Connect with us

Interview

George Orwell: Saya tahu pada akhirnya harus duduk dan menulis buku

mm

Published

on

‘What I have most wanted to do… is to make political writing into an art’

Pada usia 30 tahun biasanya seorang akan mengambil keputusan penting yang kerap menjadi titik balik kehidupanya. George Orwell tak terkecuali. Ia memutuskan untuk sepenuhnya menulis—menjadi penulis. Pada usia 30 tahun, Orwell memutuskan berhenti dari pekerjaan yang digeluti lima tahun sebelumnya yaitu sebagai Polisi Kerajaan India di Burma.

Pekerjaannya sebagai polisi Kerajaan India, kenyataan bahwa ia hidup dalam kemiskinan dan banyak kegagalan lain dalam hidupnya, menguatkan intuisi alamiahnya untuk membenci otoritas (kekuasaan) dan menaruh perhatian lebih pada kelas pekerja. Kelak hal itu akan banyak terlihat semangatanya dan begitu memengaruhi novelnya yang mashur itu,“Animal Farm”.

Sebelum Animal farm, Ia menyelesaikan novel lengkapnya yang pertama: Burmuse Day. Tentu saja, dia sendiri mengakui novel itu sudah ia persiapkan cukup lama, bahkan sejak ia masih berusia belasan.

Pada usia lima atau enam tahun, menurut Orwell Sendiri, “Saya menyadari saat itu, dan saya tahu masanya akan tiba; cepat atau lambat, saya harus duduk dan mulai menulis buku. Saya tidak boleh membunuh bakat alamaiah yang saya tahu telah mengandungnya sejak belia.”

George Orwell

Dalam salah satu esainya tentang bagaimana menulis, bagaimana perjalanan menjadi penuis, ia menyatakan “Menulis buku itu mengerikan, perjuangan yang meletihkan, seperti sakit berkepanjangan. Seorang tak akan pernah berusaha menciptakan sesuatu jika tidak didorong oleh setan-setan yang dapat melawan atau memahami.”

Pertanyaannya adalah motif apa yang begitu memberi kekuatan pada seorang seperti Orwel untuk “nekat” dan memilih sepenuhnya menulis buku-buku? Motif politik? Implus historis? Kesenangan estetis? Atau semuanya?

Galeri Buku Jakarta mewawancarai Orwell secara imajiner, menghimpun dari berbagai sumber referensi untuk mendapat gambaran utuh atas jawaban bagi pertanyaan tersebut. Mendapati bahwa seperti halnya Orwell, motif-motif menuis bergerak saling menguatkan satu sama lain dan membentuk karakter seorang pengarang. Sebuah dunia yang disebutnya sendiri mengerikan dan menyakitkan tetapi tetap saja dipilihnya—Selengkapnya:

INTERVIEWER

Ini sederhana saja tampaknya, saya ingin bertanya seperti banyak orang menanyakan dengan konstan dan ringan pada sejawatnya yang penulis buku—kenapa Anda menulis?

GEORGE ORWELL

Saya telah menulis dalam sebuah esai dan saya pikir Anda pun telah membacanya. Bahwa bagi saya, seorang menulis paling tidak memiliki dorongan kuat suatu motif yang terus menerus menderu menjadi implus dalam pikiran. Egoisme, dalam bahasa yang mudah berupa implus untuk menjadi terkenal, tampak pintar, atau untuk dikenang setelah meninggal—itu akan selalu menjadi motif yang besar, meski hal itu menempatkan seseorang dalam kedewasaan yang semu; sekedar untuk membalas hinaan atau sakit hati pada usia kanak-kanak, tapi itu adalah motif besar yang implusnya nyaris datang tanpa jeda pada masa-masa yang menentukan.

Motif lainnya saya katakan adalah, antusiasme estetis. Persepsi tentang keindahan tentang  dunia luar, dunia dalam kata-kata dan susunannya yang teratur. Rasa senang yang muncul dalam rima dan matra bahasa, dalam hasrat membagi… yang lain adalah motif tentang dan yang saya sebut tujuan politisdalam artinya yang paling luasSuatu dorongan untuk menempatkan dunia dalam urutan pasti atau mengubah gagasan orang lain tentang ragam masyarakat.  

INTERVIEWER

Mari kita bicara motif anda, yang paling kuat dan mempengaruhi karangan anda?

GEORGE ORWELL

Saya rasa bahkan saya tidak bisa menjawab dengan pasti, bisa jadi bahwa semua motif itu terakumulasi dan sangat dipengaruhi oleh latar belakang,  lingkungan ketika penulis itu hidup. Hanya saja bagi saya, tak ada buku yang sama sekali bebas dari bias politik. Bahkan pendapat yang mengatakan bahwa seni tak bersinggungan sedikit pun dengan politik adalah sikap politik itu sendiri.

Dan tahukah, bila saya menengok kembali karya saya, saya merasa kekurangan tujuan politis sehingga saya merasa seperti hanya menulis buku-buku yang tak bernyawa dan terpisah-pisah, penuh kalimat tanpa makna, kata-kata dekoratif, dan biasanya omong kosong.

INTERVIEWER

Tapi banyak pembaca dan kritikus menilai karya Anda terutama”Animal Farm,” kuat motif politisnya, juga bukankah buku tersebut memberi dampak yang luar biasa besar?

GEORGE ORWELL

Animal Farm adalah buku pertama yang saya coba dengan penuh kesadaran tentang apa yang harus saya lakukan, memadukan tujuan politis dengan tujuan artistik. Memang buku itu memiliki semangat untuk mengkritik kehidupan publik pada masanya—dan saya menulisnya setelah tujuh tahun sebelumnya tidak menulis novel.

Tapi pada masa itu saya tahu saya ingin menulis sesegara mungkin. Saya rasa itu bentuk kegagalan, tapi wajar, pada dasarnya semua buku adalah kegagalan—tetapi bedanya, Animal Farm, saya menulisnya dengan kesadaran pasti apa yang ingin saya tulis.

INTERVIEWER

Jadi bukankah itu novel yang kuat motif politisnya?

GEORGE ORWELL

Saya tidak ingin mengatakan itu sebagai impresi final. Pada dasarnya, semua penulis itu sia-sia, mementingkan diri sendiri, dan malas, serta pada motif mereka yang paling dasar, adalah benar-benar misteri. Jadi saya pun tak dapat mengatakan dengan pasti, meski jika anda memaksa, saya tetap tak bisa mengatakan dengan pasti mana motif yang paling kuat. Tapi saya ingin mengatakan bahwa buku sebaiknya memiliki motif politis.

INTERVIEWER

Mari kita andaikan bahwa penulis perlu memiliki motif politis, sekaligus estetis, bagaimana pengalaman Anda terkait hal itu?

GEORGE ORWELL

Apa yang ingin saya lakukan saat itu adalah, membuat tulisan politis yang masuk ke ranah seni. Titik pijak saya selalu dari sikap partisan, rasa ketidakadilan sosial.

Jadi saat saya duduk untuk mulai menulis, saya tak berkata pada diri sendiri “Saya akan membuat karya seni”, tapi saya menulisnya karena begitu banyak dusta yang ingin saya ungkap. Sampai ketika saya menyadari saya tidak bisa bekerja menulis buku, atau bahkan artikel panjang untuk sebuah majalah, jika tanpa pengalaman estetis.

Jadi pada akhirnya saya bisa katakan; saya tak bisa membuang salah satunya, bahwa karya sastra, bagaimana pun ditulis sebagai karya “pamflet” ia tetap tidak akan sepenuhnya menjadi suatu propaganda. Tugas penulis saya rasa adalah mendamaikan suka dan benci, non individual, aktivitas publik yang mendasar dan mandarah daging, yang pada masa sekarang menyerang kita semua.

INTERVIEWER

Baiklah, mari kita bicara hal yang lebih ringan dari porses kreatif Anda, kapan pertama kali anda menulis dan merasa pada akhirnya harus (menjadi) penulis?

GEORGE ORWELL

Saat saya berusia lima atau enam tahun, saya benar-benar telah menyadari keinginan itu, bahwa cepat atau lambat, pada akhirnya saya akan duduk dan menulis buku. Selama 24 tahun usia saya mencoba melepaskan pikiran itu, tapi nyatanya pikiran itu terus mengisi benak saya.

Anda tahu sampai usia 8 tahun saya nyaris tak pernah melihat ayah saya, dua saudara (adik dan kakak) saya masing-masing dari kami berbeda lima tahun usianya. Untuk alasan ini dan itu, saya menjadi pribadi yang penyendiri. Di sekolah saya merasa disepelakan dan hal itu, atau entah karena hasrat saya untuk menulis lebih besar, saya benar-benar gagal dalam pergaulan sosial.

Saya menulis puisi pertama saya pada usia lima tahun. Saya mendiktekan dan ibu saya menulisnya, jadi saya merasa ibu saya saja yang mengerti dunia menulis saya. Saya terus menulis buku harian sejak usia lima tahun dan pada usia enam belas tahun saya benar-benar tak bisa melepaskan diri dari rasa nikmat menjelajahi kata-kata, termasuk suara dan asosiasi kata-kata. Saya jatuh cinta dan rasanya mustahil membebaskan diri dari hal itu.

INTERVIEWER

Rasa nikmat menulis—meski begitu menulis adalah dunia yang meletihkan dan bukan suatu dunia yang menurut Anda sendiri memberi ‘kemujuran”—lalu apa pesan Anda untuk para penulis setelah Anda, mengingat menulis bukan dunia yang mudah bahkan cenderung sakit?

GEORGE ORWELL

Saya melihat pada kurun usaia tertentu, katakanlah usia 30an, seorang melepaskan individualitasnya, dia berhadapan dengan dunia eksternal yang tak terhindarkan—memimpin orang lain atau menenggelamkan diri dalam lautan pekerjaan yang menjemukan.

Namun saya percaya, selalu ada orang-orang berbakat yang jumlahnya sedikit, orang-orang yang dengan sengaja membiarkan hidupnya berlangsung hingga akhir, dan para penulis berada di tempat ini. Para penulis yang serius, saya katakan demikian, memiliki kesombongan yang lebih menyeluruh dan egois dibanding para jurnalis, walau mereka kurang tertarik dengan uang. (SC)

*) Interview disusun oleh Sabiq Carebesth, disarikan dari esai utama George Orwell “Why I Write.” (www.orwellfoundation.com) dan esai lainnya dalam “Orwell, A Collection of Essays” (Penguin Book, 1970).

Interview

Adania Shibli tentang Mengisahkan Palestina dari Dalam

mm

Published

on

Adania Shibli / Spesial

Kisah itu menggambarkan dengan jelas momen saat Adania dan keluarga menerima panggilan telpon yang tak biasa dari tentara Israel: pesannya adalah untuk meninggalkan bangunan tempat mereka berada karena akan segera dibombardir. Dalam tiga halaman singkat karangan Adania tampil menonjol tanpa sekali pun mengabaikan sisi puitis dari hal-hal umum. Itulah Adania Shibli: lembut tapi menggelisahkan, tenang dan efektif; mendalam, jenaka, dan ampuh.

“Sebuah wawancara dengan pengarang ‘We Are All Equally Far from Love’”

(p) Marlina Sophiana (e) Sabiq Carebesth

 

Gaya khas Adania Shibli datang dari upaya menahan diri. Kesunyian dalam dua novelnya (We Are All Equally Far from Love dan Touch) menghasilkan suspense yang mengerikan, semuanya dilatari suasana Palestina yang indah dan penuh problema. Dan melalui kebiasaan sehari-hari dunia itu meledak dengan gaduh.

We Are All Equally Far from Love merupakan sebuah kisah cinta dan juga sebuah tragedi. Kekuatan misterius novel ini juga terletak di tengah-tengah penggambaran yang sulit dipahami- sama seperti kisah dalam Touch, di mana dinamika keluarga sama menarik dan sama kusutnya seperti pembantaian di Sabra dan Shatila yang bertalian dengan segala hal. Kekerasan dalam karya Adania meriak tanpa sentimentalitas berlebih-lebihan.

Kepelikan yang sama juga muncul dalam cerita pendek terbarunya, yang masuk dalam terbitan Freeman’s family. Kisah itu menggambarkan dengan jelas momen saat Adania dan keluarga menerima panggilan telpon yang tak biasa dari tentara Israel: pesannya adalah untuk meninggalkan bangunan tempat mereka berada karena akan segera dibombardir. Dalam tiga halaman singkat karangan Adania tampil menonjol tanpa sekali pun mengabaikan sisi puitis dari hal-hal umum. Itulah Adania Shibli: lembut tapi menggelisahkan, tenang dan efektif; mendalam, jenaka, dan ampuh.

Jose Garcia 

Apakah itu merupakan keputusan yang disengaja untuk tidak secara eksplisit menyebut Palestina dalam karyamu? Untuk membiarkan pembaca tenggelam dalam drama ketimbang suasananya?

Adania Shibli

Kedua novel itu, dapat saya katakan, sangat kental dengan lanskap Palentina dan bahkan didesain melalui lanskap itu. Mungkin hal-hal yang tak nampak dalam pandangan dunia luar tentang Palestina, yang sangat didominasi oleh liputan media yang terus-menerus.

Sebagai contoh, dalam format yang spesifik media menceritakan peristiwa penting seperti pembantaian di Sabra dan Shatila pada masyarakat luas non-Palestina. Sementara di dalam konteks penduduk Palestina sendiri merasakannya secara berbeda dan melalui berbagai cara-hal itu termasuk kesulitan anak-anak untuk memahami peristiwa itu, atau para orangtua yang mencoba menyelamatkan anak-anak dari peristiwa semacam itu, yang mana merupakan keseharian bagi orangtua di Palestina. Touch menelusuri kegiatan yang utama dan sangat nyata ini di Palestina; tapi ini merupakan bentuk pengalaman yang seringkali luput dari berita-berita yang menjangkau mereka di luar Palestina. Jadi buku ini berhubugan dengan Sabra dan Shatila sebagai sebuah pembantaian yang tak mungkin dipahami oleh anak-anak. Tapi tentu saja, ini hanya salah satu cara memahami pengalaman itu, dan hal ini berlaku untuk beragam peristiwa lainnya, peristiwa-peristiwa politik, sosial, dan ekonomi.

Kemudian di dalam We Are All Equally Far from Love, lanskap Palestina didesain dalam novel ini dalam kesukaran karakter-karakternya untuk bergerak. Jadi, ketimbang mendeskripsikan pos pemeriksaan atau pencegahan pergerakan, buku ini mengisahkan konsekuensi dari pembatasan-pembatasan pergerakan itu. Karakter-karakternya terperangkap dalam ruang klaustraphobia atau lumpuh secara fisik dan mental. Dan dalam kaitannya dengan yang terakhir-kelumpuhan emosional- novel itu melukiskan akibat dari kebrutalan hidup di dalam kondisi opresi politik pada tingkat personal, di mana jiwa manusia, dan kemampuannya untuk mencintai, tergerus. Jadi, daripada menampilkan eksterioritas pengalaman penduduk Palestina, dengan jalan mengubahnya menjadi tontonan bagi orang lain, kedua novel itu mengisahkan konsekuensi-konsekuensi kehidupan sehari-hari penduduk Palestina, lewat hal-hal yang biasa dan banal.

Jose Garcia

Bagaimana tanah air dan kebangsaan membentuk pengalaman-pengalamanmu masa kecilmu?

Adania Shibli

Sebagai orang yang hidup di tempat yang tampak seperti sebuah hukuman untuk kajahatan yang tak pernah mereka lakukan, di usia yang masih sangat muda hal itu memunculkan pertanyaan-pertanyaan tajam dalam kaitannya dengan ide-ide sederhana seperti keadilan, atau ketiadaannya. Saat masih anak-anak Anda tidak benar-benar memisahkan antara keduanya, antara ketidakadilan tentang mengapa sebagian orang memiliki lebih banyak hak istimewa dibanding orang lain.

Itu merupakan pertanyaan-pertanyaan yang saya coba untuk atasi juga di usia yang masih sangat muda; antara melawannya dengan suara lantang, atau memilih berada di samping orang-orang kuat, atau menciptakan duniamu sendiri di mana Anda bisa membayangkan realitas-reaitas yang berbeda-inilah satu-satunya yang terus menarik perhatian saya. Apakah melalui membaca atau menonton diam-diam apa yang terjadi saat itu, saya mengubah sedikit peristiwa-peristiwa itu, membayangkan dunia yang lain. Itu merupakan permainan yang adiktif, dan saya ingat mendapati diri saya tenggelam dalam imajinasi sampai saya terkadang merasa malu karena tak mengingat peristiwa-peristiwa masa lalu seperti yang diingat orang-orang di sekitar saya. Jadi mungkin kesadaran atas ketidakadilan yang terus terjadi yang tak dapat dihindari dalam konteks penduduk Palestina merupakan kekuatan pertama yang mendorong saya ke dunia literatur sejak dini.

Jose Garcia

Touch dan We Are All Equally Far from Love keduanya memiliki banyak rupa karakter-karakter perempuan kuat. Dan saya bukan hanya mengartikan kuat sebagai seorang perempuan independen. Akan tetapi mereka sangat lantang, rumit, dan terkadang karakter yang tercela. Mereka menyembul dari halaman-halaman itu dengan kepribadian dan kecacatan-kecacatan mereka. Seberapa penting feminitas-dan karakter-karakter perempuan-dalam karya Anda?

Adania Shibli

Sejujurnya, Saya tak pernah memikirkan soal perempuan atau laki-laki. Saya bisa bilang, saya tak pernah mengaitkannya dengan diri saya sebagai perempuan; itu hanyalah perspektif dalam hidup. Bisa jadi kebetulan bahwa karya-karya saya memiliki banyak karakter perempuan. Ini bisa saja berubah, mungkin juga tidak.

Di dalam novel baru saya, yang teridiri dari dua bab, tiap bab mempunyai satu protagonis, satu laki-laki dan satu lainnya perempuan. Tapi Anda benar, saat saya menulis bab pertama dengan karakter protagonis seorang laki-laki, saya benar-benar merasakan itu seorang laki-laki, karena menceritakan dunia keteraturan dan kekuasaan-dunia yang saya tak ingin menjadi bagian di dalamnya. Cukup menghibur untuk memainkannya, bahkan dalam kaitannya dengan imajinasi, tapi tak terlalu menarik. Karakter perempuannya cenderung ragu-ragu, berantakan; dia gagap dan berjalan dalam kesia-siaan. Saya lebih tertarik pada karakter-karakter semacam itu, seperti karakter laki-laki dalam Belle de Jour karya Bunuel-karakter laki-laki yang memiliki luka buruk rupa di wajahnya.

Saya tidak mengaitkan feminitas dengan seksualitas. Bagi saya feminitas soal perlawanan terhadap kuasa dan aturan dengan cara yang amat kejam.

Jose Garcia

Ada banyak kesunyian dalam cerita-cerita Anda. Banyak misteri dan juga begitu intim. Bagaimana Anda menyeimbangkan kesunyian yang pekat itu dengan aksi?

Adania Shibli

Anda bisa menemukan jawabannya dalam musik. Saat saya mendengarkan musik, saya menyadari bahwa keseluruhan aksi dan gerakan musikal hanyalah mungkin karena adanya kesunyian yang meresap sebuah karya musik. Saya begitu tertambat pada kesunyian itu dan apa yang dia lakukan, atau apa yang bisa dia lakukan sebelum bunyi bermunculan, atau bahkan apa yang mendorongnya.

Jose Garcia

Kedua buku Anda juga sangat kental nuansa keluarga. Apa peran keluarga dalam proses menulis Anda?

Adania Shibli

Kita terlahir dalam sebuah keluarga, tanpa memilih mereka, dan itulah pengalaman pertama bagi sebagian besar orang. Ketiadaan pilihan itulah yang saya pertanyakan: bagaimana menjalani hidup yang tidak Anda pilih, dan apakah Anda pada akhirnya akan memilih secara sadar. Saya sebetulnya masih heran.

Jose Garcia

Ini membawa saya pada karya cerita pendek Anda untuk terbitan Freeman;s: Family. Apa yang menginspirasi Anda untuk menghampiri topik yang begitu luas (keluarga) melalui cerita itu?

Adania Shibli

itu sesungguhnya momen di mana saya pertama kali menyadari bahwa saya memaksakan ketiadaan pilihan ini pada orang lain, pada anak-anak saya. Ayahnya dan saya punya pilihan untuk hidup bersama, mereka tidak. Jadi anak-anak saya terdampar di sana, di momen yang sangat ekstrem itu-“Seperti inilah panggilan yang dilakukan oleh tentara Israel saat mereka hendak embombardir sebuah bangunan perumahan. Saat seeorang mengangkat telponnya, mereka melepaskan haknya untuk menuntut sang tentara atas kejahatan perang.” Inilah sebuah pemahaman yang didorong oleh ketakutan: ketakukan atas keselamatan mereka. Hingga hari ini saya masih bertanya bagaimana mereka memahami peristiwa itu, dan apakah mereka akan mengingatnya. Tulisan dalam Freeman’s merupakan testimoni untuk mereka ketahui, bukti bahwa itu pernah terjadi untuk anak-anak saya lihat kemudian hari.

Baca Juga: Eksplorasi yang indah nan suram tentang kejiwaan manusia: novel baru karya Adania Shibli

Jose Garcia

Saya menduga panggilan telpon itu sangat mengerikan. Namun, saya sendiri datang dari negeri yang penuh kekerasan dan tak terduga-duga, Saya sadar bahwa orang cenderung menjadi kurang peka dan menjadi terbiasa terhadap kekerasan. Apa yang bisa kita lakukan untuk melawan “jadi biasa saja” itu?

Adania Shibli

Adakah yang bisa kita lakukan untuk melawannya? Saya sendiri heran.

Saya selalu menemukan tempat lewat kata-kata untuk menciptakan kemungkinan-kemungkinan paralel di mana dehumanisasi tumbuh subur. Namun, dalam kehidupan nyata, Anda harus menetralisasi seluruh emosi Anda dan menjadi mati rasa, tapi kemudian menulis menetralisasi penetralisasian tersebut. Orang lain tak memiliki dunia kata-kata untuk menyelamatkan mereka. Tapi ada hal lain, berjalan kaki, trotoar, sebuah pohon, sebuah batu, objek-objek minor tak terhingga yang digubah menjadi tempat bagi mereka melakonkan kemanusiaannya, tempat di mana opresi tak bisa menjangkaunya atau menghancurkannya.

Tahun ini saya mengunjungi sebuah pameran di Palestina, judulnya City Exhibition 5. Pameran itu didedikasikan untuk gagasan tentang “Reconstructing Gaza,” sebuah term yang telah kita dengar berulang-ulang sejak 2014. Para peserta dalam peretunjukkan itu, pelajar dan anak muda, merekonstruksi kota menggunakan puing-puing kota itu sendiri. Kemudian mereka menawarkan benda-benda kesayangan mereka kepada orang-orang Gaza, dari bunga kering sampai gantungan kunci. Sangat menarik untuk mengetahui apa yang dipilih orang-orang itu. Salah seorang bahkan menawarkan untuk membawa bantuan untuk orang-orang Gaza dengan menawarkan sebuah buku puisi dari penyair yang tak dikenal.

Jose Garcia

Apakah Anda mengartikan “jadi biasa saja” itu sebagai mekanisme pertahanan diri?

Adania Shibli

Sesungguhnya saya mengartikan itu sebagai sebuah gerakan seni bela diri. Opresor pertama-tama ingin menghancurkan hasrat hidup Anda, dan kemudian Anda menetralisasinya dengan bertindak seolah ini hal yang normal. Tapi nyatanya Anda menyimpan rahasia di tempat tersembunyi yang mana si opresor anggap terlalu remeh, mereka tak merasa perlu untuk menghancurkanya. Saya ingat saya dua kali pernah diinvestigasi oleh petugas intelijen Israel yang ingin tahu tentang apa yang saya tulis. Ketika saya katakan pada mereka itu semua tentang kisah-kisah cinta yang gagal, mereka kehilangan minatnya terhadap saya.

Jose Garcia

Apakah pemilu AS membutuhkan semacam model “jadi biasa saja” yang baru dibanding yang ada di negeri asal Anda, ataukah sama saja?

Adania Shibli

Bagi saya sepertinya kita tak dapat menyalahkan meluasnya agenda kebencian yang kita saksikan belakangan ini sebagai akibat dari pemilihan umum yang baru terjadi. Saya tidak yakin, bila saja hasilnya berbeda, akan ada perbedaan dalam hal ini. Pemerintahan AS sebelumnya tidak berusaha keras untuk menetralkan kebencian itu. Mungkin akan menjadi semakin parah, tapi hal ini sudah memburuk untuk waktu yang lama, hingga tingkat di mana saya merasa agenda kebencian itu memiliki temponya sendiri, kehidupannya sendiri, dan sepertinya tak terpengaruh oleh pemilu. (*)

Diterjemahkan dari “Adania Shibli on Writing Palestine from the Inside” wawancara oleh Jose Garcia, Februari 2017.

Continue Reading

Interview

Menulis dan Jalan Hidup Isabel Allende

mm

Published

on

Hidup. Menulis cerita, adalah satu-satunya hal yang ingin Saya lakukan. Menulis itu seperti bernafas. Sastra telah memberi Saya suara, memberi arti pada hidup Saya

Dari wawancara Alison Beard dengan Isabel Allende | Judul asli “Life’s Work” |

Harvard Business Review Edisi Mei 2016 | (p) Addi Midham | (e) Sabiq Carebesth

 

Novel pertama Isabel Allende, yakni “The House of the Spirits,” bermula dari surat yang ia tulis untuk kakeknya yang sedang menghadapi hari-hari terakhir sebelum wafat. Novel ini telah menjadi best seller internasional. Namun, Isabel tampaknya masih berambisi menulis karya yang jauh lebih sukses lagi sebelum memutuskan untuk pensiun. Daftar karyanya sekarang sudah mencakup lebih dari 20 judul, termasuk “The Japanese Lover” yang dirilis tahun lalu. Berikut ini wawancara dengan Isabel Allende.

Apa arti ‘menulis’ bagi Anda?

Hidup. Menulis cerita, adalah satu-satunya hal yang ingin Saya lakukan. Menulis itu seperti bernafas. Sastra telah memberi Saya suara, memberi arti pada hidup Saya dan menghubungkan Saya dengan jutaan pembaca di seluruh dunia.

Menerbitkan buku itu susah, bagaimana Anda bertemu Carmen Balcells?

Novel pertama Saya, “The House of the Spirits” ditolak beberapa penerbit. Suatu hari resepsionis di salah satu perusahaan penerbitan mengatakan bahwa buku Saya tidak akan bisa terbit tanpa perantara agensi yang baik dan dia menyebutkan nama Carmen Balcells. Kemudian, Tomas Eloy Martinez, penulis Argentina, memberi Saya alamat Carmen Balcells di Spanyol dan merekomendasikannya sebagai agen terbaik untuk sastra Amerika Latin.

Di salah satu wawancara, Anda mengaku memiliki visi sinematografi ketika menulis. Teknologi baru mengubah hidup kita saat ini, banyak orang berkomunikasi lewat facebook atau twitter setiap hari dan kemudian ada juga revolusi e-book: Bagaimana Anda berkomunikasi dengan kebanyakan orang, baik sebagai penulis dan sebagai pribadi? Apa pendapat Anda tentang e-book?

Saya tidak punya facebook dan Saya tidak bermain twitter, karena Saya tidak punya waktu. Saya terlalu sibuk menulis. Setiap malam ada setumpuk buku di meja yang menunggu giliran untuk Saya baca. Saya suka menyentuh dan mencium buku. Meski demikian, Saya lebih suka membaca E-book saat dalam perjalanan, karena Saya bisa membawanya sebanyak mungkin yang Saya mau dengan iPad. Saya memperkirakan, tak lama lagi, buku cetak akan menjadi barang langka, hanya menjadi simpanan para kolektor dan perpustakaan, karena kita akan membaca semua tulisan lewat layar.

Anda mulai menulis setiap buku pada tanggal yang sama ketika Anda mulai menulis “The House of the Spirits.” Mengapa?

Pada awalnya, sebenarnya itu takhayul saja, karena buku pertama Saya sangat beruntung. Kalau sekarang, itu soal disiplin. Jadwal Saya padat, jadi Saya perlu menyediakan waktu beberapa bulan dalam setahun untuk retret. Saya butuh waktu dan kesunyian, atau Saya tidak akan pernah bisa menulis. Memiliki kebiasaan mulai menulis di tanggal tertentu baik untuk Saya dan semua orang di sekitar Saya. Mereka tahu bahwa pada setiap tanggal 8 Januari, Saya tidak punya waktu selain untuk menulis.

Apakah Anda selalu memikirkan konsep terlebih dahulu sebelum menulis buku?

Seringkali—tetapi sangat samar-samar. Saya tidak pernah punya rancangan naskah. Saya mungkin punya waktu dan tempat sebagai obyek penelitian. Misalnya, ketika Saya menulis sebuah cerita tentang pemberontakan budak di Haiti pada 200 tahun yang lalu, Saya mempelajari peristiwa tersebut terlebih dahulu. Akan tetapi, setelahnya Saya tidak memiliki karakter, alur cerita, maupun akhir kisah. Sementara di lain waktu, Saya duduk di depan komputer dan membiarkan kalimat pertama keluar. Itulah kalimat pembuka untuk sebuah cerita, tetapi Saya sempat tidak tahu tentang apa itu.

Bagaimana Anda melanjutkannya?

Perlahan. Beberapa pekan awal seringkali mengerikan karena Saya tidak kunjung menemukan narasi, nuansa dan alur cerita. Ini menyebalkan, karena Saya cemas bahwa semua halaman yang sudah Saya tulis akan berakhir di tempat sampah. Tapi ini biasanya hanya pemanasan: Saya harus menemukan bentuk cerita dulu. Setelah beberapa minggu, karakter-karakter mulai muncul dan menceritakan kisah mereka kepada Saya. Kemudian Saya merasa berada di jalur yang tepat.

Apa yang Anda lakukan ketika ide cerita tak kunjung muncul?

Terkadang, Saya merasa mungkin tidak seharusnya menulis cerita itu. Tetapi, setelah lama saya terus berupaya menemukan cerita tanpa henti, cepat atau lambat semuanya terjadi. Saya sudah belajar untuk meyakini kemampuan Saya, tetapi memang itu butuh waktu lama. Semula, Saya kira setiap buku seperti hadiah dari langit, namun sekarang tidak lagi — karena setelah 35 tahun menulis, Saya tahu bahwa jika Saya mencurahkan cukup waktu untuk mendalami sebuah topik, Saya dapat menulis hampir tetang apa pun. Hal ini memberi Saya kepercayaan diri sehingga Saya bisa dengan santai menikmati proses menulis.

Anda pernah mengaku punya bakat sebagai pendongeng alami. Menurut Anda, bakat atau latihan yang lebih penting dalam mengarang?

Saya pernah mengajar menulis kreatif di beberapa perguruan tinggi. Saya bisa mengajari mahasiswa tentang cara menulis cerita, tetapi tidak mungkin mengajari mereka cara mendongeng. Mendongeng itu seperti memiliki telinga untuk mendengarkan musik. Anda memilikinya, atau tidak. Jadi, semacam insting mengetahui apa yang harus dikatakan, apa yang sebaiknya disimpan lebih dulu, lalu bagaimana menciptakan ketegangan dan membangun karakter dalam tiga dimensi hingga cara memainkan bahasa—Saya pikir hal itu bakat sejak lahir.

Saya memiliki gen pendongeng yang tidak dimiliki semua orang. Namun, saya pernah kesulitan untuk menulis. Saya mampu mendongengkan cerita secara lisan, tetapi tidak bisa menulisnya. Sampai akhirnya Saya berlatih dan terus berusaha sehingga bisa menguasai keterampilan itu. Saya malah merasa menguasai keterampilan itu baru-baru ini saja.

Anda bekerja sebagai jurnalis, pembawa acara TV dan pengelola sekolah sebelum menjadi penulis di usia 39 tahun. Bagaimana prosesnya hingga Anda memutuskan menjadi penulis?

Saya tidak merasa telah membuat pilihan. Saya tidak pernah mengatakan, “Saya akan menjadi seorang penulis.” Itu terjadi begitu saja. Jadi, ketika saya tinggal di Venezuela sebagai pelarian politik setelah kudeta militer di Chili, Saya tidak dapat menemukan lowongan pekerjaan sebagai jurnalis. Lalu, Saya bekerja di sekolah, dan Saya merasa memiliki banyak cerita di dalam diri Saya, tetapi tidak ada jalan keluar bagi mereka. Dan kemudian pada 8 Januari 1981, Saya menerima kabar bahwa kakek Saya sedang sekarat di Chili, dan Saya tidak bisa kembali untuk mengucapkan selamat tinggal. Maka, Saya mulai menulis surat untuk memberi tahu kakek bahwa Saya ingat semua yang pernah dia ceritakan kepada Saya. Kakek adalah pendongeng yang hebat.

Sampai meninggal dunia, kakek tidak pernah menerima surat itu. Tetapi, Saya terus menulis di dapur setiap malam setelah bekerja, dan dalam setahun, Saya merampungkan 500 halaman, sesuatu yang jelas bukan surat. Tulisan itu kemudian menjadi novel “The House of  The Sprits.” Novel itu terbit dan sangat sukses, sehingga membuka jalan bagi buku-buku Saya yang lain. Namun, Saya tidak langsung melepas pekerjaan saya, karena saya sempat mengira menulis bukan karir yang tepat. Semua seperti keajaiban yang terjadi secara kebetulan.

Apa yang akhirnya membuat Anda memutuskan berkarier sebagai penulis?

Saya mendapat penghasilan lumayan. Buku-buku Saya diterjemahkan ke 35 bahasa dan laris seperti kacang goreng. Setelah itu, Saya mulai meyakini, jika terus menulis maka Saya dapat mencari nafkah untuk keluarga.

Pernahkah Anda benar-benar berusaha membuat buku-buku Anda, yang paling banyak mendapat pengakuan, menjadi karya yang sukses?

Ketika agensi Saya, Carmen Balcells—ibu baptis dari setiap buku Saya, yang Sayangnya meninggal belum lama ini—menerima naskah “The House of the Spirits” di Spanyol, dia menghubungi Saya yang sedang di Venezuela dan berkata, “Semua orang bisa menulis buku pertama yang bagus, karena mereka mencurahkan segala yang mereka miliki ke dalamnya—masa lalu, ingatan, harapan, segalanya. Kemampuan seorang penulis dibuktikan di buku kedua.”

Oleh karena itu, Saya mulai menulis buku kedua pada 8 Januari di tahun berikutnya, untuk membuktikan kepada Carmen Balcells, bahwa Saya bisa menjadi seorang penulis. Novel “The House of the Spirits” sukses di Eropa, dan pada saat Saya mengetahuinya, Saya sudah menyelesaikan buku yang kedua. Tentu saja, setiap buku membawa tantangan yang berbeda. Cara bercerita di dalamnya juga berlainan. Saya pernah menulis memoar, novel sejarah, fiksi, novel remaja, bahkan novel kriminal. Namun, Saya tidak pernah membandingkan, atau bilang, “Apakah ini lebih baik atau lebih buruk daripada ‘The House of the Spirits’?” Setiap buku adalah sebuah persembahan. Anda cukup meletakkannya di atas meja dan melihat siapa yang akan membacanya.

Interview selengkapnya dalam buku “Memikirkan Kata”

yang akan diterbitkan Galeri Buku Jakarta (2019)

 

Continue Reading

Interview

Jokpin Yang Tak Pernah Lelah Menghisap Bahasa

mm

Published

on

Yogyakarta, saat itu mungkin tahun 2004 atau 2005, di kamar kos teman saya di daerah Papringan, menjelang petang teman saya datang, kemudian dengan antusiasme yang mencolok menyeru pada saya “Ada puisi, lucu ! coba baca!”

Dia menyodorkan saya koran Kompas, hanya beberapa lembar, halaman-halamannya sudah lusuh dan tidak utuh. Saya tidak tahu dia memungut di mana, yang pasti bukan beli karena harga koran itu mahal saat itu, dan juga hanya ia bawa separuhnya. Dan tentu saja itu koran edisi beberapa hari atau beberapa pekan yang lalu atau mungkin tahun lalu..

Saya malas, saat itu bahkan saya bukan pembaca rutin halaman Puisi harian kompas, saya tidak menyukai puisi. Teman saya memaksa, dengan mambacakan kutipan puisi “lucu” tadi dengan cergas seingat bait yang ada dalam benaknya; “Celananya pas, paksah celananya?”. Saya merespon biasa saja, “Maksudnya, Bung..” katanya lebih antusias, “Paskah—perayaan paskah ditakoni Yesus celananya pas tidak?”

Oh sialan! Dibuat lucu begitu bab agama! Saya lekas merasa tertarik karenanya. Saya pun duduk dan membaca sendiri puisi itu—puisi berjudul “Celana Ibu”.

Begitulah ingatan saya pada penyair Joko Pinurbo atau yang kini akrab dengan sapaan “Jokpin” mudah dibentangkan; puisinya lucu !

Lucu memang idiom konyol bagi sebagian orang, tapi banyak dari kita juga paham, hanya orang dengan kapasitas intelektual tertentu bisa menghasilkan hal lucu—terlebih dalam wahana yang memang bukan komedi seperti halnya puisi.

Jokpin dan puisi-puisinya memang tidak bisa disebut sebagai “puisi lucu” atau “penyair yang lucu”—jelas itu salah besar lebih-lebih jika dipahami secara literal saja. Puisi Jokpin bagaimana pun kaya dengan bobot yang bahkan memendam tragedi manusia yang sublim; sosoknya juga tak ada penampakan seorang yang lucu, garis pipinya kaku, matanya tajam, malah lebih terkesan seperti seorang perenung yang memikirkan terlalu banyak untuk diketetahui muasal atau realitas asalinya—seperti seorang filsuf. Hanya saja dia menuangkannnya dalam sajak dan puisi.

Subjektifitas yang demikian menuntun rasa ingin tahu saya, apa dan bagaimana laki-laki kelahiran Sukabumi 11 Mei 1962 itu sebagai penyair. Sesederhanakah hal itu seperti penampilannya sehari-hari? Saya ingin tahu bagaimana dia menghasilkan puisi, bagaimana dia menulis dan dengan dunia seperti apa dia menghimpun peluru untuk untuk ditembakkan ke dunia kita melalui puisi-puisinya itu.

Dalam proses kreatifnya berpuluh tahun hingga kini, Joko Pinurbo telah diganjar berbagai penghargaan seperti Puisi Terbaik Dewan Kesenian Jakarta. Hadiah Sastra Lontar, Sih Award, juga Tokoh sastra versi majalah TEMPO. Dan yang terpenting adalah penghargaan dari pembaca berupa rasa hormat dan menjadi penyair penting zaman ini bagi begitu banyak pembaca dan penikmat sastra indonesia.

Saya tak terkecuali, sebagai penikmat puisi, saya memupuk rasa penasaran untuk bertanya pada sang penyair tentang dunianya. Saya mengajukan beberapa pertanyaan untuk keperluan penerbitan buku “Memikirkan Kata” ini, dan itu terbalas dengan antusiasme! Tentu hal itu suatu keberuntungan, mengingat bagaimana sibuknya ia sekarang, harus membagi waktu dengan keinginannya untuk terus tinggal dalam ruang batin kreatifnya tapi dunia kini meminta waktunya lebih banyak, untuk mengisi kelas menulis, diskusi, bedah buku, atau menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti yang saya ajukan kepadanya.

Dan Berikut wawancara dengan penyair yang bagi saya, seperti seorang yang tak pernah lelah menghisap bahasa dari kebakaran yang melanda rumahnya.

Apakah dari awal anda memang tertarik menulis? Dan menulis Puisi?

Saya tertarik menulis sejak di bangku SMA. Awalnya karena suka membaca. Kebetulan koleksi perpustakaan sekolah/asrama saya mengagumkan. Banyak koleksi bacaan sastra yang bagus-bagus. yang membuat saya tergerak untuk belajar menulis. Di samping itu, tradisi penerbitan majalah di sekolah/asrama saya juga sangat hidup. Saya beruntung tumbuh di sekolah/asrama yang budaya baca dan budaya tulisnya berkembang subur.

Kapan pertama kali puisi-puisi anda dipublikasikan media?

Akhir tahun 1970-an. Tahun 1978 kalau tak salah. Saat di SMA puisi saya sudah dimuat di media (majalah) luar.

Bagaimana Anda menulis? Dengan pensil atau perangkat seperti laptop?

Pada mulanya dengan bolpoin, lalu dengan mesin ketik, lalu dengan komputer (PC), dan terakhir dengan laptop.

Apakah Integritas struktural dan nada sangat penting

dalam puisi-puisi Anda? Atau lebih bebas?

Tentu. Saya termasuk penulis yang sangat memperhatikan ketertiban dan keteraturan berbahasa. Koherensi dan logika, misalnya, sangat penting.

Meskipun banyak puisi saya yang cair dan “bebas”, saya tetap menjaga nada dan irama supaya kata-kata mengalir lancar dan enak.

Apakah anda membuat draft pertama dan banyak draft untuk satu buah puisi sampai Anda mengatakan “ya, ini final” dan mempublikasikannya?

Pada mulanya adalah draf, kemudian disunting puluhan kali sampai tersusun bentuk yang “final”. Bagian terberat dan menyita waktu adalah penyuntingan.

Apakah secara bombastis anda pernah atau bahkan seriang marah tentang titik koma yang digunakan secara buruk?

Sering. Saya sangat memperhatikan gramatika dan kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Titik koma pun tak luput dari perhatian saya karena bisa menentukan logika dan makna.

Dengan penyair siapa Anda pernah duduk santai dan berbicara  apa saja kemudian anda mengenang dari satu dua obrolan yang sangat penting meskipun tampak remeh?

Saya pernah duduk santai dan mengobrol dengan banyak penyair: Sapardi Djoko Damono, Acep Zamzam Noor, Hasan Aspahani, Aan Mansyur, dan banyak lainnya. Salah satu yang paling saya kenang adalah pembicaraan tentang akik dengan Acep. Kebetulan Acep penggemar dan kolektor akik. Dia mengumpamakan pekerjaan mengolah dan mengasah kata seperti menggosok batu akik sedemikian rupa sampai diperoleh sebutir akik yang halus, cemerlang dan memancarkan “aura”. Perlu kesabaran, ketelatenan, dan ketelitian.

Apakah mungkin untuk mengajar seseorang, atau belajar, bagaimana menulis dengan baik?

Sangat mungkin. Banyak hal teknis yang bisa dipelajari, dilatihkan,  dan “diajarkan”. Menulis toh bukan klenik atau ilmu gaib.

Ngomong-ngomong, pernah dengar afrizal mengatakan berhenti menulis puisi? Atau pertanyaanya apakah penyair bisa dan bijak pada titik tertentu memutuskan berhenti menulis puisi? Anda Punya rencana berhenti menulis puisi?

Saya pernah dengar itu. Kenyataannya, sampai saat ini Afrizal masih menulis dan masih terus bereksplorasi. Memang ada kalanya seorang penulis merasa jenuh dan bingung harus menulis apa dan bagaimana lagi. Saya pun pernah mengalami situasi seperti itu. Tak ada cara lain selain bahwa seorang penulis harus mampu memotivasi dirinya sendiri. Biasanya, setelah membaca karya orang lain, motivasi itu akan hidup kembali.

Bisakah Anda menggambarkan hari rutin Anda? Bagaimana Anda menghabiskan hari?

Tak ada yang istimewa dengan hari-hari saya. Saya menjalani hidup seperti manusia (dan warga negara) pada umumnya. Yang pasti, setiap hari saya pasti bergaul dengan kata-kata—antara lain untuk menjaga hubungan batin dengan kata-kata.

Apakah ada sesuatu yang anda lakukan agar mendapatkan suasana hati untuk menulis? pergi ke suatu tempat atau melakukan sesuatu untuk memulai berfikir?

Saya orang yang “gampangan”. Saya tidak punya kiat dan ritual khusus untuk itu. Cukup dengan kopi/teh dan rokok.

Apa saran menulis terbaik yang pernah anda terima? Dari siapa dan bagaimana ceritanya?

Saran terbaik saya terima dari Aristoteles: “Akar pendidikan itu pahit, tapi buahnya manis.” Saya mengalami sendiri bagaimana bersabar, berjuang, dan berjerih payah untuk dapat menghasilkan karya yang baik. Setiap kali menulis saya memperlakukan diri saya sedang belajar dan berlatih menulis.

Buku-buku yang paling anda gemari dan dalam benak anda sangat penting karena memberi pondasi bagi karya-karya Anda?

Injil, karya-karya Budi Darma, Iwan Simatupang, Sapardi Djoko Damono, Anthony de Mello, Carlos Maria Dominguez.

Yang terakhir, 1 judul puisi milik anda yang paling berkesan bagi anda pribadi?

Ha-ha-ha…. Sulit. Enggak nemu.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending