© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Inspirasi Rahasia Gabriel Garcia Marquez Akhirnya Mengungkapkan Dirinya

Gabriel Garcia Marquez percaya bahwa pertemuan yang paling singkat sekali pun mempunyai daya untuk mengubah kita. Hidup di Paris pada akhir 1950an, dia mendapati Ernest Hemingway Boule Miche dan tanpa berpikir panjang dia berseru “Emming-way!”. Orang Amerika itu tidak menoleh, hanya mengangkat tangannya. Akan tetapi penulis muda Kolombia itu menginterpretasikan gestur tesebut sebagai sebuah berkat, sebuah persetujuan untuk melangkah terus dan pada akhirnya memberikan kita novel-novel paling berjaya di abad lalu.

Salah satu tema karya Marquez adalah cinta pada pandangan pertama: “Cinta adalah subjek yang paling penting dalam sejarah manusia. Sebagian mengatakan kematian. Aku kira bukan itu, karena semuanya terhubung dengan cinta.” Meskipun terhadap kisah romantisnya sendiri dia memilih membisu. Dia mengatakan kepada penulis biografinya Gerald Martin “dengan ekspresi bagaikan seseorang yang dengan seriusnya menutup rapat peti mati dia mengatakan “setiap orang mempunyai tiga kehdupan: kehidupan publik, kehidupan pribadi, dan kehidupan rahasia.” Saat Martin bertanya apakah Marquez akan memberinya akses pada dua kehidupan lainnya, dia menjawab: “Tidak, tak akan pernah.” Bilamana kehidupan rahasianya dapat ditemukan, dia mengisyaratkan, mereka berada di dalam buku-bukunya.

Inilah mengapa pertemuan singkat yang tergambar dalam koleksinya Strange Pilgrims layak ditilik kembali. Cerita “Putri Tidur dan Pesawat Terbang” tentang sebuah pertemuan di Paris antara sang penulis dengan seorang perempuan Amerika Latin yang pada penghujung hari menjelma menjadi inspirasinya. Dimulai dengan deskripsi tak terlupakan berikut:

“Dia seorang yang cantik dan luwes dengan kulit indah sewarna roti dan bermata hijau serupa almon, dan dia memiliki rambut hitam lurus hingga mencapai bahu, dan sebuah aura antik yang mungkin saja berasal dari Indonesia atau dari Andean. Dia berpakaian dengan gaya yang halus: sebuah jaket lynx, blus sutra kasar dengan bunga-bunga indah, celana linen alami, dan sepatu dengan segaris berwarna bogenvil. Aku berpikir, ‘Ini adalah perempuan tercantik yang pernah kutemui, ’ketika aku melihatnya berlalu dengan langkah hati-hati serupa seekor singa betina selagi kumenunggu di antrian check-in bandara Charles de Gaulle di Paris untuk penerbangan ke New York.”

Saya ingat membaca paragraf ini di tahun 1992 ketika bukunya diterbitkan dan saya diterpa pikiran yang mungkin sama dengan banyak orang lainnya, bahwa saya pun tak akan keberatan bertemu dengan kessempurnaan ini. Diluar dari yang lainnya, dia adalah penjelmaan dari setiap pahlawan wanita Marquez, tipe yang independen, tajam, namun sebenarnya perempuan tak berdosa yang kita temukan menyelinap dalam setiap karya fiksinya, bahkan dalam lembar-lembar novel terakhirnya Memories of My Melancholy Whores.

Lalu, pada musim panas tak lama setelah kematian Marquez, saya menerima sebuah surel dari seorang wanita yang tinggal di London. Dia tahu bahwa saya penggemar Marquez- dia telah membaca catatan pembuka yang saya tulis untuk Love in the Time of Cholera. Dia ingin menceritakan kepada saya tentang satu hari yang dia habiskan bersama sang pengarang dari Kolombia itu pada tahun 1990 di bandara Charles de Gaulle: Pengalaman yang dia percaya telah mengilhami kisahnya “Putri Tidur dan Pesawat Terbang”.

Pada musim semi tahun 1990, Marquez yang berusia 63 tahun kembali ke Paris setelah lama menghilang. Dia telah mengerjakan kumpulan cerita pendek yang berlatar di Eropa sejak tahun 1976 tentang hal-hal aneh yang menimpa orang-orang Amerika Latin disana-yang menjadi satu-satunya buku karangannya yang tidak berlatar Amerika Latin.

Ide ini bermula dari sebuah mimpi yang ia dapatkan di Barcelona pada tahun 1970an dimana dia menghadiri pemakamannya sendiri.

Itu adalah kesempatan yang indah, dia menghabiskan waktu dengan teman-teman yang tidak pernah dia temui selama 15 tahun, tetapi saat semuanya hendak beranjak pergi, dia diberitahu bahwa hanya dialah satu-satunya orang yang tidak boleh pergi.

Kisah ini mengeksplorasi tema penting lain dari karya-karya fiksi Marquez-yang liyan dalam diri kita sendiri- dan dia bermaksud menjadikannya bagian ketiga dari Strange Pilgrims. Dalam setiap kesempatan, dia tak pernah menulisnya, dan tempatnya akan digantikan dengan “Putri Tidur dan Pesawat Terbang.”

Marquez menorehkan mimpi di Barcelona dan beberapa ide lainnya dalam buku catatan anak-anaknya selama masa 1976 sampai dengan tahun 1982, saat dia berjanji untuk tidak menerbitkan apapun sebelum Pinochet jatuh dari kekuasaan, dan kini setelah sekian lama bermain-main dan menderita karena “keraguan selama sebelas tahun…Aku ingin memverifikasi ketepatan dari ingatanku setelah 20 tahun dan aku melakukan perjalanan singkat untuk membiasakan lagi diriku dengan Barcelona, Jenewa, Roma, dan Paris.”

Pada penghujung perjalanan itu di awal Oktober 1990, dia sedang menunggu di bandara Charles de Gaulle untuk terbang ke New York ketika seorang perempuan Brazil yang menggairahkan berusia 26 tahun duduk di sebelahnya.

Silvana de Faria photographed at home in London/ Rick Pushinsky/ Newsweek

Bertemu Sang Putri Tidur

Perempuan yang datang terlambat hari ini di sebuah kafe di gerbang Notting Hale adalah seorang nenek berusia 50 tahun yang tinggal di London. Dari dalam tas tangannya Silvana de Faria mengeluarkan sebuah paspor dan gambar-gambar dirinya di majalah-majalah Prancis, sepenuhnya menyanjungkan deskripsi kecantikan dirinya. Dia mengatakan “Pada saat itu aku seorang aktris”, “Aku adalah ratu kejanggalan, dan salah satunya saat bersama dia.”

De Faria saat itu hidup tak bahagia di dekat Paris dengan seorang sutradara film Prancis, Gilles Behat yang dengannya dia mempunya seorang anak perempuan berusia 7 bulan. Behat ternyata menyadari bahwa De Faria sangat tidak bahagia sehingga dia membiayai kedua orangtuanya untuk datang berkunjung dari Belem.  Pukul 9 pagi perempuan itu tiba di bandara untuk menunggu penerbangan dari Brazil.

Saat itu bulan terasa dingin pada pagi di bulan Oktober dan perempuan itu telah kehilangan berat badan paska kehamilannya. “Aku sangat kurus saat itu- 126 pon-dan aku khawatir dengan caraku berpakaian. Ibuku selalu mengkritikku karena bergaya terlalu provokatif… Itulah mengapa aku mengingat apa yang aku kenakan hari itu. Aku mengenakan sebuah jaket kulit, sebuah blus Kenzo berbunga-bunga, celana linen yang pucat, dan sepatu Kenzo berwarna merah dengan hak tipis-beberapa waktu kemudian aku memberikan semuanya ke lembaga amal Oxfam.

Tidak seperti biasanya, saat itu De Faria datang tepat waktu.  Dia berkata, “Aku berlari dan pergi menuju loket Air France untuk menanyakan penerbangannya.” Sebagaimana di dalam cerita, penerbangannya mengalami penundaan disebabkan cuaca buruk.

“Sekarang aku bisa santai. Baru kemudian aku sadar bandara itu penuh dengan manusia. Banyak yang tidur di atas lantai. Tidak ada tempat duduk dimana-mana- hanya ada satu dan aku duduk di atasnya. Aku bersyukur, aku menemukan satu-satunya tempat duduk di bandara!”.

Saat itulah perempuan itu menyadari seorang laki-laki yang duduk disebelahnya, berusia sekitar 60 tahun, penampilannya menarik, elegan dalam balutan jaket wol, dengan rambut dan kumis yang tersisir rapi.

“Laki-laki itu berkata, ‘Hallo’. Dia memiliki senyum yang sangat indah. Aku terobsesi dengan gigi. Hal pertama yang aku lihat adalah giginya. Giginya putih dan sempurna. Aku dapat mencium nafasnya yang segar karena tempat duduk kami berdekatan.”

“’Hai,’ Aku menjawab.

“Dia melihat ke arahku, mempesona, malu-malu, dan menggoda. ‘Apa kau menunggu untuk perjalanan?’ dia bertanya dalam bahasa Prancis.

“‘Tidak, aku sedang menunggu orangtuaku.’

“‘Darimana kau berasal?’

“‘Acre di Brazil.

“‘Apakah itu dekat dengan Andes?’

“‘Tidak, itu di Amazon.’

“Dia sangat tersentuh bertemu dengan seorang asli Amerika Latin di Paris, yang lahir di hutan Amazon. Aku mengatakan: ‘Jika kau lahir di hutan, kau dapat bertahan dimanapun. Hidup di kota modern hanyalah jenis lain dari hutan.’ Lalu aku berkata: ‘Dan kau, apakah kau akan melakukan perjalanan atau kau sedang menunggu seseorang?’

“Dia tidak menjawab dan aku menghargai itu. Aku berpikir: Dia orang yang privat.

Bagaimanapun, perempuan itu memintanya untuk menjaga tasnya sementara dia membeli air mineral. “Saat aku kembali, aku menenggak sebuah pil, dan aku berkelakar bahwa aku seperti Elvis Presley dan aku menunjukkan pil-pilku, berkata betapa indah dan berwarnanya mereka adalah….. Pil untuk tidur, pil untuk terjaga, pil penghilang berat badan, pil untuk menaikkan berat badan, pil untuk bercinta, pil agar buang air besar, pil agar tidak buang air besar.

Dia tersenyum, “‘Mengapa begitu banyak?’

“Aku menceritakan padanya tentang sebuah kecelakaan mobil dimana aku hampir terbunuh, dan bagaimana dokterku memberikan obat-obatan untuk ‘menenangkanku’ dan bagaimana aku menjadi kecanduan, tapi aku hendak berhenti meminum pil-pilku karena orangtuaku datang untuk tinggal bersamaku. Lalu dia bertanya kenapa aku tinggal di Paris. Aku menjawab, ‘Kami orang Amerika Latin hanya bisa tinggal di Prancis ketika kami jatuh cinta.’

“‘Jatuh cinta pada Prancis?’

“Bukan, cinta pada pandangan pertama. Aku percaya itulah satu-satunya cinta yang ada.’ Inilah yang dia tulis di dalam cerita! Dia menghisap kata-kataku. [Di dalam cerita Marquez bertanya kepada petugas check-in “apakah dia percaya pada cinta pada pandangan pertama.”] Saat aku membacanya, aku bergidik. ‘Kau tidak orisinil. Kau sama saja dengan semua penulis. Kau adalah seorang vampir!’

“Dia menanyakan apa pekerjaanku. Aku sadar bahwa dia memandangi rambutku, wajahku, tangan-tangan, dan tubuhku. Kukira dia akan mencoba membawaku makan malam dan ke tempat tidur. Aku sangat mencurigai laki-laki. Kau minum kopi bersama, lalu mereka berkata bahwa dia jatuh cinta padamu. Bagaimana kau bisa jatuh cinta padaku jika kita hanya sebatas meminum kopi?

“Aku katakan padanya: Kau pikir hanya karena aku seorang Brazil, aku adalah seorang pelacur di Bois de Bologne’- Aku paranoid tentang hal semacam ini karena pada waktu itu seseorang dari Brazil yang tinggal di Paris tidak mungkin seorang pelajar.

“‘Aku tidak mengatakan begitu!’

“Tapi kau memikirkannya. Aku bisa membaca pikiranmu.’“

Perempuan itu mengatakan padanya bahwa dia seorang aktris dan penyanyi, dan dia merasa dilema karena tidak menginginkan keduanya. “Aku ingin menjadi pelajar, tapi aku menemukan diriku di tengah-tengan bisnis pertunjukkan. Sesungguhnya aku tidak bisa bernyanyi, tapi orang-orang mengatakan aku bisa. Mereka berpikir aku aktris yang baik. Tapi aku bukan.”

Dia bertanya apakah perempuan itu mengenal Ruy Guerra, seorang sutradara Brazil.

Perempuan itu menjawab: “Aku baru saja menonton filmnya yang diambil dari cerita karangan Gabriel Garcia Marquez. “Judulnya The Beautiful Pigeon Fancier, salah satu dari tiga film dari karya Marquez. “Aku satu-satunya orang di ruangan bioskop saat itu, sangat mengejutkan, di dalam sebuah ruangan di Champs Elysees pukul 2 sore dan aku membencinya.’

“Dia mendengarkan dengan penuh perhatian dan terlihat sedikit tidak nyaman, dan aku tak tahu mengapa. Aku berkata: ‘Lihatlah, filmnya dibuat di Paraty, sebuah tempat yang aku kenal. Lagipula, tidak mungkin untuk mengadaptasi karya Gabriel Garicia Marquez ke dalam sebuah film. Itu akan membutuhkan kejeniusan lain. Maaf jika kau tidak setuju denganku.’ “

Ketertarikannya pada De Faria meningkat dengan cepat. Perempuan itu berkata: “Awalnya aku mengira dia berpikir bahwa aku gila. Lalu dia ingin tahu darimana aku berasal, tentang keluargaku, dan aku menceritakan semua omong kosong yang ingin dia dengar.”

Silvana yang Sesungguhnya

Di dalam cerita Marquez tidak ada percakapan antara dirinya dan perempuan muda berciri khas Andean kuno itu, yang berpakaian bergaya Jepang dan tentang obat-obatan yang dia minum untuk membuatnya tertidur, dan yang ternyata akan menduduki kursi disebelahnya dalam delapan jam penerbangan sebelum perempuan itu menghilang di belantara New York.

Namun, dalam dimensi lain Marquez tahu semuanya tentang perempuan itu karena sebelum penerbangannya dari pukul 9 pagi hingga pukul 4 sore mereka berbicara tanpa henti, “tetap menjaga kontak mata”, perempuan itu mengatakan, “yang mana penting bagiku.” Dan apa yang Silvana de Faria ungkapkan padanya selama itu, tanpa menyadari identitas sang pengarang hingga saat-saat terakhir adalah sebuah jaring yang memaksanya menulis tentang perempuan itu.

“Kupikir alasan mengapa dia dan aku menjadi banyak berbicara dan menjadi ‘dekat’ hari itu karena aku memberikan semua yang dia inginkan. Aku menjawab semua pertanyaan. Tanpa batasan.’

Perempuan itu lahir di Rio Branco, Acre, dia anak bungsu dari 10 bersaudara. Keluarga dari kedua orangtuanya berprofesi sebagai penanam karet. “Mereka menjadi kaya, kaya hingga mati. Pakaian mereka dicuci di Eropa karena sungainya terlalu gelap.”

Impiannya sejak berusia 7 tahun adalah pergi ke Paris. “Aku sadar satu-satunya jalan menuju Paris adalah melalui udara. Aku belajar tentang hukum di Belem dan kemudian mencari pekerjaan. Aku mendapatkan pekerjaan di Varig, sebuah kantor penerbangan. Di penghujung tahun aku dapat membeli tiket seharga 10 persen dari harga aslinya. Lalu suatu hari aku mendapat telepon, ‘Aku adalah sekretarisnya John Boorman.’

“Siapa dia?”

“‘Dia seorang sutradara film yang sangat terkenal. Asistennya datang untuk membeli tiket padamu. Dia sedang mencari perempuan dengan wajah sepertimu.’ Dia sedang melakukan pengambilan gambar The Emerald Forest. Tapi pada hari terakhir dia berubah pikiran dan mengambil gadis lain, dan aku membenci gadis ini hingga akhir hidupku, hingga aku mempunyai oksigen. Aku tidak ingin menjadi aktris. Aku mengiginkan uang. Aku menangis.

“John Boorman mengatakan: Kenapa kau menginginkan peran ini?’ ‘Karena aku ingin pergi ke Paris.’ ‘Mengapa?’ ‘Untuk belajar.’ ‘Baiklah, aku akan memberikanmu peran kecil di film ini.’ Aku berada di dalam film itu selama sekejap saja, seorang ibu tulen dengan bayinya. Pada 11 Juli 1984 filmnya selesai. Pada 14 Juli 1984 hari dimana revolusi Prancis terjadi aku menginjakkan kakiku di Paris, Vive la revolution!”

Mendapatkan kursi di Sorborne untuk belajar sejarah De Faria menjadi model untuk membiayai hidupnya. Suatu hari dia ditemukan oleh pencari bakat untuk Yves Saint Laurent-dia mempunyai tampilan yang pas untuk penjualan ke Jepang. Apakah dia bisa bernyanyi? “Seperti panci penekan,” perempuan itu menjawab. Dia diundang untuk mengikuti audisi dengan ratusan orang lainnya. “Aku berhasil! Tapi aku bukan seorang penyanyi! Aku melakukan rekaman untuk Coeur Bongo. Kau bisa menontonnya di Youtube.” Direkam pada tahun 1988, Couer Bongo menampilkan De Faria sebagai singa betina kecil dalam cerita Marquez. Dia menandatangani kontrak untuk membuat lima album pop, dilatih untuk berakting, dan berhenti kuliah.

“Aku tidak pernah lulus dari Sorbornne. Itu adalah hal yang menyakitkan dalam hidupku.”

Ditambah dia bertemu Giles Behat. Sutradara film itu mendatangi mobil manajernya dimana dia duduk untuk mendengarkan sebuah soundtrack. “Kami memandang satu sama lain dan kami jatuh cinta. Cinta pada pandangan pertama!”

Hubungan mereka dipenuhi dengan kekerasan dan gairah. “Kami bertengkar parah karena cemburu.” Setelah dua tahun mereka pindah ke rumah yang lebih besar di Richarville sekitar 25 mil dari Paris dengan 12 anjing dan seekor burung beo karena De Faria merindukan Amazon. “Dia memberiku seekor burung beo dan menamainya-Antoine. Teman-temanku mengatakan: ‘Burung beo bukanlah Amazon, beo itu adalah kau. Kau tinggal di dalam sangkar.’ Itulah saat aku mulai bermain dengan obat-obatan.”

Perempuan itu menceritakan semua hal ini kepada Marquez.

Cinta pada Pandangan Pertama

“Setelah satu atau dua jam terasa seperti kami berada di sekolah dasar bersama, mencampurkan Portugis dengan Prancis dan Spanyol. Kami bercengkrama, membuat lelucon, tertawa. Saat itu aku tidak melihat seorang laki-laki tua.”

Bagi Marquez ini terlihat dalam tulisannya kemudian-“dalam delapan bulan yang menggetarkan…untuk menyelesaikan satu volume cerita yang paling mendekati dengan apa yang paling ingin kutulis”-dia melihat, seperti yang ditulisnya, “perempuan tercantik yang pernah kutemui’.

De Faria mengatakan, “Aku terkejut dan aku masih terus terkejut bahwa aku dapat mengingat percakapan kami.”

Cinta pada pandangan pertama, gairah, dan kebetulan-kebetulan, bioskop, nilai-nilai keluarga, Paris, bahkan zodiak-dalam tujuh jam, itu menjangkau seluruhnya. “Aku katakan padanya aku berbintang Leo dengan pengaruh Taurus. Itulah mengapa aku cukup kuat untuk berjuang hidup di Paris. Dia mengatakan terkadang dia berharap bahwa dia berbintang Taurus. Dan dia mengatakan itu di dalam ceritanya!” [“Sial,” Aku katakan pada diriku sendiri dengan penuh kehinaan. “Kenapa aku tak terlahir Taurus?”] Dia sendiri berbintang Pisces. “Aku mengatakan Pisces selalu bermimpi, selalu dalam suasana imaginasi, selalu berenang-dan aku membuat mulut menyerupai ikan yang membuatnya tertawa.”

Saat itu pukul 4 sore, “Aku merasa khawatir dengan penerbangan orangtuaku. Bagaimana jika pesawatnya menghilang? Kami mulai berbicara tentang kematian, tentang orang-orang yang sudah mati.

“Dia bertanya: ‘Apa yang kau pikirkan akan terjadi ketika kau mati?’

“‘Aku akan menjadi hantu, bebas, dan aku akan datang dan menakutimu. Tapi kenapa sejak awal kau hanya bertanya tentangku?’

“Dia mengatakan: ‘Apa yang kau pikirkan tentangku, dan kenapa aku bepergian?’

“‘Setahuku kau tengah berjalan-jalan ditubuhku, tapi aku tidak tahu dimana kau akan berhenti.’ Dia tertawa: ‘Aku terkejut dengan ketulusan yang datang dari mulutmu!’

Aku mengatakan, “Setidaknya aku tidak takut pada kata-kata’

“‘Aku seorang jurnalis.’

“‘Surat kabar yang mana?’

“‘Aku tidak bekerja untuk surat kabar.’“

Itulah saat De Faria menyadari tentang siapa dia. “Aku memandangnya dan berteriak, aku mengatakan: ‘Aku tahu siapa kau. Kau adalah Gabriel Garcia Marquez! Ibuku memberiku Love in The Time of Cholera, dan ada gambarmu disana! Kenapa kau tidak mengatakan itu adalah kau?’

“’Bagaimana gambarnya?’

“’ Laki-laki! Kalian semua sama. Semuanya adalah kesombongan.’

“Aku merasa malu dan sedih dan terkhianati. Aku sadar itulah mengapa dia tidak ingin berbicara tentang dirinya-karena dia tidak mengatakan satu patah kata pun, bahkan ketika kami berbicara tentang Ruy Guerra dan filmnya. Dia tidak mengatakan, ‘Aku menulis cerita dan naskahnya.’ Aku merasa bingung dan ingin pergi.

Pesawatnya telah mendarat, orangtuaku tiba. ‘Aku harus pergi.’ Tetapi dia menangkap lenganku dengan kuat dan menghentikanku. Dia meminta Filofax ku dan menulis di dalamnya.

“’Untukmu, aku Gabo. Ini alamat dan telepon, dan fax ku.’”

Perempuan itu memancing sebuah lembaran dari dalam tasnya dan disana dalam tinta merah: GABO. MEX. Fax 5686043 Tel 5682947. Ap Postal 20736. Mexico, 01000

“Dia mengatakan: “Kirimi aku surat,’ sambil melihat langsung kemataku.

“’Aku harus pergi!’

“Kau akan mengirimkannya kan?” Kemudian berkata: ‘Aku bahkan tak tahu siapa namamu!’

“’Apakah kau memberi tahu namamu? Kita menghabiskan sepanjang waktu ini bersama, kita kenal satu sama lain-dan kita tidak tahu nama masing-masing.’ Dan aku pergi.”

Setelah itu, De Faria mengatakan, dia langsung melupakannya. “Aku kehilangan kepercayaan dalam cara tertentu. Aku tidak pernah membaca bukunya lagi. Aku tidak pernah berhasrat untuk menelponnya atau menyuratinya.

“Lalu ketika dia meninggal, Aku menemukan cerita tentang bandara ini.”

“Dan saat kau membacanya?”, aku bertanya.

“Aku merasakan intonasi dan suaranya. Aku mempunyai perasaan bahwa dia melihat ke arahku, menatap. Aku merasakannya untuk beberapa menit, dia memberiku sebuah pesan.” (*)


Diterjemahkan oleh Marlina Sopiana, dieditori Sabiq Carebesth dari “Gabriel García Márquez’s Secret Muse Finally Reveals Herself” By Nicholas Shakespeare. Pertama kali tayang di laman newseek.

 

Written by

Marlina Sopiana is a philosophy graduate. Loves to write very short stories. Enjoy any kind of literature and find amusement in reading. Associate Editors Galeri Buku Jakarta. Social media twitter only @marlinnfish

No comments

LEAVE A COMMENT