Connect with us
Ernest Hemingway Lelaki Tua Dan Laut #2 Ernest Hemingway Lelaki Tua Dan Laut #2

Novelet

Ernest Hemingway: Lelaki Tua Dan Laut #2

mm

Published

on

Merekapun duduk di Teras dan banyak di antara para nelayan yang ada disana mengejek lelaki tua itu dan ia tidak marah. Yang lain, yang lebih tua, memandang ke arahnya dan merasa kasihan. Tetapi mereka tidak memperlihatkan perasaan itu dan bercakap-cakap dengan sopan tentang arus dan lubuk laut tempat menghanyutkan pancing-pancing mereka dan tentang cuaca yang selalu cerah dan tentang apa saja yang telah mereka saksikan. Para nelayan yang hari itu beruntung telah berada di darat dan telah menyembelih ikan cucut mereka dan membawanya terbujur diatas dua lembar papan yang setiap ujungnya diangkat oleh dua orang yang berjalan terhuyung ke arah gudang ikan dimana mereka menunggu truk es yang akan menangkut mereka ke pasar di Havana. Para nelayan yang berhasil menangkap ikan hiu telah membawa perolehan mereka ke perusahaan hiu yang terletak di seberang teluk, dan disana ikan-ikan itu diangkat dengan kerekan dan katrol, hatinya dikeluarkan, siripnya dipotong dan kulitnya dikelupas dan dagingnya diiris-iris menjadi lempengan untuk digarami.

Kalau angin bertiup dari arah timur tercium bau dari perusahaan hiu itu melewati pelabuhan; tetapi hari itu baunya tidak tajam sebab angin telah berbalik ke arah utara lalu berhenti, dan suasana di Teras terasa nyaman dan cerah.

“Santiago,” kata anak laki-laki itu.

“Ya,” sahut si lelaki tua. Tangannya menggenggam gelas dan ia sedang melamunkan tahun-tahun lampau.

“Bolehkan aku pergi membeli sardin untukmu buat besok?”

“Jangaan. Pergilah main baseball saja. Aku masih kuat mendayung dan Rogelio yang akan menebarkan jala.”

“Aku ingin ikut. Kalau tak boleh ikut ke laut denganmu aku ingin membantumu dengan cara lain.”

“Kau telah mentraktirku,” Kata lelaki tua itu. “Kau telah dewasa sekarang.”

“Berapa umurku waktu pertama kali kaubawa ke laut?”

“Lima, dan kau nyaris celaka ketika kuangkat ikan yang masih terlalu buas yang hampir saja menghancurkan perahuku berkeping-keping. Ingat kau?”

“Kuingat ekornya membentur-bentur dan perahu retak dan suara-suara pukulanmu yang gaduh. Ku ingat kau melemparkanku ke haluan tempat gulungan tali yang masih basah dan kurasakan seluruh perahu bergetar dan kau mengamuk memukuli ikan itu bagai membacok-bacok batang pohon dan bau darah yang segar tercium di sekelilingku.”

“Kau betul-betul mengingatnya atau hanya karena pernah kuceritakan hal itu padamu?”

“Kuingat segala yang pernah terjadi sejak pertama kali kita bersama ke laut.”

Lelaki tua itu menatapnya dengan mata yang masak oleh terik matahari, yang yakin dan penuh rasa sayang.

“Kalau saja kau ini anakku sendiri kubawa kau besok mengadu untung,” katanya. “Tetapi kau milik ayah dan ibumu dan kau sudah ikut perahu yang nasibnya baik.”

“Kubelikan sardin itu ya? Aku juga tahu tempat orang menjual empat ekor umpan.”

“Aku masih punya sisa umpan hari ini. Kutaruh diatas garam dalam kotak.”

“Biar kubelikan empat ekor umpan yang masih segar.”

“Satu saja,” kata lelaki tua itu. Harapan dan keyakinannya tidak pernah layu. Malah sekarang menjadi segar seperti ketika angin lembut bertiup.

“Dua,” kata lelaki itu.

“Baiklah: dua,” kata lelaki tua itu. “Kau tidak mencurinya, bukan?”

“Inginnya begitu,” jawab anak laki-laki itu. “Tetapi yang ini kubeli.”

“Terima kasih,” kata lelaki tua itu. Pikirannya terlalu sederhana untuk mempertanyakan kapan ia berendah hati. Tetapi ia tahu bahwa ia telah berendah hati dan ia tahu bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang aib dan tidak menyebabkannya kehilangan harga diri.

“Besok hari bagus kalau arus begini,” katanya.

“Rencanamu mau ke mana?” tanya anak itu.

“Pergi sampai jauh dan kembali kalau angin berganti arah. Aku akan turun sebelum matahari terbit.”

“Nanti kucoba mengajaknya turun sampai jauh.,” kata anak itu. “Dan kalau kau berhasil mendapat ikan yang sungguh besar kami bisa menolongnya.”

“Ia tidak suka bekerja sampai jauh.”

“Memang,” kata anak itu. “Tetapi aku bisa melihat sesuatu yang ia tak mampu melihatnya seperti misalnya seekor buruh yang sedang cari makan dan akan kuajak dia berburu dalfin sampai jauh ke laut.”

“Apakah matanya sudah begitu buruk?”

“Hampir buta.”

“Aneh,” kata lelaki tua itu. “Ia tak pernah berburu kura-kura. Padahal itulah yang merusakkan mata.”

“Tetapi kau berburu kura-kura bertahun-tahun lamanya di lepas Pantai Nyamuk dan penglihatanmu masih tajam.”

“Akupun suka heran tentang diriku sendiri.”

“Tetapi apakah kini kau masih merasa cukup kuat untuk menghadapi ikan yang betul-betul besar?”

“Ya. Dan aku punya banyak akal.”

“Kita bawa pulang perlengkapan itu sekarang,” kata anak itu. “Supaya bisa kuurus jala itu dan pergi membeli ikan sardin.”

Merekapun mengambil alat-alat itu dari perahu. Lelaki tua itu memanggul tiang perahu di pundaknya dan anak itu menjinjing kotak dengan gulungan tali coklat yang kekar, kait kecil dan kait besar serta tangkainya. Kotak yang berisi umpan ada di bawah buritan, juga tongkat yang dipergunakan untuk memukuli ikan besar waktu dihela ke sisi perahu. Tidak ada seorangpun yang mau mencuri milik lelaki tua itu namun layar serta tali-tali itu lebih baik di bawa pulang sebab kalau kena embun bisa rusak dan, walaupun lelaki tua itu yakin bahwa penduduk setempat tidak akan mencuri barang-barang miliknya, lelaki itu menganggap bahwa kait adalah godaan yang tak perlu ditinggal di perahu.

Mereka berdua berjalan menuju gubuk lelaki tua itu dan masuk lewat pintunya yang terbuka. Lelaki tua itu menyandarkan tiang yang terbungkus layar itu ke dinding dan si anak menaruh kotak dan perlengkapan lainnya di sampingnya. Tiang perahu itu hampir sama panjangnya dengan sebuah bilik gubuk itu. Gubuk itu terbuat dari mancung pohon palma yang keras yang disebut guano; ada sebuah dipan untuk tidur, sebuah meja, sebuah kursi, dan sebuah sudut di lantai tanah tempat memasak dengan arang. Sebuah gambar berwarna Hati Suci Yesus dan sebuah gambar Perawan Cobre ditempelkan di dinding-dinding coklat yang terbuat dari lembaran-lembaran guano yang seratnya sangat kuat. Gambar-gambar itu adalah peninggalan istrinya. Dahulu ada pula gambar istrinya yang berwarna di dinding tetapi ia telah mencopotnya sebab ia merasa kesepian kalau menatapnya dan sekarang disimpan dalam rak di bawah bajunya yang bersih.

“Apa yang akan kaumakan?” tanya anak itu.

“Sepanci nasi kuning dan ikan. Kau ingin makan?”

“Tidak. Aku akan makan di rumah. Boleh kubuatkan api?”

“Tidak usah. Biar nanti kubuat sendiri. Atau biar kumakan nasi dingin saja.”

“Boleh kuurus jala itu?”

“Tentu saja.”

Sesungguhnya tiada lagi jala itu dan anak laki-laki itu ingat ketika mereka menjualnya. Tetapi mereka suka berhayal setiap hari. Juga tidak ada panci nasi kuning dan ikan dan anak itu juga tahu.

“Delapan puluh lima adalah angka beruntung.” Kata laki-laki tua itu. “Senangkah kau kalau aku berhasil mendapat seekor yang beratnya lebih dari seribu pon?”

“Aku akan mengurus jala itu dan pergi membeli ikan sardin. Kau duduk saja di ambang pintu biar kena sinar matahari.”

“Baiklah. Aku punya koran kemarin dan ingin kubaca tentang pertandingan baseball itu.”

Anak laki-laki itu tidak tahu apakah koran kemarin itu juga hanya hayalan saja. Tetapi lelaki tua itu mengambilnya dari bawah dipan.

“Pedrico yang memberikan koran ini padaku di bodega,” katanya menjelaskan.

“Aku kembali nanti kalau sudah mendapatkan sardin. Biar kusimpan nanti punya kita bersama-sama dalam es dan besok kita bagi dua. Ceritakan padaku tentang baseball itu kalau aku sudah balik.”

Yankees itu tak bisa kalah.”

“Tetapi aku takut pada Indians dari Cleveland itu.”

“Percayalah pada Yankees anak muda. Ingat saja DiMaggio yang agung.”

“Aku takut pada Tigers dari Detroit dan Indians dari Cleveland.”

“Hati-hati saja, atau kau bahkan juga takut pada Reds dari Cincinnati dan White Sox dari Chicago.”

“Baca saja dan ceritakan padaku kalau aku balik nanti.”

“Bagaimana kalau kita membeli lotre yang buntutnya delapan puluh lima? Besok hari yang ke delapan puluh lima?

“Boleh saja,” kata anak laki-laki itu. “Tetapi bagaimana tentang nomor delapan puluh tujuh yang menjadi rekormu itu?”

“Itu tak akan berulang. Bisakah kau mencari nomor delapan puluh lima?”

“Bisa nanti kupesan selembar.”

“Selembar utuh. Dua setengah dolar. Pinjam uangnya kepada siapa?”

“Itu soal mudah. Aku selalu berhasil pinjam uang dua setengah dolar saja.”

“Mungkin akupun bisa. Tetapi kuusahakan untuk tidak pernah pinjam uang. Mula-mula kau hanya pinjam. Nantinya ngemis.”

“Hangatkan dirimu sahabat,” kata anak itu. “Ingat bahwa ini bulan September.”

“Bulan yang banjir ikan-ikan besar,” kata si lelaki tua. “Setiap orang bisa menjadi nelayan di bulan Mei.”

“Aku pergi mencari sardin,” kata anak itu.

Ketika anak laki-laki itu kembali lelaki tua itu tertidur di kursi dan matahari sudah terbenam. Ia mengambil selimut militer yang sudah tua itu dari dipan dan menaruhnya disandaran kursi menutupi pundak lelaki tua itu. Kedua pundak itu nampak aneh, lehernya juga masih kuat dan kerut-merutnya tidak begitu kentara kalau lelaki tua itu tidur dan kepalanya tergantung ke depan. Kemejanya penuh tambalan sehingga nampaknya seperti layar dan tambalan-tambalan itu sudah luntur menjadi bermacam-macam warna kena sinar matahari. Kepala lelaki itu sudah begitu tua dan kalau sepasang matanya terpejam kelihatan wajahnya tidak berjiwa lagi. Koran itu terbuka di atas lutut dan tangannya menindihnya sehingga tidak terjatuh oleh angin sore. Kakinya telanjang.

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Novelet

Ernest Hemingway: Lelaki Tua Dan Laut #7

mm

Published

on

Ernest Hemingway Lelaki Tua Dan Laut #7

Ia tidak ingat lagi kapan ia mulai suka berbicara keras kalau sendirian. Waktu muda dulu ia suka menyanyi kalau sedang sendiri dan kadang ia juga menyanyi kalau malam-malam sendirian berjaga dalam perahu kuran-kuran. Barangkali ia suka berbicara keras sendirian semenjak ditinggalkan anak itu. Tetapi ia sudah tidak ingat lagi. Biasanya mereka berdua bercakap hanya kalau perlu saja selama masih di laut. Mereka biasanya bercakap waktu malam atau kalau diancam topan. Membungkam diri di laut adalah kebajikan dan lelaki tua itu selalu beranggapan begitu dan menghormati hal itu. Tetapi kini ia suka menyatakan pikirannya dengan suara keras berulang kali sebab tidak ada orang lain yang akan terganggu.

“Kalau orang lain mendengarku berbicara keras mereka pasti menganggapku sudah gila,” katanya dengan keras. “Tetapi aku tak peduli sebab aku tidak gila. Dan mereka yang kaya punya radio di perahu yang bisa bercakap pada mereka dan bercerita tentang baseball.”

Kini bukan saatnya buat bicara tentang baseball, pikirnya. Kini adalah saat untuk hanya memikirkan satu hal. Hidupku ini. Mungkin ada seekor yang besar di antara kelompok itu, pikirnya. Aku hanya menangkap seekor yang tersesat diantara ikan-ikan albacore yang sedang cari makan. Tetapi ikan itu berada di kejauhan sana dan bergerak sangat cepat. Hari ini segala yang nampak di permukaan bergerak cepat sekali ke arah barat-laut. Apakah memang sudah waktunya? Ataukah merupakan suatu pertanda cuaca yang tak kukenal?

Kini tak bisa dilihatnya lagi hijau daratan, tinggal puncak-puncak perbukitan biru yang nampak keputih-putihan seolah-olah tertutup salju dan awan yang kelihatan seperti gunung-gunung salju yang menjulang. Laut nampak gelap sekali dan cahaya menjelmakan prisma-prisma di air. Warna-warni cercah-cercah kotoran laut itu tak ada lagi karena matahari sudah tinggi dan lelaki tua itu tinggal menyaksikan prisma-prisma yang luas dan dalam di air biru dan tali-tali kailnya menyusup jauh ke dalam air yang satu mil dalamnya.

Ikan-ikan tuna itu tak nampak lagi. Para nelayan biasa menyebut tuna untuk segala macam ikan jenis itu dan baru membeda-bedakan namanya kalau akan menjual atau memperdagangkannya sebagai umpan. Kini matahari sudah terik dan menyengat tengkuk lelaki tua itu, terasa butir-butir keringat meluncur di punggungnya sementara ia mendayung.

Aku bisa menghanyut saja dan tidur dan mengikatkan tali di jari kaki supaya bisa terbangun, pikirnya. Tetapi hari ini genap delapan puluh lima hari dan aku harus berusaha sebaik-baiknya.

Tepat pada waktu ia memperhatikan tali-talinya dengan cermat, nampak salah sebuah tongkat hijau itu masuk ke dalam air.

“Ya,” katanya. “Ya,” dan diletakkannya dayung dalam perahu tanpa bersuara. Diraihnya tali pancing itu dan dipegangnya dengan lembut di antara telunjuk dan ibu jari tangan kanan. Tak ada terasa tarikan dan ia pegang saja tali itu dengan lembut. Kemudian terasa ada yang menariknya. Kali ini tarikan itu tidak tetas, dan lelaki tua itu tahu persis apa maknanya. Seratus depa jauh di bawah sana seekor ikan cucut sedang mencucuki sardin yang membungkus ujung dan tangkai kail yang mencuat dari kepala ikan tuna kecil itu.

Lelaki tua itu memegang talinya dengan sangat lembut, dan dengan tangan kiri dilepaskannya kolongan yang melilit tongkat hijau itu. Kini tali itu bebas meluncur di antara jemarinya tanpa menimbulkan kecurigaan si ikan.

Ikan yang jauh di sana itu, pasti sangat gendut di bulan ini, pikiranya. Makan saja umpan-umpan itu, ikan. Makan saja. Ayohlah makan saja. Betapa segarnya umpan-umpan itu dan kau berada di air dingin enam ratus kaki dalamnya dalam gelap. Sekali lagi berbeloklah dalam kegelapan itu dan kembalilah untuk menyantap umpan-umpan.

Terasa sebuah tarikan lembut yang disusul dengan tarikan yang lebih tegas ketika mestinya kepala sardin itu agak sulit dilepaskan dari kail. Kemudian tak terasa apa-apa lagi.

“Ayolah,” teriak lelaki tua itu. “Berbeloklah lagi. Cium saja baunya. Membangkitkan selera, bukan? Makan saja umpan-umpan itu, dan sehabisnya masih juga ada seekor tuna. Keras dan dingin dan memikat. Jangan malu-malu, ikan. Makan saja.”

Iapun menunggu sambil memegang tali pancing itu dengan telunjuk dan ibu jari sambil juga mengawasi tali-tali pancingnya yang lain barangkali ikan itu bergerak ke atas barangkali ke bawah. Kemudian terasa kembali tarikan yang lembut itu.

“Ia akan melahapnya,” kata lelaki tua itu keras-keras. “Tuhan menolongnya agar ia melahapnya.”

Tetapi ikan itu tidak memakannya. Ia telah pergi dan lelaki tua itu tidak merasakan apapun.

“Tak mungkin ia pergi,” katanya. “Yesus tahu ia tidak pergi. Ia sedang membelok. Barangkali ia pernah kena kail dan ingat akan hal itu.”

Kemudian terasa sentuhan lembut pada talinya itu dan ia merasa gembira.

“Ia tadi hanya membelok untuk kembali,” katanya. “Ia akan memakannya.”

Ia merasa gembira merasakan sentuhan lembut itu dan kemudian dirasakannya sesuatu yang keras dan teramat berat. Itula bobot si ikan dan dibiarkannya saja talinya terulur ke bawah, terus, terus, sampai habis gulungan cadangan yang pertama. Ia masih bisa merasakan bobot ikan itu meskipun jemarinya hampir tak menekan tali yang meluncur di sela-selanya dengan lembut.

“Betapa besar ikan itu,” katanya. “kail itu di sebelah sisi mulutnya dan ia menariknya pergi.”

Kemudian ia akan membalik dan menelannya, pikirnya. Ia tidak mengucapkan kata-kata itu sebab tahu bahwa kalau hal baik itu dikatakan mungkin malah tidak terjadi. Ia tahu betapa besar ikan itu dan dibayangkannya sedang bergerak dalam gelap dengan ikan tuna menyilang di mulutnya. Pada saat itu dirasakannya si ikan berhenti bergerak tetapi bobotnya masih terasa. Kemudian terasa semakin berat dan diulurnya tali lebih panjang lagi. Sejenak ditekankannya jemari lebih keras pada tali itu dan terasa beratnya bertambah dan terus bergerak ke bawah.

“Telah kena sekarang,” katanya. “Biar saja ia menelannya dulu.”

Dibiarkannya tali itu meluncur terus di antara jemari sementara tangan kirinya meraih ujung dua gulungan tali cadangan dan mengikatkannya pada ujung dua gulungan tali cadangan yang lain. Sekarang ia siap. Ada cadangan tiga gulungan tali masing-masing empat puluh depa panjangnya, di samping tali yang sedang terulur.

“Telan lebih lama lagi,” katanya. “Telan semuanya.”

Telanlah bulat-bulat sehingga ujung kail itu menusuk jantungmu dan membunuhmu, pikirnya. Naiklah ke permukaan tanpa rewel biar kutusukkan kait ini ke tubuhmu. Nah, kau siap? Sudah cukup puaskah kau bersantap?

“Sekarang!” katanya keras-keras sambil menyendal tali itu dengan kedua belah tangan, berhasil ditariknya sampai satu yar dan kemudian disendalnya lagi berulang kali, dua belah tanganya diayunkan bergantian, dengan seluruh tenaga.

Tak terjadi apapun. Si ikan dengan tenang bergerak pergi dan lelaki tua itu tak berhasil menariknya ke atas seincipun. Talinya kekar dan sengaja dipintal untuk memancing ikan besar-besar dan lelaki itu melilitkannya di punggung begitu erat sehingga bepercikan butir-butir keringatnya. Kemudian mulai terdengar suara lembut recik air yang tersibak tali dan lelaki itu tetap menahannya, disangkutkannya dirinya pada bangku perahu dan tubuhnya doyong menahan tarikan itu. Perahu itu mulai bergerak pelahan-lahan menuju barat-laut.

Bersambung…

Continue Reading

Novelet

Ernest Hemingway: Lelaki Tua Dan Laut #6

mm

Published

on

Ernest Hemingway Lelaki Tua Dan Laut #6

Awan di atas daratan nampak bangkit bagaikan gemunung dan pantai hanyalah sebuah garis hijau panjang dengan perbukitan biru-kelabu di belakangnya. Kini air berwarna biru tua, begitu pekat sehingga hampir ungu. Dilihatnya warna merah kotoran-kotoran lembut yang terkumpul di permukaan air dan cahaya matahari yang nampak aneh. Ia jaga terus agar tali-tali kailnya tetap lencang ke bawah sampai tak nampak jauh dalam air dan ia sangat senang melihat begitu banyak kotoran mengambang di permukaan sebab menandakan adanya ikan. Cahaya aneh yang diciptakan matahari di air – kini setelah matahari tinggi – menandakan cuaca cerah, begitu pula bentuk awan yang diatas daratan sana. Tetapi kini burung itu hampir hilang dari pandangan dan tak ada yang nampak di permukaan air kecuali cerah-cerah lumut Sargasso yang kuning memutih karena matahari dan gelembung lumut yang bagai kapal perang Portugis yang ungu, kemilau dan likat, yang mengambang dekat perahu. Ia mengapung lincah, satu yar di belakangnya diikuti oleh gelembung lain dengan serabut lembut yang panjang dan ungu.

Agua mala,” kata lelaki tua itu. “Lonte kau.”

Dari tempat ia mengayuh nampak olehnya ikan kecil-kecil yang warnanya seperti serabut lembut itu, berenang di antara serabut ungu itu dan di bawah bayangan gelembung yang mengapung hanyut itu. Ikan kecil-kecil itu kebal akan racunnya. Tetapi orang tidak dan kalau ada serabut lembut melekat likat dan ungu di tali pancing sementara lelaki tua itu sedang mengela ikan, maka lengannya akan merasa gatal-gatal penuh bintik-bintik seperti kena racun pohon ivy dan oak. Tetapi racun agua mala ini lebih cepat terasa dan pedihnya seperti pukulan cambuk.

Gelembung lumut yang kemilau itu nampak indah. Tetapi gelembung lumut adalah hal yang paling palsu di laut dan lelaki tua itu senang kalau kura-kura itu mula-mula melihatnya, lalu mendekatinya dari depan, memejamkan matanya supaya sepenuhnya terlindung dan akhirnya melahap gelembung-gelembung itu dengan serabut-serabutnya. Lelaki tua itu senang melihat kura-kura melahapnya dan kalau sedang berjalan di pantai sehabis angin ribut ia suka menginjak kura-kura itu dan ia senang mendengar suara si kura-kura bila terinjak oleh kakinya yang sekeras tanduk.

Ia senang kepada kura-kura hijau dan jenis paruh rajawali yang gagah dan cepat geraknya serta tinggi harganya, dan ia sayang-sayang benci kepada jenis kepala-besar yang kulitnya berlapis warna kuning, yang jenaka caranya kawin, dan yang suka melahap gelembung lumut yang bagai kapal perang Portugis dengan mata pejam.

Tak ada pikirannya yang aneh-aneh tentang kura-kura meskipun ia pernah bertahun-tahun bekerja dalam perahu kura-kura. Ia menaruh belas kepada kura-kura, bahkan kepada jenis punggung-kopor yang panjangnya sama dengan perahunya dan beratnya satu ton. Kebanyakan orang bersikap dingin saja terhadap kura-kura sebab jantung kura-kura masih juga hangat meski setelah beberapa jam disembelih dan dipotong-potong. Jantungku seperti jantungnya dan tangan serta kakiku seperti tangan dan kakinya juga, pikir lelaki tua itu. Ia suka makan telurnya yang putih itu untuk menambah tenaga. Ia makan telur kura-kura sepanjang bulan Mei supaya bisa kuat menangkap ikan besar dalam bulan-bulan September dan Oktober.

Ia juga suka minum secangkir minyak ikan hiu tiap hari disebuah gubuk tempat sejumlah nelayan menyimpan peralatan. Minyak ikan itu disimpan dalam sebuah tong besar dan tersedia bagi siapa saja yang membutuhkannya. Kebanyakan nelayn tak suka akan baunya. Tetapi itu tak lebih buruk dari bangun pagi bersama-sama mereka dan di samping itu juga baik untuk mengobati rasa dingin dan linu-linu dan juga berkhasiat bagi mata.

Lelaki tua itu menengadah dan kini dilihatnya burung itu berputar-putar lagi.

“Ia melihat ikan,” teriaknya. Tidak ada seekor ikan terbangpun muncul di permukaan air, ikan-ikan umpannya juga tidak cerai-berai. Tetapi ketika lelaki tua itu asyik memandang, seekor ikan tuna meloncat ke udara, membalik dan – dengan menjungkir – terjun ke dalam air. Ikan tuna itu memancarkan warna perak di cahaya matahari dan ketika ia sudah menyelam, yang lain-lain bermunculan ke udara dan berloncatan ke segenap penjuru, mengaduk air dan melompat jauh memburu ikan-ikan umpan itu. Ikan-ikan tuna itu mengitari dan menyerang umpan-umpan itu.

Kalau ikan-ikan itu tak bergerak terlalu cepat aku akan bisa mencapainya, pikir lelaki tua itu; disaksikannya ikan-ikan itu mengaduk air sampai memutih dan si burung kini menukik dan menyelam menangkap ikan-ikan umpan yang terdesak ke permukaan dalam hiruk pikuk itu.

“Burung itu menolongku,” kata lelaki itu. Tepat pada saat itu terasa di kakinya tali pancing yang diburitan menegang, lalu ia lepaskan dayung dan dirasakannya getar tarikan ikan tuna itu ketika ia pegang tali erat-erat dan mulai menariknya. Semakin terasa getaran itu ketika ia memungut tali dan menyaksikan punggung biru dan tubuh kuning si ikan dalam air sebelum ditarik lewat samping ke dalam perahu. Ikan itu terbujur di buritan, padat dan seperti peluruh bentukan sementara tenaga hidupnya semakin habis karena ekornya yang rapih bergerak-gerak cepat memukul-mukul dinding perahu. Lelaki tua itu memukul kepalanya supaya tidak terlampau lama sekarat lalu meyepak tubuhnya yang masih bergeletar di naung buritan.

Albacore,” serunya. “Umpan yang bagus. Beratnya sepuluh pon.”

Bersambung….

Continue Reading

Novelet

Ernest Hemingway: Lelaki Tua Dan Laut #5

mm

Published

on

Ernest Hemingway Lelaki Tua Dan Laut #5

Dalam gelap itu si lelaki tua merasakan pagi yang tiba dan sambil mendayung didengarnya suara bergetar ikan terbang yang melesat dari air dan desis sayap-sayapnya yang kaku ketika ikan-ikan itu melayang menembus kegelapan. Ia senang pada ikan terbang sebab ikan-ikan itu sahabat-sahabat karibnya di samudra. Ia suka kasihan kepada burung-burung, terutama sekali burung laut yang berbulu hitam dan nampak lembut yang senantiasa terbang dan mencari-cari dan hampir tak pernah mendapat apapun, dan ia berpikir, “Burung-burung itu hidupnya lebih berat dari hidup kita kecuali burung rampok dan burung-burung yang besar dan kuat. Kenapa burung-burung diciptakan begitu lembut dan indah seperti misalnya burung layang-layang laut sedangkan samudra kadang teramat kejam? Laut memang baik hati dan indah. Tetapi ia bisa sangat kejam dan itu tiba-tiba saja datangnya sedangkan burung-burung yang terbang, menukik ke air dan berburu, dengan suara lirih dan sedih adalah terlalu lembut untuk laut.”

Ia selalu menganggap laut sebagai el mar yakni nama yang diberikan orang-orang dalam bahasa Spanyol kalau mereka mencintainya. Kadang-kadang mereka yang mencitainya suka mencaci-makinya tetapi semua itu diucapkan seperti kepada seorang perempuan. Beberapa nelayan yang lebih muda, yang menggunakan pelampung pada tali pancingnya dan yang memiliki perahu motor – yang dibeli dengan uang hasil penjualan hati ikan hiu – menyebut laut sebagai el mar yakni berjenis laki-laki. Mereka itu menganggap laut sebagai saingan atau medan atau bahkan sebagai musuh. Tetapi lelaki tua itu selalu menganggapnya sebagai perempuan atau sebagai sesuatu yang memberi atau menyimpan anugerah besar, dan kalaupun laut menjadi buas atau jahat itu karena terpaksa saja. Bulan berpengaruh atas perangainya seperti halnya atas perempuan, pikir lelaki tua itu.

Ia mendayung dengan tenang tanpa banyak mengeluarkan tenaga sebab perahunya melaju dengan kecepatan teratur dan permukaan samudra datar saja, hanya di sana sini atur berpusing. Ia biarkan saja arus membantunya mendayung dan ketika hari mulai terang ia sadar bahwa sudah berada jauh, lebih jauh dari apa yang diharapkannya pada jam begini.

Sudah kujelajahi lubuk-lubuk itu selama seminggu dan hasilnya nihil, pikirnya. Hari ini akan kukitari tempat di mana jenis-jenis bonita dan albacore berkeliaran dan barangkali ada seekor ikan besar bersamanya.

Sebelum hari semasekali terang ia sudah memasang umpan-umpannya dan menghanyut ikut arus. Umpan pertama sedalam empat puluh depa. Yang kedua sedalam tujuh puluh depa sedangkan umpan ketiga seratus depa dan keempat seratus dua puluh lima depa. Setiap umpan tergantung, kepalanya di bawah, dan tangkai pancing tersembunyi di dalamnya, terikat erat-erat, dan segala bagian yang menonjol dari pancing itu – lengkungannya dan matanya – tersembunyi dalam ikan-ikan sardin yang segar. Setiap sardin ditusuk dengan pancing pada kedua matanya sehingga sardin-sardin yang bergantungan di pancing itu bentuknya seperti separoh kalung. Seluruh bagian pancing itu pasti sedap baunya dan enak rasanya bagi ikan besar yang mendekatinya.

Anak laki-laki itu telah memberinya dua ekor ikan tuna kecil yang masih segar, yang juga disebut albacore, dan keduanya tergantung bagai batu duga pada tali yang seratus dan seratus dua puluh lima depa sedangkan pada kedua tali yang lain dipasangnya masing-masing ikan pelari biru dan ikan kelasi kuning yang sebelumnya pernah digunakan; tetapi kedua ikan itu masih baik keadaannya dan kecuali itu sardin-sardin segar membantu memancarkan bau sedap dan daya tarik. Setiap tali, yang kelilingnya setebal pensil besar, dikolongkan pada kayu apung hijau sehingga setiap kali umpan tersentuh atau termakan ikan kayu itu masuk ke air, dan untuk se tiap kali tersedia dua gulung tali cadangan yang masing-masing empat puluh depa panjangnya yang masih juga bisa diikatkan pada  gulungan-gulungan tali cadangan lain sehingga, kalau mampu, seekor ikan bisa melarikan pancing sampai sepanjang lebih dari tiga ratus depa.

Tiga buah kayu apung di samping perahu nampak masuk air dan lelaki itu terus mendayung dengan tenang menjaga agar tali-tali tetap lurus dan mencapai kedalaman yang semestinya. Hari mulai terang dan setiap saat matahari akan muncul.

Matahari bangkit perlahan dari laut dan lelaki tua itu melihat perahu-perahu lain berpencar di seberang arus, jauh di sana dekat pantai. Matahari semakin terang dan cahayanya menyusur permukaan laut dan kemudian, ketika hari makin tinggi, laut yang datang itu memantulkan cahaya itu ke matanya sehingga terasa pedih dan ia terus mendayung tanpa menatap pantulan itu. Ia memandang ke bawah menyaksikan tali-tali pancingnya yang menyusup jauh kedalam kegelapan air. Ia berusaha sungguh agar tali-talinya kencang supaya setiap umpan siap menunggu ditempat yang tepat dalam kegelapan arus di mana si lelaki itu mengharapkan adanya ikan. Orang lain biasanya membiarkan saja tali-talinya terhanyut arus sehingga kadang-kadang tali yang dianggap mencapai seratus depa di bawah permukaan laut sesungguhnya hanya enam puluh depa saja.

Tetapi aku selalu menjaga agar tali-tali itu tepat pada tempatnya, pikirnya. Hanya saja tak ada untung padaku. Tetapi siapa tahu? Setiap hari adalah hari baru. Memang lebih baik kalau ada untung. Tetapi aku lebih suka berusaha untuk tepat. Lalu kalau untung itu datang kita sudah sepenuhnya siap.

Matahari telah dua jam mendaki lebih tinggi dan matanya tidak lagi merasa sangat pedih kalau menatap ke arah timur. Hanya tiga buah perahu yang kelihatan sekarang dan mereka pun berada jauh di bawah sana dekat pantai.

Selamanya matahari pagi menyakitkan mataku, pikirnya. Namun mataku masih tetap tajam. Malam hari aku masih menatap kedepan tanpa merasa buta. Pada malam hari bahkan lebih tajam pandanganku. Tetapi pada pagi hari pedih sekali rasanya.

Tepat pada saat itu nampak seekor burung kapal perang dengan sayap-sayapnya yang hitam berputar-putar dilangit tepat di atas kepala si tua. Ia mendadak menukik, dua belah sayapnya miring, dan kemudian terbang berputar-putar kembali.

“Ia mendapat sesuatu,” teriak lelaki tua itu. “Ia tidak hanya melihatnya.”

Didayungnya perahunya pelan dan teratur ke arah tempat burung itu membuat lingkaran. Ia tidak tergesa dan menjaga agar tali-tali pancingnya tetap lencang. Tetapi ia agak mempercepat perahunya hanyut di arus sehingga ia masih bisa memancing dengan cermat meskipun agak lebih cepat dari kalau seandainya tidak ada burung yang memberinya petunjuk.

Burung itu terbang lebih tinggi lagi untuk kemudian membuat lingkaran di udara, sayap-sayapnya tak bergerak. Mendadak ia menukik dan lelaki tua itu menyaksikan seekor ikan terbang tersembul di permukaan air dan berenang sekuat tenaga.

“Dalfin,” teriak lelaki tua itu. “Ikan dalfin besar.” Ia masukkan dayung kedalam perahu dan mengambil tali kecil dari bawah haluan. Tali itu berujung kawat dan sebuah kail yang berukuran sedang dan ia pasang seekor sardin sebagai umpan. Dicemplungkannya kail itu ke dalam air dan kemudian diikatkannya talinya pada sebuah gelangan di buritan. Setelah itu ia pasang lagi umpan pada tali yang lain yang dibiarkannya tetap tergulung di haluan. Ia mulai lagi mendayung dan menyaksikan burung hitam bersayap panjang yang sekarang sedang sibuk di dekat permukaan air.

Burung itu menyelam lagi sambil memiringkan sayap-sayapnya dan kemudian mengibas-ngibaskannya dengan galak namun sia-sia ketika mengikuti ikan terbang itu. Lelaki tua itu melihat permukaan air menggembung karena ikan-ikan dalfin yang memburu mangsanya yang berusaha lepas. Dalfin-dalfin itu menembus air di bawah mangsanya dan siap untuk menerkam setiap saat ikan-ikan kecil itu turun. Sekelompok dalfin, pikirnya. Mereka menyebar luas dan ikan terbang itu hampir tak mungkin lepas. Burung itu pun sia-sia saja. Ikan-ikan terbang itu terlalu besar baginya dan mereka bergerak teramat cepat.

Disaksikannya ikan-ikan terbang itu berulang kali muncul di permukaan dan si burung yang sia-sia tingkahnya. Kelompok dalfin itu lepas dariku, pikiranya. Mereka bergerak terlalu cepat dan jauh. Tetapi barangkali ada yang tersesat dan ikan besarku ada diantara mereka. Ikan besarku pasti ada entah di mana.

Bersambung..

Continue Reading

Classic Prose

Trending