© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Gabriel Garcia Marquez: Berjumpa dengan Ernest Hemingway

Gabriel Garcia Marquez*

Aku segera mengenalinya, lewat bersama Mary Welsh sang isteri di Boulevard St. Michel di Paris pada suatu hari berhujan musim semi tahun 1957. Ia berjalan di sisi lain jalan, ke arah Luxembourg Gardens, mengenakan celana koboi yang sangat usang, kemeja kotak-kotak dan sebuah topi pemain bola. Satu-satunya hal yang membuatnya tak tampak sebagaimana dia adalah kaca mata berbingkai logam, kecil dan bulat, memberi dia semacam roman kakek-kakek yang prematur. Ia berumur 59 tahun, dan tubuhnya besar serta nyaris sangat tampak, tetapi ia tak memberi kesan kekuatan brutal yang tak meragukan itu ia harapkan, karena pinggulnya sempit dan kakinya tampak sedikit mengurus di atas sepasang sepatu kasar penebang pohon. Ia tampak begitu hidup di tengah-tengah kios buku bekas dan di antara pemuda yang membanjir dari Sorbonne sehingga tidaklah mungkin membayangkan ia hanya tinggal empat tahun lagi hidup.

Selama sepersekian detik, sebagaimana selalu menjadi masalah, kutemukan diriku terbagi antara dua peranku yang saling bersaing. Aku tak tahu apakah memintanya untuk suatu wawancara atau menyeberangi jalan raya untuk mengungkapkan kekagumanku yang sepenuhnya pada dia. Namun dengan pertimbangan lain, aku menghadapi ketidakenakkan yang sama. Pada saat itu, aku bicara bahasa Inggris patah-patah yang berlanjut sampai sekarang, dan aku sangat tidak yakin dengan bahasa Spanyol petarung banteng-nya. Dan maka aku tidak melakukan keduanya yang dapat merusak suasana saat itu, namun tiba-tiba melengkungkan tangan di depan mulutku dan, seperti Tarzan di hutan, berteriak dari seberang ke seberang jalan: “Maaaeeestro!” Ernest Hemingway mengerti bahwa tak akan ada master lain di tengah-tengah gerombolan para pelajar, dan ia menoleh, mengangkat tangannya dan berteriak padaku dalam bahasa Castilian dengan suara yang sangat kekanak-kanakan, “Adiooos, amigo!” Itu satu-satunya saat aku melihat dia.

Suasana sekarang di salah satu sudut Boulevard St. Michel. Paris, (getty image)

Pada saat itu, aku seorang wartawan berumur 28 tahun dengan sebuah novel yang sudah diterbitkan dan sebuah hadiah sastra di Kolombia, tetapi aku terkatung-katung dan tanpa tujuan di Paris. Guru-guruku yang terbesar adalah dua novelis Amerika Utara yang hidup nyaris bersamaan. Aku telah membaca apa pun yang telah mereka terbitkan, tetapi bukan sebagai bacaan yang saling melengkapi – namun lebih sebagai dua yang berlawanan, dua perbedaan dan satu sama lain hampir merupakan bentuk-bentuk ekslusif pemahaman sastra. Satu dari mereka adalah William Faulkner, pada siapa aku tak pernah melihatnya dan yang hanya dapat aku bayangkan sebagai petani yang mengenakan kemeja merentangkan lengannya di samping dua ekor anjing putih kecil dalam potretnya yang terkenal karya Cartier-Bresson. Pengarang satunya lagi adalah orang barusan yang baru saja mengatakan selamat tinggal kepadaku dari seberang jalan, meninggalkan aku dengan kesan bahwa sesuatu telah terjadi dalam hidupku, dan telah terjadi untuk selamanya.

Aku tak tahu siapa yang mengatakan bahwa para novelis membaca novel karya orang lain hanya untuk memahami bagaimana mereka menulis. Aku percaya ini benar. Kami tidak puas dengan rahasia-rahasia yang tak tersembunyi di permukaan halaman: kami membolak-balik buku untuk melihat lapisan-lapisannya. Dalam satu cara tidaklah mungkin untuk diterangkan, kami membongkar buku itu untuk mendapatkan bagian-bagian esensialnya dan kemudian mengembalikannya bersama-sama setelah kami mengerti misteri-misteri kerumitan personalnya. Usaha ini membuat kecil hati pada buku-buku Faulkner, karena ia tak tampak memiliki suatu sistem organik dalam menulis, namun berjalan membabi-buta menembus alam biblikalnya, seperti sekumpulan kambing dilepas di sebuah toko kristal. Berencana membongkar satu halaman yang seperti ini, seorang akan memiliki kesan pegas dan sekrup berhamburan, dan tidaklah mungkin untuk meletakkannya kembali dalam keadaan sesungguhnya. Hemingway, sebaliknya, kurang inspirasi, kurang nafsu, dan kurang gila namun dengan kesederhanaan yang mempesona, meninggalkan sekrup seluruhnya tampak, seolah mereka berada dalam mobil barang. Mungkin dengan alasan itu Faulkner merupakan seorang penulis yang banyak berbuat bagi jiwaku, namun Hemingway adalah orang yang telah banyak berbuat bagi keterampilanku – tidak sungguh-sungguh bagi buku-bukunya, tapi bagi pengetahuannya mengenai aspek keterampilan dalam teknik menulisnya yang mengherankan.

 

Dalam wawancaranya yang bersejarah dengan George Plimpton di The Paris Review, (Hemingway) memperlihatkan bahwa kapan pun – berbeda dengan gagasan kreativitas Romantik – kesenangan ekonomi dan kesehatan yang baik kondusif untuk menulis; bahwa salah satu kesulitan yang utama adalah menyusun kata-kata dengan baik; bahwa ketika menulis menjadi sulit adalah baik untuk membaca kembali buku-buku sendiri, untuk mengingat bahwa hal itu memang selalu sulit; bahwa seseorang dapat menulis begitu lama ketika tak ada yang berkunjung dan tak ada telepon; dan tidaklah benar bahwa jurnalisme mematikan seorang penulis.

 

“Suatu ketika menulis menjadi keburukan utama dan kesenangan terbesar,” katanya, “hanya kematian dapat membuatnya berakhir.” Akhirnya, pelajarannya adalah penemuan bahwa setiap hari kerja seharusnya hanya dipotong ketika ia tahu di mana hari esok bisa memulainya kembali. Aku tak berpikir bahwa ada nasihat lain yang lebih berguna mengenai penulisan pernah diberikan. Inilah, tak kurang dan tak lebih, obat mutlak bagi momok para penulis yang paling mengerikan: pagi yang menyengsarakan menghadapi halaman kosong.

Seluruh karya Hemingway menunjukkan bahwa jiwanya brilian namun berumur pendek. Dan ini dapat dimengerti. Suatu tegangan internal seperti dia, tunduk pada dominasi teknik yang hebat demikian, tak dapat ditopang di dalam jangkauan-jangkauan luas dan beresiko sebuah novel. Ini sifatnya, dan kesalahannya adalah mencoba untuk melebihi batas-batas kehebatannya. Dan itulah mengapa segala sesuatu yang berlebihan lebih nyata padanya ketimbang pada para penulis lain. Novel-novelnya seperti cerita-cerita pendek yang melebihi proporsi, yang diisi terlalu banyak. Sebaliknya, segala sesuatu yang terbaik mengenai cerita-cerita (pendek)-nya adalah bahwa karya-karya itu memberi kesan sesuatu yang hilang. dan inilah justru yang menganugerahi misteri dan kecantikannya. Jorge Luis Borges, yang merupakan salah seorang penulis besar zaman kita, memiliki batas-batas yang sama, tetapi memiliki cita rasa untuk tidak mencoba melebihinya.

Tembakan tunggal Francis Macomber pada singa menunjukkan suatu anugerah besar sebagai suatu pelajaran berburu, namun juga sebagai suatu penyajian akhir teknik menulis. Dalam salah satu ceritanya, Hemingway menulis bahwa seekor banteng dari Liria, setelah menyeruduk dengan cepat dada sang matador, kembali seperti “seekor kucing menuju sebuah sudut.” Aku percaya, dengan segala kerendahhatian, bahwa pengamatan itu merupakan salah satu dari sedikit kedunguan penuh inspirasi yang hanya datang dari para penulis yang sangat berbakat. Karya Hemingway penuh dengan pengamatan sederhana dan mempesona seperti itu, yang menampakkan titik di mana ia menambahkan definisinya mengenai penulisan sastra: bahwa, seperti gunung es yang terapung, ada dasar yang sangat kuat yang menopang gunung itu yang merupakan satu per tujuh volumenya.

Ernest Hemingway membaca hasil karyanya yang baru selesai ditulis.

Kesadaran teknik tersebut tak diragukan lagi merupakan alasan Hemignway tak akan mencapai kegemilangan dengan novel-novelnya, tetapi dengan cerita-cerita pendeknya yang lebih disiplin. Membicarakan For Whom the Bell Tolls, ia berkata bahwa ia tak memiliki pertimbangan sebelumnya untuk mengkonstruksi buku, tetapi lebih dibuat-buat setiap hari sehingga menjadi panjang. Ia tak punya apa pun untuk mengatakan itu: sudah jelas. Sebaliknya, cerita-cerita pendek instannya yang memberi inspirasi tak dapat disangkal. Seperti tiga cerita yang ia tulis pada suatu sore bulan Mei di sebuah rumah penginapan kota Madrid, ketika suatu badai salju memaksa pembatalan suatu adu banteng pada perayaan San Isidro. Cerita-cerita tersebut, sebagaimana ia sendiri berkata pada George Plimpton, adalah The Killers, Ten Indians dan Today is Friday, dan ketiga-tiganya memukau. Sepanjang baris-barisnya, bagi cita rasaku, cerita di mana kekuataannya sangat ditekan adalah salah satu ceritanya yang paling pendek, Cat in the Rain.

Meskipun begitu, bahkan jika hal itu muncul menjadi suatu olok-olokan nasibnya, tampak bagiku bahwa karyanya yang paling mempesona dan manusiawi adalah salah satu karyanya yang paling tak sukses: Across the River and Into the Trees. Karya tersebut, sebagaimana ia nyatakan, diawali sebagai sebuah cerita pendek dan jadi tersasar ke dalam rimba mangrove sebuah novel. Sulit dimengerti begitu banyak retak-retak struktural dan begitu banyak kesalahan-kesalahan mekanik sastra dalam seorang teknisi yang bijaksana demikian – dan dialog begitu dibuat-buat, bahkan disusun, dalam karya salah seorang pandai emas yang begtiu brilian dalam sejarah sastra. Ketika buku itu diterbitkan tahun 1950, para kritkus menjadi galak namun salah jalan. Hemingway merasa terluka di mana ia begitu sakit hati, dan ia membela diri dari Havana, mengirimkan sebuah telegram penuh gairah yang tampak tak sopan bagi seorang pengarang terkenal. Tak hanya novel terbaiknya, itu juga merupakan yang paling personal, karena ditulis pada saat fajar di suatu musim gugur, dengan nostalgia pada tahun-tahun hidupnya yang tak dapat ditebus kembali dan suatu pertanda pedih tahun-tahun yang telah ia lewati. Tak ada di dalam bukunya ia meninggalkan begitu banyak dirinya, tidak juga ia menemukan – dengan segala keindahan dan kelembutan hati – suatu cara untuk memberi bentuk pada sentimen esensial karya dan kehidupannya; ketidakgunaan kemenangan. Kematian protagonisnya, seolah-olah begitu damai dan alami, merupakan sosok awal penyamaran bunuh dirinya sendiri.

Ketika seseorang hidup begitu lama dengan karya seorang penulis, dengan intensitas dan rasa sayang yang sedemikian rupa, seseorang terjebak tanpa suatu cara memisahkan fiksi dari realitas. Aku telah menghabiskan banyak jam berhari-hari membaca di cafe tersebut di Place St. Michel yang ia anggap baik untuk menulis karena tempatnya ramah, hangat, bersih dan bersahabat, dan aku selalu berharap untuk menemukan sekali lagi gadis yang ia lihat masuk pada satu hari yang buas, dingin dan berangin, seorang gadis yang begitu cantik serta tampak segar, dengan rambut dipotong secara diagonal menyilang wajahnya seperti sayap seekor elang. “Kau bagian dariku dan Paris bagian dariku,” ia menulis padanya, dengan kekuatan kepatutan yang keras hati sebagaimana dimiliki tulisannya. Aku tak dapat melalui Rue de l’Odeon No. 12 di Paris tanpa melihatnya dalam percakapan dengan Sylvia Beach, di dalam sebuah toko buku yang sekarang tak lagi sama, membunuh waktu sampai jam enam petang, ketika James Joyce mungkin akan mengantarkannya. Di padang rumput Kenya, melihatnya hanya sekali, ia menjadi pemilik banteng dan singa-singanya, dan pemilik rahasia-rahasia berburu yang paling terdalam. Ia menjadi pemilik petarung banteng dan petinju bayaran, artis-artis dan jago tembak yang hanya ada sesaat sementara mereka menjadi miliknya. Italia, Spanyol, Kuba – setengah dunia diisi dengan tempat-tempat yang ia ambil secara sederhana dengan menyebut mereka. Di Cojimar, sebuah desa kecil di dekat Havana di mana nelayan kesepian The Old Man and the Sea tinggal, ada sebuah tanda peringatan keberanian heroisnya, dengan patung dada bersepuh Hemingway. Di Finca de la Vigia, tempat pengungsiannya di Kuba, di mana ia tinggal sampai menjelang kematiannya, rumah itu tetap utuh di tengah-tengah pepohonan yang rindang, dengan koleksi bermacam-macam bukunya, tropi-tropi berburunya, meja menulisnya, sepatu orang matinya yang sangat besar, perhiasan yang tak terhitung dari seluruh dunia yang merupakan miliknya sampai ia mati, dan yang hidup tanpanya, dengan jiwa yang ia berikan pada mereka dengan magis kepemilikannya atas benda-benda itu.

Beberapa tahun yang lalu, aku masuk ke dalam mobilnya Fidel Castro – yang merupakan pembaca sastra yang kuat – dan di tempat duduk aku melihat sebuah buku bersampul kulit merah. “Ini guruku Hemingway,” Fidel Castro berkata padaku.

Sungguh, Hemingway terus menjadi tempat di mana orang berharap menemukannya – 20 tahun setelah kematiannya – waktu singkat yang abadi sebagaimana pada pagi itu, barangkali bulan Mei, ketika ia berkata “Adios, amigo” dari seberang jalan Boulevard St. Michel.

*Diterjemahkan oleh Eka Kurniawan dari versi bahasa Inggris Gabriel García Márquez Meets Ernest Hemingway.

 

Written by

Galeri Buku Jakarta (GBJ) merupakan portal berita literasi; “halaman kebudayaan” yang memuat dan menayangkan karya-karya tulis (literature) mau pun ragam karya seni lain dalam bentuk fotografi, video, mau pun lukisan dengan tujuan mendampingi proses pembangunan manusia Indonesia. Kirim karyamu ke email redaksi: galeribukujakarta@gmail.com Twitter @galeribuku_jkt

No comments

LEAVE A COMMENT