Connect with us

Art & Culture

Irfan Afifi dalam Kejawaan dan Keislaman Yang Gelisah

mm

Published

on

Kondisi keberislaman kita hari ini, sebenarnya bukan suatu yang tiba-tiba terjadi, bahasa jawane ujug-ujug ana. Ada proses sejarah panjang yang sering kali, kita luput untuk memperhatikanya. Bahwa apa yang disebut sebagai “Islam” sering kali dikatakan oleh para orientalis hanya sebagai “lapisan tipis” dari kebudayaan Jawa. Ada beberapa orientalis yang kurang lebih berkata sama seperti karya-karya Geertz, Snock Hurgronje, Pigued, De Graff dan  juga yang lainya, setidaknya memberi label Islam yang ada di Nusantara mereka sebut sebagai “Islam sinkretis” dengan seluruh kandungan peyoratif yang dikandungnya yakni bercampur aduknya dalam sebuah adukan yang kurang lebih tidak jelas. Kira-kira seperti itu banyak dari para orientalis memposisikan Islam di kebudayaan Jawa. –Irfan Afifi

Oleh; Doel Rohim *)

Baru-baru ini penulis Irfan Afifi mengeluarkan sebuah buku yang di bicarakan oleh banyak orang. Buku yang diberi judul Saya, Jawa, dan Islam ini, mengulas pergulatan batin Irfan mengenai identitas kejawaan dan keberislaman yang mulai luntur bahkan hilang dalam dirinya.

Sejak itulah ia mencari, membangun batu bata pengetahuanya kembali, untuk menemukan jawaban atas kegelisahanya tersebut. Buku Saya, Jawa dan Islam, merekam dengan baik perjalanan pencarian diri yang hilang, yang sampai buku ini diterbitkan  sebenarnya belum selesai ia susun. Lelaki yang keseharianya tinggal di Yogyakarya ini, sampai hari ini masih bergelut dengan pencarian dirinya, sambil terus menulis di media yang ia gawangi Langgar.co ia mendokumentasikan catatan perjalanan pencarianya yang filosofis.

Saya berkesempatan menemui Irfan secara langsung di rumahnya Kamis (30/4/2019), untuk mencari tahu bagaimana proses kreatif kepenulisan hingga kegelisahan semacam apa hingga buku ini dapat respon positif dari banyak kalangan. Berikut ‘obrolan’ lengkapnya:

Bisa anda jelaskan konteks personal kenapa anda menulis buku Saya, Jawa, dan Islam?

Awalnya tulisan yang ada di buku itu adalah kumpulan dari tulisan saya di beberapa kesempatan yang semuanya berasal dari kegelisahan saya atas ke Islaman dan  ke Jawa-an dalam diri saya, yang seperti hilang dalam hidup ini.  Rasa kehilangan yang begitu dalam membuat diri saya merasa kurang lengkap, jiwa saya kering, hingga akhirnya saya mulai mencari dan mengidentifikasi ulang diri saya. Dari sanalah peoses awal saya mendalami identitas Jawa dan Islam saya yang hilang, yang ternyata selama ini dikaburkan oleh proses pajang sejarah bangsa ini terutama masa kolonialisme.

Sebelum jauh membicarakan buku anda, anda sekarang tergolong produktif menulis di media termasuk media anda sendiri Langgar.co mungkin juga yang lainya, bisa ceritakan kapan anda pertama kali menggenal dunia tulis menulis?

Haha saya belajar menulis sejak kuliah tepatnya saat saya masuk di Lembaga Pers Mahasiswa Balairung UGM tahun 2000-an. Kalau ingget dulu, kelihatanya saat itu saya tergolong paling aktif di LPM, bahkan hampir separo masa kuliah di kampus saya habiskan di bilik kantor Balairung, berangkat ke kantor mulai sore, hingga menjelang subuh saya baru pulang ke kontrakan dan gak jadi kuliah (tertawa lepas). Mungkin itu, pertama kali saya bersingungan dengan dunia tulis menulis. Saya masih ingat sejak SMA bahkan sampai masuk kuliah saya tidak banyak punya uang untuk sekedar membeli buku. Paling-paling pinjam buku, tapi karna saya tumbuh di tradisi pesantren budaya literasi saya terbantu dengan terbiasa membaca kitab kuning ayah saya.

Sebelum anda menulis biasanya mempunyai ritual khusus atau tidak, sebelum menggoreskan kata pertama?

Apa ya, saya terbiasa menulis setiap pagi setelah habis shubuh. Selain itu harus minimal dua bungkus rokok gudang garam yang menemani. Hahah biasannya baru bisa mulai nulis, di saat yang tepat biasanya saya seperti kejatuhan ilmu Tuhan dari langit , hahah.

Saya akan masuk lebih dalam buku yang anda tulis, dalam bab pertama buku Saya Jawa dan Islam, tulisan anda terlihat begitu emosional menceritakan proses awal kepenulisan buku ini hingga bisa diterbitkan, bisa anda jelaskan?

Haha iya memang, dalam bab pertama tersebut sebenarnya saya sedikit banyak menceritakan bagaimana proses awal saya menemukan identitas kultural saya yang hilang, yang sebenarnya sudah lama saya gelisahkan.  Pada awal tahun 2007 saat saya dipertemukan dengan salah seorang tukang pijat disekitar kontrakan saya dekat UGM, tiba-tiba saya di beri wejangan untuk mulai mandeg pribadi, mengatur empat pribadi dalam diri sedulur papat limo pancer, agar juga tidak hanya keseimbangan diri yang terpenuhi melainkan juga menemukan “makna” atau “diri “ itu sendiri. Wejangan tersebut membuat saya terperangah. Selain juga menyentil identitas ke Jawaan saya. Hal itu juga setidaknya meruntuhkan seluruh bangunan filsafat yang saya pelajari secara kukuh saat berada di bangku kuliah filsafat UGM. Dari sanalah saya mulai putar arah, menengok kembali identitas ke Jawaan dan ke Islaman saya, dengan mulai masuk dan tenggelam ke dalam wacana yang tersimpan dalam kesustraan lama Jawa seperti serat, suluk, dan babad. Bagi saya pilihan tersebut sungguh tidak mudah, saya perlu menata bangunan pengetahuan saya dari awal kembali menyusun sedikit demi sedikit, mencarinya di berbagai tempat di tengah posisi saya sudah mulai memikirkan kebutuhan keluarga. Itu sungguh pilihan sulit bagi saya saat itu.

Anda sering menggatakan bahwa proses yang anda lakukan saat ini sebagai “suluk” kira-kira apa makna kata tersebut dalam perjalanan pencarian anda?

Kata suluk sebenarnya kata kunci dalam tradisi tasawuf yang mempunyai arti “berjalan” atau “perjalanan”.  Dan perjalanan yang dimaksut di sini adalah menuju sangkan paran, jadi dalam kerangka keber “ada” an hidup manusia Jawa ia sedang melakukan perjalanan besar dari Allah menuju Allah. Atau bisa dikatakan sebuah gerak yang di “ada” kan (dumadi/maujud) menuju yang “ada” atau yang meng ”ada”kan (dadai wujud). Gampangnya sebuah perjalanan manusia dari sejak ia dalam sebuah kandungan menuju kematian, atau perjalanan dari Nya menuju Nya. Konsep sebuah “perjalanan”  tersebut oleh para wali atau ulama di tanah Jawa dahulu dalam bhasa Jawanya sepadan dengan ata laku, mlaku, lelaku, lelakon yang mempunyai arti harfiah “berjalan” atau “perjalanan”. Lha kata tersebut sering diterjemahkan dalam sebuah istilah baru sebagai “suluk” yang juga kata kunci dalam tradisi tasawuf Islam. Saya memposisikan proses perjalanan saya saat ini kira-kira seperti itu, sebuah perjalanan besar yang nantinya juga akan kembali kepadaNya.

Dalam buku yang anda tulis ini, anda berusaha mendekonstruksi wacana Islam Jawa yang sudah mapan. Selain itu anda juga sering menggatakan bahwa pangkal permasalahan besar keberislaman kita hari ini adalah konstruksi para orientalis  terkait  Islam Jawa lebih jauh kebudayaan kita. Bagaimana anda menjelaskan itu semua?

Sebelumnya saya ingin mengatakan bahwa kondisi keberislaman kita hari ini, sebenarnya bukan suatu yang tiba-tiba terjadi, bahasa jawane ujug-ujug ana. Ada proses sejarah panjang yang sering kali, kita luput untuk memperhatikanya. Bahwa apa yang disebut sebagai “Islam” sering kali dikatakan oleh para orientalis hanya sebagai “lapisan tipis” dari kebudayaan Jawa. Ada beberapa orientalis yang kurang lebih berkata sama seperti karya-karya Geertz, Snock Hurgronje, Pigued, De Graff dan  juga yang lainya, setidaknya memberi label Islam yang ada di Nusantara mereka sebut sebagai “Islam sinkretis” dengan seluruh kandungan peyoratif yang dikandungnya yakni bercampur aduknya dalam sebuah adukan yang kurang lebih tidak jelas. Kira-kira seperti itu banyak dari para orientalis memposisikan Islam di kebudayaan Jawa.

Dari sana saya mencari penjelasan lain dengan sudut pandang “rasa” keislaman saya. Mulai dari para pemikir muslim Indonesia seperti Hamka, Rasyidi, hingga karya-karya  Simuh Islam Mistis Ranggawarsita, ternyata juga tidak bisa memuaskan saya dengan penjelasan yang kurang lebih hampir sama memposisikan Islam Jawa bercampur aduk, tidak jelas bahkan saling kontradiktif.

Dari hal tersebut saya tersuruk untuk kedua kalinya, identitas yang membentuk saya, Jawa dan Islam saat ini ternyata saling menegasikan. Ada perselisihan atau tepatnya saling berhadap-hadapan yang sempat mengguncang diri saya. Dari sana juga saya mulai menyadari bahwa ada narasi kolonialisme, yang sejak lama tertimbun dan membentuk bingkai keislaman kita, yang sayangnya hingga hari ini terus menerus menjadi narasi besar para sarjana maupun akademisi kita yang selalu direproduksi sedemikian rupa hingga Islam Jawa tak pernah menemukan esensinya.

Secara umum buku anda membicarakan problem identitas yang banyak di alami oleh anak muda saat ini, ada pesan bagi anak muda kayak saya ini?

Memang banyak anak muda hari ini gagal mendefinisikan identitas kulturalnya sendiri. Sehingga cendrung terjebak pada pola pikir Barat yang menawarkan kebebasan, universalitas, yang menggaburkan identitas dirinya sebagai orang Jawa, Nusantara dan Indonesia. Cara berfikir barat yang lebih dominan masuk ke alam fikir kita saat ini, yang diharapkan membawa kemajuan dan akan semakin menemukan esensi kemanusiaan, ternyata menggiring kita untuk hanya menjadi manusia mekanik robot-robot berjalan. Dan apa yang kita sebut sebagai kemajuan di sisi lain juga secara tidak sadar beriringan dengan kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan. Hal tersebut secara tidak langsung bukan malah menuntun jalan kita untuk menemukan esensi kemanusiaan kita seutuhnya. Tapi kebalikanya kontraproduktif dengan jalan yang sebenarnya sudah digariskan oleh para leluhur kita melalui ekspresi tradisi budaya yang menyimpan pengetahuan untuk menemukan hakikat kemanusia kita. Temukan pancer dalam diri agar tegak, dapat menciptakan keseimbangan dalam diri, tahu dengan sangkan paran asal usul manusia dan akan dikembalikan kemana. Lha untuk menemukan pancer dalam diri di tradisi Jawa orang harus melakukan proses lelaku, laku, (suluk), dengan memaksimalkan semua potensi fakultas dirinya, dari lahir hingga batin mulai hati, jiwa, dan raganya. Dari sanalah manusia akan ketemu dengan hakikat hidup dan akan kemana hidup ini berjalan.

Kira-kira seperti itulah, doakan saya bisa istiqomah menjalankan proses lelaku perjalanan ini, yang entah sampai kapan dan dimana nanti ujungnya.

 

*) Doel Rohim: Penghuni Pondok Pesantren Kaliopak Yogyakarta dan Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

 

 

 

Continue Reading
Advertisement

Art & Culture

Puisiku untuk Mereka yang Tak Menyukai Puisi

mm

Published

on

May Sarton *)

May Sarton is best known for her poetry and novels, but I really love her journals and memoirs best. The House By the Sea covers a period from 1975-1976 during her years in a house on the New England shore.

Banyak dari sajak-sajakku merupakan sajak-sajak cinta. Aku hanya mampu menuils puisi, sebagian besar, saat aku mempunyai sebuah inspirasi, seorang perempuan yang memfokuskan dunia untukku. Dia mungkin saja seorang kekasih, mungkin saja bukan.

Dalam satu kasus dia adalah seseorang yang hanya kulihat satu kali, saat makan siang di dalam sebuah ruangan penuh dengan banyak orang lain, dan aku menulis satu buku penuh sajak-sajak. Banyak dari sajak-sajak itu belum dipublikasikan. Tapi inilah misterinya. Sesuatu terjadi yang menyentuh sumber dari puisi dan menyalakannya. Terkadang itu merupakan hasil dari hubungan percintaan yang panjang, seperti halnya dengan sajak-sajak “The Divorce of Lovers”, rangkaian sonata itu. Akan tetapi tidak selalu. Jadi siapa hadirin untuk puisiku? Hadirinku adalah orang yang kucintai. Tetapi biasanya “orang yang kucintai” tidak benar-benar tertarik pada sajak-sajak.

Continue Reading

Art & Culture

Tulisan seorang penulis bernama Virginia Woolf adalah sebuah inspirasi

mm

Published

on

Pada musim panas ini, baru saja dibuka sebuah pameran di Pallant House Gallery di Chichester, Sussex yang wajib dikunjungi. Pameran tersebut berjudul, ‘Virginia Woolf: sebuah pameran yang terinspirasi oleh tulisannya.’

Terinspirasi tulisan dari Virginia Woolf (1882-1941), yang mengeksplorasi hak pilih perempuan dan metafora pemandangan, ruangan dan masih hidup; membawa bersama lebih dari delapan puluh karya seniman wanita Inggris dan Kontemporer modern. Pameran tersebut lahir dari kerjasama antara Tate St Ives, Pallant House Gallery dan The Fitzwilliam.

Pertunjukan visual yang menakjubkan, dipenuhi cahaya yang dikuratori dan digantung dengan indah. Skala domestik dari banyak lukisan dan objek dihidupkan kembali di Pallant House ketika narasi dari pameran secara cerdas terungkap dalam serangkaian ruangan. Walaupun ini bukan pameran biografis, namun tetap menggambarkan bagaimana Virginia Woolf secara konsisten menggambarkan hubungan dan pengalamannya dalam tulisannya untuk mengartikulasikan rasa dalam diri dan tempat.

Pada masa kecilnya, Ia menghabiskan setiap musim panas pada Talland House di St Ives. Ia akan kembali mengingat betapa formatif suatu ingatan awal ini dalam Sketsa Masa Lalu: ‘…berbaring setengah tertidur, setengah terjaga, di tempat tidur dalam ruangan bayi di St Ives… mendengar ombak pecah, satu, dua, satu, dua, dan mengirim percikan air ke pantai; kemudian memecahkan, satu, dua, satu, dua, dibelakang tirai kuning.’ Lukisan dari cat minyak milik Laura Knight yang berjudul The Dark Pool juga menangkap daya tarik dengan laut ketika seorang wanita muda berdiri pada bebatuan di samping pantai yang melihat secara reflektif pada kedalaman laut, bebas pada pikirannya. Lukisan Woolf the Landscape akan sering menjadi metafora dari ruangan yang akan dia nyatakan ambiguitasnya di tempat otonomi potensial dan pembebasan yang juga melambangkan pengekangan sosial atas perempuan pada saat itu.

Vanessa Bell yang menghadap keluar, membebaskan minyak dari Kolam pada Charleston di Sussex dipenuhi dengan cahaya, gerakan, dan harapan. Menggabungkan sebuah pemandangan, ruangan dan suatu lukisan.

Virginia Woolf dan Vanessa Bell adalah kakak beradik dan sepanjang hidup mereka menginspirasi dan mempengaruhi karya satu sama lain. Mereka berkumpul mengitari lingkaran dari seniman wanita Inggris Modern yang berpengaruh, banyak dari mereka menjadi wakil dalam suatu pertunjukkan.

Sussex, seperti Cornwall, memainkan bagian yang cukup signifikan dalam kehidupan dan dunia kerja kepengarangan seorang Woolf. Memang Vanessa Bell hanya berpindah ke Charleston pada 1916 karena rekomendasi dari kakaknya. Rumah tersebut akan menjadi tempat pertemuan untuk Grup Bloomsbury.

Pada 1919, Virginia Woolf dan suaminya, Leonard membeli rumah seorang biksu di sebuah desa Rodmell di Sussex Timur dimana dia akan tinggal hingga bunuh diri pada 1941. Pondok abad ke 17 memungkinkan dirinya untuk menulis dalam ketenangan Sussex Downs dekat dengan kakak perempuannya, Vanessa Bell yang sangat penting dalam membangun rasa pada Woolf tentang dirinya sendiri dan kesejahteraannya. Woolf suka untuk berdiskusi tentang seni dengan saudara perempuannya. Keinginannya untuk belajar ini bersifat pribadi dan intelektual. Itu membawanya lebih dekat ke saudara perempuannya dan teman-temannya yang artistik; termasuk Dora Carrington, Duncan Grant, Roger Fry dan seorang penulis bernama Vita Sackville-West.

Saya senang bahwa Toovey, bersama dengan De’Longhi dan Irwin Mitchell termasuk di dalam sponsor utama dan pendukung pameran yang luar biasa ini. ‘Virginia Woolf: sebuah pameran yang terinspirasi oleh karya tulisnya’ berlangsung di Pallant House Gallery, Chichester sepanjang musim panas September 2018. (*)

__
Oleh Rupert Toovey, seorang direktur senior Toovey, rumah lelang seni terkemuka di Sussex Barat, berdasarkan pada A24 di Washington. Awalnya diterbitkan di West Sussex Gazette.  | (p) Alethea Monica (e) Sabiq Carebesth

Continue Reading

Art & Culture

Arus Balik Nusantara dan Kemacetan Kesadaran Bahari

mm

Published

on

Getty Image/ Ivan Aivazovsky--Along the Coast

Masih dapatkan arus balik membalik lagi? Itulah pertanyaan dalam epos “Arus Balik” karya Alm. Pramoedya Ananta Toer, juga pertanyaan utama bangsa ini sejak abad 16 lalu yang belum kunjung terjawab hingga sekarang ini. Dan kini kita menyaksikan dengan kengiluan bagaimana kehidupan para nelayan yang terlunta dan tersandera oleh kebijakan, kultur sekalian kesadaran bangsanya sendiri atas kebahariannya.

Oleh Susan Herawati *)

Siapakah kita, siapakah bangsa indonesia? Bagi kami yang hidup berdampingan dengan kehidupan para nelayan, masyarakat pesisir, laki-laki dan perempuan; kita, indonesia adalah nusantara—yang di dalamnya terkandung kekuatan dan kesatuan maritim, bangsa bahari yang pernah memiliki epos paling megah dan akbar di muka bumi ini! Kekuatan dan kesatuan maritim yang pada masa jayanya pernah menjadikan bangsa ini sebagai bangsa laut terbesar di antara bangsa-bangsa beradab di muka bumi.

Di mana seperti dikabarkan sastrawan besar kita Pramoedya Ananta Toer dalam epos dari karya Pulau Buru Arus Balik: “Kejayaan bahari kita menjadikan arus di muka bumi ini bergerak dari selatan ke utara, segalanya; kapal-kapalnya, manusianya, amal perbuatannya, cita-citanya, semua bergerak dari Nusantara di selatan, ke ‘atas angin’ di utara di Eropa, di Amerika. Sampai ketika zaman berubah…Arus berbalik—bukan lagi dari selatan ke utara tetapi sebaliknya dari utara ke selatan. Utara kuasai selatan, menguasai urat nadi kehidupan Nusantara.. perpecahan dan kekalahan demi kekalahan seakan menjadi bagian dari Nusantara yang beruntun tiada henti.” Inikah potret besar bangsa kita hari ini?

Lepas dari itu bagaimana pun tetap akan ada tokoh seperti Wiranggaleng, juga Idayu, pemuda dan pemudi desa nelayan yang sederhana, keduanya bertarung sampai ke pusat kekuatan Utara, ia memberi segala-galanya—walau hanya secauk pasir sekalipun—untuk membendung arus Utara. Lalu masih dapatkan arus balik membalik lagi?

Itulah pertanyaan dalam epos “Arus Balik” karya Alm. Pramoedya Ananta Toer, juga pertanyaan utama bangsa ini sejak abad 16 lalu yang belum kunjung terjawab hingga sekarang ini. Dan kini kita menyaksikan dengan kengiluan bagaimana kehidupan para nelayan yang terlunta dan tersandera oleh kebijakan, kulturl dan kesadaran bangsanya sendiri, masyarakat pesisir yang bersetia menjaga lautnya siang dan malam itu, para anak turun sang Wiranggaleng, Idayu, Rama Cluring… anak kandung bangsa bahari yang pernah paling Berjaya dan perkasa di atas muka bumi, kini hidup dalam periuk kemiskinan yang inti.

*

Mari kita kenang sejenak dan menjauhkan cakrawala batin kita tanpa bermaksud mengajak romantisme dalam glorifikasi semu, mari melihat lembar sejarah agar kita mengingat dan menumbuhkan kepercayaan diri akan siapa kita? Bahwa kita adalah bangsa bahari dari Selatan, yang pada abad-abad lalu, kapal-kapal angin dari Negeri Utara, dari bangsa-bangsa Eropa dan Amerika itu—apalah artinya, hanya saumpama kambinng di sebelah kuda, begitu kecil dan lambat dibanding kapal-kapal Nusantara yang besar dan laju! Ingatkah kabar yang ditulis sastrawan kita Pramoedya…

“Dahulu adalah seorang anak desa dari kampung nelayan Tuban, Nala Namanya, kelak ia adalah empu kapal sekaligus ahli kayu yang menjelajah muka bumi dan tahu hanya jenis kayu lunas namanya, terbaik yang bisa menghadapi laut dan hanya bangsa nusantara yang punya, menempel di dinding-dinding kapal-kapal kita yang bak elang! Bocah Nala itu dikarunia oleh para dewa dengan banyak cipta. Untuk majapahit dia menciptakan kapal-kapal besar dari lima puluh depa panjang dan sepuluh depa lebar, bisa mengangkut sampai delapan ratus orang prajurit dan dua ratus tawanan, kapal-kapal besar, ya terbesar di dunia ini, di selurh jagad ini. Pada tiang agungnya selalu terpasang bendera merah-putih yang berkibar tak jemu-jemunya. Seperti bendera kapal-kapal kecil Tuban saat ini, hanya lebih pendek.
Beratus-ratus kapal semacam itu dibuat di galangan-galangan Majapahit di Tuban, Gresik, Kawal, Panarukan, Pasuruan, Pacitan, Juana.. aku kira jumlahnya takkan kurang dari tiga ribu. Penuhlah laut dengan armada bangsa Nusantara. Setiap di antaranya pasti akan kalian sangka istana Dewi lautan. Dan setiap kapal pimpinan selalu berlayar sutra kuning gemerlapan.. tak ada yang menyerupai besar dan kelajuannya. Kapal-kapal atas angin itu, huh, apalah artinya, seperti kambing di sebelah kuda saja. Dan bila semua layar telah dikembangkan, laksana elang ia meluncur meninggalkan di belakangnya semua bikininan manusia yang terapung di atas laut. Seribu bajak takkan bisa memburu apalagi mengepungnya!”
*
Begitulah bangsa indonesia tercinta ini adalah bangsa besar dan disegani bangsa-bangsa lain di muka bumi ini sebelum arus itu berbalik. Kita adalah bangsa dengan sejarah sebagai penentu garis utama peradaban dunia baik dalam ilmu pengetahuan, teknologi inovasi, kekayaan, politik dan ekonominya. Pelaut dan nelayan kita adalah para pemberani, para kstaria, masyarakat produktif yang mampu berdaulat, mendiri dalam mengibarkan panji-panji kejayaannya. Kemakmuran dan kekayaan dikelola dalam sistem perdagangan global yang adil, bangsa dan rakyat yang disegani dunia karena kamajuan, kesatuan dan kekuatan baharinya. Nyatalah kita bukan bangsa kerdil yang menjadi buruh dan miskin persis di tepi lautnya sendiri.

Tapi kita hari ini telah ratusan tahun, berabad  sejak arus berbalik dari utara ke selatan, kita seakan dininabobokan dan dikalahkan sehingga seakan menjadi bangsa kerdil akibat dari kekosongan dan kekalahan penguasaan pengetahuan modern, sistem moral yang menjungkirkan egalitarianisme, kesetaraan gender, juga kosongnya kepemimpinan dalam arti moral dan historis dimana kebaharian justeru diabaikan dan nyaris tak pernah lagi mendapat prioritas kebiajakan strategis nasional dalam semua ihwal rencana visi dan misi kepemimpinan indonesia sejak abad 16 lalu !

Kita memalingkan muka dan nyaris saja meninggalkan sejarah bangsa sendiri, bahwa kita bahari, kita bangsa produktif, kita bangsa inovatif, bangsa dengan masyarakatnya yang cerdas, mampu mengurus sumber dayanya sendiri, sanggup mengurus lautnya sendiri, sanggup berdaulat dan bersikap adil atas nama kemanusiaan.

*
Karenanya hari ini penting untuk bangkit, membangun sistem ekonomi, sistem sosial, pengetahuan dan moral berdasar pada artikulasi historis kita sebagai bangsa bahari. Nusantara yang produktif, berdaulat, mendiri dan sanggup mengurus lautnya sendiri.

Para elit negeri, percayakan laut pada mereka nelayan laki-laki dan perempuan, mereka tahu caranya mengurus lautnya, berdaulat pangan dari kekayaan lautnya, melestarikan dan menciptakan inovasi ekonomi dari sumber daya agararia kelauatan.

Misi indonesia sebagai bangsa bahari modern harus memastikan kesadaran yang tidak macet, kesadaran akan pentingnya ekonomi nasional yang bertumpu pada pemajuan ekonomi bahari, komoditas laut kita harus diurus dan dikelola oleh bangsa sendiri, oleh nelayan baik laki-laki mau pun perempuan; industri kelauatan modern harus dibangun, tidak lagi menjadi bangsa pragmatis yang menjual komoditas mentahnya ke ekspor global sementara kita bisa menciptakan nilai tambah luar biasa besar dari kekayaan sumber daya agraria kelautan kita.

Kita bahkan sama sekali tidak perlu impor garam, ikan, dan pangan laut lainnya selama ribuan tahun asal pemerintah dan kita semua benar-benar memiliki kesadaran kebangsaan bahari dan mau berpihak serta bekerja keras mengembalikan arus agar berbalik dari indonesia ke dunia!

Pada akhirinya, ini soal itikad sejarah dan kehendak bersama untuk mengakhiri kemacetan kesadaran kebaharian kita yang telah mandek sejak berabad lalu dalam sistem politik, sistem ekonomi juga perangkat pengetahuan dan ekonomi kita. Kita tak perlu   lagi mewacanakan kepemimpinan bahari indonesia di dunia jika para pihak khususnya para pemimpin indonesia tidak kunjung bertaubat nasuha dari kesadaran keliru atas sejarah kejayaan bangsanya sendiri !

*) Susan Herawati, Pecinta Laut, Puisi, dan Masyarakat Bahari Indonesia.

Continue Reading

Trending