© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.

 

Oleh: Etgar Keret[1]

Cewek pertama yang kucium bibirnya bernama Vered, yang berarti bunga dalam bahasa Hebrew. Itu ciuman yang panjang. Kalau saja bisa semauku, pasti sudah kucium selamanya, atau paling tidak sampai kami tua dan kisut dan mati, tapi Vered duluan yang menyudahi. Kami sama-sama diam sebentar, kemudian kuucapkan terima kasih. Ia bilang, “Kau mengacaukannya.” Dan setelah diam sebentar lagi, ia berkata, “’Terima kasih’mu itu loh, paham, kan? Kita berciuman, aku bukan tante-tante yang memberimu hadiah liburan.” Dan kujawab, “Jangan marah, itu cuma terima kasih.” Dan ia bilang, “Diam.” Maka aku diam. Aku tidak mau membuatnya kesal, ia cewek pertama yang menciumku. Aku hanya ingin membuatnya senang, tapi tidak tahu caranya. Ia juga diam saja, melihatku sesaat, kemudian melepas ikat pinggangku dan mulai mengoral. Tiba-tiba saja, di apartemen orangtuanya. Mereka lagi keluar. Aku tetap mengunci mulutku. Aku tidak tahu mesti bagaimana jadi aku mencoba untuk tidak banyak bereaksi.

Setelah ia mengoralku, kami begituan di sofa ruang tamu. Aku keluar, kami istirahat sejenak lalu begituan lagi. Ia tidak klimaks-klimaks, bahkan sampai yang kedua. Katanya tidak masalah ia tidak keluar, yang penting ia suka. Kemudian ia bilang ia haus, dan kubawakan segelas air dari dapur buat kami berdua. “Baru pertama ya?” ia bertanya sambil mengelus wajahku. Aku mengangguk. “Sebetulnya lumayan juga,” ujarnya, “hanya ‘terima kasih’ itu yang.. untunglah kau nggak kuusir. Tapi sebagai pemula, kau boleh juga.”

“Kata ibuku, ‘terima kasih’ satu-satunya kalimat yang nggak pernah membuat orang terluka,” ujarku.

“Kalau begitu suruh ibumu yang isap,” Vered berkata dan tersenyum, dan terlintas di pikiranku: hari ini gila juga. Ciuman pertamaku. Oral seks pertamaku. Seks pertamaku. Semua terjadi di waktu yang sama dan rasanya agak ajaib. Umurku 19 waktu itu, masih jadi tentara, jelas terlambat untuk ciuman pertama, atau malah oral seks pertama. Tapi aku merasa beruntung. Karena meskipun telat, akhirnya kejadian juga, dengan seorang cewek baik yang punya nama bunga.

Vered mengaku sudah punya pacar. Ia tidak mengatakannya sebelum kami ciuman karena ciuman hanya masalah sepele, bahkan sekalipun ia punya pacar, dan ia juga tidak bilang waktu mengoralku sebab anuku lagi di dalam mulutnya. Saat akhirnya ia berterus terang, ia berharap aku tidak tersinggung, karena aku kelihatan sedikit terlalu sensitif. Kukatakan aku terkejut, tapi tidak tersinggung sama sekali. Justru sebaliknya, mengetahui ia sudah punya pacar tapi mau main denganku malah membikin aku tersanjung. Ia tertawa dan berkata, “Omonganmu lebay. Aku punya pacar, tapi orangnya brengsek, dan kau.. sejak pertama menciummu, aku tahu kau masih perawan, dan jujur saja, perawan itu menarik.”

Ia bercerita, waktu kecil, orangtuanya sering mengirimnya ke perkemahan selama liburan, dan di sana, sehabis makan malam, para pembimbing melempar sekantung besar keripik ke udara dan semua orang berebutan mengambil. “Kau harus mengerti,” katanya sambil mengelus rambut tipis di dadaku, “keripik itu cukup buat semuanya, kami tahu itu, tapi nggak ada yang mengalahkan sensasi jadi yang pertama membuka dan memakannya.”

“Jadi sekarang aku sudah terbuka,” aku berkata sedikit tercekat, “aku sudah nggak berharga lagi?”

“Jangan lebay,” tukas Vered, “tapi anggaplah, hargamu sudah turun.” Aku bertanya padanya kapan orangtuanya pulang, dan ia jawab, paling tidak satu setengah jam lagi. Aku bertanya, apakah ia setuju untuk begituan lagi denganku, dan ia menamparku. Tidak terlalu keras, tapi sakit juga, dan ia bilang, “Jangan pakai kata ‘setuju’, pakai saja ‘ingin’, bodoh.” Selepas jeda sesaat, ia melanjutkan lagi, “Kau ini macam unta ya? Kau pikir begitu kau pulang dari sini, ada gurun pasir menantimu di luar, dan kau nggak tahu kapan menemukan air lagi.” Ia memegang burungku dan melanjutkan ucapannya, “Jangan khawatir. Nggak ada gurun apa pun. Di dunia ini semua orang bercinta dan bercinta terus. Semua. Bahkan kau.”

Setelah kami begituan lagi, ia mengantarku sampai pintu, lalu setelah membukanya, ia berkata, “Kalau kita nggak sengaja ketemu di penjual falafel[2] atau di bioskop atau di mal waktu aku bersama pacarku, jangan pura-pura nggak kenal, oke?” Kutanya, apa kita bisa ketemu lagi, dan ia membelai wajahku dan memintaku untuk tidak kecewa, ia tidak bisa karena ada Asi dan masalah lain. Dari sana aku tahu nama pacarnya Asi.

Aku tidak bermaksud menangis, tapi aku menangis, dan ia bilang, “Kau, kau pasti dari dunia lain. Aku belum pernah bertemu orang seanehmu.” Kukatakan, ini air mata bahagia, tapi ia tidak percaya. “Tidak ada gurun di luar sana,” katanya. “Lihat saja, kau akan dapat pengalaman bercinta yang hebat.”

Aku tak pernah melihatnya lagi. Tidak di bioskop. Tidak di penjual falafel. Tidak di mal. Tapi kalau ia baca tulisan ini, aku ingin berterima kasih padanya lagi. (*)

*Etgar Keret adalah penulis cerita pendek asal Israel yang dipuji sebagai jenius, serta dianggap salah satu sastrawan kontemporer terbaik saat ini. Buku-bukunya yang sudah terbit dan diterjemahkan ke berbagai bahasa, antara lain Bus Driver Who Wanted to Be God & Other Stories, The Nimrod Flipout, Missing Kissinger, The Girl On The Fridge, Suddenly, a Knock on the Door, serta memoir Seven Good Years: A Memoir

**Tentang penerjemah: Rizaldy Yusuf lahir di Tangerang 21 Oktober 1991. Menyukai sastra, seni rupa, serta isu komunikasi, media, dan budaya. Sehari-hari bekerja sebagai wartawan di sebuah majalah seni di Jakarta.

[1] Diterjemahkan oleh Rizaldy Yusuf dari versi bahasa Inggris

[2] Makanan khas timur tengah yang terbuat dari gilingan kacang-kacangan yang dibentuk bola. Sering juga dianggap makanan khas Israel

Share Post
Written by

Galeri Buku Jakarta (GBJ) merupakan portal berita literasi; “halaman kebudayaan” yang memuat dan menayangkan karya-karya tulis (literature) mau pun ragam karya seni lain dalam bentuk fotografi, video, mau pun lukisan dengan tujuan mendampingi proses pembangunan manusia Indonesia. Kirim karyamu ke email redaksi: galeribukujakarta@gmail.com Twitter @galeribuku_jkt

No comments

LEAVE A COMMENT