Connect with us

COLUMN & IDEAS

Gagalkah Pembangunan Indonesia Kini?

mm

Published

on

_________________________________________________________________________________________________________________________

Pertumbuhan ekonomi Indonesia, kini ternyata tercepat ketiga (5,14%) setelah India (6,79%) dan China (6,4%), peringkat keempat selisihnya jauh dari Indonesia yaitu Korea (3,16%). Lalu, rata-rata pertumbuhan ekonomi negara2 G20 hanya 3,6%.

_________________________________________________________________________________________________________________________

Di era Jokowi dengan pertumbuhan 5 %, indonesia hanya berada di posisi ke 3 di bawah laju pertumbuhan China dan India. Tapi pertumbuhan indonesia stabil, dibarengi inflasi terjaga, kesenjangan menyempit, pengangguran turun begitu juga kemiskinan yang turun sampai single digit—dan itu pertama dalam sejarah.

_________________________________________________________________________________________________________________________

Indonesia pada tahun 2017 telah memasuki kategori IPM tinggi di dunia. IPM dalam kategori tinggi (high human development) bila di level 70-80, sementara Indonesia telah mencapai 70,81 (2017). Hal itu menkonfirmasi pertumbuhan ekonomi yang merata dan berkualitas.

_________________________________________________________________________________________________________________________

Oleh: Setyo Budiantoro

(Peneliti Senior Perkumpulan Prakarsa)

Debat capres babak terakhir telah digelar. Debat ini bisa dikatakan adalah debat paling menentukan, selain karena temanya adalah “ekonomi, kesejahteraan sosial, keuangan dan investasi”—tema yang dampak konkritnya dirasakan masyarakat sehari-hari.

Tulisan ini ingin memberi gambaran seberapa capaian kemajuan atau bisa jadi kegagalan pembangunan indonesia kini? Agar debat penting tersebut tidak berlalu seiring usainya penayangan, saya ingin kontribusi melalui tulisan ini untuk menarik garis simpul dan perbandingan kondisi pembangunan indonesia terkini. Seberapa telah mencapai kemajuan atau sebaliknya, pembangunan era pemerintah hari ini gagal? Tulisan ini memberikan catatan dan penilaian terhadap pembangunan indonesia periode Jokowi dengan ukuran yang sudah saya kenakan pada periode SBY di tulisan yang dimuat harian Kompas tahun 2014 lalu. (Silakan baca artikelnya dalam “Pertumbuhan Tanpa Pembangunan”.

Inti tulisan saya pada 2014 lalu adalah: selama periode pemerintahan SBY kedua, pertumbuhan ekonomi memang terjadi namun bukanlah pembangunan (Pertumbuhan Tanpa Pembangunan). Ukurannya sederhana dari ekonom pembangunan Oxford (Dudley Seers), tolok ukur pembangunan ada tiga, yaitu apa yang terjadi dengan kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan. Jika salah satu memburuk, sangatlah aneh disebut pembangunan meski terjadi pertumbuhan. Sayangnya, rapor pemerintahan SBY terutama soal kesenjangan sangat buruk dan menciptakan rekor kesenjangan paling tinggi sepanjang sejarah Indonesia dengan rasio Gini mencapai 0,413. Inilah konteks dari narasi “pertumbuhan tanpa pembangunan”.

Kini, kita memeriksa periode pemerintahan Jokowi, apa yang terjadi? Pertumbuhan ekonomi era Jokowi, ada pada kisaran diatas 5%. Pertumbuhan ini terlihat tidak sesuai dengan ekspektasi 7%, namun di tengah kondisi ekonomi global yang melambat pertumbuhan ini cukup baik. Bahkan bukan main-main, pertumbuhan ekonomi Indonesia berkontribusi terbesar kelima mensuport pertumbuhan ekonomi dunia setelah China, Amerika, India dan Zona Euro selama tahun 2017-2019? Pertumbuhan ekonomi dunia hanya 2,8%, dibantu didorong Indonesia yang lebih dari 5% (dengan pembobotan besar ekonomi).

Bahkan sebenarnya, kontribusi pertumbuhan ekonomi Indonesia kemungkinan terbesar keempat bagi dunia, ini “agak curang” menjadi kelima karena banyak negara Eropa digabung menjadi satu dikategorikan Zona Euro. Silahkan baca: “These countries are leading the way on growth”.

Selain itu, kini Indonesia juga segera menjadi negara dengan pendapatan menengah-tinggi (upper middle income country). Banyak yang skeptis dengan capaian pertumbuhan pemerintah Jokowi yang hanya 5%. Benarkah pertumbuhan 5% era Jokowi buruk dan berarti pembangunan yang ia jalankan gagal?

Pertama kita harus membentangkan cakrawala pemikiran kita lebih luas lagi, kita periksa pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan negara-negara yang besarnya kira-kira hampir sama dengan Indonesia yaitu G20.  Negara G20 adalah 20 negara terbesar dunia dan Indonesia kini peringkat terbesar 16 dunia. Pertumbuhan ekonomi Indonesia, ternyata tercepat ketiga (5,14%) setelah India (6,79%) dan China (6,4%), peringkat keempat selisihnya jauh dari Indonesia yaitu Korea (3,16%). Lalu, rata-rata pertumbuhan ekonomi negara2 G20 hanya 3,6% (data bisa di baca dalam artikel: Growth of the real gross domestic product (GDP) in selected world regions from 2016 to 2020 (compared to the previous year). 

Kalau di atas rata-rata dan bahkan peringkat 3 dari 20, bukankah ini sudah baik? Atau, apakah kita tetap akan mengatakan “gagal?”

Baiklah, Indonesia saat ini hanya juara 3, masih disalip India dan China. Tapi bagaimana dengan “kualitas” pertumbuhannya? Apakah lebih baik atau jeblok ketimbang misalnya China dan India? Mari kita lihat dengan utuh konteks dan persoalan kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan baik di Indonesia, China mau pun India agar mendapat pemahaman utuh.

Memeriksa Kemiskinan

Kemiskinan di Indonesia telah “memecahkan telur” menjadi single digit. Kemiskinan indonesia kini berada di 9,66%, pertama kalinya dalam sejarah tingkat kemiskinan indonesia bisa di bawah 10%. Pertanyaan kritisnya, bila melihat laju pengurangan kemiskinan tapi kok tidak secepat sebelumnya. Ini bisa dijawab dengan mudah, penurunan kemiskinan ketika kemiskinan jumlahnya makin sedikit akan makin sulit pengurangannya terutama bila sudah di level kemiskinan kronis (fakir). Namun ketimbang berdebat soal persepsi itu, mari kita mengechek kemiskinan dengan horison yang lebih luas.

Perkumpulan Prakarsa, sebuah lembaga Think Tank di Jakarta telah melakukan riset yang ekstensif tentang kemiskinan multidimensi di Indonesia berdasarkan metode yang dikembangkan di Universitas Oxford (OPHI) dan menjadi rujukan dunia. Ukuran kemiskinan yang selama ini kita kenal adalah kemiskinan berdasarkan ukuran ekonomi, yaitu satu dimensi ukuran pendapatan (atau pengeluaran).

Kemiskinan multidimensi lebih luas melihat kesejahteraan (atau kapabilitas) manusia, yaitu dilihat dari kesehatan, pendidikan dan standar hidup, bukan sekedar ekonomi (bila ingin mempelajari lebih lanjut, simak artikel “Mengakhiri Kemiskinan Berkelanjutan”

Perkumpulan Prakarsa meluncurkan penghitungan kemiskinan multidimensi di Indonesia periode 2012-2014 dan menjadi headline di Kompas selama 4 hari berturut-turut di Januari 2016, serta menjadi tajuk rencana di Kompas cetak dan editorial Kompas TV.

Perkumpulan Prakarsa baru-baru ini, 2019 juga baru saja membuat penghitungan kembali kemiskinan multidimensi 2015-2018, ternyata angka kemiskinan multidimensi juga berkurang cukup drastis selama 4 tahun, dari 13,5% (34,5 juta orang) menjadi 8,2% (21,6 juta orang). Artinya, kemiskinan multidimensi turun 5,3% atau jumlah orang yang miskin secara multidimensi berkurang hampir 13 juta orang selama 4 tahun. Ini suatu angka yang sangat besar (klik artikel “Penduduk Miskin Indonesia Terus Turun Dalam Empat Tahun Terakhir.”

Bahkan jumlah penduduk miskin mutidimensi (8,2%), kini di bawah jumlah kemiskinan moneter (9,66%), agaknya program pemerintah dengan Program Keluarga Harapan (PKH), Kartu Indonesia Sehat, Pintar dan Sejahtera (KIS, BPJS, KIP), sangat berdampak membantu kesejahteraan masyarakat. Silahkan klik, soal hasil kemiskinan multidimensi terakhir.  

Hasil riset dari Prakarsa tentang Indeks Kemiskinan Multidimensi ternyata bisa terkonfirmasi pula dari angka kemajuan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), karena keduanya cenderung searah. Indonesia pada tahun 2017 telah memasuki kategori IPM tinggi di dunia. IPM dalam kategori tinggi (high human development) bila di level 70-80, sementara Indonesia telah mencapai 70,81 (2017).

Memeriksa Kesenjangan

Ketika belum banyak pihak seperti sekarang menyuarakan kesenjangan dengan ukuran paradoks kekayaan, Perkumpulan Prakarsa telah menghitung itu sejak tahun 2011. (Baca Artikel “Kemiskinan Melonjak Ketimpangan Melebar”), selanjutnya pada 2012 dalam laporan penelitian bertajuk “Paradoks Kekayaan Berlipat” Namun supaya tidak berdebat secara metodologi, mari kita melihat kesenjangan dari ukuran BPS yaitu mengukur dengan rasio Gini dan komparabel dengan negara-negara lain.

Seperti yang saya sampaikan sebelumnya, kesenjangan ekonomi Indonesia paling tinggi dialami tahun 2013 dengan rasio Gini 0,413 (makin tinggi makin senjang). Tahun 2018, rasio Gini Indonesia mencapai 0,384. Ini berarti, kesenjangan ekonomi Indonesia berkurang. Catatan lain tentang kesenjangan wilayah, kini Indonesia bagian timur (pulau Sulawesi) pertumbuhan ekonominya paling cepat, mengurangi kesenjangan ekonomi Indonesia bagian barat dan timur.

Penurunan kesenjangan ekonomi di Indonesia ini termasuk anomali, karena dunia makin khawatir dengan kesenjangan yang terus meningkat (wacana Word Economic Forum, IMF, Bank Dunia, dll). Disamping itu, penurunan rasio Gini di Indonesia juga termasuk cepat bila dibandingkan negara lain. Bahkan bila kita bandingkan dengan China, di negara ini kesenjangannya justru meningkat mengkhawatirkan (lihat “Income Inequality Matters: How to Ensure Economic Growth Benefits the Many and Not the Few”)

Bila kita mau melihat horison yang lebih luas soal komitmen mengurangi kesenjangan dalam arti yang luas, mari melihat Indeks Global Komitmen Mengurangi Kesenjangan dari OXFAM. Indeks tersebut mengukur seberapa besar sebuah negara di dunia berkomitmen mengurangi kesenjangan antara yang kaya dan miskin. Dari lebih dari 150 negara, peringkat Indonesia naik dari 101 (2017) menjadi 90 (2018) dalam hal komitmen pemerintah mengurangi kesenjangan, melompat terhadap 11 negara. Lalu, India (dan Nigeria) dinilai paling kurang berkomitmen mengurangi kesenjangan (lihat laporannya dalam “THE COMMITMENT TO REDUCING INEQUALITY INDEX 2018”. 

Memeriksa Pengangguran Indonesia

Pengangguran di Indonesia turun terus hingga kini mencapai 5,34%, makin mendekati angka psikologis 5%. Penurunan pengangguran yang tinggi adalah pada perempuan, turun dari 6,37% (2015) menjadi 5,26% (2018). China juga cukup berhasil menurunkan pengangguran seperti Indonesia, namun tidak demikian dengan India. Dimulai dari tahun 2014, pengangguran India terus meningkat setiap tahun. Lihat data dalam artikel India Unemployment Rate.

Kini kita masuk kesimpulan. Apakah Indonesia dengan tumbuh 5% (peringkat 3), namun di bawah India dan China lebih buruk? Ini sangat relatif. Indonesia ternyata berhasil juga menurunkan kemiskinan, pengangguran dan kesenjangan. China memang tumbuh lebih tinggi, namun kena kartu merah peningkatan kesenjangan. India juga tumbuh lebih tinggi, namun kena kartu merah peningkatan pengangguran dan komitmen mengurangi kesenjangan.

Bila konsisten dengan ukuran sederhana dari ekonom pembangunan Oxford (Dudley Seers), tolak ukur pembangunan ada tiga, yaitu pengurangan kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan. Agaknya Indonesia juara, meski tidak tumbuh secepat India dan China.

Sekarang anda yang menalar, apakah pembangunan pemerintahan hari ini bersanding dengan capaian dalam takaran pengurangan kemiskinan, pengangguran dan ketimpangan, layak dikatakan gagal total? Atau sebaliknya. Meski itu pun sering tidak berpengaruh pada kesadaran politik secara menyeluruh.

Selamat merayakan demokrasi dan capain pembangunan yang kita bisa nikmati lebih adil dan merata hari ini. (*)

*) Setyo Budiantoro: Peneliti Senior Perkumpulan Prakarsa

Continue Reading
Advertisement

COLUMN & IDEAS

Manusia, Sastra, Bunga

mm

Published

on



Bandung Mawardi, Esais. Penulis Dahulu: Mereka dan Puisi (2020)

Aku tak mencintaimu sebab kau mawar, cempaka,

atau semak anyelir yang luput dilalap kelopak api.

Aku mencintaimu sebagai cinta yang tersembunyi,

dalam rahasia, berdiam di antara kelam dan cahaya.

(Pablo Neruda, 100 Soneta Cinta, 2019)

Anggrek itu molek. Thailand, Indonesia, Singapura, dan pelbagai negara bersaing pamer anggrek-anggrek molek. Sekian negara mengadakan festival anggrek, mengundang orang-orang memandang takjub anggrek-anggrek. Di majalah Pertiwi, 4-17 Mei 1987, Indonesia kalah oleh kegetolan Thailand dalam mengembangkan anggrek dan membuat acara-acara mendatangkan kaum gandrung bunga atau turis. Ikhtiar tampil di tatapan dunia diusahakan oleh PAI (Pecinta Anggrek Indonesia). Pada masa Orde Baru, usaha mengurusi dan memamerkan anggrek mendapat restu Ibu Tien Soeharto. Negara turut memberi kebijakan dan penghargaan demi kemonceran aggrek.

Anggrek telah terdengar di lagu. Dulu, orang-orang mendengar sambil berimajinasi melihat anggrek. Pemandang menganggap anggrek itu molek menggenapi hasrat asmara. Anggrek memikat bagi pemberi makna hidup berbunga. Pada masa lalu, kita lumrah melihat di depan rumah-rumah, ada pameran anggrek sekian warna. Pemandangan memberi bahagia, ketakjuban, dan keharmonisan. Indonesia “berbunga” setiap hari tapi tak melulu anggrek. Orang-orang hidup bersama dan memberi arti sekian bunga: melati, mawar, teratai, kantil, dan lain-lain.

Bunga pun milik pengarang. Pada masa 1970-an, Mochtar Lubis mencantumkan bunga untuk lakon sastra bakal bertumbuh di Indonesia. Di Horison edisi Desember 1977, ia menulis: “Sastra hendaknya adalah untuk hidup, tidak saja bagi manusia, akan tetapi juga untuk bunga teratai, untuk pohon yang tua, burung, rama-rama dan capung, batu di sungai, sungai dan anak sungai, danau dan lautan, dan gunung-gunung.” Kita membaca itu renungan akhir tahun saat tatanan Orde Baru ingin segera mapan. Sastra ada di alur beragam untuk mengumumkan keindahan, kemanusiaan, religiositas, kekuasaan, etika, dan lain-lain. Mochtar Lubis sempat memberi arahan sastra ke bunga. Ia tak sedang bernostalgia dengan sastra-sastra lama di Nusantara sering memberi deskripsi dan narasi berlebihan mengenai bunga-bunga. Di sastra Jawa, bunga itu lekas memikat dan mengikat pembaca sejak halaman-halaman awal. Bunga itu seperti tampak mata, terasa harum, dan memancarkan pesan-pesan: asmara, politik, kematian, dan lain-lain.

Mochtar Lubis saat menulis esai mungkin sedang “cuti” dari keributan politik atau kecerewetan slogan-slogan buatan pemerintah. Ia seperti di suasana tenteram saat menulis esai tak dianggap “terbaik” oleh para penggemar tulisan-tulisan Mochtar Lubis: cerita pendek, novel, dan esai. “Setiap kata dalam sastra adalah sebuah benih yang ditanam dalam kebun zaman-fikiran yang digambarkan oleh kata-kata ini mungkin hilang, akan tetapi juga dapat timbul kembali, sama segarnya seperti ketika mula-mula disusun oleh pengarangnya – mungkin akan dapat merebut imajinasi generasi-generasi – dan generasi demi generasi ini mungkin pula akan dapat merobah masyarakat demi masyarakat, dan dengan demikian merobah arus sejarah,” tulis Mochtar Lubis. Kita membaca sambil mengarahkan pandangan ke kebun, halaman, atau kalender bergambar bunga-bunga. Sastra ingin bermekaran. Sastra itu “berbunga” sepanjang masa.

Kita beralih ke pengalaman dan ingatan atas anggrek pada masa berbeda. Goenawan Mohamad mengingat diri masa 1960-an. Ia masih muda, tergoda berpikiran tema-tema besar. Politik itu wajib. Ia agak mengabaikan tetek bengek atau hal-hal kecil turut membentuk manusia dan zaman. Politik sering membingungkan dan memuat khianat-khianat. Goenawan Mohamad lekas insaf, menepi memberi diri ke hal-hal telanjur lama dilupakan. Di Tempo, 25 April 2004, ia mengenang: “Sejak itu saya pun berusaha memasuki sebuah dunia bahasa yang lain – bahasa yang tak sarat dengan ide-ide tang merasa kekal dan kata benda abstrak. Saya membaca kembali puisi tentang cuaca, ranting, rama-rama, dan hal-hal fana lain yang anehnya membuat hidup berarti dan kita bersyukur.” Pada masa 1960-an, ia sudah menggubah puisi-puisi tapi mendapat kemonceran dengan esai-esai sering dimuat di majalah Sastra asuhan HB Jassin.

Ketekunan membaca buku-buku garapan para filsuf dan pengarang dunia memberi tanda seru dan keinsafan. Goenawan Mohamad mulai mengerti keputusan Richard Rorty memilih anggrek hutan. Filsosof itu ingin melihat manusia dan dunia melalui anggrek. Di penggalan hidup, sang filosof diminta memilih: amggrek hutan atau gagasan revolusi. “Tapi ia juga mencintai kembang anggrek liar yang tumbuh di pegunungan,” ingatan Goenawan Mohamad atas biografi Richard Rorty. Anggrek mengalahkan kerumunan ide-ide besar bagi dunia. Anggrek itu bergelimang makna ketimbang pembesaran ideologi melahirkan kalimat-kalimat sloganistik atau khotbah penguasa menggunakan seribu tanda seru.

Kita di keisengan membaca penggalan-penggalan esai buatan dua orang ampuh dalam kesusastraan dan pers di Indonesia: Mochtar Lubis dan Goenawan Mohamad. Kita menandai sastra dan bunga saat pemandangan di rumah, jalan, kebun, dan sekolah terlalu berubah. Bunga-bunga sering absen. Di kalangan bocah ingin bermain, bersenandung, dan berimajinasi di TK, bunga-bunga sering gambar di tembok. Di sekolah atau kantor, kita telanjur memiliki ingatan bunga-bunga kertas dan plastik di atas meja. Di jalan, bunga adalah impian terlalu sulit diwujudukan oleh pemerintah. Di sekian kota, dana ratusan juta atau miliaran rupiah mulai digunakan membuat taman-taman bunga. Dalih birokrasi agar kita mewangi. Kita maklum dan mengerti berlangsung pemborosan, bukan pengisahan bunga-bunga. Di tatapan mata manusia abad XXI, bunga-bunga itu latar untuk berpotret. Peremehan tak terampukan. Begitu.

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Di Rumah…

mm

Published

on

Bandung Mawardi—Kuncen Bilik Literasi. Penulis buku Dahulu: Mereka dan Puisi (2020)

Pada suatu masa, pembaca buku menempuhi perjalanan jauh. Ia membekali diri dengan ratusan novel selesai terbaca dan tercatat dalam album kutipan. “Kukira yang kuinginkan adalah sebuah dunia yang penuh dengan keributan dan kegeraman seperti dunia Faulkner, suatu dunia yang bagaikan buaian janji sekaligus merupakan misteri yang gelap seperti dunianya Frost, dunia yang dihuni makhluk-makhluk aneh dan pahlwan-pahlawan seperti dalam dunianya Steinbeck,” tulis Michael Pearson menguatkan niat melakukan perlawatan ke pelbagai kota dan desa, tempat para pengarang hidup dan mengisahkan dalam novel-novel ampuh di Amerika Serikat.

Ia pun bergerak dan bergerak memenuhi janji ingin mengetahui rumah, kebun, sungai, jalan, hutan, pertokoan, dan segala hal berkaitan biografi pengarang dan tercantumkan di novel-novel. Perjalanan menggairahkan dan membikin capek menghasilkan buku berjudul Tempat-Tempat Imajiner: Perlawatan ke Dunia Sastra Amerika (1994). Micchel Pearson menjadikan buku-buku adalah peta menuju ke tempat-tempat menghidupi dan diceritakan Frost, Faulkner, O’Connor, Hemingway, Steinbeck, dan Twain. Mereka dinggap “menciptakan tempat yang dalam dan abadi dalam kesusastraan Amerika.” Sekian tempat itu menguak biografi pengarang tapi mengajari pula ke pembaca untuk mengerti kemungkinan menjawab memusat ke “siapa”.

Janji keramat itu terbuktikan: “Dalam buku dan legenda, semua dunia ini menjadi nyata bagiku. Namun, aku juga ingin tahu, seandainya aku melangkah melebihi lingkaran gaib imajinasi, apakah dunia tadi akan lenyap seperti khayalan belaka dalam benakku.” Ia terlalu lama tinggat di apartemen di New York. Di gedung tinggi dan “sesak”, Michael Pearson merasa menjalani hidup di dunia sempit. Ia memilih buku: meluas dan meninggi. Buku terpilih gara-gara selama di apartemen ia cuma sanggup menatap sedikit langit. Bangunan-bangunan menjadi penghalang. Buku teranggap “menunjukkan mentari.” Bergeraklah Michael Perason menuju tempat-tempat berkaitan para pengarang ampuh, meninggalkan New York dan mengembara lama.

Pada suatu hari, ia selesai dengan segala perlawatan. Ia harus pulang. Deksripsi mengharukan: “Dalam keremangan senja, bulan separuh mengintip dari balik langit yang penuh dengan mega-mega berwarna kelabu, kami berkendaraan menyusur jembatan penghubung Teluk Chespeake dan pulang.” Ia tak mungkin selalu bergerak dengan mobil memenuhi setumpuk hasrat mengenali buku dan pengarang di seantero Amerika Serikat. Ia membutuhkan “selesai” dan pulang. “Seperti halnya banyak orang Amerika yang hidup berpindah-pindah, bagiku rumah adalah lebih dari segalanya,” tulis Michael Pearson meredakan letih dan memastikan segala perlawatan tak sia-sia.

Michael Pearson menjalani perlawatan di masa lalu, bukan pada masa wabah sedang melanda Amerika Serikat dan pelbagai negara. Trump dan para pemimpin di dunia menganjurkan warga tinggal di rumah, melakukan pekerjaan, belajar, dan beribadah di rumah. Mereka dianjurkan tak bepergian dari rumah atau membuat kerumunan. Penghindaran wabah dengan mengurangi perjumpaan di sekian tempat. Rumah dianggap tempat “perlindungan” dan “keselamatan” ketimbang orang-orang harus menanggungkan sakit, derita, dan kematian. Perintah di rumah semula “kemustahilan” tapi wajib berlaku demi kebijakan-kebijakan mengurangi dan menghentikan wabah.

Michael Pearson melawat tak di masa wabah. Ia masih mungkin mengartikan rumah-rumah para pengarang memiliki cerita-cerita menandai babak-babak perubahan di Amerika Serikat. Kini, orang-orang dianjurkan berada di rumah setelah pengertian-pengertian rumah telah terlalu berubah, tak mampu lagi diceritakan utuh di novel atau mendapat penjelasan seratusan halaman dalam dokumen resmi pemerintah. Rumah telah “imajinatif” tapi termaknai dengan gugup dan meragu gara-gara wabah.  

Kita menengok rumah dan nasib manusia di Amerika Serikat masa lalu melalui novel berjudul Tortilla Flat atau Dataran Tortilla gubahan John Steinbeck. Novel penuh lelucon dan kritik besar memahami rumah. Kita simak dilema tokoh utama: “Ketika Danny pulang dari dinas ketentaraan, dia mendengar bahwa dia menjadi ahli waris dan pemilik sepetak tanah beserta bangunan di atasnya. Kakeknya telah meninggal. Dua buah rumah kecilnya yang terletak di Dataran Tortilla diwariskan kepada Danny.” Keberuntungan dan nasib lekas menjadi cerah? Episode itu kesalahan. “Berita ini membuat hati Danny terasa sedikit berat, mengingat kewajibannya sebagai seorang pemilik rumah,” tulis John Steinbeck.

Si tokoh selama puluhan tahun menghindari “memiliki” atau “mengalami” hidup di rumah dalam kewajaran. Ia memilih di luar rumah: bekerja, bertualang, mabuk, dan tidur. Rumah belum keinginan. Predikat pemilik rumah justru petaka. Tinggal dan menguru rumah adalah “akhir bahagia”. Satire itu diceritakan pada masa 1930-an. Cerita itu mungkin disangkal saat orang-orang di Amerika Serikat mengalami hari-hari wabah menakutkan, setelah menggemparkan Tiongkok, Korea Selatan, dan Italia.

Di pelbagai negara, rumah-rumah mendapat perintah bertambah makna. Pengertian pokok tetap termiliki tapi segala kebijakan pemerintah dan pikat teknologi mutakhir mengimbuhi pengertian rumah. Kerasan, bosan, malas, rajin, capek, girang, damai, kisruh, dan semua rasa di rumah ditanggulangi dengan “pemaksaan” raga tetap berada di rumah tapi pengabaran ke dunia terus belangsung melalui gawai. Jutaan orang serentak atau bergantian mengabarkan rumah untuk ditonton orang lain. Rumah-rumah terdokumentasi dan disebarkan ke segala penjuru di dunia, detik demi detik. Ikhtiar merasa di rumah tapi “meloloskan” sesuatu dari rumah.

Kita berpindah dulu, mengunjungi rumah di Korea Selatan. Perlawatan sebelum negara itu dilanda wabah. Kita masuk ke halaman-halaman cerita gubahan Kyung-Sook Shin dalam novel berjudul Please Look After Mom. Novel bercerita keluarga, rumah, buku, dan kehilangan ibu. Rumah menjadi pusat pengisahan: awal dan akhir. Keluarga miskin di desa. Keluarga bakal “berpencaran” ke pelbagai kota dan menjadikan rumah asal merana. Semua gara-gara ibu hilang di stasiun saat ingin mengunjungi rumah si anak di Seoul. Anak-anak tak lagi hidup di rumah asal. Mereka sudah bekerja dan berkeluarga, memilih tinggal di kota. Kunjungan menjadi duka, setelah ibu terpisah dari bapak dalam misi menjenguk putra di kota. Ibu tak sampai di rumah-kota, tak kembali ke rumah-desa. Novel tetap menceritakan kembali ke rumah di desa meski ibu sebagai arwah.

Kita membaca monolog arwah ibu mengingat rumah dan keluarga. Ingatan mengharukan: “Kita sudah empat puluh tahun tinggal di rumah yang sekarang sudah tak ada lagi di situ. Aku selalu di rumah itu. Selalu. Kau antara ada dan tidak ada. Aku tidak mendengar kabarmu, seolah-olah kau tidak akan pernah kembali, tapi lalu tahu-tahu kau pulang. Mungkin itu sebabnya. Bisa kulihat rumah tua itu di hadapanku, bercahaya seperti diterangi. Aku ingat semuanya. Semua yang terjadi di rumah itu. Peristiwa-peristiwa pada tahun-tahun ketika anak-anak dilahirkan, betapa aku menunggu-nunggumu, dan melupakannmu, dan membencimu, dan menunggumu lagi. Sekarang hanya rumah ini yang tertinggal sendirian. Tak ada siapa-siapa di sini, hanya bentangan salju putih yang menjaga pekarangan.” Rumah itu sudah berlalu, tak hadir saat wabah menjadi dalih orang-orang di Korea Selatan mendingan di rumah.

Di mata pemerintah, rumah bukan lagi nostalgia duka keluarga. Rumah tetaplah tempat. Rumah dimengerti tempat paling mungkin bagi orang-orang melakukan beragam peristiwa, berjanji tak keluar rumah. Rumah-rumah itu jawaban di penanganan wabah. Pengarang mengisahkan rumah memiliki sodoran-sodoran makna, digantikan oleh gagasan “absolut” bahwa rumah tak lagi cerita tapi tempat perlindungan dan keselamatan. Asmara, pengabdian, khianat, atau album cerita manusia belum terlalu dipentingkan dalam menghentikan wabah. Kita sempat membaca rumah dalam novel sambil menantikan berita-berita bahwa rumah memang “jawaban” meski mengalami “pemiskinan” cerita.

Di Amerika Serikat dan Korea Selatan, cerita rumah tersaji dalam novel-novel. Kita terpikat dan membaca saksama ingin mengetahui album cerita. Kini, rumah-rumah dalam novel digantikan rumah-rumah dalam pemberitaan wabah. Dua novel itu nostalgia. Kini, kita bepindah ke jalan menuju rumah di Tiongkok. Rumah dalam pengisahan Mo Yan. Rumah menjadi tempat (paling) biografis. Di rumah, orang memiliki dan membentuk identitas. Kepatuhan di rumah memberi jenuh dan kesanggupan bersikap. Heroisme pun terpancar dari rumah dalam situasi perang atau wabah. Mo Yan menulis rumah dalan latar perang masa 1930-an, mengingatkan ketabahan dan kemunculan heroisme.

Novel berjudul Sorghum Merah mengisahkan orang-orang tangguh di deretan derita panjang tapi diusahakan menghilang dan rampung dalam sekian generasi. Di situ, kita membaca tokoh disebut Nenek dan pengalaman berumah, sebelum ia menjadi pemberani dan pengubah. Mo Yan menulis: “Selama enam belas tahun pertamanya, hari-hari Nenek diabdikan untuk menyulam, menjahit, memotong kertas, mengikat kaki, menyisir rambut tanpa henti, dan kegiatan rumahan lainnya ditemani anak-anak tetangga. Jika demikian, apakah sumber kemampuan dan keberaniannya dalam menghadapi berbagai peristiwa yang ditemuinya pada masa dewasanya?” Rumah membentuk keberanian meski tak memiliki ukuran tetap atau tanda-tanda tampak mata. Perempuan dalam novel itu menempatkan diri di rumah bukan untuk menjadi makhluk terbosan dengan segala perulangan selama belasan tahun. Ia justru mengerti rumah adalah “sumber” meladeni segala situasi di luar rumah, termasuk perang.

Pada 2020, Tiongkok tak sedang dalam situasi perang tapi wabah. Keberanian untuk berada di rumah dikehendaki demi menanggulangi wabah, memastikan orang-orang terhindar dari sakit dan kematian. Tiongkok menjadi berita dan cerita bagi jutaan orang di pelbagai negara saat wabah beredar: menakutkan dan mematikan. Kita turut “menonton” Tiongkok membuat kota-kota “mati” dan rumah-rumah adalah tempat keselamatan. Pada saat kita menonton dan belum usai memberi konklusi, wabah itu telah mendatangi puluhan negara. Di Indonesia, kita pun menerima perintah di rumah, sebelum memiliki daftar peristiwa mencipta bahagia atau bekal menelusuri (lagi) makna rumah dalam novel-novel. Rumah memang tak cuma dalam novel tapi kita merindukan rumah itu bergelimang cerita, melampaui bisnis properti dan kebijakan pemerintah. Begitu. (*)

Continue Reading

COLUMN & IDEAS

Paradoks Masa Darurat

mm

Published

on


Damhuri Muhammad adalah kolumnis, esais. Juga seorang sastrawan dan penulis Indonesia. Pria yang menyelesaikan studi Bahasa dan Sastra Arab di Fakultas Adab IAIN Imam Bonjol, Padang pada tahun 1997 dan Pasca Sarjana Filsafat Universitas Gajah Mada (UGM).

Guna memperketat pengawasan di masa darurat Corona, pemerintah Indonesia akhirnya menggunakan teknologi pelacakan berbasis aplikasi digital. Sebagaimana dilaporkan  www.tirto.id  (26 Maret 2020), aplikasi bernama Tracetogether itu dapat mengetahui riwayat orang-orang yang berada di dekat pasien positif Covid-19 selama 14 hari ke belakang, dan terhubung ke operator seluler lainnya. Kerja pelacakan yang meliputi pengumpulan data, pengolahan, analisis, dan diseminasi itu, dipayungi dengan Keputusan Menteri Kominfo Nomor 159 Tahun 2020, yang berlaku selama keadaan darurat saja.

Sekilas tak ada yang perlu dicemaskan dari kebijakan itu, mengingat beberapa negara juga telah melakukannya, dengan tujuan yang tak lain adalah memutus mata rantai penularan virus Corona. Sebagaimana disinyalir oleh Yuval Noah Harari dalam artikelnya, The World after Coronavirus (www.ft.com, 20 Maret 2020), penggunaan alat pengawasan baru  yang cukup menonjol tampak pada Cina. Dengan memonitor telpon pintar, memanfaatkan ratusan juta kamera yang dapat mengenali wajah, dan mewajibkan setiap orang untuk memeriksa dan melaporkan suhu tubuh dan situasi medis mereka, pihak berwenang di Cina tak hanya dengan cepat mengidentifikasi terduga pembawa virus, tapi juga dapat melacak pergerakan mereka, dan memastikan siapa saja yang berhubungan dengan mereka.

Namun, catatan sejarawan qum futurolog itu tak berhenti sampai di situ. Poin penting yang hendak ditegaskan Yuval tampaknya bukan pada situasi genting ketika semua negara hampir di seluruh dunia membuat keputusan penting tentang pengawasan, melainkan pada lanskap dunia baru yang akan tercipta setelah wabah virus berbahaya ini berlalu, katakanlah semacam Dunia Pasca Corona. Yuval menyebut, dalam situasi yang sama, Perdana Menteri Israel, juga memberi wewenang pada otoritas terkait untuk menggunakan teknologi pengawasan yang biasanya diperuntukkan dalam perang menghadapi terorisme.  Saat sub-komite yang relevan menolak keputusan itu, Netanyahu lekas berdalih dengan “Keputusan Darurat”.

Mengawasi atau melacak orang dengan perkakas algoritma komputer, akan menciptakan situasi yang sama sekali berbeda dari pengawasan di zaman ketika KGB melacak warga dengan mata-mata. 50 tahun yang lalu, KGB tidak dapat mengawasi aktivitas 240 juta warga Soviet selama 24 jam, karena masih menggunakan agen manusia dan para analis. Tapi dengan mesin-mesin cerdas di  zaman digital ini, pemerintah dapat mengandalkan sensor dan algoritma yang tangguh, hingga tak ada satu pun warga yang luput dari pengawasan. Menurut Yuval, teknologi pengawasan negara atas rakyatnya, kini sedang mengalami transformasi tajam, dari wilayah luar kulit  ke  dalam kulit.  “Jika Anda tahu bahwa saya mengklik tautan Fox News dan bukan CNN, itu dapat mengajari Anda sesuatu tentang pandangan politik saya dan mungkin kepribadian saya,” kata Yuval.  “Tapi jika Anda dapat memantau apa yang terjadi pada suhu tubuh saya, tekanan darah dan detak jantung saat saya menonton klip video, Anda dapat mempelajari apa yang membuat saya tertawa, apa yang membuat saya menangis, dan apa yang membuat saya benar-benar marah.”

Ketika jari Anda menyentuh layar gawai dan mengklik sebuah tautan, pemerintah tidak lagi ingin tahu apa yang sebenarnya disentuh oleh jari itu, karena fokus minatnya telah bergeser. Kini pemerintah ingin tahu suhu jari Anda dan tekanan darah dalam kulit Anda. Algoritma yang bekerja dalam teknologi pengawasan masa kini dapat memanen data biometrik manusia secara massal. Ia dapat mengenal Anda, jauh lebih baik dari pengetahuan Anda atas diri Anda sendiri. Oleh karena itu, ia tidak hanya dapat memprediksi perasaan kita, tapi juga memanipulasi perasaan itu untuk banyak kepentingan, baik politik maupun ekonomi. Yuval mencontohkan perkakas canggih semacam “Gelang Biometrik”  yang dapat memonitor suhu tubuh dan detak jantung 24 jam sehari. Data yang dihasilkan ditimbun dan dianalisis oleh algoritma pemerintah. Algoritma itu dapat mengetahui bahwa Anda sakit bahkan sebelum Anda menyadarinya. Ia juga akan tahu di mana Anda berada, dan siapa yang Anda temui. Dengan begitu, mata rantai infeksi dapat diperpendek secara drastis, bahkan dipenggal sama sekali.

Anda mau selamat dari pandemi Corona atau akan bertarung mempertahankan privasi? Menurut Yuval, banyak orang tentu akan memilih kesehatan. Saban hari kita berupaya keras melindungi dan mempertahankan privasi di belantara big data, tapi di musim wabah Corona, kita harus rela ditelanjangi atas nama  kegentingan. Di sinilah pangkal kecemasan Yuval. Badai Corona pasti berlalu, tapi data tangkapan teknologi pengawasan di masa darurat itu, tak bakal dibuang percuma sebagai limbah digital.  Sebagaimana banyak peristiwa darurat di masa sebelumnya, data tentang kita tetap dalam genggaman pemerintah, dengan dalih kedaruratan selanjutnya. Menurut Yuval, di situlah bermulanya kelembagaan pengawasan totaliter, sebagai “hantu” yang lebih menakutkan setelah badai pandemik ini berlalu.

Dalam beberapa hal, saya setuju dengan cara berpikir Yuval. Tapi yang cukup mencengangkan, ketakutan baru pasca pandemi Corona yang secara sadar ia singkapkan, rupanya telah menghilangkan simpatinya pada bencana kemanusiaan yang kini melanda dunia, di mana Yuval juga menanggung akibatnya. Perspektif konspiratif  yang digunakan Yuval, terlalu berlebihan. Algoritma memang berkuasa dan digdaya di zaman ini, tapi Yuval lupa bahwa para penggunanya juga  manusia. Sebengis-bengisnya manusia, pasti punya empati dan belas kasihan. Tatkala  warga dunia  bahu-membahu, saling membantu, dalam menangkal wabah mematikan, Yuval malah memproduksi ketakutan baru yang sejatinya tak perlu. Jangan lupa, kekuatan civil society juga punya Algoritma yang bisa mengawasi negara. Bahkan sejauh ini, aparatur negara tak bisa melarikan dari incaran mata-mata algoritmik yang dikendalikan oleh netizen.

Yuval memang merekomendasikan pemberdayaan warga ketimbang teknologi pengawasan negara, tapi bagaimana ia dapat menjelaskan pemberdayaan warga dalam basis kultural yang individualistik ala Eropa dan AS? Alih-alih menggalang pemberdayaan warga guna mengakhiri pandemi Corona, sejumlah pakar di Eropa hari-hari ini malah gencar membicarakan strategi Herd Immunity  (Kekebalan Kawanan), yang dalam bahasa sederhana dapat dipahami sebagai upaya mengejar keterjangkitan hingga 60-70% populasi di setiap negara, lalu akan tercipta kekebalan kawanan yang dapat menghentikan penularan Covid-19. Bila Case Fatality Rate (CFR) di sebuah negara sebesar 2%  saja pada jumlah populasi 250 juta misalnya, maka mayat yang akan bergelimpangan bukan lagi korban-korban positif  Covid-19, tapi bukti kekejaman sebuah genosida. Dengan begitu, paradoks pengawasan totaliter versus privasi warga yang diandaikan Yuval tidak lagi berguna, karena yang lebih terang adalah paradoks antara solidaritas kewargaan dengan Herd Immunity sebagai rencana jahat yang bertujuan guna menipiskan jumlah populasi umat manusia di dunia.       

Di komunitas kewargaan berbasis komunal seperti Indonesia, alih-alih paradoks pengawasan totaliter versus privasi warga, yang berlangsung malah  paradoks yang jauh lebih pelik. Darurat bencana Corona membuat komunalisme yang telah mendarah-daging dalam keseharian kita “dilumpuhkan” sementara, lalu kita diminta mengandalkan individualisme yang janggal. Kita terus menyebarluaskan tagar #DiRumahSaja sebagai etos kebersamaan dalam menghadapi wabah berbahaya, tapi pada saat yang sama,  kita harus mengurung diri, tanpa bertatap muka dengan tetangga, dan orang-orang terdekat yang sedang menghadapi kepayahan serupa. Solidaritas dipaksakan bekerja dengan individualitas. Dengan dalih  situasi darurat, kanal-kanal komunal disumbat,  semua  akses untuk bertatap muka boleh jadi  akan dijaga oleh tentara…

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending