Connect with us

Cerpen

Evolusi Homo Sapiens

mm

Published

on

Oleh: Sasti Gotama

 Seekor Homo sapiens terjatuh begitu saja dari langit. Untung saja ia terjatuh di atas tumpukan rumput kalanjana. Meskipun begitu, tetap saja ia merasa kesakitan lalu menguik    –yang bunyinya lebih mirip suara bekantan di rimba Kalimantan. Jika saja ia tidak terlalu berkonsentrasi dengan nyeri di pantatnya, tentu ia akan sadar bahwa suaranya  mengejutkan sepasang kupu-kupu hitam yang hinggap di pucuk ilalang hingga keduanya terbang berpencar, tak jadi melakukan ritual perkawinan.

Homo sapien itu bangkit sambil berusaha mengingat-ingat, bagaimana ia bisa terjatuh di tumpukan rumput ini. Seingatnya, terakhir kali yang  ia lakukan –beserta kawanannya– adalah mengejar seekor kukang tanah setinggi pohon yang melarikan diri menuju rimbunan  pakis haji raksasa. Ia mengejarnya sambil mengayunkan tombak batu yang baru diasahnya tadi malam. Ujung daun-daun itu sempat menggores kulit lengan sebelum ia merasa kakinya menginjak sesuatu yang lembut dan lunak.  Rawa. Tanah lembek itu mengisapnya ke dalam. Semakin dalam, hingga ia tak sempat berteriak ketika tanah hitam lembap itu masuk ke dalam lubang hidung dan mulutnya –terasa pahit dan asin– sebelum akhirnya ia melihat kegelapan yang berganti cahaya menyilaukan. Kemudian ia terjatuh begitu saja.

Ia melihat ke sekelilingnya. Dunia yang asing. Ia melihat tanaman  sejenis rerumputan yang dikumpulkan dalam berpetak-petak tanah. Ia pernah melihat tanaman sejenis rumput ini yang berbuah biji-bijian di suatu tempat di tengah hutan sebelum ia dan kawanannya berpindah tempat di musim kemarau panjang. Namun, rumput yang pernah dilihatnya hanya  serumpun, bukannya hamparan   kuning keemasan yang sepertinya sengaja ditanam dan terlihat seperti rimbunan bulu-bulu kukang terbentang di bawah kaki bukit.

Ia mendongak dan melihat langit sudah mulai terang. Bola api  raksasa merayap keluar dari balik bukit. Homo sapiens itu  memutuskan berjalan menuju ke arah sinar  dengan menyusuri parit buatan.

***

Sementara itu, seorang Homo sapiens lainnya berjenis kelamin laki-laki dan berbaju hitam  bernama Toha sedang berjalan mondar-mandir di depan pintu rumah. Ia menunggu Imron, sepupunya, yang berjanji akan datang secepatnya setelah selesai nyabis ke Kyai Soleh.   Toha tak menghiraukan istrinya – Maemunah—juga kopi panas yang diletakkan di atas meja. Ia juga tak  peduli  kelopak mata istrinya bengkak karena menangis semalaman. Yang ada dalam pikirannya adalah harga diri yang harus dibela.

Seminggu yang lalu, Bukad  –pamannya– baru saja memenangkan pemilihan  klebun   di alun-alun Wirakrama. Sayangnya, Sugali, klebun yang lama menolak menyerahkan tanah percaton  karena menganggap sudah melakukan tukar guling dengan tanah miliknya di pinggir desa.  Bukad tidak terima, karena tanah percaton hasil tukar guling terletak jauh dari pusat desa dan tanahnya tidak begitu subur. Sugali berkilah bahwa ini sudah disahkan oleh pemerintah pusat. Ia menunjukkan berbagai macam surat yang menetapkan perihal ini. Tentu saja, Bukad tak terima. Ia mencium adanya persekongkolan dan  mencurigai bahwa tanda-tangan yang tertera di surat-surat itu dipalsukan. Ia lalu mengajak pendukungnya untuk beramai-ramai menyerbu rumah Sugali.

Sebagai kerabat yang baik, tentu saja Toha merasa berkewajiban membela pamannya. Ini masalah kehormatan. Bagi sukunya, kehormatan harus dijunjung tinggi. Lebih baik putih tulang daripada putih mata.

Tepat pukul delapan lebih lima belas menit, Toha melihat Imron datang. Segera diraihnya celurit –berukuran enam puluh sentimeter dengan ujung melengkung– yang telah diasahnya tadi malam . Ia menghampiri Imron yang juga membawa senjata yang sama. Tekad mereka bulat. Membela kebenaran.

Maemunah melepas keduanya dengan mata  sembab. Percuma saja meminta seorang lelaki sukunya yang sudah bertekad bulat untuk mengurungkan niat. Seperti halnya yang terjadi pada kisah-kisah sebelumnya, hal-hal seperti ini  –perihal membela kebenaran–  sering berujung pada carok masal. Padahal entah itu memang sebuah kebenaran atau kepentingann seseorang, Maemunah tak yakin. Sama tak yakinnya ia  bahwa Toha akan pulang selamat. Perlahan ia menutup sepasang pintu jati rumahnya, lalu jatuh terduduk dan bersandar pada pintu. Ia menangis tanpa suara.

Sementara itu pasukan pembela Bukad, termasuk Toha dan Imron,  sudah berkumpul di depan rumah Sugali. Mereka berteriak-teriak sambil mengacungkan celurit yang mereka bawa. Sebagian dari mereka memanggil nama Sugali. Sisanya memaki-maki.

Sugali terdiam di balik pintu. Bukannya ia gentar, tapi ia merasa melakukan hal yang benar. Akhir bulan Mei, lima tahun yang lalu, ia melihat atap salah satu sekolah dasar di pinggir desa tampak miring. Pemandangan yang lebih mengenaskan terlihat saat ia masuk ke dalam ruangan kelas. Dinding banyak yang rusak dan kayu-kayu penyangga rapuh dimakan rayap. Seolah-olah, jika ia bersin, maka bangunan ini akan rubuh begitu saja. Belum lagi letak sekolah ini jauh dari pusat desa. Anak-anak yang bersekolah harus menempuh jalan yang cukup jauh, melewati bukit kapur dan persawahan warga. Sugali berpikir, seandainya saja tanah pecaton di tengah desa bisa ia tukar dengan tanahnya di pinggir desa, mungkin bisa ia bangun sekolah yang lebih bagus.

Teriakan-teriakan semakin keras terdengar. Sugali sempat berpikir untuk keluar dan menjelaskan, tapi sesuatu berbisik di telinganya bahwa itu sama saja dengan bunuh diri dengan sadar. Jadi, ia memutuskan menunggu. Pendukungnya akan segera datang. Rencana Bukad untuk menyerbu rumahnya sudah bocor sejak tadi malam sehingga ia dan pendukungnya sudah menyiapkan taktik balasan. Tadi malam, ia gelorakan semangat pendukungnya. “Mereka melakukan fitnah sistematis. Mengatakan saya melakukan persekongkolan dan tipu muslihat. Padahal saya melakukan kebenaran. Kebenaran harus ditegakkan. Dibela sampai titik darah penghabisan!” Tentu saja ia tak mengatakan darah siapa yang harus dialirkan. Yang pasti bukan darahnya sendiri.

Ketika masa Bukad semakin beringas dan hendak merobohkan pagar rumah Sugali, dari arah belakang, ratusan masa pendukung Sugali menyerbu. Di tangan mereka ada celurit dan kelewang. Carok! Ujung-ujung celurit itu mulai liar. Menghujam kulit, menyobek daging, memenggal leher, hingga darah mengalir deras. Tak ubahnya  medan perang Kurukshetra.

Semuanya sibuk berperang hingga tak memperhatikan seekor Homo sapiens telanjang yang terdiam di pinggir jalan. Ia telah  menempuh empat puluh lima menit menyusuri jalan makadam dan terhenyak ketika melihat sekumpulan makhluk yang mirip dirinya saling menghujamkan senjata tajam.

Homo sapiens itu terheran-heran. Selama hidupnya, tak pernah kawanannya saling melukai seperti itu. Biasanya  mereka memburu bison atau kukang tanah raksasa bersama-sama. Menombak, memenggal kepala, dan mengulitinya, tapi tak pernah kawanannya saling memburu sesama. Ia bertanya-tanya, apakah mereka berperang karena memperebutkan daging  bison atau kambing liar atau kukang raksasa. Tetapi ia melihat  di sekitar mereka  tak ada bangkai binatang yang diperebutkan. Lagipula perut mereka membulat dan otot-otot mereka tampak pejal. Yang pasti mereka tak tampak kelaparan.

Homo sapiens itu tak pernah tahu, bahwa berpuluh-puluh tahun yang lalu, seorang Homo sapiens lain bernama Sigmund Freud telah menemukan  hal penting yang membuat Homo sapiens saling berperang. Ego. Ego yang tunduk pada id. Tentu saja ini adalah hasil evolusi otak dari seekor Homo sapiens. Jika saja Homo sapiens dari masa lalu itu tahu, bahwa ini hasil evolusi dari otak besarnya, mungkin ia akan menolak berevolusi dan tetap memilih menjadi lutung jantan.

***

Sebelas orang meninggal dan puluhan luka berat. Dan berminggu-minggu kemudian, dari kedua belah pihak –baik Bukad maupun Sugali—mengatakan bahwa masing-masing dari masa mereka disusupi oleh pembuat onar. Begitu kata mereka saat diwawancarai oleh reporter wanita cantik berambut pendek yang datang dari ibu kota. Tak  ada satu pun dari mereka menyebutkan keberadaan seekor Homo sapiens telanjang yang melenggang di tengah desa dengan wajah heran.

SELESAI

___

Keterangan:

Keterangan:

Nyabis: diisi tenaga dalam

Klebun: kepala desa

Percanton: tanah bengkok

Continue Reading
Advertisement

Cerpen

Asmara Lembah Silikon

mm

Published

on

Kegentingan yang terjadi akibat ulah Hafiz Imtiaz tak mungkin diselamatkan. Big data harus merelakan kehilangan limbah digital yang sudah membatu di gudang penyimpanan milik pemulung. Namun, para  founder dan co-founder di Lembah Silikon tak perlu terlalu gusar. Irman Gugelman dan Hafiz Imtiaz berhasil mencapai kesepakatan.

Damhuri Muhammad *)

Di mata orang-orang yang lemah daya ingat, Hafiz Imtiaz adalah hard disk drive  (HDD)  bernyawa.  Seolah-olah ada ribuan folder  penyimpan ingatan dalam big storage  yang tertanam di jantungnya. Di gudang penyimpanan itulah rupa-rupa ingatan dikandangkan. Mulai dari ingatan remeh, seperti hari pertama bisa pipis sendiri, hari pertama bisa menyalakan korek api, hari pertama pakai seragam sekolah, atau hari pertama bisa mengendarai sepeda tanpa bantuan dua roda samping.

            Ada pula folder berisi memori-memori yang terklasifikasi pada level medium, semacam rahasia perempuan yang ternyata berjodoh dengan laki-laki yang dulu kerap ia hina dengan kata-kata yang lebih menyakitkan dari kematian, jawaban atas rasa penasaran kenapa gadis ayu level dewa rela menerima pinangan duda seusia bapaknya, termasuk ingatan atas hari pertama melihat tubuh perempuan tanpa busana dari pengalaman mengintip orang mandi. Tersedia pula folder khusus dengan berlapis-lapis kata kunci, berisi koleksi ingatan berkategori kelas berat. Misalnya, jawaban akurat atas tanda tanya besar perihal kematian mendadak seorang jaksa tinggi yang lazimnya dibereskan dengan dalih serangan jantung. Atau jawaban tak tersangkal atas  kenyinyiran netizen kenapa seorang Presiden yang dulu dibela mati-matian oleh pendukungnya, kini menjadi penguasa kesepian dan tinggal menunggu momentum derita post power syndrome.

            Sebelum total berkhidmat sebagai penggenggam ingatan, Hafiz Imtiaz pernah menyebut dirinya sebagai pemulung. Pekerjaannya mengais-ngais sampah di belantara big data, seperti pemulung yang berkeliling dari gang ke gang di permukiman padat, mencari kardus atau botol plastik bekas. Di jagat maya, sampah yang ia bereskan tentu meme sisa TwitWar, politisi berkepala lembu hasil olah photoshop, diagram palsu, hingga infografis berisi statistik yang sudah ketahuan halu.

            “Sampah doyannya sampah juga,” sindir netizen, saat Hafiz Imtiaz sempat mengunggah meme kadaluarsa berjudul dibuang sayang.

Tapi ketika sebuah isu baru memerlukan sokongan konten lama itu, meme milik si penggenggam ingatan sudah lenyap. Sampah yang melesap ke dalam big storage-nya hilang tak berbekas, dan tak bakal terlacak search engine secanggih Google sekalipun. Piranti lunak bikinan Hafiz Imtiaz bagai mesin pengisap hoaks, kebencian, dan  bacot unfaedah. Akibat pekerjaan si pemulung, ruang interaksi media sosial tidak lagi bergairah. Konten yang tersisa hanya buku-buku teori yang bikin ngantuk, nasihat-nasihat jaim berbungkus basa-basi, dan video-video kultum yang lebih buruk dari pidato politisi.

            “Hai Pemulung. Algoritmamu itu, mukjizat dari rasul mana?” tanya seorang pakar datamining  bernama Irman Gugelman, yang kemudian diketahui sebagai utusan khusus penguasa Lembah Silikon.

            “Kau mau kemewahan seperti apa, anak muda? Jangan menganggu tatanan  kekacauan informasi bikinan kami!” lanjut Irman Gugelman, yang terdengar seperti bujukan.

            “Saya memulung yang tak berguna. Mukjizat itu datang dari jazirah Bantar Gebang. Seperti langit dan bumi bedanya dengan Lembah Silikon,” balas Hafiz Imtiaz. Santai.

Meski dapat menembus big storage milik pemulung, misi penting utusan khusus dari Lembah Silikon gagal. Jutaan gigabyte limbah, aset penting penguasa Lembah Silikon, sudah terlanjur menjadi fosil di big storage si pemulung.

            “Secara visual, timbunan fosil itu membentuk anatomi makhluk yang sedang membungkuk, seolah-olah ia sedangmenyembah Dajjal itu!” kata Irman Gugelman, melaporkan kegagalan misinya.

            “Rekomendasi Anda?” tanya pejabat ring satu Lembah Silikon.

Irman Gugelman diam. Ia hanya membayangkan algoritma baru, yang dapat menciptakan kecerdasan buatan sekaliber kecerdasan Nabi, terutama yang  punya mukjizat dapat menghidupkan data mati.

***

            Kegentingan yang terjadi akibat ulah Hafiz Imtiaz tak mungkin diselamatkan. Big data harus merelakan kehilangan limbah digital yang sudah membatu di gudang penyimpanan milik pemulung. Namun, para  founder dan co-founder di Lembah Silikon tak perlu terlalu gusar. Irman Gugelman dan Hafiz Imtiaz berhasil mencapai kesepakatan.

            “Yang sudah hilang tak bisa kalian temukan. Tapi, saya akan berhenti sebagai pemulung!” kata Hafiz Imtiaz setelah menolak semua iming-iming dari Lembah Silikon.

            “Sekadar simpanan guna mengamankan hidupmu di usia senja, tak berminat juga, Pemulung?” tanya Irman Gugelman, yang ia maklumatkan sebagai peluang penghabisan.

            “Saya tidak akan pernah tua! Saya menolak ketuaan. Ndak usah repot-repot, Sodara!” balas Hafiz Imtiaz.

            Sejak itulah si pemulung beralihrupa menjadi penggenggam ingatan. Itupun hanya untuk membuat piranti lunak bikinannya tetap bekerja, sekadar bertahan untuk tidak berakhir sebagai barang rongsokan. Portofolio Hafiz Imtiaz yang pernah mengguncang kedigdayaan para inventor dan inovator Lembah Silikon, membuat ia begitu mudah mendapatkan klien. Si penggenggam ingatan seperti gula yang dikerubungi kawanan semut. Banyak tawaran yang mengandung ajakan agar ia kembali berkiprah sebagai pemulung dalam wajah baru, misalnya menghisap data pribadi dari sebuah platform percakapan daring yang disebut-sebut telah meraup 7 juta user. Tangkapan besar yang sangat berharga bagi saudagar ruang iklan, dan potensi tak ternilai  incaran para kontestan pemilihan Walikota.

            “Kami bisa membantu penyempurnaan piranti lunak Anda. Setelah itu kita bergembira ria di pesta kemenangan Walikota,” kata perwakilan tim sukses salah satu kandidat.

            “Tiga kali tawaran macam ini mendatangi saya, dan saya sudah menolaknya empat kali. Saya alergi politik. Bila kambuh, antibiotiknya kurang ampuh!” kata Hafiz Imtiaz.

            Penggenggam ingatan tak tergoyahkan. Ia hanya ingin bekerja atas nama kemanusiaan. Menyimpan dan mengonservasi ingatan yang di masa datang mungkin akan berguna, terutama bagi kaum yang sudah tumpul daya ingatnya. Hafiz Imtiaz tahu betul, sampah-sampah digital yang ia musnahkan, telah membuat banyak orang abai menjaga ingatan. Terlalu banyak bicara, ketagihan bergunjing, dan hobi berkelahi di linimasa, bisa membuat orang tidak lagi mampu menghapal nomor ponsel sendiri.

            “Ini tentang letak tahi lalat Miftahul Hayati, mantan nomor delapan. Kelak saya akan mengambilnya,” kata pelanggan mula-mula bernama Aulad Mustaqbal. “Jangan sekali-kali berpikir untuk kembali mengaktifkan fitur pemusnahan di perkakas rongsokmu itu!”  tambah Aulad dengan sorot mata mengandung ancaman.

            “Soal imbalan atas jasa ini, tak perlu kuatir.  Sesuai tarif yang tertera, dan tak bakal ditawar.”  

            Bagi Aulad Mustaqbal, mantan nomor delapan itu istimewa. Sekali waktu, pernah menyelamatkan mukanya di hadapan ibu mertua. Masa itu ia sedang jalan berduaan dengan Miftahul Hayati di sebuah mal. Celakanya, ibu mertua sedang berbelanja di mall yang sama. Mereka berpapasan di pintu masuk sebuah toko pakaian dalam. Beruntung ada kawan laki-laki bernama Untung di antara dirinya dan Miftahul Hayati. “Ini siapa, Ananda?” tanya ibu mertua, curiga. Aulad Mustaqbal berkeringat dingin, tapi Miftahul Hayati lekas bertindak. “Saya istri Mas Untung!” balasnya, sambil merangkul sahabat kekasihnya itu. Ibu mertua lega. Curiga yang menyala-nyala padam seketika.

            “Titipan saya hanya berisi angka-angka. Tapi kalau hilang, percayalah, saya akan menderita sebagai tua bangka tanpa nostalgia,” kata pelanggan selanjutnya.

            Di folder itu tersimpan nomor punggung pesepak bola idola ayahnya, saat pelanggan itu berusia 9 tahun. Begitu juga nomor celana dalam pertama, yang dibelikan ibunya beberapa hari setelah ia disunat. Nomor rumah tempat ia dirawat sebagai bayi prematur sebelum kemudian pindah dari kota ke kota, dari negara ke negara. Nomor sepatu olah raga pertama hadiah paman, pada hari ulang tahun yang tak didampingi ayah-ibu lantaran keduanya sedang menjalani sidang perceraian di pengadilan agama.  Dan, yang paling berharga adalah nomor kursi yang tertera pada lembaran tiket bioskop, pada kesempatan mula-mula ia memberanikan diri menonton dengan pacar perdana.

            Jangan dikira mereka tidak berlangganan platform dengan teknologi komputasi awan semacam I-Cloud atau Google Drive. Tapi menurut analisa si penggenggam ingatan, mereka tidak mau lagi bertelanjang dalam jerat raksasa bikinan orang-orang culas di Lembah Silikon. Perisai privasi mereka sudah bolong di sana-sini, lantaran terlalu sering mengunggah data pribadi dalam ekosistem digital. Mereka ingin melarikan diri dari intaian algoritma yang memperlakukan mereka sebagai mangsa di belantara big data.

            “Bagaimana kita bisa mempercayai penggenggam ingatan?” tanya Aulad Mustaqbal pada sejawat-sejawat sesama pelanggan.

            “Semua jejaknya mengandung perlawanan atas kuasa Lembah Silikon. Ia belum punya pengalaman berkhianat!” balas pelanggan bernama Maya Rumantir.

            “Lagi pula, titipan kita cuma remah-remah yang tak mungkin laku dijual.”

            “Apa kau bilang? Remah-remah? Aku sudah lama mencari mantan kedelapan. Hanya saja aku sedang sibuk untuk beberapa tahun ke depan, makanya kunci pencarian kutitipkan sementara. Jaga bicaramu, Nyonya!”

            “Ahai, kau pikir letak tahi lalat tak bergeser pasca revolusi kosmetik?”

            “Berhentilah menakut-nakutiku seperti anak kecil!”

            “Penggenggam ingatan peluang kita satu-satunya. Juru selamat dari penjarahan ingatan besar-besaran yang dikendalikan dari Lembah Silikon. Percayai Hafiz Imtiaz! Oke?”

            “Yups. I have no choice!

****

            Lantaran berbagai kesibukan, kotak surel milik Aulad Mustaqbal telah melewatkan tiga pesan yang seharusnya masuk secara otomatis. Artinya, sudah tiga bulan penggenggam ingatan me-nonaktifkan fitur notifikasi. Setelah berkali-kali diperiksa, dikontak berulang-ulang, Aulad Mustaqbal berkesimpulan; penggenggam ingatan telah menghilang!  Begitu pula bunyi pesan berantainya ke seluruh pelanggan. Kepanikan tak terhindarkan.

            “Celaka! Kita akan berakhir sebagai manula tanpa nostalgia!”

            “Bedebah kunyuk! Ia pikir ingatan bisa dilelang, hah?” umpat Maya Rumantir.

            “Tenang, Sodara-sodara. Bukankah kita punya asuransi kehilangan?”

            “Tai kucing! Asuransi macam apa yang mau mengganti ingatan yang hilang?”  

            Selepas kabar buruk itu, Aulad Mustaqbal adalah pelanggan yang sudah lupa letak tahi lalat mantan kekasihnya. Di dagu, pipi kanan, bawah pusar, atau bahu kiri? Entahlah. Oh, Miftahul Hayati. Satu-satunya yang bisa memastikannya adalah serbuk ingatan dalam  folder  yang sudah raib.

            “Lapor polisi aja gimana, Bro?”

            “Sejak kapan Polsek punya detektif  bagi maling ingatan?”

            “Kalau begitu, kita umumkan saja di Twitter.”

            “No! Itu yang diharapkan rejim Lembah Silikon,” kata Aulad Mustaqbal.   

            Sementara para pelanggan sudah di berada ambang putus asa dan hampir mengikhlaskan hidup mereka sebagai calon manula paling menderita, nun di Lembah Silikon, persisnya di sebuah klinik mewah dengan perkakas medik super canggih, pasien atas nama Miftahul Hayati, baru selesai menjalani operasi ringan; membuang tahi lalat di punggungnya, tepat di bawah tato kupu-kupu biru.

            “Kau bebas sekarang, Sayang! Ia tak mungkin lagi menemukanmu,” bisik Hafiz Imtiaz, dalam senyum bahagia, sambil mendekap perempuan itu erat-erat.

Damhuri Muhammad: Menulis cerpen, esai budaya, artikel politik, dan resensi buku  di  sejumlah media nasional.  Buku fiksi terkininya Anak-anak Masa Lalu (2015). Buku nonfiksi terbarunya, Takhayul Milenial (2020). Associate editor Galeri Buku Jakarta. 

Continue Reading

Cerpen

Pagi Ini, Ada Burung yang Mati

mm

Published

on

By Ruly R *)

Pukul tujuh lebih delapan belas. Masih pagi untuk merutuki nasib, namun Sarju sudah melakukan itu. Dua lembar lima ribuan habis disekali putaran dadu permainan pasar.

“Kirik!” umpat Sarju entah untuk siapa. Wajahnya penuh kesal. Uang yang didambakan berlipat seperti dalam mimpinya kemarin malam justru menguap.

Memang setiap pagi lelaki itu hobi menyambangi meja putaran dadu. Kalau siang kerjanya kalau tidak nongkrong di warung tuak tentu tidur di rumah. Jika waktu malam tiba, dia suka mengendap untuk mengambil barang yang laku dijual.

Pagi ini setelah kalah di meja putaran, Sarju memutuskan untuk menyusuri panjangnya trotoar. Kaki dan fisik Sarju masih saja segar, meski usianya sudah tidak bisa dikatakan muda.

Sarju mengedar pandang ke jalan raya. Cepat dan ugal-ugalan kendaraan yang melintas, saking cepatnya seakan nyawa para pengendara itu lebih dari satu. Tampak kepanikan dan terburu-buru bertumpuk di pagi hari. Ada juga bocah sekolah dengan wajah cemas karena telat berangkat, tampak resah menunggu datangnya angkot.

Sayup suara burung, lalu semakin jelas. Cericit burung beradu dengan bisingnya deru kendaraan. Burung itu terbang melintang di atas kepala Sarju, hinggap dari satu pohon di sebelah utara jalan ke sisi selatan jalan. Sarju saksama melihat burung itu.

Memang, saat ini jarang sekali burung di jalanan kota, sama jarangnya dengan pohon-pohon di sisi kanan-kiri jalan. Gedung-gedung lebih subur tumbuh di kabupaten tempat tinggal Sarju, utamanya di kompleks perkantoran kabupaten, yang hanya berjarak tidak lebih dari dua ratus meter dengan jarak pasar.

Burung terus bercericit. Nyaring terdengar meski terus ditingkahi suara motor dan mobil. Mata Sarju masih saksama melihat burung itu, seakan tak ada hal lain yang ingin ditatapnya pagi ini. Suara burung memanggil ingatan Sarju. Dia ingat desanya. Rindu menyelusup halus pada hati Sarju.

Di waktu yang telah lalu—sebelum dia pindah ke kabupaten ini, cuitan burung menjadi hal akrab bagi Sarju. Membelah dan merentang waktu, nasib dan keadaan berubah seiring zaman, namun ingatan Sarju menjadi bola-bola yang utuh karena suara burung dan desanya. Ingatan yang sebenarnya tidak sempurna bahkan cacat dan bopeng di sana-sini. Hal yang tidak bisa ditambalnya sampai sekarang.

***

Sarju tinggal dan tumbuh bersama kakeknya di desa. Tanpa teman, kecuali keadaan alam sekitarnya saja. Sarju masih ingat betapa itu memedihkan dan memilukan. Satu anak sepantaran saja tak ada yang mau berkawan dengannya. Hanya satu kawan yang ada, yaitu kakeknya sendiri.

“Gak masalah. Ayo melu golek kayu wae,”[1] ucap kakeknya yang langsung mengambil parang ketika melihat raut wajah Sarju yang sedih. Kakeknya memang pandai mengalihkan perasaan Sarju yang sedang berduka. Bukan sekadar mencari kayu saja, kadang Sarju diajak ke sawah, atau tiga bulan sekali pergi ke kota untuk menjual hasil panen. Di pasca panen itu, Sarju benar-benar senang, segala permintaannya pasti akan dipenuhi kakeknya, kecuali satu yaitu teman.

Sarju tidak pernah belajar di bangku sekolah. Ketika bocah sepantarannya mengenyam pendidikan formal, Sarju justru lebih giat membantu kakeknya ke sawah atau main sendiri ke kuburan. Pernah suatu kali kakeknya marah, ketika Sarju membawa kemboja yang begitu banyak.

Nggo opo?!”[2]

“Dolanan,” jawab Sarju ragu.

Setelah peristiwa itu Sarju tidak berani lagi membawa kamboja, bahkan dia takut main ke kuburan. Kakeknya pasti akan marah kalau tahu dirinya main di sana. Tidak ada orang atau teman yang dimilikinya selain kakeknya sendiri.

Penah suatu kali Sarju juga bertanya kenapa dia tak memilik teman. Kakeknya hanya tersenyum. Senyum yang getir dan penuh kepahitan, tumpukan beban datang dari senyum itu. Kakek justru mengajak Sarju ke kreteg Mojo. Di sana kakek menunjuk tempuran sungai dan menyebut Geger Boyo. Sarju hanya diam, tak ada tanya miliknya.

Semua diketahui Sarju seiring usianya yang terus bertambah dan kakeknya mulai sakit-sakitan. Satu waktu, ketika malaikat maut sudah membayang dalam benak kakek, Sarju baru mengetahui yang sebenarnya. Permintaan maaf keluar dari lelaki yang tinggal lunglit itu. Maaf karena selama ini banyak yang disembunyikan kakeknya, terutama kenapa Sarju tidak punya kawan atau lebihnya warga desa mengasingkan mereka untuk tinggal di kaki bukit. Terbata kakek menceritakan itu pada Sarju.

“Aku muk melu-melu, Ju,”[3] ucap kakek. Semua terang diceritakan kakek ketika dia ikut partai palu-arit. Satu malam di musim bediding, beberapa orang bertubuh tegap, berseragam, dan berwajah garang mendobrak pintu rumah kakek yang lama. Tubuh kakek diseret paksa ke Geger Boyo.[4] Kebengisan di depan mata, tidak ada warga yang berani melihat apalagi sampai meningkah saat itu, kecemasan dan ketakuan seakan menyatu dalam benak warga. Kepercayaan berubah menjadi kecurigaan, keluarga kakek mulai dikucilkan. Saat itu hanya ada satu hal untuk keluarga kakek—menyingkir dari desa.

Bertahun kejadian itu berlalu, namun kesepian abadi dalam keluarga Sarju. Usia selalu ada batasnya, banyak cara atau juga sebab untuk mati. Sarju lahir. Hanya tinggal ibunya, ayah Sarju bunuh diri saat ibu Sarju mengandung. Dan saat belum genap usia Sarju empat tahun kakeknya pulang dari pengasingan di Nusakambangan. Kakeknya tak dibunuh di Geger Boyo, namun dibawa ke Nusakambangan setelah dari tempat itu.

Seperti Tuhan telah menggariskan nasib, kesunyian dan kesepian lekat dalam diri Sarju. Karena sakit yang entah apa, ibu Sarju meninggal. Satu keberuntungan, kakeknya sudah ada di rumah waktu itu.

Kakeknya bercerita bagaimana dia bertahan karena Sarju. Bulir halus keluar dari dua mata Sarju. Tidak berhenti sampai beberapa hari karena kakeknya meninggal. Segala menyesakan bagi Sarju yang sudah bukan lagi bocah. Tidak ada warga yang melayat, bahkan untuk tanah seukuran 2×1 meter, Sarju harus mencangkul sendiri. Terbayang wajah kakek, terngiang permintaan maaf dari kakek, semakin waktu, semakin Sarju merasakan kedegilan dan kesepian yang nyata. Bagi Sarju tidak ada cara membunuh kesepian kecuali memang pergi jauh meninggalkan desa. Begitu yang dilakukannya.

***

Bunyi klakson dari motor yang ugal-ugalan membuyarkan lamunan Sarju. Burung yang dilihatnya dari tadi hanya meloncat-loncat kecil tanpa meninggalkan ranting pohon. Lalu lintas masih ramai. Bunyi klakson kembali berulang, kali ini burung itu terbang berpindah pohon. Burung itu melintas di atas kepala Sarju lagi.

Kembali, suara klakson dari satu kendaraan melintas. Tidak lama burung itu hinggap di pohon lalu terbang lagi. Menukik dan terlalu rendah burung itu melayang di atas jalan, mobil bercat putih melintas cepat. Dada Sarju tiba-tiba sesak. Matanya tajam menatap jalan. Pagi ini, ada burung yang mati. Sarju menjadi saksi, tapi tidak ada yang bisa dituntut karena matinya burung itu, sama seperti ingatan dan kata-kata kakenya yang mengiang dalam benak Sarju hingga sekarang.

“Opo pancen kudu nyalahke kahanan?”[5] begitu yang pernah diucap kakeknya dulu.

Bagi Sarju, dulu dan saat ini masih tetap sama saja, karena dia hanya bisa menangis. (*)

______

*) Ruly R, bergiat di Komunitas Kamar Kata Karanganyar. Mahasiswa di STKIP PGRI Ponorogo. Novel terbarunya berjudul Kalah (Rua Aksara, 2020). Surat-menyurat: riantiarnoruly@gmail.com


[1] Tidak masalah. Ayo ikut cari kayu saja.

[2] Buat apa?

[3] Aku hanya ikut-ikut, Ju.

[4] Dua tempuran sungai di Sungai Mojo (Sungai yang terletak di antara Solo dan Sukoharjo). Saat tragedi kemanusiaan tahun 1965, tempat itu dijadikan salah satu ladang pembantaian orang yang dianggap Komunis.

[5] Apa memang harus menyalahkan keadaan?

Continue Reading

Cerpen

Tentang Kematian

mm

Published

on

By Mena Oktariyana

KEMATIAN. Manusia mana yang bersedia membicarakan kematian, seperti mereka membicarakan makanan enak? Kematian meninggalkan kita dalam keputusaasaan. Menelantarkan kita dalam kekosongan. Mereka yang pergi, bagai meninggalkan kita dalam kesedihan dan penderitaan untuk waktu yang tak bisa ditentukan. Tentu saja, ada banyak kisah menyedihkan tentang mereka yang ditinggalkan oleh kematian. Dan mungkin orang selalu berpikir, bahwa mereka yang ditinggalkan kematian adalah orang-orang yang paling menderita. Namun, bagaimana jika mereka yang meninggalkan kehidupan juga sama menderitanya dengan kita yang ditinggalkan? Dan kau tidak akan mengerti maksud ucapanku, sampai kau mendengar kisahku. 

Semua berawal di bulan Desember tahun lalu. Aku resmi menjadi relawan kematian. Sebuah pekerjaan anti-mainstream yang membuatku bergelut dengan kematian. Hari itu, di sore hari yang mendung, aku mendapatkan klien pertamaku. Dia adalah arwah seorang gadis berusia 18 tahun bernama Adelia. Dia datang mengenakan piyama abu-abu lusuh dan rambut berantakan yang hampir menutupi sebagian wajahnya. Pucat, dengan lingkar mata hitam dan sayu. Kulihat bekas luka yang sudah membiru di lehernya. Kuraih tangannya, dan kulihat, dia mati gantung diri. Dia berdiri tepat di hadapanku, seorang gadis yang putus asa, sedih, dan seakan beban dunia berada tepat di pundaknya. 

Aku merasa canggung, tidak tahu apa yang harus aku katakan padanya. Aku berpikir, haruskah aku tanyakan bagaimana kabarnya, apa dia lapar, atau haruskah aku seperti dokter dan menanyakan apa keluhannya. 

“Apa kau punya sisir?” tanyanya padaku. 

Aku, yang sudah siap untuk membuka percakapan, seketika terdiam kembali, “Si…sisir?” tanyaku.

Aku terkejut mendengarnya dan merasa sangat norak di hari pertamaku. Aku membuka laci meja dan mencari apakah ada sisir di sana. Aku tidak menemukan sisir. Kemudian aku teringat kalau aku selalu membawa ikat rambut di kantong celanaku. Aku pun memberikan ikat rambutku.

Setelah dia mengikat rambutnya, aku memintanya bercerita tentang kematiannya dan apa yang harus aku lakukan untuk menolong jiwanya.

Dia bercerita, dulu dia mengidap leukimia stadium akhir. Dia menjalani banyak kemoterapi dan pengobatan dengan biaya yang tidak sedikit. Biaya pengobatan yang sangat mahal itu menguras habis harta orang tuanya. Rumah, tanah, tabungan, perhiasan habis demi menyembuhkannya. Hutangpun mencekik kehidupan mereka. Akhirnya, semua berujung pada perceraian kedua orang tuanya. Ayahnya memilih pergi meninggalkannya yang sekarat, istri yang frustasi dan hutang yang menumpuk.

“Aku selalu berdoa untuk mati. Tapi aku juga selalu berusaha bertahan untuk Ibuku. Aku sadar, penyakitku cuma membawa penderitaan untuk mereka. Hidup kami jadi kacau.” dia berusaha keras untuk melanjutkan, seperti ada sesuatu yang tertahan di tenggorokannya. Dia melanjutkan, “Dan aku mengakhiri semuanya.” 

Aku tidak tahu harus berkata apa. Tapi terlintas di benakku untuk mengatakan Kenapa kau tidak mencoba untuk bertahan sedikit lagi. Tapi aku sadar, itu adalah perkataan seorang idiot.

“Aku akhiri hidupku sendiri.” ucapnya, gemetar, “Yang kuingat, aku terbangun di suatu tempat. Di sana aku hanya melihat kabut tebal dimana-mana. Tak ada seorang pun, aku sendirian. Aku merasakan sakit luar biasa di leherku. Aku kesakitan bahkan untuk untuk menelan ludahku sendiri. Aku hanya merasakan lelah, lelah, dan lelah. Rasanya seperti aku sudah menghabiskan bertahun-tahun di sana. Aku terus merasa, bahkan setelah mati pun aku masih harus menderita.”

“Setiap hari, aku teringat ibuku. Dan ketika aku memejamkan mata sambil mengingat wajahnya, aku serasa terlempar jauh. Dan saat aku membuka mata, aku berada di rumah. Di sana, aku melihat ibuku sedang duduk di meja makan sendirian dan hanya menatap kosong pada makanannya. Aku coba memanggilnya, menyentuhnya, tapi aku tidak bisa. Semua itu terjadi terus menerus.”

“Setiap pagi, aku melihat ibu berkunjung ke makamku. Menaruh bunga dan membersihkan nisanku. Kemudian dia hanya menangis sampai tengah hari. Aku hanya berharap bisa menghapus air matanya.”

“Setiap hari aku terus menemaninya. Rasa sepiku pun berkurang. Aku seperti merasa sedih dan bahagia disaat yang bersamaan. Sampai suatu malam…” suaranya terhenti, karena dia tidak sanggup menceritakan apa yang terjadi selanjutnya, maka kuraih dan kugenggam tangannya.

Bayangan itu datang ke kepalaku, aku seperti ditarik mundur ke putaran waktu yang begitu jauh. Di sana, di rumah itu, aku melihat seorang perempuan paruh baya sedang mengunci semua pintu dan jendela rumahnya. Dia mengambil tali dan masuk ke dalam kamar. Dia duduk sambil terus memandangi foto anaknya, Adelia. Dia mulai menangis, tetes demi tetes air mata itu jatuh membasahi tangannya. Seketika itu juga ia bangkit dan meletakkan sebuah bangku di atas tempat tidur. Dengan tubuh yang gemetar, dia mencoba naik ke atas kursi tersebut. Kemudian dia mulai memasangkan tali yang sedari tadi ia genggam kepada sebuah lampu gantung di langit-langit kamar itu. Aku tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya. Tubuhku sudah siap bergerak dan melangkah untuk menghentikannya dan, semuanya menghilang begitu saja. Aku pun kembali, dan kulepas genggaman itu.

“Apa ibuku masih hidup?” tanya Adelia, cemas.

“Maaf, aku belum bisa memberitahumu. Lalu, apa yang sebenarnya kau lihat malam itu?” tanyaku.

“Ibu…ibu masuk ke kamarku dan membawa tali di tangannya. Tali yang sama persis dengan yang dulu aku pakai. Tapi aku tidak bisa masuk ke kamar itu, aku tidak tahu apa yang dia lakukan dengan tali itu. Semenjak malam itu, aku tidak bisa melihatnya lagi. Kumohon, katakan kalau ibuku masih hidup, katakan dia tidak melakukan apa yang aku lakukan.” tangisnya pecah kembali.

“Jangan khawatir, kita kunjungi Ibumu besok pagi.” aku mencoba menenangkannya. 

“Apa aku benar-benar bisa bertemu dengannya? Apa dia bisa melihatku, seperti kau melihatku?” tanya Adelia ragu. 

Aku hanya tersenyum. Kuantar dia untuk beristirahat di sebuah ruangan bersama arwah-arwah yang bernasib sama dengannya.

Keesokan harinya, kubawa dia pulang ke rumahnya. Rumah yang nampak tidak terurus. Rerumputan tumbuh subur di halaman, meninggi dan hampir menutupi rumah tersebut. Kukatakan padanya untuk menunggu di luar, dan membiarkan aku masuk ke dalam. Aku mengelilingi rumah itu, membuka pintu demi pintu, memeriksa, apakah masih ada kehidupan di sana. Foto-foto keluarga masih terpajang rapi di setiap dinding dan lemari kaca rumah tersebut. Hanya saja, semua wajah si ayah seperti dicoret dengan sengaja. Ketika aku memegangnya, aku hanya merasakan kebencian dan kemarahan melalui coretan-coretan itu.

“Siapa kamu?” kudengar suara perempuan di belakangku. Aku berbalik dan memberikan salamku padanya. Ya, dia adalah ibu Adelia, persis berdiri di hadapanku, pucat pasi.

Belum sempat aku menggenggam tangannya, Adelia datang berlari ke arah kami sambil berteriak, “Ibu!!” dia memeluk tubuh ibunya erat-erat. Kerinduan yang sudah tak tertahankan.

“Aku senang ibu masih hidup, maafkan Adel bu, maaf bu, maaf.”

Adelia terdiam sejenak, kemudian melepas pelukannya. Dia menatap lekat-lekat wajah ibunya, meraba-raba tubuhnya. Yang dia rasakan hanya dingin, dingin seperti tubuhnya selama ini. Tangisnya semakin keras ketika dia melihat bekas jeratan tali di leher ibunya yang sama dengan miliknya. Dia menatapku, seolah ingin memastikan. Apakah ibunya masih hidup?

Dari mataku, aku yakin dia mengerti jawabannya. Dia kembali memeluk ibunya, menghela napas dan mencoba menerima. Kulihat mereka memudar perlahan, bersama tangis, senyum, dan peluk yang mereka bawa.

Aku pergi. Tugasku selesai.

Di bulan Januari. Aku kedatangan arwah yang lain. Laki-laki paruh baya dengan kemeja putih berlumuran darah dan tanah. Luka demi luka ada di sekujur tubuhnya. Aku raih tangannya, dan kulihat sebuah kecelakaan kereta yang begitu mengerikan. Aku lepas, tak sanggup melihatnya.

“Apa yang bisa kubantu, Pak?”

“Aku ingin bertemu isteri dan anakku,” ucapnya sambil mengeluarkan sebuah foto dari saku kemejanya.

Kulihat foto itu baik-baik, mereka, Adelia dan Ibunya.

(*)

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending