© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.

Manusia, masyarakat, dunia terus bergerak, berubah, dan berkembang. Gerak, perubahan, dan perkembangan tak pelak lagi merupakan gejala kehidupan. Apa yang mandek, tetap, dan tak membuat kemajuan dianggap tak memiliki kehidupan lagi. Dia sudah mati. Terkesan, malah mungkin terpesona oleh adanya gejala-gejala gerak, perubahan, dan perkembangan hidup di dunia itu, muncullah paham yang berporos pada gejala-gejala itu. Paham itu disebut developmentalisme. Istilah developmentalisme berasal dari kata Inggris development, yang berarti ‘pertumbuhan’, ‘perkembangan’, ‘pembangunan’. Sudah tampak dari arti kata akarnya, developmentalisme merupakan pandangan yang berkaitan dengan pertumbuhan, perkembangan, pembangunan. Developmentalisme berpandangan optimis. Menurutnya manusia dan dunia dapat tumbuh dan berkembang menjadi lebih maju dan menjadi lebih baik. Ada dua cabang developmentalisme. Yang satu berkaitan dengan manusia, disebut “developmentalisme humanis”. Yang lain berhubungan dengan dunia, disebut “developmentalisme sekularis”. Dalam uraian ini kita hanya akan membicarakan developmentalisme humanis saja.

Menurut developmentalisme humanis, manusia memiliki dasar dan kemampuan untuk menjadi lebih baik dan mencapai keutuhan serta kesempurnaan sebagai manusia. Yang diperlukan adalah lingkungan hidup yang mendukung dan bantuan yang dapat meningkatkan dan mengembangkan kemampuannya itu. Developmentalisme humanis berkeyakinan bahwa manusia sebagaimana adanya belum mencapai keadaan dan tahap hidup yang semestinya. Manusia adalah makhluk istimewa di dunia. Dia memiliki hal yang tidak ada pada makhluk lain. Manusia memiliki kesadaran, kehendak mereka, dan kemampuan fisik dan mental untuk menggapai nilai hidup yang tinggi. Namun, manusia belum mampu mewujudkan segala kemampuan itu karena terhambat kesadarannya dan karena pengaruh faktor-faktor di luarnya.

Tidak sedikit orang yang tidak sadar akan hakikat kemanusiaannya dan kemampuan istimewa yang ada padanya. Mereka tidak menyadari bahwa manusia memiliki kemampuan lengkap: kemampuan fisik berupa tenaga; kemampuan mental untuk berpikir tentang yang ada, tentang masa lampau yang sudah terjadi, dan tentang masa depan dengan menggambarkan berbagai kemungkinan dan bayangan; kemampuan kehendak atau voluntif untuk mengejar dan mewujudkan nilai materiil, ekonomis, estetis atau keindahan, sosial, etis-moral, dan religius keagamaan; kemampuan rasa atau afektif untuk merasa-rasakan. Mereka tidak mengerti bahwa dengan segala kemampuan itu manusia dapat mencapai kesadaran, mereka juga tidak mengembangkan dan memanfaatkan. Alhasil, hidup mereka datar saja, bahkan dapat berkembang merosot ke tahap hidup di bawah standar hidup manusia.

Seperti terhadap hal-hal lain, kesadaran manusia ada tingkatan-tingkatannya. Ada tidak sadar, ada setengah sadar, ada sadar penuh, dan ada sadar terlibat. Dalam hal hakikat kemanusiaan, orang yang tidak sadar tidak tahu apa manusia itu dan mengapa manusia tampil sebagai makhluk seperti itu. Orang yang tidak sadar membutuhkan pendidikan penyadaran. Orang yang setengah sadar mengetahui keadaan manusia dan segala kemampuan yang ada padanya. Namun, ia tidak tahu latar belakang dan sebabnya. Karena itu, dia hanya terheran-heran dan tak mampu menjernihkan keheran-heranannya. Orang yang setengah sadar dapat menjadi sadar penuh bila mampu menggali dan menemukan latar belakang dan alasannya. Hal ini tercapai karena usaha sendiri ataupun bantuan bimbingan orang lain. Orang yang sadar penuh adalah orang yang mengetahui kemanusiaan dan mengetahui latar belakang serta alasannya, orang yang sadar penuh memerlukan motivasi dan kecakapan yang dibutuhkan untuk berbuat itu. Dengan perkataan lain, agar orang menyadari hakikat manusia dan kemampuan yang ada padanya, diperlukan proses penyadaran yang tidak mudah, bertahap-tahap, dan makan waktu.

Namun, ketidaksadaran orang tentang manusia dan kemampuannya terjadi, kecuali karena dirinya memang tidak sadar, juga karena faktor-faktor yang menghalangi terbentuk dan berperannya kesadaran itu. Kesadaran tidak terbentuk dalam lingkungan yang tak mendukung. Kesadaran tumbuh bila ada kemungkinan mencari dan menggali dengan aman. Dalam suasana takut, khawatir, dan tertekan kesadaran sulit berkembang. Penghalang berkembangnya kesadaran adalah lingkungan yang represif, hidup yang terlajur-jalur ketat, terlalu banyak rambu-rambunya, dan pandangan ke masa depan yang terlalu diarahkan. Kesadaran dapat saja tumbuh, tetapi tak mampu berperan karena dilarang berperan. Artinya, orang dapat tahu perkara dan segala latar belakang dan alasannya. Namun, mereka dilarang berbuat sesuatu untuk mengubah dan memperbaikinya. Larangan ini kerap kali tidak hanya terbatas pada tindakan, tetapi juga menyangkut larangan berbicara, mengemukakan pendapat tentang hal yang diketahui, dan berbuat sesuatu untuknya. Karena tak berperan, kesadaran itu lama-lama juga tumpul, lumpuh, dan berangsur-angsur merosot menjadi setengah tak sadar sebelum akhirnya mandek menjadi ketidaksadaran. Untuk menghilangkan halangan terbentuknya kesadaran dan pelaksanaan perannya, diperlukan usaha penyadaran yang berat dan kerap kali tidak tanpa risiko karena usaha penyadaran menyangkut berbagai pihak dan berbagai golongan, dengan  kepentingan dan arah cita-cita yang beraneka ragam.

Tak seorang pun menyangkal perlunya orang berkembang, maju, dan meningkat menjadi lebih baik. Bahkan, di berbagai bagian dunia, perkembangan itu merupakan hal yang mendesak. Tak terbilang orang yang tidak atau belum menyadari kemungkinan dan kemampuan manusia untuk berkembang menjadi manusia yang penuh dan utuh. Bagi banyak orang yang sudah menyadari kemungkinan dan kemampuan manusia itu, tidak sedikit hambatan dan halangan yang mereka jumpai dalam usaha untuk mengembangkan diri. Hambatan dan halangan yang mereka jumpai dalam usaha untuk mengembangkan diri. Hambatan dan halangan itu ada yang datang dari lingkungan yang represif, orang-orang yang otoriter, dan lembaga-lembaga resmi dan tak resmi yang terlalu mau mengatur banyak seluk-beluk hidup orang dan perkara yang ditangani.

Meskipun demikian, tentang pendirian developmentalisme humanis dan usaha manusia untuk mengembangkan diri itu, perlu dikemukakan beberapa catatan. Pertama, pemahaman tentang perkembangan diri. Kedua, berhubungan dengan pemahaman itu, arah pengembangan. Ketiga, cara untuk mencapai perkembangan diri. Kita lihat satu per satu.

Pertama, pemahaman tentang perkembangan diri. Kata perkembangan, development, memiliki banyak segi dan jangkauan jauh. Perkembangan menyangkut segi-segi lahir-batin, pribadi-sosial, materiil-spiritual. Jangkauan perkembangan diri tidak terbatas di dunia saja, tetapi juga menjangkau ke alam keabadian. Hidup manusia di dunia tidak habis ketika hidup itu berhenti oleh kematiannya, tetapi terus berlanjut di dunia lain. Segi-segi perkembangan diri itu dapat saja hanya dipahami sebagian, entah hanya segi batin atau lahir saja, hanya segi pribadi atau sosial saja, dan hanya segi materiil atau sipiritual saja. Atau dimengerti secara lengkap, tetapi dalam usaha perkembangannya hanya ditekankan salah satu segi saja, entah lahir atau batin, pribadi atau sosial, dan materiil atau spiritual saja. Padahal pemahaman yang lengkap dan pelaksanaan pengembangan diri yang untuk menyangkut segala segi; fisik, mental, sosial, spiritual. Pemahaman dan pelaksanaan pengembangan diri yang tak lengkap dapat juga menyangkut jangkauannya. Karena itu, ada pengembangan diri yang terlalu terpusat pada pemenuhan kebutuhan pada masa kini atau pemenuhan di alam akhirat saja. Padahal, kedua pengembangan itu tak terpisahkan, dan menyatu secara integral, dengan yang satu mengembangkan yang lain, dan sebaliknya. Pengembangan diri yang ideal adalah menyeluruh meskipun dalam pelaksanaan dilakukan bagian per bagian menurut tahap demi tahap.

Kedua, arah pengembangan. Arah pengembangan ditentukan oleh pemahaman tentang segi-segi dan jangkauannya. Jika pengembangan hanya dimengerti dan diusahakan bidang lahirnya saja, pengembangan hanya akan menekankan yang tampak-tampak saja, misalnya penampilan, kesan, atau citra baik. Sebaliknya, bila hanya dimengerti dan diusahakan bidang batinnya saja, pembangunan hanya berkutat di sekitar hati, pikiran, dan budi saja. Arah pengembangan diri itu tidak tanpa bahaya. Bagi pengembangan diri yang terlalu terarah kepada pengembangan materill, misalnya, usahanya terpusat pada pengumpulan dan penumpukan harta dan benda. Adapun yang terlalu terarah kepada segi spiritual, usahanya terfokus pada hal-hal rohani yang secara salah mengabaikan segi materiil – yang perlu untuk hidup rohani yang sehat. Arah pengembangan diri yang benar adalah bila mencakup seluruh segi dan jangkauan manusia. Bila arah pengembangan diri itu tidak memperhitungkan jangkauannya yang mengatasi hidup di dunia ini, developmentalisme mudah berubah menjadi naturalisme: paham yang berpendirian bahwa manusia, sebagaimana alam menetapkan, sudah lengkap dan cukup diri, dan tidak memerlukan unsur yang adikodrati dan mengatasi dirinya (lih. Naturalisme).

Ketiga, cara untuk mengusahakan perkembangan diri. Pemahaman tentang perkembangan yang benar dan arah yang lengkap dalam mengusahakan perkembangan diri belum tentu membuat orang mengambil cara yang sesuai. Banyak orang menetapkan pengembangan diri seutuhnya. Namun, yang dibuat adalah membaca buku-buku tentang perkembangan diri, berbincang-bincang dengan para psikolog, dan sibuk memikirkannya saja. Buku, penasihat, pemikiran penting. Namun, harus digabung dengan praktek nyata. Jika ingin berkembang fisiknya, orang harus berolahraga secara teratur. Jika mau berkembang ilmu pengetahuan kesosialannya, bergaul saja dengan berbagai orang dari segala macam lapisan. Jika mau maju di bidang kerja, terjun ambil tanggung jawab. Hidup ini seperti berenang. Tidak cukup tahu teorinya, tetapi harus siap terjun dalam air.

Setelah berbagai usaha untuk berkembang diambil, tentu saja ada hasilnya. Perkembangan sejati tidak sekadar tambah kaya, tambah pandai atau populer. Perkembangan sejati tidak sekadar tambah kaya, tambah pandai atau populer. Perkembangan sejati bermuara pada kedewasaan pribadi, produktivitas  hidup, dan dampak nyata dalam bidang yang digumuli dan bagi orang-orang yang tersangkut disana. Karena belum selesai sebelum orang meninggal, perkembangan itu berlangsung seumur hidup dan tak kunjung selesai. Perkembangan bukan titik, melainkan proses. Untuk mencapai perkembangan pada tahap yang tinggi, diperlukan ketekunan dan usaha tanpa henti.

Manusia memang perlu berkembang dan dikembangkan. Namun, pengembnagan itu diusahakan bukan demi pengembangan sendiri, melainkan demi perkembangan kemanusiaan secara keseluruhan. Caranya tidak hanya dengan terjun ke kehidupan langsung. Hasil pengembangan itu tak pernah tercapai penuh, tetapi hanya dapat didekati sedikti demi sedikit. Perkembangan diri bukan merupakan titik dan dapat dicapai sepenuhnya, melainkan cita-cita yang terus-menerus perlu diusahakan dan diperjuangkan. (*)

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT