Connect with us

Interview

Haruki Murakami tentang Bagaimana Memori Dapat Memantik Sebuah Cerita

mm

Published

on

Saya cenderung tertarik pada hal-hal yang hilang. Kau menemukan sesuatu hilang, secara tiba-tiba, ketika kau tidak menduganya-seperti, kau berjalan melintasi ladang dan jatuh ke dalam sebuah sumur kering. Saya tidak tahu mengapa, tapi saya tertarik pada situasi semacam itu.

By Deborah Treisman/ The New Yorker | (p) Marlina Sopiana (ed) Sabiq Carebesth


Haruki Murakami, Sastrawan Jepang kelahiran 1964 ini namanya menjadi salah satu paling sering dijagokan menjadi penerima Nobel Sastra. Meski kesempatan mewah tersebut belum kunjung hadir padanya, pembaca setianya seakan tak peduli lagi apakah dia menerima penghargaan sastra tersebut atau tidak. Apa boleh dikata kalau sudah jatuh cinta, karya Murakami memang salah satu paling menakjubkan. Dapurnya sederhana, kenyataan bahwa Murakami tak memiliki aturan khusus dalam dapur produksi menulisnya adalah salah satu rahasia penting untuk dipelajari. Meski tanpa aturan khusus, bukan berarti dia bekerja dengan sembarangan. 

Karyamu dalam terbitan minggu ini, “With the Beatles.” berkisah tentang seorang pria yang mengenang dua gadis dari masa sekolahnya, satu gadis yang hanya ia temui satu kali dalam sekilas pandang, dan gadis lainnya adalah benar-benar kekasih pertamanya. Ia mengenang yang pertama sebagai sebuah jalan membangkitkan gairah-cara gadis itu memeluk sebuah rekaman Beatles LP di dadanya “seolah rekaman itu adalah benda yang sangat berharga.” Ia mengenang yang lainnya sebagai gadis yang “manis,” namun, meski mereka berkencan selama beberapa tahun, gadis itu tidak pernah menjadi pilihannya. Mengapa kau pikir gadis pertama, yang hanya dilihatnya satu kali, sangat membekas, dan tidak untuk gadis yang ia kenal bertahun-tahun?

Bagi naratornya, gadis pertama itu, yang hanya ia temui satu kali di lorong sekolah, merupakan sejenis simbol. Dalam hal ini, simbol akan kerinduan atas sesuatu. Dia sangat mirip dengan simbol yang muncul pada permulaan cerita “My Lost City” karya F. Scott Fitzgerald yang dinamainya “the girl.”

Sejujurnya, saya memiliki memori yang hampir serupa. Saat saya di sekolah menengah atas, saya berpapasan dengan seorang gadis di lorong sekolah, gadis yang namanya tidak saya ketahui, gadis itu memegang erat sebuah rekaman “With the Beatles” seolah itu merupakan benda berharga. Pemandangan itu tertoreh di kepala saya dan bagi saya, mejadi simbol masa remaja. Terkadang, kepingan memori seperti itu bisa menjadi pemantik yang akan mewujudkan sebuah cerita.

Akan tetapi, realitas yang kita hadapi berbeda dengan simbol. Dan terkadang tidak ada yang bisa menjembatani antara keduanya-antara simbol dan realitas. Cerita ini tentu saja sebuah fiksi, tapi saya kira hampir semua orang pernah mengalami hal yang serupa.

Yang menjadi pusat dalam ceritanya adalah jam-jam yang dihabiskan sang narator dengan kakak laki-laki dari kekasihnya. Kakak laki-laki dari gadis itu menceritakan pada sang narator bahwa ia mengidap penyakit yang menyebabkan kehilangan memori total. Bagaimana bisa ide tentang waktu yang hilang-tentang bagian kehidupan sang kakak laki-laki yang lenyap, seolah dia melompat dari bagian tengah simfoni Mozart movement ke-2 ke bagian tengah movement ke-3 -menghubungkan keseluruhan ceritanya?

Sang narator tidak benar-benar tahu apakah yang diceritakan kakak dari kekasihnya itu hal yang nyata, atau bagaimana dia harus menanggapinya secara serius. Namun, anehnya, dia seperti tersedot ke arah sang kakak, dan hal yang sama terjadi pada penulisnya. Dalam fiksi, kau membutuhkan pihak ketiga yang secara aneh menarikmu ke arahnya. Sang kakak merupakan karakter pendukung, tapi saya juga mendapat kesan seolah dia lah sang tokoh utama yang memainkan plotnya. (Tentu saja ini sepenuhnya kesan yang saya alami sendiri.)

Ketika bersama dengan tokoh kakak dari kekasihnya, sang narator membacakan keras-keras satu bagian dari cerita “Spinning Gears,” karya Akutagawa, sebuah cerita yang ditulis sesaat sebelum Akutagawa melakukan bunuh diri. Di akhir cerita (awas spoiler!), kekasihnya lah, bukan sang kakak, yang melakukan bunuh diri. Apakah kau sudah memikirkan akhir gadis itu saat kau mulai menullis ceritanya?

Ceritanya tak pernah menjelaskan mengapa Sayako bunuh diri. Saya kira tak ada yang akan benar-benar tahu apa yang menjadi alasannya. Bahkan saya, penulisnya, tidak tahu. Biasanya, kegelapan yang orang-orang miliki dalam dirinya tidak tampak. Kegelapan itu memuncak di saat yang tidak kau duga, dalam bentuk dan di tempat yang tidak bisa kau antisipasi, dan dalam banyak kasus, saat hal itu menjadi tampak nyata, sudah terlambat untuk memperbaikinya.

Kakak laki-laki Sayoko (mungkin) berhasil melalui krisis semacam itu dalam hidupnya, tetapi Sayoko tidak. Atau mungkin saja, semakin sang kakak membaik, semakin memburuk keadaan Sayoko. Bertahun-tahun kemudian, sang narator hanya mengetahui hasil akhir dari kejadian-kejadian ini. Dapatkah seseorang menyelamatkan Sayoko? Tidak ada yang bisa menjawab. Yang bisa kita lakukan hanyalah menyelamatkan orang-orang di sini dan di masa ini.

Sang narator mengaku bahwa ia tak pernah benar-benar tertarik pada the Beatles. Karya musik mereka hanya serupa wallpaper yang mengiringi masa mudanya, dan ia tak benar-benar berusaha untuk menikmatinya. Apakah kau memilki perasaan yang sama dengan sang narator?

Saya sangatlah tinggi hati ketika remaja, dan saya sangat menggilai jazz dan musik klasik. Benar adanya bahwa karya the Beatles bisa dikatakan musik penghias. Saya seringkali mendengar lagu-lagu mereka di radio tapi selalu seperti setengah mendengarkan. Dan saya tak membeli rekaman mereka. Tidak sampai saya tinggal di sebuah pulau di Yunani di tahun 1980’an, saat saya pergi menuju pantai dan mendengarkan White Album dari awal hingga akhir dari Walkman saya. Saya mendengarnya berulang-ulang dan terpana akan musiknya untuk pertama kali.

Dalam karya terakhirmu yang diterbitkan di majalah ini, “Cream,” seorang gadis mengundang anak laki-laki ke sebuah resital piano. Ketika ia tiba, tidak ada tanda-tanda dilaksanakannya sebuah resital dan tidak ada penampakan dari gadis tersebut. Dalam “With the Beatles,” kekasih sang narator mengundangnya untuk datang ke rumah, dan, ketika sang narator tiba, gadis itu lenyap. Apa yang membuat skenario semacam ini menarik bagimu sebagai seorang penulis?

Saya cenderung tertarik pada hal-hal yang hilang. Kau menemukan sesuatu hilang, secara tiba-tiba, ketika kau tidak menduganya-seperti, kau berjalan melintasi ladang dan jatuh ke dalam sebuah sumur kering. Saya tidak tahu mengapa, tapi saya tertarik pada situasi semacam itu. Sesuatu yang seharusnya ada di sana, tak ada, seseorang yang seharusnya berada di sana, tak ada. Dan saat itulah ceritanya dimulai. (*)

*) Jawaban Haruki Murakami diterjemahkan dari bahas Jepang oleh Philip Gabriel.

Continue Reading
Advertisement

Interview

Orhan Pamuk tentang “A Strangeness in My Mind”

mm

Published

on

Interview by Richard Abowitz | (p) Widhi (ed) Sabiq Carebesth | dari https://thesmartset.com

Orhan Pamuk adalah salah satu novelis paling terkenal di dunia. Peraih Nobel Kesusastraan yang berfokus pada kehidupan, masa, dan orang-orang dari Istanbul. Novel terakhirnya, A Strangeness in My Mind, telah memasuki masa penulisan tahun keenam yang menggambarkan tentang kehidupan salah seorang penjual keliling di sebuah kota (di Istanbul). Richard Abowitz, Editor utama “The Smart Set”—majalah yang terbit dengan dukungan dari Drexel University, Philadelphia, menghubungi Pamuk melalui telepon di New York tampatnya mengajar di Columbia University.

INTERVIEWER

Judul Novel Anda, A Strangeness in My Mind, datang dari, tentu saja, syair Wordsworth—pekerjaan besar-besaran, The Prelude—tapi aku terhenyak dari caramu melihat itu, karena, kau tahu, kita berpikir bahwa Wordsworth sebagai penyair yang mencintai alam dan ketika ia hidup dalam masa sebelum revolusi industri, dia bukan benar-benar penggemar tentang hal yang ia lihat akan segera datang. Kau melihatnya, dalam buku barumu: “Di sebuah kota, kau bisa saja sendirian di tengah keramaian, dan pada faktanya yang membuat sebuah kota menjadi kota ialah karena hal itu mengizinkanmu untuk menyembunyikan keanehan pikiranmu yang rumit tentang banyak hal.” Bagaimana pendapatmu tentang penerapan Wordsworth pada sebuah kota dan sebagai judul untuk bukumu?

ORHAN PAMUK


“A Strangeness in My Mind” merupakan salah satu novel dengan proposisi yang epik, inilah karya terbaik Orhan Pamuk. “Keanehan” tentang novel ini adalah lewat kemegahan cakupan kecerdikan literarinya, tak ada hal signifikan yang terjadi. Akan tetapi ia tetap mengundangmu masuk dan menyenangkanmu, layaknya hal yang hanya dapat diberikan oleh buku bagus.Karakter utama dalam buku ini adalah Mevlut, seorang penjual “Boza” miskin di jalanan Istanbul. Berusaha untuk beradaptasi dengan kota yang berubah cepat Mevlut terus berharap hari esok yang lebih baik bahkan dalam setiap kegagalannya. Buku ini memotret harapan-harapan, aspirasi dan kegagalannya dengan indah. Kecintaannya pada kota itu hampir seperti autobiografi dari sang penulis. Jika kau menyukai “Istanbul” karya Pamuk, maka buku cocok untukmu. Perlahan-lahan kau akan mulai jatuh cinta pada kota tua yang megah ini. Pokok novel ini adalah sebuah kisah cinta. Tentang Mevlut dan istrinya Rayiha. Tentang Mevlut dan pekerjaannya. Tentang Mevlut dan kotanya.
Seorang lelaki dengan berani mempertahankan keahlian menjual Boza yang hampir hilang. Seorang lelaki yang mencintai istrinya hingga hari akhir. Seorang lelaki yang menemukan kotanya lewat seluruh kegembiraan dan kesengsaraan hidupnya.

Hal yang sangat menyenangkan tentang persajakan dan kesusastraan adalah bahwa kita tidak hanya membacanya dalam konteks yang tertulis. Wordsworth dan teman-temannya membuat apa yang kita sebut secara berelebihan sebagai “sajak romantis”. Jika yang kita maksud adalah imajinasi—kapasitas untuk melihat hal yang aneh yang berarti lebih dari jasmani—melampaui apa yang diberikan pada kita, melampaui realitas saat ini, aku setuju dengan Wordsworth. Sebenarnya, karakterku, Mevlut Karatas, bukanlah anak yang kaya, melainkan seorang penjual keliling yang menjajakan boza, minuman fermentasi khas Ottoman, di jalan-jalan Istanbul antara tahun 1970 dan hari ini, tapi imajinasinya tajam. Aku memerlukan waktu enam tahun untuk membentuk kemanusiaan dari seorang tokoh kelas menengah ke bawah yang memiliki imajinasi yang sangat bagus. Meskipun dari kelas dan budaya semacam itu karakterku tidak menyerupaiku, namun dia memiliki sebagian dari imaji dan pemikiranku. Saat masa kecilku, bahkan saat usia awal 20-an, teman-temanku sering memberi tahuku, “Orhan, kau memiliki pemikiran yang aneh.” Kemudian, beberapa tahun setelahnya, ketika aku sedang membaca karya Wordsworth, aku tiba pada sebuah kesadaran dan aku berkata pada diriku sendiri, “Suatu hari nanti, aku akan menulis sebuah novel yang berjudul A Strangeness in My Mind.” Bertahun-tahun kemudian, aku menulis Mevlut Karatas, tokoh kelas menengah ke bawah yang aku kenal sebaik mungkin, yang berhak sedikit menerima, dan juga untuk berbicara. Kedua hal itu menyinggung imajinasi tokoh dan juga kota tempatnya berjalan, bekerja, mengulang hal itu sebagai keseharian; bekerja, berjalan, berjalan, bekerja, setiap waktu.

INTERVIEWER

Aku berpikir tentang Dickens atau aku berpikir tentang Horatio Alger Jr., ketika kau bertemu dengan penjual keliling yang miskin dan kau berharap agar dia membangkitkan dunia—bildungsroman, sebuah novel coming-of-age. Penjual kelilingmu tidak memiliki kesungguhan akan hal itu; itu bukan tentang cerita mengenai peningkatan ekonominya yang mungkin diinginkan pembaca.

ORHAN PAMUK

A Strangeness in My Mind dengan sengaja tokoh Dickensian, tetapi tidak melodramatis. Aku mencintai Dickens. Aku menyukai bahasa dan humornya, namun kemudian aku tidak suka melodrama, dan sesekali aku juga kecewa dari caranya membuat tokoh-tokohnya jenaka dengan membuatnya aliteratif dan berat sebelah. Novel Dickensian atau yang lebih menyerupai novel picaresque yang dalam catatan sejarahnya: berbagai petualangan, Mevlut ikut kemiliteran, Mevlut sekolah di sekolah menengah atas, Mevlut menjual yogurt, Mevlut menjual nasi dan ayam di jalanan. Dari sudut pandang lain, ini bukan tentang cerita Mevlut yang mempelajari sesuatu dari beberapa pengalaman dan ini merupakan akhir dari pendewasaannya. Ini bukanlah novel bildungsroman seperti itu. Ini adalah novel yang epic dengan tokoh protagonisnya yang sibuk membawa kita ke berbagai sudut Istanbul. Dengan suatu cara, sisi petualangnya menunjukkan perkembangan kota tersebut pada kita. Modernitas datang dan mengubah banyak hal dalam keseharian orang-orang yang tinggal di Istanbul. Maksudnya di sini ialah untuk melihat secara menyeluruh, perubahan komplet yang terjadi pada kotanya. Bukan perubahan politik yang besar, melainkan perubahan kecil pada hal-hal yang lebih mendetail: pola makan, pola kerja, cara komunikasi, cara berjalan di jalanan, cara melihat-lihat di toko—hal kecil yang mengangkat perubahan besar pada waktu kita dalam sebuah kota, di mana seumur hidupku, aku tumbuh dari sejuta menjadi lima belas juta.

Mevlut tidak memiliki gagasan politik yang kuat karena ia dekat dengan sepupu sayap ultrakanan, dekat dengan temannya, Ferhat, yang seorang kiri dan Shia loyal, dan ia juga bergaul dengan seorang darwis modern, sufi, dan syekh. Dari semua hal tersebut, ia selalu mendapat beberapa nasihat, bantuan finansial, dan juga beberapa kebijaksanaan, sementara ia tidak mendebat atau terikat secara ideologi. Mevlut tidak memiliki opini politik yang kuat karena ia ingin bertahan hidup di kota yang mempunyai garis divisive yang kuat, tetapi di samping itu, fakta bahwa ia tidak memiliki pendapat, pandangan politik, dan ikatan moral yang kuat, membuatnya lebih mudah untuk mengarahkan antara lingkaran-lingkaran ini dan poin-poin kepentingan lain di Istanbul.

INTERVIEWER

Hal yang luar biasa untuk melihat bagaimana perjalanan hidup seorang penjual keliling di Istanbul saling silang dengan sejarah dan politik, meski seperti yang kau bilang, ia bukan merupakan orang yang istimewa dalam politik. Meski bersekolah, rambutnya dipotong karena darurat militer.

ORHAN PAMUK

Terima kasih telah mengatakan demikian, tetapi aktivitas Melvut, pada akhirnya, tidak mengubah sejarah. Dia, dalam pengertian itu, setiap orang, dan dalam novel ini aku ingin menulis cerita dari setiap orang. Kau tahu, aku mengajar Art of the Novel di Columbia University, dan hal pertama yang kita perhatikan adalah jika kau melihat sejarah pada novel, bahwa semua cerita, bahkan yang paling politis sekalipun, telah dikatakan oleh kelas menengah, kelas menengah ke atas, atau bahkan tokoh aristokrat. Dari Steinbeck hingga Garcia Marquez, dari Zola hingga penulis realis, kelas yang lebih rendah digambarkan dalam novel, tapi mereka selalu dianggap sebagai kelas menengah atau kelas menengah atas atau bahkan kalangan aristokrat, seperti dalam Anna Karenina-nya Tolstoy.

Tantanganku dalam menulis novel ini ialah saat membuat rasa kemanusiaan penuh pada Mevlut, dan sebab itulah aku memerlukan waktu enam tahun untuk novel ini—yaitu untuk membuatnya seperti seorang pahlawan Dostoyevsky atau pahlawan Tolstoy atau seorang yang menyerupai tokoh Proust yang berkembang sepenuhnya, tetapi juga tidak begitu penting dalam maksud juga dalam kata, karena kata “pahlawan” datang di akhir dari etika klasik yang kesemuanya itu berisi tentang prajurit hebat atau wanita yang luar biasa atau tokoh legenda sejarah.

Mevlut berada dalam diri semua orang, tetapi imajinasinya—“keanehan dalam pikiran”—setiap detail tentang hidupnya, kugaris bawahi, sangat menarik. Aku menulis novel ini untuk memberi tahu bahwa semua orang bisa berubah cukup menarik. Kelas menengah, kesalahan intelektual untuk membuat sebuah narasi yang terlalu dangkal, melodramatis, dan sentimentil.  Ini adalah seorang laki-laki biasa, sama seperti aku dan kalian, yang juga sangat miskin. Tinggalkan dia, dan kau akan menemukan hal yang menarik, barangkali aku berbisik pada diriku sendiri.

INTERVIEWER

Seperti yang kau katakana, kau menghabiskan waktu selama enam tahun untuk hal ini. Sepertinya aku tidak pernah membaca sebuah novel yang benar-benar seperti ini. Kau mempunyai orang bagian ketiga yang mengganggu dari suara yang berbeda—bukan suara yang sama, terkadang suara-suara yang tidak kau harapkan—muncul dalam orang pertama, berbicara sepanjang waktu. Bagaimana kamu muncul ide yang seperti itu?

ORHAN PAMUK

Seperti yang kau tahu, novel ini melibatkan seorang tokoh dari kelas bawah di Istanbul, dan aku seorang kelas menengah, kelas menengah atas. Aku telah melihat lingkungan gubuk Istanbul. Mereka lebih baik daripada katakanlah daerah kumuh di Brazil dan Bombay, tetapi pada akhirnya mereka terdiri atas gubuk-gubuk, dan aku sudah pernah melihat mereka di masa kecilku dari jauh. Aku tidak termasuk dalam budaya itu. Dari budaya dan kelas ekonomi, aku tidak dekat dengat Mevlut, itulah sebabnya aku melakukan banyak pembicaraan, wawancara, menjalin pertemanan dengan para penjual keliling agar bisa menulis novel ini.

Sebagai contoh, di masa kecilku pada tahun 50-an dan 60an di Istanbul, yogurt bukanlah produk dalam botol. Kemudian, yogurt mulai dikemas dalam botol. Begitu juga dengan boza, dan sekali hal itu terjadi, kau mulai kehilangan pekerjaanmu, maka aku ingin menulis cerita ini. Tetapi, sekali aku mulai berbicara dengan penjual keliling, kemudian aku mulai belajar tentang cara mereka dalam mendirikan rumah dengan tangan mereka sendiri di atas lahan resmi pemerintah pada tahun 50-an dan 60-an, bagaimana Istanbul berkembang, bagaimana populasinya meningkat, bagaimana penduduknya datang dari perdesaan miskin, bagaimana hubungan mereka dengan penduduk lokal, bagaimana mafia lokal atau organisasi setempat membantu membawa senjata, dan seterusnya.

Artikel lengkapnya akan terbit di majalah “Book Coffee and More” yang akan diterbitkan eksklusif oleh Galeri Buku Jakarta, Agustus 2020.

Aku mulai berbicara dengan banyak orang, bahkan pensiunan polisi, penipu, dan para penjahat. Aku memiliki banyak satu-lawan-satu informasi, dan aku merasa tidaklah cukup hanya menulis novel ini seperti John Steinbeck atau Emile Zola. Meskipun aku semakin menua, seorang posmodernis muda dalam diriku memberontak. Dia mengatakan, ‘Orhan, tolong wakilkan suara-suara yang kau rekam, yang kau ajak bicara, yang kau sukai.’ Maka aku memutuskan untuk sedikit bereksperimen, yang mungkin jadi kebiasaan buruk. Aku tidak memasukkan suara orang pertama tunggal dari orang-orang tersebut, tentu saja, aku mengubah mereka, membuat mereka, dan memutarbalikkan mereka.

Suatu hal yang aku mainkan dan kembangkan dalam novelku yang lain, My Name is Red, dengan orang-orang yang mengatakan cerita berdasarkan versi mereka, dan terkadang orang-orang pertama tunggal ini, yang kontradiktif satu sama lain, membuatnya tak dapat dipercaya. Aku suka ketika kritikus New York, James Wood, mengatakan bahwa kadang-kadang narator yang tidak bisa dipercaya itu dapat dipercaya tidak dapat dipercaya. Jadi, suara bantahan ini juga meminjamkan suasana pada novel dengan menemukan ruang dalam halaman-halaman buku yang terkadang tokohnya berdebat dengan suara lain. Terdapat jenis tiruan dalam proses pembuatan novel yang aku sukai. Mungkin aku senang karena posmodernis dalam diriku telah mati. Tetapi ia berhasil membuat novel ini, dan tidak membingungkan. Kau mengerti siapa yang berbicara, kapan dan bagaimana orang ini membuka narasi.

INTERVIEWER

Aku membaca bahwa kau menciptakan museum dalam buku terakhirmu. Hal itu membuatku penasaran bahwa jangan-jangan ini bermain di antara ranah fiksi/nonfiksi—dan kau mengatakan bahwa beberapa suara datang dari orang yang kau ajak bicara—merupakan hal yang menyenangkan bagimu…


*) The Smart Set
 is an online magazine covering culture and ideas, arts and science, global and national affairs- everything from literature to shopping, medicine to sports, philosophy to food. The Smart Set strives to present big ideas on the small, the not-so small, and the everyday.  The Smart Set is published and supported by the Pennoni Honors College at Drexel University.

Continue Reading

Interview

Virginia Woolf: Profesi Untuk Perempuan

mm

Published

on

Kesadaran atas apa yang akan dikatakan laki-laki tentang seorang perempuan yang bicara sejujurnya soal gairah telah membangunkannya dari keadaan tidak sadarkan dirinya sebagai seniman. Dia tidak bisa menulis lagi. Kesurupan telah berakhir. Imajinasinya tidak bisa bekerja lagi. Ini saya yakini sebagai pengalaman yang sangat umum terjadi pada penulis perempuan

From Professions for Women by Virginia Woolf | (p) Regina N. Helnaz (ed) Sabiq Carebesth

Begitu saya meletakkan pena di atas kertas, Anda tidak dapat mengulas sebuah novel tanpa memiliki pikiran Anda sendiri, tanpa mengungkapkan apa yang Anda pikir sebagai kebenaran tentang hubungan manusia, moralitas, seks. Dan semua pertanyaan ini, menurut Malaikat di Rumah, tidak dapat diselesaikan secara bebas dan terbuka oleh perempuan; perempuan haruslah memikat, mereka harus berdamai, mereka harus.. [j]adi, setiap kali saya merasakan bayangan sayapnya atau pancaran lingkaran cahayanya di atas halaman saya, saya mengambil bak tinta dan melemparkan benda itu ke arahnya. Dia mati dengan cara yang keras.

“Profesi untuk Para Perempuan” adalah versi singkat pidato Virginia Woolf yang disampaikan di depan cabang National Society for Women’s Service pada 21 Januari 1931; diterbitkan secara anumerta di The Death of the Moth dan Other Essays. Pada hari sebelum pidato, dia menulis di buku hariannya: “Saya memiliki momen ini, saat mandi, menyusun seluruh buku baru— sekuel A Room of One’s Own—tentang kehidupan seksual perempuan: yang disebut Profesi untuk Para Perempuan (Professions for Women) mungkin— Tuhan, betapa menariknya!” Lebih dari satu setengah tahun kemudian, pada 11 Oktober 1932, Virginia Woolf mulai menulis buku barunya: “THE PARGITERS: An Essay based upon a paper read to the London/National Society for women’s service.” “The Pargiters” berevolusi menjadi The Years dan diterbitkan pada tahun 1937. Buku yang akhirnya menjadi sekuel A Room of One’s Own adalah Three Guineas (1938), dan judul orisinal pertamanya adalah “Profesi untuk Para Perempuan”.

           Esai yang dicetak di sini berkonsentrasi pada hantu Victoria yang dikenal sebagai Malaikat di Rumah/The Angel in the House (dipinjam dari puisi Coventry Patmore yang merayakan kebahagiaan domestik)– perempuan pada abad kesembilan belas yang tidak mementingkan diri dan banyak berkorban yang satu-satunya tujuan hidupnya adalah menenangkan, menyanjung, dan menghibur separuh populasi laki-laki di dunia. “Membunuh Malaikat di Rumah,” tulis Virginia Woolf, “adalah bagian dari pekerjaan seorang penulis perempuan.” Pernyataan itu terbukti sebagai prediksi yang tepat untuk saat ini, tidak hanya dalam dunia kepenulisan, tetapi di seluruh dunia profesional, perempuan masih terlibat dalam kontes maut perihal perjuangan mereka untuk kesetaraan sosial dan ekonomi.

                                                                        –Mitchell A. Leaska

Ketika sekretaris Anda mengundang saya untuk datang ke sini, dia memberi tahu saya bahwa Masyarakat Anda peduli dengan pekerjaan perempuan dan dia menyarankan agar saya memberi tahu Anda sesuatu tentang pengalaman profesional saya sendiri. Memang benar saya seorang perempuan; memang benar saya bekerja; tetapi pengalaman profesional apa yang saya miliki? Sulit untuk mengatakannya. Profesi saya adalah sastra; dan dalam profesi itu hanya ada sedikit pengalaman untuk perempuan daripada profesi lain, dengan pengecualian pada pentas panggung – sedikit, maksud saya, yang khusus perempuan. Karena jalurnya telah terputus bertahun-tahun yang lalu–oleh Fanny Burney, oleh Aphra Behn, oleh Harriet Martineau, oleh Jane Austen, oleh George Eliot–banyak perempuan terkenal, dan banyak lagi yang tidak dikenal dan dilupakan, telah ada sebelum saya, membuat jalan ini terasa semakin lancar, dan mengatur langkah-langkah saya. Jadi, ketika saya mulai menulis, hanya ada sedikit saja kendala materi di jalan saya. Menulis adalah pekerjaan yang memiliki reputasi dan tidak berbahaya. Kedamaian keluarga tidak terganggu oleh goresan pena. Tidak pula membutuhkan banyak pengeluaran rumah tangga. Dengan sejumlah penny, seseorang bisa membeli kertas yang cukup untuk menulis semua drama Shakespeare–jika dia memiliki pemikiran seperti itu. Piano dan model, Paris, Wina, dan Berlin, tuan dan simpanan, tidak diperlukan oleh seorang penulis. Murahnya menulis, tentu saja, adalah alasan mengapa perempuan telah sukses sebagai penulis sebelum mereka sukses dalam profesi lain.

Tetapi jika menceritakan kisah saya kepada Anda–sederhana saja. Anda hanya perlu membayangkan sendiri seorang gadis di kamar tidur dengan pena di tangannya. Dia hanya harus memindahkan pena itu dari kiri ke kanan–dari jam sepuluh ke satu. Kemudian terpikir olehnya untuk melakukan apa yang terasa sederhana dan cukup murah–menyelipkan beberapa halaman itu ke dalam amplop, memperbaiki stempel satu sen di ujung, dan memasukkan amplop ke dalam kotak merah di persimpangan jalan. Dengan demikian saya menjadi jurnalis; dan usaha saya dihargai pada hari pertama bulan berikutnya–hari yang sangat mulia bagi saya–dengan surat dari editor yang berisi cek sejumlah satu pound sepuluh shilling dan enam penny. Jika saya tunjukkan kepada Anda betapa sedikitnya saya layak disebut sebagai perempuan profesional, betapa sedikit yang saya ketahui tentang pergulatan dan kesulitan hidup seperti itu, saya harus mengakui, bahwa alih-alih menghabiskan uang itu untuk roti dan mentega, biaya sewa, sepatu dan stoking, atau membeli daging, saya keluar dan membeli kucing – kucing cantik, kucing Persia, yang segera setelahnya melibatkan saya dalam perselisihan pahit dengan tetangga saya.

Apa lagi yang lebih mudah selain menulis artikel dan membeli kucing Persia dengan profit yang didapat? Tapi tunggu sebentar. Artikel harus bicara tentang sesuatu. Punya saya, seingat saya, adalah tentang novel karya seorang laki-laki terkenal. Dan ketika saya sedang menulis ulasan ini, saya menemukan bahwa jika saya akan mengulas buku, saya harus berperang dengan hantu tertentu. Dan hantu itu adalah seorang perempuan, dan ketika saya mengenalnya dengan lebih baik, saya menjulukinya dengan nama tokoh utama perempuan dari sebuah puisi terkenal, Malaikat di Rumah. Dialah yang dulu datang di antara saya dan kertas saya ketika saya sedang menulis ulasan. Dialah yang mengganggu saya dan menyia-nyiakan waktu saya dan begitu menyiksa hingga akhirnya saya membunuhnya. Anda yang berasal dari generasi yang lebih muda dan lebih bahagia mungkin belum pernah mendengarnya–Anda mungkin tidak tahu apa yang saya maksud dengan Malaikat di Rumah.

Saya akan menggambarkannya sesederhana mungkin. Dia sangat simpatik. Dia sangat menawan. Dia sama sekali tidak egois. Dia unggul dalam seni kehidupan keluarga yang sulit. Dia mengorbankan dirinya setiap hari. Jika ada ayam, dia mengambil kakinya; jika ada suatu draf tulisan dia mendudukinya–singkatnya dia dibentuk sehingga dia tidak pernah memiliki pikiran atau keinginannya sendiri, tetapi lebih memilih untuk bersimpati selalu dengan pikiran dan keinginan orang lain. Di atas segalanya–saya mesti katakan–dia murni. Kemurniannya seharusnya menjadi kecantikan utamanya–wajahnya memerah, rahmatnya yang luar biasa. Pada masa itu– yang terakhir adalah Ratu Victoria–setiap rumah memiliki Malaikatnya sendiri. Dan ketika saya mulai menulis, saya bertemu dengannya sejak kata-kata pertama. Bayangan sayapnya jatuh di halaman saya; saya mendengar gemerisik roknya di kamar. Saya mengambil pena di tangan saya untuk mengulas novel karangan seorang laki-laki terkenal itu, seketika, dia menyelinap di belakang saya dan berbisik: “Sayangku, kamu adalah seorang wanita muda. Kamu sedang menulis tentang sebuah buku yang telah ditulis oleh seorang laki-laki. Bersikaplah simpatik; lembut; menyanjung; memperdaya; gunakan semua seni dan tipu muslihat dari jenis kelamin kita. Jangan pernah biarkan orang menebak bahwa kamu memiliki pikiranmu sendiri. Yang terpenting, jadilah murni.” Dan dia seolah-olah ingin memandu pena saya.

Sekarang, saat ini, saya mencatat satu tindakan yang juga menjadi penghargan bagi diri saya sendiri, meskipun penghargaan itu semestinya milik beberapa leluhur saya yang luar biasa yang meninggalkan saya sejumlah uang–mungkin bisa kita katakan lima ratus poundsterling setahun? –sehingga saya tidak perlu bergantung hanya pada pesona diri untuk kelangsungan hidup saya. Saya berbalik ke arahnya dan mencengkam lehernya. Saya melakukan yang terbaik untuk membunuhnya. Jika saya dibawa ke pengadilan, dalih saya adalah tindakan pembelaan diri. Jika saya tidak membunuhnya, dia akan membunuh saya. Dia akan mencabut hati dari tulisan saya. Karena, seperti yang saya temui, begitu saya meletakkan pena di atas kertas, Anda tidak dapat mengulas sebuah novel tanpa memiliki pikiran Anda sendiri, tanpa mengungkapkan apa yang Anda pikir sebagai kebenaran tentang hubungan manusia, moralitas, seks. Dan semua pertanyaan ini, menurut Malaikat di Rumah, tidak dapat diselesaikan secara bebas dan terbuka oleh perempuan; perempuan haruslah memikat, mereka harus berdamai, mereka harus–jika kita blak-blakan–berbohong jika mereka ingin sukses. Jadi, setiap kali saya merasakan bayangan sayapnya atau pancaran lingkaran cahayanya di atas halaman saya, saya mengambil bak tinta dan melemparkan benda itu ke arahnya. Dia mati dengan cara yang keras…

*) Selengkapnya bisa dibaca di majalah “Book Coffee and More” Edisi Khusus Virginia Woolf yang tengah disiapkan penerbitannya oleh Galeri Buku Jakarta. Maret-April 2020.

Continue Reading

Inspirasi

Buku Harian Steinbeck dan Proses Kreatifnya

mm

Published

on

Dia, Steinbeck, sangat tidak percaya pada pengakuan publik dan rasa puas yang dihasilkannya: “Kehormatan yang aneh. Hal yang paling menyedihkan di dunia.

 

From “How Steinbeck Used the Diary as a Tool of Discipline, a Hedge Against Self-Doubt, and a Pacemaker for the Heartbeat of Creative Work” by BY MARIA POPOVA | www.brainpickings.org |  (p) Virdika R Utama (ed) Sabiq Carebesth

____

Bagaimana Steinbeck Menggunakan Buku Harian sebagai Alat mendisiplinkan diri? membebaskan dirinya dari keraguan dan menjadikan hal itu sebagai alat pacu bagi detak jantung kreatifnya? “Cukup atur pekerjaan satu hari di depan pekerjaan hari terakhir. Begitulah caranya. Dan itulah satu-satunya cara.”

Banyak penulis terkenal telah memperjuangkan manfaat kreatif dari membuat buku harian, tetapi tidak ada yang menempatkan buku harian itu untuk penggunaan praktis yang lebih mengesankan dalam proses kreatif daripada John Steinbeck (27 Februari 1902 – 20 Desember 1968).

Pada musim semi 1938, tak lama setelah melakukan salah satu aksi keberanian artistik terbesar—yaitu mengubah pikiran seseorang ketika sebuah proyek kreatif berjalan dengan baik, seperti yang dilakukan Steinbeck ketika dia meninggalkan sebuah buku yang dia rasa tidak sesuai dengan tugas kemanusiaannya.—dia memulai pengalaman menulis paling intens dalam hidupnya. Buah publik dari kerja ini akan menjadi karya utama tahun 1939, The Grapes of Wrath—sebuah judul yang disetujui isterinya, seorang politisi radikal, Carol Steinbeck, setelah membaca The Battle Hymn of Republic oleh Julia Howe. Novel ini menghasilkan Hadiah Pulitzer Steinbeck pada tahun 1940 dan merupakan landasan bagi Hadiah Nobelnya dua dekade kemudian. Tetapi buah pribadinya dalam banyak hal setidaknya sama pentingnya dan instruktif secara moral.

Bersamaan dengan novel, Steinbeck juga mulai membuat buku harian, akhirnya diterbitkan sebagai Hari Kerja: Jurnal The Grapes of Wrath.

Jurnal The Grapes of Wrath (perpustakaan umum)—buku harian Steinbeck, berisi catatan hidup yang luar biasa dari perjalanan kreatifnya. Hal utama dari buku harian itu adalah pemandangan ambigu: di mana penulis yang luar biasa ini berselisih dengan keraguan diri yang luar biasa bertubi, terkadang penderitaan dan juga kesepian—tetapi ia tetap maju ke depan, dengan semangat dan putaran antusiasme yang setara, didorong oleh tekad yang teguh untuk melakukan yang terbaik dan mungkin. Buku harian menjadi praktik baik penebusan dan bagaimana pun, tampak sebagai sesuatu yang juga transenden.

Steinbeck hanya memiliki dua permintaan untuk buku harian itu—bahwa itu tidak akan dipublikasikan pada masa hidupnya, dan bahwa itu harus dibuat tersedia untuk kedua putranya sehingga mereka dapat “melihat ke belakang mitos dan desas-desus dan sanjungan dan fitnah seorang pria yang hilang menjadi dan untuk mengetahui sampai batas tertentu seperti apa manusia ayah mereka. ”Ia berdiri, di atas segalanya, sebagai bukti tertinggi akan fakta bahwa satu-satunya substansi kejeniusan adalah tindakan harian yang muncul.

Steinbeck in 1959

Steinbeck menangkap ini dengan sempurna dalam catatannya yang berlaku juga untuk bidang usaha kreatif apa pun:

Dalam menulis, kebiasaan tampaknya menjadi kekuatan yang jauh lebih kuat daripada kemauan atau inspirasi. Akibatnya harus ada sedikit kualitas keganasan sampai pola kebiasaan sejumlah kata ditetapkan. Tidak ada kemungkinan, setidaknya dalam diriku, untuk mengatakan, “Aku akan melakukannya jika aku menginginkannya.” Seseorang tidak pernah merasa seperti bangun setiap hari. Bahkan, mengingat alasan terkecil, seseorang tidak akan bekerja sama sekali. Sisanya adalah omong kosong. Mungkin ada orang yang bisa bekerja seperti itu, tetapi saya tidak bisa. Saya harus menurunkan kata-kata saya setiap hari apakah itu ada gunanya atau tidak.

*

Jurnal itu kemudian menjadi alat disiplin diri (dia bersumpah untuk menulis di dalamnya setiap hari kerja, dan melakukannya, menyatakan dalam salah satu catatan pertama: “Bekerja adalah satu-satunya hal yang baik.”), Sebuah mekanisme mondar-mandir (dia memberi dirinya tujuh bulan untuk menyelesaikan buku itu, mengantisipasi itu hanya akan memakan waktu 100 hari, dan menyelesaikannya dalam waktu kurang dari lima bulan, rata-rata 2.000 kata per hari, lama, tidak termasuk buku harian), dan papan suara untuk diri positif yang sangat dibutuhkan -Berbicara dalam menghadapi keraguan terus-menerus (“Saya sangat malas dan hal di depan sangat sulit,” ia putus asa dalam satu catatan; tetapi ia meyakinkan dirinya sendiri di catatan lain: “Keinginan saya rendah. Saya harus membangun kembali keinginan saya. Dan saya bisa melakukannya. ”) Yang terpenting, ini adalah alat pertanggungjawaban untuk membuatnya terus maju meskipun ada banyak gangguan dan tanggung jawab dalam hidup. “Masalah menumpuk sehingga buku ini bergerak seperti siput Tide Pool dengan cangkang dan teritip di punggungnya,” tulisnya, namun yang penting adalah meskipun ada masalah, terlepas dari teritip, ia bergerak. Dia menangkap ini dalam salah satu catatan yang paling pedih, tak lama sebelum menyelesaikan paruh pertama novel:

“Setiap buku tampaknya merupakan perjuangan seumur hidup. Dan kemudian, ketika sudah selesai – pouf! Sudah! Tidak pernah terjadi. Jadi hal terbaik adalah menurunkan kata-kata setiap hari. Dan sekarang saatnya untuk memulai kembali. Dan beberapa hari kemudian, ia kembali ragu-ragu: “Banyak kelemahan saya mulai menunjukkan kepada mereka. Saya harus mengeluarkan benda ini dari sistem otak saya. Saya bukan seorang penulis. Saya telah membodohi diri sendiri dan orang lain. Aku berharap begitu. Keberhasilan ini akan menghancurkan saya dengan pasti. Mungkin tidak akan bertahan lama, dan itu akan baik-baik saja. Saya akan mencoba melanjutkan pekerjaan sekarang. Hanya menjalankan tugas setiap hari. Saya selalu lupa.”

Memang, setelah memulai buku harian itu, Steinbeck memiliki tujuan jelas, pendisiplinan dan perannya sebagai pengingat kemajuan kerjanya saban harian yang semakin meningkat, sering lambat dan kecil, justru yang menghasilkan keseluruhan yang lebih besar. Dalam salah satu catatan pertamanya pada awal Juni, ia menulis:

“Ini adalah buku harian terpanjang yang pernah saya simpan. Tentu saja bukan buku harian tetapi upaya untuk memetakan hari dan jam kerja novel yang sebenarnya. Jika satu hari dilewati maka akan terlihat mencolok pada catatan ini dan akan ada beberapa alasan yang diberikan untuk hal seperti kekeliruan..”

Komitmen Steinbeck terhadap disiplin bukan hanya kesombongan moral atau fetisisme produktivitas—keinginannya sungguh-sungguh untuk menciptakan karya terbesar dalam hidupnya, puncak kemampuannya sebagai manusia yang sadar dan kreatif. Dalam salah satu catatan awal, ia memutuskan:

“Ini pasti buku yang bagus. Itu harus. Saya tidak punya pilihan. Pasti jauh dan jauh dari hal terbaik yang pernah saya coba—lambat tapi pasti, menumpuk detail pada detail sampai gambar dan pengalaman muncul. Sampai semuanya berdenyut-denyut muncul. Dan saya bisa melakukannya. Saya merasa sangat kuat untuk melakukannya.”

Tetapi menurut Dani Shapiro, ada perbedaan tajam antara keyakinan dan keberanian, ini adalah pernyataan yang terakhir, kebajikan yang lebih benar—Steinbeck sangat menyadari segala sesuatu yang mungkin menggagalkan usahanya, kekesalan baik eksternal maupun internal, namun ia tetap memutuskan untuk mengerahkan dirinya, untuk sepenuh hati tentang upaya, meskipun kurangnya kepercayaan diri yang mendalam. Inilah keberanian, hidup yang berdenyut, dari catatan awal lainnya:

“Segala macam hal mungkin terjadi dalam perjalanan buku ini tetapi saya tidak boleh lemah. Ini harus dilakukan. Kegagalan kemauan bahkan untuk satu hari memiliki dampak buruk pada keseluruhan, jauh lebih penting daripada hanya kehilangan waktu dan kata-kata. Seluruh dasar fisik novel ini adalah disiplin penulis, materialnya, bahasa. Dan cukup menyedihkan, jika salah satu dari disiplin itu hilang, semuanya menderita.”

Menulis kadang seperti sebuah tujuan yang puncak, dalam satu catatan ia menyatakan:

Setelah buku ini selesai, saya tidak akan peduli seberapa cepat saya mati, karena pekerjaan utama saya akan berakhir.

Dan di tempat lain:

Ketika saya sudah selesai saya akan bersantai tetapi tidak sampai saat itu. Hidup saya tidak terlalu lama dan saya harus menulis satu buku yang bagus sebelum berakhir.

Tetapi beberapa hari, tekadnya nyaris mengalahkan keraguan dirinya:

“Kalau saja saya bisa mengerjakan buku ini dengan benar, itu akan menjadi salah satu buku yang sangat bagus dan buku yang benar-benar Amerika. Tetapi saya diserang oleh ketidaktahuan dan ketidakmampuan saya sendiri. Saya hanya harus bekerja dari latar belakang ini. Kejujuran. Jika saya dapat menjaga kejujuran, itulah yang dapat saya harapkan dari otak saya yang buruk – jangan pernah marah kepada prasangka pembaca, tetapi bengkokkan seperti dempul untuk pengertiannya.”

Dan beberapa waktu kemudian, keraguan diri itu menjadi sangat luar biasa:

Jika saya bisa melakukan itu semua …. Karena tidak ada orang lain yang tahu kurangnya kemampuan saya seperti yang saya lakukan. Saya mendorongnya sepanjang waktu. Kadang-kadang, saya tampaknya melakukan pekerjaan kecil yang baik, tetapi ketika hal itu dilakukan, itu akan menjadi biasa-biasa saja.

Pada orang lain, ia bisa mengenali keraguan tetapi tidak setuju:

Untuk beberapa alasan saya sedikit gugup. Itu tidak selalu berarti apa-apa. Saya hanya akan menyelam lari dan mengatur apa yang terjadi.

John and Elaine Steinbeck in 1950

Di satu sisi, ini adalah kualitas jurnal (Catatan Harian) yang paling berani—hampir merupakan tulisan suci Buddhis, beberapa dekade sebelum Bradbury’s Zen dalam Seni Menulis, ketika Steinbeck menghadapi pasang surut dan aliran pengalaman. Dia merasakan perasaan keraguannya sepenuhnya, membiarkannya melewatinya, namun mempertahankan kesadaran yang lebih tinggi bahwa mereka hanya: perasaan, bukan Kebenaran.

Namun, yang paling mengejutkan dan paling aneh meyakinkan semua – terutama bagi mereka yang juga bekerja di kuali mendidih ketidakpastian yang merupakan karya kreatif – adalah kasus kronis dan akut Sindrom Impostor milik Steinbeck. Meskipun ia telah mencapai keberhasilan yang kritis dan finansial dengan pekerjaannya sebelumnya, ia tampaknya tidak hanya tidak percaya tetapi juga meremehkan keberhasilan itu, melihat di dalamnya bukan sumber kebanggaan tetapi juga rasa malu. Dalam jurnal awal, ia menulis:

Untuk saat ini, beban keuangan telah dihapus. Tapi itu tidak permanen. Saya tidak dibuat untuk sukses. Saya menemukan diri saya sekarang dengan reputasi yang berkembang. Dalam banyak hal itu adalah hal yang mengerikan … Di antara hal-hal lain saya merasa telah meletakkan sesuatu. Bahwa keberhasilan kecilku ini curang.

Dia sangat keras pada dirinya sendiri, sampai-sampai membiarkan kecurigaannya atas keberhasilannya sendiri membengkak menjadi kecurigaan terhadap keberanian pribadinya dan kebaikan dasar karakternya: Saya harus yakin untuk memilih mana yang cinta dan yang menyesal. Saya bukan orang yang sangat baik. Terkadang murah hati dan baik dan baik dan lain kali berarti dan pendek.

Seperti kebanyakan seniman, ia berulang kali mempertanyakan validitas seni dan kualifikasinya. Bahkan ketika dia hampir menyelesaikan novel yang kelak akan memenangkan Pulitzer dan membawanya mendapatkan Hadiah Nobel, dia masih tidak percaya pada kelebihan dan bakatnya: “Buku ini menjadi kesengsaraan bagiku karena ketidakmampuanku”.

Tak lama sebelum memulai The Grapes of Wrath, Steinbeck menangkap dalam jurnal lain sifat penyelamatan diri yang palsu. “Saya bosan dengan perjuangan melawan semua kekuatan yang telah membawa kesuksesan yang menyedihkan ini terhadap saya. Saya tidak tahu apakah saya bisa menulis buku yang layak sekarang. Itu adalah ketakutan terbesar dari semua. Saya sedang mengerjakannya tetapi saya tidak bisa mengatakannya.”

Dia sangat tidak percaya pada pengakuan publik dan rasa puas yang dihasilkannya: “Kehormatan yang aneh. Hal yang paling menyedihkan di dunia.

Memang, ia mengukur kesuksesannya bukan dari pendapatan atau pujian tetapi dari pekerjaan hari itu. “Inilah buku harian sebuah buku dan akan menarik untuk melihat bagaimana hasilnya. Saya telah mencoba untuk menulis buku harian sebelumnya tetapi mereka tidak berhasil karena keharusan untuk jujur. Dalam hal-hal di mana tidak ada kebenaran yang pasti, saya condong ke arah yang sebaliknya. Kadang-kadang di mana ada kebenaran yang pasti, saya merasa jijik dengan keangkuhannya dan melakukan hal yang sama. Namun dalam hal ini, saya akan mencoba hanya untuk menyimpan catatan hari kerja dan jumlah yang dilakukan di masing-masing dan keberhasilan (sejauh yang saya tahu) hari itu.”

Steinbeck sama-sama tidak terganggu oleh prospek komersial, pekerjaanya adalah sebagai kebutuhan moral: “Tidak tahu siapa yang akan menerbitkan buku saya. Tidak tahu sama sekali. Tidak ada alasan untuk membiarkannya. Harus terus melakukannya. Perlu.”

Proses itu, baginya, didorong oleh apa yang oleh Anne Lamott disebut pendekatan “burung demi burung” untuk ditulis beberapa dekade kemudian. Jurnal kemudian menjadi mekanisme mondar-mandir. Steinbeck menulis:

“Saya bertanya-tanya apakah saya akan pernah menyelesaikan buku ini. Dan tentu saja saya akan menyelesaikannya. Hanya bekerja dalam jangka waktu tertentu dan poco a poco akan selesai. Lakukan saja pekerjaan hari itu.”

__
Selengkapnya dalam Majalah “Book Coffee and More” by Galeri Buku Jakarta

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending