Connect with us

Buku

Dari Achebe hingga Adichie: Sepuluh Pengarang Terbaik Nigeria

mm

Published

on

Sastra juga milik mereka yang dari negeri jauh dan kerap dicap terbelakang untuk waktu yang bahkan tidak sebentar, tapi sastrawan mereka, karya sastra terbaik yang bisa mereka hasilkan memberi kita penadangan lain; rasa hormat dan empati yang lain, inilah mereka; sepuluh Pengarang Terbaik Nigeria.

Chinua Achebe dan Wole Soyinka merupakan dua nama paling mewakilkan karya-karya fiksi Nigeria. Namun, karya-karya literatur dari negeri itu terus ditopang generasi baru sastra mereka, jauh lebih banyak dari dua nama besar tersebut. Disinilah kita melihat sepuluh pengarang yang kesuksesan internasionalnya menegaskan kemampuan mereka dan kedalaman literatur kontemporer Nigeria.

Chinua Achebe (1920-2013)

Chinua Achebe

Chinua Achebe merupakan salah satu penulis Afrika yang paling diakui secara international, dan kematiannya pada tahun 2013 mengundang banyak sekali penghormatan dari seluruh dunia. Meskipun dia seringkali disebut sebagai ‘Bapak literatur Afrika’, dia telah dua kali menolak pemerintah Nigeria yang ingin menjadikannya sebagai Komandan Republik Federal-pertama pada tahun 2004, dan kemudian lagi pada tahun 2011-dalam rangka protes melawan rezim politik di negerinya. Novel pertamanya Things Fall Apart (1958) adalah sebuah penggambaran yang intim atas pertikaian antara orang asli Afrika dari suku Igbo di bagian tenggara Nigeria dan pemerintah kolonial Eropa. Menenun bersama tradisi turun-temurun dengan kisah-kisah rakyat suku Igbo. Achebe menghamparkan permadani norma-norma budaya, perubahan nilai-nilai sosial, dan perjuangan individu untuk mendapatkan tempat dalam lingkungan ini.

Wole Soyinka (lahir tahun 1934)

Wole Soyinka

Ketika Wole Soyinka, seorang penulis sandiwara, penyair, dan penulis memenangkan hadiah nobel dalam bidang literatur pada tahun 1986, Achebe bergabung dengan seluruh rakyat Afrika untuk merayakan orang Afrika pertama yang menerima perhargaan tersebut. Tulisan-tulisan Soyinka sering berfokus pada opresi dan eksploitasi atas yang lemah oleh orang-orang kuat. Tak ada yang luput dari kritiknya, tidak para spekulan berkulit putih tidak pula eksploitor berkulit hitam, Wole Soyinka juga memainkan peranan penting dalam politik Nigeria, yang pada waktu itu menempatkannya pada bahaya besar sebagai pribadi. Pemerintahan Jenderal Sani Abacha (1993-1998) misalnya, menjatuhkan hukuman mati ‘in absentia’ kepada dirinya. Karya-karyanya termasuk novel seperti Ake: The Year of Childhood and Death and The King’s Horseman, You Must Set Forth at Dawn: A Memoir berisi pandangan-pandangan Soyinka sendiri atas hidupnya, pengalaman-pengalaman, dan pemikiran-pemikiran tentang Afrika dan Nigeria.

Femi Osofisan (lahir tahun 1946)

Seperti kebanyakan penulis-penulis Nigeria, seluruh bangunan karya milik Femi Osofisan-mencakup sandiwara, sajak-sajak dan novel-yang diisi oleh kenyataan kolonialisme dan warisan-warisannya, dan merupakan sebuah protes yang nyata melawan korupsi dan ketidakadilan. Meskipun demikian, eksplorasinya atas tema-tema yang melingkupi sejarah kompleks negaranya jarang sekali dituliskan secara harifiah. Sebaliknya, Osofisan menggunakan alegori dan metafora, dan tulisannnya seringkali mempunyai kecenderungan surealis. Novel pertamanya, Kolera Kolej (1975) menceritakan sebuah kampus Universitas Nigeria yang diberikan kemerdekaan dari dunia diluarnya untuk menghindari penyebaran wabah kolera. Drama pertunjukkannya yang paling terkenal, Women of Owu (2004) adalah penceritaan ulang dari The Trojan Woman milik Euripides. Osofisan menerjemahkan drama itu ke dalam perang Ijebe dan Ife yang menghancurkan kerajaan Owu dari tahun 1821-26.

Ben Okri (lahir tahun 1959)

Ben Okri

Ben Okri merupakan novelis yang termahsyur dan penyair yang karya-karya tulisannya menentang definisi. Dia seringkali dilabeli post-modern, namun jalinan terbukanya atas dunia arwah dalam cerita-cerita miliknya mengingkari genre ini. Pengarang ini juga menolak klaim bahwa karyanya jatuh ke dalam kategori ‘realisme magis’, memandang tulisannya bukan sebagai pengelanaan ke dalam dunia fantasi tetapi sebaliknya sebuah latar belakang kehidupan dimana di dalamnya mitos-mitos, para leluhur dan arwah-arwah merupakan komponen yang intrinsik. “Realitas setiap orang berbeda-beda,” dia suatu kali mengatakan. Karyanya yang paling terkenal The Famished Road (1991), membentuk sebuah trilogi dengan Songs of Enchantment dan Infinite Riches. Karya-karya itu mencatatankan perjalanan-perjalanan Azaro, narator yang merupakan arwah seorang anak.

Buchi Emecheta (lahir tahun 1944)

Buchi Emecheta

Lahir di Lagos dengan orangtua bersuku Igbo, Emecheta pindah ke London pada tahun 1960 untuk tinggal berama suaminya Sylvester Onwordi, yang pindah kesana untuk belajar. Pasangan itu telah bertunangan sejak berumur 11 tahun, dan meski pernikahannya menghasilkan lima orang anak, Onwordi merupakan pasangan yang suka melakukan kekerasan. Dia bahkan membakar naskah pertama istrinya, hal itu mendesak Emecheta untuk meninggalkannya dan menetapkan dirinya sebagai orangtua tunggal. Novel-novelnya mengambil contoh secara tajam dari kehidupannya sendiri dan memberi perhatian pada persoalan ketidakseimbangan gender dan perbudakan, dan bagaimana perempuan seringkali didefinisikan melalui kacamata yang sangat sempit tentang seksualitas dan kemampuan melahirkan anak. Karyanya yang paling diakui, The Joy of Motherhood (1979), memiliki protagonis seorang perempuan yang mendefinisikan dirinya sendiri melalui kehidupan seorang ibu dan memvalidasi hidupnya semata-mata melalui kesuksesan anak-anaknya. Emecheta dihadiahi sebuah OBE pada tahun 2005.

Sefi Atta (lahir tahun 1964)

Sefi Atta

Sefi Atta merupakan seorang penulis yang peka, yang memulai pembicaraan tema-tema polemik dengan sikap yang lembut dan penuh nuansa. Everything Good Will Come (2005), novel pertamanya, adalah kisah tentang Enitan, seorang gadis berusia 11 tahun yang sedang menunggu sekolah dimulai, dan persahabatannya dengan gadis tetangga, yang menerima sedikit bantuan dari ibu Enitan yang sangat religius. Disituasikan berhadapan dengan latarbelakang kekuasaan militer di Nigeria pada tahun 1970an, novel ini langsung menjadi buah bibir dan kampanye sunyi melawan korupsi politis dan represi atas perempuan. Atta dikenal secara luas untuk sandiwara-sandiwara radionya yang telah disiarkan di BBC, dan cerita-cerita pendeknya yang telah muncul di sejumlah jurnal termasuk Los Angeles Review of Books.

Helon Habila (lahir tahun 1967)

Setelah lulus dari University of Jos pada tahun 1995, Helon Habila bekerja sebagai seorang dosen muda di Bauchi, kemudian sebagai editor cerita untuk majalah Hints, sebelum pindah ke Inggris pada tahun 2002 untuk menjadi African Fellow di University of East Anglia. Pada tahun yang sama, novel pertamanya diterbitkan: Waiting for an Angel merupakan sebuah buku kompleks yang menjalin tujuh narasi, secara bersamaan berbicara tentang kehidupan dibawah kekuasaan pemerintahan diktator di Nigeria. Buku itu memenangkan Commonwealth Writer’s Prize di wilayah Afrika, membawa pengarangnya pada kesuksekan yang lebih besar. Dua novel berikutnya, Measuring Time (2007) dan yang terakhir, Oil on Water (2011) sama-sama mendapatkan sambutan yang baik, dan daftar hadiah dan penghargaan yang Habila telah dapatkan membuktikan ekspresi literaturnya yang canggih dan puitis.

Teju Cole (lahir tahun 1975)

Teju Cole

Lahir di Amerika Serikat dari orangtua berkebangsaan Nigeria, dibesarkan di Nigeria dan sekarang tinggal di Brooklyn, latar belakang kehidupan Cole begitu beragam begitu pula karirnya. Fotografer, sejarawan seni, dan penulis novel, dia juga merupakan penulis unggulan yang tinggal sementara di Bart College, New York. Open City (2011), novel pertamanya, dikisahkan di New York lima tahun setelah peristiwa 9/11, dan menelusuri kehidupan Julius, seorang lulusan psikiatri, saat dia berkeliling tanpa tujuan dipenjuru kota itu, kemudian ke Brussels, hidup tak menentu dan masih dalam masa pemulihan dari hubugan asmara yang lalu. Sementara lokasi-lokasi geografis memainkan peranan penting dalam novel itu, narasi tersebut dibaca sebagai sebuah peta atas dunia pribadi Julius, dengan pandangan yang berbeda-beda dan asosiasi-asosiasi yang berkelok-kelok menjalin kedalam cermin strukturnya yang seringkali merupakan proses-proses berpikir yang tak terjelaskan.

Adaobi Tricia Nwaubani (lahir tahun 1976)

Adaobi Tricia Nwaubani

Adaobi Tricia Nwaubani adalah seorang penulis novel, jurnalis, dan penulis esai yang sejak masih kecil telah mendemostrasikan ketertarikan pada dunia kepenulisan, memenangkan hadiah menulis pertamanya pada usia 13 tahun. Sebagai seorang jurnalis, dia telah memberikan kontribusi untuk New York Times, BBC, The Guardian, dan CNN, diantara banyak yang lainnya. Novel pertamanya I Do Not Come to You by Chance (2010) diceritakan dalam nada yang jenaka dan sedikit tak sopan yang menafikkan isu-isu fundamental yang dialamatkannya. Protagonis dalam buku itu Kingsley tidak dapat menemukan pekerjaan, dan beralih ke dunia gelap penipuan melalui email dengan cara mepermainkan kepercayaan seseorang. 419 scams (merujuk pada nomor aturan hukum pidana Nigeria.pener) ini sangat sering dikutip oleh orang-orang yang benci pada produk asing dan orang-orang rasis sebagai produk ekspor utama Nigeria, akan tetapi Adaobi menarik perhatian pada isu-isu yang penuh perdebatan ini dengan humor dan keringanan, menciptakan sebuah kisah keluarga, aspirasi dan pelajaran-pelajaran berharga yang datang seiring waktu.

Chimamanda Ngozi Adichie (lahir tahun 1977)

Chimamanda Ngozi Adichie

Adichie merupakan bagian dari sebuah generasi baru pengarang Nigeria yang dengan cepat menanjak reputasinya. Tiap-tiap dari tiga novelnya telah mendapatkan pengakuan universal dan penghargaan-penghargaan yang sangat banyak. Dua buku pertamanya secara garis besar mengandung atmosfir politik dari negara asalnya melalui kacamata pribadi dan hubungan-bungan kekeluargaan. Purple Hibiscus (2003), memenangkan Commonwealth Writer’s Prize untuk buku pertama terbaik, menceritakan kisah seorang anak Kambili berusia 15 tahun, yang ayahnya secara misterius terlibat dalam serangan mendadak militer yang mengguncang negaranya. Penerbitan Half of A Yellow Sun (2006) mengonfirmasi bahwa pengarangnya memiliki sebuah talenta yang unik. Dikisahkan ditengah-tengah perang Nigeria-Biafra, buku itu mencatatkan kengerian-kengerian yang terjadi setiap harinya melalui kehidupan-kehidupan berbeda dari keempat protagonisnya. Novel terbarunya, Americanah (2013) pada intinya merupakan sebuah kisah cinta yang begitu kuat antara Ifemulu dan Obinze, kekasih masa kecil yang dipisahkan ketika salah satunya pergi untuk belajar di Amerika. Meskipun begitu, buku itu masih mengangkat tema-tema seperti rasisme, imigrasi, dan globalisasi.

—————————————-

Diterjemahkan Marlina Sophiana dan Sabiq Carebesth (ed) dari From Achebe to Adichie by Rebecca Jagoe, www.theculturetrip.com.

 

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buku

Elit vs Massa: Pandangan Sejarah W.F. Wertheim

mm

Published

on

Getty Images/ Google

Wertheim Stichting adalah sebuah Yayassan Belanda yang didirikan 4 Oktober 1998 melalui suatu akte notaris dan sejak itu menjadikan emansipasi bangsa Indonesia sebagai usahanya dengan memberikan Wertheim Award bagi karya emansipatoris teladan bagi orang-orang Indonesia yang masih hidup.

Orang-orang Indonesia yang telah menerima Wertheim Award adalah penyair Rendra dan Widji Thukul, penulis Pramoedya Ananta Toer, penerbit Joesoef Isak, jurnalis Goenawan Mohamad dan penulis Benny G. Setiono.

Dengan emansipasi yang kami maksudkan ialah proses sejarah kememrdekaan negeri-negeri oleh warganegara mereka, dari ketidaksetaraan, keterbelakangan pendidikan dan penindasan, dari partisipasi yang tak mencukupi di bidang pengadaan hukum dan dalam pengambilan keputusan.

Rekan lama dan sahabat-sahabat professor Wertheim hadir pada lahirnya stichting, seperti a.l. Profesor Jan Breman dan professor Jan Pluvier. Bahwa di Indonesia terdapat lebih banyak karya ilmiah Profesor Wertheim, merupakan pertanda baik. Penulis erat hubungannya dengan revolusi Indonesia dan mengenal banyak tokoh-tokoh terkemuka dari masa sebelum peran dan dari generasi 1945 yang telah ambil bagian dalam pembangunan negeri. Beliau juga mencurahkan tenaga dan fikiran untuk dieksposnya rezim Suharto sebagai suatu system penindasan yang tak berperikemanusiaan.  Kami tegaskan bahwa Wertheim Stichting sendiri pada prinsipnya tidak menerbitkan buku dan juta tidak memberikan sokongan dana.

Diterbitkannya Elite versus Massa bagi orang-orang dan kaum muda di negeri-negeri yang  sedang berkembang dan bagi Indonesia khususnya, begitu menarik kakrena ia bersangkutan dengan dua periode sejarah yang sedang berjuang, yang dua-duanya berasal dari sumber Eropa dan melalui kolonisasi telah sampai di negeri-negeri yang sedang berkembang.

Yang dimaksudkan disini ialah gerakan elite yang mempeeroleh sumbernya terutama dari filsuf Yunani  Plato dan terutama sesudah Revolusi Perancis memperoleh pengikut yang semakin bertambah dari kalangan aristokrasi Eropa dan gereja Katolik yang amat menderita oleh revolusi dan dari peperangan Napoleonistis yang menyusul kemudian.

Mereka kehilangan posisi berhak-istimewa melalui cara berdarah serta ingin memulihkannya dengan seruan tentang keharusan adanya suatu elite bagi masyarakat dan kehidupan bersama.

Bukankah, berhadapan dengan elite terdapat massa yang bodoh, yang memberikan reaksi dari bawah dan menantikan kesempatan untuk menyingkirkan elite. Pendeknya, tanpa elite tak ada kehadiran manusiawi. Gerakan massa berkembang di bawah pengaruh kapitalisme industridi abad ke-19 serta menemukan didalam karya Karl Marx dan Friederich Engels protagonist-protagonis penting.

Buku Profesor Wertheim, Elite versus Massa oleh penerbit LiBRA dan Resist Book

Bagi mereka analisa mengenai hubungan massa dengan elite kapitalis kaum industrialis, mereka mengembangkan pengertian klas dan teori perjuangan klas, dan teori perjuangan klas, yang harus menggantikan pertentangan antara industry dengan massa buruh yang tak berpendidikan dan masa buruh tak berpunya, dengan suatu masyarakat samarata-samarasa yang damai. Membangun terus atas karya filsuf Pencerahan Perancis Comte de Saint Simon mereka melihat berakhirnya orde lama dan dimulainya orde baru sebagai suatu masyarakat yang terdiri dari pekerja yang berpendidikan yang sesuai dengan pendidikan dan prestasinya akan mendapatkan kedudukan yang adil.

Sampai dewasa ini proses pembentukan kenegaraan komunis dan sosialis gagal karena pada prinsipnya mereka punya dasar kelas, dimana hubungan hubungan lama dengan sederhana dijungkir-balikkan. Perjuangan kelas dan revolusi, komunisme dan sosialisme di dalam sejarah mutakhir Eropa dan Asia merupakan sumber dari alat kesewenang-wenangan dan kekerasan Negara, dan dari pertumpahan darah dan genosida, sebagaimana halnya elitisme dalam fasisme, nasionalisme dan naziisme.

Poin terpenting Wertheim dalam diskusi ini ialah bahwa emansipasi sebagai suatu proses sejarah masyarakat dapat menghilangkan pertentangan antara elite dan gerakan massa, dengan prasyarat konteks masyarakat memberikan syarat-syarat yang diperlukan. Untuk itu diperlukan sejarah pembentukan sosial dan politik, dari suatu pembentukan kepengurusan yang partisipatif dan dari suatu pendidikan sekolah yang tinggi. Demokrasi bukanlah sesuatu yang dengan sendirinya merupakan  pilihan. Semata-mata adalah demokrasi dimana kepentingan umum dan pribadi selalu dipertimbangkan di parlemen dan publisitas tanpa membedakan mengenai siapa pun, satu sama lainnya dipertimbangkan, adalah suatu emansipasi yang merupakan bentuk yang dapat diterima.

Sentralisme demokratis sebagaimana yang dimiliki oleh sosialisme dan komunisme, dan demokrasi terpimpin yang dikelola oleh Sukarno dan Suharto sewaktu diberlakukannya rezim keadaan darurat, tidak lain dari pada suatu politik survival, suatu kontigensi yang ditujukan untuk bisa selamat dari kekacauan (chaos).

Masalahnya juga ialah bahwa pengertian emansipasi tidak hanya interesan bagi banyak aliran politik yang memperjuangkan emansipasi bagi elektoratnya sendiri, tapi juga bagi negera yang punya tujuannya sendiri. Setiap dari partai-partai ini dapat secara implisit menggunakan konsep emansipasi sebagai instrument bagi tujuannya sendiri, dengan melampaui kepentingan umum, yang menyebabkan emansipasi menjadi alat perjuangan pribadi dan sebagai alat untuk saling menyisihkan.

Jadi ada kemunduran juga pengembangan hal-hal yang dicapai dan ada kemajuan. Dinamika yang terdapat menurut Wertheim adalah dialektis dan maju menurut spiral dari kepentingan pribat menuju ke kepentingan Negara dan kembali lagi. Warga yang teremansipasi yang menjadi buah fikiran Wertheim Stichting bila hal itu menyangkut penganugrahan Wertheim Award, merupakan figure yang tak dapat ditiadakan.

Di dalam bukunya Third World Whence and Wither, yang dalam pada itu, juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, Wertheim mendalami hubungan antara Negara dan emansipasi, sejak praktek Eropa sesudah perang dari negara kepentingan bersama yang beramal dan dilindungi. Dengan itu ia mencoba untuk memastikan sampai dimana konsep tersebut palsu atau benar sebagai permulaan untuk spiral emansipasi berikutnya.

Adalah harapan Wertheim Stichting bahwa Elite versus massa di Indonesia dapat membantu kembali menempatkannya di dalam agenda dan pada suatu penelitian baru menuju pada kondisi yang terdapat di Indonesia pada jalan-jalan emansipasi yang bebas ideology. Dan dimana selalu dicurahkan perhatian terhadap dampak noda-noda buta (blinde vlekken) yang selalu mengikuti setiap kebijakan. Demikianlah, elite versus Massa mempunyai noda-noda hitamnya sendiri, tetapi hal itu juga terdapat di dalam emansipasi, sebagaimana halnya bahaya pada sukses emansipatoris, dimana ketidak adilan tak dihiraukan, seperti umpamanya toleransi terhadap penguapan etnis dan religious. Selalu diperlukan keseimbangan antara perjuangan hal-hal yang diinginkan, dengan menghapuskan apa yang tak diinginkan, dan bagi cara-cara damai berpartisipasi, pengembangan dan stimulasi rohaniah yang cocok untuk itu atau yang harus dikembangkan. (*)

Amsterdam, Juni 2009. | Coen Hltzappel (Ketua Wertheim Stichting) | Ibrahim Isa (Sekretaris)

*Tulisan ini adalah pengantar untuk penterjemahan buku Profesor Wertheim, Elite versus Massa oleh penerbit LiBRA dan Resist Book.

Continue Reading

Buku

The Plague karya Albert Camus: Sebuah Kisah Untuk Kita Semua

mm

Published

on

“Sampar” fasis yang menjadi inspirasi novel ini mungkin sudah menghilang, akan tetapi 55 tahun setelah kematiannya, banyak jenis wabah lain yang menjadikan buku ini sangat relevan.

Sedikit sekali penulis yang menjadikan karyanya begitu dekat dengan kematian seperti yang dilakukan Albert Camus, salah satu penulis novel dan penulis esai terbesar abad 20, yang menemui ajalnya sendiri dalam kecelakaan lalu lintas pada minggu ini 55 tahun yang lalu, di rute Nasionale 6 dari Lyon-Paris.

Dari semua novel karya Camus, tak ada yang mendeskripsikan konfrontasi-dan kohabitasi manusia-dengan kematian secara begitu jelas dan pada skala luar biasa seperti Le Peste, diterjemahkan menjadi The Plague. Kebanyakan dari kita membaca The Plague saat remaja, dan kita semua harus membacanya lagi. Dan lagi: bukan hanya karena segala respon manusia tentang kematian direpresentasikan di dalamnya, tetapi sekarang-dengan berkembangnya Ebola-buku ini berfungsi dalam tataran harfiah dan juga metaforis.

Cerita milik Camus adalah tentang sekelompok laki-laki, digambarkan dengan persinggungan dan perlawanan mereka terhadap wabah sampar itu. Di dalamnya kita menemukan keberanian, ketakutan dan perhitungan yang kita baca dan dengar dari setiap cerita tentang upaya-upaya Afrika Barat untuk mengurangi dan menghadapi Ebola; melalui naratornya, Dr Rieux, kita dapat identikkan dengan ratusan dokter Kuba yang terjun langsung ke pusat penyebaran wabah itu, dan begitu pula dengan seorang perawat Skotlandia yang saat ini sedang berjuang untuk hidupnya di Royal Hospital di kota London.

Kukira Camus menginginkan pembacaan yang harfiah-juga alegoris semacam itu. Telah diakui secara luas bahwa wabah yang ia deskripsikan menandai Third Reich. Ditulis pada tahun 1947, selagi dunia meneriakkan kemenangan dan “Tak Akan Terulang Lagi”, Camus berkeyakinan bahwa sampar berikutnya “akan membangunkan tikus-tikusnya lagi” demi “kutukan dan pencerahan manusia”.

Namun, Camus juga mengetahui terjadinya epidemik hebat kolera di Oran, Aljazair-dimana novel itu mengambil latar-pada tahun 1849, dan di tempat lainnya di distrik tempatnya berasal di Mondovi dalam wilayah Aljazair.

Tetapi ada alasan lain mengapa kita perlu membaca kembali La Peste (lebih baik dalam bahasa Prancis atau dalam terjemahan bahasa Inggris karya Stuart Gilbert, sebuah karya literatur tersendiri). Seperti semua karya metaforis atau karya alegoris yang baik, ia dapat merepresentasikan hal-hal diluar yang dimaksudkan; termasuk wabah-wabah baik moral dan metaforis yang terjadi setelah masa kehidupan Camus sendiri. Kritik dari John Cruikshank yang bersikeras bahwa La Peste juga merupakan sebuah refleksi atas “kelalaian metafisis manusia di dunia”, yang mana penggunaannya tak berhingga, dan terserah pada kita. Jadi layak direfleksikan pada hari peringatan kematiannya ini: apa yang akan ditandai sampar itu sekarang?

Sekarang ini, kukira, La Peste dapat menceritakan kisah tentang satu jenis wabah yang berbeda: yaitu tindakan destruktif, terlalu materialis, kapitalisme-turbo; dan dapat berlaku sebagaimana penjelasan-penjelasan kontemporer yang diterima sekarang. Sebetulnya, sangat bisa begitu, karena satu alasan ini: Keabsurdan. Masyarakat kita adalah kelompok yang absurd, dan novel Camus memeriksa-diantara banyak hal lainnya, dan untuk semua upaya moralnya-relasi kita dengan absurditas cara keberadaan modern. Buku ini dapat mendeskripsikan dengan sangat baik sampar di dalam masyarakat yang menggaungkan fantasmagorianya ke penjuru dunia sehingga jutaan orang datang, menaiki kapal-kapal kuburan atau menyebrangi gurun-gurun mematikan, dalam pencarian janji-janji palsunya; dan yang bahkan menghancurkan konstanta yang dihadapkan Camus untuk mengukur mortalitas manusia: alam.

Sangat penting bagi isolasi eksistensial Camus yaitu ketegangan antara kekuatan dan keindahan dari alam, dan kesedihan hidup manusia. Sejak masa mudanya, dia menyukai laut dan gurun-gurun, dan memahami mortalitas manusia melalui keluasannya yang acuh tak acuh.

Sang ahli keabsurdan abad 20, Samuel Beckett, lahir tujuh tahun sebelum Camus, tetapi aktif dalam perlawanan Prancis pada kurun waktu yang sama. Dalam Happy Days karya Beckett, Winnie merenungkan bahwa “Terkadang semuanya berakhir pada hari itu, semuanya terselesaikan, semuanya sudah dikatakan, semua siap untuk menyambut malam, dan hari itu belum berakhir, jauh dari berakhir, malam belum siap, jauh dari siap”. Di tempat ini, seperti sedang menunggu Godot (sesuatu atau seseorang yang tidak akan pernah terjadi atau tidak akan pernah datang. pener), tak ada agen manusia yang memiliki tujuan.

Di dalam La Peste, bagaimanapun, absurditas merupakan sumber nilai, nilai-nilai dan bahkan tindakan. Sekelompok orang yang berkumpul dalam narasi itu merepresentasikan, ia merasakan, semua respon manusia terhadap bencana. Setiap orang mengambil bagiannya untuk menceritakan hal itu, meskipun sebenarnya dokter itu, Rieux-narator tersembunyi-yang melawan wabah dengan karyanya, yaitu obat, seperti Camus mencoba melawan pertama-tama ketidakadilan, lalu fasisme, dengan kerja kerasnya melalui kata-kata.

Perbedaannya dengan Beckett adalah: sebagaimana pemburu karakter Molloy dalam buku Beckett menyimpulkan:”Lalu aku kembali ke rumah dan menulis. Saat itu tengah malam. Hujan menghujam jendela. Itu bukan tengah malam. Saat itu tidak turun hujan”-jadi, bahkan narasinya saling menegasikan. Namun, karakter-karakter Camus dalam La Peste mengilustrasikan bahwa, meskipun mereka tahu bahwa mereka tak berdaya melawan sampar, mereka mampu menjadi saksi atas peristiwa itu, dan hal ini dengan sendirinya bernilai. Ketika dia menerima hadiah Nobel dalam bidang literatur pada tahun 1957, pidato mengagumkan Camus menyampaikan bahwa hal itu merupakan kehormatan dan beban bagi penulis “untuk melakukan hal yang lebih besar dari sekadar menulis”.

Camus tidak melihat adanya dikotomi antara kekosongan yang menjadi pusat dalam L’Etranger, dan upaya-upaya keras dalam La Peste. Dia pernah sekali menulis tentang “anggur dari keabsurdan dan roti dari ketidakacuhan yang akan menutrisi keagungan (manusia)”. Fakta atas ketidakberdayaan yang absurd bukanlah alasan untuk tidak bertindak; Camus, dengan segala kesan mendalamnya tentang keabsurdan, mendorong kita untuk mengambil tindakan.

Akan tetapi tak ada posisi moral bagi manusia di alam. Jarak antara kekuatan dan keindahan alam hampir merupakan sebuah siksaan: di dalam novel hebat pertama Camus, La Mort Heureuse, Mersault memenungkan “keindahan pagi hari di bulan April yang tidak manusiawi”. Hanya satu huruf yang membedakan nama Mersault dengan penggantinya yang lebih kompleks dan ambigu, Meursault, kebalikan pahlawan dalam L‘Etranger: dia adalah seorang lelaki yang mempunyai begitu banyak pertanyaan tapi tak mempunyai jawaban. Tapi bahkan Meursault menyimpulkannya saat membunuh seorang Arab di pantai: “Aku tahu bahwa aku telah merusak harmoni di hari ini”.

Tapi mengapa La Peste berbicara begitu keras pada kita saat ini? Camus dulu pernah menulis, dalam sebuah esai yang diberi judul Le Desert, tentang “materialisme yang menjijikan”. Dia menjejakkan makna yang vital bagi kita saat ini, di dalam dunia dimana materialisme begitu menjijikan ia telah menjadi sebentuk sampar. Semua yang umat manusia lakukan di era kapitalis-turbo, dengan pembinasaannya terhadap alam, “menghancurkan harmoni pada hari ini”.

Tiap embikan dari para politikus senada dengan penguasa pada era sampar khayalan Camus di Oran: “Tidak ada tikus di dalam gedungnya”, seru penjaga gedung selagi tikus-tikus itu mati di sekelilingnya. Surat kabar-surat kabar mengumpulkan massa dengan berita bahwa wabah telah terkendali padahal tidak.

Camus menawarkan kita sebuah cara untuk menanggalkan pencarian tanpa tujuan atas “keutuhan” dengan diri kita sendiri, tetapi tetap berjalan bagaimanapun keadaannya, berjuang: demi sejumlah keadilan moral yang didefinisikan dengan buruk, meskipun kita sudah tidak mampu mendefinisikannya. Pada kesimpulan dalam La Peste, Rieux-yang istrinya telah meninggal karena sakit di tempat yang lain, tak berhubungan dengan wabahnya-menyaksikan keluarga-keluarga dan para kekasih bersatu kembali ketika gerbang Oran akhirnya dibuka. Dia merasa heran-dalam keadaan begitu banyak penderitaan dan perjuangan yang tanpa tujuan-akankah ada kedamaian jiwa ataupun pemenuhan tanpa harapan, dan menyimpulkannya ya, mungkin saja bisa, bagi mereka “yang sekarang mengetahui bahwa bila ada satu hal yang bisa seseorang dambakan selalu, dan terkadang mereka capai, adalah kasih sayang manusia”.

Mereka adalah orang-orang “yang hasrat-hasratnya terbatas pada manusia, dan kasih sayangnya yang sederhana namun begitu hebat” dan mereka yang “harus masuk, sekarang dan seterusnya, ke dalam hadiah mereka”. Tetapi Rieux telah mengualifikasikan kata-kata itu sebelum dia menuliskannya, beberapa baris sebelumnya. “Tetapi untuk mereka yang lain”, dia mengatakan, “yang mencitakan hal melampaui dan di atas individu manusia menuju sesuatu yang bahkan tak bisa mereka bayangkan, tidak ada jawaban untuk itu”.

Tidak ada jawaban. Tidak ada deskripsi, bahkan, atas kemungkinan seperti apa “sesuatu” yang lain itu. Dan meski begitu ia mengomel, ia membuat tuntutan-tuntutan pada kita, dan mereka yang mengenal Rieux tahu tentangnya, meskipun kita telah menanggalkan sebuah definisi. Tanpa tujuan, tetapi imperatif; politis hingga taraf tertentu, tetapi tak sabar dengan politik; bermoral tentu saja, tetapi dengan gelisah-dan dengan penghormatan yang serius terhadap keluasan alam tempat mortalitas kita mengukur dirinya sendiri, tetapi yang kali ini kita bunuh.

Satu hal untuk dipertimbangkan lebih jauh, kemudian-sebagaimana yang kulakukan selagi aku mengemudi pada hari Minggu ke jalan yang sekarang bernama Autoroute 6 antara Lyon dan Paris dengan sedikit kegentaran atas hari peringatan itu sendiri, melewati Villeblevin, tempat dimana mobil sport Facel Vega yang dikendarai oleh teman Camus, Michel Gallimard menubrukkan kedua lelaki itu hingga mati. (*)

Diterjemahkan dari Albert Camus’ The Plague: a story for our, and all, times karya Ed Vulliamy dalam theguardian.com, 5 Januari 2015.
__________________________________________________________________________________________________________________

Penterjemah:  Marlina Sophiana | Editor: Sabiq Carebesth | Kirim karyamu ke email redaksi: galeribukujakarta@gmail.com

Continue Reading

Buku

Huruf-Huruf Yang Tenggelam di Jerman

mm

Published

on

Getty Images/ Frankfurt Book Fair

Mereka tak hanya membaca tentang Indonesia, tetapi  juga sejarah sastra Indonesia. Mereka merasa, puisi itu lah yang tepat menggambarkan sebuah masa dalam sejarah Indonesia; saat penulis sastra bisa ditangkap dan dipenjara bahkan dibuang atas karya mereka.

By: Miranti Hirschmann*

Tak terasa, hampir dua tahun berlalu sejak Indonesia menjadi Tamu Kehormatan di Frankfurt Book Fair pada 14 – 18 Oktober 2015 lalu di Jerman.  Saat itu,  media Indonesia maupun Jerman terfokus pada hadirnya para penulis Indonesia, buku-buku, juga beragam pementasan seni budaya Indonesia di kota Frankfurt am Main.

Ada beberapa hal yang nampaknya terlewat—yang tak kalah menarik dengan buku-buku yang dipamerkan di hall hall utama. Dalam tulisan ini saya ingin membagikannya untuk Anda.

Buku Antik

Saya menggunakan kesempatan di hari hari terakhir expo buku akbar sejagad itu untuk blusukan di hall-hall yang kurang mendapat perhatian, seperti halnya di Hall 4. Di hall 4 lantai 1 ini, disebut menampilkan buku-buku antik dari berbagai belahan dunia. Selain itu, hall ini juga menampilkan karya  juara juara lomba poster buat Frankfurt Book Fair. Semuanya bertema Indonesia dan kebanyakan pemenangnya adalah siswa-siswa sekolah menengah.  Poster-poster ini, sebagian dijadikan kartu pos,  dibagikan pada stand tamu kehormatan.

Tapi, siapa yang mau melihat buku tua dan karya di hall 4? Toh, ada 600 event dari Indonesia yang berlangsung di berbagai venue di pekan yang luar biasa itu. Dari wawancara dengan penulis Indonesia oleh stasiun TV Jerman, bedah buku, diskusi politik hingga demo masak, yang tentunya menampilkan buku-buku masakan khas Indoesia. Persekutuan masakan, buku-buku terbaru dan diskusi politik memang gampang membuat hal antik terlewatkan kan?

Makin dalam saya blusukan, makin menarik apa yang saya dapatkan.  Saya menemukan sebuah stand kecil, berukuran tak lebih dari 2×1 meter persegi.

Diatas satu-satunya meja pamer, dipajang sebuah buku berukuran A4 berjudul “Ertrunkene Buchstaben“ (dalam bahasa Indonesia artinya Huruf huruf yang tenggelam).

Saya terhenti di stand itu. Yang menarik buat saya, entah mengapa,  adalah gambar ilustrasinya yang menggunakan litografi nukilan kayu. Kepala manusia dengan mata besar nanar, hidung yang bulat dan juga besar,  kuping yang kecil, namun bermahkota. Buku apa ini?

Saya bolak balik buku itu. Hard cover, buatannya sangat rapi.  Buku ini hanya terdiri dari 4 lembar halaman. Kertasnya mungkin 160 gram. Isinya tak lebih dari  5 ilustrasi kepala manusia bermahkota dan 1 puisi yang terdiri dari 3 bait dalam bahasa Jerman, Indonesia dan Inggris.  Puisi berjudul Ertrunkene Buchstaben ini merupakan karya budayawan Jerman, yang lahir di pedalaman Bavaria, Ingo Cesaro.

Cover depan dan cover belakang menampilkan ilustrasi kepala manusia. Pada halaman pertama, puisi asli berbahasa Jerman ini diberi ilustrasi litografi bernuansa  hijau.  Halaman keduanya istimewa karena memiliki extra wing sehingga bila dibuka ada 3 halaman. Di halaman ini ditampilkan berbagai style huruf yang bila di padukan berbunyi Huruf huruf yang tenggelam.  Halaman berikutnya puisi tersebut yang diterjemahkan dalam bahasa Indonesia:

Huruf huruf yang tenggelam

Agak terlampau lembap

mungkin

nyaris tenggelam sang huruf

opaya penghidupan kembali

di ujung lidah

 

mengipas- ngipas udara sejuk

sayap sayap setinggi manusia

terhindar dari kematian

kata kata menari nari

diatas temali tinggi

menarik riang tak kenal kabut

 

suara malaikat sepatutnya dipuji

namun malaikat manakah

pada masa kini yang masih

bersedia jadi

pembawa  berita kematian

 

Penterjemahan  dari bahasa Jerman kedalam bahasa Indonesia tersebut dilkerjakan oleh seorang penterjemah yang tinggal di Jerman, ibu Hedy Holzwarth.

Berharganya Indonesia

Pada halaman terakhir, puisi yang sama,  ditulis dalam bahasa Inggris dan diterjemahkan oleh Dr. Lawrence Guntner.  Ilustrasinya tak berubah: kepala manusia juga dengan mata, hidung dan mulut yang besar, seram. Mirip tokoh Buto dalam pewayangan.

Kebetulan saya sempat berbincang dengan kakak beradik Guido dan Johannes Haefner, seniman dan juga pemilik penerbitan buku itu. Rupanya buku itu adalah proyek mereka bersama. Mereka hanya mencetak 150 eksemplar. Keduanya menerangkan bahwa mereka bertekad mencetak buku itu dan ikut FBF,  setelah mendengar Indonesia menjadi Tamu Kehormatan.  Mereka tak hanya membaca tentang Indonesia, tetapi  juga sejarah sastra Indonesia. Mereka merasa, puisi itu lah yang tepat menggambarkan sebuah masa dalam sejarah Indonesia; saat penulis sastra bisa ditangkap dan dipenjara bahkan dibuang atas karya mereka.

Mereka mengakui bahwa ilustrasi kepala manusia bermahkota disitu didapat dari buku buku seni budaya Indonesia , “Ya, ilustrasi itu memang  mengambil ide dari wayang,“ aku Guido.

Keduanya adalah pemilik percetakan ICHverlag Häfner und Häfner, yang kebetulan lagi, berlokasi di kota yang sama dimana saya tinggal, Nürnberg, Jerman.

150 buku ini mereka kerjakan dengan cara manual. Dari nukil kayu, mencetak hingga menjilid buku buku itu dikerjakan dengan tangan. Hand made. Sementara diluar sana jutaan buku yang dipamerkan di expo itu dikerjakan oleh mesin. Luar biasa bukan? Sungguh saya terharu.

Keduanya sebetulnya berharap mereka dapat bertemu langsung dengan para penulis dan budayawan Indonesia yang saat itu hadir di Frankfurt dan menghadiahkan buku itu pada delegasi  Indonesia . Harapan mereka,  masa-masa buruk itu tidak akan kembali. Namun sayang sekali dengan padatnya acara, mereka tidak sempat bertemu dengan  delegasi Indonesia, tidak seorangpun.

Karena sudah mendekati waktu berakhirnya pameran (dimana dari pengeras suara sudah beberapa kali diumumkan bahwa sebentar lagi hall itu harus tutup),  kami pun terpaksa mengakhiri bincang bincang itu.  Mereka menghadiahi saya satu exemplar buku itu dengan nomer 61/150.

Sampai sekarang, tiap kali saya melihat buku itu, tiap kali saya tersentuh, begitu besarkah perhatian orang-orang di negara lain atas sejarah dan sastra Indonesia? Bagaimana dengan kita sendiri terhadap sastra Indonesia?

Selamat Hari Literasi Sedunia. Tahukah Anda betapa berharganya sejarah dan literasi indonesia di mata dunia? Semoga kita semua memahami ini. (*)

8 September 2017

*Miranti HirschmannNürnberg, Germany.  Koresponden di Jerman untuk Salah Satu TV Swasta Nasional.

Editor: Sabiq Carebesth

Continue Reading

Trending