Connect with us

Interview

Gabriel Garcia Márquez: Sastra dan Jurnalisme Kita

mm

Published

on

Garcia Márquez menganggap bahwa jurnalisme cetak adalah “sebuah bentuk karya sastra”. Dia juga suka meyakinkan para penerbit koran untuk lebih sedikit berinvestasi di teknologi dan lebih banyak mengeluarkan uang untuk pelatihan personel.

Geram dengan apa yang dia lihat melanda jurnalisme di Amerika Latin, Gabriel Garcia Márquez, peraih Hadiah Nobel lewat novel One Hundred Years of Solitude, yang juga mantan reporter koran, pada Maret 1995 memulai gerakan “sekolah tanpa dinding”–Fondasi Jurnalisme Ibero-Amerika Baru. Tujuannya, menyegarkan kembali jurnalisme di kawasan itu lewat workshop keliling. Dia yakin bahwa yang selama ini diajarkan dan dipraktikkan perlu diperbaiki; dan dia mengeluhkan para jurnalis yang lebih tertarik untuk memburu breaking news–dengan kebanggaan dan privilese yang diberikan oleh selembar kartu pers—daripada mengasah kreativitas dan etika. Mereka membanggakan diri bisa membaca keseluruhan isi sebuah dokumen rahasia, tapi tulisan mereka penuh dengan kesalahan tata bahasa serta ejaan, dan tidak punya kedalaman. “Mereka abai terhadap pijakan bahwa artikel terbaik bukanlah yang paling dahulu memberitakan sebuah kejadian, tapi yang penyajiannya paling baik,” dia menuliskan kata-kata inagurasinya.

Garcia Márquez mengkritisi cara berbagai universitas dan penerbit media di Amerika Latin memperlakukan profesi ini–yang dia sebut sebagai pekerjaan paling baik di dunia. Tak sepakat dengan sikap kalangan kampus bahwa jurnalis bukanlah seniman, Garcia Márquez menganggap bahwa jurnalisme cetak adalah “sebuah bentuk karya sastra”. Dia juga suka meyakinkan para penerbit koran untuk lebih sedikit berinvestasi di teknologi dan lebih banyak mengeluarkan uang untuk pelatihan personel.

Dengan dukungan dari UNESCO, yayasan Garcia Márquez–yang berbasis di Barrangquilla, Kolombia—selama kurang dari dua tahun mengorganisasikan dua puluh delapan workshop yang dihadiri tiga ratus dua puluh jurnalis. Tema lokakarya-lokakarya itu: pengajaran tentang teknik-teknik naratif reportase di media cetak, radio, dan televisi hingga berbagai diskusi tentang etika, kebebasan pers, peliputan di tempat berbahaya, dan tantangan-tantangan teknologi baru yang menghadang profesi ini. Pelatihan dalam workshop diberikan para profesional yang cakap dan ditujukan untuk jurnalis dari angkatan yang lebih muda, lebih disukai yang di bawah 30 tahun, dengan pengalaman lapangan setidaknya tiga tahun. Kendati berbasis di Kolombia, workshop itu juga dilaksanakan di Ekuador, Venezuela, Meksiko, dan Spanyol. Bagian utama dari kurikulum yang dimiliki yayasan ini adalah workshop tiga hari yang dipimpin langsung oleh Gabriel Garcia Márquez tentang reportase.

Sebagai jurnalis yang menulis tentang Amerika Latin dalam bahasa Inggris, aku mendaftar dan diterima untuk mengikuti workshop-nya yang kelima. Saking girangnya bakal bertemu dengannya, aku –yang biasanya tukang telat dalam segala hal—menjadi peserta yang datang paling awal di Pusat Kebudayaan Spanyol di Cartagena, Kolombia, sebuah bangunan berlantai dua yang direnovasi dengan indah, dihiasi tanaman begonia merah dan air mancur di selasarnya, yang dimiliki oleh pemerintah Spanyol. Latar ini sudah sangat pas. Cartagena adalah rumah bagi Garcia Márquez, dan banyak tokoh-tokoh dalam karya fiksinya berseliweran di jalanan beton kerikil di seputaran area kolonial kota ini. Di situlah, beberapa blok dari Pusat Kebudayaan Spanyol, di alun-alun Katedral, Florentina Ariza mengamati cara berjalan Fermina Daza, si remaja sekolah menengah itu, yang tak lagi seperti sebelumnya. Sierva Maria los Todos, bocah sebelas tahun yang rambutnya terus tumbuh setelah meninggal, tinggal di Biara Santa Clara yang letaknya tak jauh dari situ. Berhampiran dengan tembok-tembok yang melindungi Cartagena dari para bajak laut Inggris, rumah Garcia Márquez terletak sangat dekat dengan biara itu –yang sekarang berubah menjadi hotel bintang lima di mana para tamunya bisa leluasa memandangi rumah sang penulis. “Bikin malu saja,” kata seorang tamu hotel kepadaku. “Saya bisa melihat dia sarapan setiap pagi. Akhirnya saya tutup saja tirainya.”

Senin, 8 April 1996, pukul 09.00 malam

Aku adalah satu di antara dua belas jurnalis yang duduk mengelilingi meja besar berbentuk oval. Kami sangat hening, laksana sekumpulan murid sekolah Jesuit yang menunggu pelajaran dimulai. Gabriel Garcia Márquez membuka pintu dan masuk, memandangi kami dengan tatapan usil, seolah tahu betapa gugupnya kami. Garcia Márquez –banyak dipanggil dengan Gabo—berpakaian serba putih. Di pantai Karibia Kolombia, para pria memang sering mengenakan pakaian serba putih, bahkan sampai sepatu-sepatu mereka. Dia mengucapkan selamat pagi, dan seketika kami berdiri, membungkuk, dan secara bersamaan mengucapkan: “Buenos dias, profesor.”

*

Itu adalah prolog dari naskah panjang Silviana Paternoso yang ditulis pada Musim Dingin 1996 untuk kerja-kerja sastra dan jurnalisme Marquez. Artikel lengkapnya hampir 20 halaman sedang dikerjakan oleh tim editorial Galeri Buku Jakarta untuk terbir bersama artikel lainnya dalam buku “Memikirkan Kata” yang akan diterbitkan tahun ini.

Dan tahukah Anda..

Para presiden, menteri, politisi, penerbit koran, dan pemimpin gerilya berkonsultasi dengannya, berkirim surat kepadanya, mengajaknya bertemu. Apa pun yang dia katakan, tentang subjek apa saja, selalu menjadi headline. Tahun lalu, sekelompok gerilyawan di Kolombia menculik saudara kandung seorang mantan presiden. Tuntutan mereka adalah agar Garcia Márquez mau menjadi presiden. Dalam surat tuntutannya, mereka menulis: “Nobel, selamatkan tanah airmu.”Buat kami orang Kolombia, menyebut Garcia Márquez dengan nama panggilan Gabo berarti membuat sukses yang dia raih lebih dekat kepada kami, dan–layaknya sebuah keluarga yang bangga—menjadikan kehebatan dia sebagai milik kami. Di sebuah wilayah yang carut-marut oleh aksi kekerasan, kemiskinan, penyelundupan narkoba, dan korupsi, dia adalah putra kebanggaan yang bisa dipamer-pamerkan–bahkan oleh mereka yang tak menyetujui kedekatannya dengan Fidel Castro.

Di Barranquilla, kampung halaman kami, kota tempat dia bekerja sebagai reporter pada 1950 dan bertemu dengan bakal istrinya, Mercedes, su mujer de siempre, namanya benar-benar melekat. Dia bukan saja dipanggil Gabo melainakan Gabito–panggilan akrab oleh para orangtua, kekasih, atau sahabat kepada kesayangan mereka.

Namanya disebut oleh para peserta berbagai kontes kecantikan sesering nama Paus. Jawaban para kontestan pun repetitif: Siapa penulis favoritmu? Garcia Márquez. Siapa yang paling Anda kagumi? Ayah, Paus, dan Garcia Márquez. Siapa sosok yang Anda ingin temui? Garcia Márquez dan Paus. Jika pertanyaan tersebut dilontarkan kepada para jurnalis Amerika Latin, jawabannya bisa jadi sama–mungkin tanpa ada Paus-nya. Buat kami, para jurnalis Amerika Latin yang berada di tahap awal karier kami, dia adalah tokoh panutan. Kami suka berucap bahwa dia sebelum menjadi novelis adalah seorang jurnalis. Dia sendiri bilang, dia tak pernah berhenti menjadi wartawan.

*

Sementara itu menjadi pendongeng, Gabo katakan, adalah bawaan dari lahir, bukan dibentuk. “Seperti penyanyi, menjadi pencerita itu sesuatu yang diberikan oleh alam kepadamu. Tak bisa dipelajari. Soal teknik iya memang bisa dipelajari, tapi bisa menyampaikan sebuah cerita itu berhubungan dengan sesuatu yang Anda bawa dari lahir. Mudah untuk membedakan antara pencerita yang baik dan buruk: mintalah mereka bercerita tentang film terakhir yang mereka lihat.”

Lalu dia memberikan penekanan, “Yang paling sulit adalah menyadari bahwa diri Anda bukan pencerita yang baik lalu punya keberanian untuk melupakannya dan mengerjakan sesuatu yang lain.” Cesar Romero belakangan bilang kepadaku bahwa dari semua statemen Gabo, inilah yang paling menohok buatnya.

Dia memberikan contoh, Beberapa saat setelah dia menerima Hadiah Nobel, seorang jurnalis muda di Madrid menghampirinya ketika dia hendak keluar dari hotel, untuk meminta wawancara. Gabo, yang tak suka diwawancara, pun menolaknya, tapi mengundangnya untuk ikut dengan dia serta istrinya selama seharian. “Dia menghabiskan waktu seharian dengan kami. Kami berbelanja, istri saya menawar-nawar barang, kami makan siang, kami berjalan, kami bebincang-bincang; dia bersama kami di mana-mana.” Ketika mereka kembali ke hotel dan Gabo hendak mengatakan sampai jumpa, dia memintanya untuk wawancara. “Saya bilang kepadanya, dia mesti pindah pekerjaan,” kata Gabo. “Dia kan sudah punya bahan tulisan lengkap, dia sudah mereportase.”

Dia melanjutkan dengan bicara tentang perbedaan antara wawancara dan reportase–kesalahan pengertian yang senantiasa dilakukan para jurnalis.  “Wawancara dalam jurnalisme cetak selalu berupa dialog antara si jurnalis dan seseorang yang mengungkapkan sesuatu atau berpendapat tentang sebuah kejadian. Reportase adalah rekonstruksi sebuah kejadian yang dilakukan dengan sangat cermat dan jujur.

*
Kami rasa begitu kaya dan begitu banyak pengalaman yang bisa dipetik, dan tentu saja kami merasa buku “Memikirkan Kata” benar-benar layak anda nantikan dan miliki ! 🙂

Interview

Wawancara Khusus: Makna Menulis dan Berekspresi Bagi Banana Yoshimoto

mm

Published

on

Banana Yoshimoto[1] memulai karier sebagai penulis pada tahun 1988 melalui Kitchen. Pada tahun 2018 ia memperingati 30 tahun jejak kariernya sebagai penulis. Usianya masih muda saat karya-karyanya meraih best-seller. Ia menceritakan kilas balik bagaimana ia melalui beratnya hidup yang ia hadapi sebagai seorang penulis yang fenomenal hingga sampai pada saat ini, ketika ia kembali merasa muda dan enerjik.

Karya Pertama yang Mendorong Pencapaian Sebagai Novelis
Anda sudah bertekad ingin menjadi penulis sejak usia 5 tahun? Cepat juga, ya.

Betul. Kakak perempuan saya yang usianya 7 tahun di atas saya (Yoiko Haruno, pengarang manga) jago menggambar. Saya katakan, “Kalau kakak yang menggambar, saya yang akan menulis naskahnya.” Ayah saya (Takaaki Yoshimoto, filsuf dan penulis puisi) bekerja di luar rumah, saya tidak pernah melihat ia menulis sesuatu tetapi ia menerbitkan banyak buku. Ketika itu saya berpikir, ‘saya tidak mau keluar rumah setiap hari’. Itu membuat pilihan pekerjaan saya terbatas. Saya sudah mengerti bahwa saya hanya bisa menjadi penulis, bukan saya akan jadi penulis.

“Moonlight Shadow” (1988) is an award-winning novella by Japanese author Banana Yoshimoto, partly inspired by Mike Oldfield’s song with the same title. The novella is included in most editions of Yoshimoto’s novel Kitchen.

Karya pertama Anda berjudul Akai Hashi. Apakah Anda ingat seperti apa novel tersebut?

Draf naskah selesai saat saya kelas 4 SD, usia saya sekitar 8 atau 9 tahun. Ceritanya semacam petualangan horor. Sejak dulu gaya menulis saya tidak berubah sama sekali. Alih-alih punya tujuan-akhir novel seperti apa yang ingin saya tulis, saya justru menulisnya sesuai intuisi saat itu. Menurut saya, kalau ingin jadi penulis ya yang penting mulai menulis, jadi saya terus menulis di buku catatan sampai terkumpul beberapa buku. Barangkali karena saat itu saya sudah menyadari betapa payahnya diri saya. Saya tidak bisa ini, tidak bisa itu. Yang bisa saya lakukan hanyalah segera menulis. Sungguh suatu perjalanan yang panjang dalam mencari pekerjaan.

Pada karya pertama, ada cerita tentang penglihatan yang buruk sehingga dunia ini dilihat dengan mata sebelah. Apakah itu adalah pengalaman pribadi Anda sebagai penulis?

Mata saya miopia, saya tidak bisa melihat sesuatu yang jauh. Saya terbiasa memikirkan apa yang ada di depan mata. Itu penting sekali bagi saya. Untuk melatih mata yang tidak terbiasa dipakai melihat, saya biasanya menutup mata satunya, yang biasa saya pakai, dengan penutup mata. Ketika penutup mata saya lepas, saya pasti bingung. Benda-benda terlihat berlipat jumlahnya. Momen saya bisa serius membaca buku hanyalah ketika saya menutup mata yang penglihatannya buruk untuk mengistirahatkannya. Saya juga senang bermain di luar saat kanak-kanak, jadi kegiatan saya cukup banyak.

Apakah sejak saat itu novel Anda sudah memiliki pembaca?

Tidak ada, tetapi pada suatu waktu teman-teman yang juga tetangga saya mulai membaca novel tersebut. Saya baru bisa menunjukkannya pada kakak dan ayah saat usia saya belasan akhir. Begitu selesai menulis satu naskah, saya segera mulai menulis naskah novel lain. Polanya sama seperti sekarang. Menulis adalah keniscayaan, karena memang itulah pekerjaan saya.

Anda menyimpan catatan dari masa-masa itu?

Tidak, karena menurut saya buruk sekali (tersenyum pahit). Moonlight Shadow yang saya tulis sebagai proyek kelulusan saya dari Universitas Jepang memperoleh penghargaan dari jurusan, dan dari sana saya mulai mengerti bahwa apa yang saya tulis cukup tersampaikan kepada pembaca. Setelah lulus kuliah, saya berniat bekerja paruh waktu sembari terus mengirim naskah, dan ternyata naskah pertama yang saya kirim, Kitchen, memenangi kategori pendatang baru pada majalah sastra Kaien. Dari situlah saya memulai karier sebagai penulis. Setelah keluar sebagai pemenang, saya merasa bahwa ini adalah sesuatu yang gawat, karena saya tidak punya stok naskah dan belum mempelajari apa pun.

Kitchen (キッチン)is a novel written by Japanese author Banana Yoshimoto in 1988 and translated into English in 1993 by Megan Backus. 

Baru Menyadari Pengaruh dari Para Penulis Setelah Dewasa
Siapa yang mempengaruhi karya Anda sebagai penulis?

Ada dua orang yang utama, yaitu Fujiko Fujio dan Yumiko Oshima. Karya-karya mereka sudah merasuk ke tubuh saya. Semacam takdir begitu, sampai-sampai saya sendiri tidak tahu bagaimana pengaruh yang saya peroleh dari mereka.

Apakah Anda merasa karya-karya Fujiko-sensei seolah menyatu dan menjadi bagian dari tubuh? Saking menyatunya, misalnya, sampai-sampai memasang tato tokoh Q-chan dalam Obake no Q-taro1? Doraemon juga, sosok uniknya melebur tanpa canggung begitu saja.

Saya, sayangnya, baru memahami hal-hal seperti itu setelah semakin dewasa. Karya-karya Fujiko-sensei, bagi saya, seolah-olah menjadi dasar dalam mengambil keputusan. Misalnya, perbuatan ini tidak baik karena akan berakibat seperti ini. Saya merasa sudah diajari sejak kecil. Q-chan diceritakan berperilaku semakin agresif, tetapi ia akan berhenti kalau merasa hal itu salah. Saya terinspirasi oleh satirenya, bukan nilai moral atau etikanya. Terkadang saya berpikir, apakah saya tidak bisa memilih selain ini? Namun akhirnya saya anggap itu sebagai takdir yang saya terima dan jalani (tertawa).

Apa karya Yumiko Oshima yang Anda sukai?

Sulit memilihnya. Namun karyanya, Banana Bread no Pudding (1977), sangat menginspirasi. Saya mengingat tiap kata dan barisnya. Saat membacanya saya terbius oleh pesonanya dan tenggelam membacanya. Sederhananya begini, tokoh-tokohnya memang aneh, tetapi mereka orang baik. Mereka memperlakukan dunia dengan adil, mirip sekali dengan karakter Oshima-sensei.

Untuk novel, sepertinya Anda menggemari Osamu Dazai dan Stephen King?

Saat SMP saya membaca semua buku karya Dazai-sensei. Ia bisa menulis sesuatu yang membosankan menjadi sangat menarik, dan menurut saya itu luar biasa. Ibarat sebuah album musik, tidak ada lagu yang terbuang dalam karyanya. Kalau Stephen King, karyanya pernah menurun seiring kondisi tubuhnya yang juga memburuk, jadi saya berhenti membacanya pada suatu waktu. Namun belakangan saya kembali membacanya, dan menurut saya karyanya bagus sekali. Biasanya, seseorang yang menulis akan mudah merasa puas kalau sudah bisa menggambarkan kisah dengan baik, tetapi Stephen King bisa tetap fokus, mengarah pada satu titik. Kekuatan fokusnya sangat impresif. Saya belum bisa seperti itu.

Ingin Membuat Karya yang Dapat Dinikmati Pembaca Awam
Saya tidak tahu harus menggambarkannya dengan kalimat apa, tetapi yang jelas saya masih ingat ketakjuban saat pertama kali memegang Kitchen. Di Kinokuniya Shinjuku, tepatnya sebelum eskalator naik, ada pojok untuk buku baru. Kala itu, tepat di sampingnya adalah toko musik, yang entah kenapa memutar lagu dari band The Blue Hearts dengan volume kencang. Begitu membaca, saya segera merasa bahwa akhirnya muncul juga penulis yang berbicara dengan pembaca dalam bahasa yang sama. Saya seperti tidak butuh persiapan lebih untuk membaca sebuah novel. The Blue Hearts juga menyanyi dengan bahasa serupa, sehingga keduanya seperti saling terhubung. Di memori saya terpatri bahwa itulah awal dari suatu generasi baru. Beberapa waktu setelahnya saya mengetahui bahwa Anda lebih banyak terpengaruh dari manga, film, dan musik dibandingkan novel; dan saat itulah saya baru melihat keterkaitannya. Mungkin kalimat saya ini terdengar aneh, tetapi saya merasa bahwa telah datang seseorang yang berbicara dengan bahasa yang sama dengan kami.

Saya mengerti. Ada perbedaan yang besar antara apa yang disenangi maniak novel dan pembaca awam. Saya cenderung membersamai pembaca awam. Tentu saja saya ingin para maniak novel senang membaca buku saya, tetapi sejak awal saya memang tidak ingin membuat novel rumit yang sulit dibaca oleh pembaca awam.

Karya-karya Anda silih berganti menjadi best-seller, dan disebut-sebut sebagai ‘ledakan popularitas Banana Yoshimoto’, tetapi poin itu juga yang menjadi awal bagaimana Anda bisa bertahan sebagai penulis.

Benar sekali. Panutan yang saya bayangkan adalah seperti penulis Motoko Arai. Saya sebetulnya ingin bisa menulis sedikit demi sedikit seperti beliau, tetapi kondisi kami rupanya sungguh berbeda. Saya mendapat masukan dari banyak pihak, baik yang disampaikan dengan lembut maupun keras. Tetapi tiap kali pula saya merasa bahwa tidaklah mudah mempertahankan apa yang tidak ingin saya lepas. Akira Yasuhara adalah editor novel saya, TSUGUMI (1989). Ia memberi catatan merah pada naskah, yang kemudian saya kembalikan lagi ke tulisan semula. Saya tidak bermaksud menantangnya. Banyak hal yang harus saya pegang kukuh dan tak ada pilihan lagi selain memperjuangkannya. Kalau saya sendiri tidak yakin, di situlah saya hancur.

Pernah suatu kali tiba-tiba novelis Kenji Nakagami menepuk saya saat di tepi jalan (tertawa). Ia bilang, “Hoi!”, tapi bukan dengan nada membentak. “Ayo kita karaoke bareng,” katanya. Saya masih orang baru dan sedang kurang bersemangat, tapi ia memuji, “Luar biasa, kau disenangi ibu pemilik kedai minum!” Ia melanjutkan, “Kau tidak akan jadi orang besar kalau tidak menyenangkan.” Saya punya banyak kenangan baik semacam itu tentang Nakagami-sensei.

Kenji Nakagami sendiri adalah seorang penulis sastra klasik. Namun nampaknya ia memahami keinginan Anda untuk menulis sesuatu yang diperuntukkan bagi pembaca awam, alih-alih bagi maniak novel.

Menurut saya juga begitu. Saya rasa kami bisa saling memahami di titik itu. Belum lama ini saya ingin membaca karya yang diterjemahkan oleh Haruki Murakami. Saya akhirnya membaca kumpulan cerpen John Cheever yang ia terjemahkan. Dengan begitu saya jadi tahu kiat-kiat yang hanya dimengerti oleh penulis. Misalnya Murakami-sensei menggabungkan kata A di sini dengan B di sana, dan gabungan tadi terasa menyenangkan. Saya mengerti itu. Tetapi sejak dulu saya merasa ada perbedaan letak titik keseruan antara saya dan penyuka sastra klasik. Selain itu, saya ingin menulis apa yang bisa dirasakan oleh seisi kota, bukan oleh saya sendiri yang membacanya di dalam kamar. Saya harus lebih terbuka. Itulah mengapa sampai akhir saya tidak bisa akrab dengan dunia sastra klasik.

Penulis Sebaiknya Memikirkan Bagaimana Generasi Muda Dapat Mengakses Tulisan

Yoshimoto-Banana-©-Sawa-Fumiya |
Yoshimoto was born in Tokyo on July 24, 1964 and grew up in a liberal family. Her father is the famous poet and critic Takaaki Yoshimoto, and her sister, Haruno Yoiko, is a well-known cartoonist in Japan. Yoshimoto graduated from Nihon University‘s College of Art with a major in literature. While there, she adopted the pseudonym “Banana”, after her love of banana flowers, a name she recognizes as both “cute” and “purposefully androgynous.” (Wikipedia)

Menilik kembali karier Anda selama 30 tahun sebagai penulis, kapan Anda merasa adanya suatu titik balik?

Antara tahun 2000 sampai 2003. Saat itu secara hampir bersamaan, saya mulai membuat situs resmi pribadi, blog, dan melahirkan. Kurang lebih saat saya menulis Dead End no Omoide (2003). Ketika itu saya memutuskan untuk mulai memanfaatkan internet, dan saya rasa itulah titik balik saya. Saya dimarahi oleh pemilik bar yang sering saya kunjungi. Ia bilang, “Maho-chan (nama asli Banana), kamu tidak boleh begini terus. Nanti semua orang di dunia tidak akan tahu siapa kamu.” Dahulu, saya debut sebagai penulis dalam situasi yang tidak biasa. Kalaupun saya terus menulis dengan ritme biasa saja, sebetulnya saya sendiri sudah puas. Namun karena si pemilik bar ini berkata dengan wajah yang sangat serius, saya jadi berpikir, terlalu cepat kalau saya sebagai penulis tema-tema kultus, menghilang begitu saja. Pada tahun-tahun itu saya tidak begitu sering tampil ke publik, sehingga muncul berita-berita yang tidak berdasar, misalnya bahwa saya dipenjara. Kalau saya punya situs resmi, tentu saya bisa menyampaikan fakta dan membuat penggemar saya tenang. Setelah mencoba sendiri, saat itu saya bisa merasa besarnya kekuatan internet dan memahami bahwa dunia akan beralih ke sana.

Perusahaan tempat Anda bekerja tutup dan Anda berkarier sendiri. Anda lalu mulai berkisah dengan sudut pandang yang baru setelah situasi tenang. Dari esai yang Anda tulis beberapa tahun belakangan, saya merasa Anda terbebani.

Saya pun merasa demikian. Saat Oukoku (2002) terbit, saya mengubah nama saya, Banana Yoshimoto, dari huruf kanji menjadi huruf hiragana. Nama saya dalam huruf kanji rasanya tidak membawa peruntungan yang cukup baik bagi kehidupan domestik keluarga saya, jadi saya mengubahnya menjadi huruf hiragana yang memberi nuansa bahwa saya tidak sedang bekerja. Setelah anak-anak cukup besar, saya bersemangat bekerja lagi, lalu mengubah nama menjadi huruf kanji kembali. Itu juga menjadi salah satu titk balik. Saya tidak perlu menanggung beban sebagai seorang karyawan. Saya tidak perlu berpikir apakah harus menerima pekerjaan ini atau tidak, dan bisa lebih fokus menulis novel.

Beberapa tahun ini, selain mail magazine, Anda juga mulai menulis di blog Ameblo dan cerita bersambung di note.com. Sepertinya Anda jadi punya lebih banyak kesempatan untuk mengunggahnya di internet dengan waktu yang lebih fleksibel.

Betul. Saya mempersilakan kalau ada orang yang ingin membaca karya saya sebelum diterbitkan dalam bentuk buku. Bukannya terlalu bersemangat, tapi sayang rasanya kalau ada waktu terbuang karena adanya masalah saat jatuhnya industri penerbitan2. Kalau kejatuhan itu membuat rapat yang dulunya dilakukan di restoran steik berubah tempat menjadi di kedai soba, saya tidak masalah. Tetapi seringkali terjadi hal-hal yang membuat proses menulis jadi lebih merepotkan, misalnya revisi yang selama ini dilakukan tiga kali diubah menjadi dua kali. Kalau sedikit-sedikit koreksi, lebih cepat apabila saya yang mengerjakan semuanya sendiri sampai siap cetak, baru saya serahkan ke editor.

Pada saat itu pula saya bertemu U-zhaan, seorang penabuh tabla asal Saitama. Saya belajar darinya. Kalau saya seorang penabuh tabla, saya harus menciptakan sendiri situasi ketika saya bisa bermusik di mana pun, sepanjang ada tabla. Sebagai penulis, saya juga harus begitu, atau saya tidak akan terus hidup sebagai seorang penulis. Bagaimana agar anak-anak muda bisa mengakses tulisan? Harus dengan internet.

Saya semakin merasa bahwa seorang Banana Yoshimoto, yang dahulu adalah penulis yang sangat memperhatikan pembacanya terutama anak-anak muda, sekarang adalah penulis yang memperhatikan orang-orang yang belum menemukan tempat untuk dirinya.

Mungkin karena sejak dulu saya berpikir begitu. Pada masa lampau saya terselamatkan oleh tulisan seseorang, jadi ada keinginan untuk membalas kebaikan itu. Meskipun sering juga saya merenung bahwa yang ingin saya lakukan bukanlah menulis novel. Ketika dulu saya sedang tidak tampil di mana pun, dunia juga pasti tidak sedang baik-baik saja, tapi saat itu saya tidak merasakan yang seperti sekarang. Sekarang ini saya merasa ada hal-hal yang harus saya lakukan, tidak bisa oleh orang lain. Saya merasa inilah waktu untuk melakukan apa yang saya bisa, karena sekarang ini kondisi kaum muda Jepang tidak begitu baik. Kaum muda zaman sekarang sepertinya banyak tekanan untuk melakukan sesuatu. Saya hanya ingin membantu menyuarakan agar mereka, paling tidak, tetap membiarkan perasaan mereka bebas.

___

Diterjemahkan oleh Wahyu Widya. Dapat ditemui di akun twitter @wahyudhea.

Catatan:

1 Obake no Q-taro adalah manga karya Fujiko Fujio yang pertama kali terbit tahun 1964.

2 Industri penerbitan di Jepang turun drastis sekitar tahun 1997.


[1] Diterjemahkan dari artikel pada situs web Penerbit Gentosha, diakses dari https://www.gentosha-book.com/special_interview/yoshimoto/

Continue Reading

Interview

Haruki Murakami: Menulis Tentang Ayah Dan Perang Sebagai Suatu Kewajiban

mm

Published

on

Wawancara oleh Koichi Ooi dan Hideyuki Tanabe | Penerjemah Wahyu Widya

Dalam wawancara tunggalnya dengan kami, Haruki Murakami bercerita tentang kumpulan esainya yang terbit bulan April, Neko wo Suteru (Mencampakkan Kucing), dan kumpulan cerpen terbarunya yang akan terbit pada 18 Juli, Ichininsho Tansuu (Sudut Pandang Orang Pertama, Tunggal). Kami menerbitkannya dalam paruh kedua. Neko wo Suteru yang mulai terbit di majalah pada tahun 2019 tersebut menarik perhatian publik karena Haruki Murakami berkisah tentang hal pribadi yang belum pernah ia tulis: riwayat ayahnya sebagai prajurit perang.

Pada paruh pertama, ia telah bercerita mengenai pekerjaannya sebagai DJ di sebuah program radio, juga mengenai peran sastra dan musik dalam masa pandemi COVID-19. Baca selengkapnya dalam artikel “Haruki Murakami: Saya lebih akrab dengan esai ketimbang Novel, lagi pula saya DJ dan Bekerja di Radio [eksklusif interview]”

INTERVIEWER

Esai Anda cukup mengejutkan. Apakah Anda memang berharap besar pada usia Anda yang 70 tahun untuk menuliskannya?

HARUKI MURAKAMI

Saya pikir saya harus menulisnya sekarang. Sejujurnya saya tidak begitu tertarik menulis tentang hal-hal di lingkaran saya, tapi itu harus saya tuliskan, jadi saya melakukannya dengan sekuat tenaga. Itu adalah salah satu tanggung jawab saya sebagai seorang penulis.

INTERVIEWER

Apakah karena hal tersebut berkaitan dengan dipanggilnya ayah Anda ke medan perang untuk ketiga kalinya, terutama saat invasi Jepang ke China?

HARUKI MURAKAMI

Banyak orang yang ingin menganggap peristiwa tersebut tidak pernah terjadi, tapi itu benar-benar terjadi sehingga saya harus menuliskannya dengan akurat. Sebab gawat sekali kalau sampai ada pengubahan sejarah. Ketika ayah masih hidup, saya berpikir bahwa kurang tepat kalau saya menuliskannya, jadi saya menulisnya beberapa waktu berselang setelah ayah saya meninggal dunia pada tahun 2008.

INTERVIEWER

Anda beranggapan bahwa ayah Anda kemungkinan ikut dalam pembantaian massal ketika Pertempuran Nanking. Namun Anda menulis bahwa keinginan untuk mencari dokumentasi terkait hal tersebut tidak kunjung datang. Pada akhirnya Anda mengetahui bahwa ayah Anda tidak ikut dalam Pertempuran Nanking.

HARUKI MURAKAMI

Benar, hal itu pernah terjadi. Kemudian saya memutuskan bahwa saya harus segera menulis. Setelah saya coba mencari, ternyata pasukan ayah saya pergi ke arah Wuhan dan bertempur di sana. Sekarang, tiap kali melihat berita tentang Wuhan terkait COVID-19, saya jadi teringat hal tersebut.

Haruki Murakami, Sastrawan Jepang kelahiran 1964 ini namanya menjadi salah satu paling sering dijagokan menjadi penerima Nobel Sastra. Meski kesempatan mewah tersebut belum kunjung hadir padanya, pembaca setianya seakan tak peduli lagi apakah dia menerima penghargaan sastra tersebut atau tidak. Apa boleh dikata kalau sudah jatuh cinta, karya Murakami memang salah satu paling menakjubkan. Dapurnya sederhana, kenyataan bahwa Murakami tak memiliki aturan khusus dalam dapur produksi menulisnya adalah salah satu rahasia penting untuk dipelajari. Meski tanpa aturan khusus, bukan berarti dia bekerja dengan sembarangan. 

INTERVIEWER

Dalam karya-karya awal, Anda menulis tentang China dalam berbagai bentuk, dan memotretnya sebagai suatu masalah besar.

HARUKI MURAKAMI

Ya, tidak salah lagi. Itu jadi semacam salah satu tema, atau ciri khas tulisan saya.

INTERVIEWER

Bagaimana pengaruh dalam diri Anda ketika mendengar langsung kisah tentang pasukan ayah Anda yang mengeksekusi tawanan prajurit China?

HARUKI MURAKAMI

Itu cukup membuat saya syok ketika kanak-kanak, dan membekas di ingatan saya.

INTERVIEWER

Terkait cerita Anda tentang membekunya hubungan dengan ayah Anda, pembaca pasti juga terkejut.

HARUKI MURAKAMI

Cukup sulit bagi saya untuk menyusun tulisan itu. Menulis fakta-fakta tentang diri saya sendiri adalah hal yang sangat sulit. Saya perlu waktu yang cukup lama untuk menulis, padahal sudah saya tentukan sendiri bagaimana penuangannya.

INTERVIEWER

Anda akhirnya bisa menuliskannya karena Anda punya kisah-kisah menarik mengenai kucing.

HARUKI MURAKAMI

Mengumpulkan berbagai kisah menarik, menyusunnya dengan memperhatikan keseimbangan secara keseluruhan, lalu menjadikannya sebuah buku yang bisa dinikmati khalayak bukanlah suatu hal yang mudah. Meskipun secara teknis mungkin hal itu bisa dilakukan dengan lebih mudah. Dahulu, ketika ada hal yang bisa ditulis dan tidak bisa ditulis, saya memilih untuk menghindari apa yang tidak bisa saya tulis. Lalu ketika saya perlahan-lahan bisa menulis seiring dengan makin bertambahnya karya, semuanya terasa lebih mudah.   Apapun, yang dulu tidak bisa, jadi bisa saya tulis. Di buku pertama saya, Dengarlah Nyanyian Angin, banyak sekali hal yang tidak bisa saya tulis; saya hanya menggabungkan poin-poin yang bisa saya tulis, dan jadilah buku yang seperti itu (tertawa).

INTERVIEWER

Dengarlah Nyanyian Angin saat itu mendapat dukungan penuh dari generasi muda, karena hal-hal pop bisa masuk secara alami ke karya sastra.

HARUKI MURAKAMI

Padahal saya menulisnya karena memang hanya itu yang bisa saya tulis. Tapi sebagai penulis saya tidak bisa begitu terus. Makanya saya terus berlatih agar bisa menulis dengan lebih bebas, dan belakangan saya merasa mampu menuangkan ke dalam tulisan sesuai pikiran saya.

INTERVIEWER

Kapan kira-kira Anda mulai merasa mampu? Karya Anda, 1Q84, sudah terasa lepas.

HARUKI MURAKAMI

Ya, rasanya sekitar masa-masa itu saya sudah merasa bisa menulis dengan cukup enteng.

INTERVIEWER

Adegan dalam 1Q84 ketika Tengo, tokoh dalam novel tersebut, berbaikan dengan ayahnya, mengingatkan saya pada kisah tentang masa-masa terakhir ayah Anda dalam Neko wo Suteru.Kumpulan cerpen Anda, Tony Takitani, juga menggambarkan hubungan ayah-anak, dan tak lepas dari China.

HARUKI MURAKAMI

Benar juga. Namun, apa yang ingin atau harus ditulis oleh seseorang itu jumlahnya terbatas. Ia bukannya tak terbatas. Tak ada cara lain selain terus menuliskannya dari sudut pandang dan menggunakan teknik menulis yang berbeda-beda.

Sekali Lagi, Kembali ke Titik Awal dan Mencoba Hal Baru

Buku ini menceritakan tentang dua tokoh yang terpisah, yakni Tengo dan Aomame. Kedua tokoh ini diceritakan secara terpisah, berselang-seling, Aomame-Tengo-Aomame-Tengo sampai buku ini berakhir. 
 
Tengo adalah guru private matematika di sebuah bimbingan belajar, berbadan besar seperti beruang, dan menjalani kehidupan sebagai ghost writer di sebuah majalah. Sedangan Aomome adalah instruktur seni bela diri yang juga menjalani kehidupan sebagai pembunuh bayaran.
 
Tengo dihadapkan pada konflik persekutuan konspirasi curang antara ia, editor majalah sastra dengan seorang penulis muda misterius, untuk memenangkan sebuah penghargaan sastra. Sedangkan Aomame sendiri dihadapkan dengan konflik batin dalam dirinya sendiri dalam menghadapi perubahan dunia yang ia tinggali. Setelah melewati jalan darurat bawah tanah, ia merasa tersesat. 

INTERVIEWER

Sebentar lagi Ichininshou Tansuu akan terbit, setelah penerbitan kumpulan cerpen terakhir enam tahun lalu. Dari delapan cerpen Anda yang masuk dalam kumpulan cerpen ini, tujuh di antaranya adalah cerpen yang sudah pernah diterbitkan selama tiga tahun sejak 2018, dan satu cerpen adalah karya baru. Apakah Anda memerlukan waktu sedemikian panjang untuk menulis?

HARUKI MURAKAMI

Saya tidak menentukan tenggat waktu atau apapun. Tiga buku pertama saya tulis setelah semua bahan sudah terkumpul.

INTERVIEWER

Anda menulis, lalu naskahnya diterbitkan?

HARUKI MURAKAMI

Betul.

INTERVIEWER

Apakah judul Ichininshou Tansuu muncul dari keinginan Anda untuk menulis kembali cerpen dengan sudut pandang orang pertama?

HARUKI MURAKAMI

Saya merasa ingin sekali lagi menulis dengan serius menggunakan sudut pandang orang pertama. Delapan cerpen tersebut memiliki sudut pandang orang pertama yang berbeda-beda. Orang-orang yang berbeda berkisah dengan sudut pandang orang pertama masing-masing, tapi ada satu kesamaan; dan itulah yang cukup menimbulkan kompleksitas saat menulisnya.

INTERVIEWER

Tiap cerita dikupas secara mendalam, sekilas hal itu membuat saya merasa Anda sedang mengisahkan diri sendiri….

HARUKI MURAKAMI

Bukan juga. Kita tahu ada banyak pengandaian, nah, itu seperti ‘diri saya versi pengandaian’. Mungkin lebih pas melihatnya sebagai kaca mata dari sudut pandang orang pertama sebagai tokoh utama; bukan orangnya, tetapi apa yang ia lakukan.

INTERVIEWER

Pada kumpulan cerpen Anda yang terbit tahun 1985, Kaiten Mokuba no Dead Heat (Dead Heat of Spinning Wooden Horse), di bagian awal Anda tulis bahwa semua kisah diperdengarkan secara langsung kepada si pencerita, tapi Anda menulisnya seolah-olah semuanya rekaan.

HARUKI MURAKAMI

Iya, memang saya rancang seperti itu.

INTERVIEWER

Nah, kali ini, meskipun saya sudah mencoba meyakinkan bahwa semuanya adalah cerita nyata Anda sendiri, tapi saya juga terus menerka-nerka apakah ini adalah rekaan. Jangan-jangan,  selain sudut pandang orang pertama, musik juga berperan penting di kumpulan cerpen ini.

HARUKI MURAKAMI

Musik? Benar juga. Ada cerpen yang di dalamnya muncul Charlie Parker, Robert Schumann, The Beatles, puisi pendek Jepang, lalu kumpulan puisi juga. Di tiap cerita ada semacam satu bahasan itu.

INTERVIEWER

Saya mendengarkan lagu yang muncul dalam buku Anda, Charlie Parker Plays Bossa Nova, dan rasanya lagu-lagunya berbeda…

HARUKI MURAKAMI

Kalau cerpen itu, saya menulisnya dengan sangat menikmati. Rasanya saya menulis begitu saja secara alami, bukan menulis karena harus menulis. Jadi kalau saya pribadi, saya tidak akan menulis kalau sedang tidak ingin menulis. Ketika sedang tidak ingin menulis novel, saya menerjemahkan. Karena saya menulis ketika sedang ingin, maka saya melakukannya dengan lancar. Meskipun tetap saja melelahkan kalau ada tenggat waktunya. Nah, kalau rasa ingin menulis itu tidak kunjung datang, ya saya biarkan saja, karena setelah beberapa waktu pasti saya jadi ingin kembali menulis (tertawa). Saya bersyukur atas hal itu.

INTERVIEWER

Dan Anda bisa tiba-tiba ingin menulis naskah panjang ketika tengah menulis cerpen.

HARUKI MURAKAMI

Benar sekali.

INTERVIEWER

Lalu setelah itu Anda jadi ingin menulis naskah yang lebih panjang. Sepertinya begitu siklusnya.

HARUKI MURAKAMI

Ya, kalau tidak juga muncul keinginan menulis, saya berpikir untuk kembali membuka bar saja, tetapi itu lebih sulit (tertawa). Saya hanya berusaha menghindari memaksakan diri untuk menulis ketika sedang tidak ingin melakukannya.

INTERVIEWER

Novel Killing Commendatore juga Anda tulis dengan sudut pandang orang pertama, apakah usia Anda menjadi titik balik untuk kembali memakai sudut pandang orang pertama?

HARUKI MURAKAMI

Ada perasaan ingin kembali ke titik awal sekali lagi, kemudian melakukan hal-hal yang sama sekali baru dan berbeda. Novel awal saya dahulu menggunakan sudut orang pertama, lalu saya berganti memakai sudut pandang orang ketiga; nah, saya ingin kembali ke sudut pandang orang pertama, dan mencoba apa yang dahulu tidak bisa saya tulis dengan sudut pandang orang pertama. Ya, meskipun saya sendiri juga tidak tahu bagaimana ke depannya. Saya hanya ingin mencoba kemampuan saya sekarang untuk bisa menuliskan apa yang dahulu tidak bisa saya tulis dengan sudut pandang orang pertama.

INTERVIEWER

Apakah karya Anda selanjutnya cenderung pada novel yang tidak terlalu panjang?

HARUKI MURAKAMI

Ya, saya ingin menulisnya lagi. Mungkin akan saya pikirkan setelah ini, dan barangkali saya akan menulis sesuatu.

INTERVIEWER

Apakah Anda berharap Murakami RADIO bisa bertahan lama seperti karier penerjemahan Anda, meskipun Anda tengah mengerjakan suatu novel?

HARUKI MURAKAMI

Sebisa mungkin saya berharap program radio saya bisa terus berlanjut. Sangat menyenangkan bisa berkomunikasi dengan banyak orang, dan di sana saya ingin mencoba banyak hal yang mungkin bisa saya lakukan.

INTERVIEWER

Jadi tiga hal berjalan beriringan? Penerjemahan, penyiaran radio, dan penulisan novel?

HARUKI MURAKAMI

Tetapi saya tidak sesibuk itu (tertawa). Saya rasa saya masih bisa melakukannya.

INTERVIEWER

Anda telah mendengar musik selama 60 tahun lebih, sejak akhir tahun ’50-an. Menurut Anda, apa yang berubah, dan apa yang tidak berubah?

HARUKI MURAKAMI

Entahlah, saat masih muda dulu saya cukup sering juga mendengar lagu-lagu yang biasa saja. Kalau dipikir-pikir sekarang, saya juga heran mengapa dulu saya mendengarkan lagu seperti itu (tertawa). Tetapi penting juga mendengar lagu yang membosankan atau yang biasa saja. Sebab kalau tidak begitu, kita tidak akan tahu lagu bagaimana yang benar-benar bagus. Sama seperti musik, novel pun begitu. Kalau sekarang saya mendengarkan lagu-lagu yang biasa, saya akan luar biasa bosan. Tapi anak-anak muda mendengarkannya dengan penuh semangat, dan bagi saya itu tidak masalah. Jadi saya tidak ingin terlalu menyudutkan. Saya juga dahulu begitu, ketika masih muda saya pelan-pelan mendengarkan beragam musik. Meskipun memang akhir-akhir ini saya tidak bisa menoleransi bacaan atau musik yang buruk. Namun saya tetap berusaha terus membuka hati pada adanya keberagaman. (*)

*) Artikel diterjemahkan dari bahasa Jepang oleh Wahyu Widya. Beberapa terjemahannya diunggah di blog pribadinya di wahyudhea.blogspot.com, pernah juga sekali dimuat di web Birokreasi (yang kini sudah mati). Dapat dihubungi via surel di alamat wehaye19@gmail.com. |  Diterjemahkan dari artikel yang dimuat pada tanggal 10 Juli 2020 di Mainichi Shimbun.

Continue Reading

Interview

Haruki Murakami: Saya lebih akrab dengan esai ketimbang Novel, lagi pula saya DJ dan Bekerja di Radio [eksklusif interview]

mm

Published

on

By  Koichi Ooi dan Hideyuki Tanabe | Penerjemah : Wahyu Widya *)

Pengalaman Sebagai DJ | Penulis Haruki Murakami menerima saya untuk mewawancarainya pada awal Juli di Tokyo. Hasil wawancaranya akan kami terbitkan dalam dua bagian. Pada paruh pertama, ia berkisah banyak hal, mulai dari perasaannya sebagai disc jockey (DJ) pada suatu program radio, hingga peran sastra dan musik dalam masa pandemi COVID-19. Adapun kisahnya mengenai karya-karya terbarunya akan kami terbitkan pada paruh kedua.

INTERVIEWER

Sejak dua tahun lalu, Anda menjadi DJ untuk program radio bertajuk Murakami RADIO di TOKYO FM (disiarkan melalui 38 jaringan stasiun radio di seluruh Jepang). Terima kasih telah dipersilakan menengok suasana rekaman siaran radio yang akan disiarkan pada bulan Agustus, di studio berukuran sekitar 50 meter persegi ini. Atmosfernya tenang, ya, tak jarang tarikan nafas saya dan staf program menjadi seirama.

HARUKI MURAKAMI

Betul. Para staf sangat kompak, saya juga jadi nyaman bekerja. Sebelumnya, saya dua kali rekaman sendiri di rumah selama periode instruksi dari pemerintah untuk berdiam di rumah, dan kali ini akhirnya bisa kembali seperti dulu.


Buku ini mnceritakan tentang dua tokoh yang terpisah, yakni Tengo dan Aomame. Kedua tokoh ini diceritakan secara terpisah, berselang-seling, Aomame-Tengo-Aomame-Tengo sampai buku ini berakhir. 
 
Tengo adalah guru private matematika di sebuah bimbingan belajar, berbadan besar seperti beruang, dan menjalani kehidupan sebagai ghost writer di sebuah majalah. Sedangan Aomome adalah instruktur seni bela diri yang juga menjalani kehidupan sebagai pembunuh bayaran.
 
Tengo dihadapkan pada konflik persekutuan konspirasi curang antara ia, editor majalah sastra dengan seorang penulis muda misterius, untuk memenangkan sebuah penghargaan sastra. Sedangkan Aomame sendiri dihadapkan dengan konflik batin dalam dirinya sendiri dalam menghadapi perubahan dunia yang ia tinggali. Setelah melewati jalan darurat bawah tanah, ia merasa tersesat. 

INTERVIEWER

Saya ingin mendengar kisah mengenai tema kita kali ini, Pengalaman Sebagai DJ, tapi sebelum itu, saya ingin tahu bagaimana pengalaman Anda sendiri dalam mendengar. Infonya, Anda sering menyimak acara request lewat telepon di Radio Kansai. Program radio itu muncul dalam adegan-adegan penting di novel debut Anda, Dengarlah Nyanyian Angin.

HARUKI MURAKAMI

Saya merasa saya tumbuh bersama radio. Tentu saya juga menonton teve, tetapi pada zaman dahulu ‘kan hanya ada satu unit teve di satu rumah, jadi menontonnya bersama-sama dengan yang lain. Kalau radio, ‘kan, satu lawan satu. Saya senang musik, dan bagi saya radiolah yang paling personal; dari sisi itulah radio menjadi media yang memberi keakraban. Saya tumbuh dengan mendengar beragam musik di radio.

INTERVIEWER

Radio transistor?

HARUKI MURAKAMI

Betul, radio transistor kecil. Itu pun yang AM. Radio FM baru ada kira-kira saat saya akhir SMA. Sebelum itu, praktis saya hanya mendengarkan radio AM. Jadi kualitas suaranya tidak begitu baik. Walaupun kurang baik, dulu saya mendengarkan dengan semangat sekali. Pada masa itu harga piringan hitam tergolong mahal, jadi saya tidak bisa membelinya banyak-banyak. Tidak ada cara lain selain radio, sebab belum ada layanan streaming atau unduh seperti sekarang. Maka dari itu saya jadi mendengarkan musik dengan sungguh-sungguh dan menghargainya.

INTERVIEWER

Pernah merekam dengan tape recorder?

HARUKI MURAKAMI

Belum ada casette tape pada masa itu, hanya ada pita magnetik. Jadi, ya, tidak semudah itu. Setelah itu barulah bisa merekam atau dubbing dengan tape deck dari tuner, lalu juga baru muncul radio kaset.

INTERVIEWER

Meskipun demikian, semuanya berawal dari kesungguhan Anda mendengarkan apapun yang terdengar, ya.

HARUKI MURAKAMI

Ya, tak ada cara lain.

INTERVIEWER

Sejak kapan Anda mulai mendengarkan radio di kamar sendiri?

HARUKI MURAKAMI

Barangkali sekitar kelas 5 SD. Saya mulai mendengarnya menggunakan radio transistor kecil merek SONY yang saya terima. Itu sekitar tahun 1959, yang jelas sebelum 1960. Sejak itulah saya terus mendengar lagu-lagu pop. Setelah saya beranjak ke SMP lalu SMA, radio transistor saya juga jadi sedikit lebih besar.

INTERVIEWER

Apakah sejak awal Anda mendengarkan lagu-lagu barat?

HARUKI MURAKAMI

Lagu barat saja. Saya besar di lingkungan kota Kobe. Dahulu, di sekitar sanalah pusat lagu-lagu barat. Musik yang diputar di seluruh penjuru kota pun lagu barat, mungkin karena memang begitulah Kobe dari aspek budaya. Saya sendiri tidak begitu menyadari hal itu. Semuanya mengalir saja secara alami, dan saya jadi ikut mendengar lagu barat.

INTERVIEWER

Sepertinya Anda belajar piano saat kanak-kanak.

Ketika ia mendengar Norwegian Wood karya Beatles, Toru Watanabe terkenang akan Naoko, gadis cinta pertamanya, yang kebetulan juga kekasih mendiang sahabat karibnya, Kizuki. Serta-merta ia merasa terlempar ke masa-masa kuliah di Tokyo, hampir 20 tahun silam, terhanyut daam dunia pertemanan yang serba pelik, seks bebas, nafsu-nafsi, dan rasa hampa hingga ke masa seorang gadis badung, Midori, memasuki kehidupannya, sehingga ia harus memilih antara masa depan dan masa silam.

HARUKI MURAKAMI

Ya, saya mempelajarinya. Lalu saya berhenti karena benci latihannya Sepertinya saya belajar sejak SD, entah kelas berapa, sampai SMP. Sampai sekarang pun saya masih bisa membaca partitur, dan saya mensyukurinya. Saya suka mendengarkan suatu lagu sambil mencari kuncinya dengan tuts piano, meskipun saya tidak lagi bisa memainkannya. Tapi bukankah musik adalah sesuatu yang harus terus dilatih? Misalnya kita bisa memainkan piano atau menari balet, lalu terus berlatih bertahun-tahun hingga layak tampil di depan penonton; tapi begitu malas berlatih, kemampuan kita akan menurun. Nah kalau prosa, kita tetap langsung bisa menulis meskipun tanpa berlatih. Tidak ada hal yang lebih praktis daripada itu; tidak berlatih pun tak ada masalah.

INTERVIEWER

Apakah musik yang Anda dengarkan adalah musik populer?

HARUKI MURAKAMI

Sejak SD sampai SMP sekitar usia 15 tahun, saya hanya mendengar musik pop. Setelah itu mulai mendengar jazz yang membuat saya gandrung, dan di saat bersamaan saya juga mendengar musik klasik. Lalu saya mendengar musik pop hanya dari radio. Kalau dari piringan hitam atau saat sedang berada di bar jazz, saya cenderung menikmati musik jazz dan klasik. Jadi saya menyenangi tiga jenis musik.

INTERVIEWER

Berarti saat peralatan stereo mulai dipasang di rumah, Anda berusia 12 tahun, ya.

HARUKI MURAKAMI

Benar, saat kami pindah ke kota Ashiya. Kemudian saya mulai membeli piringan hitam, yang saat itu masih terbilang mahal. Karena itulah saya mendengarkan beragam jenis musik di radio, menyeleksi apa yang saya inginkan, baru membelinya.

INTERVIEWER

Piringan hitam yang pertama Anda miliki adalah White Christmast milik Bing Crosby, betul?

HARUKI MURAKAMI

Itu bonus saat beli stereo. Yang pertama kali saya beli sendiri adalah piringan hitam LP-nya Gene Pitney. Saat itu saya kira-kira kelas 2 SMP. Itulah awal saya mengoleksi piringan hitam. Setelah itu, lebih dari 50 tahun saya terus mengoleksinya. Sekarang hampir-hampir tidak ada lagi tempat untuk menyimpan. Kalau buku, setelah sekali baca, kebanyakan akan saya jual ke toko buku bekas atau saya loak; tetapi kalau piringan hitam, tetap saya simpan. Biasanya seorang penulis akan berpikir sebaliknya, tapi saya sendiri tidak begitu terpaut dengan buku. Saya sama sekali tidak tertarik dengan buku cetakan pertama dan semacamnya. Tapi kalau piringan hitam original edisi pertama, saya akan mencarinya sepenuh hati. Mirip kolektor, lah.

INTERVIEWER

Anda bukan pengoleksi buku?

HARUKI MURAKAMI

Bukan. Tentu repot sekali kalau saya mengumpulkan buku dan piringan hitam (tertawa).

INTERVIEWER

Apakah Anda mulai menerjemahkan lirik lagu karena seringnya mendengarkan lagu barat?

HARUKI MURAKAMI

Kalau saya, perlahan-lahan semakin senang bahasa Inggris dengan menyimak lirik, mengingatnya secara asal, dan menerjemahkannya. Memang sekarang saya jadi bisa menerjemahkan, tetapi titik awalnya adalah dengan mengingat di luar kepala seluruh lirik lagu-lagu.

Piringan Hitam LP untuk Musik, Mesin Manual untuk Mobil: Radio Cocok untuk Saya

INTERVIEWER

Bagaimana awal lahirnya Murakami RADIO? Apakah melalui editor di penerbit buku-buku Anda?

HARUKI MURAKAMI

Awalnya saya ditawari. Saya tidak suka tampil di televisi, tapi kalau di radio saya ingin mencobanya. Saya punya segunung piringan hitam dan CD yang hampir semuanya saya dengarkan sendiri. Membosankan kalau mendengarkan semuanya sendirian di rumah. Saya ingin ada entah siapa yang menemani mendengarkan sembari mengobrol, tapi sulit juga menemukan orang untuk itu. Dahulu saya punya bar jazz, jadi saya sudah terbiasa mendengar lagu bersama orang lain. Misalnya ada tamu datang, saya akan memutar piringan hitam atau menampilkan permainan musik saya sendiri. Sejak barnya tutup, saya tidak pernah lagi melakukannya, padahal tentu menyenangkan kalau ada tempat yang bisa mengakomodasinya. Nah kalau di radio, saya bisa melakukan hal-hal seperti tadi, ‘kan? Kalau saya bisa memutar musik dan membahas hal-hal yang saya suka, saya tak keberatan melakukannya.

INTERVIEWER

Jadi sebelum menjadi novelis, Anda membuka bar jazz ketika masih berkuliah di Universitas Waseda sejak tahun 1974 selama 7 tahun, ‘kan? Lalu, Murakami RADIO ini disiarkan pertama kali pada bulan Agustus 2018.

HARUKI MURAKAMI

Sejak awal memang saya sendiri yang memilih piringan hitam yang akan diputar, menyusun program, menentukan tema, dan memutuskan formatnya begini atau begitu. Untuk piringan hitam dan CD, seluruhnya adalah koleksi pribadi saya, saya memutar yang ingin saya mainkan. Anehnya, radio masa kini jarang ada yang punya program seperti itu. Bukan toko serba ada, tetapi lebih mirip selection shop yang memajang barang-barang yang sudah dikurasi oleh pemilik toko, seakan-akan berkata, “inilah selera kurasi kami, silakan mampir kembali apabila berkenan.” Jadi orang yang seleranya berbeda tidak akan masuk; kalau seleranya cocok, silakan datang lagi esok hari. Program radio seperti itulah yang ingin saya buat.

INTERVIEWER

Apakah ada program radio ideal yang Anda bayangkan?

HARUKI MURAKAMI

Di Amerika, acara radio Bob Dylan yang memutar lagu-lagu pilihannya sangat populer. Ia mengumpulkan lagu-lagu yang nuansanya anggun. Saya tidak bisa melakukan seperti itu. Terlebih, saya adalah penulis, yang tidak begitu ahli tentang musik dan hanya menyenanginya sebagai hobi saja, jadi saya yang cukup awam ini berusaha menampilkan selera saya. Kalau Bob Dylan, karena ia ahli di ranah permusikan, pilihan lagunya bisa sangat menghujam; tetapi saya tidak. Sebaliknya, saya justru ingin memilih lagu yang ramah pendengar. Sebab kalau saya terlalu memaksakan kehendak-kehendak saya, orang justru akan pergi menjauh.

INTERVIEWER

Dalam rentang waktu dua tahun, sudah ada 15 episode siaran radio.

HARUKI MURAKAMI

Sebenarnya saya ingin lebih banyak, tetapi mungkin karena saya sendiri juga sering pergi ke luar negeri, saya jadi tidak bisa melakukan rekaman siaran. Untuk saat ini, karena sedang ada COVID-19, saya tidak bisa pergi, jadi bisa rekaman. Sejujurnya saya ingin siarannya sebulan sekali. Rancangan programnya sudah ada untuk satu atau dua tahun jadi bisa dilakukan sebanyak mungkin. Eksperimen baru untuk siaran radio ini sungguh menarik. Secara umum, menurut saya, siaran radio adalah obrolan satu lawan satu,  jadi saya berusaha berbicara dengan menyapa setiap orang dan saya juga bisa mendapat respons dari pendengar. Saya ingin bisa mengobrol secara personal sembari mendengarkan lagu. Di zaman serba internet seperti sekarang, Zoom atau Skype menjadi sangat populer, tetapi saya sangat tidak familiar dengan hal-hal seperti itu.  Saya juga lebih suka piringan hitam sebagai pasokan utama musik saya dibandingkan CD atau streaming, mobil pun saya suka yang manual; pada akhirnya saya kembali ke analog. Maka dari itu, radio adalah hal yang sangat pas. Sesuai dengan selera saya.

INTERVIEWER

Apakah Anda sudah menemukan kembali letak keseruan radio setelah mencoba siaran?

HARUKI MURAKAMI

Saya memiliki ketertarikan terhadap cara berkomunikasi dengan musik dan suara, bahkan bagi saya seolah sedang menyusun esai menggunakan suara. Saya tidak piawai berbicara, dan tidak begitu suka bertutur lisan. Tapi bisa bercakap-cakap dengan orang lain lewat mikrofon dan gelombang radio terdengar menarik. Beberapa buku saya yang terbit berisi rangkuman korespondensi antara saya dan pembaca melalui situs web pribadi saya, nah, barangkali radio adalah seperti versi alih media buku tersebut menjadi suara.

Sudah Saatnya Mencoba Hal Lain

INTERVIEWER

Di samping pilihan lagu-lagu unik dari beragam genre mulai dari pop hingga jazz dan klasik; penceritaan Anda yang kaya tema, misalnya terkait tembang dan musikus, serta diselipi humor merupakan daya tarik tersendiri bagi para pendengar.

HARUKI MURAKAMI

Tujuan utama saya adalah memutar musik yang tidak diperdengarkan di acara lain. Namun berdasarkan hasil riset pasar, 80% dari pendengar radio mendengarkan dan minta diputarkan lagu J-pop. Karena itu, apapun yang terjadi, lebih dari 80% acara radio akan memutar lagu-lagu J-pop yang sedang tren. Tapi itu ‘kan jadi tidak menarik. Saya mengincar sisa pangsa yang 20% itu (tertawa). Kalau dilakukan dengan baik, pasti akan tampak hasilnya. Bagi saya yang terpenting adalah menimbulkan kesan mengayomi, misalnya pendengar merasa tenang setelah mendengar cerita saya sembari menikmati lagu-lagu pilihan saya. Ketika saya SMA, ada seorang kritikus jazz bernama Isono Teruo, yang juga seorang DJ suatu program request lagu melalui telepon di Radio Kansai. Ia selalu memutarkan lagu pop, tapi ketika kadangkala ia memutar lagu jazz, ia akan menjelaskannya dengan sepenuh hati. Saya merasa senang saat mendengar penjelasan tersebut, dan pelan-pelan saya menyukai jazz. Hal-hal seperti itu menjadi sangat penting dalam musik. Kalau penjelasan disampaikan dengan cukup baik—misalnya lagu ini seperti ini, jadi akan lebih bagus kalau dibuat begini karena seperti ini—,  begitu lagu diputar, pendengar pun akan mendengarkannya dengan sungguh-sungguh.  Komunikasi seperti itulah yang penting.

INTERVIEWER

Pada bulan Juni 2019, digelar perekaman program Murakami JAM. Selama acara berlangsung, Anda menjawab dengan penuh semangat pertanyaan dari pendengar sehingga meninggalkan kesan akrab dan dekat.

HARUKI MURAKAMI

Sebagian besar respons yang masuk bernada positif. Apabila dibandingkan dengan televisi, jumlah respons untuk radio tidak terlalu banyak, tetapi itu saja sudah sangat mampu memberikan kesan akrab. Banyak request yang meminta agar diputarkan lagu klasik, jadi saya berencana akan menghadirkan senarai pilihan lagu klasik di waktu mendatang. Semacam ‘lagu klasik indah yang dapat didengarkan dalam 5 menit’.

INTERVIEWER

Kadangkala Anda berkisah juga tentang penulisan novel, tentu pembaca Anda tidak boleh melewatkan acara ini.

HARUKI MURAKAMI

Saya tidak ingin terlalu sering mempromosikan karya saya, tapi kalau ada pertanyaan yang masuk, saya akan menjawabnya. Saya menjadi penulis pada usia 30 tahun, saya menulis novel sembari mengelola bar; dan dua tahun setelahnya menulis menjadi keahlian saya. Saat itu, saya sudah membulatkan tekad dalam hati bahwa saya tidak akan melakukan hal lain selain menulis prosa. Karena itulah saya tidak muncul di media mana pun, tidak memasang wajah di sampul, tidak mengajar; saya membatasi diri dari aktivitas di luar menulis prosa. Selama 40 tahun hingga usia saya hampir 70 tahun, saya hanya menulis karangan. Lalu begitu usia saya lewat dari 70 tahun, prinsip saya mulai melonggar (tertawa). Itu muncul karena keinginan saya untuk bisa menulis lebih baik sangat kuat sehingga memutuskan untuk tidak melakukan hal lain di luar itu. Saat berada pada suatu titik tertentu di mana saya bisa menuliskan apa yang ingin saya tulis, hati saya mulai terbuka untuk mencoba hal-hal lain.

INTERVIEWER

Sejak dua tahun lalu, diselenggarakan konferensi pers mengenai pembentukan MurakamiLibrary di Universitas Waseda, kemudian pembukaan pertemuan pembacaan karya. Anda jadi lebih sering tampil di muka publik. Apakah usia menjadi salah satu latar belakangnya?

HARUKI MURAKAMI

Usia menjadi salah satu pertimbangan yang besar. Saat ini pun, tentu saja menulis menjadi aktivitas utama saya, tetapi saya merasa senang jika bisa mengobrol dengan orang-orang lewat cara yang berbeda.

Besarnya Kekuatan Musik

INTERVIEWER

Pada Murakami RADIO yang disiarkan pada bulan April, di awal acara Anda menyinggung tentang betapa pahitnya orang-orang yang terpaksa menutup toko-tokonya sebagai akibat meluasnya pandemi COVID-19.  Lalu pada bulan Mei, siaran program khusus Anda bertajuk “Stay Home Special” yang berdurasi 2 jam disiarkan, dan Anda memutar lagu-lagu yang ‘memberi semangat’ dan ‘menenangkan hati’. Konten programnya sangat menggugah. Bagaimana perasaan Anda saat melakukan siaran itu?

HARUKI MURAKAMI

Menurut saya, musik punya kekuatan yang cukup besar. Saya tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang COVID-19 dan tidak begitu paham apa yang seharusnya saya lakukan, tetapi di program khusus berdurasi 2 jam itu saya memutar beragam lagu, dan banyak tanggapan yang masuk dari para pendengar bahwa perasaan mereka menjadi lebih ringan, mereka bisa lebih bertahan, atau lebih bernyali. Saya sendiri juga bercuap-cuap sambil mendengarkan lagu-lagu itu, lalu perlahan-lahan hati saya menjadi lebih cerah dan entah mengapa jadi lebih tegar. Memang itu hanya perkara pikiran saja dan sebenarnya tidak ada yang berubah dari situasi yang sedang terjadi, tetapi suatu musik yang bagus rupanya bisa mewujudkan hal-hal tadi. Saya percaya akan adanya kekuatan semacam itu. Sementara itu, dukungan dan dorongan yang disampaikan lewat kata-kata tidak akan bertahan lama, karena perlu logika untuk kata-kata. Nah, musik bisa melampaui logika. Musik adalah sesuatu yang membuat orang berbagi perasaan yang sama; dan kekuatan itu, kekuatan untuk bersimpati, cukup besar bagi saya. Mirip seperti novel. Sekeras apapun usaha kita untuk menjelaskannya dengan logika, ia tidak akan masuk ke hati. Yang lebih besar adalah kekuatan kisahnya yang secara tidak langsung mengajak pembaca untuk merasakan hal yang sama, walaupun mungkin memerlukan waktu yang lebih lama. Karena itu, pada prinsipnya saya menganggap musik sama dengan proses menulis novel.

INTERVIEWER

Hanya efek langsungnya saja yang berbeda, ya.

HARUKI MURAKAMI

Betul. Saya tidak begitu mempercayai sebuah pernyataan. Mungkin ada orang yang justru terkesan, tapi bagi saya kesan yang ditinggalkan tidak lama dan kuat. Maka bagi saya yang ideal adalah dengan memilih sekian lagu, memutar kombinasi pilihan saya tadi, dan berharap semoga pendengar memahami apa yang saya sajikan sebagai suatu paket tanpa menjelaskan pesan di baliknya. Saya sendiri tidak tahu seberapa jauh pesan itu tersampaikan (tertawa), tapi harapan saya semoga pesannya sampai. Tetapi cukup banyak respons positif yang masuk dari siaran tersebut.

INTERVIEWER

Pada siaran program khusus tersebut, Anda berujar bahwa orang-orang yang jadi lebih tertutup, serta negara dan daerah yang menutup wilayahnya adalah suatu hal yang menakutkan.

HARUKI MURAKAMI

Pada zaman sekarang ini media sosial yang membatasi jumlah karakter yang ingin disampaikan, misalnya Twitter—yang dipakai juga oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump—, menjadi salah satu pusat penyebaran pesan. Menurut saya mustahil bisa mengatakan apa yang ingin kita sampaikan dalam tulisan sependek itu. Jadi saya ingin mengungkapkan tidak dengan cara seperti itu.

INTERVIEWER

Pada saat rekaman untuk episode berikutnya, di akhir acara Anda menarik kata-kata tentang propaganda Hitler, lalu membahas tentang ketidaknyamanan atas gencarnya orang-orang yang lebih menyerukan perasaan, bukan pemahaman.

HARUKI MURAKAMI

Ada waktu-waktu tertentu ketika saya ingin mengungkapkan pesan ala saya sendiri. Saya tidak ingin banyak bicara tentang isu-isu sosial, tapi saya tetap  harus sedikit-sedikit membahas tentang itu. Meskipun saya tidak melakukannya dengan ngotot, tapi saya ingin bilang bahwa beginilah pendapat saya. Saat ada aksi pergerakan mahasiswa sekitar tahun 1960—1970, saya berpegang pada kata-kata, perlahan-lahan hidup dengan bertahan pada kata-kata; tetapi saya benci pada kondisi seperti itu karena takut. Pada akhirnya, masa-masa itu telah lewat, dan kata-kata itu seluruhnya menjadi lenyap; sebab itu hanyalah kata-kata. Tidak ada yang bertanggung jawab. Setelah melihat semuanya dengan mata kepala sendiri, timbul keinginan kuat untuk bisa mengungkapkan peringatan atas kata-kata seperti itu, tidak peduli kiri dan kanan. Terutama pada masa-masa genting, ada kemungkinan orang-orang akan bergerak ke arah yang tidak seharusnya, misalnya saat pembantaian massal orang Korea setelah gempa besar di wilayah Kanto tahun 1923. Menurut saya, tugas medialah untuk bisa menenangkan ketegangan di masyarakat.

INTERVIEWER

Apa peran sastra dan musik dalam situasi bencana seperti perang, bencana alam, atau pandemi?

HARUKI MURAKAMI

Menurut saya, ada. Tapi sulit untuk mengatakan bahwa baik musik maupun sastra punya pengaruh secara langsung. Bagi saya, di tengah kondisi seperti saat ini, menulis novel atau membuat lagu yang seperti apa, keduanya memiliki arti tersendiri. Saya lebih tertarik dengan karya apa yang dihasilkan dalam kondisi sekarang, dibandingkan dengan apa manfaat atau bagaimana relevansi karya tersebut. Kalau saya punya program seperti ini lalu bisa mengutarakan hasil pikiran saya, menurut saya tidak ada masalah. Poin yang sangat saya perhatikan ketika siaran radio adalah bagaimana agar tidak terkesan sombong dan tinggi.  Saya membayangkan berdiri di ketinggian yang sama dengan para pendengar, lalu mata kami bertemu saat mengobrol. Orang tidak akan mendengar kalau saya berbicara seperti sedang memandang rendah mereka. Saya ingin berbicara dengan nada, “beginilah pendapat saya, bagaimana menurut Anda?”. Ketika menulis esai saya selalu menulisnya dengan nada seperti itu. Semoga saat siaran radio pun saya bisa mendekati demikian.

INTERVIEWER

Novel karya Haruki Murakami paling banyak dicuri di Toronto, Kanada. (AFP PHOTO / KAZUHIRO NOGI)

Lebih dekat dengan esai daripada novel?

HARUKI MURAKAMI

Benar. Ketika menulis novel, pada dasarnya saya menulis apa yang saya inginkan; saya tidak terlalu memikirkan bagaimana opini pembaca. Tapi tidak demikian dengan esai dan siaran radio. Saya termasuk orang yang tidak begitu mudah bersosialisasi dengan orang lain secara personal, tetapi radio justru memberi kesan akrab.

INTERVIEWER

Murakami Library di Universitas Waseda rupanya akan dibuka tahun depan, ya.

HARUKI MURAKAMI

Prinsipnya adalah seluruh buku, piringan hitam, dan dokumen-dokumen saya akan diangkut secara bertahap. Saya ingin instalasi ini akan dapat digunakan berulang kali, bukan pameran sekali saja. Misalnya piringan hitam dan CD yang bisa diputar untuk penyelenggaraan konser secara berkala, peminjaman materi yang ingin didengar, pemanfaatan ruang seminar yang semakin sering, atau penggunaan oleh para peneliti asing yang datang ke Jepang untuk meneliti budaya Jepang dan sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan saya. Intinya, dipakai berulang kali. Saya ingin ini berbeda dengan museum sastra yang ada di banyak tempat, jadi perpustakaan ini bisa lebih dimanfaatkan secara nyata sebagai sebuah bangunan. (*)

*) Artikel diterjemahkan dari bahasa Jepang oleh Wahyu Widya. Beberapa terjemahannya diunggah di blog pribadinya di wahyudhea.blogspot.com, pernah juga sekali dimuat di web Birokreasi (yang kini sudah mati). Dapat dihubungi via surel di alamat wehaye19@gmail.com. |  Diterjemahkan dari artikel yang dimuat pada tanggal 10 Juli 2020 di Mainichi Shimbun, diakses dari https://mainichi.jp/articles/20200709/k00/00m/040/119000c

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending