Connect with us

Buku

Keberanian Yang Hakiki Masihkah Ada?

mm

Published

on

Keberanian menjadi fenomena, ia mengemuka belakangan ini, meski tak hakiki dan tak seberapa dipedulikan orang. Lihat betapa beraninya orang-orang berjalan dari Garut menuju Jakarta, meski di tengah jalan kandas juga. Lihatlah, betapa beraninya orang-orang luar Pulau Jawa berangkat ke Jakarta demi demo semata. Yang utama, pasti sudah dilihat, betapa beraninya Joko Widodo menghampiri massa demo yang konon katanya membencinya.

Cerita tidak sampai di situ. Coba tengok, betapa beraninya sekelompok massa membubarkan ritual keagamaan di Sabuga ITB Bandung, padahal mereka bukan termasuk seagama. Tak usah jauh ke luar, di Yogyakarta, coba tengok betapa beraninya FUI meminta pengelola UKDW menurunkan spanduk yang sebenarnya bukan wewenangnya.

Keberanian yang janggal? Absurd? Atau sesungguhnya bukan selayaknya kita namai dan masukkan dalam kategori keberanian? Apakah layak mereka (pelaku) dikategorikan pemberani? Mungkin, layak atau tidaknya, mari tengok dialog Lakhes, Sokrates, dan Nikias dalam buku Mari Berbincang Bersama Platon: Keberanian (Lakhes).

Lakhes menawarkan kenyataan-kenyataan subjek yang menurutnya berani. Misalnya, ada prajurit berbaris di depan masuh dalam perangnya. Bagi Lakhes, prajurit itu berani karena berhadap-hadapan dengan musuh. Bayangkan, bila musuh membawa senjata? Dengan seketika, bukan tidak mungkin prajurit itu mati.

Lakhes: Demi Zeus, Sokrates, tidak sulit untuk merumuskannya. Setiap orang yang menjaga teguh posisi dalam barisannya, siap menghadapi musuh, dan tidak melarikan diri, kamu boleh yakin bahwa orang itu adalah pemberani. (halaman 110).

Sokrates membantahnya. Ia menawarkan subjek lain, bahwa ada juga prajurit-prajurit yang berlari di medan tempur. Bagaimana dengan orang lain yang bertempur melawan musuh dengan melarikan diri, dan tidak tetap tinggal di barisannya? (paparan Sokrates, halaman 110). Bukan tidak mungkin di luar medan tempur sudah banyak musuh yang bersembunyi. Pada saat itu juga, prajurit bisa mati. Malah, mati tanpa diketahui teman sendiri. Bagi Sokrates, prajurit yang melarikan diri itu juga layak dinyatakan berani.

Sokrates, Lakhes, dan Nikias terus berdialog. Berdialektika. Ada yanb mengusul lalu ada yanb membantah. Mencari pada nilai esensi, apa keberanian? Jika Lakhes menawarkan kenyataan-kenyataan untuk mengidentifikasi keberanian, Sokrates membantahnya. Lakhes menyatakan dengan pendekatan dimensi psikologi. Tetapi di sisi lain, Lakhes tak berhenti pada defenisi psikologinya, dan menawarkan kembali dimensi lainnya, hingga lainnya. Sokrates membantah, dengan menawarkan subjek yang lainnya. Sokrates membantah, membantah, dan membantah.

Begitulah dialog wacana keberanian tersebut, hingga Sokrates menanyakan simpulan defenitif kepada Lakhes, “cobalah berbicara tentang tentang keberanian dengan cara seperti tadi, Lakhes. Daya apakah itu, yang selalu sama dalam hal kenikmatan, kesakitan, dan apa saja yanb sudah kita katakan tadi, yang diberi nama keberanian?” (halaman 113).

Lakhes memberi pernyataannya bahwa keberanian ialah ihwal keteguhan jiwa, “Jadi, keberanian adalah semacam keteguhan jiwa. Seperti itulah memang harus mengatakan keberanian sebagai hal secara kodratiah tampak dalam semua contoh tadi.” (halaman 113).

Nikias menambah sudut pandang lain, di luar pemahaman keberanian dari Sokrates dan Lakhes. Menurut Nikias, keberanian adalah ilmu tentang apa yang harus ditakuti dan apa yang harus dipercayai. Tentu ini dibangun atas pendidikan agar menjadi bijaksana, sehingga memahami mana yang ditakuti dan mana yang dipercayai.

Di pengujung dialog, ketiganya sepakat, keberanian yang hakiki belum dapat dinyatakan. Sokrates akhirnya berujar kepada Nikias bahwa keberanian belum ditemukan. Bukan keberanian pemahaman yang sederhana. Lebih dari itu, yang sifatnya kekal.

Keberanian bukan semata menghadapi risiko. Keberanian bukan semata mengambil keputusan yang bertanggungjawab. Apalagi, keberanian bukanlah semangat yang menggebu-gebu. Bukan aspek psikologis semata. Bukan aspek ide semata. Bukan aspek nilai benar-salah semata. Keberanian lebih dari itu, yang hakiki. Yang jelas, pada akhirnya, tanpa memberi defenisi yang pasti, Sokrates dan Nikias memahami, keberanian dibangun atas ilmu.

Keberanian merupakan daya, sesuai konteksnya. Daya menghadapi risiko juga daya memahami ketakutan dan kepercayaan.. Namun, dialog Sokrates, Lakhes, dan Nikias, menunjukkan bahwa ada keberanian yang hakiki di atas daya tersebut. Jika Sokrates, Lakhes, dan Nikias tidak bisa mendefinisikannya, mungkin juga kita.

***

Buku yang berjudul Mari Berbincang Bersama Platon: Keberanian (Lakhes) merupakan terjemahan oleh Setyo Wibowo. Terjemahan tidak berasal dari teks aslinya, Yunani, melainkan dari teks yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, sehingga memungkinkan adanya ‘miss-link’ dalam aspek budaya, seperti persoalan penerjemahan pada umumnya. Proses penerjemahan bukan semata proses menerjemahkan teks atau bukan semata menerjemahkan bahasa, melainkan juga sebagai linguistic hospitality (meminjam istilah Alois A. Nugroho) yang kompleks. Setyo memaparkan hal itu seperti berikut: Penulis mengikuti terjemahan yang sudah dibuat dalam teks Yunani-Inggris dari W. R. B. Lamb M.A. Plato: Laches, Protagoras, Meno, Euthydemus, The Loeb Classical Library, London: William Heinemann Ltd, edisi cetakan 1967 (hal. 83).

Lakhes, judul teks asli Yunani, adalah teks yang dihasilkan dari dialog antara Lakhes, Nikias, Sokrates (filsuf yang sangat berpengaruh bagi filsuf-filsuf setelahnya seperti Hegel, Heideger, Nietzsche, Marx, Freud, hingga filsuf-filsuf postmodern), dan dua kaum awam. Dialog ini diperkirakan terjadi pada masa 418 SM kemudian ditulis oleh Platon semasa mudanya pada 399-387 SM. Dialog diawali dengan mempertanyakan persoalan mendidik anak kepada Lakhes dan Nikias, dan pada saat itu Sokrates berada di dalamnya yang mendampingi Lakes dan Nikias. Lebih lanjut, dialog pun mengalir membicarakan persoalan pendidikan, khususnya menanamkan pendidikan. Pendidikan dianggap sebagai medium keberanian anak-anak sebelum memasuki fase dewasa dalam menentukan kehidupannya, menentukan kebijakan-kebijakan, menentukan keputusan-keputusan secara mandiri. Seperti adigum “berani karena benar, takut karena salah” yang telah kita kenal sejak di bangku sekolah dasar, pendidikan dijadikan proses pemberian pengetahuan (logos) sehingga kelak dengan pengetahuan anak-anak akan menjadi berani.

***

Coba renungkan kembali, apakah fenomena sosial-agama belakangan ini sebuah keberanian? Kalau ya, apakah mereka membangun epistemologi dan merefleksikan ontologinya sebagai menata ilmunya?

Mungkin benar mereka yang rela mengeluarkan biaya besar untuk perjalanan dari luar Jakarta ke Monas disebut pemberani. Mereka tak ubahnya prajurit di depan musuh. Mungkin benar juga mereka yang membubarkan kegiatan agama di Sabuga ITB disebut pemberani. Mereka tak ubahnya prajurit yang melarikan diri dengan sejuta risiko kematiannya yang tidak terduga.

Menurut dialog Sokrates, Lakhes, dan Nikias, mereka bukanlah pemberani yang menunjukkan keberanian yang hakiki. Berdasarkan dialog sanggahan, keberanian seperti itu sama saja seperti binatang, mampu menghadapi musuh di depan hidungnya sendiri.

Menurut dialog Sokrates, Lakhes, dan Nikias, mereka bukanlah pemberani yang menunjukkan keberanian yang hakiki. Berdasarkan dialog sanggahan, keberanian seperti itu sama saja seperti binatang, mampu menghadapi musuh di depan hidungnya sendiri. Tak ubahnya binatang juga yang mampu melarikan diri saat menghadapi binatang pemburu. Mereka hanyalah contoh keberanian daya (semangat) belaka, tanpa dibangun melalui ilmu (pengetahuan).

Untuk mendekati keberanian yang hakiki, jalannya ialah ilmu (pengetahuan) dengan sikap kebijaksanaan. Mungkin, subjek yang membangun ilmu pengetahuannya dan bersikap bijaksana tidak akan rela mengeluarkan uangnya hanya untuk demo ke Monas, tidak akan melakukan pembubaran acara keagamaan di Sabuga ITB, dan juga tidak akan meminta pengurus UKDW menurunkan spanduk perempuan berjilbab. Ini hanyalah mungkin, karena keberanian yang hakiki itu tidak terdefinisikan. (*)

Fredy Wansyah

Mahasiswa Magister Filsafat UGM

Continue Reading
Advertisement

Buku

Meneroka Cinta yang Dikomodifikasi

mm

Published

on

Oleh: Triyo Handoko

“Sesungguhnya tak pernah sang kekasih mencari

Tanpa dicari kekasihnya.

Apabila kilat cinta menyambar hati yang ini

Ketahuilah bahwa cinta telah menyambar hati yang lain”—Rumi

Hidup adalah cinta itu sendiri. Tak heran kemudian banyak produk kebudayaan, seperti: musik, film, atau sastra membicarakan cinta. Eric Fromm menyadari karena hidup adalah cinta maka cinta mengikuti corak perkembangan hidup itu sendiri. Melalui pisau analisis psikoanalisis-marxis, Eric Fromm menghadirkan cinta yang abstrak “melangit” tak berbentuk menjadi “membumi” mudah dipahami sebagai seni.

Implikasi dari cinta sebagai seni adalah bisa dipelajari dan kemudian diperaktikan. Buku ini bukan buku seperti halnya buku panduan memasak, memperbaiki komputer atau memelihara hewan peliharaan. Cinta sebagai sesuatu yang hidup dan terus bergerak diperlukan pengahayatan yang jernih untuk memahaminya. (more…)

Continue Reading

Buku

Eksplorasi yang indah nan suram tentang kejiwaan manusia: novel baru karya Adania Shibli

mm

Published

on

Adania Shibli via https://lithub.com

Yang membuat rangkaian depresi dan melankoli yang hampir tak berkesudahan ini dapat dinikmati dan menguatkan pengaruhnya adalah kilasan keindahan di sana sini yang menyela kesedihannya. Seorang perempuan begitu bersemangat dalam momen percintaan singkatnya dia dikaruniai dengan”baginya, matahari itu sendiri merupakan hal baru. Mencintai, pergi tidur dan bangun lagi, dan masih jatuh cinta.

___
Diterjemahkan dari “Dark, beautiful exploration of the human psyche: a new novel by Adania Shibli”, ulasan buku oleh Sarah Irving, Oktober 2012. (p) Marlina Sopiana (e) Sabiq Carebesth

 

Jika novel pertamanya Touch tak cukup meyakinkanmu, karya kedua Adania Shibli We Are All Equally Far from Love membuktikan talentanya yang langka dan menantang. Buku ini bukanlah karya yang mudah ataupun menyenangkan untuk dibaca, tapi merupakan karya yang luar biasa yang menjalin bersama melankolia, keindahan, kekerasan, dan penggambaran fisik yang kasar dalam renungan yang panjang tentang cinta dan kesepian.

Bahkan lebih ekstrem dari Touch, buku ini bisa dikatakan sebagai novel hanya dalam klasifikasi yang sangat lemah. Buku ini tak memiliki narasi ataupun plot yang umum; cerita-cerita pendek dan sketsa-sketsa di dalamya hampir tak berkaitan satu sama lain kecuali dalam beberapa momen yang mengisyaratkan kesinambungan. Satu nama karakter kurang favorit yang menjadi korban, misalnya, muncul dalam percakapan-percakapan santai di beberapa cerita yang mengungkapkan bahwa dia telah bunuh diri.

Sejumlah referensi lainnya bahkan lebih samar; apakah pohon kenari yang menggantung pada dinding di mana sesosok karakter jalan melewatinya merupakan pohon yang sama dengan pohon kenari yang tumbuh di kebun milik orang lainnya? Pembaca pasti terus bertanya-tanya tentang pertautan antar orang dalam kisah-kisah ini, apakah mereka menggambarkan sejumlah aspek kehidupan dalam satu komunitas yang saling berkaitan ataukah sepnuhnya terpisah, kecuali tentang pengalaman mereka tentang penderitaan. Di mana kisah ini terjadi juga tak begitu jelas; hanya sebuah cerita menunjukkan hal ini, mengingat pekerjaan seorang karakter di sebuah kantor pos yang berkaitan dengan menangani “surat-surat yang dialamatkan ke … ‘Palestina,’ yang alamatnya mesti dia hapus dan menggantinya dengan ‘Israel,’”(20). Satu catatan tentang keluarga sang karakter yang mengatakan “meskipun Kakeknya merupakan pejuang revolusi, dan terbunuh tahun 1948, Ayahnya seorang kolaborator” (10).

We Are All Equally Far From Love| ISBN: 9781566568630 | Paperback: 148 pages | Publisher: Clockroot Books, 2011 | Language English. Adania Shibli, born in 1974 in Palestine, is two-time winner of the Qattan Foundation s Young Writer s Award for this and her acclaimed novel Touch. ‘We Are All Equally Far From Love’ revolves around a young woman who begins an enigmatic but passionate love affair conducted entirely in letters. But suddenly the letters no loners arrive. Perhaps they are not reaching their intended recipient? Only the teenage Afaf, who works at the local post office, would know. Her favorite duty is to open the mail and inform her collaborator father of the contents until she finds a mysterious set of love letters, apparently returned to their sender.

Suasana yang menguasai We Are All Equally Far from Love bukanlah perasaan yang menggembirakan. Sebab bagi satu karakter, “semuanya dalam hidupku terasa monoton. Aku tak lagi peduli tentang apa pun… Semuanya menuju kematian, tanpa ada yang bisa menghentikannya” (3,9). Karakter lain meratapi hidupnya sebagai “pecundang,” menyembunyikan kegagalan-kegagalan dari keluarganya. Sebab yang lain-lainnya, ketakterhubungan meluap menjadi kekerasan, baik yang berupa fantasi-“Aku akan membunuhnya. Tanpa membunuh Ayahku. Sehingga dia akan sama menderitanya seperti aku dibuatnya…Dia selalu saja begitu, Ibuku. Apapun yang kulakukan akan mendorongnya ke batas di mana dia berharap tak pernah melahirkanku” (94,98) – ataupun yang nyata, seorang Ayah dengan santai melempar sepatu ke kepala anak perempuannya saat sang anak melawan perkataannya.

Yang paling mengerikan, sebuah pertunjukkan pelecehan oleh seorang yang ditolak cintanya memuncak pada mesin penjawab pesannya yang berbunyi: “Suaranya tenang, dalam, jelas, dan mungkin dia tersenyum … Dia berujar bahwa dia akan memperkosanya, dan dengan suara yang makin dalam dia menambahkan bahwa inilah satu-satunya cara agar dia bisa memuaskan nafsunya” (76).

Realitas yang mengherankan

Sebagaimana dengan novel pertamanya, pengamatan tajam Shibli atas detail-detail fisik yang minor menimbulkan keheranan, kadangkala membuat mual, itulah realitas dunia bagi karakter-karakternya. Seorang perempuan berkubang dalam bau yang muncul dari tubuhnya dan dari muntahan yang mengering di lantai, menggambarkan kehancuran moral dan emosional dari keluarganya yang terfragmentasi (103), sementara “bunyi berderit dari kakinya yang memakai sandal plastik memenuhi telingaku. Suaranya mengingatkanku akan bunyi-bunyian yang muncul pada saat berhubungan seksual, yang membuatku menghapus gagasan untuk masturbasi dari agenda hari ini” merefleksikan ambivalensi status seks dalam dunia Shibli (99).

Penggambaran tajam yang menyakitkan ini berlanjut ke dalam dunia internalnya, mengakui sejumlah pikiran-pikiran dan perasaan-perasaan memalukan yang seringkali menyertai kekacauan emosional, mulai dari pengakuan blak-blakan “baru kemudian aku mengerti bahwa aku melihat semuanya agar dapat menulis padanya tentang hal itu” (1) hingga kehampaan seorang perempuan yang mencoba melepaskan dirinya dari hubungan yang tak diinginkan: “Dia ingin perjumpaannya menjadi seperti perkawinan yang sembunyi-sembunyi” (71).

Yang membuat rangkaian depresi dan melankoli yang hampir tak berkesudahan ini dapat dinikmati dan menguatkan pengaruhnya adalah kilasan keindahan di sana sini yang menyela kesedihannya. Seorang perempuan begitu bersemangat dalam momen percintaan singkatnya dia dikaruniai dengan”baginya, matahari itu sendiri merupakan hal baru. Mencintai, pergi tidur dan bangun lagi, dan masih jatuh cinta. Mandi dan mencintai, memasak dan mencintai. Mengemudikan mobil dan mencintai” (33). Seorang pria yang terperdaya berkisah tentang kekasihnya “punggungnya seperti buah peach di puncak musim panas” (62) dan bahkan salah satu peristiwa yang paling menakutkan dalam buku ini terjadi dalam latar “malam yang hangat dan kegelapan yang pekat, terutama di balik pohon-pohon zaitun” (77).

Baca Juga: Adania Shibli tentang Mengisahkan Palestina dari Dalam

Kecerdikan yang tak biasa

Senjata lain Shibli untuk menghindari kesengsaraan yang berlebih-lebihan adalah kecerdikannya yang tak biasa, seringkali diperuntukkan – sebagai pasangan sebuah buku yang kejujurannya begitu blak-blakan- pada apa saja, menghantam segala kedangkalan dan kepura-puraan. Di dinding sebuah kantor pos dia mendeskripsikan “sebuah lukisan kepala negara, yang tak lebih kotor dari benderanya, karena demokrasi memaksanya mengganti mereka dari waktu ke waktu” (19). Dari layanan pos yang sama: “Sangatlah wajar bagi penduduk lokal bahwa surat-surat mereka sampai di tangannya dalam keadaan terbuka. Jika sebuah surat sampai dalam keadaan tersegel, mereka mengatakan itu karena kantor pos masih memiliki lem perekat, yang sebentar lagi pasti habis” (20). Tentang seorang pemuda yang mencari pasangan pengantin, dia mengamati “bergandengan, dia dan mangsanya memulai perjalanan tak berkesudahan menuju kebosanan” (18), sementara melalui penggambaran yang sangat mengena tentang sebuah keluarga yang hidup dengan perasaan saling membenci, dia mendeskripsikan “belantara furnitur-furnitur tak terpakai yang digunakan kakak iparku untuk menghidupi dunianya” (112).

Di tangan pengarang yang tak lebih berbakat dari Shibli dan penerjemah yang kurang terlatih dari Paul Starkey, buku ini bisa saja menjadi sebuah nyanyian penguburan penuh kecemasan. Tetapi melalui ketangkasannya dalam menangkap keindahan dan lelucon bersamaan dengan penderitaan dan isolasi, coraknya yang beragam dan perubahan suasananya, buku ini menjadi sebuah eksplorasi kedalaman jiwa manusia yang suram, sukar, melelahkan tapi tentu saja melegakan.

*) Diterjemahkan dari “Dark, beautiful exploration of the human psyche: a new novel by Adania Shibli”, ulasan buku oleh Sarah Irving, Oktober 2012.

Continue Reading

Buku

Perempuan Jawa dalam Gerak dan Wacana Modernitas Barat

mm

Published

on

Portrait of a Javanese woman in traditional clothing artokoloro/ photo via fainart america

 Risa ingin mengatakan bahwa yang menentukan medan smantik modernitas yang menjadi identitas baru hari ini, justru dibentuk oleh “pengetahuan awam” yang saling berkelitan, sehingga memandu individu untuk menginterpretasi dan mereproduksi ulang realitas yang bernama modernitas tersebut. Di sini konteks kultural mempunyai peran utama dalam mempertemukan modern dengan masyarakat itu sendiri. Kita bisa pahami bahwa ruang budaya menjadi ruang titik temu diantara keduanya dalam hal ini. Karna ruang budaya merupakan tempat endapan, sistem nilai, ungkapan, penilaian sosial, sistem simbolik, mitologi, tradisi, agama, yang semuanya berada dalam rell bahasa masyarakat.

Oleh; Doel Rohim *)

Wacana modernitas barat dalam memandang perempuan, khususnya dalam relasi sosial di Jawa, kerap menjadi destruktif jika ia dihadirkan secara kaku dan hadap-hadapan secara langsung sebagai upaya mengganti atau merubah kultur seluruhnya, yang pada dasarnya memang telah mapan sebab telah menjadi budaya.

Modernitas yang menjadi latar belakang berkembangnya wacana tentang perempuan dari sumber ideologi barat tidak bisa secara serta merta digunakan atau dipaksakan untuk melihat kultur masyarakat kita dengan kaca mata hitam putih. Sehingga dominasi wacana moderitas selalu menjadi ukuran atas suatu obyek kultural untuk direpresentasiakan secara rasional dan material. Terciptanya Struktur metodologis yang selalu memposisikan kita sebagai obyek dari wacana akademis yang di bangun Barat juga menjadi persoalan lain, ketidakberdayaan kita dalam membangun epistimologi pengetahuan kita sendiri.

Representasi Sosial Dalam Memandang Perempuan

Dalam hal ini, buku hasil penlitian Risa Permanadeli yang berjudul Dadi Wong Wadon, Representasi Sosial Perempuan Jawa Di Era Modern, memberikan cara pandang lain kalau tidak mau dikatakan baru saat melihat perempuan Indonesia khususnya Jawa di konteks masayarakat modern. Risa melihat bahwa modernitas selalu berkait erat dengan perubahan yang ada di tengah masyarakat. Begitupun modernitas tidak lantas merubah struktur budaya perempuan Jawa yang terikat dengan adat dan tata nilai yang ada, namun malah sebaliknya memperkaya gagasan perempuan Jawa seperti direpresentasikan dalam kata “dadi wong” sebagai perwujudan manusia ideal di masyarakat Jawa.

Melalui repertoire-repertoire makna seperti ungkapan “dadi wong” dan bentuk komunikasi lain yang tumbuh dari kebiasaan masyarakat Jawa dalam menjalin relasi sosial, Risa mencari bangunan pemahaman dalam merepresentasikan perempuan Jawa dalam konteks modern. Dengan menggunakan teori representasi sosial yang merupakan turunan dari pendekatan baru psikologi sosial yang berangkat dari asumsi bahwa dalam menerima nilai, budaya, dan praktik baru (asing), sebuah masyarakat mempunyai perangkat “pengetahuan sosial” atau bisa dikatakan “nalar sosial” untuk menanggapi, menafsirkan, kemudian merekonstruksi ulang fenomena sosial tersebut, yang secara merata kemudian disebarkan ke dalam masyarakat. Jadi proses penerimaan nilai, pandangan, dan praktik hidup modern tersebut tidak diterima melalui proses mental individu yang terpisah dari nilai-nilai masyarakat (baca: psikologi behaviorial).

Secara sederhana dalam proses penerimaan nilai, pandangan, dan praktik modernitas, dari perespektif ini, masyarakat tidak serta merta menelan mentah-mentah fenomena sosial yang bernama modernitas ini secara serampangan. Namun, secara tidak sadar masyarakat mengklasifikasi dan menamai realitas baru atau elemen-elemen yang asing dikeseharian tersebut sesuai dengan repertoire makna yang sudah ada sebelumnya. Dalam hal ini Risa menggunakan repertoire makna tersebut, sebagai perangkat interpretasi yang digunakan oleh masyarakat untuk membuat dan memecahkan realitas baru yang datang dalam keseharian dengan kode makna yang sudah mapan dan dikenal luas oleh masyarakat sebagai suatu pengetahuan yang sudah ada sebelumnya.

Lebih jauh Risa ingin mengatakan bahwa yang menentukan medan smantik modernitas yang menjadi identitas baru hari ini, justru dibentuk oleh “pengetahuan awam” yang saling berkelitan, sehingga memandu individu untuk menginterpretasi dan mereproduksi ulang realitas yang bernama modernitas tersebut. Di sini konteks kultural mempunyai peran utama dalam mempertemukan modern dengan masyarakat itu sendiri. Kita bisa pahami bahwa ruang budaya menjadi ruang titik temu diantara keduanya dalam hal ini. Karna ruang budaya merupakan tempat endapan, sistem nilai, ungkapan, penilaian sosial, sistem simbolik, mitologi, tradisi, agama, yang semuanya berada dalam rell bahasa masyarakat.

Kembali pada konteks Dadi Wong Wadon seperti temuan Risa, ia ingin menyangkal dari narasi besar yang sudah digariskan oleh Barat, bahwa untuk menyongsong modernitas masyarakat Dunia Ketiga yang dipaksa untuk memilih, meneliti, dan pada akhirnya menghilangkan tradisi kulturalnya hanya untuk menuruti prasyarat menuju modernitas dengan segala perangkatnya. Namun upaya tersebut ternyata tidak sesuai dengan kenyataan masyarakat Jawa yang justru mempunyai konsep sendiri yang masih berjangkar pada tradisi kultur untuk mengapropriasi moderitas.

Karna pada kenyataanya moderitas yang lebih tepat kita sebut “dipaksakan” untuk negara Dunia Ketiga sebagai budaya, bukan merupakan sebuah gerak yang tumbuh dan lahir dari rahim kebudayaan masyarakat kita sendiri. Ia lahir dari sebuah kekecewaan dalam ketertinggalanya oleh gerak peradaban. Maka yang muncul untuk mengejar ketertinggalanya tersebut, kemudian ia perlu mengubah ataupun menyesuaiakan lapisan nilai tata pemerintahan, ekonomi, maupun kulturnya, sebagaimana telah di atur dan ditetapkan prasyaratanya oleh Barat.  Jelas kalau seperti ini, dibutuhkan suatu pengetahuan tentang Timur dengan segala aspeknya, yang selama ini telah didefinisiakan oleh Barat sesuai dengan kepentinganya. Dari hal itulah selama belenggu sejarah ini, tidak pernah coba kita bongkar sedikit demi sedikit, senyatanya kita akan selamanya terkurung sebagai bangsa yang tidak mampu menemukan arah dan rumusanya sendiri.

Dengan teori represetasi sosial ini sendiri, setidaknya Risa berhasil memposisikan budaya masyarakat Jawa sebagai obyek yang juga subyek untuk mendefenisikan dirinya sendiri. Walaupun ia tidak seutuhnya mengeliminir karangka pemahaman Barat atas kita, tapi setidaknya ia berusaha mensejajarkan bagaimana “pengetahuan” kita dengan Barat bisa saling beriringan.

 Modernitas dan Konsep Dadi Wong

Seperti telah sedikit disingung di atas, bahwa konsep menjadi orang “dadi wong” dalam alam fikir pengetahuan masyarakat Jawa juga beriringan dengan gagasan menjadi modern yang sudah melekat di tengah-tengah masyarakat Jawa. Dengan kriteria yang muncul sebagai parameter orang modern hari ini, seperti yang dapat kita lihat melalui penampilan yang mengikuti zaman, ketebukaan cara berfikir, tidak fanatik, kemudian bersekolah tinggi, ditempatkan kemudian dipersonifikasi untuk mengukuhkan gagasan konsep “dadi wong” seperti diamini oleh banyak perempuan Jawa.

Dalam konteks seperti itu, gagasan dadi wong menyimpan semesta simbolik masyarakat Jawa yang ditetapkan sebagai ukuran akan keadaan ketercukupan material manusia Jawa. Dalam kata lain orang yang sudah “mentes”, mandiri, dan “mulya” kemudian mempunyai posisi sosial yang terpandang karna sudah mempunyai keluarga (tidak lagi bergantung pada orang tua). Mengacu dari apa yang ada, gagasan dadi wong kemudian selalu diasosiasikan dengan keberlimpahan material semata. Namun sebenarnya kalau kita ingin bedah dan kita kaitkan dengan khasanah pengetahuan dari tradisi keilmuan masyarakat Jawa, gagasan tersebut sudah melakat dalam kesadaran alam batin yang sangat subtil dari masyarakat Jawa.

Secara geneologic bentuk-bentuk repertoire yang terkandung dalam ungkapan dadi wong seperti yang telah disebutkan di atas, semuanya mempunyai relasi pengetahuan yang termanivestasiakan dalam tradisi dan tata nilai masyarakat yang selalu menyesuaikan ruang dan waktu yang ada. Jadi gagasan “dadi wong” berkembang secara produktif dengan bentuk-bentuk bahasa atau definisi secara semantic yang mungkin juga berbeda, namun secara subtantif tetap berjangkar dari akar tradisi pengetahuan masyarakat Jawa.

Masih banyak sebenarnya ungkapan-ungkapan juga konsep yang tumbuh dari masyarakat

Jawa terutama perempuan yang digunakan Risa untuk menjelaskan bahwa perempuan Jawa tidak serta merta menerima modernitas dengan dangkal. Namun diantara konsep-konsep yang ada, penjangkaran dari keilmuan Jawa yang membentuk tradisi tata nilai masyarakat yang menjadi sistem sosial telah merubah wajah modernitas di hadapan perempuan Jawa. Wajah baru modernitas yang bisa jadi malah akan memperkaya tradisi masyarakat Jawa di dalam gerak zaman, begitupun tidak kehilangan identitas perempuan Jawa yang seutuhnya. (*)

*) Santri Pondok Pesantren Budaya Kaliopak Piyungan Bantul, Juga Mahasiswa Fakultas Adab dan Ilmu Budaya UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.

 

 

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending