© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.

Gabriel Garcia Marquez*

Ia tak pernah bepergian jauh sebelumnya. Ia membawa kopor seng berisi pakaian, novel-novel bergambar yang dibelinya setiap bulan, dan buku-buku berisi puisi cinta yang ia kutip dari ingatan dan nyaris rusak karena terlalu sering dibaca. Ia tak membawa serta biola miliknya karena benda itu dekat dengan nasib sial, namun ibunya memintanya membawa petate, sebuah tempat tidur gantung lipat dengan bantal, selimut, dan kelambu yang terkemas rapi. Florentino Ariza tak ingin membawanya sebab menurutnya benda-benda itu tak akan berguna di sebuah kamar yang menyediakan perlengkapan tidur, namun sejak malam pertama ia punya alasan untuk sekali lagi bersyukur atas firasat tajam ibunya. Pada saat terakhir sebelum keberangkatan, seorang penumpang berpakaian setelan malam naik ke atas kapal. Ia baru datang pagi itu dari sebuah kapal yang bertolak dari Eropa dan ditemani oleh Gubernur. Orang itu ingin langsung melanjutkan perjalanannya bersama istri dan puterinya, juga nelayan, dan tujuh koper berwarna emas yang tampak terlalu berat untuk dibawa menaiki tangga. Untuk melayani para penumpang tak terduga ini, Kapten Kapal, seorang anak lelaki bertubuh raksasa dari Curacao, menghimbau rasa patriotism para penumpang. Dalam bahasa campuran Spanyol dan Curacao, ia menerangkan pada Florentina Ariza bahwa lelaki berpakaian setelan malam itu adalah Duta Besar Inggris yang baru dan ia sedang menuju ibu kota Republik. Ia mengingatkan Florentino betapa kerajaan itu telah banyak membantu perjuangan kemerdekaan mereka dari penjajahan Spanyol dan sebagai alasannya tak ada pengorbanan yang lebih besar selain mengizinkan sebuah keluarga merasa lebih nyaman berada di negeri ini daripada di negerinya sendiri. Florentino Ariza, tentu saja, merelakan kamarnya.

Pada mulanya ia tak menyesali hal itu karena air sungai begitu melimpah dan kapal pun melaju tanpa kesulitan pada dua malam pertama. Setelah makan malam, pada pukul lima sore, awak kapal membagikan tikar kanvas pada para penumpang dan masing-masing menggelar alas tidurnya di tempat kosong yang bisa mereka dapatkan. Florentino memasang petate dan kelambu untuk melindunginya dari nyamuk. Ia tidur di atas tempat tidur gantung itu, sementara mereka yang tak membawa perlengkapan apa pun tidur di atas meja ruang makan, berselimutan taplak meja yang tak diganti lebih dari dua kali selama perjalanan. Florentino Ariza terjaga nyaris sepanjang malam, merasa seolah-olah mendengar suara perempuan yang dicintainya, Fermina Daza, dalam hembusan sepoi-sepoi angin sungai, menghanyutkan kesunyiannya bersama kenangan tentang perempuan itu, mendengarnya bernyanyi di sela-sela deru suara kapal saat bergerak menyusuri kegelapan seperti seekor binatang raksasahingga semburat jingga pertama muncul di cakrawala dan hari baru mekar tiba-tiba di atas tanah gersang dan rawa-rawa berkabut. Perjalanannya kembali menjadi sebuah bukyi kearifan ibunya dan ia mencoba tabah untuk melupakan semua rasa kecewanya.

Setelah tiga hari mengarungi sungai, perjalanan selanjutnya terasa lebih sulit karena mesti melewati celah sempit berpasir. Sungai itu menjadi berlumpur dan semakin menyempit di tengah-tengah hutan belukar pepohonan raksasa, hanya sekali tampak gubuk jerami di tepinya, tempat persinggahan untuk mengambil kayu. Kicau burung dan suara monyet yang tak terlihat terasa menambah panas hawa siang hari. Di malam hari jangkar kapal diturunkan saat mereka tidur dan menghadapi kenyataan bahwa menjalani hidup tidaklah mudah. Hawa panas dan nyamuk meningkahi bau busuk ikan asin yang dikeringkan di atas susuran tangga. Kebanyakan penumpang, terutama orang-orang Eropa, tak ahan dengan bau busuk dalam kamar mereka, dan menghabiskan malam dengan berjalan-jalan di geladak, mengusiri nyamuk dengan handuk bekas mengelap keringat, saat terbit fajar mereka kelelahan dengan sekujur tubuh bentol-bentol oleh gigitan serangga.

Lebih buruk lagi, episode lain perang sipil antara kaum Liberal dan Konservatif pecah pada tahun itu, dan Kapten Kapal memberlakukan peraturan ketat untuk menjaga keselamatan penumpang. Untuk menghindari salah pengertian dan provokasi, ia melarang kegiatan favorit dalam perjalanan mengarungi sungai di masa itu, yakni menembaki buaya yang sedang berjemur di tepi sungai berlumpur. Lalu, ketika bebeapa penumpang terbagi menjadi dua kubu yang bermusuhan dalam sebuah perdebatan, ia memutuskan untuk menyita semua senjata yang dimiliki para penumpang dengan jaminan bahwa semuanya akan dikembalikan pada akhir perjalanan. Dia bersikap tegas, termasuk pada Duta Besar Inggris yang pada pagi hari sebelum meninggalkan kapal tampil dalam pakaian berburu, lengkap dengan sebuah karaben dan sepucuk bedil untuk menembak macan. Pembatasan lebih ditingkatkan di pelabuhan Tenerife ketika mereka berpapasan dengan sebuah kapal yang mengibarkan bendera kuning pertanda adanya serangan wabah penyakit. Kapten Kapal tak memperoleh keterangan lebih lanjut berkaitan dengan tanda peringatan karena kapal itu tak menyambut sinyal yang dikirimnya. Tapi pada hari yang sama, mereka berpapasan dengan kapal lain, sebuah kapal barang yang mengangkut domba untuk dibawa ke Jamaika dan mereka memberi tahu bahwa kapal berbendera kuning tadi membawa dua orang yang terserang penyakit kolera. Wabah kolera tengah berkecamuk di daerah pelabuhan sepanjang sungai yang masih harus mereka lewati. Akibatnya, para penumpang dilarang meninggalkankapal, bukan hanya di pelabuhan, melainkan juga di tempat-tempat perhentian untuk mengambil kayu. Hingga mereka mencapai pelabuhan terakhir, enam hari perjalanan, para penumpang terpaksa berlaku seperti tahanan, termasuk menikmati segepok kartu pos Belanda bergambar porno yang diedarkan dari tangan ke tangan tanpa ada yang tahu dari mana benda itu berasal. Mereka tak sadar bahwa itu hanyalah bagian kecil dari koleksi legendaris Kapten Kapal. Tapi akhirnya, selingan menyenangkan ini hanya menambah kebosanan mereka.

Florentino Ariza mencoba bertahan dalam perjalanan yang berat itu dengan kesabaran yang membawa kesedihan pada ibunya dan kegusaran pada teman-temanya. Ia tak berbicara pada seorang pun. Hari-hari begitu tenang baginya saat ia duduk di dekat tangga, menatap buaya-buaya yang diam menjemur diri di tepi sungai berlumpur, mulut mereka terbuka untuk menangkap kupu-kupu. Ia memperhatikan sekawanan bangau yang muncul tanpa aba-aba di rawa-rawa, dan beruk yang menyusui anaknya dan mengejutkan para penumpang dengan lengking jeritannya yang mirip suara tangisan perempuan. Suatu hari ia melihat tiga sosok mayat manusia berwarna kehijauan terapung di permukaan sungai, burung-burng bangkai bertengger di atasnya. Awalnya, kedua sosok mayat melintas dekat kapal, salah satunya tanpa kepala. Kemudian, sesosok mayat perempuan muda mengapung, rambutnya yang panjang dan ikal terpilin pada baling-baling kapal. Ia tak tahu, karena tak seorang pun pernah tahu, apakah mereka korban wabah kolera atau korban perang, namun bau busuk yang memuakkan mengotori kenangannya pada Fermina Daza.

Selalu seperti itu; setiap peristiwa, baik atau buruk, selalu mengandung keterkaitan dengan perempuan itu. Di malam hari, saat kapal membuang sauh dan sebagian besar penumpang berjalan-jalan di geladak dengan putus asa, ia menyimak novel-novel bergambar yang telah ia kenali sepenuh hati di bawah penerangan lampu neon di ruang makan, satu-satunya ruangan yang dibiarkan terang benderang hingga fajar tiba; kisah yang ia baca sering kali membawa pengaruh magis saat ia mengganti tokoh-tokoh khayalan dengan orang-orang yang ia kenal dalam kehidupan nyata, membuat dirinya dan Fermina Daza memainkan peranan sepasang kekasih yang berseberangan. Di malam-malam yang lain ia menulis surat-surat penuh kesedihan dan kemudian mencabik-cabiknya, lalu membuangnya ke dalam arus sungai yang terus mengalir kea rah perempuan itu tanpa pernah berhenti. Saat-saat paling sulit baginya terkadang muncul dalam sosok seorang pangeran pemalu, aau seorang kekasih gelap yang coba dilupakan, hingga akhirnya hembusan angin mulai bertiup sepoi-sepoi dan ia pun tertidur di atas kursi dekat tangga.

Suatu malam ia selesai membaca lebih awal dari biasanya dan berjalan menuju kamar kecil. Sebuah pintu terbuka saat ia melintasi ruang makan, sesosok tangan mirip cakar seekor elang menyambar lengan bajunya dan menariknya ke dalam sebuah kamar. Dalam kegelapan ia bisa melihat sesosok tubuh perempuan telanjang, tubuhnya yang muda berkilat oleh keringat yang panas, napasnya terengah-engah. Perempuan itu mendorongnya terbaring menengadah, membuka ikat pinggangnya, memelorotkan celananya, menduduki tubuhnya seolah-olah sedang menunggang kuda, dan merampas keperjakaannya. Mereka berdua terperosok dalam sebuah gairah yang menyakitkan, ke dalam sebuah lubang tanpa dasar yang hampa dan beraroma seperti rawa-rawa asin penuh udang. Kemudian perempuan itu terbaring sejenak menindih tubuhnya, terengah-engah, dan memintanya pergi dalam kegelapan.

“Pergilah dan lupakan semua ini,” ujar perempuan itu. “Semua ini tak pernah terjadi.”

Serangan itu terjadi amat cepat dan begitu mendadak sehingga hanya bisa dipahami sebagai sebuah kegiatan terencana, buah dari sebuah persiapan matang hingga detil paling kecil, bukan sekedar kegiatan tak sengaja yang disebabkan oleh rasa bosan. Kesadaran akan hal ini menimbulkan kemarahan dalam diri Florentino Ariza. Rasa nikmat yang baru saja ia alami menandakan sesuatu yang tak bisa ia percayai, bahkan ia menolak untuk mengakui, bahwa khayalan cintanya pada Fermina Daza ternyata bisa digusur oleh secuil nafsu duniawi. Ia penasaran ingin mengetahui siapakah sesungguhnya perempuan dengan naluri seekor macan kumbang yang telah membawanya pada nasib buruk itu. Tapi ia tak pernah berhasil. Semakin gigih ia mencari, kian jauh ia dari kebenaran. (*)

*Gabriel Garcia Marquez: adalah Penulis peraih Nobel Kesusastraan asal Kolombia. Ia meraih Nobel Kesusastraan pada tahun 1982. Kamis 17 April 2014 ia telah meninggal dunia dalam usia 87 tahun. Karya Marquez yang paling terkenal adalah One Hundred Years of Solitude yang sudah diterjemahkan ke berbagai bahasa di dunia, termasuk Bahasa Indonesia. Novel yang ditulisnya pada tahun 1967 itu sudah terjual lebih dari 30 juta buku di seluruh dunia dan meraih Nobel Kesusastraan pada tahun 1982. Beberapa novel lainnya yang juga mendunia antara lain Love in the Time of Cholera, Chronicle of a Death Foretold, dan The General in His Labyrinth. Gaya bertuturnya yang hidup dengan cerita mencampurkan kenyataan serta gaib menempatkan dia menjadi pelopor aliran sastra yang disebut realisme magis. Dia tinggal di Meksiko selama 30 tahun belakangan sampai wafatnya. Presiden Kolombia, Juan Manuel Santos, menyampaikan penghormatan kepadanya melalui Twitter. “One Hundred Years of Solitude dan kesedihan atas kematian warga agung Kolombia sepanjang masa.”

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT