© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Ernest Hemingway: Lelaki Tua Dan Laut #6

Awan di atas daratan nampak bangkit bagaikan gemunung dan pantai hanyalah sebuah garis hijau panjang dengan perbukitan biru-kelabu di belakangnya. Kini air berwarna biru tua, begitu pekat sehingga hampir ungu. Dilihatnya warna merah kotoran-kotoran lembut yang terkumpul di permukaan air dan cahaya matahari yang nampak aneh. Ia jaga terus agar tali-tali kailnya tetap lencang ke bawah sampai tak nampak jauh dalam air dan ia sangat senang melihat begitu banyak kotoran mengambang di permukaan sebab menandakan adanya ikan. Cahaya aneh yang diciptakan matahari di air – kini setelah matahari tinggi – menandakan cuaca cerah, begitu pula bentuk awan yang diatas daratan sana. Tetapi kini burung itu hampir hilang dari pandangan dan tak ada yang nampak di permukaan air kecuali cerah-cerah lumut Sargasso yang kuning memutih karena matahari dan gelembung lumut yang bagai kapal perang Portugis yang ungu, kemilau dan likat, yang mengambang dekat perahu. Ia mengapung lincah, satu yar di belakangnya diikuti oleh gelembung lain dengan serabut lembut yang panjang dan ungu.

Agua mala,” kata lelaki tua itu. “Lonte kau.”

Dari tempat ia mengayuh nampak olehnya ikan kecil-kecil yang warnanya seperti serabut lembut itu, berenang di antara serabut ungu itu dan di bawah bayangan gelembung yang mengapung hanyut itu. Ikan kecil-kecil itu kebal akan racunnya. Tetapi orang tidak dan kalau ada serabut lembut melekat likat dan ungu di tali pancing sementara lelaki tua itu sedang mengela ikan, maka lengannya akan merasa gatal-gatal penuh bintik-bintik seperti kena racun pohon ivy dan oak. Tetapi racun agua mala ini lebih cepat terasa dan pedihnya seperti pukulan cambuk.

Gelembung lumut yang kemilau itu nampak indah. Tetapi gelembung lumut adalah hal yang paling palsu di laut dan lelaki tua itu senang kalau kura-kura itu mula-mula melihatnya, lalu mendekatinya dari depan, memejamkan matanya supaya sepenuhnya terlindung dan akhirnya melahap gelembung-gelembung itu dengan serabut-serabutnya. Lelaki tua itu senang melihat kura-kura melahapnya dan kalau sedang berjalan di pantai sehabis angin ribut ia suka menginjak kura-kura itu dan ia senang mendengar suara si kura-kura bila terinjak oleh kakinya yang sekeras tanduk.

Ia senang kepada kura-kura hijau dan jenis paruh rajawali yang gagah dan cepat geraknya serta tinggi harganya, dan ia sayang-sayang benci kepada jenis kepala-besar yang kulitnya berlapis warna kuning, yang jenaka caranya kawin, dan yang suka melahap gelembung lumut yang bagai kapal perang Portugis dengan mata pejam.

Tak ada pikirannya yang aneh-aneh tentang kura-kura meskipun ia pernah bertahun-tahun bekerja dalam perahu kura-kura. Ia menaruh belas kepada kura-kura, bahkan kepada jenis punggung-kopor yang panjangnya sama dengan perahunya dan beratnya satu ton. Kebanyakan orang bersikap dingin saja terhadap kura-kura sebab jantung kura-kura masih juga hangat meski setelah beberapa jam disembelih dan dipotong-potong. Jantungku seperti jantungnya dan tangan serta kakiku seperti tangan dan kakinya juga, pikir lelaki tua itu. Ia suka makan telurnya yang putih itu untuk menambah tenaga. Ia makan telur kura-kura sepanjang bulan Mei supaya bisa kuat menangkap ikan besar dalam bulan-bulan September dan Oktober.

Ia juga suka minum secangkir minyak ikan hiu tiap hari disebuah gubuk tempat sejumlah nelayan menyimpan peralatan. Minyak ikan itu disimpan dalam sebuah tong besar dan tersedia bagi siapa saja yang membutuhkannya. Kebanyakan nelayn tak suka akan baunya. Tetapi itu tak lebih buruk dari bangun pagi bersama-sama mereka dan di samping itu juga baik untuk mengobati rasa dingin dan linu-linu dan juga berkhasiat bagi mata.

Lelaki tua itu menengadah dan kini dilihatnya burung itu berputar-putar lagi.

“Ia melihat ikan,” teriaknya. Tidak ada seekor ikan terbangpun muncul di permukaan air, ikan-ikan umpannya juga tidak cerai-berai. Tetapi ketika lelaki tua itu asyik memandang, seekor ikan tuna meloncat ke udara, membalik dan – dengan menjungkir – terjun ke dalam air. Ikan tuna itu memancarkan warna perak di cahaya matahari dan ketika ia sudah menyelam, yang lain-lain bermunculan ke udara dan berloncatan ke segenap penjuru, mengaduk air dan melompat jauh memburu ikan-ikan umpan itu. Ikan-ikan tuna itu mengitari dan menyerang umpan-umpan itu.

Kalau ikan-ikan itu tak bergerak terlalu cepat aku akan bisa mencapainya, pikir lelaki tua itu; disaksikannya ikan-ikan itu mengaduk air sampai memutih dan si burung kini menukik dan menyelam menangkap ikan-ikan umpan yang terdesak ke permukaan dalam hiruk pikuk itu.

“Burung itu menolongku,” kata lelaki itu. Tepat pada saat itu terasa di kakinya tali pancing yang diburitan menegang, lalu ia lepaskan dayung dan dirasakannya getar tarikan ikan tuna itu ketika ia pegang tali erat-erat dan mulai menariknya. Semakin terasa getaran itu ketika ia memungut tali dan menyaksikan punggung biru dan tubuh kuning si ikan dalam air sebelum ditarik lewat samping ke dalam perahu. Ikan itu terbujur di buritan, padat dan seperti peluruh bentukan sementara tenaga hidupnya semakin habis karena ekornya yang rapih bergerak-gerak cepat memukul-mukul dinding perahu. Lelaki tua itu memukul kepalanya supaya tidak terlampau lama sekarat lalu meyepak tubuhnya yang masih bergeletar di naung buritan.

Albacore,” serunya. “Umpan yang bagus. Beratnya sepuluh pon.”

Bersambung….

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT