Connect with us

Buku

Iwan Simatupang, Yang Kering, dan Yang Tanpa Plot

mm

Published

on

Semua novel Iwan agak terlambat diterbitkan. Beberapa penerbit rupanya kurang yakin bahwa novel-novel Iwan akan mampu menarik pembaca buat membelinya. Novel-novel itu nampak eksperimental dalam arti menyalahi konvensi realisme yang umum terdapat dalam novel Indonesia selama itu.

Yang Kering dan Yang Eksistensialis

Tidak ada novelis Indonesia yang sering diperbicangkan seperti Iwan Simatupang. Ia diulas, dicoba pahami dan dipuja oleh para sastrawan yang mementingkan arti pemikiran dalam karya sastra. Novel-novel Iwan Simatupang termasuk novel yang sulit dipahami, lebih-lebih lagi hanya membawa kebingungan bagi pembaca awam atau bahkan guru-guru sastra. Novel-novel Iwan memang novel yang rumit, non konvensional, tidak umum, berpretensi filsafat, penuh pemikiran dan sangat padat. Membaca novel Iwan orang dipaksa konsentrasi penuh lantaran tiap kalimatnya fungsional dan permasalahannya bertumpuk-tumpuk. Novel Iwan adalah tipe novel kaum intelektuil, novel sebagai penuangan pemikiran-pemikiran abstrak dan metafisik. Ia bukan novel yang memasukkan pembacanya ke dalam pengalaman konkrit, tetapi novel yang merenung, penuh kontemplasi.

Iwan Simatupang sebenarnya termasuk pengarang yang mengalami masa jayanya pada dekade 1960-an. Ia bukan produk dekade 1970-an. Tetapi sebagai pengarang ia mendahului angkatannya. Fiksi non konvensional yang berkembang biak pada dekade 1970-an, dipelopori oleh Iwan sekitar permulaan tahun 1960-an.

Iwan mengembangkan jenis novel anti-plot, anti karakter, yang dalam tehnik dipengaruhi oleh gerakan Novel Baru dari Perancis yang dikembangkan sekitar tahun 1953-1957. Tetapi dasar pemikirannya adalah Eksistensialisme.

Padahal menurut Vivian Mercier dalam bukunya “Novel Baru” dasar pemikiran yang melahirkan jenis novel baru adalah filsafat Phenomenologi sedangkan Eksistensialisme melahirkan karya-karya Absurd. Tetapi memang tahun 1950-an sampai akhir 1960-an filsafat Eksistensialis  amat populer di Indonesia. Dan sebagai pengarang yang pernah lama tinggal di Eropa (1954-1958) dan menyaksikan di sana berkembangnya pemikiran kaum Eksistensialisme serta mulai munculnya Novel Baru (Nouveau Roman) maka tak mengherankan kalau sekembalinya di Indonesia ia ada terpengaruh oleh mereka. Iwan sendiri secara sadar menyebutkan novel-novel yang ditulisnya sebagai “novel baru”.

Semua novel Iwan agak terlambat diterbitkan. Beberapa penerbit rupanya kurang yakin bahwa novel-novel Iwan akan mampu menarik pembaca buat membelinya. Novel-novel itu nampak eksperimental dalam arti menyalahi konvensi realisme yang umum terdapat dalam novel Indonesia selama itu.

Namun setelah novelnya yang pertama, Merahnya Merah, diterbitkan tahun 1968 dan mendapat sambutan penuh antusias dari para sastrawan yang pada waktu itu juga lagi demam filsafat eksistensialisme, maka bermunculanlah novel-novelnya yang lain seperti Ziarah (1969), Kering (1972), dan Koong (1975). Semua novel itu mendapat sambutan positif dari pada sastrawan dan pengamat sastra.

Iwan muncul sebagai sastrawan-pemikir, bukan hanya karena sifat novel-novelnya demikian, tetapi juga karena jauh sebelum ia menulis novel-novelnya ia telah menulis beberapa esei yang mendasari penciptaannya kemudian. Esei-esei itu (dan surat-surat pribadi kepada kritikus HB Jassin) boleh dikatakan pertanggungan jawab Iwan terhadap novel-novelnya. Dan dari sanalah orang mencoba memahami maksud novel-novel Iwan seperti dilakukan oleh kritikus Dami N Toda dalam bukunya Novel Baru Iwan Simatupang.

Corak Novel Baru Iwan Simatupang tak pernah ditiru oleh novelis-novelis selanjutnya. Beberapa novelis non-konvensional lebih cenderung menulis secara Absurd, Interior Monolog dan Surrealis, pada dekade 1970-an itu, seperti dikerjakan oleh Putu Wijaya, Budi Darma, Danarto dan lain-lain.

Tema yang digarap Iwan dalam novel-novelnya adalah sekitar kekosongan arti, pertanggung jawaban pribadi dan kesepian. Ia sendiri menyebut dirinya sebagai “marginal”. Saya menduga bahwa obsesi pribadi Iwan yang melahirkan novel-novelnya yang penuh keresahan itu adalah kematian isterinya yang amat dicintainya, Imelda de Gaina (Corrine), yang dinikahinya di negeri Belanda tahun 1955. Corry meninggal akibat penyakit typhus tahun 1960. Jiwanya yang sepi, kehilangan, tanpa sandaran, dan mencari ketenteraman jiwa inilah yang dicoba dicari jawabnya dalam novel-novelnya. Novel Ziarah jelas ditujukan untuk isterinya, novel Kering menunjukkan kehampaan makna dan Koong usaha pencarian makna baru atas suatu kehilangan.

Nama lengkap Iwan adalah Iwan Martua Dongan Simatupang dilahirkan di Sibolga 18 Januari 1928 dan meninggal di Jakarta 4 Agustus 1970. Mengalami pendidikan kedokteran di Surabaya, dan pernah menjadi guru SMA di sana. Kemudian melanjutkan belajar Anthropologi di negeri Belanda. Sepulangnya di Indonesia menjadi dosen ATNI di Bandung dan wartawan di berbagai penerbitan di Jakarta.

Pembaharuan sastra Iwan tidak terbatas pada novel saja tetapi juga dalam drama. Ia menulis beberapa naskah drama yang “baru” pula seperti Taman (1966), Bulan Bujur Sangkar (1960), RT Nol/RW Nol (1966), serta Kaktus Dan Kemerdekaan (1967).

Kering

Tidak mungkin menuliskan plot pokok dari novel Iwan ini secara pas. Kering adalah novel tanpa plot. Memang ada jalan ceritanya, tetapi tidak dalam pola plot yang umum. Dasar yang menggerakkan cerita ini begitu beragam terdiri dari berbagai persoalan yang intinya boleh saja disebut psikologis. Tokohnya pun tidak berkarakter. Ia mewakili siapa saja. Inilah sebabnya tokoh dalam novel ini cukup diberi tanda “tokoh kita”. Meskipun demikian ia punya latar belakang. Ia mahasiswa filsafat dan sejarah yang gemilang, sampai-sampai para dosen dilalapnya. Namun ia memilih hidup di daerah transmigrasi. Entah di mana. Di daerah transmigrasi inilah ia dan kawan-kawannya mengalami musim kemarau yang amat kering. Tanah retak. Beberapa kawannya memilih meninggalkan daerah transmigrasi yang kurang diurus oleh pemerintah itu. Tetapi tokoh kita tetap tinggal di sana. Ia nekad menggali tanah untuk membuat sumur. Ia menggali sedalan-dalamnya meskipun air tak keluar. Ia bermaksud menggalinya sampai di permukaan bumi yang lain. Akhirnya tokoh kita pingsan berat. Ia di rawat di rumah sakit bagian kamar sakit Jiwa. Dia dirawat dan pilih kembali. Ia mengembara di kota itu dan bertemu kawan lamanya di daerah transmigrasi dahulu yang kini hidup makmur berkat main selundup. Tokoh kita ditawari kerja semacam itu. Tak mau. Dia bermaksud kembali ke daerah transmigrasi. Bertemu lelaki berjanggut. Diajak membuktikan kelaki-lakiannya dengan wanita. Akhirnya tiba di daerah transmigrasi yang menunjukkan gejala akan dicurahi hujan. Tetapi hujan tak turun juga, meskipun angin kencang meniup. Ia bangun kota baru di tengah ketandusan. Kota ini roboh disapu angin kencang. Orang-orang transmigran ingin meninggalkan daerah itu, tetapi diajak kembali oleh tokoh kita untuk membangun kotanya lagi. . . .

Itu barangkali jalinan plot yang bisa tertangkap secara konvensional. Di tengah jalinan plot itu pengarang banyak melontarkan dialog-dialog sulit dan filosofis dengan tokoh-tokoh lain. Menilik jalan ceritanya jelas bahwa pengarang ingin menggambarkan pandangan bahwa manusia wajib berusaha, berbuat dan bertanggung jawab meskipun itu nampaknya sia-sia. Kisah tokoh kita mirip dengan tokoh Sisyphus dalam dongeng Yunani Kuno yang digemari kaum Eksistensialis. Sisyphus Indonesia ini berada di daerah transmigrasi yang kering, namun dalam kesia-siaan usaha ia tetap bekerja, tetap menempuh arus “nasib” atau keganasan alam yang melandanya. Ini terbukti dengan gambaran bagaimana tokoh kita tetap terus menggali tanah untuk mencari sumber air. Meskipun ia tahu tak akan keluar air, namun tetap menggalinya sampai badannya tak kuat bekerja. Juga pada waktu bangunannya dilanda angin badai di daerah transmigrasi kering itu,ia dengan semangat mengajak kawan-kawannya untuk kembali membangun kembali, juga kalau bangunan itu kelak akan digoncang dan dirubuhkan angin kembali. Itulah rupanya makna manusia: ia harus mengisi hidupnya dengan usaha meskipun rupanya tak akan ada hasilnya.

Kering, daerah transmigrasi, angin kencang dan hujan, bukanlah setting konvensional. Ia berdiri sebagai lambang-lambang yang bisa diterjemahkan dalam wujud apa saja. Daerah transmigrasi yang kering bisa saja menggambarkan kondisi jiwa manusia modern yang kosong hampa arti, kalau itu mau diartikan secara metafisik. Daerah transmigrasi adalah daerah baru, bukan daerah lama yang diwarisi turun temurun. Bisa saja itu berarti daerah budaya baru, bukan tradisional. Daerah budaya atau daerah metafisik yang sama sekali asing dari tanah asalnya. Dan daerah itu adalah daerah yang kering, tidak hidup. Dan tokoh kita tetap mau hidup dan harus hidup di situ. Daerah itu dipilihnya karena ia telah memutuskannya secara matang setelah ia “mengalahkan” para dosen sejarahnya di universitas. Hanya daerah transmigran itulah daerah hidupnya. Ia menjadi manusia marginal, manusia di antara batas lama dan batas baru yang belum menentu. Ia tak bisa kembali pada alam yang lama. Ketidak mampuan kembali pada hal-hal mapan ini digambarkan pula dengan pertemuan tokoh kita dengan pastor. Pastor mewakili atau berdiri sebagai lambang orang-orang yang selesai dan berhasil menjawab semua persoalan dengan agamanya. Tetapi tokoh kita tidak puas dan tak bisa menerimanya lagi. Ia memilih meninggalkan pastor.

Novel ini tak bisa dibaca untuk hiburan. Orang yang mencari hiburan dalam bentuk cerita jelas tak akan menemukan yang dicarinya. Novel ini hanya memuaskan untuk mereka yang mau belajar memahami manusia.

Novel ini penuh padat dengan pertanyaan, perbantahan, pertikaian pendapat-pendapat. Pendeknya novel ini mengajak pembacanya berpikir. Novel ini mesti dibaca hati-hati dan berkali-kali dan disusun kembali hubungan-hubungannya oleh pembaca. Novel ini novel yang menuntut pada pembacanya dan bukan memberi.

Tema pokok novel ini memang eksistensialis: berbuat, melakukan pilihan dan bertanggung jawab. Tokoh kita telah melakukan itu sebagai seorang intelektual yang tak betah lagi tinggal di kota setelah menamatkan kuliahnya di jurusan Sejarah. Sejarah dipilih karena implisit ia mengetahui dan mengenal masa lampau bangsanya, budayanya, cara berpikirnya, pandangan hidupnya. Dan di daerah baru ini ia berkumpul pula dengan tokoh-tokoh kota yang lain yang juga tidak puas secara spiritual. Namun ada yang kecewa dan kembali pada kultur lama dalam hal lain Si Gendut  dan Si Kacamata. Namun tokoh kita tetap berbuat dan bekerja dalam kesia-siaan yang diyakininya di daerah baru itu. Di samping tema pokok itu sebenarnya Iwan mengemukakan tema-tema lain, sehingga novel ini nampak penuh dengan serpihan-serpihan persoalan yang beraneka ragam yang rupanya digarap pengarang sejalan dengan jalur cerita. Ketika di rumah sakit dipersoalkan tentang kewarasan, ketika bertemu Si Gendut dipersoalkan tentang mental korup, ketika bertemu Lelaki Berjanggut berbicara soal wanita, ketika bertemu pastor berbicara soal religi dan seterusnya. Persoalan-persoalan itu muncul dan ditinggalkan, sehingga novel memberi kesan bertumpuk-tumpuk dengan tema dan masalah.

Apakah ini Nouveau Roman? Memilik tehnik yang dipakainya, yakni novel tanpa plot dan tanpa karakter memang mirip dengan kemauan kaum Novel Baru di Perancis itu. Tetapi dasar dari Nouveau Roman adalah mempersetankan semua novel sebelumnya. Menurut Robbe-Grillet dalam eseinya “Dari Realisme ke Kenyataan” ia menulis bahwa sejak Flaubert ambisi novel adalah membuat sesuatu dari ketiadaan, sesuatu yang berdiri sendiri yang tidak bersandar pada sesuatu di luar kaya itu. Pendeknya Novel Baru tidak punya pretensi merekam kenyataan tetapi menciptakan kenyataannya sendiri. Pada novel Kering ini Iwan masih jelas merekam dan bersandar pada kenyataan kehidupan, hanya semua itu digambarkan secara simbolik. Pada dasarnya novelnya ini adalah novelpuisi, baris-barisnya berupa gambaran adegan yang bisa bermakna lambang dalam usaha mewujudkan hakiki. Novelnya ini memang mirip novel Camus, Wabah Pes, hanya di sini wabah diganti dengan daerah transmigrasi yang kemarau. Tidak ada Harapan, tidak ada Hujan, tidak ada Penyembuhan. Tetapi kalau dianggap bahwa kenyataan gambaran novel Kering tak bisa dikembalikan pada kenyataan seperti dalam novel realisme tidak sepenuhnya salah. Gambaran di dalamnya memang tak ada hubungannya dengan kenyataan kehidupan: bagaimana mungkin orang bisa menggali sumur sehingga menembus perut bumi, bagaimana mungkin bersanggama di atas aspal jalan yang meleleh dan dilihat orang, bagaimana kendaraan bertabrakan keras tetapi tetap terus jalan lagi? Namun gambaran yang demikian hanya sepotong-sepotong, sedang yang lain masih bisa dikenali secara realisme.

Tetap Marginal

Dibanding dengan novel-novelnya yang lain, novel Iwan Simatupang yang terakhir dan posthomus ini lebih “mudah” diikuti dan lebih dekat dengan konsep novel konvensional yang realis. Meskipun demikian ia tak lepas dari nilai-nilai lambang. Novel ini tidak anti plot dan anti karakter. Ia punya plot yang jelas dan karakter yang bernama, settingnya pun jelas desa dan kota dengan segala implikasinya.

Tokohnya adalah Pak Sastro seorang petani desa yang kematian isterinya dan desanya dilanda banjir. Satu-satunya milikinya yang berharga adalah anaknya, Si Amat. Namun Amat yang mengadu nasib ke kota ini juga pada suatu kali tergilas lokomotip dan mati pula. Sastro kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidup ini, yang membuat hidupnya bisa tenteram dan seimbang. Dalam usahanya melawat tempat kematian anaknya itu pak Sastro menemukan sesuatu yang baru yakni burung perkutut dan yang segera dibelinya. Dari Jakarta ia kembali ke desa dengan perkutut yang tak bisa koong, perkutut gule. Perkutut itu meskipun bisu tetap mampu mengisi kekosongan hati Sastro dan membawa berkah kemakmuran baru: sawahnya subur dan segalanya terus bertambah serta berkembang. Sastro cukup kaya. Namun perkutut gule ini suatu hari hilang, dan Sastro meninggalkan segalanya memburu perkututnya yang hilang itu. Kesadarannya muncul ketika ia bertemu dengan seorang janda yang juga memelihara perkutut tetapi kooong, yakni bahwa yang penting mencari, apakah yang dicari itu berharga atau tidak bagi orang lain, ada atau tidak. Sementara itu orang-orang desa menyusulnya, tetapi mereka disuruh kembali oleh Sastro agar mengerjakan sawah-sawahnya sebab di sanalah tempat mereka, Sastro sudah tak mungkin kembali ke sana..

Tokoh Sastro adalah sebenarnya juga seorang marginal. Ia tak bisa hidup lagi di desanya setelah ia memperoleh perkutut gule dari kota Jakarta. Sastro berniat terus mencari, mencari dan mencari, entah ketemu atau tidak. Ini sama dengan tokoh kita dalam Kering yang terus menggali dan menggali sumur entah keluar atau tidak, membangn dan membangun rumah meskipun topan tiap kali merobohkannya. Ini juga Sysiphus modern yang tak bisa lagi tenang di “desa”nya sendiri. Juga di sini jelas bahwa eksistensialislah yang mendasari Koong.

Namun plot ceritanya jelas. Dimulai dengan kehilangan demi kehilangan yang menimpa Sastro. Akibatnya hatinya kosong, sepi. Kesepian itu dapat diisi setelah ia menemukan perkutut gule. Namun perkutut terbang meninggalkannya. Sastro kehilangan lagi, sepi dan kosong lagi hatinya. Pemecahannya filosofis: “Dalam keadaannya yang ‘hilang’ dan ‘sedang dicari’ ini, dia telah berhasil bertengger lebih mesra di kalbu Pak Sastro dan menjadi petunjuk ke arah langkah-langkah selanjutnya. Ya! Sekiranya perkututnya itu tidak bakal ditemuinya kembali, namun perkutut itu telah bertengger untuk selamanya dalam jiwa Pak Sastro. ‘Bertemu’ atau ‘tidak bertemu’ adalah pengertian yang sudah tidak begitu penting lagi. Yang penting adalah: mencari”. Maka Pak Sastro terus mencari dan merasa tenang bahagia seperti janda tua yang memperoleh keseimbangannya dengan memperoleh perkutut yang bisa kooong.

Ada tiga komponen yang mendasari cerita ini. Yaitu masyarakat desa, perkutut dan Pak Sastro. Pengembaraan yang bermakna metafisik dalam mencari keseimbangan, ketenangan, kebahagiaan hidup ini, digambarkan secara berurut sebagai berikut. Perkutut menginginkan kebebasannya, ia terbang. Artinya Perkutut memperoleh kebahagiaannya dengan kebebasan mutlak. Sedang Pak Sastro mengejar Perkutut untuk memperoleh kebahagiaannya sendiri pula. Dan di belakang Pak Sastro mengikut masyarakat desa yang merasa bersalah terhadap Pak Sastro dan menginginkan ketenangan jiwa yang bahagia berkat filsafat Pak Sastro. Dia sudah bahagia dengan mencari dan mencari yang berarti mengembara, meninggalkan desanya untuk selamanya. Sedang yang dicari Pak Sastro juga tak perlu ketemu, sebab ketemu atau tidak sama saja. Ini berarti Perkutut dapat memperoleh kebebasan yang diinginkannya. Sedang masyarakat desa menemukan kebahagiannya di desa sendiri. Masyarakat desa disuruh kembali oleh Pak Sastro dan diminta mengolah sawah serta tanah Pak Sastro untuk kepentingan desa.

Desa dalam cerita ini memang bisa konotatif: ia bisa berarti kultur Indonesia lama. “Satu-satunya penyelamatan adalah kembali ke sawah dan ke kebun. Kembali menjadi kita semula. Yaitu tani, manusia bercocok  tanam. Kita kerjakan sendiri”, itulah kata orang desa. Sedang Pak Sastro sudah tidak bisa hidup seperti itu (kultur Indonesia) setelah ia kenal Perkutut. Ia telah “dipesona oleh alam kebebasan dan kemerdekaan” dan hanya bahagia dengan mengembara. Pak Sastro adalah potret manusia Indonesia yang telah kenal kebebasan dan enggan kembali pada kultur sendiri.

Novel ini lebih punya bobot emosi yang hilang pada novel-novel Iwan yang lain yang penuh dengan kerut dahi pemikiran. Ceritanya berjalan jelas, lancar dan gamblang. Hanya soal penafsiranlah orang bisa melihat secara lain makna yang dikandung novel ini. (*)

———————-

Dari berbagai sumber, TIM Editorial Galeri Buku Jakarta, 2017

Buku

Paradigma Platon Perihal Pedagogi

mm

Published

on

Bagi Platon, “puncak tertinggi pendidikan mousike adalah cinta pada keindahan (to kalon)”

Oleh Ahmad Jauhari

Tren masa kini, jumlah orang bersekolah tinggi kian melonjak. Fakta ini cukup menggembirakan. Namun, seiring dengannya, kejahatan para insan akademik malah juga menanjak. Bukan niat mengeneralisasi, melainkan sepatutnya insan akademik, mendayagunakan kecerdasannya demi kebaikan. Apalah dikata, justru panggang jauh dari api.

Inilah cermin buruk rupa dunia pendidikan. Apa penyebabnya? Buku karya A. Setyo Wibowo ini memberikan jawaban, bahwa “kegagalan membentuk disposisi prarasional (aspek nafsu dan emosi) akan menciptakan orang-orang rasional yang bengkok: rasionya bekerja baik, cerdas, tetapi alih-alih untuk membela kebaikan, rasio tersebut malah bekerja menjadi budak nafsu uang dan budak emosi pencarian harga diri dan kehormatan” (hlm. 65). Inilah fakta, yang terang-benderang menyekap bangsa ini. Gaduhnya dunia politik, menipisnya kepedulian, kesenjangan sosial, menguatnya kecurigaan, dan seterusnya, dapat ditengarai oleh sebab kesemerawutan dunia pendidikan.

JUDUL BUKU : PAIDEIA: Filsafat Pendidikan-Politik Platon PENULIS : A. Setyo Wibowo PENERBIT : P.T. Kanisius, Yogyakarta TAHUN TERBIT : September, 2017 TEBAL : 308 halaman

Belum lagi, gempuran perangkat teknologi masa kini. Bukan berarti menolak teknologi yang kian hari makin canggih. Namun, mewaspadai efeknya, juga selayaknya jadi bahan pertimbangan. Sebab, bila “manusia (…) tenggelam dalam arus mencari yang lebih cepat, lebih canggih, dan lebih banyak, melarutkan dirinya dalam keragaman tanpa fokus. Bukannnya makin menemukan dirinya, arus yang serba cepat membuat manusia tersesat di antara banyak hal yang melingkupinya. Dalam hasratnya merangkul segala sesuatu, ia malah tidak menjadi sesuatu dan kehilangan jati dirinya sendiri” (hlm. 20-21). Kehilangan jati diri, memungkinkan orang terjerembab masuk arah banalitas hidup. Hingga ia terjerumus pada jurang kecemasan dan palung kegalauan tiada ujung. Generasi anak bangsa zaman kini, diterpa gempuran teknologi maha dahsyat. Bila dunia pendidikan tak cepat merespon dengan cerdas, malapetaka masa depan anak negeri kian kabur tak terperi.

Disinilah, urgensinya pendidikan sensibilitas dilakukan semenjak usia dini. Bila “… dimensi prarasional terbentuk baik, anak-anak akan mengembangkan karakter sedemikian rupa sehingga cenderung menyingkiri apa-apa yang kelihatan berlebih-lebihan, tidak lurus, dan tidak harmonis. Dengan menajamkan kesukaan mereka pada hal-hal yang indah dan baik, mereka akan siap berkembang menjadi kaloskagathos (elok dan baik)” (hlm. 85). Pendidikan sensibilitas, bagi Platon, dapat diolah lewat musik dan gimnastik. Bila hasratnya sudah terbentuk, dimungkinkan anak didik kala dewasa, dapat menemukan harmoni saat mengambil keputusan.

Pembentukan Jiwa

Harmonisitas jiwa manusia berjalan indah nan elok, bila aspek sensibilitasnya terbentuk dengan matang. Keugaharian jiwa memungkinkan manusia bersikap tepat mengurai persoalan hidupnya. Karenanya, “pembentukan sensibilitas (…) menjadikan (…) sikap-sikap ugahari (tahu batas dan tidak serakah), sikap berani (bukan sikap gagah-gagahan atau pengecut yang serba menjijikkan), sikap bijaksana (bukan sikap culas serba mengakali orang lain), dan sikap adil (bukannya sikap yang tidak jujur, penuh kebohongan, tipu-tipu demi keuntungan sendiri)” (hlm. 88-89). Sehingga, mengolah dimensi sensibilitas sejak usia dini memungkinkan hasratnya terbentuk. Harapannya, pada pendidikan tingkat lanjut, peserta didik telah siap diberikan kurikulum lanjutan berupa seni berdiskusi.

Di dalam kemampuan seni berdiskusi, perlunya dibedakan antara dialektika, yang akan mengarah pada idea (definisi), dengan mitos yang akan mengarah kepada logos (wacana). Definisi menawarkan cetak-biru (bentuk) pemikiran. Sedangkan wacana menyuguhkan cakrawala pemikiran. Bagi Platon, “(..), dialektika adalah proses progress of thought, kemajuan berpikir, lewat dialog di mana para mitra wicara maju pelan-pelan dari bayang-bayang sampai ke kontemplasi idea” (hlm. 131). Kemampuan berdialektika memungkinkan orang berpikir dan bertindak mandiri.

Dalam buku ini, A. Setyo Wibowo menuturkan bahwa, bagi Platon, menularkan jiwa seni, khususnya seni imitatif, merupakan juga hal yang urgen dilakukan oleh lembaga pendidikan. Begitu pentingnya seni imitatif, sampai Platon mengatakan, “bukankah kalian mengamati bahwa imitasi yang dilakukan sejak muda sampai dewasa, akan menempel menjadi kebiasaan (habit) dan menjadi kodrat sekunder orang tersebut sebagaimana tampak dalam gerak-gerik tubuhnya, cara berbicara, dan berpikirnya” (hlm. 79). Di sinilah, pembentukan jiwa, bagi Platon merupakan nyawa dari pendidikan. Jiwa bukanlah sesuatu, sebab jawaban tentang ‘sesuatu’ berangkat dari pertanyaan ‘apa’. Jiwa bisa dikenali lewat kemiripan. Dan, realitas kemiripan bisa ditunjuk dengan metafor.

Di samping seni imitatif, ternyata bagi Platon pemilihan jenis musik juga akan berpengaruh kepada pembentukan jiwa. Karena musik itu soal “lagu (melos) terdiri dari tiga hal, kata-kata (logos), intonasi (harmonia), dan ritme (ruthmos)” (hlm. 81). Ketiga hal tersebut, juga memungkinkan jiwa manusia menjumpai keharmonisan di dalam hidupnya. Itulah sebabnya, bahwa karakter itu memungkinkan dibentuk dengan model imitatif. Ritme yang baik, yang itu berpengaruh kepada pembentukan jiwa adalah yang sederhana dan punya sifat keteraturan. Sebaliknya, ritme yang buruk cenderung ngawur dan sembarangan. Maka, hidup butuh keteraturan, sebab kesehatan dan keseimbangan hidup dibentuk oleh jiwa yang harmonis.

Maka, bagi Platon, “puncak tertinggi pendidikan mousike adalah cinta pada keindahan (to kalon)” (hlm. 89). Sebab, mencintai musik memungkinkan jiwa manusia tergetar terus-menerus kepada wajah keindahan yang ranum dan senantiasa mengairahkan untuk ditatap sekaligus enigmatik bagi nalar. Rasa keinginan akan pengetahuan, yang merupakan watak khas nalar, terdorong terus-menerus oleh sebab tergetar dalam menyingkap cakrawala akan cinta pada keindahan.

Di samping musik, Platon juga memandang pentingnya pendidikan matematika. Sebab, matematika merupakan wilayah episteme, yakni “beroperasi dengan esensi-esensi konseptual yang diabstrakkan dari hal-hal inderawi” (hlm. 126). Bagi Platon, “(..) titik pusat pendidikan Matematika adalah mengajak orang menaruh perhatian pada yang abstrak yang tidak visible” (hlm. 127). Di sinilah, urgensinya pendidikan matematika. Bukan untuk matematika itu sendiri, melainkan visi yang ditawarkannya, yakni ketahanan seseorang menatap yang abstrak, yang tidak visible. Sebab keterjerumusan insan terdidik di negeri ini, terletak salah satunya, kepada kurangnya menaruh perhatian pada visi dari pendidikan matematika.

Sehingga, nalar seseorang terarah untuk mencintai kepada hal-hal yang tidak visible. Di samping, juga tentunya permenungan terhadap yang visible sebagaimana apa adanya. Sebab, kesadaran dalam rupa-rupa penampakan, memungkinkan ‘penemuan terhadap apanya’ realitas yang luput dari permenungan. Pertautan antara yang visible dan yang non-visible memungkinkan manusia menjumpai jiwa yang harmonis.

Serupa jagat raya ini, keugaharian jiwa memungkinkan tindakan mengarah pada yang baik, benar, dan indah, sekaligus, bonusnya, akan senantiasa berbahagia. Pemimpin adalah pengendali dari seluruh kesejahteraan suatu kelompok atau bangsa. Disebut pengendali sebab darinyalah, suatu bangsa menuju kesejahteraan atau mengarah pada kenestapaan. Buku ini mengulas dengan ranum, detail, dan tajam perihal tersebut.

Buku ini menawarkan gagasan revolusioner bagi arah baru paradigma pendidikan, terlebih lagi berguna bagi Indonesia. Di tengah gencarnya jargon revolusi mental era pemerintahan Jokowi, maka terbitnya buku ini, pada momentum yang tepat, di tengah benang kusut pendidikan yang rumit dan bernada suram. Buku ini, patut menjadi bahan pertimbangan, baik pemerhati juga pelaku dunia pendidikan maupun pemegang kebijakan.(AJ)

*) Ahmad Jauhari, Penulis Buku Homo Turbulen: Diskursus Perihal Religiositas,

Individualitas, dan Sosialitas (2019);

Alumnus Pascasarjana Filsafat Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta

Continue Reading

Buku

Books Review: Youth and Struggle to Control Power

mm

Published

on

the four foundations of the aasociation of indonesia struggle cannot be ruled out as the influence of the intellectual school that developed in Europe in the 1920s, especially Marxism-Lenninism. Therefore, the Indonesian Association was impressed by the Indonesian Communist Party (PKI) as the most radical anti-Dutch party in the country (page 45).

Book Title: Student, Nationalism, and Prison (Indonesian Association 1923-1928) Author: John Ingleson Publishing Year: First Print, Bilingual, May 2018 Thickness: xiv + 138 pages ISBN 978-602-9402-93-3

Youth always has its own place in the journey of Indonesia as a nation state. This time, in the 2019 general election event, the number of young or millennial voters is estimated at 40 percent of the national vote. Therefore, many political parties offer programs that are more than “young people”.

It seemed good for young people, because political parties that had been filled with old people with abstract ideas, began to accommodate the needs of young people. However, what actually happens is that young people are only taken by political parties to get their votes in elections. In fact, there are political parties that claim to be a party of young people, but cannot show differentiation of ideology with other parties.

Pity? Of course! Because in the course of history, young people always play a major role in various fields. Young people are subjects, not objects. Meanwhile, if necessary, young people are willing to be supported by the status quo or ruler, because they maintain the values ​​of the struggle they believe in. Romanticism impressed and not in accordance with the spirit of the times? Every age does have its own children and enthusiasm, but more substance must be maintained and continue to be practiced.

Maybe the message the publisher of the Komunitas Bambu wanted to send when the book Students, Nationalism and Prison was published by John Ingleson’s. A book that reveals the struggle of the organization of the Dutch East Indies students in the Netherlands called the Association of Indonesia (PI) 1923-1928. Like many written in history books, PI is the first organization to formally use the name Indonesia.

The presence of a group of young people studying abroad is not a fate or something given by God for free. They can get education both at mother land and abroad, is an ethical political policy that was put in place 1901. At present politicians, Van Deventer in the Netherlands revealed practices that were not carried out by humane cultivation carried out by the colonial government. Therefore, the colonial government must return the favor by running an education, management and emigration program.

According to Ernest Henri, Philippe Baudet and Izaak, Johannes Brugmans (1987), the education program is actually intended to create indigenous workers who can be bought at low wages. With the presence of a group that feels Education, Robert Van Niel (2009) calls them the modern elite in Indonesia. Because before, said Van Niel, the outline of the development of the Indonesian elite was from the traditional, cosmologically oriented, and based on the modern elite which was oriented to the state of prosperity, based on education.

Modern elites who were destined to become laborers, turned out to get the awareness to be able to liberate themselves or at least demand equality of position between the citizens of the Dutch East Indies and the Netherlands. This awareness and equality is obtained directly by the Indonesian Association in the Netherlands, one thing they have never felt in their own country (page 3). Not surprisingly, the Indonesian Association places national unity, solidarity, non-cooperation, and self-reliance as the four main ideologies or the basis of struggle (page 15).

This ideology can be regarded as a statement of the attitude of rebellion by the Indonesian youth elite in opposing more moderate ideas from the national parties in Dutch Hinidia such as Budi Utomo and Sarekat Islam. Because, moderates will only fill the House of Representatives or the Volkskraad who have never been able to realize their struggle and alignments with the citizens of the Netherlands East Indies. In addition, the four foundations of the aasociation of indonesia struggle cannot be ruled out as the influence of the intellectual school that developed in Europe in the 1920s, especially Marxism-Lenninism. Therefore, the Indonesian Association was impressed by the Indonesian Communist Party (PKI) as the most radical anti-Dutch party in the country (page 45). However, the Indonesian Association did not fully agree with the PKI. There were differences in principles in determining how to achieve Indonesian independence between the PI and the PKI. All at once, the PKI leadership at that time declared the need for an organization to prepare a revolution with violence. Meanwhile, Hatta believed that the most important thing was to gradually educate the people and prepare them to become an independent nation. However, Hatta and Semaun signed a private convention, namely Semaun, agreeing that PI would lead the nationalist movement, promising cooperation and offering PKI printing tools for use by PI (page 62).

When the PKI resistance occurred in 1926, the convention documents were discovered by the Dutch and were used as evidence to arrest Hatta and other PI leaders because they were considered to be involved in the resistance of the PKI in 1926. However, the colonial government was defeated by Hatta. Post-trial, Hatta convinced the nationalist movement not to give up on fighting for Indonesian independence, even making his arrest a driver of struggle (page 98). The cause is that young people and especially educated people have moral and social responsibility to ordinary people. So, a diametrical position without compromise with power is a necessity to control power which always has the potential to be corrupt. As Soedjatmoko stated, youth and intellectuals must remain outside the government, apart from direct involvement in politics, to enable it to provide intellectual institutions and voluntary associations needed to ensure a balanced balance between the state and society. (*)

_______________

*) Virdika Rizky Utama: Researcher at Narasi. TV

Continue Reading

Buku

Books Review: Pemuda dan Perjuangan Mengontrol Kekuasaan

mm

Published

on

www.westernsydney.edu.au

Tak dapat dikesampingkan, Perhimpunan Indonesia merupakan pengaruh aliran intelektual yang berkembang di Eropa pada 1920-an, terutama Marxisme-Lenninisme. Oleh sebab itu, Perhimpunan Indonesia terkesan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai partai anti-Belanda yang paling radikal di tanah air (halaman 45).

Book Title: Student, Nationalism, and Prison (Indonesian Association 1923-1928) Author: John Ingleson Publishing Year: First Print, Bilingual, May 2018 Thickness: xiv + 138 pages ISBN 978-602-9402-93-3

Pemuda selalu memiliki tempat tersendiri dalam perjalanan Indonesia sebagai sebuah negara bangsa. Kali ini, pada perhelatan pemlihan umum 2019, jumlah pemilih muda atau milenial diperkirakan 40 persen dari suara nasional. Oleh sebab itu, banyak partai politik yang menawarkan programnya yang lebih “anak muda”.

Hal itu terkesan baik bagi anak muda, sebab partai politik yang selama ini diisi oleh orang-orang tua dengan ide-ide abstrak, mulai mengakomodasi kebetuhan anak muda. Akan tetapi, yang terjadi sebenarnya adalah anak-anak muda hanya dijadikan objek oleh partai politik untuk mendapatkan suaranya dalam pemilu. Bahkan, ada sebuah partai politik yang mengklaim dirinya adalah partai anak muda, tapi tak bisa menunjukkan diferensiasi ideologi dengan partai lainnya.

Miris? Tentu saja! Sebab dalam perjalanan sejarah, anak muda selalu memainkan peran utama dalam berbagai bidang. Anak muda adalah subjek, bukan objek. Bahkan bila perlu anak muda rela dibui oleh status quo atau penguasa, karena mempertahankan nilai-nilai perjuangan yang mereka yakini. Terkesan romantisme dan tak sesuai dengan semangat zaman? Setiap zaman memang memiliki anak dan semangatnya sendiri, tapi setidaknya subtansi harus tetap dijaga dan terus dipraktikkan.

Mungkin pesan itu yang ingin disampaikan oleh penerbit Komunitas Bambu kala menerbitkan kembali buku Mahasiswa, Nasionalisme, dan Penjara karya John Ingleson. Sebuah buku yang mengungkap perjuangan sebuah organisasi anak rantau Hindia Belanda di Belanda bernama Perhimpunan Indonesia (PI) 1923—1928. Seperti banyak yang ditulis dalam buku sejarah, PI merupakan organisasi pertama yang menggunakan nama Indonesia secara formal.

Adanya sekolompok pemuda yang berkuliah di luar negeri bukan sebuah suratan takdir atau sesuatu yang diberikan oleh Tuhan secara cuma-cuma. Mereka dapat mengeyam Pendidikan baik di dalam maupun di luar negeri, merupakan akibat diberlakukannya politik etis 1901. Saat itu politisi Van Deventer di Belanda mengungkapkan praktik tidak manusiawi tanam paksa yang dilakukan oleh pemerintah kolonial. Oleh sebab itu, pemerintah kolonial harus membalas budi dengan menjalankan program edukasi, irigasi, dan emigrasi.

Menurut  Ernest Henri Philippe Baudet dan Izaak Johannes Brugmans (1987), program edukasi sebenarnya diperuntukkan untuk menciptakan buruh-buruh pribumi yang dapat dibayar dengan upah murah. Dengan adanya kelompok yang merasakan Pendidikan, Robert Van Niel (2009) menyebut mereka adalah elite modern di Indonesia.

Sebab sebelumnya, kata Van Niel, garis besar perkembangan elite Indonesia adalah dari yang bersifat tradisional, yang berorientasi kosmologis, dan berdasarkan keturunan kepada elite modern yang berorientasi kepada negara kemakmuran, berdasarkan pendidikan.

Elite modern yang diperuntukkan menjadi buruh, ternyata mendapatkan kesadaran untuk dapat memerdekakan diri atau paling tidak menuntut kesetaraan posisi antara warga Hindia Belanda dan Belanda. Kesadaran dan kesetaraan itu didapat langsung oleh Pehimpunan Indonesia di Belanda, satu hal yang tak pernah mereka rasakan di negeri sendiri (halaman 3). Tak mengherankan, apabila Perhimpunan Indonesia menempatkan kesatuan nasional, solidaritas, nonkooperasi, dan swadaya sebagai empat ideologi utama atau dasar perjuangan (halaman 15).

Ideologi ini dapat dikatakan sebagai suatu pernyataan sikap pemberontakan oleh kelompok elite pemuda Indonesia dalam melawan ide-ide yang lebih moderat dari partai-partai nasional di Hinidia Belanda seperti Budi Utomo dan Sarekat Islam. Sebab, kaum moderat hanya akan mengisi Dewan Perwakilan Rakyat atau Volkskraad yang tak pernah dapat merealisasikan perjuangan dan kebepihakannya kepada warga Hindia Belanda.

Selain itu, empat dasar perjuangan Perhimpunan Indonesia tersebut tak dapat dikesampingkan merupakan pengaruh aliran intelektual yang berkembang di Eropa pada 1920-an, terutama Marxisme-Lenninisme. Oleh sebab itu, Perhimpunan Indonesia terkesan oleh Partai Komunis Indonesia (PKI) sebagai partai anti-Belanda yang paling radikal di tanah air (halaman 45).

Akan tetapi, Perhimpunan Indonesia tak sepenuhnya sepakat dengan PKI. Terdapat perbedaan prinsip dalam menentukan cara meraih kemerdekaan Indonesia antara PI dan PKI. Semaun, Pimpinan PKI saat itu menyatakan perlunya organisasi untuk menyiapkan sebuah revolusi dengan kekerasan. Sedangkan, Hatta meyakini bahwa hal terpenting adalah secara bertahap mendidik rakyat dan mempersiapkannya untuk menjadi sebuah bangsa yang merdeka. Namun, Hatta dan Semaun menandantangani konvensi  pribadi yakni Semaun setuju PI memimpin gerakan nasionalis, menjanjikan kerja sama dan menawarkan alat-alat percetakan PKI untuk dipakai PI (halaman 62).

Ketika terjadi perlawanan PKI 1926, dokumen konvensi itu ditemukan oleh Belanda dan dijadikan alat bukti untuk menangkap Hatta dan pimpinan PI lainnya karena dianggap terlibat perlawanan PKI 1926. Namun, pemerintah colonial kalah dipersidangan oleh Hatta. Pasca-persidangan, Hatta meyakinkan gerakan nasionalis untk tidak kapok memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, bahkan menjadikan penangkapannya sebagai pendorong perjuangan (halaman 98).

Musababnya, pemuda dan terlebih orang terpelajar memiliki tanggung jawab moral dan sosial kepada masyarakat biasa. Maka, berposisi diametral tanpa kompromi dengan kekuasaan merupakan sebuah keharusan untuk mengontrol kekuasaan yang selalu memiliki potensi untuk korup. Seperti yang diungkapkan Soedjatmoko, kaum (pemuda) dan intelektual harus tetap berada di luar pemerintahan, terlepas dari keterlibatan secara langsung dalam politik, untuk memungkinkannya memberikan asupan kepada lembaga-lembaga intelektual dan perhimpunan sukarela yang dibutuhkan guna menjamin neraca seimbang antara negara dan masyarakat.

__________________________

*) Virdika Rizky Utama: Peneliti di Narasi.TV

Continue Reading

Trending