Connect with us

Buku

Dari Achebe hingga Adichie: Sepuluh Pengarang Terbaik Nigeria

mm

Published

on

Sastra juga milik mereka yang dari negeri jauh dan kerap dicap terbelakang untuk waktu yang bahkan tidak sebentar, tapi sastrawan mereka, karya sastra terbaik yang bisa mereka hasilkan memberi kita penadangan lain; rasa hormat dan empati yang lain, inilah mereka; sepuluh Pengarang Terbaik Nigeria.

Chinua Achebe dan Wole Soyinka merupakan dua nama paling mewakilkan karya-karya fiksi Nigeria. Namun, karya-karya literatur dari negeri itu terus ditopang generasi baru sastra mereka, jauh lebih banyak dari dua nama besar tersebut. Disinilah kita melihat sepuluh pengarang yang kesuksesan internasionalnya menegaskan kemampuan mereka dan kedalaman literatur kontemporer Nigeria.

Chinua Achebe (1920-2013)

Chinua Achebe

Chinua Achebe merupakan salah satu penulis Afrika yang paling diakui secara international, dan kematiannya pada tahun 2013 mengundang banyak sekali penghormatan dari seluruh dunia. Meskipun dia seringkali disebut sebagai ‘Bapak literatur Afrika’, dia telah dua kali menolak pemerintah Nigeria yang ingin menjadikannya sebagai Komandan Republik Federal-pertama pada tahun 2004, dan kemudian lagi pada tahun 2011-dalam rangka protes melawan rezim politik di negerinya. Novel pertamanya Things Fall Apart (1958) adalah sebuah penggambaran yang intim atas pertikaian antara orang asli Afrika dari suku Igbo di bagian tenggara Nigeria dan pemerintah kolonial Eropa. Menenun bersama tradisi turun-temurun dengan kisah-kisah rakyat suku Igbo. Achebe menghamparkan permadani norma-norma budaya, perubahan nilai-nilai sosial, dan perjuangan individu untuk mendapatkan tempat dalam lingkungan ini.

Wole Soyinka (lahir tahun 1934)

Wole Soyinka

Ketika Wole Soyinka, seorang penulis sandiwara, penyair, dan penulis memenangkan hadiah nobel dalam bidang literatur pada tahun 1986, Achebe bergabung dengan seluruh rakyat Afrika untuk merayakan orang Afrika pertama yang menerima perhargaan tersebut. Tulisan-tulisan Soyinka sering berfokus pada opresi dan eksploitasi atas yang lemah oleh orang-orang kuat. Tak ada yang luput dari kritiknya, tidak para spekulan berkulit putih tidak pula eksploitor berkulit hitam, Wole Soyinka juga memainkan peranan penting dalam politik Nigeria, yang pada waktu itu menempatkannya pada bahaya besar sebagai pribadi. Pemerintahan Jenderal Sani Abacha (1993-1998) misalnya, menjatuhkan hukuman mati ‘in absentia’ kepada dirinya. Karya-karyanya termasuk novel seperti Ake: The Year of Childhood and Death and The King’s Horseman, You Must Set Forth at Dawn: A Memoir berisi pandangan-pandangan Soyinka sendiri atas hidupnya, pengalaman-pengalaman, dan pemikiran-pemikiran tentang Afrika dan Nigeria.

Femi Osofisan (lahir tahun 1946)

Seperti kebanyakan penulis-penulis Nigeria, seluruh bangunan karya milik Femi Osofisan-mencakup sandiwara, sajak-sajak dan novel-yang diisi oleh kenyataan kolonialisme dan warisan-warisannya, dan merupakan sebuah protes yang nyata melawan korupsi dan ketidakadilan. Meskipun demikian, eksplorasinya atas tema-tema yang melingkupi sejarah kompleks negaranya jarang sekali dituliskan secara harifiah. Sebaliknya, Osofisan menggunakan alegori dan metafora, dan tulisannnya seringkali mempunyai kecenderungan surealis. Novel pertamanya, Kolera Kolej (1975) menceritakan sebuah kampus Universitas Nigeria yang diberikan kemerdekaan dari dunia diluarnya untuk menghindari penyebaran wabah kolera. Drama pertunjukkannya yang paling terkenal, Women of Owu (2004) adalah penceritaan ulang dari The Trojan Woman milik Euripides. Osofisan menerjemahkan drama itu ke dalam perang Ijebe dan Ife yang menghancurkan kerajaan Owu dari tahun 1821-26.

Ben Okri (lahir tahun 1959)

Ben Okri

Ben Okri merupakan novelis yang termahsyur dan penyair yang karya-karya tulisannya menentang definisi. Dia seringkali dilabeli post-modern, namun jalinan terbukanya atas dunia arwah dalam cerita-cerita miliknya mengingkari genre ini. Pengarang ini juga menolak klaim bahwa karyanya jatuh ke dalam kategori ‘realisme magis’, memandang tulisannya bukan sebagai pengelanaan ke dalam dunia fantasi tetapi sebaliknya sebuah latar belakang kehidupan dimana di dalamnya mitos-mitos, para leluhur dan arwah-arwah merupakan komponen yang intrinsik. “Realitas setiap orang berbeda-beda,” dia suatu kali mengatakan. Karyanya yang paling terkenal The Famished Road (1991), membentuk sebuah trilogi dengan Songs of Enchantment dan Infinite Riches. Karya-karya itu mencatatankan perjalanan-perjalanan Azaro, narator yang merupakan arwah seorang anak.

Buchi Emecheta (lahir tahun 1944)

Buchi Emecheta

Lahir di Lagos dengan orangtua bersuku Igbo, Emecheta pindah ke London pada tahun 1960 untuk tinggal berama suaminya Sylvester Onwordi, yang pindah kesana untuk belajar. Pasangan itu telah bertunangan sejak berumur 11 tahun, dan meski pernikahannya menghasilkan lima orang anak, Onwordi merupakan pasangan yang suka melakukan kekerasan. Dia bahkan membakar naskah pertama istrinya, hal itu mendesak Emecheta untuk meninggalkannya dan menetapkan dirinya sebagai orangtua tunggal. Novel-novelnya mengambil contoh secara tajam dari kehidupannya sendiri dan memberi perhatian pada persoalan ketidakseimbangan gender dan perbudakan, dan bagaimana perempuan seringkali didefinisikan melalui kacamata yang sangat sempit tentang seksualitas dan kemampuan melahirkan anak. Karyanya yang paling diakui, The Joy of Motherhood (1979), memiliki protagonis seorang perempuan yang mendefinisikan dirinya sendiri melalui kehidupan seorang ibu dan memvalidasi hidupnya semata-mata melalui kesuksesan anak-anaknya. Emecheta dihadiahi sebuah OBE pada tahun 2005.

Sefi Atta (lahir tahun 1964)

Sefi Atta

Sefi Atta merupakan seorang penulis yang peka, yang memulai pembicaraan tema-tema polemik dengan sikap yang lembut dan penuh nuansa. Everything Good Will Come (2005), novel pertamanya, adalah kisah tentang Enitan, seorang gadis berusia 11 tahun yang sedang menunggu sekolah dimulai, dan persahabatannya dengan gadis tetangga, yang menerima sedikit bantuan dari ibu Enitan yang sangat religius. Disituasikan berhadapan dengan latarbelakang kekuasaan militer di Nigeria pada tahun 1970an, novel ini langsung menjadi buah bibir dan kampanye sunyi melawan korupsi politis dan represi atas perempuan. Atta dikenal secara luas untuk sandiwara-sandiwara radionya yang telah disiarkan di BBC, dan cerita-cerita pendeknya yang telah muncul di sejumlah jurnal termasuk Los Angeles Review of Books.

Helon Habila (lahir tahun 1967)

Setelah lulus dari University of Jos pada tahun 1995, Helon Habila bekerja sebagai seorang dosen muda di Bauchi, kemudian sebagai editor cerita untuk majalah Hints, sebelum pindah ke Inggris pada tahun 2002 untuk menjadi African Fellow di University of East Anglia. Pada tahun yang sama, novel pertamanya diterbitkan: Waiting for an Angel merupakan sebuah buku kompleks yang menjalin tujuh narasi, secara bersamaan berbicara tentang kehidupan dibawah kekuasaan pemerintahan diktator di Nigeria. Buku itu memenangkan Commonwealth Writer’s Prize di wilayah Afrika, membawa pengarangnya pada kesuksekan yang lebih besar. Dua novel berikutnya, Measuring Time (2007) dan yang terakhir, Oil on Water (2011) sama-sama mendapatkan sambutan yang baik, dan daftar hadiah dan penghargaan yang Habila telah dapatkan membuktikan ekspresi literaturnya yang canggih dan puitis.

Teju Cole (lahir tahun 1975)

Teju Cole

Lahir di Amerika Serikat dari orangtua berkebangsaan Nigeria, dibesarkan di Nigeria dan sekarang tinggal di Brooklyn, latar belakang kehidupan Cole begitu beragam begitu pula karirnya. Fotografer, sejarawan seni, dan penulis novel, dia juga merupakan penulis unggulan yang tinggal sementara di Bart College, New York. Open City (2011), novel pertamanya, dikisahkan di New York lima tahun setelah peristiwa 9/11, dan menelusuri kehidupan Julius, seorang lulusan psikiatri, saat dia berkeliling tanpa tujuan dipenjuru kota itu, kemudian ke Brussels, hidup tak menentu dan masih dalam masa pemulihan dari hubugan asmara yang lalu. Sementara lokasi-lokasi geografis memainkan peranan penting dalam novel itu, narasi tersebut dibaca sebagai sebuah peta atas dunia pribadi Julius, dengan pandangan yang berbeda-beda dan asosiasi-asosiasi yang berkelok-kelok menjalin kedalam cermin strukturnya yang seringkali merupakan proses-proses berpikir yang tak terjelaskan.

Adaobi Tricia Nwaubani (lahir tahun 1976)

Adaobi Tricia Nwaubani

Adaobi Tricia Nwaubani adalah seorang penulis novel, jurnalis, dan penulis esai yang sejak masih kecil telah mendemostrasikan ketertarikan pada dunia kepenulisan, memenangkan hadiah menulis pertamanya pada usia 13 tahun. Sebagai seorang jurnalis, dia telah memberikan kontribusi untuk New York Times, BBC, The Guardian, dan CNN, diantara banyak yang lainnya. Novel pertamanya I Do Not Come to You by Chance (2010) diceritakan dalam nada yang jenaka dan sedikit tak sopan yang menafikkan isu-isu fundamental yang dialamatkannya. Protagonis dalam buku itu Kingsley tidak dapat menemukan pekerjaan, dan beralih ke dunia gelap penipuan melalui email dengan cara mepermainkan kepercayaan seseorang. 419 scams (merujuk pada nomor aturan hukum pidana Nigeria.pener) ini sangat sering dikutip oleh orang-orang yang benci pada produk asing dan orang-orang rasis sebagai produk ekspor utama Nigeria, akan tetapi Adaobi menarik perhatian pada isu-isu yang penuh perdebatan ini dengan humor dan keringanan, menciptakan sebuah kisah keluarga, aspirasi dan pelajaran-pelajaran berharga yang datang seiring waktu.

Chimamanda Ngozi Adichie (lahir tahun 1977)

Chimamanda Ngozi Adichie

Adichie merupakan bagian dari sebuah generasi baru pengarang Nigeria yang dengan cepat menanjak reputasinya. Tiap-tiap dari tiga novelnya telah mendapatkan pengakuan universal dan penghargaan-penghargaan yang sangat banyak. Dua buku pertamanya secara garis besar mengandung atmosfir politik dari negara asalnya melalui kacamata pribadi dan hubungan-bungan kekeluargaan. Purple Hibiscus (2003), memenangkan Commonwealth Writer’s Prize untuk buku pertama terbaik, menceritakan kisah seorang anak Kambili berusia 15 tahun, yang ayahnya secara misterius terlibat dalam serangan mendadak militer yang mengguncang negaranya. Penerbitan Half of A Yellow Sun (2006) mengonfirmasi bahwa pengarangnya memiliki sebuah talenta yang unik. Dikisahkan ditengah-tengah perang Nigeria-Biafra, buku itu mencatatkan kengerian-kengerian yang terjadi setiap harinya melalui kehidupan-kehidupan berbeda dari keempat protagonisnya. Novel terbarunya, Americanah (2013) pada intinya merupakan sebuah kisah cinta yang begitu kuat antara Ifemulu dan Obinze, kekasih masa kecil yang dipisahkan ketika salah satunya pergi untuk belajar di Amerika. Meskipun begitu, buku itu masih mengangkat tema-tema seperti rasisme, imigrasi, dan globalisasi.

—————————————-

Diterjemahkan Marlina Sophiana dan Sabiq Carebesth (ed) dari From Achebe to Adichie by Rebecca Jagoe, www.theculturetrip.com.

 

Budaya

Mengembalikan Kedigdayaan Maluku

mm

Published

on

Tak ada yang memungkiri, Tiongkok merupakan penguasa ekonomi awal abad XXI. Bahkan, tingkat pertumbuhan Tiongkok merupakan yang tertinggi kedua di dunia. Tiongkok dapat mengancam kedigdayaan ekonomi Amerika Serikat (AS). Padahal, hingga akhir abad XX AS merupakan penguasa ekonomi dunia, jauh meninggalkan Tiongkok.

Tak pelak, pencapaian yang diraih Tiongkok menimbulkan persaingan dengan AS. Bahkan, untuk menahan laju perekonomian Tiongkok, AS membangun jalur perdagangan transpasifik Trans Pacific Partnership (TPP) pada masa pemerintahan Presiden Barack Obama 2009 lalu. Sedangkan, Tiongkok, membangkitkan kembali jalur sutera yang pernah dirintis oleh pedagang-pedagangnya pada awal masehi, untuk kembali menguasai perekonomian dunia.

Lalu di manakah posisi Indonesia? Sebagai negara yang memiliki posisi geografis yang sangat strategis, Indonesia dapat masuk dalam kedua kutub persaingan dua jalur perekonomian dunia. Tapi apakah Indonesia harus memilih salah satu diantaranya atau Indonesia dapat membuat poros baru perdagangan dunia?

Melalui buku ini, Komarudin Watubun mencoba menawarkan sebuah gagasan agar Indonesia untuk dapat membuat poros perekonomian dunia yang baru? Di mana, bagaimana, dan mengapa, Indonesia mesti membangun poros perekonomian itu?

Komarudin menawarkan gagasan bahwa Maluku dapat dijadikan sebagai poros perekonomian Indonesia abad XXI. Pertanyaan yang kemudian muncul, kenapa harus Maluku? Kenapa poros perdagangan dunia tidak dimulai di bagian Barat Indonesia yang sudah memiliki sarana dan prasarana yang lengkap dibandingkan wilayah Timur Indonesia seperti Maluku?

Secara umum, buku ini terdiri atas tiga bagian yakni kondisi Maluku dan Indonesia saat ini, sejarah Maluku, dan strategi untuk mewujudkan Maluku sebagai pusat perekonomian Indonesia dan dunia. Penulis mengungkapkan empat tesis untuk memperkuat alasan pemilihan Maluku menjadi titik perdagangan Indonesia dan dunia.

Pertama, tentu nilai historis dan ekonomis Maluku bagi Nusantara sejak abad XII hingga abad XX. Layaknya Tiongkok yang membangkitkan kembali jalur sutera, sejarah semestinya tidak menjadi benda mati dan hanya menjadi pelajaran menghafal di sekolah. Sebab, dalam perjalanan sejarah nusantara, Indonesia terutama Maluku pernah memiliki jalur perekonomian sendiri. Jalur tersebut dinamakan jalur rempah, Maluku menjadi titik pusatnya.

Dalam catatam sejarah, Maluku merupakan penghasil rempah-rempah terbaik dunia yang merupakan komoditas perdagangan termahal mengalahkan harga emas di dunia pada abad XVI. Bahkan, selama abad XVI—XVIII Maluku memasok kebutuhan rempah-rempah dunia yang melahirkan globalisasi, jaringan maritim dunia, inovasi, dan revolusi sistem keuangan dan korporasi global pertama kali di dunia (hlm.247).

Bahkan, karena kekayaannya, Spanyol dan Portugal sebagai kekuatan imperialis kuno memperebutkan Maluku. Perselisihan tersebut bahkan  menghasilkan Perjanjian Zaragoza yang membagi belahan bumi barat di antara Spanyol dan Portugal dan diprakarsai oleh Paus pada 7 Juni 1494.

Judul Buku : Maluku, Staging Point RI Abad ke-21 Penulis : Komarudin Watubun Penerbit : Yayasan Taman Pustaka Tahun Terbit : Cetakan I, November 2017 Tebal : vi + 431 halaman Harga : Rp.120.000

Namun, tak hanya dua negara tersebut yang memperebutkan Maluku, Belanda pun pada Dua abad setelahnya, ikut dalam persaingan memperebutkan Maluku. Sebab, siapa yang dapat menguasai rempah-rempah Maluku, maka akan dapat menguasai perdagangan Eropa (hlm.274) Hal itu merupakan nilai historis dan strategis Maluku.

Kedua, Geostrategis Maluku dan Indonesia. Posisi Maluku dan sekitarnya memiliki jalur-jalur terbuka yang sangat banyak, khususnya bila zona Maluku dan sekitarnya dijadikan basis produksi, penyedia, dan transit arus komoditi jasa, mineral strategis, manuisa, barang, jasa, uang dan informasi. Sebab, wilayah Maluku sangat terbuka ke Filipina, Brunei, Australia, Papua Nugini, Korea Selatan, Jepang, Tiongkok hingga Australia.

Maluku dapat menjadi opsi lain sebagai titik pusat jalur perdagangan Indonesia. Sebab, bila mengikuti rute yang dibangun oleh Belanda yang berpusat pada Jakarta dan melalui commercial hub atau transit di Singapura yang dibangun oleh Inggris, maka komoditas dari Indonesia sangat terbatas. Tak hanya itu, jalur itu hanya menguntungkan Singapura (hlm.129).

Ketiga, faktor mineral strategis Maluku. Maluku memiliki kekayaan alam selain rempah-rempah yaitu ladang gas Blok Masela. Blok Masela merupakan ladang gas abadi yang dimiliki oleh Indonesia dengan cadangan gasnya yang bisa bertahan selama 70 tahun ke depan. Cadangan gasnya mencapai 10,73 triliun cubic feet (tcf).

Selain itu, produk dari gas dapat diolah kembali menjadi 200 produk turunan (hlm.74). Bahkan, Rizal Ramli saat masih menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman menyatakan, apabila dikelola dengan baik, maka ladang Blok Masela dapat mengalahkan penghasilan gas dan minyak Qatar.

Keempat, seleksi alam dan segitiga arus alam Maluku selama ini pada tiga tingkat global.  Secara historis ratusan tahun sejak pramasehi, kebutuhan masyarakat dunia dapat dipasok dari kawasan arus alam Papua, Maluku, dan Nusa tenggara Timur (NTT). Zona tersebut merupakan satu garis alam (hlm.395).

Pola hubungan alam zona-zona tersebut saling terkait, saling mendukung, dan saling melindungi. Oleh sebab itu, penerapan strategi sosial, ekonomi, dan lingkungan pada zona tersebut akan perubahan signifikan dan bersamaan pada seluruh sektor yaitu pertanian, kehutanan, perikanan, kelautan, peternakan, dan perhubungan baik secara nasional maupun internasional.

Posisi Indonesia—terutama Maluku—yang sangat strategis semestinya dapat dijadikan untuk membangun poros perekonomian baru, bukan harus memilih antara jalur transpasifik AS dan jalur sutera Tiongkok. Tentu saja, pembangunan Maluku menjadi poros ekonomi baru Indonesia harus dapat menyejahterahkan rakyat Maluku dan Indonesia.

Sebab, hingga saat ini, dibalik kekayaan alam yang melimpah, Provinsi Maluku menjadi salah satu provinsi miskin di Indonesia. Bahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat angka pengangguran Indonesia pada Agustus 2017 mencapai 7,04 juta orang atau naik 10 ribu orang dari bulan sebelumnya yang tercatat 7,03 juta. Dengan demikian, Provinsi Maluku menjadi daerah dengan Tingkat Pengangguran Tertinggi (TPT) dengan persentasi 9,29 persen.

Oleh sebab itu, buku ini sangat layak untuk dibaca oleh semua kalangan, terutama pemerintah dan rakyat Indonesia khususnya Maluku. Bagi pemerintah, buku ini dapat dijadikan sebagai pedoman untuk membangun perekonomian yang berpihak pada rakyat. Sedangkan, bagi rakyat Maluku, buku ini mengingatkan agar kita tak lengah atau terlena dengan kekayaan alam yang dimiliki. Kita tentu tak ingin mengulangi kesalahan pengelolaan kekayaan alam yang kita miliki di Papua yang tak memberi dampak bagi rakyat Indonesia. Selain itu, buku ini banyak memiliki data-data yang sangat lengkap, baik data sejarah maupun data ekonomi dan geostrategis politik dunia.

Kita tentu tak ingin terus membenarkan sebuah adagium bahwa kekayaan alam suatu negara adalah kutukan. Kekayaan alam hanya menghasilkan konflik dan kemiskinan bagi sebuah negara. Kita tentu ingin membuktikan bahwa kekayaan alam yang dimiliki oleh Indonesia dapat menyejahterakan rakyatnya. Sehingga, sila kelima dalam pancasila bukan lagi sebuah cita-cita, melainkan sebuah realitas dan keniscayaan bagi rakyat Indonesia.

*) Virdika Rizky Utama, Penulis dan Wartawan Majalah GATRA

Continue Reading

Milenia

Marlina dan Perlawanan Perempuan

mm

Published

on

Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak, film yang masih tayang di bioskop ini menghadirkan perempuan dan penindasan. Tokoh perempuan yang diceritakan dalam film ini merupakan sebuah upaya pembuat film dalam menyebarkan pesan keberanian. Film ini memuat semangat juang para perempuan yang akhirnya keluar dari penindasan yang mereka alami selama ini. Perempuan yang acap kali dicap sebagai sosok yang lemah berhasil dipatahkan lewat adegan demi adegan di film ini.

Marsha Timothy sukses memainkan karakter Marlina. Ini dibuktikan dengan penghargaan tingkat dunia yang berhasil ia gondol. Marlina digambarkan sebagai perempuan yang tidak cuma diam membisu saat dirinya diopresi oleh sekelompok laki-laki. Ia dengan gagah melawan perlakuan semena-mena dari para lelaki. Tidak mudah bagi Marlina untuk lepas dari cengkeram kuasa jahat para lelaki.

Marlina, seorang janda yang ditinggal mati suami dan anaknya harus rela rumahnya didatangi sekawanan pria. Gerombolan laki-laki itu menyatroni rumahnya dengan maksud mengambil hewan ternak kepunyaan Marlina sebagai pengganti hutang yang belum terbayar. Pada awalnya, Marlina menuruti permintaan demi permintaan para perampok dari mulai menyuruh dibuatkan minum, makan, hingga pasrah ketika sapi, babi, dan binatang lain miliknya digiring naik ke atas truk. Namun ia sangat cerdik rupanya. Ia telah membubuhi racun ke dalam makanan yang akan disajikan kepada para laki-laki tak tahu diri itu. Satu persatu para laki-laki itu tumbang dan tak berdaya dengan racun yang merasuki tubuh.

Tersisa tiga dari tujuh laki-laki yang belum meregang nyawa. Salah satunya Markus, pria berumur separuh abad ini merupakan yang tertua di antara rekan-rekan perampok. Markus tak sampai teracuni sup ayam buatan Marlina karena mangkuk supnya jatuh dan pecah. Peran pria uzur ini diperagakan oleh Egi Fedly. Nafsu birahi Markus tersalurkan dengan memperkosa Marlina. Sayangnya nasib malang tak dapat ditolak. Kepuasan Markus harus ditukar dengan hilang nyawanya. Marlina terus memberontak saat disetubuhi, hingga parang pun melayang menebas kepala Markus.

Perwujudan Perempuan yang Tampil Bertindak

Alur kisah dalam film ini pun berlanjut. Marlina yang mencari keadilan segera menuju ke kantor polisi. Kepala Markus yang sudah terpenggal ia tenteng ke mana-mana. Marlina tak gentar menuntut hukuman setimpal bagi para bandit yang masih hidup atas apa yang menimpa dirinya. Potongan tubuh Markus yang kadang kala membuntutinya pun tidak menyurutkan niat Marlina.

Marsha Timothy, Pemeran Utama Film “Marlina the Murderer in Four Acts”

Marlina sukses melampaui anggapan dari aliran feminism eksistensialis. Feminisme eksistensialis memandang perempuan sebagai jenis kelamin kedua atau the second sex yang mendefinisikan dirinya liyan. Sedangkan laki-laki melabeli dirinya sebagai Sang Diri. Ia ada untuk dirinya. Liyan bertugas melayani Sang Diri. Wanita disimbolkan sebagai objek yang dikuasi Diri atau subjeknya. Ada relasi kuasi superioritas dan inferioritas.

Marlina unggul pada tamatnya cerita, meski di permulaan sempat beradu dan tunduk sementara pada laki-laki. Penggiat feminism eksistensialis, Simone de Beauvoir menegaskan, dalam dunia patriarki, perempuan tidak bisa lepas dari jerat dunia laki-laki, perangkap ini merupakan tanda penguasaan laki-laki terhadap perempuan. Para bandit-bandit sepertinya menerapkan pemikiran itu.

Bentang alam Sumba menjadi latar perjalanan Marlina ke polsek terdekat dari rumahnya. Film ini juga menggambarkan betapa ketersediaan sarana transportasi masih jarang di Sumba. Untuk mendapat tumpangan bus truk, warga harus menanti selama satu jam. Begitu pula Marlina. Bahkan ia harus menyambung perjalanannya dengan menunggangi kuda.

Fakta tersebut sangat kontras dengan mudahnya akses komunikasi, yang ditunjukkan dengan adanya interaksi antar tokoh yang sedang berkomunikasi lewat telepon seluler. Film ini pun tak sepenuhnya menikam penonton dengan terus-menerus meneror lewat bayangan seram dan berdarah-darah. Kejadian-kejadian menggelitik mengundang tawa dimunculkan lewat dialog khas Sumba.

Lagi-lagi, pemahaman mengenai perempuan  punya kekuatan untuk menantang sekaligus menentang ketakberpihakan yang menimpa ingin ditularkan kepada penonton dari film ini. Tokoh Mama dan Novi turut mengokohkan film ini sebagai propaganda agar perempuan jangan mau diinjak nasibnya oleh laki-laki.

Mama di sini diperankan sebagai wanita yang tak menampakkan rasa takut sama sekali meski melihat Marlina membawa kepala Markus tanpa dibungkus kain. Berbeda dengan penumpang lelaki yang justru ketakutan dan berusaha menghindar dari Marlina. Mama juga memiliki andil besar dalam perkawinan keponakannya. Ia ditugasi untuk segera mengirim tambahan kuda sebagai semacam mahar bagi ponakan laki-lakinya yang akan menikahi seorang perempuan. Adegan ini merefleksikan bagaimana laki-laki seolah-olah bisa menebus perempuan dengan harta sebagai penggantinya.

Novi, teman Marlina ikut menambah gambaran betapa kuatnya perempuan Sumba. Novi yang tengah mengandung 10 bulan ikut membantu Marlina dalam mengatasi kisruh dengan para bandit laki-laki. Novi bahkan tanpa ragu-ragu memenggal kepala Frans yang memerkosa Marlina pada babak akhir. Kondisinya yang sedang hamil besar tidak menghalangi langkahnya dalam menghadapi ulah para lelaki yang semena-mena, termasuk Umbu, suaminya. Setiap detil percakapan atau laku dalam film ini benar-benar mencerminkan usaha untuk memberi panduan kepada masyarakat tentang bagaimana memandang perempuan dan laki-laki secara setara. Status janda, kemiskinan, kehamilan, harta, pernikahan, pemerkosaan, dan aparat hukum merupakan sedikit dari banyak hal yang coba ditonjolkan lewat film ini.

Kehamilan perempuan begitu diatur sedemikian rupa oleh konstruksi pikiran masyarakat. Novi menanggung akibat dari masyarakat yang terlalu menyetir urusan reproduksi perempuan itu. Suami Novi menyimpan rasa ketidakpercayaan kepada Novi yang konon hamil sungsang, tak kunjung melahirkan. Umbu termakan hasutan masyarakat dan orang lain, daripada memilih yakin dengan istrinya.

Novi menyepakati kepercayaan yang dipegang para penganut paham feminism radikal. Feminisme radikal libertarian berprinsip bahwa orang lain tidak perlu mencampuri urusan reproduksi perempuan. Seksualitas adalah ranah pribadi yang tak usah diganggu oleh omongan masyarakat. Dominasi atas lingkup privat berarti pelanggaran yang lebih luas dan berbahaya hingga ke wilayah publik. Novi tak mengambil pusing dengan desas-desus orang-orang mengenai kehamilannya yang tak kunjung lahir. Baginya, tubuh perempuan adalah milik perempuan itu sendiri. Perempuan bebas menentukan apapun yang berhubungan dengan raganya termasuk urusan reproduksi dan kesehatan.

Marlina terpaksa mendapat kesialan yakni diperkosa karena status jandanya. Markus bahkan berujar, Marlina akan menjadi perempuan paling beruntung karena akan tidur bergilir dengan para lelaki. Kehebatan Marlina pun terpapar, ia tidak diam dan sanggup menampik perkataan Markus. Menyandang status janda sangat riskan saat hidup di masyarakat. Apalagi diperparah dengan perkosaan yang dilakukan Markus dan Frans. Penderitaan Marlina sungguh bertumpuk.

Aparat hukum pun lemah dan tak kunjung menyelesaikan aduan pemerkosaan yang dilaporkan Marlina. Polisi justru sibuk bermain ping-pong. Aparat kepolisian malah mengutarakan berbagai alasan seperti tidak ada kendaraan operasional, dan ketiadaan fasilitas kesehatan saat Marlina membutuhkan penuntasan dan pengusutan kasusnya segera.

Apa yang disuguhkan dalam film ini menunjukkan sebuah kegagalan dari sistem patriarki dan dampak buruk dari dominasi laki-laki. Perempuan yang terkena masalah kekerasan seperti pelecehan seksual, pemerkosaan, dan kekerasan dalam rumah tangga tampak dibiarkan saja. Perempuan dinilai pantas memeroleh itu semua dan tak berhak protes karena seperti itu garis hidupnya. Gejala yang mengkhawatirkan bagi kehidupan masyarakat apabila praktik penindasan diabaikan tanpa penyelesaian.

Film ini juga mengulas secara satir bagaimana sarana sanitasi masih minim di daerah pedalaman. Novi dan Marlina terlihat dalam secuil adegan tengah kencing di padang sabana. Mereka seakan lumrah dengan kebiasaan tersebut karena memang terbatas fasilitas.

Akting para artis dalam film ini sangat memukau dan berkesan. Diputarnya film ini, diharapkan bisa mengembalikan kejayaan dunia sineas Indonesia. Dan semoga opresi terhadap perempuan bisa terhenti. Baik perempuan dan laki-laki sama-sama menyadari kedudukan mereka setara, tidak ada yang tinggi atau rendah. (*)

 

*) Shela Kusumaningtyas: Lahir di Kendal, 24 November 1994. Seorang penulis. Tulisannya seperti puisi, opini, dan feature pernah dimuat di berbagai media massa. Di antaranya di Kompas, Suara Merdeka, Wawasan, Tribun Jateng, Bangka Pos, Bali Pos, Radar Lampung, Malang Voice, dan Koran Sindo.

Continue Reading

Buku

Melawan Klise, Menghampiri Kesegaran

mm

Published

on

Simon Dentith dalam bukunya tentang Bakhtinian Thought: Antroductory Reader (1995) mengatakan sebuah kamus adalah sebentuk makam bagi bahasa. Temuan Dentith ini sungguh mengejutkan, mengingat definisi kamus pada umumnya merupakan penanda (kata/frase/idiom) secara sangat general, terlepas dari konteks sosial saat penanda itu diungkapkan atau dipakai.

Dengan pemahaman tersebut berarti sebuah kamus malah seringkali menjadi sarana untuk meringkus dan membatasi makna suatu penanda, dan bukan justru dijadikan wadah atau penampung ketakterbatasan kemungkinan makna sebuah penanda dalam konteks-konteks sosial tertentu. Akibatnya, justru kamuslah yang menjadikan suatu (makna) bahasa menjadi terhimpit dan terbelenggu oleh serangkaian daftar istilah yang termaktub dalam sebuah kamus.

Namun, maklumat Dentith di atas nampaknya kurang tepat—untuk tidak mengatakan tidak berlaku—bagi Tesaurus Bahasa Indonesia yang disusun oleh Eko Endarmoko ini. Kamus bukannya menjadi makam bagi bahasa sebagaimana dikhawatirkan Dentith, tetapi justru kamus-kamus sinonim semacam ini memungkinkan bisa menjadi sarana yang amat penting bagi siapapun, khususnya mereka yang setiap hari bergulat dengan bahasa atau dunia tulis-menulis sebagai wahana untuk memperkaya dan menghidupkan (makna) bahasa.

Dalam dunia tulis-menulis sesungguhnya bukan sekedar menyusun kata, kalimat, paragraf lantas menjadi tulisan yang utuh. “Dalam menulis”, begitu kata Goenawan Mohamad dalam sampul belakang, “saya selalu ingin menghindari satu kata yang sama berulang dalam satu kalimat—bahkan kalau mungkin dalam satu paragraf. Bagi saya”,  begitu lanjut Mas Goen biasa disapa, “tiap karya tulis yang bersungguh-sungguh ibarat sebuah ukiran. Prosesnya memerlukan kreativitas dan ketekunan, inovasi terus-menerus, dan kemauan meneliti pelbagai anasir untuk memasukkan yang ‘baru’ itu”. Itulah dunia tulis-menulis. Ia membutuhkan kecergasan dan ketangkasan mengunyah kata-kata.

JUDUL : Tesaurus Bahasa Indonesia PENULIS : Eko Endarmoko PENERBIT : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta TAHUN TERBIT : Pertama, 2006 TEBAL : xxii + 715 halaman

Dalam bahasa Inggris, misalnya avontur dalam merangkai kata-kata semacam itu mungkin tidaklah terlalu sulit. Seorang penulis siap dibantu oleh “kamus” seperti Merriam-Webster’s Collegiate Thesaurus (1993), Collins English Thesaurus in A-Z Form (1993) atau The Concise Roget’s International Thesaurus (2003). Di sana kekayaan sinonim bahasa didaftar dengan begitu rapi dan tangkas.

Dalam bahasa Indonesia, paling tidak sudah ada dua kamus sinonim yang menjadi umum dikenal publik. Pertama, Kamus Sinonim Bahasa Indonesia (1988) karya Harimurti Kridalaksana. Kedua, Kamus Sinonim Antonim Bahasa Indonesia (2000) disusun oleh Nur Arifin Chaniago dkk. Namun, keduanya kurang begitu lengkap dalam menyusun lema atau entri, dan nampak cara penyajiannya pun belum sungguh-sungguh digarap secara sistematis.

Menjadi penting untuk disadari, seperti dalam bahasa lain juga, bahwa tidak ada kesamaan makna yang mutlak dalam bahasa Indonesia. Itu disebabkan oleh adanya perbedaan-perbedaan dialek regional (contoh: menurut dan manut), dialek sosial (contoh: kebatinan, mistik dan tasawuf), dialek temporal (contoh: abdi dan pelayan), nuansa makna (contoh: dongkol, geram, dan marah), serta perbedaan ragam bahasa (contoh: mampus dan meninggal). Semua perbedaan itu menegaskan bahwa makna kata senantiasa ditentukan atau terkait oleh konteksnya dalam kalimat (hlm. viii). Inilah satu kelebihan Tesaurus garapan Eko Endarmoko ini. Pembaca bisa leluasa memilih makna kata-kata yang sesuai bersama konteksnya.

Di samping itu, Tesaurus ini juga sungguh membantu bagi orang-orang yang setiap saat berjibaku dengan bahasa atau tulisan. Hal ini dimungkinkan untuk menghindari klise dalam penggunaan suatu kata, frase, dan idiom tertentu dalam satu kalimat atau sebuah ungkapan. Penggunaan sebuah kata, frase, atau idiom akan menjadi tumpul, kurang segar, dan nampak kehilangan makna, jika sudah amat sangat sering digunakan, sehingga tanpa disadari sebenarnya mereka sudah terjerembab dalam klise.

Bagi orang yang berhasrat membahasakan pikiran atau perasaannya dengan tepat, cermat atau elok dan santun, Tesaurus ini merupakan tambang emas kata yang sangat diperlukan. Buku inilah yang saya kira dinanti-nantikan oleh para penulis, penyair, pengajar, dan pelajar untuk memperagakan serta memperkaya bahasa Indonesia yang narum dan bernas. Sungguh kita dapat menimba dari karya Eko Endarmoko ini sebagai sebuah hasil dari ikhtiar yang patut dicatat sejarah.***

 

*)Ahmad Jauhari, Founder Jivaloka Cakra Pustaka; Mengajar di Universitas PGRI Yogyakarta

 

Continue Reading

Classic Prose

Trending