© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.

Oleh: Sabiq Carebesth*

Sejarah ditulis oleh mereka yang menang, itulah pragraf yang menandai penulisan dan dunia kesaksian sejarah selama masa hampir 32 tahun Orde Baru. Setelah itu hampir pasti dipahami, dan bahkan sampai hari ini, seolah-olah Orde Baru terpisah dari Orde Lama, dan Orde Baru merupakan kekuatan sejarah yang berdiri sendiri.

Imagologi sejarah seperti itu baru sekelumit dari banyak pembiasan kesaksian sejarah yang dikonstruksi oleh mereka yang menang atau berkuasa. Tetapi sudah merupakan kewajiban bagi suatu generasi untuk menggali kembali sejarah dan memungkinkan suatu pandangan kebenaran “yang lain”. Suatu catatan sejarah yang menjadi “kesaksian bagi mereka yang menjadi korban sejarah, bukan aktor utama sejarah,” Demikian Albert Camus.

Fase transisi di Indonesia, baik setelah Revolusi Kemerdekaan 1945 maupun reformasi 1998 menyiskan suatu pekerjaan lain diantara pekerjaan yang mendesak dan banyak—reformasi politik, reformasi kebangsaan, reformasi kelembagaan Negara, demokratisasi ekonomi dan politik—ada tugas lain yang tak kalah penting mungkin menolong fase transisi yang sampai hari ini belum bisa dikatakan berhasil. Yang dimaksudkan adalah penamabahan pengertian tentang sejarah politik selama hampir 70 tahun terakhir ini, karena di situ bangsa ini mungkin mencari sumber kesulitan sekarang disamping, mungkin menemukan pelajaran yang dapat melapangkan sedikit jalan keluar dari keadaan krisis sekarang ini. Bukankah yang terpenting dari setiap perubahan adalah lahirnya kesadaran historis pada masayarakatnya?

***

Catatan alternatif di luar meanstream, atau grand narasi catatan sejarah kaum penguasa yang menjadi kewajiban suatu generasi kiranya sudah dilakukan Soe Hok Gie sepanjang hidupnya sebagai masyarakat dan intelektual yang idealis. Buku “Zaman Peralihan” yang merupakan kumpulan tulisan Soe Hok Gie di berbagai media adalah suara kritis sekaligus kesaksian dari anak generasi atas periode sulit Orde Lama-Orde Baru. Sebagai suatu kesaksian atas zamannya, catatan Soe Hok Gie memang sangat kental dengan subjektifisme,(mengingat juga Gie adalah seorang intelektual non partisan).

Suatu subjektifitas yang berada pada posisi kontroversial, maka sudah barang tentu pula mendulang resiko untuk disetujui, dibantah atau pun ditolak. Namun terlepas dari ukuran untuk diterima atau di tolak, bagaimanapun Gie sudah memotifasi kita untuk selalu menumbuhkan kesegaan berpikir, dan menyikapi gejala-gejala anti Demokrasi dan dehumanisasi secara kritis. “Karena itu saya akan berani berterus terang walaupun ada kemungkinan saya akan ditindak. Lebih baik bertindak keliru dari pada tidak bertindak karena takut salah. Kalau pun saya jujur terhadap diri saya, saya yakin akhirnya saya akan menemukan arah yang tepat.” (Siapakah saya, dalam Zaman Peralihan, hlm. 130)

Idealisme memang selalu mengandung risiko, itu pula yang dialami Gie dan tulisan-tulisannya. Gagasan dan pribadinya yang paradoks di hadapan zamannya. Adnan Buyung Nasution berkomentar atas pribadi Gie dan kegiatan intelektualnya. ”Dalam hampir setiap hal atau masalah, ia merupakan batu penguji yang kokoh untuk sikap yang berani dan independen, hati yang bersih dan pikiran yang murni.” (hlm. 248)

Maka tak heran, sekian intimidasi dan teror pun menyertai langkah Gie. Sri Lestari dan Este Adi berkisah akan hal itu pada catatan tentang pribadi Gie yang Paradoksal di halaman penutup buku “Zaman Peralihan”: suatu kali Gie mendapat surat kaleng dari orang yang marah dengan tulisan Gie di halaman majalah Mingguan Mahasiswa Indonesia yang mengkritik kebijakan pemerintahan Soekarno. ”Pencopet, babi, Coro. Cina yang tak tahu diri sebaiknya kamu pulang saja ke negerimu.” juga, ”Nasibmu akan ditentukan pada suatu ketika. Kau sekarang sudah dibuntuti. Saya nasihatkan jangan pergi sendirian atau di malam hari.” begitulah sekelumit intimidasi dan teror yang diterima Gie atas sikap idealisme, populisme dan krtisisme yang ditunjukan lewat tulisan-tulisannya. Teror dan intimidasi yang juga menjadi suatu gambaran sosilogis yang melatar belakangi tulisan-tulisan Gie dan zaman peralihan menjelang dan setelah 1965.

***

Tahun antara 1967-1969 adalah tahun transisi, zaman peralihan pada tingkat elit kekuasaan dari Orde Lama ke Orde Baru. Lazim pada situasi transisional melahirkan pemikiran-pemikiran yang kritis dan radikal. Itu pula yang hampir menjadi ruh dan nafas catatan Gie. Buku “Zaman Peralihan” berisi kumpulan tulisan Gie yang dirangkum dari tulisannya diberbagai media massa dan beberapa sumber tambahan seperti dari dokumentasi pribadi kakaknya, Arif Budiman.

Tulisan-tulisan dalam buku Zaman Peralihan sangat tajam dan menggigit, dan seringkali sinis. Suatu kesinisan yang wajar, sekaligus menjadi penanda konsistensi sikap Gie pada kekuasaan sekaligus kemanusian dan idealismenya sebagai intelektual. Maka terasa wajar bila membaca catatan Soe Hok Gie rasa kemanusiaan kita seperti dirobek-robek.

Hampir semua tulisan Gie tak terkecuali dalam buku Zaman Peralihan sangat kental beraroma keprihatinan atas kemanusian Indonesia zaman peralihan. Menunjukan suatu idealisme kaum muda, beserta pula frustasi yang melingkupi zamannya.

Tema-tema dalam buku Zaman Peralihan sangat beragam. Yang menunjukan antusiasme Gie pada kemanusiaan. Tema yang diangkat antara lain dari soal kebangsaan, masalah kemahasiswaan, masalah kemanusiaan, sampai “catatan turis terpelajar.” Tulisan dalam semua tema itu berisikan  pandangan Gie atas soal-soal yang lebih subjektif seperti misalnya dalam catatan “Saya bukan wakil KAMI” dan gamabaran sisi lain dari sebuah generasi angkatan 66 yang kecewa akibat harapan yang telah dipupuk di antara penipuan-penipuan yang paling kejam, yang akhirnya menimbulkan frustasi yang merata di generasi Gie. Perasaan ditipu (baik oleh kekuasaan, atau kawan seangkatan yang berkompromi dengan penguasa), dikhianati dan lain sebagainya, pada akhirnya melahirkan krisis kepemimpinan dan krisis kepercayaan secara umum. Kisah tragis dan ironis dari kekecwaan Gie dan mereka yang Idealis dapat kita lihat dengan jelas dalam catatannya berjudul “Sebuah Generasi yang Kecewa” dan ”Generasi yang lahir setelah tahun empat lima.”

Dalam catatan yang disebut terakhir itu misalnya, Gie memberitahu kita suatu ironi zaman, ketragisan suatu “Idealisme” saat harus berhadapan dengan culasnya kekuasaan. Bagaimana idealisme setinggi langit menjadi sia-sia belaka, ketika harus menghadapi verbalisme pejabat, kepalsuan dan kedegilan. Pemuda-pemuda Indoensia yang penuh dengan Idealisme akhirnya hanya punya dua pilihan. Yang pertama tetap bertahan dengan idealisme mereka, menjadi manusia-manusia yang non-kompromistis—dan orang-orang dengan aneh dan kasihan akan melihat mereka sambil geleng-geleng kepala: ”Dia pandai dan Jujur, tetapi sayang kakinya tidak menginjak tanah.” Atau dia kompromi dengan situasi yang baru. Lupakan idealisme dan ikut arus, bergabung dengan group yang kuat (Partai, ormas, ABRI, klik dan lain-lainnya) dan belajarlah teknik memfitnah dan menjilat. (Hlm.80) itulah sekelumit penggambaran Gie atas angkatan dan zamannya, lengkap beserta ironi dan tragiknya.

***

Sebagai buku yang merangkum catatan seoarang generasi idealis pada zamannya dalam suatu proses peralihan politik dan kekuasaan yang tak mudah sekaligus menentukan, buku ini senantiasa memberikan ruang reflektif, kesempatan bagi kita yang membacanya untuk melakukan evaluasi dan kritisisme terhadap situasi yang anti Demokrasi dan de humanisasi pada zaman kita sekarang. Banyak kasus dan penderitaan masyarakat kecil masih berlangsung sekarang, dan sudah barang tentu tugas kita untuk mencatatkannya sebagai usaha menuliskan sejarah mereka yang menjadi korban dari sejarah itu sendiri.

Oleh karenanya persolan-persolan yang diangkat dalam buku “Zaman Peralihan” ini masih sangat relevan dengan konteks sekarang. Relevansi tulisan-tulisan Gie setidaknya dapat di arahkan kedalam dua konteks. Pertama: dalam konteks kebangsaan dimana realitas sosial politik kita hari ini sebenaranya masih dalam suasana krisis kepercayaan dan krisis kepemimpinan dari fase transisi paska reformasi 98 lalu. Bangsa ini seperti masih linglung, berbangsa tanpa panutan yang bisa dicontoh, yang seharusnya diberikan mereka yang berada di puncak-puncak kekuasaan. Krisis legitimasi ini, menurut Dr. Kuntowijoyo terjadi tatkala perilaku yang ada di tingkat kekuasaan—yaitu kekuatan-kekuatan yang secara menyeluruh mendominasi ekonomi, politik, jenjang sosial dan produksi kultural tak mampu lagi jadi panutan masayarakat. Hal itu mendorong relevansi tulisan Gie kepada relevansi yang kedua: yaitu menjadi ruang refleksi bagi pertanyaan klasik tentang peran intelektual terkait ruang moral mau pun politik, antara idealisme dan kompromi.

Untuk hal yang terakhir, Gia sudah lama berujar:” Di Indonesia hanya ada dua pilihan, menjadi idealis atau apatis. Dan saya sudah lama memutuskan bahwa saya akan menjadi idealis sampai batas sejauh-jauhnya.” (LP3S, 1983 hal. 221) demikian apa yang dikatakan Gie bukan sekedar kepongahan seperti seperti banyak kita dapati hari ini, sebab Gie sudah membuktikannya dalam catatan-catatannya dan juga dalam hidupnya.

Akhirnya Gie berujar, ”Kita semua terdidik untuk berontak terhadap semua kemunafikan. Kawan, apa kabar Indonesia Raya?” (*)

Data Buku:

Judul               : Zaman Peralihan
Pengarang       : Soe Hok Gie
Penerbit           : Yayasan Bentang Budaya
Cetakan           : V, 1995
Tebal               : XXVii-266 Halaman.

*Sabiq carebesth, Pecinta buku. Editor Galeri Buku Jakarta.

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT