© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Ernest Hemingway: Lelaki Tua Dan Laut #4

Anak laki-laki itu pergi. Tadi mereka berdua makan tanpa ada lampu di meja dan lelaki tua itu melepaskan celana lalu bersiap tidur dalam gelap. Celana itu digulungnya untuk bantal, koran untuk ganjal di dalamnya. Ia menyuruk dalam selimut dan tidur di atas koran-koran tua yang menutup per-per dipannya.

Ia segera jatuh tertidur dan bermimpi tentang Afrika waktu ia masih sangat muda dan pantai kencana dan pantai putih, begitu putihnya sehingga menyilaukan matamu, dan tanjung yang menjulang dan gunung-gunung coklat yang perkasa. Setiap malam, ia kembali berada di pantai itu dan dalam mimpi-mimpinya ia mendengar deru ombak dan menyaksikan perahu-perahu pribumi meluncur diatasnya. Ia mencium bau tir dan tali temali yang bertebaran di dek dalam tidurnya dan ia mencium bau Afrika pada angin darat yang bertiup di pagi hari.

Biasanya ia terjaga kalau mencium bau angin darat lalu berpakaian dan pergi untuk menjagakan anak laki-laki itu. Tapi malam ini angin darat itu datang terlampau awal dan ia tahu mimpinya belum usai dan ia terus bermimpi menyaksikan puncak-puncak kepulauan yang keputih-putihan bangkit dari laut dan kemudian bermimpi tentang pelabuhan-pelabuhan dan pangkalan-pangkalan di Kepulauan Kenari.

Ia tak lagi bermimpi tentang topan, tak pernah lagi memimpikan perempuan-perempuan atau petualangan-petualangan atau ikan-ikan besar atau perkelahian atau adu kuat atau istrinya. Kini ia hanya bermimpi tentang tamasya dan tentang singa-singa yang nampak di pantai. Di waktu senja singa-singa itu bergelutan seperti kucing dan ia sayang pada mereka seperti sayangnya pada anak laki-laki itu. Ia bangun, melihat bulan lewat pintu yang terbuka dan melepas gulungan celananya lalu mengenakannya. Ia kencing di luar gubuk kemudian berangkat untuk membangunkan anak itu. Tubuhnya gemetar karena angin pagi. Tapi ia tahu bahwa ia segera akan merasa hangat dan segera mendayung perahunya.

Pintu rumah anak itu tidak terkunci dan lelaki tua itu membukanya dan masuk hati-hati dengan kaki telanjang. Anak itu tidur di kamar depan di atas sebuah dipan kecil dan lelaki tua itu bisa melihatnya dengan jelas di bawah sinar bulan pudar yang menerobos masuk. Hati-hati ia pegang sebelah kaki anak itu dan tak ia lepaskan sampai anak itu terbangun dan berbalik dan melihat kepadanya. Lelaki tua itu menganggukkan kepala dan anak itu meraih celana yang tersampir di kursi dekat dipan dan, sambil duduk di dipan, ia mengenakannya.

Lelaki tua itu keluar dan anak itu mengikutinya di belakang. Ia masih mengantuk dan lelaki tua itu merangkul pundaknya sambil berkata, “Maaf”.

Que’va,” kata anak itu. “Inilah tugas seorang lelaki.”

Mereka menyusur jalan ke arah gubuk si tua dan sepanjang jalan yang masih gelap orang-orang lalu-lalang dengan kaki telanjang membawa tiang-tiang perahu mereka.

Sesampai di gubuk itu anak laki-laki itu mengambil gulungan tali yang dalam keranjang dan kait besar kecil dan lelaki tua itu memanggul tiang perahu yang terbungkus layar itu.

“Mau minum kopi?” tanya anak itu.

“Kita taruh perlengkapan ini di perahu lalu cari kopi.”

Mereka minum kopi dari kaleng susu kental di sebuah warung dini hari yang melayani para nelayan.

“Bagaimana tidurmu semalam, sobat?” tanya anak itu. Ia sudah sepenuhnya terjaga sekarang meskipun masih terasa berat meninggalkan tidurnya.

“Nyenyak sekali, Manolin,” kata lelaki tua itu. “Aku merasa yakin hari ini.”

“Aku juga”, kata anak itu. “Sekarang harus kuambil sardinmu dan sardinku serta umpanmu yang segar itu. Ia biasa mengangkat sendiri peralatan kami. Ia tak ingin orang lain membantunya.”

“Kita lain,” kata lelaki tua itu. “Kubiarkan kau membawa alat-alat itu ketika umurmu masih lima tahun.”

Anak itu pergi, berjalan dengan kaki telanjang sepanjang batu karang, menuju rumah es tempat menyimpan umpan-umpan itu.

Lelaki tua itu meneguk kopinya sedikit demi sedikit. Hanya itu yang akan mengisi perutnya sehari penuh nanti dan ia tahu bahwa harus meminumnya sampai habis. Sudah sejak lama ia tak ada nafsu makan dan ia tak pernah membawa bekal makan siang. Ada sebotol air di haluan perahu dan itu sudah cukup untuk memuaskan kebutuhannya sehari.

Anak laki-laki itu tiba kembali membawa sardin serta umpan lain yang terbungkus kertas koran dan kemudian bersama si tua ia menuruni jalan jejal menuju perahu – pasir dan berkerikil terasa di telapak kaki – dan mereka lalu mengangkat perahu itu dan meluncurkannya ke air.

“Semoga kau beruntung, sobat tua.”

“Semoga kau juga,” kata lelaki tua itu. Ia mengikatkan tali dayung dan, tubuhnya rebah ke depan mendorong dayung, mulai meninggalkan pelabuhan dalam gelap. Perahu-perahu lain yang juga mulai turun ke laut dan lelaki tua itu mendengar suara dayung-dayung tercelup dan membelah air meskipun tak terlihat olehnya sebab bulan berada di balik perbukitan.

Kadang-kadang ada nelayan yang bercakap di perahu. Tetapi kebanyakan perahu sepi saja, hanya terdengar kecupak dayung di air. Mereka memencar setelah meninggalkan mulut pelabuhan dan masing-masing menuju suatu tempat di laut di mana si nelayan berharap mendapat ikan. Lelaki tua itu tahu ia akan sampai jauh ke laut dan bau daratan ditinggalkannya di belakang dan ia mendayung ke arah bau laut dini hari yang segar. Dilihatnya cahaya rumput laut dalam gelap di air ketika ia melewati bagian samudra yang oleh para nelayan dinamakan sumur besar karena dasar laut yang tiba-tiba menjadi sedalam tujuh ratus depa di mana segala macam ikan terkumpul oleh pusaran air karena arus yang membentur tebing-tebing curam di dasar samudra. Di sini bergerombol juga udang serta ikan kecil-kecil dan kadang-kadang beberapa jenis cumi-cumi dalam lobang-lobang yang dalam dan pada malam hari semua itu suka naik sampai dekat permukaan air sehingga menjadi mangsa ikan-ikan lain yang berkeliaran.

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT