Connect with us

Cerpen

Gelang Emas

mm

Published

on

Naguib Mahfouz*

Hussein menyadari bahwa pekerjaan yang didapatnya, yang telah membuatnya berkorban banyak, tak diperoleh dengan mudah. Dia telah menghabiskan waktu tiga bulan penuh dalam penantian dan nyaris putus asa, berkali-kali mengunjungi vila Ahmed Bey Yousri dan kantor Departemen Pendidikan. Lewat proses panjang, Bey akhirnya memberi tahu bahwa dia telah mengatur agar dia ditempatkan sebagai juru tulis di sebuah sekolah menengah di Tanta dan mengawali masa tugasnya pada awal Oktober.

Anak muda itu merasa senang, seperti juga keluarganya, namun kegembiraan mereka dinodai oleh kepahitan. Samira telah menunggu dengan sabar penempatan ini, bersengsaraan. Tetapi penempatan di sebuah kota yang jauh mengecewakan harapan ini. Perjalanan puteranya dari Kairo dan biaya hidup di Tanta akan menyita biaya. Di samping itu, di permukaan cakrawala muncul bayangan menakutkan sebuah perpisahan yang belum siap mereka hadapi. Rasa sedih membuatnya bertanya-tanya akan nasib yang membuatnya mesti berpisah dengan anak lelaki yang tak pernah menyusahkannya. Dalam diri anak itu ia melihat bayangan dirinya sendiri. Bersama Hussein dia merasa nyaman dan tenang, hal yang tak ditemuinya pada anak-anaknya yang lain. Sebetulnya dia bukanlah favoritnya, kesayangannya adalah sibandel Hassanein. Tapi pada saat-saat tertentu, Hussein merupakan bagian paling berharga dalam hidupnya.

Hussein belum pernah meninggalkan keluarganya walau sehari pun, dan kesedihannya atas perpisahan itu amat dalam. Perasaannya terbagi antara keterikatan terhadap keluarga dan harapan untuk meringankan beban mereka. Dia sering membayangkan dapat mengembalikan Nefisa ke tempatnya semula, seorang wanita terhormat di rumahnya segera setelah dia menerima gaji pertamanya. Tapi dia merasa impiannya mengabur gaji pertamanya. Tapi dia merasa impiannya mengabur di udara. Besok dia akan meninggalkan keluarganya dalam keadaan menyedihkan.

Ini, barangkali, menjadi alasan baginya untuk sekali lagi menemui Ahmed Bey Yousri, memohon padanya untuk menggunakan pengaruhnya agar dia bisa tetap berada di Kairo. Tapi rupanya Bey telah bosan dengannya; katanya, keinginannya terlalu sulit dipenuhi saat ini. Tanpa uang untuk hidup di Tanta sampai saat menerima gaji pertama bulan depan, Hussein menghadapi masalah baru. Bagaimana caranya dia dapat memperoleh uang? Dia menimbang-nimbang untuk meminta pada Nefisa, nmaun kakaknya itu selalu memberikan seluruh penghasilannya yang terbatas pada ibunya, menyisakan nyaris tak sepeser pun untuk dirinya sendiri. Bahkan, kalaupun perabotan rumah yang masih tersisa dijual, tetap saja tak mencukupi kebutuhannya.

Lalu setelah berpikir panjang, disimpulkannya bahwa satu-satunya yang bisa menolongnya adalah Hassan. Ibunya setuju dan yakin Hassan mampu membantu. Untuk pertama kalinya, ia memberi Hussein alamat abangnya itu. Dia pergi ke Jalan Clot Bey dan mencari letak lorong Gandab. Di awal perjalanannya, hatinya dipenuhi harapan. Pelan-pelan harapan itu  memudar menjadi kecemasan hingga akhirnya dia bertanya-tanya apakah Hassan bisa menolongnya, dan apakah dia akan kehilangan pekerjaan itu hanya karena kegagalannya mendapatkan beberapa pound.

Ketika akhirnya dia berhasil menemukan lorong yang dimaksud, suasana hatinya telah diliputi perasaan pesimis. Lorong itu sempit dan berliku dengan rumah-rumah berdempetan di kedua sisinya. Udara dipenuhi bau ikan goreng, tampak orang-orang bergerombol dan bermain kartu, terdengar pula gema suara pedagang menawarkan dagangannya dengan bahasa campur aduk dengan istilah kasar, suara batuk, dan orang berdahak yang meludahkannya ke tepi jalan. Permukaan tanah yang diselimuti debu, sampah sayuran, dan bangkai hewan itu agak menanjak sehingga lorong itu seolah-olah dibangun di atas bukit. Hussein menuju rumah bernomor tujuh belas, sebuah rumah kuno bertingkat dua. Begitu sempitnya sehingga lebih mirip menara. Tak jauh dari tempat itu duduk seorang perempuan berjualan kacang-kacangan dan buah kurma. Dengan ragu-ragu, dia memasuki rumah itu. Saat menaiki tangga berbentuk spiral yang tak ada pegangannya, hidungnya diserang aroma menusuk. Sesampainya di tingkat dua, dia mengetuk pintu. Dengan keras dan sedikit putus asa, dia mengetuk pintu sampai tangannya terasa sakit. Dalam keputusasaannya dia berdiri di situ, tak tahu mesti berbuat apa. Saat hampir beranjak pergi, didengarnya sebuah suara kasar berteriak marah, “Siapa jahanam yang mengetuk pintu sepagi ini?”

Jantung Hussein berdentam senang. Menjawab suara itu, yang dikenalinya sebagai suara abangnya, dia berkata, “Ini aku, Hussein!”

“Hussein!” Suara itu terdengar heran. Lalu Hussein mendengar suara sebuah benda berat digeser. Saat pintu terbuka, dilihatnya Hassan, rambutnya acak-acakan dan matanya sembab kemerahan. Mengulurkan tangan untuk menyalami saudaranya, Hassan memekik setengah kaget, “Hussein! Selamat datang. Masuklah. Kuharap bukan musibah yang membawamu ke sini. Ada apa?”

Agak bingung, Hussein masuk. Segera hidungnya mencium bau dupa, aroma yang berbeda dengan bau menusuk yang tadi tercium. Dia berada di sebuah lorong gelap yang menghubungkan dua ruangan. Yang satu di sebelah kanan pintu, satu lagi di sebelah kiri. Tersenyum minta maaf pada abangnya, Hussein berkata, “Apa aku datang terlalu pagi? Sekarang sudah jam sebelas.” Hassan menyeringai. “Aku biasa bangun siang. Penyanyi bekerja malam hari dan tidur siang hari,” katanya sambil tertawa. “Tapi sebelumnya, ceritakan padaku, bagaimana kabar keluarga kita?”

“Syukurlah, mereka baik-baik saja. Bagaimana kabarmu?”

Mengajak adiknya masuk ke ruangan di sebelah kanan, Hassan menjawab, “Syukur pada Allah, semuanya baik-baik saja.”

Mereka memasuki sebuah ruangan kecil yang nyaris tersekat menjadi dua bagian, yang satu berisi sebuah tempat tidur, yang lainnya berisi lemari dengan sebuah sofa terletak di dekat dinding bagian dalam. Tergantung di atas sofa itu sebuah potret besar Hassan bersama seorang perempuan berkulit amat gelap bertubuh sintal yang melendot manja di bahunya, tangan perempuan itu melingkari leher abangnya. Pandangan Hussein terpaku pada perempuan itu, keheranannya memancing perhatian abangnya.

“Ada apa?” Tanya Hassan tertawa.

“Kamu sudah menikah, Bang?” Tanya Hussein naïf.

Seraya menyilakan Hussein duduk di sofa, Hassan melompat ke atas ranjang dan bersila di situ. “Hampir,” jawabnya.

“Kalian bertunangan?”

“Tak menikah dan tidak bertunangan.”

“Apa maksudnya?”

“Maksudku hubungan jenis ketiga!”

Dengan tercengang adiknya itu menatap Hassan penuh keheranan. Lalu dia tersenyum tiba-tiba. Wajahnya tersipu malu. Hassan tertawa nyaring menyaksikannya.

“Bahkan tanpa surat nikah pun dia sudah menjadi istriku dalan segala hal,” katanya enteng.

“Kamu sedang sendirian sekarang?” tanya Hussein khawatir.

Hassan mengangguk dan melengkuh keras seperti seekor keledai.

“Kamu tak akan bilang apa-apa soal ini kan,” katanya memperingatkan.

“Tentu saja.”

“Aku tak mau melukai perasaan keluargaku, itu saja. Ngomong-ngomong kamu pernah bercinta dengan perempuan?” tanya Hassan seraya tertawa.

Dengan tersipu-sipu anak muda itu menggelengkan kepala.

“Itu lebih baik buatmu,” katanya. “Jika suatu hari kamu menikah,” tambahnya, “datanglah padaku dan akan kuberikan padamu saran-saran yang menakjubkan.”

“Aku belum berpikir soal pernikahan, kamu tahu sendiri,” Hussein berkata tenang.

Hassan berpindah tempat. “Oh, ya! Ngomong-ngomong bagaimana kabar terakhir usahamu mencari kerja?”

Hussein merasa gembira karena merasa mendapat jalan untuk mengutarakan maksudnya.

“Aku kemari untuk menyampaikan kabar padamu bahwa aku telah dijanjikan pekerjaan sebagai juru tulis di sebuah sekolah menengah di Tanta dan aku akan mulai bekerja tanggal satu Oktober,” katanya.

“Kamu akan pergi ke Tanta?” tanya Hassan heran. “Apa gunanya bagi ibu kalau kamu pergi ke Tanta?”

“Sedikit berguna. Habis bagaimana lagi?”

“Itu nasib buruk namanya. Itulah hasil bersekolah!”

Untuk mengatasi kebingungannya, Hussein tersenyum. Dengan mengumpulkan seluruh keberaniannya, dia berkata, “Aku mesti berangkat akhir September. Seperti kamu tahu, gaji pegawai negeri baru akan dibayar setelah sebulan.”

Hassan sadar arah pembicaraan adiknya sebelum Hussein selesai bicara, namun dia berusaha tak memperlihatkan itu pada wajahnya.

“Berapa gaji yang akan kamu terima?” tanyanya.

“Tujuh pound.”

“Betapa bodoh ibu susah-susah menyekolahkanmu! Dan kamu pasti tak punya satu milliem pun untuk ongkos perjalanan dan biaya hidup di sana sampai ujung Oktober bukan?”

Hussein meringis tak berdaya, canggung oeh rasa malu dan kebingungan yang disebabkan situasi ini, seolah-olah dia sedang minta bantuan pada seorang asing. Sementara itu benak Hassan terus berputar, ia terdiam dengan pandangan mata tertuju pada adiknya. Hussein datang di saat yang tidak tepat. Aku perlu uang. Tapi aku tak yakin kapan akan mendapatkannya. Kini aku sedang bokek berat. Bajingan! Aku tak mungkin bilang apa adanya, biarpun neraka membinasakan kami. Dia amat membutuhkan uang itu dan harus mendapatkannya. Masa depan keluarga kami tergantung pada beberapa pound ini. Sesungguhnya, dia tak butuh terlalu banyak, hanya seharga beberapa ons hasnish. Dalam waktu seminggu, seorang pemuda ceroboh akan menghabiskan uang sebanyak itu untuk main perempuan di Darb Tiab. Sana’a bisa mengatasinya sendirian. Aku tak terlalu peduli soal itu. Aku mesti menolong Hussein. Tapi bagaimana caranya? Kenapa dia baru datang sekarang? Ah, sampai kapan keluargaku akan terus menerus kecewa padaku? Terdiam, dia terus menatap saudaranya hingga Hussein merasa takut dan waswas. Tiba-tiba Hassan beranjak dari tempat tidur. Dia menuju lemari, lalu membuka sebuah laci. Setelah mengaduk-aduk isi laci itu sejenak, dia kembali ke ranjang. Tangannya memegang empat buah gelang emas. Disorongkannya benda itu pada adiknya.

“Ambil gelang ini dan jual semuanya, berapapun harganya,” katanya terburu-buru.

Tangan Hussein terasa kaku, matanya terbelalak, ia merasa tak enak dan gelisah. “Apa ini? Milik siap gelang itu?” teriaknya seolah-olah tertuju pada dirinya sendiri.

Merasa terganggu oleh kegelisahan adiknya, Hassan berujar pendek, “Itu gelang emas milik Sana’a, istriku’!”

“Tapi apa hakku mengambilnya?”

“Abangmu memberikannya padamu. Kamu tak ada urusan dengan pemiliknya.”

Gelisah, Hussein bertanya-tanya dengan galau, hidup macam apakah yang dijalani abangnya?

“Aku tak bisa menerimanya. Tak adakah jalan lain?”

Unjuk harga diri ini membuat Hassan naik pitam.

“Kalau kamu sekuno itu, tinggalkan saja benda itu. Aku tak punya apa-apa lagi buatmu,” katanya ketus.

Pada awalnya Hussein mengira kakaknya main-main. Tapi mengamati kesungguhan wajahnya, dia merasa gelisah. Gelang milik seorang perempuan! Dan perempuan macam apa? Pikirnya. Ini tak mungkin terjadi dan tak bisa dipercaya. Aku tak pernah membayangkan hal ini bahkan dalam mimpi buruk sekalipun. Jika aku melakukan hal ini, bagaimana aku bisa menghormati diriku sendiri setelahnya? Mestikah kutolak gelang itu? Jika itu yang kulakukan, apa yang mesti kukerjaka? Dia tak punya uang lagi. Aku mesti mempercayainya. Apa jadinya jika aku melepaskan pekerjaan itu? Aku tak bisa menolak. Tapi aku juga tak bisa menerima! Dia terus terombang-ambing, tak bisa mengambil keputusan. Hanya ada satu hal yang layak mendapat kutukan, pikirnya. Hidup ini. Ya, kehidupan dan nasib, dan kedua orangtua yang telah membawaku kedunia ini. Ayahku yang dulu senang bermain dengan dawai-dawai kecapi! Tiba-tiba dia merasa diperingatkan. Terkutuklah aku! Berani-beraninya aku berpikir seperti itu! Bayangan jenazahnya masih tercetak jelas dalam ingatanku. Semoga Allah mengasihinya. Dia tak patut dipersalahkan. Kami semua bagaikan ayam, mengais-ngais makanan di antara kotoran. Betapa menjijikkan! Biarlah aku menolak. Tapi untuk bertahan hidup kami mesti menerimanya. Tak seorang pun aku mengetahui hal  ini! Dia menunggu keputusanku. Menerima atau binasa! Aku akan menganggapnya sebagai utang yang akan kulunasi suatu saat nanti. Aku jujur, akan kubayar utangku. Jika aku tak menolaknya, aku tak berhak menyebut diriku seorang yang jujur. Aku kelaparan. Jujur tapi lapar. Dan aku tak akan menolak. Persetan dengan hidup ini! Kini kusadari apa yang membuat abangku menjalani hidup seperti itu. Keluarga kami musnah dan hidup memang kejam. Aku mesti membuat keputusan sebelum kepalaku meledak. Seperti ayam….

“Bagaimana?” terdengar suara Hassan.

Terpaku, Hussein menatap abangnya, suara Hassan membuatnya gugup. Hassan masih menggenggam gelang itu di tangannya. Dengan menundukkan pandangannya, Hussein berkata kemalu-maluan, “Terima kasih atas kebaikanmu. Aku menerimanya. Kumohon kamu menghitungnya sebagai pinjaman, nanti akan kubayar.”

“Terimalah sebagai hadiah. Jangan lupa, bilang pada ibu bahwa aku meminjam uang itu dari Tuan Ali Sabri.”

Perkataan Hassan yang menyebut-nyebut ibu mereka membangkitkan kegundahan Hussein, membekaskan kepedihan yang dalam. Saat dia mengambil benda itu dan mengantonginya rasa masygulnya bertambah.

“Maaf telah mengganggumu. Lebih baik aku segera pergi agar kamu bisa melanjutkan tidur siangmu,” kata Hussein.

Hassan mengulurkan tangannya sambil tersenyum, menyalami adiknya sebagai tanda perpisahan.

“Semoga Tuhan melindungimu. Salamku untuk semua dan bilang pada ibu aku akan segera mengunjunginya,” ujar Hassan.

Dengan perasaan tertekan, Hussein meninggalkan rumah itu. Seraya menuruni tangga yang tak ada pegangannya, dia terserap dalam lamunannya, tak ambil peduli pada aroma menusuk yang menyerang hidungnya. (*)

*Naguib Mahfouz adalah seorang novelis Mesir yang mendapatkan Penghargaan Nobel dalam bidang sastra pada tahun 1988. Naguib Mahfouz dilahirkan di daerah Gamaliya di Kairo.

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Tiara

mm

Published

on

by Widya Yustina *)

“Mas Edi menelepon tadi.”

“Apa, Bu?” tanyaku.

“Iya, Mas Edi menelepon Ibu.”

“Oh, ya?”

“Nyariin kamu.”

Untuk apa dia mencariku?

“Dia bilang nomor handphone-mu tak bisa lagi dihubungi, makanya itu mungkin dia nelepon kemari.”

“Begitu ya? Lain kali, kalau Mas Edi telepon, ndak usah diangkat saja ya, Bu,”

“Lho?”

“Iya, pokoknya nanti kalau Mas Edi telepon lagi, langsung tutup saja sama Ibu.”

“Hhmm… Sebenarnya bukan sekali ini saja dia kontak Ibu, minggu lalu juga Mas Edi telepon, nanya kabar Tiara, mungkin kangen.”

Kangen? Tumben kangen.

Nduk… Mungkin sudah saatnya kalian bicara, biar bagaimana keadaannya, pikirkan masa depan anakmu, Tiara.”

Apakah selama ini dia memikirkannya?

 “Genduk… Ibumu ini bicara serius.”

Inggih, Ibu, tapi sekarang Lastri pergi kerja dulu ya.”

“Kamu ini… Baiklah kalau begitu, hati-hati di jalan ya.”

Suara Ibu bergetar terdengar waswas. Tiara, bayi perempuanku, beringsut nyaman dalam dekapan neneknya. Usianya belum genap 2 tahun, rambutnya keriwil, hidungnya lumayan bangir. Manis kalau tersenyum. Kugenggam jari-jemarinya yang montok dan menggemaskan. Kucium keningnya lalu pamit pada ibuku.

Tetangga dan handai tolan bilang, Tiara sangat persis mirip bapaknya ketimbang denganku. Sorot matanya acapkali mengingatkanku pada sesosok lelaki yang dulu sangat kuhormati, Mas Edi Wibowo, atau haruskah kusebut saja namanya tanpa panggilan hormat ‘Mas’? Ingin rasanya kuenyahkan dia dari ingatan. Namun, setiap kali menatap Tiara, mustahil melakukannya.

Pria itu begitu memesona waktu awal jumpa. Pintar dan tampak bersahaja. Posturnya tak terlalu tinggi namun kesan wibawa terpancar kuat darinya. Setelan kemejanya rapi. Rambutnya disisir klimis. Sepatu pantofelnya mengilat. Menjinjing tas kulit berwarna cokelat. Kami bertemu muka di bus kota.

Alih-alih bersikap cuek, aku terkejut melihatnya tersenyum padaku. Tunggu, apa benar ia tersenyum padaku? Kutengok kanan dan kiri, benar pandangannya tertuju padaku saja. Jantungku tersendat, dihunjam ratusan anak panah. Sepersekian detik terbang ke langit ketujuh. Pipiku memerah, dibuatnya jadi salah tingkah.

“Kenalkan, namaku Edi, Edi Wibowo.”

“Ah iya, saya… Ayu Lastri, panggil saja Lastri, Mas.”

Silir angin menembus celah jendela kaca tempat duduk kami berdampingan. Semerbak aroma wangi parfum segar tercium hidungku seketika membuat harga diriku terhempas karena cuma pakai deodoran. Harga parfumnya pasti mahal, pikirku kala itu.  Mas Edi terpaksa naik bus karena motor bebek yang dikendarainya mendadak mogok di tengah jalan. Ia hendak pergi mengajar di salah satu universitas tinggi negeri di Yogyakarta.

Pertemuan itu kukenang sebagai tengara bahwa hidup selalu memberi kejutan. Enam bulan setelah perkenalan, kami menggelar pesta pernikahan kecil-kecilan. Mas Edi, seorang Pegawai Negeri Sipil, mengenyam pendidikan doktoral di Amerika, melabuhkan petualangan cintanya padaku. Seorang gadis biasa-biasa saja, bahkan hanya lulusan diploma. Mungkinkah itu benar disebut cinta jika akhirnya membuatku sengsara?

 “Mbak, Mbak, ojek Mbak…,” lamunanku seketika buyar oleh seruan tukang ojek pangkalan.

“Oh iya, tolong antar saya ke Belo Garmen Industri di Jalan Mergo sari ya pak.”

“Ah, siap!” ujarnya sambil menyodorkan helm.

Matahari menggeliat bersinar garang. Bunyi klakson menggemuruh. Kabut udara dari asap kendaraan bercampur dengan butiran semangat dan keringat. Deru mesin motor melaju kencang di jalanan. Membelai rambutku yang panjang terurai, terkena imbasan angin. Jalanan yang sama kutempuh selama dua tahun ini menuju tempat perusahaanku bekerja di bagian administrasi.

Gajinya tak terlalu besar tetapi paling tidak dapat menyelamatkan harga diriku ketimbang menagih janji tanggung jawab dari ayah Tiara, seolah-olah itu utang. Tiara masih berumur 6 bulan waktu bapaknya itu menjatuhkan talak. Mas Edi rupanya kecantol cinta lain, sesama kolega.

Entah kapan dan di mana mereka bertemu, hanya Tuhan yang tahu. Perempuan itu tak mau mengaku ketika kuhubungi. Jejak perselingkuhan mereka tetap tercium meski suamiku berusaha menutupinya. Saat itu pula, harga diriku sebagai istri telah lenyap. Perselingkuhan itu seketika mematikan sumbu cinta di dalam hatiku. Menghancurkan keyakinanku akan ikatan suci sebuah perkawinan.

Gelora hasrat puber kedua telah membuatnya mati rasa. Tugasnya menjadi tugasku. Menjadi seorang ayah sekaligus menjadi seorang ibu. Demi anakku, rela kulakukan segala. Kepala menjadi kaki, kaki menjadi kepala. Kini laki-laki itu mencari-cariku setelah dia nyatakan urusan kami selesai bertahun-tahun lalu. Hidup tak sebercanda itu.

“Pak, pak, berhenti di sini ya.” Motor berhenti di lajur jalanan beraspal, khusus karyawan pabrik.

“Berapa, Pak?” ujarku sambil membuka helm.

“Eeh, itu, gak apa-apa, Mbak, gak usah bayar.”

“Lho?” ucapannya membuat keningku seketika berkerut.

“Jangan, bener gak apa-apa.”

“Masa gratis? Kan jadi gak enak saya.”

“Bener gak apa-apa, itu tapi, nganu, begini, saya kepengin ngobrol sama Mbak, sebentar saja, boleh ya?”

“Mau ngobrol apa?”

“Eehhmm…, gini, anu…, saya sering perhatikan Mbak kalau pulang kerja malam, pergi ke mana-mana juga sendirian, apa ndak takut begitu?” Bola matanya menyipit. Alisnya tegak. Sudut bibirnya merruncing, menampak seringai serigala.

“Dengar kabar, Mbak janda ya? Apa ndak kesepian? Boleh sekali-kali saya temani? Nanti pulang kerja, kita jalan-jalan dulu ya, gimana? Mau?”

Wajahku sontak terasa panas bagai ditampar bara. Sekelebat bayangan pedang muncul menghunjam dada pria paruh baya bertubuh gempal itu. Tubuhnya ambruk, menggelepar-gelepar di atas tanah. Mulutnya mesem-mesem sembari terus mengeluarkan celotehan busuk. Perutku mual ketika jari-jemarinya mencoba menyentuhku.

Kurogoh kocek lima puluh ribuan, kulemparkan kehadapannya lalu beranjak pergi. Pandanganku kabur, tergenang air mata. Hati remuk bagai gelas retak berdebu. Sepagi ini menanggung malu. Duh Gusti Mahasuci yang Maha menyaksikan segala, harus berapa lamakah lagi menahan diri dari fitnah, bujuk rayu dari segala penjuru?

Belumlah reda gemuruh di dalam dadaku. Langkah kakiku mendadak terhenti. Terlihat kerumunan karyawan berjejalan di depan pintu pabrik. Selembar kertas pengumuman tertempel di pintu gerbang yang tertutup rapat itu. Aku bergegas menghampiri Marni, seorang teman yang kukenal bekerja di bagian operator.

“Ada apa ini ribut-ribut, Mar?”

“Oh kamu, Las, ini perusahaan ngasih pengumuman, kegiatan operasional pabrik kita ditutup, katanya hasil tes beberapa karyawan kita positif kena corona.”

“Apa?!” Ucapan Marni seketika membuat mulutku menganga.

“Yang benar? Siapa, Mar?”

“Iya benar. Mulai hari ini kita ndak usah datang ke pabrik lagi. Tuh! kamu baca saja sendiri,” ujar Marni sambil berlalu pergi. Aku pun bergegas mendekat ke arah kerumunan, bergesek beradu, membaca sendiri isi pengumuman itu. Ternyata benar yang dikatakan Marni. Pabrik ditutup sementara waktu.

Suasana semakin ricuh. Sebagian karyawan berteriak-teriak sambil mengacung-acungkan tangan. Seseorang kemudian merusak kertas pengumuman itu lalu melemparkannya ke tanah. Petugas keamanan menyuruh kami mundur dan bersabar menunggu instruksi lanjutan dari pimpinan. Marni tampak diam berdiri di seberang jalan, mata kami saling bertatapan.

Seluruh kejadian beruntun pagi ini pun membuat dadaku sesak, jantungku berdetak kencang tak karuan. Kepalaku mendadak pening alang bukan kepalang. Bagaimana akan kuberi makan anakku? Apa yang harus kulakukan sekarang?  Hanya pekerjaan ini yang kuandalkan. Hidup berhemat agar mampu bertahan. Kuabaikan keinginan serta kebutuhan pribadiku agar Tiara bisa hidup layak.

Sekumpulan ojek terlihat berada di tikungan tampak asyik mengobrol, salah seorang dari mereka tertawa terbahak-bahak. Langkah kakiku otomatis berbelok, memutar arah, berjalan lebih jauh menuju persimpangan, menaiki angkutan umum, kembali menuju tempat ibuku sebagai karyawan yang dirumahkan. Dalam perjalanan, pikiranku kembali menerawang. Berita pagi ini sulit kuterima, dan sejujurnya aku pun belum tahu akan bagaimana. Akan tetapi, aku harus mampu menghadapinya, karena aku adalah seorang ibu. Ibu yang bahkan rela mati demi anaknya.

Selesai.

__
*) Widya Yustina lahir di Ciamis, 1986. Menyelesaikan studi Ilmu Jurnalistik di Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Bandung. Selain hobi menulis, ia juga gemar menonton dan jalan-jalan. Karyanya yang lain diantaranya, Buku Dongeng Fabel 2019 Jilid 1 (2019), Menenun Rinai Hujan (2019) bersama Sapardi Djoko Damono, Orakadut Jadi Tokoh (2020) kumpulan antologi cerpen bersama Golagong.

Continue Reading

Cerpen

Asmara Lembah Silikon

mm

Published

on

Kegentingan yang terjadi akibat ulah Hafiz Imtiaz tak mungkin diselamatkan. Big data harus merelakan kehilangan limbah digital yang sudah membatu di gudang penyimpanan milik pemulung. Namun, para  founder dan co-founder di Lembah Silikon tak perlu terlalu gusar. Irman Gugelman dan Hafiz Imtiaz berhasil mencapai kesepakatan.

Damhuri Muhammad *)

Di mata orang-orang yang lemah daya ingat, Hafiz Imtiaz adalah hard disk drive  (HDD)  bernyawa.  Seolah-olah ada ribuan folder  penyimpan ingatan dalam big storage  yang tertanam di jantungnya. Di gudang penyimpanan itulah rupa-rupa ingatan dikandangkan. Mulai dari ingatan remeh, seperti hari pertama bisa pipis sendiri, hari pertama bisa menyalakan korek api, hari pertama pakai seragam sekolah, atau hari pertama bisa mengendarai sepeda tanpa bantuan dua roda samping.

            Ada pula folder berisi memori-memori yang terklasifikasi pada level medium, semacam rahasia perempuan yang ternyata berjodoh dengan laki-laki yang dulu kerap ia hina dengan kata-kata yang lebih menyakitkan dari kematian, jawaban atas rasa penasaran kenapa gadis ayu level dewa rela menerima pinangan duda seusia bapaknya, termasuk ingatan atas hari pertama melihat tubuh perempuan tanpa busana dari pengalaman mengintip orang mandi. Tersedia pula folder khusus dengan berlapis-lapis kata kunci, berisi koleksi ingatan berkategori kelas berat. Misalnya, jawaban akurat atas tanda tanya besar perihal kematian mendadak seorang jaksa tinggi yang lazimnya dibereskan dengan dalih serangan jantung. Atau jawaban tak tersangkal atas  kenyinyiran netizen kenapa seorang Presiden yang dulu dibela mati-matian oleh pendukungnya, kini menjadi penguasa kesepian dan tinggal menunggu momentum derita post power syndrome.

            Sebelum total berkhidmat sebagai penggenggam ingatan, Hafiz Imtiaz pernah menyebut dirinya sebagai pemulung. Pekerjaannya mengais-ngais sampah di belantara big data, seperti pemulung yang berkeliling dari gang ke gang di permukiman padat, mencari kardus atau botol plastik bekas. Di jagat maya, sampah yang ia bereskan tentu meme sisa TwitWar, politisi berkepala lembu hasil olah photoshop, diagram palsu, hingga infografis berisi statistik yang sudah ketahuan halu.

            “Sampah doyannya sampah juga,” sindir netizen, saat Hafiz Imtiaz sempat mengunggah meme kadaluarsa berjudul dibuang sayang.

Tapi ketika sebuah isu baru memerlukan sokongan konten lama itu, meme milik si penggenggam ingatan sudah lenyap. Sampah yang melesap ke dalam big storage-nya hilang tak berbekas, dan tak bakal terlacak search engine secanggih Google sekalipun. Piranti lunak bikinan Hafiz Imtiaz bagai mesin pengisap hoaks, kebencian, dan  bacot unfaedah. Akibat pekerjaan si pemulung, ruang interaksi media sosial tidak lagi bergairah. Konten yang tersisa hanya buku-buku teori yang bikin ngantuk, nasihat-nasihat jaim berbungkus basa-basi, dan video-video kultum yang lebih buruk dari pidato politisi.

            “Hai Pemulung. Algoritmamu itu, mukjizat dari rasul mana?” tanya seorang pakar datamining  bernama Irman Gugelman, yang kemudian diketahui sebagai utusan khusus penguasa Lembah Silikon.

            “Kau mau kemewahan seperti apa, anak muda? Jangan menganggu tatanan  kekacauan informasi bikinan kami!” lanjut Irman Gugelman, yang terdengar seperti bujukan.

            “Saya memulung yang tak berguna. Mukjizat itu datang dari jazirah Bantar Gebang. Seperti langit dan bumi bedanya dengan Lembah Silikon,” balas Hafiz Imtiaz. Santai.

Meski dapat menembus big storage milik pemulung, misi penting utusan khusus dari Lembah Silikon gagal. Jutaan gigabyte limbah, aset penting penguasa Lembah Silikon, sudah terlanjur menjadi fosil di big storage si pemulung.

            “Secara visual, timbunan fosil itu membentuk anatomi makhluk yang sedang membungkuk, seolah-olah ia sedangmenyembah Dajjal itu!” kata Irman Gugelman, melaporkan kegagalan misinya.

            “Rekomendasi Anda?” tanya pejabat ring satu Lembah Silikon.

Irman Gugelman diam. Ia hanya membayangkan algoritma baru, yang dapat menciptakan kecerdasan buatan sekaliber kecerdasan Nabi, terutama yang  punya mukjizat dapat menghidupkan data mati.

***

            Kegentingan yang terjadi akibat ulah Hafiz Imtiaz tak mungkin diselamatkan. Big data harus merelakan kehilangan limbah digital yang sudah membatu di gudang penyimpanan milik pemulung. Namun, para  founder dan co-founder di Lembah Silikon tak perlu terlalu gusar. Irman Gugelman dan Hafiz Imtiaz berhasil mencapai kesepakatan.

            “Yang sudah hilang tak bisa kalian temukan. Tapi, saya akan berhenti sebagai pemulung!” kata Hafiz Imtiaz setelah menolak semua iming-iming dari Lembah Silikon.

            “Sekadar simpanan guna mengamankan hidupmu di usia senja, tak berminat juga, Pemulung?” tanya Irman Gugelman, yang ia maklumatkan sebagai peluang penghabisan.

            “Saya tidak akan pernah tua! Saya menolak ketuaan. Ndak usah repot-repot, Sodara!” balas Hafiz Imtiaz.

            Sejak itulah si pemulung beralihrupa menjadi penggenggam ingatan. Itupun hanya untuk membuat piranti lunak bikinannya tetap bekerja, sekadar bertahan untuk tidak berakhir sebagai barang rongsokan. Portofolio Hafiz Imtiaz yang pernah mengguncang kedigdayaan para inventor dan inovator Lembah Silikon, membuat ia begitu mudah mendapatkan klien. Si penggenggam ingatan seperti gula yang dikerubungi kawanan semut. Banyak tawaran yang mengandung ajakan agar ia kembali berkiprah sebagai pemulung dalam wajah baru, misalnya menghisap data pribadi dari sebuah platform percakapan daring yang disebut-sebut telah meraup 7 juta user. Tangkapan besar yang sangat berharga bagi saudagar ruang iklan, dan potensi tak ternilai  incaran para kontestan pemilihan Walikota.

            “Kami bisa membantu penyempurnaan piranti lunak Anda. Setelah itu kita bergembira ria di pesta kemenangan Walikota,” kata perwakilan tim sukses salah satu kandidat.

            “Tiga kali tawaran macam ini mendatangi saya, dan saya sudah menolaknya empat kali. Saya alergi politik. Bila kambuh, antibiotiknya kurang ampuh!” kata Hafiz Imtiaz.

            Penggenggam ingatan tak tergoyahkan. Ia hanya ingin bekerja atas nama kemanusiaan. Menyimpan dan mengonservasi ingatan yang di masa datang mungkin akan berguna, terutama bagi kaum yang sudah tumpul daya ingatnya. Hafiz Imtiaz tahu betul, sampah-sampah digital yang ia musnahkan, telah membuat banyak orang abai menjaga ingatan. Terlalu banyak bicara, ketagihan bergunjing, dan hobi berkelahi di linimasa, bisa membuat orang tidak lagi mampu menghapal nomor ponsel sendiri.

            “Ini tentang letak tahi lalat Miftahul Hayati, mantan nomor delapan. Kelak saya akan mengambilnya,” kata pelanggan mula-mula bernama Aulad Mustaqbal. “Jangan sekali-kali berpikir untuk kembali mengaktifkan fitur pemusnahan di perkakas rongsokmu itu!”  tambah Aulad dengan sorot mata mengandung ancaman.

            “Soal imbalan atas jasa ini, tak perlu kuatir.  Sesuai tarif yang tertera, dan tak bakal ditawar.”  

            Bagi Aulad Mustaqbal, mantan nomor delapan itu istimewa. Sekali waktu, pernah menyelamatkan mukanya di hadapan ibu mertua. Masa itu ia sedang jalan berduaan dengan Miftahul Hayati di sebuah mal. Celakanya, ibu mertua sedang berbelanja di mall yang sama. Mereka berpapasan di pintu masuk sebuah toko pakaian dalam. Beruntung ada kawan laki-laki bernama Untung di antara dirinya dan Miftahul Hayati. “Ini siapa, Ananda?” tanya ibu mertua, curiga. Aulad Mustaqbal berkeringat dingin, tapi Miftahul Hayati lekas bertindak. “Saya istri Mas Untung!” balasnya, sambil merangkul sahabat kekasihnya itu. Ibu mertua lega. Curiga yang menyala-nyala padam seketika.

            “Titipan saya hanya berisi angka-angka. Tapi kalau hilang, percayalah, saya akan menderita sebagai tua bangka tanpa nostalgia,” kata pelanggan selanjutnya.

            Di folder itu tersimpan nomor punggung pesepak bola idola ayahnya, saat pelanggan itu berusia 9 tahun. Begitu juga nomor celana dalam pertama, yang dibelikan ibunya beberapa hari setelah ia disunat. Nomor rumah tempat ia dirawat sebagai bayi prematur sebelum kemudian pindah dari kota ke kota, dari negara ke negara. Nomor sepatu olah raga pertama hadiah paman, pada hari ulang tahun yang tak didampingi ayah-ibu lantaran keduanya sedang menjalani sidang perceraian di pengadilan agama.  Dan, yang paling berharga adalah nomor kursi yang tertera pada lembaran tiket bioskop, pada kesempatan mula-mula ia memberanikan diri menonton dengan pacar perdana.

            Jangan dikira mereka tidak berlangganan platform dengan teknologi komputasi awan semacam I-Cloud atau Google Drive. Tapi menurut analisa si penggenggam ingatan, mereka tidak mau lagi bertelanjang dalam jerat raksasa bikinan orang-orang culas di Lembah Silikon. Perisai privasi mereka sudah bolong di sana-sini, lantaran terlalu sering mengunggah data pribadi dalam ekosistem digital. Mereka ingin melarikan diri dari intaian algoritma yang memperlakukan mereka sebagai mangsa di belantara big data.

            “Bagaimana kita bisa mempercayai penggenggam ingatan?” tanya Aulad Mustaqbal pada sejawat-sejawat sesama pelanggan.

            “Semua jejaknya mengandung perlawanan atas kuasa Lembah Silikon. Ia belum punya pengalaman berkhianat!” balas pelanggan bernama Maya Rumantir.

            “Lagi pula, titipan kita cuma remah-remah yang tak mungkin laku dijual.”

            “Apa kau bilang? Remah-remah? Aku sudah lama mencari mantan kedelapan. Hanya saja aku sedang sibuk untuk beberapa tahun ke depan, makanya kunci pencarian kutitipkan sementara. Jaga bicaramu, Nyonya!”

            “Ahai, kau pikir letak tahi lalat tak bergeser pasca revolusi kosmetik?”

            “Berhentilah menakut-nakutiku seperti anak kecil!”

            “Penggenggam ingatan peluang kita satu-satunya. Juru selamat dari penjarahan ingatan besar-besaran yang dikendalikan dari Lembah Silikon. Percayai Hafiz Imtiaz! Oke?”

            “Yups. I have no choice!

****

            Lantaran berbagai kesibukan, kotak surel milik Aulad Mustaqbal telah melewatkan tiga pesan yang seharusnya masuk secara otomatis. Artinya, sudah tiga bulan penggenggam ingatan me-nonaktifkan fitur notifikasi. Setelah berkali-kali diperiksa, dikontak berulang-ulang, Aulad Mustaqbal berkesimpulan; penggenggam ingatan telah menghilang!  Begitu pula bunyi pesan berantainya ke seluruh pelanggan. Kepanikan tak terhindarkan.

            “Celaka! Kita akan berakhir sebagai manula tanpa nostalgia!”

            “Bedebah kunyuk! Ia pikir ingatan bisa dilelang, hah?” umpat Maya Rumantir.

            “Tenang, Sodara-sodara. Bukankah kita punya asuransi kehilangan?”

            “Tai kucing! Asuransi macam apa yang mau mengganti ingatan yang hilang?”  

            Selepas kabar buruk itu, Aulad Mustaqbal adalah pelanggan yang sudah lupa letak tahi lalat mantan kekasihnya. Di dagu, pipi kanan, bawah pusar, atau bahu kiri? Entahlah. Oh, Miftahul Hayati. Satu-satunya yang bisa memastikannya adalah serbuk ingatan dalam  folder  yang sudah raib.

            “Lapor polisi aja gimana, Bro?”

            “Sejak kapan Polsek punya detektif  bagi maling ingatan?”

            “Kalau begitu, kita umumkan saja di Twitter.”

            “No! Itu yang diharapkan rejim Lembah Silikon,” kata Aulad Mustaqbal.   

            Sementara para pelanggan sudah di berada ambang putus asa dan hampir mengikhlaskan hidup mereka sebagai calon manula paling menderita, nun di Lembah Silikon, persisnya di sebuah klinik mewah dengan perkakas medik super canggih, pasien atas nama Miftahul Hayati, baru selesai menjalani operasi ringan; membuang tahi lalat di punggungnya, tepat di bawah tato kupu-kupu biru.

            “Kau bebas sekarang, Sayang! Ia tak mungkin lagi menemukanmu,” bisik Hafiz Imtiaz, dalam senyum bahagia, sambil mendekap perempuan itu erat-erat.

Damhuri Muhammad: Menulis cerpen, esai budaya, artikel politik, dan resensi buku  di  sejumlah media nasional.  Buku fiksi terkininya Anak-anak Masa Lalu (2015). Buku nonfiksi terbarunya, Takhayul Milenial (2020). Associate editor Galeri Buku Jakarta. 

Continue Reading

Cerpen

Pagi Ini, Ada Burung yang Mati

mm

Published

on

By Ruly R *)

Pukul tujuh lebih delapan belas. Masih pagi untuk merutuki nasib, namun Sarju sudah melakukan itu. Dua lembar lima ribuan habis disekali putaran dadu permainan pasar.

“Kirik!” umpat Sarju entah untuk siapa. Wajahnya penuh kesal. Uang yang didambakan berlipat seperti dalam mimpinya kemarin malam justru menguap.

Memang setiap pagi lelaki itu hobi menyambangi meja putaran dadu. Kalau siang kerjanya kalau tidak nongkrong di warung tuak tentu tidur di rumah. Jika waktu malam tiba, dia suka mengendap untuk mengambil barang yang laku dijual.

Pagi ini setelah kalah di meja putaran, Sarju memutuskan untuk menyusuri panjangnya trotoar. Kaki dan fisik Sarju masih saja segar, meski usianya sudah tidak bisa dikatakan muda.

Sarju mengedar pandang ke jalan raya. Cepat dan ugal-ugalan kendaraan yang melintas, saking cepatnya seakan nyawa para pengendara itu lebih dari satu. Tampak kepanikan dan terburu-buru bertumpuk di pagi hari. Ada juga bocah sekolah dengan wajah cemas karena telat berangkat, tampak resah menunggu datangnya angkot.

Sayup suara burung, lalu semakin jelas. Cericit burung beradu dengan bisingnya deru kendaraan. Burung itu terbang melintang di atas kepala Sarju, hinggap dari satu pohon di sebelah utara jalan ke sisi selatan jalan. Sarju saksama melihat burung itu.

Memang, saat ini jarang sekali burung di jalanan kota, sama jarangnya dengan pohon-pohon di sisi kanan-kiri jalan. Gedung-gedung lebih subur tumbuh di kabupaten tempat tinggal Sarju, utamanya di kompleks perkantoran kabupaten, yang hanya berjarak tidak lebih dari dua ratus meter dengan jarak pasar.

Burung terus bercericit. Nyaring terdengar meski terus ditingkahi suara motor dan mobil. Mata Sarju masih saksama melihat burung itu, seakan tak ada hal lain yang ingin ditatapnya pagi ini. Suara burung memanggil ingatan Sarju. Dia ingat desanya. Rindu menyelusup halus pada hati Sarju.

Di waktu yang telah lalu—sebelum dia pindah ke kabupaten ini, cuitan burung menjadi hal akrab bagi Sarju. Membelah dan merentang waktu, nasib dan keadaan berubah seiring zaman, namun ingatan Sarju menjadi bola-bola yang utuh karena suara burung dan desanya. Ingatan yang sebenarnya tidak sempurna bahkan cacat dan bopeng di sana-sini. Hal yang tidak bisa ditambalnya sampai sekarang.

***

Sarju tinggal dan tumbuh bersama kakeknya di desa. Tanpa teman, kecuali keadaan alam sekitarnya saja. Sarju masih ingat betapa itu memedihkan dan memilukan. Satu anak sepantaran saja tak ada yang mau berkawan dengannya. Hanya satu kawan yang ada, yaitu kakeknya sendiri.

“Gak masalah. Ayo melu golek kayu wae,”[1] ucap kakeknya yang langsung mengambil parang ketika melihat raut wajah Sarju yang sedih. Kakeknya memang pandai mengalihkan perasaan Sarju yang sedang berduka. Bukan sekadar mencari kayu saja, kadang Sarju diajak ke sawah, atau tiga bulan sekali pergi ke kota untuk menjual hasil panen. Di pasca panen itu, Sarju benar-benar senang, segala permintaannya pasti akan dipenuhi kakeknya, kecuali satu yaitu teman.

Sarju tidak pernah belajar di bangku sekolah. Ketika bocah sepantarannya mengenyam pendidikan formal, Sarju justru lebih giat membantu kakeknya ke sawah atau main sendiri ke kuburan. Pernah suatu kali kakeknya marah, ketika Sarju membawa kemboja yang begitu banyak.

Nggo opo?!”[2]

“Dolanan,” jawab Sarju ragu.

Setelah peristiwa itu Sarju tidak berani lagi membawa kamboja, bahkan dia takut main ke kuburan. Kakeknya pasti akan marah kalau tahu dirinya main di sana. Tidak ada orang atau teman yang dimilikinya selain kakeknya sendiri.

Penah suatu kali Sarju juga bertanya kenapa dia tak memilik teman. Kakeknya hanya tersenyum. Senyum yang getir dan penuh kepahitan, tumpukan beban datang dari senyum itu. Kakek justru mengajak Sarju ke kreteg Mojo. Di sana kakek menunjuk tempuran sungai dan menyebut Geger Boyo. Sarju hanya diam, tak ada tanya miliknya.

Semua diketahui Sarju seiring usianya yang terus bertambah dan kakeknya mulai sakit-sakitan. Satu waktu, ketika malaikat maut sudah membayang dalam benak kakek, Sarju baru mengetahui yang sebenarnya. Permintaan maaf keluar dari lelaki yang tinggal lunglit itu. Maaf karena selama ini banyak yang disembunyikan kakeknya, terutama kenapa Sarju tidak punya kawan atau lebihnya warga desa mengasingkan mereka untuk tinggal di kaki bukit. Terbata kakek menceritakan itu pada Sarju.

“Aku muk melu-melu, Ju,”[3] ucap kakek. Semua terang diceritakan kakek ketika dia ikut partai palu-arit. Satu malam di musim bediding, beberapa orang bertubuh tegap, berseragam, dan berwajah garang mendobrak pintu rumah kakek yang lama. Tubuh kakek diseret paksa ke Geger Boyo.[4] Kebengisan di depan mata, tidak ada warga yang berani melihat apalagi sampai meningkah saat itu, kecemasan dan ketakuan seakan menyatu dalam benak warga. Kepercayaan berubah menjadi kecurigaan, keluarga kakek mulai dikucilkan. Saat itu hanya ada satu hal untuk keluarga kakek—menyingkir dari desa.

Bertahun kejadian itu berlalu, namun kesepian abadi dalam keluarga Sarju. Usia selalu ada batasnya, banyak cara atau juga sebab untuk mati. Sarju lahir. Hanya tinggal ibunya, ayah Sarju bunuh diri saat ibu Sarju mengandung. Dan saat belum genap usia Sarju empat tahun kakeknya pulang dari pengasingan di Nusakambangan. Kakeknya tak dibunuh di Geger Boyo, namun dibawa ke Nusakambangan setelah dari tempat itu.

Seperti Tuhan telah menggariskan nasib, kesunyian dan kesepian lekat dalam diri Sarju. Karena sakit yang entah apa, ibu Sarju meninggal. Satu keberuntungan, kakeknya sudah ada di rumah waktu itu.

Kakeknya bercerita bagaimana dia bertahan karena Sarju. Bulir halus keluar dari dua mata Sarju. Tidak berhenti sampai beberapa hari karena kakeknya meninggal. Segala menyesakan bagi Sarju yang sudah bukan lagi bocah. Tidak ada warga yang melayat, bahkan untuk tanah seukuran 2×1 meter, Sarju harus mencangkul sendiri. Terbayang wajah kakek, terngiang permintaan maaf dari kakek, semakin waktu, semakin Sarju merasakan kedegilan dan kesepian yang nyata. Bagi Sarju tidak ada cara membunuh kesepian kecuali memang pergi jauh meninggalkan desa. Begitu yang dilakukannya.

***

Bunyi klakson dari motor yang ugal-ugalan membuyarkan lamunan Sarju. Burung yang dilihatnya dari tadi hanya meloncat-loncat kecil tanpa meninggalkan ranting pohon. Lalu lintas masih ramai. Bunyi klakson kembali berulang, kali ini burung itu terbang berpindah pohon. Burung itu melintas di atas kepala Sarju lagi.

Kembali, suara klakson dari satu kendaraan melintas. Tidak lama burung itu hinggap di pohon lalu terbang lagi. Menukik dan terlalu rendah burung itu melayang di atas jalan, mobil bercat putih melintas cepat. Dada Sarju tiba-tiba sesak. Matanya tajam menatap jalan. Pagi ini, ada burung yang mati. Sarju menjadi saksi, tapi tidak ada yang bisa dituntut karena matinya burung itu, sama seperti ingatan dan kata-kata kakenya yang mengiang dalam benak Sarju hingga sekarang.

“Opo pancen kudu nyalahke kahanan?”[5] begitu yang pernah diucap kakeknya dulu.

Bagi Sarju, dulu dan saat ini masih tetap sama saja, karena dia hanya bisa menangis. (*)

______

*) Ruly R, bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Mahasiswa di STKIP PGRI Ponorogo. Novel terbarunya berjudul Kalah (Rua Aksara, 2020). Surat-menyurat: riantiarnoruly@gmail.com


[1] Tidak masalah. Ayo ikut cari kayu saja.

[2] Buat apa?

[3] Aku hanya ikut-ikut, Ju.

[4] Dua tempuran sungai di Sungai Mojo (Sungai yang terletak di antara Solo dan Sukoharjo). Saat tragedi kemanusiaan tahun 1965, tempat itu dijadikan salah satu ladang pembantaian orang yang dianggap Komunis.

[5] Apa memang harus menyalahkan keadaan?

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending