Connect with us

Cerpen

Gabriel Garcia Marquez: Monolog Isabel Memandangi Hujan di Macondo

mm

Published

on

Gabriel Garcia Marquez*

Musim dingin jatuh pada suatu Minggu saat orang keluar dari gereja. Sabtu malam udara sudah terasa menyesakkan. Namun, hingga Minggu pagi tak seorang pun menduga akan turun hujan. Seusai misa, sebelum kami kaum wanita sempat menemukan gagang payung kami, angin tebal gelap berhembus dengan pusaran luas menyapu debu dan sampah berat bulan Mei. Seseorang di sebelahku berucap: “Ini angin basah.” Dan itu sudah kuketahui sebelum terjadi. Saat kami berjalan keluar, di tangga gereja kurasakan mual menggoncang perutku. Para pria berlarian ke perumahan terdekat dengan satu tangan memegang topi dan tangan lainnya memegang sapu tangan, berlindung diri dari debu dan angin. Lalu hujan turun. Dan langit bagaikan zat kental kelabu yang mengepakkan sayap-sayapnya setengah depa di atas kepala kami.


One Hundred Years of Solitude mengisahkan tentang naik turunnya, kelahiran dan kematian kota mitos Macondo melalui sejarah keluarga Buend. Penuh dengan kehidupan, menghibur, magnetis, sedih, dan berkisah tentang hidup pria dan perempuan yang tak terlupakan—penuh dengan kebenaran, kasih sayang, dan sihir liris yang menyerang jiwa—novel ini adalah mahakarya seni fiksi.

Sepanjang sisa pagi itu aku dan ibu tiriku duduk dekat pagar, merasakan bahagia bahwa hujan akan menyegarkan lagi kuntum-kuntum rosemary dan nard yang dahaga di pot-pot bunga, setelah tujuh bulan menjalani musim terik dan debu membakar. Pada tengah hari gaung bumi berhenti dan aroma tanah yang berganti, tetumbuhan yang bangkit dan hidup kembali, bergabung dengan hawa sejuk dan segar dari hujan yang jatuh di kuntum-kuntum rosemary. Sewaktu makan siang ayahku berkata: “Hujan di bulan Mei adalah suatu pertanda akan datang masa yang baik.” Sambil tersenyum, dilintasi berkas cahaya musim baru, ibu tiriku berkata padaku: “Itulah yang kudengar dalam khotbah.” Dan ayahku tersenyum. Ia makan dengan lahap dan mengunyah makanan perlahan-lahan di samping pagar, diam, mata terpejam, namun bukan tidur, seakan ia membayangkan sedang bermimpi saat jaga. Hujan turun sepanjang sore dalam nada tunggal. Engkau dapat mendengar air jatuh dalam kekerapan yang seragam dan damai, seperti yang dapat engkau dengar saat engkau bepergian sore hari dengan kereta api. Namun, tanpa kami perhatikan, hujan merasuk terlampau jauh ke dalam perasaan kami. Senin dini hari, ketika kami menutup pintu untuk menghindari angin dingin menusuk yang berhembus dari halaman, perasaan kami sudah dipenuhi hujan. Dan Senin pagi air sudah meluap. Aku dan ibu tiriku menuju belakang rumah untuk melihat taman. Tanah kasar bulan Mei yang kelabu telah berubah dalam semalam menjadi zat hitam becek seperti sabun murahan. Tetesan air mulai meninggalkan pot-pot bunga. “Kukira pot-pot bunga itu telah mendapat air lebih dari cukup sepanjang malam,” gumam ibu tiriku. Dan kuperhatikan senyumnya sirna dan kesenangannya di hari sebelumnya telah berubah malam itu menjadi keseriusan yang memelas dan menjemukan. “Kukira engkau benar,” kataku. “Lebih baik menyuruh orang-orang Indian itu menaruh pot-pot itu di beranda sampai hujan berhenti.” Dan itulah yang mereka lakukan, ketika hujan menderas seperti pohon raksasa di atas pepohonan lainnya. Ayahku memandangi tempat ia berada pada Minggu sore, namun ia tak bicara soal hujan. Ia berkata: “Tadi malam aku pasti tak nyenyak tidur sebab aku bangun dengan punggung terasa pegal.” Dan ia ada di sana, duduk di samping pagar dengan kaki di atas kursi dan kepala menghadap ke taman yang kosong. Baru pada petang hari, setelah ia menolak makan siang ia berucap: “Kelihatannya langit takkan pernah cerah lagi.” Dan aku ingat bulan-bulan yang panas. Aku teringat bulan Agustus, tidur siang yang panjang dan gundah di mana kami merebahkan tubuh untuk mati di bawah beratnya hawa panas, pakaian lengket ke tubuh, mendengar hiruk-pikuk di luar yang terus-menerus dan dungu dari waktu yang tak pernah berlalu. Kulihat dinding-dinding basah kuyup, sambungan-sambungan balok memuai oleh air. Aku melihat ke taman kecil, kosong mula-mula, dan rumpun melati pada dinding, yang setia pada kenangan akan ibuku. Kulihat ayahku duduk di kursi goyang, punggung sakitnya bersandar pada sebuah bantal, dan mata dukanya tersesat ke dalam labirin hujan. Aku teringat malam-malam bulan Agustus, keheningannya yang menakjubkan, tak sesuatu pun terdengar selain suara ribuan tahun bumi, yang berputar pada porosnya yang berkarat dan tak berpelumas. Tiba-tiba aku merasa dicengkam nestapa tak terperi.

Hujan turun sepanjang Senin, sebagaimana hari Minggu. Tapi, kini seakan hujan turun dengan cara lain, sebab sesuatu yang berbeda dan getir terjadi dalam hatiku. Pada petang hari sehembus suara di samping kursiku berkata: “Hujan ini sungguh menjemukan.” Tanpa menoleh, kukenali suara Martin. Aku tahu ia berkata di kursi sebelah, dengan ungkapan dingin yang sama dan menggiriskan yang belum berubah, bahkan belum berubah sejak fajar Desember yang muram, saat ia mulai menjadi suamiku. Lima bulan telah berlalu semenjak itu. Kini aku akan mempunyai seorang anak. Dan Martin di situ, di sampingku, berkata bahwa hujan membuatnya jemu. “Bukan menjemukan,” kataku. “Bagiku terasa menyedihkan, melihat taman yang kosong dan pohon-pohon ranggas yang tak bisa berlindung dari hujan.” Lalu aku menoleh ke arahnya dan Martin tak lagi di sana. Hanya sebersit suara berkata padaku: “Tampaknya takkan pernah cerah lagi,” dan ketika kutoleh ke arah suara itu hanya kudapati kursi kosong.


No One Writes to the Colonel
Ditulis dengan realisme dan kecerdasan welas asih, kisah-kisah dalam koleksi yang memikat ini menggambarkan perbedaan kehidupan kota dan desa di Amerika Selatan, tentang kenangan dan ilusi akan ruang antara yang sangat miskin dan terlampau kaya, serta peluang yang hilang dan kegembiraan saat ini. Jumat selalu berbeda. Setiap hari dalam seminggu, Kolonel dan istrinya yang sakit berjuang terus-menerus melawan kemiskinan dan kehidupan yang monoton,  mereka mengumpulkan sisa-sisa tabungan mereka untuk makanan dan obat-obatan yang membuat mereka tetap hidup. Tetapi pada hari Jumat, tukang pos datang – dan itu memberi gelombang harapan yang sekilas mengalir melalui hati Kolonel yang menua.

Selasa pagi kami temukan seekor lembu di taman. Tampak bagai sebongkah lempung dari tanah semenanjung dalam kekerasan dan kelembamannya yang meronta. Kukunya membenam ke dalam lumpur dan kepalanya merunduk. Sepanjang pagi itu orang-orang Indian berusaha mengusirnya dengan tongkat dan batu. Namun, ia tetap bertahan di sana, tak terusik di tengah taman, keras, tak tergugat, kukunya masih membenam di lumpur dan kepalanya yang besar seakan dipermalukan oleh hujan. Orang-orang Indian itu mengusiknya hingga kesabaran ayahku menyuntuk batas. “Tinggalkan saja,” katanya. “Ia akan pergi sebagaimana ia datang.”

Saat matahari tenggelam di hari Selasa, air terasa menegang dan melukai, seperti selembar kafan di atas hati. Kesejukan awal pagi mulai berubah menjadi kelembaban yang panas dan lengket. Suhu tidak panas atau dingin; suhu panas-dingin. Kaki berkeringat di dalam sepatu. Sulit untuk mengatakan mana yang lebih menggeresahkan, kulit telanjang atau baju yang lekat pada kulit. Di rumah semua kegiatan sudah berhenti. Kami duduk di beranda, namun kami tak lagi memperhatikan hujan seperti pada hari pertama. Kami tak lagi merasakan hujan turun. Kami tak melihat apa pun selain sketsa pepohonan di tengah kabut, dengan sebuah mentari terbenam yang murung dan terasing yang meninggalkan di bibirmu rasa seperti ketika engkau terbangun dari sebuah mimpi tentang orang asing. Aku tahu waktu itu Selasa, dan aku ingat si kembar asuhan Santo Jerome, dua gadis buta yang datang ke rumah tiap pekan dan menyanyikan untuk kami lagu-lagu sederhana. Aku tergetar oleh kegetiran dan keagungan yang rawan dari suara mereka. Di atas hujan kudengar nyanyian kecil si kembar buta, dan aku membayangkan mereka berada di rumah, berkumpul, menunggu hujan reda hingga mereka bisa pergi dan bernyanyi. Kukira si kembar Santo Jerome tak bisa datang hari itu. Juga perempuan pengemis yang datang tiap Selasa takkan berada di beranda usai waktu tidur siang untuk meminta cabang baka jeruk balsam.

Hari itu kami kehilangan selera makan. Pada jam tidur siang ibu tiriku menghidangkan sepiring sup hambar dan sepotong roti basi. Meski sebenarnya kami belum makan sejak terbenam matahari pada hari Senin, dan kukira sejak itu kami berhenti berpikir. Kami lunglai, terbius hujan, menyerah pada amuk alam dengan sikap pasrah dan damai. Hanya lembu itu yang bergerak di sore hari. Tiba-tiba semacam suara garau menggoncang jeroannya, dan kuku-kukunya menghunjam ke lumpur dengan tenaga lebih dahsyat. Lalu ia diam berdiri selama setengah jam, seakan sudah mati, tapi tak terjerembab sebab kebiasaan untuk bertahan hidup mencegahnya, kebiasaan untuk bertahan dalam satu posisi di tengah hujan, sampai kebiasaan itu menjadi lebih lemah ketimbang berat tubuhnya. Lalu ia menggandakan tenaga pada kaki depannya (pangkal pahanya yang hitam dan berkilap masih tegak dalam upaya terakhir yang sangat menyiksa) dan moncongnya yang berliur menyungkur ke dalam lumpur. Dan akhirnya ia menyerah pada berat tubuhnya sendiri, dalam sebuah upacara maut yang sunyi, bertahap, dan bermartabat. “Ia telah berusaha sampai sejauh itu,” seseorang berucap di belakangku. Dan aku berpaling untuk melihat: di ambang pintu masuk kulihat perempuan pengemis hari Selasa telah datang menerobos badai untuk meminta cabang jeruk balsam.

Mestinya pada hari Rabu aku sudah terbiasa dengan suasana mengharu biru itu seandainya di ruang tamu tak kujumpai meja yang dipepetkan ke tembok, dengan perabotan bertumpuk di atasnya, dan pada bagian lain, di atas dinding pembendung yang dibuat sepanjang malam, teronggok kopor dan kotak perkakas rumah tangga. Pemandangan itu menghadirkan di hatiku perasaan kosong yang memiriskan. Sesuatu telah terjadi sepanjang malam itu. Rumah berantakan; orang-orang Indian Guajiro, tak berbaju dan telanjang kaki, celana digulung hingga lutut, mengangkati perabotan ke ruang makan. Pada air muka mereka, pada kerapian kerja mereka, orang dapat melihat kebengisan pemberontakan mereka yang sia-sia, dari kenistaan yang niscaya dan memalukan di tengah hujan itu. Aku bergerak tanpa tujuan, tanpa kemauan. Aku merasa bagaikan sehamparan padang rumput terpencil bersemai ganggang dan lelumutan, dengan jamur payung yang lembut, lengket, dan subur oleh tetumbuhan menjijikkan yang muncul dari kelembaban dan kegelapan. Di ruang tamu aku sedang merenungi pemandangan gurun perabotan rumah yang berantakan ketika kudengar suara ibu tiriku mengingatkanku dari kamarnya bahwa aku bisa terserang radang paru-paru. Saat itu barulah kusadari bahwa air telah naik ke mata kakiku, bahwa rumah kebanjiran, lantai tertutup tebal permukaan air pekat yang menggenang.

Rabu tengah hari, fajar belum berlalu. Dan sebelum pukul tiga sore, malam telah hadir sempurna, mendahului waktu dan kuyu, dengan kelambanan yang sama, menjemukan, diiringi irama bengis hujan di halaman. Sebentang petang yang hadir sebelum waktunya, lembut dan murung, hadir di tengah kesunyian orang-orang Guajiro, yang berjongkok di atas kursi-kursi menghadap tembok, kalah dan tak berdaya melawan amuk alam. Itulah yang terjadi saat berita mulai tiba dari luar. Tak seorang pun membawanya ke rumah ini. Tiba begitu saja, tepat, sendiri, seolah dihanyutkan oleh lempung cair yang menyusuri jalan-jalan dan menyeret segala perkakas rumah tangga bersamanya, benda-benda dan kian banyak benda, sisa-sisa dari sebuah bencana yang jauh, sampah dan bangkai binatang. Berita tentang peristiwa-peristiwa yang terjadi pada hari Minggu, ketika hujan masih dianggap sebagai pertanda musim keberuntungan, perlu dua hari untuk sampai di rumah kami. Dan hari Rabu berita itu tiba, seakan didorong oleh tenaga inti badai itu. Kemudian terkabar bahwa gereja terlanda banjir dan diperkirakan runtuh. Seseorang yang tak berkepentingan untuk mengetahui berkata malam itu: “Kereta api tak bisa melewati jembatan sejak Senin. Tampaknya sungai itu menghanyutkan rel.” Dan terdengar berita bahwa seorang wanita yang sedang sakit hilang dari ranjangnya, dan sore harinya ditemukan terapung di halaman.

Terbelit rasa ngeri, yang muncul dari jeri dan air bah, aku duduk di kursi goyang dengan kaki terlipat dan mata terpaku pada gelap kabut yang penuh isyarat suram. Ibu tiriku muncul di ambang pintu dengan lampu diangkat tinggi dan kepala tegak. Ia tampak seperti hantu penghuni rumah yang sama sekali tak membuatku takut sebab aku pun merasa gaib seperti dirinya. Ia berjalan menghampiriku. Kepalanya masih tegak dengan lampu menggantung di udara; dan ia mencipratkan air ke beranda. “Sekarang kita harus berdoa,” katanya. Dan kuperhatikan wajahnya yang kering dan keriput, seakan baru bangkit dari kubur atau seakan ia tercipta dari zat yang berbeda dengan tubuh manusia. Ia di seberangku dengan rosario di tangannya, berkata: “Sekarang kita harus berdoa. Air bah telah membongkari kuburan dan mayat-mayat malang kini mengapung di atasnya.”

Aku mungkin baru sebentar tidur malam itu ketika hawa anyir seperti bau bangkai menyentakku bangun. Kugoncang tubuh Martin yang mendengkur di sampingku. “Tidakkah kau rasakan?” tanyaku padanya. Dan ia berucap: “Apa?” Aku berkata: “Bau itu. Pasti mayat-mayat yang mengambang di sepanjang jalan.” Aku giris dengan pikiran itu, tapi Martin hanya memalingkan muka ke dinding dan dengan suara serak setengah tidur ia berkata: “Itu cuma pikiranmu sendiri. Wanita hamil memang selalu membayangkan macam-macam.”

Pada fajar hari Kamis bau itu lenyap, pemahaman tentang jarak sirna. Pengertian tentang waktu, yang mulai kacau sejak hari sebelumnya, telah hilang sama sekali. Lalu hari Kamis itu pun raib. Apa yang mestinya adalah hari Kamis kini menjelma sesuatu yang wadag, bahan lentuk-kenyal yang dapat dipisah-pisah menggunakan tangan demi memunculkan hari Jumat. Tak ada lelaki atau perempuan di sana. Ibu tiriku, ayahku, orang-orang Indian itu adalah tubuh-tubuh gemuk dan ganjil yang bergerak di rawa-rawa musim dingin. Ayahku berkata padaku: “Jangan pergi dari sini sampai kamu diberi tahu apa yang harus dilakukan,” suaranya jauh dan samar, dan seakan bukan untuk dicerap lewat telinga tapi lewat sentuhan, satu-satunya indera yang masih bekerja.


Leaf Storm
‘Tiba-tiba, bak puyuh menerjang di tengah-tengah kota, perusahaan pisang itu tiba, dikejar oleh badai daun’
Dibasahi hujan, kota itu mulai membusuk sejak perusahaan pisang pergi. Penduduknya menjengkelkan dan dingin, sehingga saat dokter itu – orang asing yang berakhir sebagai orag paling dibenci di kota – mati, tak ada seorang pun yang menangisinya. Tapi juga hidup di sana seorang Kolonel, yang terpaksa harus melaksanakan janji yang dibuat bertahun-tahun lalu. Sang Kolonel dan keluarganya harus mengubur dokter itu, kendati harapan para warga tetangganya agar mayat dokter itu terlupakan dan dibiarkan membusuk.

Namun, ayahku tak kembali. Ia tersesat di tengah cuaca. Karenanya saat malam tiba kuminta ibu tiriku menemaniku tidur di ranjang. Aku tidur pulas dan damai, menghabiskan malam itu. Hari berikutnya suasana masih sama, tak berwarna, tak beraroma, dan tanpa panas sedikit pun. Ketika terbangun, segera saja aku melompat ke kursi dan termangu diam di sana, sebab sesuatu mengatakan padaku bahwa masih ada satu wilayah kesadaranku yang belum sepenuhnya terjaga. Lalu kudengar kereta api melengking. Lengkingan panjang dan pilu kereta api yang lolos dari badai. Kukira, di mana-mana cuaca pasti sudah cerah. Dan sekelebat suara di belakangku seperti menjawab pikiranku. “Di mana?” katanya. “Siapa di situ?” aku bertanya sembari mencari-cari. Dan kulihat ibu tiriku dengan lengannya yang kurus panjang pada arah dinding. “Ini aku,” katanya. Dan kubertanya padanya: “Apa engkau dapat mendengarnya?” Dan ia menjawab ya. Mungkin cuaca sudah cerah di daerah pinggiran dan mereka akan memperbaiki rel. Lalu ia menyodoriku sebuah baki dengan sarapan pagi yang masih mengepul. Tercium aroma saus bawang putih dan mentega yang dididihkan. Sepiring sup. Masih nanar, kutanya ibu tiriku sudah jam berapa sekarang. Dan ia, dengan tenang, suara terasa pasrah tanpa daya, berkata: “Mestinya sekitar jam dua lewat tiga puluh. Kereta api toh tidak terlambat setelah semua ini.” Aku berkata: “Dua lewat tiga puluh! Bagaimana aku bisa tidur begitu lama?” Dan katanya: “Kamu tidur belum terlalu lama. Belum lagi lewat jam tiga.” Gemetar, aku merasa piring itu tergelincir dari tanganku. “Dua lewat tiga puluh hari Jumat,” kataku. Dan ia, dengan ketenangan yang menggiriskan: “Dua lewat tiga puluh hari Kamis, nak. Masih dua lewat tiga puluh hari Kamis.”

Aku tak tahu berapa lama aku berjalan-jalan dalam keadaan tidur di mana indera kehilangan nilai. Aku hanya tahu bahwa setelah rentang waktu yang tak terukur itu, terdengar suara di kamar sebelah, berkata: “Sekarang engkau dapat menggulung kasur itu ke sebelah sini.” Sebuah suara yang lelah, tapi bukan suara orang yang sedang sakit, lebih mirip suara orang yang mulai sembuh dari sakitnya. Lalu kudengar kemericik air. Aku masih terbujur kaku sebelum kusadari bahwa aku dalam posisi mendatar. Lalu kurasakan kekosongan yang teramat langut. Kurasakan di rumah ini kesunyian yang rawan dan bengis, kediaman yang menyeramkan, yang memengaruhi segalanya. Dan tiba-tiba kurasakan hatiku berubah menjadi sekepal batu beku. Kukira aku mati. Ya Tuhan, aku mati. Aku melompat ke ranjang. Aku berteriak: “Ada! Ada!” Martin dengan suara garau menjawab dari bagian lain. “Mereka tak dapat mendengarmu. Mereka sudah di luar sekarang.” Baru kusadari kini bahwa cuaca sudah cerah dan di sekitar kami hamparan kesunyian membentang, sehampar ketenangan, kekudusan yang wingit dan dalam, sebentuk suasana yang sempurna, menyerupai kematian. Sesaat terdengar di beranda langkah-langkah kaki. Suara hentakan kaki yang nyata dan hidup. Lalu sehembus angin dingin mengayun daun pintu, gagang pintu berderit, dan sesosok tubuh padat dan besar, senampak buah yang masak, jatuh membenam ke dalam kolam di halaman. Di udara menyeruak sesosok manusia gaib yang tersenyum dalam kegelapan. Ya Tuhan, pikirku, bingung oleh kekacauan waktu. Kini aku takkan terkejut lagi jika mereka datang mengajakku pergi ke Misa Minggu yang lalu.(*)

____

*) Gabriel Garcia Marquez: adalah Penulis peraih Nobel Kesusastraan asal Kolombia. Ia meraih Nobel Kesusastraan pada tahun 1982. Kamis 17 April 2014 ia telah meninggal dunia dalam usia 87 tahun. Karya Marquez yang paling terkenal adalah One Hundred Years of Solitude yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia, termasuk Bahasa Indonesia. Novel yang ditulisnya pada tahun 1967 itu sudah terjual lebih dari 30 juta buku di seluruh dunia dan meraih Nobel Kesusastraan pada tahun 1982. Beberapa novel lainnya yang juga mendunia antara lain Love in the Time of Cholera, Chronicle of a Death Foretold, dan The General in His Labyrinth. Gaya bertuturnya yang hidup dengan cerita mencampurkan kenyataan serta gaib menempatkan dia menjadi pelopor aliran sastra yang disebut realisme magis. Dia tinggal di Meksiko selama 30 tahun belakangan sampai wafatnya. Presiden Kolombia, Juan Manuel Santos, menyampaikan penghormatan kepadanya melalui Twitter. “One Hundred Years of Solitude dan kesedihan atas kematian warga agung Kolombia sepanjang masa.”

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Ada Hujan di Balik Pagar

mm

Published

on

Hujan itu ingin masuk ke rumah tetapi tidak bisa. Ia terkunci di luar pagar, sendiri dan kedinginan. 

***

Rumahku berada di salah satu komplek perumahan kelas menengah di Jakarta. Rumah tipe 36 ini terbilang cukup sederhana, berlantai dua. Dari luar, rumah ini terlihat mungil sekali. Ada taman sederhana di halaman depan. Taman itu dipenuhi bunga tapak dara warna-warni. Bunga kembang sepatu juga tampak menyembul di beberapa titik, membuatnya terlihat lebih asri.

Di komplek perumahan kami, hujan sesekali turun. Lucunya, hanya di rumahku hujan itu turun setiap hari. Kadang dia turun selepas matahari terbit, kadang di saat matahari tengah meninggi, kadang setelah langit gelap.

Biar begitu anehnya, aku suka hujan selalu turun di depan rumahku. Aku suka mendengarkan suara rintik-rintiknya. Aku suka melihat air hujan menetes dan meniupkan angin segar. Hal yang paling kusuka dari semua itu adalah aroma tanah yang basah karena air bersih dari langit menerpa tanah yang biasanya kekeringan. Sebuah pernyataan yang begitu klise. Namun, siapa yang  berani mengaku ia tak pernah jatuh cinta pada hujan?

***

Hari ini, tiba-tiba hujan ingin masuk ke rumahku. Ia mulai mendekati pagar dan ingin melewatinya hingga bisa ke dalam rumah. Sayangnya ada pagar itu, yang berdiri kokoh dan teguh. Pagar itu menjadi penghalang yang tidak membiarkan hujan masuk.

Aku keluar dari dalam rumah, menuju pagar dan memandangi hujan itu. Aku memandanginya dari bawah hingga ke atas langit. Betapa kompaknya mereka berkumpul hanya di depan pagarku. Rumah tetanggaku di kanan kiri dan depan belakang, semuanya kering sama sekali.

Seperti orang aneh, aku tiba-tiba merasa ingin berbicara dengan hujan. Aku mulai menjulurkan tanganku keluar pagar dan menyentuh bulir-bulir airnya. Dingin dan segar sekejap mengaliri sekujur tubuh. Di sisi lain, ada perasaan beku dan kesepian yang kurasakan ketika hujan menyentuh tanganku.

“Izinkan aku masuk”

Aku terkejut.

Saat menyentuh rintik-rintik hujan itu, aku merasa bisa mendengarnya berbicara. Dibanding ketakutan, aku lebih penasaran dan sungguh anehnya, nyaman.

“Kamu bicara padaku?”, aku menyahutinya pelan.

“Tentu aku bicara padamu. Tolong izinkan aku masuk”, hujan merajuk. Aku semakin merasa membeku mendengarkannya.

“Kenapa kamu ingin masuk kemari?”

“Aku kedinginan dan kesepian”.

“Tapi, kamu itu hujan. Kamulah yang mendatangkan rasa dingin kepada mahluk hidup yang kamu basahi. Kamu juga selalu datang bergerombol bersama titik-titik air lainnya. Bagaimana mungkin kamu kedinginan dan kesepian?”.

“Kamu tidak mengerti. Biarkan aku masuk dulu. Aku bisa jelaskan nanti”.

“Jelaskan dulu, baru aku bisa pertimbangkan apakah kamu boleh masuk ke rumahku atau tidak”

“Aku tidak bisa menjelaskannya kalau aku kedinginan seperti ini. Otakku membeku, aku tidak bisa berpikir. Biarkan aku masuk dulu untuk menghangatkan diri.”

“Tunggu, aku perlu pastikan dulu orang di dalam rumahku juga mau menerimamu masuk. Aku tidak tinggal sendiri”.

“Mereka tidak akan ada yang tahu ada aku di rumahmu. Tidak ada yang bisa melihatku selain kamu”.

Tunggu dulu. Jika hujan bicara begitu, apa itu artinya aku ini sedang berhalusinasi? Apa aku sudah gila sampai kuanggap diriku bisa mengobrol dengan hujan?

“Kamu tidak gila. Ayo cepat izinkan aku masuk ya? Kumohon?”, pungkas hujan tiba-tiba seolah bisa membaca isi pikiranku.

Ya sudahlah, aku rasa tidak ada ruginya membiarkan hujan masuk. Jika pun ini halusinasiku, biar gila dan gila lah aku sendiri. Toh hanya aku yang mungkin akan merugi. Toh juga gilaku hanya soal bicara dengan hujan. Bukan hal mengancam lainnya.

Aku buka gembok pagarku. Kubiarkan hujan masuk ke halaman. Ia membasahi taman dan seketika bunga-bungaku menjadi kegirangan dan segar. Mereka bahkan bermekaran tak terhingga secara tiba-tiba. Batang dan dedaunan tanaman tapak daraku merambat dengan cepat, naik hingga ke kanopi garasi rumah. Pohon bunga kembang sepatuku pun meninggi hingga melewati tembok pembatasku dengan dunia luar.

Hujan terus berjalan masuk. Kini ia berada di depan pintu utama rumahku. Aku di depan pintu, memegang gagangnya dan kemudian menengok ke belakang. Ada sebersit ragu dalam benakku. Kupikir, jika kubiarkan hujan masuk ke dalam, maka akan basah dan banjirlah rumahku satu-satunya ini.

Seolah lagi-lagi memahami isi pikiran dan keraguanku, hujan tiba-tiba meredakan rintiknya. Tak lagi deras, hujan kini menjadi gerimis halus yang tampak indah dan lembut. Saking halusnya, gerimis itu terasa bagai belaian kasih sayang ketika terkena bahuku. Aku yang meragu pun akhirnya membuka pintu dan menyilakan hujan masuk ke rumah.

“Silakan masuk. Duduklah di situ. Aku buatkan kau minuman”, kataku begitu sopan, persis seperti menyambut tamu manusia seperti biasa.

Segelas teh manis hangat kuhidangkan di meja. Hujan langsung menyeruputnya dengan cepat, sama sekali tanpa meniupnya terlebih dahulu. Ia meminum teh hangat itu dengan buru-buru seperti sedang dikejar sesuatu. Meski demikian buru-burunya, hujan juga terlihat begitu menikmati dan mensyukuri apa yang ia teguk.

“Wah, hangat betul. Terima kasih atas minumannya. Aku tidak pernah merasakan rasa lain selain tawar dan asin. Minuman yang kamu buat sangat menyegarkan dahaga dan menghangatkan kebekuan. Rasa manisnya benar-benar mengingatkanku pada masa kanakmu dulu”.

“Kamu tahu masa kecilku?”, tanyaku memastikan pernyataannya.

“Tentu aku tahu. Sejak dulu aku sudah ada untukmu. Aku sesekali datang di musim kemarau dan sangat rajin datang di musim penghujan. Setiap kali aku datang, kamu selalu menyambutku kegirangan. Bahkan kamu tidak peduli jika orang tua memarahimu karena bermain denganku terlalu lama.”, hujan berseloroh sambil tersenyum.

Aku terkesiap melihat senyumannya. Aku merasa senyuman itu tidak asing. Aku mengenali senyuman itu. Meski datang dalam tubuh hujan, aku kenal betul senyuman itu. Senyuman yang selalu memanggilku keluar rumah ketika usiaku belum masuk belasan tahun.

***

“Hore… Hujan!!! Akhirnya hujan juga! Bu… Pak.. aku keluar sebentar ya!”

“Jangan! Tidak boleh! Masa hujan sedang turun begini, kamu malah minta keluar!”

“Lho, memang apa salahnya, Bu. Hujan kan air bersih dari langit. Tuhan yang berikan untuk kita”.

“Masih kecil sudah sok paham soal Tuhan kamu. Pokoknya tidak boleh keluar! Nanti sakit!”

Hujan di luar semakin deras. Aku semakin cemas karena ibu dan bapak malah terus marah-marah. Dari sekadar meminta izin untuk main hujan, aku malah mendapat khotbah panjang. Ibu dan bapak malah berebut menyebutkan apa saja bencana dan penyakit yang bisa hujan datangkan pada manusia. Apalagi pada anak-anak sepertiku.

Padahal, jika kupikir lagi, hujan membawa berkah bagi manusia. Musim hujan ditunggu para petani yang selama musim kering tidak bisa memanen banyak. Hujan juga memberikan kehidupan karena membuat tanaman bertumbuh tak berhenti. Taman yang gersang menjadi subur, hutan yang kerontang menjadi gemuk.

Begitulah kumaknai hujan sebagai kebahagiaan. Sebagai anak kecil yang impiannya tidak muluk-muluk, tentu aku akan mengejar kebahagiaan agar bisa memudahkanku meraih mimpi. Berhubung hujan begitu dekat, hanya di luar pagar rumah, kenapa aku harus menahan diri.

“BRAK!”, pintu rumah kubanting tanpa sadar. Aku berlari menerpa tanah yang becek dan berjumpa dengan hujan. Aku melihat hujan tersenyum padaku, menyambut dan mengajakku bermain.

Sejak saat itu, aku selalu bermain di luar jika hujan datang. Aku tidak peduli sekalipun aku tidak punya teman bermain. Bagiku hujan adalah temanku. Aku selalu girang menyambutnya. Karena aku menjadi anak yang periang, ibu dan ayah pun akhirnya menyerah mencegahku bermain dengan hujan.

***

Kini usiaku menjelang tiga puluh. Hari ini hujan yang biasanya hanya berdiri di balik pagar, kubawa masuk ke rumahku dan kuhidangkan minuman hangat. Dia tersenyum padaku dan senyumnya membuatku teringat sesuatu.

Ketika usiaku semakin menua, aku sama sekali tak pernah menyambut hujan. Padahal dia datang setiap hari di depan rumahku. Alih-alih menyentuhnya sekali saja, aku malah menghindarinya dan menggunakan payung atau jas hujan jika terpaksa harus keluar rumah.

Aku masih mencintai hujan. Aku masih menyukai aroma segarnya, hawa dinginnya, cantik rintiknya, hingga merdu suara tetesannya. Hanya saja, aku tidak pernah menyapanya lagi. Aku tidak pernah menyerbunya sesemangat ketika aku masih kecil. Aku malah memilih untuk diam di dalam rumah jika melihat hujan. Aku malah memilih untuk menikmatinya diam-diam dari dalam, padahal ia menungguku selalu.

Teh manis hangat itu pun menjadi asin karena tetesan air matanya. (*)

*) Mycel Pancho—Penikmat kopi pahit. Sudah satu dekade menjadi pekerja teks komersial. Lahir di Jakarta, bertumbuh dewasa di Pulau Dewata dan kembali di ibu kota untuk menjadi tua. Sejak sekolah, pecinta teater ini gemar menikmati sastra dan menulis apa saja untuk tetap waspada. Satu puisinya pernah terbit dalam buku antologi puisi Tentang Angin (2007), produksi Teater Angin SMA 1 Denpasar.

Continue Reading

Cerpen

Keika Aku Melihatmu Mati

mm

Published

on

Oleh Mena Oktariyana

Tidak ada yang lebih menakutkan bagi Ali, selain melihat seseorang meregang nyawa di hadapannya. Malam itu, dia menyaksikan sendiri adiknya, Mono, tersiksa menghadapi sakaratul maut. Dilihatnya si Mono mengerang kesakitan dengan tubuh yang terus saja menggeliat di atas tempat tidurnya. Ali mendengar suara keluar dari kerongkongan adiknya, bagaikan orang yang sedang tercekik. Berulang kali dia membisikan ayat-ayat suci di telinganya sambil terus memegangi tubuhnya yang bergetar hebat itu. Dan, ketika getaran dan erangan itu berhenti, Mono sudah terbujur kaku dengan mulut dan mata yang terbuka lebar. Hawa di kamar itu seketika berubah menjadi begitu dingin menusuk. Malaikat maut seperti datang menghujani kamar itu dengan kegelapan dan kedinginan. Hujan dan petir di luar pun seperti bersekongkol untuk mengiringi kepergian adiknya. Ali menutup mata dan mulut Mono dengan tangannya yang gemetar. Dia ingin menangis, tapi tak bisa menangis. Ketakutan yang dia rasakan malam itu telah mengalahkan air matanya.

            Pintu rumah dibuka. Santi, istri Mono datang dengan kondisi basah kuyup sambil membawa kantong kresek yang berisi obat-obatan untuk suaminya.

            “Sial, sial, hujan lebat! basah semua bajuku ini. Tahu begini kan tadi aku bawa payung,” ucap Santi kesal.

            Dia menaruh obat-obatan itu di atas meja makan. Kemudian dia membuka pintu kamar dimana suaminya sedang terbaring, ditemani Ali yang sedang duduk di kursi samping tempat tidur. Karena dia tidak berani masuk ke dalam kamar dengan kondisinya yang basah kuyup, dia pun akhirnya menutup pintu kamar itu kembali dan berjalan menuju kamar mandi.

            “Ali, Al!” seru Santi dari balik kamar mandi. “Kamu kalo mau pulang, pulang saja ya. Aku sudah di rumah ini. Takutnya kamu kemalaman, nanti enggak dapat bus kamu.” lanjutnya sambil asik menggosok-gosok tubuhnya yang kotor dengan sabun. 

            “Makasih ya sudah mau nengokin si Mono. Aku tuh seneng, masih ada yang mau peduli sama saudara sendiri, tidak seperti saudara-saudaraku. Waktu aku kecelakan motor bulan kemarin, hemmm boro boro pada nengokin. Dikatain bego iya, gara-gara enggak becus bawa motor.”

            Beberapa saat kemudian, Santi keluar dari kamar mandi sambil mengusuk-ngusuk rambut basahnya menggunakan handuk. Lalu dia menuju kamar untuk mengambil sisir.

            “Loh, kok kamu masih disini? aku kira sudah pulang,” ucap Santi yang terkejut melihat Ali masih ada di kamar. “Ya sudah lah nanti aja kamu pulangnya, toh masih hujan juga di luar.” dia keluar kamar dan berjalan menuju dapur.

Dia membuka kulkas untuk melihat apa kira-kira yang bisa dia masak saat hujan deras begini. Tidak ada yang lebih enak selain makan sesuatu yang berkuah panas dan pedas saat hujan, pikirnya. Oleh karena itu dia mengambil sebungkus kwetiau kemasan, dua butir telur, sebungkus bakso, cabai, dan segala bumbu yang dia perlukan untuk memasak kwetiau kuah kesukaannya.

“Al, aku buatin kwetiau ya, kamu harus makan dulu sebelum pulang,” ucapnya sambil sibuk menyiapkan bumbu. “Oh iya Al, nanti tolong kamu bawa ya, pisang kepoknya. Pisang itu kesukaan istrimu. Di kebon belakang masih banyak, tadinya sih mau aku jual di pasar. Tapi, gimana ya, semenjak Mono sakit aku jadi susah buat ngapa-ngapain. Belum lagi kalau dia kambuh kejang-kejangnya. Repot lah pokoknya, aku tidak bisa tinggal dia lama-lama. Mau ngapain saja jadi susah.” ucapnya kesal.

Dua mangkuk kwetiau itu pun sudah siap untuk dihidangkan. Dengan perut keroncongan Santi membawanya ke meja makan.

“Al, makan dulu Al, sudah matang nih!” seru Santi kepada Ali yang masih berada di kamar.

Perutnya yang sudah lapar dari tadi, membuatnya langsung menyantap satu mangkuk besar kwetiau miliknya tanpa menunggu Ali. Dan sampai habis satu mangkuk kwetiau itu, Ali tidak juga datang ke meja makan.

“Ini orang kok dipanggilin nggak nyaut nyaut dari tadi, tidur apa gimana?” tanya Santi pada dirinya sendiri.

Lantas Santi membawakan satu mangkuk kwetiau untuk Ali itu ke dalam kamar. “Kamu aku panggil daritadi kok enggak jawab-jawab, nih dimakan,” katanya sambil memberikan semangkuk kwetiau kepada Ali. Namun Ali hanya terdiam sambil menangis.

“Lah, kenapa kamu nangis? tanya Santi bingung.

Dia melihat ke arah Mono yang dipikirnya sedang tertidur lelap. Dia hanya terdiam sambil melihat tubuh suaminya yang terbujur kaku dengan wajah pucat pasi. Tangannya gemetar, dia jatuh terduduk dan semangkuk kwetiau itu berserakan di lantai. Ali segera bangkit dari tempat duduknya dan berusaha menenangkan adik iparnya. Sadar suaminya telah mati, Santi menangis begitu hebat sambil berteriak memanggil-manggi suaminya.

Beberapa saat kemudian, tangisan itu berubah menjadi suara tawa yang menakutkan. Dilihatnya Santi sedang tertawa cekikikan sambil mengusap air matanya. Ali terkejut dan bingung. Dia tahu bahwa banyak orang menjadi gila karena ditinggal mati orang yang mereka cintai. Tapi, apa mungkin Santi bisa gila secepat ini, ucapnya dalam hati.

“Aku bebas! Aku bebas! sudah lama aku ingin dia mati!” teriak Santi sambil terus tertawa cekikikan.

Continue Reading

Cerpen

Tidak Ada Kunang-Kunang Malam Ini

mm

Published

on

Oleh: Khoirul Anam*

            Di samping rel kereta api, terdapat gubuk kecil berbilik bambu. Bagian atapnya terkadang bocor ketika hujan deras. Jika siang, seng itu bisa membuat orang di dalamnya merasa panas dan gerah. Tetapi bukan hanya satu gubuk, sepanjang rel dari selatan hingga utara ada lima—jaraknya berjauhan. Tempat yang strategis, agak jauh dari lingkungan warga.

            Untuk menuju ke sana, Sasha menempuh perjalanan sekitar satu jam setengah. Dia berangkat jam sembilan malam, bersama dua orang teman—di antaranya memiliki motor bodong—yang satu kontrakan. Setibanya mereka berpisah. Ada yang di ujung selatan, di tengah dan Sasha di utara. Dua germo—laki-laki bertubuh kekar dan perempuan dengan dada menyembul ke depan—menyambutnya.

“Sudah ada empat orang malam ini. Tiga lainnya menunggu di sana.” Perempuan itu menunjuk tiga bara api rokok, tidak terlalu jauh. Sasha menganguk dan tersenyum. Semenjak Rani dan Indah tak lagi bekerja, terkadang dia senang, terkadang sebaliknya. Pertama, karena dia mendapat uang lebih. Kedua, bagaimana mungkin dia mampu menemani banyak orang dalam satu malam, setiap hari. Tenang saja, sebentar lagi ada orang baru yang akan menemanimu, kata germonya. Setiap gubuk pasti ada yang menjaga, selain karena wanita di dalamnya bukan sembarangan, tentu agar transaksi mudah dan tidak ada kegaduhan. Tempat ini meski di samping rel dengan kondisi gubuk yang sederhana, tetap mengundang gairah banyak orang.

Namun, sekarang adalah malam yang sial bagi Sasha. Dia sudah berpesan kepada salah satu dari mereka akan pulang jam sebelas, tidak seperti biasanya—jam tiga-empat pagi. Kekasihku mengajak kencan, katanya. Tapi, apa boleh buat. Langganannya akan datang dan dia, harus menemaninya.

            “Barusan dia menelepon dan menanyakanmu. Bersiap-siaplah. Malam ini pasang wajah tercantikmu.” Perempuan itu—germonya— menjelaskan. Sasha mendengus menandakan penolakan.

“Dengar cantik, kamu mau jalan, temani pria itu. Dia akan memberi kita uang lebih jika kamu menemaninya.” Ucapan itu selalu terulang. Padahal Sasha sudah berkali-kali bilang, bahwa pria itu memacu dirinya dengan beringas.

Jelas, Sasha tidak bisa berkata apa-apa. Dia duduk di lawang pintu yang ditutup dengan karung jika ada seseorang masuk. Malam ini, seperti kebiasaan yang sering dia lakukan, matanya menatap kosong ke depan. Dari kejauhan, orang-orang hilir-mudik. Di sana tidak ada kunang-kunang yang bertengkar dengan lampu-lampu jalan. Melainkan, ditatapnya lekat kupu-kupu beterbangan, menemani malam kota yang pekatnya kental sekali. Lamunan itu terkadang buyar karena melintasnya kereta atau datangnya pria yang minta ditemani.

Saat ini, Sasha dengan terpaksa harus memuaskan nafsu bengis langgananya. Pria itu datang tiga-empat minggu sekali. Bayangkan saja, setiap Sasha melayaninya main, dia akan terkapar lemas. Kalau sudah begitu, tak bisa lagi dia menemani pria lain hingga pagi. Sasha mengambil ponsel dan mencari nama di sana. Dia menekan tobol hijau—memanggil.

“Sayang, mungkin aku sedikit telat malam ini. Tak apa, kan?” dia berdiri dengan langkah maju-mundur. Terdengar suara dengusan kesal dari seberang sana.

“Baiklah, sayang. Di tempat biasa, kan? Oke, kita bermalam di sana.” Telepon terputus. Dia kembali duduk di lawang pintu dengan gelisah. Selang beberapa menit, dia berdiri dengan kaki gemetar. Orang yang sedang bercakap dengan germonya pasti pria itu.

Sasha masuk dengan perasaan sangsi. Pria itu mengekori dari belakang. Karung yang tersingkap dia tutup, paku ditancapkan ke bilik bambu agar karung tidak diterpa angin malam.

            “Apa kabar, sayang. Sudah dua minggu aku tidak berkunjung kemari. Lagi banyak urusan. Kamu pasti kesepian, yah? Ayo jawab! Minggu depan aku perbaiki gubuk ini, memberinya selimut dan bantal. Tapi hanya untuk kita berdua.” Dia tertawa nyaring, satu kereta melintas membuat tawanya menciut.

            Sasha menggeleng-geleng seperti ketakutan. Dia tatap wajah di depannya. Pria tambun itu membuka kaus, ikat pinggang dan celana jeansnya. Satu tahi lalat agak besar di dagunya akan selalu Sasha ingat. Jika sewaktu-waktu dia bertemu dengannya di luar, mungkin Sasha akan memukul kepalanya dengan palu atau menyuruh orang bayaran.

            “Ayolah, cantik. Sekarang malam purnama, lihatlah di luar sana. Bulan memberkati kita untuk berpelukan hari ini.” Sasha menelan ludah. Pria itu memegang pundaknya. Satu ciuman di pipi kanan. Tanpa memberinya sedikit bernapas sejenak. Sasha terbujur paksa. Nyala remang-remang lampu senter kecil di dekatnya tak lagi dia rasakan.

***

Fajar, sudah muak dia duduk termangu sendirian. Telepon kekasihnya tidak dapat dihubungi. Sempat kesal dia karena tidak menjemputnya barusan. Dia pun memutuskan untuk bersabar menunggu. Ketika pertama kali menyatakan cinta padanya, jujur, dia bukan modus agar mendapatkan gratisan. Tetapi dia memang tertarik sejak awal melihatnya, di suatu senja, di taman kota. Fajar membuntutinya hingga tahu, bahwa wanita yang mengusik jiwanya setiap malam ada di sebuah gubuk kecil, di dekat rel kereta api.

Tempat itu tidak sama seperti yang pernah dia kunjungi. Meski gubuk kecil tapi bersih. Wanita di dalamnya menyenangkan mata bila dipandang, katanya saat nongkrong di warung kopi Ma Ijah. Di tempat lain, tak ada ketertarikan apa pun, dia hanya iseng. Ya, seperti kebanyakan anak muda. Hanya tawar-menawar, akhirnya tak jadi.

            Fajar tetap menaruh rasa, meski dia tahu wanita yang menjadi kekasihnya bekerja seperti itu. Entah karena landasan apa, Fajar hanya merasa nyaman setelah menjalin hubungan dengan Sasha sekitar satu tahun lebih. Dia pria pertama yang mengajak Sasha agar bersedia menjadi kekasihnya. Awal mula Sasha terkejut setelah menemaninya tidur. Brengsek, ini akal-akalan pria untuk bisa tidur gratis dengan embel-embel kasih sayang. Waktu itu, dia tidak memberi jawaban, hanya melempar senyum karena Fajar menidurinya dengan pelan, penuh kenikmatan.

            Hari berikutnya dia rutin datang ke sana hampir tiap minggu. Dan ternyata dugaan Sasha salah, dia kira Fajar akan mengajaknya tidur di hotel atau semacamnya. Tetapi, Fajar tetap berkunjung. Memberi uang pada germo. Dan, sesekali menyelipkan beberapa lembar di kutang Sasha.

            Sudah lama dia menunggu, giginya bergemeretuk geram. Dia meneleponnya lagi.

            “Halo, sudah berangkat, kah? Oke, aku tunggu.” Fajar memejamkan mata. Satu tarikan nafasnya panjang. Rokok dia selipkan di bibirnya. Kopi masih belum tersentuh.

***

            Purnama menyelimuti malam. Dua pasang kekasih duduk berhadapan. Sasha belum menjawab satu-dua pertanyaan. Nafasnya tak teratur. Setibanya Sasha melangkah dengan sedikit ngangkang, seperti kesakitan. Dia mengenakan Off Shounder Sweeter dengan bahu terbuka sedikit. Satu syal merah melingkari leher. Rambut diikat dan berponi, setengah lainnya tergurai ke belakang. Dia duduk dan memejamkan mata. Tiga kali pertanyaan berhasil membuyarkan lamunannya.

            “Sayang, kamu kenapa?” Fajar memegang tangan kekasihnya. Sasha membuka mata.

“Aku sudah tak kuat melayani pria tambun itu.” Matanya berkaca-kaca. Satu tangan mengusap kewanitaanya yang tertutup tas kecil.

            “Sial. Dia masih sering datang ke sana? Aku harus segera mencari orang bayaran untuk membunuhnya.” Kali ini nada bicaranya sedikit pelan, masih banyak orang di sekitar. Sasha menganguk-angguk, menyetujui. Pesanan dua sandwich dan satu kopi flat white datang. Sasha menatap wajah kekasihnya, dalam sekali.

            “Kamu masih ingat janji itu, kan? Apakah sungguh dengan perempuan sepertiku?”

            “Aku mencintaimu, Sayang!” kali ini bicaranya agak nyaring. Seseorang yang duduk di bangku sebelahnya menoleh. Sasha melekatkan jari terlunjuknya di bibir Fajar.

            “Suaramu membuat orang lain kehilangan konsentrasinya, sayang.” Mereka berdua tertawa liar.

            Bulan sudah dari tadi sempurna menggantung di langit. Obrolan semakin hangat. Fajar menanyakan kesediaan Sasha untuk bertemu keluarganya esok lusa. Setelah aku wisuda kita menikah, katanya. Aku sudah berencana merintis usaha desainer grafis dari awal, katanya lagi. Sasha tersenyum.

“Tadi di kutangku ada uang dari pria tambun-jelek itu,” dia berbisik pelan setelah hening saling tatap. Fajar dan Sasha tertawa liar.

            “Buang saja uang itu, nanti aku ganti yang lebih banyak.”

            Begitu bahagianya Sasha malam ini setelah ditindih penuh siksa. Sepasang kekasih, menikmati dua sandwich ditambah ketang balado. Selang beberapa menit, sayup-sayup terdengar suara sirine ambulans di parkir di pinggir jalan. Sasha melihat-lihat keluar. Apakah pemilik kafe sedang berduka? Satu orang pria dengan langkah tergesa masuk. Sasha menatap lekat pria itu. Tahi lalatnya? O, benarkah itu tahi lalat yang dia kenal? Dadanya bergemuruh.

            “Tiga sandwich, segera.” Pria itu memesan.

            “Ayah, sedang apa di sini?” suara Fajar membuatnya menoleh dan menghampirinya.

            “Owh, kamu. Ada warga terkena serangan jantung malam-malam seperti ini. Untung saja selamat. Sekarang perjalanan menuju pulang. Ibu menelepon, adikmu bangun meminta sandwich.” Ujarnya menjelaskan, tatapannya sesekali menusuk Sasha.

            “Oalah, maaf  Yah, biasanya Fajar yang membawakan sandwich itu buat Raihan. Malam ini mungkin pulang lebih larut.”

            “Ya sudah, tak apa.”

            “Perkenalkan, Yah. Wanita yang besok lusa akan aku bawa ke rumah. Cantik, bukan?”

            “Owh, ya. Wanita yang sempurna, kamu pandai memilih ternyata. Saya tunggu kedatangannya.” Dia melemparkan senyum pada Sasha, dadanya semakin kencang bergemuruh.

            Pelayan menyebutkan pesanan. Pria itu pamit dan keluar. Ambulans melaju tenang, suara sirine dimatikan. Sasha termangu, suara Fajar di depannya samar seolah tak terdengar. Di tempurung kepalanya akar-akar pohon upas mulai mengakar-meracun.

            Sasha menatap Fajar. Kuku-kupu yang sering dilihatnya bertengger di atas kepala kekasihnya.

Sampang 2020

Khoirul Anam, dia menulis cerita pendek. Pernah bergiat di Asoli (Asosiasi Literasi Indonesia) Bandung. Dan sekarang, berproses di Lesehan Sastra Kutub Yogyakarta (LSKY).

Continue Reading

Trending