Connect with us

Tabloids

Kate Chopin (1894)—Kisah Satu Jam

LaurieBromConversing / Getty Image
mm

Published

on

Nyonya Mallard adalah seorang wanita muda, dibalik wajahnya yang cantik dan tenang, ia memiliki ekspresi yang menunjukan karakter dengan kemauan besar dan tangguh. Tapi, kini tatapan matanya seolah kosong, terpaku pada langit biru yang membentang luas di atas sana. Namun, pandangannya bukan sebuah lamunan, melainkan ia sedang berpikir keras akan sesuatu.

Kate Chopin (1894)—Kisah Satu Jam

Penterjemah: Anjani Poetry

____

Mengingat bahwa Nyonya Mallard memiliki riwayat penyakit jantung, maka kabar mengenai kematian suaminya pun harus disampaikan secara hati-hati.

Saudarinya yang bernama Josephine, menyampaikan berita itu kepadanya dengan kalimat yang terbata-bata. Teman suaminya—Richards juga di sana, di dekatnya. Dia pula yang saat itu sedang berada di kantor surat kabar ketika berita kecelakaan kereta api disampaikan dan mendengar bahwa nama Brently Mallard berada diurutan teratas daftar korban yang dinyatakan tewas. Namun, untuk memastikan kebenaran yang akurat mengenai berita tersebut, ia menunggu sejenak sampai telegram kedua menginformasikan berita yang sama. Setelah itu, ia bergegas pergi menuju kediaman keluarga Mallard dan berharap tidak akan ada orang lain yang menyampaikan berita duka itu dengan informasi yang salah.

Saat berita duka itu sampai di telinga Nyonya Mallard, ia tidak seperti kebanyakan wanita di luar sana yang akan bereaksi dengan kebisuan dan sulit untuk menerima kenyataan. Nyonya Mallard justru langsung menangis histeris dan jatuh dipelukan saudarinya, Josephine. Beberapa saat kemudian, usai tangis histerisnya mereda, ia pergi ke kamarnya, mengurungkan diri.

Di dalam kamar, terdapat sebuah kursi yang nyaman dengan menghadap ke arah jendela yang terbuka. Nyonya Mallard menjatuhkan tubuhnya di kursi tersebut dan mencoba menghempaskan segala tekanan yang ada. Kelelahan telah menyelimuti jiwanya.

Dari tempatnya, ia memandang ke luar pada alun-alun di depan rumah, di mana ia menikmati pepohonan rindang menjulang diiringi dengan ritme dedaunan segar yang melambai indah, menyambut datangnya musim semi. Aroma teduh setelah hujan menyeruak di udara. Seorang pedagang di luar sana terlihat menjajakan barang dagangannya. Serta sayup-sayup terdengar lantunan nada sebuah lagu diiringi kicauan merdu burung-burung pipit yang bertengger di atap rumah.

Pancaran langit biru di antara gumpalan awan yang saling menumpuk dan merapat di arah barat menghadap ke jendela kamarnya. Dalam duduknya, ia menyandarkan kepala pada bantal kursi, bergeming, kecuali jika tangisan lirihnya telah mencekat tenggorokannya hingga tubuhnya terguncang, seperti seorang anak kecil yang  menangis hingga terlelap dan berlanjut di dalam mimpi.

Nyonya Mallard adalah seorang wanita muda, dibalik wajahnya yang cantik dan tenang, ia memiliki ekspresi yang menunjukan karakter dengan kemauan besar dan tangguh. Tapi, kini tatapan matanya seolah kosong, terpaku pada langit biru yang membentang luas di atas sana. Namun, pandangannya bukan sebuah lamunan, melainkan ia sedang berpikir keras akan sesuatu.

Sesuatu merasuki dirinya, ia memiliki sebuah firasat bahwa akan ada yang terjadi padanya dan dengan cemas ia menanti. Apa yang akan terjadi?  Dia sama sekali tidak tahu, terlalu sulit untuk dijelaskan. Tapi, ia merasakannya, sesuatu yang seolah menjalar turun dari bilik-bilik langit, lalu berjalan mendekatinya melalui getaran suara, semerbak aroma, dan warna yang menyatu pada udara di sekitarnya.

Sekarang, dadanya naik-turun tak beraturan, desahan napasnya memburu. Ia mulai menyadari sesuatu yang merasuki jiwanya. Dengan sisa tenaga yang masih ada, ia berusaha melawan namun tiada berhasil.

Saat ia terdiam membiarkan sesuatu itu merasukinya, sebuah bisikan meluncur mulus dari bibirnya yang sedikit terbuka. Berulang-ulang ia katakan dengan napas memburu “Bebas, bebas, bebas!” Tatapan kosong yang semula terpancar di mata Nyonya Mallard perlahan sirna dan tergantikan oleh tatapan tajam penuh semangat dan melukiskan sinar harapan. Ritme nadinya bergerak cepat dan darah hangat menjalar ke seluruh tubuh, menenangkan jiwanya.

Nyonya Mallard terus bertanya-tanya mengenai apakah nama dari perasaan ini. Tapi firasat lain mengatakan untuk mengabaikannya, karena hal itu tidaklah penting untuk dipikirkan.

Dia tahu bahwa dia akan kembali dirundung perasaan berkabung saat melihat jasad suaminya, menyaksikan lengan kokoh yang dulu melipat lembut memeluknya, kini terlipat tanpa daya bersama kematian. Wajah yang ia rasa tak pernah memancarkan rona penuh cinta kepadanya, terbujur kaku, pucat pasi dan mati. Namun, Nyonya. Mallard juga melihat sisi baik dibalik peristiwa pahit ini bahwa ia akan dihadiahi sebuah kebahagiaan sejati berupa tahun-tahun penuh kebebasan yang akan dirasakannya. Dan ia siap menyambutnya dengan tangan hangat dan terbuka.

Di tahun-tahun yang akan mendatangkan itu, tidak ada lagi orang lain yang memasuki hidupnya, ia hanya akan hidup untuk dirinya sendiri. Takkan ada lagi kekuasan lain yang dapat mengekang segala keinginannya yang mana aturan-aturan tersebut ada dalam ikatan antara suami-istri pada umumnya. Situasi yang ada membuat Nyonya Mallard meyakini dengan pasti bahwa apa yang dirasakannya kini bukanlah sebuah kejahatan tanpa hati nurani, melainkan merupakan sebuah reaksi yang wajar dan masuk akal.

Ya, tentunya Nyonya Mallard juga mengakui bahwa dia memang mencintai suaminya—sesekali. Namun seringkalinya tidak. Ah, sudahlah, itu tidak penting! Tidak ada gunanya membahas cinta, perasaan itu sama sekali tidak berpengaruh untuk menahan dirinya pada hasrat besar dalam meraih kebebasan hidup yang akan dimilikinya sebentar lagi.

“Bebas! Ya, tubuh dan jiwaku akhirnya bebas!” Nyonya Mallard terus berbisik.

Sementara itu di luar kamarnya, Josephine membungkuk dan mendekatkan bibirnya ke arah lubang kunci, memohon agar ia diizinkan masuk. “Louise, bukalah pintunya! Aku mohon bukalah, nanti kau akan sakit. Apa yang kau lakukan di dalam sana! Demi Tuhan! Bukalah pintunya!”

“Pergilah Josephine. Tak perlu khawatir karena aku akan baik-baik saja. Aku tidak akan sakit, ” tentu saja dia tidak. Sebab kini Mrs. Mallard merasa lebih hidup, ia tengah meminum ramuan mujarab¾menghirup udar segar kebebasan yang bersumber dari jendela kamar.

Bayangan akan masa depan yang indah dan menyenangkan menyeruak di kepalanya, musim semi, musim panas dan musim-musim lain yang akan menjadi miliknya sendiri. Dia pun melantunkan doa singkat, memohon agar ia diberikan hidup yang lebih lama untuk bisa menikmati hari-hari itu. Padahal, baru kemarin Nyonya Mallard berpikir bahwa setelah ini dia akan hidup dalam penderitaan panjang sampai akhir hayatnya.

Akhirnya, setelah cukup lama mengurung diri, Nyonya Mallard pun beranjak dari duduk, melangkah ke pintu dan membukakannya untuk menghilangkan kecemasan Josephine. Dia memandang saudarinya dengan pancaran api kemenangan yang membara di matanya, gerak-geriknya seperti Dewi Kemenangan. Lalu Nyonya Mallard merangkul saudarinya dan bersama-sama menuruni anak tangga menuju lantai satu. Yang dimana sudah ada Richards yang berdiri menunggunya sejak tadi.

Tiba-tiba terdengar suara seperti seseorang yang mencoba membuka pintu depan. Pintu terbuka dan munculah sosok Brently Mallard dengan tampilan yang lusuh selepas dari perjalanan jauh dengan menggenggam tas jinjing dan payungnya. Rupanya, Tuan Mallard sudah turun lebih dulu dari kereta yang ia tumpangi dan berada jauh dari tempat terjadinya kecelakaan, ia bahkan mengaku sama sekali tidak mengetahui adanya peristiwa itu. Dengan tatapan yang heran ia memandangi reaksi Josephine yang histeris, lalu Richards yang dengan gerakan cepat mengalihkan pandangan ia ke istrinya.

Tapi, Richards sudah terlambat.

Saat para dokter tiba, mereka menyatakan bahwa Nyonya Mallard telah meninggal akibat serangan jantung—akibat kegembiraan berlebihan yang dirasakannya.

________

  1. Kate Chopin adalah seorang cerpenis dan novelis asal Amerika Serikat. Semasa hidupnya, ia telah dianggap oleh beberapa ahli sebagai pelopor penulis feminis abad ke-20 Amerika.
  2. Teks asli dari cerita pendek ini berjudul “The Story of an Hour” yang ditulis oleh Kate Chopin pada 19 April, 1984. Diterbitkan pertama kali oleh Majalah Vogue pada 06 Desember 1984 dengan judul “The Dream of an Hour”. kemudian ditulis ulang di St. Louis Life pada 05 Januari 1985.
  3. Teks sumber dari : http://www.shortstoryguide.com/feminist-short-stories/

______

*) Anjani Poetry, gadis berdarah Sunda yang lahir dan dibesarkan di ibukota 19 tahun yang lalu. Saat ini tengah aktif dalam kegiatan di Palang Merah Indonesia Cabang Jakarta Timur. Menyukai sastra  sejak kecil, namun baru beberapa tahun belakangan ini mulai semakin giat menggeluti dunia tersebut. Tulisan-tulisanku yang lainnya dapat ditemui melalui laman blogku di sini : https://anjaniwpoetry.wordpress.com juga di salah satu media sosial di https://www.instagram.com/dandeliona_ap/

Continue Reading
Advertisement

Tabloids

Puisi Selalu Menemukan Jalannya Sendiri

mm

Published

on

Aku memiliki dua puluh empat puisi dan bersiap untuk mencetaknya, tetapi mereka semua sangat aneh, sangat tidak mirip karya-karyaku sebelumnya, karena itu aku merasa sedikit khawatir. Aku mendapat dorongan dari satu atau dua teman, tapi aku masih tak tahu apa yang harus dilakukan.

Pertanyaan yang muncul setelah The Dream Songs adalah bilamana aku akan berusaha menulis sebuah puisi yang panjang lagi, dan kupikir itu tidak mungkin, jadi aku tidak berharap untuk menulis bait-bait lagi.

Tapi tiba-tiba suatu hari di musim dingin tahun lalu aku menuliskan satu baris: “I fell in love with a girl.” Aku memerhatikannya, dan aku tak dapat menemukan ada yang salah dengan baris itu. Aku berpikir, “Sial, hal itu nyata” Aku merasa, seperti seorang temanku mengatakan, “merasa nyaman dengan hal itu.” Dan aku memerhatikannya sampai aku memikirkan sebuah baris kedua, dan kemudian baris ketiga, dan kemudian baris keempat, dan jadilah sebuah stanza. Tak berima. Dan semakin kuperhatikan, semakin aku menyukainya, jadi aku menulis stanza kedua. Dan kemudian aku menulis lebih banyak stanza, dan tahukah kau? Aku memliki sebuah lirik sajak, dan itu sangat bagus. Aku tak pernah tahu aku memilikinya dalam diriku! Jadi, ketika hari berikutnya aku menggubah sebuah stanza, mengubah beragam baris, disana sini, tapi segera setelahnya hal itu terlihat klasik.

Seklasik salah satu dari puisi-puisi Rubaiyat-tanpa keniscayaan rima dan matra, tetapi dengan keniscayaan-keniscayaannya sendiri. Kukira itu sebagus puisi-puisi awalku, dan beberapa dari mereka sangatlah bagus; kebanyakan dari mereka tidak, tapi beberapa memang bagus. Lebih jauh, baris-baris itu tidak mempunyai kemiripan dengan bait manapun yang pernah kutulis seumur hidupku, dan lebih jauh lagi, subjeknya sama sekali baru, benar-benar dan hanya tentang diriku sendiri. Tak ada yang lain. Sebuah subjek dimana aku adalah seorang ahlinya. Tak ada seorang pun yang bisa membantahku.

Aku percaya dengan teguh atas otoritas dari pembelajaran. Alasan mengapa Milton merupakan penyair terbesar Inggris kecuali untuk Shakespeare adalah karena otoritas dari pembelajarannya. Aku sarjana di bidang-bidang tertentu, tetapi subjek yang aku mempunyai otoritas penuh atasnya adalah diriku, jadi aku menghapus semua kepura-puraan dan mulai bekerja. Dalam lima atau enam minggu aku memiliki sesuatu yang tampak jelas sebagai sebuah buku berjudul Love & Fame.

Aku memiliki dua puluh empat puisi dan bersiap untuk mencetaknya, tetapi mereka semua sangat aneh, sangat tidak mirip karya-karyaku sebelumnya, karena itu aku merasa sedikit khawatir. Aku mendapat dorongan dari satu atau dua teman, tapi aku masih tak tahu apa yang harus dilakukan.

Aku sebelumnya sudah mengirimkan puisi pertama kepada Arthur Crook di Times Literary Supplement. Dia senang membacanya dan mengirimkanku sebuah contoh cetakan. Aku, sebaliknya, merasa senang bahwa dia menyukainya, jadi aku mengoreksi contoh cetakannya dan mengirimkannya lima puisi lagi-Aku tidak ingin puisi itu tampil sendirian. Jadi dia mencetak keenamnya, yang mengisi satu halaman penuh-sangat indah secara tipografi-dan ini semakin membesarkan hati.

Tapi aku masih tak yakin. Sementara itu, aku sedang berada di rumah sakit. Aku seorang pencemas. Aku telah kehilangan sembilan belas pon dalam lima minggu dan minum-minum banyak sekali-satu quart per hari. Jadi aku meminta penerbitku di New York, Giroux, mengkopi selusin salinan, yang aku kirimkan kepada teman-temanku diseluruh negeri untuk mendapatkan opini mereka. Itu adalah hal yang aneh untuk dilakukan-Aku tak pernah mendengar orang lain melakukannya-tapi aku melakukannya, mencari penguatan diri, konfirmasi, menginginkan kritik, dan seterusnya, dan aku mendapat sejumlah kritik yang sangat baik. Dick Wilbur memilih “Shirley & Auden”, salah satu lirik yang paling penting di bagian pertama-beberapa sajak yang lain begitu ringan, dan yang lainnya sangat ambisius- dan menjadikannya sengsara. Dan aku setuju-aku mengadopsi hampir semua saran.

Aku juga mendapat sejumlah konfirmasi dan penguatan diri, akan tetapi ada opini-opini yang lain juga. Edmund Wilson, yang pendapatnya sangat aku hargai, mendapati buku itu tak punya harapan. Dia mengatakan terdapat beberapa baris yang baik dan bait-bait yang menohok. Bagaimana kau menyukainya? Itu seperti mengatakan kepada seorang perempuan cantik, “Aku menyukai kuku kelingkingmu yang sebelah kiri; itu benar-benar manis,” sementara perempuan itu berdiri telanjang bulat tampak seperti Venus. Aku sangat terluka karena surat itu. Dan kemudian respon-respon yang lain sangatlah aneh. Mark Van Doren, guruku, seorang teman lama dan seorang hakim yang luar biasa bagi puisi, juga menulis. Aku lupa tepatnya yang dia katakan, tapi dia sangat serius dengan buku itu. Dia mengatakan hal-hal seperti “orisinil,” dan “akan berpengaruh”, dan “akan menjadi populer,” dan seterusnya, tapi “juga akan ditakuti dan dibenci.”

Sungguh surat yang sangat mengejutkan! Aku membutuhkan berhari-hari hingga aku terbiasa dengan surat itu, dan aku membutuhkan lebih banyak hari lagi untuk memahami maksudnya. Tapi sekarang aku mengerti apa yang yang dia maksud.

Sejumlah puisinya mengancam, sangat mengancam untuk sebagian pembaca, tak ada keraguan untuk itu. Sebagaimana beberapa orang menganggapku mengancam-berada dalam satu ruangan denganku membuat mereka gila. Dan kemudian ada cukup banyak kecabulan dalam sajak-sajak itu juga. Dan ada begitu banyak belas kasihan dalam sajak-sajak terakhir, yang akan mengganggu banyak orang.

Kau tahu, negeri ini penuh dengan para ateis, dan mereka benar-benar akan merasa diri mereka terancam oleh puisi-puisi itu. Majalah The Saturday Review mencetak lima dari puisi-puisi itu, dan aku menerima banyak sekali surat tentang itu- lagi-lagi menyampaikan opini yang sangat beraneka ragam.

Beberapa orang setulusnya hanya berterimakasih karena aku memberitahu mereka bagaimana menempatkan apa yang mereka rasakan selama bertahun-tahun. Dan ada orang-orang lain yang membencinya—mereka tak menyebutnya tak tulus, tapi mereka hanya tak bisa memercayainya.

*) John Berryman

Continue Reading

Tabloids

Saat Ide Menulis Macet dan Pengarang Putus Asa

mm

Published

on

Ya, itu bisa berwujud apa saja. Bisa saja sebuah suara, sebuah gambar; bisa jadi sebuah momen terdalam dari keputusasaan diri. Misalnya, dengan Ragtime aku sedang sangat putus asa untuk menulis, aku menghadap dinding ruang kerjaku di rumahku yang berada di New Rochelle dan jadilah aku mulai menulis tentang dinding itu. Itu salah satu jenis hari yang terkadang kita alami, sebagai penulis. Kemudian aku menulis tentang rumah yang menempel dengan dinding itu. Rumah itu dibangun tahun 1906, kau paham, jadi aku memikirkan tentang era itu dan bagaimana Broadview Avenue terlihat pada masa itu: mobil-mobil trem listrik berjalan melalui jalan raya yang berada dibawah bukit itu; orang-orang mengenakan baju berwarna putih pada musim panas agar tetap sejuk.

Waktu itu Teddy Roosevelt seorang presiden. Satu hal menuntun ke hal lain dan begitulah buku itu dimulai, melalui keputusasaan menuju gambaran-gambaran itu. Dengan Loon Lake, sangat berbeda, itu hanya sebuah perasaan yang kuat tentang sebuah tempat, perasaan yang membuncah ketika aku menemukan diriku sendiri di Adirondacks setelah bertahun-tahun pergi jauh…dan semua ini sampai pada titik dimana aku melihat sebuah tanda, sebuah penanda jalan: danau Loon. Jadi itu bisa apa saja… aku menyukai bunyi dari dua kata yang bergandengan-danau Loon. Aku memiliki bayangan-bayangan pembuka itu tentang sebuah kereta dengan rel pribadi di atas trek tunggal di malam hari menanjak melalui Adirondacks dengan sekelompok gangster di dalamnya, dan seorang gadis cantiK berdiri, telanjang, memegangi sebuah busana berwarna putih tepat di hadapan cermin untuk mengetahui apakah dia harus mengenakannya.

Aku tak tahu darimana para gangster itu berasal. Aku tahu kemana mereka akan pergi-ke kamp seorang lelaki kaya. Bertahun-tahun lalu orang yang sangat kaya raya menemukan alam liar di pegunungan paling timur Amerika. Mereka membangun kamp yang sangat luar biasa itu-C. W. Post. Harriman, Morgan-mereka menjadikan alam liar itu kemewahan bagi mereka sendiri. Jadi aku membayangkan sebuah kamp semacam ini, dengan para gangster itu, orang-orang kelas bawah itu pergi ke atas menumpang sebuah kereta dengan rel pribadi. Itulah yang membuatku memulai. Aku mempublikasikan materi ini di Kenyon Review, tetapi aku tidak terpuaskan.

Aku terus berpikir tentang bayangan-bayangan itu dan merasa heran darimana hal itu berasal. Latar waktunya adalah tahun 1930an, benar-benar saat terakhir seseorang dapat memiliki jalur kereta mobil pribadi, seperti halnya saat ini orang-orang memiliki jalur jet pribadi. Terjadi sebuah krisis ekonomi saat itu, jadi orang yang menyaksikan kereta yang mengagumkan ini pastilah seorang tunawisma, seorang pejalan kaki. Lalu aku mendapatkan karakterku, Joe, diluar sana dalam kedinginan cuaca seperti ini, kegelapan semacam ini, melihat lampu utama mesin itu menuju kelokan dan membutakannya, dan kemudian selagi kereta itu berlalu menyaksikan orang-orang itu di meja-meja dengan tabir hijau disuguhi minuman-minuman dan gadis itu berdiri di sebuah kamar kompartemen menggenggam gaunnya. Dan pada saat fajar, dia mengikuti lintasan ke arah kereta itu berlalu. Dan dia pergi dan berlari, dan begitu pun diriku.

*) E. L. Doctorow

Continue Reading

Tabloids

Cara Terbaik agar Tidak Gagal Menulis Novel

mm

Published

on

Kecuali jika kau seorang Henry James, hal tersuit adalah memikirkan kalimat pertama.

Apa yang sulit dengan kalimat pertama hingga kau terjebak dengan itu. Segala hal yang lainnya akan mengalir dari kalimat itu. Dan saat kau sudah menuliskan dua kalimat pertama, pilihan-pilihanmu sudah menghilang.

Benar sekali, dan kalimat terakhir dalam sebuah karya adalah sebuah petualangan lain. Kalimat itu harus membuka ceritanya. Ia harus membuatmu kembali dan mulai membaca dari halaman pertama. Begitulah seharusnya, tapi itu tak selalu berhasil. Aku berpikir tentang menuliskan sesuatu apa pun itu sebagai semacam tindakan yang berisiko tinggi. Saat kau mulai membubuhkan kata-kata di atas kertas kau sedang menghapus kemungkinan-kemungkinan.

Kecuali jika kau seorang Henry James.

Kukira itu bagian dari dinamikanya. Aku memulai sebuah buku dan aku ingin membuatnya sempurna, ingin buku itu menghasilkan semua warna, ingin buku itu menjadi dunia itu sendiri. Sepuluh halaman berlalu, aku sudah menghancurkannya, membatasinya, membuatnya lebih sempit, merusaknya. Hal itu sangat mengecilkan hati. Aku membencinya pada saat itu. Setelah beberapa waktu aku tiba pada sebuah kesepakatan: baiklah, itu bukan buku yang ideal, itu bukan objek sempurna yang ingin kubuat, tetapi mungkin saja-jika aku terus melanjutkan dan menyelesaikannya-aku dapat memperbaikinya lain waktu. Mungkin aku bisa mendapatkan kesempatan lain.

*) Joan Didion

Continue Reading

Trending