© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.

Ivan Bunin | Penerjemah: Ladinata Jabarti[1]

 

Pada cuaca buruk musim rontok yang dingin[2], sebuah kereta yang terpercik lumpur dengan penutup kap setengah terbuka, yang ditarik oleh tiga ekor kuda yang agak biasa, yang ekor-ekornya diikat untuk menghindari lumpur salju, berjalan di salah satu jalan besar Tula[3], yang digenangi oleh air hujan dan disayat oleh banyak jejak roda berwarna hitam, mendekati bangunan panjang dari kayu, yang pada satu bagiannya ditempati oleh pos stasiun pemerintah dan bagian lainnya oleh rumah penginapan pribadi, yang menjadi tempat bagi para pelancong untuk dapat beristirahat atau bermalam, makan siang atau memesan samovar[4]. Di atas bangku tempat kusir, duduk seorang laki-laki kekar berwajah gelap dan murung, dengan janggut hitam pekat yang jarang, mirip seorang begal tua, mengenakan mantel petani yang diikat dengan rapat, sedang di dalam kereta tampak seorang lelaki tua yang ramping dengan topi besar dan mengenakan mantel tentara berwarna kelabu dengan potongan yang diambil dari masa kekaisaran Nikolai I[5], memiliki kerah berdiri tegak yang terbuat dari kulit berang-berang, dengan alis berwarna hitam, tetapi dengan misai berwarna kelabu, yang ujung-ujungnya menyentuh jambang, yang juga berwarna serupa; dagunya bersih tercukur dan seluruh tampilan lahirnya memiliki kesamaan dengan gaya pada masa Alexander II[6], yang begitu menyebar di antara para tentara pada masa kekaisarannya; pandangan matanya mengandung pertanyaan, keras dan bersamaan dengan itu tampak lelah.

Ketika kuda-kuda berhenti, dia mengeluarkan kakinya yang bersepatu lars dengan bagian atas yang rapat dari kereta dan sambil memegang mantelnya dengan tangan yang dibalut dengan sarung tangan dari kulit halus kambing, dia berlari naik tangga menuju ke bagian serambi bangunan.

“Ke arah kiri, Yang Mulia,” dengan suara kasar sang kusir berteriak dari tempat duduknya, laki-laki itu, setelah sedikit membungkuk di ambang pintu, lantaran tubuhnya yang tinggi, berjalan melewati pintu masuk, kemudian ke sebuah ruangan di sebelah kiri.

Ruangan itu terasa hangat, kering dan rapih: di sudut kiri tampak ikon[7] baru dengan warna keemasan, di bawahnya ada meja yang ditutupi taplak bersih yang tidak dikelantang[8], di balik meja terlihat bangku-bangku yang telah dicuci dengan bersih; tungku dapur, yang mengambil tempat di sebelah kanan jauh ruangan, baru saja dilaburi kapur; lebih dekat lagi ke pintu, berdiri sesuatu seperti bangku pendek tanpa sandaran yang ditutupi oleh baju kuda belang-belang, yang ditumpukkan secara lepas pada sisi tungku dan dari balik penutup tungku tercium bau enak sup kol, dengan daun salam dan daging sapi yang direbus sampai lunak.

Laki-laki yang baru datang itu melemparkan ke atas bangku mantelnya dan dalam balutan pakaian seragam dan sepatu lars, tampak tubuhnya lebih ramping lagi, kemudian dia melepaskan topi dan sarung tangan dan dengan gerak laku yang lelah dia mengusapkan tangan kurus pucat pada kepala yang rambutnya beruban, agak berikal, dengan sisiran rambut dari bagian pelipis ke depan menuju sudut mata, wajah lonjongnya yang rupawan dengan mata gelapnya memperlihatkan bekas cacar kecil di beberapa tempat. Seorang pun tidak ada di ruangan tersebut dan setelah agak sedikit membuka pintu, dia berteriak dengan suara yang tidak bersahabat:

“Hei, apakah di sana ada orang?”

Dengan seketika, sesudah itu, datang ke ruangan seorang perempuan berambut gelap, juga seperti sang lelaki, beralis hitam dan, bukan didasarkan pada usia, masih juga jelita, mirip perempuan gipsi paruh baya, yang pada bibir bagian atas dan menyusur pipi, tampak sesuatu yang tipis gelap; meski tubuhnya cukup gemuk, dengan dada besar dibalut baju warna merah dan dengan perut berbentuk segitiga di balik rok hitam yang terbuat dari kain wol, seperti yang terdapat pada angsa, dia berjalan dengan cekatan.

“Selamat datang, Yang Mulia,” katanya. “Apakah Anda menginginkan untuk makan atau dibawakan samovar?”

Samovar. Kau pemilik penginapan atau pelayan?”

“Pemilik, Yang Mulia.”

“Jadi, kau sendiri yang menjalankan tempat ini?”

“Benar. Saya sendiri.”

“Bagaimana bisa begitu? Kau janda, atau apa, sehingga kau sendirian mengurus usaha?”

“Saya bukan janda, Yang Mulia, tetapi saya harus melakukan kehidupan dengan sesuatu. Dan saya senang mengelola usaha.”

“Begitu, begitu. Itu bagus. Dan penginapanmu sangat menyenangkan dan bersih.”

Perempuan itu, sambil memicingkan mata, selalu melihat dengan tajam pada sang lelaki.

“Kebersihan juga saya senang,” jawabnya. “Saya dulu besar di rumah kaum majikan, bagaimana saya tidak pintar mengurus tempat saya sendiri dengan patut, Nikolai Alekseevich.”

Laki-laki tersebut dengan segera berdiri tegak, membuka matanya lebar-lebar dan wajahnya memerah:

“Nadezhda! Kau?” katanya dengan cepat.

“Saya, Nikolai Alekseevich,” jawab sang perempuan.

“Ya, Tuhan! Ya, Tuhan!” kata lelaki itu, sambil duduk di atas bangku dan melihat dalam-dalam pada Nadezhda. “Siapakah yang dapat memikirkan ini! Sudah berapa tahun kita tak bertemu? Tiga puluh lima tahun, kira-kira?”

“Tiga puluh tahun, Nikolai Alekseevich. Saya sekarang berumur empat puluh delapan, sedangkan Anda, saya pikir hampir enam puluh?”

“Seperti itulah…Ya, Tuhan, betapa anehnya!”

“Apakah yang aneh, Tuan?”

“Semuanya, semuanya…Tentu saja kau mampu memahami!”

Kelelahan dan pengabaiannya menghilang, Nikolai Alekseevich bangun dari bangku dan dengan langkah pasti dia mulai berjalan di sekitar ruangan tersebut, sambil menatap ke lantai. Kemudian dia berhenti, pelan-pelan dia jadi memerah,  menjalar ke jambang kelabunya dan dia mulai bicara:

“Sejak saat itu, mengenai dirimu, aku tidak mengetahui apa-apa. Bagaimana kau bisa sampai ke sini? Mengapa kau tidak tinggal dengan majikanmu?”

“Segera setelah Anda pergi, majikan saya memberikan surat pembebasan[9].”

“Dan di mana kemudian kau tinggal?”

“Panjang jika diceritakan, Tuan.”

“Bersuami, seperti yang kau katakan, tidak pernah?”

“Tidak, tidak pernah.”

“Mengapa? Dengan kecantikanmu itu?”

“Saya tak dapat melakukannya.”

“Mengapa tidak? Apa yang ingin kau katakan?”

“Apa yang harus dijelaskan? Mungkin Anda ingat, betapa saya begitu mencintai Anda.”

Laki-laki tersebut menjadi sangat memerah, hingga airmatanya keluar dan dengan mengerutkan dahi, dia melangkah lagi.

“Semuanya berlalu, Nadezhda, kawanku,” gumamnya. “Cinta, masa muda – semua, semua. Itu adalah kisah yang biasa dan tidak ada artinya. Semua berlalu bersama waktu. Seperti yang dikatakan di dalam book of Job[10]? ‘Seperti kamu akan mengingat air yang menguap’.”

“Itu adalah apa yang Tuhan berikan kepada manusia, Nikolai Alekseevich. Masa muda pada setiap orang berlalu, tetapi cinta – masalah lain.”

Nikolai Alekseevich mengangkat kepalanya, menghentikan langkah, dengan rasa sakit dia tersenyum:

“Tapi tentu saja kau tidak dapat mencintai aku selama hidupmu!”

“Tetapi saya mampu, Nikolai Alekseevich. Berapa banyak waktu telah berlalu, hidup saya tetap sendiri. Saya tahu, Anda tidak seperti dulu, sudah lama sekali, sekarang bagi Anda seolah itu tak berarti apa-apa dan tak pernah ada, tetapi beginilah, masih…Sudah terlambat kini untuk menyalahkan, tetapi ini benar, Anda membuang saya dengan tanpa berbelas kasih, berkali-kali saya ingin meletakkan tangan saya pada diri saya, karena luka hati hidup sendiri, tentu saja tak perlu mengatakan yang lainnya, semuanya. Pernah ada waktu, Nikolai Alekseevich, ketika saya menyebut Anda Nikolenka[11] dan Anda memanggil saya – ingat bagaimana? Dan Anda selalu membacakan saya sajak-sajak tentang ‘jalanan yang berbayang’,” tambahnya dengan senyum yang suram.

“Ah, betapa menyenangkannya kau dulu!” Nikolai Alekseevich berkata, sambil mengangguk-anggukan kepala. “Betapa memggairahkan, betapa cantiknya! Tubuhmu bukan alang kepalang! Matamu juga bukan alang kepalang! Kau ingat, bagaimana semua orang memandangmu?”

“Saya ingat, Tuan. Anda juga dulu sangatlah tampan. Dan karena itu, saya serahkan kepada Anda segala kecantikan dan kegairahan saya. Bagaimana juga saya dapat melupakan hal yang demikian.”

“Ah! Semuanya berlalu. Semuanya terlupakan.”

“Semuanya berlalu, tetapi tidak semuanya terlupakan.”

“Pergilah,” kata sang lelaki, sambil membalikkan badan dan berjalan ke arah jendela. “Pergilah, tolong.”

Setelah mengeluarkan saputangan dan menyeka matanya dengan saputangan tersebut, lelaki itu menambahkan:

“Aku hanya berharap, agar Tuhan memaafkan. Dan kau, tampaknya, telah memaafkan aku.”

Nadezhda berjalan mendekati pintu dan menghentikan langkah barang sebentar:

“Tidak, Nikolai Alekseevich, saya tidak memaafkan. Semenjak perbincangan kita menyentuh perasaan kita, saya akan berkata dengan jujur: memaafkan Anda, saya tidak mampu. Saat itu, saya tidak memiliki sesuatu pun di dunia ini yang lebih bernilai dibanding Anda, demikian juga setelahnya, tidak pernah. Karenanya, memaafkan Anda, saya tidak mampu. Baik juga untuk dijadikan ingatan, orang mati itu tidak dibawa dari kuburan.”

“Ya, ya, tidak ada pengertiannya dalam hal ini. Mintakan pekerja untuk menyiapkan kuda,” jawabnya, sambil menjauh dari jendela dengan wajah yang keras. “Satu hal yang akan aku katakan kepadamu: dalam hidup ini aku tak pernah bahagia, tolong, jangan berpikir apa-apa. Maafkan aku, bahwa, barangkali, aku menyakiti harga dirimu, tetapi aku akan katakan kepadamu secara terus terang, aku dengan sangat tergila-gila mencintai istriku. Tetapi dia menghianati aku, dia meninggalkan aku dengan begitu banyak penghinaan, dibanding aku terhadapmu. Aku memuja-muja anakku, ketika dia masih kecil, begitu banyak aku menaruh harapan kepadanya! Tetapi ketika besar, dia menjadi seorang bajingan, penghambur uang, seorang kurang ajar yang tanpa hati, tanpa kehormatan, tanpa suara hati…Bagaimanapun juga itu semua merupakan cerita yang sangat biasa dan tidak ada artinya. Aku berharap kau beruntung, Nadezhda, kekasihku. Aku berpikir, bahwa di dalam dirimu aku kehilangan sesuatu yang sangat bernilai, sesuatu yang aku miliki di dalam hidup.”

Perempuan itu berjalan menghampirinya dan mencium tangannya, dia sendiri mencium tangan perempuan tersebut.

“Mintakan pekerja untuk menyiapkan…”

Ketika mereka, dia dan sang kusir, pergi semakin jauh, dia berpikir dengan muram: “Ya, betapa menyenangkannya dia dulu! Betapa kecantikannya mempesona!” Dengan rasa malu dia mengingat kata-kata terakhirnya dan ketika dia mencium tangan sang perempuan; saat itu juga dia jadi merasa malu karena rasa malunya itu sendiri. “Tidakkah ini benar, bahwa perempuan tersebut telah memberikan masa-masa yang terbaik di dalam hidupku?”

Matahari yang pucat tampak terlihat di langit sebelah barat. Sang kusir menjalankan kudanya dengan langkah-langkah sentak, mengubah dari satu jejak roda yang hitam ke jejak yang lain dan memilih yang lumpurnya lebih sedikit dan dia juga memikirkan sesuatu. Akhirnya dia berkata dengan suara kasar yang muram:

“Dan perempuan itu, Yang Mulia, tetap melihat lewat jendela, ketika kita pergi. Kelihatannya, sudah lama Anda mengenalnya?”

“Ya, sudah lama, Klim.”

“Perempuan yang sangat bijak. Orang-orang mengatakan, dia terus bertambah kaya. Dia meminjamkan uang kepada penduduk.”

“Itu tak berarti apa-apa.”

“Bagaimana tidak berarti! Siapakah yang tidak ingin hidupnya lebih baik! Jika orang memang patut dibungakan, tidak ada ruginya itu dilakukan. Dan dia, kata orang-orang, adil dalam hal ini. Tetapi dia juga keras! Tidak mengembalikan sesuai waktu – salahkan dirimu sendiri!”

“Ya, ya, salahkan dirimu sendiri…Tolong, percepat, Klim, aku khawatir kita akan tertinggal kereta api…”

Matahari yang rendah di sebelah barat bersinar dengan warna kuning di atas hamparan ladang kosong, kuda-kuda selalu mendebur genangan air. Nikolai Alekseevich melihat pada ladam kuda yang gerakannya berganti-ganti dengan cepat, dia menarik kedua alis hitamnya dan terpekur:

“Ya, kau harus menyalahkan dirimu sendiri. Ya, tentu saja, itu masa-masa terbaik di dalam hidupku dan bukan hanya terbaik, tetapi juga benar-benar ajaib! ‘Di sekitar, mawar liar merah yang menawan berbunga, tampak jalanan dengan pohon-pohon linde[12] yang kabur…’[13] Tetapi ya, Tuhan, apakah kira-kiranya yang terjadi selanjutnya? Apakah yang terjadi, sekiranya aku tidak membuang dia? Ah, omong kosong apa!  Itu adalah Nadezhda, perempuan yang bukan pemilik penginapan di pinggir jalan, melainkan istriku, sang pemilik rumahku di Petersburg[14], ibu dari anak-anakku?”

Dan dia menggeleng-gelengkan kepala, sambil menutup kedua matanya.

 

20 Oktober 1938

Cerita Pendek ini diterjemahkan oleh: Ladinata Jabarti, seorang penerjemah sastra Rusia khususnya sastra klasik Rusia. Ia telah menerjemahkan di antaranya karya-karya Alexander Pushkin, Anton Chekov, Leo Tolstoy dan penulis Rusia lainnya. Menyelesaikan Master Sastra Rusia di  Saint Petersburg State University, kini mengajar di Universitas Padjajaran. Dan salah satu Board of Directors Galeri Buku Jakarta.

Biografi Ivan Bunin

Ivan Alekseyevich Bunin (1870-1953), yang merupakan sastrawan pertama Rusia, yang memperoleh Nobel Prize, dilahirkan di Voronezh, Rusia Tengah, di dalam keluarga bangsawan yang tidak begitu kaya. Pada tahun 1895 Bunin memutuskan tinggal di Moskow dan Petersburg, yang membuatnya berkenalan dengan Chekhov, Konstantin Balmont, Valery Bryusov dan Gorky. Setelah mempublikasikan buku kumpulan prosa “To the Edge of the World and Other Stories” (1897) dan buku kumpulan sajaknya “In the Open Air” (1898), nama Bunin mulai dikenal di Rusia. Atas karyanya, kumpulan sajak “Falling Leaves” (1901) yang didedikasikan kepada Gorky dan terjemahan ke dalam bahasa Rusia “The Song of Hiawatha”, karya Henry Longfellow (1807–1882), yang dipublikasikan di Orlovsky Herald (1896), Bunin pada tahun 1903 dianugrahi Pushkin Prize oleh Russian Academy of Sciences.

Setelah Revolusi 1905 rasa tertarik terhadap kehidupan kaum tani membantu Bunin menghasilkan “The Village” (1910), yang memaparkan kesuraman kehidupan (sebuah) desa Rusia, yang dipenuhi dengan kebodohan, kebrutalan dan kekerasan. Setelah “The Village”, Bunin mengeluarkan “Dry Valley” (1912), yang menggambarkan sejarah kehancuran keluarga bangsawan dan takdir para budaknya, dan “Zakhar Vorobyev”(1912), yang tokoh utamanya menjadi simbol kehidupan hampa dan kematian tragis dari seorang manusia kuat dan berbakat.

Di dalam karya-karyanya Bunin banyak menuliskan tema cinta, kehidupan dan kematian. Salah satu novelnya yang paling puitis adalah “Light Breathing” (1916), yang mengisahkan tentang seorang gadis rupawan bernama Olya (Olga) Meshcherskaya, yang mati di dalam dunia yang bermusuhan dan penuh tipuan dan kekejian. Tidak kalah terkenalnya cerita pendek “The Gentleman from San Francisco” (1915), yang berisikan mengenai kematian mendadak seorang jutawan Amerika, yang menjadi simbol dunia dusta dan tanpa jiwa, dan di dalam dunia tersebut perasaan dan pikiran yang sejati diselimuti oleh dekorasi yang menawan.

Menjelang Revolusi 1917, baik di dalam prosa maupun sajak-sajaknya, Bunin menyuarakan kandungan pikirannya mengenai peristiwa tragis sosial yang makin mendekat tersebut. Setelah Revolusi Oktober untuk selamanya Bunin pada tahun 1920 meninggalkan Rusia dan bermukim di Perancis. Penolakannya terhadap kaum Bolshevik diperlihatkan di dalam karyanya “Cursed Days” (1925).  Karya-karya Bunin di tempat emigrasi, antara lain: “Mitya’s Love” (1924), “Rose of Jerico” (1924) dan “Sunstroke” (1927). Karya terbesarnya, yang merupakan roman otobiografi adalah “The Life of Arseniev” (1927–1933, 1939), yang mengisahkan mengenai perkembangan kehidupan jiwa sang pengarang, mengenai masa-masa bahagia dan tragis yang dilalui. Para kritikus begitu menghargai roman tersebut.

Pada tahun 1933 Ivan Bunin dianugrahi Nobel Prize atas jasanya mengembangkan tradisi prosa klasik Rusia. Di Paris, dalam usia 83 tahun, pada tanggal 8 November 1953, Ivan Bunin wafat.

[1]  Penerjemah: Ladinata Jabarti | Hak Terjemahan Pada: Ladinata Jabarti / Galeri Buku Jakarta, 2016.

[2] Judul Jalanan Yang Berbayang: maksudnya adalah jalanan yang di kanan-kirinya dipenuhi oleh jajaran pohon

[3] Nama kota di Rusia yang jaraknya kurang lebih 200 km dari Moskow, tempat pembuatan segel atau materai

[4] Ketel teh khas Rusia

[5] Tsar Rusia yang memerintah dari tahun 1825-1855

[6] Tsar Rusia yang memerintah dari tahun 1855-1881, anak dari Nikolai I

[7] Gambar suci

[8] Tujuan dikelantang adalah untuk lebih diputihkan. Setelah dicuci dengan sabun atau direndam, kain  tidak dijemur di bawah terik matahari, hanya dianginkan

[9] Maksudnya wolnaya, dokumen, yang menyatakan, bahwa seseorang telah dibebaskan dari perbudakan oleh majikannya

[10] Kitab nabi Ayub (14:11): seperti air menguap dari dalam tasik, dan sungai surut dan menjadi kering

[11] Nama diminutif Nikolai

[12] Pohon dengan daun-daun yang bergerigi dan bunganya menghasilkan  nektar yang wangi

[13] Diambil dari sajak Обыкновенная повесть ‘Riwayat yang Biasa” (1842) karya Nikolai Platonovich Ogaryov (1813-1877),seorang aktivis pergerakan  revolusi Rusia, sastrawan dan penulis

[14] Pada tahun 1703 Saint Petersburg didirikan oleh Peter yang Agung (1672-1725), yang memerintah Rusia pada tahun 1682-1725. Antara tahun 1914-1924 disebut Petrograd. Pada tahun 1712-1728 dan 1732-1918 Petersburg pernah menjadi ibukota Rusia

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT