Connect with us

Cerpen

Jalanan Yang Berbayang

mm

Published

on

Ivan Bunin | Penerjemah: Ladinata Jabarti[1]

 

Pada cuaca buruk musim rontok yang dingin[2], sebuah kereta yang terpercik lumpur dengan penutup kap setengah terbuka, yang ditarik oleh tiga ekor kuda yang agak biasa, yang ekor-ekornya diikat untuk menghindari lumpur salju, berjalan di salah satu jalan besar Tula[3], yang digenangi oleh air hujan dan disayat oleh banyak jejak roda berwarna hitam, mendekati bangunan panjang dari kayu, yang pada satu bagiannya ditempati oleh pos stasiun pemerintah dan bagian lainnya oleh rumah penginapan pribadi, yang menjadi tempat bagi para pelancong untuk dapat beristirahat atau bermalam, makan siang atau memesan samovar[4]. Di atas bangku tempat kusir, duduk seorang laki-laki kekar berwajah gelap dan murung, dengan janggut hitam pekat yang jarang, mirip seorang begal tua, mengenakan mantel petani yang diikat dengan rapat, sedang di dalam kereta tampak seorang lelaki tua yang ramping dengan topi besar dan mengenakan mantel tentara berwarna kelabu dengan potongan yang diambil dari masa kekaisaran Nikolai I[5], memiliki kerah berdiri tegak yang terbuat dari kulit berang-berang, dengan alis berwarna hitam, tetapi dengan misai berwarna kelabu, yang ujung-ujungnya menyentuh jambang, yang juga berwarna serupa; dagunya bersih tercukur dan seluruh tampilan lahirnya memiliki kesamaan dengan gaya pada masa Alexander II[6], yang begitu menyebar di antara para tentara pada masa kekaisarannya; pandangan matanya mengandung pertanyaan, keras dan bersamaan dengan itu tampak lelah.

Ketika kuda-kuda berhenti, dia mengeluarkan kakinya yang bersepatu lars dengan bagian atas yang rapat dari kereta dan sambil memegang mantelnya dengan tangan yang dibalut dengan sarung tangan dari kulit halus kambing, dia berlari naik tangga menuju ke bagian serambi bangunan.

“Ke arah kiri, Yang Mulia,” dengan suara kasar sang kusir berteriak dari tempat duduknya, laki-laki itu, setelah sedikit membungkuk di ambang pintu, lantaran tubuhnya yang tinggi, berjalan melewati pintu masuk, kemudian ke sebuah ruangan di sebelah kiri.

Ruangan itu terasa hangat, kering dan rapih: di sudut kiri tampak ikon[7] baru dengan warna keemasan, di bawahnya ada meja yang ditutupi taplak bersih yang tidak dikelantang[8], di balik meja terlihat bangku-bangku yang telah dicuci dengan bersih; tungku dapur, yang mengambil tempat di sebelah kanan jauh ruangan, baru saja dilaburi kapur; lebih dekat lagi ke pintu, berdiri sesuatu seperti bangku pendek tanpa sandaran yang ditutupi oleh baju kuda belang-belang, yang ditumpukkan secara lepas pada sisi tungku dan dari balik penutup tungku tercium bau enak sup kol, dengan daun salam dan daging sapi yang direbus sampai lunak.

Laki-laki yang baru datang itu melemparkan ke atas bangku mantelnya dan dalam balutan pakaian seragam dan sepatu lars, tampak tubuhnya lebih ramping lagi, kemudian dia melepaskan topi dan sarung tangan dan dengan gerak laku yang lelah dia mengusapkan tangan kurus pucat pada kepala yang rambutnya beruban, agak berikal, dengan sisiran rambut dari bagian pelipis ke depan menuju sudut mata, wajah lonjongnya yang rupawan dengan mata gelapnya memperlihatkan bekas cacar kecil di beberapa tempat. Seorang pun tidak ada di ruangan tersebut dan setelah agak sedikit membuka pintu, dia berteriak dengan suara yang tidak bersahabat:

“Hei, apakah di sana ada orang?”

Dengan seketika, sesudah itu, datang ke ruangan seorang perempuan berambut gelap, juga seperti sang lelaki, beralis hitam dan, bukan didasarkan pada usia, masih juga jelita, mirip perempuan gipsi paruh baya, yang pada bibir bagian atas dan menyusur pipi, tampak sesuatu yang tipis gelap; meski tubuhnya cukup gemuk, dengan dada besar dibalut baju warna merah dan dengan perut berbentuk segitiga di balik rok hitam yang terbuat dari kain wol, seperti yang terdapat pada angsa, dia berjalan dengan cekatan.

“Selamat datang, Yang Mulia,” katanya. “Apakah Anda menginginkan untuk makan atau dibawakan samovar?”

Samovar. Kau pemilik penginapan atau pelayan?”

“Pemilik, Yang Mulia.”

“Jadi, kau sendiri yang menjalankan tempat ini?”

“Benar. Saya sendiri.”

“Bagaimana bisa begitu? Kau janda, atau apa, sehingga kau sendirian mengurus usaha?”

“Saya bukan janda, Yang Mulia, tetapi saya harus melakukan kehidupan dengan sesuatu. Dan saya senang mengelola usaha.”

“Begitu, begitu. Itu bagus. Dan penginapanmu sangat menyenangkan dan bersih.”

Perempuan itu, sambil memicingkan mata, selalu melihat dengan tajam pada sang lelaki.

“Kebersihan juga saya senang,” jawabnya. “Saya dulu besar di rumah kaum majikan, bagaimana saya tidak pintar mengurus tempat saya sendiri dengan patut, Nikolai Alekseevich.”

Laki-laki tersebut dengan segera berdiri tegak, membuka matanya lebar-lebar dan wajahnya memerah:

“Nadezhda! Kau?” katanya dengan cepat.

“Saya, Nikolai Alekseevich,” jawab sang perempuan.

“Ya, Tuhan! Ya, Tuhan!” kata lelaki itu, sambil duduk di atas bangku dan melihat dalam-dalam pada Nadezhda. “Siapakah yang dapat memikirkan ini! Sudah berapa tahun kita tak bertemu? Tiga puluh lima tahun, kira-kira?”

“Tiga puluh tahun, Nikolai Alekseevich. Saya sekarang berumur empat puluh delapan, sedangkan Anda, saya pikir hampir enam puluh?”

“Seperti itulah…Ya, Tuhan, betapa anehnya!”

“Apakah yang aneh, Tuan?”

“Semuanya, semuanya…Tentu saja kau mampu memahami!”

Kelelahan dan pengabaiannya menghilang, Nikolai Alekseevich bangun dari bangku dan dengan langkah pasti dia mulai berjalan di sekitar ruangan tersebut, sambil menatap ke lantai. Kemudian dia berhenti, pelan-pelan dia jadi memerah,  menjalar ke jambang kelabunya dan dia mulai bicara:

“Sejak saat itu, mengenai dirimu, aku tidak mengetahui apa-apa. Bagaimana kau bisa sampai ke sini? Mengapa kau tidak tinggal dengan majikanmu?”

“Segera setelah Anda pergi, majikan saya memberikan surat pembebasan[9].”

“Dan di mana kemudian kau tinggal?”

“Panjang jika diceritakan, Tuan.”

“Bersuami, seperti yang kau katakan, tidak pernah?”

“Tidak, tidak pernah.”

“Mengapa? Dengan kecantikanmu itu?”

“Saya tak dapat melakukannya.”

“Mengapa tidak? Apa yang ingin kau katakan?”

“Apa yang harus dijelaskan? Mungkin Anda ingat, betapa saya begitu mencintai Anda.”

Laki-laki tersebut menjadi sangat memerah, hingga airmatanya keluar dan dengan mengerutkan dahi, dia melangkah lagi.

“Semuanya berlalu, Nadezhda, kawanku,” gumamnya. “Cinta, masa muda – semua, semua. Itu adalah kisah yang biasa dan tidak ada artinya. Semua berlalu bersama waktu. Seperti yang dikatakan di dalam book of Job[10]? ‘Seperti kamu akan mengingat air yang menguap’.”

“Itu adalah apa yang Tuhan berikan kepada manusia, Nikolai Alekseevich. Masa muda pada setiap orang berlalu, tetapi cinta – masalah lain.”

Nikolai Alekseevich mengangkat kepalanya, menghentikan langkah, dengan rasa sakit dia tersenyum:

“Tapi tentu saja kau tidak dapat mencintai aku selama hidupmu!”

“Tetapi saya mampu, Nikolai Alekseevich. Berapa banyak waktu telah berlalu, hidup saya tetap sendiri. Saya tahu, Anda tidak seperti dulu, sudah lama sekali, sekarang bagi Anda seolah itu tak berarti apa-apa dan tak pernah ada, tetapi beginilah, masih…Sudah terlambat kini untuk menyalahkan, tetapi ini benar, Anda membuang saya dengan tanpa berbelas kasih, berkali-kali saya ingin meletakkan tangan saya pada diri saya, karena luka hati hidup sendiri, tentu saja tak perlu mengatakan yang lainnya, semuanya. Pernah ada waktu, Nikolai Alekseevich, ketika saya menyebut Anda Nikolenka[11] dan Anda memanggil saya – ingat bagaimana? Dan Anda selalu membacakan saya sajak-sajak tentang ‘jalanan yang berbayang’,” tambahnya dengan senyum yang suram.

“Ah, betapa menyenangkannya kau dulu!” Nikolai Alekseevich berkata, sambil mengangguk-anggukan kepala. “Betapa memggairahkan, betapa cantiknya! Tubuhmu bukan alang kepalang! Matamu juga bukan alang kepalang! Kau ingat, bagaimana semua orang memandangmu?”

“Saya ingat, Tuan. Anda juga dulu sangatlah tampan. Dan karena itu, saya serahkan kepada Anda segala kecantikan dan kegairahan saya. Bagaimana juga saya dapat melupakan hal yang demikian.”

“Ah! Semuanya berlalu. Semuanya terlupakan.”

“Semuanya berlalu, tetapi tidak semuanya terlupakan.”

“Pergilah,” kata sang lelaki, sambil membalikkan badan dan berjalan ke arah jendela. “Pergilah, tolong.”

Setelah mengeluarkan saputangan dan menyeka matanya dengan saputangan tersebut, lelaki itu menambahkan:

“Aku hanya berharap, agar Tuhan memaafkan. Dan kau, tampaknya, telah memaafkan aku.”

Nadezhda berjalan mendekati pintu dan menghentikan langkah barang sebentar:

“Tidak, Nikolai Alekseevich, saya tidak memaafkan. Semenjak perbincangan kita menyentuh perasaan kita, saya akan berkata dengan jujur: memaafkan Anda, saya tidak mampu. Saat itu, saya tidak memiliki sesuatu pun di dunia ini yang lebih bernilai dibanding Anda, demikian juga setelahnya, tidak pernah. Karenanya, memaafkan Anda, saya tidak mampu. Baik juga untuk dijadikan ingatan, orang mati itu tidak dibawa dari kuburan.”

“Ya, ya, tidak ada pengertiannya dalam hal ini. Mintakan pekerja untuk menyiapkan kuda,” jawabnya, sambil menjauh dari jendela dengan wajah yang keras. “Satu hal yang akan aku katakan kepadamu: dalam hidup ini aku tak pernah bahagia, tolong, jangan berpikir apa-apa. Maafkan aku, bahwa, barangkali, aku menyakiti harga dirimu, tetapi aku akan katakan kepadamu secara terus terang, aku dengan sangat tergila-gila mencintai istriku. Tetapi dia menghianati aku, dia meninggalkan aku dengan begitu banyak penghinaan, dibanding aku terhadapmu. Aku memuja-muja anakku, ketika dia masih kecil, begitu banyak aku menaruh harapan kepadanya! Tetapi ketika besar, dia menjadi seorang bajingan, penghambur uang, seorang kurang ajar yang tanpa hati, tanpa kehormatan, tanpa suara hati…Bagaimanapun juga itu semua merupakan cerita yang sangat biasa dan tidak ada artinya. Aku berharap kau beruntung, Nadezhda, kekasihku. Aku berpikir, bahwa di dalam dirimu aku kehilangan sesuatu yang sangat bernilai, sesuatu yang aku miliki di dalam hidup.”

Perempuan itu berjalan menghampirinya dan mencium tangannya, dia sendiri mencium tangan perempuan tersebut.

“Mintakan pekerja untuk menyiapkan…”

Ketika mereka, dia dan sang kusir, pergi semakin jauh, dia berpikir dengan muram: “Ya, betapa menyenangkannya dia dulu! Betapa kecantikannya mempesona!” Dengan rasa malu dia mengingat kata-kata terakhirnya dan ketika dia mencium tangan sang perempuan; saat itu juga dia jadi merasa malu karena rasa malunya itu sendiri. “Tidakkah ini benar, bahwa perempuan tersebut telah memberikan masa-masa yang terbaik di dalam hidupku?”

Matahari yang pucat tampak terlihat di langit sebelah barat. Sang kusir menjalankan kudanya dengan langkah-langkah sentak, mengubah dari satu jejak roda yang hitam ke jejak yang lain dan memilih yang lumpurnya lebih sedikit dan dia juga memikirkan sesuatu. Akhirnya dia berkata dengan suara kasar yang muram:

“Dan perempuan itu, Yang Mulia, tetap melihat lewat jendela, ketika kita pergi. Kelihatannya, sudah lama Anda mengenalnya?”

“Ya, sudah lama, Klim.”

“Perempuan yang sangat bijak. Orang-orang mengatakan, dia terus bertambah kaya. Dia meminjamkan uang kepada penduduk.”

“Itu tak berarti apa-apa.”

“Bagaimana tidak berarti! Siapakah yang tidak ingin hidupnya lebih baik! Jika orang memang patut dibungakan, tidak ada ruginya itu dilakukan. Dan dia, kata orang-orang, adil dalam hal ini. Tetapi dia juga keras! Tidak mengembalikan sesuai waktu – salahkan dirimu sendiri!”

“Ya, ya, salahkan dirimu sendiri…Tolong, percepat, Klim, aku khawatir kita akan tertinggal kereta api…”

Matahari yang rendah di sebelah barat bersinar dengan warna kuning di atas hamparan ladang kosong, kuda-kuda selalu mendebur genangan air. Nikolai Alekseevich melihat pada ladam kuda yang gerakannya berganti-ganti dengan cepat, dia menarik kedua alis hitamnya dan terpekur:

“Ya, kau harus menyalahkan dirimu sendiri. Ya, tentu saja, itu masa-masa terbaik di dalam hidupku dan bukan hanya terbaik, tetapi juga benar-benar ajaib! ‘Di sekitar, mawar liar merah yang menawan berbunga, tampak jalanan dengan pohon-pohon linde[12] yang kabur…’[13] Tetapi ya, Tuhan, apakah kira-kiranya yang terjadi selanjutnya? Apakah yang terjadi, sekiranya aku tidak membuang dia? Ah, omong kosong apa!  Itu adalah Nadezhda, perempuan yang bukan pemilik penginapan di pinggir jalan, melainkan istriku, sang pemilik rumahku di Petersburg[14], ibu dari anak-anakku?”

Dan dia menggeleng-gelengkan kepala, sambil menutup kedua matanya.

 

20 Oktober 1938

Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh: Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

Biografi Ivan Bunin

Ivan Alekseyevich Bunin (1870-1953), yang merupakan sastrawan pertama Rusia, yang memperoleh Nobel Prize, dilahirkan di Voronezh, Rusia Tengah, di dalam keluarga bangsawan yang tidak begitu kaya. Pada tahun 1895 Bunin memutuskan tinggal di Moskow dan Petersburg, yang membuatnya berkenalan dengan Chekhov, Konstantin Balmont, Valery Bryusov dan Gorky. Setelah mempublikasikan buku kumpulan prosa “To the Edge of the World and Other Stories” (1897) dan buku kumpulan sajaknya “In the Open Air” (1898), nama Bunin mulai dikenal di Rusia. Atas karyanya, kumpulan sajak “Falling Leaves” (1901) yang didedikasikan kepada Gorky dan terjemahan ke dalam bahasa Rusia “The Song of Hiawatha”, karya Henry Longfellow (1807–1882), yang dipublikasikan di Orlovsky Herald (1896), Bunin pada tahun 1903 dianugrahi Pushkin Prize oleh Russian Academy of Sciences.

Setelah Revolusi 1905 rasa tertarik terhadap kehidupan kaum tani membantu Bunin menghasilkan “The Village” (1910), yang memaparkan kesuraman kehidupan (sebuah) desa Rusia, yang dipenuhi dengan kebodohan, kebrutalan dan kekerasan. Setelah “The Village”, Bunin mengeluarkan “Dry Valley” (1912), yang menggambarkan sejarah kehancuran keluarga bangsawan dan takdir para budaknya, dan “Zakhar Vorobyev”(1912), yang tokoh utamanya menjadi simbol kehidupan hampa dan kematian tragis dari seorang manusia kuat dan berbakat.

Di dalam karya-karyanya Bunin banyak menuliskan tema cinta, kehidupan dan kematian. Salah satu novelnya yang paling puitis adalah “Light Breathing” (1916), yang mengisahkan tentang seorang gadis rupawan bernama Olya (Olga) Meshcherskaya, yang mati di dalam dunia yang bermusuhan dan penuh tipuan dan kekejian. Tidak kalah terkenalnya cerita pendek “The Gentleman from San Francisco” (1915), yang berisikan mengenai kematian mendadak seorang jutawan Amerika, yang menjadi simbol dunia dusta dan tanpa jiwa, dan di dalam dunia tersebut perasaan dan pikiran yang sejati diselimuti oleh dekorasi yang menawan.

Menjelang Revolusi 1917, baik di dalam prosa maupun sajak-sajaknya, Bunin menyuarakan kandungan pikirannya mengenai peristiwa tragis sosial yang makin mendekat tersebut. Setelah Revolusi Oktober untuk selamanya Bunin pada tahun 1920 meninggalkan Rusia dan bermukim di Perancis. Penolakannya terhadap kaum Bolshevik diperlihatkan di dalam karyanya “Cursed Days” (1925).  Karya-karya Bunin di tempat emigrasi, antara lain: “Mitya’s Love” (1924), “Rose of Jerico” (1924) dan “Sunstroke” (1927). Karya terbesarnya, yang merupakan roman otobiografi adalah “The Life of Arseniev” (1927–1933, 1939), yang mengisahkan mengenai perkembangan kehidupan jiwa sang pengarang, mengenai masa-masa bahagia dan tragis yang dilalui. Para kritikus begitu menghargai roman tersebut.

Pada tahun 1933 Ivan Bunin dianugrahi Nobel Prize atas jasanya mengembangkan tradisi prosa klasik Rusia. Di Paris, dalam usia 83 tahun, pada tanggal 8 November 1953, Ivan Bunin wafat.

[1]  Penerjemah: Ladinata Jabarti | Hak Terjemahan Pada: Ladinata Jabarti / Galeri Buku Jakarta, 2016.

[2] Judul Jalanan Yang Berbayang: maksudnya adalah jalanan yang di kanan-kirinya dipenuhi oleh jajaran pohon

[3] Nama kota di Rusia yang jaraknya kurang lebih 200 km dari Moskow, tempat pembuatan segel atau materai

[4] Ketel teh khas Rusia

[5] Tsar Rusia yang memerintah dari tahun 1825-1855

[6] Tsar Rusia yang memerintah dari tahun 1855-1881, anak dari Nikolai I

[7] Gambar suci

[8] Tujuan dikelantang adalah untuk lebih diputihkan. Setelah dicuci dengan sabun atau direndam, kain  tidak dijemur di bawah terik matahari, hanya dianginkan

[9] Maksudnya wolnaya, dokumen, yang menyatakan, bahwa seseorang telah dibebaskan dari perbudakan oleh majikannya

[10] Kitab nabi Ayub (14:11): seperti air menguap dari dalam tasik, dan sungai surut dan menjadi kering

[11] Nama diminutif Nikolai

[12] Pohon dengan daun-daun yang bergerigi dan bunganya menghasilkan  nektar yang wangi

[13] Diambil dari sajak Обыкновенная повесть ‘Riwayat yang Biasa” (1842) karya Nikolai Platonovich Ogaryov (1813-1877),seorang aktivis pergerakan  revolusi Rusia, sastrawan dan penulis

[14] Pada tahun 1703 Saint Petersburg didirikan oleh Peter yang Agung (1672-1725), yang memerintah Rusia pada tahun 1682-1725. Antara tahun 1914-1924 disebut Petrograd. Pada tahun 1712-1728 dan 1732-1918 Petersburg pernah menjadi ibukota Rusia

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Api Diana

mm

Published

on

Aku ingin bercinta sampai mati, tetapi acara bedah buku itu sudah berakhir. Diana dan aku harus bergegas, dan kepada tuan rumah yang juga sekaligus pembicara utama di bedah buku kali ini, kukatakan dengan wajah tanpa dosa: “Sering-seringlah menerbitkan karya dan undang aku seperti malam ini.”

Oleh Ken Hanggara *)

Aku hanya bercanda. Penulis yang juga sahabatku itu pacar Diana, dan aku bukan jenis pemain yang suka menantang bahaya. Berhubungan intim dengan pacar sahabatmu pada waktu bersamaan, di bangunan yang seatap dengan suatu acara penting yang mana sahabatmu itu menjadi rajanya, adalah kekurang-ajaran yang pantas mendapat ganjaran. Aku tidak berharap ganjaran berat kelak menimpaku.

Orang bilang aku sinting, tetapi Diana diam-diam menggilai kesintinganku. Sudah berkali-kali kumohon kepadanya agar berhenti merayuku dan berhenti memesan kamar hotel diam-diam untuk kami berdua.

Diana bilang, “Dia tidak seistimewa kamu.”

Pertama kali bertemu Diana, kukira gadis ini bahagia. Sahabatku pengarang yang sukses dengan buku-buku fiksi yang luar biasa. Dia layak mendapat penghargaan dan uang dan ketenaran. Dia juga pantas menggaet perempuan seindah Diana, dan keduanya terlihat bahagia dengan semua yang mereka miliki.

Aku yang bukan siapa-siapa menyadari itu.

Pada satu kesempatan aku turut datang merayakan kemenangan sahabatku di jagat literasi tanah air. Dia memang tidak pernah melupakan keberadaanku yang dulu sering membantu ketika sedang kesulitan. Aku dulu beruntung dengan bisnis rumah makanku, dan sahabatku mendapat manfaat dari bisnis itu sebelum suatu telepon datang untuknya, mengabarkan jika karyanya yang tempo hari dikirim ke sebuah penerbit diterima untuk diterbitkan. Sejak itu sahabatku bukan lagi penulis muda yang miskin.

Roda berputar. Akulah yang kemudian sering kena masalah. Bisnisku naik-turun dan lama-lama bangkrut. Utang menumpuk sampai kujual beberapa aset, dan kini yang tersisa hanya rumah kecil dan pekerjaan yang tak kuinginkan. Aku tidak perlu menyebut pekerjaan itu. Aku malu. Jelas aku tak seberuntung sahabatku.

Dalam undangan-undangan bedah buku atau sekadar bincang sastra yang diadakan sahabatku, atau di mana dia menjadi narasumbernya, aku selalu melihat sosok lain di panggungnya. Aku melihat perwujudan manusia sukses dengan masa depan cerah. Jauh berbeda dariku yang merana dengan pakaian yang sering kali sengaja tak kucuci sampai seminggu lebih demi menghemat deterjen.

Pertemuanku dengan Diana dimulai di salah satu pesta, dan itu terjadi secara tidak sengaja. Diana tidak benar-benar lebur ke acara-acara yang menjadikan pacarnya raja dalam semalam. Itu karena dia sibuk mengurus bisnisnya dan dia juga masih kuliah. Ketika Diana benar-benar ikut dan aku juga kebetulan di sana, sahabatku mengenalkan gadis itu sebagai masa depan keduanya.

“Diana masa depan keduaku setelah semua yang kucapai hari ini,” katanya waktu itu.

Aku ingat kalimat tersebut. Suatu kalimat yang seorang sahabat dari masa kecil katakan, di acara yang membawa nama besarnya, sementara tidak jauh dari kami berdiri perempuan anggun yang mirip sebagai mimpi di siang bolong. Aku benar-benar merasa ditarik ke alam mimpi, tetapi tidak diizinkan masuk, sebab tiket yang disediakan untuk istana masa depan hanya tersedia untuk sahabatku dan gadis bernama Diana itu.

Aku tidak berpikir ingin merebut Diana atau apa. Sejak awal pikiranku cuma satu: betapa beruntung sahabatku. Kurasa dia layak mendapat semuanya. Tapi, Diana datang padaku suatu sore. Dia bilang, dia bisa mencari info soal di mana tempat tinggalku atau di mana aku bekerja, meski saat kami berjabat tangan dulu, aku tidak menjabarkan siapa diriku dengan mendetail.

Aku tidak tahu kenapa Diana datang ke tempatku, tetapi mendadak aku ditarik ke celah antara sepasang kekasih ini. Aku diajak bermain api oleh Diana dalam percintaan yang membuat jantungku nyaris copot setiap mendapat telepon dari sahabatku.

Diana cantik. Setiap lelaki tidak akan tahan oleh godaan yang dia lakukan. Tidak perlu keahlian khusus untuknya demi melakukan dosa semacam itu. Ia jauh lebih cantik dari bayangan bidadari yang dapat kuimajinasikan seumur hidupku.

Awalnya aku merasa sangat berdosa. Terkadang diam-diam kupukul pipiku sendiri, lalu kukecap darah dari bagian dalam mulutku, sehingga asinnya mengingatkanku pada masa lalu sahabatku yang belum sukses. Aku sering memandangi wajahku lama-lama di depan cermin sebelum tidur. Di sana kubayangkan akulah yang berdiri dengan gagah di podium tempat sahabatku selama ini menyapa para pengagum karyanya.

“Ya, doakan saja karya terbaru saya segera terbit,” katanya selalu, ketika menutup perjumpaan di setiap acara.

Kubayangkan, bibirku yang tebal yang mengucap kalimat basi macam itu di depan penonton. Sayangnya, aku bukan pengarang sukses. Aku hanya lelaki biasa yang sedang kehilangan masa jayanya saat usiaku masih terbilang muda. Betapa menyedihkan. Aku bahkan tak pernah sekalipun bercita-cita menjadi pengarang.

“Tidak ada yang menyedihkan, Dakir,” sangkal Diana. “Kamu masih bisa membuat kisah suksesmu. Dari nol. Tak ada yang tak mungkin. Kamu mampu, kalau kamu mau. Aku bisa bantu, dan pacarku tidak keberatan membantumu, karena dia pernah bercerita kalau dulu kamulah satu-satunya yang membantunya.”

Aku tak benar-benar yakin hidupku akan membaik setelah perselingkuhan dengan pacar sahabatku berlangsung dan justru kami nikmati, karena tidak ketahuan dan sebab tak ada yang curiga. Pertemuan-pertemuan kami tidak terendus karena saking sibuknya sahabatku, dan jarangnya jadwal mereka bertemu. Aku sendiri bisa menggunakan waktu luangku yang banyak.

Saat perselingkuhan ini kupikir akan menjadi penyakit akut yang tak tersembuhkan, aku bayangkan Diana milikku seutuhnya. Aku bayangkan Diana tidak punya hubungan dengan sahabatku. Aku bayangkan kelak akulah yang menjadi suami gadis itu. Bahkan, perlahan dan pasti, beberapa teman kerjaku tahu permainan ini. Tentu aku tidak bodoh. Tidak ada di antara mereka yang mengenal sahabatku, tetapi kemudian oleh tiap orang di tempat kerja, aku disebut-sebut sebagai orang tersinting yang pernah ada.

Itu bukan sekadar julukan. Aku mungkin sinting saat menerima rayuan Diana demi membuat sensasi tersendiri di antara kami. Maksudku, dalam acara bedah buku waktu itu; di bangunan yang sama di mana acara sahabatku dimulai, kami malah asyik bercinta di antara rak-rak buku. Semua itu terjadi begitu saja.

Hanya saja, rasa takut tetap ada di dadaku. Diana tidak pernah terlihat benar-benar takut, tetapi dia bilang, “Setiap orang punya rasa takut. Aku juga takut kalau sampai dia tahu. Bagaimana hubungan kalian? Bagaimana rencana pernikahanku? Di sini, sekarang, aku merasa sahabatmu mengintip, padahal kamu dengar sendiri dia sedang berbicara di ruang tengah.”

Biasanya, selesai kami berbuat gila di tempat-tempat tak terduga, yang berjarak tak terlalu jauh dari sahabatku, aku langsung menjauh dari Diana dan kadang berpikir amat lama tentang bagaimana semua ini berakhir. Sahabatku, barangkali tetap berjaya dengan karyanya. Diana jadi istri yang baik, atau barangkali menolak semua yang mereka telah rencanakan? Kukira itu bisa terjadi. Diana mengaku tak bahagia dengan sahabatku.

Aku sendiri?

Bertahun-tahun setelah ini, yang muncul di pikiranku hanya satu: apa sahabatku itu masih menganggapku sahabat? Jawabannya tergantung dari apa dia tahu permainanku dan Diana atau tidak sama sekali. (*)

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya: Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018).

Continue Reading

Cerpen

Panggilan Masuk Untuk Orang Mati

mm

Published

on

“Mohon maaf, Bapak tidak ada. Bapak sudah mati, 40 hari yang lalu. Kalau Anda ingin bertemu, silakan pergi ke San Diego Hills.” Tak kudengar suara apa-apa di seberang.

Oleh: Inas Pramoda *)

Bapak mati. Tak perlu aku memperhalus kata. Meninggal, wafat, berpulang, jasadnya sama-sama terkubur satu depa di bawah tanah. Seribu hari lagi juga bakalan menyusul jadi tanah. Dan kalau pusaranya ditanami rumput teki, bakalan tumbuh subur, sebab tanahnya peroleh nutrisi dari daging bapak hingga jadi humus. Dua kali ibu menelepon dari rumah selepas bapak mati. Pertama buat mengabari kalau bapak mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Fatmawati. Kali keduanya panggilan masuk dari ibu, untuk sebuah pertanyaan singkat, “Marian, kamu ingat pin ATM Bapak?”

Untung saja aku ingat. Tak lain tanggal lahir Ras, adik bontotku. Sementara pin ATM ibu juga aku hafal betul, yang merupakan tanggal lahirku. Mengapa juga mereka berdua senang sekali bikin pin pakai tanggal lahir anaknya? Padahal seumur-umur aku buat pin, dan Ras juga sepertinya, tak pernah kepikiran pakai tanggal lahir mereka.

Bapak mati tanggal 14 bulan 5. Mungkin satu hari nanti ini bisa kugunakan jadi pin, atau kode gembok koper. Hari itu, aku tak bisa mengantar keranda bapak sampai ke San Diego Hills. Dan stok baju setelan hitamku tertinggal di rumah semua. Jadi saat hari berkabung, aku tetap mengenakan jaket hodie hijauku. Foto terakhir bapak saat masih terbaring di ICU tampak kurus, pipinya agak cekung, dan garis tulang rahangnya terlihat tegas. Yang di pikiranku adalah, itu bakal mengurangi beban bagi para penggotong kerandanya, juga orang-orang yang ikut menurunkan badan kaku bapak ke lantai tanah.

Om Hendra, adik bapak, ia yang meluruskan mayat bapak dan melepas ikatan kafannya mulai kepala. Sebelum lahadnya bakal ditutupi papan kayu yang hanya berjarak sekilan dari badannya yang lambat-lambat membusuk. Om Hendra jadi kerabat bapak paling dekat hari itu, sebab om-om yang lain sudah lebih dulu mati. Sementara Ras, putra kandung bapak, tak ada di rumah. Mungkin juga nanti kalau aku mati, dan suamiku sedang dinas keluar kota, maka Ras yang bakal turun merebahkan jasadku ke lubang kubur.

Berita bapak mati bisa jadi kabar buruk, tapi ada juga baiknya. Sewaktu bapak masih dirawat, aku masygul untuk ikut wisuda. Sebab khawatir kalau nunggu sampai wisuda keburu bapak mangkat. Kalau terlanjur begini, sudah barang tentu toga yang masih anteng di lemari itu bakalan kupakai. Setidaknya setelah bapak mati, ada beberapa hal yang jadi terang, ada beberapa keputusan yang bisa segera diputuskan. Hanya ada satu yang sempat kepikiran, bagaimana sebetulnya prosesi salat gaib yang layak?

Aku cukup rajin salat lima waktu, kubilang cukup karena ada yang terpotong libur bulanan. Namun salat gaib, kukira ini yang perdana. Aku mesti cari tahu dulu keterangannya di internet, dan karena dulu bapak pernah berpesan jangan percaya bulat-bulat apa yang terpampang di situ, aku meminjam buku yasin tahlil milik teman. Dan dari temanku itu, berita kematian bapak merembes dari kuping ke kuping. Hingga akhirnya banyak temanku merasa iba. Sebagian lagi kikuk bagaimana menghadapi orang yang sedang berduka. Kebanyakan adalah orang-orang golongan kedua ini.

Gambar kuburan bapak yang masih basah lalu beredar di media sosial, sambil beberapa menandai nama bapak, juga menyebut namaku dan Ras. Kebanyakan diunggah oleh sepupu dan tante yang datang melayat. Satu yang kusadari ketika orang yang kamu sayangi mati adalah, teleponmu akan lebih ramai dari hari-hari yang lain. Seperti euforia yang sesaat. Sebelum kemudian ingatan orang-orang disibukkan dengan perkara kecil lain yang tak boleh mereka luputkan. Dan perkara kecil itu tak termasuk kematian bapak.

Bagiku setelah bapak mati, itu hanya akan menambah alasan untuk melawat San Diego Hills. Aku bisa sekalian gelar tikar dan mengadakan piknik kecil-kecilan di sana. Pemakaman swasta itu memang dipermak sedemikian rupa hingga para peziarah tak perlu merasa takut, walau harus datang menjelang malam, atau malam sekali pun. Kalau saja tak ada tanda pengenal orang mati, tempat itu serupa taman kota, atau alun-alun. Sepertinya memang bagus kalau pemakaman jadi tempat yang menyenangkan. Meski di bawah tanah tetap dingin, dan cacing berkelindan dengan belulang. Dan bapak mungkin berbagi daging dengan cacing-cacing yang menggemburkan tanah di peraduan Om Rupawan. Toh nisan mereka bersebelahan.

Ternyata sepetak tanah itu sudah dibeli bapak jauh-jauh hari. Sejak kanker mulai menggerayangi tubuh kecilnya yang kian musim kian ceking. Bahkan orang mati masih ingin dikumpulkan bersama orang-orang terdekatnya, aku membatin. Dan sempat terpikir di tempurung kepalaku, apa perlunya begitu? Walau kubur berdempetan juga, kalau sudah jadi mayat tak mungkin kelayapan. Namun ibu potong, “Biar yang ziarah bisa sekalian ngunjungin kerabat.” Itu alasan yang bagus, dan tak perlu ditampik-tampik lagi. Aku harus belajar untuk mengarang alasan semacam itu, agar tak melulu diteror dengan pesan masuk berpuluh-puluh dari seorang lelaki yang menyangka kita pernah demikian dekatnya, dulu.

Ibu baru saja mendarat tadi sore. Hanya menenteng satu koper kecil yang isinya kastangel dan putri salju, juga rok batik yang ia pesan untuk kukenakan saat wisuda besok. Namun sial betul, hingga menjelang tengah malam, hujan tak kelar. Yang berarti esok bakal becek-becekan. Itu masih mending kalau bukan hujan lagi. Kampus pintar sekali menjadwalkan wisuda saat minggu basah begini, dan lebih pintar lagi karena menyiapkan tempat di lapangan. Serampungnya cari makan malam tadi, ibu langsung lemas terlelap. Kalau ada bapak, semestinya ia ikut terlelap di samping ibu sekarang. Karena bapak sudah mangkat, ia hanya datang lewat cerita-cerita ibu seharian tadi. Meski tanpa air mata, cerita ibu malah terdengar lebih menyayat lagi. Bisa kudengar getir kesepiannya saat mulai bercerita Kartu Keluarga yang baru telah dicetak, dan ibu kini jadi kepala keluarganya.

“Sekarang anak-anak gak boleh pulang malem-malem lagi, nanti ibu kunci dari dalem. Tidur di luar.”

Aku susah sekali tidur, padahal tujuh menit ke depan sudah bakal jam tiga. Dan nanti sebelum genap jam delapan kudu berkumpul di kampus. Mataku bergantian melirik layar hpku, lalu layar hp bapak. Itu dibawa ibu dari rumah, dan dibiarkan menyala. Sengaja kata ibu hp bapak tak dimatikan, bukan karena alasan sentimental misalnya banyak tertimbun foto mereka berdua di sana, tapi karena banyaknya langganan dan tagihan yang memakai akun bapak, nomor bapak. Jadi nomor hp bapak dibiarkan aktif, meski itu berarti pesan-pesan masuk ke nomor tadi terus berdatangan, dan terus mengganggu.

Ibu menepuk-nepuk pahaku, tak sampai menyakiti tapi cukup untuk membangunkan. Kelopak mataku rasanya berat, seperti ada kepompong yang memaksa bergelantungan di sana dan enggan jatuh, jadi aku hanya bisa membukanya perlahan, demikian pelannya. “Marian, kamu mau terus tidur apa wisuda?” begitu saja tanya ibu.

Wisuda itu aku membopong sepatu cantikku alih-alih mengenakannya seperti tuan putri. Dan terlihat jelas sendi-sendi jemari kakiku yang bulat-bulat. Sandal jepitku anggun sekali diapit dua jari yang biasa kugunakan untuk menyubit paha temanku saat bermain-main itu. Hari ini tepat 40 hari bapak mati. Kalau langit hujan karena menangisi bapak, akan lebih baik kalau ia diam saja, dan aku tak perlu menenteng-nenteng sepatu sambil menunggu rangkaian acara wisuda kelar. Belum lagi pakai jas hujan tembus pandang yang disiapkan kampus, agar toganya masih kelihatan. Sempurna.

Seharian yang melelahkan, dan menyenangkan, melihat orang-orang di sekitarku merayakan hari ini. Bagiku, dua perayaan. Perayaan kelulusan, dan 40 hari bapak mati. Dipikir-pikir, dengan matinya bapak, itu juga mengurangi biaya tiket pulang-pergi. Mungkin yang satu itu harus disyukuri. Namun tetap saja, semua jadi sepi. Ibu mengumpulkan aku dan Ras untuk membaca doa selepas isya. Bukan artinya kami hanya berdoa sekali waktu itu, tapi ini sedikit istimewa saja. Aku lelah. Ibu dan Ras juga mungkin lelah, tapi Ras habis dapat sepatu baru, dan ibu beli termos tenteng baru. Kedua-duanya itu, sepatu dan termos, bisa dibeli di rumah, kenapa mesti jauh-jauh ke China, protesku.

“Yang di rumah juga made in China Mar, sama aja toh,” tungkas ibu.

Malam itu aku habiskan dengan merapikan ponsel bapak. Aku meninggalkan obrolan-obrolan grup tak penting biar tak bikin ribut. Mungkin menurut bapak itu penting, tapi menurutku tidak, dan tak ada sangkut-pautnya dengan tagihan, jadi aku keluarkan. Aku membuka email-email masuk yang belum sempat dibaca, membalasnya bila perlu dibalas, dan memastikan tak ada sisa dari kotak masuk yang belum terjamah. Aku rasanya berperan menjadi bapak, sedikit. Ibu sudah jadi kepala keluarga baru. Ras? Anak yatim. Kalau dipikir seperti ini, makin yakin aku bapak betul-betul telah mati.

Lalu sesaat saja setelah aku menggeletakkan ponsel bapak di samping lampu meja, ia berdering. Panggilan whatsapp dari nomor tak dikenal. Padahal lampu sudah kumatikan, dan tinggal aku yang terjaga.

“Halo, malam.”

“Malam.” Suara wanita.

“Ini dengan siapa ya?”

“Betul ini nomornya Pak Nugros?”

“Iya, betul, dengan siapa ya?”

“Baik kalau begitu, Bapak ada?”

“Ini dengan siapa ya?”

“Bilang saja, ini dengan istrinya.”

Aku melihat ibu agak menggigil di sebelah. Kunaikkan sedikit selimut hingga ke tengkuknya. Lalu kumeraba-raba meja di samping kasur buat menggapai remot ac, dan menaikkan suhu di kamar. Selama jeda itu panggilan belum terputus. Untunglah.

“Mohon maaf, Bapak tidak ada. Bapak sudah mati, 40 hari yang lalu. Kalau Anda ingin bertemu, silakan pergi ke San Diego Hills.” Tak kudengar suara apa-apa di seberang. “Dan mohon, setelah ini, jangan menghubungi nomor Bapak lagi. Bapak sudah mati.” Baru kemudian aku yang menutup panggilan duluan. Aku mengelus kepala ibu, dengan alasan yang sentimental. Ibu sudah jadi kepala keluarga, Ras anak yatim, dan aku baru saja menerima panggilan atas nama bapak. Jadi benar, bapak sungguh-sungguh telah mati. (*)

Rabat, 8 Juli 2019

_______

*) Inas Pramoda lahir di Jakarta, 11 Agustus 1996. Merantau ke Singosari—bekas kerajaan yang menyisakan candi-candi—selepas sd. Bergabung dengan teater Sajadah Senja sewaktu sma, memilih jurusan bahasa dan sastra. Kuliah di Maroko sejak 2014, terhitung sampai 2019 ini sedang menempuh master perbandingan agama di Univ. Hassan II Casablanca. Inas Pramoda—meminjam istilah Seno—seorang Homo Jakartensis. Penulis antologi puisi “Purnama Merah” dan “Kasus Rindu”. Bisa disapa di ig: @inaspramoda

 

Continue Reading

Cerpen

Christin, dan Senja yang Hilang

mm

Published

on

Senja selalu memungut hal-hal yang berbeda tentang orang-orang yang berbeda dengan bahasa yang berbeda-beda. Senja kali ini mengisah sekaligus mencatat kisah tentang umat Tuhan di sebuah kampung. Dia, nama kampung itu. Silvano sedang duduk dengar kisah om Anselmus, Om Lazarus, om Bone, om Matius, dan om Don di sebuah Compang (Mesbah) di tengah kampung Dia. Om Matius bercerita bahwa sedari diperkenalkan kepada Tuhan…

by Melki Deni *) 

Om Matius bercerita bahwa sedari diperkenalkan kepada Tuhan dalam agama, umat kampung Dia sangat antusias terhadap kegiatan-kegiatan gereja. Entah bagaimana sampai umat kampung Dia berikan sebidang tanah untuk bangun tempat ibadat. Itu kurang terlalu penting. Sekitar tahun 1970-an mereka mendirikan kapela kecil, rumah Tuhan di dekat jalan raya dan kali besar, sumber batu dan pasir. Ekskavator dan truk belum tampak. Apalagi gerobak. Umat harus pikul batu dan pasir dari kali menuju tempat dirikan kapela kecil. Umat abaikan kesibukan di kebun masing-masing demi Tuhan dan kemudahan bagi pelayan Tuhan melayani umat Tuhan di satu tempat saja. Tak terhitung jumlah babi, sapi, kerbau, ayam dan lain-lain mati karena tak terurus baik selama berminggu-minggu. Ibu-ibu dan nenek-nenek hanya mengurusi anak-anak yang terbaring lemah karena gizi buruk, penyakit kulit dan serangan dukun santet di rumah bergubuk bambu reyot.

Malam selalu tuli bisu. Terang pelita bermerah tua dan tidak meluas. Kakus belum terbayang-bayang. Jika mau buang air malam-malam, bawa obor bersumbu besar dan ditemani dua atau lebih orang. Sebab, setan-setan berkeliaran menari-nari di bawah kolong dan di sekeliling rumah. Malam-malam terdengar suara bayi-bayi setan menangis di atas atap rumah, setan tua menghantui lewat jendela, dan seringkali mencekik manusia dalam mimpi. Iya, malam memang telanjur mati rasa.

Subuh pun seringkali gagap kata. Tak jarang subuh memberitakan orang-orang kerasukan setan yang tinggal di hulu air. Sebab waktu itu semua warga di kampung Dia harus timba air, mandi, dan cuci di satu pancuran. Itulah alasan mereka membutuhkan dan mencari Tuhan di dalam agama. “Manusia sekarang memang tidak percaya akan adanya setan dan kekuatan destruktifnya. Sekarang setan hadir berupa rupa-rupa teknologi.” Lanjut om Lazarus. Memang sebelumnya mereka bertuhan dalam agama Islam. Namun entah mengapa sejak sekitar tahun 1990-an mereka beriman kepada Yesus Kristus dalam agama Katolik. Om Anselmus bertutur bahwa sebelum nenek moyang mereka beragama Islam, mereka beragama Katolik. “Pokoknya mereka selalu pindah masuk agama.” katanya. “Tapi ‘kan Tuhan tetap satu?” tanya om Bone sambil membuang asap rokok.

Dua tahun kemudian.

Senja membalikkan kisah damai yang menteramkan relasi mesrah antara Tuhan dan umat kampung Dia. Senja itu seorang anak kecil menangis di sudut tempat tidur. Namanya Chirstin. Ia tak mau makan seusai pulang sekolah, tidak belajar dan tidak bantu orangtuanya. Ibu mulai pikir yang tidak-tidak menimpa anak yang manis itu.  Sedangkan sang ayah sedang berpikir tentang anggaran dana syukuran atas Penerimaan Komuni Pertama anaknya. Biasanya bulan Oktober itu masih musim panen jambu mete. Namun kali ini jambu mete tidak berbuah banyak seperti setahun lalu. Malam terus berlarut mereka bertanya mengapa anaknya menangis sejak pulang sekolah. Dia menangis karena dengar berita pastor paroki sudah keluarkan surat sanksi pastoral terhadap umat kampung Dia bahwa tidak akan ada pelayanan pastoral, tentu termasuk Sakramen sakramentali. Padahal mereka sudah siapkan semuanya, termasuk penagakuan dosa sudah dijalankan sehari sebelumnya. Mereka tentu mau seperti umat yang sudah terima Komuni Suci, bisa masuk seminari setelah tamat SD, jadi frater, pastor, bruder, suster, dan bisa mendapat status beragama.

Apa masalahnya sampai keluarkan surat sanksi pastoral seperti itu?

Kapela dan tanah di sekitarnya!

Ada apa dengan tanah itu?

Saya dengar samar-samar saja, masalahnya kita umat kampung Dia sudah bongkar kapela dan rebut kembali tanah di sekitar kapela.”

Memangnya kamu lihat kapela sudah dibongkar?

Tidak!”

Christin ketiduran seusai ceritakan masalah itu, sedangkan orangtuanya sibuk memikirkan masalah itu. Mereka juga bingung mengapa diadakan sanksi tanpa ada permasalahan.

Tuhan kita sedang lumpuh?

Christin mengigau. Orangtaunya sadarkan dia.

Kata siapa? Kau jangan omong seperti itu! Cukup kali ini berkata begitu. Itu penistaan agama.

Kata seorang kakek di dalam mimpi tadi. Kakek itu tinggal di sebuah gua kumal yang saya tidak pernah kenal sebelumnya di dunia nyata.”

Mustahil Tuhan lumpuh, nak! Itu takkan pernah terjadi. Jika itu benar, cakrawala dan bumi lenyap serentak. Dan kita pun tentu musnah sebelum cakrwala dan bumi runtuh total.”

Itu tidak berlebihan, ma pa.”

Sekali lagi, jangan katakan itu, nak. Awas orang-orang dengar dan viralkan itu melalui media. Lalu engkau akan melanjutkan sekolahmu di dalam penjara.”

Terserah. Lebih baik tinggal di penjara daripada hidup di luar, pa. Tapi di manakah Tuhan lumpuh ketika masalah ini sedang terjadi ? Saya mau mengobati Tuhan di mana saja. Tuhan tidak adil betul.

Tuhan tidak lumpuh. Hanya pikiran, sikap iman dan penghyatan iman kita yang lumpuh, nak!” sahut ibunya.

Oh iya. Kakek itu bilang Tuhan dilumpuhkan di mimbar-mimbar, ma. Tuhan dilumpuhkan demi kepentingan-kepentingan para pengkhotbah, ma.”

Tidak nak. Tuhan menghindar saat mau dilumpuhkan.”

Terus, di mana Tuhan sekarang, ma?

Ibunya mulai menjelaskan dengan peunuh kesabaran. Mengkin saja Tuhan sedang pesiar di Roma, Israel, Jerman atau Rusia. Tidak mustahil Tuhan sedang mendengar pengakuan dosa para perampok, koruptor, penculik, pemerkosa, investor kapitalis, cendikiawan idealis dan para pengobral murah gadis-gadis di pasar-pasar. Dapat terjadi Tuhan sedang mendengar baca mazmur para nabi sekuler materialis. Boleh saja jadi Tuhan sedang menangisi para imam feodalis yang sedang meraup tanah-tanah para petani miskin lagi melarat di kampung. Atau Tuhan sedang hitung jumlah oknum-oknum mati karena bunuh diri, obesitas, keracunan, stunting, kelaparan, perubahan iklim, dan penyakitan di dunia yang bisu. Barangkali Tuhan sedang jalan-jalan ke rumah-rumah para wakil rakyat, mencatat jumlah perut yang terlampau buncit akibat menelan mentah-mentah uang pajak tanah rakyat yang tak mampu dikelola. Tidak menutup kemungkinan Tuhan sedang melawati umat yang menderita sakit, miskin papa, tersingkirkan, terbuang, pengemis, gelandangan, tawanan, dan kaum buruh kasar.

Tapi, kok selalu mungkin, ma. Tuhan tinggal dalam kemungkinan begitu, ma?

Sudahlah. Itu kurang penting. Yang terpenting, nanti kita kerja sama dengan semua umat,  tanyakan ke pihak keuskupan tentang masalah apa saja yang dapat diberikan sanksi pastoral terhadap umat. Lalu kita coba laporkan masalah ini ke pihak pemerintah, karena ini termasuk pencemaran nama baik umat.

Sudah satu tahun masalah pelik nan sedih ini tidak kunjung usai. Pihak paroki (baca: pihak keuskupan) tidak bertanggung jawab terhadap sensus fidelium umatnya. Pemerintah setempat juga memalingkan diri dari antusias religiositas masyarakat. Setahun umat Tuhan tak bertemu Tuhan dalam Misa Kudus, Ibabat, Pengakuan Dosa, anak-anak tidak menerima Permandian Suci, tidak diberi kesempatan menerima Komuni Pertama, dan  pernikahan umat tidak direstui secara gereja. Dosa-dosa umat menumpuk dan mau tumpah di atas tanah yang gersang. Tuhan, Engkau di mana? Semoga Tuhan tidak dipasungkan di dalam gulungan uang merah. Semoga Tuhan tidak dilumpuhkan di dalam khotbah- khotbah panjang para nabi modern yang kapitalis-materlis. Tuhan. (*)

Catatan: Mohon maaf bila ada persamaan nama dan kisah.

___
*) Melki Deni, Mahasiswa STFK Ledalero-Maumere, berasall dari Reo-Manggarai. Ia bergabung dalam kelompok sastra ALTHEIA, KMK-L, dan penyair lepas pada beberapa media.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending