Connect with us

Puisi

Dalam Tungku Waktu Sajak-Sajak Membakarku

mm

Published

on

I

Angin dari ujung waktu

Menyergapku—oleng aku

Oleh hampa

Luruh dalam waktu

 

Hanya dentang lonceng

Membawaku pada segala berlalu

Jembatan fana yang menghubungkan derita

 

Dalam sendiri kini kupagut

Cinta yang maha…

 

Lagu-lagu mengalun

Menghilangkan bahasa

Dari tiap jengkal sisa jiwa

Hanya bunyi-bunyi tersunyi

Menyergapku dalam ria tanpa umpama

 

Dewa-dewa dan dewi-dewi

Menaburkan daun-daun asmara

Membungkus sukmaku yang telanjang

Aku beringsut seakan tenggelam

Dalam lautan paling jauh

 

II

 

Kutunggu kapal-kapal berlabuh

Kapal-kapal kekosongan

Yang tersesat dari dermaga

Didorong angin dari ujung waktu

Buat menyusulku kembali

Menjemputku pada derita sehari-hari

 

O betapa takut sukmaku

Terdampar dalam riuh kota

Yang dindingnya terbuat dari sajak palsu

Dari para penyair yang sibuk

Memantaskan diri dalam bianglala

Sementara lampu-lampu kota

Telah jadi kesepian

Ditinggalkan para penyair

Dilupakan para pelacur kota

Entah ke mana mereka…

 

Aku sendiri telah lupa

Cara bicara dengan lampu-lampu kota

Sejak berumah dalam dingin AC

Gorden-gorden dirapatkan

Jendela dimatikan

Tak serintik pun lembab hujan

Dapat kujadikan kanvas

Untuk melukis kehilanganku

 

III

 

Malam kembali lagi—malam yang lain

Pada bulan dan gemintang yang lain

Tapi siapa masih peduli

Pada cahayanya?

 

Telah berganti menjadi gambar belaka

Maka dengan kepedihan kumakamkan

Rembulan dan gemintang dalam pikiranku

Kutaburi dengan kembang kemuakkan

Aku terjatuh pada rasa iba

Pada hasrat manusia kota

 

Seperti air terjun gemuruh dimataku

Sukmaku terlempar

Dalam pusaran keriuhan

Beserta segenap omong kosong

Yang tak satu kembang pun

Tumbuh mekar karenanya

IV

 

Dari sunyi ke sepi

Orang-orang berlari

Aku tertinggal sendiri

Duduk di kursi sunyi

Ragu buat turut berlari

Menuju entah

 

V

 

Malam kembali lagi—malam yang lain

Pada bulan dan gemintang yang lain

Tapi siapa masih peduli

Pada cahayanya?

 

Kuhunus sajakku

Jika mungkin kan kubelah sunyi

Yang ditinggalkan penyair musim

 

Kesunyian adalah buah anggur

Atau kursi dari kayu eboni

Di malam perjamuan, atau

Lampu-lampu di jembatan New York

Atau sedu bocah kecil

Yang mengira ibunya pergi dengan terluka

 

Tapi taka da kesunyian di New York

Tak ada sunyi dalam perjamuan

Atau dalam anggur khayalan

Yang telah berganti menjadi sorgum—

Tak ada kesunyian dalam tangis bocah lelaki

yang kalah main gundu

Kesunyian telah dibawa lari

Oleh Don Quixote—

Tapi bukan oleh kudanya.

 

“Kesunyian selalu berlari sendirian

Membelah lautan terjauh

Dalam bola mata para pecinta

Yang ratapnya menjelma kuda-kuda

Dan rindunya menerbangkan rajawali

Ke dalam ruh orang-orang terhukum

Mesti menanggung ganti

Dari tiap jengkal jantung Prometheus.”

 

VI

 

Aku sudah menunggu tiga hari

Ketika langit hilang warna

Pucat seperti kesunyian yang terabaikan

Tapi kulihat rambutmu berwarna kemerahan

 

Kukira… tapi itu telah jauh sekali

Aku tak ingin mengatakannya

Tapi coba lihat dalam jiwaku

Segala telah kukuburkan hari ini

Kau yang membunuh segala yang kanak-kanak

Dan aku dalam kegugupan

Menghadapi surga dan neraka tanpa perjanjian

 

VII

 

Lalu pada punggungmu kurebahkan amarahku

Kota-kota marah—atau memendamnya

Di antara omong kosong dan lampu malam

Siapa begitu perduli pada lukanya jiwa?

 

Kita terbenam pada segelas kopi

Terisi penuh oleh dendam

Tapi ada kekasih jiwaku

Mengajakku pulang dari rasa muak

 

Tapi sungguh aku ingin pergi

Menyusuri sungai dalam belantara sepi

Seolah di sana kita telah pergi begitu jauh

Seolah kita kelana dalam dunia kabut

Di mana batu-batu berlumut

Dan harimau paling ganas—

Sama mengadu tentang kesunyiannya

 

Tapi aku hanya tergolek dalam kamarku

Menunggu subuh yang dingin

Subuh yang suci—berumur hanya sejenak

Dari deru pertama kereta;

Segera memboyong derita dari peraduan

Melemparkan setiap orang ke dalam

Ruang-ruang paling terasing

Untuk kembali membisu

menahan derita sendiri-sendiri—

Seperti subuh yang suci.

 

VIII

 

Kini seakan dermaga terbelah cahaya pertama

Seekor burung tergagap dari ingatan-ingatan

Tentang wadag nun jauh

 

Aku menepi dari tengah gelombang

Dengan perahu yang terbuat dari sajak derita:

 

“Kita telah terkutuk wahai penyair,

Siapa masih peduli pada burung-burung?

Juga pada penyair?

Kita lelah memeluk gelombang

Menerjang malam hanya untuk

Kesunyian yang asing—

Tapi orang-orang lelap

Mengubur dunianya sendiri

Hanya untuk berlari, mengejar kereta pagi

Atau berebut saling melewati

Untuk sampai pada segala benda-benda

Mereka tak mengerti omong kosong

Atau merayakan kesia-siaan, lantaran

Mereka tak punya impian apa pun

Kecuali gaji bulanan, yang segera berganti rupa

Menjadi hiburan atau kepandiran.”

 

O betapa pandir para penyair?

Mengira surga seperti taman paling sepi

Bagi hasrat yang berlari

 

O malam yang lain kembali

Seakan kita terjebak lagi

Dalam keterpisahan yang jauh

Kita duduk lagi, lalu berusaha

Menggambar kengerian

Kengerian yang rapuh

Kerapuhan yang halus

Seperti aroma kopi;

Lalu segala jadi sepi;

Seperti angin dingin kala subuh suci.

 

IX

 

Dari lembah-lembah Merapi dalam ingatanku

Kabut dan dingin;

Orang-orang bicara pada rumput dan ranting

Pada sepi dan anjing

Mereka bicara pada diri sendiri

Seakan Tuhan tengah

Menatap dari balik kabut, menjelmakan

Dingin dan juga sepi—

 

Tak ada lagu-lagu atau balada

Segala yang hidup, hidup dalam sunyi,

Cahaya mentari adalah waktu

Senja berwarna merah tomat

Adalah penanda musim bercinta

Bagi lelaki renta dan perempuan senja usia;

Keduanya duduk menghadap tungku

Api membakar; kayu membakar

Jiwa-jiwa terbakar

Mereka dalam batas-batas terdekat

Dari kehidupan dan juga kematian—

Cinta begitu dingin

Asmara alangkah hangatnya

 

Sementara gelap telah menjadi gelap

Aku menghisap sebatang rokok

Seketika menjadi seonggok dingin

Membeku, aku menjadi kabut menjadi dingin;

Aku mencari lembah di antara bayangan dadamu

Seketika seakan dingin dan api

Tiada berbeda, dalam dadaku

Kehilangan-kehilangan membakarku.

 

Aku telah berlalu dan tak pernah kembali lagi

Kabut dan dingin, tungku api dan rindu yang purba

Tarian debu dan ranting-ranting

Kesunyian di antara hutan jati dan

Sungai paling sunyi—kubawa serta

Kupikul di pundakku: seperuh kesedihan

separuh tarian paling ceria, seakan tida beda

Bagi hidup yang terus menjauh…

 

X

 

Di depanku kini segelas kopi

Atau tuak—

Setiap kali hanya membenamkan

Ingatan yang kureguk

Di antara lagu-lagu disko atau

Bunyi klakson yang menghancurkan

Setiap kesunyian—

Lagu-lagu tentang waktu

Yang tak bisa kumengerti

Aku duduk sendiri;

mencarimu dalam kabut di dadaku

Lalu kutemukan kau

Di antara waktu; kita duduk bersama

Di antara lampu-lampu yang kau sukai

Segelas air putih dan gelak tawa

Aku memastikan diri, bahwa

Kau akan juga mengajakku pulang

Sebab jika tidak aku akan lagi

Terpelanting dalam kabut dan dingin

Tertinggal sendiri—tersesat di antara

Belukar rasa bosan dan sungai-sungai

Yang hanya berupa bayangan:

 

Lelaki tua dan perempuan senja usia itu

Memandangku kembali dari kejauhan

Seperti bayangan-bayangan atau hanya ingatan;

“Setiap jiwa memendam lukanya;

Seorang memilih pergi, yang lain tinggal

Itulah kenapa kita menyalakan tungku

Sendiri-sendiri membakar kengerian

Sebab hanya dalam sunyi

Luka-luka menjadi kembang

Yang mekar dalam kabut dan dingin

Sisanya sepi…”

 

Kabut menelan hamparan cerita

Habis juga pandangku

Kunyalakan sebatang rokok

Meraih tanganmu yang dingin

Sepanjang jalan di Jakarta

Tak ada kabut dan dingin

Lalu kupandangi bola matamu

Aku tersesat lagi…

 

Sabiq Carebesth | Kalibata, 10-14 Juni 2016

 

Continue Reading

Puisi

Sajak Sajak Sabiq Carebesth

mm

Published

on

Prometheus

 

Untuk melihat pada yang jauh

 

Jika tidak ada kehidupan

Kisahku tiada rekah

Tapi cintaku

Kusimpan sendiri

Sebagai nyala api

 

Biar aku dikutuk

Biar jantungku habis tertikam

Denyutnya mengisahkan cinta

Sebab tiada cinta

Bebas dari kutuk nestapa

 

Hanya jika kaku tahu

Getarnya membuat burung bul bul

Menari—dan sepasang kekasih

Membumbung dalam dekap dan tari

Tiada kan padamu sesal mencinta

 

Jika taka da cinta

Sajakku tiada kan jadi lagu

Tapi hatiku

Kusimpan sendiri

Supaya dapat kukenang

Cintamu yang menari

Waktu itu…

 

Jakarta, 26 Juli 2018

 

Kadang-kadang

 

Dijariku sebatang rokok

Waktu malam ditinggal

Oleh keributan siang tadi

Aku bicara pada angin

Aku bicara pada bayangan

Aku

Aku

Bicara

Apa kau mendengarnya?

 

Sajak-sajak adalah aku

Aku sajakmu

Kadang-kadang

Sajak-sajak hilang

Seperti waktu

Kadang-kadang

Hanya malam kelu

 

Aku membayangkan

Tentang waktu dan sajak-sajak

Tentang aku dan kamu

Tentang kesia-siaanku

Juga tentang kesia-siaanmu

Kecantikanmu

 

Para penyair adalah kekasih

Bagi kesunyiannya sendiri

Kadang-kadang—tak lebih dari itu.

 

28 Agustus 2018.

 

Sajak Berjudul Namamu

 

; Gui

 

Pergilah pada kejauhan

Tapi tinggalkan wangi tubuhmu

Biar kucumbu;

Rambutmu yang malam

Pipimu yang senja

Suaramu yang subuh

 

Bawa serta lelapku

Di antara lekuk lehermu

Mimpiku yang kusemai

Di punggungmu yang gurun bersalju

 

Matamu gema

Nyanyian sukmaku

Dari mana aku dulu berangkat

Menjemput penantianmu

Dari kesunyian maha purba

 

Pergilah pada kejauhan

Aku takkan kemana-mana

Kenakan gaun warna hitam

Biarkan aku lelap sekali lagi

Dalam debur gemuruh

Dari samudera membentang

Di antara payudaramu yang gemintang.

 

1 September 2018

 

Continue Reading

Puisi

Sajak-sajak Afrizal Malna

mm

Published

on

Zhenghui, aku mengagumi lukisanmu, yang kembali ke kertas bubur beras dan tinta China. Angin menjelang musim dingin mulai menyapa leherku.kartu identitas penduduk di china

kartu identitas penduduk di china

untuk lan zgenghui

Aku sudah menyiapkan tas ransel, mesin pencukur jenggot, dan sebuah kebangsaan yang dipotret di kantor kecamatan. Setiap terbangun, aku takut ketinggalan pesawat. Atau menemukan diriku sedang bercinta dengan bahasa China di kamar orang lain. Hari Selasa kemarin tidak datang. Besok masih besok. Kemarin entah ke mana sebelum hari Minggu. Hari Selasa masih menunggu kemarin yang tidak datang. Hari Selasa bukan hari Selasa kalau belum hari Selasa.

Besok, hari Selasa mulai akan melubangi bayanganku dari punggungku, untuk mendengar bahasa China dari sipit mataku hingga hardware komputerku. Besok masih besok sebelum kemarin. Hari Selasa tidak menyimpan 100 tahun dari ketakutan setiap generasi pada Kartu Identitas Penduduk, pendidikan dan lapangan kerja. Orang-orang membuat rumah untuk berdusta. Menjeritkan generasi yang berceceran di tangga eskalator. Dan menjeritkan lagi ketakutan mereka di atas great wall. Sejarah seperti obeng dan gergaji yang menjauhkan manusia dari tangan-tangan waktu.

Apakah kamu dari Indonesia? Tanya supir taksi. Ya jawabku. Seperti menjawab suara jeritan dari toko-toko yang terbakar di Jakarta. Perempuan mereka yang ditelanjangi dan diperkosa. Tubuh-tubuh yang berubah menjadi arang hitam. Sejarah yang mengambil tangan kita, dan membenamkannya kembali berulang ke dalam luka yang sama. Luka yang kembali bertanya: Apakah kamu dari Indonesia?

Pagi itu kabel-kabel listrik di jalan masih menahan dingin, melepaskan sisa-sisa malam, lemak dan kembang api olimpiade. Seorang teman memesan topi Mao. Apa yang aku kenang tentang negeri ini dari great wall, topi bulu musang dari Mongol, teguran politik dari Tibet, air terjun manusia yang tumpah dari lubang langit – hingga manajemen komunis yang mengatur penghasilan penduduk sampai kamar hotelku.

Zhenghui, aku mengagumi lukisanmu, yang kembali ke kertas bubur beras dan tinta China. Angin menjelang musim dingin mulai menyapa leherku.

khotbah di bawah tiang listrik

Aku membiarkan malam membuat balok kayu di punggungku. Angin berhembus seperti tiang gantungan yang menyeret talinya sendiri. Seorang lelaki, setelah menutup pintu mobilnya, berlari ke tiang listrik. Suara lubang dari tubuhnya terdengar mengerikan seperti suara sel penjara jam 11 malam. Kenapa kau berada di luar khotbah yang kau buat sendiri? Kenapa ada lendir yang menetes dari jam 11 malam?

Lelaki itu adalah jam 11 malam yang meninggalkan khotbahnya sendiri. Adalah jam 11 malam yang baru menemukan lubang sebesar paku di telapak tangannya sendiri, menyeret kesunyian dari leher tuhan yang telah menciptakan lelaki jam 11 malam. Bekas kawat berduri di keningnya, dan sisa-sisa nikotin di jari-jari tangannya. Lelaki itu membersihkan semua vagina untuk menemukan anaknya, khotbah-khotbah yang selalu ditutup dengan hujan yang digantung di tiang listrik.

Benarkah, tuhan, benarkah aku bisa melihat? Benarkah aku bisa mendengar? Benarkah, tuhan, benarkah aku sedang berdiri di bawah tiang listrik ini? Benarkah aku telah menggantikan khotbah dengan kematianku sendiri, bukan dengan kematian orang lain. Benarkah aku sedang berjalan meninggalkanmu, meninggalkan pakaianku di dalam mobil. Benarkah tubuhku telah menjadi lantai dalam geraja itu.

antri uang di bank

Seseorang datang menemui punggungku. Membicarakan sesuatu, menghitung sesuatu, seperti kasur yang terbakar dan hanyut di sungai. Lalu ia meletakkan batu es dalam botol mineralku.

batu dalam sepatu

Selamat pagi Kamsudi, selamat pagi Busro, selamat pagi Remy dan Aidil yang marah. Kami masih di sini, di warung sop buntut kemarin, gelas kopi kemarin, asbak dan kursi plastik kemarin. Kami masih menjaga sebuah batu yang kami simpan dalam sepatu kami. Kami memotret tubuh kami sendiri di depan warung kopi, di samping tong sampah. Rambut putih yang putus dari kepala kami, setelah tertawa tertahan, dan hari kemarin masih di sini.

Selamat pagi, waktu. Selamat pagi semua yang telah menggantikan malam kami dengan cerita-cerita kecil. Waktu yang melapukkan atap kamar tidur kami, sebelum kami sempat terpulas, mengintip mimpi dari tembok-tembok berjamur. Hampir 50 tahun kami menunggu hingga sepatu kami kembali berubah menjadi kulit sapi. Waktu, seperti makhluk-makhluk asing yang beranak-pinak dalam tubuh kami. Puisi yang sampai sekarang tidak tahu bagaimana cara menuliskannya: 12 selimut untuk teman-teman dari Makassar. 12 selimut untuk teman-teman dari Padang dan Lampung.

Dan besok, besok kami akan datang lagi ke warung kemarin, ke Jalan Cikini kemarin yang telah menjadikan tubuh kami sebagai percobaan waktu untuk menunggu, percobaan menunggu untuk bisa melihat, percobaan melihat untuk mengenal kedatanganmu tak terduga. Percobaan untuk tetap berada di hari kemarin. Para gubernur datang dan berganti di kota ini, seperti permainan dalam kota-kota kolonial. Membuat peti telur untuk puisi dan teater.

Kemarin. Kami—kami tidak pernah tahu tentang hari ini dan hari esok. Dan batu lebih dalam lagi, lebih keras lagi, antara sepatu dan kulit sapi. Batu—untuk semua negeri yang terlalu curiga pada kebebasan, pada kemiskinan dan orang-orang yang masih tetap berjalan dengan kakinya.

kesepian di lantai 5 rumah sakit

Lelaki itu menatapku setelah selesai mengucapkan doa. Keningnya seperti mau berkata, apakah aku sedang membuat dusta? Aku menghampirinya, dan mencium bibirnya. Tubuh manusia itu sedih dan menyimpan bangkai masa lalu. Tetapi keningnya mengatakan, bahuku sakit dan bisa merasakan ciuman dari seluruh kesepian.

Aku kembali mencium lelaki itu, seperti jus tomat yang tidak tahu kenapa lelaki itu berdoa dan sekaligus merasa telah berdusta. Aku memeluk lelaki itu di lantai 5 sebuah rumah sakit. Lelaki itu melihat ambulan datang dan menerobos begitu saja ke dalam jantungnya. Dia tidak yakin apakah ambulan itu apakah jantung itu.

Lalu aku melompat dari lantai 5 rumah sakit itu, lalu aku melihat tubuhku melayang, batang-batang rokok berhamburan dari saku bajuku. Aku melihat kesunyian meledak dari seragam seorang suster, lalu aku tidak melihat ketika tiba-tiba aku tidak bisa lagi merasakan waktu: tuhan, jangan tinggalkan kesepian berdiri sendiri di lantai 5 sebuah rumah sakit. Lelaki itu tidak tahu apakah kematian itu sebuah dusta tentang waktu dan tentang cinta.

Lelaki itu kembali menatapku setelah selesai mengucapkan kesunyian, dan membuat ladang bintang-bintang di kaca jendela rumah sakit. Ciumannya seperti berkata, kesunyian itu, tidak pernah berdusta kepadamu. Aku lihat wajah lelaki itu, seperti selimut yang berbau obat-obatan. Perangkap tikus di bawah bantal. Dan kau tahu, akulah tahanan dari luka-lukamu.

__________________

*) Afrizal Malna lahir di Jakarta dan kini bermukim di Yogyakarta. Penulis buku sajak “Bantal Berasap: Empat Kumpulan Puisi (2010). Dan beberapa kumpulan sajak, kritik sastra dan naskah drama lainnya.

 

Continue Reading

Puisi

Puisi-Puisi Wawan Kurniawan–Variasi Mimpi Setelah Menelan Pil Obat Tidur

mm

Published

on

Variasi Mimpi Setelah Menelan Pil Obat Tidur

 

1.

dua ekor kelinci melompat girang

masuk ke dalam dua bola matamu

lubang sembunyi paling dalam.

 

2.

setengah rumah kita

adalah halaman belakang yang lapang

menampung gugur daun yang subur

membunuh dirinya beserta kebisinganku.

 

3.

anjing merah berlari mengejar

bayanganku – sedang aku berdiri

di atas batu hitam tua yang merana

menangisi kematianku hari rabu nanti.

 

4.

di jalan batua, toko kecil mulai dibuka

para pembeli datang dengan anak kecil

yang merengek minta beli balon hijau

tapi kemudian toko meledak satu per satu.

 

5.

pepohonan di tebang begitu saja

mereka jatuh sebelum diterjemahkan:

kepada aspal yang mendidih, klakson

kendaraan yang bising, serta kepada macet

dari satu waktu ke masa lain yang entah kapan.

mereka tumbuh tak lagi bertubuh.

6.

di pantai losari,

seseorang lelaki bermata sipit

menggendong anaknya yang hitam,

seorang penjual coto membuang mangkuk

dan seketika menjelma perahu raksasa,

kita pun pergi mencari tempat lain yang jauh.

 

7.

kuah coto menjadi ombak kecil

menenggelamkan lambung dan

jantung yang ingin jadi jembatan

antara kematian dan kehidupan hari

kemarin dan masa depan nanti.

 

8.

kulihat kau terbangun

menarik selimut menutup mayatku

dan tidur terasa semakin panjang dan hening.

 

Kwatrin Tentang Seorang Jung

 

Di meja, tumpukan kertas serta debu menjelma kamu

merangkak masuk ke dalam kepala sebagai tamu

dia berjaga di batas kesadaran dan ketidaksadaran

lalu palang di ingatan pun akan musnah berhamburan

 

Tapi kapan pertemuan denganmu tiba tanpa harus menanti

lebih lama lagi, aku tak pernah benar percaya kepada mati

dan apa yang kurapalkan bukan lagi berasal dari hati

melainkan ketakutan – jikalau manusia tak mampu mencintai.

 

Sebut Saja Aku Mimpi Buruk

 

bangunlah sepagi mungkin,

aku paham kau mencari terbit matahari

kau juga telah berkeras menerima gelap

dalam nasib buruk yang berbaik hati lenyap.

 

biar hari kemarin tetap terjalin dalam puisi

besok pun akan demikian adanya.

aku tak beranjak sama sekali,

bahkan selangkah pun.

 

tapi kau ingin melihat kota lain –

dengan kerlap kerlip lampu begitu mewah

serta kabar baik masa depan yang megah.

 

celakanya, aku bersetia pada masa lalu

biar hari berlalu aku terlampau melaju

pada ulang kenangan yang akan menang.

 

kasih tak akan habis berkisah.

meski kau hendak membawa kecupmu

kepadanya.

di masa yang cepat dan kau susun

dengan pasti; aku dengan lamban

mencintai segala yang tak kukenali.

 

maka selamanya,

sebut saja aku mimpi buruk.

 

Kau Belum Bangun Pagi Ini

 

Di jendela, kulihat cahaya mencari cara

Agar diriku percaya pada dunia pagi ini

Tapi tumpukan buku, kertas dan cemas

Berubah jadi semesta gelap yang hangat

Membiarkan tubuh terbaring dan merasa

Jikalau langit kamarku tak terasa tinggi lagi

Aku melihatmu terlelap dan segala di sisimu

Seakan jadi rumput basah dipeluk embun

 

Kau belum bangun pagi ini, setelah semalam

Kita baru saja usai mencatat hitungan bintang

Tiga ribu dua puluh lima juta katamu dan esok

Angka masih akan bicara melampaui waktu

Dan kepercayaan segala risau yang bersuara

Biar aku duduk tenang di kursi ruang tamu

Menerka seberapa lama dan banyak kehilangan

Di meja, kulihat uap teh hijau hendak diterjemahkan

 

*) Wawan Kurniawan, alumni Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar. Menulis puisi, cerpen, esai dan menerjemahkan. Buku puisinya yang sudah terbit antara lain Persinggahan Perangai Sepi (2013) dan Sajak Penghuni Surga (2017). Buku esai pertama, Sepi Manusia Topeng (2017). Saat ini masih menetap di Makassar. Twitter: @wkhatulistiwa. Menerbitkan buku puisi pertamanya yang berjudul “Persinggahan Perangai Sepi (2013)”. Serta diundang sebagai penulis Indonesia Timur di Makassar International Writers Festival (MIWF) 2015. Buku puisi kedua terbit “Sajak Penghuni Surga (2017)” Buku esai pertamanya yang memuat 50 tulisan yang pernah dimuat di Koran Tempo Makassar dari tahun 2013-2016 terbit Februari 2017 dengan judul “Sepi Manusia Topeng” oleh Penerbit Nala Cipta Litera kerjasama komunitas Literasi Makassar dan Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI) Sulawesi Selatan. Karya-karyanya pernah dimuat di Jawa Pos, Media Indonesia, Riau Pos, Bali Post, Koran Tempo Makassar, Suara NTB, Harian Fajar Makassar, Tribun Timur Makassar, Serambi Indonesia, Republika, Koran Sindo, Kompas, Harian Cakrawala Makassar, Lombok Post dan beberapa website.

Continue Reading

Classic Prose

Trending