Connect with us

Interview

George Orwell: Saya tahu pada akhirnya harus duduk dan menulis buku

mm

Published

on

Pada usia 30 tahun seorang akan mengambil keputusan penting atau bahkan terpenting dalam hidupnya, memilih menjadi bos dan menikmati kesenangan mengendalikan banyak orang, atau menjalani hidup yang nyaris abadi dalam ritme sama sebagai pekerja loyal meski pun jengah.

Pilihan lain adalah duduk dan menulis buku, mengutuk dirinya sendiri tanpa pernah berpikir untuk meninggalkan tugasnya—menulis.

Tentu tidak sekaku dan seluruhnya demikian, tapi paling tidak demikian lah babak mental yang mendera seorang novelis George Orwell sebelum akhirnya, pada usia 30 tahun, ia memutuskan berhenti dari pekerjaan yang digeluti lima tahun sebelumnya yaitu sebagai Polisi Kerajaan India di Burma, lalu mulai menulis.

Pekerjaannya sebagai polisi Kerajaan India dan kemiskinan serta banyak kegagalan lain dalam hidupnya, kelak akan menguatkan intuisi alamiahnya untuk membenci otoritas (kekuasaan) dan menaruh perhatian lebih pada kelas pekerja, kelak hal itu akan banyak terlihat semangatanya dalam novelnya yang mashur “Animal Farm”.

Ia merasa sudah waktunya mengambil keputusan atau tidak sama sekali. Ia lantas menyelesaikan novel lengkapnya yang pertama: Burmuse Day. Tentu saja, dia sendiri mengakui novel itu sudah ia persiapkan cukup lama, bahkan sejak ia masih berusia belasan.

George Orwell

Pada usia lima atau enam tahun, demikian menurut Orwell Sendiri, “Saya menyadari saat itu, dan saya tahu masanya akan tiba; cepat atau lambat, saya harus duduk dan mulai menulis buku. Saya tidak boleh membunuh bakat alamaiah yang saya tahu telah mengandungnya sejak belia”, demikian pengakuannya.

Bukan hal mudah, bahkan seperti sebuah hal konyol, andaikan saja di usia 30 tahun, seorang berhenti dari kehidupannya sehari-hari dan memutuskan untuk menulis buku, Orwell sendiri dalam salah satu esainya tentang bagaimana menulis, ia menyatakan “Menulis buku itu mengerikan, perjuangan yang meletihkan, seperti sakit berkepanjangan. Seorang tak akan pernah berusaha menciptakan sesuatu jika tidak didorong oleh setan-setan yang dapat melawan atau memahami.”

Pertanyaannya adalah implus atau motif apa yang melatari, seperti halnya Orwell, memilih duduk dan menulis buku? Motif politik? Implus historis? Kesenangan estetis? Atau semuanya?

Sabiq Carebesth* dari Galeri Buku Jakarta mewawancari Orwell secara imajiner ihwal bagaimana mengarang dan dunia menulis yang disebutnya mengerikan dan menyakitkan–bahkan pada akhirnya sia-sia itu. Selengkapnya:

INTERVIEWER

Ini sederhana saja tampaknya, saya ingin bertanya seperti banyak orang menanyakan dengan konstan dan ringan pada sejawatnya yang penulis buku—kenapa Anda menulis?

GEORGE ORWELL

Saya telah menulis dalam sebuah esai dan saya pikir Anda pun telah membacanya, bahwa bagi saya seorang menulis, termasuk saya, paling tidak karena beberapa motif yang terus menerus menderu menjadi implus dalam pikiran. Egoisme, dalam bahasa yang mudah berupa implus untuk menjadi terkenal, tampak pintar, atau untuk dikenang setelah meninggal—itu selalu akan menjadi motif yang besar, meski hal itu menempatkan seseorang dalam kedewasaan yang semu sekedar untuk membalas hinaan atau sakit hati pada usaia kanak-kanak, adalah motif besar yang implusnya nyaris datang tanpa jeda pada masa-masa yang menentukan. Motif lainnya saya katakan adalah, antusiasme estetis. Persepsi tentang keindahan di dunia luar, dalam kata-kata dan susunan yang teratur. Rasa senang yang mencul dalam rima dan matra bahasa, dalam hasrat membagi yang sepatutnya dikenang… dan yang lain tentu saja adalah motif tentang tujuan politisdalam artinya yang paling luas. Suatu dorongan untuk menempatkan dunia dalam urutan pasti atau mengubah gagasan orang lain tentang ragam masyarakat.  

INTERVIEWER

Mari kita bicara motif anda, yang paling kuat dan mempengaruhi karangan anda?

GEORGE ORWELL

Saya rasa bahkan saya tidak bisa menjawab dengan pasti, bisa jadi bahwa semua motif itu terakumulasi dan sangat dipengaruhi oleh latar belakang dan lingkungan ketika penulis itu hidup. Hanya saja bagi saya, tak ada buku yang sama sekali bebas dari bias politik. Bahkan pendapat yang mengatakan bahwa seni tak bersinggungan sedikit pun dengan politik adalah sikap politik itu sendiri. Dan tahukah, bila saya menengok kembali karya saya, saya merasa kekurangan tujuan politis sehingga saya merasa seperti hanya menulis buku-buku yang tak bernyawa dan terpisah-pisah, penuh kalimat tanpa makna, kata-kata dekoratif, dan biasanya omong kosong.

INTERVIEWER

Tapi banyak orang bahkan menilai Anda, sebut saja dengan menulis novel Animal Farm, tampak begitu politis, dan bukankah buku tersebut memberi dampak yang luar biasa besar?

GEORGE ORWELL

Animal Farm adalah buku pertama yang saya coba dengan penuh kesadaran tentang apa yang harus saya lakukan, memadukan tujuan politis dengan tujuan artistik. Memang buku itu memliki semangat untuk mengkritik kehidupan publik pada masanya—dan saya menulisnya setelah tujuah tahun sebelumnya tidak menulis novel. Tapi pada masa itu saya tahu saya ingin menulis sesegara mungkin. Saya rasa itu bentuk kegagalan, tapi wajar, pada dasarnya semua buku adalah kegagalan—tetapi bedanya Animal Farm, saya menulisnya dengan kesadaran pasti apa yang ingin saya tulis.

INTERVIEWER

Jadi bukankah itu novel yang kuat motif politisnya?

GEORGE ORWELL

Saya tidak ingin mengatakan itu sebagai impresi final. Pada dasarnya, semua penulis itu sia-sia, mementingkan diri sendiri, dan malas, serta pada motif mereka yang paling dasar, adalah benar-benar misteri. Jadi saya pun tak dapat mengatakan dengan pasti, meski jika anda memaksa, saya tetap tak bisa mengatakan dengan pasti mana motif yang paling kuat. Tapi saya bisa katakana bahwa buku sebaiknya memiliki motif politis.

INTERVIEWER

Animal Farm

Mari kita andaikan bahwa penulis perlu memiliki motif politis, sekaligus estetis, bagaimana pengalaman Anda terkait hal itu?

GEORGE ORWELL

Apa yang ingin saya lakukan saat itu adalah, membuat tulisan politis yang masuk ke ranah seni. Titik pijak saya selalu dari sikap partisan, rasa ketidakadilan sosial. Jadi saat saya duduk untuk mulai menulis, saya tak berkata pada diri sendiri “Saya akan membuat karya seni”, tapi saya menulisnya karena begitu banyak dusta yang ingin saya ungkap. Namun kemudian saya pun sadar saya tidak bisa bekerja menulis buku, atau bahkan artikel panjang untuk majalah, jika tanpa pengalaman estetis. Jadi saya katakana akhirnya saya tak bisa membuang salah satunya, bahwa karya sastra bagaimana pun ditulis sebagai karya “pamflet” ia tetap tidak akan sepenuhnya menjadi seuatu propaganda. Tugas penulis saya rasa adalah mendamaikan suka dan benci, non individual, aktivitas publik yang mendasar dan mandarah daging, yang pada masa sekarang menyerang kita semua.

INTERVIEWER

Baiklah, mari kita bicara hal yang lebih ringan dari porses kreatif Anda, kapan pertama kali anda menulis dan merasa pada akhirnya harus (menjadi) penulis?

GEORGE ORWELL

Saat saya berusia lima atau enam tahun, saya benar-benar telah menyadari keinginan itu, bahwa cepat atau lambat, pada akhirnya saya akan duduk dan menulis buku. Selama 24 tahun usia saya mencoba melepaskan pikiran itu, tapi nyatanya pikiran itu terus mengisi benak saya. Saya harus katakana bahwa sampai usia 8 tahun saya nyaris tak pernah melihat ayah saya, dua saudara (adik dan kakak) saya masing-masing dari kami berbeda lima tahun usianya. Untuk alasan ini dan itu, saya menjadi pribadi yang penyendiri. Di sekolah saya merasa disepelakan dan hal itu, atau entah karena hasrat saya untuk menulis lebih besar, saya benar-benar gagal dalam pergaulan sosial. Saya menulis puisi pertama saya pada usia lima tahun. Saya mendiktekan dan ibu saya menulisnya, jadi saya merasa ibu saya saja yang mengerti dunia menulis saya. Saya terus menulis buku harian sejak usia lima tahun dan pada usia enam belas tahun saya benar-benar tak bisa melepaskan diri dari rasa nikmat menjelajahi kata-kata, termasuk suara dan asosiasi kata-kata. Saya jatuh cinta dan rasanya mustahil membebaskan diri dari hal itu.

INTERVIEWER

Rasa nikmat menulis—meski begitu meletihkan dan bukan dunia yang bisa dikatakan dunia yang mujur? Lalu apa pesan Anda untuk para penulis setelah Anda, mengingat menulis bukan dunia yang mudah bahkan cenderung sakit?

GEORGE ORWELL

Saya melihat pada kurun usaia tertentu, katakanlah usia 30 an, seorang melepaskan individualitasnya, dia berhadapan dengan dunia eksternal yang tak terhindarkan—memimpin orang lain atau menenggelamkan diri dalam lautan pekerjaan yang menjemukan. Namun, saya percaya, selalu ada orang-orang berbakat yang jumlahnya sedikit, orang-orang yang dengan sengaja membiarkan hidupnya berlangsung hingga akhir, dan para penulis berada di tempat ini. Para penulis yang serius, saya katakan demikian, memiliki kesombongan yang lebih menyeluruh dan egois dibanding para jurnalis, walau mereka kurang tertarik dengan uang. (SC)

*) Sabiq Carebesth, disarikan dari esai utama George Orwell “Mengapa Saya Menulis” dan esai lainnya dalam “Orwell, A Collection of Essays” (Penguin Book, 1970)

 

Interview

Bagaimana Hidup Dalam Seni dan Menghidupi Seni?

mm

Published

on

Dalam catatan harian Bertolt Brech ia menulis tentang sesuatu yang disebut esensi dari seni, yang mana ia deskripsikan sebagai “kesederhanaan, keagungan, dan kepekaan,” dan wujudnya adalah ketenangan.

Menelusuri jurnal-jurnal yang kusimpan dalam hati, sebagaimana orang katakan, tentang kehidupan kepenulisanku dari tahun 1962 dan seterusnya, aku tidak menemukan kesimpulan semacam ini. Ada lebih banyak nama ketimbang ide-ide, tidak selalu nama-nama terkenal dan terkadang nama-nama yang tidak dapat kukenali-Irin Gazelle, siapa pula itu? Jay Julian. Terdapat cukup banyak deskripsi dan banyak sekali percakapan-percakapan-pembicaraan-tetapi lebih sedikit dari yang kukira soal kepenulisan-apa yang saat itu kutulis, apa yang aku rasakan tentang apa yang telah kutulis. Jurnal-jurnal itu sendiri ditulis seadanya. Mereka dimaksudkan untuk kupergunakan, bukan untuk dibaca oleh orang lain. Beberapa halaman ditulis dengan lebih rapi, hal-hal yang akan kusesali untuk tidak mengingat detail-detail terkecilnya.

Aku menulis catatan harian atau jurnal-jurnal sejak pertengahan usia duapuluhan, tetapi seperti kegiatan menulis itu sendiri, saat itu aku tidak mengetahui bagaimana cara melakukannya. Aku mulai dengan menuliskan apapun-begitu saja, jika aku memang benar menuliskan sesuatu. Pada akhirnya aku menyadari bahwa tak seharusnya aku menyimpan sampah.

Aku telah menulis beberapa cerpen tetapi mereka samasekali tidak bagus. Aku tidak tahu bagaimana caranya untuk terus menulis. Persoalan dengan ceritanya adalah mereka tak memiliki bentuk dan kesungguhan. Aku membaca cerita-cerita di The New Yorker dan Esquire dan aku menncoba untuk menirunya. Proses meniru ini merupakan hal yang mengecilkan hati. Cerita-ceritaku terlihat seperti milik mereka, tetapi entah bagaimana mereka dapat dibedakan dari yang asli, atau begitulah yang kupikirkan. Tentu saja dalam beberapa hal mereka hanyalah tiruan dari tiruan, dan tidak ada orang yang mencari hal semacam itu.

Permasalahanku juga soal keyakinan, bahkan setelah aku menyelesaikan sebuah novel. Ketika aku akhirnya memutuskan untuk mengubah jalan hidup, untuk meninggalkan komisiki dan memulai hidup baru, itu adalah keputusan yang sederhana secara fisik; Aku menulis sebuah surat pengunduran diri dan menyampaikannya langsung. Aku pikir akan ada semacam reaksi, seseorang akan menggelengkan kepala dengan perasaan menyesal atas kepergian seorang petugas yang telah mengabdi selama 12 tahun, tetapi tidak ada sama sekali. Hal itu dianggap biasa saja, seumpama aku hanya mengembalikan sepasang boot. Siang itu, aku merasa terguncang dan tertekan. Aku ingin berbicara dengan seseorang yang mungkin dapat mengerti. Mantan komandan sayapku, yang aku hormati dan menyukaiku, saat itu dia sedang ditugaskan di Washington, dan aku meneleponnya. Dia dengan segera mengundangku untuk makan malam. Aku mengatakan padanya apa yang baru saja aku lakukan dan mengapa, dan apa yang aku ingin lakukan. Dia mengatakan, kau idiot.

Aku tidak ingin menulis di kota. Di kota, setiap orang bekerja atau sedang dalam perjalanan untuk bekerja, atau setelah itu dan mereka telah menyelesaikan pekerjaan mereka pada hari itu. Dan selalu saja ada dengung halus perkotaan seperti beberapa generator raksasa dikubur dalam di bawah tanah yang akan diam sesekali, tetapi tak sungguh-sungguh diam. JIka kau mendengarkan, di dalam kesunyian mereka selalu saja bersuara.

Aku memiliki dua atau tiga teman seniman, yang juga mempunyai hidup tak biasa, tetapi mereka tidak menikah atau tidak mempunyai anak, meskipun salah satu dari mereka telah menikah dengan Yoko Ono-ini jauh sebelum adanya John Lennon-dan mereka benar-benar menikah.

Aku mencoba bekerja di sejumlah tempat yang dipinjamkan, tapi aku tidak dapat membawa sedikit keyakinan denganku. Aku merasa hal itu hanya mungkin dilakukan di rumah, di dalam rumah saat pagi-pagi sekali sebelum istriku dan dua putriku bangun atau ketika mereka telah pergi tidur. Aku menulis di dalam kamar tidur kami di atas meja yang panjang. Baru kemudian aku bisa merasakan ketenangan dengan diriku sendiri. Pada siang hari, aku khawatir tentang bagaimana aku dapat menghasilkan uang untuk hidup. Aku mempunyai sedikit uang hasil penjualan film dari satu novelku, novel yang membuatku percaya bahwa aku dapat mengubah hidupku, tapi uang itu tak akan bertahan lama. Aku telah menjadi petugas penerbangan yang berpengalaman, jadi aku bergabung dengan Pasukan Udara Nasional. Pekerjaan itu memberi sedikit uang.

Salah satu tulisan pertamaku yang dipublikasikan bercerita tentang Barcelona. Terdapat dua orang gadis Jerman di dalam cerita itu, keduanya tak bahagia. Aku kemudian mendeskripsikannya lebih jauh dengan mengatakan bahwa tidak banyak yang terjadi. Salah satu gadis itu didasarkan pada seseorang yang aku temui di sebuah pesta dansa Fasching (perayaan 40 hari sebelum paskah atau sebelum puasa di mulai, umumnya dilaukakn di daerah Jerman Selatan dan Austria. pener)Aku tidak mengingat kostumnya dengan jelas, tetapi itu seperti sebuah jubah mandi dengan timbangan emas dan sepotong rok. Temannya-seorang pria-yang di Barcelona merupakan seorang pujangga dan juga terlihat sedikit playboy. Pria itu tahu segala sesuatu tentang kota ini tetapi menghilang setelah malam pertama. Hari berikutnya kami pergi ke pantai. Dan begitulah akhirnya. Itu saja ceritanya, tetapi perbedaannya kali ini adalah aku dapat menuliskannya. Bahasanyalah yang memberikan kepastian. Aku hanya tahu sedikit sekali tentang gadis-gadis Jerman itu, tetapi aku memerasnya, kira-kira begitu. Entah bagaimana aku menjadikannya berarti.

Aku mengharapkan orang-orang akan terkesan dengan ceritanya. Kebanyakan dari mereka tidak mengerti judulnya, yang memang tak perlu dituliskan dalam bahasa Jerman, atau mengetahui bahwa itu juga merupakan judul sebuah lukisan. Tidak terpikirkan olehku bahwa tak seorang pun tertarik untuk mengetahuinya-orang yang berkuasa atas hal itu juga akan memaksa mereka.

Apakah ceritanya bagus? Sulit untuk diketahui; dulu itu bagus. Sekarang cerita itu menarik bagiku karena sindirannya pada keseluruhan usaha nihilistik dari Tangier (sebuah kota di Maroko yang bernuansa Eropa, seringkali menjadi tempat pelarian para penulis-penulis besar. pener)-Paul Bowles, Ginsberg, Burroughs, tetapi khususnya Francis Bacon dan kekasihnya yang sadistik, mantan pecinta RAF yang pemabuk, Peter Lacy dan lukisan lanskap yang menyentuh yang Bacon buat tentang Tangier.

Biasanya seorang penulis bukanlah orang yang akan mengevaluasi karyanya sendiri, dalam kondisi apapun. Aku mendengar Joe Heller suatu sore bertanya pada seorang perempuan apakah ia sudah membaca Something Happened, novelnya yang kurang dikenal namun signifikan. Ya, perempuan itu sudah membacanya. Bukankah itu buku yang sangat bagus? dia berkata.

Dia bertindak konsisten. Aku tidak sengaja mendengarnya dalam sebuah wawancara dengan seorang jurnalis Prancis ketika sedang berlangsung sebuah konferensi penulis di Paris. Setelah beberapa pertanyaan, jurnalis itu berkata, Tapi, Tuan Heller, setelah Catch-22 kau tidak pernah menulis hal sebaik itu lagi.

Memangnya siapa yang sudah, jawab Heller.

Penulis selalu menilai penulis lainnya, tetapi akan bertentangan dengan kepentingan mereka untuk secara mendalam mengevaluasi tulisannya sendiri.

Penulis menuliskan sesuatu. Karena panjangnya buku dan bermacam-macam atau bahkan hanya perbedaan sedikit saja, makna dari kata-kata tertentu, cara penggunaannya, pembaca mungkin saja membaca sesuatu yang berbeda, bahkan untuk pembaca yang ditargetkannya.

Pada dasarnya, menulis itu sederhana. Itu adalah hal yang fundamental, seperti sebuah palu dan paku-paku, atau melihatnya dengan cara lain, seperti menyanyikan sebuah lagu. Atau berbicara pada dirimu sendiri. Benar hal itu mempunyai aturan-aturan penyusunan. Tulisan itu mempunyai tatabahasa dan sintaksis, bentuk dan struktur kalimat-kalimat dan hubungan dan susunan kata-kata, yang kebanyakan kau pelajari, bahkan mungkin secara tidak tepat, sebagai seorang anak yang mendengarkan dan menirukan, pengulangan. Winston Churchill dulu seorang murid yang payah. Di sekolah persiapan dia dianggap terlalu bodoh atau terlalu keras kepala untuk bisa mempelajari bahasa Latin dan Yunani dan sebaliknya ditempatkan di kelas Bahasa Inggris dengan orang-orang dungu lainnya yang dianggap tidak cocok untuk mempelajari hal yang lebih sulit. Seperti yang dia katakan,

Kami dianggap anak-anak dungu sehingga kami hanya bisa mempelajari Bahasa Inggris…. benar-benar cuma Bahasa Inggris… Karena kejadian itu aku menjadi sangat paham struktur esensial dari kalimat umum British -yang mana merupakan hal yang mulia. Dan ketika setelah bertahun-tahun teman sekolahku yang pernah memenangkan hadiah-hadiah dan penghargaan istimewa karena menulis puisi berbahasa Latin yang sangat indah….mereka harus berpaling lagi ke bahasa Inggris yang umum, untuk menghasilkan uang atau untuk mempermudah jalannya, aku tidak merasa diriku sendiri tidak beruntung.

Untuk membuat bentuk dan ritme dari kalimat-kalimat dapat dirasakan dengan sungguh-sungguh adalah bagian dari metode pengajaran di sekolah menulis yang mana James Jones dan seorang perempuan bernama Lowney Handy dirikan di Illinois beberapa tahun setelah perang. Jones sedang berada dalam proses panjang penulisan novelnya From Here to Eternity, dan Lowney Handy merupakan inspirasinya. Murid-murid di sekolah itu duduk selama beberaoa jam setiap hari menyalin dengan tulisan tangan baris-baris yang dituliskan oleh Hemmingway, Faulkner, dan Thomas Wolfe untuk meneguk kekuatan dan kualitas mereka. Itu merupakan metode peniruan, mungkin tak seburuk kedengarannya.

Aku akan katakan bahwa pengajaran menulis lebih mirip dengan pengajaran menari. Jika seseorang mempunyai kepekaan terhadap ritme, kau mungkin dapat mengajarkannya sesuatu. Terdapat keinginan yang besar pada manusia untuk dapat menulis, dan pengajaran tentangnya, fiksi dan puisi, telah menjamur di kampus-kampus dan universitas-universitas dan juga diluar keduanya. Pengajar-pengajarnya seringkali orang yang terkenal dan sangat dicari-cari. Beberapa orang merupakan guru spiritual sejati dengan doktrin-doktrin dan para pengikut. Di berbagai kota ada kelas-kelas khusus dengan murid-murid pilihan. Kau pernah mendengar tentang seorang figur dramatis yang mencengangkan dalam penampilannya memakai boot dan jodhpurs (celana panjang bernuansa India dengan potongan menggembung di bagian pinggang hingga lutut. pener), mungkin sekali dengan rambut putih panjang seperti seorang nabi, dan membawa semacam ichor literatur, cairan di dalam pembuluh darah para dewa. Di ujung jarinya dia memiliki dalam jumlah tak terhingga buku-buku hebat yang terkenal dan yang kurang terkenal-buku-buku dan pengarang-pengarang, seperti halnya musisi mengetahui ribuan karya musik. Dia hanya mengatakan kebenaran, kebenaran mendalam tentang segala sesuatu dan kebenaran tentangmu, sebagai seorang penulis dan sebagai seorang manusia yang tentu saja sangat mungkin menjadi sulit. Sesi kelasnya sangat panjang, berlangsung selama berjam-jam, dan tidak dapat diganggu. Pertanyaan-pertanyaan tak diperbolehkan. Dalam atmosfer yang sungguh membebani ini, murid-murid membacakan cerita-cerita mereka dengan keras, dan dia menghentikan mereka ketika mereka melakukan cukup banyak kesalahan. Untuk beberapa orang, itu hanya setelah beberapa kalimat. Yang lainnya ada yang dibiarkan hingga akhir. Pentingnya kalimat pertama, dia bersikeras, tak bisa terlalu ditekankan.  Ia menuntun jalan ke dalam ceritanya. Ia menentukan karakter dan mendikte kalimat-kalimat berikutnya. Jangan pernah memulai kalimat dengan sebuah kata keterangan-itu hanya akan memberitahu apa yang kalimat itu ingin ungkapkan.

Jadi, hasrat, energi, dan komitmennya sangatlah besar. Ini adalah metode boot-camp. Kau akan keluar sebelum selesai atau menjadi salah satu dari mereka. Entah bagaimana itu menyalahi ide tentang kebebasan dalam seni. Dan meskipun begitu, dia mengungkapkan sesuatu kepada mereka. Aku tidak pernah meneukan salah satu mantan muridnya yang tidak loyal atau bahkan mencintainya.

Kukira itu adalah Turgenev, atau, jika bukan, itu adalah de Goncourts, yang mengatakan bahwa kapanpun laki-laki makan bersama, pembicaraanya selalu tentang perempuan dan cinta. Namun demikian, hal itu sungguh terjadi pada Saul Bellow, setidaknya di tahun-tahun aku mengenalnya, antara tahun 1970an dan 80an. Perempuan terutama ada di pikirannya semenjak mantan istrinya-yang ketiga-menuntutnya untuk mendapatkan lebih banyak uang, mengetahui bahwa dia akan menerima hadiah Nobel dan $160,000 yang didapatkan bersamanya. Kasusnya sedang disidangkan di Chicago, dan dia merasa takut jurnya telah disuap. Aku tidak pernah bertemu mantan istrinya, meskipun aku merasa bahwa aku mengenalnya. Dia berada dalam genggaman, katakanlah, seorang pendongeng yang hebat. Bellow berada dalam genggaman para juri, dan dia berada dalam genggaman Bellow. Dia menginginkan tunjangan perceraian dan tunjangan anak yang lebih besar. Ini terjadi di Aspen, diaman dia diundang selama musim panas oleh institusi itu; selagi dia berenang, dengan gaya katak – terdapat sebuah kolam renang – dia memberikan alasan-alasan mengapa dia mencurigai para juri dan mengapa itu sangat jelas bahwa mantan istrinya menginginkan uang hadiah itu. Lebih dari matanya.

Aku senang mendengarkan ceritanya tentang hal itu. Aku iri pada mereka, pada cerita-ceritanya, hanya itu. Sisanya terlihat sakit kepala yang sangat buruk. Ini bukan hanya tentang mantan istrinya, sang feminis kenamaan yang cantik, ini tentang sejumlah perempuan lainnya, yang beberapa diantaranya kukenal. Apa yang telah kupikirkan tentang mereka? Yang satu ini sepertinya menyenangkan, bukan? Perempuan itu ingin mempunyai hubungan istimewa dengannya-Aku tidak seharusnya mendengarkan, dia berkata.

Aku tentu saja lebih muda, meskipun hanya sekitar sepuluh tahun, dan aku mungkin saja terlihat lebih bebas dan tidak terlalu bermasalah seperti dirinya. Aku tidak mempunyai sejumlah mantan istri. Kami sedang berkendara menuruni pegunugan menuju Glenwood, padang rumput berbukit-bukit yang indah di lembah dibawah sana. Akan sangat menakjubkan untuk memiliki sebuah kabin di atas sana, dia mengatakan, berada jauh dari segala hal hanya bersama beberapa teman, dimana bisa datang dan menulis. Kami akan berbagi sebuah kabin, Dia kan berada disana beberapa bulan dalam setahun, dia berkata, dan aku akan memilikinya selama waktu yang tersisa.

Menjauh dari perempuan tidaklah masuk akal karena perempuan merupakan sumber nyala kehidupannya, tetapi kami tetap melakukannya dan membeli sebidang tanah dan pada akhirnya mempunyai sebuah kabin disana yang mana diantara kami tak adan yang menggunakannya. Tidak lama setelah ini, entah bagaimana, aku memulai halaman-halaman pertama tentang sesuatu yang dia sarankan untuk kutulis, yang mana adalah memoriku tentang Virginia sejak hari-hari pertama aku mengenal istriku, dan kemudian setelah kami menikah. Dia mendorongku untuk melakukannya. Saat itu seorang prajurut baru dan aku menaruh begitu banyak keyakinan atas kata-katanya.

Pada waktu itu aku punya sebuah novel yang sedang kutulis. Novel itu adalah Light Years, yang aku deskripsikan sebagai menjadi seperti batu-batu yang terkikis dalam kehidupan perkawinan: semuanya menjadi biasa saja, semuanya menakjubkan, semua yang menjadikannya sempurna dan menjadikannya menyakitkan hati- hal itu berjalan selama bertahun-tahun, beberapa dekade, dan pada akhirnya terlihat seperti telah berlalu layaknya benda-benda yang terlihat dari atas sebuah kereta, sebuah padang rumput disana, pohon-pohon, rumah-rumah, kota-kota yang meredup, sebuah stasiun yang terlewati. Segala yang tak tertulis lenyap kecuali untuk beberapa momen-momen terakhir, orang-orang tertentu, hari-hari. Binatang-binatang mati, rumah itu terjual, anak-anak tumbuh dewasa, bahkan pasangan itu sendiri menghilang, dan meskipun begitu terdapat puisi ini.

Aku membacanya kembali sekitar sepuluh tahun lalu. Komposisi musikal inilah, jalin-menjalin, melankoli yang tepat jatuhnya, menyamar sebagai sebuah buku. Ini ditujukan untuk menjadi heroik, bagaimana seseorang harus menggunakan hadiah dari kehidupan- Aku benci untuk mengatakannya, itu terdengar terlalu besar hati. Perempuan itu dulu cantik, tapi itu sudah tiada lagi. Laki-laki itu setia tetapi tidak mampu untuk mengendalikan hidup. Judul awalnya adalah Nedra and Viri-dalam buku-bukuku perempuan selalu lebih kuat. Jika kau bisa mempercayai buku itu-dan buku itu benar-terdapat dunia yang rapat didirikan atas ikatan perkawinan, sebuah kehidupan disertakan, sebagaimana itu dikatakan, diantara dinding-dinding waktu yang berharga. Ini tentang memori pada masa-masa seperti itu.

Aku memberikannya pada Saul untuk dibaca sebelum novel itu diterbitkan. Dia tidak benar-benar melihat semuanya. Dia mengatakan sesuatu yang luar biasa. Dia mengatakan buku itu sebenarnya tentang ketidakberperasaan seksual dari perempuan-peran baru mereka, dan mereka hancur di dalamnya.

Hal-hal yang kau tuliskan tidak menua bersamamu, setidaknya itulah yang kurasa. Benar adanya mereka mungkin terlihat ditandai oleh waktu, tetapi tidak mungkin menjadi up-to-date ketika waktu sudah berlalu. Entah mereka berlanjut diluar waktu terntentu atau menuju ketiadaan. Literatur bekerja dengan cara ini. Buku-buku menandai sebuah periode atau tempat, dan kemudian perlahan-lahan mereka menjadi tempat dan masa itu.

Burning the Days, yang merupakan sebuah autobiografi, hanya dituliskan karena dorongan dari penerbitku, Joe Fox-Aku sekarang menganggapnya sebuah dorongan yang keliru. Kenapa pula dia menginginkan aku menulisnya? Aku jelas sekali tak menginginkannya. Aku tidak ingin menampakkan semua hal-hal pribadi yang menjadi pondasi, secara psikologis dan factual, untuk apapun yang sebaliknya mungkin kutulis. Aku tidak ingin menyia-nyiakan dalam satu buah buku semua material-sebut saja itu materi, karena banyak dari hal itu yang merupakan milik orang lain selain diriku-yang telah terakumulasi, katakanlah selama lima puluh tahun. Tetapi beberapa hal membuatku memulai.

Rust Hills pada waktu itu adalah editor fiksi majahal Esquire, salah satu dari dua atau tiga majalah yang mencetak cerita-cerita karyaku. Waktu itu Esquire disegani dan sistem pembayarannya cepat. Daftar milik Hills dimulai dengan Richard Ford dan DeLillo, dua dari penulis-penulis favoritnya, tetapi dia adalah seorang laki-laki yang sangat ramah, dan aku pernah minum-minum dengannya dari waktu ke waktu. Suatu hari dia menelepon dan menanyakan padaku apakah aku bisa datang ke kota dan makan siang dengan kepala editornya, yang bernama Lee Eisenberg dan yang mana tak pernah kutemui.

Saat makan siang dijelaskan padaku bahwa Esquire dengan tujuan melakukan hal yang baru berencana untuk mengeliminasi halaman-halaman rutinnya yang meliputi teks dan ilustrasi-ilustrasi atau photo-photo dan menyuguhkan penampilan yang lebih berani terdiri dari gambar-gambar tajam dan teks yang tidak terpotong-potong. Akan hanya ada empat blok-blok penting dengan tulisan, sebagaimana mereka deskripsikan, yang menjadi jangkar bagi tiap terbitannya dan menandai periode waktunya. Subjek material mereka akan memiliki kategori-kategori yang penting bagi para laki-laki, persoalan-persoalan inti. Mereka menginginkanku menulis salah satunya. Kategori olahraga sudah terisi.

Eisenberg mengatakan, Kau adalah lelaki yang telah sangat mengenal dunia. Kau telah menikah tiga atau empat kali. Kami ingin kau menulis tentang seks dan pernikahan.

Aku mengatakan ada sejumlah kekeliruan. Aku belum pernah menikah sebanyak tiga atau empat kali. Aku hanya menikah satu kali dan tidak ingin bersikap sebagai seorang ahli sejauh subjek-subjek lain berjalan.

Setelah hening sebentar aku menyebutkan hal yang mungkin berhubungan dengan gagasan mereka. Sebagai seorang lelaki muda aku pernah benar-benar jatuh cinta-itu terjadi di Honolulu, ketika aku ditugaskan disana-dengan istri dari teman terdekatku. Ini akan berisi tentang cinta dan loyalitas. Kesetiaan. Pada akhirnya esai itu diberi judul “The Captain’s Wife.” Dan dari situ, setelah beberapa tahun, muncul sebuah buku.

Untuk menulis tentang diriku dengan cara yang tidak egois itu sulit. Ini bukan persoalan teknik. Aku tidak yakin seberapa jauh harus memberikan pengakuan, untuk membuka lapisan-lapisan itu. Pada saat yang sama, mengapa pula orang akan tertarik dengan hidupku kecuali itu dituliskan seperti sebuah novel? Sampai pada tingkat tertentu buku itu bercerita tentang diriku. Buku itu berakhir seperti ini:

Pada minggu terakhir sebelum tahun baru aku membuat sejumlah daftar, mencatatkan beberapa hal, sungguh: Kesenangan-kesenangan, semua yang masih tersisi untukku; Sepuluh teman terdekat; Buku-buku yang telah kubaca. Aku juga memikirkan tentang beragam orang seperti yang kau lakukan pada akhir tahun. Did Not Make the Voyage: adik perempuan ibuku yang meninggal ketika masih bayi, aku kira, belum diberi nama; George Cortada; Kelly; Joe Byron; Thomas Maynard, diusia delapan tahun; anak Kay yang keguguran; anak-anak anjing milik Sumo…

Menjelang malam aku berjalan ke pantai yang terabaikan.

Setelah itu, aku mansi, berpakaian, mengenakan sebuah baju berpotongan leher tinggi, dan melihat ke arah cermin, menyisir rambutku. Aku sudah melihat yang lebih buruk. Keseharan, baik. Harapan-harapan, cukup baik.

Karyl Roosevelt dan Dana putramya datang untuk minum-minum. Dia merupakan perempuan yang paling cantic. Mungkin itu konsekuensi dari hidupnya yang diabdikan kepada laki-laki. Bahwan setelah itu dia berbicara tentang mereka dengan rasa kasih saying.

Dia telah menikah dengan seorang lelaki yang sangat kaya. Pertama kali mereka pergi ke Eropa, mereka terbang langsung ke Yugoslavia dan mendarat di kapal pesiar milik marsekal Tito. Tito, dengan kaus lengannya tergulung, mengayuh sendiri untuk membawanya mengelilingi sebuah teluk dekat Dubrovnik.

Kami berkendara untuk makan malam di Billy’s. Sangat sedikit pengunjung. Lalu kembali kerumah sebelum tengah malam, dimana kami membuat api unggun, bersulang, dan membaca keras-keras dari buku-buku favorit. Aku membacakan ucapan terakhir dalam Cavalcade milik Noel Coward, pada bagian dimana sang istri mengangkat gelas untuk suaminya. Mereka telah kehilangan kedua anak mereka dalam perang dan dia minum-minum untuk mereka, untuk apa yang mungkin dapat mereka lakukan, dan untuk negeri Inggris. Kay membaca dari Ebenezer Le Page. Karyl, membaca bagian terakhir karya Joyce “The Dead,” dimana salju turun di seluruh Irlandia, juga dari Anna Karenina, Humboldt’s Gift, dan The Wapshot Chronicle. Dana membaca Robert Service, Stephen King, dan Poe, sesuatu yang panjang dan tidak terpahami. Mungkin karena minumannya. “Seperti ungkapan orang Prancis, comment?” Kay berucap.

Apinya sudah terbakar hingga menjadi bara, tamunya sudah pergi. Kami berjalan dalam kegelapan yang beku dengan seekor anjing tua yang kakinya pincang. Tidak ada apapun di jalanan yang kosong, tak ada mobil, taka da bunyi-bunyi, tak ada cahaya. Tahun berganti, bintang-bintang yang dingin di atas. Lenganku merangkulnya. Merasakan keberanian. Hasrat besar untuk terus hidup.

Kami terus hidup, tidak semua orang. Dana terbunuh dalam sebuah kecelakaan pesawat terbang lima belas tahun kemudian. Itu adalah salah satu pesawat yang dibuat dari bagian-bagian yang kau rakit sendiri. Dia mampir untuk mengucapkan halo kepada kami di hari kecelakaan itu terjadi. Dia adalah seorang buyut dari FDR.

Aku merasa seharusnya aku menuliskan semua ini dalam bentuk yang berbeda. Novel itu adalah dewa, dan para penulis yang kukenal hanya melibatkan diri dengan sedikit hal lain. John Updike adalah pengecualian. Selain dia, James Jones dan William Styron berteman, dan Styron dan Mailer juga dulunya berteman sampai mereka bertengkar hebat tentang sesuatu yang Mailer dengar Styron katakan tentang dia atau tentang istrinya. Mereka, semua dari mereka selalu berbicara tentang novel besar Amerika. Pernahkah itu ditulis? Siapa yang akan menuliskan itu? Mereka tidak memperhitungkan Melville atau Faulkner. Itu akan menjadi salah satu dari mereka, dan mereka selalu bekerja untuk itu. Mailer paling sering berbicara tentang hal itu. Aku tidak atahu apakah penulis berbicara tentang karya yang besar dan mistis ini lagi, atau, haruskan kutakatan, sekarang ini. Sikapnya seperti masa kejayaan novel sudah berakhir, novel literatur yang tradisional dan kekhawatiran utamanya atas karakter dan nasib. Beberapa penulis veteran mengatakan bahwa itu telah berakhir-Roth, Margaret Atwood, Doris Lessing. Aku tidak begitu yakin. Aku tidak berpikir itulah cara menuliskannya, dengan membidik ke arahnya. Aku pikir kau harus mencarinya di tempat lain. Kita akan memiliki yang hebat-hebat-bagaimanapun-Kupikir kita bisa mengasumsukan begitu-Maksudku di abad ini.

Penulis yang kutempatkan paling tinggi adalah Nabokov, Faulkner, dan Saul Bellow dan Isaac Singer-Aku menempatkan dua yang terakhir bersamaan karena kedekatan kualitas yang miliki. Aku menyukai Nobokov karena kecerdikannya dan kecemerlangan lisan, suaranya dan gayanya. Aku telah katakan aku mempercayai hal semacam itu akan bertahan, subjek-subjeknya terpinggirkan. Dia sangat jenaka. Aku suatu kali berbincang dengannya selama hampir satu jam di bar hotel tempatnay tinggal di Montreux. Itu terjadi pada musim dingin-Montreux bukanlah tempat yang menyenangkan, terlihat kosong, dan hotel tua yang besar itu juga. Tidak ada orang lain di bar-Nabokov dan Vera, istrinya, dalam setelan Rodier berwarna biru. Tempat makan di malam sebelumnya juga hampir kosong, dengan sejumlah pelayan dalam balutan jas berwarna putih berdiri di sekeliling tak bergerak. Di bar itu, Nabokov berhati-hati, memerintahkan, sopan. Dia mengucapkan beberapa hal lucu, tetapi istrinya hanya duduk tenang.

Kau lihat? dia berkata. Dia tidak pernah tertawa. Dia menikah dengan salah satu badut terhebat sepanjang jaman, tapi dia tak pernah tertawa.

Secara kebetulan, beberapa tahun kemudian, Aku bertemu seorang laki-laki-Kukira seorang ahli matematika-yang berbagi kantor dengan Nabokov di Cornell.

Apa yang kalian bincangkan? Aku bertanya.

Oh, dia berbicara tentang hal-hal yang di abaca di National Enquirer. Dia membelinya setiap hari. Dan dia suka berbicara tentang waktu.

Waktu? Ada apa dengan waktu?

Dia mengangkat pergelangan tangannya dan berkata, “Aku menebak sekarang jam 8:26. Bagaimana denganmu?”

Aku merasakan koneksi tertentu dengan Faulkner, meskipun aku tidak pernah bertemu dengannya atau melihatnya. Aku tahu dia ingin menjadi seorang pilot dan terbang pada perang dunia pertama, tapi dia tak mampu-saat itu dia ditolak. Beberapa waktu kemudian dia benar-benar terbang dan untuk sementara waktu memiliki sebuah pesawat, terbang kemana-mana dan berpartisipasi dalam pertemuan-pertemuan bahkan balapan-balapan udara sebelum akhirnya berhenti.

Aku tahu sebuah cerita tentangnya dan soal penerbangan, tidak secara langsung-tapi dari cerita orang lain, melalui seorang lelaki bernama Delmont Sylvester yang merupakan seorang pilot di sayap yang sama denganku. Sylvester sedikit payah dan terlihat seperti pernah dipermalukan meski aku tak pernah tahu apa alasan dibalik itu. Sekitar tahun 1952 dia ditugaskan di sebuah lapangan udara di Greenville, Mississippi, dipanggil kembali untuk tugas aktif selama perang Korea. Dia dulu merupakan petugas huma di sayap Greenville, dan seorang pustakawan di kota itu yang menjadi temannya menawrkan untuk memperkenalkannya dengan Faulkner jika dia tertarik. Lalu dia dan Faulkner bertemu, Sylvester berkata. Faulkner saat itu mabuk dan dia memiliki sebotol minuman di kantungnya. Mereka berbincang tentang penerbanagan dan hari-hari dimana Faulkner menjadi seorang penerbang di Prancis, yang sebenarnya tidak pernah terjadi, tetapi itu menyenangkan baginya untuk mengingatnya seperti itu. Keseluruhan scenario tentang penerbang dalam perang busuk keagungan. Faulkner pernah menulis puisi tentang hal itu. Dia menyatakan bahwa dia adalah penulis cerita pendek karena gagal menjadi seorang penyair, dan seorang penulis novel telah gagal sebagai seorang penulis cerita. Ide tentang kegagalan juga muncul saat dia ditanya, lebih dari sekali, siapakah penuis terbaik Amerika. Dia akan mengatakan semuanya telah gagal, tetapi Thomas Wolfe berusaha lebih keras dan bertaruh lebih banyak dan menjadi kegagalan terbaik.

Hari itu di Greenville, Faulkner menawarkan untuk menulis sebuah cerita tentang angkatan udara sebagai ganti untuk tumpangan di sebuah jet. Terdapat sebuah peraturan yang mengizinkan masyarakat sipil untuk diberikan penerbangan jika hal itu menyangkut kepentingan angkatan udara, dan Sylvester dengan cepat menelepon komandan markasnya, yang merupakan seorang kolonel, dan menjelaskan proposalnya. Sang kolonel mendengarkan semuanya. Pada akhirnya dia berkata, Siapa itu Faulkner?

Faulkner dan Nabokov keduanya menulis naskah film, Nabokov hanya satu. Aku menulis lusinan. Sejauh itulah koneksinya berjalan.

Film. Sinema layar lebar. Semua penulis menyukai sinema-sinema layar lebar, tetapi ada semacam keengganan untuk mengakuinya sebagai bagian dari literatur. Penghargaan Writers Guild secara hati-hati dibedakan menjadi Writers Guild Timur dan Barat, dan dalam American Academy of Arts and Letters terdapat arsitektur, musik, seni, dan penulisan, termasuk di dalamnya puisi, tetapi tidak ada sama sekali film, yang merupakan wadah untuk menggabungkan semuanya. Dalam kesempatan apapun, mereka mempunyai akademi mereka sendiri.

Suatu sore, kembali ke masa dimana aku baru menulis satu buah buku. Aku diajak seorang teman kerumah seorang sutradara Inggris, yang pada penghujung makan malam bertanya padaku apakah aku tertarik menulis skenario film. Aku sangat tertarik. Rumah itu sangat mewah, di dekat Fifth Avenue. Aku tak tahu apapun tentang film kecuali sebagai penonton. Tentu saja itu tidak benar, setiap orang tahu sesuatu tentang film. Sang sutradara memberiku sebuah buku untuk dibaca, sebuah versi paperback yang murah, dia mengatakan, tentang seorang model yang muda di Roma yang bisa jadi seorang pelacur-untuk alasan-alasn yang tak diketahui hal itu menarik perhatiannya. Dia ternyata bukan pelacur, tetapi kecurigaan ada dalam pikiran suaminya menghancurkan kehidupan mereka.

Itulah awal dari periode panjang pencarian pekerjaan sebagai penulis skenario, sebagian besar tak teratur waktunya. Di antara itu, akau menjual kalender dan bekerja di toko buku. Film-filmnya hanya sesekali dibuat. Seni membuat film ternyata merupakan seni mengumpulkan uang. Pada beberapa film, itu bisa memakan waktu bertahun-tahun. Kadang itu terlihat semakin sedikit jumlah yang dibutuhkan, semakin sulit untuk mengumpulkannya. Orson Welles adalah tokoh yang paling penting, dia menciptakan Citizen Kane dan banyak lagi. Dia mempunyai ambisi yang tertahan lama untuk membuat sebuah film tentang Falstaff (salah satu karakter dalam drama Shakespeare. pener). Tubuh dan suara Welles penuh keagungan, dan dia amat sangat cocok untuk peran itu, salah satu yang paling diingat dalam drama Inggris.

Dia tidak pernah berhasil mengumpulkan uangnya. Itu sudah terlambat dalam karirnya, dan dia dianggap tidak dapat diandalkan, perangai artistiknya telah sangat merugikan bagi begitu banyak orang. Dia oleh karena itu mulai mengambil gambar sepotong demi sepotong untuk filmnya kapanpun dia mampu, membubarkan pekerja-pekerja yang sedikit itu dan kemudian mencoba mengumpulkan mereka lagi saat dia mampu untuk mengambil gambar lagi. Hal itu sangat mengecilkan semangat. Itulah sebuah perjuangan. Istrinya yang seorang Italia sudah memberikan semua dorongan yang dia mampu. Orson, dia berkata pada akhirnya, jika mereka mengambil semua film yang ada di dunia dan meletakannya dalam sebuah ruangan dan membakarnya, apakah akan ada perubahan?

Jika bukan soal uang, itu merupakan persoalan mengejar aktor dan aktris, menunggu untuk mendapat jawaban. Pada waktu itu, perfilman Eropa sedang menanjak ke pucak gengsi dan dilihat dengan perasaan iri. Sutradara-sutradara Prancis dan Italia yang inovatif yang menuliskan naskah mereka sendiri disebut auteurs, pengarang film. Godard sudah seperti bintang rock. Orang-orang di Paris dapat membawamu ke jalan dimana Belmondo mati dalam Breathless. Truffaut dan Fellini saat itu dipuja-puja. Aku juga terbius. Sangat mudah untuk dikecilkan semangatmu dengan apa yang budaya kagumi, tetapi disini hal itu terlihat baik. Roberto Rossellini, menggemuk dan mulai botak menikahi Ingrid Bergman-secara efektif begitu. Dia meninggalkan suaminya yang seorang dokter bdeah dan anak dan mempunyai dua anak perempuan dan seorang anak lelaki dengan Rossellini. Tidak ada yang menandingi sanjungan baru. Antonioni-Michelangelo Antonioni-sedang mengambil gambar Blow-Up, dengan Peter Bowles. Mereka berbincang di tempat pengambilan gambar tentang hal special yang dia mendesak Bowles untuk melakukannya. Bowles meras frustasi.

Percayalah padaku, dia mengatakan. Aku bukanlah Tuhan. Aku Michael Angelo Antonioni.

Ini bukan Hollywood dan studio-studio besar berpagar, pabrik-pabrik itu. Di Eropa hal itu terjadi di jalanan, kira-kira begitu. Aku pergi ke London untuk menemui Polanski-lebih kepada, untuk dilihat olehnya. Dia melihatku seperti seseorang yang secara esensial tidak memiliki sentimen. Meskipun begitu, aku dipekerjakan. Film yang muncul darinya, Downhill Racer, benar-benar dibuat, meski pada waktunya Polanski tidak ada hubungannya dengan itu. Dia memanggilku Jimmy. Elsa Martinelli menyebutku Jeemy. Terdapat sebuah nuansa tentang semua itu-begitu rebut, penuh hasrat, dan sedikit murahan. Semuanya dapat dikompromikan. Aku tidak berpikir banyak orang berusaha untuk membuat sesuatu yang indah, tapi taka da orang yang berusaha untuk membuat sebuah film yang buruk.

Selama masa inilah dan karena keterlibatan-keterlibatan itu aku bertemu Sonnerberg, seorang pencinta buku yang dalam upaya menghabiskan semua warisan miliknya, mendirikan majalah literature Grand Streey dimana dia mempuplikasikan cerita-ceritaku, “cerita yang tak kau serahkan ke Esquire,” dia mengeluh.

Aku akan menemuinya di Division Street di sebuah restoran. Saat itu gelap. Bank-bank tutup. Orang-orang Cina keluar dari mobil. Seorang pemuda duduk di sebuah meja dengan beberapa buku dan empat botol bir Jepang.

Kau tahu masakan Cina? Dia bertanya padaku. Dia memiliki suara yang lembut, jernih dengan nada Inggris yang samar.

Aku menjawab tidak.

Jadi izinkan aku memesankan untukmu, dia berkata.

Dia berhenti sekolah sebelum menyelesaikan sekolah menengah atas, dia bercerita padaku, untuk dapat hidup dengan caranya send    iri. Dia tidak pernah belajar di kampus. Sebaliknya dia pergi ke London, untuk budibahasa yang halus dan untuk membeli buku-buku dan pakaian.

Terdapat semacam kupasan elastis di dalam sup nya. Aku menanyakan padanya apa itu.

Ya, itu hal yang mengherankan juga bagiku, dia berkata. Babat ikan.

Dia memiliki hidup dengan membaca dan pergi ke teater. Dia juga menerjemahkan naskah-naskah drama, naskah-naskah jalanan besar Belgia yang terlupakan. Aku mengira itu hanya bentuk kegemaran atas tantangan lainnya. Dia senang berbicara tentang film dan berapa persen profitku seolah-olah aku memilikinya. Bagaimanapun, tidakkah aku mendapati penulisan dramatis itu melemahkan kekuatan yntyk menulis fiksi? Hal itu begitu ringkas, dan tidak memiliki deskripsi, tidak samasekali. Ditambah lagi, itu secara kejam begitu dramatis, dia mengatakan, bukan suatu cara yang penuh kesabaran, tulisan yang menyingkapkan sesuatu.

Dia membuatku merasa tidak nyaman, tetapi kemudian aku bersyukur untuk hal itu.

Aku tidak memberitahukannya tentang novel yang baru kubuatkan beberapa catatan awalnya. Judulnya, Toda, muncul dari simbol-simbol kode milik Victor Hugo dalam buku-buku catatannya yang merahasiakan kegiatan-kegiatan seksualnya dari Juliette Drouet, kekasih gelapnya untuk waktu yang lama. Disamping nama-nama perempuan atau insisal-inisial, dia mungkin menandai huruf yang berarti “telanjang”; huruf lain untuk “membelai”; suisses untuk “buah dada”; dan seterusnya-dalam semacam susunan yang meningkat Untuk semua hal itu, keseluruhan tindakannya, dia menulis toda, “semua.” Selalu ada hal yang dicatat hampir setiap harinya.

Di restoran Cina lain di ujung jalan, dia memberikanku buku-buku itu untuk kupegang selagi dia pergi untuk menggunakan kamar kecil. Aku berdiri di depan pintu-sebuah buku dari drama masa Elizzbeth, sebuah novel karya V. S. Naipaul, majalah Sunday Observer. Aku membaca beberapa halaman dari Naipaul, lima halaman yang luar biasa.

Mengapa, kupikir, aku hidup begitu jauh dari orang-orang yang menarik bagiku?

Sonnerberg tak lama setelah itu jatuh sakit, sesungguhnya aku menyaksikan hal itu. Aku menyadari dia membuat jari kakinya lecet ketika berjalan masuk. Dia memiliki sedikit masalah dalam berjalan, dan di waktu berikutnya aku menemuinya, dia menggunakan sebuah tongkat yang sangat elegan. Dia barus ekitar tiga puluh lima tahun dan telah didiagnosis dengan multiple sclerosis. Pada akhirnya penyakit itu menjadikannya lumpuh dari leher hingga ke bawah. Dia bahkan tak bisa lagi membalikkan halaman sebuah buku. Istrinya membacakan untuknya, dan rekan-rekan datang untuk membaca. Dia melanjutkan mengedit Grand Street sampai uangnya habis, pada momen itu dia menjualnya. Dia tidak pernah kehilangan selera untuk hal-hal indah atau memori tentangnya, meskipun kata-kata “hal yang indah” akan membuatnya menggerenyit.

Aku mulai menulis Toda ketika sebuah deskripsi yang menginspirasi tentang akan bagaimana jadinya novel itu datang padaku larut malam selagi aku duduk begitu Lelah di dalam ruangan yang meredup di dalam sebuah hotel dekat taman Gramercy. Aku pergi ke kamar mandi, menyalakan lampu, dan dengan cepat menuliskannya. Sepanjang satu halaman. Aku sadar keberuntungan besar tengah menganaiku. Apa yang telah kutuliskan, persoalan-persoalan di buku itu, sangatlah jernih. Masalahnya, aku menghilangkan sepotong kertas itu-Aku benar-benar tak dapat menemukannya lagi-meskipun itu tidak memberikan banyak perbedaan, karena pada waktu itu aku sudah berubah pikiran tentang tokoh utamanya, siapa itu seharusnya.

Aku menulis selayaknya semua orang, kukira. Aku mencoba dan menulis dengan rutin. Aku kesulitan memulai setiap harinya. Jika aku bisa meninggalkan satu baris atau beberapa kata bagiku untuk memulai lagi, itu menjadi lebih baik. Hari-hari kadang berlangsung baik. Lebih sering tidak begitu. Aku berdamai dengan kenyataan bahwa aku akan merasa kecewa dengan apa yang telah kutulis. Aku menulis saat aku sedang tidak ingin, tapi tidak ketika hal itu menangkisku. Kupikir aku menulis untuk orang-orang tertentu- Aku tidak akan menjelaskan siapa sebenarnya, mungkin seorang perempuan-tetapi tidak untuk semua orang. Seorang perempuan yang cerdas, seperti kata Babel.

Aku menulis dengan tangan menggunakan pulpen. Kemudian aku mengetiknya di atas mesin ketik elektrik. Aku bisa dengan mudahnya menggunakan sebuah laptop, tapi aku menyukai bunyinya, sedikit tak beraturan, tombol-tombol yang menghujam. Aku mengetik dengan dua jari.

Dari sudut pandang tertentu, sebenarnya aku sedang membuat komposisi. Aku mendengarkan kata-kata itu selagi aku menuliskannya, pada kelompok-kelompok kata-kata. Aku ingin terus dan terus lagi karena bunyi itu menuntunku ke kalimat-kalimat selanjutnya. Terkadang aku menulis sedikit hal yang aku maksudkan untuk kutulis, beberapa kata untuk memperlihatkan bagaimana kelihatannya, dan mungkin aku ingin untuk memasukannya, tapi semua itu tergantung.

Hal yang utama adalah pengorganisasian-menemukan keteraturan. Ada begitu banyak hal-terlalu banyak-untuk disimpan dikepalamu tentang sebuah novel atau bahkan sebuah bab. Tidak boleh ada kebingungan. Untuk Toda aku membuat garis kronologis untuk memulai-bukunya adalah buku semacam itu-dan menandai semuanya sepanjang garis itu. Aku mempunyai kertas-kertas yang ditancapkan di sebuah papan besar, satu atau dua untuk setiap bab, dan catatan-catatan aneh dan rincian-rincian untuk babnya, aku tempelkan disana.

Kau tdak menulis semuanya di mejamu. Kau melakukannya di tempat lain, membawa buku itu bersamamu. Buku itu adalah temanmu, kau memilikinya sepanjang waktu di kepalamu, memikirkannya, mewaspadai penghubung-penghubung dengannya. Itu menjadi teman terbaikmu, dalam makna yang sesungguhnya. Kau bisa bicara padanya dengan sunyi. Itu menjadi satu-satunya temanmu.

Penulisannya mungkin berlangsung selama sepuluh hari, seperti misalnya Georges Simenon, atau berminggu-minggu, atau berbulan-bulan, atau bertahun-tahun. Itu sama saja bagi semua orang.

Aku menghasilkan dua catatan tebal untuk buku ini, buku-buku referensi dibagi menjadi golongan-golongan yang menyimpan hal dari jurnal-jurnalku yang mungkin berguna: cuaca, tempat-tempat, percakapan, wajah-wajah, kematian-kematian, cinta, seks, orang-orang. Toda. Aku bahkan tidak menggunakan seperempatnya.

Aku mengerjakan buku itu selama satu tahun, mungkin lebih, dan kemudian kehilangan kepercayaan diri di dalamnya. Ini soal  karakter utama yang salah. Setelah beberapa waktu aku memulai lagi, tetapi saat kau mengubah hal sentral itu dengan sendirinya mengubah hal-hal lain.

Aku sebelumnya menyebutkan kebebasan dalam seni. Yang kumaksud dengan kebebasan itu tidak terikat dengan ide-ide umum tentang moralitas atau dengan katekismus apapun. Yang juga kumadsudkan dengan kebebasan itu-benar-benar kebutuhan-untuk terlepas dari segala hal yang menengahi. Tak boleh ada larangan-larangan untuk apa yang boleh kau pikirkan atau imaginasikan.

Bahsa, bahasa Inggris yang kita gunakan-ia tak mempunyai pengawal-bagaimanapun ia penting, hampir-hampir hal yang sakral. Ia membawa apa saja bersama bersamanya dan melaluinya. Jadi aku mencoba dan memperhatikan itu.

Pada akhirnya, mereka katakana, Kau tidak dapat menyebut buku ini Toda. Tidak ada yang tahu artinya. Aku berdebat dengan mereka, tapi penerbitnya mengatakan, Tidak, kau harus mempunyai judul yang berbeda. Jadi aku menyebutnya All That Is.

Aku akan membacakan epigrafnya:

Akan datang waktu ketika kau menyadari bahwa semuanya adalah mimpi, dan   hanya hal-hal yang dipelihara melalui tulisan yang mempunyai kemungkinan menjadi nyata. (GBJ)

________________

*) Ketika James Salter meninggal pada bulan Juni, di usia sembilan puluh tahun, majalah Review kehilangan salah satu pengaruhnya yang sangat berarti. Selama empat dekade terakhir, Jim telah mempublikasikan cerita-cerita pendek, memorial dan sebuah wawancara tentang seni fiksi di majalah Review; novelnya A Sport and a Pastime pertamakali muncul dalam edisi-edisi Paris Review yang tidak bertahan lama di tahun 1967. Tahun 2011 dia menerima penghargaan prestasi seumur hidup dari kami, yaitu Hadada Prize. Jim menyampaikan kuliah berikut pada Oktober lalu di University of Virginia. Kami sangat berterimakasih kepada keluarga Salter telah mengizinkan kami untuk mencetaknya disini.

 

Continue Reading

Interview

Mario Vargas Llosa:  Matinya Para Penulis Besar

mm

Published

on

Hari-hari ini  buku bukanlah paspor menuju keabadian melainkan budak-budak kakinian (“kedisinian dan kekinian”, kata Raczymow). Mereka yang menulis buku-buku macam begitu telah ditampik dari gunung Olympus di mana mereka dimahkotai, terlindung dari kesementaraan hidup yang sekedar ,dan setaraf dengan “masyarakat kota yang membeku” dalam demokrasi, yang memberontak pada aristokrasi Ruben—Di suatu masyarakat yang semacam ini, buku-buku mungkin beredar, tetapi sastra mati.

Dalam buku yang terbit baru-baru ini, Ia Mort du grand ecrivain, Henri Raczymow menyatakan bahwa kini tak ada lagi “para penulis besar”, lantaran demokrasi dan pasar bebas tak selaras dengan model para maestro intelektual sebagaimana direpresentasikan figur-figur seperti Voltaire, Zola, Gide, atau Sartre, dan–dengan demikian—membuktikan kematian sastra. Meski buku itu dialamatkan hanya untuk kasus Prancis saja, terang bahwa konklusi-konklusinya, jika ia kukuh, benar juga untuk seluruh masyarakat modern.

Argumen Raczymow sungguh koheren. Ia bertolak dari premis yang bisa diverivikasi: bahwa dimasa kita tiada figur tunggal dengan kebesaran yang setaraf dengan Victor Hugo, yang pancaran prestise dan otoritasnya melampaui lingkaran para pembaca dan soal-soal artistiknya dan membuatnya menjadi penjelmaan kesadaran publik, sebuah arketip yang ide-idenya, pendapat-pendapatnya, cara hidupnya, gesturnya, dan obsesi-obsesinya menjadi model tauladan bagi masyarakat luas. Adakah para penulis yang hidup sekarang bisa menginspirasi bagi suatu pemujaan fanatik yang dapat membikin para pemuda rela mati demi Hugo, sebagaimana dilaporkan Valery?

Menurut Raczymow, untuk menimbulkan pemujaan semacam itu berkembang, sastra mesti menempati wilayah suci, memendarkan aura magis dan memainkan peran bak agama, sesuatu yang, dia bilang, mulai berlangsung selama masa Pencerahan, saat filsuf-filsuf usai merobek Tuhan dan para Santo, meninggalkan ruang kosong yang menunggu diisi oleh para pahlawan sekular.

Para penulis dan seniman adalah para nabi, mistikus, dan superman dari masyarakat baru yang terdidik dalam kepercayaan bahwa seni dan karya sastra mempunyai jawab untuk segalanya dan dapat mengekspresikan, lewat para praktisinya, dorongan-dorongan luhur spirit kemanusiaan.

Atmosfer dan kepercayaan-kepercayaan ini membantu perkembangan karir seperti halnya pahlawan-pahlawan religius, disertai dengan pemujaan, fanatisme dan ambisi yang nyaris adimanusiawi. Dari sini dapatlah dimengerti mencuatnya para pengarang besar seperti Flaubert, Proust, Balzac, dan Baudelaire—yang,meski berbeda satu sama lain—namun berbagi keyakinan antara mereka (yang juga dibagi  dengan para pembacanya), bahwa mereka berkarya untuk generasi mendatang dan bahwa ouvre mereka akan hidup lebih lama ketimbang mereka sendiri, bakal melayani serta memperkaya kemanusiaan, atau, seperti yang dikatakan Rimbaud, untuk “merombak kehidupan”, dan akan menjustifikasi keberadaan mereka bahkan lama setelah mereka tiada.

Mengapa tak ada penulis kontemporer yang seperti para pendahulu mereka dengan semacam janji keabadian? Sebab semuanya percaya bahwa sastra tak kekal melainkan bisa binasa dan bahwa buku-buku ditulis, diterbitkan dan dibaca (kadang-kadang), dan kemudian lenyap selamanya. Ini bukan ekspresi sebuah kepercayaan, seperti seseorang yang menganggap sastra sebagai sesuatu yang luhur dan baka  dan sebuah pantheon bagi gelar-gelar yang tak dapat dihancurkan, melainkan suatu kenyataan objektif: hari-hari ini  buku bukanlah paspor menuju keabadian melainkan budak-budak kakinian (“kedisinian dan kekinian”, kata Raczymow). Mereka yang menulis buku-buku macam begitu telah ditampik dari gunung Olympus di mana mereka dimahkotai, terlindung dari kesementaraan hidup yang sekedar, dan setaraf dengan “masyarakat kota yang membeku” dalam demokrasi, yang memberontak pada aristokrasi Ruben—dan juga Flaubert, bagi siapa impian demokrasi berarti “mengangkat derajat kaum pekerja kepada taraf yang sama dengan hak istimewa sebagi borjuis kecil.”

Dua mekanisme masyarakat demokratis berkontribusi pada pengotoran sastra dan menjadikannya produk yang murni industrial. Pertama, bersifat sosiologis dan cultural. Pengangkatan derajat warga Negara, punahnya kaum elit, mantapnya toleransi – hak untuk “berbeda dan abai”—dan perkembangan selanjutnya dari individualism dan narsisme telah menghapuskan kesenangan kita akan masa lalu dan keasyikan kita dengan masa depan, memusatkan perhatian kita pada masa kini dan membeokkan kepuasan dari kebutuhan-kebutuhan mendesak kita kedalam tujuan utama. Korban dari kekinian ini adalah ruang suci, realitas alternatif yang tak lagi memiliki alternatif yang terbagi; memiliki alasan untuk hadir tatkala komunikasi, entah puas entah tidak, menerima dunia yang kita huni ini sebagai satu-satunya dunia yang mungkin dan menampik “kelainan” dalam mana kreasi-kreasi sastra ditandai dan beroleh ruang.

Di suatu masyarakat yang semacam ini, buku-buku mungkin beredar, tetapi sastra mati.

Mekanisme yang lain, kedua: bersifat ekonomi. “Duhai, tak ada demokrasi, yang terpisah dari pasar!” ujar Raczymow. Dengan kata lain, buku, yang digayuti statusnya sebagai objek religious dan mistik, menjadi semata barang  dalam kemuliaan hingar-bingar naik dan turun,– hukum  besi—dari permintaan dan penawaran, sehingga “buku adalah sebuah produk, dan sebuah produk menghilangkan produk lainnya, bahkan bila buku-buku itu ditulis pengarang yang sama”. Efek dari pusaran di mana tak ada buku yang tinggal, semuanya berlalu dan tak kembali lagi, adalah pendangkalan sastra; sejak ini karya sastra diperlakukan hanya sebagai produk bagi konsumsi sementara, hiburan remeh-temeh, atau sumber informasi yang lekas menjadi aus segera setelah dimunculkannya.

Tentunya, instrument penting demokrasi adalah televisi, bukan buku. Televisi membelokkan dan merontokkan tingkatan-tingkatan masyarakat, menjejalkan pada kita humor, emosi, seks, sentiment yang kita butuhkan agar kita tak merasa jemu. Layar kecil telah disusun untuk memenuhi ambisi besar yang senantiasa menyala di jantung sastra dan tak pernah dipuaskan oleh sastra: untuk merengkuh setiap orang, untuk membuat seluruh masyarakat ambil bagian dalam “kreasi-kreasi”-nya.

Dalam “kerajaan permainan narsistik”, buku-buku akan sepenuhnya terbuang, walau tak berarti akan menghilang. Buku-buku akan terus menyebar, akan tetapi akan kosong dari substansinya yang dulu dan akan menikmati keberadaan dari kebaruan-kebaruan yang genting dan terapung, berbaur bersama dan dapat dipertukarkan dalam lautan yang khaos dimana sebuah kebaikan karya diputuskan oleh kampanye publisitas atau bakat-bakat teatrikal si pengarangnya. Demokrasi dan pasar telah merancang sebuah belokan lain: sekarang tak ada lagi opini publik melainkan hanya publik, muncullah para penulis bintang—yang memberikan prestise pada buku, dan bukan sebaliknya, sebagaimana terjadi pada masa lampau. Walhasil, kita sampai pada taraf degradasi yang suram yang telah diantisipasi  dengan baik oleh Tocqueville: sebuah era para penulis yang “memilih sukses ketimbang jaya”.

Meskipun saya tak sepenuhnya berbagi pesimisme yang sama dengan pandanga Reczymow ihwal nasib sastra, saya membaca bukunya dengan sangat antusias, karena tampak bagi saya bahwa di menunjukan jemarinya pada persoalan yang kerap terabaikan: aturan baru jagat modern, masyarakat terbuka yang memaksakan norma-normanya pada para pengarang. Betul bahwa tipe penulis mandarin tak lagi punya tempat dalam dunia kita hari ini. Figur-figur  seperti Sartre di Prancis atau Ortega y Gasset dan Unamuno  di zaman mereka, atau Oktavio Paz, berlaku sebagai para pembimbing dan guru segala tentang segala isu penting dan memenuhi panggilan yang hanya “penulis besar” yang mampu memenuhinya, entah karena sedikitnya orang yang berpartisipasi dalam kehidupan publik, karena demokrasi belum berjalan, atau karena sastra memiliki status mistik.

Dalam masyarakat bebas, pengaruh yang di pancarkan para penulis—yang terkadang bermanfaat—pada “masyarakat patuh” sungguh tak lagi berharga: kerumitan dan keanekaan masalah yang muncul mengakibatkan para penulis sekedar bual omong kosong jika dia mencoba memberikan opininya tentang segala ihwal.

Opininya dan posisinya mungkin sangat layak dipikirkan, akan tetapi tak lebih layak dipikirkan ketimbang opini dan posisi dari propesi lainnya—saintis, para teknisi atau para profesional—dan dalam banyak kasus, opini-opininya  mesti ditimbang berdasarkan kebaikan-kebaikannya sendiri dan tak langsung diamini semata karena itu berasal dari seseorang yang tulisannya bagus. Pengotoran pribadi penulis ini tak terlihat buruk oleh saya, sebaliknya, ia mendudukan perkara pada tempatnya yang mustahak, sebab benar bahwa seseorang yang berbakat dalam penciptaan karya sastra dan mampu menulis novel-novel keren, atau sajak-sajak cantik, tak selalu secara umum berpikiran cerdas juga.

Saya pun tak percaya bahwa kita harus mengoyak pakaian kita karena, sebagaimana dikatakan Reczymow, dalam masyarakat demokrasi modern sebuah novel mestilah “membelokkan” dan “menghibur” untuk menjustifikasi keberadaannya. Bukankah karya-karya sastra yang paling kita kagumi selalu menjalankan fungsi itu dengan sungguh-sungguh–buku-buku seperti Don Quixote atau War and Peace atau The Human Condition yang kita baca dan baca lagi dan ttetap menyihir kita seperti saat pertama kali membacanya? Betul bahwa dalam masyarakat terbuka dengan puspa ragam mekanisme untuk mempertunjukkan dan memperdebatkan aneka persoalan dan aspirasi kelompok-kelompok sosial, sastra mesti menghibur atau ia akan segera binasa. Akan tetapi, sesuatu yang menggelikan dan menghibur tak bisa dipertentangkan dengan keketatan intelektual, keberanian imajinatif, penerbangan bebas fantasi atau keanggunan ekspresi.

Alih-alih meluncur ke dalam depresi atau menganggap diri sebagai sesuatu yang aus yang ditampik modernitas, para penulis masa kini mestinya merasa terangsang oleh perubahan hebat dalam penciptaan sastra yang bermakna bagi zaman kita dan dapat merengkuh publik pontensial yang luas, yang menunggu, dan mengetahui itu, bersyukurlah pada  demokrasi dan pasar, sebab begitu banyak orang kini yang bisa membaca dan membeli buku, sesuatu yang tak bakal terjadi dimasa lampau ketika sastra dianggap agama dan penulis disebut Tuhan kecil terhadap siapa “minoritas tak tepermanai” mempersembahkan penghormatan dan pemujaannya. Tak diragukan lagi, tirai telah jatuh menimpa para penulis narsis dan para pemberi wejangan, namun pertunjukan dapat terus berlangsung bila para penggantinya berusaha untuk tak terlampau pretensius dan sangat menggelikan. (*)

Continue Reading

Interview

Octavio Paz, Puisi Panjang dan tanda (resmi) perpuisian

mm

Published

on

Dia salah satu penyair Meksiko terbesar, bahkan salah satu yang terbesar dan otoriatif yang dimiliki dunia perpuisian modern. Alam pikiran dan pengalamannya mengembara melampaui ruang dan waktu, secara fisik dan juga metafisik—ia Octavio Paz,  seorang yang sukses sebagai penyair, juga dalam karirnya sebagai diplomat untuk negaranya.

Menjelajah peradaban Amerika sebagai salah satu korp diplomatik Meksiko pada 1941-1945, mengembara ke India juga sebagai duta besar negaranya dari 1962-1968—seni dan filsafat timur pun diserapnya. Sebagai warga negara selatan ia memahami sosialisme dan ‘budaya’ revolusi meski ia juga tak gentar mengkritik realisme-sosialis dalam medan kasustraan; ia tinggal dan menyerap paham kapitalisme ala Amerika selama tinggal di sana—dan ia pun tak kalah galaknya dalam melabrak cara pandang kebudayaan dan sastra Amerika yang selalu berbau Anglocentrik.

Kesastrawannya memang tiidak terburu-buru, meski ia telah menulis dan mempelajari puisi sejak masih muda belia, namun ia baru menandai kesastrawannya dalam terbitan kumpulan sajaknya pada tahun 1949. Setahun kemudian, ia menerbitkan esai tentang Meksiko “Labirin Kesunyian” (1950) yang lantas diterjemahkan ke hampir semua bahasa Eropa. Kedalaman visi pengetahuan dan ketegasan sikap politiknya tak diragukan, ia mengundurkan diri menjadi diplomat negara untuk India sebagai bentuk protes atas pembantain brutal yang dilakukan negaranya pada kaum pelajar di Mexico City. Ia mendirikan majalah kebudayaan yang pedas dalam kritik, Plural, (1971), Vuelta (1976)—kedunya dibredel penguasa.

Berkat kerja nyata dan siasat kebudayaan yang dikerjakannya dalam membela kemanusiaan ia diganjar berbaai penghargaan, dan yang paling bergengsi tentu saja adalah beroleh Nobel Sastra pada 1990. Pada 19 April 1998 Paz wafat karena kanker.

Sebelum meninggalnya karena kanker, dunia mencatat tujuh esai Paz paling monumental tentang sastra, dunia kita hingga relasinya dengan revolusi yang demamnya melanda bangsa-bangsa di dunia pada masa hidupnya. Tujuh esai yang lantas bertajuk “The Other Voice” tersebut merupakan “investasi” pemikirannya sejak esai pertama yang ditulisnya pada 1941—berisi pandangan meditatif Paz yang dimulai dari permenungannya tentang dunia puisi dari romantisme hingga simbolisme dan gerakan avant Grade. Salah astu pertanyaan terpenting esai tersebut adalah pertanyaan yang ia ajukan sendiri: “Dimana kira-kira tempat puisi pada waktu yang akan datang?”

Meski dimulai dari permenungan tentang puisi, buku “The Other Voice”, sebagaimana dicatat Helen Lane dalam pengantar untuk buku tersebut, berbicara juga tentang kondisi masyarakat kontemporer, filsafat, ideologi, revolusi dan tentang Paz sendiri, diri sang penyair—seorang modernis dan dan visioner. Seorang pemikir yang terus reasah-gelisah dan prihatin namun optimis terhadap perkembangan zaman.

Dalam tulisan berbentuk interview imajiner ini, penulis hanya akan meringkas pemikiran Paz tentang dunia puisi—atau dari sudut pandang puisi-penyair atas realitas dunia kontemporer (dalam bagian kedua interview). Ringkasan jawaban Paz secara utuh bisa didapati dalam bukunya “The Other Voice” (Suara Lain):

INTERVIEWER

Apa Puisi buat Anda, atau bagaimana ungkapan itu (puisi) memiliki artinya bagi Anda?

OCTAVIO PAZ

Pertama izinkan saya mengutip Antonio Machado untuk menjawab pertanyaan tersebut, Machado menulis: “Sejarah yang hidup dinyanyikan dengan memadahkan alun nadanya”.

Saya mulai menulis puisi pada waktu masih muda belia dan sejak itu pula saya membayangkan tentang bagaimana menulisnya. Puisi adalah suatu pekerjaan yang paling ambigu: suatu tugas dan sebuah misteri, suatu masa lalu dan suatu sakramen, sebuah profesi, dan suatu hasrat atau nafsu.

Saya ingin katakan hal itu pada mulanya seperti sebuah meditasi (barangkali kata itu lebih tepat karena keserampangannya, untuk menyebutnya sebagai suatu penyimpangan yang tidak beraturan) tentang perbedaan-perbedaan besar puitik dan pengalaman manusia: kesunyian, komuni, communion. Saya melihat hal itu dalam personifikasi dua orang penyair yang saya baca dengan penuh gairah; Quevedo dan Saint Jhon the Cross dalam buku karya mereka Lagrimas de un penitente dan Cantico spiritual.

INTERVIEWER

Dalam beberapa esai yang Anda tulis, anda tampak mengagumi puisi panjang dan memberi penilian tinggi atasnya ketimbang puisi pendek. Bagaimana Anda menilai dan menjelaskan hal tersebut?

OCTAVIO PAZ

Saya mambahas secara khusus mengenai “extensive poem”, puisi panjang—di mana itu adalah bentuk puitik yang telah memperoleh nasib baik dalam abad XX. Saya tidak bermaksud mengatakan bahwa puisi-puisi modern yang terbaik adalah puisi-puisi yang panjang. Sebaliknya malah lebih mendekati kebenaran: intensitas dari puisi yang terdiri dari atas tiga atau empat baris sering mampu menembus tembok waktu. Tetapi, puisi panjang—yang ditulis oleh T.S. Eliot, Saint John Perse, dan Juan Ramon Jimenez, saya berikan tiga contoh yang terkenal—merupakan ekspresi era kita, dan telah meninggalkan jejaknya tentang hal itu.

Jadi dapat dikatakan bahwa extensive poem adalah sebuah puisi yang panjang. Selama dalam pengertian itu kata-kata datang berurutan satu sama lain, suatu puisi yang ekstensif dengan demikian bisa berarti sebuah puisi yang terdiri dari banyak baris dan pembacaanya membutuhkan waktu tertentu. Ruang dan waktu.

INTERVIEWER

Namun berapa panjang sebuah puisi dapat dipandang sebagai sebuah puisi ekstentif? Terdiri dari berapa banyak baris?

OCTAVIO PAZ

Mahabharata terdiri lebih dari dua ratus ribu sajak, sementara bagi orang Jepang, sau Uta—sebagai puisi panjang—terdiri dari tiga puluh sampai empat puluh sajak; Soledades karya Gongora berisi dua ribu sajak; Primero Sueno karya Sor Juana Ines de la Cruz kira-kira seribu sajak dan Divina Comedia karya Dante terdiri dari lima belas ribu sajak. Sebaliknya puisi The Waste Land hanya terdiri dari empat ratus tiga puluh empat sajak. Jadi dalam hal ini panjang pendek adalah realtif. Ia berupa istilah yang bersifat variable bebas, tidak tetap. Jumlah persajakan (verses) bukan masalah sama sekali, kita membutuhkan factor-faktor lain untuk menjelaskan hal ini.

Saya ambil Paul Valery yang pernah berkata bahwa sebuah puisi panjang, merupakan mengembangan dari suatu ekslamasi, suatu seruan. Yakni suatu formula singkat dan jelas namun toh masih membutuhkan suatu pengembangan. Dalam puisi pendek awal dan akhir berpadu, menyatu hingga jarang kita dapati pengembangan apa pun. Awal dan akhir dengan gamblang dapat dibedakan, terang, jelas, setiap persajakannya memiliki fisiogno-minnya sendiri-sendiri tetapi pada waktu yang bersamaan semuanya tak dapat dipisahkan. Pada puisi panjang, bagian-bagiannya bersifat nyaris otonom, benar-benar ada seagai bagian-bagian (dari keseluruhan). Contohnya, episode Paolo dan Francesca daam Inferno karya Dante, atau episode Dante dan Matilda pada ahkhir penggambarannya melewati purgatory.

INTERVIEWER

Mari kita detailkan, inti dari pembeda puisi panjang dan puisi pendek, dan mengapa ada cenderung pada yang pertama?

OCTAVIO PAZ

Perpuisian ditentukan oleh prinsip keanekaan dalam kesatuan yang bersifat ganda. Dalam puisi-puisi yang pendek, keanekaan dikorbankan demi kesatuan; pada puisi-puisi panjang, puisi itu mencapai kesempurnaan sebagai puisi tanpa mengorbankan atau merusak kesatuan (unity). Jadi, boleh dibilang, pada puisi panjang kita bukan hanya menemukan perpanjangan atau perluasan yang sebenarnya merupakan suatu dimensi yang relatif, tetapi juga keanekaan yang maksimum.

Tambahan lagi, puisi ekstensif memenuhi persyaratan ganda lain yang rapat hubungannya dengan hukum keanekaan dalam kesatuan: pengulangan dan kejutan. Pengulangan merupakan prinsip utama dalam perpuisian. Matra dan aksen-aksennya, rima (rhyme), julukan (epithet) dalam karya-karya Homerus dan penyair-penyair lainnya; frase dan insiden berulang seperti motif-motif musical yang tersedia sebagai tanda-tanda untuk memberi tekanan pada kesinambungan. Perbedaan lain yang lebih besar lagi adalah jeda atau penghentian, pergantian, penemuan—singkatnya, ketakterdugaan.

Bila kita reduksi sampai ke bentuk paling sederhana dan esensial, puisi adalah sebuah madah, alias nyanyian. Nyanyian bukanlah suatu diskursus atau penjelasan. Pada puisi pendek, latar belakang dan hampir semua keadaan yang mengitarinya, yang merupakan sebab atau objek nyanyian, dihilangkan atau diabaikan. Yang saya maksud adalah: pada gilirannya nyanyian menjadi cerita, dan akhirnya cerita menjadi nyanyian—seperti dalam puisi ekstensif.

INTERVIEWER

Ada yang hendak Anda tambahkan lagi?

OCTAVIO PAZ

Sebuah puisi ekstensif harus memuaskan suatu kebutuhan rangkap: keanekaan dalam kesatuan dan kombinasi dari pengulangan dan kejutan. Hal itu mengembangkan dan bukan sekedar mengakumulasi.

Sebutlah dalam Soledades saya tidak menemukan pengembangan, melainkan hanya akumulasi—yang seringkali membosankan dan bertele-tele dari fragmen dan detil-detilnya. Soledades adalah suatu tatahan potongan-potongan yang memang indah tapi tidak berarti. Puisi-puisi itu tidak memiliki aksi, taka da cerita, dan dipenuhi dengan penjelasan tambahan yang panjang dan berbelit-belit serta pemakain kata yang terlalu banyak yang sebenarnya tidak perlu.

Anda harus memahami hal ini; apakah kita membaca sebuah puisi dengan penuh gairah? Antusiasme—hiruk pikuk dan kegila-gilaan yang bersifat ketuhanan—merupakan tanda (resmi) perpuisian. (*)

*) Sabiq Carebesth, penyair, editor in chief Galeri Buku Jakarta.

Continue Reading

Classic Prose

Trending