© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Ernest Hemingway: Lelaki Tua Dan Laut #2

Merekapun duduk di Teras dan banyak di antara para nelayan yang ada disana mengejek lelaki tua itu dan ia tidak marah. Yang lain, yang lebih tua, memandang ke arahnya dan merasa kasihan. Tetapi mereka tidak memperlihatkan perasaan itu dan bercakap-cakap dengan sopan tentang arus dan lubuk laut tempat menghanyutkan pancing-pancing mereka dan tentang cuaca yang selalu cerah dan tentang apa saja yang telah mereka saksikan. Para nelayan yang hari itu beruntung telah berada di darat dan telah menyembelih ikan cucut mereka dan membawanya terbujur diatas dua lembar papan yang setiap ujungnya diangkat oleh dua orang yang berjalan terhuyung ke arah gudang ikan dimana mereka menunggu truk es yang akan menangkut mereka ke pasar di Havana. Para nelayan yang berhasil menangkap ikan hiu telah membawa perolehan mereka ke perusahaan hiu yang terletak di seberang teluk, dan disana ikan-ikan itu diangkat dengan kerekan dan katrol, hatinya dikeluarkan, siripnya dipotong dan kulitnya dikelupas dan dagingnya diiris-iris menjadi lempengan untuk digarami.

Kalau angin bertiup dari arah timur tercium bau dari perusahaan hiu itu melewati pelabuhan; tetapi hari itu baunya tidak tajam sebab angin telah berbalik ke arah utara lalu berhenti, dan suasana di Teras terasa nyaman dan cerah.

“Santiago,” kata anak laki-laki itu.

“Ya,” sahut si lelaki tua. Tangannya menggenggam gelas dan ia sedang melamunkan tahun-tahun lampau.

“Bolehkan aku pergi membeli sardin untukmu buat besok?”

“Jangaan. Pergilah main baseball saja. Aku masih kuat mendayung dan Rogelio yang akan menebarkan jala.”

“Aku ingin ikut. Kalau tak boleh ikut ke laut denganmu aku ingin membantumu dengan cara lain.”

“Kau telah mentraktirku,” Kata lelaki tua itu. “Kau telah dewasa sekarang.”

“Berapa umurku waktu pertama kali kaubawa ke laut?”

“Lima, dan kau nyaris celaka ketika kuangkat ikan yang masih terlalu buas yang hampir saja menghancurkan perahuku berkeping-keping. Ingat kau?”

“Kuingat ekornya membentur-bentur dan perahu retak dan suara-suara pukulanmu yang gaduh. Ku ingat kau melemparkanku ke haluan tempat gulungan tali yang masih basah dan kurasakan seluruh perahu bergetar dan kau mengamuk memukuli ikan itu bagai membacok-bacok batang pohon dan bau darah yang segar tercium di sekelilingku.”

“Kau betul-betul mengingatnya atau hanya karena pernah kuceritakan hal itu padamu?”

“Kuingat segala yang pernah terjadi sejak pertama kali kita bersama ke laut.”

Lelaki tua itu menatapnya dengan mata yang masak oleh terik matahari, yang yakin dan penuh rasa sayang.

“Kalau saja kau ini anakku sendiri kubawa kau besok mengadu untung,” katanya. “Tetapi kau milik ayah dan ibumu dan kau sudah ikut perahu yang nasibnya baik.”

“Kubelikan sardin itu ya? Aku juga tahu tempat orang menjual empat ekor umpan.”

“Aku masih punya sisa umpan hari ini. Kutaruh diatas garam dalam kotak.”

“Biar kubelikan empat ekor umpan yang masih segar.”

“Satu saja,” kata lelaki tua itu. Harapan dan keyakinannya tidak pernah layu. Malah sekarang menjadi segar seperti ketika angin lembut bertiup.

“Dua,” kata lelaki itu.

“Baiklah: dua,” kata lelaki tua itu. “Kau tidak mencurinya, bukan?”

“Inginnya begitu,” jawab anak laki-laki itu. “Tetapi yang ini kubeli.”

“Terima kasih,” kata lelaki tua itu. Pikirannya terlalu sederhana untuk mempertanyakan kapan ia berendah hati. Tetapi ia tahu bahwa ia telah berendah hati dan ia tahu bahwa hal itu bukanlah sesuatu yang aib dan tidak menyebabkannya kehilangan harga diri.

“Besok hari bagus kalau arus begini,” katanya.

“Rencanamu mau ke mana?” tanya anak itu.

“Pergi sampai jauh dan kembali kalau angin berganti arah. Aku akan turun sebelum matahari terbit.”

“Nanti kucoba mengajaknya turun sampai jauh.,” kata anak itu. “Dan kalau kau berhasil mendapat ikan yang sungguh besar kami bisa menolongnya.”

“Ia tidak suka bekerja sampai jauh.”

“Memang,” kata anak itu. “Tetapi aku bisa melihat sesuatu yang ia tak mampu melihatnya seperti misalnya seekor buruh yang sedang cari makan dan akan kuajak dia berburu dalfin sampai jauh ke laut.”

“Apakah matanya sudah begitu buruk?”

“Hampir buta.”

“Aneh,” kata lelaki tua itu. “Ia tak pernah berburu kura-kura. Padahal itulah yang merusakkan mata.”

“Tetapi kau berburu kura-kura bertahun-tahun lamanya di lepas Pantai Nyamuk dan penglihatanmu masih tajam.”

“Akupun suka heran tentang diriku sendiri.”

“Tetapi apakah kini kau masih merasa cukup kuat untuk menghadapi ikan yang betul-betul besar?”

“Ya. Dan aku punya banyak akal.”

“Kita bawa pulang perlengkapan itu sekarang,” kata anak itu. “Supaya bisa kuurus jala itu dan pergi membeli ikan sardin.”

Merekapun mengambil alat-alat itu dari perahu. Lelaki tua itu memanggul tiang perahu di pundaknya dan anak itu menjinjing kotak dengan gulungan tali coklat yang kekar, kait kecil dan kait besar serta tangkainya. Kotak yang berisi umpan ada di bawah buritan, juga tongkat yang dipergunakan untuk memukuli ikan besar waktu dihela ke sisi perahu. Tidak ada seorangpun yang mau mencuri milik lelaki tua itu namun layar serta tali-tali itu lebih baik di bawa pulang sebab kalau kena embun bisa rusak dan, walaupun lelaki tua itu yakin bahwa penduduk setempat tidak akan mencuri barang-barang miliknya, lelaki itu menganggap bahwa kait adalah godaan yang tak perlu ditinggal di perahu.

Mereka berdua berjalan menuju gubuk lelaki tua itu dan masuk lewat pintunya yang terbuka. Lelaki tua itu menyandarkan tiang yang terbungkus layar itu ke dinding dan si anak menaruh kotak dan perlengkapan lainnya di sampingnya. Tiang perahu itu hampir sama panjangnya dengan sebuah bilik gubuk itu. Gubuk itu terbuat dari mancung pohon palma yang keras yang disebut guano; ada sebuah dipan untuk tidur, sebuah meja, sebuah kursi, dan sebuah sudut di lantai tanah tempat memasak dengan arang. Sebuah gambar berwarna Hati Suci Yesus dan sebuah gambar Perawan Cobre ditempelkan di dinding-dinding coklat yang terbuat dari lembaran-lembaran guano yang seratnya sangat kuat. Gambar-gambar itu adalah peninggalan istrinya. Dahulu ada pula gambar istrinya yang berwarna di dinding tetapi ia telah mencopotnya sebab ia merasa kesepian kalau menatapnya dan sekarang disimpan dalam rak di bawah bajunya yang bersih.

“Apa yang akan kaumakan?” tanya anak itu.

“Sepanci nasi kuning dan ikan. Kau ingin makan?”

“Tidak. Aku akan makan di rumah. Boleh kubuatkan api?”

“Tidak usah. Biar nanti kubuat sendiri. Atau biar kumakan nasi dingin saja.”

“Boleh kuurus jala itu?”

“Tentu saja.”

Sesungguhnya tiada lagi jala itu dan anak laki-laki itu ingat ketika mereka menjualnya. Tetapi mereka suka berhayal setiap hari. Juga tidak ada panci nasi kuning dan ikan dan anak itu juga tahu.

“Delapan puluh lima adalah angka beruntung.” Kata laki-laki tua itu. “Senangkah kau kalau aku berhasil mendapat seekor yang beratnya lebih dari seribu pon?”

“Aku akan mengurus jala itu dan pergi membeli ikan sardin. Kau duduk saja di ambang pintu biar kena sinar matahari.”

“Baiklah. Aku punya koran kemarin dan ingin kubaca tentang pertandingan baseball itu.”

Anak laki-laki itu tidak tahu apakah koran kemarin itu juga hanya hayalan saja. Tetapi lelaki tua itu mengambilnya dari bawah dipan.

“Pedrico yang memberikan koran ini padaku di bodega,” katanya menjelaskan.

“Aku kembali nanti kalau sudah mendapatkan sardin. Biar kusimpan nanti punya kita bersama-sama dalam es dan besok kita bagi dua. Ceritakan padaku tentang baseball itu kalau aku sudah balik.”

Yankees itu tak bisa kalah.”

“Tetapi aku takut pada Indians dari Cleveland itu.”

“Percayalah pada Yankees anak muda. Ingat saja DiMaggio yang agung.”

“Aku takut pada Tigers dari Detroit dan Indians dari Cleveland.”

“Hati-hati saja, atau kau bahkan juga takut pada Reds dari Cincinnati dan White Sox dari Chicago.”

“Baca saja dan ceritakan padaku kalau aku balik nanti.”

“Bagaimana kalau kita membeli lotre yang buntutnya delapan puluh lima? Besok hari yang ke delapan puluh lima?

“Boleh saja,” kata anak laki-laki itu. “Tetapi bagaimana tentang nomor delapan puluh tujuh yang menjadi rekormu itu?”

“Itu tak akan berulang. Bisakah kau mencari nomor delapan puluh lima?”

“Bisa nanti kupesan selembar.”

“Selembar utuh. Dua setengah dolar. Pinjam uangnya kepada siapa?”

“Itu soal mudah. Aku selalu berhasil pinjam uang dua setengah dolar saja.”

“Mungkin akupun bisa. Tetapi kuusahakan untuk tidak pernah pinjam uang. Mula-mula kau hanya pinjam. Nantinya ngemis.”

“Hangatkan dirimu sahabat,” kata anak itu. “Ingat bahwa ini bulan September.”

“Bulan yang banjir ikan-ikan besar,” kata si lelaki tua. “Setiap orang bisa menjadi nelayan di bulan Mei.”

“Aku pergi mencari sardin,” kata anak itu.

Ketika anak laki-laki itu kembali lelaki tua itu tertidur di kursi dan matahari sudah terbenam. Ia mengambil selimut militer yang sudah tua itu dari dipan dan menaruhnya disandaran kursi menutupi pundak lelaki tua itu. Kedua pundak itu nampak aneh, lehernya juga masih kuat dan kerut-merutnya tidak begitu kentara kalau lelaki tua itu tidur dan kepalanya tergantung ke depan. Kemejanya penuh tambalan sehingga nampaknya seperti layar dan tambalan-tambalan itu sudah luntur menjadi bermacam-macam warna kena sinar matahari. Kepala lelaki itu sudah begitu tua dan kalau sepasang matanya terpejam kelihatan wajahnya tidak berjiwa lagi. Koran itu terbuka di atas lutut dan tangannya menindihnya sehingga tidak terjatuh oleh angin sore. Kakinya telanjang.

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT