Connect with us

COLUMN & IDEAS

Ke Arah Sastera Revolusioner

mm

Published

on

Oleh: Pramoedya Ananta Toer

(Surat Kiriman Dengan Salam Tahun Baru kepada Sdr. Lie Tie Gwan)

KINI tambah lama tambah menjadi jelas betapa dunia sastera Indonesia seakan-akan hanya merupakan pencerminan yang terakhir daripada dunia politik. Dunia sastera menjadi gelanggang yang riuh dimana orang berteriak atau menggerutu beradu keras. Adalah sudah sewajarnya saja kalau sastera yang menunjukkan tendensi yang demikian bersifat negatif semata: ia hanya membuat teriak dan gerutuan bertambah menjadi riuh.

Suatu langkah yang dewasa ini merupakan jalan untuk mengimbangi dunia prolitik dewasa ini telah merintis jalan ke arah sastera revolusioner. Sepanjang sejarah sastera, dimana politik tidak bisa menyelesaikan persoalan-persoalannya sendiri, maka sasteralah yang tampil ke depan untuk ambil pimpinan. Ini mengingatkan  saya kepada Kartini di masa dibutuhkan suara yang nyaring akan adanya emansipasi pemerintahan dan emansipasi wanita. Juga mengingatkan kepada Chairil Anwar dimana hidup kekauman dalam penindasan Jepang telah menjadi demikian dekaden dan memasuki sikap hipokrit. Dan bila kita menengok pada wajah kesusasteraan dunia pada umumnya, hal ini menjadi lebih jelas lagi. Tentu, bahwa sastera revolusioner ini tidak dapat merangkum seluruh persoalan masyarakatnya, tetapi ia dapat menggarap masalahnya yang paling essensial dan urgen. Memang ada bahwa  penggarapan itu akan terjatuh pada pelaksanaan negatif, yakni tambah meriuhkan teriak dan gerutu. Ini memang mungkin, apabila jiwa si pengarang sendiri masih tersusun atas sikap-sikap dan pemikiran yang lama. Maka si pengarang sendiri yang harus  memulai sesuatu sikap dan penggarapan revolusioner.

            Sikap dan penggarapan ini tidak mungkin bisa diperoleh dengan meniru ataupun mengikuti suatu gerakan politik ataupun sosial. Tetapi syarat pertama yang diminta adalah pengoreksian kembali atas pandangan dunia dan hidupnya yang telah dibentuknya dari pengalaman, pendidikan dan pembacaan. Continuity daripadanya telah menyusun kembali dunia pikirannya, dan menempatkan urgensi permasalahan masanya di atas kepentingan-kepentingan yang lain.

Dalam sepanjang sejarah berpikir, memang individu yang sadarlah yang ditantang oleh perombakkan cara berpikir ini. Tanpa ini revolusionerisme tidak akan timbul. Di masa kekalutan sosial di dalam segala seginya inilah individu yang merasa kuat ditantang untuk keluar dari singgasananya dan menaklukkan kekalutan sosialnya. Maka tiap individu yang merasa kuat di atas singgasananya akan dihadapkan pada ujian – dan dalam perjuangan inilah dia akan memperoleh ketentuan akan kekuatannya. Kekuatan individu bukan terletak pada kuatnya bercokol di singgasana, tetapi dalam mengadu kekuatan dengan dekadensi masyarakatnya. Itulah sebabnya memang sudah wajar sekali bila presiden Sukarno senang sekali berkata tentang “Revolusi Belum Selesai”. Tetapi selama kata-kata itu tinggal menjadi suatu frase atau pepatah untuk menyenang-nyenangkan hati belaka, dia merupakan kepalsuan yang tidak dapat diampuni. Mengapa? Karena selamanya masyarakat diancam oleh bahaya dekadensi, yang berarti pula, bahwa revolusi dalam segala bentuknya, sebenarnya tidak pernah selesai. Selesainya sesuatu bentuk revolusi adalah berubahnya keadaan sesuatu dengan nilai yang lebih baik dan lebih berguna. Dan karena sesuatu norma dalam masyarakat terus menjadi tumpul dalam pergeseran dengan masanya, maka dia membutuhkan pembaharuan terus, membutuhkan penilaian kembali. Tetapi bagaimanapun juga tanpa melakukan penyusunan dunia pikiran kembali, maka mereka yang setahun-dua yang lalu merupakan tokoh revolusioner, berubahlah dengan cepatnya menjadi reaksioner, bahkan juga anti-revolusioner. Soalnya, bukan karena proses perubahan itu disebabkan karena tindakan permusuhan terhadap semangat revolusi, tetapi kebanyakan hanya karena tak ada kemampuan untuk menyusun kembali dunia pikirannya. Biasanya pada barang siapa mendapat keuntungan yang paling gemuk dan paling baik daripada revolusi yang telah diperjuangkannya, dan tidak jarang mereka ini lebih suka tewas daripada merubah atau menyusun dunia pikirannya kembali.

Demikianlah, maka dalam dunia sastera pada tarafnya yang sekarang ini dibutruhkan perintisan jalan ke arah sastera revolusioner. Dari problem-stelling di atas telah saya jelaskan apa yang saya maksudkan dengan sastera revolusioner itu. Maka konsekuensi daripada sesuatu revolusi adalah pembasmian ataupun pembatasan dalam bentuk ekstrimnya adalah pembunuhan. Sebelum orang berhasil dalam menyusun kembali dunia pikirannya, artinya memandang kejadian-kejadian baru dengan melalui norma-norma lama, dia tetap takkan mengerti, karena kejadian-kejadian baru sebagai bentuk-bentuk kontinyuitas revolusi itu, nampak baginya hanya sebagai suatu kejahatan. Tetapi bila orang sudah menyusun kembali dunia pikirannya, maka laku basmi dan batas hanyalah suatu langkah pertama, langkah-langkah yang merupakan keharusan.

            Langkah-langkah selanjutnya adalah membuat suatu garis perbatasan antara sastera anti-revolusioner dan reaksioner dengan yang revolusioner. Bila pembatasan ini tidak ada maka front pun tidak akan ada. Dan bila front tidak ada, maka antara laku revolusioner dengan laku anti-revolusioner dan reaksioner pun tidak ada. Jelasnya: tidak terjadi apa-apa.

Dengan datangnya akhir tahun 1956 dan bermulanya tahun 1957, maka mejadi jelaslah bagi saya, bahwa kita tidak bisa memandang sastera terlepas daripada perkembangan sosial dewasa ini. Sastera pun wajib memandang dunia kita dari suatu totalitas, bukan dari suatu pojok yang telah kita tentukan sendiri. Ini pun bukan atau belum berarti, bahwa saya meniadakan kesempatan untuk berleha-leha bagi mereka yang tidak mau menginsyafi esensi dan urgensi masanya sendiri. Justru dalam kesempatan ini tenaga-tenaga revolusioner memperoleh antipodanya, sehingga front yang dibuatnay bukan saja menjadi lebih tegas, juga perjuangannya menjadi kian sengit.

Apabila dalam sastera ini orang sudah bisa mengadakan perbedaan yang tegas antara ide revolusioner dan yang bukan, usaha dan kemajuan-kemajuan lagi akan dapat dilakukan dengan baik. Sesuai dengan ini maka saya menyetujui pengertian masyarakat Tiongkok, bahwa pengarang adalah insinyur jiwa bagi bangsanya. Tentang hasil-hasil yang diperoleh daripada pengertian ini memang tidak dapat kita jadikan pegangan, yang lebih penting adalah usaha para pengarang untuk mengerti masyarakat dan masa kininya. Tanpa pengertian akan masyarakat dan masakininya akan berakibat, bahwa pengarang hanyalah akan sibuk dengan dirinya sendiri, yang berarti pula, bahwa penyelesaian-penyelesaian yang dibuat oleh si pengarang itu hanyalah untuk kepentingannya sendiri dan sepatutnya diselesaikan oleh dirinya sendiri, tanpa membawa-bawa pembicaranya ikut menjadi riuh rendah tanpa guna, bahkan tidak jarang kejangkitan penyakit  egosentrisme.

Maka bagi mereka yang tak mampu menyusun kembali dunia pikirannya sejak dari A, dia takkan mungkin mengerti kontinyuitas daripada laku golongan atau perseorangan yang telah menyusun kembali dunia pikirannya. Dan tentulah, bahwa demi keutuhan dunia pikirannya yang lama dengan kontinyuitasnya, maka tiap laku daripada golongan yang akhir itu bukan saja tidak dipahaminya, juga dianggapnya mengancam dan merusak. Kerusakan ini akan memaksa orang melakukan pembetulan, tetapi azas daripada tiadanya kemampuan menyusun kembali dunia pikiran adalah sama: kemalasan, dan sudah merasa aman dengan dunia pikirannya yang lama. Dalam dunia sastera hal yang demikian bukanlah suatu gejala aneh, bahkan di lapangan ilmu pengetahuan, terutama filsafat.

Pramoedya Maert 1989 (Dengan Istri dan Potret Orang Tuanya) Pict by Inside Indonesia.

Saya kira, bagi bangsa muda sebagai Indonesia ini, penyakit yang sungguh-sungguh sulit diberantas adalah bersenang-senang dengan dunia pikirannya, yang sudah diberantas adalah dengan dunia pikirannya yang merasa aman ini, yang menjadi demikian beku sehingga tidak lagi produktif dan kreatif. Dan memang benar, bahwa di lapangan sastera, tidak menjadi keharusan bahwa sastrera revolusioner itu mesti bernilai, karena nilai ini tidak bisa ditentukan dengan satu ukuran. Yang pasti adalah, bahwa sastera revolusioner mempunyai guna sesuai dengan esensi dan urgensi hari ini, orang tidak akan mengerti sejarah, juga tidak akan mengerti politik sebagai sejarah dalam keadaan menjadi. Sedang kesusasteraan tidak bisa terlepas daripada semua ini

Mereka yang tidak mempunyai kemampuan menyusun kembali dunia pikirannya ini, yang pada masa ini bukan hanya tidak mengerti dan bahkan menentang laku revolusioner, pada suatu kali dia akan mengerti dan menjadi jelas baginya apa yang sebenarnya sedang terjadi dan apa pula arah daripada kejadian itu, tetapi dikala ia sedang mengerti, tenaga-tenaga revolusioner baru telah menyusul, dan mereka ini tenggelam kembali dalam lipatan prasangka, dalam susunan dunia pikiran yang tetap aman dan sentosa.

Dengan datangnya tahun baru ini, patutlah kiranya yang mengatakan, bahwa sudah pada tempatnyalah, bahwa kita sebagai bangsa yang muda memelihara semangat revolusi menetap, dan tiap kali membuat pengamatan atas laku-laku yang terjadi di dalam masyarakatnya dan mengenalnya serta memperbedakannya antara yang revolusioner dan yang sebaliknya. Tanpa ini benar-benar suatu revolusi sudah gagal atau macet. (*)

Jakarta, akhir 1956.

Pramoedya Ananta Toer lahir di Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925.Novelis Indonesia paling produktif dan terkemuka yang pernah meredakturi ruang kebudayaan “Lentera” Harian Rakyat (1952-65) dan dosen di Universitas Res Publica Jakarta ini setelah peristiwa G30S/PKI ditahan di Jakarta dan Pulau Buru sebelum akhirnya diebabaskan pada 1979. Karya-karyanya telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, antara lain: Inggris, Perancis, Jerman, Rusia, Jepang. Novel-novelnya yang telah diterbitkan: Kranji-Bekasi Jatuh (1947); Perburuan (1950; Pemenang Hadiah Pertama Sayembara Balai Pustaka 1949); Keluarga Gerilya (1950); Mereka yang Dilumpuhkan (1951); Bukan Pasar Malam (1951); Di Tepi Kali Bekasi (1951); Gulat di Jakarta (1953); Maidah, Si Manis Bergigi Emas (1954); Korupsi (1954); Suatu Peristiwa di Banten Selatan (1958; menerima Hadiah Sastera Yayasan Yamin 1964, dan ditolak pengarangnya); Bumi Manusia (1980); Anak Semua Bangsa (1980); Jejak Langkah (1985); Gadis Pantai (1985); Rumah Kaca (1987); Arus Balik (1995); Arok Dedes (1999). Cerita-cerita pendeknya dikumpulkan dalam: Subuh (1950); Percikan Revolusi (1950); Cerita dari blora (1952; memperoleh Hadiah Sastera Nasional BMKN 1952); Cerita dari Jakarta (1957; meraih Hadian Sastera Nasional BMKN 1957-58, dan ditolak oleh penulisnya). Sedangkan karya-karya terjemahannya antara lain: Tikus dan Manusia (1950; John Steinbeck); Kembali kepada Cinta Kasihmu (1950; Leo Tolstoy); Perjalanan Ziarah yang Aneh (1956; Leo Tolstoy); Kisah Seorang Prajurit Soviet (1956; Mikhail Solokhov); Ibu (1956; Maxim Gorky); Asmara dari Rusia (1959; Alexander Kuprin); Manusia Sejati (1959; Boris Pasternak). Selain itu, ia juga menulis memoar, esai, dan biografi. (*)

Sumber: E. Ulrich Kratz, Sumber Terpilih Sejarah Sastera Indonesia Abad XX, KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2000.

Continue Reading
Advertisement

COLUMN & IDEAS

Marah: Cerita dan Berita

mm

Published

on

Bandung Mawardi *)

Bocah itu sasaran marah. Album biografi memiliki bab-bab awal sebagai bocah dimarahi bapak atau ibu. Bocah mungkin bersalah diganjar marah. Bocah tak bersalah kadang terkena marah. Episode menjadi bocah sudah mengalami dan mencipta ingatan-ingatan marah. Pada saat “pementasan” kemarahan, bocah memilih diam, menangis, atau membalas dengan omelan-omelan. Marah itu peristiwa “dramatis” di pembentukan diri bersama keluarga, teman, guru, dan orang-orang pernah bersama si bocah membuat bab-bab biografis.

*) Bandung Mawardi, Esais.
Penulis Dahulu: Mereka dan Puisi (2020)

Marah memiliki tata cara? Sekian orang menganggap marah tak memiliki kaidah dan urutan. Marah sering mendadak atau “meledak” dalam usaha memendam di hitungan detik, menit, jam, dan hari. Bahasa dan gerak saat marah dimiliki si pemarah tanpa wajib mengikuti petunjuk di sekolah, kursus, les, atau pelatihan secara “profesional”. Pemarah itu aktor. Ia pun mengumbar kata-kata sulit dipelajari melalui tata bahasa formal dan berpijak di kamus-kamus. Kata-kata dalam marah justru peristiwa bahasa mengejutkan tapi mendebarkan bila terduga berdampak fatal.

Kita ingin membaca (lagi) rekaman-rekaman marah dalam gubahan sastra. Pilihan memang mengandung imajinasi. Kita membaca dengan tokoh dan latar berbeda, menginginkan penemuan mutu atau selera marah. Kita mulai dengan buku cerita berjudul Tono dan Tini (1979) gubahan Annie MG Schmidt. Buku cerita disimak bocah-bocah di Belanda, diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Alma Evita Almanar. Pada hari hujan, Tono dan Tini cuma bisa bermain di dalam rumah. Ibu Tono menganjurkan dua bocah itu menikmati waktu dengan menggunting gambar-gambar bagus di buku sudah tak dipakai. Gunting dan 3 buku diberikan ke mereka. Tono dan Tini senang menggunting beragam gambar.

Hujan belum reda, mereka masih ingin menggunting dan mengoleksi gambar. Tono melihat buku-buku di lemari koleksi bapak. Ia sengaja mengambil lagi buku-buku di bagian bawah. Tiga buku tadi sudah habis digunting. Mereka ingin buku-buku lagi, menambahi kegembiraan menggunting. Sekian buku menjadi sasaran penggutingan. Dua bocah girang dan saling pamer. Meni-menit berganti, bapak Tono datang tercengang. Tono dan Tini menggunting, kertas-kertas sisa guntingan dari buku-buku berserakan. Bapak marah melihat buku-buku penting ikut diguntingi. Bapak pun berteriak. Marah! Tono dan Tini berhenti, gunting lepas dari tangan. Pengarang menceritakan: “O, dia sangat marah! Alangkah marahnya dia!” Tono sedih sekali dimarahi. Pada malam hari, Tono tak dibacakan buku oleh bapak. Konon, Tono mendapat hukuman. Rumah memang tempat “pementasan” marah mungkin terjadi setiap hari. Tono mengerti berbuat salah. Marah itu memastikan pihak bersalah. Hukuman pun wajar.

Kita bergerak ke Tiongkok, membaca marah di keluarga miskin berlatar Revolusi Kebudayaan. Marah diceritakan dalam novel berjudul Kisah Seorang Pedagang Darah (2015) gubahan Yu Hua, diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Agustinus Wibowo. Kemarahan biasa terjadi setiap hari dengan pelbagai pemicu. Tiga bocah hidup dalam “roman” kemarahan dicipta bapak dan ibu. Marah mengartikan mengingatkan, mendidik, merendahkan, melukai, dan lain-lain. Tokoh bapak dalam novel memiliki kebiasaan marah dengan parade kata mengejutkan. Kita cuma membaca dalam terjemahan bahasa Indonesia. Kemarahan bapak pada anak: “Kamu genjik cilik. Kamu telur kura-kura cilik… Suatu hari nanti kamu pasti bakal bikin aku mati marah-marah.” Kemarahan akibat makanan, sikap, pekerjaan, politik, atau asmara “diselenggarakan” di rumah. Sekian kata “aneh” itu mengesankan kemarahan memiliki referensi kata dan khazanah kata terwariskan. Pemarah bisa mengumbar kata-kata lugas atau sejenis metafora. Pembaca novel Yu Hua menemukan sekian “pementasan” kemarahan khas dalam kata.

Kita memiliki dua bacaan mengandung marah berasal dari Belanda dan Tiongkok. Kita menemukan tokoh bocah terkena marah. Kesalahan bocah mudah menghasilkan marah. Konon, orangtua berdalih marah untuk memberi “pelajaran” atau membuat si bocah kapok. Marah terasakan serbuan tanda seru. Suara keras, pilihan kata, dan wajah membuat marah itu “bermakna”. Marah itu “api”, “letusan”, “ledakan”, atau “gempuran”. Marah pun menerbitkan sumpah atau kata-kata bertuah “mengundang” petaka. Di hadapan buku cerita atau novel, kita belajar marah di pelbagai peradaban. Kita perlahan mengerti sejarah peradaban besar disahkan kemarahan-kemarahan. Arus peradaban di Yunani, India, Tiongkok, Persia, Mesir, Jepang, Prancis, Amerika Serikat, dan lain-lain pasti memiliki bab-bab marah dengan daftar para tokoh kondang: raja, ratu, jenderal, pengarang, saudagar, filosof, seniman, buruh, dan lain-lain. Kemarahan melegenda dalam album peradaban dunia. Marah mengubah arah kekuasaan. Marah memicu duka dan darah dalam masalah agama. Marah pun bermula dari asmara membuat orang-orang bergelimpangan.

Novel penting bercerita marah digubah oleh Chinua Achebe berjudul Things Fall Apart, diterjemahkan ke bahasa Indonesia berjudul Segalanya Berantakan (1986). Ungkapan dan dampak kemarahan dalam novel menguak sejarah rumit Afrika. Kehidupan suku guncang gara-gara kedatangan “orang kulit putih” membawa misi-misi besar: agama, bisnis, pendidikan, kekuasaan. Novel mengajak pembaca ke halaman-halaman bercerita antropologis. Kemarahan melanda keluarga-keluarga di suku mengakibatkan petaka-petaka. Pembaca mafhum “berantakan” bermula dari salah paham, penghinaan, pelanggaran, atau penindasan Marah dilancarkan sebagai konsekuensi melawan, balasa dendam, putus asa, dan lain-lain. Marah di Afrika itu menggerakkan sejarah: ditolak dan diterima. Buku sejarah sering memiliki halaman-halaman marah. “Berantakan” dari ratusan tahun lalu belum berakhir.

Kita sudah mengingat tiga buku, berusaha mengerti marah di Belanda, Tiongkok, dan Afrika. Buku-buku cerita tak bermaksud menjadi sumber pelajaran sejarah secara “resmi”. Kita membaca dan mengutip saja dalam membuka ingatan-ingatan kemarahan berlangsung di pelbagai negeri, dari masa ke masa. Kita sengaja belum ingin membaca buku-buku cerita gubahan pengarang Indonesia dalam menguak makna dan dampak marah. Buku-buku biar tetap tertutup, menunggu saat paling tepat untuk terbaca dengan tenang.

Konon, orang-orang Indonesia sedang dihebohkan kemarahan tokoh berdampak ke ikhtiar penanggulangan wabah dan pemulihan nasib Indonesia. Kemarahan itu anggaplah “resmi” berkaitan kekuasaan dan pemenuhan amanah sudah diberikan dalam tata cara berdemokrasi, sekian tahun lalu. Kita tak lagi berurusan dengan fiksi tapi fakta. Kemarahan itu ditonton jutaan orang, menimbulkan tafsir-tafsir mungkin memberi pujian atau ledekan. Kemarahan pun menjadi berita di koran-koran terbit 29 dan 30 Juni 2020. Kita pastikan membaca berita-berita, bukan cerita-cerita bergelimang imajinasi. Wabah belum rampung, kita sibuk “bergosip” dengan tema marah. Begitu.

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Emha, Satra dan Pengakuan

mm

Published

on

Oleh Bandung Mawardi *)

Semula, orang-orang mengenali Emha Ainun Nadjib di sastra. Para pembaca majalah Horison masa lalu sering membaca puisi dan cerpen gubahan Emha Ainun Nadjib. Majalah itu tercatat dalam biografi tokoh telah menua. Kini, ia masih lantang saat omong dan sregep menulis. Leren atau tamat tak tercantum dalam “kamus” milik Emha Ainun Nadjib. Di toko buku, kita memastikan puluhan buku Emha Ainun Nadjib menggoda orang untuk membeli dan membaca. Buku lama cetak ulang. Buku baru pun terbit. Di situ, kita membaca nostalgia dan kecenderungan mutakhir ibadah keaksaraan Emha Ainun Nadjib dengan pelbagai ke-mbeling-an dan kesantunan.



Muhammad Ainun Nadjib (born 27 May 1953), best known as Emha Ainun Nadjib or Cak Nun, is an Indonesian poet, essayist, and humanist. Born in JombangEast Java, Nadjib began writing poetry while living in Yogyakarta, publishing his first collection in 1976. He became one of the city’s predominant poets by the late 1980s, and by then had also began writing essays. He is the leader of the Kiai Kanjeng group, which stages dramas and musical performances on religious themes. Early poems by Nadjib have elements of social criticism. However, more prominent are Islamic values, variously described as santri or Sufi. Islam is also a common subject for his essays. His writings have taken a variety of forms, including poetry, essays, novels, and short stories. (Wikipedia)

Keranjingan bersastra memiliki kaitan dengan Horison, sebelum Emha Ainun Nadjib sering menulis kolom di pelbagai koran dan majalah. Kita ingin menghormati Emha Ainun Nadjib saat ulang tahun dengan mengingat babak pergulatan dan pergaulan sastra masa lalu. Di Horison edisi Oktober 1991, kita simak hasil wawancara bersama Emha Ainun Nadjib. Ia tak melulu di sastra. Emha Ainun Nadjib terbukti mumpuni pula di teater dan musik. Ia rajin berceramah atau membuat obrolan-obrolan bertema agama di pelbagai tempat. Sastra mungkin masih pijakan atau titik mula.

Emha Ainun Nadjib menjadi “manusia seribu acara”. Sibuk! Ia kangen bersastra tapi harus berhitung dengan segala peristiwa dan perjumpaan manusia di keseharian. Ia mengaku ingin “menjadi sastrawan kembali”. Sulit! Kita simak perkataan Emha Ainun Nadjib berlatar 1980-an dan 1990-an: “Tapi sebenarnya bertahun-tahun saya hampir tak punya peluang bersastra-sastra ria. Artinya, ragam kegiatan saya yang ‘disusun’ oleh orang banyak kurang toleran terhadap berlangsungnya metabolisme kreativitas sastra saya.” Ia tak mengeluh atau pamer sesalan telah berada dan mengalami pelbagai peristiwa di luar sastra. Sekian kegiatan memang semakin jarang berkategori sastra. Emha Ainun Nadjib telah milik umat beragam tema, tak cuma sastra. Orang-orang memang mulai terpikat dan menganggap Emha Ainun Nadjib itu kolomnis tanpa tanding. Tulisan-tulisan menggairahkan opini publik bersikap atas keadaan aktual. Sastra masih disinggung tapi menipis.

Tarik-ulur dalam menempatkan diri untuk pergulatan keaksaraan dan omongan masa 1990-an memicu dilema. Emha Ainun Nadjib memilih berkelakar: “Yang menyangkut sastra adalah keinginan saya agar kelak saya sanggup merepresentasikannya melalui bahasa sastra. Tapi susah, ya? Sastrawan itu pasti kekasih gelap Tuhan, diizinkan dilalui oleh keindahan-Nya.” Sekian orang tetap membaca puisi-puisi gubahan Emha Ainun Nadjib terbit menjadi buku berjudul 99 Untuk TuhankuSyair Lautan JilbabSeribu Masjid Satu JumlahnyaCahaya Maha Cahaya, dan lain-lain. Di mata kalangan sastra, Emha Ainun Nadjib itu pujangga religius dengan memberi bobot kritik sosial dan sikap-sikap kemanusiaan. Ia tak perlu dipaksa masuk dalam kategori menghasilkan sastra sufistik, sastra profetik, atau sastra transendental.

Pada masa 1970-an dan 1980-an, diskusi sastra dan penulisan kritik sastra menempatkan para pujangga dan buku puisi dalam kategori-kategori mengarah ke keagamaan. Publik membaca dan memberi predikat pada Abdul Hadi WM, Taufiq Ismail, Kuntowijoyo, Emha Ainun Nadjib, Sutardji Calzoum Bachri, Zawawi Imron, dan lain-lain. Di pelbagai perbincangan sastra, nama Emha Ainun Nadjib mungkin disebut tapi ia perlahan tak terlalu “terpandang” dalam gejolak kesusastraan Indonesia. “Saya bukan apa-apa, belum ‘seseorang’ dalam dunia sastra Indonesia,” pengakuan Emha Ainun Nadjib.

Pendapat atau pengalaman bersastra Emha Ainun Nadjib selama sekian tahun terbit menjadi buku berjudul Sastra yang Membebaskan (1984). Buku kecil bekertas buram. Kita membaca (lagi) sebagai pembukti ingatan masa keranjingan bersastra, sebelum Emha Ainun Nadjib menjadi “manusia seribu peristiwa” dan harus “merebut” kewaktuan untuk sastra di masa 1990-an. Tulisan-tulisan dokumentatif dan menjelaskan posisi Emha Ainun Nadjib sebagai penggubah atau pengamat sastra.

Emha Ainun Nadjib menerangkan: “Sejak awal 1982, kita menyaksikan berbagai gugatan agar sastra lebih menunjukkan peran sertanya dalam proses perubahan sosial. Ini jelas bukan sekadar gejala kesusastraan, tapi bersumber pada kompleksitas kegelisahan sosial yang lebih luas. Meskipun batang tubuhnya berupa pemikiran sastra, namun ia adalah ‘saudara kembar’ dari sebutlah meluasnya kesadaran akan keperluan sosiologi dalam banyak ilmu-ilmu pilah modern, munculnya antitesa terhadap tradisi arsitektur modern, tumbuhnya solidaritas-solidaritas dalam kehidupan beragama, atau makin banyak diselenggarakannya kegiatan yang menegur-sapakan berbagai spesialisasi kehidupan.” Sastra “diwajibkan” terbuka, tak sendirian atau dalam pengistimewaan tanpa jamahan atau keterjalinan dengan hal-hal lain.  

Pada 2020, Emha masih menulis beragam tema. Wabah pasti dituliskan dengan kelenturan sikap dan acuan. Orang-orang merasa berhak memberi penghormatan meski tanpa acara besar dan menghebohkan. Situasi tak memungkinkan, Emha Ainun Nadjib mungkin tak menginginkan. Di hadapan kita, Emha Ainun Nadjib telah berubah menandai tua. Wajah itu masih ganteng dan berwibawa dengan sekian kerut. Ketuaan mustahil menghentikan ibadah menulis dan membuat obrolan-obrolan di seantero Indonesia. Ia belum letih. Emha Ainun Nadjib belum ringkih.

Kita mengingat masa muda bersatra di Jogjakarta melalui pengakuan Emha Ainun Nadjib: “Kompetisi yang ketat, suatu perjalanan penuh api, hidup koyak sekolah terbengkalai, hingga akhirnya tiba di sampai ke sampai, meskipun tak akan pernah selesai…. Di Pelopor Yogya ketika itu, suatu hari, puisiku tiba-tiba telah terpasang di ruang ‘Sabana’, suatu tempat tinggi yang di perasaanku waktu itu bagaikan di Arsy. Sesudah membeli sebiji koran itu rasanya ingin aku berlari ke setiap jakan dan gang-gang di kampung-kampung seluruh Jogjakarta untuk melaporkan puisiku.” Kegirangan seorang muda ingin mendapat tempat di sastra, setelah tekun belajar dan mendapat pengasuhan dari Umbu Landu Paranggi. Ia merasa sah sebagai pujangga.

Pulang ke Jombang, Emha Ainun Nadjib mengumumkan ke ibu mengenai puisi di Pelopor Yogya. Puisi tak setinggi pemaknaan bagi ibu dan keluarga. Emha Ainun Nadjib terkejut melakukan kesalahan dugaan dan pengukuran. Ia pun menceritakan pada kita: “Ibuku sama sekali tak terkejut. Bahkan tak sedikit pun ada perubahan di roman mukanya. Meskipun pancaran kasih sayangnya tak pernah berhenti mengalir, tapi aku tahu betul ‘Sabana’ itu tak berarti sama sekali bagi alam hidup pribadi ibuku. Segera sesudah itu aku pun makin melihat juga bahwa semua sahabatku di desa, orang-orang tua, seluruh anggota keluargaku, tidak bergeming oleh pameran itu. Mereka asing.” Emha Ainun Nadjib mulai berhitung ulang: diri, puisi, keluarga, agama, Indonesia, dan lain-lain. Puluhan tahun lalu, ia telanjur menjadi pujangga. Kini, kita tetap mengakui ia adalah pujangga, memberi puisi-puisi di arus penginsafan dan kesadaran mengarah ke religiusitas dan kemanusiaan. Begitu. (*)     

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Mewarisi Buku

mm

Published

on

Sharjah Children’s Book Illustration Exhibition / Getty Image / https://publishingperspectives.com/

Oleh Setyaningsih—Esais, penulis buku Kitab Cerita (2019)

Ada yang agak janggal. Romantisasi bacaan anak yang dipermasalahkan oleh Anindita S. Thayf dalam esai “Bacaan Anak dan Kenangan” di rubrik Saujana, Jawa Pos, 12 Januari 2020, ternyata berawal dari rebutan saluran televisi antara anak dan ibu di ruang tunggu klinik gigi. Anak merengek karena tidak suka tayangan Laptop Si Unyil yang tokoh bonekanya jelek dan mulutnya tidak bergerak. Ibu menolak mengganti saluran dengan alasan tayangan inilah yang ditonton ibu waktu kecil. Dari kejadian ini, Anindita melihat bahwa orangtua memaksakan pilihan pada anak, termasuk pilihan buku. Orangtua merasa berhak “menjejalkan” apa yang dulu dibaca, masih “harus” dibaca anaknya saat ini, padahal zaman berubah. 

Anidita tidak jeli membedakan Unyil bagi ibu yang sangat mungkin hadir dalam film seri Si Unyil, ikonciptaan Suyadi atau Pak Raden dengan Unyil di acara Laptop Si Unyil yang hanya menjadi semacam pembawa acara. Unyil tidak hadir dalam bentuk cerita tapi ikon telah beralih peran. Anindita juga hanya mencontohkan sedikit buku “warisan”, seperti Lima Sekawan dan Trio Detektif (tanpa menyebutkan nama penulis) dan novel garapan Lewis Carol atau Astrid Lindgren serta dongeng H.C. Andersen (tanpa mencontohkan atau menyebut judul cerita). Tapi suatu kenyataan lumrah memang bahwa di ruang-ruang anak berada, buku masih jarang dipilih sebagai kejutan, hadiah, teman di kala menunggu.   

Saya teringat kejadian merayakan Bulan Bahasa di PAUD Tenera, Bengkulu Utara, pada Oktober 2017. Suatu pagi, anak-anak berkumpul di aula bundar yang terang. Saya dan teman-teman menyiapkan buku untuk dibacakan kepada anak-anak. Kami memilih buku Seribu Kucing untuk Kakek garapan Suyadi atau Pak Raden, diterbitkan ulang oleh penerbit Noura pada 2017. Edisi awal buku diterbitkan oleh Djambatan pada 1974. Jelas ada rentang waktu yang jauh dari kelahiran buku dan anak-anak PAUD Tenera. Mereka pasti tidak mengenal Pak Raden berkumis dan bersuara khas juga. 

Justru cerita disambut dengan mata lugu tapi berbinar. Ada anak menyimak dengan serius sampai melongo, tertawa di bagian yang lucu, dan tentu anak-anak biasanya menyukai kucing. Bukan karena usia cerita sudah tua, cerita sanggup membawa apa yang dekat dengan anak meski penulisnya tiada dan waktu terus maju. Meski ilustrasi garapan Pak Raden tampil hitam putih, goresannya tegas dan menyiratkan setiap adegan dengan pas. Cerita yang awet mampu membawa apa yang pantas disampaikan ke anak-anak: kejutan, kedekatan, kelucuan, penuturan tanpa beban moralitas.

Bukan Mewarisi Persepsi

Dalam jagat perbukuan, ada cerita-cerita yang seolah ditakdirkan diwariskan. Hal ini, cukup sering menyangkut biografi orangtua sebagai pembaca di masa kanak ataupun tidak lagi kanak. Bahkan ada kesengajaan orangtua merekomendasikan ke penerbit, seperti disampaikan oleh penerbit buku bacaan anak berjudul Gembira garapan A.S. Maxwell yang pada 1977 mengalami cetak ulang kesembilan, “Generasi yang terdahulu telah dewasa, namun masih banyak dari antara mereka yang mengingat buku ini dan kisah-kisah yang terdapat di dalamnya. Dari antara mereka itu banyak yang sudah berkeluarga dan ingin mengisahkan apa yang telah dibaca mereka puluhan tahun yang lalu [….] Mereka menganjurkan supaya buku ini dicetak kembali dan anak-anak mereka dapat membacanya.” Buku Gembira memuat cerita tentang dunia anak, keluarga, binatang, lagu, alat transportasi, cita-cita, dan lain-lain. Buku diminta lahir kembali untuk mengiringi anak-anak bertumbuh. Sangat mungkin, orangtua yang pernah anak ini dulu dikenalkan dengan buku Gembira juga lewat “kenangan” orangtua dan merasa tidak terjejali.

Para pembaca Indonesia tentu turut menjadi masyarakat buku panjang umur. Buku terus dirayakan kelahirannya meski penulis tidak lagi di dunia. Buku disambut pembaca terus berganti. Kita masih bisa mendapati novel ala A Little Princess (2015) yang terbit pertama pada 1904 oleh Frances Hodgson Burnett atau Anne of Green Gables (2017) garapan Lucy Maud Montgomery yang pertama ditulis pada 1908. Pippi Si Kaus Kaki Panjang (2018) diterbitkan pada 1945 oleh Astrid Lindgren masih tetap mewakili naluri anak-anak untuk bebas, usil, dan banyak ide. Cerita predikat klasik masih tetap terbaca hari ini.

Dan dalam biografi keluarga, orangtua memang berkuasa atas politik belanja karena merekalah yang punya modal secara ekonomi. Neil Postman (2009) mengatakan buku menawarkan misteri-misteri kognitif. Sejak penemuan mesin cetak di Barat dan juga berarti penemuan atau penciptaan sikap khusus atas masa kanak, buku menjadi salah satu media penting pengajaran. Anak adalah sosok yang “berbeda” dari orang dewasa, maka ada kebutuhan tertentu disiapkan. Ide tentang masa kanak memang diawali oleh kelas menengah yang terutama memiliki modal ekonomi dan menjadikan mereka terhormat secara sosial. Dikatakan, “Dalam mengatakan apa yang kita harapkan dari seorang anak nantinya, kita mengatakan siapa kita.” Sedang yang terjadi saat ini, kuasa membelikan buku masih diutamakan untuk buku pelajaran atau buku tulis.

Orangtua adalah penjejal buku wajib administratif bagi anak-anaknya. Sering asupan gizi buku imajinatif tidak diberikan karena ada orangtua benar-benar tidak tahu apa yang akan dirayukan kepada anak. Kenangan saja tidak punya lho! Negara pun turut campur mengadakan hal-hal yang semakin meremehkan pengalaman orangtua berbuku, entah gerakan 10 menit membacakan buku, mendongeng, atau Gerakan Nasional Orang Tua Membacakan Buku (Gernas Baku). Orangtua harus diperintah-perintah terus agar sadar menjadi masyarakat lumrah huruf.

Kenangan memang bisa saja sentimental dalam pewarisan cerita. Yang menjadi kunci, mewariskan kenangan buku bukan berarti mewariskan persepsi orangtua atas buku. Ini bukan soal bagus-tidak bagus dan anak harus menyepakatinya. Anak pasti memiliki cara tanggap berbeda dari orangtua atas apa yang dulu dibaca orangtua. Masih ada orangtua yang takut jika anak berani berpendapat berbeda.

Saya tentu menyepakati bahwa “anak-anak yang paling tahu cara menemukan kesenangan murni dalam sebuah buku.” Tapi untuk sampai pada kesenangan murni itu, anak juga perlu digoda, diajak bicara, diajak berdialog-belanja di toko buku atau pasar buku bekas, dan diajak penasaran. Orangtua mesti berusaha menjadi penggoda buku berbekal kenangan-kenangan di rasa dan kepala. (*)  

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending