Connect with us
evolusi blazer evolusi blazer

Budaya

Evolusi Blazer yang Kian Fleksibel

mm

Published

on

Ketika Coco Chanel dan Jean Patou memperkenalkan busana bergaya androgini tahun 1920-an, blazer muncul menjadi salah satu pilihan bagi kaum perempuan. Seiring zaman, blazer kian fleksibel dalam teknik padu padan sekaligus menjadi elemen busana lintas jender.

Pasca-Perang Dunia I menjadi masa bagi kaum perempuan memasuki era kebebasan, yang juga tecermin dalam tren mode ketika itu. Penampilan androgini, yang serba praktis, mulai digemari kaum perempuan ketika itu. Penampilan perempuan pada masa itu dimotivasi oleh hasrat kebebasan dalam menikmati hidup setelah perang yang menjemukan. Perempuan pun mulai tampil dengan potongan rambut pendek, merokok, serta mengenakan blazer, jumper, celana panjang, dan rok yang memperlihatkan betis.

Blazer dalam perkembangannya kemudian menjadi kelengkapan busana perempuan pekerja yang cukup esensial. Di tahun 1980-an, blazer mencerminkan perempuan yang mandiri, berkarier, dan penuh ambisi. Perangkat shoulder pad atau bantalan bahu pada blazer yang memberi siluet gagah pun menjadi penting.

Ketika itu, setelan blazer dengan bantalan bahu menjadi power-dressing yang mencerminkan ambisi dan kekuatan perempuan di dunia korporasi. Blazer dengan bantalan bahu memberi pesan intimidatif tentang kuatnya hasrat kaum perempuan keluar dari dunia domestik dan turut berperan dalam dunia kerja yang sebelumnya didominasi kaum lelaki. Di tahun 1980-an itu, setelan perempuan dengan bantalan bahu kian populer berkat serial televisi Dynasty yang menampilkan perempuan-perempuan berambisi.

Seperti diulas dalam buku 100 Ideas That Changed Fashion (Harriet Worsley, 2011), bantalan bahu sebelum tahun 1930-an hanya dikenakan oleh kaum pria. Namun, pada 1931, desainer Elsa Schiaparelli memperkenalkan setelan blazer untuk perempuan dengan bantalan bahu yang lebar.

Seiring zaman, blazer yang sejatinya berfungsi sebagai rangkapan luar terus berevolusi. Blazer tak lagi melulu identik dengan dunia korporasi. Kini, padu padan blazer dengan busana kasual kian umum dijumpai. Kesan yang timbul terangkum dalam istilah yang sering kita dengar sebagai smart casual. Istilah itu secara bebas dapat diartikan sebagai penampilan yang santai, tetapi elegan.

Dahulu, blazer umumnya tampil dengan warna-warna solid yang gelap ataupun kalem. Kini, desain blazer tampil lebih meriah, beragam motif dan beragam warna, termasuk warna-warna neon yang terang. Potongan blazer pun lebih beragam, mulai dari yang ekstra longgar hingga potongan yang pas dan mempertegas siluet lekuk tubuh.

”Boyfriend blazer”

Blazer di masa kini ternyata mampu melebur dengan gaya street style yang penuh semangat kebebasan. Selebritas Hollywood tampak beberapa kali mempertontonkan penampilan ala street style dengan blazer. Rihanna, misalnya, mengenakan blazer abu-abu berukuran ekstra longgar di bawah pinggul dan bahu struktural yang dipadukan dengan kaus longgar bergambar wajah Karl Lagerfeld serta celana jins superpendek. Rihanna tampak beberapa kali berpenampilan seperti ini dengan blazer ekstra longgar alias kedodoran (oversized) dan celana pendek.

Blazer oversized demikian merupakan salah satu dari tren busana boyfriend fashion, yakni busana oversized yang seolah-olah pinjaman dari teman laki-laki. Dengan ukuran ekstra longgar itu Rihanna seperti ingin menyeimbangkan kesan urakan dalam balutan blazer sehingga memberi tampilan keseluruhan yang lebih berkelas.

Sementara Diane Kruger mengkreasikan blazernya dalam tampilan yang chic. Mantan model asal Jerman ini mengenakan blazer biru bermotif polkadot putih dengan celana jins berpotongan pensil yang digulung di bagian bawah. Sepatu datar dan topi bundar menjadi aksen yang mempermanis tampilannya.

Lain lagi dengan Miranda Kerr. Blazer bermotif bunga hitam-putih dari Stella Mc Cartney menjadi pilihannya. Miranda memadukan blazer berpotongan di bawah pinggul itu dengan dalaman kaus hitam, celana jins berpotongan skinny, dan sepatu datar. Miranda juga pernah terlihat mengenakan boyfriend blazer berwarna kecoklatan dari desainer Charlotte Ronson berpadu dengan rok mini.

Berbeda dengan era gaya androgini di tahun 1920-an, tren boyfriend fashion yang merebak sejak sekitar 2009 bagaimanapun tampak tetap berupaya menyisipkan feminitas. Hal itu tampak dari cara mengenakan blazer kedodoran, yakni dengan menggulung lengan hingga sebatas siku sehingga memperlihatkan sebagian tangan yang ramping dan feminin. Nuansa kedodoran yang disarankan pun cukup satu ukuran di atas ukuran si perempuan.

Dari tiga penampilan selebritas tersebut, sehelai blazer bisa memberikan kesan yang berbeda-beda tergantung pada padu padan yang diberlakukan. Variasi blazer dan kesan yang ditimbulkan juga tergantung pada model potongan, panjang-pendek blazer, dan potongan pada bahu, baik dengan bantalan maupun tanpa bantalan. Sehelai blazer mampu menyulap tampilan yang biasa-biasa saja—seperti kaus dan jins—menjadi lebih istimewa.

Boleh dibilang, blazer pun tak mengenal batasan usia pemakai. Karakter blazer yang kian egaliter membuatnya senantiasa sukses dipadupadankan dengan beragam elemen busana lainnya. Bawahan ataupun dalaman untuk blazer juga tak mengenal pantangan, mulai dari celana panjang, celana pendek, legging, jins dengan berbagai potongan, rok mini, rok panjang, gaun, kemeja, hingga kaus oblong.

Blazer menjadi elemen busana yang signifikan dalam mendongkrak keseluruhan penampilan secara kilat. Eksistensi blazer dalam dunia mode terus berevolusi meniti zaman. Dari yang semula menyimpan semangat independensi kaum perempuan, kini, menjadi elemen busana yang egaliter dengan fleksibilitas tinggi. Bahkan, dengan pasangan pria, perempuan kini boleh saja bertukar blazer.

Blazer barangkali telah menjadi penanda zaman yang kian ramah pada ranah mode lintas jender alias unisex. (Sarie Febriane/Kompas)

Continue Reading

Budaya

Mengembalikan Kedigdayaan Maluku

mm

Published

on

Tak ada yang memungkiri, Tiongkok merupakan penguasa ekonomi awal abad XXI. Bahkan, tingkat pertumbuhan Tiongkok merupakan yang tertinggi kedua di dunia. Tiongkok dapat mengancam kedigdayaan ekonomi Amerika Serikat (AS). Padahal, hingga akhir abad XX AS merupakan penguasa ekonomi dunia, jauh meninggalkan Tiongkok.

Tak pelak, pencapaian yang diraih Tiongkok menimbulkan persaingan dengan AS. Bahkan, untuk menahan laju perekonomian Tiongkok, AS membangun jalur perdagangan transpasifik Trans Pacific Partnership (TPP) pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama 2009 lalu. Sedangkan, Tiongkok, membangkitkan kembali jalur sutera yang pernah dirintis oleh pedagang-pedagangnya pada awal masehi, untuk kembali menguasai perekonomian dunia.

Lalu di manakah posisi Indonesia? Sebagai negara yang memiliki posisi geografis yang sangat strategis, Indonesia dapat masuk dalam kedua kutub persaingan dua jalur perekonomian dunia. Tapi apakah Indonesia harus memilih salah satu diantaranya atau Indonesia dapat membuat poros baru perdagangan dunia?

Melalui buku ini, Komarudin Watubun mencoba menawarkan sebuah gagasan agar Indonesia untuk dapat membuat poros perekonomian dunia yang baru? Di mana, bagaimana, dan mengapa, Indonesia mesti membangun poros perekonomian itu?

Komarudin menawarkan gagasan bahwa Maluku dapat dijadikan sebagai poros perekonomian Indonesia abad XXI. Pertanyaan yang kemudian muncul, kenapa harus Maluku? Kenapa poros perdagangan dunia tidak dimulai di bagian Barat Indonesia yang sudah memiliki sarana dan prasarana yang lengkap dibandingkan wilayah Timur Indonesia seperti Maluku?

Secara umum, buku ini terdiri atas tiga bagian yakni kondisi Maluku dan Indonesia saat ini, sejarah Maluku, dan strategi untuk mewujudkan Maluku sebagai pusat perekonomian Indonesia dan dunia. Penulis mengungkapkan empat tesis untuk memperkuat alasan pemilihan Maluku menjadi titik perdagangan Indonesia dan dunia.

Pertama, tentu nilai historis dan ekonomis Maluku bagi Nusantara sejak abad XII hingga abad XX. Layaknya Tiongkok yang membangkitkan kembali jalur sutera, sejarah semestinya tidak menjadi benda mati dan hanya menjadi pelajaran menghafal di sekolah. Sebab, dalam perjalanan sejarah nusantara, Indonesia terutama Maluku pernah memiliki jalur perekonomian sendiri. Jalur tersebut dinamakan jalur rempah, Maluku menjadi titik pusatnya.

Dalam catatam sejarah, Maluku merupakan penghasil rempah-rempah terbaik dunia yang merupakan komoditas perdagangan termahal mengalahkan harga emas di dunia pada abad XVI. Bahkan, selama abad XVI—XVIII Maluku memasok kebutuhan rempah-rempah dunia yang melahirkan globalisasi, jaringan maritim dunia, inovasi, dan revolusi sistem keuangan dan korporasi global pertama kali di dunia (hlm.247).

Bahkan, karena kekayaannya, Spanyol dan Portugal sebagai kekuatan imperialis kuno memperebutkan Maluku. Perselisihan tersebut bahkan  menghasilkan Perjanjian Zaragoza yang membagi belahan bumi barat di antara Spanyol dan Portugal dan diprakarsai oleh Paus pada 7 Juni 1494.

Judul Buku : Maluku, Staging Point RI Abad ke-21 Penulis : Komarudin Watubun Penerbit : Yayasan Taman Pustaka Tahun Terbit : Cetakan I, November 2017 Tebal : vi + 431 halaman Harga : Rp.120.000

Namun, tak hanya dua negara tersebut yang memperebutkan Maluku, Belanda pun pada Dua abad setelahnya, ikut dalam persaingan memperebutkan Maluku. Sebab, siapa yang dapat menguasai rempah-rempah Maluku, maka akan dapat menguasai perdagangan Eropa (hlm.274) Hal itu merupakan nilai historis dan strategis Maluku.

Kedua, Geostrategis Maluku dan Indonesia. Posisi Maluku dan sekitarnya memiliki jalur-jalur terbuka yang sangat banyak, khususnya bila zona Maluku dan sekitarnya dijadikan basis produksi, penyedia, dan transit arus komoditi jasa, mineral strategis, manuisa, barang, jasa, uang dan informasi. Sebab, wilayah Maluku sangat terbuka ke Filipina, Brunei, Australia, Papua Nugini, Korea Selatan, Jepang, Tiongkok hingga Australia.

Maluku dapat menjadi opsi lain sebagai titik pusat jalur perdagangan Indonesia. Sebab, bila mengikuti rute yang dibangun oleh Belanda yang berpusat pada Jakarta dan melalui commercial hub atau transit di Singapura yang dibangun oleh Inggris, maka komoditas dari Indonesia sangat terbatas. Tak hanya itu, jalur itu hanya menguntungkan Singapura (hlm.129).

Ketiga, faktor mineral strategis Maluku. Maluku memiliki kekayaan alam selain rempah-rempah yaitu ladang gas Blok Masela. Blok Masela merupakan ladang gas abadi yang dimiliki oleh Indonesia dengan cadangan gasnya yang bisa bertahan selama 70 tahun ke depan. Cadangan gasnya mencapai 10,73 triliun cubic feet (tcf).

Selain itu, produk dari gas dapat diolah kembali menjadi 200 produk turunan (hlm.74). Bahkan, Rizal Ramli saat masih menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman menyatakan, apabila dikelola dengan baik, maka ladang Blok Masela dapat mengalahkan penghasilan gas dan minyak Qatar.

Keempat, seleksi alam dan segitiga arus alam Maluku selama ini pada tiga tingkat global.  Secara historis ratusan tahun sejak pramasehi, kebutuhan masyarakat dunia dapat dipasok dari kawasan arus alam Papua, Maluku, dan Nusa tenggara Timur (NTT). Zona tersebut merupakan satu garis alam (hlm.395).

Pola hubungan alam zona-zona tersebut saling terkait, saling mendukung, dan saling melindungi. Oleh sebab itu, penerapan strategi sosial, ekonomi, dan lingkungan pada zona tersebut akan perubahan signifikan dan bersamaan pada seluruh sektor yaitu pertanian, kehutanan, perikanan, kelautan, peternakan, dan perhubungan baik secara nasional maupun internasional.

Posisi Indonesia—terutama Maluku—yang sangat strategis semestinya dapat dijadikan untuk membangun poros perekonomian baru, bukan harus memilih antara jalur transpasifik AS dan jalur sutera Tiongkok. Tentu saja, pembangunan Maluku menjadi poros ekonomi baru Indonesia harus dapat menyejahterahkan rakyat Maluku dan Indonesia.

Sebab, hingga saat ini, dibalik kekayaan alam yang melimpah, Provinsi Maluku menjadi salah satu provinsi miskin di Indonesia. Bahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka pengangguran Indonesia pada Agustus 2017 mencapai 7,04 juta orang atau naik 10 ribu orang dari bulan sebelumnya yang tercatat 7,03 juta. Dengan demikian, Provinsi Maluku menjadi daerah dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi (TPT) dengan persentasi 9,29 persen.

Oleh sebab itu, buku ini sangat layak untuk dibaca oleh semua kalangan, terutama pemerintah dan rakyat Indonesia khususnya Maluku. Bagi pemerintah, buku ini dapat dijadikan sebagai pedoman untuk membangun perekonomian yang berpihak pada rakyat. Sedangkan, bagi rakyat Maluku, buku ini mengingatkan agar kita tak lengah atau terlena dengan kekayaan alam yang dimiliki. Kita tentu tak ingin mengulangi kesalahan pengelolaan kekayaan alam yang kita miliki di Papua yang tak memberi dampak bagi rakyat Indonesia. Selain itu, buku ini banyak memiliki data-data yang sangat lengkap, baik data sejarah maupun data ekonomi dan geostrategis politik dunia.

Kita tentu tak ingin terus membenarkan sebuah adagium bahwa kekayaan alam suatu negara adalah kutukan. Kekayaan alam hanya menghasilkan konflik dan kemiskinan bagi sebuah negara. Kita tentu ingin membuktikan bahwa kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia dapat menyejahterakan rakyatnya. Sehingga, sila kelima dalam pancasila bukan lagi sebuah cita-cita, melainkan sebuah realitas dan keniscayaan bagi rakyat Indonesia.

*) Virdika Rizky Utama, Penulis dan Wartawan Majalah GATRA

Continue Reading

Budaya

Sejarah Laut Sulawesi Dan Kolonialisme

mm

Published

on

Sejarah Laut Sulawesi Dan Kolonialisme

Oleh : Kasmiati[1]

Judul buku : Orang Laut Bajak Laut Raja Laut | Penulis : Adrian B. Lapian

Penerbit : Komunitas Bambu (2009) | Tebal : xx + 284

Membaca sejarah laut merupakan usaha mengenali Indonesia yang lebih utuh. Sebuah usaha yang bersumber dari dalam untuk mengutamakan apa yang semestinya dari negri maritim, serupa Indonesia. Lautan. Lautan sebagai kekuatan, lautan sebagi rumah, lautan sebagai ruang hidup tempat bergantung sekian puluh juta penduduk negri. Namun sejarah ditulis secara timpang, hanya darat yang terus menerus dikisahkan. Sementara cerita tentang laut tidak banyak digarap Sejarawan. Padahal sebuah negri unsur utamanya adalah tanah dan air termaksud di dalamnya lautan. Dari sinilah titik pijak kegelisahan Adrian B. Lapian mengapa meneliti, menuliskan sejarah kawasan laut Sulawesi abad XIX yang meliputi tiga kata kunci utama yaitu Orang Laut, Bajak Laut dan Raja Laut. Abad ke ke XIX menjadi fokus penelitian karena pada masa ini proses perluasan kekuasaan maritim kolonial  dan di sisi lain terjadi kemunduran kekuasaan maritim bahari pribumi. Sehingga dianggap strategis untuk dikaji karena merupakan masa penentu bagi situasi abad XX dan sesudahnya (hal.2).

Buku ini dibuka dengan sebuah argumen yang mencoba mengantarkan kita bagaimana seharusnya memandang Indonesia yang merupakan negara kepulauan  (Archieplagic state), melalui penegasan makna kata archipelago yang berdasarkan kamus oxford dan Webster bahwa kata ini berasal dari bahasa Yunani, yakni arch (besar, utama) dan pelagos (laut). Jadi archipelagic state sebenarnya harus diartikan sebagai “negara laut utama” yang ditaburi dengan pulau-pulau, bukan negara pulau-pulau yang dikelilingi laut. Dengan demikian paradigma perihal negara kita seharusnya terbalik, yakni negara laut yang ada pulau-pulaunya, (hal.2). Paradigma ini semestinya yang menjadi pandu kita dalam membangun Indonesia. Namun nasi telah menjadi bubur, Indonesia terlanjur dibangun dengan sudut pandang yang sangat berorientasi daratan maka laut ditimbun menjadi darat, sumber daya darat diperebutkan sampai berdarah-darah, lalu laut dipunggungi, hanya terus dikuras, tidak pernah diurus.

Segala tentang laut semisal musim dipelajari hanya sebagai penanda waktu kapan mesti berlayar  dan arah mana perlu dituju agar ombak tak menerkam dan ekspedisi berjalan sesuai rencana. Dalam sejarahnya  jalur-jalur laut dikaji agar selamat menempuh perjalanan menaklukkan kekuatan raja-raja setempat untuk menguasai sumberdaya alam bumi nusantara. Hal ini bisa terbaca misalnya dari usaha Portugis dan Spanyol pada abak ke XVI berlayar melalui utara pulau Sulawesi dan Kalimantan untuk menghindari laut Jawa dan Flores yang mana kekuasaan bahari setempat masih sangat kuat dan juga untuk meringkas jarak pelayaran hingga  200 leagues untuk sampai di kepulauan Maluku.

Sebagaimana kita tau bahwa kepulauan Maluku di masa lalu adalah tempat muasal kemewahan yang paling diincar dan diinginkan seluruh bangsa-bangsa, tempat rempah-rempah termahal—pala dan cengkih—tumbuh. Salah satu cerita tentang pentingnya pulau-pulau di Maluku  dapat kita baca melalui karya Milton (2015) mengenai Pulau Run tempat pala terbaik tumbuh pernah diperebutkan oleh Belanda dan Inggris. Oleh Belanda, Pulau Run ditukar dengan Manhattan. Salah satu kota yang merupakan bagian dari New York ini diberikan kepada Inggris.  Roelofsz (2016) juga mencatat bahwa cengkeh yang berasal dari lima pulau di Maluku –Ternate, Tidore, Makian, Mortir, dan Bacan—juga sangat penting dalam perdagangan  di wilayah Indonesia. Penemuan rempah-rempah di timur Indonesia ini merupakan daya tarik utama, masuk dan mencokolnya kolonialisme. Korban utama dari kolonialisme yang hidup di Indonesia adalah pribumi termaksud di dalamnya raja laut, Orang Laut hingga bajak laut.

***

Kategori Orang Laut atau yang biasa disebut sebagai bajau atau orang bajo (dan beberapa penyebutan lainnya seperti Orang Sama, Samal merujuk pada mereka yang memang menjadikan lautan sebagai ruang utama dalam melaksanakan berbagai macam aktifitas. Orang Laut dalam hal ini dapat diartikan sebagai mereka yang masih hidup di perahu, berumah di lautan meskipun pada waktu tertentu kadang menepi ke pesisir tapi tidak tinggal secara permanen  atau selamnya pada suatu tempat tertentu, melainkan hanya sejenak. Seperti ketika melakukan pertukaran dalam usaha memenuhi beberapa kebutuhan hidup.Namun  pemerintah menganggap Orang Laut ini sebagai suku terasing sehingga ada upaya pendaratan/ mendaratkan Orang Laut agar lebih beradab. Namun abai melihat proses adaptasi terhadap alam dan lingkungan yang telah terbangun dalam budaya hidup Orang Laut selama ini.

Situasi ini menunjukkan ketidak berpihakan pemerintah terhadap minoritas, terhadap Orang Laut. Maka, jika hari-hari terakhir ini kita banyak menyaksikan pulau-pulau ditimbun atas naman pembangunan pada dasarnya bukan hal baru.

Meskipun tidak selalu karena kebijakan dari pemerintah namun proses pendaratan berlangsung sejak lama.  Peralihan dari laut ke darat telah dilaporkan sejak abad ke XVI. Tampaknya dalam proses menjadi modern budaya bahari banyak ditinggal. Hal ini berkait kelindang dengan kolonialisme yang masuk dan tumbuh di wilayah kuasa kerajaan nusantara.

Pelayaran, Penaklukkan dan Proses Pendaratan

Orang Laut salah satu bagian penting dari kehidupan laut yang seringkali disalah mengerti. Banyak sekali naskah-naskah awal yang menceritakan tentang Orang Laut yang dianggap pemalu. Tapi lebih sering dicitrakan sebagai orang yang kasar dan kejam. Maka Orang Laut diasosiasikan sebagai bajak laut. Padahal Orang Laut dan bajak laut merupakan dua hal yang berbeda. Meskipun terkadang ada kerjasama di antara keduanya untuk melawan musuh bersama atau juga kadang Orang Laut ditaklukan oleh bajak laut sehingga mereka terpaksa bertindak sebagai perompak. Dalam kasus lain wilayah teritorial Orang Laut terkadang diganggu, memaksa mereka melakukan perlawanan atau bertindak kasar.

Meski demikian catatan Leonard Andaya menunjukkan sisi lain Orang Laut yang digambarkan sebagai kelompok yang sangat loyal dan setia pada Sultan dan mempunyai peranan penting dalam kerajaan Johor dan Melaka. Di dalam struktur kekuasaan kerajaan, kelompok orang laut merupakan salah satu komponen vital, sesudah sultan, para menteri dan orang kaya. Karena loyalitas Orang Laut sangat kuat dan hangat terhadap Sultan mereka merupakan kekuatan yang sangat diandalkan, baik terhadap ancaman dari luar maupun terhadap ronrongan dari dalam, misalnya terhadap meningkatnya kekuatan Orang Kaya, (hal.104). Ini menjukkan kekuatan Orang Laut merupakan benteng pertahanan Sultan untuk menjaga keseimbangan kerajaan dari berbagai bentuk serangan.

Ketika Portugis menduduki Melaka pada tahun 1511 dan memaksa Sultan berpindah hingga ke Johor dan Riau yang kemudian diserangnya juga pada tahun 1526 maka Orang Laut lah yang menjemput Sultan untuk mengungsi. Dan pada awal abad ke XIX ketika kerajan Riau-Johor dalam masalah pergantian tahta, Raffles telah berhasil menduduki Singapura. Maka, kehadiran Inggris yang berambisi “menguasai gelombang” tidak lagi memungkinkan Johor untuk berperan sebagai negara maritim, (hal.107) dari sinilah kemudian perhatian kerajan terhadap laut beralih ke daratan, sehingga peranan orang laut menjadi tidak penting dan relevan dalam pembangunan kerajaan atau negri.

Kehadiran bangsa-bangsa asing dan penaklukanya terhadap raja-raja nusantara menyebabkan proses daratanisasi terjadi. Karena jalur-jalur laut telah dikuasai sehingga para raja terpaksa meninggalkan laut. Proses daratanisasi kemudian menyajarah dan terus belangsung hingga hari ini, dimana korban pertamanya adalah orang laut yang terpaksa menyingkir dari pusat-pusat kekuasaan dan pemerintahan.  Berlayar jauh ke pulau-pulau kecil, terpencil—menuju timur—.

Maka bukan hal yang mengherangkan ketika saat ini kita menemukan lebih banyak orang-orang laut yang bermukim di wilayah timur Indonesia.

***

Dulu, pelayaran merupakan satu-satunya jalan masuk para kolonialis untuk tiba di pulau-pulau rempah. Jalur darat dan udara masih sangat tidak memungkinkan. Hasrat menaklukkan para kolonialis ini sangat besar, bukan hanya di darat tetapi sejak berlayar di lautan. Penaklukkan di laut terkadang melalui jalan kekerasan atau perompakan sebagaimana yang dilakukan oleh para bajak laut tapi jika yang melakukan semisal VOC (perusahan dagang milik belanda) dalam kecamata barat dilaporkan sebagai “korsario” yaitu tindakan kekerasan di lautan namun di restui negara. Padahal tindakan seperti VOC—sebelum menjadi kekuatan politik di Asia— merupakan tindakan bajak laut “pirate”.

Pirate atau Bajak Laut adalah orang yang melakukan kekerasan di laut tanpa mendapat wewenang dari pemerintah untuk melakukan tindakan itu. Dengan kata lain perbuatan itu dilakukan untuk kepentingan pribadi atau kepentingan suatu kelompok tertentu. Dalam hal ini melanggar hukum negara dan dianggap sebagai seorang kriminal (hal.117).

Maka Bajak Laut dalam istilah bahasa Indoensia yang mengandung pengertia kata “ pirata dan korsario” tidak terlalu menyimpang, meksipun pada kasus tertentu dapat dibuat pembedaan yang tegas (hal. 118).  Cerita tentang bajak laut ini merupakan berita yang sudah tertulis lama seperti yang tertuan dalam catatan perjalanan  Faxian (Fah-Hsien) yang dalam perjalanannya pulang dari India ke negri Cina (413-414) mengatakan bahwa “laut [Asia Tenggara]  penuh dengan bajak laut, barang siapa bertemu mereka akan menemui ajalnya, (hal.122).

Adrian B. Lapian juga membuat kesimpulan bahwa selama abad ke V sampai dengan abad ke XIV berita mengenai bajak laut terpusat di daerah selat malaka. Namun keadaan berubah semenjak abad ke XV. Terlebih dengan munculnya kapal Portugis dan Spanyol pada abad ke XVI yang bertujuan mengambil rempah-rempah dari Maluku, maka berita tentang pelayaran di wilayah bagian timur  mulai banyak ditemukan dengan demikian muncul pula berita tentang kegiatan bajak laut di sana, (hal.125).

Sialnya para bajak laut yang bermunculan ini seringkali diidentikkan sebagi orang laut padahal belum ada bukti nyata yang dapat mendukung argumen jikalau setiap orang laut adalah bajak laut. Pandangan tentang bajak laut ini memang seringkali subjektif seperti yang disimpulkan sendiri oleh A.B Lapian bahwa pandangan yang dimiliki umum tentang bajak laut didasarkan atas pandangan kekuatan yang menumpasnya.  Dan untuk kasus Asia Tenggara sumber tentang bajak laut berasal dari masa ketika kekuatan yang menumpasnya—kekuatan kolonial—sedang giat mengadakan ‘pemberantasan’ fenomena yang disebut bajak laut, (hal.159).

Tindakan yang dicap bajak laut terkadang merupakan bentuk perlawanan terhadap kekuatan kolonial seperti serangan “Moro” di Filipina pada abad XVI dan XVII pada dasarnya pernyataan perang terhadap Spanyol. Namun dalam kepustakaan barat hal ini dianggap serangan bajak laut atau apa yang dilakukan orang Tobelo pada akhir abad ke XVIII dianggap sebagai kegiatan bajak laut. Padahal ini bukan tindakan murni untuk merompak tapi  Orang Tobelo yang merupakan pengikut dari Sultan Nuku tengah melakukan perlawanan terhadap penguasa di Tidore dan VOC yang berada di Ternate. Perlawanan-perlawanan seperti ini tentu menyusahkan Belanda—dalam hal ini VOC—. Amal, (2010) mencatat bahwa pada dekade kedua menjelang 1800, VOC mengalami kemorosotan laba yang sangat drastis. Hal ini terutama disebabkan  pengeluaran biaya peperangan yang demikian besar.

Raja Laut dan Penguasaan Laut

Selain bajak laut, raja laut merupakan satu terminologi penting dalam kebudayan maritim. Raja laut dalam kawasan laut Sualwesi merupakan tokoh yang memimpin kekuatan laut kerajaan. Raja laut merupakan kekuatan laut yang resmi. Namun pada awal abad ke XIX kekuatan laut asing masuk ke wilayah perairan Asia. Hasrat untuk berkuasa yang didukung oleh tekhnologi yang lebih maju sangat  membantu mereka dalam menyingkirkan keuasaan raja laut sebelumnya.

Takluknya raja-raja laut nusantara menyebabkan kekuasaan asing menguat.  Maka, ketika memasuki abad XX perairan Asia Tenggara telah dikuasai kekuatan asing itu (hal. 173).  Pembagian wilayah kekuasaan kemudian hanya dilakukan sesama penguasa asing tersebut tanpa melibatkan lagi raja-raja nusantara yang semakin lemah. Pada abad ke XIX raja laut terkuat adalah Inggris yang paling menguasai tekhnologi kemudian disebut sebagai Adi-Raja Laut bersama Spanyol dan Belanda. Namun di akhir abad ke XIX kekuatan Spanyol jatuh ke tangan Amerika dan pada  abad ke XX menjadi Adi Raja Laut.

Situasi penguasaan dan pembagi-bagian kekuasaan yang terjadi di masa lampau oleh negara-negara maju yang lebih menguasai tekhnologi masih sangat terasa. Jika dulu kolonialisme  maka hari ini imperialisme yang wataknya sama saja untuk menguras sumber daya yang ada di Indonesia.

Daftar Pustaka

Amal, MA. 2010.Kepulauan Rempah-Rempah Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950. Jakarta : Kepustakaan Populer Gramedia

Milton, G. 2015. Pulau Run Magnet Rempah-rempah Nusantara yang Ditukar dengan Manhattan. Tangerang Selatan: Alvabet

Roelofsz, MAPM. 2016. Persaingan Eropa dan Asia di Nusantara Sejarah Perniagaan 1500-1630. Depok: Komunitas Bambu

 

[1] Perempuan, penikmat sejarah yang saat ini mengelolah Pusat Studi Ekonomi dan Kebijakan Publik (PESKP)  Fakultas Ekonomi Univ.Muhammadiyah Kendari

Continue Reading

Budaya

Masih Adakah “Simfoni Hati” di Jakarta?

mm

Published

on

simponi hati di jakarta

Oleh: Sabiq Carebesth*

Selalu saja ada seseorang yang tertawa lepas dalam kegelapan, mengeluarkan serangkain lelucon dan sindiran-sindiran tajam–bahwa kota seharusnya jangan pernah disalah artikan oleh kata-kata yang menjelaskannya.

Itulah gambaran dan pengertian kota-kota “imajiner” milik Italo Calvino dalam bukunya “Invisible Cities”. Mirip dengan kota Jakarta milik (anda)? Apakah Jakarta memiliki tanda?

Di jakarta, tawa yang paling lepas adalah tawa dari mulut yang paling berbusa menyembunyikan derita. Tawa lepas dalam kegelapan nun muram rumah kontrakan, jembatan panjang, gubuk liar yang menunggu gusuran; tawa yang menertawai keterbahakannya sendiri pada apa yang terjadi dan ada di Jakarta. Rentetan ironi yang disampaikan melalui kebohongan benda-benda sebagai penanda yang membuat tawa lepas dan kebahagiaan berganti rupa menjadi keterasingan, dan tak jarang ketragisan.

Itulah tanda-tanda Jakarta yang tak pernah bohong; ke-tragis-an dan keterasingan jiwa modern yang ironis. Sementara  benda-benda yang berjuang menjadi “tanda” seperti halnya lukisan, kerap gagal menangkap kebohongan yang disampaikan oleh alasan keberadaan benda-benda tak terkecuali lukisan dan gagasan di dalamnya.

Lukisan tentang kota seperti Jakarta, mestinya adalah meditasi yang sublim yang dengan kemampuan meditasinya mengambil jarak dari realitas sekaligus pada saat yang sama menancapkannya lebih dalam ke dalam; kenyataan.  Zaman terus berubah, meninggalkan ironi dan ambivalensi, seni menangkapnya, tapi sekaligus memberinya harapan. Itulah kritik ringan saya sebagai penonton lukisan dalam pameran bersama Art Venture IV, bertemakan “Ada Apa Jakarta” di Galeri Cipta II, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat, pada 21-29 Agustus 2013.

SALAH ARTI

Simbol tentang Jakarta kerap atau bahkan selalu dihadirkan dalam medium visual seni yang muram (tapi nyatanya jakarta terang benderang), kumuh dan marjinal (tapi Jakarta adalah pusat dalam banyak pengertian dan anda bisa lihat berapa mega Mall yang setiap menit lantainya dibersihkan); jakarta adalah sungai dengan kanal-kanal air yang hitam, rentetan musim yang kerap berarti banjir, di Jakarta kita juga melihat kehidupan “Indonesia” di pinggir kali (keragaman etnik dimana wajah Indonesia kasat mata di bantaran CIliwung).

Secara khusus dan terbanyak Jakarta lazim dikenali sebagai simbol bagi kemacetan; baik jalan raya, atau juga kemacetan dalam hal sosio-kultural seperti kemacetan pikiran, keterbukaan, kemanusiaan yang sebenarnya bukan hanya macet, tapi bahkan nyaris involutif atau sebutlah, padat merayap (tapi Jakarta juga mimpi paling absah dari setiap impian yang progres, bahkan di Jakarta orang-orangnya berjalan cepat-cepat; dan semua yang serba cepat dari informasi, politik, bisnis, transaksi, mode) Jakarta adalah tempat yang menghendaki serba cepat, tapi kadang juga karena sempitnya tempat, Jakarta juga bisa berarti berhimpit-himpit, himpitan, atau terhimpit.

Hal terakhir misalnya tampak pada karya “Maaf…Ada Hajatan!” karya Afriani. Lukisan yang menggambarkan bagaimana orang di Jakarta tak memiliki tempat di halaman rumahnya untuk menggelar hajatan kecuali dengan menutup akses publik berupa jalan umum.

Dalam pameran Art Venture IV juga terlihat lukisan Rizal MS dan Triyono Budhi tentang keberadaan kaum marjinal di kota Jakarta. Gabriella Indira Satri yang menampilkan lukisan tentang banjir. Nisa Anggraini dengan gaya naif melukiskan jalan-jalan Jakarta yang macet. Yudi Hermunanto dengan lukisannya yang berjudul “Selamat Datang Aja Deh!”. Ada pula Arina Restu Handari yang menggambar ondel-ondel, serta R Sahyo yang menggambarkan suasana pasar rakyat. Lukisan yang lain hampir serupa dalam menggarap tema “Ada Apa Jakarta”, para perupa masih tampak menggambarkan Jakarta sebagaimana pandangan kebanyakan orang dimana bisa kita katakan: “demikianlah adanya jakarta.” Apakah nada itu terlihat pesimis dan “salah tafsir”?

Sebagai lukisan, teknik dan hasil yang tervisualkan lebih dari sekedar bagus, melainkan menampilkan suatu cita rasa estetik yang berhasil hampir dalam semua lukisan yang dipamerkan; dimana pengunjung, setidaknya saya, dibuat berdiri mematung menikmati keindahan, dan separuh dari tindakan mematung adalah merefleksikan Jakarta dengan segala apanya. Kemudian saya merasa bahwa tema dan gagasan dalam melihat Jakarta masih bergantung pada ungkapan-ungkapan aksara dan wicara yang lazim membuncah di Jakarta baik di berita koran, TV atau di kehidupan sehari-hari.

Ada sisi lain yang tak saya dapatkan dari Jakarta dimana saya berharap dunia lukis bisa memberikannya. Inilah yang saya sedikit merasa harus memberi catatan, sebagai pengunjung dan penduduk Jakarta. Saya ingin bertanya, selain kebohongan realitas melalui simbol-simbol aksara dan wicara, masih adakah romansa di Jakarta?  Dimana tempatnya cinta kasih di tengah ibu kota yang serba cepat, banjir, orang-orang yang terpinggirkan, masyarakat yang minim ruang publik, bagaimana kemanusiaan di jakarta di rawat bila tak dengan hati? Jadi masih adakah simfoni hati di Jakarta?

“SYIMPONI HATI”

Sampai di ruangan dalam di penghujung gedung Galeri Cipta memajang sebuah lukisan besar berjudul “Melawan Trend” karya Afriani yang dengan baik mewakili tema ironis dalam “ada apa jakarta”, juga gagal memberi saya kepastian bahwa di Jakarta, soal perasaan, hati dan kenangan dalam romansa; masih bisa dilukiskan.

Saya mencari dengan perasaan nyaris kecewa karena berpikir hanya akan mendapati jajaran lukisan dari kombinasi cat dan visualisasi ide yang kritis atas sebuah, sebenarnya—tema kehilangan, dari Jakarta yang terus berevolusi secara cepat sebagai kota metropolis yang super konsumtif dalam berbagai hal.

Namun harapan saya akhirnya lunas di hadapan sebuah dinding yang memajang tiga lukisan dengan media Acrylic on Canvas karya Yul Hendri. Salah satu dari tiga lukisan karya Yul berjudul “Syimponi Hati”. Dan rupanya “Syimponi Hati” masih ada di Jakarta yang serba ironis dan tragis, kebanyakan ambivalen dan dipenuhi paradoks pada realias dan simbol kehidupan sosial budayanya.

“Syimponi Hati” karya Yul Hendri mungkin bukan lukisan terbaik yang ada dalam ruangan besar Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki malam  itu, tapi lukisan itu menyelamatkan perasaan dan kognisi kehidupan Jakarta. Bahwa di atas segala perubahan sosial dan kultural sebuah kota yang nyaris sama imajinernya dengan mimpi-mimpi manusia di dalamnya sehiangga hampir sebagian dari realitas di kota seperti Jakarta adalah realitas yang bohong, hati tetap adalah monumen penting bagi penanda kehidupan kota yang jujur, sebuah syimponi tentang romansa zaman dari sebuah kota bernama Jakarta.

Akhirnya, apalah Jakarta bila tanpa syimponi dari hati manusia yang senantiasa bergetar pada seni? Barangkali memang benar, di kota kebohongan tak pernah terletak pada kata-kata, namun ada di antara benda-benda. Tanpa simfoni hati, Jakarta hanya akan menjadi benda-benda mati yang tak pernah bisa berkata-kata untuk menyusun kenangannya sendiri yang kerap sendu. Serupa kesenduan dari “syimphoni hati” Yul Hendri; kesenduan yang tak lagi mencari penawar kelapangan atau keluasan, tapi kesenduan yang sudah diterima sebagai bagian dari simfoni hati yang dibunyikan oleh biola jiwa, yang terhimpit di Jakarta.[]

SABIQ CAREBESTH

Penyair, Pecinta Buku dan Kesenian, Editor “Galeri Buku Jakarta”

*Artikel ini pernah dimuat di harian Jawa Pos, 2013.

Continue Reading

Classic Prose

Trending