Connect with us

Cerpen

Jalanan Yang Berbayang

mm

Published

on

Ivan Bunin | Penerjemah: Ladinata Jabarti[1]

 

Pada cuaca buruk musim rontok yang dingin[2], sebuah kereta yang terpercik lumpur dengan penutup kap setengah terbuka, yang ditarik oleh tiga ekor kuda yang agak biasa, yang ekor-ekornya diikat untuk menghindari lumpur salju, berjalan di salah satu jalan besar Tula[3], yang digenangi oleh air hujan dan disayat oleh banyak jejak roda berwarna hitam, mendekati bangunan panjang dari kayu, yang pada satu bagiannya ditempati oleh pos stasiun pemerintah dan bagian lainnya oleh rumah penginapan pribadi, yang menjadi tempat bagi para pelancong untuk dapat beristirahat atau bermalam, makan siang atau memesan samovar[4]. Di atas bangku tempat kusir, duduk seorang laki-laki kekar berwajah gelap dan murung, dengan janggut hitam pekat yang jarang, mirip seorang begal tua, mengenakan mantel petani yang diikat dengan rapat, sedang di dalam kereta tampak seorang lelaki tua yang ramping dengan topi besar dan mengenakan mantel tentara berwarna kelabu dengan potongan yang diambil dari masa kekaisaran Nikolai I[5], memiliki kerah berdiri tegak yang terbuat dari kulit berang-berang, dengan alis berwarna hitam, tetapi dengan misai berwarna kelabu, yang ujung-ujungnya menyentuh jambang, yang juga berwarna serupa; dagunya bersih tercukur dan seluruh tampilan lahirnya memiliki kesamaan dengan gaya pada masa Alexander II[6], yang begitu menyebar di antara para tentara pada masa kekaisarannya; pandangan matanya mengandung pertanyaan, keras dan bersamaan dengan itu tampak lelah.

Ketika kuda-kuda berhenti, dia mengeluarkan kakinya yang bersepatu lars dengan bagian atas yang rapat dari kereta dan sambil memegang mantelnya dengan tangan yang dibalut dengan sarung tangan dari kulit halus kambing, dia berlari naik tangga menuju ke bagian serambi bangunan.

“Ke arah kiri, Yang Mulia,” dengan suara kasar sang kusir berteriak dari tempat duduknya, laki-laki itu, setelah sedikit membungkuk di ambang pintu, lantaran tubuhnya yang tinggi, berjalan melewati pintu masuk, kemudian ke sebuah ruangan di sebelah kiri.

Ruangan itu terasa hangat, kering dan rapih: di sudut kiri tampak ikon[7] baru dengan warna keemasan, di bawahnya ada meja yang ditutupi taplak bersih yang tidak dikelantang[8], di balik meja terlihat bangku-bangku yang telah dicuci dengan bersih; tungku dapur, yang mengambil tempat di sebelah kanan jauh ruangan, baru saja dilaburi kapur; lebih dekat lagi ke pintu, berdiri sesuatu seperti bangku pendek tanpa sandaran yang ditutupi oleh baju kuda belang-belang, yang ditumpukkan secara lepas pada sisi tungku dan dari balik penutup tungku tercium bau enak sup kol, dengan daun salam dan daging sapi yang direbus sampai lunak.

Laki-laki yang baru datang itu melemparkan ke atas bangku mantelnya dan dalam balutan pakaian seragam dan sepatu lars, tampak tubuhnya lebih ramping lagi, kemudian dia melepaskan topi dan sarung tangan dan dengan gerak laku yang lelah dia mengusapkan tangan kurus pucat pada kepala yang rambutnya beruban, agak berikal, dengan sisiran rambut dari bagian pelipis ke depan menuju sudut mata, wajah lonjongnya yang rupawan dengan mata gelapnya memperlihatkan bekas cacar kecil di beberapa tempat. Seorang pun tidak ada di ruangan tersebut dan setelah agak sedikit membuka pintu, dia berteriak dengan suara yang tidak bersahabat:

“Hei, apakah di sana ada orang?”

Dengan seketika, sesudah itu, datang ke ruangan seorang perempuan berambut gelap, juga seperti sang lelaki, beralis hitam dan, bukan didasarkan pada usia, masih juga jelita, mirip perempuan gipsi paruh baya, yang pada bibir bagian atas dan menyusur pipi, tampak sesuatu yang tipis gelap; meski tubuhnya cukup gemuk, dengan dada besar dibalut baju warna merah dan dengan perut berbentuk segitiga di balik rok hitam yang terbuat dari kain wol, seperti yang terdapat pada angsa, dia berjalan dengan cekatan.

“Selamat datang, Yang Mulia,” katanya. “Apakah Anda menginginkan untuk makan atau dibawakan samovar?”

Samovar. Kau pemilik penginapan atau pelayan?”

“Pemilik, Yang Mulia.”

“Jadi, kau sendiri yang menjalankan tempat ini?”

“Benar. Saya sendiri.”

“Bagaimana bisa begitu? Kau janda, atau apa, sehingga kau sendirian mengurus usaha?”

“Saya bukan janda, Yang Mulia, tetapi saya harus melakukan kehidupan dengan sesuatu. Dan saya senang mengelola usaha.”

“Begitu, begitu. Itu bagus. Dan penginapanmu sangat menyenangkan dan bersih.”

Perempuan itu, sambil memicingkan mata, selalu melihat dengan tajam pada sang lelaki.

“Kebersihan juga saya senang,” jawabnya. “Saya dulu besar di rumah kaum majikan, bagaimana saya tidak pintar mengurus tempat saya sendiri dengan patut, Nikolai Alekseevich.”

Laki-laki tersebut dengan segera berdiri tegak, membuka matanya lebar-lebar dan wajahnya memerah:

“Nadezhda! Kau?” katanya dengan cepat.

“Saya, Nikolai Alekseevich,” jawab sang perempuan.

“Ya, Tuhan! Ya, Tuhan!” kata lelaki itu, sambil duduk di atas bangku dan melihat dalam-dalam pada Nadezhda. “Siapakah yang dapat memikirkan ini! Sudah berapa tahun kita tak bertemu? Tiga puluh lima tahun, kira-kira?”

“Tiga puluh tahun, Nikolai Alekseevich. Saya sekarang berumur empat puluh delapan, sedangkan Anda, saya pikir hampir enam puluh?”

“Seperti itulah…Ya, Tuhan, betapa anehnya!”

“Apakah yang aneh, Tuan?”

“Semuanya, semuanya…Tentu saja kau mampu memahami!”

Kelelahan dan pengabaiannya menghilang, Nikolai Alekseevich bangun dari bangku dan dengan langkah pasti dia mulai berjalan di sekitar ruangan tersebut, sambil menatap ke lantai. Kemudian dia berhenti, pelan-pelan dia jadi memerah,  menjalar ke jambang kelabunya dan dia mulai bicara:

“Sejak saat itu, mengenai dirimu, aku tidak mengetahui apa-apa. Bagaimana kau bisa sampai ke sini? Mengapa kau tidak tinggal dengan majikanmu?”

“Segera setelah Anda pergi, majikan saya memberikan surat pembebasan[9].”

“Dan di mana kemudian kau tinggal?”

“Panjang jika diceritakan, Tuan.”

“Bersuami, seperti yang kau katakan, tidak pernah?”

“Tidak, tidak pernah.”

“Mengapa? Dengan kecantikanmu itu?”

“Saya tak dapat melakukannya.”

“Mengapa tidak? Apa yang ingin kau katakan?”

“Apa yang harus dijelaskan? Mungkin Anda ingat, betapa saya begitu mencintai Anda.”

Laki-laki tersebut menjadi sangat memerah, hingga airmatanya keluar dan dengan mengerutkan dahi, dia melangkah lagi.

“Semuanya berlalu, Nadezhda, kawanku,” gumamnya. “Cinta, masa muda – semua, semua. Itu adalah kisah yang biasa dan tidak ada artinya. Semua berlalu bersama waktu. Seperti yang dikatakan di dalam book of Job[10]? ‘Seperti kamu akan mengingat air yang menguap’.”

“Itu adalah apa yang Tuhan berikan kepada manusia, Nikolai Alekseevich. Masa muda pada setiap orang berlalu, tetapi cinta – masalah lain.”

Nikolai Alekseevich mengangkat kepalanya, menghentikan langkah, dengan rasa sakit dia tersenyum:

“Tapi tentu saja kau tidak dapat mencintai aku selama hidupmu!”

“Tetapi saya mampu, Nikolai Alekseevich. Berapa banyak waktu telah berlalu, hidup saya tetap sendiri. Saya tahu, Anda tidak seperti dulu, sudah lama sekali, sekarang bagi Anda seolah itu tak berarti apa-apa dan tak pernah ada, tetapi beginilah, masih…Sudah terlambat kini untuk menyalahkan, tetapi ini benar, Anda membuang saya dengan tanpa berbelas kasih, berkali-kali saya ingin meletakkan tangan saya pada diri saya, karena luka hati hidup sendiri, tentu saja tak perlu mengatakan yang lainnya, semuanya. Pernah ada waktu, Nikolai Alekseevich, ketika saya menyebut Anda Nikolenka[11] dan Anda memanggil saya – ingat bagaimana? Dan Anda selalu membacakan saya sajak-sajak tentang ‘jalanan yang berbayang’,” tambahnya dengan senyum yang suram.

“Ah, betapa menyenangkannya kau dulu!” Nikolai Alekseevich berkata, sambil mengangguk-anggukan kepala. “Betapa memggairahkan, betapa cantiknya! Tubuhmu bukan alang kepalang! Matamu juga bukan alang kepalang! Kau ingat, bagaimana semua orang memandangmu?”

“Saya ingat, Tuan. Anda juga dulu sangatlah tampan. Dan karena itu, saya serahkan kepada Anda segala kecantikan dan kegairahan saya. Bagaimana juga saya dapat melupakan hal yang demikian.”

“Ah! Semuanya berlalu. Semuanya terlupakan.”

“Semuanya berlalu, tetapi tidak semuanya terlupakan.”

“Pergilah,” kata sang lelaki, sambil membalikkan badan dan berjalan ke arah jendela. “Pergilah, tolong.”

Setelah mengeluarkan saputangan dan menyeka matanya dengan saputangan tersebut, lelaki itu menambahkan:

“Aku hanya berharap, agar Tuhan memaafkan. Dan kau, tampaknya, telah memaafkan aku.”

Nadezhda berjalan mendekati pintu dan menghentikan langkah barang sebentar:

“Tidak, Nikolai Alekseevich, saya tidak memaafkan. Semenjak perbincangan kita menyentuh perasaan kita, saya akan berkata dengan jujur: memaafkan Anda, saya tidak mampu. Saat itu, saya tidak memiliki sesuatu pun di dunia ini yang lebih bernilai dibanding Anda, demikian juga setelahnya, tidak pernah. Karenanya, memaafkan Anda, saya tidak mampu. Baik juga untuk dijadikan ingatan, orang mati itu tidak dibawa dari kuburan.”

“Ya, ya, tidak ada pengertiannya dalam hal ini. Mintakan pekerja untuk menyiapkan kuda,” jawabnya, sambil menjauh dari jendela dengan wajah yang keras. “Satu hal yang akan aku katakan kepadamu: dalam hidup ini aku tak pernah bahagia, tolong, jangan berpikir apa-apa. Maafkan aku, bahwa, barangkali, aku menyakiti harga dirimu, tetapi aku akan katakan kepadamu secara terus terang, aku dengan sangat tergila-gila mencintai istriku. Tetapi dia menghianati aku, dia meninggalkan aku dengan begitu banyak penghinaan, dibanding aku terhadapmu. Aku memuja-muja anakku, ketika dia masih kecil, begitu banyak aku menaruh harapan kepadanya! Tetapi ketika besar, dia menjadi seorang bajingan, penghambur uang, seorang kurang ajar yang tanpa hati, tanpa kehormatan, tanpa suara hati…Bagaimanapun juga itu semua merupakan cerita yang sangat biasa dan tidak ada artinya. Aku berharap kau beruntung, Nadezhda, kekasihku. Aku berpikir, bahwa di dalam dirimu aku kehilangan sesuatu yang sangat bernilai, sesuatu yang aku miliki di dalam hidup.”

Perempuan itu berjalan menghampirinya dan mencium tangannya, dia sendiri mencium tangan perempuan tersebut.

“Mintakan pekerja untuk menyiapkan…”

Ketika mereka, dia dan sang kusir, pergi semakin jauh, dia berpikir dengan muram: “Ya, betapa menyenangkannya dia dulu! Betapa kecantikannya mempesona!” Dengan rasa malu dia mengingat kata-kata terakhirnya dan ketika dia mencium tangan sang perempuan; saat itu juga dia jadi merasa malu karena rasa malunya itu sendiri. “Tidakkah ini benar, bahwa perempuan tersebut telah memberikan masa-masa yang terbaik di dalam hidupku?”

Matahari yang pucat tampak terlihat di langit sebelah barat. Sang kusir menjalankan kudanya dengan langkah-langkah sentak, mengubah dari satu jejak roda yang hitam ke jejak yang lain dan memilih yang lumpurnya lebih sedikit dan dia juga memikirkan sesuatu. Akhirnya dia berkata dengan suara kasar yang muram:

“Dan perempuan itu, Yang Mulia, tetap melihat lewat jendela, ketika kita pergi. Kelihatannya, sudah lama Anda mengenalnya?”

“Ya, sudah lama, Klim.”

“Perempuan yang sangat bijak. Orang-orang mengatakan, dia terus bertambah kaya. Dia meminjamkan uang kepada penduduk.”

“Itu tak berarti apa-apa.”

“Bagaimana tidak berarti! Siapakah yang tidak ingin hidupnya lebih baik! Jika orang memang patut dibungakan, tidak ada ruginya itu dilakukan. Dan dia, kata orang-orang, adil dalam hal ini. Tetapi dia juga keras! Tidak mengembalikan sesuai waktu – salahkan dirimu sendiri!”

“Ya, ya, salahkan dirimu sendiri…Tolong, percepat, Klim, aku khawatir kita akan tertinggal kereta api…”

Matahari yang rendah di sebelah barat bersinar dengan warna kuning di atas hamparan ladang kosong, kuda-kuda selalu mendebur genangan air. Nikolai Alekseevich melihat pada ladam kuda yang gerakannya berganti-ganti dengan cepat, dia menarik kedua alis hitamnya dan terpekur:

“Ya, kau harus menyalahkan dirimu sendiri. Ya, tentu saja, itu masa-masa terbaik di dalam hidupku dan bukan hanya terbaik, tetapi juga benar-benar ajaib! ‘Di sekitar, mawar liar merah yang menawan berbunga, tampak jalanan dengan pohon-pohon linde[12] yang kabur…’[13] Tetapi ya, Tuhan, apakah kira-kiranya yang terjadi selanjutnya? Apakah yang terjadi, sekiranya aku tidak membuang dia? Ah, omong kosong apa!  Itu adalah Nadezhda, perempuan yang bukan pemilik penginapan di pinggir jalan, melainkan istriku, sang pemilik rumahku di Petersburg[14], ibu dari anak-anakku?”

Dan dia menggeleng-gelengkan kepala, sambil menutup kedua matanya.

 

20 Oktober 1938

Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh: Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

Biografi Ivan Bunin

Ivan Alekseyevich Bunin (1870-1953), yang merupakan sastrawan pertama Rusia, yang memperoleh Nobel Prize, dilahirkan di Voronezh, Rusia Tengah, di dalam keluarga bangsawan yang tidak begitu kaya. Pada tahun 1895 Bunin memutuskan tinggal di Moskow dan Petersburg, yang membuatnya berkenalan dengan Chekhov, Konstantin Balmont, Valery Bryusov dan Gorky. Setelah mempublikasikan buku kumpulan prosa “To the Edge of the World and Other Stories” (1897) dan buku kumpulan sajaknya “In the Open Air” (1898), nama Bunin mulai dikenal di Rusia. Atas karyanya, kumpulan sajak “Falling Leaves” (1901) yang didedikasikan kepada Gorky dan terjemahan ke dalam bahasa Rusia “The Song of Hiawatha”, karya Henry Longfellow (1807–1882), yang dipublikasikan di Orlovsky Herald (1896), Bunin pada tahun 1903 dianugrahi Pushkin Prize oleh Russian Academy of Sciences.

Setelah Revolusi 1905 rasa tertarik terhadap kehidupan kaum tani membantu Bunin menghasilkan “The Village” (1910), yang memaparkan kesuraman kehidupan (sebuah) desa Rusia, yang dipenuhi dengan kebodohan, kebrutalan dan kekerasan. Setelah “The Village”, Bunin mengeluarkan “Dry Valley” (1912), yang menggambarkan sejarah kehancuran keluarga bangsawan dan takdir para budaknya, dan “Zakhar Vorobyev”(1912), yang tokoh utamanya menjadi simbol kehidupan hampa dan kematian tragis dari seorang manusia kuat dan berbakat.

Di dalam karya-karyanya Bunin banyak menuliskan tema cinta, kehidupan dan kematian. Salah satu novelnya yang paling puitis adalah “Light Breathing” (1916), yang mengisahkan tentang seorang gadis rupawan bernama Olya (Olga) Meshcherskaya, yang mati di dalam dunia yang bermusuhan dan penuh tipuan dan kekejian. Tidak kalah terkenalnya cerita pendek “The Gentleman from San Francisco” (1915), yang berisikan mengenai kematian mendadak seorang jutawan Amerika, yang menjadi simbol dunia dusta dan tanpa jiwa, dan di dalam dunia tersebut perasaan dan pikiran yang sejati diselimuti oleh dekorasi yang menawan.

Menjelang Revolusi 1917, baik di dalam prosa maupun sajak-sajaknya, Bunin menyuarakan kandungan pikirannya mengenai peristiwa tragis sosial yang makin mendekat tersebut. Setelah Revolusi Oktober untuk selamanya Bunin pada tahun 1920 meninggalkan Rusia dan bermukim di Perancis. Penolakannya terhadap kaum Bolshevik diperlihatkan di dalam karyanya “Cursed Days” (1925).  Karya-karya Bunin di tempat emigrasi, antara lain: “Mitya’s Love” (1924), “Rose of Jerico” (1924) dan “Sunstroke” (1927). Karya terbesarnya, yang merupakan roman otobiografi adalah “The Life of Arseniev” (1927–1933, 1939), yang mengisahkan mengenai perkembangan kehidupan jiwa sang pengarang, mengenai masa-masa bahagia dan tragis yang dilalui. Para kritikus begitu menghargai roman tersebut.

Pada tahun 1933 Ivan Bunin dianugrahi Nobel Prize atas jasanya mengembangkan tradisi prosa klasik Rusia. Di Paris, dalam usia 83 tahun, pada tanggal 8 November 1953, Ivan Bunin wafat.

[1]  Penerjemah: Ladinata Jabarti | Hak Terjemahan Pada: Ladinata Jabarti / Galeri Buku Jakarta, 2016.

[2] Judul Jalanan Yang Berbayang: maksudnya adalah jalanan yang di kanan-kirinya dipenuhi oleh jajaran pohon

[3] Nama kota di Rusia yang jaraknya kurang lebih 200 km dari Moskow, tempat pembuatan segel atau materai

[4] Ketel teh khas Rusia

[5] Tsar Rusia yang memerintah dari tahun 1825-1855

[6] Tsar Rusia yang memerintah dari tahun 1855-1881, anak dari Nikolai I

[7] Gambar suci

[8] Tujuan dikelantang adalah untuk lebih diputihkan. Setelah dicuci dengan sabun atau direndam, kain  tidak dijemur di bawah terik matahari, hanya dianginkan

[9] Maksudnya wolnaya, dokumen, yang menyatakan, bahwa seseorang telah dibebaskan dari perbudakan oleh majikannya

[10] Kitab nabi Ayub (14:11): seperti air menguap dari dalam tasik, dan sungai surut dan menjadi kering

[11] Nama diminutif Nikolai

[12] Pohon dengan daun-daun yang bergerigi dan bunganya menghasilkan  nektar yang wangi

[13] Diambil dari sajak Обыкновенная повесть ‘Riwayat yang Biasa” (1842) karya Nikolai Platonovich Ogaryov (1813-1877),seorang aktivis pergerakan  revolusi Rusia, sastrawan dan penulis

[14] Pada tahun 1703 Saint Petersburg didirikan oleh Peter yang Agung (1672-1725), yang memerintah Rusia pada tahun 1682-1725. Antara tahun 1914-1924 disebut Petrograd. Pada tahun 1712-1728 dan 1732-1918 Petersburg pernah menjadi ibukota Rusia

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Janin Badai

mm

Published

on

Oleh Ken Hanggara

Di perutku badai asing tumbuh dan beranak-pinak. Hitam, garang, dan liar. Jika ia mengamuk, badanku berputar seratus delapan puluh derajat; kepala di bawah, kaki melayang. Ketika badai itu reda, hidupku hambar. Dan saat ia marah, aku mau mati saja.

“Badai asing melukaiku,” ujarku tersengal-sengal, “jadi kubunuh dia.”

Tapi, kata Ibu, kalau kamu bunuh badai di perutmu, bisa saja kamu yang mati. Aku takut dan belum tentu Tuhan menaruhku di surga kalau aku mati. Tapi badai ini sudah keterlaluan. Di perutku ia menggila. Tak tahu apa yang badai itu mau atau bagaimana ia beraktivitas hingga seolah-olah kulihat gambaran: lumatan nasi di lambung campur baur dengan cairan asam berlebih akibat derasnya badai.

Selama badai marah, aku melingkar di kasur, berputar-putar mirip gasing. Kadang diam dan memejamkan mata, atau mengejan dengan maksud mengusir badai itu, dengan harapan bisa kentut, meski ternyata tidak. Sakit luar biasa!

Ibu melarangku mengejan begitu, karena badai dikhawatirkan keluar lewat lubang kentut dengan kekuatan superbesar dan membikin gubuk kami roboh. Kalau rumah ini hancur, mau tinggal di mana kita? Mau menggelandang, ha?

Kubantah kata-kata Ibu. Kita tidak akan menggelandang dan rumah jelek ini tidak mungkin roboh hanya karena kentut. Tidak masuk akal. Bagaimana bisa badai dari perut gadis kurus sepertiku membuat bangunan ini roboh?

Tapi, untuk satu kata ‘logis’, badai yang tumbuh dan beranak-pinak di perut saja tidak bisa dibilang logis. Ia antara ada dan tiada. Bagi orang waras yang tidak tahu, aku pasti dianggap sinting.

“Kamu yakin ada badai di perutmu?” tanya temanku.

“Tidak sih. Di saat tertentu aku tenang. Tapi di saat lain aku mengejan-ngejan, atau berputar-putar seperti gasing. Kukira itu pertanda bahwa badai asing ini mengamuk.”

“Bagaimana kamu menyimpulkan kalau itu adalah badai?”

“Soalnya perutku seperti diputar, digiling. Kamu tahu digiling, nggak?”

Temanku tidak bisa berkata lain selain menyuruhku ke dokter. Anak ini sudah tidak beres, begitu katanya berulang-ulang, diam-diam, bisik-bisik ke yang lain; sayangnya aku dengar, Tolol!

Kataku, pergi ke dokter bukan solusi, meskipun Ibu menyarankan hal yang sama. Barangkali ahli meteorologi bisa memberiku penjelasan mengapa ada badai di perut manusia, sebuah badai yang tidak diketahui asal usulnya, yang tumbuh, berkembang, mengamuk, dan beranak-pinak di sana. Itulah kenapa kusebut dia ‘badai asing’.

Pertanyaan lain, yang sesungguhnya juga kutanyakan: Bagaimana aku yakin badai asing beranak-pinak di perutku? Aku tidak tahu. Aku semakin bingung setelah ada satu malam di mana badai itu menangisi anak-anaknya. Dia tenang dalam kondisi menangis, seperti danau di tengah hutan tanpa seekor binatang atau manusia atau pengaruh musim yang menimbulkan riak di permukaan air. Sikap menangis wanita lemah.

“Kalau badai itu menangis, aku ikut menangis. Tapi aku bingung, buat apa badai menangis? Apa badai asing ini bernyawa? Apa dia makhluk, seperti hewan, tumbuhan, manusia, jin, malaikat…”

Kurasa ini petunjuk Tuhan. Mungkin badai di perutku termasuk makhluk semacam malaikat—atau jin, tapi beda jenis. Kalau benar, ini penemuan besar. Mungkin sudah takdirnya begitu, sehingga aku lega karena ada alasan di balik misteri badai di perutku. Secara teori, badai ini tidak cuma bisa menembus benda material sebagaimana malaikat atau jin, tetapi juga memiliki akal dan nafsu dalam dirinya.

Saat pertama kuberi tahu soal badai di perutku, Ibu diam. Beberapa jam Ibu tidak bicara dan sekalinya bersuara, dia bilang tidak terima saat kukatakan badai asing bisa beranak-pinak karena dia satu dari sekian jenis makhluk di dunia ini.

“Kamu bicara apa? ‘Kan sudah Ibu bilang, kamu bawa saja ke dokter!”

“Ibu tidak tahu badai asing ini makhluk berbahaya! Dokter tidak bisa melawannya. Kalau bisa, tidak satu pun dokter di dunia ini yang meninggal!”

“Kamu ini kacau, ya!”

“Memang, Bu. Kalau badai ini ngamuk, badanku berputar seratus delapan puluh derajat; kepala di bawah, kaki di atas. Ibu tahu, nggak? Benar-benar biadab! Beraninya main di perut. Coba berhadapan langsung, sudah kubunuh dia!”

“Ya Tuhan, cobaan apa ini!”

Ibu pergi dan membanting pintu.

Setelah itu Ibu jarang bicara denganku dan aku bergelut dengan sakit luar biasa akibat badai dalam perut yang aneh dan lama-lama menakutkan. Ini pasti ada akhirnya. Tapi, betapapun kuatnya keyakinan bahwa si badai asing makhluk bernyawa dan kelak akan mati sebagaimana janji Tuhan bahwa setiap yang berjiwa pasti akan diambil, aku tidak tenang. Badai ini, jika beranak-pinak, suatu saat memenuhi seluruh bagian perut; ini juga ada waktunya. Kubayangkan lambung, usus, dan sebagainya, tak lagi cukup menampung hal lain selain badai asing dan anak turunnya. Dan badanku mungkin meledak!

Yang paling kuingat dari malam penemuanku, badai ini menangis dan memohon agar anak-anaknya tidak nakal dan kabur. Dia rela berbagi tubuh dengan mereka: “Satu sisi di puncak untukmu, Mata, Akal, Telinga. Sisi di samping untuk kalian, Jantung, Hati, Perasaan. Dan bawah badanku bagimu, Nafsu, Bencana, Aib…”

Dasar sinting! Ibu macam apa itu? Akal, perasaan, nafsu…? Jangan sok bijak, Setan! Tujuan dia menetap di perutku karena ingin menyiksaku. Mungkin badai ini semacam benalu, yang numpang hidup dalam tubuh makhluk lain, tapi tak sedikit pun memberi manfaat.

“Ya! Itulah dirimu, wahai badai asing!”

Aku sering berputar. Tubuhku tak lagi melingkar. Aku bergelinjang seperti belut di penggorengan. Aku mengejan sekuat tenaga seperti membuang tinja sebesar buaya. Ketika badai reda, tubuhku normal, tetapi pikiranku lari ke mana-mana. Aku tidak bisa menebak bagaimana mulanya badai asing tumbuh. Sesuatu yang ada pasti datang dari ketiadaan. Dulu tidak ada badai di perutku, tapi sejak lima bulan lalu, sejak badai itu datang, hidupku mulai berbeda.

“Kukira kamu perlu ke ahli meteorologi,” kata teman yang sama. “Karena asal-usul badai bisa dilacak. Badai di perutmu mungkin sama dengan badai umumnya. Mungkin ada perubahan atmosfer dalam tubuhmu, meski aku tidak yakin.”

“Dia bukan badai biasa. Dia makhluk seperti jin dan malaikat.”

“Kamu selalu sok tahu!”

“Ya.”

“Dari mana kamu tahu?”

“Aku tahu karena dia beranak-pinak dan menangis, dan aku juga tahu dia ingin membagi raganya untuk anak-anaknya.”

“Tak masuk akal!”

“Memangnya masuk akal, ada badai dalam perutku? Bisa bayangkan?!”

Aku mencoba cara lain, yang sudah jadi keputusan akhir. Aku tidak tahan lebih lama. Setiap badai asing mengamuk, badanku tidak lagi berputar seratus delapan puluh derajat, atau mengejan, atau menggelinjang, atau melingkar dan mengerang di kasur, tapi aku lari ke sana kemari persis orang gila, karena amukan badai sangat menyakitkan!

Aku harus bunuh badai itu.

Aku tidak yakin diriku tidak terluka oleh rencana ini, tapi badai itu bisa mati kalau aku tahu titik pusatnya.

Jadi begini, saat badai tenang, kuraba perutku, kupijat, lalu kuremas bagian-bagian tertentu. Di sanalah titik pusatnya. Aku tidak menunggu badai mengamuk. Selagi ada kesempatan, ia kubunuh pada detik itu. Bisa dengan pisau atau pedang panjang, sehingga aku menusuknya melalui pusarku dan tembus sampai punggung. Aku tak punya pedang dan tak perlu berpikir rumit untuk sekadar membunuh badai dalam perutmu, bukan?

Aku hanya perlu mencari tempat di mana ia bisa kukubur, setelah kubunuh nanti. Aku percaya kematian badai membuatnya mudah kukeluarkan. Tidak lewat lubang anus, karena anak-anak badai sungguh amat sangat banyak. Hampir tiap malam ia melahirkan anak dan membagi dalam kelompok sesuai kebutuhan fisiknya: bagian atas, samping, bawah…. Tidak heran, hari ini anak-anak itu membuatnya lebih ganas. Aku bahkan tidak yakin selamat usai membunuh badai asing itu. Tapi satu yang pasti: percobaan ini jelas membunuhnya.

Kiranya ada hal yang membuat Tuhan tersinggung, aku minta maaf. Aku penemu sekaligus pembasmi makhluk jenis baru serupa jin dan malaikat yang bisa hidup dan beranak-pinak dalam perut seorang gadis tanpa diketahui bagaimana ia bermula.

Maka dengan tenang kuucap, “Badai asing kurang ajar yang masuk ke perutku, beranak-pinak tanpa peduli betapa susah fisikku karena menampung bobotmu yang kian hari kian berat, kuucapkan selamat tinggal.”

Dalam pandangan lamur, pisauku berlumuran darah. Tidak ada makhluk serupa jin atau malaikat, atau tiupan angin hingga gubuk roboh.

Setelah perut terbelah, yang ada seonggok daging, segumpal rambut, dua bola mata, dan bau amis. Tuhan bercanda. Terbuat dari apa badai yang tumbuh dan beranak-pinak dalam perutku sih? [ ]

Gempol, 2015-2019

 

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya tersebar di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018).

 

Continue Reading

Cerpen

Evolusi Homo Sapiens

mm

Published

on

Oleh: Sasti Gotama

 Seekor Homo sapiens terjatuh begitu saja dari langit. Untung saja ia terjatuh di atas tumpukan rumput kalanjana. Meskipun begitu, tetap saja ia merasa kesakitan lalu menguik    –yang bunyinya lebih mirip suara bekantan di rimba Kalimantan. Jika saja ia tidak terlalu berkonsentrasi dengan nyeri di pantatnya, tentu ia akan sadar bahwa suaranya  mengejutkan sepasang kupu-kupu hitam yang hinggap di pucuk ilalang hingga keduanya terbang berpencar, tak jadi melakukan ritual perkawinan.

Homo sapien itu bangkit sambil berusaha mengingat-ingat, bagaimana ia bisa terjatuh di tumpukan rumput ini. Seingatnya, terakhir kali yang  ia lakukan –beserta kawanannya– adalah mengejar seekor kukang tanah setinggi pohon yang melarikan diri menuju rimbunan  pakis haji raksasa. Ia mengejarnya sambil mengayunkan tombak batu yang baru diasahnya tadi malam. Ujung daun-daun itu sempat menggores kulit lengan sebelum ia merasa kakinya menginjak sesuatu yang lembut dan lunak.  Rawa. Tanah lembek itu mengisapnya ke dalam. Semakin dalam, hingga ia tak sempat berteriak ketika tanah hitam lembap itu masuk ke dalam lubang hidung dan mulutnya –terasa pahit dan asin– sebelum akhirnya ia melihat kegelapan yang berganti cahaya menyilaukan. Kemudian ia terjatuh begitu saja.

Ia melihat ke sekelilingnya. Dunia yang asing. Ia melihat tanaman  sejenis rerumputan yang dikumpulkan dalam berpetak-petak tanah. Ia pernah melihat tanaman sejenis rumput ini yang berbuah biji-bijian di suatu tempat di tengah hutan sebelum ia dan kawanannya berpindah tempat di musim kemarau panjang. Namun, rumput yang pernah dilihatnya hanya  serumpun, bukannya hamparan   kuning keemasan yang sepertinya sengaja ditanam dan terlihat seperti rimbunan bulu-bulu kukang terbentang di bawah kaki bukit.

Ia mendongak dan melihat langit sudah mulai terang. Bola api  raksasa merayap keluar dari balik bukit. Homo sapiens itu  memutuskan berjalan menuju ke arah sinar  dengan menyusuri parit buatan.

***

Sementara itu, seorang Homo sapiens lainnya berjenis kelamin laki-laki dan berbaju hitam  bernama Toha sedang berjalan mondar-mandir di depan pintu rumah. Ia menunggu Imron, sepupunya, yang berjanji akan datang secepatnya setelah selesai nyabis ke Kyai Soleh.   Toha tak menghiraukan istrinya – Maemunah—juga kopi panas yang diletakkan di atas meja. Ia juga tak  peduli  kelopak mata istrinya bengkak karena menangis semalaman. Yang ada dalam pikirannya adalah harga diri yang harus dibela.

Seminggu yang lalu, Bukad  –pamannya– baru saja memenangkan pemilihan  klebun   di alun-alun Wirakrama. Sayangnya, Sugali, klebun yang lama menolak menyerahkan tanah percaton  karena menganggap sudah melakukan tukar guling dengan tanah miliknya di pinggir desa.  Bukad tidak terima, karena tanah percaton hasil tukar guling terletak jauh dari pusat desa dan tanahnya tidak begitu subur. Sugali berkilah bahwa ini sudah disahkan oleh pemerintah pusat. Ia menunjukkan berbagai macam surat yang menetapkan perihal ini. Tentu saja, Bukad tak terima. Ia mencium adanya persekongkolan dan  mencurigai bahwa tanda-tangan yang tertera di surat-surat itu dipalsukan. Ia lalu mengajak pendukungnya untuk beramai-ramai menyerbu rumah Sugali.

Sebagai kerabat yang baik, tentu saja Toha merasa berkewajiban membela pamannya. Ini masalah kehormatan. Bagi sukunya, kehormatan harus dijunjung tinggi. Lebih baik putih tulang daripada putih mata.

Tepat pukul delapan lebih lima belas menit, Toha melihat Imron datang. Segera diraihnya celurit –berukuran enam puluh sentimeter dengan ujung melengkung– yang telah diasahnya tadi malam . Ia menghampiri Imron yang juga membawa senjata yang sama. Tekad mereka bulat. Membela kebenaran.

Maemunah melepas keduanya dengan mata  sembab. Percuma saja meminta seorang lelaki sukunya yang sudah bertekad bulat untuk mengurungkan niat. Seperti halnya yang terjadi pada kisah-kisah sebelumnya, hal-hal seperti ini  –perihal membela kebenaran–  sering berujung pada carok masal. Padahal entah itu memang sebuah kebenaran atau kepentingann seseorang, Maemunah tak yakin. Sama tak yakinnya ia  bahwa Toha akan pulang selamat. Perlahan ia menutup sepasang pintu jati rumahnya, lalu jatuh terduduk dan bersandar pada pintu. Ia menangis tanpa suara.

Sementara itu pasukan pembela Bukad, termasuk Toha dan Imron,  sudah berkumpul di depan rumah Sugali. Mereka berteriak-teriak sambil mengacungkan celurit yang mereka bawa. Sebagian dari mereka memanggil nama Sugali. Sisanya memaki-maki.

Sugali terdiam di balik pintu. Bukannya ia gentar, tapi ia merasa melakukan hal yang benar. Akhir bulan Mei, lima tahun yang lalu, ia melihat atap salah satu sekolah dasar di pinggir desa tampak miring. Pemandangan yang lebih mengenaskan terlihat saat ia masuk ke dalam ruangan kelas. Dinding banyak yang rusak dan kayu-kayu penyangga rapuh dimakan rayap. Seolah-olah, jika ia bersin, maka bangunan ini akan rubuh begitu saja. Belum lagi letak sekolah ini jauh dari pusat desa. Anak-anak yang bersekolah harus menempuh jalan yang cukup jauh, melewati bukit kapur dan persawahan warga. Sugali berpikir, seandainya saja tanah pecaton di tengah desa bisa ia tukar dengan tanahnya di pinggir desa, mungkin bisa ia bangun sekolah yang lebih bagus.

Teriakan-teriakan semakin keras terdengar. Sugali sempat berpikir untuk keluar dan menjelaskan, tapi sesuatu berbisik di telinganya bahwa itu sama saja dengan bunuh diri dengan sadar. Jadi, ia memutuskan menunggu. Pendukungnya akan segera datang. Rencana Bukad untuk menyerbu rumahnya sudah bocor sejak tadi malam sehingga ia dan pendukungnya sudah menyiapkan taktik balasan. Tadi malam, ia gelorakan semangat pendukungnya. “Mereka melakukan fitnah sistematis. Mengatakan saya melakukan persekongkolan dan tipu muslihat. Padahal saya melakukan kebenaran. Kebenaran harus ditegakkan. Dibela sampai titik darah penghabisan!” Tentu saja ia tak mengatakan darah siapa yang harus dialirkan. Yang pasti bukan darahnya sendiri.

Ketika masa Bukad semakin beringas dan hendak merobohkan pagar rumah Sugali, dari arah belakang, ratusan masa pendukung Sugali menyerbu. Di tangan mereka ada celurit dan kelewang. Carok! Ujung-ujung celurit itu mulai liar. Menghujam kulit, menyobek daging, memenggal leher, hingga darah mengalir deras. Tak ubahnya  medan perang Kurukshetra.

Semuanya sibuk berperang hingga tak memperhatikan seekor Homo sapiens telanjang yang terdiam di pinggir jalan. Ia telah  menempuh empat puluh lima menit menyusuri jalan makadam dan terhenyak ketika melihat sekumpulan makhluk yang mirip dirinya saling menghujamkan senjata tajam.

Homo sapiens itu terheran-heran. Selama hidupnya, tak pernah kawanannya saling melukai seperti itu. Biasanya  mereka memburu bison atau kukang tanah raksasa bersama-sama. Menombak, memenggal kepala, dan mengulitinya, tapi tak pernah kawanannya saling memburu sesama. Ia bertanya-tanya, apakah mereka berperang karena memperebutkan daging  bison atau kambing liar atau kukang raksasa. Tetapi ia melihat  di sekitar mereka  tak ada bangkai binatang yang diperebutkan. Lagipula perut mereka membulat dan otot-otot mereka tampak pejal. Yang pasti mereka tak tampak kelaparan.

Homo sapiens itu tak pernah tahu, bahwa berpuluh-puluh tahun yang lalu, seorang Homo sapiens lain bernama Sigmund Freud telah menemukan  hal penting yang membuat Homo sapiens saling berperang. Ego. Ego yang tunduk pada id. Tentu saja ini adalah hasil evolusi otak dari seekor Homo sapiens. Jika saja Homo sapiens dari masa lalu itu tahu, bahwa ini hasil evolusi dari otak besarnya, mungkin ia akan menolak berevolusi dan tetap memilih menjadi lutung jantan.

***

Sebelas orang meninggal dan puluhan luka berat. Dan berminggu-minggu kemudian, dari kedua belah pihak –baik Bukad maupun Sugali—mengatakan bahwa masing-masing dari masa mereka disusupi oleh pembuat onar. Begitu kata mereka saat diwawancarai oleh reporter wanita cantik berambut pendek yang datang dari ibu kota. Tak  ada satu pun dari mereka menyebutkan keberadaan seekor Homo sapiens telanjang yang melenggang di tengah desa dengan wajah heran.

SELESAI

___

Keterangan:

Keterangan:

Nyabis: diisi tenaga dalam

Klebun: kepala desa

Percanton: tanah bengkok

Continue Reading

Cerpen

Tentang Maria, Gedung Bioskop, dan Buku Harian yang Tertinggal

mm

Published

on

Getty Images/ The Lovers by Rene Magritte

Aku dan Maria tidak punya masalah apa-apa tentang cinta, tetapi kami tak pernah bisa punya anak. Aku tidak menceritakan lebih detail, bahkan pada buku harian, andai aku punya. Aku ke luar dan mencari Toni, tapi tak menemukannya. Aku tidak menyusul pemuda itu ke rumahnya, melainkan duduk untuk meneruskan bacaanku terhadap buku harian Maria.

 

Oleh Ken Hanggara *)

Pada sore hari setelah Maria pergi, aku duduk di teras dan membuka-buka sebuah buku harian. Di sampul depan buku harian tersebut terdapat suatu cap yang dahulu aku buat di sana untuk kenang-kenangan agar Maria tak melupakanku.

“Ini hadiah dariku, Bung,” kataku kepada seorang tetangga.

“Kau yakin kalian benar-benar saling mencintai?”

Aku berdiri dan mengajaknya masuk ke ruang tamu. Toni tetangga baruku, dan ia belum pernah menyapa Maria. Tiga hari yang lalu Toni datang dengan membawa mobil pick up berisi berbagai perabot, dan kepadaku yang kebetulan berada di teras rumahku, ia mengaku semua benda tersebut warisan. Ia akan tinggal di rumah sebelah yang sudah sepuluh tahun lebih kosong.

Aku mengenal Toni sejak itu, dan karena ia bujangan, aku bisa mengajak pemuda itu mengobrol apa saja sampai larut malam. Maria tidak pernah mau kuajak bercumbu sebelum tidur dan itu tidak kuceritakan pada Toni.

Karena tidak pernah kuungkit-ungkit soal Maria, dan begitu tahu pasanganku pergi tanpa pamit, Toni berpikir Maria tidak benar-benar mencintaiku. Ia berkata, sambil kami melangkah ke dalam, “Kalau tidak begitu, ada sesuatu yang salah.”

Aku berhenti dan bermenung di depan foto diriku dan Maria yang berdiri sambil berpelukan di depan gedung bioskop tujuh tahun lalu, waktu kami pengantin baru. Aku tidak berkata apa-apa sampai akhirnya sadar ada Toni di sini, dan kujawab, “Sebetulnya tidak ada yang salah.”

Aku tahu ada yang beda di wajah Toni, dan kukira dia tidak enak saja padaku yang lebih tua beberapa tahun, tapi sudah dituduh macam-macam. Soal asmara bagi beberapa orang bisa jadi sensitif. Mungkin karena itu Toni memutuskan diam.

Kami tidak berkata apa-apa sampai kuajak Toni ke ruang tengah. Ada lebih banyak fotoku dan Maria dari tahun ke tahun. Ada beberapa yang sengaja dibuat khusus untuk mengenang bahwa kami tidak akan berubah soal cinta.

“Foto-foto macam ini,” jelasku pada Toni, yang terlihat agak lega, karena aku bisa bersikap santai, “dimulai dari ketidaksengajaan. Itu foto waktu kami pertama jadian.”

Kutunjuk sebuah foto, dan kemudian jariku beralih ke foto lain di samping kanan foto tadi.

“Ini setahun pertama kami jadian. Posisiku dan Maria terlihat sama seperti di hari ketika kami bersumpah akan terus bersama. Dia di kanan dan aku di kiri. Kami tetap berpelukan. Lihat, senyum kami juga sama. Ketika itu Maria bilang, ‘Aku tidak mau kita pacaran, dan kelak selesai begitu saja tanpa ada yang bisa dikenang.’ Maka kusodorkan ide foto dengan pose yang sama dari tahun ke tahun, dan perempuanku itu setuju. Dan kini, kamu lihat hasilnya!”

Toni mengangguk-angguk selagi kujelaskan itu. Ia sesekali bicara soal keakuratan senyum kami.

Senyumku dan Maria dari tahun ke tahun nyaris tak pernah terlihat beda dari foto di tahun sebelum dan sesudahnya. Bagi Toni, merancang foto seperti ini tidak semudah yang orang pikir, apalagi yang kami lakukan melebihi dari foto dengan pose tunggal. Yang kami lakukan membeku untuk urusan asmara. Ada beberapa yang beda di wajahku, yang jadi agak bulat, tapi senyumku dan Maria tak pernah beda.

Lalu kami melompat ke topik lain soal ayah dan anak di suatu belahan bumi, yang berfoto dengan pose tunggal setiap tahunnya, dan ketika si bocah semakin lama semakin besar, posisi ayah yang menggendong anaknya dapat dibalik sewaktu-waktu.

“Di foto kalian, tidak ada yang bakal terbalik, sebab kalian saling berpelukan, dan kita bisa memeluk siapa pun tanpa harus menjadi kuat. Apa yang tadi sempat kukatakan soal kalian yang sama-sama saling mencintai, harus kutarik dan aku menyesal sudah mengatakannya,” tutur Toni dengan memandangku lesu.

Aku mengangguk. Urusan percintaan saat manusia sudah berusia tiga puluh ke atas, atau empat puluhan, atau bahkan lima puluh hingga seratus tahun, sangat berbeda dari kisah cinta yang pada umumnya orang percayai.

“Aku dan Maria sering bertengkar dari waktu ke waktu setelah tahun keenam kami. Bayangkan, itu baru enam tahun kami menikah. Aku menikahi Maria pada saat umurku dua puluh delapan, dan dia dua puluh tujuh. Jadi, sekarang ini kami masih cukup muda, padahal kenyataannya aku dan Maria merasa sama-sama menua.”

Aku tidak ingin menjelaskan lebih jauh. Kuajak Toni berjalan lagi ke depan setelah puas melihat hampir semua fotoku dan Maria yang ada di ruang tengah.

Begitu aku ingat sudah menunjukkan foto-foto kami dengan pose tunggal kepada seorang tetangga baru, aku berbelok ke kamar dan mencari sesuatu di sana.

“Kau tunggu di depan,” kataku pada Toni.

Tak butuh waktu lama untuk tahu betapa Maria sudah membawa kamera dan setiap file dalam laptopku yang menyimpan seluruh foto dengan pose tunggal tadi. Itu adalah bukti untuk, paling tidak, dua kemungkinan. Pertama, Maria tidak ingin melupakanku sehingga foto-foto yang kami buat akan ia simpan selamanya meski kami tak bersama. Kedua, ia hapus seluruh file tersebut sehingga tidak ada lagi yang tahu bagaimana cara kami menyimpan cinta yang dulu begitu kami agungkan.

Aku dan Maria tidak punya masalah apa-apa tentang cinta, tetapi kami tak pernah bisa punya anak. Aku tidak menceritakan lebih detail, bahkan pada buku harian, andai aku punya. Aku ke luar dan mencari Toni, tapi tak menemukannya. Aku tidak menyusul pemuda itu ke rumahnya, melainkan duduk untuk meneruskan bacaanku terhadap buku harian Maria.

Di gedung bioskop,” desisku.

Itulah potongan kalimat pertama di buku harian Maria. Ia pernah bilang bahwa ia sengaja memindah catatan hariannya ke buku baru, setelah ada lelaki yang memenuhi kebutuhan cintanya, yakni aku. Jadi, hari ketika kami berdua bertemu itu Maria jadikan halaman pertama di buku harian barunya yang tebal.

Aku pernah bertanya, “Kamu menyiapkan buku setebal itu untuk tahun-tahun yang manis bersama orang paling beruntung, ya?”

“Aku yakin buku ini tidak akan pernah putus, karena ketika dia sudah kehabisan halaman kelak, akan kutambah dengan buku harian yang juga tebal, lalu mereka berdua kujahit, begitu seterusnya. Bisa dibayangkan? Kelak anak cucu kita akan tahu betapa nenek moyang mereka adalah penulis yang romantis!”

Aku bahagia dan merasa terhormat mendapat tempat seistimewa itu di hati Maria. Dia pernah dikhianati lelaki sewaktu masih SMA, dan sejak itu hingga berumur dua puluh tujuh, tidak sekali pun jatuh cinta. Dengan kata lain, akulah pria pertama yang ia cintai setelah bertahun-tahun membenci cinta.

Di gedung bioskop, seorang lelaki datang menyapaku, dan dia bertanya film apa yang bagus ditonton seorang diri? Kalimat pertama itulah yang ditulis Maria, dan aku ingat betapa dengan konyolnya aku bertanya soal film yang baik ditonton oleh orang yang kesepian. Waktu itu pilihan filmnya hanya romansa. Aku dan Maria dengan senang hati menonton bersama. Ia mudah menerima teman baru sepertiku, yang baginya lucu. Memang ketika itu aku merasa bodoh dan lucu.

Pulang dari bioskop kami mengobrol seperti teman biasa yang baru berkenalan. Ia kumintai nomor telepon, dan sejak itu, kami sering pergi ke bioskop. Sering juga kami menonton film yang dibuat untuk mereka yang tidak punya pasangan. Film-film macam superhero dan hal-hal tak masuk akal yang cenderung kekanak-kanakan. Aku tahu film semacam itu tidak benar-benar dibuat khusus untuk mereka yang single, tetapi tentu saja aku dan Maria ketika itu senang bercanda.

Begitulah, aku membaca halaman demi halaman buku harian Maria yang ditinggal, entah sengaja atau tidak. Buku harian itu kutemukan di lantai ruang tengah, tergeletak begitu saja bersama beberapa brosur liburan murah ke luar negeri serta beberapa buah buku bacaan yang Maria sukai. Benda-benda ini tersimpan di salah satu tas yang kukira harus Maria bawa, namun tak sengaja ditinggalkan. Aku tahu dia pergi dari rumahku dengan tergesa-gesa. Tidak ada alasan lain selain karena takut aku melarangnya.

Memikirkan Maria yang merasa tidak akan ada gunanya kami hidup tanpa pernah ada calon bayi di perutnya, membuatku sedih dan mungkin baiknya aku juga berkemas malam ini dan pergi dari rumah. Aku pergi untuk mencari Maria, atau mungkin pergi ke tempat mana pun yang kusuka untuk menghibur diri. Tapi, tubuhku lemas dan tak ada kemauan mewujudkan pikiran gila apa pun.

Mungkin esok keputusan itu ada. Mungkin juga tidak. Tapi, untuk saat ini tak ada hal apa pun yang ingin kulakukan selain tetap di sini. (*)

Gempol, 2017-2019

 _______________

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, esai, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya Museum Anomali (Unsa Press, 2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (Basabasi, 2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (Basabasi, 2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (Basabasi, 2018).

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending