© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.

Ellena Ekarahendy

Kamu tak pernah ingat benar apa yang membuatmu memastikan jari-jarimu tekun mencatat. Kamu hanya meyakini bahwa kamu mencatat untuk mengingat, sebab kamu tahu bahwa ingatanmu singkat. Seringkali pikiranmu juga gemar mengelabui: apakah benar ingatan yang kamu ingat itu atau hanya lamunan yang kamu kira pernah benar-benar kejadian. Kamu punya keyakinan itu: jari-jarimu tak mungkin mengelabuimu, catatanmu tak bisa membohongimu.

Bisa jadi Pramoedya yang membuatmu percaya betapa heroisnya mencatat itu. Kau tak ingin hilang bersama angin. Kau ingin bekerja buat keabadian. Tapi, ingatanmu tentang mencatat tetap hanya bisa terantuk pada masa-masamu di sekolah dasar hingga menengah. Tak ada yang herois dari situ.

Kamu tak pernah paham mengapa guru-guru senang menyuruhmu menuliskan catatan mereka di papan tulis untuk disalin ulang kawan-kawan sekelasmu. Mungkin mereka suka caramu menulis. Mungkin mereka suka caramu mencatat ulang catatan mereka atau bahkan tiap detil ucapan mereka (yang berulang kali kau bubuhi komentar-komentar bangkangan yang menyenangkan hasrat masa pubermu yang konyol).

Kamu ingat euforia dalam dadamu itu. Kamu merawat debaran itu setiap kali kamu mencatat hingga usiamu seperempat abad ini. Kegirangan mikro yang muncul hanya dengan mencatat tentang perempuan dengan segala amarahnya, tentang keluargamu yang beragama tanpa bertanya, tentang orang-orang asing yang kamu amati di bus kota dan gerbong kereta, tentang bocah-bocah kecil yang tidur di kolong jembatan, tentang para pengajarmu yang menyelingkuhi ilmu, tentang murid-muridmu yang menjajakan tubuhnya di warung remang-remang, tentang pejabat negara yang takabur, tentang sinema yang menyisakan nelangsa sementara harga bahan bakar terus melonjak, atau tentang dwimatra yang tak kau pahami di sudut ruang galeri sementara di jalanan para terpelajar meneriakkan demonstrasi. Kau mencatat apa saja, sebab kata-kata seperti tumpah dalam kepalamu sendiri. Kanak gerimis aksara dalam kepalamu telah menjelma dewasa dan meraung seperti topan. Kamu pernah bilang: di kepalamu ada pesta kembang api dan kamu tak mau luruh sendiri.

Kamu ingat tumpukan-tumpukan buku harian yang kau kumpulkan sejak sekolah dasar dan hendak kau bakar saat tiba menstruasi pertamamu yang dimulai terlambat. Kamu bilang, kamu akhirnya sudah dewasa dan tak ingin mengingat masa kanak dan remajamu yang memalukan ketika kau baca ulang: tulisanmu sendiri tentang kawan sekelasmu (murid lelaki pemain sepakbola, tak banyak omong tapi menggemaskan), kawanmu yang hanya membicarakan jepit rambutnya yang dari Singapura (kamu belum pernah naik pesawat waktu itu, kamu iri setengah mati (setidaknya menurut catatanmu sendiri)), mobil jemputan yang sering terlambat datang (padahal kamu memang benci pelajaran hari itu), kemenangan-kemenangan kecil (kamu juara kelas lagi, tapi siapa yang peduli), atau tragedi-tragedi kecil seperti piring-piring dan segala beling yang terbang dari dapur ke ruang keluarga (kamu tak boleh membicarakan tentang orangtuamu pada siapapun, kecuali pada dirimu sendiri).

Bertahun-tahun kemudian kamu mengerti muasal catatan-catatanmu yang serba picisan itu: belasan novel Mira W. yang kamu lahap sewaktu SMP, sebab sastra yang kamu kenal di sekolah kala itu cuma ia dan Marga T. Orang tuamu tak banyak membaca, petugas perpustakaan sekolah tak pernah bertanya atau memberi saran. Setidaknya, guru bahasa Indonesiamu girang benar kala itu, sebab cerpen melankolis serta puisi cinta pertamamu dimuat di majalah remaja sewaktu kamu SMP kelas 2. Lantas kamu beranjak dewasa dengan tak lagi percaya pada takhayul dalam cerita romansa dan ingin menghapus catatan picisan itu. Kamu tak lagi mau menulis liris yang dibaca orang banyak.

Hingga kau menjumpai Soe Hok Gie di bioskop, lalu jatuh cinta pada kata-katanya. Buku hariannya menjaga jari-jarimu untuk mencatat setiap hari. Kamu pun mencatat apa saja: mengamati apa saja, mempertanyakan apa saja, dan menggerutui apa saja. Kamu haus kata: Mitch Albom, Dan Brown, Paulo Coelho, Neil Gaiman, menjumpai Harper Lee, Linda Christanty, Ayu Utami, Goenawan Mohamad, Pramoedya Ananta Toer, Nawal el-Saadawi, Seno Gumira, Afrizal Malna, hingga penulis-penulis yang tak kau pedulikan namanya karena sembarang kau temukan tulisannya di internet atau pasar buku bekas. Hingga usiamu dua puluh lima, yang tersisa di dalam kepalamu adalah kalibut. Kau tetap mencatat meski tak yakin benar jika ada orangg membacanya, boro-boro mengubah isi kepalanya. Dalam sebuah catatan kamu pernah bilang ingin mengubah dunia, tapi nyatanya kau bahkan menerus gagal bangun pagi.

Namun, setidaknya kau benar: dengan mencatat kau belajar. Kamu belajar mengenali dirimu sendiri, karena kadang kau pun mudah lelah dan suka hilang keseimbangan. Kamu sering lupa pada apa yang penting untuk menjadi manusia, karena televisi dan layar ponselmu terus menerus bicara—lebih sering kata-kata tanpa makna. Apakah nalar yang sedang kamu dengarkan ataukah perasaan, atau mungkin bahkan bukan kedua-duanya.

Setidaknya, catatan-catatanmu memperkenalkanmu ulang dengan dirimu sendiri yang bahkan seringkali tak bisa kau pahami. Dengan mencatat, kau berjarak. Kau bisa bernapas dari isi kepalamu yang marak. Dengan mencatat, kau belajar beranjak.

Ya, mencatat. Kau tak suka bila seseorang berkata bahwa kau menulis. Sebab, bagimu seringkali ‘menulis’ bertukaran dengan ‘kerja’, sementara pikiranmu terlalu berantakan untuk mengembalikan luhung makna ‘kerja’ yang telah lama terenggut masa yang tamak. Hingga pada akhirnya, kau ingat sekarang. Kamu mencatat sebab kepalamu punya banyak kata, sementara kau tak punya cukup teman bicara. Kamu mencatat sebab kamu jika tidak, kamu tahu kepalamu yang kalibut pesta kembang api akan berakhir sama seperti kepala Plath: kata-kata menjadikannya lejar, hingga kepala itu menemui pijar dalam oven, lalu samar ia berhenti mencecar. Jangan, jangan berakhir seperti itu. Mencatatlah seperti kamu mencatat tentang mengapa kamu mencatat ini, sebab akalmu perlu tetap bugar; kamu harus tetap menjadi waras. Setidaknya aku ingin tetap menjadi waras, dengan membaca aku, membaca kamu, atau apapun kata ganti yang tepat untuk suara dan kata-kata yang tak pernah berhenti bicara di dalam kepalaku/mu itu. (*)

Ellena Ekarahendy

Share Post
Written by

Galeri Buku Jakarta (GBJ) merupakan portal berita literasi; “halaman kebudayaan” yang memuat dan menayangkan karya-karya tulis (literature) mau pun ragam karya seni lain dalam bentuk fotografi, video, mau pun lukisan dengan tujuan mendampingi proses pembangunan manusia Indonesia. Kirim karyamu ke email redaksi: galeribukujakarta@gmail.com Twitter @galeribuku_jkt

No comments

LEAVE A COMMENT