© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Epos Kutukan: Balada Gandari dan Drupadi

Oleh: Arimbi Heroepoetri *

 

Gandari mengutuk, kutukan dari seorang ibu yang kehilangan seluruh  anak-anaknya dalam mahaperang Bharatayudha, perang antar sepupu; Pandawa dan Kurawa. Tidak peduli sang Kurawa anak-anak tersebut kerasukan nafsu serakah dan hawa iblis yang diajarkan kedua orang tuanya. Kutukan ditujukan kepada Kresna yang ia anggap sebagai penentu kemenangan Pandawa karena nasehat-nasehatnya yang jitu, dan kadang dituduh licin. Juga ditujukan kepada Drupadi, karena lebih merasa iri dan sakit mengapa lima orang Pandawa bisa mengalahkan 100 orang Kurawa.

 

Kutukan dari seorang ibu yang telah kehilangan semua anaknya tidak akan pernah sia-sia.

 

“Kau Madawa kau akan mengembara di hutan tanpa perlindungan dan mati dipanah pemburu”

“Kau Drupadi, kau akan kehilangan seluruh anak-anakmu, biar kau merasakan bagaimana sakitnya kehilangan anak”.

 

Kutukan yang langsung dia keluarkan ketika ia tahu seluruh anak-anaknya sudah meninggal, dan dikunjungi oleh Kresna/Madawa dan Drupadi untuk menyampaikan bela sungkawa. Pada saat itu seluruh anak-anak Drupadi dari Pandawa selamat dari perang.

 

Belasan tahun sebelumnya Drupadi sang pengantin baru dalam keluarga Pandawa pernah mengeluarkan kutukan, di bangsal kerajaan Astina ketika Drupadi tanpa kehendaknya telah dijadikan barang taruhan perjudian yang dilakukan antara Kurawa dan Pandawa. Karena taktik Sengkuni –kakak Gandari– Pandawa kalah total, seluruh kerajaannya; Indraprasta, bahkan diri mereka sendiri sudah dipertaruhkan, dalam gelap matanya, Yudistira sang sulung dari Pandawa setuju menjadikan Drupadi, istri para Pandawa sebagai taruhan judi. Perjudian yang disaksikan para tetua kerajaan Hastina.

 

Di bangsal Istana, Drupadi mengalami penghinaan… ia dituduh sebagai pelacur oleh Adipati Karna, karena mau mengawini kelima Pandawa, Suyudhana –sulung dari Kurawa– memaksa Drupadi untuk duduk di pangkuannya, dan menyuruh Dursasana sang adik, untuk menelanjanginya. Ditingkahi tawa cemooh dari 100 orang kurawa.

 

Para tetua ksatria kerajaan Hastina dan Pandawa tidak bisa berbuat apa-apa, karena hukum telah mengikat mereka. Mereka yang kalah judi adalah milik pemenang.

 

Namun atas kehendak dewata, kain sari yang ditarik Dursasana tidak ada habis-habisnya sampai Dursasana kelelahan. Seluruh bangsal telah penuh dengan kain sari Drupadi…dan tubuh drupadi tetap tertutup kain sari.

 

Dalam suasana penuh kekagetan dan mencekam… Drupadi berkata…

 

“Lihatlah para tetua yang agung dari kerajaan Hastina, wahai Bhisma yang perkasa, dan para suamiku ksatria tangguh Pandawa, yang ditakuti musuh, namun tidak mampu berbuat apa-apa ketika cucu mantumu, ketika istrimu dipermalukan didepanmu.Tidak akan kugelung rambut terurai ini sebelum berkeramas darahmu Dursasana. Karena aku adalah kematian. Kematian kalian semua”.

 

Atas persetujuan Dretarastra Sang Raja buta ayah kaum Kurawa, seluruh harta, kerajaan dan kemerdekaan Pandawa akan dikembalikan, jika Pandawa dan Drupadi dibuang ke hutan selama 13 tahun, dalam dalam 1 tahun terakhir mereka harus menyamar dan tidak diketahui oleh pihak Hastina. Jika penyamarannya diketahui, maka mereka harus kembali mengalami pembuangan selama 13 tahun. Keputusan kejam ini segera memisahkan Drupadi dengan para anak-anaknya yang masih balita, kesemua anak Pandawa dititipkan kepada Kresna ketika mereka mengalami pembuangan.

 

Apa bedanya kutukan Drupadi dengan Gandari. Karena pada akhirnya kutukan mereka terlaksana. Dursasana mati ditangan Bima, dan Bima mengantar darah Dursasana ke Drupadi untuk keramas dan Drupadi dapat menggelung rambutnya kembali. Suyudana juga mati ditangan Bima, karena dalam marahnya, ia menghantam paha Suyudana, teringat Suyudana pernah memangku paksa Drupadi. Kelima anak Drupadi mati terbunuh dalam tidur lelap mereka di kemah perang. Terbunuh secara licik oleh Drestrajumena. Dan beberapa tahun kemudian Kresna sang perkasa, juga meninggal setelah seluruh kerajaannya hancur.

 

Drupadi adalah pelita semangat Pandawa untuk menuntut haknya yang dirampas Kurawa. Pemberi semangat Pandawa, dan pendapatnya selalu didengar oleh Pandawa. Drupadi rela meninggalkan kehidupan mulia untuk mendampingi Pandawa sampai tahta yang menjadi hak-nya Pandawa kembali kepangkuan mereka. Sementara Gandari mendukung ambisi suaminya yang merasa berhak atas tahta Hastina, lewat kelahiran 100 anak-anaknya. Gandari tidak pernah mengeluhkan itu, bahkan ia rela menutup matanya dengan secarik kain hitam, ketika ia ketahui bahwa calon suaminya, tidak dapat melihat sejak kecil. Gandari melakukannya dan menanggungnya sendiri.

 

Pada akhirnya, mereka adalah seorang ibu yang mengasihi anak-anaknya tanpa syarat. Drupadi beruntung memiliki anak-anak yang menghormati ibunya, sementara Gandari tidak. Mereka adalah istri yang setia, yang turut bertanggung jawab atas perilaku suaminya tanpa menilai salah-buruknya. Sekali lagi Drupadi lebih beruntung, karena Pandawa selalu mendengar dan menghormati keputusan Drupadi, sementara Destaratha tidak.

 

Mereka melakukan pengabdian total untuk keluarganya.  Menjadi ibu, menjadi isteri bukanlah sekedar masalah rumah tangga, bukan semata masalah domestik, mereka memang tidak turut berperang di mendan Kurusetra, tapi mereka memiliki peran penting yang turut menentukan pembentukan peradaban. (*)

 

Arimbi Heroepoetri: Penulis, Aktif di debtWATCH Indonesia, penikmat dan pemilik kedai kopi yang nyaman dan bersih di Jakarta. Merupakan Associate Editors Galeri Buku Jakarta.

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT