Connect with us

Cerpen

Gabriel Marquez: Monolog Isabel Memandangi Hujan di Macondo

mm

Published

on

Aku mungkin baru sebentar tidur malam itu ketika hawa anyir seperti bau bangkai menyentakku bangun. Kugoncang tubuh Martin yang mendengkur di sampingku. “Tidakkah kau rasakan?” tanyaku padanya. Dan ia berucap: “Apa?” Aku berkata: “Bau itu. Pasti mayat-mayat yang mengambang di sepanjang jalan.” Aku giris dengan pikiran itu, tapi Martin hanya memalingkan muka ke dinding dan dengan suara serak setengah tidur ia berkata: “Itu cuma pikiranmu sendiri. Wanita hamil memang selalu membayangkan macam-macam.”

 

Gabriel Garcia Marquez*

____

Musim dingin jatuh pada suatu Minggu saat orang keluar dari gereja. Sabtu malam udara sudah terasa menyesakkan. Namun, hingga Minggu pagi tak seorang pun menduga akan turun hujan. Seusai misa, sebelum kami kaum wanita sempat menemukan gagang payung kami, angin tebal gelap berhembus dengan pusaran luas menyapu debu dan sampah berat bulan Mei. Seseorang di sebelahku berucap: “Ini angin basah.” Dan itu sudah kuketahui sebelum terjadi. Saat kami berjalan keluar, di tangga gereja kurasakan mual menggoncang perutku. Para pria berlarian ke perumahan terdekat dengan satu tangan memegang topi dan tangan lainnya memegang sapu tangan, berlindung diri dari debu dan angin. Lalu hujan turun. Dan langit bagaikan zat kental kelabu yang mengepakkan sayap-sayapnya setengah depa di atas kepala kami.

Sepanjang sisa pagi itu aku dan ibu tiriku duduk dekat pagar, merasakan bahagia bahwa hujan akan menyegarkan lagi kuntum-kuntum rosemary dan nard yang dahaga di pot-pot bunga, setelah tujuh bulan menjalani musim terik dan debu membakar. Pada tengah hari gaung bumi berhenti dan aroma tanah yang berganti, tetumbuhan yang bangkit dan hidup kembali, bergabung dengan hawa sejuk dan segar dari hujan yang jatuh di kuntum-kuntum rosemary. Sewaktu makan siang ayahku berkata: “Hujan di bulan Mei adalah suatu pertanda akan datang masa yang baik.” Sambil tersenyum, dilintasi berkas cahaya musim baru, ibu tiriku berkata padaku: “Itulah yang kudengar dalam khotbah.” Dan ayahku tersenyum. Ia makan dengan lahap dan mengunyah makanan perlahan-lahan di samping pagar, diam, mata terpejam, namun bukan tidur, seakan ia membayangkan sedang bermimpi saat jaga. Hujan turun sepanjang sore dalam nada tunggal. Engkau dapat mendengar air jatuh dalam kekerapan yang seragam dan damai, seperti yang dapat engkau dengar saat engkau bepergian sore hari dengan kereta api. Namun, tanpa kami perhatikan, hujan merasuk terlampau jauh ke dalam perasaan kami. Senin dini hari, ketika kami menutup pintu untuk menghindari angin dingin menusuk yang berhembus dari halaman, perasaan kami sudah dipenuhi hujan. Dan Senin pagi air sudah meluap. Aku dan ibu tiriku menuju belakang rumah untuk melihat taman. Tanah kasar bulan Mei yang kelabu telah berubah dalam semalam menjadi zat hitam becek seperti sabun murahan. Tetesan air mulai meninggalkan pot-pot bunga. “Kukira pot-pot bunga itu telah mendapat air lebih dari cukup sepanjang malam,” gumam ibu tiriku. Dan kuperhatikan senyumnya sirna dan kesenangannya di hari sebelumnya telah berubah malam itu menjadi keseriusan yang memelas dan menjemukan. “Kukira engkau benar,” kataku. “Lebih baik menyuruh orang-orang Indian itu menaruh pot-pot itu di beranda sampai hujan berhenti.” Dan itulah yang mereka lakukan, ketika hujan menderas seperti pohon raksasa di atas pepohonan lainnya. Ayahku memandangi tempat ia berada pada Minggu sore, namun ia tak bicara soal hujan. Ia berkata: “Tadi malam aku pasti tak nyenyak tidur sebab aku bangun dengan punggung terasa pegal.” Dan ia ada di sana, duduk di samping pagar dengan kaki di atas kursi dan kepala menghadap ke taman yang kosong. Baru pada petang hari, setelah ia menolak makan siang ia berucap: “Kelihatannya langit takkan pernah cerah lagi.” Dan aku ingat bulan-bulan yang panas. Aku teringat bulan Agustus, tidur siang yang panjang dan gundah di mana kami merebahkan tubuh untuk mati di bawah beratnya hawa panas, pakaian lengket ke tubuh, mendengar hiruk-pikuk di luar yang terus-menerus dan dungu dari waktu yang tak pernah berlalu. Kulihat dinding-dinding basah kuyup, sambungan-sambungan balok memuai oleh air. Aku melihat ke taman kecil, kosong mula-mula, dan rumpun melati pada dinding, yang setia pada kenangan akan ibuku. Kulihat ayahku duduk di kursi goyang, punggung sakitnya bersandar pada sebuah bantal, dan mata dukanya tersesat ke dalam labirin hujan. Aku teringat malam-malam bulan Agustus, keheningannya yang menakjubkan, tak sesuatu pun terdengar selain suara ribuan tahun bumi, yang berputar pada porosnya yang berkarat dan tak berpelumas. Tiba-tiba aku merasa dicengkam nestapa tak terperi.

Hujan turun sepanjang Senin, sebagaimana hari Minggu. Tapi, kini seakan hujan turun dengan cara lain, sebab sesuatu yang berbeda dan getir terjadi dalam hatiku. Pada petang hari sehembus suara di samping kursiku berkata: “Hujan ini sungguh menjemukan.” Tanpa menoleh, kukenali suara Martin. Aku tahu ia berkata di kursi sebelah, dengan ungkapan dingin yang sama dan menggiriskan yang belum berubah, bahkan belum berubah sejak fajar Desember yang muram, saat ia mulai menjadi suamiku. Lima bulan telah berlalu semenjak itu. Kini aku akan mempunyai seorang anak. Dan Martin di situ, di sampingku, berkata bahwa hujan membuatnya jemu. “Bukan menjemukan,” kataku. “Bagiku terasa menyedihkan, melihat taman yang kosong dan pohon-pohon ranggas yang tak bisa berlindung dari hujan.” Lalu aku menoleh ke arahnya dan Martin tak lagi di sana. Hanya sebersit suara berkata padaku: “Tampaknya takkan pernah cerah lagi,” dan ketika kutoleh ke arah suara itu hanya kudapati kursi kosong.

Selasa pagi kami temukan seekor lembu di taman. Tampak bagai sebongkah lempung dari tanah semenanjung dalam kekerasan dan kelembamannya yang meronta. Kukunya membenam ke dalam lumpur dan kepalanya merunduk. Sepanjang pagi itu orang-orang Indian berusaha mengusirnya dengan tongkat dan batu. Namun, ia tetap bertahan di sana, tak terusik di tengah taman, keras, tak tergugat, kukunya masih membenam di lumpur dan kepalanya yang besar seakan dipermalukan oleh hujan. Orang-orang Indian itu mengusiknya hingga kesabaran ayahku menyuntuk batas. “Tinggalkan saja,” katanya. “Ia akan pergi sebagaimana ia datang.”

Saat matahari tenggelam di hari Selasa, air terasa menegang dan melukai, seperti selembar kafan di atas hati. Kesejukan awal pagi mulai berubah menjadi kelembaban yang panas dan lengket. Suhu tidak panas atau dingin; suhu panas-dingin. Kaki berkeringat di dalam sepatu. Sulit untuk mengatakan mana yang lebih menggeresahkan, kulit telanjang atau baju yang lekat pada kulit. Di rumah semua kegiatan sudah berhenti. Kami duduk di beranda, namun kami tak lagi memperhatikan hujan seperti pada hari pertama. Kami tak lagi merasakan hujan turun. Kami tak melihat apa pun selain sketsa pepohonan di tengah kabut, dengan sebuah mentari terbenam yang murung dan terasing yang meninggalkan di bibirmu rasa seperti ketika engkau terbangun dari sebuah mimpi tentang orang asing. Aku tahu waktu itu Selasa, dan aku ingat si kembar asuhan Santo Jerome, dua gadis buta yang datang ke rumah tiap pekan dan menyanyikan untuk kami lagu-lagu sederhana. Aku tergetar oleh kegetiran dan keagungan yang rawan dari suara mereka. Di atas hujan kudengar nyanyian kecil si kembar buta, dan aku membayangkan mereka berada di rumah, berkumpul, menunggu hujan reda hingga mereka bisa pergi dan bernyanyi. Kukira si kembar Santo Jerome tak bisa datang hari itu. Juga perempuan pengemis yang datang tiap Selasa takkan berada di beranda usai waktu tidur siang untuk meminta cabang baka jeruk balsam.

Hari itu kami kehilangan selera makan. Pada jam tidur siang ibu tiriku menghidangkan sepiring sup hambar dan sepotong roti basi. Meski sebenarnya kami belum makan sejak terbenam matahari pada hari Senin, dan kukira sejak itu kami berhenti berpikir. Kami lunglai, terbius hujan, menyerah pada amuk alam dengan sikap pasrah dan damai. Hanya lembu itu yang bergerak di sore hari. Tiba-tiba semacam suara garau menggoncang jeroannya, dan kuku-kukunya menghunjam ke lumpur dengan tenaga lebih dahsyat. Lalu ia diam berdiri selama setengah jam, seakan sudah mati, tapi tak terjerembab sebab kebiasaan untuk bertahan hidup mencegahnya, kebiasaan untuk bertahan dalam satu posisi di tengah hujan, sampai kebiasaan itu menjadi lebih lemah ketimbang berat tubuhnya. Lalu ia menggandakan tenaga pada kaki depannya (pangkal pahanya yang hitam dan berkilap masih tegak dalam upaya terakhir yang sangat menyiksa) dan moncongnya yang berliur menyungkur ke dalam lumpur. Dan akhirnya ia menyerah pada berat tubuhnya sendiri, dalam sebuah upacara maut yang sunyi, bertahap, dan bermartabat. “Ia telah berusaha sampai sejauh itu,” seseorang berucap di belakangku. Dan aku berpaling untuk melihat: di ambang pintu masuk kulihat perempuan pengemis hari Selasa telah datang menerobos badai untuk meminta cabang jeruk balsam.

Mestinya pada hari Rabu aku sudah terbiasa dengan suasana mengharu biru itu seandainya di ruang tamu tak kujumpai meja yang dipepetkan ke tembok, dengan perabotan bertumpuk di atasnya, dan pada bagian lain, di atas dinding pembendung yang dibuat sepanjang malam, teronggok kopor dan kotak perkakas rumah tangga. Pemandangan itu menghadirkan di hatiku perasaan kosong yang memiriskan. Sesuatu telah terjadi sepanjang malam itu. Rumah berantakan; orang-orang Indian Guajiro, tak berbaju dan telanjang kaki, celana digulung hingga lutut, mengangkati perabotan ke ruang makan. Pada air muka mereka, pada kerapian kerja mereka, orang dapat melihat kebengisan pemberontakan mereka yang sia-sia, dari kenistaan yang niscaya dan memalukan di tengah hujan itu. Aku bergerak tanpa tujuan, tanpa kemauan. Aku merasa bagaikan sehamparan padang rumput terpencil bersemai ganggang dan lelumutan, dengan jamur payung yang lembut, lengket, dan subur oleh tetumbuhan menjijikkan yang muncul dari kelembaban dan kegelapan. Di ruang tamu aku sedang merenungi pemandangan gurun perabotan rumah yang berantakan ketika kudengar suara ibu tiriku mengingatkanku dari kamarnya bahwa aku bisa terserang radang paru-paru. Saat itu barulah kusadari bahwa air telah naik ke mata kakiku, bahwa rumah kebanjiran, lantai tertutup tebal permukaan air pekat yang menggenang.

Rabu tengah hari, fajar belum berlalu. Dan sebelum pukul tiga sore, malam telah hadir sempurna, mendahului waktu dan kuyu, dengan kelambanan yang sama, menjemukan, diiringi irama bengis hujan di halaman. Sebentang petang yang hadir sebelum waktunya, lembut dan murung, hadir di tengah kesunyian orang-orang Guajiro, yang berjongkok di atas kursi-kursi menghadap tembok, kalah dan tak berdaya melawan amuk alam. Itulah yang terjadi saat berita mulai tiba dari luar. Tak seorang pun membawanya ke rumah ini. Tiba begitu saja, tepat, sendiri, seolah dihanyutkan oleh lempung cair yang menyusuri jalan-jalan dan menyeret segala perkakas rumah tangga bersamanya, benda-benda dan kian banyak benda, sisa-sisa dari sebuah bencana yang jauh, sampah dan bangkai binatang. Berita tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari Minggu, ketika hujan masih dianggap sebagai pertanda musim keberuntungan, perlu dua hari untuk sampai di rumah kami. Dan hari Rabu berita itu tiba, seakan didorong oleh tenaga inti badai itu. Kemudian terkabar bahwa gereja terlanda banjir dan diperkirakan runtuh. Seseorang yang tak berkepentingan untuk mengetahui berkata malam itu: “Kereta api tak bisa melewati jembatan sejak Senin. Tampaknya sungai itu menghanyutkan rel.” Dan terdengar berita bahwa seorang wanita yang sedang sakit hilang dari ranjangnya, dan sore harinya ditemukan terapung di halaman.

Terbelit rasa ngeri, yang muncul dari jeri dan air bah, aku duduk di kursi goyang dengan kaki terlipat dan mata terpaku pada gelap kabut yang penuh isyarat suram. Ibu tiriku muncul di ambang pintu dengan lampu diangkat tinggi dan kepala tegak. Ia tampak seperti hantu penghuni rumah yang sama sekali tak membuatku takut sebab aku pun merasa gaib seperti dirinya. Ia berjalan menghampiriku. Kepalanya masih tegak dengan lampu menggantung di udara; dan ia mencipratkan air ke beranda. “Sekarang kita harus berdoa,” katanya. Dan kuperhatikan wajahnya yang kering dan keriput, seakan baru bangkit dari kubur atau seakan ia tercipta dari zat yang berbeda dengan tubuh manusia. Ia di seberangku dengan rosario di tangannya, berkata: “Sekarang kita harus berdoa. Air bah telah membongkari kuburan dan mayat-mayat malang kini mengapung di atasnya.”

Aku mungkin baru sebentar tidur malam itu ketika hawa anyir seperti bau bangkai menyentakku bangun. Kugoncang tubuh Martin yang mendengkur di sampingku. “Tidakkah kau rasakan?” tanyaku padanya. Dan ia berucap: “Apa?” Aku berkata: “Bau itu. Pasti mayat-mayat yang mengambang di sepanjang jalan.” Aku giris dengan pikiran itu, tapi Martin hanya memalingkan muka ke dinding dan dengan suara serak setengah tidur ia berkata: “Itu cuma pikiranmu sendiri. Wanita hamil memang selalu membayangkan macam-macam.”

Pada fajar hari Kamis bau itu lenyap, pemahaman tentang jarak sirna. Pengertian tentang waktu, yang mulai kacau sejak hari sebelumnya, telah hilang sama sekali. Lalu hari Kamis itu pun raib. Apa yang mestinya adalah hari Kamis kini menjelma sesuatu yang wadag, bahan lentuk-kenyal yang dapat dipisah-pisah menggunakan tangan demi memunculkan hari Jumat. Tak ada lelaki atau perempuan di sana. Ibu tiriku, ayahku, orang-orang Indian itu adalah tubuh-tubuh gemuk dan ganjil yang bergerak di rawa-rawa musim dingin. Ayahku berkata padaku: “Jangan pergi dari sini sampai kamu diberi tahu apa yang harus dilakukan,” suaranya jauh dan samar, dan seakan bukan untuk dicerap lewat telinga tapi lewat sentuhan, satu-satunya indera yang masih bekerja.

Namun, ayahku tak kembali. Ia tersesat di tengah cuaca. Karenanya saat malam tiba kuminta ibu tiriku menemaniku tidur di ranjang. Aku tidur pulas dan damai, menghabiskan malam itu. Hari berikutnya suasana masih sama, tak berwarna, tak beraroma, dan tanpa panas sedikit pun. Ketika terbangun, segera saja aku melompat ke kursi dan termangu diam di sana, sebab sesuatu mengatakan padaku bahwa masih ada satu wilayah kesadaranku yang belum sepenuhnya terjaga. Lalu kudengar kereta api melengking. Lengkingan panjang dan pilu kereta api yang lolos dari badai. Kukira, di mana-mana cuaca pasti sudah cerah. Dan sekelebat suara di belakangku seperti menjawab pikiranku. “Di mana?” katanya. “Siapa di situ?” aku bertanya sembari mencari-cari. Dan kulihat ibu tiriku dengan lengannya yang kurus panjang pada arah dinding. “Ini aku,” katanya. Dan kubertanya padanya: “Apa engkau dapat mendengarnya?” Dan ia menjawab ya. Mungkin cuaca sudah cerah di daerah pinggiran dan mereka akan memperbaiki rel. Lalu ia menyodoriku sebuah baki dengan sarapan pagi yang masih mengepul. Tercium aroma saus bawang putih dan mentega yang dididihkan. Sepiring sup. Masih nanar, kutanya ibu tiriku sudah jam berapa sekarang. Dan ia, dengan tenang, suara terasa pasrah tanpa daya, berkata: “Mestinya sekitar jam dua lewat tiga puluh. Kereta api toh tidak terlambat setelah semua ini.” Aku berkata: “Dua lewat tiga puluh! Bagaimana aku bisa tidur begitu lama?” Dan katanya: “Kamu tidur belum terlalu lama. Belum lagi lewat jam tiga.” Gemetar, aku merasa piring itu tergelincir dari tanganku. “Dua lewat tiga puluh hari Jumat,” kataku. Dan ia, dengan ketenangan yang menggiriskan: “Dua lewat tiga puluh hari Kamis, nak. Masih dua lewat tiga puluh hari Kamis.”

Aku tak tahu berapa lama aku berjalan-jalan dalam keadaan tidur di mana indera kehilangan nilai. Aku hanya tahu bahwa setelah rentang waktu yang tak terukur itu, terdengar suara di kamar sebelah, berkata: “Sekarang engkau dapat menggulung kasur itu ke sebelah sini.” Sebuah suara yang lelah, tapi bukan suara orang yang sedang sakit, lebih mirip suara orang yang mulai sembuh dari sakitnya. Lalu kudengar kemericik air. Aku masih terbujur kaku sebelum kusadari bahwa aku dalam posisi mendatar. Lalu kurasakan kekosongan yang teramat langut. Kurasakan di rumah ini kesunyian yang rawan dan bengis, kediaman yang menyeramkan, yang memengaruhi segalanya. Dan tiba-tiba kurasakan hatiku berubah menjadi sekepal batu beku. Kukira aku mati. Ya Tuhan, aku mati. Aku melompat ke ranjang. Aku berteriak: “Ada! Ada!” Martin dengan suara garau menjawab dari bagian lain. “Mereka tak dapat mendengarmu. Mereka sudah di luar sekarang.” Baru kusadari kini bahwa cuaca sudah cerah dan di sekitar kami hamparan kesunyian membentang, sehampar ketenangan, kekudusan yang wingit dan dalam, sebentuk suasana yang sempurna, menyerupai kematian. Sesaat terdengar di beranda langkah-langkah kaki. Suara hentakan kaki yang nyata dan hidup. Lalu sehembus angin dingin mengayun daun pintu, gagang pintu berderit, dan sesosok tubuh padat dan besar, senampak buah yang masak, jatuh membenam ke dalam kolam di halaman. Di udara menyeruak sesosok manusia gaib yang tersenyum dalam kegelapan. Ya Tuhan, pikirku, bingung oleh kekacauan waktu. Kini aku takkan terkejut lagi jika mereka datang mengajakku pergi ke Misa Minggu yang lalu.(*)

____

*Gabriel Garcia Marquez: adalah Penulis peraih Nobel Kesusastraan asal Kolombia. Ia meraih Nobel Kesusastraan pada tahun 1982. Kamis 17 April 2014 ia telah meninggal dunia dalam usia 87 tahun. Karya Marquez yang paling terkenal adalah One Hundred Years of Solitude yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia, termasuk Bahasa Indonesia. Novel yang ditulisnya pada tahun 1967 itu sudah terjual lebih dari 30 juta buku di seluruh dunia dan meraih Nobel Kesusastraan pada tahun 1982. Beberapa novel lainnya yang juga mendunia antara lain Love in the Time of Cholera, Chronicle of a Death Foretold, dan The General in His Labyrinth. Gaya bertuturnya yang hidup dengan cerita mencampurkan kenyataan serta gaib menempatkan dia menjadi pelopor aliran sastra yang disebut realisme magis. Dia tinggal di Meksiko selama 30 tahun belakangan sampai wafatnya. Presiden Kolombia, Juan Manuel Santos, menyampaikan penghormatan kepadanya melalui Twitter. “One Hundred Years of Solitude dan kesedihan atas kematian warga agung Kolombia sepanjang masa.”

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Kamera Tua

mm

Published

on

lelaki itu melepaskan fantasinya. Ia mulai menelepon seseorang disana, yang ia catat sendiri. Ya, seorang pelacur cantik yang ia idamkan. Ia memintanya untuk datang ke rumah.

 Aflaha Rizal *)


Desas-desus terdengar dari ruang dapur lelaki itu, yang masih amat muda, dan belum menikah. Tak perlu kau tahu namanya, hanya yang perlu kau tahu, ia adalah lelaki muda yang sedang mencuci piring, dengan hidupnya yang belum menikah. Lelaki itu selalu berkata, “Menikah itu sebenarnya seperti pembayaran untuk memuaskan nafsu birahi semata kepada perempuan. Serupa pembayaran uang untuk menyewa pelacur. Tetapi ditutupi lewat perayaan kebahagiaan dari kedua mempelai, dua antar mertua, dan undangan tamu yang berbahagia.” Apa bedanya? Ya, hanya pesta kebahagiaan selepas membayar uang kepada pelacur lewat pernikahan. Perkataan itu pernah ia lontarkan kepada seorang kawannya, yang bekerja sebagai penulis cerita pendek dan kini sudah tidak menulis lagi. Lantaran tidak ada ide yang baru untuk menulis.

Hidupnya kini menjadi seorang petani, juga membangun perpustakaan tua yang ada di desa Kepala Tiga. Desa yang tidak pernah ditemukan di peta negara, dan tentunya, tak pernah dipedulikan oleh seorang presiden yang duduk di istana, beserta jajaran dan juga menteri yang hidup bermewahan. Mencuci piring, bagi lelaki itu, katanya, seperti sedang membersihkan sebuah dosa manusia selama hidup. Dan kau mendengarnya itu bagai tubuhnya yang ganjil. Ya, lelaki muda itu memang amat ganjil. Dengan kepalanya, hidupnya, juga waktu-waktunya.

Namun ia masih bekerja di sebuah instansi, tetapi ia merasa muak dengan pekerjaan itu. Tetapi, hidup perlu makan dan perlu pakaian. Meski kau tahu, pekerjaan dimana-mana, akan selalu timbul muak dan kebosanan dari sebuah keharusan dan kewajiban. Apakah tidak patut bila bermasalan di saat memiliki istri dan anak yang mesti dihidupi? Kau tentu akan tetap melakukannya, di saat kau muak dan bosan dalam hidup ini.

Piring-piring yang menumpuk, kini semua bersih dari kotoran dosa yang berasal dari makanan. Tempat cucian piring telah bersih. Kini, lelaki muda itu menuju ruang tamu dan memutar piringan hitam. Sebuah lagu romantis yang mengingatkan dirinya pada mantan kekasihnya, yang pernah ia minta untuk tidur bersama. Kekasihnya itu menolak, dengan alasan, “Aku tak mau diriku direnggut kau sebelum menikahiku.” Sebenarnya, kau melihat wajah lelaki itu yang tertawa ketika mengingat masa lalunya itu. Perempuan itu, yang diberi nama Tenun, memiliki hasrat seksual yang harus dibuangnya, demi untuk menjaganya sebelum menikah. Apapun perihal cinta maupun percintaan dari seorang kekasih, hasrat seksual atau berhubungan badan tak bisa dilepas. Dan akan tetap dilakukannya.

“Aku takut bila kita dipergok warga,” ucap Tenun saat itu.

“Kau tahu, warga sini seperti menjaga kesucian mereka dan moral mereka. Padahal, mereka juga sebenarnya tidak bermoral. Aku melihat mereka menebar fitnah kepada warga lain, dengan alasan yang tidak kuketahui. Dan mereka selalu menyebut diri mereka bermoral.”

“Kau selalu menceritakan ini dengan persepsimu. Kau tak harus menilai mereka bahwa apa yang dilakukan oleh mereka adalah bejat.”

“Tetapi, manusia memang memiliki bejatnya bukan?” tanya lelaki itu, yang kau dengar bagai manusia yang sama sekali tidak ada pegangan aturan dan juga agama.

Lelaki muda itu sebenarnya beragama, ia selau menunaikan agamanya. Tetapi, orang-orang selalu meragukan agama lelaki muda itu sendiri. Namun kau tak perlu melihat apa agama lelaki itu, selain punya cinta dan hasrat untuk bertahan hidup. Tentu, sebagian masa lalunya yang pahit, terekam dalam kamera tua-nya. Ia merekam secara sembunyi perihal ayahnya yang memukuli ibunya di ruang tamu, saat lelaki muda itu masih kecil dan tidak tahu apa-apa. Kecakapan dalam bermain kamera yang diajarkan oleh ibunya sudah tertanam, dan kelak pada cita-citanya, ia ingin menjadi seorang kameramen, tetapi tidak tercapai.

Pekerjaan di instansi ini berkat dari ayahnya yang punya kenalan. Dengan perkataan, “Anak muda ini harus punya masa depan yang baik, biar tidak susah mencari uang. Apalagi, pensiun masa tua-nya juga menjamin.” Dengan berat hati, lelaki muda itu menerimanya, melepas cita-citanya sebagai kameramen. Suatu ketika, saat masih di ruang tamu, kau mendengar lelaki muda itu mengucap kata, “Bajingan!” seolah kata-kata itu ia maki kepada ayahnya yang kolot dan tidak punya pikiran terbuka. Sepanjang kuliah, ia tentu dibatasi pertemanannya. Selain harus belajar, lulus cepat, dan dapat pekerjaan serta mencari uang yang banyak. “Jangan lah jadi mahasiswa aktivis yang tiada gunanya itu. Memaki pemerintah karena tidak adil, padahal mereka juga menikmati hasil yang dibangun pemerintah. Mereka itu sama kayak komunis tahu! Liberal, tidak ada pegangan aturan serta agama.” Ucap ayahnya suatu ketika, yang kali ini, kau mendengar bahwa lelaki itu dendam akan masa lalunya.

“Apakah menjadi aktivis itu salah?” lelaki muda itu mengucap pertanyaan di ruang tamu, sendirian, mengenai masa lalunya yang kau dengar. Ya, saat lelaki muda itu melontarkan pertanyaan kepada ayahnya yang sedang minum kopi, ayahnya menjawab. “Salah besar! Mengungkapkan pendapat itu boleh, tapi ada jelasnya gitu loh. Bukan hanya menebar, ‘Wah pemerintah ini tidak adil’, ‘Kasus ini harus dituntaskan’. Padahal, salah mereka juga yang menolak pembangunan. Dan itu baik untuk kesejahteraan mereka.”

Saat ini, ketika lelaki muda itu sudah bekerja, ia hanya menertawakan ayahnya yang sama sekali bodoh. Padahal, kau tahu, lelaki muda itu punya ayah yang berpendidikan hingga gelar doktor. Tetapi masalah nalar logika dan kritis, sama sekali tidak ada. Selain kritis yang dibangun oleh orang-orang yang meremehkan kaum orang bawah yang menentang itu.

Lelaki muda itu kini mulai merasakan hasrat ingin bercinta. Tentu kau melihat gerakannya yang kini menuju kelaminnya sendiri, yang perlahan-lahan berdiri. “Mantan kekasihku yang kini telah menikah, kini juga merasakan rasanya bercinta. Tetapi menutupi dirinya lewat pernikahan.” Ia naik turunkan kelaminnya itu, dengan kau yang melihat matanya yang memejam, dengan suara musik dari piringan hitam yang perlahan membangkitkan rasa birahinya.

“Ah!” lelaki itu melepaskan fantasinya. Ia mulai menelepon seseorang disana, yang ia catat sendiri. Ya, seorang pelacur cantik yang ia idamkan. Ia memintanya untuk datang ke rumah.

__________

 

Kamera tua itu, tentu, berisi kekerasan ayahnya kepada ibunya. Tidak ada yang lain. Ia ingin menjual kamera tua itu, kepada orang-orang yang tahu akan kasus kekerasan dalam rumah tangga. Kepada kawannya yang seorang penulis cerita pendek, yang bernama Garcia, yang seolah-olah kau teringat pengarang yang bernama Gabriel Garcia Marquez itu, untuk menawarkan kamera tua untuk dijual lewat tulisannya sebagai promosi. Kawannya yang datang ke rumah itu berkata, “Aku tidak bisa menulis untuk membuat orang lain tertarik pada barang yang kau jual, selain menulis cerita pendek.” Lelaki muda itu kau dengar tertawa keras, bahkan kepalanya menghadap wajah kawannnya itu.

“Kau tolol!” umpatnya. “Hidupmu lebih parah dari aku. Kau hidup berkubang dengan fantasi yang tolol. Apakah kau tak pernah merasakan realitas yang membuatmu tahu, seperti, bercinta salah satunya?”

“Aku sudah punya istri, dan sudah merasakannya. Memangnya engkau yang tak menikah?”

“Hahahhahaha.” Lelaki muda itu tertawa. “Kukira kau belum mencoba. Baiklah, bisakah kau kerja keras dulu untuk menjual barang ini?”

“Memangnya berisi apa?” tentu, Garcia yang kau dengar pertanyaannya itu, tidak tahu apa isinya.

“Tentang ayahku, yang selalu memukul ibuku.”

“Apa?” Garcia seolah tercengang akan pernyataan kawan anehnya itu.

“Ya, ayahku bejat tahu! Ia menyiksa ibuku hingga mati. Dan kini, ayahku masih hidup. Aku mau setelah ini, kameraku yang terjual dengan rekaman yang tersembunyi, bisa menimbulkan keadilan dan menghukum kejahatan ayahku.”

“Apakah selama ini tak ada kepolisian yang tahu?”

Lelaki muda itu kau dengar berteriak, bahkan wajahnya yang berubah seperti mengejek seseorang. Ayahnya juga dekat dengan jenderal kepolisian, sudah pasti kasus ini telah ditutup dengan uang tunai besar yang diberikan kepadanya, agar tidak terkuak kasus ini. “Kau tahu, uang itu mempermudah segalanya. Aku muak dengan uang. Uang bisa membuat seseorang tahu keburuan dan bejatnya mereka. Bahkan juga seorang perempuan sekalipun.”

“Bukankah uang memang kebutuhan manusia dan juga perempuan, apalagi dalam hubungan asmara?”

“Memang. Aku tahu, tetapi, banyak rasa cinta yang kemudian tak nyata, selain uang yang berbicara.”

Di dunia ini, kau pun tahu, dengan uang adalah barang yang bisa membuat segalanya mudah. Kau juga muak dengan uang, tetapi kau selalu melakukannya untuk hidup. Bahkan kekasihmu sekalipun, yang ditinggalkan karena alasan uangmu sudah tidak ada di saat kau susah. Padahal, kekasihmu pernah berkata, ‘Aku akan mencintai kau dalam suka dan duka, bahkan badai yang menerjang’. Garcia yang memandang wajah kawannya itu bertanya lagi, “Apa langkah untukmu selanjutnya?” tentu, kau mendengar lelaki muda itu menjanjikan sebagian uang dari kamera yang terjual.

“Dan uang sebagian itu, bisa kau beli buku-buku baru. Atau bibit baru untuk menanam padimu.” Ucap lelaki muda.

Maka, lelaki muda itu sepakat kepada Garcia untuk menulis barang promosi perihal kamera tua, yang dibutuhkan seorang pakar kasus kriminal yang harus melaporkan kejadian yang ditutupi ayahnya selama beberapa tahun.

___________

 

“Kamera ini seperti punya kamu dulu,” ucap ayahnya yang sedang membaca koran, tentu, promosi barang yang dijual dengan sebuah tulisan milik kawannya itu terbit di koran. Lelaki muda itu berancang-ancang mencari argumen untuk membalas kepada ayahnya, bila ia tahu, bahwa kamera tua milik lelaki muda itulah yang ia jual. “Ah, kemana, ya, kamera itu?”

“Tidak tahu. Rusak sepertinya, Yah,” ucap lelaki muda itu.

“Masa rusak?”

“Ya, namanya barang. Seperti juga kematian. Manusia akan mati, pun barang begitu. Mau usaha sekeras apapun, kalau sudah berakhir, ya akan berakhir.”

“Bijak juga kata-katamu, tak sia-sia ayah menyekolahkan kamu. Itu namanya anak pemuda negara yang membangun bangsa. Bukan seperti aktivis yang menentang pemerintah, yang mirip komunis itu.”

Dalam hati lelaki muda itu, kau dengar seruan tawa yang paling keras untuk menghina argumen ayahnya yang semakin hari semakin tolol. Jika kamera itu terjual hanya khusus bagi orang-orang kriminolog dan juga pakar kasus pembunuhan, maka ayahnya suatu hari akan ditangkap dan dimasukkan ke dalam penjara. Dalam diri lelaki itu, ada dendam kesumat bagai binatang yang lepas dari sangkar, yang dikurung sang tuan agar tidak kabur dan mengamuk. Lelaki muda itu duduk manis, sambil mendengarkan ayahnya bercerita mengenai kekasih barunya yang paling cantik. Ia perlihatkan fotonya itu kepada lelaki muda itu, dan juga kau lihat wajah perempuan yang cantik itu.

“Wah, montok.” Kata lelaki muda itu.

“Siapa dulu? Ayah!” ucapnya bagai membanggakan dirinya.

Namun, sebentar lagi, dendam itu akan tiba. Ayahnya akan mati di dalam penjara, seperti yang diinginkan lelaki muda itu.

__________

 

Kamera tua itu kemudian terjual, lima hari kemudian setelah promosi dengan tulisan yang ciamik milik kawannya terbit di koran. Para kriminolog dan pakar permasalahan kasus pembunuhan saling berlomba-lomba menawarkan harga lewat kawannya itu. Disitu tertulis di koran, ‘Di kamera ini, ada jejak rekaman manusia biadab yang menyiksa istrinya sendiri, yang selama ini ditutup-tutupi dan tidak terungkap’. Sayangnya, ayah lelaki muda itu, tolol dan tidak tahu. Selain hanya menatap kamera tua yang barangkali, begitu ia kenal.

Barang itu jatuh kepada seorang kriminolog yang masih satu pekerjaan di kantor kepolisian. Uang tunai itu diberikan kepada kawannya lalu mulai dibagi-bagi dari lelaki muda itu. Tentu, uang itu banyak, barangkali bisa membeli mobil atau rumah mewah di kota. Dan uang itu, ia pakai dengan kawannya untuk bersenang-senang di dalam kamarnya. Membelanjakan sebagian uang untuk membeli makanan ringan dan minuman alkohol dingin di minimarket. Lalu menonton film di laptop dengan remang lampu kamar yang menyala. Hidup sesederhana itu, selepas dendam untuk ayahnya sendiri.

            Maka, ayahnya itu kini tertangkap, saat sedang berduaan di dalam kamar hotel bersama kekasih cantiknya. Tentu, mereka berdua sedang telanjang bulat dan berhubungan badan, tetapi kepergok oleh kepolisian untuk menangkapnya atas kasus penyiksaan terhadap istrinya yang membuatnya mati. Untuk membuatnya malu, sang kepolisian membopong ayahnya yang masih dalam keadaan telanjang bulat. Hingga kelamin itu tertampak dan dilihat oleh pengunjung hotel. Para perempuan yang ada di hotel, terutama di lobi, menutup matanya. Kekasihnya itu kini sendirian di kamar, ia tidak tahu dan tiba-tiba, kekasihnya ditangkap.

Untuk perihal perempuan cantik itu, tampaknya kekagetan itu hanya selintas. Ia kembali tenang, dengan memakai pakaiannya kembali dan menikmati barang semalam di hotel mewah eksekutif ini, sekali lagi.

__________

 

“Bajingan kamu!” teriak ayah lelaki muda itu, dan kau mendengarnya bagai kemarahan kesumat bercampur kesetanan.

“Kau yang bajingan!” balas anaknya.

“Akan kupastikan, kau dipecat dari kantor instansi kawan ayah!”

“Silahkan, tak mengapa. Aku muak dengan pekerjaan dan hidupku yang dikendalikan ayah. Sekarang, mampus lah sebagai pengkhianat di penjara. Ini hutang yang telah lunas atas kematian ibuku.”

Ayahnya memukul besi penjara. Tak terima akan perlakuan anaknya. Dan lelaki muda yang masih kau dengar itu, tertawa begitu keras. Telah puas membuat dendam itu telah selesai. Dan ayahnya menderita di dalam penjara. Semoga cepat mati dan berada di neraka, tentu, Tuhan tak sudi menerima surga untukmu ayah. Hanya ibu yang pantas, yang dimatikan atas siksaanmu. Setelah berucap, lelaki muda itu pergi. Ayahnya berteriak dengan tangisan yang merongrong. Polisi yang berjaga, memukul penjara untuk tenang.

Lelaki muda itu pulang, melangkah pelan di tengah kota. Tentu dengan mobil peninggalan ayahnya yang kini sekarang miliknya. Lalu menelepon nomor kontak yang tersimpan disana, menunggu panggilan tersambung. Terangkat kemudian dari seorang perempuan, yang kau kenal suaranya itu, bermanja-manja bahkan serak-serak yang dapat membuat birahi seseorang menaik seketika. “Kamu dimana? Jadi hari ini?” bertanya seorang perempuan itu.

“Jadi dong, sayang,” lelaki muda itu tampak senang. Sebab telah puas ia sekarang.

“Di tempat biasa, ya,” ucap seorang perempuan.

Mobil melintasi kendaraan yang berjalan pelan, mengitari kota dengan gedung-gedung tinggi. Orang-orang di dalam gedung juga serupa, banyak pengkhianat dan juga bangsatnya. Lelaki muda itu juga telah muak tinggal di kota, ia ikut dengan kawannya yang menjadi petani, sekaligus membuat tempat lumbung padi agar padi tetap berkembang dan terjual banyak. Lelaki muda itu meyakinkan dirinya, bahwa menjadi petani ia bisa hidup dan kaya.

Perempuan yang sedang menunggu itu, tentu, adalah bekas kekasih ayahnya sendiri, yang kau temukan ketika ayahnya sedang telanjang bulat bersamanya di kamar hotel saat penangkapan itu terjadi. (*)

*) AFLAHA RIZAL, Penulis. Karya yang telah diterbitkan berupa kumpulan cerpen secara indie: Cuaca Sama(2016), Cuaca Sama II(2017). Puisi yang lain, masuk pada antologi, media online, dan pernah terbit di Radar Selatan(2019), dan Koran Tempo(2019). Cerpen terbarunya kini sedang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris tahun ini, oleh Inter Sastra. Juga pernah diundang di Festival Sastra Bengkulu 2019 sebagai penulis terbaik.

 

Continue Reading

Cerpen

Petualangan Singkat Tokoh Aneh yang Keluar dari Novel Roberto Bolaño

mm

Published

on

The Athenaeum - Surrealist Composition/ Getty Images

Dia meringis. Seperti bagal. Pistolnya kembali disiapkan… Aku bagai menghadapi orang yang tak sebenar-benarnya ada namun terasa kehadirannya. Bukan hantu, melainkan jiwa berparadoks. Entah, memikirkan istilah yang kutempelkan pada sosok ini membuat kepalaku pusing sendiri. Aku tetap membujuknya dengan kalimat-kalimat penegasan yang tak kunjung membuahkan hasil.

 

Oleh: Bagus Dwi Hananto *)

Pancho Monje tiba-tiba menodongkan pistolnya ke mukaku. Anak Maria Exposito kesekian itu tak salah lagi adalah karakter novel Roberto Bolaño yang tadi kubaca. Yang langsung kupikirkan saat dia muncul di hadapanku adalah perasaannya atas kutukan nama yang dia sandang. Kalau dia tahu dan mampu membalik waktu, pasti dia akan membunuh seorang pemabuk yang di tahun 1880 bernyanyi dengan nenek buyutnya di atas kuda pada saat hari perayaan Santo Dismas.

Ini bukan mimpi, kan? Sebab aku benar-benar yakin orang di hadapanku ini memang Francisco Monje Exposito. Badan kurus dengan celana drill kebesaran yang dibalut sabuk kulit hitam dan tatapan kosong yang dia layangkan padaku membuatku takut dan takjub. Anak hasil dari tiga orang mahasiswa kiri yang tak benar-benar meneriakkan revolusi agraria, menyandang takdir yang tak dinyana: Muncul dari sebuah buku. Hidup.

Untuk menyelamatkan diriku sendiri dari semua hal yang rasanya tak betul-betul nyata ini, aku menggunakan kalimat-kalimat afirmatif padanya.

“Maaf aku masih tidur,” desisku.

Tapi dia sepertinya tak mengerti apa yang kukatakan. Pancho Monje masih menodongkan pistol. Kali ini moncong senjatanya menekan pipi kiriku.

Selama tiga puluh tahun aku tinggal di rumah ini belum pernah kulihat demit paling halus maupun kasar sekalipun. Jika pun sosok yang muncul di depanku ini adalah setan, tentunya aku tak bisa menerima ini bulat-bulat. Aku tetap bertanya-tanya dalam hati meski sia-sia. Dia benar-benar muncul dari buku.

Senapan Smith & Wesson itu terdengar enak saat diucap berulang-ulang. Bolaño bahkan memberi detail tentang senjata itu dalam narasi di novelnya. Aku pun menggeleng, bukan saatnya terpana melainkan aku harus membujuknya untuk tidak menembakkan peluru melubangi pipiku.

“Dengarlah, sobat. Kau baru bangun tidur, sekarang kau bisa kembali ke buku ini!”

Pancho masih membisu.

Tiba-tiba terasa kuat aku tahu semua hal yang dia pikir meski bibirnya tak berucap apa pun. Pancho sudah lama kubayangkan sebab seminggu berlalu aku membaca dan menghayati novel itu.

“Musuhmu sudah mati, sedang dua kawanmu tak perlu lagi kautemui. Ini tempat yang berbeda dengan yang selama ini kau datangi. Tak ada bar yang bagus dan tak ada perampok yang jago.”

Pancho Monje tampak kebingungan dan aku rasa dia mengerti apa yang kukatakan selaras dengan apa yang dia pikir. Dikira dua kawan dungunya yang lari lintang pukang  setelah ditantang dua jagoan yang telah dia habisi, ada dalam dimensi hidup ini, masa ini, dan di waktu kini. Aku terus meyakinkan dirinya bahwa dia salah masuk panggung. Namun Pancho Monje tetap ngotot. Matanya yang bengis bagiku tak cocok dengan tubuh kurusnya. Meski begitu dari tadi dia tak hendak menyarungkan kembali pistol itu.

Untuk mengulur-ulur waktu tanpa tujuan berarti, kukatakan padanya bahwa ini Jakarta, bukan Sonora. Keduanya tempat yang keras memang. Namun di sini orang-orang menjual segala hal berbau suci dan mengeramatkan badut, sementara di sana orang asyik minum mescal. Dia tersenyum tapi tak ada niat untuk menyarungkan lagi pistol yang rasanya kian menekan pipiku ini. Kalimat moralis yang kuucapkan barangkali sama seperti ceramah membosankan baginya.

Aku bagai menghadapi orang yang tak sebenar-benarnya ada namun terasa kehadirannya. Bukan hantu, melainkan jiwa berparadoks. Entah, memikirkan istilah yang kutempelkan pada sosok ini membuat kepalaku pusing sendiri. Aku tetap membujuknya dengan kalimat-kalimat penegasan yang tak kunjung membuahkan hasil.

“Hei, sobat, pacarmu tak ada di sini. Begitu pula mobil yang kaubanggakan.”

Dalam waktu yang terus berjalan ini, aku kembali membayangkan mobil Pancho Monje diparkir di halaman depan apartemen Colonia El Milagro, Santa Teresa. Ford Mustang yang selalu dia banggakan dan setelah jadi polisi pada usia muda dia pamerkan mobil itu ke mana-mana. Tapi Pancho tetap tak menarik pistol di hadapanku ini. Niatku ingin melucu dan mengingatkan dia pada harta-harta yang ditinggalkannya di dalam buku tak menggerakkan dirinya barang sesenti.

Aku masih mengangkat tangan dan suhu udara mulai dingin, langit tampak mendung kelam, aku mesti mengambil jemuranku. Kukatakan padanya ada hal penting yang harus kulakukan. Aku menjanjikan pada Pancho Monje dia bisa menodongkan pistolnya lagi usai aku mengangkat jemuran. Aku tak ingin mengenakan sempak yang sama dua hari berturut-turut. Setidaknya itikad menjemur celana dalamku ini mesti dia hargai walau aku tak mengatakan itu semua.

Anehnya dia mau menurutiku. Aku senang dia pengertian pada akhirnya.

Satu per satu aku angkat jemuran. Kehidupan selibat yang telah bertahan empat tahun ini membuatku jadi malas mencuci baju. Dulu kalau ada pembantu segalanya mudah. Kini aku mesti menghemat uang. Pekerja grafis serabutan sepertiku hanya mampu menghibur diri dengan buku. Dan kali ini ilusi berhasil menjamah diriku dan jadi kenyataan. Usai mengangkat seluruh jemuran, aku kembali duduk di kursi depan desk dan menawarkan lagi pipi kiriku untuk Pancho Monje todong.

Dia meringis. Seperti bagal. Pistolnya kembali disiapkan.

Tapi semenit kemudian segalanya berubah. Perut Pancho Monje berbunyi. Dia tak lagi menodongkan pistol. Lapar telah mengganti perannya jadi anak baik bak anjing peliharaan. Dia menyudahi drama dungu yang membuatku bisa bernapas panjang. Aku pun lega selega-leganya dan tertawa tanpa kusadari sebelumnya. Namun dia tak tersinggung.

Dia menunjuk Impala putih yang terparkir di garasi rumah. Itu mobil almarhum bapakku. Dan sepeninggal bapak, aku tak betul-betul telaten merawat mobil tua itu.

“Pizza!” serunya. Aku terkejut. Bisa omong pula dia akhirnya.

Sementara aku memanaskan mesin dan mengeluarkan mobil tua itu dengan susah payah, Pancho Monje duduk di beranda, nikmat merokok. Lalu kami berangkat.

Pancho Monje membuka jendela mobil dan menjulurkan kepalanya keluar. Sepanjang jalan orang-orang menahan tawa karena melihat topi lebar yang sedari tadi dikenakan Pancho Monje. Anehnya aku baru sadar. Mungkin saking takutnya diriku hingga tak memerhatikan detail yang bertengger dekat di hadapanku selama satu setengah jam kami bercakap-cakap walau cuma satu arah.

Kami bermobil selama lima belas menit. Pancho Monje tersenyum-senyum dan terus menerus menepuk bahuku. Aku senang dia senang. Begitu sampai di restoran pizza, dia bergegas masuk tanpa menunjukkan tanda-tanda keheranan seperti saat tadi dirinya tiba-tiba muncul di hadapanku.

Usai memesan empat paket besar pizza dan membuat dompetku bobol seketika, kami pulang dan hujan pertama sudah terkumpul di bubungan rumah dan jatuh dengan intensitas yang deras saat mobil mulai memasuki garasi. Pancho tampak senang akan menyantap pizza dalam keadaan cuaca yang sedingin ini. Dia keluar terlalu semangat dan tak bisa menjaga keseimbangan saat sepatu kulitnya menyentuh lantai licin karena basah. Pancho Monje terpeleset dan tak pernah sadar untuk selamanya. Ingatanku tentang dia setelah itu adalah betapa maut tak pernah tebang pilih sasaran.

Kemudian segalanya jadi seperti mimpi. Aku kembali membaca novel itu dan pada mulanya Pancho muncul dengan pistol siap ditodongkan dan aku tertidur lagi. Kisah novel itu kian membekas di otakku, bak kabut tebal menggumpal dan tak dapat aku gusah. Maka sebelum ini semua kulupakan, aku pun menulis cerita pertama sebagai seorang pembaca yang mengalami petualangan aneh. Sebuah cerita penuh basa-basi dengan kalimat pembuka begini: Pancho Monje tiba-tiba menodongkan pistolnya ke mukaku….

 *) Bagus Dwi Hananto, lahir di Kudus, 31 Agustus 1992. Menulis cerpen dan novel.

 

 

Continue Reading

Cerpen

Api Diana

mm

Published

on

Aku ingin bercinta sampai mati, tetapi acara bedah buku itu sudah berakhir. Diana dan aku harus bergegas, dan kepada tuan rumah yang juga sekaligus pembicara utama di bedah buku kali ini, kukatakan dengan wajah tanpa dosa: “Sering-seringlah menerbitkan karya dan undang aku seperti malam ini.”

Oleh Ken Hanggara *)

Aku hanya bercanda. Penulis yang juga sahabatku itu pacar Diana, dan aku bukan jenis pemain yang suka menantang bahaya. Berhubungan intim dengan pacar sahabatmu pada waktu bersamaan, di bangunan yang seatap dengan suatu acara penting yang mana sahabatmu itu menjadi rajanya, adalah kekurang-ajaran yang pantas mendapat ganjaran. Aku tidak berharap ganjaran berat kelak menimpaku.

Orang bilang aku sinting, tetapi Diana diam-diam menggilai kesintinganku. Sudah berkali-kali kumohon kepadanya agar berhenti merayuku dan berhenti memesan kamar hotel diam-diam untuk kami berdua.

Diana bilang, “Dia tidak seistimewa kamu.”

Pertama kali bertemu Diana, kukira gadis ini bahagia. Sahabatku pengarang yang sukses dengan buku-buku fiksi yang luar biasa. Dia layak mendapat penghargaan dan uang dan ketenaran. Dia juga pantas menggaet perempuan seindah Diana, dan keduanya terlihat bahagia dengan semua yang mereka miliki.

Aku yang bukan siapa-siapa menyadari itu.

Pada satu kesempatan aku turut datang merayakan kemenangan sahabatku di jagat literasi tanah air. Dia memang tidak pernah melupakan keberadaanku yang dulu sering membantu ketika sedang kesulitan. Aku dulu beruntung dengan bisnis rumah makanku, dan sahabatku mendapat manfaat dari bisnis itu sebelum suatu telepon datang untuknya, mengabarkan jika karyanya yang tempo hari dikirim ke sebuah penerbit diterima untuk diterbitkan. Sejak itu sahabatku bukan lagi penulis muda yang miskin.

Roda berputar. Akulah yang kemudian sering kena masalah. Bisnisku naik-turun dan lama-lama bangkrut. Utang menumpuk sampai kujual beberapa aset, dan kini yang tersisa hanya rumah kecil dan pekerjaan yang tak kuinginkan. Aku tidak perlu menyebut pekerjaan itu. Aku malu. Jelas aku tak seberuntung sahabatku.

Dalam undangan-undangan bedah buku atau sekadar bincang sastra yang diadakan sahabatku, atau di mana dia menjadi narasumbernya, aku selalu melihat sosok lain di panggungnya. Aku melihat perwujudan manusia sukses dengan masa depan cerah. Jauh berbeda dariku yang merana dengan pakaian yang sering kali sengaja tak kucuci sampai seminggu lebih demi menghemat deterjen.

Pertemuanku dengan Diana dimulai di salah satu pesta, dan itu terjadi secara tidak sengaja. Diana tidak benar-benar lebur ke acara-acara yang menjadikan pacarnya raja dalam semalam. Itu karena dia sibuk mengurus bisnisnya dan dia juga masih kuliah. Ketika Diana benar-benar ikut dan aku juga kebetulan di sana, sahabatku mengenalkan gadis itu sebagai masa depan keduanya.

“Diana masa depan keduaku setelah semua yang kucapai hari ini,” katanya waktu itu.

Aku ingat kalimat tersebut. Suatu kalimat yang seorang sahabat dari masa kecil katakan, di acara yang membawa nama besarnya, sementara tidak jauh dari kami berdiri perempuan anggun yang mirip sebagai mimpi di siang bolong. Aku benar-benar merasa ditarik ke alam mimpi, tetapi tidak diizinkan masuk, sebab tiket yang disediakan untuk istana masa depan hanya tersedia untuk sahabatku dan gadis bernama Diana itu.

Aku tidak berpikir ingin merebut Diana atau apa. Sejak awal pikiranku cuma satu: betapa beruntung sahabatku. Kurasa dia layak mendapat semuanya. Tapi, Diana datang padaku suatu sore. Dia bilang, dia bisa mencari info soal di mana tempat tinggalku atau di mana aku bekerja, meski saat kami berjabat tangan dulu, aku tidak menjabarkan siapa diriku dengan mendetail.

Aku tidak tahu kenapa Diana datang ke tempatku, tetapi mendadak aku ditarik ke celah antara sepasang kekasih ini. Aku diajak bermain api oleh Diana dalam percintaan yang membuat jantungku nyaris copot setiap mendapat telepon dari sahabatku.

Diana cantik. Setiap lelaki tidak akan tahan oleh godaan yang dia lakukan. Tidak perlu keahlian khusus untuknya demi melakukan dosa semacam itu. Ia jauh lebih cantik dari bayangan bidadari yang dapat kuimajinasikan seumur hidupku.

Awalnya aku merasa sangat berdosa. Terkadang diam-diam kupukul pipiku sendiri, lalu kukecap darah dari bagian dalam mulutku, sehingga asinnya mengingatkanku pada masa lalu sahabatku yang belum sukses. Aku sering memandangi wajahku lama-lama di depan cermin sebelum tidur. Di sana kubayangkan akulah yang berdiri dengan gagah di podium tempat sahabatku selama ini menyapa para pengagum karyanya.

“Ya, doakan saja karya terbaru saya segera terbit,” katanya selalu, ketika menutup perjumpaan di setiap acara.

Kubayangkan, bibirku yang tebal yang mengucap kalimat basi macam itu di depan penonton. Sayangnya, aku bukan pengarang sukses. Aku hanya lelaki biasa yang sedang kehilangan masa jayanya saat usiaku masih terbilang muda. Betapa menyedihkan. Aku bahkan tak pernah sekalipun bercita-cita menjadi pengarang.

“Tidak ada yang menyedihkan, Dakir,” sangkal Diana. “Kamu masih bisa membuat kisah suksesmu. Dari nol. Tak ada yang tak mungkin. Kamu mampu, kalau kamu mau. Aku bisa bantu, dan pacarku tidak keberatan membantumu, karena dia pernah bercerita kalau dulu kamulah satu-satunya yang membantunya.”

Aku tak benar-benar yakin hidupku akan membaik setelah perselingkuhan dengan pacar sahabatku berlangsung dan justru kami nikmati, karena tidak ketahuan dan sebab tak ada yang curiga. Pertemuan-pertemuan kami tidak terendus karena saking sibuknya sahabatku, dan jarangnya jadwal mereka bertemu. Aku sendiri bisa menggunakan waktu luangku yang banyak.

Saat perselingkuhan ini kupikir akan menjadi penyakit akut yang tak tersembuhkan, aku bayangkan Diana milikku seutuhnya. Aku bayangkan Diana tidak punya hubungan dengan sahabatku. Aku bayangkan kelak akulah yang menjadi suami gadis itu. Bahkan, perlahan dan pasti, beberapa teman kerjaku tahu permainan ini. Tentu aku tidak bodoh. Tidak ada di antara mereka yang mengenal sahabatku, tetapi kemudian oleh tiap orang di tempat kerja, aku disebut-sebut sebagai orang tersinting yang pernah ada.

Itu bukan sekadar julukan. Aku mungkin sinting saat menerima rayuan Diana demi membuat sensasi tersendiri di antara kami. Maksudku, dalam acara bedah buku waktu itu; di bangunan yang sama di mana acara sahabatku dimulai, kami malah asyik bercinta di antara rak-rak buku. Semua itu terjadi begitu saja.

Hanya saja, rasa takut tetap ada di dadaku. Diana tidak pernah terlihat benar-benar takut, tetapi dia bilang, “Setiap orang punya rasa takut. Aku juga takut kalau sampai dia tahu. Bagaimana hubungan kalian? Bagaimana rencana pernikahanku? Di sini, sekarang, aku merasa sahabatmu mengintip, padahal kamu dengar sendiri dia sedang berbicara di ruang tengah.”

Biasanya, selesai kami berbuat gila di tempat-tempat tak terduga, yang berjarak tak terlalu jauh dari sahabatku, aku langsung menjauh dari Diana dan kadang berpikir amat lama tentang bagaimana semua ini berakhir. Sahabatku, barangkali tetap berjaya dengan karyanya. Diana jadi istri yang baik, atau barangkali menolak semua yang mereka telah rencanakan? Kukira itu bisa terjadi. Diana mengaku tak bahagia dengan sahabatku.

Aku sendiri?

Bertahun-tahun setelah ini, yang muncul di pikiranku hanya satu: apa sahabatku itu masih menganggapku sahabat? Jawabannya tergantung dari apa dia tahu permainanku dan Diana atau tidak sama sekali. (*)

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya: Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018).

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending