Connect with us

Article

Danarto

mm

Published

on

Danarto adalah sastrawan dan pelukis terkemuka di Indonesia. Danarto dilahirkan pada tanggal 27 Juni 1941 di Sragen, Jawa Tengah. Ayahnya bernama Jakio Harjodinomo, seorang mandor pabrik gula. Ibunya bernama Siti Aminah, seorang pedagang batik di pasar.

Setelah menamatkan pendidikannya di sekolah dasar (SD), ia melanjutkan pelajarannya ke sekolah menengah pertama (SMP). Kemudian, ia meneruskan sekolahnya di sekolah menengah atas (SMA) bagian Sastra di Solo. Pada tahun 1958–1961 ia belajar di Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) Yogyakarta jurusan Seni Lukis. Pada tahun 1976 ia mengikuti lokakarya Internasional Writing Program di Iowa City, Amerika Serikat, bersama pengarang dari 22 negara.  Ia memang berbakat dalam bidang seni. Pada tahun 1958—1962 ia membantu majalah anak-anak Si Kuncung yang menampilkan cerita anak sekolah dasar. Ia menghiasi cerita itu dengan berbagai variasi gambar. Selain itu, ia juga membuat karya seni rupa, seperi relief, mozaik, patung, dan mural (lukisan dinding). Rumah pribadi, kantor, gedung, dan sebagainya banyak yang telah ditanganinya dengan karya seninya.

Pada tahun 1969—1974 ia bekerja sebagai tukang poster di Pusat Kesenian Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Pada tahun 1973 ia menjadi pengajar di Akademi Seni Rupa LPKJ (sekarang IKJ) Jakarta. Pada tahun 1979—1985 bekerja di majalah Zaman.

Danarto lebih gemar berkecimpung dalam dunia drama. Hal itu terbukti sejak tahun 1959—1964 ia masuk menjadi anggota Sanggar Bambu Yogyakarta, sebuah perhimpunan pelukis yang biasa mengadakan pameran seni lukis keliling, teater, pergelaran musik, dan tari. Dalam pementasan drama yang dilakukan Rendra dan Arifin C. Noor, Danarto ikut berperan, terutama dalam rias dekorasi.

Pada tahun 1970 ia bergabung dengan misi Kesenian Indonesia dan pergi ke Expo 1970 di Osaka, Jepang. Pada tahun 1971 ia membantu penyelenggaraan Festival Fantastikue di Paris.
Ia juga melakukan kegiatan sastra di luar negeri. Pada tahun 1983 ia mengikuti Festival Penyair Internasional di Rotterdam, Belanda.

Tulisannya yang berupa cerpen banyak dimuat dalam majalah Horison, seperti “Nostalgia”, “Adam Makrifat”, dan “Mereka Toh Tidak Mungkin Menjaring Malaikat”. Di antara cerpennya, yang berjudul “Rintrik”, mendapat hadiah dari majalah Horison tahun 1968. Pada tahun 1974 kumpulan cerpennya dihimpun dalam satu buku yang berjudul Godlob yang diterbitkan oleh Rombongan Dongeng dari Dirah. Karyanya dengan pengarang lain, yaitu Idrus, Pramudya Ananta Toer, A.A. Navis, Umar Kayam, Sitor Situmorang, dan Noegroho Soetanto, dimuat dalam sebuah antologi cerpen yang berjudul From Surabaya to Armageddon (1975) oleh Herry Aveling. Karya Danarto juga ada yang dimuat dalam majalah Budaya dan Westerlu (majalah yang terbit di Australia). Karyanya sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Jepang, Inggris, Belanda, dan Prancis. Cerpennya yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh  Harry Aveling  diberi judul From Surabaya to Armagedonn (1976) dan Abracadabra  (1978).

Dalam bidang film, ia pun banyak memberikan sumbangannya yang besar, yaitu sebagai penata dekorasi. Film yang pernah digarapnya ialah Lahirnya Gatotkaca (1962), San Rego (1971), Mutiara dalam Lumpur (1972), dan Bandot (1978). (*)

Diolah dari sumber Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. © Badan Bahasa, Kemdikbud

Continue Reading
Advertisement

Interesting Literature

Puisi Adalah Keindahan, Semata-Mata Keindahan

mm

Published

on

Oleh Nyoman Sukaya Sukawati *)

PUISI adalah keindahan. Sepenuhnya mengenai keindahan. Tidak ada di luar itu. Puisi adalah puisi, bukan kata-kata puitis.

Ia keindahan di dalam, lebih dalam dari pikiran. Puisi ada sebelum pikiran. Ia syahdu dalam letupan inspirasi. Ia sesuatu yang bermula dari getaran spirit. Ia semacam fenomena spiritual.

Keindahan puisi itu misterius, seperti kilatan cahaya di bawah horizon yang jauh tapi menjangkau mata hati. Terkadang ia berkilau secerah layar perahu yang berlayar di nadi. Kadang-kadang seterang rembulan yang muncul di suatu tempat di ruang batin.

Maka penyair adalah seorang  pertapa. Ia bertapa untuk merenungi keindahan yang halus, syahdu dan spiritual, kemudian membahasakannya.

Puisi adalah puisi. Ia bagian yang misterius dari warna sekuntum mawar atau melodi lagu yang secara rahasia bergetar dengan pesan-pesan kehidupan sebagai keindahan. Ia adalah impuls halus dari dalam putaran kehidupan yang kompleks. Ia selalu memiliki momennya sendiri untuk datang. Seperti tamu yang berkunjung, kadang-kadang pada saat kita sedang sendiri, meskipun tidak selalu. Ia datang dengan sendirinya. Tidak ada yang mengantarnya. Ia seakan bayangan dari hidup, emosi, impian kita.

Sewaktu menulis puisi, penyair bekerja dengan teknik yang melibatkan pikiran atau keterampilan. Itu tugas yang berat. Pekerjaan sulit. Tidak mudah sama sekali. Dibutuhkan ketekunan dan kekuatan besar untuk bekerja dengan kata-kata. Dibutuhkan kejujuran untuk menjangkau dan menyerap keindahannya dengan bahasa. Hal ini kemudian jadi semacam proses bermeditasi yang melibatkan suara hati, kedalaman imajinasi, pikiran, serta keterampilan menulis untuk merangkum dan meramu getaran puisi hingga sampai ke titik yang jernih.

Kata-kata puisi memiliki sukmanya sendiri. Ia dunia yang tumbuh dan bergerak dengan suara hati. Fenomena keindahan itu benar-benar tidak dapat diungkapkan secara verbal meski bisa dijangkau dan diolah oleh perasaan.  Karena itu, penyair menggunakan simbol atau metafora untuk mencapainya. Lewat metafora, puisi dapat tersampaikan ke luar dan ditangkap pikiran, setidaknya sebagai persepsi puitis. Di sini puisi kadang memerlukan pengamat, kritikus atau pengurai puisi untuk mengungkap, mengomunikasikan, dan mencairkan puisi dari berbagai sisi ilmu pengetahuan. 

Begitulah puisi. Itu sebabnya puisi bukan kata-kata puitis. Kata-kata menjadi puitis semata-mata karena dia membawa dalam dirinya getaran puisi. Kita tidak dapat mengatakan kata-kata puitis sebagai puisi, tetapi kata-kata puitis terbentuk karena merupakan bayangan puisi. 

Ketika menulis puisi, penyair akan menyerahkan dirinya kepada energi alam semesta yang sepenuhnya menggerakkan hatinya. Setiap puisi adalah fenomena rohani, suara kesunyian, kerinduan, atau keterasingan yang gemanya abadi di ruang batin. Kalimat puisi adalah metafora yang membawa dunia dan pengertiannya sendiri. Sewaktu menulis puisi, penyair sepenuhnya sedang mengekplorasi keindahan melalui metafora.

Tidak sulit meramu kata menjadi kalimat puitis tetapi puisi yang dibangun dari ramuan kata-kata puitis adalah puisi hampa. Puisi adalah manifestasi keindahan yang lahir dari kontemplasi yang mendalam. Puisi yang membentuk rimbunan kata-kata puitis.

Puisi mengabadikan pengalaman yang mendalam dari rasa keterasingan, kehampaan, kerinduan, ataupun kegelisahan dari lapisan emosi kuno di alam bawah sadar. Ia muncul sebagai fenomena puitik yang tak habis-habisnya di ruang tak terbatas. Puisi  mengangkatnya ke ruang pikiran sadar yang terbatas.

Teks, kata-kata, atau metafora memiliki keterbatasan dalam mengaktualisasikan fenomena puitik ke alam pikiran sadar. Karena itu, puisi hanyalah indikator dari keindahan puitik di alam bawah sadar. Ia ibarat puncak sebuah gunung es yang tampak di permukaan yang merupakan bagian gunung es yang jauh lebih besar di alam bawah sadar. Pada dasarnya setiap puisi adalah upaya untuk mengekplorasi keindahan di alam bawah sadar.

Tetapi penyair memerlukan tema untuk menyalurkan getaran puitik. Meski tidak terlalu relevan, namun tema adalah triger yang dapat membantu untuk masuk dan merasakan getaran puisi. Itu bagian dari teknik. Tema puisi memang tak lebih dari agregasi keterasingan, kerinduan, pencarian, atau kegelisahan jiwa manusia.

Puisi adalah puisi. Ia semata-mata keindahan. Keindahan yang jauh, dalam, redup di ruang batin. Ia mengajari kita mengenali atau memahami banyak hal namun tanpa memiliki satu kesimpulan. Ia seakan berada di ruang yang terpencil dan sunyi namun ketika kita memasukinya, kita akan dibawa untuk memahami kehidupan yang luas dan riuh. Puisi ibarat benih api dari ruang bawah sadar yang kemudian meledak, menyulut dan membakar ruang kesadaran estetika kita. Puisi terus menerus bekerja di ruangan ini.

Penyair mungkin tidak banyak berbicara mengenai teknik, tapi teknik adalah bagian dari proses kreatif dan penemuan individual. Penyair bekerja dengan tekniknya masing-masing untuk mengadopsi keindahan yang menginspirasi. Penyair mendalami tekniknya sesuai visinya. 

Puisi itu unik dan misterius. Puisi bukan cerpen atau novel yang dipadatkan. Puisi bisa hadir dalam cerpen atau novel. Puisi bisa hadir dalam lukisan atau musik. Ia bukan risalah, surat pembaca, atau pamflet protes yang ditulis secara puitis. Juga bukan sekadar kata-kata puitis. Puisi adalah puisi, dengan spirit keindahan tersendiri.

Setiap penyair menulis larik, membentuk bait-bait, dan dengan gaya bahasa yang dihidupi oleh pengalaman individual. Di sini, penyair akan berhadapan dengan dirinya sendiri dan dipaksa menjadi dirinya sendiri. 

Jika penyair disamakan dengan pelukis akan mudah untuk memahami betapa beragamnya teknik itu, dan bagaimana setiap seniman memroses visi artistiknya. Dapat dilihat Paul Gauguin, Vincent van Gogh, Pablo Picasso, Amedeo Modigliani, atau Marc Chagall yang dengan tekniknya masing-masing menghadirkan puisi yang sangat intens dalam karya lukis mereka yang berbeda. Demikian juga dengan penyair mesti mengeksplorasi teknik untuk dapat mengekspresikan kedalaman puisi mereka secara mendalam.

Namun perpuisian kita hari ini kelihatannya hidup dalam dunia yang seragam, dibentuk oleh selera dan teknik seragam. Itu mudah dilihat dari puisi-puisi yang menguasai media mainstream. Puisi berkerumun dalam teknik senada dan dalam spirit pertemanan. Penyair dilahirkan dan dipromosikan oleh pertemanan. Para penyair sibuk membangunan persekutuan. Orang-orang awam bertindak sebagai kurator atau redaktur dan menilai puisi berdasar selera pribadi, “teknik” yang sedang tren, atau karena pertemanan. 

Pekerjaan penyair sekarang adalah sibuk mengumpulkan kata-kata dan istilah dari kamus. Kata-kata itu disusun, dirangkai, dibolak-balik, menjadi larik dan digabung-gabung dengan membuat bayangan benang merah di baliknya seakan mereka sedang menceritakan sesuatu. Kalimat-kalimatnya dibiarkan tanggung atau sengaja dipotong supaya jadi puitis. Penyair lebih suka menjadi produktif dan tergesa-gesa dan tidak mendalami spirit puisinya. Bila sekarang mereka masih menulis puisi seperti itu, sebagai teknik menulis puisi bagi pemula, walau mungkin mendapat apresiasi dari beberapa kalangan, tentu tidak lama lagi hati nurani mereka akan merasa dengan sendirinya bahwa yang ditulisnya itu adalah puisi hampa yang tidak berakar pada keorisinalan puisi sejati. (*)

*) Nyoman Sukaya Sukawati, pecinta puisi. Pernah bergiat di dunia jurnalistik sebagai wartawan di sejumlah surat kabar dan televisi. Pada 2007 bukunya berjudul Mencari Surga di Bom Bali diterbitkan berkat program Widya Pataka Badan Perpustakaan Daerah Provinsi Bali bekerja sama dengan Arti Foundation, Denpasar. 

Continue Reading

Interesting Literature

(Membaca) Selama di Rumah Saja

mm

Published

on

Oleh Setyaningsih *)

Di tengah pandemi Covid-19, orang-orang semakin serius dianjurkan berada di rumah. Selama itu pula, pubik menerima tindak altruisme global berupa rekomendasi buku apa yang bisa “menemani” selama di rumah saja, diskon belanja buku tanpa perlu keluar selangkah pun, pembagian buku elektronik gratis, dan akses bebas ke laman-laman milik lembaga keilmuan bertaraf internasional. Solidaritas bersifat intelektual ini seolah meyakini bahwa keharusan berada di rumah adalah penebusan dari kekosongan besar membaca yang terenggut oleh kesibukan di luar rumah.

Membaca “mumpung” di rumah saja, tentu tidak sesederhana kelihatannya. Apalagi jika membaca tidak dipersepsikan setara dengan hal-hal rutin dikerjakan di rumah; makan, minum, masak, mandi, menonton televisi, atau belajar ala doktrin sekolahan. Bahkan beban kerja-sekolah dari luar yang dialihkan ke rumah, bisa membikin tindakan seenak rebahan sambil baca buku atau nongkrong santai berbuku ditemani kudapan serta secangkir teh, kelihatan teramat mewah di tengah keprihatinan pandemi.

Barangkali, hal yang belum tentu siap dialami setiap orang, seperti dengan tepat dibabarkan oleh Ignas Kleden (1999) bahwa membaca buku membutuhkan ketangguhan menyendiri untuk bertarung menghadapi keresahan dan kegelisahan yang sangat personal. Di Indonesia yang cenderung hidup dalam komunalitas, sesuatu terasa “dikerjakan” karena dilakukan bersama. Peristiwa yang mengharuskan ada kerumunan dan kebersamaan, misalnya nonton film, makan, pengajian, menghadapi televisi, piknik, arisan, atau bergosip lebih bisa dialami sebagai peristiwa.  

Sebaliknya saat sedang membaca, seseorang kelihatan tidak melakukan apa-apa, bahkan tampak egoistik. Apa yang dilakukan tidak berimbas secara komunal ataupun personal, dianggap menghabiskan waktu, kurang kerjaan, atau malas. Ada orang yang benar-benar merasa risih, kesal, atau gemas melihat orang lain bisa begitu hening terbenam dalam kedalaman buku. Di tengah pandemi Covid-19, membaca berarti butuh keberanian berlipat. Pengucilan secara fisik dari dunia luar sekaligus pengucilan batin ke dunia di dalam buku. Aduh!

Buku Sebagai Penyembuh

Kita mungkin sempat menduga buku jenis apa atau siapa paling bersuka cita menyambut altruisme intelektual dari jagat perbukuan ini. Penerbit buku independen Marjin Kiri membagikan buku gratis berbobot yang bisa diunduh dalam format pdf berjudul Lingkungan Hidup dan Kapitalisme: Sebuah Pengantar (Fred Magdoff dan John Bellamy Foster, 2018) dan Mengukur Kesejahteraan: Mengapa Produk Domestik Bruto Bukan Tolok Ukur yang Tepat untuk Menilai Kemajuan? (Joseph E. Stiglitz, Amartya Sen, dan Jean-Paul Fitoussi, 2011). Dua buku menuntut “mikir” dan menyasar ke kalangan muda, mahasiswa, akademisi, aktivis, atau memang pembelajar-pembaca buku segala.    

Bandingkan dengan kabar yang dikirim toko buku dari penerbit mayor Mizan, Mizanstore.com, melalui surel pada 27 Maret 2020. Mizanstore.com menawarkan dengan genit dan akrab, “Nah, buat kamu yang sudah #dirumahaja, inilah apresiasi untukmu! #Mizan37hadir untuk menemanimu menghadapi situasi sekarang ini. Kamu bisa dapatkan produk-produk terbaik Mizan Grup di tahun ke-37 ini dengan diskon 30-70%! […] promo #Mizan37 akan hadir tanggal 1-2 April 2020 hanya di Mizanstore.com. Tentunya, #dirumahaja dan tak perlu kemana-mana. Cukup siapkan gadget kamu, order, dan tunggu di rumah sambil rebahan.” Ah, terima kasih teknologi!

Mengingat sedang menghadapi pandemi, Mizanstore.com tentu lebih menawarkan buku yang menyokong jiwa, romantis, populer, dan ringan. Buku membuat perasaan merasa lebih baik daripada menuntut mikir, di antaranya novel kisah cinta dari wattpad berjudul Kudasai garapan Brian Khrisna dan nonfiksi dari pengalaman luka hati berbumbu parodi I Want to Die But I Want to Eat Tteokpokki garapan Baek Se He yang laku keras di Korea Selatan. Mizanstore.com bahkan memprovokasi buku garapan Baek Se Hee adalah buku favorit selebritas Korea, RM BTS. Referensi bacaan selebritas, apalagi dari Korea, dianggap cara jitu memasarkan buku.

Di tengah pandemi, cukup berisiko menawarkan bacaan yang berpotensi melipatkan kecemasan, seperti kembali mengingat kegawatan Kota Oran di Aljazair saat diserang wabah sampar lewat novel Albert Camus berjudul Sampar (YOI, 2013) atau ikut berkubang dalam wabah kebutaan putih mencekam seperti dengan ngeri-realis ditulis oleh Jose Saramago dalam Blindness (Matahari, 2015). Tentu sempat ada kelakar seandainya novelis Amerika Latin Gabriel Garcia Marquez masih hidup hari ini, tentu dia akan menjuduli novelnya Love in the Time of Corona, bukan Love in the Time of Cholera.   

Buku sebagai teman dan penyembuh yang baik saat kita mengingat novel bertema buku Toko Buku Kecil di Paris (2017) garapan Nina George. Jean Perdu, pemilik toko buku dalam kapal dinamai Literary Apothecary, lebih berperan sebagai pembaca dan peresep bacaan berdosis tepat daripada penjual buku yang berorientasi pada laba. Meski menyebut diri apoteker literatur, Perdu justru bukan orang yang benar-benar sehat dan masih menyimpan luka hati selama 21 tahun.

Karena luka inilah, Perdu jitu menandai siapa paling tepat mendapat buku apa, “Kadang-kadang lusinan kolektor datang berebut demi sebuah buku, tapi Perdu akan memilih orang yang menurutnya merupakan teman, kekasih, atau pasien ideal buku itu; uang urusan kedua,” Misalnya untuk orang-orang yang menganggap buku sebagai udara segar di tengah kepenatan hidup, Perdu meresepkan novel. Perdu sadar tidak semua pengunjung benar-benar menginginkan bacaan yang sehat. Di sana juga kedatangan tipe pelancong yang suka memotret dan keranjingan segala pernik berbau literer. Ada juga yang memegang buku sembarangan tanpa perasaan apa pun. Buku memang penyembuh di tangan seorang peresep yang tepat, “Perdu berpikir bahwa orang salah menganggap tugas penjual buku semata menjaga buku. Mereka menjaga orang-orang.”

Setelah dua minggu pengucilan panjang dan masih akan diperpanjang, muncul spekulasi penuh harapan semacam “apa yang ingin anda lakukan setelah wabah ini berakhir?” Membaca atau lebih keranjingan membaca buku barangkali tidak ada dalam daftar, setidaknya 10 daftar teratas. Begitu pengucilan fisik sekaligus batin bisa diakhiri, peristiwa berkerumun tentu yang paling didamba dan dirindukan.

Sebelum spekulasi penuh harap benar-benar terjadi, buku di tengah pandemi turut mengisi keprihatinan sekaligus pernyataan siapa pun tidak didiskriminasi sebagai pembaca. Sokongan teknologi membuat setiap orang semakin mudah turut arus kebudayaan modern sejak penemuan mesin cetak di abad ke-15. Meski jelas, kita tetap butuh duit untuk membeli buku. Apalagi saat ini, semakin terasa buku bukan kebutuhan pokok sama mendesak dengan bahan pangan. Meski budaya berbuku telah tersebar, buku memang masih cenderung jadi konsumsi masyarakat menengah ke atas.

Selamat berani membaca selama #dirumahaja. Tetap kalem dan pastikan juga gawai cukup kuota.  

*) Esais, penulis buku Kitab Cerita (2020) –Pembaca buku anak

Continue Reading

Interesting Literature

Puisi: Sesuatu yang Saya Tidak Pernah Sampai Kepadanya

mm

Published

on

Oleh Rizka Nur Laily Muallifa

Ada terlalu banyak puisi bagus. Di instagram, di facebook, di twitter, di laman-laman sastra, di koran, di buku, dan di mana saja. Saya memilih membawa pulang dua saja. Pertama puisi Bunga Hening Maulidina. Selanjutnya, puisi Joko Pinurbo. Alasannya dua, puisi-puisi mereka senantiasa rimbun kasih sayang dan mudah saya baca.

Kedua alasan itulah yang rekat dalam diri saya setiap menghadapi puisi, dan kemudian jenis tulisan lain. Membaca puluhan puisi yang terserak di berbagai media membuat tafsiran saya akan puisi semakin tidak jelas juntrungnya. Di sebuah lapangan, kata-kata berlarian bebas tanpa beban apapun sekaligus memendam kegelisahan paling rentan. Kata-kata bernada lugas sekaligus mengular seperti lupa letak pintu keluar.

Saya yakin, pertemuan-pertemuan bertajuk workshop menulis puisi akan tak terlalu berguna bagi tumbuh kembang puisi secara teknis. Seluruh puisi yang dikirim kawan-kawan dari berbagai daerah sudah menunjukkan bagaimana mereka hidup dan menghidupi puisi. Asumsi ini saya ajukan dengan dalih memberi beban pengertian pada puisi sebagai “permainan kata-kata”. Puisi yang dikirim kawan-kawan untuk mengikuti kurasi menjelang workshop tidak ada yang tidak memenuhi kaidah itu.

Kelahiran Puisi

Guna membicarakan dari mana puisi berasal, menjadi penting untuk membuka lagi Puitika-nya Aristoteles (Basabasi, 2017). Menurut Aristoteles, penciptaan puisi pada dasarnya terjadi karena dua hal. Pertama, insting manusia untuk merepresentasikan sesuatu. Kedua, manusia pada umumnya gemar terhadap sesuatu yang merupakan hasil representasi.

Pengetahuan manusia paling awal dimulai berkat representasi. Manusia mengetahui sesuatu karena ia merepresentasikannya. Kita cerap nukilan kisah Adam berikut ini. “Ia terbangun dan teringat bahwa ia tadi tidak sadar. Ia merasa terhibur mengenali kemampuan ingatannya, bermain-main dengan melupakan dan mengenang, sampai ia melihat sesosok perempuan di sisinya. Lelaki itu berbaring tenang mengamati kebingungan si perempuan, cahaya di sepasang matanya, lenturnya cara ia bergerak untuk menyesuaikan diri dan mengenali dirinya sendiri.” (Gioconda Belli, 2019: hlm. 5).

Pengisahan Belli tentang keterpukauan Adam melihat Hawa ialah contoh yang tepat untuk menafsir asal muasal puisi menurut Aristoteles. Apa yang terjadi dengan manusia pertama dalam jagat fiksi Belli (Ketakberhinggaan di Telapak Tangannya, 2019) itu mudah saja kita jumpai dalam kehidupan setiap dari kita. Kita tak ubahnya Adam yang tidur dan menuai ragam buah mimpi. Ketika sadar, kita masih akan terpukau atau sedih atau marah karena mimpi-mimpi tidur kita sampai di ambang kesadaran. Sampai kemudian kita mencapai kesadaran optimal dan merespons hal-hal di sekitar dengan segala perangkat yang kita miliki.

Adam sebagaimana kita, merepresentasikan dan menyukai hasil representasi atas segala sesuatu. Kebingungan Hawa, cahaya di sepasang matanya, gerak tubuhnya yang lentur, semuanya ialah representasi Adam. Sama seperti puisi-puisi yang kita baca atau bahkan sudah kita tulis. Dalam kenyataan, katakanlah di hadapan kita ada seseorang dengan “sepasang mata mengantuk”. Kita menghadirkannya dalam puisi sebagai “cahaya di matanya yang selalu hidup”. Representasi selalu bergerak bebas mengikuti tafsiran –kalau enggan disebut kemauan— si pencipta.

Puisi yang Mudah Dibaca

Saya yakin kalau setiap orang mengatakan apa sebenarnya puisi itu. Saya akan dengan mudah menyetujui setiap definisi yang mereka ajukan. Sepanjang pendefinisian itu disertai dengan teks dan konteks yang masuk akal bagi saya. Definisi puisi yang saya amini tapi susah saya realisasikan datang dari Aristoteles. Ia mengatakan bahwasanya puisi lebih filosofis dan lebih serius daripada sejarah (2017, hlm. 39). Sementara kacamata pengetahuan saya menempatkan sejarah sebagai sesuatu yang sangat serius. Dan puisi –dalam sempit pengetahuan saya— belum pernah melebihi keseriusannya.

Sebagai tahap mula-mula, saya merasa perlu mendudukkan puisi sebagai “sesuatu yang mudah dibaca”. Seserius apapun suara yang ingin dikatakan puisi, menjadi lebih kuat gaungnya ketika ia mampu dibaca lebih banyak orang. Penempatan ini sama sekali bukan dimaksudkan untuk mengebiri puisi-puisi yang mengambil pendekatan lain. Saya mafhum, setiap penulis juga perlu mengalami otak-atik bahasa, mendaki tangga demi tangga kebahasaan dari yang sederhana sampai paling rumit.

Izinkan saya meminjam puisi Jokpin. Waktu itu kau habis cekcok/dengan ponsel kesayanganmu/Kau kecewa dan marah/kepada hatimu sendiri: “Kembalikan kewarasanku!” (Perjamuan Khong Guan, 2020: hlm. 57). Puisi ini jelas mudah dibaca. Definisi mudah dibaca itu tak menyurutkan apa yang hendak disampaikan Jokpin. Kita membaca dengan lekas, tapi pikiran mengenai segala kata-kata tadi tak segera berakhir.

Efek yang sama juga saya alami ketika berhadapan dengan puisi Bunga. Mari kita cerap dengan utuh. Jawaban/Itu ada dalam tiap kesempatan/Hanya kau mau mendengar atau tidak/Peringatan itu ada/hanya kautunduk atau ingkar (Menghidupi Kematian, 2018: hlm. 48). Sebagaimana yang terjadi saat membaca puisi Jokpin, puisi Bunga ini cepat selesai saya baca, tapi tidak lekas usai begitu saja. Kapanpun saya membaca puisi Bunga yang berjudul Jawaban itu, buntutnya selalu panjang dan berlain-lainan. Teks itu selalu hidup dalam konteks yang berlainan wujudnya. Tsah!

*) Rizka Nur Laily Muallifa. Pembaca tak tahan godaan. Menghidupi Kematian (2018) ialah kumpulan puisi yang ditulis bersama tiga kawannya. Tulisannya pernah tersiar di Koran Tempo, Kedaulatan Rakyat, Solopos, Suara Merdeka, Koran Madura, Radar Bojonegoro, detik.com, alif.id, basabasi.co, dan beberapa lainnya.

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending