Connect with us

Buku

Dari Achebe hingga Adichie: Sepuluh Pengarang Terbaik Nigeria

mm

Published

on

Sastra juga milik mereka yang dari negeri jauh dan kerap dicap terbelakang untuk waktu yang bahkan tidak sebentar, tapi sastrawan mereka, karya sastra terbaik yang bisa mereka hasilkan memberi kita penadangan lain; rasa hormat dan empati yang lain, inilah mereka; sepuluh Pengarang Terbaik Nigeria.

Chinua Achebe dan Wole Soyinka merupakan dua nama paling mewakilkan karya-karya fiksi Nigeria. Namun, karya-karya literatur dari negeri itu terus ditopang generasi baru sastra mereka, jauh lebih banyak dari dua nama besar tersebut. Disinilah kita melihat sepuluh pengarang yang kesuksesan internasionalnya menegaskan kemampuan mereka dan kedalaman literatur kontemporer Nigeria.

Chinua Achebe (1920-2013)

Chinua Achebe

Chinua Achebe merupakan salah satu penulis Afrika yang paling diakui secara international, dan kematiannya pada tahun 2013 mengundang banyak sekali penghormatan dari seluruh dunia. Meskipun dia seringkali disebut sebagai ‘Bapak literatur Afrika’, dia telah dua kali menolak pemerintah Nigeria yang ingin menjadikannya sebagai Komandan Republik Federal-pertama pada tahun 2004, dan kemudian lagi pada tahun 2011-dalam rangka protes melawan rezim politik di negerinya. Novel pertamanya Things Fall Apart (1958) adalah sebuah penggambaran yang intim atas pertikaian antara orang asli Afrika dari suku Igbo di bagian tenggara Nigeria dan pemerintah kolonial Eropa. Menenun bersama tradisi turun-temurun dengan kisah-kisah rakyat suku Igbo. Achebe menghamparkan permadani norma-norma budaya, perubahan nilai-nilai sosial, dan perjuangan individu untuk mendapatkan tempat dalam lingkungan ini.

Wole Soyinka (lahir tahun 1934)

Wole Soyinka

Ketika Wole Soyinka, seorang penulis sandiwara, penyair, dan penulis memenangkan hadiah nobel dalam bidang literatur pada tahun 1986, Achebe bergabung dengan seluruh rakyat Afrika untuk merayakan orang Afrika pertama yang menerima perhargaan tersebut. Tulisan-tulisan Soyinka sering berfokus pada opresi dan eksploitasi atas yang lemah oleh orang-orang kuat. Tak ada yang luput dari kritiknya, tidak para spekulan berkulit putih tidak pula eksploitor berkulit hitam, Wole Soyinka juga memainkan peranan penting dalam politik Nigeria, yang pada waktu itu menempatkannya pada bahaya besar sebagai pribadi. Pemerintahan Jenderal Sani Abacha (1993-1998) misalnya, menjatuhkan hukuman mati ‘in absentia’ kepada dirinya. Karya-karyanya termasuk novel seperti Ake: The Year of Childhood and Death and The King’s Horseman, You Must Set Forth at Dawn: A Memoir berisi pandangan-pandangan Soyinka sendiri atas hidupnya, pengalaman-pengalaman, dan pemikiran-pemikiran tentang Afrika dan Nigeria.

Femi Osofisan (lahir tahun 1946)

Seperti kebanyakan penulis-penulis Nigeria, seluruh bangunan karya milik Femi Osofisan-mencakup sandiwara, sajak-sajak dan novel-yang diisi oleh kenyataan kolonialisme dan warisan-warisannya, dan merupakan sebuah protes yang nyata melawan korupsi dan ketidakadilan. Meskipun demikian, eksplorasinya atas tema-tema yang melingkupi sejarah kompleks negaranya jarang sekali dituliskan secara harifiah. Sebaliknya, Osofisan menggunakan alegori dan metafora, dan tulisannnya seringkali mempunyai kecenderungan surealis. Novel pertamanya, Kolera Kolej (1975) menceritakan sebuah kampus Universitas Nigeria yang diberikan kemerdekaan dari dunia diluarnya untuk menghindari penyebaran wabah kolera. Drama pertunjukkannya yang paling terkenal, Women of Owu (2004) adalah penceritaan ulang dari The Trojan Woman milik Euripides. Osofisan menerjemahkan drama itu ke dalam perang Ijebe dan Ife yang menghancurkan kerajaan Owu dari tahun 1821-26.

Ben Okri (lahir tahun 1959)

Ben Okri

Ben Okri merupakan novelis yang termahsyur dan penyair yang karya-karya tulisannya menentang definisi. Dia seringkali dilabeli post-modern, namun jalinan terbukanya atas dunia arwah dalam cerita-cerita miliknya mengingkari genre ini. Pengarang ini juga menolak klaim bahwa karyanya jatuh ke dalam kategori ‘realisme magis’, memandang tulisannya bukan sebagai pengelanaan ke dalam dunia fantasi tetapi sebaliknya sebuah latar belakang kehidupan dimana di dalamnya mitos-mitos, para leluhur dan arwah-arwah merupakan komponen yang intrinsik. “Realitas setiap orang berbeda-beda,” dia suatu kali mengatakan. Karyanya yang paling terkenal The Famished Road (1991), membentuk sebuah trilogi dengan Songs of Enchantment dan Infinite Riches. Karya-karya itu mencatatankan perjalanan-perjalanan Azaro, narator yang merupakan arwah seorang anak.

Buchi Emecheta (lahir tahun 1944)

Buchi Emecheta

Lahir di Lagos dengan orangtua bersuku Igbo, Emecheta pindah ke London pada tahun 1960 untuk tinggal berama suaminya Sylvester Onwordi, yang pindah kesana untuk belajar. Pasangan itu telah bertunangan sejak berumur 11 tahun, dan meski pernikahannya menghasilkan lima orang anak, Onwordi merupakan pasangan yang suka melakukan kekerasan. Dia bahkan membakar naskah pertama istrinya, hal itu mendesak Emecheta untuk meninggalkannya dan menetapkan dirinya sebagai orangtua tunggal. Novel-novelnya mengambil contoh secara tajam dari kehidupannya sendiri dan memberi perhatian pada persoalan ketidakseimbangan gender dan perbudakan, dan bagaimana perempuan seringkali didefinisikan melalui kacamata yang sangat sempit tentang seksualitas dan kemampuan melahirkan anak. Karyanya yang paling diakui, The Joy of Motherhood (1979), memiliki protagonis seorang perempuan yang mendefinisikan dirinya sendiri melalui kehidupan seorang ibu dan memvalidasi hidupnya semata-mata melalui kesuksesan anak-anaknya. Emecheta dihadiahi sebuah OBE pada tahun 2005.

Sefi Atta (lahir tahun 1964)

Sefi Atta

Sefi Atta merupakan seorang penulis yang peka, yang memulai pembicaraan tema-tema polemik dengan sikap yang lembut dan penuh nuansa. Everything Good Will Come (2005), novel pertamanya, adalah kisah tentang Enitan, seorang gadis berusia 11 tahun yang sedang menunggu sekolah dimulai, dan persahabatannya dengan gadis tetangga, yang menerima sedikit bantuan dari ibu Enitan yang sangat religius. Disituasikan berhadapan dengan latarbelakang kekuasaan militer di Nigeria pada tahun 1970an, novel ini langsung menjadi buah bibir dan kampanye sunyi melawan korupsi politis dan represi atas perempuan. Atta dikenal secara luas untuk sandiwara-sandiwara radionya yang telah disiarkan di BBC, dan cerita-cerita pendeknya yang telah muncul di sejumlah jurnal termasuk Los Angeles Review of Books.

Helon Habila (lahir tahun 1967)

Setelah lulus dari University of Jos pada tahun 1995, Helon Habila bekerja sebagai seorang dosen muda di Bauchi, kemudian sebagai editor cerita untuk majalah Hints, sebelum pindah ke Inggris pada tahun 2002 untuk menjadi African Fellow di University of East Anglia. Pada tahun yang sama, novel pertamanya diterbitkan: Waiting for an Angel merupakan sebuah buku kompleks yang menjalin tujuh narasi, secara bersamaan berbicara tentang kehidupan dibawah kekuasaan pemerintahan diktator di Nigeria. Buku itu memenangkan Commonwealth Writer’s Prize di wilayah Afrika, membawa pengarangnya pada kesuksekan yang lebih besar. Dua novel berikutnya, Measuring Time (2007) dan yang terakhir, Oil on Water (2011) sama-sama mendapatkan sambutan yang baik, dan daftar hadiah dan penghargaan yang Habila telah dapatkan membuktikan ekspresi literaturnya yang canggih dan puitis.

Teju Cole (lahir tahun 1975)

Teju Cole

Lahir di Amerika Serikat dari orangtua berkebangsaan Nigeria, dibesarkan di Nigeria dan sekarang tinggal di Brooklyn, latar belakang kehidupan Cole begitu beragam begitu pula karirnya. Fotografer, sejarawan seni, dan penulis novel, dia juga merupakan penulis unggulan yang tinggal sementara di Bart College, New York. Open City (2011), novel pertamanya, dikisahkan di New York lima tahun setelah peristiwa 9/11, dan menelusuri kehidupan Julius, seorang lulusan psikiatri, saat dia berkeliling tanpa tujuan dipenjuru kota itu, kemudian ke Brussels, hidup tak menentu dan masih dalam masa pemulihan dari hubugan asmara yang lalu. Sementara lokasi-lokasi geografis memainkan peranan penting dalam novel itu, narasi tersebut dibaca sebagai sebuah peta atas dunia pribadi Julius, dengan pandangan yang berbeda-beda dan asosiasi-asosiasi yang berkelok-kelok menjalin kedalam cermin strukturnya yang seringkali merupakan proses-proses berpikir yang tak terjelaskan.

Adaobi Tricia Nwaubani (lahir tahun 1976)

Adaobi Tricia Nwaubani

Adaobi Tricia Nwaubani adalah seorang penulis novel, jurnalis, dan penulis esai yang sejak masih kecil telah mendemostrasikan ketertarikan pada dunia kepenulisan, memenangkan hadiah menulis pertamanya pada usia 13 tahun. Sebagai seorang jurnalis, dia telah memberikan kontribusi untuk New York Times, BBC, The Guardian, dan CNN, diantara banyak yang lainnya. Novel pertamanya I Do Not Come to You by Chance (2010) diceritakan dalam nada yang jenaka dan sedikit tak sopan yang menafikkan isu-isu fundamental yang dialamatkannya. Protagonis dalam buku itu Kingsley tidak dapat menemukan pekerjaan, dan beralih ke dunia gelap penipuan melalui email dengan cara mepermainkan kepercayaan seseorang. 419 scams (merujuk pada nomor aturan hukum pidana Nigeria.pener) ini sangat sering dikutip oleh orang-orang yang benci pada produk asing dan orang-orang rasis sebagai produk ekspor utama Nigeria, akan tetapi Adaobi menarik perhatian pada isu-isu yang penuh perdebatan ini dengan humor dan keringanan, menciptakan sebuah kisah keluarga, aspirasi dan pelajaran-pelajaran berharga yang datang seiring waktu.

Chimamanda Ngozi Adichie (lahir tahun 1977)

Chimamanda Ngozi Adichie

Adichie merupakan bagian dari sebuah generasi baru pengarang Nigeria yang dengan cepat menanjak reputasinya. Tiap-tiap dari tiga novelnya telah mendapatkan pengakuan universal dan penghargaan-penghargaan yang sangat banyak. Dua buku pertamanya secara garis besar mengandung atmosfir politik dari negara asalnya melalui kacamata pribadi dan hubungan-bungan kekeluargaan. Purple Hibiscus (2003), memenangkan Commonwealth Writer’s Prize untuk buku pertama terbaik, menceritakan kisah seorang anak Kambili berusia 15 tahun, yang ayahnya secara misterius terlibat dalam serangan mendadak militer yang mengguncang negaranya. Penerbitan Half of A Yellow Sun (2006) mengonfirmasi bahwa pengarangnya memiliki sebuah talenta yang unik. Dikisahkan ditengah-tengah perang Nigeria-Biafra, buku itu mencatatkan kengerian-kengerian yang terjadi setiap harinya melalui kehidupan-kehidupan berbeda dari keempat protagonisnya. Novel terbarunya, Americanah (2013) pada intinya merupakan sebuah kisah cinta yang begitu kuat antara Ifemulu dan Obinze, kekasih masa kecil yang dipisahkan ketika salah satunya pergi untuk belajar di Amerika. Meskipun begitu, buku itu masih mengangkat tema-tema seperti rasisme, imigrasi, dan globalisasi.

—————————————-

Diterjemahkan Marlina Sophiana dan Sabiq Carebesth (ed) dari From Achebe to Adichie by Rebecca Jagoe, www.theculturetrip.com.

 

Buku

Fahrenheit 451: Membakar Buku di Hari Buku

mm

Published

on

Oleh: Faris Ibrahim *)

Cerita bagus memikat sejak kalimat pertama. Penulis- penulis bagus membuat kita jatuh cinta pada pandangan yang pertama. Mereka tidak akan menunggu sampai kalimat kedua, paragraf kedua, halaman kedua, apalagi bab kedua untuk bisa menarik perhatian kita. Itulah yang dilakukan Ray Bradbury saat menulis Fahrenheit 451. Ia memulai mahakaryanya itu dengan provokasi menarik sejak kalimat pertama: “membakar sungguh menyenangkan.” 


Sixty years after its originally publication, Ray Bradbury’s internationally acclaimed novel Fahrenheit 451 stands as a classic of world literature set in a bleak, dystopian future. Today its message has grown more relevant than ever before. Guy Montag is a fireman. His job is to destroy the most illegal of commodities, the printed book, along with the houses in which they are hidden. Montag never questions the destruction and ruin his actions produce, returning each day to his bland life and wife, Mildred, who spends all day with her television “family.” But when he meets an eccentric young neighbor, Clarisse, who introduces him to a past where people didn’t live in fear and to a present where one sees the world through the ideas in books instead of the mindless chatter of television, Montag begins to question everything he has ever known.

Menyenangkan apanya? Seasyik- asyiknya membakar kembang api, tetap saja akhirnya gemerlapnya menghilang. Membakar pastilah berujung: kehilangan. kehilangan tidak menyenangkan, kehilangan menyedihkan. Makanya kita sering mendengar orang tua kita bilang: jangan bakar- bakaran, jangan main- main dengan api. Orang tua, takut kehilangan kita, itu sebabnya mungkin mereka selalu berat hati meretui hubungan kita dengan api.

Mereka tahu hubungan kita dengannya kadangkala tanpa pemahaman. Yang tidak paham, biasanya terjeremus dalam petaka. Api terbiasa menyulut petaka. Itulah kenapa setan sering disimbolkan dengan api. Main api artinya main- main dengan setan: memancing kedatangan mala- petaka. Api memang bukan mainan, api hadir ke dunia untuk dikendalikan. Dengan api Aang menjadi Avatar, dengan api pula ia melukai lengan Katara, gadis yang paling ia cintai.

Lewat Fahrenheit 451, Bradbury ingin mengajak kita membayangkan itu: keadaan di mana api sudah tidak lagi terkendali, kemudian membakar sesuatu yang paling kita cintai. Setiap tahun kita merayakan Hari Buku karena semua orang mencintai buku, namun apa jadinya kalau kita hidup di zaman di mana semua orang membenci buku? itulah Fahrenheit 451. Tokoh utamanya, Montag, sangat menikmati pekerjaannya: “Senin bakar Millay, Rabu Whitman, Jum’at Faulkner.”

Sejak rumah- rumah sudah kebal dari kebakaran, mereka- mereka yang berprofesi sebagai pemadam kebakaran terancam pengangguran. Rezim berpikir keras, akhirnya munculah sebuah alternatif profesi: petugas kebakaran. Tugas Montag bukan lagi memadamkan, tugasnya membakar. Ia dan teman- teman butuh sesuatu untuk dibakar, sesuatu yang dibenci oleh semua orang sehingga kehilangannya sangat diharap- harapkan. Tersebutlah satu benda bernama: buku.

“Buku adalah peluru,” kata kapten Beatty. Orang bisa saling membunuh gara- gara buku. Buku menyulut kemarahan. Kulit putih tidak pernah gembira saat membaca Uncle Tom’s Cabin, kulit hitam naik pitam saat membaca Little Black Sambo. Buku hanya memecah belah masyarakat. Dengan mempercayai maksim itu, petugas kebakaran sepenuh hati melakoni kerjaannya membakar buku. Kebencian masyarakatlah yang jadi pembenaran.

“Bakar sampai menjadi abu, lalu bakar lagi abunya,” kalimat itu bukan hanya slogan petugas kebakaran. Dari slogan itu kita bisa menjejak kebencian masyarakat terhadap buku yang bencinya sampai ke tulang- tulang. Buku adalah penjahat. “Kata- kata bodoh, kata- kata bodoh, yang jahat dan menyakiti,” begitu kata Mrs. Bowles yang menangis bukan karena keindahan puisi Dover Beach, puisi Matthew Arnold itu jahat karena membuatnya menangis saat mendengarnya.

Itulah yang kita temukan saat membaca paruh awal Fahrenheit 451. Seakan kita dituntun lewat premis- premis logis tokoh- tokohnya untuk mengangguk setuju berakhir membenci buku, menjadikannya penjahat, lantas membakarnya.Namun, beruntungnya memang, Bradbury tidak menceburkan kita begitu saja dalam kekeliruan, tanpa pelampung. Lewat Montag, si tokoh utama, kita diajak pelan- pelan bertobat pernah serampangan meyakini buku sebagai penjahat.

Buku tidaklah jahat, yang jahat kita saja manusia, Bradbury paham betul maksud dari perkataan itu. Usianya masih 15 tahun saat mendengar Hitler memanggang buku- buku di jalanan Berlin. Masa remajanya juga ia habiskan dengan menonton Stalin memenjarakan para pujangga, membakar buku- bukunya. Dan puncaknya adalah pada tahun 1950, saat Senator McCarthy menangkapi teman- teman penulisnya dengan dalih pemberantasan Komunisme.

Sebagai seorang anak yang tumbuh dengan kecintaan melahap buku, hatinya terbakar menyaksikan pembakaran buku dari masa ke masa.  Alhasil dengan kumulasi pengalaman kelam itu, terkumpulah semua alasan untuknya menuliskan Fahrenheit 451, sebuah pledoi terhadap hak asasi buku yang selalu didakwa sebagai penjahat yang nyatanya selalu jadi korban kejahatan para penjahat. Buku dibabat demi melanggengkan kekuasaan, padahal ia hanyalah alat.

Sebagaimana motor yang bisa dipakai pergi sholat, motor juga bisa dipakai menyiram air keras ke orang sehabis sholat. Alat terggantung penggunanya, buku tergantung pembacanya. Kitalah yang salah baca, bukan salah buku. Fahrenheit 451 boleh jadi maksudnya bukan suhu terbakarnya buku, melainkan suhu panasnya kepala kita yang terbakar kebencian saat membaca. Kita membaca untuk mencari pembenaran, bukan kebenaran, di sanalah letak salahnya.

Jika ada seribu rujukan yang mengatakan Covid- 19 benar- benar tragedi, dan hanya satu yang bilang itu konspirasi, maka kita berapi- api menyomot yang satu itu sebagai pembenaran, benar- salah itu urusan belakangan. Saat kita pilih- pilih bacaan, pilih- pilih buku, pilih- pilih tontonan saat itulah sebenarnya kita mulai bersalah, mulai jadi penjahat. Jahat karena menutup seluruh kemungkinan yang benar jadi salah, yang salah jadi benar.

Terkadang dalam membaca kita tidak siap membaca hal- hal‒ yang seperti kata Faber: “memperlihatkan pori- pori di wajah kehidupan,” alias memperlihatkan kenyataan bahwa kita sedang meyakini sesuatu yang salah. Kesalahan terkadang seperti jerawat di sela pori- pori wajah kita. Kita tidak mau itu terlihat, kita berusaha mengaburkan wujudnya dengan bedak, menutup- nutupinya dengan plester luka, kita halalkan segala cara untuk menutupi kesalahan kita.

Ketika kita menutup- nutupi kesalahan, mengingkari kebenaran, sebenarnya itulah cara termudah untuk menyimpulkan kepribadian kita yang anti buku: anti pengetahuan. Setiap Hari Buku, rasanya kita semakin menjelema jadi sosok yang anti buku: kita masih saja memilah- milah pengetahuan, menonton siaran dari kanal pemuja pilihan politik kita saja, dan mencampakkan yang bukan. Bukankah itu sama saja dengan perilaku membakar buku: melenyapkan pengetahuan?


Ray Bradbury (1920–2012) was the author of more than three dozen books, including Fahrenheit 451The Martian ChroniclesThe Illustrated Man, and Something Wicked This Way Comes, as well as hundreds of short stories. He wrote for the theater, cinema, and TV, including the screenplay for John Huston’s Moby Dick and the Emmy Award–winning teleplay The Halloween Tree, and adapted for television sixty-five of his stories for The Ray Bradbury Theater. He was the recipient of the 2000 National Book Foundation’s Medal for Distinguished Contribution to American Letters, the 2007 Pulitzer Prize Special Citation, and numerous other honors.

Kita membayangkan Fahrenheit 451 begitu tak tergapai sebagai distopia, padahal peristiwanya sangat lekat dengan keseharian kita saat membaca. Kita dimanfaatkan oleh mereka- mereka yang tidak membaca namun berkuasa untuk membenci yang mereka benci, menyukai yang mereka sukai. Kita dikotak- kotakkan, demi kepentingan. Semakin kita jauh dari pengetahuan, semakin malas kita membaca, mereka semakin senang; jerawat kekuasaan semakin samar terlihat.

Ketika kekuasaan semakin terbit benderang, pengetahuan semakin menunduk terbenam. Istana akhirnya mendikte kampus. Presiden membakar buku- buku di halaman. Kita yang sadar hanya bisa berteriak- teriak di balik pagar sambil sesekali menggoyang- goyang. Ban- ban mengepul di jalanan berhari- hari terpanggang, sampai akhirnya kita benar- benar lapar dan kelelahan. Akhirnya kita membenarkan apa kata Faber sang kordinator lapangan: “sekarang, sudah terlambat.”

Keesokan harinya kita masih turun ke jalanan ramai- ramai, hanya saja kali ini bukan untuk membakar ban dan menggoyang- goyang pagar istana, hari ini kita ingin membersamai presiden membakar buku- buku yang tersisa. Kita sangsikan nasehat orang tua untuk tidak bakar- bakaran. Kita aminkan perkataan Montag: “membakar, sungguh menyenangkan.”Hari itu Hari Buku, untuk pertama kalinya dalam sejarah kita memperingatinya dengan membakar buku. (*)

*) Penulis buku Diary Azhari, mahasiswa Akidah- Filsafat Universitas al- Azhar, Kairo.

Continue Reading

Buku

Pertanyaan Seorang Pembeli Buku yang Membaca

mm

Published

on

Oleh: F Daus AR *)

Apa manfaat mengunjungi tempat di masa lalu di mana kita dulu pernah akrab dengan sesuatu di sana. Jika rentang waktunya sudah terpaut jauh, bukankah kita tidak mendapati apa-apa. Karena, misalnya, sesuatu yang diakrabi sudah tidak ada dan tergantikan sesuatu yang baru.

Lalu, itu salah siapa. Bisakah kita mengajukan protes pada pemerintah karena telah memugar sejumlah bangunan lama di tempat itu. Kita marah karena pemerintah yang memegang otoritas sama sekali tidak memedulikan bangunan tua yang menjadi memori kenangan kita di masa lalu.

Berthold Brecht adalah seorang penyair dan penulis naskah drama yang berasal dari Jerman yang menuntut ilmu di bidang alam. Pada saat Nazi berkuasa di Jerman, Brecht melakukan perlawanan dalam hal pemikiran untuk menentang ideologi Nazi.

Tidakkah pemerintah memiliki data dan membaca populasi kunjungan manusia di tempat yang telah dipugar itu. Pemerintah kemudian berdalih kalau tugas bangunan lama sudah selesai untuk menautkan kenangan pada manusia masa lalu. Kini, manusia baru membutuhkan bangunan baru untuk fungsi yang sama.

Serupa dengan itu, menelusuri peristiwa lampau dengan kelakuan manusianya menyisakan beribu tanya. Apa fungsi kisah manusia di masa lalu bagi kehidupan manusia saat ini. Cukupkah dengan mengetahuinya saja. Jika iya, tidakkah itu terlampau interpretatif. Itu baru satu periode. Bagaimana dengan periode tempat kejadian yang terpisah laut, daratan dan juga kebudayaan melingkupinya. Apakah itu bukan hal asing.

Namun, yang jauh–juga asing itu sekaligus dekat sebagai perangkat manusia kini mempelajari kalau perilaku manusia di masa silam betapa saling berhubungan dan berulang. Replika manusia macam Martin Gair rasa-rasanya ada di sekitar kita. Sosok manusia bersifat bajingan bila mengikuti alur cerita di cerpen berjudul Bajingan Tengik. Laila Qadria selaku penerjemah tentu menyandarkan pada realitas sesuai konteks yang sudah menjadi resonansi fenomenologi pembaca Indonesia.

Cerpen ini masuk di tema Kisah-Kisah Bavaria 1920-1924. Pembagian ini dimaksudkan sebagai penanda tahun pembuatan. Bertolt Brecht belumlah berusia 30 tahun ketika menuliskan kisah di periode tahun itu. Ada tiga pembagian, kedua merentang dari 1924-1933 dan terakhir bertarikh 1933-1948. Satu kisah lagi dijadikan lampiran karena dianggap belum lengkap. Di bagian pengantar cukup jelas penjelasan mengenai riwayat kisah tersebut untuk menjelaskan posisi Bertol Brecht.

Bertol Brecht, utamanya sekali, lebih awal dikenal pembaca Indonesia sebagai dramawan dan penyair. Judul ulasan ini menyandarkan pada puisinya yang terkenal: Pertanyaan Seorang Buruh yang Membaca. Kumcer ini menghadirkan beragam kisah manusia di masa lalu selingkaran pergulatan hidup yang dijalani. Sebuah jarak yang begitu jauh.

Mengarungi kisah yang ditawarkan serasa mengeja jejak hidup Bertol Brecht sendiri. Terlibat dalam perang, anggota partai sosialis, hingga persentuhannya dengan gagasan kelas yang didapat dari pemikiran Karl Marx. Manusia-manusia yang dihadirkan bergerak seiring perjalanan waktu dan wawasannya melihat perubahan yang dialami orang Jerman dan manusia Eropa ketika hidup dalam pengasingan.

Kisah yang ditawarakan Bertol Brecht menempatkan tokohnya sebagai pusat. Latar peristiwa melingkari hidup si tokoh menjadi jalur latar topik yang dibahas.

“Dengan sangat gelisah Socrates teringat percakapannya semalam dengan seorang lelaki muda modis yang pernah dijumpainya di belakang layar. Lelaki muda itu seorang perwira pasukan berkuda.” (Hal. 209).

Petikan di atas dijumpai dalam cerpen Luka Socrates yang dijadikan gabungan judul dengan cerpen Bajingan Tengik.  Pemilihan judul edisi terjemahan bahasa Indonesia ini tentu memiliki maksud tertentu. Sangat jauh berbeda dari judul asli yang ditampilkan di halamam kredit titel: The Collected Short Stories of Bertolt Brecht.

Mengacu pada penjelasan di halaman pengantar yang juga bagian dari terjemahan edisi bahasa Inggrisnya, sudah dijelaskan runut oleh Marc Silbermann. Sebagai karya terjemahan, buku ini, menurut saya telah memenuhi pemenuhan informasi dasar yang ditujukan kepada sasaran pembaca terjemahan.

“Terjemahan itu sakral.” Ucap seorang tokoh dalam film Okja garapan Bong Joon-ho. Terkait karya terjemahan saya pernah mengalami hasil buruk sehingga belakang hari menjadi lup ketika ingin membaca karya terjemahan. Jika sedang di toko buku, sebisa mungkin saya menanyakan kepada penjualnya apakah ada contoh buku serupa yang bisa diperiksa halaman keterangan. Namun, sayang, hal demikian sulit didapat.

Ketika melihat buku ini di Fanpage Basabasi Store dengan harga pre order, mulanya ada sedikit keraguan. Siapa gerangan yang menerjemahkan. Ada baiknya nama penerjemah ditampilkan di sampul depan agar pembaca sudah punya sedikt garansi. Prosedur ini diterapkan oleh penerbit Mooi Pustaka yang didirikan novelis, Eka Kurniawan.

Brecht yang Lain

Membaca ke 38 cerpen Brect dalam kumcer ini, sebagaimana dituliskan Silbermann dalam pengantarnya memberikan resonansi berbeda bagi yang pernah menyuntuki drama dan puisinya. Sedangkan yang baru mengenal Brecht lewat cerpen bakal menjumpai sosok pendongeng hebat.


Judul: Bajingan Tengik, Luka Socrates, dan Kisah-Kisah Lain | Penulis: Bertolt Brecht | Penerjemah: Laila Qadria | Penerbit: Basabasi | Tahun: 2019 | Tebal: 326 hlm

Menurut saya, ungkapan Silbermaan tentu bukan bagian pemanis saja mengenalkan Brecht. Kisahnya linier dan bergerak maju dan menjadi panduan di cerpen berikutnya dengan prosedur yang sama.

Di cerpen yang menjadi lampiran, Kisah Petinju Samson-Korner, terlepas kalau kisah ini dianggap belum selesai, dijumpai lompatan peristiwa antar negara. Dari negara bagian Utah di Amerika Serikat hingga ke Capé Town di Afrika Selatan.

Jelajah Brech memberikan sinyal betapa laku manusia menemukan jejak di tempat yang lain. Ini mengingatkan kalau gerak manusia sepertinya sama dan berulang. Manusia di masa lampau dan kini tak jauh berbeda dalam bertindak.

Kisah demikian menjadi kesahihan tentang mengapa kisah lalu manusia sekali itu rekaman dalam fiksi akan selalu menemukan konteksnya di hari selanjutnya. Brecht yang meninggal 64 tahun silam telah mewariskan kisah kusut manusia.

Hampir semua tokoh Brecht adalah manusia biasa dengan kompleksitasnya masing-masing. Meski demikian, dengan kusutnya kisah itu di atas tirani moralitas. Brecht menawarkan kepolosan dan kejujuran.

Sejauh mengeja teks, sejauh itu kita berpindah tempat ke dunia Brecht di masa lalu. Ini kedengaran klise. Jika pengalaman itu personal, maka klise itu terlampau istimewa. Brecht tidak memberikan jawaban dari ragam pertanyaan di kepala pembaca. Ia hanya menghamparkan realitas. (*)

*) F Daus AR, narablog dan mengelola penerbitan indie, Rumah Saraung di Pangkep. Sulawesi Selatan.

Continue Reading

Buku

Memanfaatkan Kesedihan Demi Menyelamatkan Bumi

mm

Published

on

Virdika Rizky Utama *)

“Buat apa kami sekolah dan mempersiapkan masa depan. Namun, pada masa depan, bumi yang kita tempati saat itu sudah tak bisa lagi untuk ditempati,” ujar Greta Thunberg, pada awal melakukan aksi mogok sekolah pada 2018 lalu.

Ucapan gadis berusia 17 tahun itu bukan tanpa dasar atau sekadar menakut-nakuti. Pasalnya, perubahan iklim sedang berlangsung. Sayangnya, masih banyak orang yang tak mau tahu dan peduli tentang masalah serius itu, kendati diakibatkan oleh aktivitas manusia.

Judul: The Future We Choose | Penulis: Christiana Figueres dan Tom Rivett-Carnac
Penerbit: KNOPF | Tahun Terbit: Cetakan I, Maret 2020 | Tebal: xxvi+210 halaman, ISBN 978-0-525—65835-1
_
Climate change: it is arguably the most urgent and consequential issue humankind has ever faced. How we address it in the next thirty years will determine the kind of world we will live in and will bequeath to our children and to theirs.

In The Future We Choose, Christiana Figueres and Tom Rivett-Carnac–who led negotiations for the United Nations during the historic Paris Agreement of 2015–have written a cautionary but optimistic book about the world’s changing climate and the fate of humanity.

Pada 2019, sebuah survei yang dilakukan YouGov-Cambridge Globalism Project menunjukkan, Indonesia menjadi negara dengan masyarakat yang paling banyak tidak percaya bahwa perubahan iklim terjadi akibat ulah manusia. Indonesia berada di peringkat pertama dari 23 negara, dengan persentase 18 persen. Sementara, posisi kedua dan ketiga ditempati Arab Saudi (16 persen) dan Amerika Serikat (13 persen).

Padahal, dalam sebuah pertemuan Intergovernmental Panels on Climate Change (IPCC) 2015, para ilmuwan di seluruh dunia sepakat bahwa katastrofe pemanasan yang terjadi disebabkan oleh manusia (hlm. 6-7). Bahkan, laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menyebutkan bahwa 1 juta spesies tumbuhan dan hewan akan menghadapi kepunahan karena perilaku manusia.

Kemudian, para ilmuwan juga menyepakati untuk menahan kenaikan suhu di bawah 1,5 derajat celcius setiap tahunnya sebagai upaya menyelamatkan bumi. Namun pada kenyataannya, suhu global telah meningkat selama lebih dari seabad. Suhu melaju dalam beberapa tahun terakhir dan saat ini sudah menyentuh rekor tertinggi.

Laporan perubahan cuaca dan pemanasan global  PBB mengungkapkan, 2019 menjadi tahun ‘terpanas’ dalam periode lima tahun terakhir. Ini tentu menyebabkan dampak negatif, seperti mencairnya es di Kutub Utara akibat gelombang panas yang berkepanjangan, sehingga permukaan air laut menaik.

Hal itu makin diperparah dengan aktivitas manusia yang banyak melepaskan karbon dioksida ke atmosfer, dengan membakar bahan bakar fosil untuk energi, pertanian, dan menghancurkan hutan secara berkepanjangan. Emisi karbon ini menyebabkan efek rumah kaca, memerangkap panas, dan membuat bumi memanas lebih cepat daripada yang diperkirakan.

Konsekuensi logisnya, pola cuaca, iklim, dan lingkungan alami berubah lebih cepat daripada yang dapat diadaptasi oleh tumbuhan, satwa liar, dan manusia. Padahal saat ini, manusia juga sedang banyak menghadapi tantangan besar lainnya seperti kelaparan, wabah, dan peperangan. Hal itu semakin sulit untuk diatasi karena adanya perubahan iklim.

Lantas, apa yang harus kita lakukan? Besikap tidak peduli, sedih meratapi keadaan, atau optimis dapat melakukan perubahan?

Dari berbagai pilihan itu, sudah sepatutnya manusia bersedih tapi juga optimis. Dua hal itu yang menjadi salah satu pembahasan yang menarik dalam buku yang ditulis oleh Christiana Figueres dan Tom Rivett-Carnac ini.

Dua mantan penggagas Paris Agreement 2015 itu mengungkapkan, kesedihan bisa menjadi pengalaman yang kuat dan transformatif bagi sebagian orang. Rasa itu pun bisa menjadi alasan utama mengapa perubahan iklim terus berlanjut dan cenderung tak terkendali. Penulis bahkan tak malu untuk mengakui bahwa kita semua telah gagal untuk merasakan apa arti dan dampaknya perubahan iklim (hlm. xix).

Menurut mereka, penting bagi kita semua untuk memberi cukup waktu dan ruang bagi diri kita sendiri untuk merasakan kesedihan kita. Lalu menyatakan dan mengorganisasi kesedihan ini secara terbuka. Tujuannya adalah membangun kesadaran publik, saling terhubung, dan bertanggung jawab (hlm. 75).

Oleh sebab itu, penulis berpendapat, perubahan iklim seharusnya menjadi kepedulian utama manusia di seluruh dunia. Bahkan bagi mereka yang hanya peduli pada stabilitas ekonomi dan investasi—yang selama ini dianggap tak sejalan dengan penjagaan alam (hlm. xxv).

Penulis mencontohkan industri batu bara yang saat ini telah kehilangan nilai jualnya di sebagian besar dunia. Dari risetnya, bahan bakar ini tidak dapat lagi bersaing dengan operasi energi terbarukan yang lebih murah dan lebih bersih, seperti panas bumi atau tenaga surya. Secara global, banyak tambang batu bara dan pabrik batu bara ditutup. Ini harus jadi momentum peningkatan dalam gerakan divestasi batu bara, kemungkinan akan diikuti oleh divestasi dari bahan bakar fosil lainnya (hlm. 22-23).

Melalui contoh itu, penulis ingin mengungkapkan sudah seharusnya ada pergeseran paradigma di masyarakat—termasuk pebisnis. Ungkapan penulis ini berangkat dari adanya desakan kesedihan dari masyarakat atas semakin menipisnya cadangan energi tak terbarukan dan sumbangsih buruknya bagi alam.


CHRISTIANA FIGUERES: It is the intent, it is the decision, it is the willpower and frankly, the stubborn optimism of individuals that is going to get us onto a path of change.

Sebab, krisis yang kita alami saat ini membutuhkan perubahan total dalam pemikiran kita. Kita perlu memperbesar pendirian kita tentang diri kita sendiri dan hubungan kita dengan orang lain, serta hubungan kita dengan alam, agar bisa melanjutkan kehidupan manusia di bumi (hlm. 39).

Ketika pergeseran paradigma sedang terjadi atau bahkan belum terjadi sekalipun, kita tetap harus optimis bahwa kita bisa menghadapi masalah serius ini. Bukan apa-apa, dalam sejarah umat manusia, manusia mampu menghadapi berbagai masalah besar yang mengadang (hlm. 53).

Salah satu alat yang mampu membuat kita optimis adalah ilmu pengetahuan atau sains (hlm. 41). Bukan ilmu pengetahuan yang hanya menguntungkan praktik ekonomi yang eksploitatif warisan era industrialisasi (Fred Magdoff dan John Bellamy Foster: 2018).

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Joseph Stiglitz (2019), kemajuan ekonomi pada abad ini dan seterusnya bertumpu pada riset, inovasi, dan menjaga keselerasan dengan alam. Tentu hal itu hanya dapat dilakukan jika adanya kolaborasi dari berbagai pihak, yakni pemerintah, pebisnis, ilmuwan, dan masyarakat.

Akan tetapi, Christiana dan Tom lebih menekankan pentingnya keterlibatan masyarakat. Bukan mereka tak percaya pada pemerintah. Mereka justru mengakui pemerintah memiliki kekuatan yang besar untuk menggerakan seluruh elemen itu.

Namun, hal itu tergantung pada praktik politik dan ekonomi yang ada di suatu negara, yang lebih sering berselingkuh untuk mengeksploitasi alam. Kondisi itu membuat masyarakat hilang konsentrasi karena mengawasi politik dan ekonomi, daripada fokus pada agenda-agenda perubahan iklim (hlm. 152).

Buku yang terdiri dari tiga bab ini sangat penting untuk semua orang, terutama aktivis lingkungan hidup. Sebab, buku ini menyajikan beragam data yang lengkap dan memberikan perhitungan serta prediksi dari setiap langkah yang kita pilih untuk menjaga bumi.

Terlepas dari itu, sudah semestinya perubahan iklim harus menjadi perhatian bagi semua,  karena ini juga menyangkut keadilan antargenerasi. Sejatinya kita bukan mewarisi bumi untuk generasi mendatang, melainkan meminjam bumi yang kita tempati dari generasi mendatang. Oleh sebab itu, memastikan kehidupan yang layak bagi generasi masa depan adalah tanggung jawab moral kita yang mendalam kepada mereka. (*)

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending