Connect with us

Cerpen

Kotak Kardus Aulina

mm

Published

on

Aulina berusia empat tahun tiga bulan ketika mengejutkan bapaknya dengan berkata, “belikan aku hape android. Aku mau liat youtube.” Bapaknya menyemburkan kopi pagi yang baru dihirupnya ketika itu. Pedagang peracangan itu meletakkan piring gelasnya yang masih berisi kopi, lalu memandang lekat-lekat bocah playgroup tersebut. “Apa yang kau katakan?” tanyanya tak percaya.

“Teman-teman bawa hape ke sekolah,” jawab si bocah. “Dan mereka liat youtube.”

Bapaknya mengangkat si bocah, lalu meletakkannya di pangkuannya. “Emangnya ada apa di youtube?

“Banyak Yah. Ada video-video bagus,” ujar si bocah. Lalu mulutnya nyerocos menceritakan lagu-lagu dan aneka jenis jogetan yang ia saksiksan di layar ponsel temannya, juga kisah seorang putri yang mampu menciptakan salju dari kibasan tangan atau bagaimana seorang putri artis seumuran dengannya menghabiskan hari di salon untuk mencuci rambut dan melumuri tubuh dengan krim entah apa. “Setelah itu, dia main kuda-kudaan dan sepatunya yang bagus robek,” sambung Aulina. Mulut mungilnya tampak menggemaskan dan matanya berkilauan. “Tapi dia pinter Yah, soalnya dia gak nangis,” tambahnya. Bapaknya tertawa sebelum mencubit pipinya.

“Kamu juga pintar. Hayo mandi sana. Sebentar lagi kamu harus berangkat. Mana ibumu?”

“Tapi hapenya?”

“Kamu kan masih kecil,” jawab bapaknya seraya tertawa.

Permintaan itu terus diulang Aulina hingga seminggu kemudian. Seiring hari, rengekan dan rayuannya lebih dahsyat dari sebelumnya. Bapak dan ibunya, yang mulanya mengira Aulina akan segera melupakan keinginannya, segera merasa terteror. Awalnya, mereka mencoba mengalihkan perhatian Aulina dengan mengajaknya jalan-jalan ke pasar kecamatan dan menjajaninya sosis goreng kesukaan si bocah. Itu berhasil membujuk Aulina, tapi tak lama. Keesokan harinya, Aulina kembali merengek. Ibunya mengambil boneka panda kesukaan Aulina dan mengulang dongeng bagaimana seorang bocah yang durhaka kepada orangtuanya dikutuk menjadi binatang yang di kemudian hari disebut panda. Biasanya, dongeng itu cukup mangkus meredam kerewelan Aulina. Namun tidak kali itu. Aulina berteriak bahwa ia bosan pada kisah panda dan satu-satunya yang ia ingini adalah hape android supaya ia bisa lihat youtube seperti teman-temannya di playgroup. Bapaknya tidak diam saja dalam episode runyam itu. Lelaki tiga puluhan tahun tersebut menyalakan televisi dua puluh satu inchi dan menyetelnya pada chanel yang menayangkan Shaun The Sheep. “Aku mau youtube,” Aulina kembali berteriak, kali ini sambil memuntahkan air mata. Pada hari kedelapan, tak tahan dengan rengekan tanpa akhir dan mustahil diredakan tersebut, mereka memarahi Aulina dan mengatakan beberapa perkara dengan cara yang tidak semestinya mereka gunakan kepada anak berusia empat tahun tiga bulan. Perkara-perkara itu meliputi bahwa Aulina selayaknya bersyukur bisa makan tiap hari dan berkesempatan merasakan playgroup dan tak perlu meminta yang aneh-aneh mengingat pekerjaan bapaknya yang hanya pedagang pracangan tak memungkinkan mereka untuk hidup mewah. Sementara cara tidak pantas yang mereka terapkan antara lain, berkata dengan suara keras dan cenderung membentak, mata merah, dan ludah yang berkali-kali muncrat menimpa wajah si bocah. Aulina sempat membantah perkataan bapaknya. Ia bilang bahwa Sri, yang sudah tidak punya bapak, bisa punya hape android. Bapaknya merespon ucapan Aulina yang terkesan meremehkan dan mencabik harga diri seorang bapak itu dengan sebuah tamparan di pipi yang merupakan puncak dari ketidakpantasan tersebut.

Hari itu, Aulina mengurung diri di kamar. Itu adalah suatu hari Minggu yang cerah. Likuran tahun sebelumnya, pada hari libur seperti itu, bapak dan ibu Alina akan menghabiskan waktu dengan bermain petak umpet atau sondah atau bentengan di luar rumah bersama kawan-kawan mereka. Namun hari itu, lingkungan sekitar mereka tampak kalis dari anak kecil. Orangtua Alina tahu, zaman sudah berubah. Tak ada lagi pemandangan bocah yang berlarian dan bermain di luar rumah hingga lupa waktu sehingga memaksa orangtua mereka untuk marah-marah menyuruh mereka pulang. Anak-anak kini lebih suka mendekam dalam rumah dengan gawai di tangan, menghabiskan hari dengan menekuri benda ajaib mungil tersebut. Mereka sesungguhnya menginginkan Aulina tumbuh seperti anak-anak lain sezamannya. Mereka tak ingin Aulina menjadi aneh karena merupakan satu-satunya anak yang tidak punya gawai. Namun apa daya, mereka memang belum memiliki cukup uang untuk memenuhi keinginan tersebut.

Di dalam kamar, Aulina menghabiskan hari dengan menangis dan terus menangis. Ia tidak mempedulikan panggilan ibunya dan malah memperkeras volume tangisannya. Bapaknya, alih-alih ikut membujuknya, justru menyibukkan diri dengan barang dagangan. Kepada istrinya, lelaki itu hanya berkara singkat, “nanti kalau capek juga berhenti nangis.”

Kenyataannya, bukan Alina yang capek, melainkan ibunya. Dan pada akhirnya, capek  membujuk Alina, ibunya menyetujui pendapat suaminya. Mengerti bahwa ibunya juga tidak lagi berusaha membujuknya, Aulina malah menjadi-jadi. Ia tidak hanya menangis, melainkan juga membongkar kotak mainannya dan melempar-lemparkan isinya. Sisi si boneka berambut merah terlontar hingga ambang pintu, panci dan kompor plastik kecil berserakan di bawah meja, buku cerita bergambar robek beberapa halaman, dan bola-bola plastik kecil aneka warna bergelindingan ke seantero ruangan.

Kotak mainan itu sesungguhnya adalah kardus bekas bungkus televisi dua puluh satu inchi dan cukup besar untuk menyembunyikan tubuh Aulina. Setelah mengosongkan kardus tersebut dan ibunya tidak kunjung muncul, Aulina meneruskan ngambeknya dengan memasuki kardus tersebut. Di sanalah, kelelahan menangis dan mengacak-acak mainannya, ia jatuh tertidur.

Belum lama matanya terpejam ketika ia merasa terjatuh. Tubuhnya yang payah membuatnya terlelap dengan cepat ketika otaknya belum siap. Otak itu, merespon tubuh yang tiba-tiba lemah, memerintahkan otot untuk bersiap dan menegang. Itulah sesungguhnya yang terjadi namun Aulina mengira ia terpeleset lantas terjatuh dalam tidur. Ia tersentak dan terbangun. Dan di sanalah ia menemukan dirinya, di antara gumpalan salju, langit biru cerah, dan angin yang membawa lagu-lagu merdu. Lagu itu memiliki syair dalam bahasa yang tidak ia mengerti. Namun tubuhnya bergoyang secara intuitif. Semua terasa begitu asing, tentu saja. Namun alih-alih takut, ia justru tertawa. Ia melonjak-lonjak. Rambutnya terkibas kencang hingga ujungnya terjuntai ke depan dadanya. Ia terkejut. Rambutnya hanya sepanjang bahu. Jadi mustahil rambut itu bisa terkibas hingga ke dada. Ia meraba rambutnya. Panjang hingga pantat dan terkepang. Warnanya merah tembaga. Mengingatkannya pada rambut seorang putri yang mampu menciptakan salju dari kibasan tangan. Dan pada waktu itu pula ia menyadari bahwa tubuhnya juga telah berubah. Dadanya membusung. Ia merabanya. Ia menjerit mendapati dua buah dada besar kencang di sana. Ia meraba pinggulnya. Jauh lebih besar dari yang ia ingat. Bajunya juga bukan baju motif polkadot yang ia kenakan sebelumnya, melainkan gaun seperti yang ia lihat dalam video youtube yang dikenakan oleh para putri.

Aulina tak tahu apa yang terjadi. Dan perutnya mulai bernyanyi. Ia lapar.

Ia mengamati sekelilingnya lebih cermat. Hamparan yang begitu luas, seperti tak terbatas. Gumpalan salju jauh lebih banyak dari yang ia sangka, menjadikan lanskap itu seakan medan berwarna putih semata. Dan itu membuatnya takut. Ia berteriak. Lanskap mengembalikan teriakannya. Itu membuatnya semakin kalut. Ia berteriak lebih kencang. Dan pantulan yang ia dengar lebih mengerikan. Ia berlari. Ia memanggil ibunya. Ia memanggil bapaknya. Namun tak ada sahutan. Ia berlari lebih kencang, sekencang yang ia bisa. Hamparan itu, kenyataannya, bukannya seperti tak terbatas, melainkan memang tak memiliki batas. Aulina mengira ia telah berlari sepanjang hari namun yang membentang di depannya tetaplah hamparan putih dengan gundukan salju terserak di mana-mana. Beberapa saat kemudian, sebuah gundukan salju menghalangi langkah kakinya. Ia terantuk dan terjatuh dengan muka membentur lantai terlebih dahulu. Ia merasa semua menggelap dengan cepat. Ia menangis. Namun tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya.

Aulina terbangun dua jam kemudian, ketika tangan ibunya menepuk-nepuk pundak dan pipinya. “Kamu kok tidur di sini? Ayo bangun,” ujar ibunya. Aulina menguap pelan. Lalu celingukan.  Tak ada hamparan tak bertepi dengan gundukan salju di sana-sini. Tak ada langit biru cerah. Tak ada angin yang menyanyikan lagu-lagu dengan lirik dalam bahasa yang ia tidak mengerti. Ia meringkuk dalam kotak kardus bekas bungkus televisi yang digunakan sebagai kotak penyimpan mainannya. Ia berada dalam kamarnya belaka, dengan langit-langit internit yang dikotori sejumlah sarang laba-laba. Ia meraba rambutnya. Sebahu dan tidak terlalu tebal. Ia menyentuh dadanya. “Ibu,” ia berkata lirih seraya menatap ibunya. Matanya berkaca-kaca.

“Hei, apa itu?” sang ibu mengangkatnya. “Apa yang terjadi di sini?”

Di dalam kardus itu, terserak butiran-butiran berwarna putih. Basah dan dingin.

“Kau tak apa?” ibunya meletakkan telapak tangan di kening Aulina. “Kau demam,” lirih ibunya.

Sore itu, Aulina dibawa ke bidan kampung. Bapaknya yakin bahwa demam tersebut disebabkan permintaan Aulina yang tidak dituruti dan akan sembuh dengan sendirinya. Namun ibunya tak mau ambil resiko. (*)

*) Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Tidak Ada Kunang-Kunang Malam Ini

mm

Published

on

Oleh: Khoirul Anam*

            Di samping rel kereta api, terdapat gubuk kecil berbilik bambu. Bagian atapnya terkadang bocor ketika hujan deras. Jika siang, seng itu bisa membuat orang di dalamnya merasa panas dan gerah. Tetapi bukan hanya satu gubuk, sepanjang rel dari selatan hingga utara ada lima—jaraknya berjauhan. Tempat yang strategis, agak jauh dari lingkungan warga.

            Untuk menuju ke sana, Sasha menempuh perjalanan sekitar satu jam setengah. Dia berangkat jam sembilan malam, bersama dua orang teman—di antaranya memiliki motor bodong—yang satu kontrakan. Setibanya mereka berpisah. Ada yang di ujung selatan, di tengah dan Sasha di utara. Dua germo—laki-laki bertubuh kekar dan perempuan dengan dada menyembul ke depan—menyambutnya.

“Sudah ada empat orang malam ini. Tiga lainnya menunggu di sana.” Perempuan itu menunjuk tiga bara api rokok, tidak terlalu jauh. Sasha menganguk dan tersenyum. Semenjak Rani dan Indah tak lagi bekerja, terkadang dia senang, terkadang sebaliknya. Pertama, karena dia mendapat uang lebih. Kedua, bagaimana mungkin dia mampu menemani banyak orang dalam satu malam, setiap hari. Tenang saja, sebentar lagi ada orang baru yang akan menemanimu, kata germonya. Setiap gubuk pasti ada yang menjaga, selain karena wanita di dalamnya bukan sembarangan, tentu agar transaksi mudah dan tidak ada kegaduhan. Tempat ini meski di samping rel dengan kondisi gubuk yang sederhana, tetap mengundang gairah banyak orang.

Namun, sekarang adalah malam yang sial bagi Sasha. Dia sudah berpesan kepada salah satu dari mereka akan pulang jam sebelas, tidak seperti biasanya—jam tiga-empat pagi. Kekasihku mengajak kencan, katanya. Tapi, apa boleh buat. Langganannya akan datang dan dia, harus menemaninya.

            “Barusan dia menelepon dan menanyakanmu. Bersiap-siaplah. Malam ini pasang wajah tercantikmu.” Perempuan itu—germonya— menjelaskan. Sasha mendengus menandakan penolakan.

“Dengar cantik, kamu mau jalan, temani pria itu. Dia akan memberi kita uang lebih jika kamu menemaninya.” Ucapan itu selalu terulang. Padahal Sasha sudah berkali-kali bilang, bahwa pria itu memacu dirinya dengan beringas.

Jelas, Sasha tidak bisa berkata apa-apa. Dia duduk di lawang pintu yang ditutup dengan karung jika ada seseorang masuk. Malam ini, seperti kebiasaan yang sering dia lakukan, matanya menatap kosong ke depan. Dari kejauhan, orang-orang hilir-mudik. Di sana tidak ada kunang-kunang yang bertengkar dengan lampu-lampu jalan. Melainkan, ditatapnya lekat kupu-kupu beterbangan, menemani malam kota yang pekatnya kental sekali. Lamunan itu terkadang buyar karena melintasnya kereta atau datangnya pria yang minta ditemani.

Saat ini, Sasha dengan terpaksa harus memuaskan nafsu bengis langgananya. Pria itu datang tiga-empat minggu sekali. Bayangkan saja, setiap Sasha melayaninya main, dia akan terkapar lemas. Kalau sudah begitu, tak bisa lagi dia menemani pria lain hingga pagi. Sasha mengambil ponsel dan mencari nama di sana. Dia menekan tobol hijau—memanggil.

“Sayang, mungkin aku sedikit telat malam ini. Tak apa, kan?” dia berdiri dengan langkah maju-mundur. Terdengar suara dengusan kesal dari seberang sana.

“Baiklah, sayang. Di tempat biasa, kan? Oke, kita bermalam di sana.” Telepon terputus. Dia kembali duduk di lawang pintu dengan gelisah. Selang beberapa menit, dia berdiri dengan kaki gemetar. Orang yang sedang bercakap dengan germonya pasti pria itu.

Sasha masuk dengan perasaan sangsi. Pria itu mengekori dari belakang. Karung yang tersingkap dia tutup, paku ditancapkan ke bilik bambu agar karung tidak diterpa angin malam.

            “Apa kabar, sayang. Sudah dua minggu aku tidak berkunjung kemari. Lagi banyak urusan. Kamu pasti kesepian, yah? Ayo jawab! Minggu depan aku perbaiki gubuk ini, memberinya selimut dan bantal. Tapi hanya untuk kita berdua.” Dia tertawa nyaring, satu kereta melintas membuat tawanya menciut.

            Sasha menggeleng-geleng seperti ketakutan. Dia tatap wajah di depannya. Pria tambun itu membuka kaus, ikat pinggang dan celana jeansnya. Satu tahi lalat agak besar di dagunya akan selalu Sasha ingat. Jika sewaktu-waktu dia bertemu dengannya di luar, mungkin Sasha akan memukul kepalanya dengan palu atau menyuruh orang bayaran.

            “Ayolah, cantik. Sekarang malam purnama, lihatlah di luar sana. Bulan memberkati kita untuk berpelukan hari ini.” Sasha menelan ludah. Pria itu memegang pundaknya. Satu ciuman di pipi kanan. Tanpa memberinya sedikit bernapas sejenak. Sasha terbujur paksa. Nyala remang-remang lampu senter kecil di dekatnya tak lagi dia rasakan.

***

Fajar, sudah muak dia duduk termangu sendirian. Telepon kekasihnya tidak dapat dihubungi. Sempat kesal dia karena tidak menjemputnya barusan. Dia pun memutuskan untuk bersabar menunggu. Ketika pertama kali menyatakan cinta padanya, jujur, dia bukan modus agar mendapatkan gratisan. Tetapi dia memang tertarik sejak awal melihatnya, di suatu senja, di taman kota. Fajar membuntutinya hingga tahu, bahwa wanita yang mengusik jiwanya setiap malam ada di sebuah gubuk kecil, di dekat rel kereta api.

Tempat itu tidak sama seperti yang pernah dia kunjungi. Meski gubuk kecil tapi bersih. Wanita di dalamnya menyenangkan mata bila dipandang, katanya saat nongkrong di warung kopi Ma Ijah. Di tempat lain, tak ada ketertarikan apa pun, dia hanya iseng. Ya, seperti kebanyakan anak muda. Hanya tawar-menawar, akhirnya tak jadi.

            Fajar tetap menaruh rasa, meski dia tahu wanita yang menjadi kekasihnya bekerja seperti itu. Entah karena landasan apa, Fajar hanya merasa nyaman setelah menjalin hubungan dengan Sasha sekitar satu tahun lebih. Dia pria pertama yang mengajak Sasha agar bersedia menjadi kekasihnya. Awal mula Sasha terkejut setelah menemaninya tidur. Brengsek, ini akal-akalan pria untuk bisa tidur gratis dengan embel-embel kasih sayang. Waktu itu, dia tidak memberi jawaban, hanya melempar senyum karena Fajar menidurinya dengan pelan, penuh kenikmatan.

            Hari berikutnya dia rutin datang ke sana hampir tiap minggu. Dan ternyata dugaan Sasha salah, dia kira Fajar akan mengajaknya tidur di hotel atau semacamnya. Tetapi, Fajar tetap berkunjung. Memberi uang pada germo. Dan, sesekali menyelipkan beberapa lembar di kutang Sasha.

            Sudah lama dia menunggu, giginya bergemeretuk geram. Dia meneleponnya lagi.

            “Halo, sudah berangkat, kah? Oke, aku tunggu.” Fajar memejamkan mata. Satu tarikan nafasnya panjang. Rokok dia selipkan di bibirnya. Kopi masih belum tersentuh.

***

            Purnama menyelimuti malam. Dua pasang kekasih duduk berhadapan. Sasha belum menjawab satu-dua pertanyaan. Nafasnya tak teratur. Setibanya Sasha melangkah dengan sedikit ngangkang, seperti kesakitan. Dia mengenakan Off Shounder Sweeter dengan bahu terbuka sedikit. Satu syal merah melingkari leher. Rambut diikat dan berponi, setengah lainnya tergurai ke belakang. Dia duduk dan memejamkan mata. Tiga kali pertanyaan berhasil membuyarkan lamunannya.

            “Sayang, kamu kenapa?” Fajar memegang tangan kekasihnya. Sasha membuka mata.

“Aku sudah tak kuat melayani pria tambun itu.” Matanya berkaca-kaca. Satu tangan mengusap kewanitaanya yang tertutup tas kecil.

            “Sial. Dia masih sering datang ke sana? Aku harus segera mencari orang bayaran untuk membunuhnya.” Kali ini nada bicaranya sedikit pelan, masih banyak orang di sekitar. Sasha menganguk-angguk, menyetujui. Pesanan dua sandwich dan satu kopi flat white datang. Sasha menatap wajah kekasihnya, dalam sekali.

            “Kamu masih ingat janji itu, kan? Apakah sungguh dengan perempuan sepertiku?”

            “Aku mencintaimu, Sayang!” kali ini bicaranya agak nyaring. Seseorang yang duduk di bangku sebelahnya menoleh. Sasha melekatkan jari terlunjuknya di bibir Fajar.

            “Suaramu membuat orang lain kehilangan konsentrasinya, sayang.” Mereka berdua tertawa liar.

            Bulan sudah dari tadi sempurna menggantung di langit. Obrolan semakin hangat. Fajar menanyakan kesediaan Sasha untuk bertemu keluarganya esok lusa. Setelah aku wisuda kita menikah, katanya. Aku sudah berencana merintis usaha desainer grafis dari awal, katanya lagi. Sasha tersenyum.

“Tadi di kutangku ada uang dari pria tambun-jelek itu,” dia berbisik pelan setelah hening saling tatap. Fajar dan Sasha tertawa liar.

            “Buang saja uang itu, nanti aku ganti yang lebih banyak.”

            Begitu bahagianya Sasha malam ini setelah ditindih penuh siksa. Sepasang kekasih, menikmati dua sandwich ditambah ketang balado. Selang beberapa menit, sayup-sayup terdengar suara sirine ambulans di parkir di pinggir jalan. Sasha melihat-lihat keluar. Apakah pemilik kafe sedang berduka? Satu orang pria dengan langkah tergesa masuk. Sasha menatap lekat pria itu. Tahi lalatnya? O, benarkah itu tahi lalat yang dia kenal? Dadanya bergemuruh.

            “Tiga sandwich, segera.” Pria itu memesan.

            “Ayah, sedang apa di sini?” suara Fajar membuatnya menoleh dan menghampirinya.

            “Owh, kamu. Ada warga terkena serangan jantung malam-malam seperti ini. Untung saja selamat. Sekarang perjalanan menuju pulang. Ibu menelepon, adikmu bangun meminta sandwich.” Ujarnya menjelaskan, tatapannya sesekali menusuk Sasha.

            “Oalah, maaf  Yah, biasanya Fajar yang membawakan sandwich itu buat Raihan. Malam ini mungkin pulang lebih larut.”

            “Ya sudah, tak apa.”

            “Perkenalkan, Yah. Wanita yang besok lusa akan aku bawa ke rumah. Cantik, bukan?”

            “Owh, ya. Wanita yang sempurna, kamu pandai memilih ternyata. Saya tunggu kedatangannya.” Dia melemparkan senyum pada Sasha, dadanya semakin kencang bergemuruh.

            Pelayan menyebutkan pesanan. Pria itu pamit dan keluar. Ambulans melaju tenang, suara sirine dimatikan. Sasha termangu, suara Fajar di depannya samar seolah tak terdengar. Di tempurung kepalanya akar-akar pohon upas mulai mengakar-meracun.

            Sasha menatap Fajar. Kuku-kupu yang sering dilihatnya bertengger di atas kepala kekasihnya.

Sampang 2020

Khoirul Anam, dia menulis cerita pendek. Pernah bergiat di Asoli (Asosiasi Literasi Indonesia) Bandung. Dan sekarang, berproses di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).

Continue Reading

Cerpen

Di Antara

mm

Published

on


Galeh Pramudianto lahir tahun 1993. Bekerja sebagai pendidik dan mengelola platform Penakota.id bersama rekannya. Buku puisinya Asteroid dari Namamu (2019) diterjemahkan ke bahasa Inggris lewat beasiswa Komite Buku Nasional. Ia menerima penghargaan Acarya Sastra 2019 dari Badan Pengembangan Bahasa dan Perbukuan, Kemendikbud. Puisinya “Barus, Suatu Pertanyaan” melaju di Majelis Sastra Asia Tenggara 2020.

Karena kamu telah memutuskan untuk memainkan gim ini, maka kamu harus memilih: 1) menjadi tidak terlihat atau 2) bisa membaca pikiran seseorang dari masa kelahiran hingga berakhir di liang lahat? Kamu harus memilih satu. Jika kamu mengabaikan perintah ini maka permainan tidak bisa berlanjut dan hanya bertahan di pilihan menu—sembari menatap karakter yang terus bergerak ke sana ke mari dalam hamparan bit di layar.

Kamu memutuskan untuk memiliki kemampuan membaca pikiran. Kamu memilih itu karena kamu fobia dengan kesepian dan kesendirian. Kalau kamu mendaratkan pada pilihan pertama maka kamu akan stres. Sementara di pilihan kedua nampaknya kamu lebih rileks karena ramai pergumulan dan arus kesadaran di lalu lintas pikiran orang-orang.

Kamu awalnya tidak menyangka dengan ini semua. Gim video di zaman sekarang ternyata bisa begitu ekstrem polahnya. Kamu membeli gim tersebut karena penasaran dengan ragam fitur yang diperbincangkan di forum-forum terjauh, terpinggir dan tergelap di belantara maya. Kamu ingin lari dari kenyataan yang berantakan ini dan menemukan ekstase dan fantasi yang lain di petualangan virtual.

Dan ekstase serta fantasi itu ternyata mewujud nyata. Tuas kendali atau stik yang kamu genggam bergetar hebat. Layar tiba-tiba mati dan gelap. Pandanganmu memudar dan semua nampak buram. Televisi di ruang tengah itu bergoyang-goyang lalu terlepas dari etalase dan menyusut ke dalam lubang matamu.

Seketika itu dunia yang kamu tinggali tak lagi sama. Ketika kamu mampu membaca pikiran orang awalnya kamu nampak baik-baik saja. Tapi ternyata kamu lupa bahwa kamu memiliki masalah dengan penghakiman dan perundungan yang dilakukan orang-orang. Dan itu semakin bekerja dengan baik tatkala kamu mendapati seseorang di hadapanmu, di suatu entah di mana, sekarang dapat membaca pikiranmu.

Kamu ingin berteriak dan menghajar orang-orang yang merundungmu lewat pikirannya. Kamu sudah tidak tahan dengan itu semua. Kamu ingin segera mengambil batu yang ada di sebelah kiri lalu menghantamnya ke kepala si lelaki ini. Ketika kamu memutarbalikan badan dan hendak membungkuk, kamu mendengar ucapan yang tak kamu kira sebelumnya. Ucapan itu tak terdengar lewat bising suara, tetapi berdengung di membran tempani dan berputar-putar terus seperti pita kaset rusak.

“Jangan lakukan! Kita sama-sama memiliki kemampuan ini. Aku ingin menghilangkan Bakat Besar yang mengganggu mentalku ini. Tapi aku tak tahu caranya. Tolong!” ia berbicara denganmu tanpa mengeluarkan suara.

“Maksudmu Bakat Besar?” kamu terheran dengannya.

“Aku telah memiliki kemampuan membaca pikiran ini sejak masih kanak-kanak. Ayahku membelikan gim video itu saat dunia pernah mengalami pagebluk yang terjadi 20 tahun silam. Tahun di mana seharusnya perhelatan sepak bola termegah di Eropa dan Olimpiade terjadi. Ayahku membelikan itu maksudnya agar aku ada hiburan dan tidak stres ketika terlalu lama belajar di rumah. Setelah aku memilih karakter dan kemampuan khusus yang bernama Bakat Besar laknat itu.”

“Jadi kamu berasal dari dua dekade yang lalu?” kamu coba mengingat-ingat masa lalu yang sempat membuatmu ingin mengakhiri hidup.

Apa maksudmu?” ia bertanya keheranan.

“Ketika aku memainkan gim video itu, usiaku sekitar 40 tahun dan tubuhku gampang sakit-sakitan. Tapi sekarang aku merasa lebih bugar dan muda. Aku tak tahu, apa itu hanya efek placebo dari gim ini.” kamu menjelaskan.

“Heh, aku bilang kamu bukan berada di gim lagi! Kamu sudah masuk di dunia baru. Jadi, tubuh dan jiwamu masih tetap ada di dunia sebelumnya, di Bumi atau apalah itu. Tapi setelah itu ia membelah dirinya sendiri dan ada replika dirimu di dunia Antara.” ia menerangkan dengan menggerak-gerakkan bahumu, berusaha meyakinkan.

“Maksudmu di dunia Antara?” kamu menjadi bingung.

“Betul. Orang-orang otomatis akan menggandakan diri dari dunia nyata atau fisik atau apalah itu namanya dan berpindah ke semesta baru yang dinamakan dunia Antara. Maaf maksudku bukan berpindah, tapi ada paralel yang berjalan bersamaan.”

“Jadi, aku yang saat itu berusia 40 tahunan masih hidup? Dan aku yang saat ini lebih muda menjalankan hidup di sini? Di dunia gim video ini?” kamu mencoba mencerna itu semua.

“Kira-kira, begitulah.”

Kamu semakin sadar bahwa sekarang semakin banyak pengguna gim video tersebut di dunia ini. Impian dan harapanmu akan dunia yang lebih baik telah sirna. Impian yang berbasis eskapisme semata ternyata malah menelanmu mentah-mentah. Dirimu masuk ke semesta bernama Antara dan terciptalah Bakat Besar itu. Kamu masih berusaha mengulik ini semua: dunia yang baru, ketika batas kesadaran, realitas dan fantasi telah memudar.

Dunia yang kamu harapkan hanya ada di gim video dan malah membuatmu menjadi cemas karena banyak yang memiliki kemampuan seperti awal kisah ini dimulai: menjadi tidak terlihat atau 2) bisa membaca pikiran seseorang dari masa kelahiran hingga berakhir di liang lahat? Kamu sekarang bingung antara bahagia atau tidak dengan usiamu yang lebih muda 20 tahun ini. Tapi setidaknya, kamu bisa memberi tahu kepadanya dan orang-orang yang memiliki privilese di pemerintahan. Kalau 20 tahun setelah pagebluk itu usai, dunia harus bersiap-siap untuk 20 tahun berikutnya. (*)

Continue Reading

Cerpen

Sakit

mm

Published

on

The-Sick-Child-Marc-Aurele-de-Foy-Suzor-Cote-Oil-Painting


Mycel Pancho—Penikmat kopi pahit. Sudah satu dekade menjadi pekerja teks komersial. Lahir di Jakarta, bertumbuh dewasa di Pulau Dewata dan kembali di ibu kota untuk menjadi tua. Sejak sekolah, pecinta teater ini gemar menikmati sastra dan menulis apa saja untuk tetap waspada. Satu puisinya pernah terbit dalam buku antologi puisi Tentang Angin (2007), produksi Teater Angin SMA 1 Denpasar.

Aku sakit. Sakitnya sudah lama. Akhirnya terbaring di rumah sakit sejak hari ini. Gejala sakitnya aneh. Tidak ada demam, tidak ada batuk apalagi pilek. Pusing tak ada, apalagi sakit kepala. Tapi anehnya, seluruh sendi dan tulangku ngilu. Sakitnya seperti sedang terserang demam menahun. Ngilunya persis seperti cucian diperas berulang-ulang. Kadang telapak kaki dan tangan rasanya seperti ditusuk jarum pentul yang biasa nenek gunakan untuk merapikan seprai ranjang tuannya.

Selain itu, sewaktu-waktu kepalaku juga kliyengan. Rasanya limbung mau jatuh terus. Tapi tidak pusing, tidak sakit kepala. Rasanya hanya berputar terus seperti bianglala yang kebanyakan tamu di akhir pekan. Rasanya juga seperti ditarik kanan kiri tak pakai berhenti.

Pagi ini aku ke rumah sakit bersama ibuku. Setelah dokter sibuk memegang dahiku, mendengar detak jantung dan suara paru-paruku lewat stetoskopnya, mengetuk-ngetuk lututku dengan palu kecil dan menggosok telapak-telapakku dengan tongkat besi. Dokter itu berpikir keras. Ia membuka buku-buku kedokteran dan membolak-balik catatan kesehatanku. Secara tiba-tiba, dokter itu bilang …

“Kamu harus opname hari ini. Nanti kita observasi. Ada asuransi tidak?”

“Ada, Dok. Memang saya sakit apa, Dok?

“Masih belum jelas, makanya kita perlu observasi dulu selama beberapa hari ini”.

Jadilah aku berada di kamar kelas tiga ini. Aku tidur di bangsal paling ujung dekat jendela. Aku tidur dalam satu ruangan dengan lima pesakitan lainnya. Aku tidak sempat sensus siapa saja yang dirawat bersamaku dan sakit apa saja mereka. Kukira besok juga saat bibiku datang, hal itu pasti bisa langsung kuketahui darinya yang bercita-cita jadi ibu RT.

Belum satu hari aku dirawat di rumah sakit, sanak saudara dari ibuku sudah tiba. Mulut cerewetnya sudah pasti ikut serta. Belum apa-apa sudah berkomentar dan memberi diagnosa, lagak macam dokter kelas dunia saja. Mulai pun belum observasiku di rumah sakit itu, sanak saudara sudah bisa beri hasil.

Bibi bilang aku sakit ringan. Paling hanya kolesterol naik. Cukup masuk akal kalau aku ingat-ingat lagi apa saja yang sering kumasukkan ke dalam mulut dan lanjut ke perut. Tak heran juga itu terjadi karena udang rebus kemerahan memang salah satu favoritku sejak anak-anak. Apalagi daging merah adalah idolaku selama tiga tahun belakangannya ini. Semua yang merah lah pokoknya aku suka.

Belum selesai soal kolestrol, suami bibiku menyergah dan berkomentar. Katanya aku mungkin juga kena gula. Diabetes memang ada dalam garis darah keluarga kami. Apalagi, kakekku yang luar biasa sakti dan kuat itu akhirnya malah mati karena gula darahnya naik dalam dua tahun terakhir sebelum dia lepas usia. Tapi aku langsung bilang tidak tidak tidak padanya. Aku yakin aku tidak diabetes karena aku tidak suka manis. Satu-satunya manis yang bisa kusukai hanya wajahmu dan senyumanmu saja.

Aku sakit. Malam ini malam pertama aku menjalani waktu tidur di ranjang rumah sakit. Aku ingin tidur tapi sulit karena keberisikan. Berisik suara tetesan infus, suara AC, suara pasien sebelah yang mengorok, suara pasien di ranjang seberang yang susah nafas, suara pasien di dekat pintu yang kentut melulu, suara suster bolak balik mengecek pasien, suara ibuku yang terus bergerak karena sakit tidur di kursi, sampai suara di kepalaku yang terus memikirkan dan merindukan kamu.

Hari ini teman-teman ibu membesukku. Mereka datang bergerombolan sambil ketawa-ketiwi layaknya orang akan pergi piknik ke pantai. Pakaian mereka pun luar biasa cantik seperti mau peragaan busana. Beberapa ada yang membawa makanan banyak sekali, kurasa mungkin ada yang sungguhan sekalian membawa tikar.

Aku sakit dan teman-teman ibuku ini berkicau tak berhenti soal mistis. Melihat kondisiku, mereka malah cerita soal kawan mereka yang terkena ilmu hitam. Mereka bilang ada temannya yang salah ucap di suatu tempat ke seseorang, besoknya sakit tak jelas, masuk rumah sakit dan tak lama mati. Ada lagi yang cerita bahwa kenalannya tak sengaja melangkahi tangga yang ternyata ada setannya. Seketika orang itu jatuh, kakinya patah dan tidak sembuh sampai setengah usianya lewat.

“Bener lho, Dik. Teman saya sakit nggak jelas kenapa dan tidak sembuh-sembuh. Sudah berobat sana-sini, akhirnya bisa hidup tenang setelah berobat ke orang pintar. Coba saja, Dik. Daripada buang uang di rumah sakit tapi ndak sehat-sehat. Ke orang pintar cuma bayar seikhlasnya, Dik. Dijamin langsung bisa hidup tenang!”

Orang pintar katanya.. Magis katanya. Apa iya aku bisa percaya dengan yang seperti itu saat ini? Orang pintar yang kukenal hanya kamu. Magis yang kupercaya hanya berupa pesonamu yang membuatku tidak bisa tidak melayang kalau sedang kamu pandang.

Lagi pula, jika kuingat-ingat, beberapa waktu belakangan aku tidak pernah salah ucap ke orang lain, apalagi melangkahi tangga. Aku juga tidak suka berbuat aneh-aneh di tempat asing karena keluar rumah pun aku jarang sekali. Kecuali untuk menjumpai kamu.

Hari ini adalah hari ke dua ratus aku di rumah sakit. Asuransiku sudah menyerah menanggung biaya sejak hari ke tiga puluh. Orang tuaku sudah kehabisan barang untuk dijual. Aku pun tak punya aset macam-macam lain yang bisa kugadaikan untuk bayar rumah sakit. Kami semua makin pucat, aku makin sakit. Sementara dokter dan perawat di rumah sakit, cuma mereka yang wajahnya semakin berseri-seri.

Sudah hampir 365 hari aku di rumah sakit, hasil observasi tidak juga keluar. Aku masih saja sakit sendi dan sakit tulang. Sakit yang membuatku tidak bisa pulang. Sakit yang membuat tagihan rumah sakit gendut, sementara rekeningku ikut mengkerut. Sakit yang membuatku ingin kamu datang.

Hari itu akhirnya kamu datang. Kamu datang setelah satu tahun pergi entah untuk menemukan apa. Kamu datang dengan senyumanmu yang selalu kumimpikan setiap malam. Kamu datang dengan kelembutan tanganmu yang dulu mengusapku setiap hari. Kamu datang dengan kehangatan pelukanmu yang dulu membalutku setiap beberapa jam sekali.

Kamu datang, melepas infusku. Saat itu juga aku pulang karena sakitku hilang.

Dan semua dokter di rumah sakit itu..

“Ternyata hanya rindu.. Dasar, bikin kerjaan orang saja”.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending