Connect with us

Art & Culture

Irfan Afifi dalam Kejawaan dan Keislaman Yang Gelisah

mm

Published

on

Kondisi keberislaman kita hari ini, sebenarnya bukan suatu yang tiba-tiba terjadi, bahasa jawane ujug-ujug ana. Ada proses sejarah panjang yang sering kali, kita luput untuk memperhatikanya. Bahwa apa yang disebut sebagai “Islam” sering kali dikatakan oleh para orientalis hanya sebagai “lapisan tipis” dari kebudayaan Jawa. Ada beberapa orientalis yang kurang lebih berkata sama seperti karya-karya Geertz, Snock Hurgronje, Pigued, De Graff dan  juga yang lainya, setidaknya memberi label Islam yang ada di Nusantara mereka sebut sebagai “Islam sinkretis” dengan seluruh kandungan peyoratif yang dikandungnya yakni bercampur aduknya dalam sebuah adukan yang kurang lebih tidak jelas. Kira-kira seperti itu banyak dari para orientalis memposisikan Islam di kebudayaan Jawa. –Irfan Afifi

Oleh; Doel Rohim *)

Baru-baru ini penulis Irfan Afifi mengeluarkan sebuah buku yang di bicarakan oleh banyak orang. Buku yang diberi judul Saya, Jawa, dan Islam ini, mengulas pergulatan batin Irfan mengenai identitas kejawaan dan keberislaman yang mulai luntur bahkan hilang dalam dirinya.

Sejak itulah ia mencari, membangun batu bata pengetahuanya kembali, untuk menemukan jawaban atas kegelisahanya tersebut. Buku Saya, Jawa dan Islam, merekam dengan baik perjalanan pencarian diri yang hilang, yang sampai buku ini diterbitkan  sebenarnya belum selesai ia susun. Lelaki yang keseharianya tinggal di Yogyakarya ini, sampai hari ini masih bergelut dengan pencarian dirinya, sambil terus menulis di media yang ia gawangi Langgar.co ia mendokumentasikan catatan perjalanan pencarianya yang filosofis.

Saya berkesempatan menemui Irfan secara langsung di rumahnya Kamis (30/4/2019), untuk mencari tahu bagaimana proses kreatif kepenulisan hingga kegelisahan semacam apa hingga buku ini dapat respon positif dari banyak kalangan. Berikut ‘obrolan’ lengkapnya:

Bisa anda jelaskan konteks personal kenapa anda menulis buku Saya, Jawa, dan Islam?

Awalnya tulisan yang ada di buku itu adalah kumpulan dari tulisan saya di beberapa kesempatan yang semuanya berasal dari kegelisahan saya atas ke Islaman dan  ke Jawa-an dalam diri saya, yang seperti hilang dalam hidup ini.  Rasa kehilangan yang begitu dalam membuat diri saya merasa kurang lengkap, jiwa saya kering, hingga akhirnya saya mulai mencari dan mengidentifikasi ulang diri saya. Dari sanalah peoses awal saya mendalami identitas Jawa dan Islam saya yang hilang, yang ternyata selama ini dikaburkan oleh proses pajang sejarah bangsa ini terutama masa kolonialisme.

Sebelum jauh membicarakan buku anda, anda sekarang tergolong produktif menulis di media termasuk media anda sendiri Langgar.co mungkin juga yang lainya, bisa ceritakan kapan anda pertama kali menggenal dunia tulis menulis?

Haha saya belajar menulis sejak kuliah tepatnya saat saya masuk di Lembaga Pers Mahasiswa Balairung UGM tahun 2000-an. Kalau ingget dulu, kelihatanya saat itu saya tergolong paling aktif di LPM, bahkan hampir separo masa kuliah di kampus saya habiskan di bilik kantor Balairung, berangkat ke kantor mulai sore, hingga menjelang subuh saya baru pulang ke kontrakan dan gak jadi kuliah (tertawa lepas). Mungkin itu, pertama kali saya bersingungan dengan dunia tulis menulis. Saya masih ingat sejak SMA bahkan sampai masuk kuliah saya tidak banyak punya uang untuk sekedar membeli buku. Paling-paling pinjam buku, tapi karna saya tumbuh di tradisi pesantren budaya literasi saya terbantu dengan terbiasa membaca kitab kuning ayah saya.

Sebelum anda menulis biasanya mempunyai ritual khusus atau tidak, sebelum menggoreskan kata pertama?

Apa ya, saya terbiasa menulis setiap pagi setelah habis shubuh. Selain itu harus minimal dua bungkus rokok gudang garam yang menemani. Hahah biasannya baru bisa mulai nulis, di saat yang tepat biasanya saya seperti kejatuhan ilmu Tuhan dari langit , hahah.

Saya akan masuk lebih dalam buku yang anda tulis, dalam bab pertama buku Saya Jawa dan Islam, tulisan anda terlihat begitu emosional menceritakan proses awal kepenulisan buku ini hingga bisa diterbitkan, bisa anda jelaskan?

Haha iya memang, dalam bab pertama tersebut sebenarnya saya sedikit banyak menceritakan bagaimana proses awal saya menemukan identitas kultural saya yang hilang, yang sebenarnya sudah lama saya gelisahkan.  Pada awal tahun 2007 saat saya dipertemukan dengan salah seorang tukang pijat disekitar kontrakan saya dekat UGM, tiba-tiba saya di beri wejangan untuk mulai mandeg pribadi, mengatur empat pribadi dalam diri sedulur papat limo pancer, agar juga tidak hanya keseimbangan diri yang terpenuhi melainkan juga menemukan “makna” atau “diri “ itu sendiri. Wejangan tersebut membuat saya terperangah. Selain juga menyentil identitas ke Jawaan saya. Hal itu juga setidaknya meruntuhkan seluruh bangunan filsafat yang saya pelajari secara kukuh saat berada di bangku kuliah filsafat UGM. Dari sanalah saya mulai putar arah, menengok kembali identitas ke Jawaan dan ke Islaman saya, dengan mulai masuk dan tenggelam ke dalam wacana yang tersimpan dalam kesustraan lama Jawa seperti serat, suluk, dan babad. Bagi saya pilihan tersebut sungguh tidak mudah, saya perlu menata bangunan pengetahuan saya dari awal kembali menyusun sedikit demi sedikit, mencarinya di berbagai tempat di tengah posisi saya sudah mulai memikirkan kebutuhan keluarga. Itu sungguh pilihan sulit bagi saya saat itu.

Anda sering menggatakan bahwa proses yang anda lakukan saat ini sebagai “suluk” kira-kira apa makna kata tersebut dalam perjalanan pencarian anda?

Kata suluk sebenarnya kata kunci dalam tradisi tasawuf yang mempunyai arti “berjalan” atau “perjalanan”.  Dan perjalanan yang dimaksut di sini adalah menuju sangkan paran, jadi dalam kerangka keber “ada” an hidup manusia Jawa ia sedang melakukan perjalanan besar dari Allah menuju Allah. Atau bisa dikatakan sebuah gerak yang di “ada” kan (dumadi/maujud) menuju yang “ada” atau yang meng ”ada”kan (dadai wujud). Gampangnya sebuah perjalanan manusia dari sejak ia dalam sebuah kandungan menuju kematian, atau perjalanan dari Nya menuju Nya. Konsep sebuah “perjalanan”  tersebut oleh para wali atau ulama di tanah Jawa dahulu dalam bhasa Jawanya sepadan dengan ata laku, mlaku, lelaku, lelakon yang mempunyai arti harfiah “berjalan” atau “perjalanan”. Lha kata tersebut sering diterjemahkan dalam sebuah istilah baru sebagai “suluk” yang juga kata kunci dalam tradisi tasawuf Islam. Saya memposisikan proses perjalanan saya saat ini kira-kira seperti itu, sebuah perjalanan besar yang nantinya juga akan kembali kepadaNya.

Dalam buku yang anda tulis ini, anda berusaha mendekonstruksi wacana Islam Jawa yang sudah mapan. Selain itu anda juga sering menggatakan bahwa pangkal permasalahan besar keberislaman kita hari ini adalah konstruksi para orientalis  terkait  Islam Jawa lebih jauh kebudayaan kita. Bagaimana anda menjelaskan itu semua?

Sebelumnya saya ingin mengatakan bahwa kondisi keberislaman kita hari ini, sebenarnya bukan suatu yang tiba-tiba terjadi, bahasa jawane ujug-ujug ana. Ada proses sejarah panjang yang sering kali, kita luput untuk memperhatikanya. Bahwa apa yang disebut sebagai “Islam” sering kali dikatakan oleh para orientalis hanya sebagai “lapisan tipis” dari kebudayaan Jawa. Ada beberapa orientalis yang kurang lebih berkata sama seperti karya-karya Geertz, Snock Hurgronje, Pigued, De Graff dan  juga yang lainya, setidaknya memberi label Islam yang ada di Nusantara mereka sebut sebagai “Islam sinkretis” dengan seluruh kandungan peyoratif yang dikandungnya yakni bercampur aduknya dalam sebuah adukan yang kurang lebih tidak jelas. Kira-kira seperti itu banyak dari para orientalis memposisikan Islam di kebudayaan Jawa.

Dari sana saya mencari penjelasan lain dengan sudut pandang “rasa” keislaman saya. Mulai dari para pemikir muslim Indonesia seperti Hamka, Rasyidi, hingga karya-karya  Simuh Islam Mistis Ranggawarsita, ternyata juga tidak bisa memuaskan saya dengan penjelasan yang kurang lebih hampir sama memposisikan Islam Jawa bercampur aduk, tidak jelas bahkan saling kontradiktif.

Dari hal tersebut saya tersuruk untuk kedua kalinya, identitas yang membentuk saya, Jawa dan Islam saat ini ternyata saling menegasikan. Ada perselisihan atau tepatnya saling berhadap-hadapan yang sempat mengguncang diri saya. Dari sana juga saya mulai menyadari bahwa ada narasi kolonialisme, yang sejak lama tertimbun dan membentuk bingkai keislaman kita, yang sayangnya hingga hari ini terus menerus menjadi narasi besar para sarjana maupun akademisi kita yang selalu direproduksi sedemikian rupa hingga Islam Jawa tak pernah menemukan esensinya.

Secara umum buku anda membicarakan problem identitas yang banyak di alami oleh anak muda saat ini, ada pesan bagi anak muda kayak saya ini?

Memang banyak anak muda hari ini gagal mendefinisikan identitas kulturalnya sendiri. Sehingga cendrung terjebak pada pola pikir Barat yang menawarkan kebebasan, universalitas, yang menggaburkan identitas dirinya sebagai orang Jawa, Nusantara dan Indonesia. Cara berfikir barat yang lebih dominan masuk ke alam fikir kita saat ini, yang diharapkan membawa kemajuan dan akan semakin menemukan esensi kemanusiaan, ternyata menggiring kita untuk hanya menjadi manusia mekanik robot-robot berjalan. Dan apa yang kita sebut sebagai kemajuan di sisi lain juga secara tidak sadar beriringan dengan kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan. Hal tersebut secara tidak langsung bukan malah menuntun jalan kita untuk menemukan esensi kemanusiaan kita seutuhnya. Tapi kebalikanya kontraproduktif dengan jalan yang sebenarnya sudah digariskan oleh para leluhur kita melalui ekspresi tradisi budaya yang menyimpan pengetahuan untuk menemukan hakikat kemanusia kita. Temukan pancer dalam diri agar tegak, dapat menciptakan keseimbangan dalam diri, tahu dengan sangkan paran asal usul manusia dan akan dikembalikan kemana. Lha untuk menemukan pancer dalam diri di tradisi Jawa orang harus melakukan proses lelaku, laku, (suluk), dengan memaksimalkan semua potensi fakultas dirinya, dari lahir hingga batin mulai hati, jiwa, dan raganya. Dari sanalah manusia akan ketemu dengan hakikat hidup dan akan kemana hidup ini berjalan.

Kira-kira seperti itulah, doakan saya bisa istiqomah menjalankan proses lelaku perjalanan ini, yang entah sampai kapan dan dimana nanti ujungnya.

 

*) Doel Rohim: Penghuni Pondok Pesantren Kaliopak Yogyakarta dan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

 

 

 

Continue Reading
Advertisement

Philoshopia

Merajut Nalar Masyarakat melalui Filsafat Publik

mm

Published

on

Samuel Jonathan *)

Indonesia sedang darurat filsafat, katanya. Kemiskinan pemahaman dan radikalisme agama adalah kondisi yang menunjukkan bahwa negara ini darurat nalar. Filsafat, sebaliknya, mengajar untuk berpikir secara jernih dan menekankan dialog daripada koersi. Dengan demikian, kata Reza Watimena, filsafat adalah jalan keluar bagi semuanya itu.[1]

Tidak berlebihan apabila filsafat dianggap sebagai obat penawar bagi berbagai penyakit nalar: dogmatisme yang tidak berdasar, ikut arus pendapat mayoritas, atau takhayul – ringkasnya, dalam terminologi yang Tan Malaka gunakan, terkungkung dalam logika mistika.

Dogmatisme yang tidak berdasar menjadikan seseorang merasa paling benar, tanpa pernah memiliki niat untuk berefleksi akan kemungkinan bagi dirinya untuk pernah salah. Semata ikut arus mayoritas menjadikan seseorang serupa dengan hewan ternak yang hanya tahu soal makan dan tidur. Takhayul menjadikan seseorang pasrah akan keadaan yang ada tanpa berusaha mencari penjelasan bagaimana sesuatu bisa terjadi – untuk mencari kebenaran, memakai nalar, atau meneliti.[2]  

Filsafat membawa para pembelajarnya berbalik dari hal-hal tersebut. Mengutip Bertrand Russell di dalam The Problems of Philosophy bahwa filsafat,”… dipelajari bukan demi jawaban pasti … melainkan (ia dipelajari) demi pertanyaan itu sendiri; karena ia memperluas konsepsi kita akan yang mungkin, memperkaya imajinasi intelektual dan menyingkirkan kepastian dogmatis yang menutup pikiran dari spekulasi; namun, dari keseluruhannya … pikiran diubah dengan handal, dan menjadikannya satu dengan semesta.”[3] Belajar berfilsafat adalah belajar untuk bertanya dengan baik: itu kuncinya.

Permasalahannya adalah filsafat memiliki terminologi-terminologi teknis yang tidak mudah dipahami oleh kebanyakan orang awam yang tidak mempelajari ilmu filsafat secara formal – oleh publik. Terminologi-terminologi teknis yang ada di dalam ilmu filsafat acap kali membuat publik memiliki impresi pertama yang buruk. Kadang kelihatan terlalu besar, sehingga publik merasa kecil untuk berhadapan dengan filsafat; atau, terlalu rumit, sehingga publik khawatir tersesat di dalamnya.

Para ahli filsafat boleh ribut kalau Indonesia darurat filsafat, tetapi pertanyaannya adalah: apa yang sudah mereka kerjakan bagi publik? Apakah selama ini ada satu upaya untuk turun dari menara gading, dan bergaul bersama orang awam – mereka yang tidak belajar filsafat secara formal? Sejauh ini, rasa-rasanya, tidak banyak. Nampaknya, memang benar apa yang Marx sampaikan bahwa para filsuf terlalu sibuk untuk mendeskripsikan dunia, ketika seharusnya mereka mengubahnya.

Dibandingkan membawa publik ke dalam akademia filsafat, ada baiknya untuk mencoba mengerjakan yang sebaliknya, yaitu: membawa filsafat bagi publik.[4] Itulah yang disebut sebagai filsafat publik.

Perlu realistis bahwa tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk mendalami filsafat secara formal, tetapi bukan berarti bahwa mereka tidak boleh mempelajari filsafat dengan cara mereka sendiri – sebuah pembelajaran filsafat yang ramah bagi publik.

Publik tidak lagi memerlukan dewa-dewi lainnya, ahli-ahli filsafat, yang berdiam di atas gunung Olimpus, di akademia, yang asyik dengan urusannya masing-masing. Publik memerlukan dewa Hermes yang tidak berdiam di Olimpus, melainkan pergi turun darinya untuk menyampaikan pesan dewa-dewi – yang tidak bisa secara langsung dimengerti manusia – dan menyampaikannya, dengan menerjemahkannya, bagi manusia.

Publik memerlukan orang-orang yang mampu memijakkan filsafat: seorang komunikator filsafat. Sains punya Richard Feynman, Neil deGrasse Tyson, Richard Dawkins, atau bahkan Ryu Hasan. Mereka menyederhanakan sains, tapi tidak membuat sains terlihat bodoh.

Sama seperti sains bagi publik, filsafat publik tentu bukan pengganti dari ilmu filsafat itu sendiri. Ilmu filsafat memiliki permasalahan, metodologi, pemecahan yang khas di dalam ilmunya, dengan terminologi yang eksklusif pula. Filsafat publik memiliki sifat yang lebih komplementer, atau bersifat pengantar bagi mereka yang bersedia, atau tertarik, untuk mencicip kedalaman dari ilmu filsafat. Ia bukan yang sesungguhnya, tetapi, mudah-mudahan, memimpin ke yang sesungguhnya.[5]

Apa yang bisa kita harapkan dari filsafat publik? Mengutip Warburton, filsafat memiliki kemampuan untuk mengubah kehidupan bagi mereka yang mempelajarinya[6] – pertama-tama secara intelek, kemudian afektual, terakhir laku hidup.

Setidak-tidaknya, ada tiga hal mendasar yang pertama mempengaruhi intelek dari publik, yaitu: kritisisme, perasaan kagum, dan keingin tahuan. Dalam pendidikan, ketiga hal tersebut adalah yang paling fundamental untuk memberikan alasan, makna, atau motivasi, bagi seseorang berkeinginan untuk belajar. Bayangkan apabila ketiga hal tersebut terbentuk fondasinya sedari masa remaja seseorang. Betapa transformasionalnya!

Meski begitu, filsafat yang ditawarkan bagi publik bukan bertujuan untuk menjadikan mereka intellectual snob. Filsafat memang soal diskursus, argumentasi, dan sebagainya, tetapi bukan semata yang itu-itu saja. Karena, dibandingkan bicara soal orang yang lain, filsafat, pertama-tama, adalah ajakan untuk menjadi reflektif terhadap diri sendiri, kehidupan yang tidak diuji (melalui refleksi) bukanlah kehidupan yang layak untuk dihidupi. Filsafat adalah sebuah usaha untuk mengenal diri sendiri, sesama, dan semesta.

Beruntung bahwa di masa pandemi ini, bermunculan komunitas-komunitas filsafat yang berbasis daring yang berusaha untuk menghadirkan filsafat bagi publik dengan cara yang khas masing-masingnya. Sebut saja @logos_id dan @schole_id di Twitter, atau @kelas.isolasi di Instagram, juga berbagai profil lainnya yang tidak mungkin disebutkan satu per satu.

Bermunculannya komunitas-komunitas tersebut boleh jadi sebuah kabar baik bagi diskursus filsafat di Indonesia. Apabila dahulu orang-orang Yunani memiliki Agora atau Gimnasium untuk berdiskusi, berdebat, dan belajar, mudah-mudahan, di era ini kita bisa mengerjakan ketiganya di internet. Tantangannya adalah bagaimana filsafat boleh dihadirkan bagi publik tanpa ada distorsi makna, atau membuatnya terlalu dangkal; sekaligus menghindarkannya dari teminologi teknis yang menghalangi kebanyakan orang untuk mempelajari filsafat. Filsafat publik harus berjalan di garis tipis yang memisahkan antara yang pertama dan yang kedua, untuk selalu berjalan dengan seimbang.

*) Samuel Jonathan, S.Hum. seorang pendidik dan penggiat filsafat yang berusaha menyajikan filsafat yang lebih mudah diakses oleh publik. Menyelesaikan pendidikan sarjananya di departemen filsafat Universitas Indonesia. Selain sibuk untuk bekerja sebagai tutor sejarah dari perusahan rintisan Zenius Education, juga merupakan inisator dari komunitas filsafat berbasis daring Schole Indonesia.


[1] Reza Wattimena, Indonesia darurat Filsafat, 2018, diambil 16 Agustus 2020 dari https://rumahfilsafat.com/2018/08/27/indonesia-darurat-filsafat/

[2] Franz Magnis-Suseno, Dalam Bayang-bayang Lenin, PT Gramedia, Jakarta, 2016, hlm. 213.

[3] Bertrand Russell, The Problems of Philosophy, Oxford University Press, UK, 2001, Hlm. 93-94.

[4] Gary Gutting, What Philosophy Can Do, W. W Norton & Company, New York, 2015, hlm. xii.

[5] Julian Baggini, New British Philosophy: The Interviews, Taylor & Francis, UK, hlm. 280

[6] Ibid., hlm. 282

Continue Reading

Art & Culture

Soekanto SA: Mengarus di Sastra Anak (Indonesia)

mm

Published

on

Oleh Setyaningsih

“Cerita anak-anak lebih subtil dan esensial. Pantangan-pantangan dalam cerita anak-anak memaksa seorang pengarang untuk lebih kreatif. Hasil pencarian, eksplorasi hidup bisa disampaikan lebih tersaring. Di sinilah pesonanya!” inilah jawaban Soekanto SA ketika Agus Dermawan T. menyinggung pilihan berlabuh di dermaga cerita anak (Kompas, 16 Desember 1979). Berpindah dari Tegal ke Jakarta pada 1949, Pak Kanto kepincut sastra. Saat itu, ia mondok di rumah guru bahasa, Soeparto Dirdjowinoto, yang berlangganan majalah sastra Mimbar Indonesia. Di majalah ini, cerpen pertama dimuat. Pak Kanto mulai bergaul dengan para sastrawan-seniman, seperti Ajip Rodisi, Ramadhan KH, Trisnoyuwono. Pak Kanto juga menulis cerita untuk harian Pikiran Rakyat, majalah Kisah dan Siasat serta ngantor di Penerbit Indrapress dan Gaya Favorit.   

Soekanto SA

Usai 90 tahun nan panjang, Soekanto SA (18 Desember 1930-8 Juni 2020) berpulang. Pak Kanto memang lebih karib sebagai penulis cerita anak, pendongeng, pemikir kepustakaan anak-remaja. Terutama sejak 70-an, namanya tidak asing meriuhkan pertemuan mendongeng untuk anak-anak, kelas diskusi-penulisan cerita anak, seminar sastra anak, sampai forum perbukuan anak bersifat nasional dan internasional. Leksikon Kesusastraan Indonesia Modern (Pamusuk Eneste, ed., 1983) mencatat bahwa lulusan Fakultas Hukum Universitas Indonesia ini pernah menjadi redaktur majalah Arus (1954) dan redaktur harian Jakarta Post (1995).

Disebutkan buku-buku garapan Pak Kanto, di antaranya Bulan Merah (1954-mengalami cetak ulang kedua pada 1964), Orang-orang Tercinta (1971), Sahabat dan Kembang (1971), Jayamada (1971, digarap bersama Toha Mochtar), Anak-anak Malam (1973). Tidak disinggung kontribusi di Femina (editor buku anak dan remaja penerbitan Femina Group), dan terkhusus majalah anak Si Kuncung (1956) didirikan Soedjati SA, sosok yang juga mengajurkan Pak Kanto bertungkus lumus di bacaan anak.    

Di tahun 70-an, menguat perbincangan identitas bacaan anak Indonesia bertaut dengan penulis cerita anak “dalam negeri”. Indonesia tidak saja mengalami masalah kemandirian dan politik impor pangan, tapi juga impor bacaan. Di majalah dua mingguan Mutiara, edisi 1-14 Juni 1988, pernah memuat liputan panjang tentang asupan bacaan bagi anak-anak Indonesia. Asupan rohani berwujud buku digelisahkan. Indonesia lebih didominasi bacaan impor (terjemahan). Anak-anak Indonesia masa itu lebih karib dengan serial Lima Sekawan, Tin Tin, Oshin, Asterix, Donald Bebek. Kepala Bidang Penerbitan Balai Pustaka saat itu, Sudibyo Z. Hadisutjipto, mengatakan masalahnya bukan krisis naskah masuk, tapi mutu cerita. Penulis seperti mengalami kegersangan ide karena cerita berkisar di kedurhakaan anak, gembala, atau dramatisasi kemiskinan.

Buku-buku garapan Pak Kanto, di antaranya Bulan Merah (1954-mengalami cetak ulang kedua pada 1964), Orang-orang Tercinta (1971), Sahabat dan Kembang (1971), Jayamada (1971, digarap bersama Toha Mochtar), Anak-anak Malam (1973). Tidak disinggung kontribusi di Femina (editor buku anak dan remaja penerbitan Femina Group)

Pak Kanto urun tulisan berjudul “Lintas Sejarah Bacaan Anak-anak”. Setiap tahun, lahir buku-buku dianggap sebagai “karya-karya asli”. Misal di akhir 40-an, makin bergaung nama Aman Dt. Majoindo pengarang cerita klasik Si Doel Anak Betawi. Ada juga Duapuluh Dongeng Anak-anak garapan Zuber Usman, atau Dari Anak untuk Anak garapan Ibu Munah. Selain berpredikat asli, cerita sanggup menggembirakan hati dan imajinasi anak-anak. Pak Kanto juga menandai upaya-upaya intelektual sekalipun birokratis untuk menyokong bacaan dan anak. Pada tahun 1973 di Bogor misalnya, diadakan “Makan Siang Bersama Presiden” sekaligus sebagai ajang menghimpun dana bagi Yayasan Buku Utama untuk menobatkan buku-buku fiksi dan nonfiksi terbaik. Buku-buku anak turut ditimbang sejak 1981.  

Pesta dan Gila Buku

Yang sangat seru sekalipun masih memusat di Jakarta, Indonesia pernah menghelat “Pesta Buku Anak-anak dan Remaja” I dan II (1984 dan 1985). Seperti dipercayai anak-anak bahwa buku itu membahagiakan, Pak Kanto mengatakan bahwa buku “memberikan kenikmatan kepada anak-anak dan bukan sebaliknya, membuat anak-anak lari darinya karena jemu.” Setidaknya pada 1993 dan 1994, anak-anak masih memiliki perayaan bacaan bernama “Pesta Buku Anak ’93” dan Pesta Buku Anak ‘94” yang melibatkan pelbagai penerbit; Gaya Favorit Press, Djambatan, Balai Pustaka, Indira, BPK Gunung Mulia, dan lainnya.

Kita bisa menyepakati jika laporan khusus bacaan anak di Prisma (Mursidi Musa, M. Ahmad Soemawisastra, dan Edward S. Simandjuntak, Mei 1987) menyebut anak-anak Indonesia mengalami “sakit gila baca”. Meski bukan indikator satu-satunya, kegilaan tampak dari serbuan anak sekolah dasar ke pameran buku yang dihelat Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI). Gunung Agung, toko buku berjaya di masa itu bahkan hampir mirip perpustakaan atau tempat penitipan anak saking lama dan sering pembaca belia singgah. Inilah peristiwa di masa-masa kejayaan asupan bacaan cetak sebelum globalisasi memasukkan televisi ke rumah ruang keluarga atau mukjizat internet lebih dikagumi daripada ilustrasi-ilustrasi apik sampul majalah Kawanku.

Namun, laporan khusus sekaligus membabarkan dampak aliran dana Inpres sejak 1973 yang membuat ribuan eksemplar buku dibeli dan disebar ke sekolah se-Indonesia. Penerbit yang awalnya emoh menerbitkan buku bacaan anak karena takut merugi, berbalik berburu naskah. Memang muncul penulis-penulis baru dengan jaminan finansial, tapi mutu terkadang tidak berbarengan dengan naskah-naskah yang digarap serba cepat dan banyak. Di luar sokongan pemerintah, penerbitan bacaan anak masih membawa beban sampingan sampai hari ini seperti pernah diungkap Pak Kanto; royalti, idealisme penulis dan penerbit, dan kualitas.

Kebijakan pemerintah dan politik perbukuan memang terlihat menonjol saat buku masuk masalah nasional. Perubahan kebijakan berdampak besar, tapi upaya-upaya “bawah” lebih menjanjikan dampak seismik. Inilah yang diingat dan dibagi Pak Kanto usai melakukan pelawatan ke Tokyo, Jepang, memenuhi undangan Asian Culture Centre for Unesco bersama Perhimpunan Penerbit Buku Jepang dalam acara “The Elevent Training Course/ Seminar on Book Production in Asia” pada 7 September-7 Oktober 1978 (Kompas, 27 November 1978). Asupan buku untuk anak di Jepang, salah satunya ditekuni oleh ibu-ibu yang merintis Katei Bunko atau rumah pustaka setingkat RT tanpa sponsor pemerintah. Katei Bunko tidak hanya menyediakan buku bacaan. Setiap bulan, diundang para ahli membuat pertimbangan dan saran tentang buku-buku. Hasilnya akan disebar lewat siaran pers. Katalog atau brosur buku anak juga diterbitkan untuk pegangan para ibu. Hal ini dilengkapi dengan tindakan 20 menit ibu dan anak membaca buku tanpa penjadwalan khusus. Serunya, ada majalah bulanan Japan Children Book Publishers yang mengabarkan buku-buku terbit bulan depan. Tentu ditegaskan Pak Kanto, Jepang adalah negeri yang bersemangat menerjemahkan dan menerbitkan buku.       

Jika ditimbang di Indonesia, potensi PKK bertahan sampai hari ini bisa saja menyejahterakan asupan buku anak. Tapi, sepuluh program pokok belum menyasar bacaan anak dan keluarga dengan tepat. Lalu, apa kabar “Gerakan 10 Menit Membacakan Cerita untuk Anak?” Gerakan tidak menimbulkan dampak seismik karena diserukan dari “atas” sebagai program. Kita justru lebih bersemangat menyaksikan gairah mengantarkan buku ke setiap pelosok Indonesia oleh ibu, bapak, mas, dan mbak dengan gerobak, bronjong, kuda, perahu, bahkan noken. Mengantarkan buku berarti mengantarkan harapan dan kegembiraan kepada anak-anak.

Penulis sekaligus pernah wartawan Kompas, Maria Hartiningsih, dalam pengantar penerbitan ulang kumpulan cerita anak Pak Kanto berjudul Orang-orang Tercinta (Kompas, 2006) mengatakan bahwa Pak Kanto “tinggal dalam kenangan banyak anak yang sekarang sudah menjadi orang tua.” Suatu hari di kantor Si Kuncung, kedatangan anak bernama Gustini. Ia bertemu Pak Kanto sekaligus menghibur diri karena ikan-ikan peliharaannya megap-megap karena akuarium kena tendangan bola adik. Kedatangan Gustini membuat Pak Kanto menulis serial Hari-hari Bersama Gustini. Pertemuan pembaca kecil dengan Pak Kanto ini pasti istimewa. Bukan dari hal-hal muluk atau menggurui, Pak Kanto mencipta cerita-cerita hangat bagi jiwa anak-anak.

Saya membayangkan salah satu peristiwa di Lantai III Aldiron Plaza Blok M pada Sabtu sore, 20 Mei 1980 (Kompas, 20 Mei 1980). Para bocah berebut duduk paling depan menantikan Pak Kanto mendongeng dalam rangkaian acara pameran buku. Suara dan cerita itulah semesta yang dipanggil setiap anak di dalam kepala dan pendar matanya. Tidak boleh ada satu kata pun berkelit. Tiga tahun kemudian, bukan dari representasi pahlawan super, selebritas, tokoh militer, atau penguasaha sukses anak-anak memilih sosok lekat di tepian biografinya. Mereka menahbiskan Pak Kanto sebagai sang “Tokoh Favorit di Mata Anak-anak.”

Selamat jalan, Pak Kanto! Terima kasih untuk cerita-cerita bersahaja nan lembut..     

*) Esais dan penulis Kitab Cerita (2019)

Continue Reading

Art & Culture

Apa Yang Kreatif?—Melawan Suara-Suara Penyederhanaan

mm

Published

on

Oleh Sabiq Carebesth *)

Siapa orang kreatif atau mari bertanya lebih dulu apa (orang) yang kreatif itu? Apa bahaya-bahayanya untuk menjadi “siapa” sementara ruang reflektif meminta menuntaskan maksud dan tujuan dari “apa” penulis atau pribadi kreatif itu sendiri?

Orhan Pamuk dalam pidato untuk penerimaan hadiah nobel sastra yang diterimanya mengisahkan sosok ayahnya; sebagai pribadi yang menyendiri di dalam kamar, dengan buku-buku dan menulis. Merenungkan dunia dan, terus bertanya lalu apa? Tetapi pertanyaan itu hanya menghasilkan ruang lebih luas dan kemampuan menyendiri lebih jauh lagi—dan tidak selalu berarti keberuntungan—untuk katakan menjadi penulis atau pribadi kreatif yang berhasil. Camus menuliskan:

“Menurut Saya, pengarang adalah orang yang tekun, selama bertahun-tahun, berupaya menemukan ‘diri’ yang kedua, sekaligus memahami dunia pembentuk dirinya yang aktual. [o]rang yang mengurung diri di kamar, duduk di depan meja, menyendiri, merenung, dan di antara bayang-bayang, membangun dunia baru dengan kata-kata. [s]etelah sekian lama, mungkin ia akan bangkit dari duduknya, melongok keluar jendela untuk menyaksikan anak-anak bermain di jalanan serta pepohonan dan sepotong pemandangan, atau mungkin malah menatap dinding hitam. Ia mungkin telah mengarang puisi, naskah drama, atau seperti Saya, menulis novel. Semua itu terjadi usai ia melakukan kerja amat penting: duduk di depan meja dan menyelami batin. “

Mary Oliver, penyair perempuan yang dikasihi publik, memastikan bahwa dunia kreatif dihuni mereka yang memiliki kebernaian dan komitmen menuruti laku aliran batinnya, suatu panggilan jiwa yang berlaku sebagaimana kesetiaan air pada gaya gravitasi. Seseorang yang berjalan dengan susah payah melalui hutan belantara ciptaan, “mereka yang tidak mengetahui hal ini – yang tidak ‘menelan’ ini – akan hilang.”

Itulah yang dibutuhkan untuk menyelam dalam dunia kreatif dan mengambil dari dalamnya mutiara.

Maka seperti Pamuk, Oliver mengandaikan bahwa bagaimana pun [b] idang kreatif butuh kesendirian. Bidang kreatif membutuhkan konsentrasi tanpa interupsi. Itu membutuhkan seluruh langit untuk dituju, dan tak ada sorot mata melihat hingga sampai pada kepastian yang diinginkannya. Privasi. Sebuah tempat yang terpisah—untuk melangkah, untuk mengunyah pensil, untuk mencoret-coret dan menghapus kemudian mencoret-coret kembali. Tetapi sama seringnya, jika tidak lebih sering, interupsi tidak datang dari orang lain namun dari diri sendiri, atau diri lain di dalam diri.”

Suatu gagasan dari Keats tentang “kemampuan negatif,” Dani Shapiro mendesak bahwa seorang seniman, seorang pribadi kreatif, tak terhindarkan “untuk merangkul ketidakpastian, untuk diasah dan dikikir olehnya,”—untuk petualangannya yang tidak diketahui.

Pada kenyataannya, pekerjaan kreatif itu adalah bagian dari petualangan itu sendiri. Dan tidak ada seniman yang dapat mengerjakan pekerjaan ini, atau ingin melakukannya, dengan energi dan konsentrasi yang tidak utuh.

Halanya seperti laku kesendirian. Itu lebih seperti pengambil resiko (risk-taker) daripada pengambil tiket (ticket-taker). Bukannya itu akan mengecilkan arti sebuah kenyamanan, sosialitas, atau menetapkan rutinitas dunia, namun perhatiannya lebih mengarahkan ke tempat lain. Perhatiannya ada pada batas, dan pembuatan bentuk dari ketidakberwujudan yang melebihi batas.

Seperti pepatah Turki yang menjadi kredo menulis Pamuk, mereka para pribadi kreatif, para seniman dan penulis, dalam kesendirian dan kesunyiannya “menggali sumur dengan jarum”—maka tentu saja itu membutuhkan nyaris seluruhnya, dan lagi pula, tak selalu berhasil. Tetapi itu tetap tak mematahkan hidup yang memberinya perasaan berarti, untuk mengambil risiko dan memenuhi panggilan jiwa.

Panggilan jiwa yang memastikan mereka memahami, sebagaimana narasi Sontag yang menggugah, pekerjaan pertama para penulis atau bidang kreatif lainnya, adalah “untuk melawan suara-suara penyederhanaan.”

Dalam seni menulis khsusnya, Sontag menekankan bahwa; tugas penulis adalah mempersulit orang untuk memercayai para perampok batin. Tugas penulis adalah membuat kita melihat dunia apa adanya, penuh dengan berbagai klaim dan bagian, serta pengalaman. (*)

*) Sabiq Carebesth—Editor in Chief Galeri Buku Jakarta—Catatan ini adalah pengantar redaksi untuk Majalah “Book Coffee and More” yang akan dirilis perdana oleh Galeri Buku Jakarta pada Agustus 2020.

Continue Reading

Trending