Connect with us

Buku

Iwan Simatupang, Yang Kering, dan Yang Tanpa Plot

mm

Published

on

Semua novel Iwan agak terlambat diterbitkan. Beberapa penerbit rupanya kurang yakin bahwa novel-novel Iwan akan mampu menarik pembaca buat membelinya. Novel-novel itu nampak eksperimental dalam arti menyalahi konvensi realisme yang umum terdapat dalam novel Indonesia selama itu.

Yang Kering dan Yang Eksistensialis

Tidak ada novelis Indonesia yang sering diperbicangkan seperti Iwan Simatupang. Ia diulas, dicoba pahami dan dipuja oleh para sastrawan yang mementingkan arti pemikiran dalam karya sastra. Novel-novel Iwan Simatupang termasuk novel yang sulit dipahami, lebih-lebih lagi hanya membawa kebingungan bagi pembaca awam atau bahkan guru-guru sastra. Novel-novel Iwan memang novel yang rumit, non konvensional, tidak umum, berpretensi filsafat, penuh pemikiran dan sangat padat. Membaca novel Iwan orang dipaksa konsentrasi penuh lantaran tiap kalimatnya fungsional dan permasalahannya bertumpuk-tumpuk. Novel Iwan adalah tipe novel kaum intelektuil, novel sebagai penuangan pemikiran-pemikiran abstrak dan metafisik. Ia bukan novel yang memasukkan pembacanya ke dalam pengalaman konkrit, tetapi novel yang merenung, penuh kontemplasi.

Iwan Simatupang sebenarnya termasuk pengarang yang mengalami masa jayanya pada dekade 1960-an. Ia bukan produk dekade 1970-an. Tetapi sebagai pengarang ia mendahului angkatannya. Fiksi non konvensional yang berkembang biak pada dekade 1970-an, dipelopori oleh Iwan sekitar permulaan tahun 1960-an.

Iwan mengembangkan jenis novel anti-plot, anti karakter, yang dalam tehnik dipengaruhi oleh gerakan Novel Baru dari Perancis yang dikembangkan sekitar tahun 1953-1957. Tetapi dasar pemikirannya adalah Eksistensialisme.

Padahal menurut Vivian Mercier dalam bukunya “Novel Baru” dasar pemikiran yang melahirkan jenis novel baru adalah filsafat Phenomenologi sedangkan Eksistensialisme melahirkan karya-karya Absurd. Tetapi memang tahun 1950-an sampai akhir 1960-an filsafat Eksistensialis  amat populer di Indonesia. Dan sebagai pengarang yang pernah lama tinggal di Eropa (1954-1958) dan menyaksikan di sana berkembangnya pemikiran kaum Eksistensialisme serta mulai munculnya Novel Baru (Nouveau Roman) maka tak mengherankan kalau sekembalinya di Indonesia ia ada terpengaruh oleh mereka. Iwan sendiri secara sadar menyebutkan novel-novel yang ditulisnya sebagai “novel baru”.

Semua novel Iwan agak terlambat diterbitkan. Beberapa penerbit rupanya kurang yakin bahwa novel-novel Iwan akan mampu menarik pembaca buat membelinya. Novel-novel itu nampak eksperimental dalam arti menyalahi konvensi realisme yang umum terdapat dalam novel Indonesia selama itu.

Namun setelah novelnya yang pertama, Merahnya Merah, diterbitkan tahun 1968 dan mendapat sambutan penuh antusias dari para sastrawan yang pada waktu itu juga lagi demam filsafat eksistensialisme, maka bermunculanlah novel-novelnya yang lain seperti Ziarah (1969), Kering (1972), dan Koong (1975). Semua novel itu mendapat sambutan positif dari pada sastrawan dan pengamat sastra.

Iwan muncul sebagai sastrawan-pemikir, bukan hanya karena sifat novel-novelnya demikian, tetapi juga karena jauh sebelum ia menulis novel-novelnya ia telah menulis beberapa esei yang mendasari penciptaannya kemudian. Esei-esei itu (dan surat-surat pribadi kepada kritikus HB Jassin) boleh dikatakan pertanggungan jawab Iwan terhadap novel-novelnya. Dan dari sanalah orang mencoba memahami maksud novel-novel Iwan seperti dilakukan oleh kritikus Dami N Toda dalam bukunya Novel Baru Iwan Simatupang.

Corak Novel Baru Iwan Simatupang tak pernah ditiru oleh novelis-novelis selanjutnya. Beberapa novelis non-konvensional lebih cenderung menulis secara Absurd, Interior Monolog dan Surrealis, pada dekade 1970-an itu, seperti dikerjakan oleh Putu Wijaya, Budi Darma, Danarto dan lain-lain.

Tema yang digarap Iwan dalam novel-novelnya adalah sekitar kekosongan arti, pertanggung jawaban pribadi dan kesepian. Ia sendiri menyebut dirinya sebagai “marginal”. Saya menduga bahwa obsesi pribadi Iwan yang melahirkan novel-novelnya yang penuh keresahan itu adalah kematian isterinya yang amat dicintainya, Imelda de Gaina (Corrine), yang dinikahinya di negeri Belanda tahun 1955. Corry meninggal akibat penyakit typhus tahun 1960. Jiwanya yang sepi, kehilangan, tanpa sandaran, dan mencari ketenteraman jiwa inilah yang dicoba dicari jawabnya dalam novel-novelnya. Novel Ziarah jelas ditujukan untuk isterinya, novel Kering menunjukkan kehampaan makna dan Koong usaha pencarian makna baru atas suatu kehilangan.

Nama lengkap Iwan adalah Iwan Martua Dongan Simatupang dilahirkan di Sibolga 18 Januari 1928 dan meninggal di Jakarta 4 Agustus 1970. Mengalami pendidikan kedokteran di Surabaya, dan pernah menjadi guru SMA di sana. Kemudian melanjutkan belajar Anthropologi di negeri Belanda. Sepulangnya di Indonesia menjadi dosen ATNI di Bandung dan wartawan di berbagai penerbitan di Jakarta.

Pembaharuan sastra Iwan tidak terbatas pada novel saja tetapi juga dalam drama. Ia menulis beberapa naskah drama yang “baru” pula seperti Taman (1966), Bulan Bujur Sangkar (1960), RT Nol/RW Nol (1966), serta Kaktus Dan Kemerdekaan (1967).

Kering

Tidak mungkin menuliskan plot pokok dari novel Iwan ini secara pas. Kering adalah novel tanpa plot. Memang ada jalan ceritanya, tetapi tidak dalam pola plot yang umum. Dasar yang menggerakkan cerita ini begitu beragam terdiri dari berbagai persoalan yang intinya boleh saja disebut psikologis. Tokohnya pun tidak berkarakter. Ia mewakili siapa saja. Inilah sebabnya tokoh dalam novel ini cukup diberi tanda “tokoh kita”. Meskipun demikian ia punya latar belakang. Ia mahasiswa filsafat dan sejarah yang gemilang, sampai-sampai para dosen dilalapnya. Namun ia memilih hidup di daerah transmigrasi. Entah di mana. Di daerah transmigrasi inilah ia dan kawan-kawannya mengalami musim kemarau yang amat kering. Tanah retak. Beberapa kawannya memilih meninggalkan daerah transmigrasi yang kurang diurus oleh pemerintah itu. Tetapi tokoh kita tetap tinggal di sana. Ia nekad menggali tanah untuk membuat sumur. Ia menggali sedalan-dalamnya meskipun air tak keluar. Ia bermaksud menggalinya sampai di permukaan bumi yang lain. Akhirnya tokoh kita pingsan berat. Ia di rawat di rumah sakit bagian kamar sakit Jiwa. Dia dirawat dan pilih kembali. Ia mengembara di kota itu dan bertemu kawan lamanya di daerah transmigrasi dahulu yang kini hidup makmur berkat main selundup. Tokoh kita ditawari kerja semacam itu. Tak mau. Dia bermaksud kembali ke daerah transmigrasi. Bertemu lelaki berjanggut. Diajak membuktikan kelaki-lakiannya dengan wanita. Akhirnya tiba di daerah transmigrasi yang menunjukkan gejala akan dicurahi hujan. Tetapi hujan tak turun juga, meskipun angin kencang meniup. Ia bangun kota baru di tengah ketandusan. Kota ini roboh disapu angin kencang. Orang-orang transmigran ingin meninggalkan daerah itu, tetapi diajak kembali oleh tokoh kita untuk membangun kotanya lagi. . . .

Itu barangkali jalinan plot yang bisa tertangkap secara konvensional. Di tengah jalinan plot itu pengarang banyak melontarkan dialog-dialog sulit dan filosofis dengan tokoh-tokoh lain. Menilik jalan ceritanya jelas bahwa pengarang ingin menggambarkan pandangan bahwa manusia wajib berusaha, berbuat dan bertanggung jawab meskipun itu nampaknya sia-sia. Kisah tokoh kita mirip dengan tokoh Sisyphus dalam dongeng Yunani Kuno yang digemari kaum Eksistensialis. Sisyphus Indonesia ini berada di daerah transmigrasi yang kering, namun dalam kesia-siaan usaha ia tetap bekerja, tetap menempuh arus “nasib” atau keganasan alam yang melandanya. Ini terbukti dengan gambaran bagaimana tokoh kita tetap terus menggali tanah untuk mencari sumber air. Meskipun ia tahu tak akan keluar air, namun tetap menggalinya sampai badannya tak kuat bekerja. Juga pada waktu bangunannya dilanda angin badai di daerah transmigrasi kering itu,ia dengan semangat mengajak kawan-kawannya untuk kembali membangun kembali, juga kalau bangunan itu kelak akan digoncang dan dirubuhkan angin kembali. Itulah rupanya makna manusia: ia harus mengisi hidupnya dengan usaha meskipun rupanya tak akan ada hasilnya.

Kering, daerah transmigrasi, angin kencang dan hujan, bukanlah setting konvensional. Ia berdiri sebagai lambang-lambang yang bisa diterjemahkan dalam wujud apa saja. Daerah transmigrasi yang kering bisa saja menggambarkan kondisi jiwa manusia modern yang kosong hampa arti, kalau itu mau diartikan secara metafisik. Daerah transmigrasi adalah daerah baru, bukan daerah lama yang diwarisi turun temurun. Bisa saja itu berarti daerah budaya baru, bukan tradisional. Daerah budaya atau daerah metafisik yang sama sekali asing dari tanah asalnya. Dan daerah itu adalah daerah yang kering, tidak hidup. Dan tokoh kita tetap mau hidup dan harus hidup di situ. Daerah itu dipilihnya karena ia telah memutuskannya secara matang setelah ia “mengalahkan” para dosen sejarahnya di universitas. Hanya daerah transmigran itulah daerah hidupnya. Ia menjadi manusia marginal, manusia di antara batas lama dan batas baru yang belum menentu. Ia tak bisa kembali pada alam yang lama. Ketidak mampuan kembali pada hal-hal mapan ini digambarkan pula dengan pertemuan tokoh kita dengan pastor. Pastor mewakili atau berdiri sebagai lambang orang-orang yang selesai dan berhasil menjawab semua persoalan dengan agamanya. Tetapi tokoh kita tidak puas dan tak bisa menerimanya lagi. Ia memilih meninggalkan pastor.

Novel ini tak bisa dibaca untuk hiburan. Orang yang mencari hiburan dalam bentuk cerita jelas tak akan menemukan yang dicarinya. Novel ini hanya memuaskan untuk mereka yang mau belajar memahami manusia.

Novel ini penuh padat dengan pertanyaan, perbantahan, pertikaian pendapat-pendapat. Pendeknya novel ini mengajak pembacanya berpikir. Novel ini mesti dibaca hati-hati dan berkali-kali dan disusun kembali hubungan-hubungannya oleh pembaca. Novel ini novel yang menuntut pada pembacanya dan bukan memberi.

Tema pokok novel ini memang eksistensialis: berbuat, melakukan pilihan dan bertanggung jawab. Tokoh kita telah melakukan itu sebagai seorang intelektual yang tak betah lagi tinggal di kota setelah menamatkan kuliahnya di jurusan Sejarah. Sejarah dipilih karena implisit ia mengetahui dan mengenal masa lampau bangsanya, budayanya, cara berpikirnya, pandangan hidupnya. Dan di daerah baru ini ia berkumpul pula dengan tokoh-tokoh kota yang lain yang juga tidak puas secara spiritual. Namun ada yang kecewa dan kembali pada kultur lama dalam hal lain Si Gendut  dan Si Kacamata. Namun tokoh kita tetap berbuat dan bekerja dalam kesia-siaan yang diyakininya di daerah baru itu. Di samping tema pokok itu sebenarnya Iwan mengemukakan tema-tema lain, sehingga novel ini nampak penuh dengan serpihan-serpihan persoalan yang beraneka ragam yang rupanya digarap pengarang sejalan dengan jalur cerita. Ketika di rumah sakit dipersoalkan tentang kewarasan, ketika bertemu Si Gendut dipersoalkan tentang mental korup, ketika bertemu Lelaki Berjanggut berbicara soal wanita, ketika bertemu pastor berbicara soal religi dan seterusnya. Persoalan-persoalan itu muncul dan ditinggalkan, sehingga novel memberi kesan bertumpuk-tumpuk dengan tema dan masalah.

Apakah ini Nouveau Roman? Memilik tehnik yang dipakainya, yakni novel tanpa plot dan tanpa karakter memang mirip dengan kemauan kaum Novel Baru di Perancis itu. Tetapi dasar dari Nouveau Roman adalah mempersetankan semua novel sebelumnya. Menurut Robbe-Grillet dalam eseinya “Dari Realisme ke Kenyataan” ia menulis bahwa sejak Flaubert ambisi novel adalah membuat sesuatu dari ketiadaan, sesuatu yang berdiri sendiri yang tidak bersandar pada sesuatu di luar kaya itu. Pendeknya Novel Baru tidak punya pretensi merekam kenyataan tetapi menciptakan kenyataannya sendiri. Pada novel Kering ini Iwan masih jelas merekam dan bersandar pada kenyataan kehidupan, hanya semua itu digambarkan secara simbolik. Pada dasarnya novelnya ini adalah novelpuisi, baris-barisnya berupa gambaran adegan yang bisa bermakna lambang dalam usaha mewujudkan hakiki. Novelnya ini memang mirip novel Camus, Wabah Pes, hanya di sini wabah diganti dengan daerah transmigrasi yang kemarau. Tidak ada Harapan, tidak ada Hujan, tidak ada Penyembuhan. Tetapi kalau dianggap bahwa kenyataan gambaran novel Kering tak bisa dikembalikan pada kenyataan seperti dalam novel realisme tidak sepenuhnya salah. Gambaran di dalamnya memang tak ada hubungannya dengan kenyataan kehidupan: bagaimana mungkin orang bisa menggali sumur sehingga menembus perut bumi, bagaimana mungkin bersanggama di atas aspal jalan yang meleleh dan dilihat orang, bagaimana kendaraan bertabrakan keras tetapi tetap terus jalan lagi? Namun gambaran yang demikian hanya sepotong-sepotong, sedang yang lain masih bisa dikenali secara realisme.

Tetap Marginal

Dibanding dengan novel-novelnya yang lain, novel Iwan Simatupang yang terakhir dan posthomus ini lebih “mudah” diikuti dan lebih dekat dengan konsep novel konvensional yang realis. Meskipun demikian ia tak lepas dari nilai-nilai lambang. Novel ini tidak anti plot dan anti karakter. Ia punya plot yang jelas dan karakter yang bernama, settingnya pun jelas desa dan kota dengan segala implikasinya.

Tokohnya adalah Pak Sastro seorang petani desa yang kematian isterinya dan desanya dilanda banjir. Satu-satunya milikinya yang berharga adalah anaknya, Si Amat. Namun Amat yang mengadu nasib ke kota ini juga pada suatu kali tergilas lokomotip dan mati pula. Sastro kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidup ini, yang membuat hidupnya bisa tenteram dan seimbang. Dalam usahanya melawat tempat kematian anaknya itu pak Sastro menemukan sesuatu yang baru yakni burung perkutut dan yang segera dibelinya. Dari Jakarta ia kembali ke desa dengan perkutut yang tak bisa koong, perkutut gule. Perkutut itu meskipun bisu tetap mampu mengisi kekosongan hati Sastro dan membawa berkah kemakmuran baru: sawahnya subur dan segalanya terus bertambah serta berkembang. Sastro cukup kaya. Namun perkutut gule ini suatu hari hilang, dan Sastro meninggalkan segalanya memburu perkututnya yang hilang itu. Kesadarannya muncul ketika ia bertemu dengan seorang janda yang juga memelihara perkutut tetapi kooong, yakni bahwa yang penting mencari, apakah yang dicari itu berharga atau tidak bagi orang lain, ada atau tidak. Sementara itu orang-orang desa menyusulnya, tetapi mereka disuruh kembali oleh Sastro agar mengerjakan sawah-sawahnya sebab di sanalah tempat mereka, Sastro sudah tak mungkin kembali ke sana..

Tokoh Sastro adalah sebenarnya juga seorang marginal. Ia tak bisa hidup lagi di desanya setelah ia memperoleh perkutut gule dari kota Jakarta. Sastro berniat terus mencari, mencari dan mencari, entah ketemu atau tidak. Ini sama dengan tokoh kita dalam Kering yang terus menggali dan menggali sumur entah keluar atau tidak, membangn dan membangun rumah meskipun topan tiap kali merobohkannya. Ini juga Sysiphus modern yang tak bisa lagi tenang di “desa”nya sendiri. Juga di sini jelas bahwa eksistensialislah yang mendasari Koong.

Namun plot ceritanya jelas. Dimulai dengan kehilangan demi kehilangan yang menimpa Sastro. Akibatnya hatinya kosong, sepi. Kesepian itu dapat diisi setelah ia menemukan perkutut gule. Namun perkutut terbang meninggalkannya. Sastro kehilangan lagi, sepi dan kosong lagi hatinya. Pemecahannya filosofis: “Dalam keadaannya yang ‘hilang’ dan ‘sedang dicari’ ini, dia telah berhasil bertengger lebih mesra di kalbu Pak Sastro dan menjadi petunjuk ke arah langkah-langkah selanjutnya. Ya! Sekiranya perkututnya itu tidak bakal ditemuinya kembali, namun perkutut itu telah bertengger untuk selamanya dalam jiwa Pak Sastro. ‘Bertemu’ atau ‘tidak bertemu’ adalah pengertian yang sudah tidak begitu penting lagi. Yang penting adalah: mencari”. Maka Pak Sastro terus mencari dan merasa tenang bahagia seperti janda tua yang memperoleh keseimbangannya dengan memperoleh perkutut yang bisa kooong.

Ada tiga komponen yang mendasari cerita ini. Yaitu masyarakat desa, perkutut dan Pak Sastro. Pengembaraan yang bermakna metafisik dalam mencari keseimbangan, ketenangan, kebahagiaan hidup ini, digambarkan secara berurut sebagai berikut. Perkutut menginginkan kebebasannya, ia terbang. Artinya Perkutut memperoleh kebahagiaannya dengan kebebasan mutlak. Sedang Pak Sastro mengejar Perkutut untuk memperoleh kebahagiaannya sendiri pula. Dan di belakang Pak Sastro mengikut masyarakat desa yang merasa bersalah terhadap Pak Sastro dan menginginkan ketenangan jiwa yang bahagia berkat filsafat Pak Sastro. Dia sudah bahagia dengan mencari dan mencari yang berarti mengembara, meninggalkan desanya untuk selamanya. Sedang yang dicari Pak Sastro juga tak perlu ketemu, sebab ketemu atau tidak sama saja. Ini berarti Perkutut dapat memperoleh kebebasan yang diinginkannya. Sedang masyarakat desa menemukan kebahagiannya di desa sendiri. Masyarakat desa disuruh kembali oleh Pak Sastro dan diminta mengolah sawah serta tanah Pak Sastro untuk kepentingan desa.

Desa dalam cerita ini memang bisa konotatif: ia bisa berarti kultur Indonesia lama. “Satu-satunya penyelamatan adalah kembali ke sawah dan ke kebun. Kembali menjadi kita semula. Yaitu tani, manusia bercocok  tanam. Kita kerjakan sendiri”, itulah kata orang desa. Sedang Pak Sastro sudah tidak bisa hidup seperti itu (kultur Indonesia) setelah ia kenal Perkutut. Ia telah “dipesona oleh alam kebebasan dan kemerdekaan” dan hanya bahagia dengan mengembara. Pak Sastro adalah potret manusia Indonesia yang telah kenal kebebasan dan enggan kembali pada kultur sendiri.

Novel ini lebih punya bobot emosi yang hilang pada novel-novel Iwan yang lain yang penuh dengan kerut dahi pemikiran. Ceritanya berjalan jelas, lancar dan gamblang. Hanya soal penafsiranlah orang bisa melihat secara lain makna yang dikandung novel ini. (*)

———————-

Dari berbagai sumber, TIM Editorial Galeri Buku Jakarta, 2017

Buku

Manusia dalam Belenggu Kecanggihan Teknologi

Published

on

Pihak yang juga mengambil keuntungan dari teknologi ini adalah pemilik modal atau pengusaha. Sebab, kapitalisme saat ini tidak lagi berbasis alat produksi berat seperti mesin-mesin di pabrik. Kapitalisme saat ini adalah berbasis data. Seperti dijelaskan oleh Tim Wu (2016) dengan data yang terkumpul, pengusaha akan tahu apa keinginan konsumen, mereka lantas membuat produk yang diinginkan oleh masyarakat, dan terus mengulangi fase itu. Bagaimana perkembangan teknologi informasi seperti halnya Facebook mengeksploitasi manusia? Apa manfaat dan nilai falsafi yang bisa dipetik manusia abad ini darinya?

______

Virdika Rizky Utama *)

Dalam sejarah, perubahan merupakan sebuah keniscayaan. Perubahan hadir dari interaksi atau konflik yang terjadi antarmanusia. Oleh sebab itu, manusia merupakan pelaku utama dalam terciptanya sejarah dan perubahan. Termasuk perubahan yang sedang terjadi di abad ke-21 atau sering dianggap sebagai abad teknologi.

Ketika teknologi menjadi sangat dominan di abad ke-21, apakah manusia masih dapat dikatakan sebagai aktor pembuat pembuat sejarah dan peradaban? Apa masalah saat manusia dalam menghadapi perubahan dan bagaimana menyikapi perubahan? Lantas, siapa yang diuntungkan dari kemajuan teknologi ini?

Pertanyaan-pertanyaan itu yang menjadi tesis utama buku terbaru Harari ini. Tak seperti buku sebelumnya Sapiens (2011) yang membahas sejarah umat manusia dan Homo Deus (2015) yang membahas masa depan umat manusia, 21 Lessons for the 21st Century membahas situasi terkini yang dihadapi oleh manusia.

Kendati, banyak kemajuan yang dicapai oleh ilmu pengetahuan dan teknologi. Harari menyatakan dunia sebenarnya sedang terjadi krisis, masalahnya tak banyak manusia yang menyadari krisis itu. Dari sekian banyak krisis yang disoroti oleh Harari, krisis interaksi antarmanusia layak menjadi perhatian utama. Hal itu tentu sangat mengherankan. Musababnya, interaksi dan kemampuan bekerja sama merupakan kemampuan dasar yang membuat manusia bisa bertahan hidup dibandingkan dengan simpanse, bonobo, dan makhluk semacamnya.

Celakanya, awal dari krisis itu berawal dari sebuah penemuan besar manusia dalam bidang bioteknologi dan informasi teknologi yang menyatu dalam sebuah kecerdasan buatan. Menurut Nick Bostrom (2016), awal pembentukan kecerdasan buatan adalah untuk melindungi nilai-nilai kemanusiaan dan menjadi alat untuk memecahkan permasalahan yang ada. Hal yang harus diperhatikan juga, kata Nick, teknologi-teknologi itu saling berinteraksi, terhubung, dan terus menyempurnakan sehingga menjadikannya sangat kuat dan hampir tak pernah melakukan kesalahan.

Namun, seiring jalannya waktu, justru manusia yang terkontrol oleh kecerdasan buatan. Kecerdasan buatan yang semestinya menjadi alat untuk memecahkan masalah, berubah menjadi tujuan. Mungkin kita sering dengar pernyataan “Apapun kebutuhan kita, tanyakan saja pada Mbah Google.” Hal ini menunjukkan, manusia sudah kehilangan otoritas dirinya dan kemampuan untuk menyelesaikan masalah.

Contoh sederhananya adalah Google Maps. Saat ini, manusia lebih percaya dengan Google Maps dibandingkan kemampuan manusia untuk mencari tahu sendiri jalan. Sekali kita melakukan aplikasi tersebut, sistem kecerdasan buatan di dalamnya—yang disebut algoritma— akan menyerap informasi tempat mana saja yang sering kita tuju. Tak butuh waktu sampai satu bulan, Google Maps dengan sendirinya akan memunculkan pilihan-pilihan tempat yang akan kita tuju. Sekali saja teknologi itu mengalami gangguan dan tak bisa digunakan, maka selesai sudah kemampuan manusia untuk mencari jalan.

Disadari atau tidak, contoh tersebut mengindikasikan bahwa manusia sedang dan terus dikontrol oleh teknologi yang terus berjejaring dan terakumulasi dalam Big Data (hlm.49). Akibatnya, teknologi jauh lebih mengetahui siapa diri kita dibandingkan diri sendiri. Sayangnya, Big Data sering dimanfaatkan oleh pemerintah dan pengusaha untuk mengetahui serta mengontrol kegiatan dan keinginan masyarakat atau warga negara. Bukan untuk mencipatakan kesejahteraan dengan menyerapkan keinginan masyarakat, melainkan untuk menjinakkan dan menjadikan masyarakat hanya sebagai konsumen.

Judul Buku : 21 Lessons for the 21st Century Penulis : Yuval Noah Harari Penerbit : Spiegel & Grau Tahun Terbit : Cetakan I, Agustus 2018 Tebal : xix+372 halaman

Jadi, sebenarnya warga negara tak memiliki kehendak bebas atau kebebasan meskipun hidup di negara demokratis. Sebab, pemerintah akan selalu mengawasi setiap gerak warganya. Pemerintah juga akan mengetahui dan menjinakkan keinginan warga yang bertentangan dengan kebijakan pemerintah. Bahkan, tak jarang, data-data tersebut akan dimanfaatkan oleh politisi untuk memetakan dukungan dan memenangkan kontestasi politik. Alhasil, kehendak bebas yang dimiliki manusia dan menjadi dasar demokrasi hanya tinggal mitos belaka.

Selain itu, pihak yang juga mengambil keuntungan dari teknologi ini adalah pemilik modal atau pengusaha. Sebab, kapitalisme saat ini tidak lagi berbasis alat produksi berat seperti mesin-mesin di pabrik. Kapitalisme saat ini adalah berbasis data. Seperti dijelaskan oleh Tim Wu (2016) dengan data yang terkumpul, pengusaha akan tahu apa keinginan konsumen, mereka lantas membuat produk yang diinginkan oleh masyarakat, dan terus mengulangi fase itu.

Oleh sebab itu, kita sangat asyik dengan tawaran-tawaran yang hadir dihadapan layar gawai kita dibandingkan dengan berkomunikasi dengan manusia lainnya. Hasilnya, teknologi telah berhasil membentuk kehidupan manusia baik secara individu maupun secara masyarakat umum, bukan sebaliknya seperti tujuan utama dibuatnya teknologi.

Tentu hal tersebut cukup mengkhawatirkan, sebab manusia kini tak lagi dapat menyadari apa yang sedang dihadapinya di dunia nyata yang membutuhkan kerja sama. Bukan hanya kerja sama antarmanusia, melainkan juga antarnegara seperti pemanasan global, perang, dan pengungsi. Oleh sebab itu, Harari menegaskan bahwa nasionalisme atau paham apapun yang mengatasnamakan kepentingan nasional tak lagi berguna untuk menyelesaikan masalah dunia di abad ke-21 (hlm.111).

Akhir-akhir ini, kemampuan dan kualitas interaksi antarmanusia coba ingin dikuatkan kembali oleh Mark Zuckerberg, pemilik facebook. Ia menyadari kemampuan berinteraksi manusia dalam kurun waktu satu dekade terakhir berkurang cukup drastis. Oleh sebab itu, ia berencana untuk membentuk komunitas global. Tujuannya adalah kembali menguatkan interaksi antarmanusia untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi manusia (hlm 85-86).

Keinginan Mark, sebenarnya mirip dengan yang diungkapkan oleh Noam Chomksy dalam Optimism Over Despair (2017) yang menyatakan untuk menghadapi permasalahan dunia yang mengglobal dibutuhkan berdirinya komunitas warga yang saling terkoneksi untuk memperbaiki keadaan. Chomsky menilai, komunitas jauh lebih efektif dan kontekstual dengan kondisi saat ini jika dibandingkan dengan mendirikan partai politik untuk melakukan revolusi seperti di abad ke-20.

Sayangnya, facebook merupakan sebuah perusahaan global, bukan sebuah lembaga nonprofit. Kita tak kan bisa membangun komunitas global, jika masih memiliki sifat untuk mencari keuntungan. Terlebih facebook merupakan perusahaan yang memiliki banyak data manusia dan memungkinkan menjual data tersebut ke perusahaan iklan (hal.87).

Tak hanya itu, Mark juga mesti memikirkan, manusia memiliki tubuh untuk mendengar dan merasakan. Kedua hal itu merupakan yang dibutuhkan dan juga kekuatan yang dimiliki oleh manusia. Harari mennyitat sebuah studi bahwa dalam beberapa dekade terakhir, dua kemampuan itu menurun akibat manusia lebih mementingkan apa yang terjadi di dunia maya, dibandingkan apa yang terjadi di jalan raya (hlm.89).

Terlepas dari hal itu, secara keseluruhan Harari tak juga punya sikap atau metode yang jelas untuk menghadapi krisis dan perubahan yang terjadi saat ini. Harari terkesan naif dengan menyatakan bahwa kita mesti banyak berkontemplasi untuk menemukan dan memahami pemikiran kita sendiri, sebelum teknologi membentuk pemikiran kita. Ketika manusia coba memahami dirinya sendiri, manusia akan dapat membentuk jalan pikirannya sendiri (hlm.323).

Selain itu, cara lain yang ditawarkan Harari adalah menyiapkan mental, kemampuan adaptasi, dan mempelajari hal  baru untuk menghadapi perubahan abad ke-21 (hlm. 266). Patut dicatat, cara-cara itu bukan cara baru untuk menghadapi perubahan. Cara-cara tersebut sudah dipraktikkan oleh keluarga Medici pada saat renaissance abad ke-14. Padahal, Harari berpendapat bahwa perubahan yang akan terjadi nanti lebih cepat dan berbeda dibandingkan perubahan yang sudah terjadi sebelumnya seperti aufklarung, renaissance, dan revolusi industri.

Lima puluh persen isi buku yang terdiri dari 21 bab dan terbagi menjadi 5 bagian ini  merupakan penggabungan buku Sapiens dan Homo Deus. Oleh sebab itu, jika kita sudah membaca dua buku tersebut, buku terbaru Harari ini terkesan banyak pengulangan contoh dan narasi. Kendati demikian, argumentasi, data, dan analisis yang diungkapkan Harari tetap menarik.

Manusia sepertinya perlu menempatkan kembali teknologi sebagai alat, apabila kita tak ingin terus-menerus terdomestifikasi oleh teknologi dan perubahan dibentuk oleh teknologi. Selain itu, berjejaring dan berkomunitas di dunia nyata menjadi hal penting dalam menghadapi perubahan. Dengan cara itu pula, kita setidaknya dapat berharap kembali memiliki kehendak bebas sebagai manusia, bukan hanya memilih apa yang sudah disediakan oleh teknologi yang sudah dikuasai pemerintah dan pengusaha. (*)

*) Virdika Rizky Utama, Periset di Narasi.TV

Continue Reading

Buku

Forum Demokrasi dan Perannya Dalam Transisi Menuju Reformasi Sistem Politik di Indonesia

mm

Published

on

Reformasi sudah berjalan lebih dari dua puluh tahun. Sejak itu pula, Indonesia memutuskan untuk menganut sistem demokrasi. Untuk bangsa sebesar Indonesia, perjalanan waktu dua dekade masih terbilang cukup muda. Karena itu, dibutuhkan diskursus maupun penelitian sejarah, sosial, politik, maupun ekonomi terkait arah dan relevansi keutuhan bangsa.

Virdika Rizky Utama, Alumni Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Jakarta (UNJ) dalam satu karyanya, yang tadinya berasal  dari skripsinya, namun dengan kegigihannya dapat membukan suatu diskursus pemikiran yang segar terkait sejarah demokrasi Indonesia.

Dalam bukunya yang berjudul Demokrasi dan Toleransi Dalam Represi Orde Baru; Penulis menjelaskan kronologis sejak jatuhnya Soekarno hingga tumbangnya pemerintahan Soeharto, dan Indonesia memasuki era demokrasi yang substansinya adalah kedaulatan ada ditangan rakyat. Karena rakyat dapat memilih pemimpinnya secara langsung, melalui mekanisme Pemilu.

Dalam buku ini, penulis mengambil kesimpulan bahwa Indonesia bisa sampai pada sistem demokrasi seperti saat ini – yang dianggap sebagian ilmuwan politik merupakan sistem yang paling adil, adalah karena adanya peran Forum Demokrasi (FD) yang diprakarsai oleh sekelompok intelektual pada waktu itu, yang tergugah hatinya melihat pemerintahan Orde Baru yang semakin hari semakin menyudutkan kebebasan berpendapat atas nama stabilitas.

Untuk menghindari kesan otoriter, pemerintah Orde Baru pada waktu itu membentuk kelompok yang bernama ICMI. Tujuannya, untuk mengakomodir para birokrat dan para cerdik pandai ke dalam satu frame yang bercirikan Islam. Pasalnya, hingga memasuki tahun 1990-an, pemerintah Orde Baru menyadari betul akan pentingnya peran entitas Islam, terutama dalam menaikan elektoral Pemerintah dimata rakyat, atau minimal pemerintah terhindar dari label “anti muslim”.

Akan tetapi, aktivis sekaligus juga Intelektual Islam yakni Abdulrahman Wahid atau dikenal Gusdur, menganggap ICMI yang tujuannya untuk merubah paradigma tentang Islam, malah dianggap terlalu sektoral. Buktinya, Gusdur berpendapat, ICMI lebih banyak di isi oleh kalangan elite birokrat, sehingga terkesan hanya sekedar mengakomodir kepentingan kelompok politik tertentu pada waktu itu. Terutama, menurut Gusdur, berasal dari keinginan kelompok militer “merah putih”.

Menimbang kondisi tersebut, Gusdur berserta tokoh intelektual lainnya, terutama yang berlatar belakang dari akademisi, hingga aktivis kampus maupun LSM berikrar untuk membentuk yang namanya Forum Demokrasi (FD). Gusdur dipilih sebagai Ketua-nya, pertimbangan selain dianggap kompeten dan konsisten dalam memperjuangan nilai-nilai pluralisme di Indonesia, namun terpenting, Gusdur adalah Ketua Umum Nadhatul Ulama pada waktu itu, yang merupakan Ormas Islam dengan jumlah pengikut terbesar di Indonesia. Sehingga menempatkan Gusdur di Ketua Umum FD, adalah pilihan stategis politik untuk minimal membuat ‘panik’ pemerintah.

Judul Buku: Demokrasi Dan Toleransi Dalam Represi Orde Baru | Tahun Buku: 2018 | Penulis: Virdika Rizky Utama | Penerbit: Penerbit PT Kanisius | Jumlah Halaman; 184

Menariknya, penulis melihat adanya FD juga dapat dibaca sebagai anti tesis dari kehadiran ICMI yang dibentuk oleh restu pemerintah. Maka, tidak heran, pengurus teras FD adalah para tokoh dari lintas golongan. Sehingga, adanya FD dianggap dapat ‘mengkerdilkan’ pamor ICMI. Padahal, di samping itu juga, FD substansinya adalah bertujuan mengeritik manajemen pengelolaan negara oleh pemerintah Orde Baru pada waktu itu.

Bahkan, redaksi media massa waktu itu juga, banyak mengaitkan, kehadiran FD sebagai bentuk ‘tandingan’ dari adanya ICMI. Meski begitu, dalam berbagai keterangan pers-nya, anggota FD juga berbeda pandangan satu sama lain dalam menyikapi tujuan dibentuknya FD. Di titik ini, mulai terlihat tidak adanya blue print yang matang dari FD.

Hal ini terbukti, peran FD hanya bertahan dalam beberapa tahun saja. Menjelang detik-detik masa akhir Orde Baru, bahkan FD perannya sudah tidak signifikan. Terlebih, FD dalam kehadirannya hanya sebatas diskursus di kota Jakarta saja, tidak menyebar ke pelosok daerah. Walaupun ada beberapa kota juga yang siap membuka cabang perwakilannya.  Untuk ekspansi, FD terbentur oleh  sikap pemerintah Orde Baru yang keras pada para tokoh FD. Hingga membatasi ruang-ruang geraknya, seperti tidak boleh terlalu banyak diskusi, hingga pelarangan seminar di berbagai kesempatan. Di dalam buku ini juga mengatakan, setelah Pemilu 1992 tidak ada lagi peran-peran FD yang krusial.

Hingga akhirnya, setelah Soeharto lengser. Indonesia pun memasuki era baru, yang mana kebebasan berpendapat dibuka selebar-lebarnya.  Dan sistem pemilu pun menjadi lebih demokratis, karena rakyat yang langsung memilih. Sementara itu, para tokoh FK berjuang masing-masing, seperti dengan ada yang mendirikan partai – karena dalam iklim demokratis, partai merupakan kendaraan yang paling tepat untuk memperoleh kuaasaan.

Meskipun demikian, adanya buku ini memberikan khazanah baru dan membuka ruang-ruang diskursus baru, terutama perihal perubahan sosial dari berbagai dimensi disiplin ilmu menjelang keruntuhan Orde Baru. Walaupun, penulis pun mengakui, keterbatasan sumber primer maupun sekunder masih menjadi kendala untuk mengamati perubahan sosial dari sudut yang lebih mikro.

Dengan begitu, sejarah mencatat, FD memberikan andil yang cukup besar dalam mempersiapkan masa transisi menuju sistem politik yang demokratis.  Terlebih, FD didominasi oleh para intelektual yang bertujuan memberikan pendidikan politik kepada masyarakat. Karena, sistem demokrasi harus ditopang oleh pemahaman politik warganya, agar ketika memilih pemimpin tidak seperti membeli kucing dalam karung. (*)

*) Peresensi: Muchammad Egi

Continue Reading

Buku

Pencapaian Sains dan Penghambatnya

mm

Published

on

Abad ke-21 sesungguhnya merupakan abad yang tak pernah terkirakan akan terjadi pada masa sebelumnya. Pasalnya, paling tidak hingga tiga perempat abad ke-20 banyak sekali peperangan, wabah penyakit, dan kelaparan yang membuat matinya harapan sebagian besar penduduk bumi. Kala itu, bumi layaknya memasuki abad kegelapan yang sesungguhnya dibandingkan istilah abad kegelapan yang dipakai pada abad ke-5 hingga ke-15 di Eropa.

Di tengah keputusasaan dan kegelapan, ada satu bidang kehidupan yang dapat membuat manusia memiliki harapan dan pencerahan. Bidang itu adalah sains atau ilmu pengetahuan. Tak tanggung-tanggung, Steven Pinker dalam buku ini menyebut hanya kepada sains dunia bisa berharap dan sekaligus berhutang budi.

Bukan tanpa sebab Pinker memiliki argumentasi tersebut. Ia membuktikan argumentasinya dengan menyediakan data di setiap babnya, untuk membandingkan masalah yang dihadapi manusia seperti wabah penyakit, kemiskinan, dan angka kematian akibat kejahatan atau perang semakin menurun dari abad ke-18.

Sebaliknya, tingkat kebahagiaan, jaminan sosial, pendidikan, dan kemananan  justru sangat jauh meningkat dibandingkan abad sebelumnya. Sains menyediakan obat, teknologi, dan informasi untuk terus menaikan taraf hidup umat manusia.

Membaiknya dunia karena majunya sains, menurut Pinker, sejalan dengan kemajuan demokrasi, liberalisasi, dan kapitalisme yang menjunjung tinggi hak individu. Bahkan Pinker menyebut demokrasi liberal yang memuat kapitalisme di dalamnya merupakan pencapaian tertinggi umat manusia (hlm.343).

Pinker jmendasari argumennya dengan menggunakan teori rasionalitas milik Max Webber. Menurut Weber (1905) kapitalisme hanya salah satu aspek dari rasionalitas. Ia juga menganggap bahwa modernisasi merupakan perluasan rasionalitas dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

Steven Pinker

Penghambat Sains

Meletakkan dasar pemikirannya pada modernitas dan kapitalisme yang terdapat kompetisi di dalamnya tentu memiliki konsekuensi. Konsekuensinya, selalu ada pihak yang kalah dari setiap kemajuan yang dicapai dunia oleh sains. Pihak-pihak itu kemudian yang berpotensi menjadi penghambat sains.

Bila menggunakan teori analisis kelas sosial yang diungkapkan Karl Marx, maka pihak yang kalah jelas adalah kelas sosial rendah—Marx menyebutnya proletar. Namun, Pinker tidak ingin mendeterminiskan masalah hanya pada satu bidang yakni ekonomi.

Pinker berpendapat bahwa ketidaksetaraan ekonomi “bukan merupakan dimensi kesejahteraan manusia” dan mengutip sebuah studi yang menemukan ketidaksetaraan tidak terkait dengan ketidakbahagiaan, setidaknya dalam masyarakat yang lebih miskin (hlm.102). Dia juga menunjukkan bahwa dunia secara keseluruhan menjadi lebih setara dan menyatakan bahwa bahkan dalam area yang semakin tidak setara, orang miskin masih mendapatkan kekayaan dan mendapat manfaat dari inovasi teknologi (hlm.101).

Pinker berpendapat justru yang berpotensi menjadi penghambat sains adalah intelektual dan politisi. Sejujurnya, tidak ada satu pun intelektual yang menyukai perubahan. Bukan intelektual tidak menyukai hasil dari perubahan, melainkan Pinker tidak suka dengan sikap intelektual dalam menghadapi perubahan.

Intelektual cenderung kerap berupaya mempertahankan argumen dan perspektifnya dengan cara merendahkan argumen lain. Lantas, peran intelektual di masyarakat hanya berkompetisi untuk meraih prestise dan berebut pengaruh, dibandingkan bertanggung jawab menyelesaikan permasalahan yang ada melalui pengetahuan yang dimilikinya (hlm.49).

Dalam hal ini pula, Pinker mengkritik sikap pemikiran intelektual yang justru sangat jauh dari nilai-nilai sains yang sarat akan kritik. Alhasil, yang terjadi dalam diri intelektual adalah sikap dogmatis dan otoriter. Mereka dengan sekuat tenaga akan selalu melakukan pembenaran untuk dirinya dengan beragam argumen yang ia susun dan seolah-olah dirinya yang paling benar.

Penghambat berikutnya adalah politisi. Politisi acap kali menggunakan berbagai macam cara untuk menarik suara dengan beragam janji-janji politik yang tak sesuai dengan perkembangan sains. Contohnya adalah populisme, baik populisme kanan maupun populisme kiri. Politisi-politisi populisme selalu membuat argumen untuk kembali melihat sejarah kejayaan suatu bangsa atau ras pada masa lalu dan juga memiliki kebenaran menurut versinya sendiri (hlm.333). Tak peduli seberapa banyak fakta yang diungkap, mereka tak akan mengubah kebenaran yang diyakininya—biasa dikenal dengan  post truth atau pascakebenaran.

Pinker mencontohkan bagaimana Trump melalui kampanyenya yang menekankan kejayaan warga kulit putih yang sebenarnya juga tidak jelas di periode mana kejayaan kulit putih di Amerika Serikat berlangsung. Begitu juga dengan politisi populisme agama di berbagai negara di Eropa dan Asia. Di Eropa para politisi populis menekankan kejayaan Kristen. Sedangkan, bagi yang populisme Islam akan membawa kembali klaim kejayaan kekhalifahan.

Hasilnya, meski hidup sudah di zaman kecerdasan buatan, pemikiran mereka berada di masa lalu yang penuh dengan mitos. Dengan demikian, pemikiran manusia justru akan tertutup, antikritik, dan seolah hanya memiliki satu dimensi. Melalui hal-hal itu, kata Pinker, otoritariansime akan hidup kembali dan mengubur kemajuan sains yang membutuhkan prasayarat kebebasan berpikir.

 

Lawan Penghambat Sains

Lalu, bagaimana melawan penghambat sains? Pinker meyakini sains akan terus dapat berkembang dan mengalahkan musuhnya melalui pendidikan dan pers. Di ranah pendidikan, pendidikan mesti mengembangkan kemampuan berpikir kritis (hlm.378). Dengan cara ini, murid dan guru mesti memiliki banyak referensi dalam pembelajaran dan terbiasa terbuka dengan beragam pendapat serta kritik.

Lalu kenapa pers dapat menjadi salah satu lawan untuk menghadapi sains? Bukankah saat ini pers sering menjadi kepentingan politik kelompok tertentu dan juga sedang mewabah fenomena pascakebenaran di masyarakat?

Pers memiliki peran untuk menguji semua informasi yang beredar di masyarakat dan men

Judul Buku : Enlightenment Now The Case for Reason, Science, Humanism, and Progress Penulis : Steven Pinker Penerbit : Penguin Books Limited Tahun Terbit : Cetakan I, Februari 2018 Tebal : 556 halaman, ISBN 978-0-525-42757-5 Harga : Rp.235.000

dorong masyarakat untuk terbuka dengan berbagai macam sudut pandang. Bahkan, pers juga dapat menjadi sebuah gerakan yang bertujuan untuk menyebarkan kecanggihan ilmiah seperti jurnalisme data  (hlm.403).

Melihat realitas dua hal tersebut di Indonesia memang terasa cukup berat. Akan tetapi, menyerah dan berkompromi dengan keadaan bukan hal baik untuk kemajuan sains dan kelangsungan hidup umat manusia.

Buku yang terdiri dari 23 bab ini cukup layak untuk dijadikan referensi bagi siapapun yang tertarik pada perkembangan terbaru sains dunia, meski kita juga perlu kritisi sudut pandang dan keberpihakan Pinker yang sangat “barat”. Kendati demikian, dua hal tersebut dapat dijadikan tantangan bagi perkembangan sains di Indonesia untuk menyebarkan fungsi sains sesungguhnya yaitu untuk kesejahteraan dan kebahagian seluruh manusia.

Kita tidak akan pernah memiliki dunia yang sempurna dan akan berbahaya bila kita mencari kesempurnaan. Namun, tidak ada batasan untuk terus melakukan perbaikan dari  hal yang telah kita capai, jika kita terus menerapkan sains untuk meningkatkan perkembangan hidup manusia. (*)

*) Virdika Rizky Utama | Periset di Narasi.TV

Continue Reading

Classic Prose

Trending