Connect with us
evolusi blazer evolusi blazer

Budaya

Evolusi Blazer yang Kian Fleksibel

mm

Published

on

Ketika Coco Chanel dan Jean Patou memperkenalkan busana bergaya androgini tahun 1920-an, blazer muncul menjadi salah satu pilihan bagi kaum perempuan. Seiring zaman, blazer kian fleksibel dalam teknik padu padan sekaligus menjadi elemen busana lintas jender.

Pasca-Perang Dunia I menjadi masa bagi kaum perempuan memasuki era kebebasan, yang juga tecermin dalam tren mode ketika itu. Penampilan androgini, yang serba praktis, mulai digemari kaum perempuan ketika itu. Penampilan perempuan pada masa itu dimotivasi oleh hasrat kebebasan dalam menikmati hidup setelah perang yang menjemukan. Perempuan pun mulai tampil dengan potongan rambut pendek, merokok, serta mengenakan blazer, jumper, celana panjang, dan rok yang memperlihatkan betis.

Blazer dalam perkembangannya kemudian menjadi kelengkapan busana perempuan pekerja yang cukup esensial. Di tahun 1980-an, blazer mencerminkan perempuan yang mandiri, berkarier, dan penuh ambisi. Perangkat shoulder pad atau bantalan bahu pada blazer yang memberi siluet gagah pun menjadi penting.

Ketika itu, setelan blazer dengan bantalan bahu menjadi power-dressing yang mencerminkan ambisi dan kekuatan perempuan di dunia korporasi. Blazer dengan bantalan bahu memberi pesan intimidatif tentang kuatnya hasrat kaum perempuan keluar dari dunia domestik dan turut berperan dalam dunia kerja yang sebelumnya didominasi kaum lelaki. Di tahun 1980-an itu, setelan perempuan dengan bantalan bahu kian populer berkat serial televisi Dynasty yang menampilkan perempuan-perempuan berambisi.

Seperti diulas dalam buku 100 Ideas That Changed Fashion (Harriet Worsley, 2011), bantalan bahu sebelum tahun 1930-an hanya dikenakan oleh kaum pria. Namun, pada 1931, desainer Elsa Schiaparelli memperkenalkan setelan blazer untuk perempuan dengan bantalan bahu yang lebar.

Seiring zaman, blazer yang sejatinya berfungsi sebagai rangkapan luar terus berevolusi. Blazer tak lagi melulu identik dengan dunia korporasi. Kini, padu padan blazer dengan busana kasual kian umum dijumpai. Kesan yang timbul terangkum dalam istilah yang sering kita dengar sebagai smart casual. Istilah itu secara bebas dapat diartikan sebagai penampilan yang santai, tetapi elegan.

Dahulu, blazer umumnya tampil dengan warna-warna solid yang gelap ataupun kalem. Kini, desain blazer tampil lebih meriah, beragam motif dan beragam warna, termasuk warna-warna neon yang terang. Potongan blazer pun lebih beragam, mulai dari yang ekstra longgar hingga potongan yang pas dan mempertegas siluet lekuk tubuh.

”Boyfriend blazer”

Blazer di masa kini ternyata mampu melebur dengan gaya street style yang penuh semangat kebebasan. Selebritas Hollywood tampak beberapa kali mempertontonkan penampilan ala street style dengan blazer. Rihanna, misalnya, mengenakan blazer abu-abu berukuran ekstra longgar di bawah pinggul dan bahu struktural yang dipadukan dengan kaus longgar bergambar wajah Karl Lagerfeld serta celana jins superpendek. Rihanna tampak beberapa kali berpenampilan seperti ini dengan blazer ekstra longgar alias kedodoran (oversized) dan celana pendek.

Blazer oversized demikian merupakan salah satu dari tren busana boyfriend fashion, yakni busana oversized yang seolah-olah pinjaman dari teman laki-laki. Dengan ukuran ekstra longgar itu Rihanna seperti ingin menyeimbangkan kesan urakan dalam balutan blazer sehingga memberi tampilan keseluruhan yang lebih berkelas.

Sementara Diane Kruger mengkreasikan blazernya dalam tampilan yang chic. Mantan model asal Jerman ini mengenakan blazer biru bermotif polkadot putih dengan celana jins berpotongan pensil yang digulung di bagian bawah. Sepatu datar dan topi bundar menjadi aksen yang mempermanis tampilannya.

Lain lagi dengan Miranda Kerr. Blazer bermotif bunga hitam-putih dari Stella Mc Cartney menjadi pilihannya. Miranda memadukan blazer berpotongan di bawah pinggul itu dengan dalaman kaus hitam, celana jins berpotongan skinny, dan sepatu datar. Miranda juga pernah terlihat mengenakan boyfriend blazer berwarna kecoklatan dari desainer Charlotte Ronson berpadu dengan rok mini.

Berbeda dengan era gaya androgini di tahun 1920-an, tren boyfriend fashion yang merebak sejak sekitar 2009 bagaimanapun tampak tetap berupaya menyisipkan feminitas. Hal itu tampak dari cara mengenakan blazer kedodoran, yakni dengan menggulung lengan hingga sebatas siku sehingga memperlihatkan sebagian tangan yang ramping dan feminin. Nuansa kedodoran yang disarankan pun cukup satu ukuran di atas ukuran si perempuan.

Dari tiga penampilan selebritas tersebut, sehelai blazer bisa memberikan kesan yang berbeda-beda tergantung pada padu padan yang diberlakukan. Variasi blazer dan kesan yang ditimbulkan juga tergantung pada model potongan, panjang-pendek blazer, dan potongan pada bahu, baik dengan bantalan maupun tanpa bantalan. Sehelai blazer mampu menyulap tampilan yang biasa-biasa saja—seperti kaus dan jins—menjadi lebih istimewa.

Boleh dibilang, blazer pun tak mengenal batasan usia pemakai. Karakter blazer yang kian egaliter membuatnya senantiasa sukses dipadupadankan dengan beragam elemen busana lainnya. Bawahan ataupun dalaman untuk blazer juga tak mengenal pantangan, mulai dari celana panjang, celana pendek, legging, jins dengan berbagai potongan, rok mini, rok panjang, gaun, kemeja, hingga kaus oblong.

Blazer menjadi elemen busana yang signifikan dalam mendongkrak keseluruhan penampilan secara kilat. Eksistensi blazer dalam dunia mode terus berevolusi meniti zaman. Dari yang semula menyimpan semangat independensi kaum perempuan, kini, menjadi elemen busana yang egaliter dengan fleksibilitas tinggi. Bahkan, dengan pasangan pria, perempuan kini boleh saja bertukar blazer.

Blazer barangkali telah menjadi penanda zaman yang kian ramah pada ranah mode lintas jender alias unisex. (Sarie Febriane/Kompas)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Budaya

Sejarah Laut Sulawesi Dan Kolonialisme

mm

Published

on

Sejarah Laut Sulawesi Dan Kolonialisme

Oleh : Kasmiati[1]

Judul buku : Orang Laut Bajak Laut Raja Laut | Penulis : Adrian B. Lapian

Penerbit : Komunitas Bambu (2009) | Tebal : xx + 284

Membaca sejarah laut merupakan usaha mengenali Indonesia yang lebih utuh. Sebuah usaha yang bersumber dari dalam untuk mengutamakan apa yang semestinya dari negri maritim, serupa Indonesia. Lautan. Lautan sebagai kekuatan, lautan sebagi rumah, lautan sebagai ruang hidup tempat bergantung sekian puluh juta penduduk negri. Namun sejarah ditulis secara timpang, hanya darat yang terus menerus dikisahkan. Sementara cerita tentang laut tidak banyak digarap Sejarawan. Padahal sebuah negri unsur utamanya adalah tanah dan air termaksud di dalamnya lautan. Dari sinilah titik pijak kegelisahan Adrian B. Lapian mengapa meneliti, menuliskan sejarah kawasan laut Sulawesi abad XIX yang meliputi tiga kata kunci utama yaitu Orang Laut, Bajak Laut dan Raja Laut. Abad ke ke XIX menjadi fokus penelitian karena pada masa ini proses perluasan kekuasaan maritim kolonial  dan di sisi lain terjadi kemunduran kekuasaan maritim bahari pribumi. Sehingga dianggap strategis untuk dikaji karena merupakan masa penentu bagi situasi abad XX dan sesudahnya (hal.2).

Buku ini dibuka dengan sebuah argumen yang mencoba mengantarkan kita bagaimana seharusnya memandang Indonesia yang merupakan negara kepulauan  (Archieplagic state), melalui penegasan makna kata archipelago yang berdasarkan kamus oxford dan Webster bahwa kata ini berasal dari bahasa Yunani, yakni arch (besar, utama) dan pelagos (laut). Jadi archipelagic state sebenarnya harus diartikan sebagai “negara laut utama” yang ditaburi dengan pulau-pulau, bukan negara pulau-pulau yang dikelilingi laut. Dengan demikian paradigma perihal negara kita seharusnya terbalik, yakni negara laut yang ada pulau-pulaunya, (hal.2). Paradigma ini semestinya yang menjadi pandu kita dalam membangun Indonesia. Namun nasi telah menjadi bubur, Indonesia terlanjur dibangun dengan sudut pandang yang sangat berorientasi daratan maka laut ditimbun menjadi darat, sumber daya darat diperebutkan sampai berdarah-darah, lalu laut dipunggungi, hanya terus dikuras, tidak pernah diurus.

Segala tentang laut semisal musim dipelajari hanya sebagai penanda waktu kapan mesti berlayar  dan arah mana perlu dituju agar ombak tak menerkam dan ekspedisi berjalan sesuai rencana. Dalam sejarahnya  jalur-jalur laut dikaji agar selamat menempuh perjalanan menaklukkan kekuatan raja-raja setempat untuk menguasai sumberdaya alam bumi nusantara. Hal ini bisa terbaca misalnya dari usaha Portugis dan Spanyol pada abak ke XVI berlayar melalui utara pulau Sulawesi dan Kalimantan untuk menghindari laut Jawa dan Flores yang mana kekuasaan bahari setempat masih sangat kuat dan juga untuk meringkas jarak pelayaran hingga  200 leagues untuk sampai di kepulauan Maluku.

Sebagaimana kita tau bahwa kepulauan Maluku di masa lalu adalah tempat muasal kemewahan yang paling diincar dan diinginkan seluruh bangsa-bangsa, tempat rempah-rempah termahal—pala dan cengkih—tumbuh. Salah satu cerita tentang pentingnya pulau-pulau di Maluku  dapat kita baca melalui karya Milton (2015) mengenai Pulau Run tempat pala terbaik tumbuh pernah diperebutkan oleh Belanda dan Inggris. Oleh Belanda, Pulau Run ditukar dengan Manhattan. Salah satu kota yang merupakan bagian dari New York ini diberikan kepada Inggris.  Roelofsz (2016) juga mencatat bahwa cengkeh yang berasal dari lima pulau di Maluku –Ternate, Tidore, Makian, Mortir, dan Bacan—juga sangat penting dalam perdagangan  di wilayah Indonesia. Penemuan rempah-rempah di timur Indonesia ini merupakan daya tarik utama, masuk dan mencokolnya kolonialisme. Korban utama dari kolonialisme yang hidup di Indonesia adalah pribumi termaksud di dalamnya raja laut, Orang Laut hingga bajak laut.

***

Kategori Orang Laut atau yang biasa disebut sebagai bajau atau orang bajo (dan beberapa penyebutan lainnya seperti Orang Sama, Samal merujuk pada mereka yang memang menjadikan lautan sebagai ruang utama dalam melaksanakan berbagai macam aktifitas. Orang Laut dalam hal ini dapat diartikan sebagai mereka yang masih hidup di perahu, berumah di lautan meskipun pada waktu tertentu kadang menepi ke pesisir tapi tidak tinggal secara permanen  atau selamnya pada suatu tempat tertentu, melainkan hanya sejenak. Seperti ketika melakukan pertukaran dalam usaha memenuhi beberapa kebutuhan hidup.Namun  pemerintah menganggap Orang Laut ini sebagai suku terasing sehingga ada upaya pendaratan/ mendaratkan Orang Laut agar lebih beradab. Namun abai melihat proses adaptasi terhadap alam dan lingkungan yang telah terbangun dalam budaya hidup Orang Laut selama ini.

Situasi ini menunjukkan ketidak berpihakan pemerintah terhadap minoritas, terhadap Orang Laut. Maka, jika hari-hari terakhir ini kita banyak menyaksikan pulau-pulau ditimbun atas naman pembangunan pada dasarnya bukan hal baru.

Meskipun tidak selalu karena kebijakan dari pemerintah namun proses pendaratan berlangsung sejak lama.  Peralihan dari laut ke darat telah dilaporkan sejak abad ke XVI. Tampaknya dalam proses menjadi modern budaya bahari banyak ditinggal. Hal ini berkait kelindang dengan kolonialisme yang masuk dan tumbuh di wilayah kuasa kerajaan nusantara.

Pelayaran, Penaklukkan dan Proses Pendaratan

Orang Laut salah satu bagian penting dari kehidupan laut yang seringkali disalah mengerti. Banyak sekali naskah-naskah awal yang menceritakan tentang Orang Laut yang dianggap pemalu. Tapi lebih sering dicitrakan sebagai orang yang kasar dan kejam. Maka Orang Laut diasosiasikan sebagai bajak laut. Padahal Orang Laut dan bajak laut merupakan dua hal yang berbeda. Meskipun terkadang ada kerjasama di antara keduanya untuk melawan musuh bersama atau juga kadang Orang Laut ditaklukan oleh bajak laut sehingga mereka terpaksa bertindak sebagai perompak. Dalam kasus lain wilayah teritorial Orang Laut terkadang diganggu, memaksa mereka melakukan perlawanan atau bertindak kasar.

Meski demikian catatan Leonard Andaya menunjukkan sisi lain Orang Laut yang digambarkan sebagai kelompok yang sangat loyal dan setia pada Sultan dan mempunyai peranan penting dalam kerajaan Johor dan Melaka. Di dalam struktur kekuasaan kerajaan, kelompok orang laut merupakan salah satu komponen vital, sesudah sultan, para menteri dan orang kaya. Karena loyalitas Orang Laut sangat kuat dan hangat terhadap Sultan mereka merupakan kekuatan yang sangat diandalkan, baik terhadap ancaman dari luar maupun terhadap ronrongan dari dalam, misalnya terhadap meningkatnya kekuatan Orang Kaya, (hal.104). Ini menjukkan kekuatan Orang Laut merupakan benteng pertahanan Sultan untuk menjaga keseimbangan kerajaan dari berbagai bentuk serangan.

Ketika Portugis menduduki Melaka pada tahun 1511 dan memaksa Sultan berpindah hingga ke Johor dan Riau yang kemudian diserangnya juga pada tahun 1526 maka Orang Laut lah yang menjemput Sultan untuk mengungsi. Dan pada awal abad ke XIX ketika kerajan Riau-Johor dalam masalah pergantian tahta, Raffles telah berhasil menduduki Singapura. Maka, kehadiran Inggris yang berambisi “menguasai gelombang” tidak lagi memungkinkan Johor untuk berperan sebagai negara maritim, (hal.107) dari sinilah kemudian perhatian kerajan terhadap laut beralih ke daratan, sehingga peranan orang laut menjadi tidak penting dan relevan dalam pembangunan kerajaan atau negri.

Kehadiran bangsa-bangsa asing dan penaklukanya terhadap raja-raja nusantara menyebabkan proses daratanisasi terjadi. Karena jalur-jalur laut telah dikuasai sehingga para raja terpaksa meninggalkan laut. Proses daratanisasi kemudian menyajarah dan terus belangsung hingga hari ini, dimana korban pertamanya adalah orang laut yang terpaksa menyingkir dari pusat-pusat kekuasaan dan pemerintahan.  Berlayar jauh ke pulau-pulau kecil, terpencil—menuju timur—.

Maka bukan hal yang mengherangkan ketika saat ini kita menemukan lebih banyak orang-orang laut yang bermukim di wilayah timur Indonesia.

***

Dulu, pelayaran merupakan satu-satunya jalan masuk para kolonialis untuk tiba di pulau-pulau rempah. Jalur darat dan udara masih sangat tidak memungkinkan. Hasrat menaklukkan para kolonialis ini sangat besar, bukan hanya di darat tetapi sejak berlayar di lautan. Penaklukkan di laut terkadang melalui jalan kekerasan atau perompakan sebagaimana yang dilakukan oleh para bajak laut tapi jika yang melakukan semisal VOC (perusahan dagang milik belanda) dalam kecamata barat dilaporkan sebagai “korsario” yaitu tindakan kekerasan di lautan namun di restui negara. Padahal tindakan seperti VOC—sebelum menjadi kekuatan politik di Asia— merupakan tindakan bajak laut “pirate”.

Pirate atau Bajak Laut adalah orang yang melakukan kekerasan di laut tanpa mendapat wewenang dari pemerintah untuk melakukan tindakan itu. Dengan kata lain perbuatan itu dilakukan untuk kepentingan pribadi atau kepentingan suatu kelompok tertentu. Dalam hal ini melanggar hukum negara dan dianggap sebagai seorang kriminal (hal.117).

Maka Bajak Laut dalam istilah bahasa Indoensia yang mengandung pengertia kata “ pirata dan korsario” tidak terlalu menyimpang, meksipun pada kasus tertentu dapat dibuat pembedaan yang tegas (hal. 118).  Cerita tentang bajak laut ini merupakan berita yang sudah tertulis lama seperti yang tertuan dalam catatan perjalanan  Faxian (Fah-Hsien) yang dalam perjalanannya pulang dari India ke negri Cina (413-414) mengatakan bahwa “laut [Asia Tenggara]  penuh dengan bajak laut, barang siapa bertemu mereka akan menemui ajalnya, (hal.122).

Adrian B. Lapian juga membuat kesimpulan bahwa selama abad ke V sampai dengan abad ke XIV berita mengenai bajak laut terpusat di daerah selat malaka. Namun keadaan berubah semenjak abad ke XV. Terlebih dengan munculnya kapal Portugis dan Spanyol pada abad ke XVI yang bertujuan mengambil rempah-rempah dari Maluku, maka berita tentang pelayaran di wilayah bagian timur  mulai banyak ditemukan dengan demikian muncul pula berita tentang kegiatan bajak laut di sana, (hal.125).

Sialnya para bajak laut yang bermunculan ini seringkali diidentikkan sebagi orang laut padahal belum ada bukti nyata yang dapat mendukung argumen jikalau setiap orang laut adalah bajak laut. Pandangan tentang bajak laut ini memang seringkali subjektif seperti yang disimpulkan sendiri oleh A.B Lapian bahwa pandangan yang dimiliki umum tentang bajak laut didasarkan atas pandangan kekuatan yang menumpasnya.  Dan untuk kasus Asia Tenggara sumber tentang bajak laut berasal dari masa ketika kekuatan yang menumpasnya—kekuatan kolonial—sedang giat mengadakan ‘pemberantasan’ fenomena yang disebut bajak laut, (hal.159).

Tindakan yang dicap bajak laut terkadang merupakan bentuk perlawanan terhadap kekuatan kolonial seperti serangan “Moro” di Filipina pada abad XVI dan XVII pada dasarnya pernyataan perang terhadap Spanyol. Namun dalam kepustakaan barat hal ini dianggap serangan bajak laut atau apa yang dilakukan orang Tobelo pada akhir abad ke XVIII dianggap sebagai kegiatan bajak laut. Padahal ini bukan tindakan murni untuk merompak tapi  Orang Tobelo yang merupakan pengikut dari Sultan Nuku tengah melakukan perlawanan terhadap penguasa di Tidore dan VOC yang berada di Ternate. Perlawanan-perlawanan seperti ini tentu menyusahkan Belanda—dalam hal ini VOC—. Amal, (2010) mencatat bahwa pada dekade kedua menjelang 1800, VOC mengalami kemorosotan laba yang sangat drastis. Hal ini terutama disebabkan  pengeluaran biaya peperangan yang demikian besar.

Raja Laut dan Penguasaan Laut

Selain bajak laut, raja laut merupakan satu terminologi penting dalam kebudayan maritim. Raja laut dalam kawasan laut Sualwesi merupakan tokoh yang memimpin kekuatan laut kerajaan. Raja laut merupakan kekuatan laut yang resmi. Namun pada awal abad ke XIX kekuatan laut asing masuk ke wilayah perairan Asia. Hasrat untuk berkuasa yang didukung oleh tekhnologi yang lebih maju sangat  membantu mereka dalam menyingkirkan keuasaan raja laut sebelumnya.

Takluknya raja-raja laut nusantara menyebabkan kekuasaan asing menguat.  Maka, ketika memasuki abad XX perairan Asia Tenggara telah dikuasai kekuatan asing itu (hal. 173).  Pembagian wilayah kekuasaan kemudian hanya dilakukan sesama penguasa asing tersebut tanpa melibatkan lagi raja-raja nusantara yang semakin lemah. Pada abad ke XIX raja laut terkuat adalah Inggris yang paling menguasai tekhnologi kemudian disebut sebagai Adi-Raja Laut bersama Spanyol dan Belanda. Namun di akhir abad ke XIX kekuatan Spanyol jatuh ke tangan Amerika dan pada  abad ke XX menjadi Adi Raja Laut.

Situasi penguasaan dan pembagi-bagian kekuasaan yang terjadi di masa lampau oleh negara-negara maju yang lebih menguasai tekhnologi masih sangat terasa. Jika dulu kolonialisme  maka hari ini imperialisme yang wataknya sama saja untuk menguras sumber daya yang ada di Indonesia.

Daftar Pustaka

Amal, MA. 2010.Kepulauan Rempah-Rempah Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia

Milton, G. 2015. Pulau Run Magnet Rempah-rempah Nusantara yang Ditukar dengan Manhattan. Tangerang Selatan: Alvabet

Roelofsz, MAPM. 2016. Persaingan Eropa dan Asia di Nusantara Sejarah Perniagaan 1500-1630. Depok: Komunitas Bambu

 

[1] Perempuan, penikmat sejarah yang saat ini mengelolah Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (PESKP)  Fakultas Ekonomi Univ.Muhammadiyah Kendari

Continue Reading

Budaya

Masih Adakah “Simfoni Hati” di Jakarta?

mm

Published

on

simponi hati di jakarta

Oleh: Sabiq Carebesth*

Selalu saja ada seseorang yang tertawa lepas dalam kegelapan, mengeluarkan serangkain lelucon dan sindiran-sindiran tajam–bahwa kota seharusnya jangan pernah disalah artikan oleh kata-kata yang menjelaskannya.

Itulah gambaran dan pengertian kota-kota “imajiner” milik Italo Calvino dalam bukunya “Invisible Cities”. Mirip dengan kota Jakarta milik (anda)? Apakah Jakarta memiliki tanda?

Di jakarta, tawa yang paling lepas adalah tawa dari mulut yang paling berbusa menyembunyikan derita. Tawa lepas dalam kegelapan nun muram rumah kontrakan, jembatan panjang, gubuk liar yang menunggu gusuran; tawa yang menertawai keterbahakannya sendiri pada apa yang terjadi dan ada di Jakarta. Rentetan ironi yang disampaikan melalui kebohongan benda-benda sebagai penanda yang membuat tawa lepas dan kebahagiaan berganti rupa menjadi keterasingan, dan tak jarang ketragisan.

Itulah tanda-tanda Jakarta yang tak pernah bohong; ke-tragis-an dan keterasingan jiwa modern yang ironis. Sementara  benda-benda yang berjuang menjadi “tanda” seperti halnya lukisan, kerap gagal menangkap kebohongan yang disampaikan oleh alasan keberadaan benda-benda tak terkecuali lukisan dan gagasan di dalamnya.

Lukisan tentang kota seperti Jakarta, mestinya adalah meditasi yang sublim yang dengan kemampuan meditasinya mengambil jarak dari realitas sekaligus pada saat yang sama menancapkannya lebih dalam ke dalam; kenyataan.  Zaman terus berubah, meninggalkan ironi dan ambivalensi, seni menangkapnya, tapi sekaligus memberinya harapan. Itulah kritik ringan saya sebagai penonton lukisan dalam pameran bersama Art Venture IV, bertemakan “Ada Apa Jakarta” di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, pada 21-29 Agustus 2013.

SALAH ARTI

Simbol tentang Jakarta kerap atau bahkan selalu dihadirkan dalam medium visual seni yang muram (tapi nyatanya jakarta terang benderang), kumuh dan marjinal (tapi Jakarta adalah pusat dalam banyak pengertian dan anda bisa lihat berapa mega Mall yang setiap menit lantainya dibersihkan); jakarta adalah sungai dengan kanal-kanal air yang hitam, rentetan musim yang kerap berarti banjir, di Jakarta kita juga melihat kehidupan “Indonesia” di pinggir kali (keragaman etnik dimana wajah Indonesia kasat mata di bantaran CIliwung).

Secara khusus dan terbanyak Jakarta lazim dikenali sebagai simbol bagi kemacetan; baik jalan raya, atau juga kemacetan dalam hal sosio-kultural seperti kemacetan pikiran, keterbukaan, kemanusiaan yang sebenarnya bukan hanya macet, tapi bahkan nyaris involutif atau sebutlah, padat merayap (tapi Jakarta juga mimpi paling absah dari setiap impian yang progres, bahkan di Jakarta orang-orangnya berjalan cepat-cepat; dan semua yang serba cepat dari informasi, politik, bisnis, transaksi, mode) Jakarta adalah tempat yang menghendaki serba cepat, tapi kadang juga karena sempitnya tempat, Jakarta juga bisa berarti berhimpit-himpit, himpitan, atau terhimpit.

Hal terakhir misalnya tampak pada karya “Maaf…Ada Hajatan!” karya Afriani. Lukisan yang menggambarkan bagaimana orang di Jakarta tak memiliki tempat di halaman rumahnya untuk menggelar hajatan kecuali dengan menutup akses publik berupa jalan umum.

Dalam pameran Art Venture IV juga terlihat lukisan Rizal MS dan Triyono Budhi tentang keberadaan kaum marjinal di kota Jakarta. Gabriella Indira Satri yang menampilkan lukisan tentang banjir. Nisa Anggraini dengan gaya naif melukiskan jalan-jalan Jakarta yang macet. Yudi Hermunanto dengan lukisannya yang berjudul “Selamat Datang Aja Deh!”. Ada pula Arina Restu Handari yang menggambar ondel-ondel, serta R Sahyo yang menggambarkan suasana pasar rakyat. Lukisan yang lain hampir serupa dalam menggarap tema “Ada Apa Jakarta”, para perupa masih tampak menggambarkan Jakarta sebagaimana pandangan kebanyakan orang dimana bisa kita katakan: “demikianlah adanya jakarta.” Apakah nada itu terlihat pesimis dan “salah tafsir”?

Sebagai lukisan, teknik dan hasil yang tervisualkan lebih dari sekedar bagus, melainkan menampilkan suatu cita rasa estetik yang berhasil hampir dalam semua lukisan yang dipamerkan; dimana pengunjung, setidaknya saya, dibuat berdiri mematung menikmati keindahan, dan separuh dari tindakan mematung adalah merefleksikan Jakarta dengan segala apanya. Kemudian saya merasa bahwa tema dan gagasan dalam melihat Jakarta masih bergantung pada ungkapan-ungkapan aksara dan wicara yang lazim membuncah di Jakarta baik di berita koran, TV atau di kehidupan sehari-hari.

Ada sisi lain yang tak saya dapatkan dari Jakarta dimana saya berharap dunia lukis bisa memberikannya. Inilah yang saya sedikit merasa harus memberi catatan, sebagai pengunjung dan penduduk Jakarta. Saya ingin bertanya, selain kebohongan realitas melalui simbol-simbol aksara dan wicara, masih adakah romansa di Jakarta?  Dimana tempatnya cinta kasih di tengah ibu kota yang serba cepat, banjir, orang-orang yang terpinggirkan, masyarakat yang minim ruang publik, bagaimana kemanusiaan di jakarta di rawat bila tak dengan hati? Jadi masih adakah simfoni hati di Jakarta?

“SYIMPONI HATI”

Sampai di ruangan dalam di penghujung gedung Galeri Cipta memajang sebuah lukisan besar berjudul “Melawan Trend” karya Afriani yang dengan baik mewakili tema ironis dalam “ada apa jakarta”, juga gagal memberi saya kepastian bahwa di Jakarta, soal perasaan, hati dan kenangan dalam romansa; masih bisa dilukiskan.

Saya mencari dengan perasaan nyaris kecewa karena berpikir hanya akan mendapati jajaran lukisan dari kombinasi cat dan visualisasi ide yang kritis atas sebuah, sebenarnya—tema kehilangan, dari Jakarta yang terus berevolusi secara cepat sebagai kota metropolis yang super konsumtif dalam berbagai hal.

Namun harapan saya akhirnya lunas di hadapan sebuah dinding yang memajang tiga lukisan dengan media Acrylic on Canvas karya Yul Hendri. Salah satu dari tiga lukisan karya Yul berjudul “Syimponi Hati”. Dan rupanya “Syimponi Hati” masih ada di Jakarta yang serba ironis dan tragis, kebanyakan ambivalen dan dipenuhi paradoks pada realias dan simbol kehidupan sosial budayanya.

“Syimponi Hati” karya Yul Hendri mungkin bukan lukisan terbaik yang ada dalam ruangan besar Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki malam  itu, tapi lukisan itu menyelamatkan perasaan dan kognisi kehidupan Jakarta. Bahwa di atas segala perubahan sosial dan kultural sebuah kota yang nyaris sama imajinernya dengan mimpi-mimpi manusia di dalamnya sehiangga hampir sebagian dari realitas di kota seperti Jakarta adalah realitas yang bohong, hati tetap adalah monumen penting bagi penanda kehidupan kota yang jujur, sebuah syimponi tentang romansa zaman dari sebuah kota bernama Jakarta.

Akhirnya, apalah Jakarta bila tanpa syimponi dari hati manusia yang senantiasa bergetar pada seni? Barangkali memang benar, di kota kebohongan tak pernah terletak pada kata-kata, namun ada di antara benda-benda. Tanpa simfoni hati, Jakarta hanya akan menjadi benda-benda mati yang tak pernah bisa berkata-kata untuk menyusun kenangannya sendiri yang kerap sendu. Serupa kesenduan dari “syimphoni hati” Yul Hendri; kesenduan yang tak lagi mencari penawar kelapangan atau keluasan, tapi kesenduan yang sudah diterima sebagai bagian dari simfoni hati yang dibunyikan oleh biola jiwa, yang terhimpit di Jakarta.[]

SABIQ CAREBESTH

Penyair, Pecinta Buku dan Kesenian, Editor “Galeri Buku Jakarta”

*Artikel ini pernah dimuat di harian Jawa Pos, 2013.

Continue Reading

Budaya

Menyusuri La Rambla, Barcelona

mm

Published

on

La Rambla Barcelona

BARCELONA , kota terbesar kedua di Spanyol, memiliki banyak tempat menarik untuk dikunjungi. Ibu kota daerah otonom Catalan itu terletak di tepi Laut Mediterania dan memiliki sejarah panjang.

Salah satu tempat yang menarik dikunjungi adalah kawasan La Lambla. La Rambla merupakan jalan sepanjang 1,3 kilometer yang terbentang dari alun-alun Plaza Catalunya hingga pelabuhan lama Barcelona, Port Vell.

Plaza Catalunya merupakan pusat kota yang digunakan untuk berbagai kegiatan warga. Plaza ini digunakan warga mulai sekadar berjalan-jalan hingga berdemonstrasi.

Baik warga lokal maupun turis senang menyusuri jalan yang disebut-sebut sebagai jalan paling tersohor di Barcelona ini. Di ujung jalan yang paling dekat dengan Plaza Catalunya, ada air mancur. Menurut legenda, siapa yang minum dari air mancur ini akan terus kembali ke Barcelona. Tak heran kalau banyak turis mencobanya.

La Rambla memang nyaman untuk orang berjalan kaki. Jalan ini lebar dan bagian tengahnya khusus untuk pejalan kaki. Sementara di kanan kirinya untuk jalur mobil dan motor. Semua pemakai jalan ini tertib pada jalurnya.

Jadi, tak ada motor yang nyelonong masuk ke area pejalan kaki. Sepanjang tepian jalur mobil dan motor, banyak bangunan tua. Bagian bawah bangunan pun dimanfaatkan untuk toko, restoran, sampai tempat penukaran uang.

Meski nyaman, kita harus tetap waspada saat berjalan-jalan di kawasan ini. Maklum, seperti umumnya kota besar dunia, Barcelona pun tidak bebas dari para pencopet.

Musim semi

Pada hari Minggu akhir Februari lalu, walaupun matahari bersinar, suhu Barcelona pada musim semi berkisar 9-13 derajat celsius. Meski waktu itu siang hari, bagi warga Jakarta yang biasa hidup dengan suhu 27-30 derajat celsius, Bercelona terasa dingin.

Jaket dan topi wajib kita pakai untuk menahan angin. Selain menikmati pemandangan dan bangunan tua, berjalan-jalan di La Rambla juga memberi kita gambaran gaya berpakaian warga setempat.

Sementara di kanan kiri jalur pejalan kaki terdapat kafe-kafe kecil. Mereka menggelar meja-meja dengan payung. Untuk menahan dingin, beberapa kafe menyalakan perapian kecil di antara meja-meja. Beberapa kafe menambah tenda plastik transparan untuk menahan terpaan angin.

Tidak hanya kafe, di La Rambla juga banyak pelukis yang menawarkan jasa. Hanya dalam waktu sekitar 5 menit, gambar karikatur pemesan selesai mereka kerjakan.

Kios-kios suvenir juga banyak terdapat di La Rambla. Suvenir berbentuk magnet, misalnya, dibanderol seharga 3-10 euro. Suvenir khas dari Barcelona adalah salamander gaudi. Di sini tubuh salamander yang mirip kadal itu, ditempeli mozaik berwarna-warni.

Gaudi adalah nama arsitek terkenal Barcelona. Dia antara lain membuat Parc Guell. Di taman yang dilengkapi rumah ini, terdapat salamander raksasa, makhluk rekaan Gaudi yang disebut El Drag. Bentuk inilah yang kemudian menjadi salah satu suvenir khas Barcelona.

Setelah melewati deretan kios suvenir dan menyeberang jalan kita bertemu monumen Columbus atau Mirador de Colon, dalam bahasa setempat. Christopher Columbus adalah pelaut Genoa, Italia, yang mendapatkan dukungan dari raja-raja Spanyol untuk menemukan dunia baru. Tinggi monumen ini sekitar 50 meter dengan patung Columbus di puncaknya. Di dalam monumen ini ada lift yang membawa kita melihat pemandangan kota dari puncaknya.

Pelabuhan

Hanya beberapa meter dari monumen, kita menjumpai pintu masuk ke Port Vell, yang berarti pelabuhan lama dalam bahasa Catalan. Banyak keluarga menghabiskan akhir pekan di sini bersama burung-burung camar yang beterbangan. Jembatan gantung kayu, Rambla de Mar, menghubungkan ujung La Rambla dengan Moll d’Espanya.

Di mal tersebut terdapat restoran, toko, dan akuarium air laut yang diklaim terbesar di Eropa dengan koleksi 8.000 ekor ikan. Di kawasan pelabuhan ini, kita bisa menyewa becak wisata untuk berkeliling kawasan ini. Tarif becak wisata itu sekitar 65 euro per tiga jam untuk dua penumpang.

Selain La Rambla, tempat yang ”wajib” kita kunjungi adalah Camp Nou. Inilah markas klub sepak bola Barcelona, Barca. Merek klub sepak bola Barcelona ini dianggap sebagai yang paling kuat di seantero Spanyol.

Orang asing boleh bingung letak Spanyol, tetapi ketika disebut Barca, mereka biasanya langsung paham. Kabarnya rumput di lapangan sepak bola ini sering dicuri orang untuk dijadikan jimat pendukungnya. Mungkin karena itulah, kawasan ini dijaga ketat. Pada musim dingin rumputnya ditutup, bahkan diberi penghangat agar dapat tumbuh baik.

Matahari musim semi sudah tergelincir. Perjalanan Minggu siang di La Rambla dan Camp Nou cukup menjadi alasan kita untuk kembali ke Barcelona…. (Joice Tauris Santi)

Continue Reading

Classic Prose

Trending