Connect with us

Cerpen

Kaisar dan Gadis Kecil

mm

Published

on

TAK PUTUSNYA bulan keluar-masuk awan malam itu dan seluruh urat saraf menjadi tegang karena tiap saat dikejutkan oleh manusia atau setan di bayangan remang, dan awan berkejaran di langit; ada yang putih-bening hingga bulan kelihatan menerawang, ada yang kelihatan seperti diselimuti bulu-bulu cokelat, ada yang hitam besar dan bulan pasti lenyap kalau tertangkap. Orang-orang yang ketakutan mengunci pintu dan mereka berhangat-hangat di dalam rumah, di balik tirai yang menolak malam kelam, tetapi ada yang lalu menjadi gundah dan keluarlah mereka mengintai bulan. Mereka suka malam gelap dan mereka berkhayal tentang dunia yang tak tampak, dan keluarlah makhluk-makhluk ajaib dari keremangan menemaninya.

Pada malam itu lebih aman keluar waktu gelap karena siang hari di situ terjadi pertempuran antara orang-orang Inggris-Prancis melawan Jerman. Waktu siang semua berlindung di bawah tanah, sebab kalau kelihatan kepala muncul terus saja: dor! Ditembak Tirai-tirai digantungkan di situ untuk mencegah orang-orang berkeliaran di tanah lapang, tapi tidak serupa tirai jendela, melainkan granat-granat, kepingan-kepingan bom yang menghujam bertubi-tubi, meledak memecah tanah, menghancurkan manusia, ternak dan tanaman; karena itu disebut tirai api. Waktu malam tidak ada tirai api, dan prajurit-prajurit jaga malam tak mudah melihat orang di dalam gelap. Tapi bahaya tetap ada; jadi tak mungkin kita mengingat-ingat setan atau perampok. Bahkan, mau tak mau, kita harus memikirkan granat dan peluru, memikirkan mereka yang masih bergelimang di tempat mereka terbunuh atau mendapat luka. Maka tidaklah mengherankan, bahwa tak ada orang yang berjalan-jalan menikmati bulan atau menonton kembang api, sebab memang tak ada kembang api. Pada waktu-waktu tertentu, prajurit-prajurit jaga malam melemparkan granat yang bercahaya ke langit dan menyinari orang-orang dan barang yang ada di bawah. Maka terus saja orang-orang itu menjatuhkandiri dan pura-pura mati sampai suasana menjadi gelap kembali. Mereka adalah mata-mata yang sedang mengintai lawannya, orang-orang yang mencari kawannya yang luka atau yang sedang memasang kawat berduri di sekitar lubang perlindungan.

Kira-kira jam setengah dua belas lebih sedikit. Di suatu tempat yang sunyi, di mana tak ada orang merunduk-runduk, dan terlalu jauh dari sinar granat cahaya, datanglah seorang berjalan dan melangkah panjang dengan ganjilnya, sebab ia tak mencari orang-orang yang luka. Ia bukan mata-mata dan tidak sedang melakukan pekerjaan-pekerjaan tentara; ia hanya berjalan-jalan saja, berhenti, berjalan lagi, dan ia tak pernah membungkuk untuk mengangkat sesuatu. Terkadang, kalau ada granat cahaya yang terlalu dekat sehingga ia tampak terang, ia berhenti dan berdiri tegak sambil melipat tangannya. Setelah gelap kembali ia berjalan lagi, melangkah seperti orang yang angkuh, meskipun ia harus hati-hati menampakkan kakinya karena tanah penuh rongga dan berlubang akibat granat dan kepingan-kepingan bom, dan jangan sampai mayat prajurit terinjak olehnya. Ia bersikap angkuh dan tinggi hati, karena ia Kaisar Jerman. Kalau ia ada di suatu sudut tertentu antara kau dengan bulan, atau granat cahaya, akan kau lihat pucuk kumisnya yang melengkung ke atas, persis seperti pada potret-potretnya. Tapi umumnya ia tidak tampak karena gelap, kecuali jika kau mendekatinya.

Malam itu gelap sekali, dan meskipun ia berjalan hati-hati, namun ia terjerumus ke sebuah lubang ranjau dan hampir saja jatuh tersungkur. Tapi ia selamat karena tangannya berhasil menjagkau sesuatu. Dikiranya segebung rumput, tapi rupanya janggut orang Prancis, dan orang Prancis itu sudah mati. Ketika itu bulan menjenguk sebentar dan tampak oleh Sang Kaisar sejumlah mayat prajurit; orang-orang Prancis dan Jerman yang bergelimpangan di dalam lubang, dan tampaknya mayat-mayat itu memandanginya dengan tajam.

Sang Kaisar terkejut setengah mati. Sebelum ia sempat berpikir, meluncurlah kata-kata Jerman dari mulutnya, “Ich habe es nicht gewollt,” atau ‘bukan salahku’, atau ‘bukan maksudku,’ atau terkadang ‘bukannya aku’; seperti pembelaan seseorang yang dipersalahkan karena telah berbuat sesuatu. Lalu ia merangkak keluar dari lubang dan berjalan lagi ke arah yang lain. Tetapi hatinya tidak enak, maka dirasanya perlu duduk sebentar. Sesungguhnya ia dapat berjalan terus kalau dipaksa, tapi peti mesiu yang didudukinya itu terlalu enak untuk ditinggalkan begitu saja, sehingga diputuskannya istirahat sebentar sampai ia segera kembali.

            Peristiwa selanjutnya sungguh tak terduga, sebab sesuatu berwarna cokelat datang menghampirnya dari kegelapan, dan mungkin dikiranya itu seekor anjing, tapi didengarnya benda itu berdenting disertai suara langkah kaki. Setelah dekat, tampak olehnya seorang gadis kecil, terlalu kecil untuk berkeliaran jam dua belas kurang seperempat tengah malam.

Suara denting-denting itu disebabkan oleh panci kaleng yang dibawanya. Dan ia menangis, tidak keras, hanya tersedu-sedu. Ketika dilihatnya Sang Kaisar, ia tidak menjadi takut atau terkejut; ia berhenti menangis dan katanya antara sedu-sedan, “sayang, airnya tumpah semua.”

“Ah, sayang sekali,” kata Sang Kaisar; ia sudah terbiasa dengan anak-anak. “Kau haus sekali? Aku punya botol minum, tapi mugnkin isinya terlalu keras untukmu.”

“Aku tak ingin minum,” jawab gadis kecil itu keheranan.

“Dan kau? Kau luka?”

“Tidak,” kata Sang Kaisar, “kenapa kau menangis?”

Gadis kecil itu hampir menangis lagi. “Prajurit-prajurit itu nakal,” katanya; ia mendekat pada Sang Kaisar dan bersandar di lututnya. “Ada empat prajurit di lubang ranjau, di sana. Seorang Tommy, seorang Hairy, dan dua orang Boche.”

“Kau tidak boleh menyebut prajurit Jerman seorang Boche,” kata sang Kaisar kereng, “itu salah, salah sama sekali!”

“Tidak,” kata gadis kecil, “itu betul. Prajurit Inggris namanya Tommy, prajurit Prancis disebut Hairy, dan prajurit Jerman namanya Boche. Ibu bilang begitu. Dan semua orang juga. Boche yang satu memakai kacamata, dan rupanya seperti guru sekolah. Yang lainnya sudah dua malam di situ. Ke empat-empatnya tak dapat bergerak. Mereka nakal semua. Telah kubawakan air untuk mereka, dan mula-mula mereka berterima kasih dan berdoa Tuhan akan membalasku, kecuali si guru sekolah itu. Lalu jatuhlah sebuah granat, dan meskipun jauh, mereka mengusirku pulang ke rumah. Kalau tidak aku akan dimakan beruang, katanya, dan Ayah akan memukulku dengan cambuk. Guru sekolah itu memaki-maki, bahwa mereka pengecut semua, tidak ada apa-apanya, tapi ia pun berbisik menyuruhku pulang. Boleh aku tinggal di sini denganmu? Ayah tak akan memukulku, sungguh, tapi aku takut dimakan beruang.”

“Kau boleh tinggal denganku,” kata Sang Kaisar, “nanti kupukul beruang itu. Dan tidak ada beruang di sini.”

“Kau yakin betul?” kata gadis kecil. “Kata Tommy itu ada beruang besar yang makan anak-anak kecil, setelah itu dimasaknya mereka di dalam perutnya.”

“Orang Inggris selalu bohong,” kata Sang Kaisar.

“Mula-mula ia baik,” kata gadis kecil dan ia mulai menangis lagi. “Ia tak akan mengatakannya kalau ia sendiri tak percaya, tapi mungkin karena luka-lukanya terlalu sakit maka ia berkhayal tentang beruang-beruang.”

“Jangan menangis,” kata Sang Kaisar. “Maksudnya baik; mereka takut kau mendapat luka-luka seperti mereka. Mereka menyuruhmu pulang biar selamat.”

“Oh, aku biasa melihat granat,” kata gadis kecil. “Setiap malam aku keluar membawakan air untuk yang luka-luka, karena Ayah pernah selama lima malam tak ada yang menolong dan ia sangat kehausan.”

Ich habe es nich gewollt,” kata Sang Kaisar dan ia merasa hatinya tidak enak lagi.

“Kau seorang Boche?” kata gadis kecil, sebab sebelumnya Sang Kaisar berbahasa Prancis dengannya. “Bahasa Prancismu baik, tapi mungkin kau seorang Inggris?”

“Aku setengah Inggris,” kata Sang Kaisar.

“Ah, lucu sekali,” kata gadis kecil. “Kau harus hati-hati, sebab kau bisa ditembak oleh kedua pihak.” Sang Kaisar tertawa parau, dan bulan muncul dan menyinarinya lebih terang dari sebelumnya.

“Baju mantelmu bagus, dan seragammu amat bersih,” kata gadis kecil, “bagaimana pakaianmu bisa tetap bersih, sedang kau harus rebah di tanah kalau ada granat cahaya di atas?”

“Aku tidak rebah. Aku berdiri tegak. Maka pakaianku tetap bersih,” kata Sang Kaisar.

“Kau tidak boleh berdiri tegak,” kata gadis kecil. “Kalau kau ketahuan, kita akan ditembaki.”

“Baik,” kata Sang Kaisar. “Aku akan rebah untukmu selama kau masih ada di sini, tapi sekarang mari, kuantar kau pulang. Dimana rumahmu?”

Gadis kecil tertawa. “Kami tidak punya rumah,” katanya. “Mula-mula dusun kami dibom Jerman. Terus didudukinya, lalu dibom oleh Prancis. Kemudian datang tentara Inggris dan mereka terus mengebomnya dan mengusir pergi orang-orang Jerman. Sekarang ketiganya mengebomnya bersama-sama. Rumah kami tujuh kali kena granat, dan kandang sapi sampai sembilan belas kali. Tapi anehnya, tidak seekor sapi pun yang kena. Ayah bilang 25.000 franc ongkosnya kalau bisa menghancurkan kandang sapi itu.Ia bangga sekali.”

Ich habe es nicht gewollt,” kata Sang Kaisar, dan ia merasa tidak enak lagi. Setelah segar kembali, ia berkata, “Di mana kau tinggal sekarang?”

“Di mana saja,” kata gadis kecil. “Oh, itu soal mudah. Kami sudah terbiasa sekarang. Siapa kau sebenarnya? Pengangkut brankar?

“Bukan, Anakku,” kata Sang Kaisar, “aku disebut orang Sang Kaisar.”

“Aku tidak tahu kalau ada lebih dari satu kaisar,” kata gadis kecil.

“Ada tiga,” kata Sang Kaisar.

“Ketiga-tiganya berkumis tengadah seperti kau?” kata gadis kecil.

“Tidak,” kata Sang Kaisar, “mereka boleh berjanggut kalau kumisnya tak bisa tegak.”

“Mestinya digulung dengan kertas seperti rambutku pada waktu paskah,” kata gadis kecil. “Apa kerja seroang kaisar? Bertempur atau mengangkut yang luka-luka?”

“Sesungguhnya seorang kaisar tidak berbuat apa-apa,” kata Sang Kaisar, “Ia berpikir.”

“Apa yang dipikirkannya?” kata gadis kecil, sebab seperti juga semua anak kecil, ia kurang tahu soal orang lain, sehingga terpaksa ia sering bertanya dan kadang orang berkata; jangan suka ingin tahu, dan ibunya biasa berkata; jangan bertanya supaya tidak dibohongi.

“Kalau seorang kaisar harus mengatakannya, maka ia tidak berpikir. Betul tidak?” kata Sang Kaisar, “Melainkan ia bicara.”

“Lucu benar jadi kasiran,” kata gadis kecil. “Tapi apa sesungguhnya kerjamu malam-malam di sini, sedang kau tidak luka-luka?”

“Maukah kau berjanji tak akan mengatakannya pada orang lain?” kata Sang Kaisar, “Ini rahasia.”

“Aku berjanji,” kata gadis kecil. “Katakanlah, aku suka mendengar rahasia.”

            “Dengarkan,” kata Sang Kaisar, “pagi tadi aku harus berpidato untuk prajurit-prajuritku, bahwa aku tak dapat turut bersama mereka ke front untuk bertempur, sebab kalau aku mati mereka tak tahu apa yang harus diperbuat. Mereka akan digempur dan mereka akan mati.”

“Nakal benar kau,” kata gadis kecil, “kau bohong,bukan? Waktu kakaku terbunuh, terus saja ia digantikan oleh orang lain, dan peran berjalan terus seolah tak ada kejadian apa-apa. Mestinya mereka berhenti sebentar, tapi tidak, mereka bertempur terus. Kalau kau terbunuh, adakah penggantimu?”

“Ada,” kata Sang Kaisar, “anakku.”

“Nah, tapi mengapa kau harus berdusta?” kata gadis kecil.

“Aku harus begitu,” kata Sang Kaisar, “itulah kewajiban seorang kaisar. Ia harus mau mengatakan sesuatu yang tak mungkin dipercaya oleh dirinya sendiri, ataupun oleh orang lain. Kulihat pada wajah prajurit-prajurit itu, bahwa mereka tidak percaya dan mereka pasti mengira aku seorang pengecut yang sedang membela diri. Maka, setelah malam, aku pura-pura pergi tidur, tapi setelah semua orang pergi, aku pelan-pelan keluar untuk menunjukkan bahwa aku tidak takut. Itu sebabnya aku berdiri tegak, meskipun ada granat cahaya.”

“Mengapa tidak di waktu siang saja kau datang?” kata gadis kecil. “Waktu siang adalah yang paling berbahaya.”

“Aku tidak diizinkan pergi,” kata Sang Kaisar.

“Kasihan,” kata gadis kecil. “Aku kasihan padamu. Mudah-mudahan kau tidak mendapat luka. Tetapi jika kau terluka, kubawakan air nanti.”

Sang Kaisar terharu mendengar kata-kata itu, maka diciumnya gadis kecil sebelum ia bangkit dan dibimbingnya anak itu ke tempat yang aman. Gadis kecil pun amat bersukacita, sehingga ia lupa akan bahaya. Itulah sebabnya mereka tak menghiraukan granat yang bercahaya di depannya; bahwa sosok tubuh Sang Kaisar yang tinggi itu tampak dari jauh, meskipun gadis kecil dengan pakaiannya yang cokelat-kumal dan wajah tak terlalu bersih itu dari kejauhan hanya tampak seperti seonggok sarang semut belaka.

Saat berikutnya terdengarlah suara yang menyeramkan; suara granat melintas dengan cepat, sehingga baru kedengaran ledakannya ketika granat itu sudah tepat menuju ke arah dua orang itu. Sang Kaisar cepat-cepat melihat ke sekitarnya, dan ketika itu dua granat cahaya bersinar di udara, dan sebuah granat lain datang dari kejauhan ke arah mereka. Dan kali ini granat itu besar sekali; terlihat oleh Sang Kaisar peluru itu terbang di udara seperti gajah mengamuk, dan suaranya seperti kereta api di dalam terowongan. Granat yang pertama meledak tidak jauh dari situ, dan suaranya seperti membelah bumi, sehingga rasanya tepat di dalam telinga Sang Kaisar. Sementara itu granat kedua datang menyerbu.

Sang Kaisar menjatuhkan diri dan kedua tangannya mencengkeram tanah, seolah ia hendak menyembunyikan diri disitu. Barulah diingatnya gadis kecil itu; bulu kuduknya tegak begitu berpikir mungkin anak itu sudah hancur tertembak, sehingga ia tidak memedulikan keselamatan dirinya lagi dan melompat akan melindungi gadis kecil itu dengan tubuhnya.

Tetapi pikiran lebih cepat datang daripada pelaksaannya, dan granat-granat hampir secepat pikiran-pikiran itu. Sebelum Sang Kaisar sempat melepaskan genggaman tangannya, sebelum ia dapat berlutut dan bangkit, terdengarlah suara yang menegakkan bulu roma. Belum pernah Sang Kaisar mendengar suara yang begitu menakutkan, meskipun ia sudah terbiasa mendengar granat-granat dari kejauhan. Itu bukanlah ledakkan, bukan sesuatu yang gemuruh,bukan sesuatu yang mengguntur, melainkan sesuatu yang menyeramkan; suara pecah-ledak-hancur membelah bumi, seolah hari kiamat. Satu menit Sang Kaisar mengira ia telah hancur dari dalam, sebab sesunguhnya granat dapat menghancurkan manusia dari dalam bila tidak sungguh-sungguh kena. Setelah ia bangkit, ia tak tahu apakah ia tegak dengan kepala terbalik atau berdiri pada kedua kakinya, dan sesungguhnya ia tidak terbalik dan tidak pula tegak sebab ia terjatuh berkali-kali. Dan setelah ia berhasil menapakkan kakinya sambil berpegangan pada sesuatu, tahulah ia bahwa sesuatu itu adalah sebatang pohon yang tumbuh jauh dari tempat semula ia berdiri, dan tahulah ia bahwa ia terpelanting ke situ karena ledakan itu. Dan yang pertama-tama diucapkannya adalah, “Mana anak itu?”

“Di sini,” terdengar suara di pohon di atas kepalanya. Suara si gadis kecil.

Gott sei dank!” kata Sang Kaisar lega. “Syukurlah! Kau luka, Anakku? Kukira kau telah hancur-lebur.”

“Sesungguhnya aku hancur-lebur.” Suara gadis kecil. “Hancur menjadi dua ribu tiga puluh tujuh kepingan-kepingan kecil. Granat itu jatuh tepat di pangkuanku. Kepingan yang paling besar adalah jari kelingking kakiku, di sana letaknya, kira-kira setengah mil dari sini. Salah satu kuku ibu jariku di sana jatuhnya, setengah mil ke arah sana, dan ada empat helai bulu mataku di lubang itu, di tempat keempat orang itu meninggalkan tubuhnya, dan satu gigi depanku terselip pada ban topi helm-mu. Tapi aku tidak heran, sebab kejadian itu tidak terduga. Sisa-sisa badanku yang lain sudah terbakar dan hancur menjadi debu.”

Ich habe es nicht gewollt,” kata Sang Kaisar, dan suaranya murung menimbulkan iba. Tapi gadis kecil tidak menjadi iba; ia hanya berkata:

            “Oh, sesudah ini terjadi, tak berarti kau salah atau tidak. Aku tertawa melihatmu terlungkup dengan pakaian seragammu yang indah itu. Aku terus tertawa sampai tak terasa olehku granat itu, meskipun aku sangat terpukul karenanya. Sekarang pun rupamu masih lucu, mencengkeram pohon dan terhuyung-huyung seperti nenek yang sedang mabuk.”

Sang Kaisar mendengar tawanya, tapi ia terkejut sebab terdengar pula tawa orang-orang lain; suara kasar laki-laki.

“Siapa yang tertawa disitu?” katanya. “Ada orang lain di situ?”

“Oh, banyak sekali,” suara gadis kecil. “Keempat orang dari lubang itu. Granat yang pertama telah membebaskan mereka.”

Du hast es nich gewollt, Whilhelm, was?” terdengar suara kasar, lalu semua suara tertawa, sebab lucu benar mendengar seorang prajurit menyebut Sang Kaisar dengan nama itu.

“Kau tak boleh mengingkari kehormatan yang kuajarkan padamu, dan kau patut mengakui hak-hakku,” kata Sang Kaisar. “Bukan kehendakku menjadi kaisar. Kau yang membimbingku ke arah itu, dan kau yang melarang aku berbuat sesperti manusia biasa, sejajar denganmu. Maka sekarang kuperintahkan kau memperlakukan aku sebagai dewa, sebagaimana tuhan menjadikanku.”

“Tak ada gunanya bicara dengan mereka,” suara gadis kecil, “mereka sudah terbang semua. Mereka tidak mendengar kata-katamu, karena mereka tidak menghiraukanmu. Tak ada lagi yang tinggal kecuali aku dan Boche berkacamata itu.”

Terdengar suara laki-laki dari arah pohon.

“Aku tidak pergi bersama mereka, karena aku tak suka bergaul dengan prajurit-prajurit,” kata suara itu. “Mereka tahu, kau yang menjadikan aku seorang profesor untuk menceritakan segala omong kosong tentang nenek moyangmu.”

“Tolol,” kata Sang Kaisar, “pernahkah kau mengatakan pada mereka yang sebenarnya tentang nenekmu sendiri?”

Tak ada jawaban, dan kemudian terdengar suara gadis kecil itu, “Ia sudah pergi. Kukira neneknya tidak lebih baik daripada nenekmu atau nenekku. Dan sekarang aku pun akan pergi. Menyesal sekali, sebab aku sayang padamu sebelum aku dibebaskan oleh granat itu. Tapi sekarang, bagaimanapun juga, kau bukan soal lagi.”

“Anakku,” kata Sang Kaisar, dan hatinya sedih karena gadis kecil itu akan meninggalkannya. “Aku akan selalu mengingatkanmu.”

“Betul,” suara gadis kecil, “tapi bagiku kau tak berarti lagi. Dan sebenarnya, dulu pun kau tak berarti bagiku, kecuali ketika aku ketakutan kalau-kalau kau akan membunuhku. Kukira pasti sakit rasanya, karena aku belum tahu bahwa itu justru akan membebaskanku. Sekarang aku sudah bebas, dan karena ini lebih enak daripada lapar dan takut, maka kau bukan soal lagi. Selamat tinggal!”

“Tunggu sebentar,” kata Sang Kaisar mengiba. “Jangan tergesa-gesa, aku merasa kesepian.”

“Mengapa tak kauperintahkan prajurit-prajurit itu menembakmu, seperti yang mereka lakukan padaku?” suara gadis kecil. “Kau jadi bebas, dan kita bisa terbang bersama kalau perlu. Tak mungkin aku tetap menemanimu, kecuali jika kau sudah bebas pula.”

“Aku tidak boleh,” kata Sang Kaisar.

“Mengapa tidak boleh?” suara gadis kecil.

“Sebab itu tidak biasa,” kata Sang Kaisar. “Dan celakalah seorang kaisar yang melakukan sesuatu yang tidak biasa, karena ia sendiri hanya suatu kebiasaan semata.”

“Panjang sekali perkataan itu.Belum pernah kudengar sebelumnya,” suara gadis kecil. “Mungkinkah artinya segumpal tanah tak dapat meninggalkan bumi, bertapapun ia berusaha?”

“Betul,” kata Sang Kaisar. “Itu artinya.”

“Kalau begitu, boleh kautunggu sampai Tommy-Tommy dan Hairy-Hairy itu menembakkan meriamnya padamu,” suara gadis kecil. “Jangan sedih, mereka pasti mau melakukannya kalau kau tetap tegak meski ada granat cahaya. Sekarang, kuberikan kau ciuman terakhir, sebab kau telah menciumku sebelum aku bebas. Tapi beoleh jadi kau tak dapat merasakannya.”

Dan benar juga katanya, sebab meskipun Sang Kaisar berusaha merasakannya, ia tidak merasakan apa-apa. Dan yang lebih menyiksa lagi adalah karena dia dapat melihat sesuatu, karena ia tengadah ke arah suara yang berkata akan menciumnya itu; dan dilihatnya sosok gadis itu cantik, molek dan segar-memawar, dengan sepasang sayap terbang ke bumi, sangat bersih tubuhnya, dan agaknya tak terpikir oleh gadis kecil itu bahwa ia tidak berpakaian secabik pun, dan kedua lengannya memeluk leher Sang Kaisar serta menciumnya sebelum ia terbang meninggalkannya. Semua itu tampak jelas oleh Sang Kaisar dan ini sungguh ajaib, sebab tak ada cahaya kecuali sinar bulan yang remang, yang seharusnya tampak kelabu atau putih seperti burung pungguk, tapi tubuh kecil itu terang dan tampak cantik bagai bunga mawar. Hati Sang Kaisar pilu ditinggalkan oleh gadis kecil, tetapi semua itu lenyap karena sekonyong-konyong terdengar beberapa orang menyapanya. Tak diketahui kapan mereka datang. Mereka adalah dua perwira Sang Kaisar, dan mereka bertanya penuh hormat; apakah granat itu telah melukainya. Bidadari itu lenyap saat kata pertama diucapkan perwira itu. Sang Kaisar marah sekali karena orang-orang itu telah mengusirnya, sehingga ia tak berkata-kata lagi. Kemudian, dengan kasar, ia menanyakan  jalan kembali ke “penjara”. Tetapi ketika dilihatnya bahwa mereka tak mengerti serta memandanginya seolah melihat orang gila, ia lalu menanyakan jalan ke markasnya; maksudnya ke tendanya. Mereka menunjukkan jalan itu, dan ia melangkah di muka keda perwira itu sampai ke tempat yang dituju. Semua prajurit jaga menyapanya dan memberi hormat, setelah dijawab oleh kedua perwira itu. Lalu ia mengucapkan selamat tidur, pendek sekali, dan ia sudah siap naik ke tempat tidurnya ketika salah seorang dari mereka bertanya; takut kalau-kalau mereka perlu membuat laporan tentang kejadian itu. Satu-satunya jaswaban Sang Kaisar adalah, “Kalian semua sekumpulan orang gila!”, dan itu kutukan yang mengerikan.

Mereka berpandangan satu sama lain, lalu salah seorang diantaranya berkata:

“Yang Mulia mabuk,” dan itu juga kutukan yang mengerikan. Untung saja Sang Kaisar sedang memikirkan gadis kecil itu dan tak mendengar apa yang dikatakan perwira tadi. Tetapi andaikan ia mendengarnya, itu juga tidak berarti, karena semua prajurit kasar di mulut tanpa bermaksud jahat. (Penerjemah: Hartini).

*GEORGE BERNARD SHAW: (Nobel Prize for Literature 1925)

Lahir di Dublin, Irlandia tahun 1856 dan meninggal tahun 1950. Bersama William Butler Yeats dan James Joyce, Shaw sering disebut sebagai salah satu maestro sastra Irlandia, meski akhirnya ia hijrah dan menjadi warga negara Inggris.

Shaw lebih dikenal sebagai penulis drama. Karya-karya dramanya mencapai lebih dari 50 judul dan sebagian besar telah menjadi drama-drama klasik Barat, di antaranya yang populer adalah Arms and the Man (1894), Candida (1894), Caesar and Cleopatra (1898), Man and Superman (1903), Back to Methuselah (1920), Saint Joan (1923), The Millionairess (1936), dan masih banyak lagi.

Dalam keterangan pers-nya, Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Kesusasteraan pada Shaw sebagai pengakuan: “ ….. atas karyanya yang memperlihatkan idealisme dan kemanusiaan, satirenya yang menggugah, sering dijiwai keindahan puitik yang khas …..”

Shaw adalah sastrawan kedua Inggris (setelah Rudyard Kipling tahun 1907), sekaligus sastrawan kedua Irlandia (setelah William Butler Yeats tahun 1923) yang memperoleh penghargaan tersebut.

 

Cerpen

Asmara Lembah Silikon

mm

Published

on

Kegentingan yang terjadi akibat ulah Hafiz Imtiaz tak mungkin diselamatkan. Big data harus merelakan kehilangan limbah digital yang sudah membatu di gudang penyimpanan milik pemulung. Namun, para  founder dan co-founder di Lembah Silikon tak perlu terlalu gusar. Irman Gugelman dan Hafiz Imtiaz berhasil mencapai kesepakatan.

Damhuri Muhammad *)

Di mata orang-orang yang lemah daya ingat, Hafiz Imtiaz adalah hard disk drive  (HDD)  bernyawa.  Seolah-olah ada ribuan folder  penyimpan ingatan dalam big storage  yang tertanam di jantungnya. Di gudang penyimpanan itulah rupa-rupa ingatan dikandangkan. Mulai dari ingatan remeh, seperti hari pertama bisa pipis sendiri, hari pertama bisa menyalakan korek api, hari pertama pakai seragam sekolah, atau hari pertama bisa mengendarai sepeda tanpa bantuan dua roda samping.

            Ada pula folder berisi memori-memori yang terklasifikasi pada level medium, semacam rahasia perempuan yang ternyata berjodoh dengan laki-laki yang dulu kerap ia hina dengan kata-kata yang lebih menyakitkan dari kematian, jawaban atas rasa penasaran kenapa gadis ayu level dewa rela menerima pinangan duda seusia bapaknya, termasuk ingatan atas hari pertama melihat tubuh perempuan tanpa busana dari pengalaman mengintip orang mandi. Tersedia pula folder khusus dengan berlapis-lapis kata kunci, berisi koleksi ingatan berkategori kelas berat. Misalnya, jawaban akurat atas tanda tanya besar perihal kematian mendadak seorang jaksa tinggi yang lazimnya dibereskan dengan dalih serangan jantung. Atau jawaban tak tersangkal atas  kenyinyiran netizen kenapa seorang Presiden yang dulu dibela mati-matian oleh pendukungnya, kini menjadi penguasa kesepian dan tinggal menunggu momentum derita post power syndrome.

            Sebelum total berkhidmat sebagai penggenggam ingatan, Hafiz Imtiaz pernah menyebut dirinya sebagai pemulung. Pekerjaannya mengais-ngais sampah di belantara big data, seperti pemulung yang berkeliling dari gang ke gang di permukiman padat, mencari kardus atau botol plastik bekas. Di jagat maya, sampah yang ia bereskan tentu meme sisa TwitWar, politisi berkepala lembu hasil olah photoshop, diagram palsu, hingga infografis berisi statistik yang sudah ketahuan halu.

            “Sampah doyannya sampah juga,” sindir netizen, saat Hafiz Imtiaz sempat mengunggah meme kadaluarsa berjudul dibuang sayang.

Tapi ketika sebuah isu baru memerlukan sokongan konten lama itu, meme milik si penggenggam ingatan sudah lenyap. Sampah yang melesap ke dalam big storage-nya hilang tak berbekas, dan tak bakal terlacak search engine secanggih Google sekalipun. Piranti lunak bikinan Hafiz Imtiaz bagai mesin pengisap hoaks, kebencian, dan  bacot unfaedah. Akibat pekerjaan si pemulung, ruang interaksi media sosial tidak lagi bergairah. Konten yang tersisa hanya buku-buku teori yang bikin ngantuk, nasihat-nasihat jaim berbungkus basa-basi, dan video-video kultum yang lebih buruk dari pidato politisi.

            “Hai Pemulung. Algoritmamu itu, mukjizat dari rasul mana?” tanya seorang pakar datamining  bernama Irman Gugelman, yang kemudian diketahui sebagai utusan khusus penguasa Lembah Silikon.

            “Kau mau kemewahan seperti apa, anak muda? Jangan menganggu tatanan  kekacauan informasi bikinan kami!” lanjut Irman Gugelman, yang terdengar seperti bujukan.

            “Saya memulung yang tak berguna. Mukjizat itu datang dari jazirah Bantar Gebang. Seperti langit dan bumi bedanya dengan Lembah Silikon,” balas Hafiz Imtiaz. Santai.

Meski dapat menembus big storage milik pemulung, misi penting utusan khusus dari Lembah Silikon gagal. Jutaan gigabyte limbah, aset penting penguasa Lembah Silikon, sudah terlanjur menjadi fosil di big storage si pemulung.

            “Secara visual, timbunan fosil itu membentuk anatomi makhluk yang sedang membungkuk, seolah-olah ia sedangmenyembah Dajjal itu!” kata Irman Gugelman, melaporkan kegagalan misinya.

            “Rekomendasi Anda?” tanya pejabat ring satu Lembah Silikon.

Irman Gugelman diam. Ia hanya membayangkan algoritma baru, yang dapat menciptakan kecerdasan buatan sekaliber kecerdasan Nabi, terutama yang  punya mukjizat dapat menghidupkan data mati.

***

            Kegentingan yang terjadi akibat ulah Hafiz Imtiaz tak mungkin diselamatkan. Big data harus merelakan kehilangan limbah digital yang sudah membatu di gudang penyimpanan milik pemulung. Namun, para  founder dan co-founder di Lembah Silikon tak perlu terlalu gusar. Irman Gugelman dan Hafiz Imtiaz berhasil mencapai kesepakatan.

            “Yang sudah hilang tak bisa kalian temukan. Tapi, saya akan berhenti sebagai pemulung!” kata Hafiz Imtiaz setelah menolak semua iming-iming dari Lembah Silikon.

            “Sekadar simpanan guna mengamankan hidupmu di usia senja, tak berminat juga, Pemulung?” tanya Irman Gugelman, yang ia maklumatkan sebagai peluang penghabisan.

            “Saya tidak akan pernah tua! Saya menolak ketuaan. Ndak usah repot-repot, Sodara!” balas Hafiz Imtiaz.

            Sejak itulah si pemulung beralihrupa menjadi penggenggam ingatan. Itupun hanya untuk membuat piranti lunak bikinannya tetap bekerja, sekadar bertahan untuk tidak berakhir sebagai barang rongsokan. Portofolio Hafiz Imtiaz yang pernah mengguncang kedigdayaan para inventor dan inovator Lembah Silikon, membuat ia begitu mudah mendapatkan klien. Si penggenggam ingatan seperti gula yang dikerubungi kawanan semut. Banyak tawaran yang mengandung ajakan agar ia kembali berkiprah sebagai pemulung dalam wajah baru, misalnya menghisap data pribadi dari sebuah platform percakapan daring yang disebut-sebut telah meraup 7 juta user. Tangkapan besar yang sangat berharga bagi saudagar ruang iklan, dan potensi tak ternilai  incaran para kontestan pemilihan Walikota.

            “Kami bisa membantu penyempurnaan piranti lunak Anda. Setelah itu kita bergembira ria di pesta kemenangan Walikota,” kata perwakilan tim sukses salah satu kandidat.

            “Tiga kali tawaran macam ini mendatangi saya, dan saya sudah menolaknya empat kali. Saya alergi politik. Bila kambuh, antibiotiknya kurang ampuh!” kata Hafiz Imtiaz.

            Penggenggam ingatan tak tergoyahkan. Ia hanya ingin bekerja atas nama kemanusiaan. Menyimpan dan mengonservasi ingatan yang di masa datang mungkin akan berguna, terutama bagi kaum yang sudah tumpul daya ingatnya. Hafiz Imtiaz tahu betul, sampah-sampah digital yang ia musnahkan, telah membuat banyak orang abai menjaga ingatan. Terlalu banyak bicara, ketagihan bergunjing, dan hobi berkelahi di linimasa, bisa membuat orang tidak lagi mampu menghapal nomor ponsel sendiri.

            “Ini tentang letak tahi lalat Miftahul Hayati, mantan nomor delapan. Kelak saya akan mengambilnya,” kata pelanggan mula-mula bernama Aulad Mustaqbal. “Jangan sekali-kali berpikir untuk kembali mengaktifkan fitur pemusnahan di perkakas rongsokmu itu!”  tambah Aulad dengan sorot mata mengandung ancaman.

            “Soal imbalan atas jasa ini, tak perlu kuatir.  Sesuai tarif yang tertera, dan tak bakal ditawar.”  

            Bagi Aulad Mustaqbal, mantan nomor delapan itu istimewa. Sekali waktu, pernah menyelamatkan mukanya di hadapan ibu mertua. Masa itu ia sedang jalan berduaan dengan Miftahul Hayati di sebuah mal. Celakanya, ibu mertua sedang berbelanja di mall yang sama. Mereka berpapasan di pintu masuk sebuah toko pakaian dalam. Beruntung ada kawan laki-laki bernama Untung di antara dirinya dan Miftahul Hayati. “Ini siapa, Ananda?” tanya ibu mertua, curiga. Aulad Mustaqbal berkeringat dingin, tapi Miftahul Hayati lekas bertindak. “Saya istri Mas Untung!” balasnya, sambil merangkul sahabat kekasihnya itu. Ibu mertua lega. Curiga yang menyala-nyala padam seketika.

            “Titipan saya hanya berisi angka-angka. Tapi kalau hilang, percayalah, saya akan menderita sebagai tua bangka tanpa nostalgia,” kata pelanggan selanjutnya.

            Di folder itu tersimpan nomor punggung pesepak bola idola ayahnya, saat pelanggan itu berusia 9 tahun. Begitu juga nomor celana dalam pertama, yang dibelikan ibunya beberapa hari setelah ia disunat. Nomor rumah tempat ia dirawat sebagai bayi prematur sebelum kemudian pindah dari kota ke kota, dari negara ke negara. Nomor sepatu olah raga pertama hadiah paman, pada hari ulang tahun yang tak didampingi ayah-ibu lantaran keduanya sedang menjalani sidang perceraian di pengadilan agama.  Dan, yang paling berharga adalah nomor kursi yang tertera pada lembaran tiket bioskop, pada kesempatan mula-mula ia memberanikan diri menonton dengan pacar perdana.

            Jangan dikira mereka tidak berlangganan platform dengan teknologi komputasi awan semacam I-Cloud atau Google Drive. Tapi menurut analisa si penggenggam ingatan, mereka tidak mau lagi bertelanjang dalam jerat raksasa bikinan orang-orang culas di Lembah Silikon. Perisai privasi mereka sudah bolong di sana-sini, lantaran terlalu sering mengunggah data pribadi dalam ekosistem digital. Mereka ingin melarikan diri dari intaian algoritma yang memperlakukan mereka sebagai mangsa di belantara big data.

            “Bagaimana kita bisa mempercayai penggenggam ingatan?” tanya Aulad Mustaqbal pada sejawat-sejawat sesama pelanggan.

            “Semua jejaknya mengandung perlawanan atas kuasa Lembah Silikon. Ia belum punya pengalaman berkhianat!” balas pelanggan bernama Maya Rumantir.

            “Lagi pula, titipan kita cuma remah-remah yang tak mungkin laku dijual.”

            “Apa kau bilang? Remah-remah? Aku sudah lama mencari mantan kedelapan. Hanya saja aku sedang sibuk untuk beberapa tahun ke depan, makanya kunci pencarian kutitipkan sementara. Jaga bicaramu, Nyonya!”

            “Ahai, kau pikir letak tahi lalat tak bergeser pasca revolusi kosmetik?”

            “Berhentilah menakut-nakutiku seperti anak kecil!”

            “Penggenggam ingatan peluang kita satu-satunya. Juru selamat dari penjarahan ingatan besar-besaran yang dikendalikan dari Lembah Silikon. Percayai Hafiz Imtiaz! Oke?”

            “Yups. I have no choice!

****

            Lantaran berbagai kesibukan, kotak surel milik Aulad Mustaqbal telah melewatkan tiga pesan yang seharusnya masuk secara otomatis. Artinya, sudah tiga bulan penggenggam ingatan me-nonaktifkan fitur notifikasi. Setelah berkali-kali diperiksa, dikontak berulang-ulang, Aulad Mustaqbal berkesimpulan; penggenggam ingatan telah menghilang!  Begitu pula bunyi pesan berantainya ke seluruh pelanggan. Kepanikan tak terhindarkan.

            “Celaka! Kita akan berakhir sebagai manula tanpa nostalgia!”

            “Bedebah kunyuk! Ia pikir ingatan bisa dilelang, hah?” umpat Maya Rumantir.

            “Tenang, Sodara-sodara. Bukankah kita punya asuransi kehilangan?”

            “Tai kucing! Asuransi macam apa yang mau mengganti ingatan yang hilang?”  

            Selepas kabar buruk itu, Aulad Mustaqbal adalah pelanggan yang sudah lupa letak tahi lalat mantan kekasihnya. Di dagu, pipi kanan, bawah pusar, atau bahu kiri? Entahlah. Oh, Miftahul Hayati. Satu-satunya yang bisa memastikannya adalah serbuk ingatan dalam  folder  yang sudah raib.

            “Lapor polisi aja gimana, Bro?”

            “Sejak kapan Polsek punya detektif  bagi maling ingatan?”

            “Kalau begitu, kita umumkan saja di Twitter.”

            “No! Itu yang diharapkan rejim Lembah Silikon,” kata Aulad Mustaqbal.   

            Sementara para pelanggan sudah di berada ambang putus asa dan hampir mengikhlaskan hidup mereka sebagai calon manula paling menderita, nun di Lembah Silikon, persisnya di sebuah klinik mewah dengan perkakas medik super canggih, pasien atas nama Miftahul Hayati, baru selesai menjalani operasi ringan; membuang tahi lalat di punggungnya, tepat di bawah tato kupu-kupu biru.

            “Kau bebas sekarang, Sayang! Ia tak mungkin lagi menemukanmu,” bisik Hafiz Imtiaz, dalam senyum bahagia, sambil mendekap perempuan itu erat-erat.

Damhuri Muhammad: Menulis cerpen, esai budaya, artikel politik, dan resensi buku  di  sejumlah media nasional.  Buku fiksi terkininya Anak-anak Masa Lalu (2015). Buku nonfiksi terbarunya, Takhayul Milenial (2020). Associate editor Galeri Buku Jakarta. 

Continue Reading

Cerpen

Pagi Ini, Ada Burung yang Mati

mm

Published

on

By Ruly R *)

Pukul tujuh lebih delapan belas. Masih pagi untuk merutuki nasib, namun Sarju sudah melakukan itu. Dua lembar lima ribuan habis disekali putaran dadu permainan pasar.

“Kirik!” umpat Sarju entah untuk siapa. Wajahnya penuh kesal. Uang yang didambakan berlipat seperti dalam mimpinya kemarin malam justru menguap.

Memang setiap pagi lelaki itu hobi menyambangi meja putaran dadu. Kalau siang kerjanya kalau tidak nongkrong di warung tuak tentu tidur di rumah. Jika waktu malam tiba, dia suka mengendap untuk mengambil barang yang laku dijual.

Pagi ini setelah kalah di meja putaran, Sarju memutuskan untuk menyusuri panjangnya trotoar. Kaki dan fisik Sarju masih saja segar, meski usianya sudah tidak bisa dikatakan muda.

Sarju mengedar pandang ke jalan raya. Cepat dan ugal-ugalan kendaraan yang melintas, saking cepatnya seakan nyawa para pengendara itu lebih dari satu. Tampak kepanikan dan terburu-buru bertumpuk di pagi hari. Ada juga bocah sekolah dengan wajah cemas karena telat berangkat, tampak resah menunggu datangnya angkot.

Sayup suara burung, lalu semakin jelas. Cericit burung beradu dengan bisingnya deru kendaraan. Burung itu terbang melintang di atas kepala Sarju, hinggap dari satu pohon di sebelah utara jalan ke sisi selatan jalan. Sarju saksama melihat burung itu.

Memang, saat ini jarang sekali burung di jalanan kota, sama jarangnya dengan pohon-pohon di sisi kanan-kiri jalan. Gedung-gedung lebih subur tumbuh di kabupaten tempat tinggal Sarju, utamanya di kompleks perkantoran kabupaten, yang hanya berjarak tidak lebih dari dua ratus meter dengan jarak pasar.

Burung terus bercericit. Nyaring terdengar meski terus ditingkahi suara motor dan mobil. Mata Sarju masih saksama melihat burung itu, seakan tak ada hal lain yang ingin ditatapnya pagi ini. Suara burung memanggil ingatan Sarju. Dia ingat desanya. Rindu menyelusup halus pada hati Sarju.

Di waktu yang telah lalu—sebelum dia pindah ke kabupaten ini, cuitan burung menjadi hal akrab bagi Sarju. Membelah dan merentang waktu, nasib dan keadaan berubah seiring zaman, namun ingatan Sarju menjadi bola-bola yang utuh karena suara burung dan desanya. Ingatan yang sebenarnya tidak sempurna bahkan cacat dan bopeng di sana-sini. Hal yang tidak bisa ditambalnya sampai sekarang.

***

Sarju tinggal dan tumbuh bersama kakeknya di desa. Tanpa teman, kecuali keadaan alam sekitarnya saja. Sarju masih ingat betapa itu memedihkan dan memilukan. Satu anak sepantaran saja tak ada yang mau berkawan dengannya. Hanya satu kawan yang ada, yaitu kakeknya sendiri.

“Gak masalah. Ayo melu golek kayu wae,”[1] ucap kakeknya yang langsung mengambil parang ketika melihat raut wajah Sarju yang sedih. Kakeknya memang pandai mengalihkan perasaan Sarju yang sedang berduka. Bukan sekadar mencari kayu saja, kadang Sarju diajak ke sawah, atau tiga bulan sekali pergi ke kota untuk menjual hasil panen. Di pasca panen itu, Sarju benar-benar senang, segala permintaannya pasti akan dipenuhi kakeknya, kecuali satu yaitu teman.

Sarju tidak pernah belajar di bangku sekolah. Ketika bocah sepantarannya mengenyam pendidikan formal, Sarju justru lebih giat membantu kakeknya ke sawah atau main sendiri ke kuburan. Pernah suatu kali kakeknya marah, ketika Sarju membawa kemboja yang begitu banyak.

Nggo opo?!”[2]

“Dolanan,” jawab Sarju ragu.

Setelah peristiwa itu Sarju tidak berani lagi membawa kamboja, bahkan dia takut main ke kuburan. Kakeknya pasti akan marah kalau tahu dirinya main di sana. Tidak ada orang atau teman yang dimilikinya selain kakeknya sendiri.

Penah suatu kali Sarju juga bertanya kenapa dia tak memilik teman. Kakeknya hanya tersenyum. Senyum yang getir dan penuh kepahitan, tumpukan beban datang dari senyum itu. Kakek justru mengajak Sarju ke kreteg Mojo. Di sana kakek menunjuk tempuran sungai dan menyebut Geger Boyo. Sarju hanya diam, tak ada tanya miliknya.

Semua diketahui Sarju seiring usianya yang terus bertambah dan kakeknya mulai sakit-sakitan. Satu waktu, ketika malaikat maut sudah membayang dalam benak kakek, Sarju baru mengetahui yang sebenarnya. Permintaan maaf keluar dari lelaki yang tinggal lunglit itu. Maaf karena selama ini banyak yang disembunyikan kakeknya, terutama kenapa Sarju tidak punya kawan atau lebihnya warga desa mengasingkan mereka untuk tinggal di kaki bukit. Terbata kakek menceritakan itu pada Sarju.

“Aku muk melu-melu, Ju,”[3] ucap kakek. Semua terang diceritakan kakek ketika dia ikut partai palu-arit. Satu malam di musim bediding, beberapa orang bertubuh tegap, berseragam, dan berwajah garang mendobrak pintu rumah kakek yang lama. Tubuh kakek diseret paksa ke Geger Boyo.[4] Kebengisan di depan mata, tidak ada warga yang berani melihat apalagi sampai meningkah saat itu, kecemasan dan ketakuan seakan menyatu dalam benak warga. Kepercayaan berubah menjadi kecurigaan, keluarga kakek mulai dikucilkan. Saat itu hanya ada satu hal untuk keluarga kakek—menyingkir dari desa.

Bertahun kejadian itu berlalu, namun kesepian abadi dalam keluarga Sarju. Usia selalu ada batasnya, banyak cara atau juga sebab untuk mati. Sarju lahir. Hanya tinggal ibunya, ayah Sarju bunuh diri saat ibu Sarju mengandung. Dan saat belum genap usia Sarju empat tahun kakeknya pulang dari pengasingan di Nusakambangan. Kakeknya tak dibunuh di Geger Boyo, namun dibawa ke Nusakambangan setelah dari tempat itu.

Seperti Tuhan telah menggariskan nasib, kesunyian dan kesepian lekat dalam diri Sarju. Karena sakit yang entah apa, ibu Sarju meninggal. Satu keberuntungan, kakeknya sudah ada di rumah waktu itu.

Kakeknya bercerita bagaimana dia bertahan karena Sarju. Bulir halus keluar dari dua mata Sarju. Tidak berhenti sampai beberapa hari karena kakeknya meninggal. Segala menyesakan bagi Sarju yang sudah bukan lagi bocah. Tidak ada warga yang melayat, bahkan untuk tanah seukuran 2×1 meter, Sarju harus mencangkul sendiri. Terbayang wajah kakek, terngiang permintaan maaf dari kakek, semakin waktu, semakin Sarju merasakan kedegilan dan kesepian yang nyata. Bagi Sarju tidak ada cara membunuh kesepian kecuali memang pergi jauh meninggalkan desa. Begitu yang dilakukannya.

***

Bunyi klakson dari motor yang ugal-ugalan membuyarkan lamunan Sarju. Burung yang dilihatnya dari tadi hanya meloncat-loncat kecil tanpa meninggalkan ranting pohon. Lalu lintas masih ramai. Bunyi klakson kembali berulang, kali ini burung itu terbang berpindah pohon. Burung itu melintas di atas kepala Sarju lagi.

Kembali, suara klakson dari satu kendaraan melintas. Tidak lama burung itu hinggap di pohon lalu terbang lagi. Menukik dan terlalu rendah burung itu melayang di atas jalan, mobil bercat putih melintas cepat. Dada Sarju tiba-tiba sesak. Matanya tajam menatap jalan. Pagi ini, ada burung yang mati. Sarju menjadi saksi, tapi tidak ada yang bisa dituntut karena matinya burung itu, sama seperti ingatan dan kata-kata kakenya yang mengiang dalam benak Sarju hingga sekarang.

“Opo pancen kudu nyalahke kahanan?”[5] begitu yang pernah diucap kakeknya dulu.

Bagi Sarju, dulu dan saat ini masih tetap sama saja, karena dia hanya bisa menangis. (*)

______

*) Ruly R, bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Mahasiswa di STKIP PGRI Ponorogo. Novel terbarunya berjudul Kalah (Rua Aksara, 2020). Surat-menyurat: riantiarnoruly@gmail.com


[1] Tidak masalah. Ayo ikut cari kayu saja.

[2] Buat apa?

[3] Aku hanya ikut-ikut, Ju.

[4] Dua tempuran sungai di Sungai Mojo (Sungai yang terletak di antara Solo dan Sukoharjo). Saat tragedi kemanusiaan tahun 1965, tempat itu dijadikan salah satu ladang pembantaian orang yang dianggap Komunis.

[5] Apa memang harus menyalahkan keadaan?

Continue Reading

Cerpen

Tentang Kematian

mm

Published

on

By Mena Oktariyana

KEMATIAN. Manusia mana yang bersedia membicarakan kematian, seperti mereka membicarakan makanan enak? Kematian meninggalkan kita dalam keputusaasaan. Menelantarkan kita dalam kekosongan. Mereka yang pergi, bagai meninggalkan kita dalam kesedihan dan penderitaan untuk waktu yang tak bisa ditentukan. Tentu saja, ada banyak kisah menyedihkan tentang mereka yang ditinggalkan oleh kematian. Dan mungkin orang selalu berpikir, bahwa mereka yang ditinggalkan kematian adalah orang-orang yang paling menderita. Namun, bagaimana jika mereka yang meninggalkan kehidupan juga sama menderitanya dengan kita yang ditinggalkan? Dan kau tidak akan mengerti maksud ucapanku, sampai kau mendengar kisahku. 

Semua berawal di bulan Desember tahun lalu. Aku resmi menjadi relawan kematian. Sebuah pekerjaan anti-mainstream yang membuatku bergelut dengan kematian. Hari itu, di sore hari yang mendung, aku mendapatkan klien pertamaku. Dia adalah arwah seorang gadis berusia 18 tahun bernama Adelia. Dia datang mengenakan piyama abu-abu lusuh dan rambut berantakan yang hampir menutupi sebagian wajahnya. Pucat, dengan lingkar mata hitam dan sayu. Kulihat bekas luka yang sudah membiru di lehernya. Kuraih tangannya, dan kulihat, dia mati gantung diri. Dia berdiri tepat di hadapanku, seorang gadis yang putus asa, sedih, dan seakan beban dunia berada tepat di pundaknya. 

Aku merasa canggung, tidak tahu apa yang harus aku katakan padanya. Aku berpikir, haruskah aku tanyakan bagaimana kabarnya, apa dia lapar, atau haruskah aku seperti dokter dan menanyakan apa keluhannya. 

“Apa kau punya sisir?” tanyanya padaku. 

Aku, yang sudah siap untuk membuka percakapan, seketika terdiam kembali, “Si…sisir?” tanyaku.

Aku terkejut mendengarnya dan merasa sangat norak di hari pertamaku. Aku membuka laci meja dan mencari apakah ada sisir di sana. Aku tidak menemukan sisir. Kemudian aku teringat kalau aku selalu membawa ikat rambut di kantong celanaku. Aku pun memberikan ikat rambutku.

Setelah dia mengikat rambutnya, aku memintanya bercerita tentang kematiannya dan apa yang harus aku lakukan untuk menolong jiwanya.

Dia bercerita, dulu dia mengidap leukimia stadium akhir. Dia menjalani banyak kemoterapi dan pengobatan dengan biaya yang tidak sedikit. Biaya pengobatan yang sangat mahal itu menguras habis harta orang tuanya. Rumah, tanah, tabungan, perhiasan habis demi menyembuhkannya. Hutangpun mencekik kehidupan mereka. Akhirnya, semua berujung pada perceraian kedua orang tuanya. Ayahnya memilih pergi meninggalkannya yang sekarat, istri yang frustasi dan hutang yang menumpuk.

“Aku selalu berdoa untuk mati. Tapi aku juga selalu berusaha bertahan untuk Ibuku. Aku sadar, penyakitku cuma membawa penderitaan untuk mereka. Hidup kami jadi kacau.” dia berusaha keras untuk melanjutkan, seperti ada sesuatu yang tertahan di tenggorokannya. Dia melanjutkan, “Dan aku mengakhiri semuanya.” 

Aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi terlintas di benakku untuk mengatakan Kenapa kau tidak mencoba untuk bertahan sedikit lagi. Tapi aku sadar, itu adalah perkataan seorang idiot.

“Aku akhiri hidupku sendiri.” ucapnya, gemetar, “Yang kuingat, aku terbangun di suatu tempat. Di sana aku hanya melihat kabut tebal dimana-mana. Tak ada seorang pun, aku sendirian. Aku merasakan sakit luar biasa di leherku. Aku kesakitan bahkan untuk untuk menelan ludahku sendiri. Aku hanya merasakan lelah, lelah, dan lelah. Rasanya seperti aku sudah menghabiskan bertahun-tahun di sana. Aku terus merasa, bahkan setelah mati pun aku masih harus menderita.”

“Setiap hari, aku teringat ibuku. Dan ketika aku memejamkan mata sambil mengingat wajahnya, aku serasa terlempar jauh. Dan saat aku membuka mata, aku berada di rumah. Di sana, aku melihat ibuku sedang duduk di meja makan sendirian dan hanya menatap kosong pada makanannya. Aku coba memanggilnya, menyentuhnya, tapi aku tidak bisa. Semua itu terjadi terus menerus.”

“Setiap pagi, aku melihat ibu berkunjung ke makamku. Menaruh bunga dan membersihkan nisanku. Kemudian dia hanya menangis sampai tengah hari. Aku hanya berharap bisa menghapus air matanya.”

“Setiap hari aku terus menemaninya. Rasa sepiku pun berkurang. Aku seperti merasa sedih dan bahagia disaat yang bersamaan. Sampai suatu malam…” suaranya terhenti, karena dia tidak sanggup menceritakan apa yang terjadi selanjutnya, maka kuraih dan kugenggam tangannya.

Bayangan itu datang ke kepalaku, aku seperti ditarik mundur ke putaran waktu yang begitu jauh. Di sana, di rumah itu, aku melihat seorang perempuan paruh baya sedang mengunci semua pintu dan jendela rumahnya. Dia mengambil tali dan masuk ke dalam kamar. Dia duduk sambil terus memandangi foto anaknya, Adelia. Dia mulai menangis, tetes demi tetes air mata itu jatuh membasahi tangannya. Seketika itu juga ia bangkit dan meletakkan sebuah bangku di atas tempat tidur. Dengan tubuh yang gemetar, dia mencoba naik ke atas kursi tersebut. Kemudian dia mulai memasangkan tali yang sedari tadi ia genggam kepada sebuah lampu gantung di langit-langit kamar itu. Aku tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Tubuhku sudah siap bergerak dan melangkah untuk menghentikannya dan, semuanya menghilang begitu saja. Aku pun kembali, dan kulepas genggaman itu.

“Apa ibuku masih hidup?” tanya Adelia, cemas.

“Maaf, aku belum bisa memberitahumu. Lalu, apa yang sebenarnya kau lihat malam itu?” tanyaku.

“Ibu…ibu masuk ke kamarku dan membawa tali di tangannya. Tali yang sama persis dengan yang dulu aku pakai. Tapi aku tidak bisa masuk ke kamar itu, aku tidak tahu apa yang dia lakukan dengan tali itu. Semenjak malam itu, aku tidak bisa melihatnya lagi. Kumohon, katakan kalau ibuku masih hidup, katakan dia tidak melakukan apa yang aku lakukan.” tangisnya pecah kembali.

“Jangan khawatir, kita kunjungi Ibumu besok pagi.” aku mencoba menenangkannya. 

“Apa aku benar-benar bisa bertemu dengannya? Apa dia bisa melihatku, seperti kau melihatku?” tanya Adelia ragu. 

Aku hanya tersenyum. Kuantar dia untuk beristirahat di sebuah ruangan bersama arwah-arwah yang bernasib sama dengannya.

Keesokan harinya, kubawa dia pulang ke rumahnya. Rumah yang nampak tidak terurus. Rerumputan tumbuh subur di halaman, meninggi dan hampir menutupi rumah tersebut. Kukatakan padanya untuk menunggu di luar, dan membiarkan aku masuk ke dalam. Aku mengelilingi rumah itu, membuka pintu demi pintu, memeriksa, apakah masih ada kehidupan di sana. Foto-foto keluarga masih terpajang rapi di setiap dinding dan lemari kaca rumah tersebut. Hanya saja, semua wajah si ayah seperti dicoret dengan sengaja. Ketika aku memegangnya, aku hanya merasakan kebencian dan kemarahan melalui coretan-coretan itu.

“Siapa kamu?” kudengar suara perempuan di belakangku. Aku berbalik dan memberikan salamku padanya. Ya, dia adalah ibu Adelia, persis berdiri di hadapanku, pucat pasi.

Belum sempat aku menggenggam tangannya, Adelia datang berlari ke arah kami sambil berteriak, “Ibu!!” dia memeluk tubuh ibunya erat-erat. Kerinduan yang sudah tak tertahankan.

“Aku senang ibu masih hidup, maafkan Adel bu, maaf bu, maaf.”

Adelia terdiam sejenak, kemudian melepas pelukannya. Dia menatap lekat-lekat wajah ibunya, meraba-raba tubuhnya. Yang dia rasakan hanya dingin, dingin seperti tubuhnya selama ini. Tangisnya semakin keras ketika dia melihat bekas jeratan tali di leher ibunya yang sama dengan miliknya. Dia menatapku, seolah ingin memastikan. Apakah ibunya masih hidup?

Dari mataku, aku yakin dia mengerti jawabannya. Dia kembali memeluk ibunya, menghela napas dan mencoba menerima. Kulihat mereka memudar perlahan, bersama tangis, senyum, dan peluk yang mereka bawa.

Aku pergi. Tugasku selesai.

Di bulan Januari. Aku kedatangan arwah yang lain. Laki-laki paruh baya dengan kemeja putih berlumuran darah dan tanah. Luka demi luka ada di sekujur tubuhnya. Aku raih tangannya, dan kulihat sebuah kecelakaan kereta yang begitu mengerikan. Aku lepas, tak sanggup melihatnya.

“Apa yang bisa kubantu, Pak?”

“Aku ingin bertemu isteri dan anakku,” ucapnya sambil mengeluarkan sebuah foto dari saku kemejanya.

Kulihat foto itu baik-baik, mereka, Adelia dan Ibunya.

(*)

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending