© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Ernest Hemingway: Lelaki Tua Dan Laut #1

LELAKI TUA DAN LAUT

Ernest Hemingway

 

IA seorang lekaki tua yang sendiri saja dalam sebuah perahu menangkap ikan di Arus Teluk Meksiko dan kini sudah genap delapan puluh empat hari lamanya tidak berhasil menangkap seekor ikanpun. Selama empat puluh hari yang pertama ia ditemani oleh seorang anak laki-laki. Tetapi setelah empat puluh hari itu berlalu tanpa menangkap ikan seekorpun maka ayah dan ibu anak itu mengatakan bahwa sekarang sudah jelas dan pasti lelaki tua itu salao, yakni paling sial di antara yang sial, dan atas perintah orangtuanya anak itu kemudian ikut perahu lain yang berhasil menangkap tiga ekor ikan besar selama minggu pertama. Anak itu merasa kasihan setiap kali menyaksikan si lelaki tua itu tiba dari laut setiap hari dengan perahu kosong dan iapun selalu datang untuk menolongnya membawakan gulungan tali atau kait besar dan kait kecil dan layar yang sudah tergulung di tiang perahu. Layar itu bertambal karung gandung dan kalau tergulung di tiang nampak seperti panji-panji tanda takluk abadi.

Lelaki tua itu bertubuh kurus dan pucat dan tengkuknya penuh kerut-merut. Di pipinya nampak banyak bintik-bintik coklat noda kulit yang diakibatkan oleh pantulan matahari di laut tropis. Bintik-bintik itu memenuhi kedua sisi wajahnya dan keuda tangannya penuh dengan goresan-goresan tajam yakni bekas luka karena gosongan tali sewaktu menghela ikan besar. Tetapi luka-luka itu tidak ada lagi yang masih segar. Setua erosi di gurun pasir yang tanpa ikan.

Seluruh tubuhnya nampak tua kecuali sepasang matanya, yang warnanya bagai laut serta cerah dan tak kenal menyerah.

“Santiago,” kata anak laki-laki itu kepadanya ketika mereka menaiki tebing dari mana perahunya diseret ke darat. “Aku bisa ikut kau lagi. Kami sudah mendapat cukup uang.”

Lelaki tua itulah yang dahulu mengajarnya menangkap ikan, dan anak laki-laki itu sayang sekali kepadanya.

“Jangan,” kata lelaki tua itu. “Kau sudah bekerja pada sebuah perahu yang beruntung. Jangan kautingalkan orang-orang itu.”

“Tapi ingat betapa kau pernah selama delapan puluh tujuh hari ke laut tanpa mendapat seekorpun ikan, dan kemudian kita menangkap beberapa ekor ikan besar setiap hari selama tiga minggu.”

“Ya,” kata lelaki tua itu. “Aku tahu kau meninggalkanku bukan karena kau telah jadi ragu-ragu.”

“Ayah yang menyuruhku meningngalkanmu. Aku masih kecil dan harus menurut segala perintahnya.”

“Aku mengerti,” kata lelaki tua itu. “Itu wajar,”

“Ia tidak begitu yakin.”

“Begitulah,” kata si lelaki tua. “Tetapi kita sama-sama yakin, bukan?”

“Ya,” kata anak itu. “Mau kau kutraktir bir di Teras dan sesudah itu kita bawa pulang perlengkapan ini?”

“Kenapa tidak?” kata lelaki tua itu. “Kita sama-sama nelayan.”

Merekapun duduk di Teras dan banyak di antara para nelayan yang ada disana mengejek lelaki tua itu dan ia tidak marah. Yang lain, yang lebih tua, memandang ke arahnya dan merasa kasihan. Tetapi mereka tidak memperlihatkan perasaan itu dan bercakap-cakap dengan sopan tentang arus dan lubuk laut tempat menghanyutkan pancing-pancing mereka dan tentang cuaca yang selalu cerah dan tentang apa saja yang telah mereka saksikan. Para nelayan yang hari itu beruntung telah berada di darat dan telah menyembelih ikan cucut mereka dan membawanya terbujur diatas dua lembar papan yang setiap ujungnya diangkat oleh dua orang yang berjalan terhuyung ke arah gudang ikan dimana mereka menunggu truk es yang akan menangkut mereka ke pasar di Havana. Para nelayan yang berhasil menangkap ikan hiu telah membawa perolehan mereka ke perusahaan hiu yang terletak di seberang teluk, dan disana ikan-ikan itu diangkat dengan kerekan dan katrol, hatinya dikeluarkan, siripnya dipotong dan kulitnya dikelupas dan dagingnya diiris-iris menjadi lempengan untuk digarami.

Bersambung…

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT