© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Kota dan al Maidah: 51 yang Tidak Sepadan

Oleh: Aprileny

Hingar-bingar masalah penggunaan Surat al Maidah ayat 51 hampir tak berbunyi lagi. Tapi semua kericuhan itu menyisakan luka yang dalam di hati saya. Saya protes keras! Saya protes keras al Maidah: 51 dijadikan acuan dalam mencari, memilih dan mengangkat pemimpin, ketika yang dibicarakan adalah rotasi administrator pelaksana pelayanan sebuah kota.

Kota adalah persekutuan manusia di atas suatu wilayah. Di dalam persekutuan ini yang dijalin adalah manusia-manusia dengan keberagaman latar belakang. Pembangun kota adalah harapan manusia-manusia yang mendiaminya. Di dalam jalinan harapan ini, manusia menghidupi dirinya melalui interaksi antar sesama. Kota adalah perbedaan dan perbedaan itu adalah syarat berdirinya sebuah kota.

Dengan kesepakatan, masyarakat kota memilih administrator yang bertugas melayani hajat hidup warganya. Administrator kota tidak dapat memilih hanya melayani suatu kelompok masyarakat saja. Ia wajib melayani semua orang pembentuk kota.

Dan saya berpikir, bagaimana mungkin al Maidah: 51 dijadikan acuan dalam memilih administrator kota, sedangkan sebab turunnya ayat itu adalah aliansi antar kelompok dalam sebuah perang yang bertujuan menegakkan sebuah identitas agama baru? Apakah yang mempergunakan al Maidah: 51 ini berpikir bahwa pemilihanan administrator pelaksana pelayanan sebuah kota modern bisa disamakan dengan peperangan di mana ada satu kelompok harus bertarung dengan kelompok lain demi tegaknya sebuah identitas baru?

Kota bermakna peradaban. Di dalam peradaban ada diplomasi, interaksi antar individu dalam mengusahakan terwujudnya kesejahteraan. Perang pembentukan identitas agama baru tidak dapat dibandingkan dengan diplomasi antar individu. Diplomasi mengutamakan strategi ko-operatif dengan tujuan menekan kekerasan serendah mungkin agar kesejahteraan terpenuhi, sedangkan perang mengutamakan strategi kekerasan dengan tujuan mendorong lawan pada sudut ketidakberdayaan sampai pada titik nol.

Sungguh saya terluka. Terlahir dan besar sebagai penganut agama Islam, saya selalu yakin bahwa Islam sudah besar dan megah tanpa harus ada upaya untuk memperbesar dan mempermegah agama saya ini. Tapi ternyata, masih ada sekelompok penganut agama Islam yang merasa bahwa Islam belum menjadi identitas yang kokoh, yang besar, yang megah, sehingga masih berpikir perang masih diperlukan.

Jadi, izinkan saya mengatakan bahwa kota dan al Maidah: 51 tidaklah sepadan. Kota adalah diplomasi modern dan al Maidah: 51 adalah perang pembentukan identitas.

Palembang, 20 Oktober 2016

* Aprileny: Penulis, Twitter @ AprilenyApril

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT