Tuesday, May 17, 2022

JAKARTA
POETRY FOUNDATION.

"SIAPAKAH JAKARTA" Puisi dan kota. Di hari ini. Panas dan wabah. Ada apa? Apakah puisi bisa digunakan sebagai cara melihat politik warga berdasarkan institusi kota?

Kota merupakan eksperimen utama membentuk masyarakat baru yang terus berkelindan antara keberagaman, kebersamaan dan perubahan. Orang-orang datang dan pergi di antara tatapan penduduk lokal yang kian “terpinggirkan”. Setiap inci lahan dibaca sebagai pundi-pundi komersial. Kota selalu memunculkan pertanyaan: “bagaimanakah caranya seseorang merasa sebagai warga kota, atau setiap warga kota cenderung terasing di kotanya sendiri dan tidak merasa ikut bertanggung-jawab dengan apa yang terjadi di sekitarnya?” Selalu memunculkan masalah kebersihan, banjir, macet, laten rasialisme, kian punahnya ruang publik untuk bermain maupun untuk konservasi memori kolektif kota. Semua yang sedang bergerak menuju pada proyek pembentukan ruang sosial yang sehat dan manusiawi.

Sebagian puisi tentang Jakarta, merupakan “puisi marah”, terutama pada era Orde Baru sebagai era yang paling banyak mengubah performance kota untuk mendekati kota-kota dunia. Kota yang kian jauh dari seni dibanding masa Sukarno yang banyak membuat patung-patung publik, walau pada era ini juga terbentuk pusat kesenian Taman Ismail Marzuki yang masih berjalan hingga kini. Dan wajah Jakarta kian keras sebagai wajah “duit dan kekuasaan”.


Kami berharap project kebudayaan kota dan puisi ini bisa memberi dampak kultural dan struktural bagi perbaikan kemanusiaan khususnya di kota Jakarta. Kami dalam suatu upaya untuk menjadikan agenda sayembara ini berjalan secara reguler pada tahun-tahun mendatang melalui Jakarta Poetry Foundation. Di antara segelas kopi dan makan siang yang enak, dukungan Anda untuk kerja cinta ini akan sangat berharga.


Dalam proyek sayembara “siapakah Jakarta” ini ada 31 nama penyair yang lolos kuratorial dan karyanya akan dipublikasikan. Dari sekian banyak puisi yang masuk ke dalam performa ini, misalnya, ada penyair yang menulis puisi tentang peristiwa pemerkosaan sebagai “wajah kota”, sebuah nilai streotip untuk kota besar di mana pun, dan banyak kisah lainnya.

Dari puisi yang terkumpul dan terpilih (kurator: Aan Mansyur, Saras Dewi dan Sabiq Carebesth), memunculkan pertanyaan: “apakah tema Jakarta hari ini (setelah penggusuran, kepadatan penduduk, kemiskinan, lapangan kerja, ruang publik, pendidikan, pemukiman, kebersihan, rebutan lahan, keamanan)? Apakah indeks masalah ini merupakan agenda kota yang bisa diselesaikan satu-persatu. Atau indeks ini memang merupakan wajah kota Jakarta sesungguhnya yang tidak akan pernah bisa diatasi.

Jakarta belum punya pengalaman untuk membaca kegagalan-kegagalannya sendiri sebagai evaluasi kota atas pusat perubahan yang dijalaninya.

Kami berharap project kebudayaan kota dan puisi ini bisa memberi dampak kultural dan struktural bagi perbaikan kemanusiaan khususnya di kota Jakarta. Kami dalam suatu upaya untuk menjadikan agenda sayembara ini berjalan secara reguler pada tahun-tahun mendatang melalui Jakarta Poetry Foundation. Di antara segelas kopi dan makan siang yang enak, dukungan Anda untuk kerja cinta ini akan sangat berharga.

Sabiq Carebesth, Afrizal Malna

Kurator Sayembara


Para penyair: (1) Septian Murival (2) Lukman A. Salendra (3) F Daus AR (4) Ardhi Ridwansyah (5) Warake (6) Nanang RS (7) Ahmad Kohawan (8) Bambang Widiatmoko (9) Sukaya Sukawati (10) Rini Intama (11) Reni Lestari (12) Tri Astoto Kodarie (13) Andriyana abdullah aziz (14) Rizka Nur Laily Muallifa (15) J Akid Lampacak (16) Sam Mukhtar Chaniago  (17) Isbedy Stiawan Z.S.  (18) Faris Al Faisal (19) Rizkya Dian Maharani (20) Ikhsan Risfandi (21) Zulfan Fauzi (22) Fadhila Eka Ratnasari (23) Ros Aruna (24) Badruddin Emce (25) Yoe Irawan (26) Ganang Ajie Putra (27) Ervirdi Rahmat (28) Himas Nur (29) Joshua Vincentius (30) Ina herdiyana (31) Roz Ekki.