Connect with us

Cerpen

Lensa Bertuah

mm

Published

on

Kamu telah menanggalkan semua: kebaya merah marun, sanggul, arloji imitasi, kemben hitam berenda; kecuali beban yang kautanggung. Beban yang telah lama hinggap di pundakmu, membuat hidup yang seharusnya merona semata kuyu. Kamu tersadar kamu tak boleh tidur karena pagi sebentar lagi tiba. Kamu harus menunaikan kewajiban bekerja. Kamu sedikit menyesali ajakan teman untuk menghabiskan malam di bar setelah meninggalkan resepsi pernikahan.

Oleh: Fajar Martha

___

Kamu memasuki pelataran. Sepasang kakimu yang jenjang terlihat melangkah pasti, kanan ke kiri. Namun, dari raut wajahmu, orang akan menebak yang kamu pampangkan semata ketegaran yang dipaksakan.

Kamu berhenti sebentar, melepas pengait berwarna perak yang menjepit rambutmu yang legam. Kauhela napasmu. Bukan hanya udara yang kaucoba embus, namun juga kelu di hati. Setelah bibir bawah kaugigit, kamu menghela napas lagi. Kali ini sambil memejamkan kedua mata yang berlumur maskara.

Kamu pun memasuki kamar apartemen. Tubuhmu toh masih segar seperti dulu. Cobaan hidup tak berhasil membuatmu layu. Lagi, kamu menarik napas panjang dan dalam. Tatapanmu kosong melompong. Kaugumamkan suatu kalimat seraya mendongak ke arah langit-langit kamar yang sekosong tatapan matamu. Kamu lantas menjerit. Pupuslah segala kesabaran yang sejak tadi kautahan. Air mata tumpah subuh ini.

Kamu telah menanggalkan semua: kebaya merah marun, sanggul, arloji imitasi, kemben hitam berenda; kecuali beban yang kautanggung. Beban yang telah lama hinggap di pundakmu, membuat hidup yang seharusnya merona semata kuyu. Kamu tersadar kamu tak boleh tidur karena pagi sebentar lagi tiba. Kamu harus menunaikan kewajiban bekerja. Kamu sedikit menyesali ajakan teman untuk menghabiskan malam di bar setelah meninggalkan resepsi pernikahan.

Sambil tetap menghalau kantuk, kamu termenung di bibir kasur yang semrawut. Sengaja tak kaurapikan karena jika rapi, kamu pasti dikalahkan kantuk. Kamu belum siap kehilangan pekerjaan.

Kamu belum siap kehilangan pekerjaan setelah empat bulan yang lalu kehilangan lelaki yang selama ini membuat hidupmu berpijar.

Namamu Silvia dan aku sungguh-sungguh mencintaimu.

***

 

Aku duduk berpangku tangan di bilik berbentuk oval. Seperti daerah asalku, Sungai Ungu, ruangan ini juga memendarkan warna yang sama. Dingin. Sunyi. Memang ada suara, tetapi hanya dengung konstan dan monoton sehingga seperti tiada.

Telah lama aku berada di ruangan ini, tanpa memedulikan lapar dan kantuk. Sepertinya kebutuhan ragawi sudah tak bisa lagi menyandera diri ini. Kini segalanya semata-mata tertuju padamu, Silvia.

Terdengar derit pintu. Seperti bungker, pintu bilik ini berada di langit-langit. Setelah pintu ditutup aku melihat bayangan seorang pria. Ketika akhirnya ia menapaki tangga turun, wajahku pun bersemu. Akhirnya aku tahu kepada siapa bisa bercerita.

“Namaku Iqbal. Senang bisa jumpa dengan Bung. Di negeri asing, bukankah bertemu dengan rekan senegara adalah berkah? Aku harap Bung setuju. Aku tahu Bung orang baru di sini. Oh iya, nama Bung siapa?”

“Jevandy. Tapi panggil saja Andi. Iya, betul. Senang sekali rasanya. Setelah sekian bulan, akhirnya aku bisa menjumpai orang yang bertutur bahasa yang sama,” jawabku sambil mengguncang-guncangkan tangannya.

“Sepertinya Bung sudah mengalami tuah lensa?”

Percuma saja menyebut nama jika tetap memanggilku Bung. Mungkin di masa lalunya pria ini seorang aktivis. Dia mengambil posisi duduk di hadapanku, meleseh seperti seorang cenayang.

“Iya, Bal. Seru sekali! Lensa itu betul-betul canggih. Rasanya tidak seperti menguntit. Kita bisa terus mengetahui keadaan orang yang kita sayang. Kalau diperkenankan bertemu dengan si pembuat lensa, akan kukecup kedua kakinya!”

Demi mengakrabkan diri, aku pun memutuskan untuk turut memanggilnya dengan tambahan “Bung”. Ini negeri asing, aku harus cepat-cepat mendapat sahabat. Dengung suara tak lagi terdengar monoton dan membosankan.

“Tapi Bung tahu kan konsekuensinya?” ia bertanya sembari menaikkan alis sebelah kiri. “Bung akan terus—“

“Terus menerus melihat orang yang sama?” potongku.

“Iya. Itu maksudku.”

“Tak masalah. Lagipula aku telah membayar mahal. Bung Iqbal sendiri mengintai siapa?”

“Ayah dan ibuku. Sedih sekali memang. Tapi, yaa… kita tak pernah sempat berpikir panjang, kan, sebelum membayarnya?”

Ada keheningan yang tak mengenakkan selama beberapa saat. Sayangnya tidak ada rokok atau camilan sebagai pengalih rasa kikuk. Kami lantas bersitatap ke arah yang berlainan.

“Hhhh,” dengusnya, “yang tidak mengenakkan adalah kita takkan pernah bisa berbuat apa-apa meski tahu orang yang kita intai sedang sedih atau mengalami musibah.”

“Itu juga harga mahal yang telah kita bayar, bukannya?” ucapku mencoba membesarkan hatinya. Bung Iqbal melankolis juga.

“Yah.. Meski kita hidup secara nafsi-nafsi, ikatan antara orang tua dengan anak adalah ikatan gaib yang azali, Bung. Biar kutebak. Orang yang kau pilih bukan orang tuamu, kan?”

***

Aku tak lagi memedulikan hari-hari. Konsep waktu menjadi kehilangan arti jika dirimu bisa merasakan berkah lensa berharga mahal ini.

Selain seratus persen aman, fitur lensa ini sanggup mengamati sasaran dari sudut pandang 360 derajat. Bayangkan saja, lensa ini bisa menjangkau daerah-daerah paling terpencil seperti ketiak atau lipatan paha!

Ah, itu engkau. Kukulum senyum jemawa ketika melihat isi keranjang belanjamu di swalayan: lima kaleng acar. Olala! Kamu pasti sedang merindukanku.

Berkat ajakanku ke Jerman-lah kamu jadi suka menjadikan acar sebagai camilan. Kita ke sana untuk menikmati Oktoberfest, masa di mana kita menjadi pencandu sauerkraut. Setelah masa pelesir tuntas, kita pun menjadikan asinan sebagai pengganti. Namun, asinan gampang basi. Kita kembali berpaling pada acar, meski acar kubis tak dapat kita temukan di supermarket mana pun.

Puluhan lelaki menelanjangimu dengan tatapan-tatapan mereka. Kasihan sekali. Gadisku mengacuhkan semua, memilih sibuk dengan pikirannya. Setelah memasuki gerbong kereta, kamu mengenakan masker. Bukan untuk menghalau debu atau kuman, tapi demi mengusir tatapan liar lelaki. Kamu sungguh gadis yang pintar bersetia.

Ah, iya, aku lupa memberitahumu beberapa kelemahan besar lensa ini. Alat ini tak dilengkapi mikrofon sehingga kita tak bisa mendengar apa pun. Kita juga tak bisa mengendalikan waktu-pakainya seenak hati. Satu sesi lensa bisa berlangsung sampai tiga hari, tapi tak jarang ada yang terjadi hanya selama dua puluh menit.

Sebentar. Kamu tidak turun di stasiun biasa, yang hanya berjarak selemparan batu dari apartemenmu. Kamu baru turun setelah tiga stasiun terlewati.

Setelah menjejakkan kaki di atas peron, kamu menuju kamar mandi. Semoga bukan untuk buang air besar. Aku ingin menggerayangi tubuhmu lagi walau tanpa membelai. Aku ingin mencermati setiap lekuknya walau tanpa mengecup. Untungnya lensa tidak memiliki fitur pengantar bau.

Waktu bergerak cepat dan yang kamu lakukan hanya duduk melamun. Kuatur lensa semakin ke bawah, demi mengetahui apa yang sebenarnya kamu lakukan. Mungkin saja kamu mendadak bergairah, lantas memutuskan untuk bermasturbasi.

Tunggu. Kamu menangis, sambil berupaya keras menahan agar tangisanmu tak terdengar. Ini sungguh menjengkelkan. Seperti yang Bung Iqbal katakan, kita tak bisa menyudahi adegan memilukan seperti ini.

Kamu memutuskan untuk keluar dari bilik toilet. Sebelum membuka selot, kaukeluarkan blus satin berwarna krem dari tas. Wahai jelita, malam mulai larut, apa kau hendak menghadiri pesta?

Tanpa bersusah-susah memperbaiki make-up, kamu bergegas melangkah keluar stasiun. Sembari melaju kauraih ponsel yang bordering dari saku celana.

Kamu berjalan membelah peron yang masih disesaki lautan manusia. Selama itu pula kauladeni suara di balik ponsel dengan riang. Pipimu merah jambu dan jantungku mulai berdegup kencang. Sial!

Kamu membonceng pengojek yang kautemukan di muka stasiun. Motor melaju dengan gesit, meliuk-liuk di antara kendaraan-kendaraan lain. Lensa membuatku terhuyung karena mengikuti gerak motor. Aku kewalahan mengatur posisi pandang. Rasanya seperti berada di atas roller coaster.

Motor berhenti di bibir losmen berarsitektur jengki. Tak jauh dari serambi, terdapat sebuah plang bertuliskan “Sri Rejeki”. Setelah membayar tagihan, kamu melangkah masuk. Aku berteriak supaya sesi kali ini berhenti sampai di sini.

Percuma.

Walau kutahu sia-sia, teriakanku semakin kencang saat kamu memasuki kamar nomor sekian. Di dalamnya telah menunggu seorang lelaki yang amat kukenal.

Dimas.

Lelaki itu kakakku dan kontan kutahu harga yang telah kubayar terlampau mahal, teramat mahal, sekaligus tak berarti.

***

“Kami tahu Anda masih shock. Tapi tolong bantu kami. Kami tak mungkin mengizinkan Anda meninggalkan lokasi sebelum mendapatkan kesaksian Anda. Cuma saudari yang menyaksikan peristiwa ini. Tenang, kami bukan petugas kepolisian. Kami hanya ingin memastikan beberapa hal sebelum jenazah ini kami tangani. Benar Anda mengenal pria ini?”

“I-i-iya, Pak. Saya mengenalnya.”

“Apa yang ia katakan sebelum membakar diri di depan pintu apartemen Anda?”

Silvia kembali bungkam. Ia baru tahu bahwa, salah sikap—meski kita merasa tindakan yang kita ambil bukan suatu kesalahan—bisa memicu reaksi tak terduga. Seperti apa yang diperbuat Jevandy, setelah kemarin Silvia ucap kata perpisahan, memangkas hubungan yang telah lama mereka rajut. Kali ini bunuh diri bukan cuma berita, peristiwa itu melibatkan Silvia.

Kobaran api telah menyisakan bara dan aroma anyir. Lorong apartemen itu pun dikepung asap pekat nan menyesakkan dada. (*)

*) Fajar Martha: Pengarang esai dan cerpen. Cerpen-cerpennya antara lain pernah terbit di Pikiran Rakyat, Radar Surabaya, Lampung Post, Detik dan Jakarta Beat.

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Pencarian

mm

Published

on

Setibanya di rumah, Thaleb tak menemukan kedua anak dan istrinya. Bumi terus berguncang dengan hebatnya. Beton-beton retak dan rubuh, pohon kelapa berayun-ayun ke kiri dan kanan, semua orang memadati jalanan dan berteriak histeris. Ia terus mencari istri dan kedua anaknya. Ia lihat ke belakang rumah, istrinya tidak ada di sana. Thaleb terus memanggil-manggil mereka, tapi tak ada yang menjawab. Ia pun keluar dari rumah, berdiri terpaku di jalannan. Ia melihat ke kiri dan kanan, orang-orang berlari kocar-kacir dan kalimat suci terus terucap lewat mulut mereka.

Tiba-tiba seorang tetangga melintas di hadapannya.

“Uneng, lihat istri dan anakku?” tanya Thaleb pada perempuan tua itu.

“Tadi istrimu membawa anakmu lari pakai sepeda motor,” jawab orang itu. “Menuju arah kota.”

Tanpa pikir panjang, Thaleb pun menyetop seseorang pengendara motor.

“Bang! Bang!” Thaleb menghadangi jalannya. “Boleh aku numpang ke kota?”

“Naiklah!” jawab si pengendara motor.

Thaleb pun langsung naik, dan motor berlalu menuju kota. Di jalanan, banyak anak-anak menangis ketakutan. Bumi terus berguncang tak henti-hentinya. Motor melaju cepat seolah tak mempedulikan guncangan itu.

Setibanya di jalan raya, banyak motor, becak dan mobil mamadati jalan raya, melaju tak tentu arah, sampai-sampai ada yang tertabrak. Suara tangisan anak-anak masih terdengar memadati kuping Thaleb. Ia terus melihat kiri dan kanan, mencari anak dan istrinya. Tiba-tiba motor yang ditumpanginya menabrak sebuah becak yang melaju melawan arah. Mereka pun jatuh.

Lalu ia lihat orang-orang yang ada di dalam becak, kira-kira ada delapan orang, Thaleb langsung menyadari kedua anaknya ada di antara meraka. Ia pun langsung bangun dan menghampiri becak itu. Ternyata yang membawa becak adalah Wak Kasem, orang kampungnya sendiri.

“Ibu di mana?” tanya Thaleb pada kedua anaknya.

“Istrimu tadi tertabrak di jalan raya sana,” jawab Wak Kasem sambil menunjuk tempat istri Thaleb tertabrak. “Tadi istrimu menyuruhku membawa kedua anakmu pergi. Sedangkan dia dibawa mobil yang menabraknya. Kalau aku tidak salah, mobil itu membawanya ke rumah sakit terdekat. Segeralah cari istrimu!”

Kendaraan lain sudah antri panjang di belakang becak dan membunyikan klakson. Thaleb mengelus kedua kepala anaknya, lalu menciumnya.  Becak pun berlalu meninggalkannya.

Ia segera pergi ke tempat istrinya tertabrak. Ia menyetop pengendara lain yang melintas menuju arah itu dan kembali menumpang. Jalan raya padat, suara klakson tak henti-hentinya dibunyikan.

Setiba Thaleb di tempat istrinya tertabrak, ia mendapati motor yang dipakai istrinya tergeletak di pinggir jalan. Motornya hancur dan bannya gembos. Kepala Thaleb tiba-tiba pusing, matanya berkunang-kunang membayangkan bagaimana keadaan istrinya. Bunyi klakson dan suara tangisan anak kecil menyadarkannya dari lamunan.

Guncangan bumi sudah berhenti sesaat. Tanpa pikir panjang, ia pun segera melangkah mencari rumah sakit terdekat. Ia terus berjalan cepat di tengah-tengah kerumunan orang dan kendaraan yang melaju tak tentu arah. Sesekali ia bertabrakan dengan orang lain yang juga terlihat panik.

Tiba-tiba saja, orang-orang yang lari dari arah pantai berteriak mengabarkan sesuatu. Ia dengarkan teriakan itu hati-hati, ternyata orang-orang itu mengatakan bahwa air laut sudah naik setinggi pohon kelapa. Orang-orang dari arah pantai terus berlari menuju kota. Thaleb pun juga ikut berlari menuju kota, sambil mencari istrinya. Ia lihat bangunan roboh, seseorang terjepit di sana terkena reruntuhan beton. Hatinya bergidik ngeri. Di antara yang terjepit reruntuhan itu, hanya kakinyalah yang terlihat, sedangkan separuh badannya terjepit beton besar.

Tiba-tiba dari arah pantai terdengar suara yang cukup berisik. Suara patahan pepohonan, suara seng-seng dan kayu-kayu bangunan. Dari kejauhan, Thaleb melihat air hitam besar datang menggulung semua yang menghalanginya. Ia berlari menuju kota. Sebentar lagi akan sampai di Masjid Raya, pikirnya.

Suara air mengerikan itu membuat hati semua orang takut. Thaleb terus lari berdesak-desakan dengan orang lain. Suara tangisan anak kecil terus memadati pendengaran, berlomba-lomba dengan suara air besar itu. Di tengah-tengah perlariannya, ia menemukan jeringen plastik dan mengambilnya, mungkin ini akan diperlukan nanti, pikirnya. Ia terus berlari menjauh dari air hitam yang terus mengejarnya di belakang sana. Tiba-tiba ia pun terjatuh, tubuhnya terinjak oleh orang-orang. Satu dua orang juga ikut jatuh. Tanpa disadari, air itu pun menyapu dirinya. Air itu menggulung tubuhnya, membenturkannya ke tembok ruko. Jerigen itu masih dipegangnya kuat-kuat. Ia membuka mata ketika di dalam air, tak satu pun yang dapat ia lihat. Tanpa ia sadari, sepotong kayu menghantam kepalanya. Di sisi lain, sebuah seng membelah betisnya. Ia terus digulung air hitam yang mengerikan itu.

Dalam keadaan lemah di dalam air, ia berdoa: “Jika saya masih dibutuhkan di dunia ini, selamatkanlah saya dari bencana ini, ya Allah!” Di dalam hati ia tak henti-hentinya berdoa dan bersalawat.

Tiba-tiba tubuhnya tersangkut di sebuah mobil, lalu ia terangkat ke permukaan karena jerigen yang ada ditangannya. Ia lihat ke atas, banyak orang di atas ruko melihat ke arahnya. Ia meminta tolong pada orang-orang itu. Mereka pun mengulurkan tali ke bawah. Thaleb menyambut tali itu. Ia ikatkan tali itu ke badannya, dan ia pegang kuat-kuat. Orang-orang yang ada di atas ruko pun menarik tubuhnya ke atas.

Thaleb selamat dari bencana tsunami yang menakutkan.

Ia lihat betisnya, ternyata sudah terkoyak lebar dihantam seng saat di dalam air. Ia raba kepalanya, ia temukan darah di sana.

Seseorang yang melihat kejadian itu membuka bajunya dan merobeknya menjadi dua bagian. Orang itu langsung membalut betis dan kepala Thaleb. Darah pun berhenti.

***

Selama dua harmal Thaleb menginap di ruko itu, makan seadanya bersama orang yang menolongnya. Di hari ketiga, air mulai surut, Thaleb pun memberanikan diri untuk turun. Di jalanan, terlihat satu-dua orang berjalan di antara tumpukan sampah dan puing-puing. Ia pun keluar dari ruko dan berjalan terpincang-pincang. Ia melihat mayat sejauh mata memandang. Puing-puing bangunan, mobil, motor, sepeda, pohon-pohon dan lain-lainnya berserakan di jalanan. Bercampur dengan ratusan mayat, bahkan ribuan. Hati Thaleb kembali bergidik ngeri.

Bantuan pun mulai datang, para tentara mengevakuasi para korban. Bantuan makanan, kesehatan dan posko-posko pun mulai didirikan. Thaleb terus menyusuri jalanan dengan kaki pincang mencari istri dan kedua anaknya. Orang-orang juga banyak mencari saudaranya. Satu-dua orang anak kecil terlihat menangis di sudut kota, karena tak menemukan ayah dan ibunya.

Kaki Thaleb terus melangkah tak tentu arah. Sampai di sudut kota lainnya, ia melihat seorang anak sedang menangis, kira-kira berumur tiga tahun. Ia hampiri anak itu. Ia elus kepalanya. Lalu anak itu digendongnya. Anak itu terus menangis sejadi-jadinya. Thaleb membawa anak itu melanjutkan pencarian istri dan anaknya. Sampai matahari mau tenggelam, istri dan kedua anaknya tidak juga ditemukan.

Ia pun memutar haluan menuju posko bantuan. Ia melangkah di antara puing-puing bangunan, pohon, dan mayat. Mega merah menyapu permukaan bumi yang luluh-lantak dihantam air besar. Hari mulai gelap, dan ia terus melangkah pelan dan pasti. Anak itu sudah terlelap dipelukannya.

Tak lama kemudian, Thaleb pun sampai di posko. Ia berikan anak itu pada seorang perempuan pengurus posko.

“Anak Bapak?” tanya perempuan itu.

“Bukan.” Kepalanya menggeleng. “Aku temukan di sudut kota.”

Perempuan itu melirik ke kakinya, ia lihat betis Thaleb mulai mengeluarkan darah. Kain yang menutupi luka itu sudah kotor terkena air di jalanan.

“Kaki Bapak kenapa?” tanya perempuan itu. Lalu ia berikan anak itu pada temannya. Setelah itu ia mendekati kaki Thaleb dan memandangi betis itu. Ia buka kain pengikat, dan betisnya yang terkoyak lebar itu pun ternganga. Perempuan itu kaget bukan main. Ia segera membawa Thaleb ke tempat medis. Ia bersihkan luka itu, lalu luka itu pun dijahit.

Thaleb tertidur karena keletihan berjalan seharian mencari kedua anak dan istrinya. Dalam tidurnya, ia berjumpa dengan istri dan kedua anaknya sedang bermain di sebuah taman. Karena mimpi itu, tepat jam tiga malam, ia terbangun. Ia lihat di sekitar, banyak orang terluka sedang tidur di sekelilingnya.

Ia pun keluar dari posko, dan seseorang mencegatnya. “Bapak mau ke mana? Istirahatlah dulu, Pak. Luka kaki Bapak belum sembuh benar.”

“Mau mencari anak-anak dan istriku.”

“Istirahatlah dulu, Pak, besok akan saya bantu mencari istri dan anak-anak Bapak. Mungkin mereka ada di posko ini. Kalau tidak ada di posko ini, mungkin ada di posko lainnya.”

Mendengar kata pemuda itu, Thaleb pun kembali masuk ke dalam tenda dan kembali beristirahat.

***

Keesokan harinya, setelah makan, Thaleb pun menuju tempat informasi posko itu bersama pemuda semalam. Ia mencari daftar nama pengungsi, ia berharap nama istri dan anak-anaknya ada dalam daftar. Tetapi, nama itu tak ditemukannya.

Ia pergi ke posko kedua, ia lihat orang-orang di sana dalam keadaan murung. Ia pergi ke tempat informasi untuk menanyakan daftar nama pengungsi, tapi nama istri dan kedua anaknya tidak juga ketemu.

Ia tak putus asa, dengan ditemani pemuda itu, ia pergi ke posko lainnya. Dan nama anak dan istrinya juga tidak ada di sana. Begitu juga dengan posko-posko selanjutnya, ia tidak menemukan anak dan istrinya.

Setelah itu, Thaleb menyuruh pemuda itu untuk pulang ke posko. “Pulanglah ke posko. Saya akan cari istri dan anak saya di tempat lain. Mudah-mudahan ketemu.”

Thaleb segera memberikan nama istri dan kedua anaknya pada pemuda itu, berangkali ada laporan dari posko-posko lain. Tidak lama kemudian, pemuda itu pun berlalu pergi.

Setelah berjalan beberapa langkah tak tentu arah, ia menemukan sebuah dompet yang ia kenal betul. Ya, dompet itu adalah milik istrinya. Ia ambil dompet itu, lalu ia buka. Thaleb mendapatkan KTP istrinya dan dua lembar foto anaknya yang sudah kusam, basah terkena air tsunami. Saat itu kali pertama ia meneteskan air mata. (*)

Surabaya, 2020 | Tsunami Aceh, 26 Desember 2004

___
Puji M. Arfi, lahir di Aceh 19 Februari 1999. Sekarang sedang menempuh pendidikan S-1 jurusan Sejarah Peradaban Islam di UIN Sunan Ampel Surabaya. Alumni Pesantren Dayah Modern Darul Ulum, Banda Aceh. Sekarang sedang mempelajari seni di (BMS) Bengkel Muda Surabaya. Menjadi salah seorang penggagas komunitas Cangkruk Rasa: Komunitas literasi Surabaya. Buku yang telah terbit: novel Dilema Penjara Suci: Sebuah Catatan Harian Santri Bodoh, (2019) dan Kumpulan Cerpen Perahu Pinggiran Kota, (2019).

Continue Reading

Cerpen

Wanita yang Melipat Bibirnya

mm

Published

on

Oleh: Khoirul Anam

            Semua barang-barang di kamarmu pecah-belah. Buku-buku berjatuhan dari raknya. Foto-foto yang kau tempelkan di dinding berserakan di lantai. Tidak seperti biasanya kau bersikap sedemikian. Cuaca di luar baik-baik saja. Tidak ada badai, puting beliung atau semacamnya.

Setelah mengacak seisi kamar, kau kembali ke posisi semula. Duduk memeluk lutut, kepala kau benamkan di sana. Beberapa jenak kemudian, kau berdiri. Langkahmu sedikit terhuyung, satu tangan meraih pigura berukuran sedang. Kau menatapnya. Tajam sekali tatapan itu, sejak kapan kau memiliki mata jalang?

Hari ini, kau seperti seseorang yang bereinkarnasi, tumbuh menjadi bocah mungil dengan keluguaannya. Kau menghampiri jendela dan menghirup udara di sana. Pigura masih dalam genggaman. Sudah cukup udara menyejukkan hatimu, langkah membawamu keluar. Di apartemen lantai sepuluh, kau memandang langit, kemudian memejamkan mata dan kembali menghirup udara, sedalam-dalamnya.

***

“Sayang, rona di pipimu seperti senja di ufuk barat saat tenggelam.” Kau menatap wanita di depanmu tersenyum. O, bukankah senyum itu yang selalu kau tunggu? Senyum yang dilengkapi dengan lipatan bibir—sungguh membuatmu tak tahan untuk memangutnya. Dia meletakkan jus alpukat di atas meja kecil dan membalikkan tubuhnya—menatap gumpalan awan. Kau memeluknya dari belakang.

“Sayang, segeralah tuntaskan tulisanmu itu. Pagi ini aku ingin bersantai di kafe langganan kita. Aku sangat tenang di sana. Bukankah kau juga sama?”

“Sudah selesai, sayang. Tinggal tahap revisi. Benar apa katamu barusan, sangat tenang. Aku pun menyukai lagu-lagu yang sering diputar di sana. Jaznya Bethoven, Frank Sinatra, Ella Fitzgerald dan Louis Amstrong.” Pelukanmu semakin erat, kepalamu bersandar di punggungnya. Ya, kafe yang terkenal eksotis di kotamu dengan lagu-lagu klasiknya. Mereka yang memilik jiwa seni pasti betah berlama-lama di sini, tuturmu saat pertama kali bertemu dengannya.

Vivie memutar balik tubuhnya, memagut bibirmu. Ciuman panjang itu berakhir di atas ranjang.

***

Kau duduk menyilangkan kaki. Vivie sedang bercakap-cakap dengan teman lamanya. Seperti biasa, di kafe ini kau selalu mengambil posisi duduk di ujung utara. Di sana terdapat dua kursi dan satu meja kecil. Kafe yang tidak terlalu luas memang, tetapi bertingkat tiga. Lantai paling atas di kelilingi rak buku. Sekarang sedang ada acara di sana.

Pesanan datang, kau memberi kode pada Vivie dengan gerak alis agar segera kembali ke tempat. Dia hanya memberi senyum dan melipat bibirnya, hal ini berulang kali membuatmu mati rasa. Pelayan kau hiraukan. Tatapanmu fokus ke depan, Vivie menaruh telunjuk di bibirnya dan mengangkat satu alis, seoalah dia berkata lagi seru nih! Kau menelan ludah.

Entah sudah ke berapa kalinya kau memangut bibir itu. Bibir yang pertama kali lipatannya membuatmu mabuk kepayang bukan main. Kau masih merawat ingatan awal pertemuan dengannya, sekitar dua tahun yang lalu. Waktu itu kau mencari buku puisi di lantai tiga kafe ini. Pablo Neruda, kau menarik buku setelah mengetahui nama penulisnya. Baru saja membaca satu-dua halaman—karena kau ulang-ulang dan tak kunjung paham—suara wanita berbisik merdu di telingamu.

“Rupanya ada seseorang yang gemar membaca puisi penyair sekelas Pablo!” Kau menoleh, wanita di depanmu tersenyum dan memperkenalkan diri.

“Vivie Amelia, panggil saja Vivie.” Kau tertegun, sempat hilang akal sejenak. Wajahnya kau tatap. Matamu tak berkedip.

“Arif Saputra.”

“Oh, nama yang kurang cocok untukmu. Kau harus segera mengubah nama. Penyair harus memiliki nama yang fantastis buat dirinya sendiri.” Kau berpikir, apa hubungannya nama dan penyair? Tetapi segera hilang pertanyaan itu. Dia menyebutkan beberapa nama agar kau bisa memilih jika hendak mengubahnya. Dan nampaknya, kau tidak keberatan..

Kalian berdua turun ke bawah, memesan dua kopi. Obrolan panjang dan menyenangkan di kafe ujung utara. Hari keberuntungan, ucapmu dalam gumam. Sepulangnya kalian tidak bertukar nomer telepon.

“Buat apa? Bukahkah kamu hampir setiap hari ada di sini?” Kau terkejut, mana mungkin dia bisa tahu. Apa mungkin setiap hari dia mengawasiku, tanyamu lagi dalam hati.

“Aku pun begitu, di ujung sana biasanya aku menghabiskan waktu membaca buku, juga menulis,” ujarnya, kau melihat kursi yang dia tunjukkan, “Kamu saja yang tak menyadarinya.” Dari bibirmu tak terucap apa-apa, hanya tersenyum. Sebelum berpisah, kalian berpose berdempetan untuk pertama kalinya. Dia pulang, sedangkan kau masih memaku diri di tempat duduk. Tak pernah sebelumnya kau merasakan hal seperti ini—rasa yang menakjubkan. Tidak ada niat untuk pulang ke apartemen. Kau tetap di posisi semula, membayangkan perempuan yang baru kau kenal masih ada di hadapanmu.

Hari-hari berikutnya kau sering berjumpa dengan Vivie. Pun, selalu saja kau pulang telat karena melakukan kebiasaanmu sejak awal kali bertemu dengannya. Hingga di suatu hari, setelah melihat surga dari wajahnya, kau terkejut lantaran seseorang menepuk pundakmu.

“Sudah lama aku tidak kemari. Bagaimana kabarmu.” Pria dengan rambut pirangnya duduk. Sempat tertegun dia melihat tatapanmu.

“Kau tahu? Begitu menyentaknya setiap senyuman yang dia lemparkan. Ketika dia menyunggingakan senyum, dagunya lancip menggiurkan, lesung pipinya di sebelah kiri. Dan, lipatan bibir itu. Ya, aku takjub sekali. Sebuah lipatan bibir atas dan bawah, lalu lidah yang keluar sedikit, mirip lidah anak ular yang baru saja menetas.”

“Hei, Bung. Kau berkata apa? Aku tak paham?” Kau menceritakan satu bulan berturut-turut pertemuan dengan Vivie. Semua keistimewaanya kau terjemahkan secara rinci. Temanmu tercenung.

“Dia sama sepertiku, menyukai puisi-puisi Pablo Neruda meski dia menulis cerita fiksi.”

“Ayolah, bukankah kau sudah pernah terluka? Dan kau berhenti menulis selama satu tahun.”

“Tapi dia menyembuhkan luka itu.”

“Dan kemudian membekaskan luka baru?”

Kau hanya menggeleng.

“Kita berdua menjadi teman diskusi tugas kuliah masing-masing. Meski jurusan filsafat, dia banyak sekali mengetahui tentang sastra.”

 “Minggu lalu, dia sudah satu ranjang denganku. Itu hal yang sukar jika dia meninggalkanku.” Nada bicaramu pelan.

“Sudahlah, aku malas mendengarkan bualanmu. Yang jelas, berhati-hatilah. Dia pengagum Pablo Neruda dan menulis cerita fiksi, sedangkan kau seorang penyair. Jangan sampai dia menjadikanmu sebagai tokoh figuran dalam hidupnya, ingat itu. Aku tahu betul, karena sebagaimana dia, aku pun menulis cerita fiksi.”

Dia menikmati makanannya sambil membaca majalah. Kau masih berlarut dalam bayangan yang membuat aliran darahmu naik-turun.

Dan di tahun berikutnya, sedikit ada perubahan. Selain kau dan Vivie sudah resmi menjadi sepasang kekasih, kau tidak lagi menikmatinya dengan tatapan kosong sepulangnya dari kafe. Melainkan mendapatkan yang lebih dahsyat—Vivie sering menginap di apartemenmu dan mengosongkan tempat tinggalnya. Satu bulan sudah kalian tak pernah pergi ke kafe langganan. Hanya mengerjakan tugas, menikmati kopi di teras depan, sambil menikmati pagi dan senja.

Mungkin kau tak menyadari apa yang dirasakan Vivie. Satu bulan menurutnya adalah waktu yang lama tidak mengunjungi kafe, hingga dia mengajakmu kemari, ke kafe langganan. Dan sekarang dia membuatmu menunggu di kursi paling ujung utara, sendirian.

“Sepertinya seru sekali obrolannya?”

“Oh, nggak kok, cuma bahas soal reuni. Kamu kelamaan nunggu, ya?” Tubuhmu serasa lemas melihat wajah muram itu. Kenapa bukan senyuman, sayang, pikirmu. Senyuman yang jika dilihat dari samping akan lebih menakjubkan, seperti diperjalanan tadi menuju kafe. Sambil memegang kemudi, kau merapikan poni yang menghalangi rona merah pipinya. Vivie yang menjilati es krim, memandangmu sembari membuang sisa-sisa cokelat di bibir dengan lidahnya.

“Sudahlah, tak jadi soal. Satu tahun aku siap menunggumu….” belum sempat kau menuntaskan pernyataan. Dia mengecup bibirmu. Tidak akan ada orang yang tahu, ujarnya. Lagi-lagi kau hanya tersenyum.

Hari ini cuaca cerah dan hatimu pun begitu. Obrolan kalian selalu hangat. Sekarang kau menceritakan perihal apa yang sudah kau baca. Aku membacanya setelah kamu tidur semalam, katamu. Dia menopang dagunya dengan tangan kanan. Rambutnya dibiarkan tergerai ke samping kiri membuatnya semakin cantik. Leher beningnya ditutupi syal orange. Alunan jaz Love-nya Frangki Sinatra terkesan membuat suasana kian romantis. Kau bercerita panjang lebar, tetang Cinta Semanis Racun yang ditulis David Albahari. Kurang-lebih sepuluh menit, Vivie memotong ceritamu yang belum tuntas.

“Ah, sudah-sudah. Jangan kau ceritakan, Sayang. Aku, sebagai penulis cerita fiksi, tentunya bisa menuliskan cerita yang lebih eksotis dari pada itu. Di sana dia menciptakan tokoh yang begitu bodoh, menurutku sih.” Dia menyeringai dan kau, dibuat terpukau melihatnya. Cerita yang baru saja kau tutur lenyap. Tak ada yang lebih indah dari lipatan bibirnya,  gumammu.

Selepas pertemuan itu, satu minggu kau menunggu kabar darinya. Terakhir kalian bertemu adalah hari senin, dia berkata memiliki kepentingan mendadak. Dan di hari yang sama, kini kau duduk memaku diri, tatapan kosong ke depan. Satu telepon mengabarimu agar segera pulang. Ada hal yang harus diperbincangkan, kata suara di seberang sana.

***

Selama perjalanan kau tidak terlalu bergairah untuk memikirkannya. Ayahmu pernah berkata akan selalu setia pada ibumu. Tapi apa, dia memintaku pulang dan memperkenalkan ibu baru, pikirnya. Kau sempat menyesal karena menolak permintaan Vivie dua bulan lalu; dia memintamu untuk mengenalkannya kepada keluargamu.

Baru kali ini kau pergi menuju luar kota—tempat tinggal ayahmu—dengan rasa gelisah. Sempat terpikir memilih berdiam diri di kafe menunggu Vivie dengan alasan banyak tugas. Setibanya, mobil kau parkirkan di halaman. Pak Rahmat—pembantumu—menyambut ramah.

“Isteri baru Pak Bos sangat cantik, semoga menjadi ibu yang baik buatmu, Den.” Kau hanya tersenyum. Dalam pikiranmu takkan ada wanita yang cantiknya menandingi Vivie. Langkahmu gusar untuk sekadar masuk bertemu wanita yang berhasil memikat hati ayahmu. Kau memang anak satu-satunya. Anak tunggal. Mungkin sebentar lagi ada tangis bayi dan kau menjadi kakak. Pintu kau buka tanpa sopan-santun. O, matamu membelalak lebar, di depanmu terdapat dua orang sedang menikmati ciumannya.

“Vivie?” nama itu terucap lirih. Dadamu berdegup kencang.

“Hai, Nak. Maaf, sebeharusnya kami tidak melakukannya sekarang. Perkenalkan.” Ayah menghampirimu yang tercengang. Vivie tersenyum. Untuk terakhir kalinya kau melihat lipatan bibirnya. Setelah itu kau keluar dan mengemudi mobil dengan kecepatan tinggi, tak peduli jika maut akhirnya menjemput. (*)

Kutub 2020

Khoirul Anam, lahir di Sampang, 27 Maret 2001. Dia menulis cerita pendek dan selalu merasa bersalah karena telah murtad dari perpuisian. Pernah bergiat di Asoli (Asosiasi Literasi Indonesia) Bandung. Sekarang berproses di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY)

Continue Reading

Cerpen

Pale Blue Eyes

mm

Published

on

Arini Rachmatika *)

Ketika pundaknya mulai terasa nyeri lagi, Yosan beringsut dan berbaring. Diletakannya sekaleng cincau dingin di kening dan dipejamkannya mata. Telapak kaki kanannya yang gatal mengusap-usap punggung kaki yang lain. Kelopak matanya berderak-derak, bilur air dari kaleng menelusup ke sana. Dia meraih ujung kaus dan diusapnya lelehan itu. Kaleng cincau diturunkan, dia tepejam lagi, lalu mulai menggumamkan sesuatu yang rupanya sebuah lagu.

Kadang-kadang, dia berpikir ingin mendaftar kursus. Ingin sekali dia bisa bernyanyi. Selain mengisi kekosongan sesudah berkegiatan seharian, dia ingin bisa melakukannya buat sekadar menghibur diri sendiri. Walau tidak tahu apa-apa soal musik, Yosan ingin bisa mengecap kecutnya Pale Blue Eyes di lidah. Yang kian asam waktu tidak mampu menujukan liriknya pada seseorang. Lagu itu, pertama kali diperdengarkan oleh tetangga di sebelah kamarnya yang telah pindah. Seterusnya Yosan lah yang gantian memutarnya.

Jam sebelas malam. Jendela dibuka meski udara kering di luar. Kamar-kamar di sebelahnya tak lagi berpenghuni. Sunyi sekali, dia bisa dengan jelas mendengar dengus napas sendiri. Tidak hujan, tidak berangin, dan tidak ada yang bisa dilakukan, sudah 4 hari teleponnya mati. Terjadi secara tiba-tiba, ketika seperti biasa ibu jarinya tidak henti-henti meluncut di atas layar.

Dia terlalu keras berusaha agar pikirannya selalu diisi sesuatu. Tapi tidak oleh buku-buku. Meski berjejalan di rak, mereka tidak lagi diindahkannya. Dia sudah berhenti membaca sebab tidak seorangpun bisa diajak bicara tentang itu. Melakukannya sama saja seperti mengenang kemudahan masa kecil, menyenangkan tapi cuma buang-buang waktu.

Belakangan, dia menghabiskan malam-malamnya dengan menonton serial TV di internet. Semua orang bisa diajak mengobrol soal itu. Kapanpun, bahkan selagi menonton filmnya. Dalam pandangan Yosan, layar komputer dan telepon tumpang tindih. Itu dilakukan sampai pening dan mengantuk. Jeda sedikit saja bisa membuatnya meringis. Dan sekarang telepon, internet, serta serialnya mati. Kelewat banyak jeda. Ombak itu mulai menyapu tepi jiwanya. Tukang servis di toko menjajikannya lusa. Yosan mengerang.

Saat seperti inilah yang Yosan takuti akan terjadi. Absennya distraksi membawa kembali perasaan itu dengan wujudnya yang nyata. Kehampaan sudah seabad lalu bersarang dalam dirinya. Rasanya seolah ada padang dalam diri setiap orang, dan miliknya sudah jadi jurang yang terus melebar. Seakan ke dalam diri sendiri, dia bisa jatuh kapan saja dan tertelan.

Meski begitu, dia menolak mengakui perasaan semacam itu. Menolak mengakui bahwa dirinya sudah ditinggalkan. Mereka yang sempat dekat menjauh akibat ketakutannya sendiri. Dia memang orang yang berupaya membuat percakapan, tapi jauh di dalam, dia takut kalau mereka jadi lebih dekat dan mengacaukan hidupnya. Takut kalau orang lain berkunjung ke tempatnya tinggal dan hapal kebiasaannya. Kalau seseorang mengorek inti dirinya dan menertawakannya.

Seekor kucing milik penyewa rumah merayap ke tempat sampah di depan kamar dan bertengkar dengan plastik, menimbulkan suara keresak yang berisik. Yosan mengutuk karena itu menjadikannya makin sulit tidur. Menjadikan rasa hampa makin kuat dan menguasainya. Kadang, di waktu lain, dia heran kenapa pernah berpikir buat bunuh diri.

Rupanya pikiran itu masih ada di sudut kepalanya. Memang tak tertahankan. Kiranya dia tidak ingin berumur panjang kalau hidup ialah kekosongan yang berlapis-lapis. Tapi tentu, waktunya bukan sekarang. Nanti pagi ada hari yang lain lagi buatnya menemui orang lain dan melupakan jurang itu.

Setelah menghabiskan cincaunya yang tidak lagi dingin, erangannya Yosan, dan dia bisa tertidur. Lampu kamar dibiarkan menyala. Di dinding ada kalender tahun lalu, kertas-kertas dengan daftar film yang harus dihabiskan, dan salinan lirik lagu Pale Blue Eyes. Di lantai, teronggok kaleng yang kopong bagai jiwanya. Manis yang tertinggal mengundang semut-semut hitam beredar, menyaru di rambutnya, lalu merambat ke leher, letak yang paling sering dia pikirkan buat memutus rasa hampa yang melahapnya dari dalam.

Kucing semalam kembali ke tempat sampah dan dengan ceroboh menenggelamkan diri dalam timbunan benda, dari kotak teh hingga helaian rambut. Si kucing mengeong marah dan amukannya membangunkan Yosan dari tidur yang pengap. Dia lega sekarang sudah pagi. Pundaknya sudah tidak begitu nyeri.

Dia bangun, meraih sampo di tas belanja, kemudian bergegas ke kamar mandi. Di dalam dicobanya menyanyikan sebuah lagu tapi kemudian menyerah di larik kedua. Keluar dari sana, dia mengeringkan rambut sebelum menyisirnya. Sebelum bersiap, mengunci pintu, lalu pergi. Sebelum sadar hari sudahlah Sabtu dan dia menggigit pundak kanannya sampai biru. (*)

__

Januari 2020

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending