Connect with us

Buku

Iwan Simatupang, Yang Kering, dan Yang Tanpa Plot

mm

Published

on

Semua novel Iwan agak terlambat diterbitkan. Beberapa penerbit rupanya kurang yakin bahwa novel-novel Iwan akan mampu menarik pembaca buat membelinya. Novel-novel itu nampak eksperimental dalam arti menyalahi konvensi realisme yang umum terdapat dalam novel Indonesia selama itu.

Yang Kering dan Yang Eksistensialis

Tidak ada novelis Indonesia yang sering diperbicangkan seperti Iwan Simatupang. Ia diulas, dicoba pahami dan dipuja oleh para sastrawan yang mementingkan arti pemikiran dalam karya sastra. Novel-novel Iwan Simatupang termasuk novel yang sulit dipahami, lebih-lebih lagi hanya membawa kebingungan bagi pembaca awam atau bahkan guru-guru sastra. Novel-novel Iwan memang novel yang rumit, non konvensional, tidak umum, berpretensi filsafat, penuh pemikiran dan sangat padat. Membaca novel Iwan orang dipaksa konsentrasi penuh lantaran tiap kalimatnya fungsional dan permasalahannya bertumpuk-tumpuk. Novel Iwan adalah tipe novel kaum intelektuil, novel sebagai penuangan pemikiran-pemikiran abstrak dan metafisik. Ia bukan novel yang memasukkan pembacanya ke dalam pengalaman konkrit, tetapi novel yang merenung, penuh kontemplasi.

Iwan Simatupang sebenarnya termasuk pengarang yang mengalami masa jayanya pada dekade 1960-an. Ia bukan produk dekade 1970-an. Tetapi sebagai pengarang ia mendahului angkatannya. Fiksi non konvensional yang berkembang biak pada dekade 1970-an, dipelopori oleh Iwan sekitar permulaan tahun 1960-an.

Iwan mengembangkan jenis novel anti-plot, anti karakter, yang dalam tehnik dipengaruhi oleh gerakan Novel Baru dari Perancis yang dikembangkan sekitar tahun 1953-1957. Tetapi dasar pemikirannya adalah Eksistensialisme.

Padahal menurut Vivian Mercier dalam bukunya “Novel Baru” dasar pemikiran yang melahirkan jenis novel baru adalah filsafat Phenomenologi sedangkan Eksistensialisme melahirkan karya-karya Absurd. Tetapi memang tahun 1950-an sampai akhir 1960-an filsafat Eksistensialis  amat populer di Indonesia. Dan sebagai pengarang yang pernah lama tinggal di Eropa (1954-1958) dan menyaksikan di sana berkembangnya pemikiran kaum Eksistensialisme serta mulai munculnya Novel Baru (Nouveau Roman) maka tak mengherankan kalau sekembalinya di Indonesia ia ada terpengaruh oleh mereka. Iwan sendiri secara sadar menyebutkan novel-novel yang ditulisnya sebagai “novel baru”.

Semua novel Iwan agak terlambat diterbitkan. Beberapa penerbit rupanya kurang yakin bahwa novel-novel Iwan akan mampu menarik pembaca buat membelinya. Novel-novel itu nampak eksperimental dalam arti menyalahi konvensi realisme yang umum terdapat dalam novel Indonesia selama itu.

Namun setelah novelnya yang pertama, Merahnya Merah, diterbitkan tahun 1968 dan mendapat sambutan penuh antusias dari para sastrawan yang pada waktu itu juga lagi demam filsafat eksistensialisme, maka bermunculanlah novel-novelnya yang lain seperti Ziarah (1969), Kering (1972), dan Koong (1975). Semua novel itu mendapat sambutan positif dari pada sastrawan dan pengamat sastra.

Iwan muncul sebagai sastrawan-pemikir, bukan hanya karena sifat novel-novelnya demikian, tetapi juga karena jauh sebelum ia menulis novel-novelnya ia telah menulis beberapa esei yang mendasari penciptaannya kemudian. Esei-esei itu (dan surat-surat pribadi kepada kritikus HB Jassin) boleh dikatakan pertanggungan jawab Iwan terhadap novel-novelnya. Dan dari sanalah orang mencoba memahami maksud novel-novel Iwan seperti dilakukan oleh kritikus Dami N Toda dalam bukunya Novel Baru Iwan Simatupang.

Corak Novel Baru Iwan Simatupang tak pernah ditiru oleh novelis-novelis selanjutnya. Beberapa novelis non-konvensional lebih cenderung menulis secara Absurd, Interior Monolog dan Surrealis, pada dekade 1970-an itu, seperti dikerjakan oleh Putu Wijaya, Budi Darma, Danarto dan lain-lain.

Tema yang digarap Iwan dalam novel-novelnya adalah sekitar kekosongan arti, pertanggung jawaban pribadi dan kesepian. Ia sendiri menyebut dirinya sebagai “marginal”. Saya menduga bahwa obsesi pribadi Iwan yang melahirkan novel-novelnya yang penuh keresahan itu adalah kematian isterinya yang amat dicintainya, Imelda de Gaina (Corrine), yang dinikahinya di negeri Belanda tahun 1955. Corry meninggal akibat penyakit typhus tahun 1960. Jiwanya yang sepi, kehilangan, tanpa sandaran, dan mencari ketenteraman jiwa inilah yang dicoba dicari jawabnya dalam novel-novelnya. Novel Ziarah jelas ditujukan untuk isterinya, novel Kering menunjukkan kehampaan makna dan Koong usaha pencarian makna baru atas suatu kehilangan.

Nama lengkap Iwan adalah Iwan Martua Dongan Simatupang dilahirkan di Sibolga 18 Januari 1928 dan meninggal di Jakarta 4 Agustus 1970. Mengalami pendidikan kedokteran di Surabaya, dan pernah menjadi guru SMA di sana. Kemudian melanjutkan belajar Anthropologi di negeri Belanda. Sepulangnya di Indonesia menjadi dosen ATNI di Bandung dan wartawan di berbagai penerbitan di Jakarta.

Pembaharuan sastra Iwan tidak terbatas pada novel saja tetapi juga dalam drama. Ia menulis beberapa naskah drama yang “baru” pula seperti Taman (1966), Bulan Bujur Sangkar (1960), RT Nol/RW Nol (1966), serta Kaktus Dan Kemerdekaan (1967).

Kering

Tidak mungkin menuliskan plot pokok dari novel Iwan ini secara pas. Kering adalah novel tanpa plot. Memang ada jalan ceritanya, tetapi tidak dalam pola plot yang umum. Dasar yang menggerakkan cerita ini begitu beragam terdiri dari berbagai persoalan yang intinya boleh saja disebut psikologis. Tokohnya pun tidak berkarakter. Ia mewakili siapa saja. Inilah sebabnya tokoh dalam novel ini cukup diberi tanda “tokoh kita”. Meskipun demikian ia punya latar belakang. Ia mahasiswa filsafat dan sejarah yang gemilang, sampai-sampai para dosen dilalapnya. Namun ia memilih hidup di daerah transmigrasi. Entah di mana. Di daerah transmigrasi inilah ia dan kawan-kawannya mengalami musim kemarau yang amat kering. Tanah retak. Beberapa kawannya memilih meninggalkan daerah transmigrasi yang kurang diurus oleh pemerintah itu. Tetapi tokoh kita tetap tinggal di sana. Ia nekad menggali tanah untuk membuat sumur. Ia menggali sedalan-dalamnya meskipun air tak keluar. Ia bermaksud menggalinya sampai di permukaan bumi yang lain. Akhirnya tokoh kita pingsan berat. Ia di rawat di rumah sakit bagian kamar sakit Jiwa. Dia dirawat dan pilih kembali. Ia mengembara di kota itu dan bertemu kawan lamanya di daerah transmigrasi dahulu yang kini hidup makmur berkat main selundup. Tokoh kita ditawari kerja semacam itu. Tak mau. Dia bermaksud kembali ke daerah transmigrasi. Bertemu lelaki berjanggut. Diajak membuktikan kelaki-lakiannya dengan wanita. Akhirnya tiba di daerah transmigrasi yang menunjukkan gejala akan dicurahi hujan. Tetapi hujan tak turun juga, meskipun angin kencang meniup. Ia bangun kota baru di tengah ketandusan. Kota ini roboh disapu angin kencang. Orang-orang transmigran ingin meninggalkan daerah itu, tetapi diajak kembali oleh tokoh kita untuk membangun kotanya lagi. . . .

Itu barangkali jalinan plot yang bisa tertangkap secara konvensional. Di tengah jalinan plot itu pengarang banyak melontarkan dialog-dialog sulit dan filosofis dengan tokoh-tokoh lain. Menilik jalan ceritanya jelas bahwa pengarang ingin menggambarkan pandangan bahwa manusia wajib berusaha, berbuat dan bertanggung jawab meskipun itu nampaknya sia-sia. Kisah tokoh kita mirip dengan tokoh Sisyphus dalam dongeng Yunani Kuno yang digemari kaum Eksistensialis. Sisyphus Indonesia ini berada di daerah transmigrasi yang kering, namun dalam kesia-siaan usaha ia tetap bekerja, tetap menempuh arus “nasib” atau keganasan alam yang melandanya. Ini terbukti dengan gambaran bagaimana tokoh kita tetap terus menggali tanah untuk mencari sumber air. Meskipun ia tahu tak akan keluar air, namun tetap menggalinya sampai badannya tak kuat bekerja. Juga pada waktu bangunannya dilanda angin badai di daerah transmigrasi kering itu,ia dengan semangat mengajak kawan-kawannya untuk kembali membangun kembali, juga kalau bangunan itu kelak akan digoncang dan dirubuhkan angin kembali. Itulah rupanya makna manusia: ia harus mengisi hidupnya dengan usaha meskipun rupanya tak akan ada hasilnya.

Kering, daerah transmigrasi, angin kencang dan hujan, bukanlah setting konvensional. Ia berdiri sebagai lambang-lambang yang bisa diterjemahkan dalam wujud apa saja. Daerah transmigrasi yang kering bisa saja menggambarkan kondisi jiwa manusia modern yang kosong hampa arti, kalau itu mau diartikan secara metafisik. Daerah transmigrasi adalah daerah baru, bukan daerah lama yang diwarisi turun temurun. Bisa saja itu berarti daerah budaya baru, bukan tradisional. Daerah budaya atau daerah metafisik yang sama sekali asing dari tanah asalnya. Dan daerah itu adalah daerah yang kering, tidak hidup. Dan tokoh kita tetap mau hidup dan harus hidup di situ. Daerah itu dipilihnya karena ia telah memutuskannya secara matang setelah ia “mengalahkan” para dosen sejarahnya di universitas. Hanya daerah transmigran itulah daerah hidupnya. Ia menjadi manusia marginal, manusia di antara batas lama dan batas baru yang belum menentu. Ia tak bisa kembali pada alam yang lama. Ketidak mampuan kembali pada hal-hal mapan ini digambarkan pula dengan pertemuan tokoh kita dengan pastor. Pastor mewakili atau berdiri sebagai lambang orang-orang yang selesai dan berhasil menjawab semua persoalan dengan agamanya. Tetapi tokoh kita tidak puas dan tak bisa menerimanya lagi. Ia memilih meninggalkan pastor.

Novel ini tak bisa dibaca untuk hiburan. Orang yang mencari hiburan dalam bentuk cerita jelas tak akan menemukan yang dicarinya. Novel ini hanya memuaskan untuk mereka yang mau belajar memahami manusia.

Novel ini penuh padat dengan pertanyaan, perbantahan, pertikaian pendapat-pendapat. Pendeknya novel ini mengajak pembacanya berpikir. Novel ini mesti dibaca hati-hati dan berkali-kali dan disusun kembali hubungan-hubungannya oleh pembaca. Novel ini novel yang menuntut pada pembacanya dan bukan memberi.

Tema pokok novel ini memang eksistensialis: berbuat, melakukan pilihan dan bertanggung jawab. Tokoh kita telah melakukan itu sebagai seorang intelektual yang tak betah lagi tinggal di kota setelah menamatkan kuliahnya di jurusan Sejarah. Sejarah dipilih karena implisit ia mengetahui dan mengenal masa lampau bangsanya, budayanya, cara berpikirnya, pandangan hidupnya. Dan di daerah baru ini ia berkumpul pula dengan tokoh-tokoh kota yang lain yang juga tidak puas secara spiritual. Namun ada yang kecewa dan kembali pada kultur lama dalam hal lain Si Gendut  dan Si Kacamata. Namun tokoh kita tetap berbuat dan bekerja dalam kesia-siaan yang diyakininya di daerah baru itu. Di samping tema pokok itu sebenarnya Iwan mengemukakan tema-tema lain, sehingga novel ini nampak penuh dengan serpihan-serpihan persoalan yang beraneka ragam yang rupanya digarap pengarang sejalan dengan jalur cerita. Ketika di rumah sakit dipersoalkan tentang kewarasan, ketika bertemu Si Gendut dipersoalkan tentang mental korup, ketika bertemu Lelaki Berjanggut berbicara soal wanita, ketika bertemu pastor berbicara soal religi dan seterusnya. Persoalan-persoalan itu muncul dan ditinggalkan, sehingga novel memberi kesan bertumpuk-tumpuk dengan tema dan masalah.

Apakah ini Nouveau Roman? Memilik tehnik yang dipakainya, yakni novel tanpa plot dan tanpa karakter memang mirip dengan kemauan kaum Novel Baru di Perancis itu. Tetapi dasar dari Nouveau Roman adalah mempersetankan semua novel sebelumnya. Menurut Robbe-Grillet dalam eseinya “Dari Realisme ke Kenyataan” ia menulis bahwa sejak Flaubert ambisi novel adalah membuat sesuatu dari ketiadaan, sesuatu yang berdiri sendiri yang tidak bersandar pada sesuatu di luar kaya itu. Pendeknya Novel Baru tidak punya pretensi merekam kenyataan tetapi menciptakan kenyataannya sendiri. Pada novel Kering ini Iwan masih jelas merekam dan bersandar pada kenyataan kehidupan, hanya semua itu digambarkan secara simbolik. Pada dasarnya novelnya ini adalah novelpuisi, baris-barisnya berupa gambaran adegan yang bisa bermakna lambang dalam usaha mewujudkan hakiki. Novelnya ini memang mirip novel Camus, Wabah Pes, hanya di sini wabah diganti dengan daerah transmigrasi yang kemarau. Tidak ada Harapan, tidak ada Hujan, tidak ada Penyembuhan. Tetapi kalau dianggap bahwa kenyataan gambaran novel Kering tak bisa dikembalikan pada kenyataan seperti dalam novel realisme tidak sepenuhnya salah. Gambaran di dalamnya memang tak ada hubungannya dengan kenyataan kehidupan: bagaimana mungkin orang bisa menggali sumur sehingga menembus perut bumi, bagaimana mungkin bersanggama di atas aspal jalan yang meleleh dan dilihat orang, bagaimana kendaraan bertabrakan keras tetapi tetap terus jalan lagi? Namun gambaran yang demikian hanya sepotong-sepotong, sedang yang lain masih bisa dikenali secara realisme.

Tetap Marginal

Dibanding dengan novel-novelnya yang lain, novel Iwan Simatupang yang terakhir dan posthomus ini lebih “mudah” diikuti dan lebih dekat dengan konsep novel konvensional yang realis. Meskipun demikian ia tak lepas dari nilai-nilai lambang. Novel ini tidak anti plot dan anti karakter. Ia punya plot yang jelas dan karakter yang bernama, settingnya pun jelas desa dan kota dengan segala implikasinya.

Tokohnya adalah Pak Sastro seorang petani desa yang kematian isterinya dan desanya dilanda banjir. Satu-satunya milikinya yang berharga adalah anaknya, Si Amat. Namun Amat yang mengadu nasib ke kota ini juga pada suatu kali tergilas lokomotip dan mati pula. Sastro kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidup ini, yang membuat hidupnya bisa tenteram dan seimbang. Dalam usahanya melawat tempat kematian anaknya itu pak Sastro menemukan sesuatu yang baru yakni burung perkutut dan yang segera dibelinya. Dari Jakarta ia kembali ke desa dengan perkutut yang tak bisa koong, perkutut gule. Perkutut itu meskipun bisu tetap mampu mengisi kekosongan hati Sastro dan membawa berkah kemakmuran baru: sawahnya subur dan segalanya terus bertambah serta berkembang. Sastro cukup kaya. Namun perkutut gule ini suatu hari hilang, dan Sastro meninggalkan segalanya memburu perkututnya yang hilang itu. Kesadarannya muncul ketika ia bertemu dengan seorang janda yang juga memelihara perkutut tetapi kooong, yakni bahwa yang penting mencari, apakah yang dicari itu berharga atau tidak bagi orang lain, ada atau tidak. Sementara itu orang-orang desa menyusulnya, tetapi mereka disuruh kembali oleh Sastro agar mengerjakan sawah-sawahnya sebab di sanalah tempat mereka, Sastro sudah tak mungkin kembali ke sana..

Tokoh Sastro adalah sebenarnya juga seorang marginal. Ia tak bisa hidup lagi di desanya setelah ia memperoleh perkutut gule dari kota Jakarta. Sastro berniat terus mencari, mencari dan mencari, entah ketemu atau tidak. Ini sama dengan tokoh kita dalam Kering yang terus menggali dan menggali sumur entah keluar atau tidak, membangn dan membangun rumah meskipun topan tiap kali merobohkannya. Ini juga Sysiphus modern yang tak bisa lagi tenang di “desa”nya sendiri. Juga di sini jelas bahwa eksistensialislah yang mendasari Koong.

Namun plot ceritanya jelas. Dimulai dengan kehilangan demi kehilangan yang menimpa Sastro. Akibatnya hatinya kosong, sepi. Kesepian itu dapat diisi setelah ia menemukan perkutut gule. Namun perkutut terbang meninggalkannya. Sastro kehilangan lagi, sepi dan kosong lagi hatinya. Pemecahannya filosofis: “Dalam keadaannya yang ‘hilang’ dan ‘sedang dicari’ ini, dia telah berhasil bertengger lebih mesra di kalbu Pak Sastro dan menjadi petunjuk ke arah langkah-langkah selanjutnya. Ya! Sekiranya perkututnya itu tidak bakal ditemuinya kembali, namun perkutut itu telah bertengger untuk selamanya dalam jiwa Pak Sastro. ‘Bertemu’ atau ‘tidak bertemu’ adalah pengertian yang sudah tidak begitu penting lagi. Yang penting adalah: mencari”. Maka Pak Sastro terus mencari dan merasa tenang bahagia seperti janda tua yang memperoleh keseimbangannya dengan memperoleh perkutut yang bisa kooong.

Ada tiga komponen yang mendasari cerita ini. Yaitu masyarakat desa, perkutut dan Pak Sastro. Pengembaraan yang bermakna metafisik dalam mencari keseimbangan, ketenangan, kebahagiaan hidup ini, digambarkan secara berurut sebagai berikut. Perkutut menginginkan kebebasannya, ia terbang. Artinya Perkutut memperoleh kebahagiaannya dengan kebebasan mutlak. Sedang Pak Sastro mengejar Perkutut untuk memperoleh kebahagiaannya sendiri pula. Dan di belakang Pak Sastro mengikut masyarakat desa yang merasa bersalah terhadap Pak Sastro dan menginginkan ketenangan jiwa yang bahagia berkat filsafat Pak Sastro. Dia sudah bahagia dengan mencari dan mencari yang berarti mengembara, meninggalkan desanya untuk selamanya. Sedang yang dicari Pak Sastro juga tak perlu ketemu, sebab ketemu atau tidak sama saja. Ini berarti Perkutut dapat memperoleh kebebasan yang diinginkannya. Sedang masyarakat desa menemukan kebahagiannya di desa sendiri. Masyarakat desa disuruh kembali oleh Pak Sastro dan diminta mengolah sawah serta tanah Pak Sastro untuk kepentingan desa.

Desa dalam cerita ini memang bisa konotatif: ia bisa berarti kultur Indonesia lama. “Satu-satunya penyelamatan adalah kembali ke sawah dan ke kebun. Kembali menjadi kita semula. Yaitu tani, manusia bercocok  tanam. Kita kerjakan sendiri”, itulah kata orang desa. Sedang Pak Sastro sudah tidak bisa hidup seperti itu (kultur Indonesia) setelah ia kenal Perkutut. Ia telah “dipesona oleh alam kebebasan dan kemerdekaan” dan hanya bahagia dengan mengembara. Pak Sastro adalah potret manusia Indonesia yang telah kenal kebebasan dan enggan kembali pada kultur sendiri.

Novel ini lebih punya bobot emosi yang hilang pada novel-novel Iwan yang lain yang penuh dengan kerut dahi pemikiran. Ceritanya berjalan jelas, lancar dan gamblang. Hanya soal penafsiranlah orang bisa melihat secara lain makna yang dikandung novel ini. (*)

———————-

Dari berbagai sumber, TIM Editorial Galeri Buku Jakarta, 2017

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buku

Menggeledah Misteri Kekerasan

mm

Published

on

JUDUL BUKU : Kambing Hitam Teori René Girard

PENULIS : Sindhunata

PENERBIT : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

TAHUN TERBIT : 1, 2006 TEBAL : xiii + 422 halaman

Oleh: Ahmad Jauhari*

“(Yang jahat) mampu mengulang dirinya, secara tak terampuni, tanpa penyesalan dan janji,” demikian kata Derrida. Ungkapan Derrida tersebut hendak menunjukkan bahwa kekerasan sungguh selalu menyelimuti hidup kita. Kesemuanya terjaring dalam selimut kekerasan. Ia bisa menghampiri siapa saja. Manusia yang lembut dan ramah, termasuk perempuan yang cantik, cerdas dan sopan, sekejab bisa berubah garang, geram, dan brutal, begitu kekerasan menghampiri mereka.

Lewat terang buku Sindhunata ini, berjudul Kambing Hitam teori René Girard, kita diajak mengelupasi kekerasan mulai dari kulit terluar sampai biji misterinya yang terdalam. Girard membuat banyak orang terperangah. Teorinya seakan adalah ramalan yang kebenarannya belakangan ini terbukti ketika dunia dilanda kekerasan tiada habisnya. Lewat analisis sastra, budaya, dan agama, Girard menunjukkan bahwa manusia mempunyai potensi menghancurkan dirinya sendiri dan kultur adalah bangunan yang amat rapuh.

René Girard adalah intelektual masyhur kebangsaan Prancis. Ia lahir persis di Hari Natal 1923. Ilmuwan besar abad ke-20 ini mengupas kekerasan dari perspektif korban. Dalam arti karyanya bukan melulu kajian teoritis, melainkan juga rasa empatik terhadap runtuhnya solidaritas, pengejaran oposisi dan minoritas, merebaknya kekerasan massa, teror, terlantarnya rakyat dan luka-luka yang tetap basah tak tersembuhkan.

Dalam buku ini, Sindhunata membagi teori René Girard kedalam tiga fase perkembangan. Pertama, teori hasrat mimesis yang terkait dengan bidang sastra. Teori ini didasarkan Girard berkat penelitiannya atas lima novelis besar dunia, yakni Miguel de Cervantes, Gustave Flaubert, Marcel Proust, Sthendhal, dan Fyodor Dostojevsky. Teori ini termaktub dalam Deceit, Desire, and the Novel. Self and Other in Literary Structure (1965).

Kedua, teori kambing hitam, yang terkait dengan bidang antropologi budaya. Teori ini bersumber dari penelusuran Girard atas mitos, ritus pengorbanan agama arkais dan tragedi besar Yunani di zaman antik. Penelitian ini disarikan dalam buku Violence and the Sacred (1972). Ketiga, telaah Kitab Suci dan teologi, khususnya interpretasi terhadap kristianitas. Kajian ini dibukukan dalam Things Hidden since the Foundation of the World (1987).

Gagasan Girard menyangkut kekerasan dapat dipadatkan demikian: Setiap hasrat mengandung ruas konflik oleh sebab berwatak mimesis. Wajah mimesis yang memperbudak kebebasan manusia, berbentuk kebencian dan kecemburuan, menghadirkan rivalitas.

Rivalitas memanggil-manggil eksistensi kekerasan. Kekerasan yang mulai bangkit membentuk mekanisme kambing hitam. Inilah yang disebut Girard sebagai hasrat segitiga, yang berarti suatu sistem metafisik, oleh sebab ia merupakan struktur dasar pengalaman manusia, kemudian menjelma dalam pengalaman konkret, yang satu sama lain itu sebenarnya seragam.

Teori kambing hitam René Girard, menurut Sindhunata, memberi nuansa baru hubungan agama dan kekerasan. Kata Girard, Religions is always against violence. Bangunan kultur masyarakat, termasuk juga agama yang dianggap barang suci sekalipun, meneguk juga darah kekerasan. Kekerasan dalam agama itu paling nampak ketika menjalankan ritus korbannya, entah dengan persembahan manusia maupun binatang. Praktek kekerasan yang dibungkus ritus seolah dan justru dianggap puncak kesucian. Untuk itu ia tak habis-habisnya menelanjangi agama. Maka Girard sampai pada kesimpulan yang cukup mengejutkan: Violence is the heart and secret soul of the sacred (hlm. 205).

Kultur, bahkan juga agama, adalah institusi manusia yang dihantui rivalitas dan kekerasan yang bermuara pada pembunuhan kambing hitam. Girard menelanjangi muslihat dan tata karma kultural maupun religius yang kelihatannya amat luhur. Ia meramalkan ‘akan datang saat di mana agama tidak mampu lagi meredam kekerasan’. Ramalan itu seolah sungguh-sungguh terjadi. Kekerasan meledak bagai letusan gunung berapi. Inilah yang terjadi pada tragedi berdarah 1965 maupun peristiwa 11 September 2001.

Titik lengah agama dalam menjalankan fungsinya sebagai lembaga pengelola kekerasan (the economic violence) membuat dunia tak kunjung padam akan bara api krisis korbani. Krisis korbani tak selalu lahir berkat lunturnya ritual keagamaan, melainkan juga disebabkan oleh tipisnya garis batas antara kekerasan ‘suci’ dan kekerasan jahat. Agama mestinya berfungsi, kata Girard, “untuk menunjukkan kekerasan, dan menjaga supaya kekerasan itu tidak liar” (hlm. 211).

Di zaman globalisasi, agama mengalami kegagalan menjalankan fungsinya sebagai economic of violence. Hal itu muncul, kata Girard, oleh sebab krisis diferensiasi. Budaya, komunitas dan etnik akan terancam rusak akibat mengerutnya diferensiasi dalam proses interaksi antar manusia. Mimetis dan rivalitas cenderung membawa pada situasi yang seragam. Kondisi tanpa ada diferensiasi memungkinkan pendulum menuju muara kekerasan.

Demistifikasi

Selangkah lebih maju, Sindhunata mengurai kekerasan justru memungkinkan demistifikasi. Sebab, sambil mengutip Girard, demistifikasi diri sesungguhnya adalah suatu pertobatan. Bahwa, an experience of demystification, if radical enough, is very close to an experience of conversion. I think this has been the case with a number of great writers (hlm xi). Pengalaman pertobatan itu, diperoleh Girard, saat menulis karyanya yang pertama, Deceit, Desire, and the Novel, Self and Other in Literary Structure (London, 1965). Di buku tersebut, Girard menjelajahi novel-novel karya penulis terkenal: Miguel de Cervantes, Guatave Flaubert, Stendhal, Marcel Proust, termasuk juga Fyodor Mikhailovitsy Dostojevsky.

Girard sendiri bahkan terkaget-kaget, bagaimana novelis-novelis klasik itu mampu menuliskan pergulatan tokoh-tokohnya melawan segala kesia-siaan diri, sampai akhirnya mereka dapat meninggalkan segala kehampaan itu, kemudian menerima dirinya, apa adanya.

Marcel Proust, misalnya dalam karyanya tentang The Past Recaptured, tentang kisah kenangan dengan tokohnya Mme de la Fayette, melantunkan “kematian adalah keharusan. Ia melihat keharusan itu sudah sangat mendekat. Karena itu, ia terbiasa untuk menarik diri dan sakitnya yang lama membuat penarikan diri itu kebiasaan… Ia melihat nafsu dan kegiatan duniawi dengan penglihatan seperti penglihatan orang-orang yang bervisi lebih dalam dan luas” (hlm. 83). Visi yang dalam dan luas itu hanyalah dimiliki oleh mereka yang secara literer lahir dari kematian.

Kisah pertobatan yang serupa itu muncul lagi dengan sangat terang-terangan dalam karya Dostojevsky tentang Notes from Underground. Novel itu membisikkan suara manusia yang telah menarik diri dari lingkungan masyarakat setelah mengorbankan cinta dan bakatnya. Karya ini pada dasarnya menyoroti relung-relung kejiwaan secara filosofis ini, menampilkan tokoh seorang pemuda yang peka, yang mampu merasakan penolakan dari lingkungan kehidupannya, padahal ia merasa lebih unggul dalam intelegensia. Karena kehilangan daya untuk mencintai dan dicintai, ia pun mengobarkan cita-citanya dengan tujuan despotisme. Kemudian mengalami keterlemparan dalam hidup, lalu melakukan demistifikasi diri.

Bagi Girard, pertobatan para tokoh itu sesungguhnya adalah pengalaman diri para novelis sendiri. Mereka mengalami suatu kejatuhan diri, di mana mereka dipaksa untuk meninggalklan segala anggapan dirinya selama ini. Kejatuhan memang menyakitkan. Tapi justru dengan kejatuhan itulah mereka memperoleh prespektif baru. Mereka tak terdorong lagi untuk membuat pembenaran diri, dan tak menggoreskan lagi kisah yang bercerita tentang dikotomi hitam dan putih dari tokoh-tokohnya. Tidak ada yang baik di atas yang jelek.

Para novelis itu bahkan merasakan, yang jelek, yang sia-sia, yang artifisial, yang suka meniru itu bukanlah orang lain atau pun tokoh yang mereka ciptakan, melainkan diri mereka sendiri. Terhadap segala kesia-siaan itu, para novelis ingin bersimpuh dan bertobat. Girard mengatakan, “So the career of the great novelist is dependent upon a conversion and even if it is not made completely explicit, there are symbolic allusions to it at the end of the novel. These allusions are at least implicitly religious” (xii).

Pengalaman para novelis ternyata telah mampu membimbing Girard untuk bersimpuh pada an intellectual-literary conversion. Sehingga, pada hari Kamis Putih, Girard mengikuti ibadat yang telah lama ditinggalkannya. Lalu dengan suara lirik berkata, “So on Holy Thursday I went to Mass after going to confession. I took the Eucharist. I felt that God liberated me just in time for me to have a real Easter experience, a death and resurrection experience.” (hlm. xii).

Buah karya Sindhunata ini ditulis ke dalam lima bagian, yang ditutup dengan 2 ekskursus. Pertama, mengupas dan mengkritisi Kultur Batara Kala yang diperlihatkan bahwa dalam mitos Jawa, mimesis, sudah mulai tampak dalam teogoni (kisah mengenai asal-usul dewa), rivalitas, dalam kisah Sugriwa & Subali, kemudian kambing hitam dalam nasib anak-anak Sukerta. Ekskursus kedua, bertutur mengenai Kesedihan Putri Cina. Orang-orang Cina yang selalu menjadi kambing hitam ketika terjadi pergolakan atau gesekan sosial.

Di akhir buku ini, Sindhunata menggoreskan esai yang cukup menyentuh mengenai wajah Cina yang selalu menjadi “cermin kecurigaan dan kebencian”. Karya ini merupakan refleksi Sindhunata sebagai Cina peranakan untuk membebaskan diri dari jeratan karma kambing hitam. Ia juga membisikkan pada kita untuk juga menyapa manusia secara personal, agar mendemistifikasi diri, sebab demistifikasi sesungguhnya adalah suatu pertobatan. (*)

____________________________

*) Ahmad Jauhari, Founder Jivaloka Cakra Pustaka; Sembari Mengajar di Universitas PGRI Yogyakarta

Continue Reading

Buku

Menyelami dan Melampaui Negativitas

mm

Published

on

Oleh: Ahmad Jauhari *)

Baru-baru ini, ledakan hebat mengguncang Kosambi di Tangerang. Pabrik petasan itu meledak. Di belahan Indonesia Timur, gunung Agung di Bali dalam situasi gawat. Ribuan orang mengungsi. Bila direnungkan, bangsa ini adalah tuan rumah fenomenologi peristiwa-peristiwa negatif: pembantaian tragis 1965, konflik bersenjata di Aceh, tragedi Mei 1998, bom Bali 2002, tsunami Aceh Desember 2004, gempa Yogyakarta Mei 2006, tenggelamnya KM Levina 1 2006, gempa Padang 2009, dan yang baru-baru ini, ledakan pabrik minyak di Lamongan, dan seterusnya. Peristiwa-peristiwa itu merupakan jejak-jejak dari negativitas pengalaman manusia.

Buku ini mendiskusikan  tentang “pengremangan kesadaran” sebagai sesuatu yang tidak nyaman untuk dibicarakan termasuk hal-hal negatif di dalam kehidupan bersama, yakni kehidupan yang hancur yang secara sosial-politis berarti runtuhnya solidaritas, pengejaran oposisi dan minoritas, merebaknya kekerasan massa, teror, terlantarnya rakyat dan luka-luka yang tetap basah tak tersembuhkan.

Hal-hal ini tetap tinggal sebagai hantu-hantu atau pengalaman-pengalaman negatif manusia. Buku ini berbicara secara fenomenologis tentang kerusakan-kerusakan sosial dan moral yang diwariskan oleh Orde Baru dari sudut pandang radikal, yaitu—dalam arti etimologis kata Latin itu—menelusuri sampai ke “radix” (akar) kerusakan-kerusakan itu. Di tengah-tengah lirihnya nasehat-nasehat moral, F. Budi Hardiman dalam buku ini lebih memilih pendekatan deskriptif (filsafat politik) dari pada analisis normatif (etika politik) untuk memahami kerusakan mental sampai ke palung terdalam dari relung-relung jiwa (psikologi politik).

JUDUL : Memahami Negativitas: Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma PENULIS : F. Budi Hardiman PENERBIT : Buku Kompas, Jakarta CETAKAN : 1, Oktober 2005 TEBAL : xIiv + 222 halaman

Sebelum memperjuangkan demokrasi, kiranya lebih bijaksanalah jika lebih dahulu diteliti kendala-kendala atau patologi-patologi mental menuju demokrasi. Massa, teror, dan trauma adalah pengalaman-pengalaman negatif yang selalu membayangi proses demokrasi, dan ancaman itu semakin besar seiring dengan bertambah banyaknya mereka yang termarginalisasi dalam proses globalisasi pasar dewasa ini. Dalam wacana demokrasi dan diskursus negara hukum modern, bertolak dari “pencerahan kesadaran” sebagai ekspresi kebebasan dan perbedaan individualitas manusia. Negativitas pengalaman manusia, mendasarkan diri pada wilayah “pengremangan kesadaran”, sebagai ancaman demokratisasi.

Istilah “negativitas” dalam buku ini dipakai sebagai “metafor” bagi semua deskripsi, analisis dan kritik dari keseluruhan gagasan. Kata “negativity”, dalam bahasa Inggris sebagai “negative attitude” atau “sikap negatif”, sementara  “negative” diartikan sebagai “hamful” atau “merusak” (hlm. xix). Sikap agresif dan destruktif jelas termasuk dalam kategori ini.

Namun, negativitas dipahami sebagai sesuatu yang melampaui “sikap atau “perilaku”, yaitu sebagai sesuatu yang memungkinkan sikap, perilaku dan pengalaman negatif itu sendiri.  Negativitas bukanlah sesuatu yang netral. Dia juga bukan ketiadaan atau titik nol melainkan sesuatu, yakni sesuatu yang tidak didefinisikan dari dirinya sendiri akan tetapi dari efek yang ditimbulkannya. Eksistensi negativitas dapat dipersepsi dalam kenyataan bahwa ia tidak membuat sesuatu itu “hilang”, melainkan “kurang”. Negativitas adalah sisi ‘yang lain’ (the other) dari jiwa manusia.

Akar Kekerasan Massa

Fenomena kekerasan massa yang semakin marak akhir-akhir ini menurut George Simmel, diproyeksikan oleh heterofobia (takut akan ‘yang lain’). Heterofobia berasal dari otofobia (takut akan diri sendiri). Dalam filsafat yang abnormal dirumuskan dalam konsep “the other” (Inggris), “l’ autri” (Prancis) atau “das Andere” (Jerman), dan “yang lain” dalam terjemahan bahasa Indonesia. Yang lain, menduduki posisi negativas, karena dianggap berbahaya dan harus diberangus. Sebab yang lain ditatap jauh diseberang sana.

Padahal “yang lain” itu justru mengeram di palung terdalam individualitas manusia. Tidak sekedar penampakan wajah (face) ‘yang lain’ sebagai ‘yang lain’ hadir dengan selubung tabir ideologi. Namun juga, wajah seram yang dihadapanku hadir secara terus-menerus. Kehadiran itu “mengharuskan” subyek mengelak dan berpaling bahkan kalau perlu ‘yang lain’ itu dimusnahkan, agar tidak menggerogoti eksistensi subyek. Maka pembrangusan dan pengejaran terhadap yang berlainan sebagai minoritas merupakan tanda keruntuhan solidaritas.

Di zaman Orde Baru (Orba) hancurnya solidaritas pada kehidupan bernegara berpengaruh terhadap masyarakat setelahnya. Maka negara bagi Hannah Arendt, dalam Vita Activa, 1996 (The Human Condition) adalah wadah ekspresi kemajemukan dari ketunggalan. Dalam kediktatoran tak ada lagi negara sebab represi, agresi dan dominasi (Herrschaft) akan menghancurkan kemajemukan dalam ketunggalan. Kediktatoran bukanlah sekedar intervensi publik ke dalam yang privat melainkan “kolonisasi” ruang publik oleh yang privat. Kolonisasi atas ruang publik itu terjadi manakala para konglomerat berkongkalikong dengan kekuasaan politis atau juga agama dalam komando kementrian agama. Republik dalam kondisi semacam itu kehilangan esensinya, dan teror justru bertolak dari penguasa sebagai ‘pelaku’ destruktif.

Histerisitas massa pada teror dan kekerasan massa disorot dari ‘prespektif pelaku’, meminjam ungkapan Hermann Broch dalam buku Massenwahntheorie, 1979 (teori kegilaan massa) ditimbulkan dari ketidakmampuan untuk menegaskan diri yang mendapatkan energi dengan cara tindakan kolektif yang dektruktif. Dalam kekerasan massa ‘pelaku’ kekerasan justru mengalami penumpulan tidak hanya perasaan melukai para korban tetapi juga sirna rasa bersalah atas perilaku kekerasan. Lenyaplah daya serap moralitas dan akal sehat kehilangan “otoritasnya”.

Secara struktural, akar-akar kekerasan massa dalam teori tindakan kolektif Veit Michael Bader (sosiolog Jerman) berpangkal dari disparitas sosial yang terbentuk lewat interaksi sosial. Negativitas dilihat sebagai signal dari kebuntuan komunikasi dan bentuk perjuangan untuk meraih kesamaan dan keadilan. Macetnya komunikasi merupakan resonansi perubahan manusia dari “personalitas” menjadi “massa”.

Disorot dari psikologi politik (mental), kebuntuan komunikasi yang memproduksi kekerasan secara epistemologis dimengerti sebagai proses pengenalan manusia. Artinya, tindakan kekerasan itu sudah terkondisi di dalam struktur pikiran manusia. Hal itu mengacu pada dua hal; pertama, pengenalan atas manusia berarti mengandung momen dominasi sebab mengenali berarti mendefinisikan. Kekerasan itu semakin melar eksistensinya jika yang didefinisikan tak mampu mendefinisikan dirinya sendiri dan tunduk pada “institusi” di luar dirinya. Kedua, pengenalan atas manusia lain diawali dengan stereotipikasi bahwa orang lain dimengerti sebagai kelompok dan bukan sebagai individu. Dalam situasi konflik stereotipikasi yang netral menjadi destruktif (George Simmel). Kekerasan massa pada taraf antropologis berpangkal dari rasa panik dan kebutuhan akan ekstasis (Hermann Borch), dan posisi sosiologis kekerasan massa itu dilahirkan dari proses atomisasi individu secara struktural dalam masyarakat kapitalis (Hannah Arendt).

Kekuasaan (dalam masyarakat kapitalis) menghasilkan kepatuhan. “Bila orang menelusuri sejarah umat manusia yang panjang dan kelabu,” demikian kata C.P. Snow, “orang akan menemukan bahwa lebih banyak kejahatan yang menjijikkan, dilakukan atas nama kepatuhan daripada atas nama pembangkangan”. (hlm. 115). Realitas kepatuhan inilah yang mengilhami Elias Canetti dalam Masse und Macht 1995, merumuskan konsep Verwandlung (metamorfosis\mimesis). Tubuh menampakkan egonya sebagai sesuatu yang meniru gerakkan mesin. Maka destruksi massa merupakan bentuk disiplinasasi tubuh. Disiplinisasi tubuh (docile bodies) adalah elemen penting pemerintahan otoriter sebab hal itulah tenaga praksis destruksi moral dan sosial.

Adalah Viktor E. Frankl dalam konsep logoterapi memandang negativitas dari ‘prespektif korban’. Ia bergumul dengan persoalan makna hidup yang dilontarkan pasiennya. Lebih jauh ia tidak hanya memasuki persoalan makna hidup melainkan juga mengais “makna penderitaan” (termasuk derita para korban). Manusia berbahagia dengan menemukan kehidupannya. Demi menemukan makna itulah, jika perlu, manusia siap untuk menderita. Manusia menurut Frankl memiliki “den Willen zum Sinn” (kehendak-untuk-makna). Konsep ini didasarkan atas pengalaman Frankl sendiri sebagai tawanan di tiga kamp konsentrasi (yaitu Dachau, Bauchenwald dan Auschwitz). Penderitaan akan bermakna jika fokus hidup kita tidak berpijak pada apa yang diharapkan dari hidup ini melainkan bertolak pada apa yang dapat diharapkan oleh kehidupan darinya. Berpindah dari yang bertanya menjadi yang ditanyai. Jadi, makna penderitaan itu tergantung pada sikap yang benar terhadap penderitaan.

Untuk melampaui mengingat dan melupakan negativitas, diakhir buku ini Hardiman menggunakan diskursus detraumatisasai. Detraumatisasi merupakan “tindak merelakan”. Sedang merelakan adalah melampaui mengingat dan melupakan. Memaafkan adalah bertindak, yang menurut Arendt “memulai sesuatu yang baru, lahir kembali”, yakni membiarkan lewat itu yang lewat. Detraumatisasi harus dimulai dengan “askese duniawi”. Fritz Leist memandainya dalam tiga latihan; diam (Schweigen), ketenangan hati (Sammlung) dan merelakan (Verzicht) (hlm. 174). Diam adalah “das Hören in der Stille” (mendengarkan dalam kesunyian).

Berpijak pada metafisika Martin Heidegger dalam buku Discourse on Thinking, 1969 (diskursus tentang berpikir) bahwa Gelassenheit (ketenangan) terjadi melalui berdiam dalam kesunyian. Namun, Heidegger memakai kata kuno Gelassenheit zu den Dingen yang mengacu pada Meister Eckhart tentang “membiarkan dunia berjalan dan menyerahkan diri kepada Allah”.  Sehingga askese untuk diam dan pengumpulan diri berkaitan dengan sesuatu yang dasariah yaitu kerelaan. Kerelaan berarti membiarkan sesuatu itu berjalan sebagai yang lewat.

Buku ini merupakan “resonansi” dari riset disertasi Hardiman tentang massa dan penaklukan totaliter yang diselesaikannya di München Jerman tahun 2001. Disertasi itu lengkapnya berjudul Die Herrschaft der Gleichen. Masse und totalitäre Herrschaft. Eine kritische Überprüfung der Texte von George Simmel, Hermann Broch, Elias Canetti und Hannah Arendt (Peter Lang Verlag, Frankfurt a.M., 2001). Buku yang anda baca ini adalah catatan refleksi tentang keringat dan darah para korban, kaum survivors di negeri ini.

Sayangnya, itu semua merupakan bunga rampai yang tersiar di beberapa media dan ceramah-ceramah Hardiman. Sebagaimana kata Taufik Abdullah menyebut bunga rampai tulisan sebagai “non- book book” (buku yang bukan buku). Tetapi itu tidak berarti mengurangi ketajaman Hardiman memotret setiap negativitas pengalaman manusia. Pembaca justru dibantu secara perlahan-lahan merefleksikan diri bahwa setiap kita memungkinkan satu roda gigi mesin raksasa penghancur bekerja. (*)

JUDUL            : Memahami Negativitas: Diskursus tentang Massa, Teror, dan Trauma

PENULIS         : F. Budi Hardiman

PENERBIT      : Buku Kompas, Jakarta

CETAKAN      : 1, Oktober 2005

TEBAL            : xIiv + 222 halaman

______________________________________

*) Ahmad Jauhari,mengajar di Universitas PGRI Yogyakarta; Founder Jivaloka Cakra Pustaka

 

Continue Reading

Buku

Anggitan Epos Memikat: Ke Mana Bajang Menggiring Angin?

mm

Published

on

Oleh: Ahmad Jauhari

Tidak banyak karya sastra di Indonesia yang telah menjadi klasik. Bukan hanya ia telah dicetak ulang beberapa kali (Februari 2007 memasuki cetakan ke-VIII), melainkan novel Sindhunata dalam Anak Bajang Menggiring Angin ini telah banyak memberikan inspirasi bagi lahirnya sejumlah karya seni tari dan teater. Bahkan, di banyak Sekolah Menengah Umum (SMU), buku ini dipakai sebagai bahan pelajaran sastra.

Berangkat dari kisah Ramayana, karya sastra ini telah menjadi aktual untuk kehidupan masa kini. Kisah-kisahnya memuat pelbagai khazanah kekayaan tentang cinta sejati, mengenai pergulatan manusia menghadapi penderitaan, kesendirian, dan kesunyiannya, sekitar kesia-siaan kekuasaan, serta perkara kemenangan autentisitas manusia di tengah segala kepalsuan hidup.

Banyak kritikus sastra mengatakan, kekuatan novel gubahan Sindhunata ini terletak dalam bahasanya yang sangat indah, lebih-lebih dalam corak liriknya yang puitis dan ritmis. Kisah-kisahnya merepresentasikan perlawanan mereka yang lemah dan tidak berdaya menghadapi absurditas nasib dan kekuasaan. Sungguh perjalanan buku ini sendiri telah menjadikannya sebuah karya sastra yang tidak mudah lekang digerus zaman.

Kisah Ramayana yang pertama kali digubah oleh Mpu Walmiki ratusan tahun yang silam ini, telah hadir dengan berbagai macam versi. Akan tetapi, banyak pengamat sastra berpendapat bahwa novel ini tak dapat dianggap sebagai sekedar salah satu versi dari kisah Ramayana, melainkan sebagai penciptaan kembali kisah tradisional Ramayana ke dalam bentuk sebuah karya sastra dengan gaya bahasanya yang khas, imajinatif simbolik.

Buku “Anak Bajang Menggiring Angin” Karya Sindhunata

Novel ini dibuka dengan kisah Dewi Sukesi, putri Prabu Sumali dari Alengka, yang menyodorkan syarat bagi siapa saja yang ingin meminangnya untuk bisa mengajarkan arti Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Sementara ayah Sukesi sangat khawatir akan banyaknya darah yang tertumpah karena keganasan Jambumangli, paman Sukesi. Jambumangli, diam-diam menginginkan Dewi Sukesi. Lalu, diselenggarakanlah sayembara bagi para ksatria yang berhasil mengalahkan dirinya. Sesungguhnya, sayembara ini hanyalah kedok Jambumangli untuk menyingkirkan semua lelaki, supaya akhirnya tinggallah ia yang akan meminang Sukesi.

Demi mewujudkan keinginan putra tunggalnya, Prabu Danareja, raja Lokapala yang ingin memperistri Sukesi, Begawan Wisrawa menyanggupi untuk mengajari Sukesi tentang Sastra Jendra. Berangkatlah Wisrawa ke negeri Alengka. Di sisi lain, para dewa belum mengizinkan ajaran tersebut diketahui manusia biasa. Kemudian datanglah Batara Guru, raja para dewa, yang tidak menghendaki mereka berdua untuk mengetahui ajaran suci ini lebih mendalam.

Bersama istrinya, Dewi Uma, Batara Guru menyusup ke wadag dua manusia ini. Niatnya ingin menguji keteguhan mereka melawan hawa nafsu. Namun ternyata dua manusia ini gagal. Akhirnya mereka bersetubuh, dan kelak melahirkan Rahwana, tokoh antagonis di babad Ramayana beserta saudara-saudaranya, Sarpakenaka, Kumbakarna, dan Wibisana. Sementara Jambumangli sendiri telah tewas ditangan Begawan Wisrawa.

Bobot kisah Dewi Sukesi sendiri terletak pada Sastra Jendra Hayuningrat Pangruwating Diyu, sebuah ajaran dewata yang konon dapat mengangkat derajat makhluk apa pun. Begitu tingginya, bahkan dalam setiap pertunjukan wayang kulit, hanya Dalang yang pandai, bisa menggambarkan ajaran ini. Itu pun hanya selintas. Dalam Sastra Jendra, kita dapat menemukan relevansi dengan kehidupan, karena inti ajaran tersebut sebenarnya adalah kepasrahan pada Ilahi.

Cerita bergulir terus ke tempat lain di mana Anoman lahir, kehidupan Rama, pernikahan Rama dengan Dewi Sinta, diculiknya Sinta oleh Rahwana, hingga perjuangan Rama dibantu oleh adiknya, Laksmana, dan kera putih yang sakti, Anoman, pergi ke Negeri Alengka untuk menyelamatkan Sinta.

Ada sebuah tafsir cukup menarik atas tokoh Rama dalam novel ini. Dari cerita yang secara umum termaktub di dalam komik, serial televisi, atau cerita guru di sekolah, Rama digambarkan sebagai sosok ksatria perkasa yang hebat dan memesona. Sebentuk gambaran umum tentang laki-laki dambaan sejuta perempuan.

Namun dalam novel ini, Rama yang dikenal sebagai ksatria dapat menjadi begitu cengeng saat kehilangan Dewi Sinta. Dan Rama yang ksatria, juga tidak lepas dari sisi arogan kelaki-lakiannya. Setelah berjuang setengah mati mengalahkan Rahwana dan puluhan ribu bala tentara Alengka untuk menyelamatkan Dewi Sinta, dengan begitu tega Rama meminta dewi cantik jelita itu melemparkan diri ke kobaran api dengan alasan yang sungguh kerdil, takut jika Dewi Sinta sudah tidak suci lagi. Padahal, Sinta yang selama ini digambarkan begitu lemah, telah berjuang mati-matian menghadapi kebengisan Rahwana untuk mempertahankan kesuciannya.

Tentu bukan hanya kisah cinta yang ada di novel ini, pembaca juga disuguhkan beragam petuah yang bijak. Dalam kisah Dewi Sukesi, misalnya, di saat ia berhenti meratapi nasibnya, dan menyadari bahwa kesalahan masa lalunya timbul karena ia tak sanggup untuk menderita, benar-benar memberikan kita pengalaman batin yang luar biasa. Kebahagiaan di dunia terkadang hanya keindahan yang menipu. Penderitaan merupakan milik kita yang berharga, karena dengan melampaui penderitaan, kebahagiaan sejati dapat diraih.

Kisah-kisah dalam buku ini sebetulnya pernah dimuat sebagai serial dalam cerita Ramayana dalam harian Kompas setiap hari Minggu selama tahun 1981. Tentu dengan sudah ada perbaikan dan tambahan di sana-sini. Sungguh novel ini mempunyai kekuatan re-interpretasi atas epos besar yang memikat. (*)

JUDUL            : Anak Bajang Menggiring Angin

PENULIS        : Sindhunata

PENERBIT     : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta

CETAKAN     : Februari, 2007

TEBAL             : vii + 363 halaman

________________________________________________

*Ahmad Jauhari, Mengajar di Universitas PGRI Yogyakarta; Founder Jivaloka Cakra Pustaka

Continue Reading

Classic Prose

Trending