Connect with us

COLUMN & IDEAS

Ki Hadjar Dewantoro: Permainan Kanak-kanak

mm

Published

on

 

Pendidikan Diri dari Kodrat ke Arah Adab Bentuk dan Isi Alam Kanak-kanak

PERMAINAN kanak-kanak itu sebenarnya sudah lama menarik dan menjadi pusat perhatian para ahli pendidik diseluruh dunia. Sebelum Friedrich Firobel memasukan permainan kanak-kanak di dalam “Kindergarten”-nya, sebagai anasir mutlak dalam pendidikan anak-anak di bawah umur 7 tahun, sebelum itu sudah ada perhatian terhadap soal tersebut. Mungkin karena Pestolozzi – “bapak” dari pada “sistem sekolah” (yang “modern” pada jamannya pertengahan dan akhir abad XVIII, jadi jaman hidupnya Frobel juga) – dengan tegas menganjurkan pengembalian sistem pendidikan yang tatkala itu membeku dalam bentuk, isi dan lakunya, ke arah “natuurlijkheid,” yaitu kodrat keadaan dalam umumnya dan kodrat hidup tubuh kanak-kanak pada khususnya. Sebetulnya pelopor pembaharuan hidup, pelopor “revolte” Jean Jacques Rousseau (yang berhasrat membebaskan hidup manusia dari segala ikatan adat yang mati), pun di dalam dunia pendidikan pula dianggap pelopor, ialah pelopor pendidikan merdeka. Salah satu tuntutan Rousseau ialah kemerdekaan jiwa kanak-kanak, membebaskan dia dari kekangan dan mengemukakan kodrat hidup kanak-kanak. Dan kodrat jiwa kanak-kanak. Itulah yang terkandung dalam bentuk dan isi segala macam permainan kanak-kanak.

Apabila kita meninjau segala gerak-gerik kanak-kanak, menilik segala sikapnya, kesedihan dan kesenangannya, langkah-lakunya, maka dapatlah kita lihat, bahwa semua itu nampak di dalam berbagai permainan-permainannya. Ini disebabkan anak-anak itu selama mereka tidak tidur atau sedang melakukan sesuatu pekerjaan yang penting (dan ini biasanya terlaksana secara sambil-lalu) tentulah mereka itu bermain-main. Boleh dikatakan, bahwa permainan itu mengisi sepenuhnya hidup kanak-kanak, mulai ia bangun pada waktu pagi-pagi, sampai ia tidur lagi pada malam hari; sehari terus. Beristirahat ….. hanya kadang-kadang bila ia sungguh lelah – dan ini keharusan untuk makan atau minum, untuk mengasingkan diri sebenar, atau dipanggil ayah ibunya. Persayalah, bahwa semua pemutusan waktu bermain itu oleh anak-anak sendiri dianggap sebagai “gangguan” yang mengecewakan. Biasanya kalau anak itu sungguh lelah, ia berganti bermain yang serba ringan; dan ini berlalu secara “spontan” dengan sendiri.

Jumlah dan Jenis Permainan

Jumlah permainan kanak-kanak itu banyak sekali dan boleh dibilang tak terhitung banyaknya. Ini disebabkan, selain permainan-permainan yang lama, senantiasa dan tambahan permainan-permainan baru, yang dibawa oleh kanak-kanak, baik anak-anak yang berasal dari tempat lain, maupun oleh anak-anak setempat, yang meniru permainan-permainan yang berasal dari golongan-golongan lain. Kadang-kadang permainan-permainan baru tadi timbul karena spontanitas kanak-kanak, atau merupakan ciptaan pihak orang tua, yang bisanya  dengan segala senang hati diterima oleh anak-anak. Pendek kata, segala permainan baru dari manapun asalnya, selalu diterima oleh kanak-kanak sebagai tambahan yang sangat dihargai; barang tentu asalkan sesuai dengan jiwa kanak-kanak.

Permainan-permainan yang lama biasanya tidak dilepaskan oleh kanak-kanak, yang dalam hal itu seringkali menunjukkan sikap konservatif. Kerapkali kejadian pula anak-anak memperbaharui permainan lama, yaitu sifat permainan lama masih nampak, tetapi dengan bentuk yang agak baru, atau bentuknya tak berubah, namun isinyalah yang baru. Dengan begitu maka di samping permainan-permainan lama selalu timbul permainan-permainan baru, hingga jumlahnya banyak sekali. Barang tentu di sesuatu tempat dan dalam sesuatu waktu ada juga permainan-permainan yang akan dilakukan lagi oleh kanak-kanak, akan tetapi pada lain waktu timbullah dengan sendiri permainan-permainan, yang tadinya sudah tak pernah dimainkan oleh kanak-kanak.

Kalau kita menengok bentuk dan isi permainan-permainan itu, maka banyak sekali terdapat anasir-anasir atau bahan-bahan, yang berasal dari hidup kemasyarakatan yang mengelilingi hidup kanak-kanak. Segala pengaruh alam dan jaman, yang memperbaharui masyarakat, dalam instansi kedua memperbaharui pula bentuk dan isi permainan kanak-kanak. Berhubungan dengan itu hendaknyalah diingat bahwa konservatisme kanak-kanak, seperti telah disebut di muka, menyebabkan terus hidupnya permainan-permainan kuno, seolah-olah terhindar dari pengaruh alam dan jaman baru. Keadaan ini nampak dalam hidup kanak-kanak kita, yang masih mempunyai peremainan-permainan berasal dari jaman feodal, jaman permainan primitif, di zamannya masih ada perdagangan anak-anak dan lain sebagainya. Hal ini tidak saja amat berhubungan dengan sifat “statis” daripada masyarakat kita (dan ini berhubungan pula dengan tidak adanya hidup tumbuh secara bebas dan merdeka dalam sejarah kebudayaan kita sejak adanya penjajahan asing), tetapi ada lagi pertaliannya dengan sifat activisme, yang antara lain diuraikan dalam teori atavisme oleh seorang ahli ilmu-jiwa Amerika Stanley Hall.

Sifat permainan kanak-kanak

Sejak timbulnya “paedalogy”, ilmu pengetahuan tentang hidup kanak-kanak pada umumnya dan khususnya sebagai akibat perkembangan ilmu pendidikan (paedagogy), maka para ahli biologi menaruh minat dan perhatian pula terhadap soal permainan kanak-kanak, terpandang dari sudut ilmu-ilmu yang luas. Stanley Hall, yang baru kita sebut tadi, menghubungkan dengan sifat-sifat permainan kanak-kanak dengan “hukum biogenese,” pelajaran Ernst Haeckel, mengenai asalnya segala gerak-gerik di dalam hidup manusia, yang dikatakan: selalu mempunyai sifat ulangan pendek dari hidupnya jenis manusia dalam jaman-jaman yang lampau, mulai jaman purbakala. Hidup tumbuhnya “ontogenese,” adalah ulangan singkat dari kemajuan “phylogenese.” Begitu segala tingkah laku kanak-kanak bermain-main dengan batu, dengan tanah, dengan air, dengan hewan atau permainan perang-perangan, pertanian, perdagangan, beradu kekuatan, dll, sebagainya menurut Haeckel tadi boleh dipandang sebagai ulangan jaman batu, jaman pertanian, pelajaran, penggembalaan, keprajuritan dan sebagainya, yang terdapat di seluruh dunia. Inilah sebabnya, menurut Stanley Hall, segala permainan kanak-kanak itu di segala pelosok di seluruh dunia mempunyai sifat yang sama dalam pokoknya ialah ulangan atavistis.

Baiklah di sini diingat adanya sikap manusia, yang “onbewust” biasanya, untuk mengganti atau mengubah sifat-sifat “keinginan instinctif” (berasal dari teori atavisme dari Stanley Hall tadi) dengan sifat-sifat yang untuk jaman yang berlaku sekarang ini tidak diharamkan, atau bertentangan dengan syarat-syarat kesusilaan dalam jalan ini. Sikap inilah yang menurut Karl Groos dan Dr. Maria Montessori disebut “katharsis,” yang sebenarnya berarti; “memurnikan,” yaitu menghilangkan sifat-sifatnya yang kasar atau tak senonoh. Katharsis itu sebenarnya, “permainan” yang dilakukan oleh orang-orang dewasa, untuk menuruti dorongan-dorongan dari macam-macam insting, hanya saja diberi bentuk yang sesuai atau dibolehkan oleh moralnya jaman yang berlaku. Contoh-contohnya misalnya; perjudian, menyembelih hewan dan menanam kepalanya di bawah bangunan-bangunan yang didirikan, lain-lain macam bersaji, dsb.; untuk orang-orang muda misalnya mengadakan pesta dengan berdansa-dansa, berdarmawisata dan melakukan sport bercampur, laki-laki dan perempuan, dsb. Demikian teori atavisme tentang permainan kanak-kanak (dan orang dewasa) menurut Stanley Hall.

Sifat-sifat biologis

Ada pandangan lain tentang permainan kanak-kanak yagn disandarkan pada spontanitas dalam hidupnya kanak-kanak. Dibuktikan oleh Montessori, secara eksperimental, bahwa tumbuhnya jasmani kanak-kanak itu menimbulkan keinginan-keinginan yang kuatnya dorongan atau tuntutan jiwa, yang sering kali berlau secara tiba-tiba atau “spontan” (tak dengan dipikir-pikir sebelumnya). Anak-anak kecil suka merangkak, suka bersandar pada tongkat atau barang lain, merambat pagar dan lain sebagainya, itu adalah tuntutan jasmani, guna mendapat gambaran kekuatan atau pengurangan beban, yang perlu untuk berjalannya serta segala gerak-gerik badan kanak-kanak yang menurut kodratnya masih kekurangan kekuatan. Permainan kanak-kanak pada umumnya boleh dipandang sebagai tuntutan jiwanya yang menuju ke arah kemajuan hidup jasmani maupun rohani. Lihatlah caranya kanak-kanak bermain-main.

            Banyak permainan-permainan itu merupakan tiruan gerak-gerik orang tua; misalnya permainan yang meniru orang bercocok tanam, berdagang, menerima tamu, mengejar pencuri dsb. “Meniru” ini sangat berguna, karena mempunyai sifat mendidik diri pribadi dengan jalan orientasi serta mengalami, walaupun hanya secara khayal atau fantasi. Dalam hal ini sama faedahnya dengan sandiwara.

Kerapkali permainan kanak-kanak itu bersifat mencoba kekuatan atau kepandaian (kecerdikan, kecakapan dan sebagainya). Ia selalu berhasrat mengalahkan temannya, merasa amat senang kalau menang, susah kalau kalah; sama dengan semangat orang-orang yang bertanding dalam keolahragaan. Ini mendidik kanak-kanak pula, tidak saja untuk selalu memperbaiki kecakapannya, tetapi juga untuk menebalkan tekadnya, kepercayaannya atas dirinya sendiri. Dalam hubungan ini ada baiknya disebutkan pula, bahwa kanak-kanak seringkali mematahkan atau memcahkan barang-barang itu karena keinginan mencoba kekuatannya. Menyakiti hewan atau anak lain boleh termasuk dalam pandangan ini.

Mencoba kekuatan atau kepandaian itu jika tidak dengan beradu, yaitu dilakukan sendirian, lalu bersifat “demonstrasi” memperlihatkan kejadiannya, dan ini adalah salah satu corak perangai manusia yang umum, yang dapat pula dianggap ada faedahnya, misalnya berhubungan dengan tumbuhnya rasa diri, rasa bertanggung-jawab, rasa tidak “minderwaardig” (kurang berharga), dan sebagainya.

Permainan kanak-kanak itu umumnya sama dengan caranya anak-anak belajar melatih diri, berupa persiapan untuk hidupnya kelak. Anak-anak kucing gemar bermain-main dengan segala barang yang mudah digerakkan, dan sesudah digerakkan sendiri, lalu ditubruk-tubruk, secara kucing tua menubruk tikus. Karena inilah Montessori menetapkan pula, bahwa permainan kanak-kanak itu semata-mata latihan daripada segala laku, yang kelak perlu bagi hidup manusia. Caranya kanak-kanak terus menerus mengulangi sesuatu permainan. Tidak dengan bosan-bosan, menunjukkan sifatnya latihan itu pada umumnya.

Sebabnya Kanak-kanak Gemar Bermain

Bahwa kanak-kanak itu gemar sekali akan segala permainan, tak usah diterangkan dengan panjang lebar. Kita semua dapat menyaksikannya sendiri. Apabila ada seorang anak tidak suka bermain-main, bolehlah dipastikan bahwa anak itu sedang sakit, jasmaninya ataupun rohaninya. Di muka sudah diterangkan, bahwa sehari terus, mulai bangun pagi-pagi sampai tidur pula pada waktu malam, anak-anak itu tentu bermain-main. Anak yang tak berbuat apa-apa, dalam bahasa Jawa “nganggur”, boleh dikatakan tidak ada. Apakah kitanya yang menyebabkan terus menerus bergeraknya anak-anak itu? Jawab pertanyaan ini kita serahkan kepada Herbert Spencer, seorang ahli ilmu-ilmu jiwa dan filsuf bangsa Inggris. Sepencer mengajarkan, bahwa sifat dinamis dalam hidup tumbuhnya kanak-kanak itu adalah akibat dari adanya sisa kekuatan (krachtoverschot) di dalam jiwa dan tumbuhnya kanak-kanak, yang sedang ada dalam keadaan bertumbuh itu. Produksi kekuatan dalam kanak-kanak, lahir dan batin, sehingga lalu ada “sisa” tadi. Dan sisa kekuatan ini menuntut secara organis, agar dipakainya, supaya lalu ada imbangan lagi antara kekuatan lahir dan batin di dalam hidupnya anak-anak, imbangan mana bersifat rasa enak, semuanya karena danya “penyaluran.” Sisa kekuatan itulah yang mengakibatkan anak-anak secara spontan terus bergerak, dinamis lahir dan batin, tak berhenti secara istirahat. Dalam keadaan begitu maka anak-anak yang terpaksa diam, merasa terhukum, kadang-kadang menyebabkan terganggunya kesehatan jasmaninya, karena “overspanning.” Alangkah baiknya, bila tiap-tiap orang tua menginsyafi kebenaran pelajaran Spencer ini, dan memberi kesempatan sebanyak-banyaknya dan sebebas-bebasnya kepada anak-anaknya, untuk bermain-main dan bergerak badan, yang sangat perlu bagi kesehatan roh dan badannya. Untuk kepentingan ini tak usah diterangkan, bahwa permainan-permainan yang bersfiat “sport” (barang tentu disesuaikan dengan kekuatan kanak-kanak), patut diperhatikan secukupnya.

Latihan Panca Indra

Salain kepentingan fisiologis, yang bertali dengan kesehatan badan (yang sangat perlu untuk tumbuhnya jasmani dengan sebaik-baiknya), ada pula kepentingan yang mengenai kemajuan hidup rohaninya kanak-kanak. Permainan kanak-kanak yang dalam bentuk dan isinya boleh dikata semuanya mempunyai sifat latihan panca-panca indera” ala Montessori. Dan sebagai diketahui maka latihan panca-indra itu oleh Montessori dimaksudkan sebagai gerak lahir secara teratur, yang besar pengaruhnya kepada tumbuh serta yang bermacam-macam, seperti menggambar, mengancam, melempar barang ke arah jarak yang tertentu, mengatur tertibnya urutan-urutan barang ke arah jarak yang tertentu, mengatur tertibnya urut-urutan suatu atau barang-barang menurut panjangnya, besarnya atau beratnya, dan lain sebagainya, maka rasa dan pikiran kanak-kanak, pula kemauannya, dapat terdidik dengan sendiri. Di sinilah dengan tegas dibuktikan adanya hubungan yang amat erat antara kemajuan jasmani dengan rohani, dan teranglah bahwa permainan kanak-kanak, juga yang spontan keluar dari kemauannya sendiri, jadi tidak ditatur oleh gurunya (atau “pembantu”-nya menurut istilah Montessori) benar-benar mengandung faktor psychologis.

Dengan sendiri kita di sini pada nama Frobel, yang sangat mementingkan permainan kanak-kanak bagi “kindergardfen”-nya. Pokok perbedaan antara Montessori dengan Frobel ialah, karena pencipta Kindergarden yang terkenal di seluruh dunia itu memandang kanak-kanak dari sudut totalitet kejiwaan dan memandang permainan tadi sebagai gerak kondratnya kanak-kanak. Kegembiraan kanak-kanak tadi sebagai gerak kodratnya kanak-kanak. Kegembiraan kanak-kanak dan segarnya jiwa serta semangatnya, yang menggetar dan berseri-seri, selama kanak-kanak bermain di dalam “taman kanak-kanak,” itulah syarat mutlak menurut Frobel, guna memupuk perkembangan jiwa kanak-kanak. “Taman” dalam nama perguruan Frobel itu, bukan perkataan hampa, bukan hanya perlambang pula, tetapi memang dimaksudkan oleh si pencipta harus bersatunya jiwa kanak-kanak dengan tumbuh-tumbuhan pula, yang harus dipelihara menurut syarat-syarat keindahan. Demikianlah anjuran Frobel.

Montessori menunjukkan corak lain, ialah corak yang “zakelijk,” yang jauh dari maksud “puisi” atau “romantik.” Seperti nampak dalam sistem “Kindergartden,” Montessori menciptakan untuk sekolahnya pelbagai “permainan” yang bertujuan memasukan pancaindera pada instansi pertama, sedangkan menyenangkan kanak-kanak itu jatuh nomor dua. Itulah sebabnya para pegikut Frobel secara mengejek menamakan “Montessorischool” itu bukan ruang pendidikan, melainkan “laboratoriun” untuk meng”ekkerimentir” penyeleidikan “analitis psikologis” berasal dari doktor medika Montessori. Anak-anak yang menjadi “proefkonijn”-nya (alat percobaan).

            Bagaimanapun juga nyatalah, bahwa permainan kanak-kanak itu sungguh besar sekali paedahnya terhadap hidup tumbuhnya jasmani dan rohani kanak-kanak, karena sangat sesuai dengan dasar kodratnya kanak-kanak, baik dipandang biologis, psikologis maupun pedagogis.

Permainan dalam Kebudayaan Kita

Apabila kita pada waktu senja suka meninjau ke dalam kampung-kampung atau desa-desa, maka pastilah tertangkap dalam telinga kita bermacam-macam nyanyian-nyanyian kanak-kanak. Jika kebetulan terang bulan, maka sampai agak malam suara lagu-lagu itu terdengar, biasanya berbarengan dengan suara “gejong,” yaitu permainan memukul-mukul “lesung” (penumbuk padi) yang dilakukan dengan penuh irama. Pula pembacaan buku dengan “lagu-lagu” macapat di sana sini masuk ke dalam pendengaran kita. Di Pasundan kerapkali suara seruling atau kecapi mengisi suasana desa. Semuanya itu membuktikan adanya “musikalitas” pada bangas kita, yaitu adanya dasar seni-suara dalam hidup kebudayaan kita. Bukan itulah kini yang kita bicarakan. Yang sekarang menarik perhatian kita ialah kedudukan permainan kanak-kanak dalam hidup kebudayaan kita. Dalam pada itu bolehlah di sini diketahui, bahwa sebagian besar daripada permainan-permainan kanak-kanak kita itu disertai nyanyian-nyanyian yang membuktikan adanya “musikalitas” tadi juga pada anak-anak kita.

Pada permulaan karangan ini sudah saya kemukakan, bahwa jumlah permainan kanak-kanak itu besar sekali; ada yang timbul dari spontanitas kanak-kanak sendiri, ada yang rupa-rupanya ciptaan orang tua yang berbudi seniman. Dalam buku besar karangan dan himpunan H. Overbeck, penerbit “Java Institut” (Javaansche meisjesspelen en kinderliedjes) dapatlah kita menghintung 690 permainan dan nyanyian. Ini hanya permainan anak-anak perempuan saja. Rangkaian perkataan “permainan dan nyanyian” menunjukkan adanya hubungan yang erat antara kedua-duanya. Ada yang pokonya berwujud “permainan” tetapi dengan diantar lagi, ada pula yang pokoknya “nyanyian” tetapi disertai gerak-gerik yang berirama.

Barang tentu kita semua tahu adanya siaran-siaran radio, yang menyebutkan acara: permainan kanak-kanak (dolanan anak). Dan kita mengerti, bahwa kita akan mendengar nyanyian-nyanyian, yang dilagukan biasanya untuk mengantar permainan-permainan kanak-kanak. Juga dalam acara “klenengan” atau “uyon-uyon”, yang berati konser-gamelan, kadang-kadang diberitahukan adadnya “dolanan kanak-kanak.” Ini berarti para “niaga” akan memainkan dan “pesinden” akan melagukan nyanyian-nyanyian kanak-kanak. Bukti pula bersatunya permainan dan nyanyian. Tidak itu saja; dimainkannya lagu permainan kanak-kanak menunjukkan pula, bahwa lagu-lagu dolanan itu banyak yang cukup baik, cukup bernilai kesenian, hingga patut untuk didengarkan dan diraskan merdunya oleh orang-orang tua, sebagai seni-suara. (*)

Mimbar Indonesia No. 2-25 Desember 1948.

————————————-

Ki Hadjar Dewntoro adalah tokoh peletak dasar pendidikan nasional. Terlahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat, di Yogyakarta, 2 Mei 1889. Pada tanggal 25 Desember 1912 dia bersama dr. Douwes Dekker dan dr. Tjipto Mangoenkoesoemo mendirikan Indische Partij. Setelah aktif di bidang politik dan sempat dibuang Pemerintah Kolonial Belanda, sekembalinya di tanah air pada tahun 1918, ia mencurahkan perhatiannya di bidang pendidikan sebagai bagian dari alat perjuangan meraih kemerdekaan. Bersama rekan-rekan seperjuanganya ia mendirikan National Onderwijs Instituut Tamansiswa atau lebih dikenal dengan Perguruan Nasional Tamansiswa, 3 Juli 1922. Dalam zaman pendudukan Jepang, kegiatannya di bidang politik dan pendidikan tetap dilanjutkan. Waktu Pemerintah Jepang membentuk Pusat Tenaga Rakyat (Putera) dalam tahun 1943, Ki Hadjar duduk sebagai salah seorang pimpinan di samping Ir. Soekarno, Drs. Muhammad Hatta dan K.H. Mas Mansur, jabatan yang pernah dipegang setelah Indonesia merdeka ialah sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan yang pertama. Tokoh dan pahlawan pendidikan ini tanggal kelahirannya 2 Mei oleh bangsa Indonesia dijadikan hari Pendidikan Nasional. Selain itu, melalui surat keputusan Presiden RI no. 305 Tahun 1959, tanggal 28 November 1959 Ki Hadjar ditetapkan sebagai Pahwalan Pergerakan Nasional. Penghargaan lainnya yang diterima oleh Ki Hadjar Dewantara adalah gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Gajah Mada di tahun 1957. Dia meninggal dunia pada tanggal 28 April 1959 di Yogyakarta.

Sumber: Ki Hadjar Dewantara, Pendidikan Taman Siswa, Jogyakarta, 1962.

COLUMN & IDEAS

“Salah Pilih” Puisi dan Anak

mm

Published

on

Bandung Mawardi *)

Dulu, kita di TK sering bertepuk tangan dan bersenandung. Setiap hari bermain dan bergembira. Pasti! Di TK, bocah-bocah diajak belajar belum mengacu ke serius-serius. Mereka mengerti binatang, tumbuhan, kata, angka, langit, dan lain-lain cenderung dengan bermain, belum menanggungkan kaidah-kaidah ketat keilmuan. Peristiwa menggirangkan tentu bersenandung. Selama di TK, bocah-bocah mengenal dan menghapal puluhan lagu tanpa guru mengumumkan nama para penggubah: Ibu Sud, Pak Dal, Pak Kasur, atau AT Mahmud. Nostalgia di TK adalah bersenandung merdu atau teriak-teriak menjadikan lagu berantakan.

Bandung Mawardi, Esais.

Lagu memang cespleng mengenalkan dan mengantarkan bocah-bocah ke pelbagai pengertian. Guru pun memiliki peristiwa mengajak bocah berpuisi meski gairah tak semeriah lagu. Kita mungkin lupa atau sulit melacak lagi episode belajar membacakan puisi diajarkan oleh guru atau orangtua. Puisi belum keutamaan di TK. Pengingat puisi mungkin bocah ditunjuk guru ikut dalam lomba deklamasi. Puisi kadang dibacakan dalam pentas seni atau peringatan hari-hari nasional. Kita menduga bocah sulit mengingat kata-kata dalam puisi dibandingkan lagu.

Pada 1992, terbit buku berjudul Kumpulan Sajak untuk Anak TK. Buku tipis terbitkan Depdikbud. Buku mustahil tercatat dalam sejarah sastra Indonesia, tersingkir dari perbincangan arus kesusastraan anak di Indonesia. Buku itu “milik negara, tidak diperdagangkan.” Cap mengartikan buku-buku lazim berada di perpustakaan atau pihak-pihak berkepentingan. Para pengarang berlagak berpihak ke pengajaran sastra terduga tak meminati dan memiliki buku bersampul warna hijau tanpa gambar. Buku itu pasti bukan referensi penting bagi Taufiq Ismail, dosen-dosen di jurusan sastra, pengamat bacaan anak, atau kritikus sastra.

Buku terbitan di masa Orde Baru tentu wajib turut dalam capaian pembangunan nasional. Bocah-bocah diajak berpuisi tapi “dipatuhkan” oleh petunjuk-petunjuk cenderung politis ketimbang estetis. Bocah memang tak lekas merasakan tapi tata cara mengajarkan puisi mengikuti alur bentukan situasi pendidikan nasional cap Orde Baru. Misi mengajarkan puisi adalah pengembangan: Pendidikan Moral Pancasila; perasaan, kemasyarakatan, dan kesadaran lingkungan; pengetahuan; jasmani dan kesehatan.

Buku disusun oleh tim. Kita tak bakal mengetahui nama-nama penggubah puisi-puisi dimuat dalam buku. Kita mengutip puisi berjudul “Indonesia” berimajinasi kepulauan: Alangkah banyak pulaumu/ Tak dapat aku menghitungnya/ Tapi ada lima yang kau tahu/ Pulau yang besar di Indonesia// Pulau Sulawesi, pulau Jawa/ Pulau Kalimantan dan Sumatera/ Yang akhir Irian Jaya/ Itulah Indonesia. Guru mungkin mengajarkan sambil menunjuk peta Indonesia di dinding kelas.

Ada puisi bertema makanan berjudul “4 Sehat 5 Sempurna”. Dulu, propaganda pemerintah menginginkan jutaan orang sehat. Sekolah, puskemas, dan posyandu bertugas mengumumkan “4 sehat 5 sempurna” dengan poster atau pidato. Di TK, bocah-bocah menikmati puisi: Sayuran makanan yang bergizi/ Telur, daging, tempe dan tahu/ Jangan lupa buah dan nasi/ Ditambah dengan segelas susu. Masalah besar adalah susu dan buah. Di keluarga-keluarga miskin dan sederhana saat Orde Baru mementaskan muslihat kemakmuran, usaha mengadakan buah dan susu di atas meja itu sulit. Pengecualian di keluarga pejabat, pegawai, atau saudagar. Puisi agak memicu masalah imajinasi dan pengalaman bocah dari keluarga-keluarga miskin. 

Pada masa berbeda, institusi bahasa di naungan pemerintah ingin membuktikan melakukan kerja riset dan publikasi bertema sastra anak. Ikhtiar mengarah ke pendidikan-pengajaran sastra di sekolah. Buku mungkin ingin terbedakan dari selera kebijakan-kebijakan masa Orde Baru. Pada 2003, terbit buku berjudul Antologi Puisi Indonesia Modern Anak-Anak disusun oleh Suyono Suyatmo, Joko Adi Sasmito, dan Erli Yati. Mereka berpredikat pegawai bahasa di instansi pemerintah.

Kita membaca kutipan penjelasan pejabat dicantumkan di buku sepanjang dua halaman: “… Proyek Pembinaan Bahasa dan Sastra Indonesia, secara berkesinambungan menggiatkan penelitian sastra dan penyusunan buku tentang sastra dengan mengolah hasil penelitian sastra lama dan modern ke dalam bentuk buku yang disesuaikan dengan keperluan masyarakat, misalnya penyediaan bacaan anak, baik untuk penulisan buku ajar maupun untuk keperluan pembelajaran apresiasi sastra. Melalui langkah ini diharapkan terjadi dialog budaya antara anak-anak Indonesia pada masa kini dan pendahulunya pada masa lalu agar mereka akan semakin mengenal bentuk keragaman budaya bangsa yang merupakan jati diri bangsa Indonesia.” Kalimat-kalimat khas pejabat tapi wajib ada dalam buku-buku jarang bermutu.

Buku ingin berfaedah tapi mengandung masalah. Tim memiliki dalil-dalil pemilihan puisi dalam apresiasi sastra untuk anak: “Puisi yang menampilkan hal-hal yang akrab dengan dunia anak-anak ataupun hal-hal lain yang bisa diterima oleh kalangan anak-anak; Puisi yang secara estetis cukup bernilai tinggi sehingga memperkenalkan dan mengakrabkan pembaca anak-anak pada puisi yang berkualitas.” Tim sudah bekerja keras dalam mencari sumber-sumber bacaan dan bermufakat dalam seleksi puisi. Semua disajikan di buku menantikan pendapat para pembaca.

Kita menduga tim sulit mencari buku-buku puisi (selera) anak sudah diterbitkan sejak masa kolonial sampai masa 1990-an. Dulu, ada puluhan buku cap Inpres adalah buku puisi, tak selalu novel atau kumpulan cerita. Majalah-majalah memuat puisi anak tercatat puluhan: Kunang-Kunang, Si Kuntjung, Gatotkaca, Taman Putra, Ananda, Kawanku, Bobo, dan lain. Koran-koran pun memiliki rubrik puisi anak. Tim sengaja membatasi pilihan sumber atau gagal dalam lacakan sumber.

Buku bermisi apresiasi sastra untuk anak itu malah membuat komposisi: 80% gubahan orang dewasa dan 20% gubahan anak. Kekagetan dalam daftar puisi gubahan kalangan dewasa. Di situ, anak-anak disuguhi puisi-puisi gubahan Amir Hamzah, Chairil Anwar, Asrul Sani, Rendra, Subagio Sastrowardoyo, Sutardji Calzoum Bachri, Taufiq Ismail, Emha Ainun Nadjib, Hammid Jabbar, A Mustofa Bisri, dan lain-lain. Pilihan itu berpengaruh dalam lomba-lomba membaca puisi untuk murid-murid SD. Mereka membacakan puisi-puisi gubahan orang dewasa dengan pengucapan dan gerak “dipaksa” dewasa. Keluguan dan keriangan anak terlalu cepat diselerakan dewasa. Panitia lomba atau dinas-dinas pendidikan tak terlalu mengurusi masalah kepantasan dan kenikmatan puisi-puisi bagi murid-murid SD.

Di situ, dimuat puisi berjudul “Nyanyian Preman” gubahan Rendra. Anak-anak membaca: Wajahku disabet angin jadi tembaga./ Ketombe di rambut, celana kusut./ Umurku ditelan jalan dalam kembara./ Impian di rumput cerita butut// TKW/ Susu macan./ Ijazah SD/ Pengalaman// Adresku pojokan jalan tapi merdeka./ Hidupku bersatu bersama rakyat./ Jiwaku menolak menjadi kuku garuda./ Hatiku setia meskipun cacat.// Kugenggam nasibku mantap tanpa sesalan./ Bapakku mentari bundaku jalan./ Hidupku berlangsung tanpa buku harian./ Berani konsekuen pertanda jantan. Pada masa Orde Baru, puisi itu pernah digarap menjadi lagu oleh Rendra, Iwan Fals, Sawung Jabo, dan lain-lain. Kita mengandaikan saja guru dan murid membaca puisi Rendra sambil “kebingungan” dan sulit menuruti penasaran-penasaran mengacu ke situasi anak.

Buku itu terbit, tak diketahui diminati atau berpengaruh dalam pendidikan-pengajaran sastra anak. Kita mendingan menilik ulang masalah sastra anak. Sekian tahun, perbincangan atau ulasan sastra anak sering prosa ketimbang puisi. Penerbitkan buku-buku anak di Indonesia pun berlimpahan prosa. Burhan Nurgiyantoro dalam buku berjudul Sastra Anak: Pengantar Pemahaman Dunia Anak (2005) menggunakan pelbagai referensi asing menjelaskan ulang: “Puisi anak juga memiliki karakteristik yang identik dengan sastra anak: pengungkapan sesuatu dari kacamata anak. Sebagaimana halnya dengan puisi dewasa, puisi anak juga ditulis dengan seleksi kata yang ketat, pendayaan metafora dan citraan untuk menggambarkan imajinasi, memori, dan emosi.”

Kita bakal bertele-tele memahami dan menambahi penjelasan untuk memasalahkan kehadiran puisi-puisi gubahan para penulis moncer dalam buku berjudul Antologi Puisi Indonesia Modern Anak-Anak. Kita semakin membuktikan sedikit buku mau berpihak ke puisi anak. Artikel dan buku membahas prosa anak sering terbaca, berbeda nasib dengan puisi. Begitu.   

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Marah: Cerita dan Berita

mm

Published

on

Bandung Mawardi *)

Bocah itu sasaran marah. Album biografi memiliki bab-bab awal sebagai bocah dimarahi bapak atau ibu. Bocah mungkin bersalah diganjar marah. Bocah tak bersalah kadang terkena marah. Episode menjadi bocah sudah mengalami dan mencipta ingatan-ingatan marah. Pada saat “pementasan” kemarahan, bocah memilih diam, menangis, atau membalas dengan omelan-omelan. Marah itu peristiwa “dramatis” di pembentukan diri bersama keluarga, teman, guru, dan orang-orang pernah bersama si bocah membuat bab-bab biografis.

*) Bandung Mawardi, Esais.
Penulis Dahulu: Mereka dan Puisi (2020)

Marah memiliki tata cara? Sekian orang menganggap marah tak memiliki kaidah dan urutan. Marah sering mendadak atau “meledak” dalam usaha memendam di hitungan detik, menit, jam, dan hari. Bahasa dan gerak saat marah dimiliki si pemarah tanpa wajib mengikuti petunjuk di sekolah, kursus, les, atau pelatihan secara “profesional”. Pemarah itu aktor. Ia pun mengumbar kata-kata sulit dipelajari melalui tata bahasa formal dan berpijak di kamus-kamus. Kata-kata dalam marah justru peristiwa bahasa mengejutkan tapi mendebarkan bila terduga berdampak fatal.

Kita ingin membaca (lagi) rekaman-rekaman marah dalam gubahan sastra. Pilihan memang mengandung imajinasi. Kita membaca dengan tokoh dan latar berbeda, menginginkan penemuan mutu atau selera marah. Kita mulai dengan buku cerita berjudul Tono dan Tini (1979) gubahan Annie MG Schmidt. Buku cerita disimak bocah-bocah di Belanda, diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Alma Evita Almanar. Pada hari hujan, Tono dan Tini cuma bisa bermain di dalam rumah. Ibu Tono menganjurkan dua bocah itu menikmati waktu dengan menggunting gambar-gambar bagus di buku sudah tak dipakai. Gunting dan 3 buku diberikan ke mereka. Tono dan Tini senang menggunting beragam gambar.

Hujan belum reda, mereka masih ingin menggunting dan mengoleksi gambar. Tono melihat buku-buku di lemari koleksi bapak. Ia sengaja mengambil lagi buku-buku di bagian bawah. Tiga buku tadi sudah habis digunting. Mereka ingin buku-buku lagi, menambahi kegembiraan menggunting. Sekian buku menjadi sasaran penggutingan. Dua bocah girang dan saling pamer. Meni-menit berganti, bapak Tono datang tercengang. Tono dan Tini menggunting, kertas-kertas sisa guntingan dari buku-buku berserakan. Bapak marah melihat buku-buku penting ikut diguntingi. Bapak pun berteriak. Marah! Tono dan Tini berhenti, gunting lepas dari tangan. Pengarang menceritakan: “O, dia sangat marah! Alangkah marahnya dia!” Tono sedih sekali dimarahi. Pada malam hari, Tono tak dibacakan buku oleh bapak. Konon, Tono mendapat hukuman. Rumah memang tempat “pementasan” marah mungkin terjadi setiap hari. Tono mengerti berbuat salah. Marah itu memastikan pihak bersalah. Hukuman pun wajar.

Kita bergerak ke Tiongkok, membaca marah di keluarga miskin berlatar Revolusi Kebudayaan. Marah diceritakan dalam novel berjudul Kisah Seorang Pedagang Darah (2015) gubahan Yu Hua, diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Agustinus Wibowo. Kemarahan biasa terjadi setiap hari dengan pelbagai pemicu. Tiga bocah hidup dalam “roman” kemarahan dicipta bapak dan ibu. Marah mengartikan mengingatkan, mendidik, merendahkan, melukai, dan lain-lain. Tokoh bapak dalam novel memiliki kebiasaan marah dengan parade kata mengejutkan. Kita cuma membaca dalam terjemahan bahasa Indonesia. Kemarahan bapak pada anak: “Kamu genjik cilik. Kamu telur kura-kura cilik… Suatu hari nanti kamu pasti bakal bikin aku mati marah-marah.” Kemarahan akibat makanan, sikap, pekerjaan, politik, atau asmara “diselenggarakan” di rumah. Sekian kata “aneh” itu mengesankan kemarahan memiliki referensi kata dan khazanah kata terwariskan. Pemarah bisa mengumbar kata-kata lugas atau sejenis metafora. Pembaca novel Yu Hua menemukan sekian “pementasan” kemarahan khas dalam kata.

Kita memiliki dua bacaan mengandung marah berasal dari Belanda dan Tiongkok. Kita menemukan tokoh bocah terkena marah. Kesalahan bocah mudah menghasilkan marah. Konon, orangtua berdalih marah untuk memberi “pelajaran” atau membuat si bocah kapok. Marah terasakan serbuan tanda seru. Suara keras, pilihan kata, dan wajah membuat marah itu “bermakna”. Marah itu “api”, “letusan”, “ledakan”, atau “gempuran”. Marah pun menerbitkan sumpah atau kata-kata bertuah “mengundang” petaka. Di hadapan buku cerita atau novel, kita belajar marah di pelbagai peradaban. Kita perlahan mengerti sejarah peradaban besar disahkan kemarahan-kemarahan. Arus peradaban di Yunani, India, Tiongkok, Persia, Mesir, Jepang, Prancis, Amerika Serikat, dan lain-lain pasti memiliki bab-bab marah dengan daftar para tokoh kondang: raja, ratu, jenderal, pengarang, saudagar, filosof, seniman, buruh, dan lain-lain. Kemarahan melegenda dalam album peradaban dunia. Marah mengubah arah kekuasaan. Marah memicu duka dan darah dalam masalah agama. Marah pun bermula dari asmara membuat orang-orang bergelimpangan.

Novel penting bercerita marah digubah oleh Chinua Achebe berjudul Things Fall Apart, diterjemahkan ke bahasa Indonesia berjudul Segalanya Berantakan (1986). Ungkapan dan dampak kemarahan dalam novel menguak sejarah rumit Afrika. Kehidupan suku guncang gara-gara kedatangan “orang kulit putih” membawa misi-misi besar: agama, bisnis, pendidikan, kekuasaan. Novel mengajak pembaca ke halaman-halaman bercerita antropologis. Kemarahan melanda keluarga-keluarga di suku mengakibatkan petaka-petaka. Pembaca mafhum “berantakan” bermula dari salah paham, penghinaan, pelanggaran, atau penindasan Marah dilancarkan sebagai konsekuensi melawan, balasa dendam, putus asa, dan lain-lain. Marah di Afrika itu menggerakkan sejarah: ditolak dan diterima. Buku sejarah sering memiliki halaman-halaman marah. “Berantakan” dari ratusan tahun lalu belum berakhir.

Kita sudah mengingat tiga buku, berusaha mengerti marah di Belanda, Tiongkok, dan Afrika. Buku-buku cerita tak bermaksud menjadi sumber pelajaran sejarah secara “resmi”. Kita membaca dan mengutip saja dalam membuka ingatan-ingatan kemarahan berlangsung di pelbagai negeri, dari masa ke masa. Kita sengaja belum ingin membaca buku-buku cerita gubahan pengarang Indonesia dalam menguak makna dan dampak marah. Buku-buku biar tetap tertutup, menunggu saat paling tepat untuk terbaca dengan tenang.

Konon, orang-orang Indonesia sedang dihebohkan kemarahan tokoh berdampak ke ikhtiar penanggulangan wabah dan pemulihan nasib Indonesia. Kemarahan itu anggaplah “resmi” berkaitan kekuasaan dan pemenuhan amanah sudah diberikan dalam tata cara berdemokrasi, sekian tahun lalu. Kita tak lagi berurusan dengan fiksi tapi fakta. Kemarahan itu ditonton jutaan orang, menimbulkan tafsir-tafsir mungkin memberi pujian atau ledekan. Kemarahan pun menjadi berita di koran-koran terbit 29 dan 30 Juni 2020. Kita pastikan membaca berita-berita, bukan cerita-cerita bergelimang imajinasi. Wabah belum rampung, kita sibuk “bergosip” dengan tema marah. Begitu.

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Emha, Satra dan Pengakuan

mm

Published

on

Oleh Bandung Mawardi *)

Semula, orang-orang mengenali Emha Ainun Nadjib di sastra. Para pembaca majalah Horison masa lalu sering membaca puisi dan cerpen gubahan Emha Ainun Nadjib. Majalah itu tercatat dalam biografi tokoh telah menua. Kini, ia masih lantang saat omong dan sregep menulis. Leren atau tamat tak tercantum dalam “kamus” milik Emha Ainun Nadjib. Di toko buku, kita memastikan puluhan buku Emha Ainun Nadjib menggoda orang untuk membeli dan membaca. Buku lama cetak ulang. Buku baru pun terbit. Di situ, kita membaca nostalgia dan kecenderungan mutakhir ibadah keaksaraan Emha Ainun Nadjib dengan pelbagai ke-mbeling-an dan kesantunan.



Muhammad Ainun Nadjib (born 27 May 1953), best known as Emha Ainun Nadjib or Cak Nun, is an Indonesian poet, essayist, and humanist. Born in JombangEast Java, Nadjib began writing poetry while living in Yogyakarta, publishing his first collection in 1976. He became one of the city’s predominant poets by the late 1980s, and by then had also began writing essays. He is the leader of the Kiai Kanjeng group, which stages dramas and musical performances on religious themes. Early poems by Nadjib have elements of social criticism. However, more prominent are Islamic values, variously described as santri or Sufi. Islam is also a common subject for his essays. His writings have taken a variety of forms, including poetry, essays, novels, and short stories. (Wikipedia)

Keranjingan bersastra memiliki kaitan dengan Horison, sebelum Emha Ainun Nadjib sering menulis kolom di pelbagai koran dan majalah. Kita ingin menghormati Emha Ainun Nadjib saat ulang tahun dengan mengingat babak pergulatan dan pergaulan sastra masa lalu. Di Horison edisi Oktober 1991, kita simak hasil wawancara bersama Emha Ainun Nadjib. Ia tak melulu di sastra. Emha Ainun Nadjib terbukti mumpuni pula di teater dan musik. Ia rajin berceramah atau membuat obrolan-obrolan bertema agama di pelbagai tempat. Sastra mungkin masih pijakan atau titik mula.

Emha Ainun Nadjib menjadi “manusia seribu acara”. Sibuk! Ia kangen bersastra tapi harus berhitung dengan segala peristiwa dan perjumpaan manusia di keseharian. Ia mengaku ingin “menjadi sastrawan kembali”. Sulit! Kita simak perkataan Emha Ainun Nadjib berlatar 1980-an dan 1990-an: “Tapi sebenarnya bertahun-tahun saya hampir tak punya peluang bersastra-sastra ria. Artinya, ragam kegiatan saya yang ‘disusun’ oleh orang banyak kurang toleran terhadap berlangsungnya metabolisme kreativitas sastra saya.” Ia tak mengeluh atau pamer sesalan telah berada dan mengalami pelbagai peristiwa di luar sastra. Sekian kegiatan memang semakin jarang berkategori sastra. Emha Ainun Nadjib telah milik umat beragam tema, tak cuma sastra. Orang-orang memang mulai terpikat dan menganggap Emha Ainun Nadjib itu kolomnis tanpa tanding. Tulisan-tulisan menggairahkan opini publik bersikap atas keadaan aktual. Sastra masih disinggung tapi menipis.

Tarik-ulur dalam menempatkan diri untuk pergulatan keaksaraan dan omongan masa 1990-an memicu dilema. Emha Ainun Nadjib memilih berkelakar: “Yang menyangkut sastra adalah keinginan saya agar kelak saya sanggup merepresentasikannya melalui bahasa sastra. Tapi susah, ya? Sastrawan itu pasti kekasih gelap Tuhan, diizinkan dilalui oleh keindahan-Nya.” Sekian orang tetap membaca puisi-puisi gubahan Emha Ainun Nadjib terbit menjadi buku berjudul 99 Untuk TuhankuSyair Lautan JilbabSeribu Masjid Satu JumlahnyaCahaya Maha Cahaya, dan lain-lain. Di mata kalangan sastra, Emha Ainun Nadjib itu pujangga religius dengan memberi bobot kritik sosial dan sikap-sikap kemanusiaan. Ia tak perlu dipaksa masuk dalam kategori menghasilkan sastra sufistik, sastra profetik, atau sastra transendental.

Pada masa 1970-an dan 1980-an, diskusi sastra dan penulisan kritik sastra menempatkan para pujangga dan buku puisi dalam kategori-kategori mengarah ke keagamaan. Publik membaca dan memberi predikat pada Abdul Hadi WM, Taufiq Ismail, Kuntowijoyo, Emha Ainun Nadjib, Sutardji Calzoum Bachri, Zawawi Imron, dan lain-lain. Di pelbagai perbincangan sastra, nama Emha Ainun Nadjib mungkin disebut tapi ia perlahan tak terlalu “terpandang” dalam gejolak kesusastraan Indonesia. “Saya bukan apa-apa, belum ‘seseorang’ dalam dunia sastra Indonesia,” pengakuan Emha Ainun Nadjib.

Pendapat atau pengalaman bersastra Emha Ainun Nadjib selama sekian tahun terbit menjadi buku berjudul Sastra yang Membebaskan (1984). Buku kecil bekertas buram. Kita membaca (lagi) sebagai pembukti ingatan masa keranjingan bersastra, sebelum Emha Ainun Nadjib menjadi “manusia seribu peristiwa” dan harus “merebut” kewaktuan untuk sastra di masa 1990-an. Tulisan-tulisan dokumentatif dan menjelaskan posisi Emha Ainun Nadjib sebagai penggubah atau pengamat sastra.

Emha Ainun Nadjib menerangkan: “Sejak awal 1982, kita menyaksikan berbagai gugatan agar sastra lebih menunjukkan peran sertanya dalam proses perubahan sosial. Ini jelas bukan sekadar gejala kesusastraan, tapi bersumber pada kompleksitas kegelisahan sosial yang lebih luas. Meskipun batang tubuhnya berupa pemikiran sastra, namun ia adalah ‘saudara kembar’ dari sebutlah meluasnya kesadaran akan keperluan sosiologi dalam banyak ilmu-ilmu pilah modern, munculnya antitesa terhadap tradisi arsitektur modern, tumbuhnya solidaritas-solidaritas dalam kehidupan beragama, atau makin banyak diselenggarakannya kegiatan yang menegur-sapakan berbagai spesialisasi kehidupan.” Sastra “diwajibkan” terbuka, tak sendirian atau dalam pengistimewaan tanpa jamahan atau keterjalinan dengan hal-hal lain.  

Pada 2020, Emha masih menulis beragam tema. Wabah pasti dituliskan dengan kelenturan sikap dan acuan. Orang-orang merasa berhak memberi penghormatan meski tanpa acara besar dan menghebohkan. Situasi tak memungkinkan, Emha Ainun Nadjib mungkin tak menginginkan. Di hadapan kita, Emha Ainun Nadjib telah berubah menandai tua. Wajah itu masih ganteng dan berwibawa dengan sekian kerut. Ketuaan mustahil menghentikan ibadah menulis dan membuat obrolan-obrolan di seantero Indonesia. Ia belum letih. Emha Ainun Nadjib belum ringkih.

Kita mengingat masa muda bersatra di Jogjakarta melalui pengakuan Emha Ainun Nadjib: “Kompetisi yang ketat, suatu perjalanan penuh api, hidup koyak sekolah terbengkalai, hingga akhirnya tiba di sampai ke sampai, meskipun tak akan pernah selesai…. Di Pelopor Yogya ketika itu, suatu hari, puisiku tiba-tiba telah terpasang di ruang ‘Sabana’, suatu tempat tinggi yang di perasaanku waktu itu bagaikan di Arsy. Sesudah membeli sebiji koran itu rasanya ingin aku berlari ke setiap jakan dan gang-gang di kampung-kampung seluruh Jogjakarta untuk melaporkan puisiku.” Kegirangan seorang muda ingin mendapat tempat di sastra, setelah tekun belajar dan mendapat pengasuhan dari Umbu Landu Paranggi. Ia merasa sah sebagai pujangga.

Pulang ke Jombang, Emha Ainun Nadjib mengumumkan ke ibu mengenai puisi di Pelopor Yogya. Puisi tak setinggi pemaknaan bagi ibu dan keluarga. Emha Ainun Nadjib terkejut melakukan kesalahan dugaan dan pengukuran. Ia pun menceritakan pada kita: “Ibuku sama sekali tak terkejut. Bahkan tak sedikit pun ada perubahan di roman mukanya. Meskipun pancaran kasih sayangnya tak pernah berhenti mengalir, tapi aku tahu betul ‘Sabana’ itu tak berarti sama sekali bagi alam hidup pribadi ibuku. Segera sesudah itu aku pun makin melihat juga bahwa semua sahabatku di desa, orang-orang tua, seluruh anggota keluargaku, tidak bergeming oleh pameran itu. Mereka asing.” Emha Ainun Nadjib mulai berhitung ulang: diri, puisi, keluarga, agama, Indonesia, dan lain-lain. Puluhan tahun lalu, ia telanjur menjadi pujangga. Kini, kita tetap mengakui ia adalah pujangga, memberi puisi-puisi di arus penginsafan dan kesadaran mengarah ke religiusitas dan kemanusiaan. Begitu. (*)     

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending