ayahnya yang tinggi dan agung, seorang kolonel dengan tanda pangkatperak[14], yang berdiri di pintu dengan sang nyonya rumah dan beberapa wanita lainnya.

“Varenka, kemarilah,” kami mendengar suara keras sang nyonya rumah, yang memakai tiara berlian dengan bahu bergaya Elizaveta Petrovna.

Varenka mendekat ke arah pintu dan saya berjalan di belakangnya.

Ma chere[15], berbicaralah pada ayahmu, agar dia berdansa denganmu. Pyotr Vladislavich, ayolah berdansa,” kata sang nyonya rumah kepada kolonel tersebut.

Ayah Varenka adalah laki-laki tua yang sangat tampan, agung, tinggi dan terpelihara kesehatannya. Wajahnya begitu kemerah-merahan dengan kumis putih melengkung, seperti Nikolai I[16], jambangnya yang juga putih, menyentuh kumis dan dengan rambut yang disisir ke depan, di atas pelipis; senyumannya yang lembut, yang gembira, seperti yang dimiliki anaknya, tampak pada matanya yang bercahaya dan pada kedua bibirnya. Tubuhnya sangat sempurna dengan dada yang lebar, membusung, khas militer, dihiasi, secara sederhana, oleh tanda jasa; bahunya kekar, kedua kakinya tampak sangat baik dan panjang. Dia adalah seorang perwira dari tipe lama dengan karakter militer akademi Nikolai.

Ketika kami sampai di pintu, sang kolonel menampik seraya mengatakan, bahwa dia telah lupa bagaimana caranya berdansa, tetapi meskipun demikian, sambil tersenyum, setelah mengulurkan tangan ke arah kiri, dia mengeluarkan pedang dari sarungnya, menyerahkannya kepada seorang laki-laki muda yang membantunya dan setelah meletakkan sarung tangan kulit ke tangan kanan, dia berkata, “semua harus menurut aturan,” seraya tersenyum, dia meraih tangan putrinya dan mengambil kedudukan seperempat putaran, sambil menunggu ketukan irama yang tepat.

Setelah permulaan motif mazurka terdengar, dengan tangkas sang kolonel menghentakan salah satu kakinya dan mengayunkan kakinya yang kedua dan kemudian sosoknya yang tinggi besar, kadang senyap dan lembut, kadang berisik dan bergolak, dengan bunyi derap sepatu dan hentakan satu kaki terhadap kaki yang lain, mengarungi sekeliling ruangan dansa, sosok Varenka yang lemah gemulai melayang di samping sang kolonel, dengan tanpa terlihat dan selalu tepat waktu dia terus memendekkan atau memperpanjang langkah kaki mungilnya yang diselimuti sepatu satin warna putih untuk mematutkan gerakan dengan ayahnya.

Semua orang mengikuti setiap gerakan dari pasangan tersebut. Saya bukan hanya mengagumi, tetapi dengan sentuhan kegembiraan memandangi keduanya, saya, terutama, tersentuh oleh sepatu sang kolonel, yang diikat dengan tali pengikat; sepatu dari kulit sapi yang baik, sepatu tersebut tidak fashionable dan tidak lancip, tetapi bergaya lama dengan ujung-ujung yang berbentuk empat sudut dan tanpa hak. Tak pelak lagi, sepatu itu dibuat oleh tukang sepatu batalyon. “Dia tidak membeli sepatu yang fashionable, mengenakan sepatu buatan rumah, agar dapat memakaikan dan membawa putri kecintaannya ke dalam pergaulan masyarakat,” pikir saya dan begitulah utamanya, mengapa saya tersentuh oleh sepatu dengan ujung-ujung yang berbentuk empat sudut tersebut. Semua orang melihat, bahwa sebelumnya sang kolonel berdansa dengan baik sekali, tetapi sekarang dia tampak berat dan kaki-kakinya tidak lagi cukup fleksibel untuk melakukan semua langkah indah dan cepat, yang dia ingin lakukan. Tetapi dia, biarpun demikian, dengan cekatan melewati dua kali putaran ruang dansa. Saat dia dengan cepat melebarkan kakinya, kemudian merapatkannya lagi dan meskipun agak susah, menjatuhkan dirinya dengan bertumpu pada satu lutut, dan Varenka, sambil tersenyum dan memperbaiki gaun bagianbawah, yang dipegang oleh ayahnya, secara anggun melayang menyeputari sang kolonel; semua orang bertepuk tangan dengan gemuruh. Melalui beberapa kekuatan sisa sang kolonel berusaha untuk bangkit sedikit, dengan lembut, halus, merengkuh putrinya lewat kedua tangan yang menyentuh telinga Varenka dan setelah mencium keningnya, kolonel itu membimbingnya ke arahku, karena berpikiran, bahwa saya berdansa dengan anaknya; saya pun mengatakan, bahwa saya bukan partner Varenka dalam berdansa.

“Sama saja, sekarang berdansalah Anda dengannya,” katanya, sambil tersenyum dengan hangat dan memasukkan kembali pedangnya ke dalam sarung.

Seperti biasa terjadi, bahwa tetesan pertama yang keluar dari dalam botol, pada kesudahannya mengalirkan isinya menjadi curahan-curahan yang besar, begitu juga di dalam jiwa saya, cinta terhadap Varenka membebaskan seluruh kemampuan cinta saya yang terselubung. Saya merangkul, pada ketika itu, segenap dunia dengan cinta. Saya menyukai nyonya rumah yang mengenakan tiara berlian dengan gaya potret sedada Elizaveta, suaminya, para tamunya, para pelayannya, dan bahkan pada insinyur Anisimov, yang jelas-jelas marah pada saya. Terhadap ayah Varenka, yang mengenakan sepatu buatan rumah dengan senyum lembut, yang mirip benar dengan senyumnya, saya saat itu menjalani sesuatu rasa kagum yang mempesona.

Mazurka berakhir, tuan dan nyonya rumah meminta para tamu untuk makan malam, tetapi kolonel B menolak, mengatakan, bahwa dia besoknya harus bangun pagi-pagi sekali dan dia berpamitan dengan tuan dan nyonya rumah. Saya ketakutan, Varenka akan dibawa serta. Akan tetapi dia tetap tinggal bersama ibunya.

Setelah makan malam saya menari quadrille, yang telah terjanjikan, dengannya, dan tanpa berpijak pada hal, bahwa, tampaknya, saya tak akan dapat sangat gembira, kebahagiaan saya terus tumbuh dan berkembang. Kami tidak mengatakan apa-apa mengenai cinta. Saya tidak bertanya baik kepadanya, maupun kepada diri sendiri, bahkan mengenai: cintakah dia kepada saya. Bagi saya sudah cukup, saya mencintai dia. Dan saya mencemaskan hanya pada satu hal, akan ada sesuatu yang menghancurkan kebahagiaan saya.

Ketika sampai di rumah, saya menanggalkan pakaian dan memikirkan mengenai tidur nyenyak, tetapi saya melihat, bahwa itu benar-benar tidak mungkin. Pada genggaman tangan saya ada selembar bulu dari kipas tangannya dan sebelah sarung tangan, yang dia berikan kepada saya, saat dia duduk di dalam kereta kuda dan saya ketika itu membimbing ibunya, kemudian Varenka untuk naik ke dalam kereta tersebut. Saya menatapi barang-barang itu dan, karena tidak dapat memejamkan mata, saya melihat Varenka ada di hadapan saya lagi sesaat, ketika dia, memilih salah satu dari dua partner, memperkirakan karakter saya dan saya mendengar suara lembutnya, manakala dia berkata: “Rasa bangga? Benar?” Dan dengan gembira dia mengulurkan tangannya kepada saya atau ketika makan malam dia mereguk sedikit demi sedikit segelas kecil sampanye dan menatap saya sambil mengernyitkan kening dengan mata yang menawan. Tetapi dari semuanya yang terbaik, ketika saya melihat Varenka berpasangan dengan ayahnya, dia melayang dengan anggun di samping sang kolonel dan dengan bangga dan gembira dia melihat pada para penonton yang terkagum-kagum terhadap dirinya dan ayahnya. Dan tanpa disadari saya menggabungkan keduanya di dalam satu perasaan yang lembut dan mengharukan.

Ketika itu saya tinggal dengan saudara laki-laki yang pendiam. Saudara saya itu benar-benar tidak menyukai pergaulan masyarakat dan tidak pernah pergi ke pesta dansa, sekarang dia sedang mempersiapkan ujian kandidat[17] dan menjalani kehidupan yang sangat lurus. Dia tertidur. Saya memandang pada bagian kepalanya yang terpendam bantal dan setengahnya tertutup dengan selimut flanel, dan saya, dengan rasa sayang, mulai jadi kasihan terhadapnya, kasihan karena dia tidak mengetahui dan tidak dapat berbagi kebahagiaan, yang saya alami. Petrusha[18], pembantu saya, menemui saya dengan lilin di tangan dan dia ingin membantu saya melepaskan pakaian, tetapi saya menyuruhnya pergi. Rupa wajah saudara saya yang tertidur dengan rambut tidak karuan membuat saya jadi iba. Dengan berupaya untuk tidak membuat gaduh, saya masuk ke dalam kamar sendiri dengan bersijingkat dan duduk di atas tempat tidur. Tidak, lantaran begitu bahagia, saya tidak dapat tidur. Lain daripada itu, saya merasa kepanasan di dalam kamar, dan saya, dengan tidak menanggalkan pakaian seragam, pelan-pelan keluar ke ruang depan, memakai mantel, membuka pintu masuk dan pergi keluar ke arah jalan.

Saya pulang dari pesta dansa pada pukul lima, ketika saya sampai di rumah, saya duduk di sana, kira-kira dua jam, jadi saat saya keluar, langit sudah terang. Demikianlah udara Shrovetide: berkabut, salju yang dijenuhi oleh air bercairan di jalanan dan dari semua atap rumah bertetesan. Ketika itu keluarga B tinggal di ujung kota dan di dekatnya terdapat lahan luas terbuka, yang pada salah satu sisinya ada ruang untuk berjalan-jalan, sedang pada sisi kedua berdiri sebuah institut untukkaum perempuan[19]. Saya melewati jalanan kecil yang kosong dan keluar menuju ke jalan besar, di sana saya bertemu dengan para pejalan kaki dan para penarik kereta yang membawa kayu di atas kereta luncur, yang berusaha dikeluarkan dari hamparan salju ke jalanan beraspal oleh kuda-kuda penariknya. Dan kuda-kuda tersebut secara berirama mengayun-ayunkan kepalanya yang basah di bawah kayu berbentuk melengkung yang disampang[20] dan ditempatkan pada bagian lehernya, dan para penarik kereta yang mengenakan baju dari kain kasar berjalan lambat melewati lumpur salju dengan sepatunya yang besar di samping kereta kudanya dan rumah-rumah pada sisi jalan yang lain, di dalam cuaca berkabut, tampak sangat tinggi: bagi saya, terutama sekali, segalanya itu begitu memiliki nilai dan sangat signifikan.

Ketika saya keluar menuju ke lahan, yang di atasnya berdiri rumah keluarga B, saya melihat sesuatu yang besar dan hitam di ujung lahan, pada arah ruang untuk berjalan-jalan dan saya mendengar suara flute dan genderang dari sana. Jiwa saya sepanjang waktu berdendang dan terkadang terdengar motif mazurka. Akan tetapi ini adalah irama musik yang lain, parau dan menakutkan.

“Apakah itu?” Saya merasa ingin tahu dan mulai melangkah melalui jalanan licin di tengah tengah lahan ke arah suara tersebut berasal. Setelah berjalan kira-kira seratus langkah, saya mulai melihat dengan jelas, dari balik kabut, sekumpulan orang yang tampak hitam, agaknya itu para serdadu. “Benar, mereka sedang latihan berbaris,” pikir saya dan bersama seorang tukang tempa besi yang mengenakan pakaian kerja yang terkotori minyak dan mantel dari bulu domba, yang membawa sesuatu dan berjalan di depan saya, melangkah lebih mendekat. Para serdadu dengan seragam hitam berdiri membentuk dua barisan, berhadap-hadapan seraya memegang senjata selurus dengan kaki dan sama sekali tidak bergerak. Di belakang mereka berdiri para penabuh genderang dan peniup flute, yang selalu mengulang, tanpa henti-hentinya, irama yang tidak menyenangkan dan melengking.

“Apakah yang mereka perbuat?” tanya saya pada sang penempa, yang berdiri di samping saya.

“Mereka menggiring seorang Tartar karena berusaha melarikan diri,” kata sang penempa dengan marah, sambil memandang ke ujung jauh barisan.

Saya mulai menatap ke sana juga dan melihat sesuatu yang mengerikan di tengah-tengah barisan, berjalan ke arah saya. Sesuatu yang mendekat kepada saya itu adalah seorang laki-laki bertelanjang dada, yang dihimpit senapan oleh dua orang serdadu, yang mengawalnya. Di samping laki-laki tersebut berjalan seorang perwira bertubuh tinggi, mengenakan mantel dan penutup kepala dinas, sosok tersebut tampaknya saya kenal. Sang pesakitan bergerak maju ke arah saya di bawah hujan pukulan yang menghajarnya dari dua sisi, seluruh badannya tersentak dan kakinya menginjak keras-keras salju yang meleleh, kadang dia tersungkur ke belakang dan saat itu serdadu yang mengawalnya dengan senapan, mendorongnya ke depan, kadang dia jatuh menyorong ke depan dan saat itu serdadu tersebut, sambil menahannya agar tidak jatuh, menarik sang pesakitan ke belakang. Dan di sampingnya, perwira yang bertubuh tinggi tak pernah sedikit pun melangkah di belakang, berjalan dengan tegap. Dia adalah ayah Varenka, dengan wajahnya yang merah, jambang pipi dan kumis warna putih.

Pada setiap pukulan, sang pesakitan, seperti orang yang keheranan, memalingkan wajahnya yang meringis karena kesakitan ke arah, dari mana datangnya pukulan dan sambil menyeringaikan gigi-gigi putihnya, dia terus mengulangi kata-kata yang sama. Hanya pada saat dia sangat dekat, saya mendengar kata-kata tersebut. Dia tidak mengatakannya, tetapi lebih kepada melenguh: “Tolonglah, ampuni. Ampunilah saya.” Akan tetapi orang-orang itu tidak mengampuninya dan manakala prosesi itu benar-benar tepat di depan saya, saya melihat, bagaimana serdadu yang berdiri di depan saya tanpa ragu-ragu melangkah maju ke depan dan setelah mengibaskan tongkat pemukul ke udara, hingga terdengar bunyi mendesing, dia memukulkannya keras-keras pada punggung orang Tartar tersebut. Sang pesakitan jatuh ke depan, tetapi serdadu-serdadu itu menahannya dan pukulan yang seperti tadi menghajarnya dari arah yang lain, dan sekali lagi dari arah yang tadi, dan sekali lagi dari arah yang lain. Sang kolonel berjalan di samping orang Tartar, kadang dia melemparkan pandangan ke arah kakinya sendiri, kadang ke arah sang pesakitan, dia menghirup udara, kemudian menggelembungkan pipinya dan pelan-pelan mengeluarkannya melalui bibirnya. Ketika prosesi tersebut melewati tempat, yang di atasnya saya berdiri, selintasan saya melihat, di tengah-tengah barisan serdadu, punggung sang pesakitan, tampak sesuatu yang sulit digambarkan: berbilur-bilur, basah, merah, mengejutkan. Saya hampir tak percaya, jika itu bagian tubuh manusia.

“Ya, Tuhan!” gumam sang penempa, yang berdiri di samping saya.

Prosesi bergerak menjauh. Pukulan-pukulan dari dua arah tetap menghajar mahluk yang terhuyung-huyung dan menggelepar, genderang juga tetap ditabuh, flute pun tetap melengking, dan sosok sang kolonel yang jangkung dan perbawa berjalan di samping orang Tartar dengan langkah yang tegap. Tiba-tiba kolonel tersebut berhenti dan dengan cepat menghampiri salah seorang serdadu.

“Aku akan menunjukkan kepadamu bagaimana melalaikan perintah,” saya mendengar suaranya yang murka. “Kau ingin melalaikan perintah? Kau ingin begitu?”

Dan saya melihat, bagaimana dia memukul serdadu yang berbadan pendek dan lemah tersebut dengan tangannya yang kuat, yang terbungkus sarung tangan kulit, lantaran serdadu itu tidak cukup kuat menghajarkan tongkat pemukulnya ke punggung orang Tartar yang terlihat sangat merah.

“Berikan tongkat pemukul yang baru!” teriaknya dan berpaling: dia melihat saya. Seraya berpura-pura tidak mengenal saya, dia mengernyitkan dahi dengan keji dan mengerikan, kemudian secepat-cepatnya memalingkan wajah. Sampai pada tingkat ini saya merasa malu, saya tidak tahu harus ke mana melemparkan pandangan, seolah-olah saya tertangkap dalam perbuatan yang mendatangkan malu. Saya jatuhkan pandangan ke bawah dan dengan tergesa-gesa pulang ke rumah. Di sepanjang jalan, di telinga saya terngiang kadang tabuhan genderang dan lengkingan flute, kadang terdengar kata-kata: “Ampunilah saya”, kadang saya mendengar suara murka, yang terlalu percaya diri dari sang kolonel, yang berteriak: “Kau ingin melalaikan perintah? Kau ingin begitu?” Dan pada ketika itu di dalam hati saya ada penderitaan yang hampir-hampir bersifat jasmani, yang membuat saya muak, sehingga untuk beberapa kali saya berhenti, dan kelihatannya, saya harus membuang semua hal yang mengerikan, yang masuk kepada saya melalui tunjukkan yang tadi. Saya tak lagi ingat, bagaimana saya sampai ke rumah dan berbaring. Akan tetapi saya hanya tidur barang sebentar, kemudian mendengar dan melihat lagi segalanya itu dan saya terlonjak bangun.

“Tampaknya, dia mengetahui sesuatu, yang tidak saya ketahui,” saya berpikir mengenai sang kolonel. “Sekiranya saya mengetahui, apa yang dia ketahui, saya akan memahami, dan apa yang saya lihat, tidak akan menyiksa saya.” Akan tetapi beberapa kali pun saya berpikir, saya tidak dapat mengerti, apa yang diketahui oleh sang kolonel dan saya pun jatuh tertidur menjelang malam. Dan setelah itu, saya kemudian berkunjung ke rumah seorang kenalan dan di sana saya minum-minum dengannya sampai saya benar-benar mabuk, untuk melupakan.”

“Apakah kalian mengira, bahwa apa yang saya simpulkan saat itu mengenai apa yang saya lihat adalah sesuatu yang buruk? Sama sekali tidak. Jikalau itu dilakukan dengan penuh keyakinan dan diterima oleh setiap orang sebagai sesuatu yang diperlukan, maka itu artinya mereka mengetahui sesuatu, yang tidak saya ketahui, saya berpikir begitu dan berupaya untuk mengetahui hal tersebut. Akan tetapi seberapa pun saya berusaha, saya kemudian tetap tidak mampu mengetahuinya. Dan karena saya tidak dapat mengetahui, saya pun tidak mampu masuk ke dalam dinas militer, sebagaimana yang saya inginkan dulu. Dan bukan hanya di dalam kedinasan militer, tetapi di mana-mana saya tidak sanggup masuk ke dalam dinas apa pun dan ke manapun, sebagaimana yang kalian lihat, saya telah berubah menjadi seorang manusia yang tak berguna.”

“Ya, kami mengetahui, bagaimana Anda telah berubah menjadi orang yang kehilangan guna,” kata salah seorang tamu. “Lebih baik dikatakan demikian saja: jadi sebelum ada Anda, betapa banyaknya orang, yang telah berubah menjadi manusia yang tidak berguna.”

“Itu adalah sesuatu yang bodoh untuk dikatakan,” kata Ivan Vasilyevich dengan nada yang sangat kesal.

“Baiklah, bagaimanakah dengan cinta Anda?” tanya kami.

“Cinta saya? Sejak hari itu cinta saya jadi meluruh. Ketika Varenka, ini sering terjadi terhadapnya, dengan senyuman di wajah memikirkan sesuatu secara mendalam, dan saya, dengan secepatnya, teringat pada sang kolonel, yang ketika itu berada di atas lahan, dan saya, tidak tahu bagaimana, merasa jadi tidak nyaman dan tidak bahagia, saya pun kemudian jadi lebih jarang bertemu dengannya. Dan cinta saya menghilang menuju pada tidak ada. Begitulah kadang-kadang sesuatu terjadi dan karena apa seluruh hidup manusia bisa berubah dan memiliki tujuan. Sedangkan kalian di sini hanya memperbincangkan mengenai lingkungan,” kata Ivan Vasilyevich mengakhiri. (*)

1903

____
*Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh: Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin.

[1] Merupakan foto yang dikerjakan di atas piring perak. Namanya disesuaikan dengan nama penemu metode ini, L.J.M Daguerre (1787-1851). Pada tahun 1851 diketahui ada daguerreotype Tolstoy

[2] Seminggu sebelum puasa masehi; festival Slavia Kuno untuk mengucapkan selamat jalan pada musim dingin, yang ditandai oleh pekerjaan musim semi di ladang

[3] Dipilih oleh kaum bangsawan di suatu Uyezd atau Guberniya di dalam badan pemilihan kepemerintahan lokal

[4] Gelar senior hukum di Rusia

[5] Anak Peter I. Ratu Rusia (1709-1761), yang memerintah sejak tahun 1741. Di dalam potret resminya terpampang jelas bahunya yang putih dan lembut

[6] Aslinya adalah nama permainan kartu. Pada tahun 1740 diberikan untuk penamaan tarian. Quadrille diperkenalkan di Perancis sekitar tahun 1760. Quadrille dibawakan oleh dua pasang penari; pertama-tama di Perancis hanya diperlukan 4 orang, kemudian dua pasang penari ditambahkan pada masing-masing sisi untuk menggantikan pasangan yang lelah. Tarian ini sangat enerjik

[7] Tarian ini muncul di Wina, Austria pada awal abad 17. Tarian ini berirama ¾, pun musiknya

[8] Tarian rakyat Polandia. Pasangan penari membawakan tarian ini dengan berkeliling ruang dansa. Tempo tarian ini cepat

[9] Tarian nasional Polandia yang dibawakan sejak abad 16. Musiknya berirama ¾. Tarian ini dikarakterisasikan dengan hentakan kaki dan sentakan tumit, saat ada gerakan membalik

[10] Untuk tarian mazurka ada aturan khusus. Para penari pria memilih kualitas konvensional, misalkan rendah hati, rasa bangga, riang, sedih. Seorang penari pria akan memilih dua orang penari lainnya dan meminta sang penari wanita untuk menebak kualitas mereka. Penari wanita akan menari dengan laki-laki yang kualitasnya dapat diterka

[11] Maksudnya’lagi’ (bahasa Perancis)

[12] Penulis Perancis (1808-1890), yang mendirikan majalah satir ‘Wasps’

[13] Di dalam kitab Injil dikisahkan nabi Nuh jatuh tertidur, setelah banyak minum. Ham, anaknya, menertawakan, tetapi Sim dan Japhet, anak lainnya, dengan rasa respek menyelimuti ketelanjangan ayahnya

[14] Tanda pangkat untuk masa seremonial, yang disulam secara khusus pada bagian ujung pundak

[15] Maksudnya ‘sayangku’ (bahasa Perancis)

[16] Kaum militer pada masa Nikolai I (1825-1855) meniru tsar mereka, yang di dalam potret resminya memakai kumis dan jambang

[17] Ujian akhir di universitas dan mahasiswa yang berhasil diberi gelar: kandidat akademik

[18] Nama diminutif Pyotr atau Peter

[19] Institusi pendidikan eksklusif untuk putri-putri kaum bangsawan, yang didirikan oleh Marya Fyodorovna (1759-1828), istri tsar Pavel I

[20] Dipernis, agar kayu jadi berkilat

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Janin Badai

mm

Published

on

Oleh Ken Hanggara

Di perutku badai asing tumbuh dan beranak-pinak. Hitam, garang, dan liar. Jika ia mengamuk, badanku berputar seratus delapan puluh derajat; kepala di bawah, kaki melayang. Ketika badai itu reda, hidupku hambar. Dan saat ia marah, aku mau mati saja.

“Badai asing melukaiku,” ujarku tersengal-sengal, “jadi kubunuh dia.”

Tapi, kata Ibu, kalau kamu bunuh badai di perutmu, bisa saja kamu yang mati. Aku takut dan belum tentu Tuhan menaruhku di surga kalau aku mati. Tapi badai ini sudah keterlaluan. Di perutku ia menggila. Tak tahu apa yang badai itu mau atau bagaimana ia beraktivitas hingga seolah-olah kulihat gambaran: lumatan nasi di lambung campur baur dengan cairan asam berlebih akibat derasnya badai.

Selama badai marah, aku melingkar di kasur, berputar-putar mirip gasing. Kadang diam dan memejamkan mata, atau mengejan dengan maksud mengusir badai itu, dengan harapan bisa kentut, meski ternyata tidak. Sakit luar biasa!

Ibu melarangku mengejan begitu, karena badai dikhawatirkan keluar lewat lubang kentut dengan kekuatan superbesar dan membikin gubuk kami roboh. Kalau rumah ini hancur, mau tinggal di mana kita? Mau menggelandang, ha?

Kubantah kata-kata Ibu. Kita tidak akan menggelandang dan rumah jelek ini tidak mungkin roboh hanya karena kentut. Tidak masuk akal. Bagaimana bisa badai dari perut gadis kurus sepertiku membuat bangunan ini roboh?

Tapi, untuk satu kata ‘logis’, badai yang tumbuh dan beranak-pinak di perut saja tidak bisa dibilang logis. Ia antara ada dan tiada. Bagi orang waras yang tidak tahu, aku pasti dianggap sinting.

“Kamu yakin ada badai di perutmu?” tanya temanku.

“Tidak sih. Di saat tertentu aku tenang. Tapi di saat lain aku mengejan-ngejan, atau berputar-putar seperti gasing. Kukira itu pertanda bahwa badai asing ini mengamuk.”

“Bagaimana kamu menyimpulkan kalau itu adalah badai?”

“Soalnya perutku seperti diputar, digiling. Kamu tahu digiling, nggak?”

Temanku tidak bisa berkata lain selain menyuruhku ke dokter. Anak ini sudah tidak beres, begitu katanya berulang-ulang, diam-diam, bisik-bisik ke yang lain; sayangnya aku dengar, Tolol!

Kataku, pergi ke dokter bukan solusi, meskipun Ibu menyarankan hal yang sama. Barangkali ahli meteorologi bisa memberiku penjelasan mengapa ada badai di perut manusia, sebuah badai yang tidak diketahui asal usulnya, yang tumbuh, berkembang, mengamuk, dan beranak-pinak di sana. Itulah kenapa kusebut dia ‘badai asing’.

Pertanyaan lain, yang sesungguhnya juga kutanyakan: Bagaimana aku yakin badai asing beranak-pinak di perutku? Aku tidak tahu. Aku semakin bingung setelah ada satu malam di mana badai itu menangisi anak-anaknya. Dia tenang dalam kondisi menangis, seperti danau di tengah hutan tanpa seekor binatang atau manusia atau pengaruh musim yang menimbulkan riak di permukaan air. Sikap menangis wanita lemah.

“Kalau badai itu menangis, aku ikut menangis. Tapi aku bingung, buat apa badai menangis? Apa badai asing ini bernyawa? Apa dia makhluk, seperti hewan, tumbuhan, manusia, jin, malaikat…”

Kurasa ini petunjuk Tuhan. Mungkin badai di perutku termasuk makhluk semacam malaikat—atau jin, tapi beda jenis. Kalau benar, ini penemuan besar. Mungkin sudah takdirnya begitu, sehingga aku lega karena ada alasan di balik misteri badai di perutku. Secara teori, badai ini tidak cuma bisa menembus benda material sebagaimana malaikat atau jin, tetapi juga memiliki akal dan nafsu dalam dirinya.

Saat pertama kuberi tahu soal badai di perutku, Ibu diam. Beberapa jam Ibu tidak bicara dan sekalinya bersuara, dia bilang tidak terima saat kukatakan badai asing bisa beranak-pinak karena dia satu dari sekian jenis makhluk di dunia ini.

“Kamu bicara apa? ‘Kan sudah Ibu bilang, kamu bawa saja ke dokter!”

“Ibu tidak tahu badai asing ini makhluk berbahaya! Dokter tidak bisa melawannya. Kalau bisa, tidak satu pun dokter di dunia ini yang meninggal!”

“Kamu ini kacau, ya!”

“Memang, Bu. Kalau badai ini ngamuk, badanku berputar seratus delapan puluh derajat; kepala di bawah, kaki di atas. Ibu tahu, nggak? Benar-benar biadab! Beraninya main di perut. Coba berhadapan langsung, sudah kubunuh dia!”

“Ya Tuhan, cobaan apa ini!”

Ibu pergi dan membanting pintu.

Setelah itu Ibu jarang bicara denganku dan aku bergelut dengan sakit luar biasa akibat badai dalam perut yang aneh dan lama-lama menakutkan. Ini pasti ada akhirnya. Tapi, betapapun kuatnya keyakinan bahwa si badai asing makhluk bernyawa dan kelak akan mati sebagaimana janji Tuhan bahwa setiap yang berjiwa pasti akan diambil, aku tidak tenang. Badai ini, jika beranak-pinak, suatu saat memenuhi seluruh bagian perut; ini juga ada waktunya. Kubayangkan lambung, usus, dan sebagainya, tak lagi cukup menampung hal lain selain badai asing dan anak turunnya. Dan badanku mungkin meledak!

Yang paling kuingat dari malam penemuanku, badai ini menangis dan memohon agar anak-anaknya tidak nakal dan kabur. Dia rela berbagi tubuh dengan mereka: “Satu sisi di puncak untukmu, Mata, Akal, Telinga. Sisi di samping untuk kalian, Jantung, Hati, Perasaan. Dan bawah badanku bagimu, Nafsu, Bencana, Aib…”

Dasar sinting! Ibu macam apa itu? Akal, perasaan, nafsu…? Jangan sok bijak, Setan! Tujuan dia menetap di perutku karena ingin menyiksaku. Mungkin badai ini semacam benalu, yang numpang hidup dalam tubuh makhluk lain, tapi tak sedikit pun memberi manfaat.

“Ya! Itulah dirimu, wahai badai asing!”

Aku sering berputar. Tubuhku tak lagi melingkar. Aku bergelinjang seperti belut di penggorengan. Aku mengejan sekuat tenaga seperti membuang tinja sebesar buaya. Ketika badai reda, tubuhku normal, tetapi pikiranku lari ke mana-mana. Aku tidak bisa menebak bagaimana mulanya badai asing tumbuh. Sesuatu yang ada pasti datang dari ketiadaan. Dulu tidak ada badai di perutku, tapi sejak lima bulan lalu, sejak badai itu datang, hidupku mulai berbeda.

“Kukira kamu perlu ke ahli meteorologi,” kata teman yang sama. “Karena asal-usul badai bisa dilacak. Badai di perutmu mungkin sama dengan badai umumnya. Mungkin ada perubahan atmosfer dalam tubuhmu, meski aku tidak yakin.”

“Dia bukan badai biasa. Dia makhluk seperti jin dan malaikat.”

“Kamu selalu sok tahu!”

“Ya.”

“Dari mana kamu tahu?”

“Aku tahu karena dia beranak-pinak dan menangis, dan aku juga tahu dia ingin membagi raganya untuk anak-anaknya.”

“Tak masuk akal!”

“Memangnya masuk akal, ada badai dalam perutku? Bisa bayangkan?!”

Aku mencoba cara lain, yang sudah jadi keputusan akhir. Aku tidak tahan lebih lama. Setiap badai asing mengamuk, badanku tidak lagi berputar seratus delapan puluh derajat, atau mengejan, atau menggelinjang, atau melingkar dan mengerang di kasur, tapi aku lari ke sana kemari persis orang gila, karena amukan badai sangat menyakitkan!

Aku harus bunuh badai itu.

Aku tidak yakin diriku tidak terluka oleh rencana ini, tapi badai itu bisa mati kalau aku tahu titik pusatnya.

Jadi begini, saat badai tenang, kuraba perutku, kupijat, lalu kuremas bagian-bagian tertentu. Di sanalah titik pusatnya. Aku tidak menunggu badai mengamuk. Selagi ada kesempatan, ia kubunuh pada detik itu. Bisa dengan pisau atau pedang panjang, sehingga aku menusuknya melalui pusarku dan tembus sampai punggung. Aku tak punya pedang dan tak perlu berpikir rumit untuk sekadar membunuh badai dalam perutmu, bukan?

Aku hanya perlu mencari tempat di mana ia bisa kukubur, setelah kubunuh nanti. Aku percaya kematian badai membuatnya mudah kukeluarkan. Tidak lewat lubang anus, karena anak-anak badai sungguh amat sangat banyak. Hampir tiap malam ia melahirkan anak dan membagi dalam kelompok sesuai kebutuhan fisiknya: bagian atas, samping, bawah…. Tidak heran, hari ini anak-anak itu membuatnya lebih ganas. Aku bahkan tidak yakin selamat usai membunuh badai asing itu. Tapi satu yang pasti: percobaan ini jelas membunuhnya.

Kiranya ada hal yang membuat Tuhan tersinggung, aku minta maaf. Aku penemu sekaligus pembasmi makhluk jenis baru serupa jin dan malaikat yang bisa hidup dan beranak-pinak dalam perut seorang gadis tanpa diketahui bagaimana ia bermula.

Maka dengan tenang kuucap, “Badai asing kurang ajar yang masuk ke perutku, beranak-pinak tanpa peduli betapa susah fisikku karena menampung bobotmu yang kian hari kian berat, kuucapkan selamat tinggal.”

Dalam pandangan lamur, pisauku berlumuran darah. Tidak ada makhluk serupa jin atau malaikat, atau tiupan angin hingga gubuk roboh.

Setelah perut terbelah, yang ada seonggok daging, segumpal rambut, dua bola mata, dan bau amis. Tuhan bercanda. Terbuat dari apa badai yang tumbuh dan beranak-pinak dalam perutku sih? [ ]

Gempol, 2015-2019

 

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya tersebar di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018).

 

Continue Reading

Cerpen

Evolusi Homo Sapiens

mm

Published

on

Oleh: Sasti Gotama

 Seekor Homo sapiens terjatuh begitu saja dari langit. Untung saja ia terjatuh di atas tumpukan rumput kalanjana. Meskipun begitu, tetap saja ia merasa kesakitan lalu menguik    –yang bunyinya lebih mirip suara bekantan di rimba Kalimantan. Jika saja ia tidak terlalu berkonsentrasi dengan nyeri di pantatnya, tentu ia akan sadar bahwa suaranya  mengejutkan sepasang kupu-kupu hitam yang hinggap di pucuk ilalang hingga keduanya terbang berpencar, tak jadi melakukan ritual perkawinan.

Homo sapien itu bangkit sambil berusaha mengingat-ingat, bagaimana ia bisa terjatuh di tumpukan rumput ini. Seingatnya, terakhir kali yang  ia lakukan –beserta kawanannya– adalah mengejar seekor kukang tanah setinggi pohon yang melarikan diri menuju rimbunan  pakis haji raksasa. Ia mengejarnya sambil mengayunkan tombak batu yang baru diasahnya tadi malam. Ujung daun-daun itu sempat menggores kulit lengan sebelum ia merasa kakinya menginjak sesuatu yang lembut dan lunak.  Rawa. Tanah lembek itu mengisapnya ke dalam. Semakin dalam, hingga ia tak sempat berteriak ketika tanah hitam lembap itu masuk ke dalam lubang hidung dan mulutnya –terasa pahit dan asin– sebelum akhirnya ia melihat kegelapan yang berganti cahaya menyilaukan. Kemudian ia terjatuh begitu saja.

Ia melihat ke sekelilingnya. Dunia yang asing. Ia melihat tanaman  sejenis rerumputan yang dikumpulkan dalam berpetak-petak tanah. Ia pernah melihat tanaman sejenis rumput ini yang berbuah biji-bijian di suatu tempat di tengah hutan sebelum ia dan kawanannya berpindah tempat di musim kemarau panjang. Namun, rumput yang pernah dilihatnya hanya  serumpun, bukannya hamparan   kuning keemasan yang sepertinya sengaja ditanam dan terlihat seperti rimbunan bulu-bulu kukang terbentang di bawah kaki bukit.

Ia mendongak dan melihat langit sudah mulai terang. Bola api  raksasa merayap keluar dari balik bukit. Homo sapiens itu  memutuskan berjalan menuju ke arah sinar  dengan menyusuri parit buatan.

***

Sementara itu, seorang Homo sapiens lainnya berjenis kelamin laki-laki dan berbaju hitam  bernama Toha sedang berjalan mondar-mandir di depan pintu rumah. Ia menunggu Imron, sepupunya, yang berjanji akan datang secepatnya setelah selesai nyabis ke Kyai Soleh.   Toha tak menghiraukan istrinya – Maemunah—juga kopi panas yang diletakkan di atas meja. Ia juga tak  peduli  kelopak mata istrinya bengkak karena menangis semalaman. Yang ada dalam pikirannya adalah harga diri yang harus dibela.

Seminggu yang lalu, Bukad  –pamannya– baru saja memenangkan pemilihan  klebun   di alun-alun Wirakrama. Sayangnya, Sugali, klebun yang lama menolak menyerahkan tanah percaton  karena menganggap sudah melakukan tukar guling dengan tanah miliknya di pinggir desa.  Bukad tidak terima, karena tanah percaton hasil tukar guling terletak jauh dari pusat desa dan tanahnya tidak begitu subur. Sugali berkilah bahwa ini sudah disahkan oleh pemerintah pusat. Ia menunjukkan berbagai macam surat yang menetapkan perihal ini. Tentu saja, Bukad tak terima. Ia mencium adanya persekongkolan dan  mencurigai bahwa tanda-tangan yang tertera di surat-surat itu dipalsukan. Ia lalu mengajak pendukungnya untuk beramai-ramai menyerbu rumah Sugali.

Sebagai kerabat yang baik, tentu saja Toha merasa berkewajiban membela pamannya. Ini masalah kehormatan. Bagi sukunya, kehormatan harus dijunjung tinggi. Lebih baik putih tulang daripada putih mata.

Tepat pukul delapan lebih lima belas menit, Toha melihat Imron datang. Segera diraihnya celurit –berukuran enam puluh sentimeter dengan ujung melengkung– yang telah diasahnya tadi malam . Ia menghampiri Imron yang juga membawa senjata yang sama. Tekad mereka bulat. Membela kebenaran.

Maemunah melepas keduanya dengan mata  sembab. Percuma saja meminta seorang lelaki sukunya yang sudah bertekad bulat untuk mengurungkan niat. Seperti halnya yang terjadi pada kisah-kisah sebelumnya, hal-hal seperti ini  –perihal membela kebenaran–  sering berujung pada carok masal. Padahal entah itu memang sebuah kebenaran atau kepentingann seseorang, Maemunah tak yakin. Sama tak yakinnya ia  bahwa Toha akan pulang selamat. Perlahan ia menutup sepasang pintu jati rumahnya, lalu jatuh terduduk dan bersandar pada pintu. Ia menangis tanpa suara.

Sementara itu pasukan pembela Bukad, termasuk Toha dan Imron,  sudah berkumpul di depan rumah Sugali. Mereka berteriak-teriak sambil mengacungkan celurit yang mereka bawa. Sebagian dari mereka memanggil nama Sugali. Sisanya memaki-maki.

Sugali terdiam di balik pintu. Bukannya ia gentar, tapi ia merasa melakukan hal yang benar. Akhir bulan Mei, lima tahun yang lalu, ia melihat atap salah satu sekolah dasar di pinggir desa tampak miring. Pemandangan yang lebih mengenaskan terlihat saat ia masuk ke dalam ruangan kelas. Dinding banyak yang rusak dan kayu-kayu penyangga rapuh dimakan rayap. Seolah-olah, jika ia bersin, maka bangunan ini akan rubuh begitu saja. Belum lagi letak sekolah ini jauh dari pusat desa. Anak-anak yang bersekolah harus menempuh jalan yang cukup jauh, melewati bukit kapur dan persawahan warga. Sugali berpikir, seandainya saja tanah pecaton di tengah desa bisa ia tukar dengan tanahnya di pinggir desa, mungkin bisa ia bangun sekolah yang lebih bagus.

Teriakan-teriakan semakin keras terdengar. Sugali sempat berpikir untuk keluar dan menjelaskan, tapi sesuatu berbisik di telinganya bahwa itu sama saja dengan bunuh diri dengan sadar. Jadi, ia memutuskan menunggu. Pendukungnya akan segera datang. Rencana Bukad untuk menyerbu rumahnya sudah bocor sejak tadi malam sehingga ia dan pendukungnya sudah menyiapkan taktik balasan. Tadi malam, ia gelorakan semangat pendukungnya. “Mereka melakukan fitnah sistematis. Mengatakan saya melakukan persekongkolan dan tipu muslihat. Padahal saya melakukan kebenaran. Kebenaran harus ditegakkan. Dibela sampai titik darah penghabisan!” Tentu saja ia tak mengatakan darah siapa yang harus dialirkan. Yang pasti bukan darahnya sendiri.

Ketika masa Bukad semakin beringas dan hendak merobohkan pagar rumah Sugali, dari arah belakang, ratusan masa pendukung Sugali menyerbu. Di tangan mereka ada celurit dan kelewang. Carok! Ujung-ujung celurit itu mulai liar. Menghujam kulit, menyobek daging, memenggal leher, hingga darah mengalir deras. Tak ubahnya  medan perang Kurukshetra.

Semuanya sibuk berperang hingga tak memperhatikan seekor Homo sapiens telanjang yang terdiam di pinggir jalan. Ia telah  menempuh empat puluh lima menit menyusuri jalan makadam dan terhenyak ketika melihat sekumpulan makhluk yang mirip dirinya saling menghujamkan senjata tajam.

Homo sapiens itu terheran-heran. Selama hidupnya, tak pernah kawanannya saling melukai seperti itu. Biasanya  mereka memburu bison atau kukang tanah raksasa bersama-sama. Menombak, memenggal kepala, dan mengulitinya, tapi tak pernah kawanannya saling memburu sesama. Ia bertanya-tanya, apakah mereka berperang karena memperebutkan daging  bison atau kambing liar atau kukang raksasa. Tetapi ia melihat  di sekitar mereka  tak ada bangkai binatang yang diperebutkan. Lagipula perut mereka membulat dan otot-otot mereka tampak pejal. Yang pasti mereka tak tampak kelaparan.

Homo sapiens itu tak pernah tahu, bahwa berpuluh-puluh tahun yang lalu, seorang Homo sapiens lain bernama Sigmund Freud telah menemukan  hal penting yang membuat Homo sapiens saling berperang. Ego. Ego yang tunduk pada id. Tentu saja ini adalah hasil evolusi otak dari seekor Homo sapiens. Jika saja Homo sapiens dari masa lalu itu tahu, bahwa ini hasil evolusi dari otak besarnya, mungkin ia akan menolak berevolusi dan tetap memilih menjadi lutung jantan.

***

Sebelas orang meninggal dan puluhan luka berat. Dan berminggu-minggu kemudian, dari kedua belah pihak –baik Bukad maupun Sugali—mengatakan bahwa masing-masing dari masa mereka disusupi oleh pembuat onar. Begitu kata mereka saat diwawancarai oleh reporter wanita cantik berambut pendek yang datang dari ibu kota. Tak  ada satu pun dari mereka menyebutkan keberadaan seekor Homo sapiens telanjang yang melenggang di tengah desa dengan wajah heran.

SELESAI

___

Keterangan:

Keterangan:

Nyabis: diisi tenaga dalam

Klebun: kepala desa

Percanton: tanah bengkok

Continue Reading

Cerpen

Tentang Maria, Gedung Bioskop, dan Buku Harian yang Tertinggal

mm

Published

on

Getty Images/ The Lovers by Rene Magritte

Aku dan Maria tidak punya masalah apa-apa tentang cinta, tetapi kami tak pernah bisa punya anak. Aku tidak menceritakan lebih detail, bahkan pada buku harian, andai aku punya. Aku ke luar dan mencari Toni, tapi tak menemukannya. Aku tidak menyusul pemuda itu ke rumahnya, melainkan duduk untuk meneruskan bacaanku terhadap buku harian Maria.

 

Oleh Ken Hanggara *)

Pada sore hari setelah Maria pergi, aku duduk di teras dan membuka-buka sebuah buku harian. Di sampul depan buku harian tersebut terdapat suatu cap yang dahulu aku buat di sana untuk kenang-kenangan agar Maria tak melupakanku.

“Ini hadiah dariku, Bung,” kataku kepada seorang tetangga.

“Kau yakin kalian benar-benar saling mencintai?”

Aku berdiri dan mengajaknya masuk ke ruang tamu. Toni tetangga baruku, dan ia belum pernah menyapa Maria. Tiga hari yang lalu Toni datang dengan membawa mobil pick up berisi berbagai perabot, dan kepadaku yang kebetulan berada di teras rumahku, ia mengaku semua benda tersebut warisan. Ia akan tinggal di rumah sebelah yang sudah sepuluh tahun lebih kosong.

Aku mengenal Toni sejak itu, dan karena ia bujangan, aku bisa mengajak pemuda itu mengobrol apa saja sampai larut malam. Maria tidak pernah mau kuajak bercumbu sebelum tidur dan itu tidak kuceritakan pada Toni.

Karena tidak pernah kuungkit-ungkit soal Maria, dan begitu tahu pasanganku pergi tanpa pamit, Toni berpikir Maria tidak benar-benar mencintaiku. Ia berkata, sambil kami melangkah ke dalam, “Kalau tidak begitu, ada sesuatu yang salah.”

Aku berhenti dan bermenung di depan foto diriku dan Maria yang berdiri sambil berpelukan di depan gedung bioskop tujuh tahun lalu, waktu kami pengantin baru. Aku tidak berkata apa-apa sampai akhirnya sadar ada Toni di sini, dan kujawab, “Sebetulnya tidak ada yang salah.”

Aku tahu ada yang beda di wajah Toni, dan kukira dia tidak enak saja padaku yang lebih tua beberapa tahun, tapi sudah dituduh macam-macam. Soal asmara bagi beberapa orang bisa jadi sensitif. Mungkin karena itu Toni memutuskan diam.

Kami tidak berkata apa-apa sampai kuajak Toni ke ruang tengah. Ada lebih banyak fotoku dan Maria dari tahun ke tahun. Ada beberapa yang sengaja dibuat khusus untuk mengenang bahwa kami tidak akan berubah soal cinta.

“Foto-foto macam ini,” jelasku pada Toni, yang terlihat agak lega, karena aku bisa bersikap santai, “dimulai dari ketidaksengajaan. Itu foto waktu kami pertama jadian.”

Kutunjuk sebuah foto, dan kemudian jariku beralih ke foto lain di samping kanan foto tadi.

“Ini setahun pertama kami jadian. Posisiku dan Maria terlihat sama seperti di hari ketika kami bersumpah akan terus bersama. Dia di kanan dan aku di kiri. Kami tetap berpelukan. Lihat, senyum kami juga sama. Ketika itu Maria bilang, ‘Aku tidak mau kita pacaran, dan kelak selesai begitu saja tanpa ada yang bisa dikenang.’ Maka kusodorkan ide foto dengan pose yang sama dari tahun ke tahun, dan perempuanku itu setuju. Dan kini, kamu lihat hasilnya!”

Toni mengangguk-angguk selagi kujelaskan itu. Ia sesekali bicara soal keakuratan senyum kami.

Senyumku dan Maria dari tahun ke tahun nyaris tak pernah terlihat beda dari foto di tahun sebelum dan sesudahnya. Bagi Toni, merancang foto seperti ini tidak semudah yang orang pikir, apalagi yang kami lakukan melebihi dari foto dengan pose tunggal. Yang kami lakukan membeku untuk urusan asmara. Ada beberapa yang beda di wajahku, yang jadi agak bulat, tapi senyumku dan Maria tak pernah beda.

Lalu kami melompat ke topik lain soal ayah dan anak di suatu belahan bumi, yang berfoto dengan pose tunggal setiap tahunnya, dan ketika si bocah semakin lama semakin besar, posisi ayah yang menggendong anaknya dapat dibalik sewaktu-waktu.

“Di foto kalian, tidak ada yang bakal terbalik, sebab kalian saling berpelukan, dan kita bisa memeluk siapa pun tanpa harus menjadi kuat. Apa yang tadi sempat kukatakan soal kalian yang sama-sama saling mencintai, harus kutarik dan aku menyesal sudah mengatakannya,” tutur Toni dengan memandangku lesu.

Aku mengangguk. Urusan percintaan saat manusia sudah berusia tiga puluh ke atas, atau empat puluhan, atau bahkan lima puluh hingga seratus tahun, sangat berbeda dari kisah cinta yang pada umumnya orang percayai.

“Aku dan Maria sering bertengkar dari waktu ke waktu setelah tahun keenam kami. Bayangkan, itu baru enam tahun kami menikah. Aku menikahi Maria pada saat umurku dua puluh delapan, dan dia dua puluh tujuh. Jadi, sekarang ini kami masih cukup muda, padahal kenyataannya aku dan Maria merasa sama-sama menua.”

Aku tidak ingin menjelaskan lebih jauh. Kuajak Toni berjalan lagi ke depan setelah puas melihat hampir semua fotoku dan Maria yang ada di ruang tengah.

Begitu aku ingat sudah menunjukkan foto-foto kami dengan pose tunggal kepada seorang tetangga baru, aku berbelok ke kamar dan mencari sesuatu di sana.

“Kau tunggu di depan,” kataku pada Toni.

Tak butuh waktu lama untuk tahu betapa Maria sudah membawa kamera dan setiap file dalam laptopku yang menyimpan seluruh foto dengan pose tunggal tadi. Itu adalah bukti untuk, paling tidak, dua kemungkinan. Pertama, Maria tidak ingin melupakanku sehingga foto-foto yang kami buat akan ia simpan selamanya meski kami tak bersama. Kedua, ia hapus seluruh file tersebut sehingga tidak ada lagi yang tahu bagaimana cara kami menyimpan cinta yang dulu begitu kami agungkan.

Aku dan Maria tidak punya masalah apa-apa tentang cinta, tetapi kami tak pernah bisa punya anak. Aku tidak menceritakan lebih detail, bahkan pada buku harian, andai aku punya. Aku ke luar dan mencari Toni, tapi tak menemukannya. Aku tidak menyusul pemuda itu ke rumahnya, melainkan duduk untuk meneruskan bacaanku terhadap buku harian Maria.

Di gedung bioskop,” desisku.

Itulah potongan kalimat pertama di buku harian Maria. Ia pernah bilang bahwa ia sengaja memindah catatan hariannya ke buku baru, setelah ada lelaki yang memenuhi kebutuhan cintanya, yakni aku. Jadi, hari ketika kami berdua bertemu itu Maria jadikan halaman pertama di buku harian barunya yang tebal.

Aku pernah bertanya, “Kamu menyiapkan buku setebal itu untuk tahun-tahun yang manis bersama orang paling beruntung, ya?”

“Aku yakin buku ini tidak akan pernah putus, karena ketika dia sudah kehabisan halaman kelak, akan kutambah dengan buku harian yang juga tebal, lalu mereka berdua kujahit, begitu seterusnya. Bisa dibayangkan? Kelak anak cucu kita akan tahu betapa nenek moyang mereka adalah penulis yang romantis!”

Aku bahagia dan merasa terhormat mendapat tempat seistimewa itu di hati Maria. Dia pernah dikhianati lelaki sewaktu masih SMA, dan sejak itu hingga berumur dua puluh tujuh, tidak sekali pun jatuh cinta. Dengan kata lain, akulah pria pertama yang ia cintai setelah bertahun-tahun membenci cinta.

Di gedung bioskop, seorang lelaki datang menyapaku, dan dia bertanya film apa yang bagus ditonton seorang diri? Kalimat pertama itulah yang ditulis Maria, dan aku ingat betapa dengan konyolnya aku bertanya soal film yang baik ditonton oleh orang yang kesepian. Waktu itu pilihan filmnya hanya romansa. Aku dan Maria dengan senang hati menonton bersama. Ia mudah menerima teman baru sepertiku, yang baginya lucu. Memang ketika itu aku merasa bodoh dan lucu.

Pulang dari bioskop kami mengobrol seperti teman biasa yang baru berkenalan. Ia kumintai nomor telepon, dan sejak itu, kami sering pergi ke bioskop. Sering juga kami menonton film yang dibuat untuk mereka yang tidak punya pasangan. Film-film macam superhero dan hal-hal tak masuk akal yang cenderung kekanak-kanakan. Aku tahu film semacam itu tidak benar-benar dibuat khusus untuk mereka yang single, tetapi tentu saja aku dan Maria ketika itu senang bercanda.

Begitulah, aku membaca halaman demi halaman buku harian Maria yang ditinggal, entah sengaja atau tidak. Buku harian itu kutemukan di lantai ruang tengah, tergeletak begitu saja bersama beberapa brosur liburan murah ke luar negeri serta beberapa buah buku bacaan yang Maria sukai. Benda-benda ini tersimpan di salah satu tas yang kukira harus Maria bawa, namun tak sengaja ditinggalkan. Aku tahu dia pergi dari rumahku dengan tergesa-gesa. Tidak ada alasan lain selain karena takut aku melarangnya.

Memikirkan Maria yang merasa tidak akan ada gunanya kami hidup tanpa pernah ada calon bayi di perutnya, membuatku sedih dan mungkin baiknya aku juga berkemas malam ini dan pergi dari rumah. Aku pergi untuk mencari Maria, atau mungkin pergi ke tempat mana pun yang kusuka untuk menghibur diri. Tapi, tubuhku lemas dan tak ada kemauan mewujudkan pikiran gila apa pun.

Mungkin esok keputusan itu ada. Mungkin juga tidak. Tapi, untuk saat ini tak ada hal apa pun yang ingin kulakukan selain tetap di sini. (*)

Gempol, 2017-2019

 _______________

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (Unsa Press, 2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending