© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Kecemasan dan Realitas (diri) Kita, Suatu Pengantar Analisis Psikoanalisa

Oleh Sabiq Carebesth*

Suatu kali, Freud berujar “life is not easy”, “hidup ini tidak mudah”. Ego—“keakuan”—berdiri di tengah-tengah kekuatan-kekuatan dahsyat: realitas; masyarakat, sebagaimana yang direpresentasikan oleh super ego; biologi sebagaimana yang direpresentasikan oleh id. Ketika terjadi konflik di antara kekuuatan-kekuatan ini untuk menguasa ego, maka sangat bisa dipahami kalau ego merasa terjepit dan terancam, serta merasa seolah-olah akan lenyap digilas kekuatan-kekuatan tersebut.  Perasaan terjepit dan terancam ini disebut kecemasan (anxiety). Perasaan ini berfungsi sebagai tanda bagi ego bahwa ketika dia bertahan sambil tetap mempertimbangkan kelangsungan hidup organisme, dia sebenarnya sedang dalam bahaya.

Kecemasan merupakan variabel penting dari hampir semua teori kepribadian. Pada umumnya kecemasan dapat didefininisikan suatu keadaan perasaan keprihatinan, rasa gelisah, ketidak tentuan, atau takut dari kenyataan. Kecemasan berfungsi sebagai tanda adanya bahaya yang akan terjadi, suatu ancaman terhadap ego yang harus dihindari atau dilawan. Dalam hal ini ego harus mengurangi konflik antara kemauan Id dan Superego.

Apabila kecemasan timbul, maka akan mendorong orang untuk melakukan sesuatu atau tindakan supaya tegangan dapat direduksikan atau dihilangkan. Untuk menghadapi kecemasan yang berlebihan, sistem ego terpaksa mengambil tindakan ekstrim untuk menghilangkan tekanan itu. Tindakan tekanan itu, disebut mekanisme pertahanan, sebab tujuannya adalah untuk mempertahankan ego terhadap kecemasan. Kecemasan Neurotik (kesemasan, red) paling lazim menjadi focus pembahasan psikoanalisa, secara lebih mendalam Menurut Freud, (dalam Suryabrata, 2002:139), adalah kecemasan kalau insting-insting tidak dapat dikendalikan dan menyebabkan orang berbuat sesuatu yang dapat dihukum. Kecemasan neurotis ini merupakan suatu gangguan keseimbangan fungsi mental oleh sebab-sebab khusus dari dinamika gangguan kehidupan emosi dan perasaan. Gangguan perasaan semacam ini umumnya diderita oleh penderita neurotis dan tidak berkaitan dengan orang lain. Dengan kata lain, kecemasan neurotis bukanlah ketakutan terhadap insting-insting itu sendiri, melainkan ketakutan terhadap hukuman yang mungkin terjadi jika insting tersebut dipuaskan (Hall dan Lindzey 1993:81).

Kecemasan neurotis ini dengan kuat muncul karena khawatir tidak mampu mengatasi atau menekan keinginan-keinginan primitifnya, ketakutan terhadap tidak terkendalinya naluri-naluri yang menyebabkan seseorang melakukan suatu tindakan yang bisa mendatangkan hukuman.

Ancaman akan kehilangan sesuatu yang berkaitan dengan status sosial, benar-benar sulit mendapatkan toleransi dari penderita neurotis, terutama bagi orang yang sangat ambisius, dinamis dan energik yang secara berlanjut didominasi target materi yang harus diraih. Biasanya orang ini sejak beberapa waktu sebelumnya telah diliputi rasa tak aman karena menempatkan ambisi berlebihan yang justru membuatnya oleng dalam menghadapi kegagalan yang dihadapinya. Dalam kondisi kecemasan yang menekan itu lah ego memunculkan apa yang disebut mekanisme pertahanan. Beberapa diantara mekanisme pertahanan ini dalam tradisi Freudian bisa disebutkan di sini di antaranya adalah: Penolakan, Represi, Asketisme, Isolasi, Penggantian, Penghapusan, Melawan diri sendiri, introjeksi, identifikasi dengan menyerang, regresi, sublimasi, dan rasionalisasi.

Kesadaran Dan Ketidaksadaran: Sebuah Pendekatan Historis Tentang Kepribadian Dan Neurosis Dalam Komunitas Patologis

Apakah teori psikoanalisa Sigmund Freud mencukupi untuk membaca dan menemukan hipotesa analisa tentang struktur kepribadian tokoh dalam sebuah novel, mislanya? Tulisan ini sekali lagi hanya merupakan pengantar.

Freud senidri membagi kepribadian kedalam tiga macam, id, ego, dan super ego. Id merepresentasikan seluruh keinginan instingtual, dank arena sebagian besar keinginan tersebut tidak di izinkan sampai pada tingkat kesadaran, maka keinginan-keinginan ini disebut sebagai keinginan”tidak sadar.” Ego, yang merepresentasikan kepribadian manusia yang telah terorganisasi sejauh mampu mengamati realitas dan melaksanakan fungsi apresiasi realistic, setidaknya menyangkut masalah kelangsungan hidup, bisa dikatakan merepresentasikan “kesadaran.”

Super Ego, internalisasi perintah dan larangan dari masyarakat, bisa termasuk sadar dan tidak sadar, sehingga tidak bisa di identifikasikan dengan kesadaran atau ketidaksadaran. Dari sini lah Freud mengatakan terapi psikoanalisanya adalah membuat alam bawah sadar dapat disadari. Sementara alam sadar (conscious mind) adalah apa yang kita sadari pada saat-saat tertentu, penginderaan langsung, fantasi, perasaan yang kita miliki, alam bawah sadar (unconscieus mind) adalah mencakup segala sesuatu yang sangat sulit di bawa ke alam sadar termasuk segala sesuatu yang memang asalnya alam bawah sadar, seperti nafsu dan insting kita serta segala sesuatu yang masuk ke dalamnya karena kita tidak bisa menjangkaunya, seperti kenangan atau emosi-emosi yang terkait dengan trauma. Freud sendiri menyebut alam sadar sebagai bagian terkecil dari pikiran. Sementara bagian terbesar dari pikiran adalah alam bawah sadar (unconscieus mind).

Konsep alam bawah sadar terlihat sangat rumit, dan memang pada bagian inlah yang paling sering membuat Freud mendapat kritik. Namun dari temuan Freud ini pula pembicaran “tidak sadar individual” dan “tidak sadar kolektif” bermula. Sementara Freud berkata bahwa tujuan terapinya adalah memebuat alam bawah sadar dapat disadari, namun demikian dia membuat alam bawah sadar menjadi tidak jelas: alam bawah sadar adalah kamar gelap tempat hasrat terkurung dan meronta-ronta; lubang tanpa dasar tempat keinginan sumbang (incestuous) terkekang; gua bawah tanah tempat persembunyian pengalaman-pengalaman mengerikan yang setiap saat menghantui kita.

Dengan demikian,“tidak sadar individu” yang dikatakan Freud mengacu pada isi elemen yang ditekan atau ditahan oleh individu karena alasan-alasan kondisi yang dihadapi oleh individu yang bersangkutan serta yang bersifat khusus bagi situasi kehidupan pribadi.

Keterbatasan Freud atau tepatnya anggapan Freud sendiri yang terlalu rumit dengan konsep alam bawah sadar individual harus di akui menjadi keterbatasan sendiri bagi teori Freud, kenyataan bahwa sebagian besar Freud membahas tentang tidak sadar Individu, dan hanya sedikit perhatian pada “tidak sadar sosial”.

Ruang kosong teoritis itulah yang kemudian menjadikan tidak mencukupi menilik suatu psikopatologi individual dan neurosis sosial tenpa berusaha mengaitkan pandangan Freud tetang “alam bawah sadar individual” dengan “alam bawah sadar kolektif” penerus Freud sendiri yaiatu Carl Juang; dalam suatu sisitem kesadaran sosial historis sebagaimana di bicarakan dalam teori Marxis struktur dalam materialisme dialektika historisnya.

***

Sementara itu, terkait “keadaan tidak sadar,” baik dalam Freudian mau pun Marxian meyakini bahwa sebagian besar dari apa yang dipikirkan manusia secara sadar ditentukan oleh kekuatan-kekuatan yang bergerak tanpa diketahuinya, atau dengan kata lain tanpa sepengetahuannya; bahwa manusia menjelaskan tindakan-tindakannya pada diri sendiri sebagai tindakan yang rasional atau tindakan moral, dan rasionalisasi-rasionalisasi tersebut (kesadaran palsu, idiologi) memberikan kepuasan pada dirinya secara subyektif.

Namun, karena didorong oleh kekuatan-kekuatan yang tidak diketahuinya, manusia berarti tidak bebas. Dan bisa mendapatkan kebebasan (dan kesehatan) hanya apa bila dia menyadari tentang kekuatan-kekuatan pendorong ini, atau realitas, sehingga selanjutnya dia bisa menjadi penguasa atas kehidupannya (dalam batasan realitas) dan bukan menjadi budak dari kekuatan-kekuatan buta.

Perbedaan dasar antara Marx Dan Freud terletak dalam konsep mereka tentang sifat dari kekuatan-kekuatan yang menentukan manusia. Bagi Freud, kekuatan-kekuatan ini pada dasarnya merupakan kekuatan fisiologis (libido) atau biologis (insting kematian dan kehidupan).

Bagi Marx, kekuatan-kekuatan ini merupakan kekuatan historis yang melewati sebuah evolusi dalam proses perkembangan sosio-ekonomi manusia. Bagi Marx, kesadaran manusia ditentukan oleh keberadaannya, keberadaanya ditentukan oleh kehidupannya, kehidupan ditentukan oleh bentuk produksi dan struktur sosial, bentuk distribusi dan konsumsi yang dihasilkannya. [catatan kaki: Karl Manheim adalah orang pertama yang mengatakan bahwa doktrin sosialis memiliki”senjata intelektual baru” dengan kemampuan untuk “membuka topeng tidak sadar” (penentangnya). Dia juga melihat bahwa “tidak sadar kolektif dan tindakan yang ditentukannya berperan untuk menutupi aspek-aspek tertentu dari realistas sosial (Karl Manheim, Idiology and Utopia, a Harvest Book, Harcourt, Brace and Co. New York, hal. 33 ff) ]

Marx mengakui dorongan seksual sebagai salah satu dorongan yang ada dalam segala situasi dan bisa diubah oleh kondisi-kondisi sosial hanya sejauh menyangkut bentuk dan arahnya. Artinya bagi Marx, keberadaan manusia dan kesadarannya ditentukan oleh struktur masyarakat di mana dia menjadi bagian di dalamnya. Sementara bagi Freud, masyarakat hanya berpengaruh pada keberadaanya melalui represi,[penejelasn tentang represi bisa dilihat dalam buku personality Theory, Dr. C. George Boeree, Prisma Shopie, Yogyakarta, hal. 44] baik dalam tingkatan yang besar mau pun yang kecil, atas organ fisiologis dan biologis yang dimilikinya.

Perbedaan selanjutnya terdapat pada: Freud meyakini bahwa manusia bisa mengatasi represi tanpa adanya perubahan sosial. Di lain pihak, Marx adalah pemikir pertama yang secara umum menyatakan tentang determinasi kesadaran oleh kekuatan-kekuatan sosial. Marx melihat bahwa realisasi atas manusia yang universal dan sepenuhnya sadar hanya bisa terjadi bersamaan dengan perubahan sosial yang mengarahkan pada tatanan ekonomi dan sosial manusia yang baru dan benar-benar manusiawi.

Hal mana dalam psikoanalisa lebih berdekatan dengan konsep Karl Jung, bahwa Jung lebih memberikan penekanan pada karakter sosial dari neurosis dibandingkan dengan Freud. Dia mempercayai bahwa “neurosis dalam sebagian besar kasus tidak hanya merupakan pertimbangan pribadi, namun lebih merupakan fenomena sosial…” dia lebih jauh lagi mengatakan bahwa di bawah tidak sadar pribadi terdapat sebuah lapisan yang lebih dalam, yaitu “tidak sadar kolektif,” yang “tidak bersifat individual namun universal; berkebalikan dengan keadaan psikis pribadi, ia memiliki isi dan sifat perilaku yang kurang lebih sama di semua tempat dan dalam diri semua individu.

Dengan kata lain, ia adalah sama dalam semua manusia sehingga membentuk suatu elemen pengganti psikis umum dari sebuah sifat super personal yang terdapat dalam diri kita semua.”

Hal itu bagi Jung adalah masalah utama dari karakter universal dari substansi psikis yang terdapat dalam diri semua manusia. Perbedaan “tidak sadar kolektif” dari Jung dengan “tidak sadar sosial” yang dipergunakan di sini adalah sebagai berikut: “tidak sadar kolektif secara langsung menunjuk pada konsisi psikis universal, di mana sebagian besar di antaranya sama sekali tidak bisa mnejadi sadar. Konsep tentang tidak sadar sosial di awalai dengan pandangan tentang karakter represif masyarakat dengan mengacu pada bagian tertentu dari pengalaman manusia yang tidak diperbolehkan sampai pada tingkat sadar oleh masyarakat tertentu; bagian kemanusian dari manusia inilah yang diasingkan oleh masyarakat dari individu yang bersagkutan; “tidak sadar sosial” adalah bagian dari kondisi psikis universal yang di tekan.

 

Resistensi Dan Represi Sebagai Mekanisme Bertahan Dari Kecemasan Neurotis

Penolakan untuk mengakui eksistensi dari sesuatu yang di tekan atau ditahan, oleh Freud disebut sebagai “resistensi.” Kekuatan dari resistensi ini sama dengan kekuatan kecenderungan-kecenderungan represif.

Secara alamai meskipun semua jenis pengalaman bisa ditekan, namun dari kerangka teoritis Freudian bisa disimpulkan bahwa, dalam pandangannya, keinginan-keinginan yang paling banyak mendapat tekanan adalah keinginan-keinginan yang tidak sejalan dengan norma-norma manusia beradab, seperti keinginan seksual—dan mungkin juga revolusi.

Namun apa pun muatan khusus yang dari keinginan yang ditekan, dalam pandangan Freud, semuanya selelau merepresentasikan sisi gelap manusia, sifat anti sosial; sifat primitif manusia yang belum tersublimasi dan yang bertentangan dengan apa yang diyakini oleh manusia sebagai yang beradab. Namun harus di catat bahwa dalam pandangan Freud, represi memiliki arti bahwa “kesadaran” akan dorongan-dorongan tertentu ditekan, tapi bukan dorongan itu sendiri.

Dalam kasus ini, dorongan-dorongan masih tetap ada, namun represi atau penekanan atas kesadarannya akan mengarahkan pada penekanan yang berkaitan dengan pelaksanaan dorongan tersebut. Dalam banyak kasus, represi berarti suatu distorsi atas kesadaran manusia, dan tidak berarti pengahapusan atas dorongan-dorongan yang terlarang dalam diri manusia. Atau dengan kata lain, hal ini berarti bahwa kekuatan-kekuatan tidak sadar disembunyikan dan menentukan tindakan manusia secara tidak sadar.

Pertanyaanya kemudian, ‘mekanisme psikologis’ yang seperti apa yang memungkinkan dilakukannya tindakan represi tersebut? Menurut Freud, mekanisme ini adalah ‘rasa takut’. Rasa takut inilah yang kemduian mendorong kesadaran untuk menyalurkan keinginannya menuju arah lain.

Dalam kaitannya dengan kemungkinan menjadikan yang tidak sadar menjadi sadar, hal yang paling penting adalah mengenali faktor-faktor yang menghambat proses ini. Factor tersebut di antaranya adalah kekuatan mental, kurangnya orientasi yang tepat, perasaan tidak berdaya, tidak adanya kemungkinan untuk mengubah kondisi-kondisi realistik, dan sebagainya. (*)

*Sabiq Carebesth, Penulis. Editor Galeri Buku Jakarta.

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT