Connect with us

Milenia

Keindonesiaan di Semangkuk Mi Instan

mm

Published

on

Warung-warung bertabur mi instan dengan olahan konvensional atau futuristik, mengukuhkan keniscayaan hidup masih lempeng sejahtera di atas sepiring mi instan. Goreng, berkuah, atau nyemek adalah pilihan menyatukan warga Indonesia sebagai pengudap mi instan di setiap peristiwa selalu berbau keakraban, kehangatan, semangat, atau penebus lelah. Namun, mi instan juga bisa berarti kejelataan atau kemiskinan. Sebentuk narasi dari hidup yang irit dari kebisaan menyantap sajian kemapanan.

Media Indonesia (26 November 2017) menampilkan salah satu kafe yang diberi nama Warunk Upnormal di Mangga Besar, Jakarta Barat, sebagai penyuguh 35 olahan menu mi instan lewat proses riset sebelumnya. Di sini, mi instan sanggup bersanding dengan roti, pisang bakar, jus, es krim, atau kopi. Olahan mi instan juga mengajak aneka menu lokal seperti tongkol balado, sambal matah, seblak, dan jengkol sebagai kolaborator utama. Kolaborasi menghasilkan cita rasa lokal nan nasionalis dan sanggup berkompetisi secara global. Wah!

Seturut dengan penamaan yang memilih “warunk” daripada “warung” tentu menyampaikan pesan kemudaan dan kegaulan. Mi tidak lagi cukup disajikan di warung tenda, kantin gubug, hik, atau warung sayur. Meski namanya “warunk” dengan pelafalan tetap “warung”, visualitas harus berwujud kafe atau restoran alternatif kekinian dengan sentuhan jiwa muda, mulai dari pilihan perangkat duduk, alat makan, interior bangunan, warna, atau penataan. Ruang dan benda meningkatkan strata sosial mi instan dari makanan di kala kepepet atau makanan “sumbangan” menjadi sajian berkelas bagi segala kelas sosial pengudap makanan. Ibarat pemakan mi instan biasanya anak kuliahan atau kos yang kehabisan uang saku dan beras, kini pengudap mi beralih ke anak gaul yang sengaja mau menyantap dengan mengabaikan petuah agung gizi dan kesehatan.

Kalau kita mendapati iklan-iklan di televisi atau media cetak, mi instan nyaris selalu berhasil membawa pesan keindonesiaan atau kenusantaraan. Mi instan mengadopsi nilai lokal kekayaan rasa makanan. Apa pun agama dan suku, makannya tetap mi instan! Narasi keindonesiaan dibangun senada dengan lagu promosi yang memukau, tidak militeristik, dan lembut. Selain berwawasan nusantara, iklan lain tampil menyampaikan gairah optimisme menjalani hidup atau kenikmatan berjeda dari bingar kesibukan. Ingat saja iklan mi instan bertokoh Nicholas Saputra yang menyantap semangkuk mi instan kuah di suatu tempat berhawa dingin sembari mata menerawang ke (mungkin) tanah air Indonesia. Gerrr!

Melawan

Di novel Laut Bercerita (2017) garapan Leila S. Chudori, mi instan dijuluki makanan penuh dosa dan para pengudapnya mahasiswa-mahasiswa aktivis 1998. Mi instan tidak hanya ada sebagai penandas rasa lapar atau kere. Mi instanlah yang mengantarkan para kaum muda anti Orde Baru berani mengudap kematian. Hari-hari bergairah oleh diskusi politik, aksi-aksi pendampingan masyarakat, kebersamaan-persahabatan, gelora asmara, harapan kebebasan bagi Indonesia, dan bahkan teror tangan-tangan penguasa, menyajikan mi instan selalu sebagai penghangat dan pengakrab.

Kita cerap potongan cerita yang membuat hidung pembaca mekar dari jarak beberapa meter sekalipun. Tokoh Laut memang memilih abai pada bumbu kemasan demi mencipta rasa yang mahasadis, “ Tentu saja menolak makanan penuh dosa ini. Mas Laut mengeluarkan ulekan ibu dari lemari bawah, menggerus dua buah cabe besar, satu cabe keriting, lima cabe rawit, dua suing bawang putih, dan tiga suing bawang merah, sedikit terasi bakar, garam, dan dua tetas minyak jelantah. Dengan semangat dia menguleknya di bawah tatapan Alex dan aku yang penuh liur karena sambal itu adalah kunci segalanya. Mi instan sudah masak. Kami segera saja menikmati kuah mi kuah dengan kaldu ayam buatan Mas Laut yang kemudian dicampur kornet dan dikupyur dengan bawang goreng dan sambal rawit…oh segera saja membakar lidah.”

Kaum muda pelengser Orde Baru yang akhirnya dihilangkan nyawa dan jasad tentu tidak sempat menyaksikan bahwa sekitar 9 tahun kemudian, mi instan kecintaan mereka merayakan hari jadi ke-45. Kompas (23 Oktober 2017) menampilkan wawancara dengan direktur salah satu mi instan beken di Indonesia yang pertama lahir di Ancol pada 1972 dengan rasa kaldu ayam.

Telah 45 tahun sang mi instan menyelami cita rasa makanan nusantara, menemani segala lapisan manusia berperistiwa. Perusahaan terus berinovasi meluncurkan produk baru nan nasionalis dan berhasil mewabahkan doyan mi ke luar negeri. Memang kedigdayaan mi instan berhasil mengadopsi keragaman makanan Indonesia dalam satu rupa. Hanya dengan membeli mi instan dan mengolahnya secara sederhana atau tanpa perlu daging asli, kita sanggup mengudap kari ayam, rendang, soto, bakso, sate, pecel, lombok ijo, gulai, atau tengkleng. Lidah mengelana dari daerah ke daerah di nusantara.

Dari sepiring mi instan, kita diperkenankan menyeruput Indonesia yang hangat, akrab, dan kekeluargaan. Sulur-sulur mi instan berbumbu mantap menalikan rasa persatuan dan cinta tanah air lintas geografi, suku, dan bangsa tanpa perlu mengangkat senjata, baris-berbaris, atau segala bentuk invasi bergaya militeristik. Sungguh, mi instan telah berhasil membawa pesan keindonesiaan dan keragaman, perannya bisa menyaingi para aktivis kekinian pembawa pesan perdamaian para tokoh kebangsaan atau lembaga-lembaga kajian yang menggaungkan pesan multikulturalisme. (*)

*) Setyaningsih: Penghayat pustaka anak. Penulis buku Bermula Buku, Berakhir Telepon (2016)

Continue Reading

Milenia

Mary Wollstonecraft: Pikiran Tidak Memliki Jenis Kelamin

mm

Published

on

Let women share the rights and she will emulate the virtues of man—dalam sebagian besar sejarah yang tercatat, perempuan dilihat sebagai bawahan laki-laki.

Tetapi pada abad ke-18, keadilan atas stigma ini mulai ditantang secara terbuka. Di antara suara-suara yang paling menonjol dalam membongkar paradigma tentang ketertindasan perempuan adalah Mary Wollstonecraft (17591797)—seorang perempuan radikal, penulis dan filsuf berkebangsaan Inggris.

Banyak pemikir sebelumnya telah menyebutkan perbedaan fisik antara kedua jenis kelamin untuk membenarkan ketidaksetaraan sosial antara perempuan dan laki-laki. Namun, dalam masa pencerahan, yaitu selama abad ke-17, beberapa pemikir telah merumuskan pandangan dan gagasan yang mencoba mendobrak diskriminasi kepada perempuan.

Contohnya Filsuf besar John Locke yang menyatakan bahwa pengetahuan diperoleh melalui pengalaman dan pendidikan, validitas pemikiran memang dipertanyakan tapi tidak gender dari si pemikir. Artinya, sebuah gagasan atau hasil dari pemikiran dan perenungan tidak memiliki gender, bisa saja datang dari laki-laki ataupun perempuan.

Pendidikan Setara

Wollstonecraft berpendapat bahwa jika laki-laki dan perempuan diberikan pendidikan yang sama, baik laki-laki dan perempuan akan mendapatkan karakter yang sama dan pendekatan rasional yang sama terhadap kehidupan, karena pada dasarnya mereka memiliki otak dan pikiran yang sama secara mendasar.

Buku karya Wollstonecraft berjudul A Vindication of the Rights of Woman diterbitkan pada tahun 1792, isi dari karya Wollstonecraft merupakan tanggapan terhadap karya Jean-Jacques Rousseaus’s berjudul Emile (1762), yang merekomendasikan bahwa anak perempuan dididik secara berbeda dari pendidikan yang diberikan kepada anak laki-laki, dan pada akhirnya mereka akan belajar tentang rasa hormat.

Tuntutan Wollstonecraft bahwa perempuan harus diperlakukan sebagai warga negara yang setara—dengan hak hukum, sosial, dan politik—masih ditanggapi dengan penuh ejekan hingga akhir abad ke-18. Tapi hal itu akhirnya menabur benih-benih hak pilih dan gerakan feminis yang akan berkembang di abad ke-19 dan ke-20.

Wollstonecraft terus mengajak perempuan untuk menyuarakan hak politik mereka, salah satunya adalah hak untuk memilih anggota dewan yang sebelumnya suara perempuan tidak pernah dihitung. Gagasan Wollstonecraft tentang keadilan bagi perempuan telah menabur benih-benih hak politik bagi perempuan, salah satunya adalah hak untuk memilih anggota dewan.

Nama Wollstonecraft mungkin tidak seterkenal Simone de Beauvoir, namun Wollstonecraft secara tegas dan telah menginspirasi sedari mulanya, menyatakan jika gagasan dan sebuah pemikiran tidak memiliki gender. Gagasan yang baik bisa lahir dari seorang perempuan ataupun laki-laki, dan perempuan sejatinya diberikan hak yang sama dengan laki-laki baik dalam politik dan pendidikan, hingga pada akhirnya kebaikan untuk semua manusia lahir; tanpa harus menegasikan yang lain. (*)

*) diterjemahkan Susan Gui (ed; Sabiq Carebesth), dari Mary Wollstonecraft  and A Vindication of the Rights of Woman” (The Philosohy Book; DK London, 2011).

Continue Reading

Milenia

9 Pesan Mas Pram Tentang Bangsa dan Humanisme dalam Novel “Bumi Manusia”

mm

Published

on

Membaca roman “Bumi Manusia” karya Pramoedya Ananta Toer, kita akan mendapati putaran waktu pada saat-saat mula sebuah bangsa dibibit, mula-mula bersemainya pergerakan nasional.

Roman pertama dari tetralogi Pulau Buru ini mengambil latar belakang dan cikalbakal nation Indonesia di awal abad ke- 20.

Dalam roman “Bumi Manusia”, Pram, salah satu sastrawan paling besar dan agung yang dimiliki Indonesia, tidak hanya melahirkan tokoh-tokoh, tapi juga suatu kesadaran, karakter, yang ditegaskan lewat para tokoh utama romannya seperti Minke. Istimewanya, penyemaian bibit kebangsaan itu lahir dari para tokoh perempuan dalam novelnya, sebutlah Nyai Ontosoroh dan Annelies.

Para srikandi ditempatkan oleh Pram sebagai penyemai dan pengawal utama bangunan nasional yang kelak akan melahirkan Indonesia modern. Perempuan Indonesia modern saat ini, terlebih generasi milenial, sudah sepantasnya barang sekali dalam hidupnya membaca roman yang diselesaikan Pram pada tahun 1975 ini.

Berikut adalah 9 kutipan dari roman “Bumi Manusia” tentang kesadaran akan bangsa, kemerdekaan dan hargadiri sebagai anak suatu bangsa:

  1. Kodrat umat manusia kini dan kemudian ditentukan oleh penguasaanya atas ilmu dan pengetahuan. Semua, pribadi dan bangsa-bangsa akan tumbang tanpa itu. Melawan pada yang berilmu dan pengetahuan adalah menyerahkan diri pada maut dan kehinaan.
  2. Seorang harus punya perasaan hargadiri baik sebaga pribadi mau pun anak bangsa. Jangan seperti kebanyakan umumnya, merasa sebagai bangsa tiada tara di dunia  ini bila berada di antara mereka sendiri. Begitu di dekat seorang Eropa, seorang saja, sudah melata, bahkan mengangkat pandang pun tak ada keberanian lagi.
  3. Pekerjaan Pendidikan dan pengajaran tak lain dari usaha kemanusiaan. Kalau seorang murid di luar sekolah telah menjadi pribadi berkemanusiaan, kemanusiaan sebagai faham, sebagai sikap, semestinya kita berterimakasih dan bersyukur sekali pun saham kiita terlalu amat kecil dalam pembentukan itu. Pribadi luar biasa memang dilahirkan oleh keadaan dan syarat-sayarat luar biasa.

    Sampul muka roman “Bumi Manusia” edisi penerbit: Hasta Mitra.

  4. Kita adalah suatu bangsa—tak akan membiarkan yang asing melihat kita tanpa perasaan manusia—tak membiarkan mereka melihat kita sebagai inventaris.
  5. Aku tak pernah bersekolah, Nak, Nyo, tak pernah diajar mengagumi Eropa. Biar kau belajar sampai puluhan tahun, apa pun yang kau pelajari, jiwanya sama: mengagumi mereka tanpa habis-habisnya, tanpa batas, sampai-sampai orang tak tahu lagi dirinya sendiri siapa, dan di mana. Biar begitu memang masih lebih beruntung yang bersekolah. Setidak-tidaknya dapat mengenal cara bangsa lain merampas milik bangsa lain.
  6. Kau sudah harus adil sejak dalam pikiran! Jangankan tukang bawa parang dan pendekar, batu-batu bisu pun bisa membantu—kalau kau menenal mereka. Jangan sepelekan kemampuan satu orang, apalagi dua!
  7. Tahu kau apa yang dibutuhkan bangsamu? Seorang pemimpin yang mampu mengangkat derajat bangsamu kembali. Seorang pemula dan pembaru sekaligus.
  8. Mana bisa Multatuli diajarkan di sekolah? Yang benar saja. Dalam buku pelajaran tak pernah disebut!
  9. Sekali dalam hidup orang mesti menentukan sikap. Kalau tidak dia takkan jadi apa-apa.
Continue Reading

Milenia

Ini bagian paling memilukan “Bumi Manusia”

mm

Published

on

“Mama,” sela Annelies, “ingatkah Mama pada cerita Mama dulu..?”

“Ya, Ann, cerita apa maksudmu?” balas Nyai Ontosoroh.

“Mama meninggalkan rumah untuk selama-lamanya.. ?”

Ya, Ann, mengapa?”

“Mama bawa kopor tua coklat dari seng?”

“Ya, Ann.”

“Di mana kopor itu sekarang, Ma?”

“Tersimpan dalam kamar sepen, Ann.”

“Aku ingn melihatnya.”

Mama pergi untuk mengambilnya.

“Waktunya sudah semakin dekat, Juffrouw,” Perempuan Eropa itu menyela.

Baik Annelies mau pun aku tak menanggapi. Dan Mama datang membawa kopor seng kecil, coklat,  berkarat, peot, cekung dan cembung di sana-sini. Anelies segera menyambutnya.

“Dengan kopor ini aku akan pergi, Mama, Mamaku.”

“Terlampau kecil dan buruk, tidak pantas, Ann.”

“Mama, dengan kopor ini dulu mama pergi dan bertekad takkan kembali lagi, kopor ini terlalu memberati kenangan Mama. Biar aku bawa, Mama, beserta kenangan berat di dalamnya. Aku takkan bawa apa-apa kecuali batikan Bunda, pakaian pengantinku, Ma. Masukkan sini, sembah-sungkemku pada B… Aku akan pergi, Ma, jangan kenangkan yang dulu-dulu. Yang sudah lewat biarlah berlalu, Mamaku, Mamaku sayang.”

“Kereta sudah lama menunggu di luar, Juffrouw,” pendatang Eropa itu menengahi lagi.

“Apa maksudmu, Ann?”

“Seperti mama dulu, Ma, juga aku takkan balik lagi ke rumah ini.’

“Ann, Annelies, anakku sayang,” seru Mama dan dipeluknya istriku.” “Bukan Mama kurang berusaha, Ann, bukan aku kurang membela kau, Nak…”

Mama tenggelam dalam sedu-sedan penyesalan. Juga Aku.

“Kami berdua sudah lakukan semua, Ann,” tambahku.

“Jangan, jangan menangis. Ma, Mas, aku masih ada permintaan, Ma, jangan menangis.”

“Katakan, Ann, katakana,” Mama mulai menggerung.

“Ma, beri aku seorang adik, adik perempuan, yang akan selalu manis padamu…”

Mama semakin menggerung.

“… begitu manis. Ma, tidak menyusahkan seperti anakmu ini…, sampai…”

“Sampai apa, Ann?”

“… sampai Mama takkan lagi merasa tanpa Annelies ini.”

“Ann, Ann, anakku, betapa tega kau bicara begitu. Ampuni kami tak mampu membela kau, ampuni, ampuni, ampuni.”

“Mas, kan kita pernah bahagia bersama?”

“Tentu, Ann.”

“Kenangkan kebahagian itu saja, ya Mas, jangan yang lain.”

“Ayoh!” seru seorang lelaki Indo dari pintu. “Sudah dua menit terlembat berangkat.”

“Mari, sayang, Juffrouw,” perempuan Eropa itu menuntun Annelies.

Sekaligus Annelies tenggelam dalam  pembisuan dan ketidakpedulian. Kehormatannya yang sebentar tiba-tiba lenyap. Ia berjalan lambat-lambat meninggalkan kamar, menuruni tangga dalam tuntunan perempuan Eropa itu. Badannya nampak sangat rapuh dan terlalu lemah.

Aku dan Mama lari memapahnya menggantikan perempuan itu. Tetapi lelaki indo dan perempuan Eropa itu menolak kami.

Di bawah tangga telah berkerumun Maresose.

Dan kami dihalau tak boleh mendekat! Maka kami hanya dapat melihat mahluk tersayang itu dituntun seperti seekor sapi, dan berjalan lambat-lambat, anak tangga demi anaktangga.

Mungkin begini juga perasaan ibu Mama diperlakukan oleh Mama dulu karena tak mampu membelanya dari kekuasaan Tuan Mallema. Tapi bagaimana perasaan Annelies? Benarkah dia telah melepaskan segalanya, juga perasaanya sendiri?

Aku sudah tak tahu sesuatu. Tiba-tiba kudengar suara tangisku sendiri, Bunda, putramu kalah. Putramu tersayang tidak lari, Bunda, bukan kriminal, biar pun tak mampu membela istri sendiri, menantumu. Sebegini lemah Pribumi di hadapan Eropa? Eropa! Kau, guruku, begini macam perbuatanmu? Sampai-sampai istriku yang takt ahu banyak tentangmu kini kehilangan kepercayaan pada dunianya yang kecil—dunia tanpa keamanan dan jaminan bagi dirinya seorang. Hanya seorang.

Aku panggil-panggil dia. Annelies tidak menjawab. Menoleh pun tidak.

“Aku akan segera menyusul, Ann,” pekikku.

Tanpa jawab tanpa toleh.

“Juga aku Ann, besarkan hatimu!” seru Mama, suaranya parau, hampir-hampir tak keluar dari kerongkongan.

Juga tanpa jawab tanpa toleh.

Pintu depan dipersada sana dibuka. Sebuah kereta gubermen telah menunggu dalam apitan Maresose berkuda. Mama dan aku tak diperkenankan melewati pintu itu.

Sekilas masih dapat kami lilhat Annelies dibantu menaiki kereta. Ia tetap tak menengok, tak bersuara.

Pintu ditutup dari luar.

Sayup-sayup terdengar roda kereta menggiling kerikil, makin lama makin jauh, akhirnya tak terdengar lagi. Annelies dalam pelayaran ke negeri di mana Sri Ratu Wilhelmina bertahta. Kami menunundukkan kepala di belakang pintu.

“Kita kalah, Ma,” bisikku.

“Kita telah melawan, Nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.”

______________

“Bumi Manusia”: Buru, 1975. | Pramoedya Ananta Toer

Continue Reading

Classic Prose

Trending