Connect with us

COLUMN & IDEAS

Jakarta, Riwayat yang Berulang

mm

Published

on

Nama Batavia sendiri terlestari pada nama kelompok heterogen penduduk pribumi yang kemudian dikenal dengan etnik Betawi. Orang Betawi sebenarnya adalah etnik baru yang terbentuk melalui campuran berbagai sukubangsa sejak zaman Jakarta masih sebagai pelabuhan bernama Kalapa. Etnik  ini dulu mungkin berasal dari orang-orang Melayu, Sunda, Jawa, Bugis, Makassar, Bali, Ambon dan ras lain seperti Arab, Cina, Portugis, dll.

Oleh: Iwan Nurdaya-Djafar *)

PADA mulanya adalah Kalapa, pelabuhan milik Kerajaan Pajajaran yang menurut Tome Pires beribukota di Dayo (dekat Bogor). Sebuah toponim dalam logat Sunda karena ditumbuhi pepohonan kelapa. Dalam teks berbahasa Mandarin, menurut Claudine Salmon (2010: 26), tempat yang disebut “Kelapa” sudah digunakan pada waktu dinasti Ming. Tempat itu masih dikenal sampai kini dan kadang-kadang kita menemukannya dalam bentuk terjemahan Tionghoa, “Yecheng” atau “Kota Kelapa”.

Pada 1522 orang Portugis datang dari Malaka sebagai utusan Gubernur Malaka, untuk mendirikan benteng di dekat muara sungai Ciliwung. Tahun 1527 orang-orang Portugis itu kembali dengan membawa sebuah armada kecil tanpa mengetahui Kalapa telah jatuh ke tangan Fatahillah. Terjadilah pertempuran yang dimenangi Fatahillah, dan kemudian mengganti Kalapa dengan “Jayakarta” berarti ‘kemenangan yang sempurna’. Peristiwa itu terjadi pada 22 Juni 1527, yang ditetapkan sebagai hari jadi Jakarta.

Tahun 1619 oleh Jan Pieterszoon Coen, Jayakarta diratakan dengan tanah lalu dibangun kota baru bernama Batavia, nama kuno Negeri Belanda atau nama nenek moyang orang Belanda. Menurut Sagimun MD (1988), orang “yang memberi nama Batavia itu adalah seorang pegawai VOC yang bernama van Raay. Nama Batavia diberikan kepada benteng Belanda secara acuh tak acuh dalam suatu pesta mabuk-mabukan pada 12 Maret 1619.” Sebenarnya, Coen ingin menamainya New Horn, dari nama tempat kelahirannya, Horn, di Belanda Utara. Pada 4 Maret 1621 dewan pimpinan VOC yang disebut Heren Zeventien memaksa Coen untuk menggunakan nama Batavia.

Sampai kedatangan Herman Willem Daendels pada 1808, Batavia bukanlah lingkungan yang sehat. Citra buruk Batavia di Eropa adalah salahsatu kota terkumuh di dunia. Dalam kisah beberapa petualang abad ke-17 dan ke-18 Batavia adalah kuburan orang Eropa. Antara 1759-1778, 74.254 penduduk kota meninggal karena demam dan disentri. Pada 1830-an sistem sanitasi diperbarui dan kota dipindahkan ke arah selatan. Batavia lama, menurut Henry O. Forbes, “sebuah permukiman di dataran rendah yang rapat dan berbau busuk.”

Dengan alasan kesehatan Daendels ingin memindahkan ibukota Kepulauan Hindia ke Surabaya, yang menurutnya berposisi jauh lebih baik untuk pangkalan operasi militer dibandingkan Batavia. Namun batal karena keterbatasan dana. Daendels yang merupakan Gubernur Jenderal Prancis di Pulau Jawa (1808-1811), alih-alih Gubernur Jenderal Belanda karena Negeri Belanda  jatuh ke tangan Kekaisaran Prancis di bawah Napoleon Bonaparte sejak 1795-1813, akhirnya memutuskan untuk memindahkan bangunan-bangunan administratif dari kota tua di Batavia ke daerah Weltevreden. Benteng Batavia dirobohkan dan kemudian beberapa benteng yang lebih modern dibangun di Meester Cornelis (Jatinegara). Daendels sendiri tidak tinggal di Batavia, melainkan di Buitenzorg (Bogor), “di sana udara sama bersihnya dengan di Prancis.” Saat itu, Batavia dijuluki Ratu dari Timur karena keindahan bangunannya dan pusat perdagangannya yang besar, terletak sangat dekat dengan laut, di dataran yang subur.

Sebutan Batavia bertahan sampai 1942. Setelah Hindia Belanda dikalahkan pemerintah militer Jepang, nama kota diubah menjadi Jakarta. Kala itu dieja: Djakarta, kependekan dari kata Jayakarta. Versi lain menuturkan, “Jakarta” berasal dari kata “karta”dalam bahasa Sanskerta yang berarti ‘baik’. Pergantian nama itu pada perayaan Hari Perang Asia Timur Raya 8 Desember 1942. Jakarta menjadi daerah istimewa dengan nama Jakarta Tokubetsu Shi.

Nama Batavia sendiri terlestari pada nama kelompok heterogen penduduk pribumi yang kemudian dikenal dengan etnik Betawi. Orang Betawi sebenarnya adalah etnik baru yang terbentuk melalui campuran berbagai sukubangsa sejak zaman Jakarta masih sebagai pelabuhan bernama Kalapa. Etnik  ini dulu mungkin berasal dari orang-orang Melayu, Sunda, Jawa, Bugis, Makassar, Bali, Ambon dan ras lain seperti Arab, Cina, Portugis, dll.

Pascakemerdekaan, pada masa Orde Lama Jakarta tak henti membangun. Presiden Sukarno membangun gelanggang olahraga Senayan, Jembatan Semanggi, Hotel Indonesia, Toserba Sarinah – dua bangunan terakhir merupakan pampasan perang Jepang. Bung Karno juga mendirikan sejumlah monumen seperti Monumen Nasional (Monas), Tugu Pancoran, tapi juga Tugu Tani yang anehnya sang petani menyandang senapan panjang, tak pelak diturunkan dari gagasan Angkatan Kelima,  mempersenjatai penduduk yang merupakan konsep PKI. Celakanya, Tugu Tani yang didesain pematung Soviet itu masih ada dan tidak dirubuhkan, bahkan oleh rezim Orde Baru yang antikomunis.

Deutsch: Ölgemälde von Andries Beeckman: Die Festung von Batavia, gesehen vom Westen Kali Besar, c. 1656. | Andries Beeckman

 

Semasa Orde Baru, Jakarta terus berdandan, diawali oleh Gubernur Ali Sadikin, yang membangun jalan-jalan Jakarta dengan uang judi, sehingga timbul kontroversi. “Yang tidak setuju Jakarta dibangun dengan uang judi. jangan berjalan di jalan-jalan Jakarta,” sergah Bang Ali.

Pada awal 1970-an Jakarta disindir sebagai a big village (dusun besar), yang justru dibantah oleh Fuad Hassan seraya menandaskan bahwa penghuninya pasti tidak berwatak dusun. Peri kehidupan masyarakat di Jakarta tidak diatur menurut satu ukuran umum; sebaliknya, yang sangat menyolok adalah kenyataan-kenyataan betapa berlakunya standar ganda yang membagi masyarakat kota besar ini dalam berbagai kategori manusia. Baik dalam pola-pola konsumsinya, pola-pola rekreasinya, maupun ikhtiar-ikhtiarnya untuk bertahan dalam kehidupan survival tampak sekali berlakunya ukuran-ukuran ganda. Yang terjadi adalah heteronomia, yaitu kenyataan adanya berbagai-bagai norma yang sekaligus dianut oleh berbagai-bagai golongan dalam suatu masyarakat; golongan muda punya norma-normanya sendiri (bahkan di dalamnya terdapat pula perbedaan ragam orientasi normatif), golongan pedagang punya norma-normanya sendiri dan begitu seterusnya.

Tidak ada alasan samasekali untuk menilai Jakarta sebagai suatu dusun besar. Urbanisme yang sedang diungkapkan oleh Jakarta dalam transformasinya menjadi metropolis masih dalam tahap yang khas kondisi Indonesia. Fuad Hassan menyebutnya Indopolis, yakni transformasi dari kota besar (atau: kota besar dan ibukota negara) di Indonesia untuk menjadi Metropolis benar-benar. Suka tak suka, Jakarta akan mekar atas kemekarannya sendiri. Agaknya momentum untuk self-propelled development (pembangunan memajukan diri) itu sudah menjadi kenyataan bagi Jakarta. Bagi mereka yang bersedia menjalankan kehidupan berpacu di Jakarta, harus memiliki ketabahan dan kesanggupan bertahan, baik fisik maupun mental.

Pada gilirannya Jakarta tumbuh menjadi penentu pola bagi kota-kota besar se-Indonesia. Yang menjadi tanggungjawab bagi Jakarta sebagai penentu pola ialah bagaimana tidak meninggalkan perkembangan di luar Jakarta sampai begitu jauhnya, sehingga Jakarta menjadi masyarakat yang khas di tengah-tengah situasi Indonesia umumnya, khususnya dalam hubungan dengan kenyataan bahwa sebagian besar kultur Indonesia adalah rural dan tradisional.

Tanggungjawab Jakarta inilah agaknya yang menjadi persoalan besar. Sebagai pusat bisnis, Jakarta terus melesat dengan konon 70 persen peredaran uang berada di sana. Pembangunan kota Jakarta rupanya juga tidak terencana dengan baik. Jika dahulu terjadi reklamasi di pantai Ancol, maka kini muncul pulau-pulau buatan, yang juga tak sepi dari kontroversi. Sebagai metropolitan, Jakarta tidak dengan sendirinya menjadi lingkungan yang sehat. Polusi udara terbilang tinggi. Banjir dan macet serta problem kependudukan menjadi masalah yang tak kunjung tuntas. Daya dukung lingkungan pun kian menurun.

 

Akhirnya, pada 16 Agustus 2019, Presiden Joko Widodo mempermaklumkan akan memindahkan ibukota negara ke wilayah Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, di atas lahan 180 ribu hektar. Konsep yang diusung adalah A City in the Forest, sebuah kota di tengah hutan. Paling lambat pada 2024 ibukota negara sudah dipindahkan.

Pelajaran yang dapat ditarik dari pemindahan ibukota negara itu adalah bahwa pada masa bernama Batavia, kota ini bukanlah lingkungan yang sehat, demikian pula salahsatu alasan Jakarta ditinggalkan pada saat ini. Rupa-rupanya, riwayat berulang bagi Jakarta. (*)

___

Iwan Nurdaya-Djafar adalah penyair, cerpenis, esais, dan penerjemah, tinggal di Bandarlampung. Sekretaris Akademi Lampung ini menulis di sejumlah media massa seperti Horison, Ulumul Quran, Sarinah, Amanah, Republika, Pikiran Rakyat, Lampung Post, dll. Buku-bukunya Seratus Sajak, Bendera (kumpulan cerpen), Hukum dan Susastra, menerjemahkan karya-karya Kahlil Gibran seperti Sang Nabi, Bagi Sahabatku yang Tertindas, Kematian Sebuah Bangsa, Airmata dan Senyuman. Terjemahan lainnya novel Lelaki dari Timur (Mohsen El-Guindy), Membeli Setangkai Pancing untuk Kakekku (kumpulan cerpen Gao Xinjiang), Agustus 2026: Saat itu Akan Turun Hujan Gerimis (kumpulan cerpen Ray Bradbury), Indonesia di Mata India: Kala Tagore Melawat Nusantara, dll.

 

Continue Reading
Advertisement

COLUMN & IDEAS

Jas, Dasi, dan Tangan Kasar Dokter Hewan

mm

Published

on

FB Moh Indro Cahyono

Apakah karena saya dokter hewan sehingga saya nggak boleh menerapkan ilmu Fisiologi dan Petogenesis yang saya pelajari? Apakah karena saya tak punya gelar  sehingga tak pantas belajar atau berpikir? Apakah karena dandanan saya yang terlalu gembel sehingga nggak pantas bersanding dengan jas kalian? Apakah karena muka ndeso saya yang nggak enak kalian lihat? Apakah karena kalian baca text book virus sehingga saya yang sudah 15 tahun meneliti virus langsung nggak boleh ngomong?

Damhuri Muhammad , Kolumnis dan Editor tamu Galeri Buku Jakarta

Cuplikan kekesalan di atas saya copy-paste dari linimasa akun facebook pribadi atas nama Moh Indro Cahyono, 2 April 2020. Hingga kolom ringan ini saya turunkan, konten unggahan itu telah memperoleh 3.5K Like, 660 Comment, dan 203 Share, yang rata-rata berasal dari akun-akun organik alias bukan akun robot. Begitu juga dengan “Pakde Indro” (demikian netizen menyebutnya), pemilik akun dengan 47.075 orang pengikut itu. Adalah akun asli dengan nama terang dan profesi sebagai dokter hewan, juga praktisi pencegahan wabah virus unggas. Dilengkapi dengan sebuah link URL blog pribadi dengan alamat www.mediaunggas.blogspot.co.id.

Sejak kegemparan akibat wabah Covid-19 bermula di Indonesia pada awal Maret lalu, rekaman video “Pakde Indro” yang berasal dari kanal Youtube telah berseliweran di platform kelompok percakapan daring. Dengan tampilan jaket cokelat, kumis-jenggot tipis yang tak rapi, rambut yang terkesan aut-autan, dan dialek ndeso, Indro menjelaskan duduk perkara virus Corona dalam ungkapan sederhana, ditambah ilustrasi gambar tangan di atas whiteboard. Bahwa virus, apapun jenisnya, membutuhkan inang untuk bertahan hidup. Sebagaimana benalu yang membutuhkan pohon lain sebagai tempat hidupnya, begitu juga virus. Adapun inang yang dibutuhkan oleh Covid-19 adalah droplet alias cairan atau lendir yang berasal dari sistem pernapasan. Maka, penularan virus Corona yang sangat cepat itu, juga terjadi melalui media droplet itu.  Jika Anda batuk atau bersin, lalu droplet-nya jatuh di tubuh orang lain, ada peluang penularan dalam peristiwa itu.

Saya tidak ingin masuk ke ruang perbincangan tentang sifat virus dan cara penularannya yang kini belum dapat teratasi itu, karena saya bukan ahli, dan tak ingin menambah daftar ahli dadakan di musim genting ini. Saya hanya berminat pada pola komunikasi yang digunakan Indro. Logis, mudah dicerna, dan mengandung itikad kuat untuk melawan arus ketakutan, akibat “teror” angka-angka dan statistika tentang korban Covid-19, baik di luar, lebih-lebih dalam negeri. Sebagai praktisi pencegahan wabah, dan peneliti virus dengan jam terbang 15 tahun, Indro berkali-kali menegaskan bahwa status positif Covid-19 bukan situasi yang tetap, melainkan dinamis. Di hari pertama pasien boleh jadi positif Covid-19, tapi pada hari kesekian sel-sel memori dalam tubuh, akan merekam virus yang masuk, untuk kemudian membangun antibodi guna melawan keganasan virus itu. Pada hari selanjutnya, sesuai hitungan para pakar,  virus akan mati. Di titik itu, status positif akan berubah negatif. Pakde Indro sering mencontohkan kasus pasien 1, 2, 3 (asal Depok) yang sembuh setelah menjalani masa isolasi.

Tak bermaksud mengurangi empati pada tim medik dalam kerja pelayanan yang bagai menyabung nyawa, dan upaya keras para pemangku kepentingan dalam percepatan pencegahan penularan Covid-19, cara yang ditempuh seorang dokter hewan seperti Indro, cukup menenangkan warga yang dari hari ke hari dikepung kecemasan, bahkan ketakutan.  Dari respons para netizen yang tercatat di kolom-kolom komentar pada setiap konten yang diunggah Pakde Indro, terang benderang betapa mereka lebih tenang dan merasa lebih aman ketimbang menyimak laporan angka-angka dan statistika yang saban hari dimaklumatkan oleh juru bicara Gugus Tugas Percepatan Pencegahan Penularan Covid-19.

Aktifitas Moh Indro Cahyono dan Tim Kerjanya

Kurva peningkatan jumlah kasus yang tak kunjung landai, hujatan atas kelalaian pemerintah yang tak sudah-sudah, APD medik dan masker yang langka, termasuk aktivitas ekonomi yang nyaris lumpuh, dan rupa-rupa kabar yang kian memperluas tumpukan kecemasan, seolah-olah mendapatkan oase yang sedikit menyejukkan bila sepintas lalu muncul konten pendek berisi narasi-narasi saintifik Indro Cahyono. Bahwa penularan itu telah mengalir sampai jauh iya, bahwa virus ini telah merenggut nyawa saudara-saudara kita juga iya, bahwa keputusan-keputusan untuk merumahkan karyawan di masa physical distancing juga terjadi di mana-mana, bahwa ada jutaan orang masih bertarung di jalan guna menghidupi keluarga juga tak terbantahkan, bahwa kita sedang berada dalam pusaran ketakpastian yang entah kapan berakhirnya, benar adanya. Tapi bukan berarti peluang untuk membangun harapan baru, tertutup sama sekali.

Dengan gaya bicara katrok-nya itu, di berbagai kesempatan, Pakde Indro seperti tidak sedang melawan keganasan Corona, tapi sedang membendung arus deras ketakutan, bahwa esok atau lusa akan tiba juga giliran kita. Positif Covid-19, dikucilkan dari lingkungan, digelandang ke ruang isolasi, menghembuskan napas penghabisan, lalu dimakamkan tanpa iring-iringan karib-kerabat dan doa sanak-saudara. Tidak begitu, Saudara! Yang terdiagnosa positif Covid-19, baik melalui metode PCR (Polymerase Chain Reaction) maupun Rapid Test, bukanlah akhir dari riwayat kita. Kita akan selamat dan segera keluar dari krisis ini!  Demikian kira-kira substansi ajakan dari Pakde Indro.

Dalam jangkar simulakra dan semesta hiper-reality di ranah pasca-fakta, tempat berhimpunnya sekian banyak suara, apa yang dilakukan Indro bukanlah tanpa risiko. Untuk mencegah penyakit yang sedang menyerang manusia, banyak orang malah mempercayai teori dari kitab usang seorang dokter binatang. Begitu kira-kira sinisme yang juga berseliweran di linimasa. Bukan hanya dari khalayak awam, cemoohan kasar itu tak jarang pula datang dari seorang dokter spesialis bertitel Ph.D. Saya tidak perlu menyebut nama-nama mereka.

Pada level yang lebih ekstrem, sejumlah haters menyebut lulusan fakultas kedokteran hewan Universitas Gajah Mada itu sebagai pendukung strategi Herd Immunity (Kekebalan Kawanan). Istilah yang belakangan kerap diembuskan oleh banyak pakar virus di luar negeri. Prinsipnya tidak lagi mencegah penularan, tapi justru mengundang virus hingga angka pasien terinfeksi mencapai 60-70% populasi di sebuah negara. Di titik itulah kemudian antibodi bersama akan terbentuk, dan penularan berhenti dengan sendirinya. Pendek kata,  dalam kasus Indonesia, dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 10% saja, maka metode pencegahan akan mengakibatkan jutaan orang meninggal dunia, terutama kelompok usia 60 tahun ke atas. Bila tuduhan itu benar, maka timbunan jenazah yang diangkut ke pemakaman massal bukan lagi korban infeksi Covid-19, tapi korban genosida paling santun di dunia.

Bagi saya, Pakde Indro jauh dari klaim sepihak dan mengada-ada itu. Ukurannya sederhana saja. Meski disebut-sebut sebagai ahli virus, dan telah berhasil membuktikan Flu Burung tidak menular pada manusia, Indro tidak sedang bekerja “menangkap” virus guna mempelajarinya di laboratorium, tapi sedang habis-habisan bertarung melawan ketakutan yang sedang memasung segenap rakyat Indonesia. Maka, saya tidak akan ikut-kutan menelusuri jejak keilmuannya, karya-karyanya, apalagi membanding-bandingkan reputasinya dengan ahli-ahli virus atau epidemiologis lain, yang sedang bekerja keras menghadapi keganasan Covid-19.

Dalam situasi normal saja, kita biasa menabung harapan dan optimisme untuk bangkit, pada orang-orang yang kita percayai dapat menyuguhkan kesejukan. Katakanlah para tokoh agama, orang-orang terpelajar yang dalam ilmunya, para guru, dan para arif-bijaksana. Bahkan tak jarang pula, banyak yang menggantungkan harapan akan perubahan nasib di masa datang pada seorang ratu di Istana Ubur-ubur, Kanjeng Prabu di Kraton Agung Sejagat, atau mengadukan nasib dan peruntungan yang tak kunjung berubah pada seorang pejabat teras Sunda Empire.Kini, para ustadz, mubaligh, ulama hanya dapat bersuara di kanal-kanal maya tanpa tatap muka, karena masjid dan musholla sedang dikunci, forum-forum majelis taklim sedang berhenti, kuliah subuh ditiadakan, karena tak seorang pun yang diperkenankan membuat kerumunan. Maka, kedahagaan akan harapan untuk selamat dari kegentingan ini  secara tak sengaja terkanalisasi pada sosok Pakde Indro. Dokter hewan berpenampilan juru parkir, yang sekali waktu dipuja dan dihormati, tapi kali lain dicerca dan dihina, sedina-dinanya.

Tak ada yang dapat menghentikan upaya  Indro Cahyono dengan caranya yang unik dan ndeso itu. Tak ada yang memaksa untuk mempercayai teorinya. Di kanal-kanal pribadinya, tak ada simbol larangan mem-bully. Silahkan saja! Tapi ketenangan dan kesejukan yang dihembuskannya, sebagaimana penularan virus Corona, juga telah mengalir sampai jauh,  telah menenangkan jiwa-jiwa yang  menderita. Tak ada jaminan kumuntlakan dari pendekatan saintifik yang digunakannya, begitu pula dengan temuan ilmiah pakar-pakar lainnya. Selalu ada ceruk bagi kealpaan, bahkan potensi kesalahan. 

Yang pasti, dalam sejarah keilmuan,  kebenaran tak butuh dukungan banyak orang. Ia tegak dengan tubuhnya sendiri. Tanpa dukungan para pemandu sorak berbayar sekalipun, wajah kebenaran tak akan terdistorsi. Siapa tahu, penyakit yang kini sedang menggerogoti manusia, memang harus dibereskan dengan tangan kasar seorang dokter binatang. Jangan-jangan manusia masa kini, yang berada dalam balutan jas dan dasi, tapi senantiasa merawat nafsu hewaniah, telah  tertular  banyak penyakit, yang hanya bisa disembuhkan oleh seorang dokter hewan…

Damhuri Muhammad

Kolumnis

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Manusia, Sastra, Bunga

mm

Published

on



Bandung Mawardi, Esais. Penulis Dahulu: Mereka dan Puisi (2020)

Aku tak mencintaimu sebab kau mawar, cempaka,

atau semak anyelir yang luput dilalap kelopak api.

Aku mencintaimu sebagai cinta yang tersembunyi,

dalam rahasia, berdiam di antara kelam dan cahaya.

(Pablo Neruda, 100 Soneta Cinta, 2019)

Anggrek itu molek. Thailand, Indonesia, Singapura, dan pelbagai negara bersaing pamer anggrek-anggrek molek. Sekian negara mengadakan festival anggrek, mengundang orang-orang memandang takjub anggrek-anggrek. Di majalah Pertiwi, 4-17 Mei 1987, Indonesia kalah oleh kegetolan Thailand dalam mengembangkan anggrek dan membuat acara-acara mendatangkan kaum gandrung bunga atau turis. Ikhtiar tampil di tatapan dunia diusahakan oleh PAI (Pecinta Anggrek Indonesia). Pada masa Orde Baru, usaha mengurusi dan memamerkan anggrek mendapat restu Ibu Tien Soeharto. Negara turut memberi kebijakan dan penghargaan demi kemonceran aggrek.

Anggrek telah terdengar di lagu. Dulu, orang-orang mendengar sambil berimajinasi melihat anggrek. Pemandang menganggap anggrek itu molek menggenapi hasrat asmara. Anggrek memikat bagi pemberi makna hidup berbunga. Pada masa lalu, kita lumrah melihat di depan rumah-rumah, ada pameran anggrek sekian warna. Pemandangan memberi bahagia, ketakjuban, dan keharmonisan. Indonesia “berbunga” setiap hari tapi tak melulu anggrek. Orang-orang hidup bersama dan memberi arti sekian bunga: melati, mawar, teratai, kantil, dan lain-lain.

Bunga pun milik pengarang. Pada masa 1970-an, Mochtar Lubis mencantumkan bunga untuk lakon sastra bakal bertumbuh di Indonesia. Di Horison edisi Desember 1977, ia menulis: “Sastra hendaknya adalah untuk hidup, tidak saja bagi manusia, akan tetapi juga untuk bunga teratai, untuk pohon yang tua, burung, rama-rama dan capung, batu di sungai, sungai dan anak sungai, danau dan lautan, dan gunung-gunung.” Kita membaca itu renungan akhir tahun saat tatanan Orde Baru ingin segera mapan. Sastra ada di alur beragam untuk mengumumkan keindahan, kemanusiaan, religiositas, kekuasaan, etika, dan lain-lain. Mochtar Lubis sempat memberi arahan sastra ke bunga. Ia tak sedang bernostalgia dengan sastra-sastra lama di Nusantara sering memberi deskripsi dan narasi berlebihan mengenai bunga-bunga. Di sastra Jawa, bunga itu lekas memikat dan mengikat pembaca sejak halaman-halaman awal. Bunga itu seperti tampak mata, terasa harum, dan memancarkan pesan-pesan: asmara, politik, kematian, dan lain-lain.

Mochtar Lubis saat menulis esai mungkin sedang “cuti” dari keributan politik atau kecerewetan slogan-slogan buatan pemerintah. Ia seperti di suasana tenteram saat menulis esai tak dianggap “terbaik” oleh para penggemar tulisan-tulisan Mochtar Lubis: cerita pendek, novel, dan esai. “Setiap kata dalam sastra adalah sebuah benih yang ditanam dalam kebun zaman-fikiran yang digambarkan oleh kata-kata ini mungkin hilang, akan tetapi juga dapat timbul kembali, sama segarnya seperti ketika mula-mula disusun oleh pengarangnya – mungkin akan dapat merebut imajinasi generasi-generasi – dan generasi demi generasi ini mungkin pula akan dapat merobah masyarakat demi masyarakat, dan dengan demikian merobah arus sejarah,” tulis Mochtar Lubis. Kita membaca sambil mengarahkan pandangan ke kebun, halaman, atau kalender bergambar bunga-bunga. Sastra ingin bermekaran. Sastra itu “berbunga” sepanjang masa.

Kita beralih ke pengalaman dan ingatan atas anggrek pada masa berbeda. Goenawan Mohamad mengingat diri masa 1960-an. Ia masih muda, tergoda berpikiran tema-tema besar. Politik itu wajib. Ia agak mengabaikan tetek bengek atau hal-hal kecil turut membentuk manusia dan zaman. Politik sering membingungkan dan memuat khianat-khianat. Goenawan Mohamad lekas insaf, menepi memberi diri ke hal-hal telanjur lama dilupakan. Di Tempo, 25 April 2004, ia mengenang: “Sejak itu saya pun berusaha memasuki sebuah dunia bahasa yang lain – bahasa yang tak sarat dengan ide-ide tang merasa kekal dan kata benda abstrak. Saya membaca kembali puisi tentang cuaca, ranting, rama-rama, dan hal-hal fana lain yang anehnya membuat hidup berarti dan kita bersyukur.” Pada masa 1960-an, ia sudah menggubah puisi-puisi tapi mendapat kemonceran dengan esai-esai sering dimuat di majalah Sastra asuhan HB Jassin.

Ketekunan membaca buku-buku garapan para filsuf dan pengarang dunia memberi tanda seru dan keinsafan. Goenawan Mohamad mulai mengerti keputusan Richard Rorty memilih anggrek hutan. Filsosof itu ingin melihat manusia dan dunia melalui anggrek. Di penggalan hidup, sang filosof diminta memilih: amggrek hutan atau gagasan revolusi. “Tapi ia juga mencintai kembang anggrek liar yang tumbuh di pegunungan,” ingatan Goenawan Mohamad atas biografi Richard Rorty. Anggrek mengalahkan kerumunan ide-ide besar bagi dunia. Anggrek itu bergelimang makna ketimbang pembesaran ideologi melahirkan kalimat-kalimat sloganistik atau khotbah penguasa menggunakan seribu tanda seru.

Kita di keisengan membaca penggalan-penggalan esai buatan dua orang ampuh dalam kesusastraan dan pers di Indonesia: Mochtar Lubis dan Goenawan Mohamad. Kita menandai sastra dan bunga saat pemandangan di rumah, jalan, kebun, dan sekolah terlalu berubah. Bunga-bunga sering absen. Di kalangan bocah ingin bermain, bersenandung, dan berimajinasi di TK, bunga-bunga sering gambar di tembok. Di sekolah atau kantor, kita telanjur memiliki ingatan bunga-bunga kertas dan plastik di atas meja. Di jalan, bunga adalah impian terlalu sulit diwujudukan oleh pemerintah. Di sekian kota, dana ratusan juta atau miliaran rupiah mulai digunakan membuat taman-taman bunga. Dalih birokrasi agar kita mewangi. Kita maklum dan mengerti berlangsung pemborosan, bukan pengisahan bunga-bunga. Di tatapan mata manusia abad XXI, bunga-bunga itu latar untuk berpotret. Peremehan tak terampukan. Begitu.

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Di Rumah…

mm

Published

on

Bandung Mawardi—Kuncen Bilik Literasi. Penulis buku Dahulu: Mereka dan Puisi (2020)

Pada suatu masa, pembaca buku menempuhi perjalanan jauh. Ia membekali diri dengan ratusan novel selesai terbaca dan tercatat dalam album kutipan. “Kukira yang kuinginkan adalah sebuah dunia yang penuh dengan keributan dan kegeraman seperti dunia Faulkner, suatu dunia yang bagaikan buaian janji sekaligus merupakan misteri yang gelap seperti dunianya Frost, dunia yang dihuni makhluk-makhluk aneh dan pahlwan-pahlawan seperti dalam dunianya Steinbeck,” tulis Michael Pearson menguatkan niat melakukan perlawatan ke pelbagai kota dan desa, tempat para pengarang hidup dan mengisahkan dalam novel-novel ampuh di Amerika Serikat.

Ia pun bergerak dan bergerak memenuhi janji ingin mengetahui rumah, kebun, sungai, jalan, hutan, pertokoan, dan segala hal berkaitan biografi pengarang dan tercantumkan di novel-novel. Perjalanan menggairahkan dan membikin capek menghasilkan buku berjudul Tempat-Tempat Imajiner: Perlawatan ke Dunia Sastra Amerika (1994). Micchel Pearson menjadikan buku-buku adalah peta menuju ke tempat-tempat menghidupi dan diceritakan Frost, Faulkner, O’Connor, Hemingway, Steinbeck, dan Twain. Mereka dinggap “menciptakan tempat yang dalam dan abadi dalam kesusastraan Amerika.” Sekian tempat itu menguak biografi pengarang tapi mengajari pula ke pembaca untuk mengerti kemungkinan menjawab memusat ke “siapa”.

Janji keramat itu terbuktikan: “Dalam buku dan legenda, semua dunia ini menjadi nyata bagiku. Namun, aku juga ingin tahu, seandainya aku melangkah melebihi lingkaran gaib imajinasi, apakah dunia tadi akan lenyap seperti khayalan belaka dalam benakku.” Ia terlalu lama tinggat di apartemen di New York. Di gedung tinggi dan “sesak”, Michael Pearson merasa menjalani hidup di dunia sempit. Ia memilih buku: meluas dan meninggi. Buku terpilih gara-gara selama di apartemen ia cuma sanggup menatap sedikit langit. Bangunan-bangunan menjadi penghalang. Buku teranggap “menunjukkan mentari.” Bergeraklah Michael Perason menuju tempat-tempat berkaitan para pengarang ampuh, meninggalkan New York dan mengembara lama.

Pada suatu hari, ia selesai dengan segala perlawatan. Ia harus pulang. Deksripsi mengharukan: “Dalam keremangan senja, bulan separuh mengintip dari balik langit yang penuh dengan mega-mega berwarna kelabu, kami berkendaraan menyusur jembatan penghubung Teluk Chespeake dan pulang.” Ia tak mungkin selalu bergerak dengan mobil memenuhi setumpuk hasrat mengenali buku dan pengarang di seantero Amerika Serikat. Ia membutuhkan “selesai” dan pulang. “Seperti halnya banyak orang Amerika yang hidup berpindah-pindah, bagiku rumah adalah lebih dari segalanya,” tulis Michael Pearson meredakan letih dan memastikan segala perlawatan tak sia-sia.

Michael Pearson menjalani perlawatan di masa lalu, bukan pada masa wabah sedang melanda Amerika Serikat dan pelbagai negara. Trump dan para pemimpin di dunia menganjurkan warga tinggal di rumah, melakukan pekerjaan, belajar, dan beribadah di rumah. Mereka dianjurkan tak bepergian dari rumah atau membuat kerumunan. Penghindaran wabah dengan mengurangi perjumpaan di sekian tempat. Rumah dianggap tempat “perlindungan” dan “keselamatan” ketimbang orang-orang harus menanggungkan sakit, derita, dan kematian. Perintah di rumah semula “kemustahilan” tapi wajib berlaku demi kebijakan-kebijakan mengurangi dan menghentikan wabah.

Michael Pearson melawat tak di masa wabah. Ia masih mungkin mengartikan rumah-rumah para pengarang memiliki cerita-cerita menandai babak-babak perubahan di Amerika Serikat. Kini, orang-orang dianjurkan berada di rumah setelah pengertian-pengertian rumah telah terlalu berubah, tak mampu lagi diceritakan utuh di novel atau mendapat penjelasan seratusan halaman dalam dokumen resmi pemerintah. Rumah telah “imajinatif” tapi termaknai dengan gugup dan meragu gara-gara wabah.  

Kita menengok rumah dan nasib manusia di Amerika Serikat masa lalu melalui novel berjudul Tortilla Flat atau Dataran Tortilla gubahan John Steinbeck. Novel penuh lelucon dan kritik besar memahami rumah. Kita simak dilema tokoh utama: “Ketika Danny pulang dari dinas ketentaraan, dia mendengar bahwa dia menjadi ahli waris dan pemilik sepetak tanah beserta bangunan di atasnya. Kakeknya telah meninggal. Dua buah rumah kecilnya yang terletak di Dataran Tortilla diwariskan kepada Danny.” Keberuntungan dan nasib lekas menjadi cerah? Episode itu kesalahan. “Berita ini membuat hati Danny terasa sedikit berat, mengingat kewajibannya sebagai seorang pemilik rumah,” tulis John Steinbeck.

Si tokoh selama puluhan tahun menghindari “memiliki” atau “mengalami” hidup di rumah dalam kewajaran. Ia memilih di luar rumah: bekerja, bertualang, mabuk, dan tidur. Rumah belum keinginan. Predikat pemilik rumah justru petaka. Tinggal dan menguru rumah adalah “akhir bahagia”. Satire itu diceritakan pada masa 1930-an. Cerita itu mungkin disangkal saat orang-orang di Amerika Serikat mengalami hari-hari wabah menakutkan, setelah menggemparkan Tiongkok, Korea Selatan, dan Italia.

Di pelbagai negara, rumah-rumah mendapat perintah bertambah makna. Pengertian pokok tetap termiliki tapi segala kebijakan pemerintah dan pikat teknologi mutakhir mengimbuhi pengertian rumah. Kerasan, bosan, malas, rajin, capek, girang, damai, kisruh, dan semua rasa di rumah ditanggulangi dengan “pemaksaan” raga tetap berada di rumah tapi pengabaran ke dunia terus belangsung melalui gawai. Jutaan orang serentak atau bergantian mengabarkan rumah untuk ditonton orang lain. Rumah-rumah terdokumentasi dan disebarkan ke segala penjuru di dunia, detik demi detik. Ikhtiar merasa di rumah tapi “meloloskan” sesuatu dari rumah.

Kita berpindah dulu, mengunjungi rumah di Korea Selatan. Perlawatan sebelum negara itu dilanda wabah. Kita masuk ke halaman-halaman cerita gubahan Kyung-Sook Shin dalam novel berjudul Please Look After Mom. Novel bercerita keluarga, rumah, buku, dan kehilangan ibu. Rumah menjadi pusat pengisahan: awal dan akhir. Keluarga miskin di desa. Keluarga bakal “berpencaran” ke pelbagai kota dan menjadikan rumah asal merana. Semua gara-gara ibu hilang di stasiun saat ingin mengunjungi rumah si anak di Seoul. Anak-anak tak lagi hidup di rumah asal. Mereka sudah bekerja dan berkeluarga, memilih tinggal di kota. Kunjungan menjadi duka, setelah ibu terpisah dari bapak dalam misi menjenguk putra di kota. Ibu tak sampai di rumah-kota, tak kembali ke rumah-desa. Novel tetap menceritakan kembali ke rumah di desa meski ibu sebagai arwah.

Kita membaca monolog arwah ibu mengingat rumah dan keluarga. Ingatan mengharukan: “Kita sudah empat puluh tahun tinggal di rumah yang sekarang sudah tak ada lagi di situ. Aku selalu di rumah itu. Selalu. Kau antara ada dan tidak ada. Aku tidak mendengar kabarmu, seolah-olah kau tidak akan pernah kembali, tapi lalu tahu-tahu kau pulang. Mungkin itu sebabnya. Bisa kulihat rumah tua itu di hadapanku, bercahaya seperti diterangi. Aku ingat semuanya. Semua yang terjadi di rumah itu. Peristiwa-peristiwa pada tahun-tahun ketika anak-anak dilahirkan, betapa aku menunggu-nunggumu, dan melupakannmu, dan membencimu, dan menunggumu lagi. Sekarang hanya rumah ini yang tertinggal sendirian. Tak ada siapa-siapa di sini, hanya bentangan salju putih yang menjaga pekarangan.” Rumah itu sudah berlalu, tak hadir saat wabah menjadi dalih orang-orang di Korea Selatan mendingan di rumah.

Di mata pemerintah, rumah bukan lagi nostalgia duka keluarga. Rumah tetaplah tempat. Rumah dimengerti tempat paling mungkin bagi orang-orang melakukan beragam peristiwa, berjanji tak keluar rumah. Rumah-rumah itu jawaban di penanganan wabah. Pengarang mengisahkan rumah memiliki sodoran-sodoran makna, digantikan oleh gagasan “absolut” bahwa rumah tak lagi cerita tapi tempat perlindungan dan keselamatan. Asmara, pengabdian, khianat, atau album cerita manusia belum terlalu dipentingkan dalam menghentikan wabah. Kita sempat membaca rumah dalam novel sambil menantikan berita-berita bahwa rumah memang “jawaban” meski mengalami “pemiskinan” cerita.

Di Amerika Serikat dan Korea Selatan, cerita rumah tersaji dalam novel-novel. Kita terpikat dan membaca saksama ingin mengetahui album cerita. Kini, rumah-rumah dalam novel digantikan rumah-rumah dalam pemberitaan wabah. Dua novel itu nostalgia. Kini, kita bepindah ke jalan menuju rumah di Tiongkok. Rumah dalam pengisahan Mo Yan. Rumah menjadi tempat (paling) biografis. Di rumah, orang memiliki dan membentuk identitas. Kepatuhan di rumah memberi jenuh dan kesanggupan bersikap. Heroisme pun terpancar dari rumah dalam situasi perang atau wabah. Mo Yan menulis rumah dalan latar perang masa 1930-an, mengingatkan ketabahan dan kemunculan heroisme.

Novel berjudul Sorghum Merah mengisahkan orang-orang tangguh di deretan derita panjang tapi diusahakan menghilang dan rampung dalam sekian generasi. Di situ, kita membaca tokoh disebut Nenek dan pengalaman berumah, sebelum ia menjadi pemberani dan pengubah. Mo Yan menulis: “Selama enam belas tahun pertamanya, hari-hari Nenek diabdikan untuk menyulam, menjahit, memotong kertas, mengikat kaki, menyisir rambut tanpa henti, dan kegiatan rumahan lainnya ditemani anak-anak tetangga. Jika demikian, apakah sumber kemampuan dan keberaniannya dalam menghadapi berbagai peristiwa yang ditemuinya pada masa dewasanya?” Rumah membentuk keberanian meski tak memiliki ukuran tetap atau tanda-tanda tampak mata. Perempuan dalam novel itu menempatkan diri di rumah bukan untuk menjadi makhluk terbosan dengan segala perulangan selama belasan tahun. Ia justru mengerti rumah adalah “sumber” meladeni segala situasi di luar rumah, termasuk perang.

Pada 2020, Tiongkok tak sedang dalam situasi perang tapi wabah. Keberanian untuk berada di rumah dikehendaki demi menanggulangi wabah, memastikan orang-orang terhindar dari sakit dan kematian. Tiongkok menjadi berita dan cerita bagi jutaan orang di pelbagai negara saat wabah beredar: menakutkan dan mematikan. Kita turut “menonton” Tiongkok membuat kota-kota “mati” dan rumah-rumah adalah tempat keselamatan. Pada saat kita menonton dan belum usai memberi konklusi, wabah itu telah mendatangi puluhan negara. Di Indonesia, kita pun menerima perintah di rumah, sebelum memiliki daftar peristiwa mencipta bahagia atau bekal menelusuri (lagi) makna rumah dalam novel-novel. Rumah memang tak cuma dalam novel tapi kita merindukan rumah itu bergelimang cerita, melampaui bisnis properti dan kebijakan pemerintah. Begitu. (*)

Continue Reading

Trending