© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Ernest Hemingway: Lelaki Tua Dan Laut #3

Ketika anak laki-laki itu kembali lelaki tua itu tertidur di kursi dan matahari sudah terbenam. Ia mengambil selimut militer yang sudah tua itu dari dipan dan menaruhnya disandaran kursi menutupi pundak lelaki tua itu. Kedua pundak itu nampak aneh, lehernya juga masih kuat dan kerut-merutnya tidak begitu kentara kalau lelaki tua itu tidur dan kepalanya tergantung ke depan. Kemejanya penuh tambalan sehingga nampaknya seperti layar dan tambalan-tambalan itu sudah luntur menjadi bermacam-macam warna kena sinar matahari. Kepala lelaki itu sudah begitu tua dan kalau sepasang matanya terpejam kelihatan wajahnya tidak berjiwa lagi. Koran itu terbuka di atas lutut dan tangannya menindihnya sehingga tidak terjatuh oleh angin sore. Kakinya telanjang.

 

Anak laki-laki itu meninggalkannya lagi dan ketika ia kembali untuk kedua kalinya lelaki tua itu masih juga tidur.

“Bangun pak tua,” seru anak itu sambil menyentuh lutut lelaki tua itu.

Lelaki tua itu membuka mata dan beberapa saat lamanya ia masih dalam perjalanan dari negeri mimpi. Kemudian ia tersenyum.

“Apa yang kaubawa?” tanyanya.

“Makan malam,” kata anak itu. “Kita berdua akan makan malam.”

“Aku tidak begitu lapar.”

“Ayolah makan. Kau tak bsia kerja tanpa  makan.”

“Aku sudah makan,” lelaki tua itu bangkit mengambil koran dan melipatnya. Lalu ia mulai melipat selimut.

“Pakai saja selimut itu,” kata anak itu. “ Selama aku masih hidup takkan kubiarkan kau kerja tanpa makan.”

“Kalau begitu semoga kau panjang umur supaya bisa mengurus dirimu sendiri.” Kata si lelaki tua. “Apa saja yang akan kita makan?”

“Kedelai dan nasi, pisang goreng dan daging rebus.”

Makanan itu telah dibawanya dari Teras dalam sebuah panci yang bersekat. Pisau, garpu dan sendok masing-masing dua pasang terbungkus serbet kertas dimasukkan ke dalam kantung celananya.

“Siapa yang memberimu makanan ini?”

“Martin Pemiliknya.”

“Nanti kuucapkan terima kasih kepadanya.”

“Tak usah,” kata anak itu. “Aku sudah mengucapkannya.”

“Nanti kuberi dia daging perut ikan besar,” kata lelaki tua itu. “Apakah dia memberi kita makanan lebih dari sekali ini?”

“Kukira begitu.”

“Kalau begitu aku harus memberinya lebih dari sekedar daging perut. Ia rupayanya sangat memikirkan kita.”

“Iapun memberi dua bir.”

“Aku suka yang dalam kaleng.”

“Ya aku tahu. Tapi ini yang dalam botol, bir Hatuey, dan kukembalikan botol-botolnya.”

“Kau anak baik,” kata lelaki tua itu. “kita makan sekarang?”

“Sudah sejak tadi kuajak kau,” anak itu menjawab dengan sopan. “Aku tak akan membuka panci ini sebelum kau siap.”

“Sekarang aku siap,” kata lelaki tua itu. “Tinggal membasuh tangan saja aku tadi.”

Di mana pula kau mencuci tangan, pikir anak itu. Sumber air kampung ini letaknya di sebelah sana melewati dua jalan. Seharusnya kuambilkan air untuknya tadi, pikir anak itu, dan sabun serta handuk baru. Kenapa pula aku tak berpikir sejauh itu? Aku harus membelikannya sehelai baju lagi dan sebuah jaket musim dingin dan sepatu dan selembar selimut.

“Enak sekali daging rebusmu ini,” kata lelaki tua itu.

“Ceritanya tentang baseball itu sekarang,” anak itu meminta.

“Seperti kukatakan Yankees menjadi jago Perkumpulan Amerika,” kata si tua itu dengan gembira.

“Mereka kalah hari ini” anak itu memberitahu.

“Tidak apa. DiMaggio yang agung kembali seperti sedia kala.”

“Ada pemain-pemain masyhur lain dalam regu itu.”

“Tentu. Tetapi ia jagonya. Dalam perkumpulan lain yang mengadakan pertandingan, antara Brooklyn dan Philadelphia aku mestinya memilih Brooklyn. Tetapi kemudian aku ingat Diek Sister dan pukulan-pukulan mautnya.”

“Pukulan-pukulan itu tak ada taranya. Belum pernah kulihat orang lain memukul bola sejauh itu.”

“Kau masih ingat ketika ia suka datang ke Teras? Aku ingin mengajaknya mancing tetapi aku takut mengatakannya. Lalu kuminta kau mengatakan padanya tetapi kaupun takut-takut.”

“Kuingat itu. Kita salah. Mestinya ia sudah mancing bersama kita. Dan akan menjadi kenang-kenangan kita selama hidup.”

“Aku ingin mengajak DiMaggio yang agung itu untuk mancing.” Kata lelaki tua itu. “Orang bilang ayahnya seorang nelayan. Barangkali dulunya ia juga miskin seperti kita ini, dan menerima ajakan kita.”

“Ayah Sisler yang masyhur itu tidakk pernah miskin dan dia, si ayah, menjadi pemain perkumpulan-perkumpulan ternama ketima kasih seumurku,”

“Ketika aku seumurmu aku bekerja pada sebuah kapal yang cukup perlengkapannya berlayar ke Agrika dan aku pernah menyaksikan singa-singa di sepanjang pantai pada waktu malam.”

“Kau pernah bercerita tentang itu padaku.”

“Kita cerita tentang Afrika atau tentang baseball?”

“Tentang baseball sajalah,” kata anak itu. “Ceritakan tentang John J. MacGraw yang masyhur itu.” Huruf J itu ia ucapkan Jota.

“Dulu ia juga kadang-kadang datang ke Teras. Tetapi wataknya sabar, bicaranya tak sopan, kalau mabuk sukar dikendalikan. Kecuali baseball ia juga pecandu kuda. Setidaknya di sakunya selalu terdapat daftar nama kuda dan ia sering terdengar menyebut-nyebut nama-nama kuda kalau sedang telpon.”

“Ia adalah seorang manager yang baik,” kata anak itu. “Ayah bilang ia manager terbaik.”

“Itu karena ia paling sering datang ke mari,” kata lelaki tua itu. “Seandainya Durocher terus datang kemari setiap tahun ayahmu pasti mengira ialah yang terbaik.”

“Sebetulnya, siapakah manager terbaik, Luque atau Mike Gonzales?”

“Sama saja kukira.”

“Dan nelayan terbaik adalah kau.”

“Tidak. Aku tahu orang-orang lain lebih baik.”

Que’va,” kata anak itu. “Banyak nelayan yang trampil dan beberapa yang betul-betul baik. Tetapi hanya kau disini.

“Terima kasih. Kau membuatku bahagia. Moga-moga tidak akan ada ikan besar yang akan membuktikan bahwa anggapan kita keliru.”

“Tak akan ada ikan yang mampu berbuat begitu selama kau masih sekuat apa yang kaukatakan sendiri.”

“Barangkali aku tidak lagi kuat seperti anggapanku sendiri,” kata lelaki tua itu. “Tetapi aku mengetahui banyak akal dan punya keteguhan hati.”

“Sebaiknya kau tidur saja sekarang supaya segar kalau bagun besok pagi. Akan kukembalikan barang-barang ini ke Teras.”

“Baiklah, selamat malam. Kubangunkan kau besok.”

“Kaulah jam bekerku,” kata anak itu.

“Umurkulah jam bekerku,” kata si tua. “Kubangunkan kau besok tepat pada waktunya.”

“Aku tak suka ia membangunkanku. Aku malu dan merasa rendah karenanya.”

“Aku tahu.”

“Selamat mimpi indah, sobat.”

Anak laki-laki itu pergi. Tadi mereka berdua makan tanpa ada lampu di meja dan lelaki tua itu melepaskan celana lalu bersiap tidur dalam gelap. Celana itu digulungnya untuk bantal, koran untuk ganjal di dalamnya. Ia menyuruk dalam selimut dan tidur di atas koran-koran tua yang menutup per-per dipannya.

Bersambung..

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT