Connect with us

Puisi

Dalam Tungku Waktu Sajak-Sajak Membakarku

mm

Published

on

I

Angin dari ujung waktu

Menyergapku—oleng aku

Oleh hampa

Luruh dalam waktu

 

Hanya dentang lonceng

Membawaku pada segala berlalu

Jembatan fana yang menghubungkan derita

 

Dalam sendiri kini kupagut

Cinta yang maha…

 

Lagu-lagu mengalun

Menghilangkan bahasa

Dari tiap jengkal sisa jiwa

Hanya bunyi-bunyi tersunyi

Menyergapku dalam ria tanpa umpama

 

Dewa-dewa dan dewi-dewi

Menaburkan daun-daun asmara

Membungkus sukmaku yang telanjang

Aku beringsut seakan tenggelam

Dalam lautan paling jauh

 

II

 

Kutunggu kapal-kapal berlabuh

Kapal-kapal kekosongan

Yang tersesat dari dermaga

Didorong angin dari ujung waktu

Buat menyusulku kembali

Menjemputku pada derita sehari-hari

 

O betapa takut sukmaku

Terdampar dalam riuh kota

Yang dindingnya terbuat dari sajak palsu

Dari para penyair yang sibuk

Memantaskan diri dalam bianglala

Sementara lampu-lampu kota

Telah jadi kesepian

Ditinggalkan para penyair

Dilupakan para pelacur kota

Entah ke mana mereka…

 

Aku sendiri telah lupa

Cara bicara dengan lampu-lampu kota

Sejak berumah dalam dingin AC

Gorden-gorden dirapatkan

Jendela dimatikan

Tak serintik pun lembab hujan

Dapat kujadikan kanvas

Untuk melukis kehilanganku

 

III

 

Malam kembali lagi—malam yang lain

Pada bulan dan gemintang yang lain

Tapi siapa masih peduli

Pada cahayanya?

 

Telah berganti menjadi gambar belaka

Maka dengan kepedihan kumakamkan

Rembulan dan gemintang dalam pikiranku

Kutaburi dengan kembang kemuakkan

Aku terjatuh pada rasa iba

Pada hasrat manusia kota

 

Seperti air terjun gemuruh dimataku

Sukmaku terlempar

Dalam pusaran keriuhan

Beserta segenap omong kosong

Yang tak satu kembang pun

Tumbuh mekar karenanya

IV

 

Dari sunyi ke sepi

Orang-orang berlari

Aku tertinggal sendiri

Duduk di kursi sunyi

Ragu buat turut berlari

Menuju entah

 

V

 

Malam kembali lagi—malam yang lain

Pada bulan dan gemintang yang lain

Tapi siapa masih peduli

Pada cahayanya?

 

Kuhunus sajakku

Jika mungkin kan kubelah sunyi

Yang ditinggalkan penyair musim

 

Kesunyian adalah buah anggur

Atau kursi dari kayu eboni

Di malam perjamuan, atau

Lampu-lampu di jembatan New York

Atau sedu bocah kecil

Yang mengira ibunya pergi dengan terluka

 

Tapi taka da kesunyian di New York

Tak ada sunyi dalam perjamuan

Atau dalam anggur khayalan

Yang telah berganti menjadi sorgum—

Tak ada kesunyian dalam tangis bocah lelaki

yang kalah main gundu

Kesunyian telah dibawa lari

Oleh Don Quixote—

Tapi bukan oleh kudanya.

 

“Kesunyian selalu berlari sendirian

Membelah lautan terjauh

Dalam bola mata para pecinta

Yang ratapnya menjelma kuda-kuda

Dan rindunya menerbangkan rajawali

Ke dalam ruh orang-orang terhukum

Mesti menanggung ganti

Dari tiap jengkal jantung Prometheus.”

 

VI

 

Aku sudah menunggu tiga hari

Ketika langit hilang warna

Pucat seperti kesunyian yang terabaikan

Tapi kulihat rambutmu berwarna kemerahan

 

Kukira… tapi itu telah jauh sekali

Aku tak ingin mengatakannya

Tapi coba lihat dalam jiwaku

Segala telah kukuburkan hari ini

Kau yang membunuh segala yang kanak-kanak

Dan aku dalam kegugupan

Menghadapi surga dan neraka tanpa perjanjian

 

VII

 

Lalu pada punggungmu kurebahkan amarahku

Kota-kota marah—atau memendamnya

Di antara omong kosong dan lampu malam

Siapa begitu perduli pada lukanya jiwa?

 

Kita terbenam pada segelas kopi

Terisi penuh oleh dendam

Tapi ada kekasih jiwaku

Mengajakku pulang dari rasa muak

 

Tapi sungguh aku ingin pergi

Menyusuri sungai dalam belantara sepi

Seolah di sana kita telah pergi begitu jauh

Seolah kita kelana dalam dunia kabut

Di mana batu-batu berlumut

Dan harimau paling ganas—

Sama mengadu tentang kesunyiannya

 

Tapi aku hanya tergolek dalam kamarku

Menunggu subuh yang dingin

Subuh yang suci—berumur hanya sejenak

Dari deru pertama kereta;

Segera memboyong derita dari peraduan

Melemparkan setiap orang ke dalam

Ruang-ruang paling terasing

Untuk kembali membisu

menahan derita sendiri-sendiri—

Seperti subuh yang suci.

 

VIII

 

Kini seakan dermaga terbelah cahaya pertama

Seekor burung tergagap dari ingatan-ingatan

Tentang wadag nun jauh

 

Aku menepi dari tengah gelombang

Dengan perahu yang terbuat dari sajak derita:

 

“Kita telah terkutuk wahai penyair,

Siapa masih peduli pada burung-burung?

Juga pada penyair?

Kita lelah memeluk gelombang

Menerjang malam hanya untuk

Kesunyian yang asing—

Tapi orang-orang lelap

Mengubur dunianya sendiri

Hanya untuk berlari, mengejar kereta pagi

Atau berebut saling melewati

Untuk sampai pada segala benda-benda

Mereka tak mengerti omong kosong

Atau merayakan kesia-siaan, lantaran

Mereka tak punya impian apa pun

Kecuali gaji bulanan, yang segera berganti rupa

Menjadi hiburan atau kepandiran.”

 

O betapa pandir para penyair?

Mengira surga seperti taman paling sepi

Bagi hasrat yang berlari

 

O malam yang lain kembali

Seakan kita terjebak lagi

Dalam keterpisahan yang jauh

Kita duduk lagi, lalu berusaha

Menggambar kengerian

Kengerian yang rapuh

Kerapuhan yang halus

Seperti aroma kopi;

Lalu segala jadi sepi;

Seperti angin dingin kala subuh suci.

 

IX

 

Dari lembah-lembah Merapi dalam ingatanku

Kabut dan dingin;

Orang-orang bicara pada rumput dan ranting

Pada sepi dan anjing

Mereka bicara pada diri sendiri

Seakan Tuhan tengah

Menatap dari balik kabut, menjelmakan

Dingin dan juga sepi—

 

Tak ada lagu-lagu atau balada

Segala yang hidup, hidup dalam sunyi,

Cahaya mentari adalah waktu

Senja berwarna merah tomat

Adalah penanda musim bercinta

Bagi lelaki renta dan perempuan senja usia;

Keduanya duduk menghadap tungku

Api membakar; kayu membakar

Jiwa-jiwa terbakar

Mereka dalam batas-batas terdekat

Dari kehidupan dan juga kematian—

Cinta begitu dingin

Asmara alangkah hangatnya

 

Sementara gelap telah menjadi gelap

Aku menghisap sebatang rokok

Seketika menjadi seonggok dingin

Membeku, aku menjadi kabut menjadi dingin;

Aku mencari lembah di antara bayangan dadamu

Seketika seakan dingin dan api

Tiada berbeda, dalam dadaku

Kehilangan-kehilangan membakarku.

 

Aku telah berlalu dan tak pernah kembali lagi

Kabut dan dingin, tungku api dan rindu yang purba

Tarian debu dan ranting-ranting

Kesunyian di antara hutan jati dan

Sungai paling sunyi—kubawa serta

Kupikul di pundakku: seperuh kesedihan

separuh tarian paling ceria, seakan tida beda

Bagi hidup yang terus menjauh…

 

X

 

Di depanku kini segelas kopi

Atau tuak—

Setiap kali hanya membenamkan

Ingatan yang kureguk

Di antara lagu-lagu disko atau

Bunyi klakson yang menghancurkan

Setiap kesunyian—

Lagu-lagu tentang waktu

Yang tak bisa kumengerti

Aku duduk sendiri;

mencarimu dalam kabut di dadaku

Lalu kutemukan kau

Di antara waktu; kita duduk bersama

Di antara lampu-lampu yang kau sukai

Segelas air putih dan gelak tawa

Aku memastikan diri, bahwa

Kau akan juga mengajakku pulang

Sebab jika tidak aku akan lagi

Terpelanting dalam kabut dan dingin

Tertinggal sendiri—tersesat di antara

Belukar rasa bosan dan sungai-sungai

Yang hanya berupa bayangan:

 

Lelaki tua dan perempuan senja usia itu

Memandangku kembali dari kejauhan

Seperti bayangan-bayangan atau hanya ingatan;

“Setiap jiwa memendam lukanya;

Seorang memilih pergi, yang lain tinggal

Itulah kenapa kita menyalakan tungku

Sendiri-sendiri membakar kengerian

Sebab hanya dalam sunyi

Luka-luka menjadi kembang

Yang mekar dalam kabut dan dingin

Sisanya sepi…”

 

Kabut menelan hamparan cerita

Habis juga pandangku

Kunyalakan sebatang rokok

Meraih tanganmu yang dingin

Sepanjang jalan di Jakarta

Tak ada kabut dan dingin

Lalu kupandangi bola matamu

Aku tersesat lagi…

 

Sabiq Carebesth | Kalibata, 10-14 Juni 2016

 

Continue Reading
Advertisement

Puisi

Puisi Puisi Angga Wijaya

mm

Published

on

Suatu Hari di Tahun Epidemi


Jarum-jarum hujan menghujam wajahku
Seperti kenangan yang datang tiba-tiba

Menjemput ingatan entah tentang apa
Mandi bersama ibu dulu sewaktu kecil

Atau melihat tubuh telanjang kekasih
Bersama nafas yang makin memburu

Kota menjadi basah setelah panas itu
Wabah membuat kecemasan panjang

Berita kematian terus hadir di telinga
Kau bersedih melihat badut menangis

Berdiri di mal yang sepi tanpa pembeli
Di depan kaki kotak uang tak jua terisi

Kita ingin semua kembali seperti biasa
Bekerja dengan tenang penuh keriangan

Hamparan gunung terlihat di layar ponsel
Awan-awan di kotamu kabarkan rindu ini

2020


Menunggu Nasi Matang

Sup di meja telah dingin. Sambil menanak nasi,

aku asyik pandangi ponsel kabarkan kematian

dimana-mana. Detik demi detik, setiap hari.

Dunia kini bersedih karena wabah membunuh

jutaan nyawa. Kehilangan pekerjaan, banyak

orang menjadi depresi. Ada yang bunuh diri.

Katanya setelah ini lahir era baru, bumi

sedang membersihkan diri. Kematian

membuat sedih, kau belum alami hal itu.

Lelaki mengundang makan orang lapar,

baru saja ia kehilangan pekerjaan. Dia jauh

lebih mulia daripada mulut yang bicara.

Aku teringat nyanyian guruku, bersama

anaknya ia bergumami tentang ubi goreng

dan sayur bayam. Makan apa yang ada.

Nasiku telah matang. Puisi adalah angin

berlalu, sebab aku belum bisa membuktikan

apa-apa. Seperti lelaki pemberi makan itu.

2020

Jika Corona Berlalu


Katamu kamu bosan
Di rumah memakai daster
Mengurus cucian-setrikaan

Kamu sudah puas rebahan
Setelah membeli kebutuhan
   Digawai secara online
Kuota internetmu berkurang
Kamu merasa tak tahan lagi

Tak ada yang tahu kapan
         wabah ini berakhir
Kita teringat liburan terakhir
Kini tak bisa kemana-mana
Warga disarankan di rumah
       Agar tak tertular virus

Mal dan toko-toko tutup
    Karyawan dirumahkan
Tak ada lagi yang datang
Pengusaha susah, tak tahu
         mesti berbuat apa.

Jalan malam hari sepi
     Kota hampir mati
Kecemasan terbayang
Di wajah tertutup masker
Perawat diam menangis
Kematian di depan mata

Jika Corona berlalu
Ada yang menunggu
Tangan keriput ibu
   Kucium penuh haru
Bertemu kembali
Di rumah kenangan

2020

Catatan:
Puisi terinspirasi dari lagu @tante_moji yang banyak didengar di media sosial


*) Angga Wijaya, bernama lengkap I Ketut Angga Wijaya, lahir di Negara, Bali 14 Februari 1984. Puisi-puisi tersebar di banyak media dan antologi bersama. Buku puisi terbarunya ‘Tidur di Hari Minggu’ (2020) merupakan buku kumpulan puisi kelima yang ditulisnya di sela-sela rutinitas sebagai wartawan lepas dan guru jurnalistik sebuah SMA di Kuta, Badung, Bali.

Continue Reading

Puisi

Puisi Puisi Agust Gunadin

mm

Published

on

Masih Ada Pengimbang

Karena akal bisa mengatur kekuatanmu

Karena jiwa bisa menahan nafsumu

Jiwa pun bisa menjadi kemudi

Di kala akalmu bisa menilai

Mengatasi pertempuran

Saat nafsu dan kerakusan mulai membuncah

Akal membawa selaras

Menyatu saat layarmu mulai terombang-ambing

Patah karena gelombang

Akal mengimbangimu agar tak terguling dalam karam samudra

Sedang jiwamu, mengangkat akalmu

Menghindari dari nafsu

Sehingga mampu menyanyi dan bangkit dari atas abumu

Kamu pun bisa mengatakan itu

“Tuhan masih bersemayam dalam akal”

Maumere, 2020

Tak Ingin Kamu Ambil

Aku ingin merengkuhmu, dalam satu kata

“ingat”

Pikiranku ini tak mampu tenang apalagi untuk suruh tidur

Ketika pagiku merekah

Menatap bukit

Hanya melihat percikan debu dari tanah kami

Lantas kuingat pesan bapa

“kamu perlu merawat kerudung kayu di sini

Agar kamu bisa duduk tenang dan menahan

Teriknya matahari”

Damai pun kamu terasa

Maumere, 2020

Di kala kamu mulai mengambilnya

Kesenanganmu

Menjadi kesedihan yang tersembunyi  bagiku

Ketertawaanmu

Membuat kami lama

Mengisak air mata

Semakin engkau menggali lubang kami

 Secara sengaja menguburkan kami

Aku hidup dalam melarat

Anakku pun menatap sebuah kekosongan

Masa depannya

San Camillo, Akhir Juni

Sajak dalam Kekeringan

Kau berusaha memetik air mataku

Mulai menyergap bunga-bungaku

Hingga, luka mahkotaku

Puas, lantas kamu tinggalkan

Pergi tanpa pamit

Kamu pun datang tanpa permisi

Gelak tawa yang kau lepaskan pada mereka

Kini memantulkan gaungnya

Aku hanya memikul rasa sakit

Saat mata air

Telah kau ganti dengan harapan “gelisah”

Masa depanku ini menjadi takdir

Hanya hidup dalam angan dan baying

Lantas, yang dulu tak mungkin kembali

Kau telah menyediakan kain kafan

Tanah yang menjadi sukacita

Menjadi cuka yang menguburkan angan

Camilians, 23 Juni

Kubangunkan

Yang  kita susun bersama

 waktu itu

telah mulai mengempas, satu per satu

Ku ingin maju meninggalkan jejak lama

Kemudian kataku waktu itu

Hanya menjelma menjadi syair-syair yang mengalir

Kadang kutergesah untuk melangkah

Lalu mengingat kembali, siapa yang menolong mereka?

Aku ingin kau kan mengerti

Kami butuh sentuhan, entah selembut ciuman Yudas

*) Agust Gunadin, penghuni di Seminari Tinggi St. Kamilus (Camilians)-Maumere. Sedang menyiapkan buku ontologi puisi perdana (Kesunyian). Masih dipercayakan sebagai ketua kelompok sastra “Salib Merah San Camillo”.

Continue Reading

Puisi

Cerita Pedagang Buku

mm

Published

on

Dia telah memimimpikannya begitu lama sejak ia tahu kata-kata telah membuat kekasihnya jatuh cinta; tidak ada impian lainnya, ia hanya ingin berkisah tentang hari-harinya bersama kata-kata—di sanalah dunia sungguh-sungguh nyata, dengan kemurnian yang entah di mana orang-orang dalam kata-kata menjelmakan dirinya yang asli sekalian sunyi; berkisah tentang diri mereka sendiri yang mengurung diri di kamar pengap dalam jiwanya yang lagut; tanpa bekal tidak juga tujuan. Sungai-sungai, gurun, senja dan lautnya, membeku dalam kamarnya; di dalam kata-kata miliknya, orang-orang itu memendam rindu; mengubur cinta dan lukanya; tentang seseorang yang mereka mengira sebagai surga; tetapi lantas seperti surga—Ia tak pernah nyata meski ada.

Kehadiran demi kehilangan berlaku sebagai peristiwa beku. Hingga jendela kamarnya terbuka dan di luar sana tak ada sesiapa, maka ia bertanya: apakah ini kehidupan? Tapi ia telah memimpikan sejak begitu lama: sejak kakasihnya mencintai kata-kata. Dan ia  telah mengira betapa bahaya cinta yang melarung di atas sampan kata-kata; ia rapuh dan terbelah, sekali akan terbakar dan seluruh luruh, jadi abu, hening dalam kedalaman sunyi laut mati. Asapnya akan mengepul perlahan; memadamkan nyala kerinduan yang dulu menghangatkan. Sungguh malang saat segala tak ingin dikenang; tapi kata-kata rupanya tidak terbakar atau hancur, sebab ia tinggal jauh di dinding kalbu, yang terbuat dari waktu; dilekatkan oleh sunyi yang saban pagi kembali tetapi setiap kali meresmikan diri sebagai masa lalu. Lalu suatu pagi ia berhenti mencintai kata-kata.

Sabiq Carebesth, penulis lepas, editor. Sajak ‘Cerita Pedagang Buku’ akan terbit dalam kumpulan sajak terbarunya ‘Samsara Duka’ (Galeri Buku Jakarta, Juni-Juli 2020). Penyair Afrizal Malna dalam prolog untuk Samsara Duka menulis: “Puisi Sabiq Carebesth menggunakan banyak kata yang berfungsi menebar berbagai asosiasi dalam menjaring kerja representasi untuk mendapatkan gambaran leksikalnya. Sebuah pilihan atas bahasa yang bertenaga, banjir dan muncrat–ekspresionis.
Samsara dan duka dalam kumpulan Sabiq merupakan dua korpus yang berfungsi sebagai baling-baling yang menggerakkan narasi maupun sebagai jangkar; duka dilihat sebagai premis dalam melakukan perifikasi. Konsep duka pada gilirannya membawa bagaimana lingkaran Samsara bekerja sebagai semacam makrifat, ngelakoni, jalan penderitaan: lingkaran lumernya batas sensualitas, erotisme, seksualitas dan spritualitas di mana pelacakan atas identitas yang tak lengkap itu dilakukan”.

Semua kata-kata menjadi sama saja, mengaduh dalam peperangan sunyi tentang dirinya sendiri—untuk memenangi nama-nama dari keterbelahan antara waktu dan nafsu—dan ia berhenti menghunus senjata; ia hanya ingin menjadi pedagang buku.

Seorang yang serupa kekasihnya dahulu menghampiri; “Sudah berapa petang kau menungguku? Apa aku seperti kekasihmu dahulu? Untuk apa menunggu bahkan bila kini aku datang padamu; aku tetap bukan kekasihmu yang dulu?”.

Sekali waktu aku hanya ingin kau tahu—jika saja kau adalah kekasihku yang dulu—bahwa cinta telah merebahkan bayanganmu; kaku dalam kalbuku, dan dengan itu aku menunggu. Tahu kau sekarang bahwa aku tak pernah benar-benar menunggu—sebab kepergianmu tak pernah nyata bagiku. Pergilah jika kau masih juga tak memahami segala yang kucari dalam dirimu; cintaku sendiri. Di mana kita telah memilih dari yang lain kala itu, jiwa kita pada petang hari itu jika saja kau ingat, kau tahu betapa indah untuk tahu bahwa jiwa kita dimiliki, dan ada seorang yang menanti? Meski saban pagi tak pernah lagi kudapati tubuhmu yang sunyi dengan gaun tidur warna tanah basah—tak pernah lagi kau di ranjang lusuhku; tubuhmu yang ayu, nafasmu yang ragu, birahimu yang ngilu, lelap dalam rapuh—tetapi dulu, semua itu milikku.

Sekali malam kita sudahi, segala yang tak lagi sanggup kita miliki; meski kutahu tatapan itu dulu dan kini selalu untukku. Saban malam kau cari bayangku, kau peluk luka dukaku, jiwaku menyelinap di antara payudaramu; tempat abadi jiwaku yang kanak-kanak. Oh Tuhan, sudah berapa abad waktu membeku—kini di halaman terakhir bukuku; kutuliskan sekali lagi nama kekasihku dan namaku—sejak kali itu aku tak menulis apa-apa lagi.

Kini aku hanya pedagang buku, saban petang kularungkan buku-buku kegemaranmu, di telan gelombang, hanyut bersama ombak biru. Apa kau terima paket buku-buku itu? Selalu kutulis nama dan alamatmu: gadis jelitaku—di tengah laut biru di dalam mimpiku.  

Sabiq Carebesth

30 April 2020

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending