Connect with us

Interesting Literature

Five Fascinating Facts about Victor Hugo

mm

Published

on

Five fun facts about Victor Hugo, the celebrated author of Les Misérables

  1. He had an unusual technique for dealing with writer’s block. While he was writing – or trying to write – Les Misérables, Victor Hugo found himself suffering from colygraphia (that’s our suggested technical word for ‘writer’s block’). So he decided to take all his clothes off, take himself off to a room where he had only pen and paper for company, and force himself to write, without even the distraction of clothes to derail him from his task. His servants reportedly had orders that they weren’t to return his clothes to him until he had written something. He worked on Les Misérables for many years, beginning work on it in the 1840s but not finishing it until 1862.
  2. The most popular novel among soldiers in the American Civil War was Victor Hugo’s Les Misérables.Published in 1862, the book had begun to appear in the US in an English translation before that year was out, and was a huge hit among soldiers fighting in the conflict.
  3. And this, despite the fact that Les Misérables was originally something of a critical flop. Now widely regarded as Hugo’s masterpiece,the novel sold well but met with mostly negative reviews when first published. The New Englander had this to say: ‘The whole career of Jean Valjean presents a series of impossible cases, of strange incongruities, and stands in continuous antagonism with the principles of truth and honor which ought to be every honest man’s line of conduct.’ Even the New York Times, which praised the novel as ‘remarkable’ and ‘brilliant’, also went on to call Hugo ‘a prosy madman’ – something of a mixed review, after all.
  4. Hugo was a foot fetishist. And he wasn’t alone in the world of great writers in being fond of feet – Dostoevsky, Goethe, George du Maurier, and F. Scott Fitzgerald were also podophiles (we’ve had to be careful with the spelling there).
  5. Hugo claimed he made love to his wife nine times on their wedding night. According to Edward Behr in The Complete Book of Les Misérables, Hugo’s diary – which he kept compulsively – records that he managed it nine times with his hapless bride, Adèle. Even allowing some room for possible embellishment, it was evidently something of a trial for his poor young wife. Her feelings for her husband, Behr observes, were never to be the same again. (Copy Posted by interestingliterature)
Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Editor's Choice

Tips Utama Menulis sebuah Ulasan

mm

Published

on

Tujuan penulisan sebuah ulasan adalah untuk mengevaluasi dan menilai sesuatu. Kita menilai segala hal setiap hari. Misalnya, kamu punya band atau pertunjukkan televisi kesukaan, dan kamu menyukai satu supermarket dibanding yang lainnya. Semua itu merupakan penilaian. Ketika kamu menulis sebuah ulasan, tugasmu adalah menyatakan pendapatmu atau penilaianmu dan menyokongnya. Kamu melakukannya dengan memberikan alasan-alasan dan bukti.

  1. Menonton, membaca, atau mendengarkan karya itu lebih dari satu kali

Pertama kali kamu membaca atau menonton sesuatu, rasakan keseluruhan sensasi dari karya itu. Lalu pikirkan tentang kekuatan karya itu dan kelemahannya. Baca atau tonton karya itu lagi untuk mrngonfirmasi kesan pertamamu. Kali ini, buatlah catatan dengan hati-hati. Bersiaplah untuk mengubah pikiranmu jika pengamatan yang lebih seksama membawamu ke arah yang berbeda.

  1. Sediakan informasi pokok

Beritahu pembaca judul lengkap dari karya itu dan nama pengarangnya atau penciptanya. Tambahkan nama penerbit, tanggal penerbitan, dan informasi lain tentang kapan karya itu diciptakan dan dimana pembaca atau penonton dapat menemukannya. Periksa fakta-faktamu. Rincian dalam ulasan haruslah akurat.

  1. Pahami subjek pembacamu

Ulasan hadir di berbagai tempat. Kamu akan menemukannya di penerbitan lokal atau nasional, online, dan juga di jurnal-jurnal khusus dan surat kabar di tempat tinggalmu. Pelajari tempat dimana kamu ingin menerbitkan ulasanmu, dan menulislah berdasarkan itu. Pikirkan tentang apa yang perlu kamu jelaskan. Pembaca umum akan membutuhkan lebih banyak informasi latar dibandingkan pembaca untuk penerbitan yang menargetkan para ahli.

  1. Tentukan posisi

Nyatakan pendapatmu tentang karya yang sedang kamu evaluasi. Ulasanmu bisa berbentuk negatif, positif, atau campuran keduanya. Tugasmu adalah mendukung pendapat itu dengan perincian dan bukti. Bahkan ketika pembaca tidak setuju denganmu, mereka tetap perlu mengetahui bagaimana kamu mencapai kesimpulan.

  1. Jelaskan cara kamu menilai karya itu

Putuskan kriteriamu, standar yang kamu gunakan untuk menilai buku, pertunjukkan, atau film. Kamu mungkin percaya sebuah novel sukses saat ia memiliki karakter-karakter yang kamu sukai dan sebuah alur yang membuatmu terus ingin membaca. Nyatakan kriteria-kriteria tersebut sehingga pembacamu mengerti apa yang kamu percaya.

  1. Perlihatkan bukti untuk mendukung kriteriamu

Sokong penilaianmu dengan kutipan-kutipan atau deskripsi-deskripsi adegan dalam sebuah karya. Juga berkonsultasilah pada sumber-sumber lain. Adakah kritikus lain sependapat denganmu tentang karya ini? Kamu mungkin bisa menyebutkan ulasan-ulasan itu juga. Pastikan selalu mengutip hasil kerja penulis lain dengan tepat, jika digunakan.

  1. Kenali kaidah-kaidah dalam genre nya

Setiap jenis tulisan atau seni memiliki elemen-elemen tententu. Sebuah misteri harus memiliki ketegangan, sementara roman harus memiliki karakter-karakter yang kamu percaya akan tertarik satu sama lain. Pertimbangkan tema, struktur, karakter, latar, dialog, dan faktor-faktor terkait lainnya. Pahami kaidah-kaidah itu dan masukkan sebagai bagian dari kriteriamu.

  1. Bandingkan dan bedakan

Perbandingan dapat menjadi cara yang baik untuk mengembangkan evaluasimu. Seumpama kamu mengklaim bahwa sebuah film memilki dialog yang sangat bagus, orisinil. Tonjoikan hal ini dengan membagi sejumlah dialog dari film lain yang memiliki dialog yang sulit, kaku, atau klise. Gunakan perbedaannya untuk memperlihatkan maksudmu.

  1. Jangan merangkum keseluruhan isi cerita

Buku-buku, film, dan pertunjukkan-pertunjukkan televisi memiliki bagian permulaan, pertengahan, dan akhir. Orang membaca dan menonton karya-karya itu sebagian karena mereka ingin mengetahui apa yang terjadi. Biarkan mereka menikmati ceritanya. Sediakan gagasan umun tentang apa yang terjadi, tetapi jangan memberikan rahasia-rahasia penting, terutama akhir ceritanya.

————————–

Diterjemahkan Marlina Sopiana dari Top tips for writing a review. Oxforddictionaries.com

Continue Reading

Editor's Choice

11 Penggambaran Paling Realistis tentang Gangguan Jiwa dalam Novel

mm

Published

on

Terdapat tradisi besar tentang gangguan jiwa dalam karya fiksi. Penulis era Victoria senang menyembunyikan perempuan gila di atas sebuah Menara atau loteng, dimana dia dapat perlahan-lahan mengupas wallpaper dari dindingnya atau merintih dan mengerang dengan tidak terkendali sehingga membuat takut para governess muda yang berusaha tidur di lantai bawah. Kemudian, buku-buku akan memperkenalkan pembaca pada perawat-perawat jahat, pemaksaan lobotomi, dan upaya yang ceroboh dalam terapi kejut listrik. Tak perlu dijelaskan, gangguan jiwa memang lebih tidak dipahami pada masa lampau dibandingkan dengan saat ini.

Beberapa dekade terakhir telah membawa perubahan dalam cara pengobatan gangguan jiwa dan bagaimana hal itu digambarkan dalam literatur. Karakter diizinkan untuk turun dari loteng dan menceritakan kisah mereka sendiri. Dalam memoar, pengarang membagi pengalaman-pengalaman mereka dalam catatan-catatan kasar dari sudut pandang orang pertama. Girl, Interrupted, Prozac Nation, dan Running with Scissors hanyalah beberapa contoh – lihatlah daftar dalam link ini 20 Greatest Memoirs of Mental Illness untuk mendapatkan lebih banyak rujukan.

11 novel yang tercantum dibawah ini juga berbicara dengan sangat jujur mengenai gangguan jiwa. Terkadang selubung fiksi mengizinkan para pengarang untuk mencerikan kisah-kisah yang bahkan lebih nyata-mereka dapat menulis tanpa mengkhawatirkan reputasinya sendiri atau reaksi-reaksi dari anggota keluarga. Buku-buku mereka memberikan kita pemahaman yang lebih dalam tentang gangguan jiwa dan cara kita berhadapan dengan gangguan jiwa dalam kebudayaan kita. Mereka juga melakukan apa yang semua literatur besar harus lalkukjan-membiarkan kita untuk mengenal dan peduli pada karakter-karakter selayaknya manusia.

Mrs. Dalloway karya Virginia Woolf (1925)

Satu hari dalam hidup Clarrisa Dalloway, seorang wanita kelas atas Inggris. Melalui karakter Septimus, seorang veteran perang dunia pertama yang mengalami gangguan paska trauma perang, buku ini mengkritisi perlakuan terhadap penyakit kejiwaan. Woolf menggunakan perjuangannya sendiri dengan gangguan bipolar untuk mengisi karakter Septimus.

Tender is the Night karya F. Scott Fitzgerald (1934)

Scott Fitzgerald menulis novel ini ketika istrinya, Zelda, sedang berada di rumah sakit untuk pengobatan skizofrenia. Dikisahkan di Riviera Prancis pada tahun 1920an, Tender is the Night adalah sebuah cerita tentang psikoanalis Dick Diver dan istrinya Nicole…. Yang kebetulan juga menjadi pasiennya.

The Catcher in the Rye karya J.D. Salinger (1951)

Hikayat yang jujur tentang ketidakpuasan masa muda, The Catcher in the Rye masih laku terjual sekitar 250.000 kopi per tahun. Holden Caulfield, pahlawan muda kita, pertama kali muncul dalam sebuah cerita pendek tahun 1945 dalam majalah Collier dengan judul “I;m Crazy.”

The Bell Jar karya Sylvia Plath (1963)

Awalnya dipublikasikan dibawah nama samaran, The Bell Jar merupakan catatan semi-autobiografi dari depresi klinis yang dialami sendiri oleh Plath, sebuah sensasi yang ia deskripsikan sebagai berikut: “Dimanapun aku duduk-di atas dek sebuah kapal atau di kafe di jalan-jalan Paris atau Bangkok-aku akna duduk dibawah tudung gelas yang sama, terkukus dalam udaraku sendiri yang masam.”

I Never Promised You a Rose Garden karya Joanne Greenberg (nama pena: Hannah Green) (1964)

Deborah Blau didiagnosa dengan skizofenia paranoid, menghabiskan tiga tahun di rumah sakit jiwa. Kisahnya selaras dengan pengalaman-pengalaman pengarangnya, dan dokter dalam ceritanya didasarkan pada dokternya di dunia nyata, seorang psikiater German, Frieda Fromm-Reichmann.

Disturbing the Peace karya Richard Yates (1975)

Novel semi-autobiografi ini menceritakan kisah John C. Wilder, seorang perkerja periklanan berubah menjadi penulis skenario yang menghabiskan beberapa waktu di rumah sakit jiwa dan menderita (seperti halnya Yates) delusi-delusi dikarenakan allkohol.

Ordinary People karya Judith Guest (1976)

Conrad mencoba bunuh diri setelah kematian tragis kakak laki-lakinya, sehingga orangtuanya mengirimnya ke rumah sakit jiwa. Setelah keluar dengan bantuan dari psikiater, Conrad memeriksa depresinya dan mencoba untuk memahami kebekuan hubungannya dengan ibunya. Film adaptasi dari Ordinary People, diperankan oleh Mary Tyler Moore memenangkan Academy Award untuk film terbaik tahun 1980.

She’s Come Undone karya Wally Lamb (1992)

Delores Price perlahan-lahan menguraikan kekusutannya setelah berurusan dengan kejadian traumatis sebagai seorang remaja. Sebagai seorang perempuan berusia 20an, dia menghabiskan bertahun-tahun di sebuah institusi setelah sebuah upaya bunuh diri. Dia pada akhirnya berhenti terapi dan berusaha untuk membangun kembali hidupnya dengan caranya sendiri. Lamb kembali menulis tentang gangguan jiwa dalam buku selanjutnya, I Know This Much is True.

 The Hours karya Michael Cunning (1998)

Terinspirasi dari buku pertama dalam daftar kita, Mrs. Dalloway, kisahnya menampakkan satu hari di dalam hidup tiga wanita berbeda zaman, termasuk Virginia Woolf sendiri. The Hours memenangkan Pullitzer Prize untuk karya fiksi di tahun 1999.

The Passion of Alice karya Stephanie Grant (1998)

Salah satu novel yang kurang dikenal dari daftar ini, The Passion of Alice merupakan sebuah potret tangguh yang menyentuh tentang seorang perempuan berusia 25 tahun yang dimasukkan ke sebuah klinik gangguan makan setelah dia hampir mati dikarenakan gagal jantung.

The Marriage Plot karya Jeffrey Eugenides (2011)

Leonard, salah satu karakter utama dalam novel ini, hidup dengan depresi manik yang mempengaruhi pekerjaannya, persahabatannya, dan hubungan percintaannya. Di dalam sebuah wawancara dengan Slate, Eugenides membungkam rumor bahwa Leonard dibuat berdasarkan David Foster Wallace.

——————————————-

Diterjemahkan editor bahasa Galeri Buku Jakarta, Marlina Sophiana, dari 11 of the Most Realistic Portrayals of Mental Illness in Novels by Rebecca Kelley. Pertama kali ditayangkan di www.bustle.com, 13 May 2014.

 

Continue Reading

Article

Chairil Anwar Dan Patungnya

mm

Published

on

…kubentuk dunia sendiri,

dan kuberi jiwa segala yang dikira orang mati di alam ini!

Kucuplah aku terus, kucuplah

dan semburkanlah tenaga dan hidup dalam tubuhku …

(Sajak Putih)

Chairil Anwar adalah sastrawan yang juga pelopor angkatan 45 dan pembaharu sastra indonesia, khususnya puisi. Lahir di Medan 26 Juli 1922 dari pasangan Toeloes dan Saleha, meninggal di Jakarta pada tanggal 28 April 1949 dalam usia 27 tahun. Ia menikah dengan Hapsyah tanggal 6 September 1946 dan berpisah setelah mempunyai seorang putri, karena keinginannya untuk selalu ingin hidup bebas dan tak terikat.

Ia menempuh pendidikan di Holandsch Inlandsche School (HIS) dan meneruskan di MULO Medan namun tidak sampai selesai. Ia lalu pergi ke Jakarta. Ia mulai dikenal tahun 1945 setelah sajaknya yang berjudul “Aku” dimuat pada Majalah Timur yang dipimpin oleh Nur Sutan Iskandar. “Sajak itu ditulis tahun 1943 dan dalam majalah tersebut judulnya diganti menjadi “Semangat”. Sajak-sajaknya lebih bersifat ekspresionis, yang mencerminkan pemberontakan jiwa dengan melepaskan semua ukuran-ukuran lama. Chairil Anwar tidak hanya menciptakan sajak yang mencerminkan sifatnya yang individualis tetapi juga mengangkat segi-segi lain dari kehidupan manusia sehingga ia mendapat gelar “Binatang Jalang”. Selain “Aku”, karyanya yang terkenal antara lain: Yang Terhempas dan Terputus (tentang kematian), Doa (tentang kecintaan pada Tuhan/agama), Karawang Bekasi, Diponegoro, dan Siap Sedia (cinta tanah air). Selain dari puisi yang secara keseluruhan berjumlah 72 sajak asli, dua sajak saduran dan 11 sajak terjemahan, Chairil juga membuat prosa sebanyak tujuh buah prosa asli dan empat prosa terjemahan. Dari semua puisi dan prosa yang dikarangnya terdapat 1 buah puisi dan 1 prosa memakai bahasa Belanda.

Dalam proses kreatifnya, Chairil salah satu penyair yang menandatangi “Surat Kepercayaan Gelanggang” di antara penyair lain mencari dan memburu kata secara tepat dan cermat, juga menimbangnya sebelum menuliskan ke dalam sajak-sajaknya. Kadang bahkan harus berhari-hari atau berminggu-minggu untuk mendapatkan kata-kata yang tepat dan cermat itu. Salah satu sajak Chairil yang berjudul “Aku” menyiratkan bahwa penyairnya mempunyai vitalitas tinggi, individualitas serta semangat yang menggebu-gebu. Coba simak saja penggelan liriknya di bawah ini:

Aku binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

…Dan aku lebih tak perduli

…Aku mau hidup seribu tahun lagi.

 

Patung Chairil Anwar

Berbentuk patung dada atau lebih dikenal dengan gaya torsi, terbuat dari bahan perunggu. Patung ini terletak di dalam Taman Monas Utara, pada bagian utara Patung Diponegoro. Chairil Anwar dipatungkan dengan wajah tenang memandang lurus ke depan. Patung ini dibuat oleh pematung Arsono dari Studio ARSTUPA (Arsono Studio Patung), sedangkan pengecoran perunggunya dilakukan di Yogyakarta oleh pematung Gardono. Pembuatan patung ini melalui tiga tahap, pertama patung dari tanah liat ini diambil dari Karang Anyar, Jawa Tengah, kedua pembuatan cetakan perunggu dari gips (Teknik a cireperdue), dan ketiga penuangan perunggu yang dilakukan di Yogyakarta. Peresmian patung dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta R. Suprapto pada tanggal 21 Maret 1986. (*)

*Dari berbagai sumber, tim redaksi Galeri Buku Jakarta/ 2016.

Continue Reading

Classic Prose

Trending