Connect with us
Charles Darwin Yang Selamat Dari Yang Terkuat Charles Darwin Yang Selamat Dari Yang Terkuat

Journal

CHARLES DARWIN : YANG SELAMAT DARI YANG TERKUAT

mm

Published

on

: Origin of species

 

Demi suatu kebetulan yang sangat menarik, tahun 1809 telah menyaksikan kelahiran lebih banyak pemimpin-pemimpin luar biasa dari yang barangkali pernah dialami satu tahun yang manapun dalam sejarah. Setiap pemimpin yang lahir ini ditakdirkan untuk mencapai kedudukan tertinggi dalam perjalanan hidup mereka masing-masing. Dua diantara mereka, Charles Darwin, “Newton Ilmu Hayat”, dan Agraham lincoln “Emansipator besar”, terlahir pada hari dan hampir pada jam yang sama. Tokoh-tokoh penting lain yang untuk pertama kali melihat cahaya matahari dalam tahun ini adalah Gladstone, Tennyson, Edgar Allan Poe, Oliver Wendell Holmes, Elizabeth Barret Browning dan Felix Mendelssohn.

Diantara nama-nama yang jaya, diantara berjuta-berjuta manusia yang dilahirkan dalam abad ke-19, mungkin terkecuali Karl Marx dalam kenyataannya tidak ada yang telah memberikan sumbangan begitu banyak dalam merubah jalan pikiran utama dan menghasilkan pandangan baru dalam soal-soal manusia, seperti Darwin. “Darwinisme” adalah suatu konsep yang pasti kedudukannya dalam pikiran orang banyak, seperti Marxisme, Malthusianisme dan Machiavelisme.

Biarpun prinsip-prinsip teori Darwin dalam dunia ilmu pengetahuan pada saat ini hampir-hampir secara universil telah diterima, boleh dikatakan selama satu abad pertentangan telah menopang sekitarnya. Pergulatan fundamentalis-modernis dari abad ke-19, yang memuncak dalam “pemeriksaan monyet” dari Scope di Tennessee, adalah salah satu dari contoh pergulatan yang dimulai dalam tahun 1859 yang paling banyak dibicarakan. Hanya baru sekarang ini ada tanda-tanda perdamaian dari permusuhan ini.

Sebagai seorang anak, Darwin sedikit sekali memperlihatkan tanda-tanda bahwa ia kelak akan menjadi seorang sarjana yang termasyur diseluruh dunia. Ia terlahir dari suatu keluarga sarjana-sarjana dan ahli2 yang terpandang, tapi bahkan ayahnya menyatakan kesangsian yang keras bahwa anaknya ini kelak akan dapat mencapai sesuatu. Disekolah rendah, Charles yang muda berasa bosan mempelajari bahasa-bahasa mati dan mengikuti jam-jam  pelajaran klassik yang kaku. Ia dimarahi oleh guru kepala karena telah menyia-nyiakan waktunya dengan melakukan eksperimen-eksperimen kimia dan mengumpulkan serangga-serangga dan mineral-mineral. Untuk mengikuti jejak ayahnya ia kemudian dikirim ke-universitas Edinburgh dalam umur 16 tahun untuk belajar ilmu kedokteran. Setelah berdiam dua tahun disana, ia memutuskan bahwa pekerjaan dokter tidaklah cocok baginya. Lalu ia dipindahkan ke Cambridge untuk beroleh pendidikan seorang pendeta di Gereja Inggris.

Dilihat dari sudut pandangan pendidikan formil, Darwin menganggap masa tiga tahun selama di Cambridge sebagai tahun-tahun yang terbuang. Tapi ia bernasib baik untuk menjalin suatu persahabatan akrab dengan dua orang  guru yang berpengaruh. Bersama Henslow, gurubesar ilmu tumbuh-tumbuhan, dan Sedgwick, gurubesar geologi, ia banyak mempergunakan waktunya untuk mengadakan ekskursi keluar, mengumpulkan kumbang dan mengadakan pengamatan sejarah alam.

Berkat Sedgwick-lah maka  Darwin beroleh tawaran untuk berlayar sebagai seorang ahli ilmu alam diatas kapal perang Beagle, yang memulai suatu expedisi pengawasan yang luas dibelahan bumi selatan. Waktu mengenangkan perjalanan-perjalanan ini ditahun-tahun kemudian Darwin menghargainya sebagai “kejadian yang terpenting dalam hidup saya”. Kejadian ini telah menentukan karirnya. Pikiran untuk menjadi seorang ulama “telah mati dengan sendirinya” diatas kapal Beagle.

Selama lima tahun berikutnya, dari tahun 1831 sampai tahun 1836, ia mendarat dihampir setiap benua dan pulau besar dalam perjalanannya mengitari dunia. Darwin diminta untuk bekerja sebagai seorang ahli geologi, ahli ilmu tumbuh-tumbuhan, ahli ilmu hewan, dan sebagai seorang ahli umum – suatu persiapan yang luar biasa bagusnya bagi kehidupannya selanjutnya yang akan penuh dengan penyelidikan dan penulisan. Kemana saja ia pergi, ia membuat kumpulan yang besar dari tumbuh-tumbuhan dan hewan, baik fossil maupun yang masih hdiup, kediaman-kediaman dari tanah dan bentuk-bentuk dari laut. Ia menyelidiki dengan mata seorang naturalis, flora dan fauna laut dan darat – padang-padang pampa di Argentina, tebing-tebing kering pegunungan Andes, danau-danau garam dan gurun-gurun Chili dan Australia, hutan lebat. Brazilia, Tierra del Fuego dan Tahiti, Tanjung Pulau-pulau Verde yang telah gundul, bentukan-bentukan geologi dipantai-pantai dan pegunungan Amerika Selatan, gunung-gunung berapi yang masih hidup dan yang telah mati dipulau-pulau dan dataran besar, kadang-kadang fossil binatang menyusukan dari Patagonia, ras manusia yang sudah tidak ada lagi di Peru dan manusia-manusia asli Tierra del Fuego dan Patagonia.

Dari daerah-daerah yang ia kunjungi tidak ada yang begitu menakjubkan Darwin seperti pulau-pulau Galapagos 500 mil dari pantai barat Amerika Selatan. Dipulau gunung berapi yang sunyi ini, tak bependuduk dan boleh dikatakan gersang, ia melihat kura-kura raksasa, yang ditempat lain hanya ditemui sebagai fossil, dan cicak besar yang dibagian lain dunia sudah lama mati, ketam yang besar dan singa laut. Ia terutama sangat sekali terheran-heran melihat kenyataan bahwa burung-burung disini sama dengan yang terdapat berbagai variasi diantara bermacam spesi burung dari pulau kepulau.

Gejala aneh dipulau-pulau Galapagos ini, ditambahkan pada hal-hal yang sebelumnya ia catat di Amerika Selatan, telah memperkuat pikirannya tentang evolusi, telah mulai beroleh bentuk dalam pikiran Darwin. Menurut penuturannya sendiri:

Saya sangat sekali ditakjubkan oleh penemuan hewan-hewan fossil yang ditutupi kulit-pelindung seperti yang kelihatan pada hewan bersisik yang masih hidup diformasi-formasi Pampea; kedua, cara hewan-hewan yang dekat sekali hubungan keluarganya saling menggantikan dalam perjalanan arah keselatan diseluruh dunia; dan ketiga, oleh sifat-sifat Amerika Selatan yang terdapat pada hasil-hasil kepulauan Galapagos, dan lebih lagi terutama oleh cara saling beda mereka disetiap pulau dari kumpulan pulau-pulau ini; tidak satupun diantara pulau-pulau itu yang kelihatannya sangat tua dilihat dari sudut geologi.

Tidak akan pernah lagi Darwin dapat menerima ajaran dari Genesis yang menyatakan, bahwa setiap spesi diciptakan seluruhnya dan kemudian melanjutkan hidup sepanjang jaman dengan tiada berubah, sebagai sesuatu ajaran yang masuk akal.

Sekembalinya ke Inggris, Darwin mulai membuat sebuah buku catatan tentang evolusi dan mengumpulkan fakta-fakta mengenai variasi dari spesi2, permulaan dari Asal-usul spesi2. Rangka kasar pertama teorinya ini telah ia tuliskan dalam tahun 1842, sebanyak 35 halaman. Kemudian rangka ini diperluas dalam tahun 1844 sehingga menjadi sebuah skets yang lebih lengkap setebal 230 halaman. Pada permulaannya, teka-teki yang terbesar ialah bagaimana caranya menerangkan timbul dan hilangnya pelbagai spesi. Mengapa spesi2 muncul, kemudian berubah karena timpaan masa, sudah itu pecah menjadi beberapa cabang, dan sering hilang dari pandangan sama sekali?

Kunci bagi rahasia ini diperoleh Darwin dengan secara kebetulan waktu membaca Essay  mengenai pertumbuhan penduduk  karangan Malthus memperlihatkan, bahwa angka kenaikan jumlah manusia dihambat oleh “pengendalian positif” seperti penyakit, kecelakaan, peperangan dan kelaparan. Darwin mengira bahwa faktor-faktor yang sama mungkin menekan jumlah hewan dan tumbuh-tumbuhan.

Setelah mengadakan persiapan sebaik-baiknya untuk membenarkan perjuangan untuk hidup, yang dimana saja berlangsung berkat pengamatan yang terus-menerus dari kebiasaan hewan dan tanaman, jelas bagi saya dengan segera, bahwa dalam keadaan ini spesi yang serasi akan tetap dipertahankan sedangkan spesi2 yang tidak serasi akan hancur. Hasil dari pada ini ialah terbentuknya spesi baru. Disinilah akhirnhya saya beroleh suatu teori yang dapat saya pakai.

Dengan demikian terlahirlah doktrin “seleksi alam”, “perjuangan buat hidup” atau “yang selamat dari yang terkuat” kepunyaan Darwin yang termasyur itu, batu sendi bagi Asal-usul Spesi2.

Selama duapuluh tahun Darwin menyusun buku catatannya dan memperkokoh teorinya. Ia membaca sejumlah buku – seri-seri lengkap dari majalah-majalah, buku-buku perjalanan, buku tentang sport, hortikultur, peternakan dan riwayat alam umumnya. “Waktu saya melihat daftar buku-buku yang bermacam-macam yang telah saya baca dan saya ringkaskan, termasuk seri-seri lengkap dari Jurnal-Jurnal dan Transaksi-transaksi, saya heran melihat kerajinan saya,” demikian Darwin menulis. Ia bicara dengan ahli2 ternak adan tanaman, dan mengirimkan daftar pertanyaan pada setiap orang yang mungkin mempunyai keterangan yang perlu. Rangka dari berbagai macam unggas yang diternakkan lalu dibenahkan, dan umur serta berat tulang-belulangnya dibandingkan dengan hidup sebagai spesi liar. Kalkun-kalkun dijinak dipelihara dan eksperimen-eksperimen dengan buah-buah dan benih-benih yang mengambang diair laut, dan menyelidiki soal-soal lain yang berkenaan dengan pemindahan benih. Segala pengetahuan botani, geologi, zoologi dan paleontologi yang ia kumpulkan kala ekspedisi Beagle ia pergunakan dalam mengerjakan masalah ini. Kepada massa angka-angka dan fakta-fakta ini ditambahkan pikiran Darwin sendiri karena ia selalu memikirkan teori-teori revolusionersnya ini.

Sokongan yang kuat bagi prinsip seleksi alam, menurut hemat Darwin, datang dari sebuah telaah mengenai “seleksi buatan”. Dalam soal hewan-hewan dan tanaman piaraan – kuda, andjing, kucing, gandum, jelai, kembang-kembang taman – manusia telah memilih dan memelihara varietet-varietet yang paling menguntungkan bagi kebutuhannya. Hewan-hewan piaraan, tanaman dan kembang-kembang ini mengalami perubahan yang begitu besar sehinga hampir-hampir tak dapat dikenal sebagai sesuatu yang berkeluarga dengan nenek moyang mereka yang liar. Spesi2 baru lalu ditimbulkan dengan pertolongan seleksi. Pemeliharaan memilih hewan dan tetumbuhan yang memiliki sifat-sifat ia kehendaki, dan kemudian memelihara pilihan ini dari generasi kegenerasi dan kadang-kadang menghasilkan spesi2 yang berbeda dari spesi2 yang pernah ada sebelumnya. Anjing-anjing seperti dachshund, collie, spaniel dan greyhound, misalnya biarpun tak serupa dengan serigala adalah turunan yang terakhir.

Jika evolusi dapat ditimbulkan oleh seleksi buatan, demikian Darwin berpikir, apakah tidak mungkin fungsi-fungsi alam juga ditimbulkan dengan cara yang sama oleh seleksi alam? Tapi dalam alam, kedudukan sipemelihara tadi diambil oleh perjuangan untuk hidup. Diantara bermacam bentuk kehidupan, menurut pengamatan Darwin, sejumlah besar oknum-oknum akan hilang. Hanya sebagian kecil dari yang lahir yang dapat hidup terus. Beberapa spesi2 tertentu menyediakan makanan bagi spesi2 yang lain. Perjuangan ini berlangsung dengan tiada hentinya, dan persaingan yang keras akan menghancurkan hewan dan tanaman yang tidak cukup kuat untuk mengatasi perjuangan ini. Variasi pada spesiterjadi untuk menyesuaikan diri dengan kondisi yang diperlukan untuk melanjutkan hidup.

Begitu asyiknya Darwin mendirikan menara bukti-bukti yang tak dapat diingkari bagi kepentingan teorinya sehingga ia lalai menyiarkannya sampai tahun 1850. Waktu itu, karena desakan sahabat-sahabat terdekat, ia memulai persiapan dari sebuah karya monumental yang akan diterbitkan dalam beberapa jilid. Tapi waktu tugas ini kira-kira separuh selesai terjadilah suatu hal yang luar-biasa. Darwin menerima sepucuk surat dari Alfred Russel Wallace, seorang sesama ahli ilmu pengetahuan, yang sedang melakukan penyelidikan sejarah alam dikepulauan Melayu. Wallace memaparkan, bahwa ia juga sedang memikirkan asal-usul spesi dan seperti Darwin telah beroleh ilham dari pembacaan Malthus. Bersama dengan surat itu disertakan sebuah “Essay mengenai kecondongan-kecondongan varietet-variete untuk berpisah selama-lamanya dari Type asli”. Ini adalah pelisanan dari teori Darwin sendiri, karena, kata Darwin, “Sekiranya Wallace-lah yang telah menuliskan skets naskah saya dalam tahun 1842, maka ia telah membuat sebuah ringkasan pendek yang sangat baik! Bahkan kata-katanya sekarang dipakai sebagai kepala dari bab-babku”.

Darwin berada dalam suatu dilema. Jelas kedua orang ini telah sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang sama dengan tidak saling mempengaruhi, biarpun Darwin telah mempergunakan waktu bertahun-tahun untuk menelaah dan memikirkan soal ini, sedangkan pikiran-pikiran ini datang kepada Wallace dalam suatu lintasan tiba-tiba dari intuisi. Akhirnya diputuskan, bahwa pidato-pidato oleh keduanya, Darwin dan Wallace, akan diajukan pada pertemuan berikutnya dari Linnaean Society. Bersesuaian dengan itu, pengumuman yang pertama kali dari teori evolusi dengan seleksi alam telah terjadi pada malam 1 Juli tahun 1858. Tak lama sesudah itu, kedua pidato tersebut diterbitkan dalam Journal yang dikeluarkan oleh Society tersebut.

Karena didorong oleh peristiwa Wallace itu, maka Darwin meninggalkan pekerjaan besar yang sedang asyik ia kerjakan dan mulai menulis karangan yang ia sebut “Ringkasan”. Dekat akhir tahun 1859, buku ini, yang kelak akan merupakan langkah besar dalam sejarah ilmu pengetahuan diterbitkan oleh Hohn Murray di London. Penerbitan pertama sejumlah 1.200 jilid telah terjual habis pada hari pertama. Penerbitan-penerbitan lain datang menyusul. Sampai pada akhir hidup Darwin (1882) sebanyak 24.000 buah telah terjual di Inggris, sedangkan terjemahan kedalam hampir setiap bahasa yang ada telah dilakukan. Titel aslinya adalah Tentang Asal-usul spesi2 berkat seleksi alam, atau penyelamatan ras yang sesuai dalam perjuangan hidup. Masa telah memperpendek titel yang panjang ini menjadi Asal-usul spesi2.

Dasar-dasar dari teori Darwin dibicarakan dalam keempat bab pertama dari buku Asal-usul ini. Keempat bab berikutnya mengemukakan keberatan-keberatan yang mungkin dikemukakan terhadap teori tersebut, setelah mana terdapat berbagai bab mengenai geologi, penyebaran geografi hewan dan tetumbuhan, dan fakta-fakta yang perlu mengenai klassifikasi, morphologi, dan embriologi. Bab terakhir meringkaskan seluruh pembicaraan tersebut.

Pada permulaannya, Asal-usul spesi2 melukiskan perubahan-perubahan yang terjadi pada hewan-hewan dan tumbuh-tumbuhan piaraan sebagai hasil dari pengawasan manusia. Variasi-variasi yang lahir dari “Seleksi buatan” ini diperbandingkan dengan perubahan-perubahan dalam alam atau dengan “seleksi alam”. Dimana saja hidup ditemui, demikian disimpulkan, perubahan selalu ada. Tidak ada dua individu yang sama serupa dalam segala hal.

Kepada variasi ini ditambahkan perjuangan hidup. Beberapa contoh-contoh yang menakjubkan telah dipergunakan untuk memperlihatkan berapa jauh kesanggupan segala organisme untuk melangsungkan hidup. Bahkan hewan yang paling lambat sekali berkembang seperti gajah, akan segera dapat mengisi dunia. Sekiranya setiap gajah sampai menjadi dewasa dan kemudian berlipat-ganda secara wajar, maka “sesudah suatu masa 740 sampai 750 tahun”, kata Darwin, “akan terdapat hampir 90 juta gajah yang terlahir dari kelamin pertama”. Dari contoh ini dan contoh-contoh yang lain, diambil kesimpulan, bahwa “karena lebih banyak individu-individu dihasilkan dari pada yang dapat hidup terus, maka bagaimana juga harus terdapat suatu perjuangan untuk hidup, baik antara satu individu dengan individu lain dari spesi yang sama, atau dengan keadaan fisik kehidupan”. Tidak ada pengecualian atas hukum, bahwa setiap tetumbuhan, ikan, burung dan hewan, termasuk manusia, akan menghasilkan lebih banyak benih daripada yang dapat dilahirkan atau yang dapat ditempatkan dalam suatu dunia yang penuh sesak. Tingkat kenaikan jumlah adalah geometris sifatnya.

Saling-bergantungan yang terdapat antara spesi2 juga digambarkan dengan secara grafis. Darwin menemui bahwa penyebukan oleh “kumbang” adalah perlu bagi kesuburan kembang viool dan beberapa clover.

Jumlah  kumbang disetiap distrik tergantung pada jumlah tikus-tanah, yang menghancurkan sarang dan induk-madu mereka ………….. Sedangkan sebagai diketahui orang jumlah tikus sangat sekali tergantung pada jumlah kucing ……….. Karena itu dapat dipercaya bahwa adanya jumlah kucing yang besar disebuah distrik mungkin menentukan, melalui perantaraan, pertama oleh tikus, kemudian oleh kumbang, jumlah kembang-kembang tertentu disebuah distrik.

Buku Asal-usul spesi2 kemudian diteruskan untuk memperlihatkan bagaimana prinsip “seleksi alam” bekerja dalam mengendalikan pertumbuhan jumlah penduduk. Beberapa individu dalam suatu spesi adalah lebih kuat, bisa berlari lebih cepat, lebih pintar, lebih tahan terhadap penyakit, atau lebih sanggup menahan kekerasan-kekerasan iklim dari pada yang lain. Yang kuat ini akan hidup terus dan berkembang sedangkan yang lemah akan hilang. Seekor kelinci putih akan dapat hidup terus di daerah-daerah Kutub, sedangkan kelinci coklat yang lebih mudah kelihatan akan dilenyapkan oleh rubah-rubah dan serigala-serigala. Zurafat-zurafat yang berleher panjang berhasil hidup terus, karena dimusim-musim kemarau mereka dapat mencapai pesediaan makanan yang ada dipucuk pohon, sedangkan zurafat yang berleher pendek mati semuanya. Variasi-variasi yang serasi dengan keadaan ini menjamin kelangsungan hidup dari yang paling serasi. Dan dalam masa bermillennium tahun mereka membawa pembentukan suatu spesi  yang baru sama sekali.

Hukum “membunuh untuk hidup” seperti berlaku dimana-mana, telah didramatisir oleh Darwin dengan cekatan;

Kita melihat wajah alam benderang karena kegirangan, kita sering melihat makanan melimpah; kita tidak melihat, atau kita lupa, bahwa burung-burung yang bernyanyi senang keliling kita kebanyakan hidup dari serangga dan benih, dan dengan begitu terus-menerus menghancurkan kehidupan; atau telor mereka atau anak-anak mereka yang dibunuh oleh burung-burung atau binatang-binatang buas; kita tidak selalu sadar bahwa, biarpun sekarang makanan mungkin melimpah, hal ini tidak selalu demikian adanya disetiap musim setiap tahun yang akan datang.

Suatu aspek penting dari seleksi alam, yang ditunjukkan oleh Darwin ialah seleksi kelamin. “Umumnya, jantan yang paling sehat, yang paling serasi dengan tempatnya dalam alam, akan meninggalkan paling banyak keturunan ………… Seekor rusa jantan tak bertanduk, atau seekor ayam jantan tak bersusuh, akan mempunyai sedikit harapan untuk meninggalkan turunan yang banyak.” Diantara burung-burung, “pertandingan sering berlangsung dalam bentuk yang lebih damai”, karena jantan dari berbagai spesi berusaha menarik betina dengan nyanyian-nyanyian yang merdu, bulu-bulu yang indah, atau memperlihatkan lompatan-lompatan yang aneh.

Iklim juga adalah suatu faktor besar dalam seleksi alam, karena “musim yang sangat dingin atau musim kemarau adalah faktor yang paling effektif dari segala faktor pengendali ……………. Tindakan iklim sepintas lalu kelihatannya tak ada hubungannya dengan perjuangan untuk hidup; tapi dimana iklim berkerja begitu jauh sehingga mengurangkan makanan, ia akan menimbulkan perjuangan yang paling keras antara individu-individu, apakah mereka berasal dari spesi yang sama atau spesi yang berbeda, yang hidup atas dasar makanan yang sama”. Yang mungkin selamat  adalah individu-individu yang kuat yang sanggup menahan panas atau dingin dan yang paling sanggup mencari makan.

Darwin menulis:

Seleksi alam, ialah penyelidikan saksama setiap hari, setiap jam dari variasi yang sekecil-kecilnya diseluruh dunia; menolak yang buruk, memelihara dan menambahkan segala yang baik; bekerja dengan diam dan tak terlihat, kapan saja dan dimana saja kesempatan ada atas dasar penyempurnaan dari setiap mahluk organik  dalam hubungan dengan keadaan hidupnya yang organik dan tidak organik. Kita tidak melihat apa-apa dari perjalanan perubahan yang lambat ini sampai waktu memberikan tanda pelompatan jaman. Begitu tak sempurna pandangan kita terhadap jaman-jaman geologi yang telah lama lampau, sehingga kita hanya melihat bahwa bentuk-bentuk dari kehidupan sekarang berbeda dari bentuknya dahulu.

Dalam bab penutupnya. Darwin menunjukkan bahwa daya dari seleksi alam sebetulnya  tidak ada batasnya, dan menyarankan, bahwa orang dapat “menarik kesimpulan dari analogi yang ada bahwa mungkin sekali segala mahluk organik yang pernah hidup dibumi ini adalah turunan dari semacam bentuk primordial, kedalam mana telah dinafaskan hidup untuk pertama kalinya. Ia percaya, bahwa semua bentuk-bentuk yang ruwet dari kehidupan mendasarkan perwujudannya pada hukum-hukum alam. Ia menemui bahwa hasil-hasil dari seleksi alam sangat menggembirakan.

Demikian dari peperangan Alam, dari kelaparan dan kematian, obyek tertinggi yang dapat kita gambarkan, yaitu lahirnya hewan tinggi, dapatlah terjadi, ada Suatu kebesaran dalam pandangan hidup ini, dengan kekuatan-kekuatannya yang berbagai-bagai yang pada asalnya dihembuskan oleh Mahakuasa kedalam beberapa ataupun satu bentuk; dan bahwa, sementara planit ini beredar sesuai dengan hukum gaya berat yang telah pasti, dari permulaan yang begitu bersahaja, bentuk-bentuk yang sangat indah dan menakjubkan tak ada hentinya sudah dan asyik berkembang.

Dengan cara begini teori evolusi yang tak berakhir telah disajikan oleh Asal-usul spesi2. Tapi bertentangan dengan pendapat umum, teori evolusi ini sebenarnya tidak berasal dari Darwin. Pikiran ini lebih tua dari Aristoteles dan Lucretius. Cendekiawan-cendekiawan yang sangat cemerlang seperti Buffon, Goethe, Frasmus, Darwin (nenek dari Charles). Lamarck dan Herbert Spencer telah menyokong ajaran ini. Sumbangan Darwin mempunyai arti dalam dua arah. Pertama, ia mengumpulkan lebih banyak bukti-bukti yang tak dapat disanggah untuk memperlihatkan fakta dari evolusi; hal tersebut belum pernah disajikan sebelum itu. Kedua, ia mengembukakan teori seleksi alamnya yang termasyur itu sebagai suatu keterangan yang masuk akal bagi metodos evolusi.

Penerimaan jamannya atas buku Asal-usul spesi2 telah dibandingkan orang dengan “kebakaran besar seperti kilat dalam sebuah lumbung yang penuh”. Sekiranya teori baru yang revolusioner itu berlaku, maka cerita Injil tentang penciptaan taidaklah lagi dapat diterima. Gereja dengan segera menganggap thesis Darwin sebagai sesuai yang berbahaya bagi gereja, lalu membangkitkan suatu topan pertentangan. Biarpun Darwin dengan hati-hati telah mengelakkan penggunaan teorinya terhadap manusia, dakwaan tersebar, bahwa pengarangnya telah mengambarkan manusia sebagai keturunan monyet.

Percobaan lalu dilakukan orang untuk merendahkan Darwin dengan ejekan-ejekan. Sebuah karangan dalam Quarterly Review menyebutnya “seorang olok-olok”, yang mencoba dalam bukunya untuk “menopang hasilnya yang busuk dengan terkaan-terkaan dan spekulasi-spekulasi”, dan yang “caranya membicarakan dalam” adalah “sangat sekali bersifat merusak nama ilmu pengetahuan”. Spectator tidak menyukai teorinya “karena ia tidak mengakui sama sekali sebab-sebab yang bersfiat menentukan dan disamping itu menunjukkan suatu pengertian yang didukung oleh kerusakan moral pembela-pembelanya”. Selanjutnya, Darwin dituduh telah mengumpulkan sejumlah fakta-fakta untuk memperkokoh sebuah prinsip yang salah, dan “kita tidak bisa membuat seutas tali yang baik dari seuntai gelembung busa”. Salah seorang pembahas bertanya apakah “masuk akal jika semua varietet umbi yang baik dari umbi condong untuk menjadi manusia”. Karena Inggris tidak mempunyai Inquisisi, berkala Athenaeum dalam sebuah tulisan pengejekan, menyerahkan Darwin “kepada kehendak Divinity Hall. Sekolah-sekolah tinggi, Ruang-ruang mengajar dan museum”. Komentar Darwin tentang ini ialah: “Dengan tak perduli ia akan membakar saya, tapi ia akan mempersiapkan kayunya dan kemudian mengatakan kepada hewan-hewan hitam itu bagaimana cara menangkap saya.”

Di alma mater Darwin sendiri, Whewell tidak mengijinkan satu copypun dari Asal-usul spesi2 diletakkan diperpustakaan Trinity College di Cambridge.

Dari sesama ahli ilmu pengetahuan Darwin sekaligus memberoleh sokongan hebat dan menemui tantangan yang pahit. Pendapat yang paling kuno diwakili oleh tokoh-tokoh seperti Owen di Inggris dan Agassiz di Amerika, keduanya beranggapan bahwa pikiran-pikiran Darwin adalah kemurtadan ilmu dan segera akan dilupakan orang. Ahli astronomi Sir John Herschel melukiskan Darwinisme sebagai “hukum tawar-menawar”. Guru-besar geologi Darwin di Cambridge, Sedgwick, menganggap teori itu “salah dan merusak luar biasa” dan dia menulis surat kepada Darwin menyatakan bahwa karena bukunya ia “ketawa terbahak-bahak sehingga pinggangnya sakit” dan ia menganggap buku itu suatu “mesin yang sama liarnya dengan lokomotip uskup Wilkins yang akan berangkat dengan kita kebulan”.

Tapi Darwin tidak kekurangan jagoan-jagoan yang hebat. Yang terpenting diantara mereka ialah Charles Lyell, ahli geologi, Thomas Huxley, ahli ilmu hayat, Joseph Hooker, ahli tanam-tanaman, dan Asa Gray seorang ahli botani Amerika yang termasyur. Diantara mereka, yang paling menyokong Darwin ialah Huxley yang ia sebut “agen umumnya” dan yang menganggap dirinya sendiri sebagai “anjing bullodog Darwin”. Darwin bukanlah seorang ahli debat, dan tak pernah muncul depan umum untuk mempertahankan teori-teorinya. Pembelaan yang paling hebat dilakukan oleh Huxley yang cakap dan bersemangat.

Huxley-lah yang memainkan salah satu dari peran utama dalam konflik dramatis mengenai buku Asal-usul Darwin. Mimbarnya disediakan oleh pertemuan British Association di Oxford dalam tahun 1860. Pokok dari konperensi ini ialah Darwinisme. Meriam besar yang berada dipihak penentang adalah Uskup Wilberforce dari Oxford. Pada akhir dari sebuah pidato yang keras yang menurut hematnya telah menghancurkan teori Darwin, uskup itu memandang kepada Huxley, yang duduk dimimbar. “Saya ingin bertanya pada profesor Huxley,” demikian dia bertanya dengan cemooh, “apakah dipihak nenek laki-lakinya ataukah dipihak nenek perempuannya silsilah monyet telah masuk?” Kepada seorang sahabat disampingnya, Huxley berkata, “Tuhan telah menyerahkan dia ketanganku”.

Sambil berdiri Huxley dilaporkan telah mengatakan:

Tidak ada alasan bagi seseorang untuk berasa malu karena telah bernenekkan seekor monyet. Sekiranya ada moyang yang akan menyebabkan saya berasa malu untuk mengingatnya, maka moyang ini adalah seorang laki-laki yang mempunyai intelek yang gelisah dan subur, yang tidak puas dengan hasil yang ia peroleh dalam lingkungan kegiatannya sendiri, terjun kedalam soal-soal keilmuan yang tidak ia kenal, semata karena hendak menggelapkannya dengan bunga-bunga kata tak bertujuan, dan mengalihkan perhatian pendengarannya dari pokok persoalan dengan pertolongan penyimpangan yang lincah dan gamitan yang cakap pada prasangka-prasangka keagamaan.

Ini adalah yang pertama dari begitu banyak bentrokan yang terjadi antara gereja dan ilmu mengenai Darwinisme dan evolusi yang akan berkobar ditahun-tahun berikutnya.

Pandangan Darwin mengenai agama berubah dengan bertambahnya usianya. Sebagai seorang anak muda, ia menerima pendapat dari penciptaan khusus tanpa pertanyaan. Dalam “Kehidupan dan surat-surat”nya ia mengutarakan kepercayaan bahwa “manusia dimasa datang yang jauh adalah mahluk yang lebih sempurna lagi dari pada manusia sekarang”.

Darwin selanjutnya menambahkan:

Sumber keyakinan yang lain dari bukti adanya Tuhan, yang berhubungan dengan akal, dan tidak dengan perasaan, saja rasa adalah sumber yang lebih berarti. Segalanya ini lahir dari kesulitan yang tak terkira atau lebih baik dari suatu kemustahilan untuk memahami universum yang luas dan menakjubkan ini, termasuk manusia dengan kesanggupannya untuk melihat jauh kebelakang dan kedepan, sebagai hasil dari suatu kesempatan atau keharusan yang kebetulan sifatnya. Demikian, jika saya renungkan, saya merasa terpaksa untuk mencari Sebab Pertama, sebagai sesuatu yang mempunyai pikiran cerdik yang sampai tingkat tertentu mempunyai analogi yang sama dengan yang terdapat pada manusia; saya sepatutnya disebut seorang Theis.Kesimpulan ini sangat kuat sekali dalam pikiran saya, sejauh ingatan saya semasa saya menulis Asal-usul spesi2, dan semenjak masa itulah keputusan itu, makin lama, dengan banyak turun-naiknya, makin menjadi lemah. Waktu itu timbullah kesangsian; dapatkah pikiran seorang manusia, yang telah tumbuh, seperti saya yakin sepenuhnya, dari pikiran yang begitu rendah, seperti yang dimiliki oleh hewan yang serendah-rendahnya dipercayai jika ia mengambil kesimpulan-kesimpulan yang begitu besar?

Dalam soal ini Darwin mengangkat tangannya, dan mengakhiri dengan menyatakan:

Saya tidak dapat berbuat seolah-olah saya dapat memberikan penerangan baik yang kecil sekalipun mengenai masalah-masalah yang begitu dalam dan gelap. Rahasia awal segala benda tidak dapat kita pecahkan; dan saya sebagai seseorang harus merasa puas dengan tetap tinggal bersikap agnostik.

Asal-usul spesi2  diikuti oleh serentetan buku-buku yang keluar dari pena Darwin yang giat. Buku-buku ini mempersoalkan masalah yang lebih khusus, tapi semuanya dalam intinya disusun untuk mengerjakan lebih lanjut, menambah dan memperkukuh pendirian evolusi dengan seleksi alam – yang telah disajikan dengan jelas dalam Asal-usul spesi2. Mula-mula terbit dua buah jilik kecil yang berkepala Mengenai bermacam cara serangga menyuburkan anggrek dan Gerak dan kebiasaan tetumbuhan menjalar. Seterusnya terbit dua karya besar: Variasi hewan dan tetumbuhan dalam penjinakan dan Keturunan manusia dan seleksi dalam hubungan kelamin. Buku-buku yang terbit sesudah itu membicarakan soal pengutaraan emosi pada manusia dan hewan, tumbuh-tumbuhan yang memakan serangga, akibat penyuburan bersilang, kekuatan bergerak pada tanaman, dan pembentukan tanah sayur-mayur.

Dalam Asal-usul spesi2 , Darwin dengan sengaja memperlunak setiap istikarah mengenai asal manusia, karena ia berpikir bahwa setiap penekanan apda tingkatan ini akan menyebabkan  seluruh teorinya ditolak orang. Tapi dalam Keturunan Manusia, sejumlah besar bukti-bukti telah dikemukakan untuk memperlihatkan bahwa ras manusia ini juga adalah hasil evolusi dari bentuk-bentuk yang lebih rendah.

Jika diperhatikan kembali, maka jejak Darwin atas hampir semua daerah besar pengetahuan adalah jelas, dan akan terus tercekam adanya. Doktrin evolusi organik telah diterima oleh ahli2 ilmu hayat, ahli2 geologi, ahli2 kimia, ahli2 fisika, oleh ahli2 antrhropologi, ahli2 ilmu jiwa, pendidik-pendidik , ahli2 pikir, dan ahli2 masyarakat, bahkan oleh ahli2 sejarah, ahli2 ilmu politik, dan ahli2 philologi.

Charles Ellwood menerangkan:

Jika kita bayangkan besarnya pengaruh karya Darwin atas hampir segala macam arah pemikiran manusia, dan ilmu sosial, kita terpaksa mengambil kesimpulan bahwa ………….. kepada Darwin harus diberikan kedudukan yang paling dimuliakan sebagai pemikir yang paling menyuburkan yang telah dihasilkan oleh abad ke-19, bukan saja di Inggris, tapi diseluruh dunia. Arti sosial dari ajaran-ajaran Darwin bahkan baru sekarang mulai dimengeri orang.

Dalam tulisannya mengenai Asal-usul Spesi2 West menyatakan persetujuannya: “Akibatnya memang luas sekali. Boleh dikatakan hanya dengan merumuskan satu prinsip penilaian baru, yang dinamis tidak statis, ia telah merevolusikan setiap lapangan telaah, mulai dari astronomi sampai sejarah,mulai paleontologi sampai psykologi, mulai embryologi sampai agama”.

Sebaliknya terdapat penggunaan teori-teori Darwin, yang pasti tidak akan dapat disetujuinya sama sekali. Sebuah contoh penggunaan idee dari seleksi alam atau penyelamatan yang paling baik, ialah penggunaan oleh kaum fasis untuk membenarkan penghancuran ras-ras tertentu. Seperti itu juga, peperangan antara bangsa-bangsa telah dibela sebagai suatu cara untuk meniadakan yang lemah dan menyuburkan yang kuat. Selanjutnya Darwinisme telah diputar balikkan oleh kaum Marxis supaya sesuai dengan perjuangan kelas mereka. Dan kongsi-kongsi perusahaan yang tak mengenal kasihan telah membenarkan penghancuran kongsi-kongsi yang lebih kecil atas dasar yang sama.

Karena ia adalah seorang pengamat dan pembuat eksperimen yang luar biasa tajamnya, sebagian besar karya Darwin dapat tetap tegak, ilmu pengetahuan tambah berkembang. Bahkan biarpun teori-teorinya telah banyak dirubah oleh penemuan-penemuan ilmu modern, Darwin berhasil dengan cara luar-biasa untuk mendahului kemungkinan-kemungkinan lahirnya idee-idee yang sekarang berkuasa dalam ilmu genetika, paleontologi dan lapangan-lapangan lain yang beragam-ragam.

Suatu kesimpulan yang tepat sekali mengenai tempat Darwin salam sejarah ilmu pengetahuan datang dari seorang ahli ilmu hayat besar yang lain, yaitu Julian Huxley, cucu dari pembantu, pembela dan sahabat Darwin:

Karya Darwin …………. telah meletakkan dunia kehidupan dalam lingkungan hukum alam. Tidak lagi perlu atau mungkin untuk membayangkan bahwa setiap ragam hewan atau tetumbuhan telah diciptakan dengan khusus, juga tidak, bahwa alat-alat yang indah dan pelik dengan apa mereka peroleh makanan mereka atau mereka hindarkan diri mereka dari musuh, telah direncanakan oleh suatu tenaga luar-alam, atau, bahwa ada suatu maksud yang disengaja dibelakang proses evolusi itu. Sekiranya pendapat tentang seleksi alam dapat dibenarkan, maka hewan dan tetumbuhan dan manusia sendiri telah terjadi sebagaimana adanya mereka berkat sebab-sebab alam, yang buta dan bekerja sendiri sebagai sebab-sebab yang mengakibatkan adanya bentuk gunung, atau yang membuat bumi dan planit-planit lain bergerak dalam sebuah ellips sekitar matahari. Perjuangan buta untuk hidup, proses buta dari sifat turun-temurun, dengan sendirinya akan menghasilkan seleksi dari type yang paling disesuaikan dan suatu evolusi yang terus-menerus dari silsilah ini kearah kemajuan ……………

Sumbangan Darwin telah memungkinkan kita untuk melihat kedudukan manusia dan peradaban kita sekarang ini dalam sinar yang lebih benar. Manusia bukanlah suatu hasil yang sudah selesai yang tidak sanggup maju lebih jauh lagi. Ia mempunyai suatu sejarah yang panjang dibelakangnya, dan sejarah ini bukanlah sejarah dari kejatuhan tapi dari kenaikan. Ia mempunyai kemungkinan didepannya untuk mengadakan evolusi yang lebih maju. Selanjutnya, dalam cahaya evolusi kita belajar untuk bersikap sabar. Sejarah tercatat selama beberapa ribu tahun tidak ada artinya, jika dibandingkan dengan sejarah adanya manusia didunia ini yang telah berjumlah jutaan tahun, dan beribu jutaan tahun sejarah kemajuan hidup. Dan kita boleh bersikap sabar jika ahli-ahli astronomi menjamin bahwa kita masih akan menghadapi setidak-tidaknya seribu juta tahun lagi depan kita, dimasa mana kita dapat melanjutkan evolusi kepuncak-puncak yang baru. (Copyright @ Galeri Buku Jakarta)

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Buku

Sekilas Karl Marx dan Bukunya Das Kapital

mm

Published

on

Dalam duka-pidato penguburan Karl Marx, Friedrich Engels menyimpulkan bahwa “diatas segala-galanya Karl marx adalah seorang revolusioner, dan tujuan besar dalam hidupnya ialah memberikan sumbangan dengan salah satu cara untuk menghancurkan masyarakat kapitalis dan lembaga-lembaga negara yang telah diciptakan masyarakat ini”. Dengan kata-kata ini, pembantu, murid dan sahabat marx yang terdekat ringkas menyimpulkan tenaga penggerak dari kehidupan pemberontak sosial yang termasyur ini.

Marx terlahir dalam suatu jaman yang gaduh. Pemberontakan dan kekacauan selalu mengancam. Kenangan pada revolusi Perancis yang pertama masih segar sedangkan yang lain sudah mengancam lagi. Jaman-jaman berikutnya ditandai oleh kegetiran dan ketidak-puasan rakyat yang luas, dan pengeritikan terhadap lembaga-lembaga yang ada. Dalam tahun 1848, perasaan ini telah bertumpuk menjadi suatu tenaga yang bisa meledak. Lalu meletuslah revolusi diseluruh Eropa. Bahkan di Inggris, Gerakan Chartis mengancam pemerintahan yang ada. Tekanan-tekanan untuk mengurangi salah-guna yang terlahir dari industrialisme baru, dan penghancuran pertahanan-pertahanan terakhir feodalisme terasa dimana-mana. Jaman ini memang cocok betul buat temperamen Marx yang subversif dan non-conformistis.

Marx dilahirkan dalam tahun 1818 di Trier di Rheinland Jerman sebagai anak seorang ahli hukum yang kaya. Dari kedua belah pihak orang tuanya. Karl adalah keturunan rabbi-rabbi Yahudi, tapi waktu ia masih kanak-kanak seluruh keluarga itu telah masuk agama Nasrani. Dalam hidupnya, barangkali sebagai reaksi terhadap halangan-halangan yang ditimbulkan latar belakang rasialnya, Marx selalu bersikap anti-semit.

Marx muda belajar ilmu-ilmu hukum dan filsafat di Bonn dan Berlin, dengan cita-cita akhirnya akan mencapai kedudukan seorang guru-besar. Tapi pendiriannya yang makin lama makin bertentangan dengan faham-faham kuno telah menutupkan pintu baginya jabatan ini lalu ia mengarahkan diri pada pekerjaan kewartawanan. Sebuah berkala bru Rheinische Zeitung baru saja dimulai penerbitannya dalam tahun 1842, dan Marx menjadi penyumbang yang pertama dan kemudian dalam waktu singkat menjadi pemimpin redaksinya. Serangan-serangan terhadap pemerintah Prusia dan nada suara berkala itu yang umumnya radikal, menyebabkan berkala ini dilarang setelah setahun lebih.

Marx pindah ke Paris untuk mempelajari sosialisme dan menulis untuk sebuah berkala yang juga singkat umurnya. Buku-buku Tahunan Franco-Jerman (Franco-German Year Books). Disana ia berkenalan dengan wakil-wakil terkemuka dan pemikiran-pemikiran sosialis dan komunis. Dilihat dari sudut perjalanan hidup Marx dimasa datangnya, maka saat yang penting dari msa itu ialah, permulaan dari persahabatannya seumur hidup dengan Friedrich Engels. Engels adalah seorang kawan senegeri Marx. Sebagai anak dari seorang pembuat kain, ia boleh dianggap berkemampuan juga dan pengambdiannya kepada cita-cita sosialis sama besarnya dengan Marx sendiri. Dasar-dasar dari kitab Marx yang kemudian akan terbit Das Kapital telah dibangunkan oleh Engels dalam tahun 1845 dengan penerbitan karangannya Keadaan Kelas Buruh di Inggris (Condition of the Working Classs in England).

Agitasi yang dilanjutkan oleh Marx terhadap pemerintah Prusia telah menyebabkan pembesr-pembesar Perancis mengusir dia sebagai seorang asing yang tidak dikehendaki. Ia mencari perlindungan di Brussel selama tiga tahun, dan kemudian untuk waktu singkat ia kembali ke Jerman. Setelah dibuang kembali, ia kembali ke Paris semasa revolusi tahun 1848. Dalam tahun itu dengan bekerja sama dengan Engels ia telah menulis dan menerbitkan Manifes to Komunis yang termasyur. Pamflet ini adalah salah sebuah dri karangan-karangan radikal yang paling garang dn paling berpengaruh yang pernah dicetak Pamflet ini berakhir dengan semboyan yang menggerakkan:

Kaum komunis merasa tidak perlu untuk menyembunyikan pendapat dan maksudnya. Dengan terus terang mereka mengumumkan bahwa tujuan mereka hanya dapat dicapai dengan merubuhkan seluruh susunan masyarakat ini dengan kekerasan. Biarlah klas-klas pemerintahan gemetar depan reolusi komunis. Kaum buruh tidak akan kehilangan apa-apa kecuali berlenggu mereka. Mereka hanya akan memenangi seluruh dunia.

Buruh sedunia bersatulah!

Kemana saja Marx pergi ia adalah seorang tukang pidato yang garang dan aktif; ia mengorganisir gerakan-gerakan buruh; ia memimpin penerbitan-penerbitan komunis dan menganjurkan pemberontakan.

Kekandasan revolusi-revolusi Eropa 1848 sampai 1849 menyebabkan benua ini jadi sempit bagi Marx. Ia pindah ke Inggris dalam musim panas tahun 1849, tatkala mana ia berumur 31 tahun, dan tinggal di Londok untuk seumur hidup. Sebelum itu ia telah menikah dengan Jenny von Westfalen, anak seorang pembesar Prusia, dan istrinya ini tetap setia sebagai kawan sejawatnya untuk hampir selama 40 tahun, menyertainya dalam suatu masa kemelaratan yang amat sangat, kekurangan dan keburukan nasib. Dari keenam anak mereka, hanya tiga yang  hidup dan menjadi dewasa, dan dari yang tiga, dua orang kemudian membunuh diri. Tak sangsi lagi, tahun-tahun kemelaratan ini telah mewarnai pandangan Marx dan menjadi sumber dari begitu banyak kebencian dan kegetiran dalam tulisannya. Hanya bantuan-bantuan keuangan yang sering dari Friedrich Engels yang telah menyelamatkan keluarga Marx dari pada kelaparan. Satu-satunya penghasilan Marx ialah se-guinea seminggu, diterima dari surat kabar Tribune New York sebagai imbuhan terhadap surat-surat tentang soal-soal Eropa, dan pembayaran yang tak tetap buat karangan-karangan yang semata ditulis untuk mencari makan.

Tapi biarpun menderita kemelaratan, buruan penagih-penagih hutang-hutang, penyakit dan kekurangan yang tak putus-putusnya melingkungi Marx didistrik Soho yang guram, dimana ia berdiam. Marx tetap tak lelah-lelahnya dalam usahanya memajukan alasan-alasan sosialis. Dari tahun ke tahun, sering kali sampai 16 jam sehari, ia bekerja di Museum British untuk mengumpulkan bahan yang besar jumlahnya  untuk sebuah karya yang kelak akan diberi nama Das Kapital. Jika tidak dihitung lowong-lowong yang disebabkan oleh kegiatan-kegiatan lain dan penyakit, maka buku ini telah memakan waktu persiapan selama 18 tahun. Engels yang sementara itu menyokong keluarga Marx sudah putus harapan bahwa buku itu akan selesai. “Pada hari naskah itu dimasukkan kepercetakan saya akan minum sampai mabuk dengan segala kebersaran,” katanya. Kedua mereka,Engels dan Marx menyebut buku itu sebagai “buku laknat”, dan Marx mengakui bahwa buku itu adalah sebuah “mimpi ngeri yang sempurna.”

Suatu kejadian besar dalam kehidupan Marx dalam tahun-tahun ini ialah terbentuknya Perhimpunan Kaum Pekerja Internasional yang sekarang dikenal sebagai Internasional Pertama, dalam tahun 1864. Usah aini adalah suatu percobaan. Biarpun telah menarik diri dari kehidupan umum. Marx adalah tenaga yang berdiri dibelakang layar dan ialah yang menulis hampir semua dokumen-dokumen perserikatan ini, pidato-pidato, peraturan-peraturan dan programma. Tapi percekcokan didalam dan persaingan untuk menduduki kursi pimpinan bersamaan dengan ketidak-populeran yang dialami organisasi ini setelah kandasnya Commune Paris dalam tahun 1871, telah menyebabkan Perserikatan ini dibubarkan. Kemudian ia diikuti oleh Internasional Kedua, yang mewakili golongan-golongan sosialis barat dan Internasional Ketiga atau Comintern yang mewakili dunia komunis.

Masa pengandungan yang panjang dari Das Kapital akhirnya berakhir. Diakhir tahun 1866, naskah lengkap dari jilid pertama dikirimkanke Hamburg, dan dalam musim gugur tahun berikutnya buku ini keluar dari percetakan. Buku ini ditulis dalam bahasa Jerman, sedangkan terjemahan dalam bahasa Inggris baru akan terbit kira-kira duapuluh tahun sesudahnya. Terjemahan pertama kedalam bahasa lain – tepat sekali jika dilihat dalam sinar kejadian-kejadian yang akan terjadi sesudahnya – ialah kedalam bahasa Rusia dalam tahun 1872.

Dalam masa Marx, Inggris adalah contoh utama dari cara-cara bekerja sistim kapitalis. Karena itu contoh yangia pakai untuk menjelaskan teori-teori ekonominya hampir semuanya dipungut dari negeri itu. Contoh-contoh yang kejam cukup banyak, karena lembaga kapitalisme dalam masa Victoria pertengahan itu berada dalam keadaannya yang paling kejam. Keadaan-keadaan sosial diperkampungan-perkampungan pabrik tak dapat dikatakan buruknya. Marx yang mendasarkan pendapat-pendapatnya atas laporan-laporan resmi penyelidikan-penyelidikian pemerintah, telah menjanjikan fakta-fakta itu dengan teliti dalam Das Kapital. Perempuan menarik kapal-kapal terusan sepanjang pinggir terusan itu dengan tali dibahu mereka. Perempuan-perempuan dipasang sebagai hewan-hewan pembawa beban, depan kereta-kereta yang membawa batu arang dari tambang-tambang Inggris. Kanak-kanak mulai bekerja dikilang-kilang tekstil semenjak mereka mulai berumur 9 atau 10 tahun selama 12 sampai 15 jam sehari. Dan waktu peraturan giliran malam menjadi kebiasaan, dikatakan bahwa ranjang-ranjang tempat anak-anak tidak pernah dingin karena dipakai bergiliran. Tuberculosis dan penyakit-penyakit lain yang disebabkan pekerjaan telah membunuh mereka dalam jumlah yang tinggi.

Protes-protes mengenai keadaan yang buruk ini sekali-kali tidak hanya terbatas pada Marx saja. Orang-orang yang berperikemanusiaan seperti pengarang-pengarang Charles Dickens, John Ruskin dan Thomas Carlyle telah menulis berjilid-jilid buku dengan penuh semangat, menyerukan perobahan. Parlemen digoncang kearah perwakilan yang korektif.

Marx bangga sekali dengan penelaahan “ilmiah”nya tentang masalah-masalah ekonomi dan sosial. Seperti dikatakanoleh Engels, “Seperti Darwin menemui hukum evolusi dalam salam organik begitu Marx menemui hukum evolusi dalam sejarah manusia. Gejala-gejala ekonomi”, demikian Marx menegaskan, “dapat diamati dan dicatat dengan ketelitian yang sama seperti ilmu alam.” Seringkali ia menunjukkan kekarya-karya ahli-ahli ilmu hayat, kimia dan tabii (ahli ilmu alam), dan nyata sekali bahwa ia beringin untuk menjadi seorang Darwin sosiologi atau barangkali seorang Newton ekonomi. Dengan jalan analisa ilmiah dari masyarakat. Marx yakin bahwa ia telah menemui bagaimana caranya merubah suatu dunia kapitalis menjadi dunia sosialis.

Metodos “ilmiah” Marx telah banyak sekali menolong diterimanya pikirannya dengan luas, karena konsep evolusi dalam semua lapangan telah memukau alam pikiran abad ke-XIX. Dengan jalan menghubungkan teori perjuangan klasnya dengan teori evolusi Darwing. Marx telah memberikan tempat yang terhormat pada pikiran-pikirannya, dan serentak, demikian ia yakin, telah membuat pikiran-pikiran ini tidak bisa diingkari.

Dalam pandangan Marx dan pengikut-pengikutnya, sumbangan Marx yang terpenting dalamsoal penelaahan ekonomi, sejarah dan ilmu-ilmu pengetahuan masyakat yang lain ialah pengembangan sebuah prinsip yang disebut “materialisme dialektika” suatu sebutan yang sukar dimengerti dan mempunyai arti yang ganda. Biarpun sebutan ini diterangkan lebih lengkap dalam tulisan-tulisannya sebelumnya. Das Kapital mempergunakan teori ini sampai kedetail-detailnya.

Metodos dialektika ini telah diambil oleh Marx dari ahli filsafat Jerman Hegel. Dalam hakekatnya, teori ini menytakan, bahwa segala didunia ini berada dalam pergantian yng terus-menerus. Kemajuan diperoleh berkat reaksi terhadap masing-masing yang lahir dari dua tenaga yng bertentangan. Jadi, misalnya sistim penjajahan Inggris yang ditentang oleh Revolusi Amerika telah menghasilkan negara Amerika Serikat. Sebagai disebutkan oleh Laski. “Hukum kehidupan ialah peperangan dari pertentangan-pertentangan dengan pertumbuhan sebagai akibatnya.”

Premise ini telah menyebabkan Marx merumuskan teorinya tentang materialisme sejarah, atau tafsiran ekonomi dari sejarah. “Sejarah dari setiap masyarakat yang ada,” demikian Marx dan Engels membela, “adalah sejarah dari perjuangan kelas. Orang merdeka dan budak-budak, patricier dan plebeier, tuan dan chadam, kepala tukang dan ahli yang pindah-pindah, pendeknya yang menindas dan yang ditindas, berada dalam perentangan yang tajam. Mereka melangsungkan peperangan yang tak ada akhirnya. (*)

*Dari berbagai Sumber. Oleh Tim Redaksi Galeri Buku Jakarta

Continue Reading

Buku

Sekilas Riwayat Hidup dan Ajaran Carl Gustav Jung

mm

Published

on

CARL, Gustav adalah seorang psikiater berkebangsaan Swiss, pendiri Sekolah Psikologi Analitis. Ia lahir tanggal 26 Juli 1875 di Kesswil dekat Danau Constance, Switzerland, sebagai putra tunggal dari seorang pendeta Protestan. Dalam usia empat tahun keluarganya pindah ke Basel, di mana anak ini dididik dan belajar kedokteran. Nenek-moyang ibunya banyak yang menjadi teolog. Nenek-moyang ayahnya adalah seorang anggota Dewan Katolik di kota Mainz; kakeknya masuk Protestan karena dipengaruhi oleh Friedrich Schleiermacher tahun 1813. Warisan religious ini, boleh jadi mempengaruhi interesenya dengan persoalan-persoalan religious dalam karya Jung. Perkembangannya juga dipengaruhi oleh warisan medis, khususnya dari nenek-moyang ayahnya yang menjadi dekan pada Fakultas Kedokteran di Universitas Basel (1822) dan mendirikan rumah sakit jiwa yang pertama dan sebuah rumah bagi anak-anak lemah mental (feeble-minded).

Sebelum Jung memutuskan untuk masuk kedokteran, ia belajar biologi, zoology, paleontology, dan arkeologi. Penyeledikannya dalam bidang filsafat, mitologi, literature Kristen dari abad-abad pertama, mistisisme, Ghotisisme, dan alkimia diteruskan sepanjang hidupnya, bersamaan dengan minatnya dalam perkembangan-perkembangan ilmiah. Pikirannya dengan interese yang besar dapat mempersatukan pikiran-pikiran yang sangat berbeda-beda ke dalam satu kesatuan yang erat dan menyebabkan ajarannya memiliki (mengandung) dua aspek, yang menghubungkannya dengan ilmu eksakta dan ilmu kemanusiaan, sehingga menurut pandangannya ini dapat mengungkapkan dengan paling baik banyak segi dari struktur psike.

Jung menjadi asisten dokter pada Klinik Psikiatri di Burgholzli pada Universitas Zurich dibawah Wugen Bleuler tahun 1900. Tahun 1902 dia memperoleh gelar doctor dengan disertasinya: “Zur Psychologie und Pathologie sogenannteer okkulter Phanomene” (“On the Psychology and Pathology of So-Called Occult Phenomena”). Di dalam disertasi ini, dia mengemukakan salah satu dari konsep dasar yakni keutuhan fundamental dari psike yang merupakan dasar semua gejala psikis. Sementara mengobservasi keadaan kesurupan seorang anak muda, Jung yakin bahwa dia dapat melihat usaha-usaha dari satu kepribadian yang lebih lengkap, dan yang masih tersembunyi dalam alam ketaksadaran untuk masuk ke dalam alam kesadaran.

Tahun 1902 Jung berangkat ke luar negeri, mula-mula ke Paris di mana ia menghadiri kuliah dari Pierre Janet, kemudian ke London. Tahun 1903, Jung nikah dengan Emma Rauschenbach, yang merupakan pendamping dan kawan kerjanya dalam bidang ilmu sampai kematiannya tahun 1955.

Hasil-hasil penyelidikan eksperimental yang pertama dipimpinnya dalam kerja sama dengan Franz Riklin dan orang-orang lain, muncul dalam tahun 1904 dengan judul “Diagnostische Assoziationsstudien” (1918; Studies in Word Association). Penyelidikannya ini menyajikan suatu metoda untuk menemukan kelompok-kelompok isi “psikis emosional” (feeling-toned) yang ditekan. Untuk itu ia menciptakan term baru yang terkenal yaitu “Kompleks”, Karya ini menjadikannya tenar dan menyebabkan pertemuannya dengan Sigmund Freud tahun 1907; dalam tulisannya mengenai interpretasi mimpi, Jung mendapat konfirmasi (pengesahan) atas penyelidikannya sendiri.

Jung biasanya dipandang sebagai seorang murid, dan dimata pengikut dari Sekolah Freud (Freudian School), Jung dianggap sebagai murid yang telah mengingkari agama. Akan tetapi ini sama sekali tidak benar. Bahkan walaupun Jung menyokong ide-ide dan metoda-metoda Freud dalam tahun-tahun kerja sama mereka yang membangkitkan semangat dan membawa hasil, namun banyak konsep fundamental dari ajarannya sendiri dapat ditemuinya beberapa tahun sebelum bertemu dengan Freud. Terlebih lagi periode kerja sama mereka berlangsung hanya dari tahun 1907-1913. Perbedaan-perbedaan dalam titik tolak psikologis dan seluruh pandangan dunia segera menjadi jelas. Jung dua puluh tahun lebih muda dari Freud; karena kepribadian Jung yang kuat dan mempunyai kehendak sendiri, akhirnya hubungan bapak-anak tidak dapat bertahan lama. Jung sendiri juga tidak dapat menganuti banyak doktrin Freud seperti teori tentang pemenuhan keinginan atau seksualitas infantile. Terutama sekali Jung menentang prinsip-prinsip analitis Freud yang dalam pandangannya terlalu berat sebelah, terlalu konkret, dan personalistis. Jung juga membantah pandangan Freud tentang karakter anak yang bersifat polymorphous-perverse (yang belum mempunyai satu bentuk tertentu dan bersikap tidak wajar) sambil mengemukakan konsepnya sendiri tentang suatu disposisi yang polyvalent. Disposisi polyvalent ini tidak didominir oleh prinsip kenikmatan (lust-prinzip) dan juga tidak didominir oleh suatu keinginan untuk diterima, melainkan lebih memperlihatkan kecenderungan khusus fantasi anak untuk membuat suatu “interpretasi simbolis lebih daripada satu tafsiran ilmiah rasional”; fantasi simbolis anak adalah aktivitas natural dan spontan yang menurut Jung bukan merupakan hasil dari penekanan saja (repression).

Sesudah memberi kuliah di Amerika Serikat bersama dengan Freud tahun 1911, Jung menghentikan karirnya sebagai penerbit dari majalah Jahrbuch fur psychologische und psychopathologische Forschungen (Yearbook for Psychological and Psychopathological Research), yang telah didirikan oleh Bleuler dan Freud. Jung juga berhenti sebagai ketua dari Perkumpulan Psikoanalitis Internasional (“International Psychoanalytic Society”) yang mana Jung sendiri dirikan, dan masih merupakan organisasi professional Freudian (Pengikut Freud). Jung menjelaskan pandangan-pandangan baru yang berbeda dengan pandangan Freud dalam buku-bukunya yang mungkin paling terkenal dari semua buku Jung yaitu Symbole und Wandlungen der Libido (1912; Synbols and Transformation of the Libido). Kemudian diterbitkan lagi dengan judul Symbole and Wandlung (1952; Symbols of Transformation). Dengan bantuan bahan fantasi dari seorang gadis dalam tahap-tahap permulaan schizophrenia. Jung berusaha menyingkapkan arti simbolis isi dari alam ketaksadaran dan menginterpretasinya dengan parallel-paralel yang diambil dari bidang sejarah dan mitologi. Kemudian keterpisahannya dari Freud tak dapat dielakkan lagi. Untuk bisa membedakan ajarannya dari sekolah-sekolah yang lain itu, Jung memberinya nama “Psikologi Analitis” (analytical psichology) , yang berbeda dengan psikoanalisa Freud dan psikologi individual Alfred Adler.

Dalam tahun 1909, Jung berhenti dari pekerjaanya di Burgholzli, dan tahun 1913 melepaskan jabatannya sebagai dosen pada Universitas Zurich yang telah dipegangnya sejak tahun 1905. Jung makin lama makin menjadi lebih terpikat untuk studi tentang symbol-simbol mitologis dan symbol-simbol religious. Pada awal pecahnya Perang Dunia I, mulailah suatu periode introspeksi yang tergabung dengan penyelidikan empiris, suatu periode kosong (belum ada publikasi) yang berakhir sampai diterbitkannya Psychological Types tahun 1921. Dalam karyanya ini, Jung membedakan posisinya dari Freud dan meletakkan dasar psikologi analitis. Dalam tahun 1920, Jung pergi ke Tunisia dan Algeria; dari tahun 1924-1925 ia menyelidiki orang Indian Pueblo di New Mexico dan Arizona dan dalam tahun 1925-1926 ia menyelidiki penduduk-penduduk Mount Elgon di Kenya. Jung terutama berminat dalam mencari analogi antara isi dari alam ketaksadaran dalam manusia Barat dan mite-mite, kultus-kultus, dan ritus-ritus manusia primitive. Ia melakukan beberapa perjalanan ke Amerika Serikat dan dua kali mengunjungi India (yang terakhir kali tahun 1937). Simbol-simbol religious dari Hinduisme dan Budhisme, khususnya ajaran dari Budhisme Zen dan filsafat Konfusius, memainkan peranan penting dalam penyelidikan psikologisnya.

Pada tahun 1948, Institut C.G. Jung didirikan di Zurich untuk meneruskan ajarannya dan sebagai pusat latihan bagi analisis-analisis. Karyanya dilanjutkan di Inggris oleh “Society of Analytical Psychology” (Perkumpulan Psikologi Analitis), dan dia beberapa perkumpulan lain di New York, San Francisco, dan Los Angeles, serta di beberapa negara Eropa.

Jung adalah ketua Perkumpulan Swiss untuk Psikologi Praktis, yang didirikannya tahun 1935. Tahun 1933-1942 ia menjadi professor pada Federal Technical College di Zurich, dan pada tahun 1949 menjadi professor psikologis medis di Basel. Ia menerbitkan majalah Zentralblatt fur Psychotherapie und ihre Grenzgebiete (Central Journal for Psychoterapy and Related Fields) dari tahun 1933-1939. Jung meninggal di Kusnacht di Danau Zurich pada tanggal 6 Juni 1961.

Ketika ditanya tentang data biografinya, Jung menegaskan bahwa ia hanya mempunyai “kehidupan batin saja” (He has an inner life). Segala sesuatu yang ia alami dalam dunia luar menjadi sebuah pengalaman pribadiah.

Psikologi Analitis

Individuasi adalah inti ajaran Jung: Individuasi adalah kemungkinan yang terdapat dalam species-species manusia dan pada setiap orang dengan mana psike individual dapat mencapai perkembangan yang lengkap dan utuh. Proses individuasi berpangkal dari keseluruhan psike, suatu organism yang bagian-bagian individualnya dikoordinir oleh system relasi komplementer dan saling mengimbangi dan memperkembangkan kematangan kepribadian. Jung menekankan pentingnya fungsi religious dari psike. Penekanan relasi fungsi religious ini dapat membawa gangguan psikis, sedangkan perkembangan religious adalah satu komponen integral dari proses individuasi.

`Jung menganggap neurosis bukan hanya sebagai satu gangguan, tetapi juga sebagai satu dorongan hati yang penting untuk meluaskan kesadaran yang terlalu sempit dan karena itu sebagai stimulus bagi pendewasaan yang terlambat, yang berarti dorongan untuk menjadi sembuh. Dari sudut pandang positif ini, suatu gangguan psikis dianggap bukan sebagai satu kegagalan, keadaan sakit, atau perkembangan yang terhenti, tetapi sebagai suatu dorongan menuju realisasi diri dan keutuhan, yang untuk sementara waktu dihalangi.

Metoda terapi dari Jung berbeda dengan metoda Freud. Si analis tidak selalu tinggal pasif tetapi sering kali memainkan sebuah peranan aktif. Tafsirannya atas mimpi-mimpi dibuatnya dengan tingkat (level) yang berbeda. Lebih daripada asosiasi bebas, Jung menggunakan apa yang ia namakan “Amplifikasi” (perluasan), ini berarti suatu asosiasi yang terarah, yang mempergunakan motif-motif dan simbol-simbol dari sumber-sumber lain untuk mengerti isi mimpi itu.

Jung memperkenalkan konsep alam ketaksadaran kolektif. Isi dari alam ketaksadaran kolektif adalah apa yang dinamakan arketipe-arketipe. Arketipe-arketipe adalah bentuk-bentuk pembawaan lahir dari psike, pola dari kelakukan psikis yang selalu ada secara potensial sebagai kemungkinan, dan apabila diwujudkan, nampak sebagai gambaran spesifik. Sebab dalam psike manusia tergabung sifat-sifat khas yang umum, yang ditentukan oleh species-species manusia, ras, bangsa, keluarga, dan mental zaman dengan sifat-sifat khas, unik, dan personal. Sebab itu fungsi natural dari psike ini hanya dapat diperoleh dari hubungan timbal-balik dua alam ketaksadaran (personal dan kolektif), dan relasi mereka dengan alam kesadaran.

Jung juga memperkenalkan teori yang terkenal mengenai tipe-tipe. Ia membedakan antara tingkah laku ekstrovert dan introvert menurut sikap individu terhadap obyek.

Bidang-bidang Studi yang lain

Penelitian Jung diperluas ke bidang-bidang yang rupanya tidak ada hubungannya dengan psikologi. Dalam percobaan-percobaan alkimia abad pertengahan untuk mengubah inti logam, ia melihat satu proyeksi dari proses penghalusan batin yang analog dengan perubahan bentuk yang disebabkan oleh proses individuasi. Studinya mengenai yoga dan Gnostisisme membawa dia kepada penemuan paralel-paralel yang interesan dalam psike, setelah tersentuh/tercapai lapisan arkais/yang paling mendalam. Penyelidikannya dalam para-psikologi juga membuka horizon-horizon baru. Beberapa fenomen tidak dapat dijelaskan secara ilmiah, seperti telepati, clairvoyance (tukang tenung/sihir), dan mujijat-mujijat yang jelas, yang diistilahkannya “gejala-gejala sinkronis” (Synchronistic phenomena). Gejala-gejala ini oleh Jung didefinisikan sebagai koinsiden yang bersifat kebetulan tetapi “berarti/penuh dengan arti” (meaningful), antara peristiwa batin misalnya (mimpi, premosi/pertanda, penglihatan, keadaan batin) dengan satu peristiwa lahiriah dan real. Koinsiden ini terjadi entah dalam waktu sekarang atau dalam waktu yang baru lewat atau dalam waktu yang akan datang. Kedua macam peristiwa ini (yang batiniah dan yang lahiriah) tidak mempunyai hubungan kausal. Gejala sinkronis ini disebut pengetahuan langsung yang “rupanya ada lebih dulu” (apparently-pre-existent) dalam alam ketaksadaran.

Arti dari Psikologinya

Perbedaan antara psikoanalisa Freud dan psikoanalitis Jung diwarnai oleh dua abad yang pada titik pertemuannya melahirkan dua system psikologis yang berbeda. Freud membongkar ideal-ideal dari periode Victorian (yang bersifat munafik ) dan menyoroti dengan terang pada bagian bawah dari periode dengan memperlihatkan “kemesuman” (filth) yang telah ditekan ke dalam alam ketaksadaran. Meskipun penyelidikannya tentang alam ketaksadaran psike personal, ia toh tetap terikat pada materialism dan rasionalisme dari zaman yang terdahulu. Daya irasional tiba-tiba muncul sejak peralihan zaman, dan mewujudkan diri sendiri dalam dua perang dunia, yang sekarang mengancam dunia dengan teror-teror yang tidak dapat dibayangkan. Justru daya irasional ini dapat dijelaskan dalam teori-teori Jung. Ia menunjukkan daya irasional ini sebagai kekuatan asli yang tidak personal atau superpersonal yang mana muncul dari alam ketaksadaran kolektif yaitu dasar dari kehidupan psikis, sebagai jin-jin gelap dari mitologi.

Jung menulis “Saya yakin bahwa penyelidikan mengenai psike merupakan ilmu yang paling penting dalam masa depan ….. Itu adalah ilmu yang sangat kita butuhkan sebab berangsur-angsur menjadi jelas bahwa bahaya yang terbesar bagi manusia adalah bukan kelaparan, bukan pula gempa bumi, bukan juga kuman-kuman, bukan kanker, tetapi manusia itu sendiri ……”

Karya-karyanya

Hasil karya Jung sangat banyak jumlahnya, kira-kira dua ratus karangan. Satu edisi dari semua karyanya (Collected Works) dalam terjemahan bahasa Inggris sekarang sedang diterbitkan oleh Bollingen Foundation di New York dan Routledge juga Kegan Paul di London.

Judul-judul dari volume-volume adalah sebagai berikut: Psychiatric Studies, Experimental Researches (Penelitian-penelitian Eksperimental), Psychogenesis and Mental Disease, Freud and Psychoanalisis (Freud dan Psikoanalisa), Symbol of Transformation, Psychological Types, Two Essays on Analytical Psychology, The Structure and Dinamics of the Psyche, The Archetypes and the Collective Unconscious and Aion (two parts), Civilization in Transition, Psychology and Religion, West and East, Psychology and Alchemy, Alchemical Studies, Mysterium Conjunctions, The Spirit in Man, Art and Literature, The Practice of Psychotherapy, The Development of Personality.

Beberapa volume tambahan memuat seminar-seminar ekstensif dari Jung. Kita juga harus menyebutkan karya-karya yang dipublisir dalam kerjasama dengan orang lain: ahli kebudayaan Cina (sinologist) Richard Wilhelm, The Secret of the Golde Flower; ahli mitologi Karl Kerenyi, Essays on a Science of Mythology; ahli fisika Wolfgang Pauli, Interpretation of Nature and Psyche.(*)

* Terjemahan dari bahas Jerman ke dalam bahasa Inggris: R.F.C. Hull. Diterjemahkan dari: Collier’s Encyclopedia, Vol.13, 1968. Terjemahan Indonesia oleh Thoby M. Kraeng.

**Dari berbagai sumber, tim redaksi Galeri Buku Jakarta/ 2016.

Continue Reading

Journal

Albert Camus: Cinta dan Peradaban

mm

Published

on

Albert Camus Cinta dan Peradaban

DALAM DRAMA, novel, dan esei-eseinya, Albert Camus telah berupaya mencari jalan keluar dari kebuntuan intelektual – sebagai ujung dari nihilisme – yang sedang dihadapi generasi saat ini. Berulang-ulang ia bertanya: dengan nilai apa kita bisa bertahan di dalam era kekeringan spiritual? Dengan menyinkap ilusi-ilusi dan mempertanyakan semua kemutlakan, atas nama kemanusiaan, Camus menulis tentang cinta sebagai sebuah nilai yang tidak diberikan, tapi tumbuh di dalam sebuah situasi yang hidup.

Dalam The Myth of Sysyphus, Camus pertama kali menggali implikasi dari bunuh diri – untuk hidup atau tidak hidup. Sementara dalam The Rebel, buku yang menjadi rujukan tulisan berikut ini, Camus membahas topic tentang pembunuhan – untuk mempertahankan diri atau untuk tidak mempertahankannya. Sejumlah doktrin pemberontakan yang digagas Camus, memberikan kemungkinan untuk berharap, juga kemungkinan untuk memiliki rasa percaya diri bagi manusia dan masa depannya. “Camus percaya bahwa pemberontakan adalah salah satu ‘dimensi esensial’ dari umat manusia,” demikian tulis Sir Herbert Read pada pengantar buku itu. “Tidak ada gunanya menolak realitas sejarah – alih-alih menolak, dalam realitas itu, justru kita harus mencari sebuah prinsip keberaaan. Namun, cara-cara memberontak telah berubah secara radikal pada masa kita. Pemberontakan tidak lagi antara budak dengan tuannya, bukan pula antara si kaya dengan si miskin. Pemberontakan kini menjadi semacam revolusi metafisik, antara manusia dengan situasi hidupnya sendiri, manusia melawan penciptaannya sendiri. Setidaknya, inilah yang menjadi panduan intelektual Camus.”

Albert Camus adalah salah seorang penulis terbaik Prancis, dan pemenang Nobel Sastera. Novelnya antara lain The Stranger, The Plague dan The Fall. (Cetak ulang dari The Rebel, karya Albert Camus, edisi Vintage Books. Diterjemahkan oleh Anthony Bower. Hak cipta 1956 oleh Alfred A. Knopf, Inc. Perjanjian khusus dengan Alfred A. Knopf, Inc.)

 

Siapakah pemberontak itu? Seseorang yang berkata tidak, tapi penolakan itu tidak sepenuh hati. Ia juga seseorang yang berkata “iya”, tapi sejak pertama kali ia telah bergerak untuk memberontak. Seorang pemberontak adalah budak yang telah melakukan perintah tuannya seumur hidupnya, namun tiba-tiba menolak melakukan perintah yang baru. Lalu, apa yang sebenarnya dimaksud budak itu dengan mengatakan “tidak”?

Maksudnya, antara lain tergambar pada kalimat, “Ini sudah berlangsung terlalu lama”, “Sampai saat ini baiklah, tapi lebih dari ini, tidak.” “Kau sudah terlalu jauh,” atau, lagi-lagi, “Kesabaranku ada batasnya.” Dengan kata lain, kata “tidak” dari si pemberontak menegaskan batas kesabarannya. Konsep yang sama terdapat dalam perasaan si pemberontak, bahwa pihak lain yang ia berontaki “sudah keterlaluan,” bahwa pihak lain itu telah menggunakan kekuasaannya semena-mena dan mulai melanggar hak orang lain. Karena itulah gerakan pemberontakan biasanya sejalan dengan gangguan yang dialami pihak tertentu yang berpikir bahwa itu sudah tidak bisa ditolerir lagi.

Itu sebabnya si pemberontak mulai berpikir bahwa, “Ia punya hak untuk…” Pemberontakan tidak akan muncul  tanpa perasaan bahwa si pemberontak pasti benar. Dengan cara inilah budah pemberontak berkata iya atau tidak. Ia menekankan bahwa ada batas-atas, ia mencurigai – dan ingin memelihara — keberadaan hal-hal dalam batasan-batasan itu. Ia mencontohkan, dengan keras kepala, bahwa ada sesuatu dalam dirinya “yang berharga…” dan harus diperhitungkan. Dalam cara tertentu, ia menentang keteraturan dari hal-hal yang menindasnya dengan sebuah keteguhan bahwa hak-haknya tidak boleh dilanggar.

Dalam setiap aksi pemberontakan, si pemberontak muak atas pelanggaran hak-haknya dan merasa dirinya harus diperjuangkan. Karena itu ia membawa nilai-nilai yang mengandung rasa tidak puas dan siap untuk memperjuangkannya, apapun resikonya. Sebelum perasaan itu muncul ia telah lama diam dalam keputusasaan, ia menerima sebuah keadaan, meski ia tahu itu tidak adil. Diam memberikan kesan bahwa seseorang tidak punya opini, dan tidak mengingkan apa-apa. Keputusasaan – memiliki segala hasrat secara umum, sekaligus tidak memiliki hasrat secara khusus. Diam memperlihatkan hal ini.

Namun, pada detik-detik ketika sang pemberontak menemukan suaranya – walaupun hanya berkata “tidak” – ia mulai menginginkan dan mulai menilai. Ia melakukan hal yang berkebalikan dari dirinya sendiri. Ia yang biasanya bekerja karena cambukan tuannya tiba-tiba berbalik dan melawan, untuk mendapatkan pilihan. Tidak semua nilai diikuti oleh pemberontakan, tapi setiap pemberontakan selalu membawa nilai. Atu apakah ini benar-benar pertanyaan tentang nilai?

Kesadaran, betapapun ia membingungkan, berkembang dari setiap aksi pemberontakan yang secara tiba-tiba mengguncangkan persepsi bahwa ada sesuatu di dalam diri manusia yang dapat mengidentifikasi dirinya, walaupun hanya sesaaat. Sampai saat ini diidentifikasi itu belum benar-benar dialami. Sebelum memberontak, seorang budak menerima semua perintah yang diberikan kepadanya. Sangat sering ia melaksanakan perintah, tanpa reaksi perlawanan, walaupun perintah itu lebih patut untuk dilawan daripada dilaksanakan. Ia menerima perintah dengan sabar, walaupun hatinya menolak, ia tetap diam karena ia lebih berpikir tentang kebutuhannya, ketimbang hak-haknya. Tapi dengan memudarnya kesabaran, sebuah reaksi – yang berlawanan dengan apa yang ia lakukan selama ini – bisa muncul. Si budak mulai menolak perintah memalukan dari tuannya, dan secara perlahan-lahan ia menolak perbudakan. Aksi itu bisa berkembang lebih jauh dari sekedar penolakan. Ia juga menolak hirarki yang membatasinya dengan majikan, dan meminta diperlakukan sebagai orang yang setara.

Apa yang pada awalnya hanya perlawanan satu orang, lalu berubah menjadi perlawanan semua orang, meningkatkan gairah perlawanan. Bagian dari dirinya yang ingin dihormati diposisikan di tempat yang paling tinggi dari segalanya, dan menganggapnya lebih penting dari segalanya, bahkan dari hidupnya sendiri. Baginya, bagian itu merupakan kebaikan yang paling mutlak. Lalu, ketika diperlukan sebuah kompromi, si budak tiba-tiba memutuskan (“karena inilah yang harus terjadi…”) untuk mengatakan semua atau tidak sama sekali. Maka, dengan pemberontakan, kesadaran dilahirkan.

Tapi, kita bisa melihat bahwa pengetahuan yang diperoleh dari “semua” masih belum jelas ketimbang “tidak sama sekali”, menegaskah bahwa si pemberontak akan berkorban untuk “semua” yang belum jelas itu. Si pemberontak ingin menjadi “semau” – untuk mengidentifikasi dirinya dengan kebaikan yang baru saja ia sadaridan ia mengingkan orang lain mengetahuinya – atau “tidak sama sekali”. Dengan kata lain, ia rela dihancurkan oleh kekuatan yang menguasainya. Ia mau menerima kekalahan terakhir, yaitu kematian, daripada hidup tanpa identitas – misalnya  tanpa kebebasan. Lebih baik mati di atas kaki sendiri daripada hidup di bawah kaki orang lain.

Nilai-nilai, menurut para ahli, “sebagian besar sering mewakili sebuah transisi dari fakta-fakta mejanjadi hak-hak, dari apa yang diinginkan menjadi apa yang bisa diraih (biasanya melalui perantara dari apa yang lumrah dianggap dapat diraih).” Transisi dari fakta-fakta menjadi hak-hak termanisfestasikan – sebagaimana telah kita bahas – dalam pemberontakan. Begitu pula transisi dari “seharusnya ini memang terjadi” menjadi “bagaimana sesuatu harus terjadi.” Terlebih lagi, ide tentang sublimasi bagi seseorang dalam pemberontakan bisa menjadi kebajikan universal. Konsep “semua atau tidak sama sekali” yang muncul tiba-tiba, menunjukkan bahwa pemberontakan, berlawanan dengan opini saat ini, dan walaupun ia muncul karena aksi yang paling individualistik, sesungguhnya ia mempertanyakan tentang arti dari individual.

Jika seorang individu menerima kematian sebagai konsekuensi dari tindakan pemberontakannya, maka dengan tindakan ia mencotohkan bahwa ia bersedia mati demi kebaikan banyak orang – yang dipercainya lebih penting daripada takdir sendiri. Jika ia memilih mati daripada mengabaikan hak-hak yang ia bela, itu karena ia menganggap hak-hak itu lebih penting daripada dirinya sendiri. Itu sebabnya ia bertindak atas dasar nilai-nilai yang belum pasti – tapi dipercayinya ada di dalam dirinya dan diri setiap orang. Kita melihat bahwa ada semaca afirmasi tersembunyi atas sebuah aksi pemberontakan yang meluas hingga melampaui sekedar aksi individual hingga ia menjauh dari lelaku keseorangan dan menjauh pula dari aksi yang didasarkan pada sebuah alasan.

Namun, perlu dicatat bahwa konsep dari nilai-nilai yang belum terbukti itu bertentangan dengan kemurnian filsafat sejarah – di mana nilai-nilai baru diperoleh (jika memang pernah diperoleh) setelah aksi dilakukan. Analisis terhadap pemberontakan membawa kita pada sebuah kecurigaan yang berbeda dengan pemikiran kontemporer, bahwa pemberontakan adalah tabiat alamiah manusia seperti yang dipercaya oleh orang-orang Yunani. Kenapa harus memberontak jika tidak ada sesuatu yang permanen yang bisa dipelihara dalam diri seseorang? Adalah untuk kebaikan semua orang di dunia bahwa seorang budak menegaskan dirinya setelah ia sampai pada kesimpulan bahwa sebuah perintah telah memenjarakan sesuatu di dalam dirinya, yang bukan miliknya, tapi milik semua manusia – bahkan manusia  yang menghina dan menekannya.

Dua observasi akan mendukung argument ini. Pertama, kita dapat melihat bahwa aksi pemberontakan bukan – secara esensial – sebuah laku egois. Tentunya, ia bisa memiliki motif yang egoistik, tapi orang dapat memberontak sama baiknya dengan perlawanan terhadap penjajahan. Lebih-lebih pemberontak yang tidak memiliki apapun tapi mempertaruhkan segalanya. Ia ingin kehormatan untuk dirinya sendiri, tentunya bila ia mengidentifikasi dirinya untuk memperjuangkan sebuah kelompok masyarakat. Kedua, kita memperhatikan bahwa pemberontakan tidak semata-mata muncul di antara kaum tertekan, tapi dapat pula muncul karena orang lain diperlakukan sebagai kaum yang tertekan. Dalam kasus seperti ini ada perasaan yang sama dengan orang lain. Dan harus ditegaskan bahwa ini bukan identifikasi psikologis – perasaan pura-pura bahwa si pemberontak mengidentifikasi penyiksaan orang lain sebagai penghinaan terhadap dirinya. Sebaliknya, ini sering terjadi karena kita tidak bisa menerima penyiksaan terhadap orang lain yang seringkali dilakukan kepada kita – tapi kita tidak memberontak.

Sejumlah aksi bunuh diri yang dilakukan teroria Rusia di Siberia sebagai protes atas kamerad-kameradnya yang dicambuk dapat menjadi contoh. Tapi ini tidak ada hubungannya dengan perasaan yang menyangkut kepentingan sebuah komunitas. Ketidakadilan yang dilakukan terhadap orang-orang yang kita anggap sebagai musuh sebenarnya dapat menjadi senjata untuk  melawan kita sendiri.  Maka, seorang indivvidu – di dalam dirinya sendiri – tidak memiliki nilai-nilai yang ingin ia bela. Setidaknya dibutuhkan sebuah tata kemanusiaan, untuk melakukannya. Saat memberontak, seseorang mengidentifikasi dirinya dengan orang lain, dan karena itu ia melampui dirinya sendiri. Dari titik ini, pandangan tentang solidaritas manusia menjadi metafisik. Tapi, untuk saat ini, kita hanya membicarakan solidaritas yang timbul karena pengekangan.

Akan sangat mungkin bagi kita untuk mendefinisikan aspek-aspek positif dalam setiap aksi pemberontakan dengan menbandingkannya dengan konsep-konsep yang negatif seperti dendam sebagaimana dikemukakan Scheler. Pemberontakan, dalam kenyatannya, lebih kepada usaha pencapaian suatu klaim, dalam arti yang paling kuat dari kata itu. Dendam didefinisikan dengan sangat bagus oleh Scheler sebagi autointoksikasi (peracunan diri sendiri)—kejahatan terselubung, di dalam peti yang tersegel, dari ketidakmampuan yang diperpanjang terus-menerus. Sebaliknya, pemberontakan menghancurkan segel itu dan mengizinkan seluruh kemampuan ikut berperan. Ia membebaskan air yang tenang dan mengubahnya menjadi amukan badai. Scheler sendiri menekankan aspek pasif dari dendam dan mencontohkan tempat di mana dendam bersemayam dalam psikologi perempuan, yang terdedikasi untuk menginginkan dan memiliki.

Hulu dari sungai pemberontakan, sebaliknya, adalah prinsip kelebihan aktivitas dan energi. Scheler benar bahwa dendam seringkali diwarnai oleh dengki. Bila dendam adalah kedengkian atas sesuatu yang dimiliki, maka pemberontakan adalah pembelaan terhadap sesuatu yang dimiliki itu. Ia tidak mengklaim barang-barang yang tidak dan ingin ia miliki. Tujuannya yang hanya untuk mendapatkan pengakuan atas sesuatu dimiliki itu—di hampir semua kasus—lebih penting daripada apapun yang bisa ia dengkikan. Pemberontakan tidaklah realistis. Menurut Scheler, dendam aka berakhir dengan ambisi tak terwujud, atau kepahitan, baik dendam orang lemah ataupun orang kuat sekalipun. Dalam kasus apapun, dendam adalah sebentuk keinginan untuk menjadi sesuatu yang bukan dirinya sendiri. Sebaliknya, pemberontak, sejak dari langkah pertamanya, menolak orang lain untuk mengubah dirinya. Ia bertarung demi integritas sebuah bagian dari keberadaannya. Tujuan utamanya bukan untuk menguasai, tapi untuk diakui.

Yang terakhir, di sini dendam terlihat mendapatkan kepuasan dengan rasa sakit yang dialami oleh objeknya Nietzsche dan Scheler benar dalam melihat contoh tentang hal ini, di mana seorang Tertulian menginformasikan kepada pembacanya bahwa salahsatu sumber kebahagiaan dari orang yang diberkati adalah dengan melihat orang-orang dari kerajaan Roma dibakar oleh api neraka. Kebahagiaan semacam ini juga dirasakan orang-orang biasa yang pergi melihat eksekusi terpidana mati. Pemberontak, sebaliknya—atas dasar prinsip—bahkan rela mengalami rasa sakit asal integritasnya dihormati.

Karena itu, sulit dimengerti mengapa Scheler menyamakan pemberontakan dengan dendam. Kritiknya terhadap dendam yang dapat ditemukan dalam humanitarianisme—yang ia perlakukan sebagai bentuk non-Kristen dari cinta terhadap umat manusia—mungkin dapat ditempatkan ke dalam bentuk-bentuk tak nyata dari idealism humanitarian, atau pada teknik-teknik teror. Tapi, dendam itu membentuk hubungan palsu antara pemberontakan seorang manusia terhadap keadaannya—semacam kekuatan yang menggerakan seseorang dalam pemelaan terhadap harga diri yang sama bagi semua manusia. Schler ingin mencontohkan bahwa perasaan-perasaan humanitarian selalu disertai oleh kebencian terhadap dunia. Kemanusiaan dicintai secara umum untuk dapat menghindar dari mencintai seseorang secara khusus. Dalam beberapa kasus, ini benar. Dan, lebih mudah untuk mengerti Scheler ketika kita menyadari bahwa gagasan itu muncul dari humanitariansme yang diwakili oleh Betham dan Rousseau.

Tapi cinta manusia terhadap manusia lainnya juga bisa lahir dari hal-hal lain selain dari kalukulasi matematis, atau kesadaran teoritis yang alamiah dari manusia. Sebagai contoh, di wajah utilitarianisme, dan pemikiran Emile ada sejenis logika—sebagaimana yang diperlihatkan oleh Dostovesky dalam karakter Ivan Karamazov—yang berkembang dari tabiat pemberontakan menjadi sebuah kudeta. Scheler menyadari gejala ini dan merancang sebuah konsep yang tergambarkan dengan kalimat: “Tidak ada cinta terhadap sesuatu yang cukup memadai di dunia ini selain cinta terhadap kemanusiaan.” Walaupun pernyataan itu benar, keputusasaan yang dihadirkan oleh Scheler akan berujung menjadi ketiadaan, dan akan menimbulkan kesalahpahaman terhadap karakter pemberontakan Ivan Karamazov. Drama Ivan, sebaliknya, timbul dari kenyataan bahwa terlalu banyak cinta tanpa objek. Cinta seperti ini bahkan bisa menolak Tuhan dan menghasilkan apapun. Karena itulah diputuskan untuk menjatuhkan cinta kepada umat manusia sebagai laku dermawan yang penuh pujian.

Terlebih lagi, laku pemberontak yang telah kita bahas, tidak muncul atas dasar pencapaian keinginan murni. Sementara kita bersikeras bahwa bagian dari diri manusia yang tidak bisa dikurangi menjadi ide-ide yang harus dipertimbangkan—sisi keinginan alamiah yang menggerakkan sebuah aksi yang hidup. Apakah ini berarti tidak ada pemberontakan yang dimotivasi oleh dendam? Tidak, dan kita sudah mengetahui hal ini sejak awal perasaan benci itu muncul. Namun, kita harus memikirkan bahwa ide pemberontakan, dalam arti luas, mengandung rasa sakit jika kita mengkhiantinya. Dengan demikian, pemberontakan jauh melebihi dendam.

Ketika Heathcliff—dalam Wuthering Heights—mengatakan bahwa cintanya melebihi cinta pada Tuhan dan rela pergi ke neraka untuk menyatu dengan perempuan yang dicintainya. Ia tidak didorong cinta masa muda atau rasa malunya, tapi oleh pengalaman seumur hidupnya. Emosi yang sama menyebabkan Eckhart—dalam sebuah perilaku kemurtadan, bahwa baginya lebih baik pergi ke neraka bersama Yesus daripada pergi ke surge tanpa-Nya. Ini esensi utama dari cinta. Bertola belakang dengan Scheler yang menegaskan tidak mungkin untuk terlalu menekankan tujuan penuh hasrat yang mendasari sebuah pemberontakan dan membedakannya dari dendam. Pemberontakan, meskipun terlihat negative, karena tidak menciptakan apapun, menjadi positif karena tidak menciptakan apapun, menjadi positif karena ia mempertahankan sebuah bagian di dalam diri manusia.

Di Luar Nihilisme

Karena itulah, cara bertindak dari cara berfikikir—yang memperlihatkan bagaimana manusia mengada—dimungkinkan naik ke level yang lebih moderat dari sekedar yang dimilikinya. Setiap perilaku yang lebih ambisius dari ini terbukti bertentangan. Kemutlakan tidak menjadi tujuan dan tidak diciptakan oleh sejarah. Politik bukanlah agama, atau jika iya, itu tidak lebih dari sekadar inkuisisi. Bagaimanakah masyarakat mendefinisikan kemutlakan? Mungkin setiap orang yang mencari kemutlakan itu karena ia di atas segalanya. Tapi masyarakat dan politik hanya bertanggung jawab dalam mengatur setiap urusan, sehingga masing-masing individu bisa memperoleh kenikmatan dan kebebasan. Sejarah, karena itu, tidak dapat lagi dianggap sebagai objek pemujaan. Ia hanyalah sebuah kesempatan yang harus dibuat menjadi berarti oleh sebuah pemberontakan yang hati-hati.

“Obsesi terhadap hasil dan ketidaktertarikan mengulang sejarah,” tulis Rene Char, “adalah dua kutub ekstrim yang ssaya hormati.” Jika durasi sejarah tidak menghasilkan apapun, maka sejarah, akibatnya, tidak lebih dari seubah bayangan yang cepat dan kejam di mana manusia tidak ambil bagian. Orang yang mendedikasikan dirinya untuk mengulang sejarah sama dengan mededikasikan diri kepada kekosongan, dan karenanya ia tidak menjadi apapun. Tapi orang yang mendedikasikan dirinya untuk masa hidupnya, untuk rumah yang ia bangun, untuk kehormatan umat manusia, sama dengan mendedikasikan diri pada bumi dan karenanya, akan mendapatkan panen dari benih yang ia tanam. Akhirnya, orang yang ingi tahu bagaiman cara memberontak, pada saat yang tepat, melawan masa lalu yang melampaui kepentingannya. Melawan sejarah dapat menimbulkan kesedihan dan tekanan berat sebagaimana telah dibicarakan pula oleh Rene Char. Tapi hidup yang sesungguhnya hadir dalam jantung dikotomi ini. Bahkan hidup adalah dikotomi ini sendiri. Pikiran yang menyeruak dari gunung merapi cahaya, kegilaan pada keadilan dan tuntutan terhadap perubahan.

Kearifan masa kini, dalam bentuk apapun, tidak dapat mengklaim lebih. Pemberontakan yang tanpa lelah melawan kejahatan, dapat melahirkan sebuah perubahan. Manusia dapat menguasai dirinya sendiri dan mengendalikan semua yang dapat dikuasainya. Ia harus menyempurnakan semua yang dapat disempurnakan. Setelah itu, anak-anak tetap akan mati secara tidak adil, bahkan dalam tatanan masyarakat yang sudah sempurna. Meski dengan usaha yang paling keras, manusia hanya dapat mengurangi penderitaan-penderitaan di dunia ini secara aritmatik. Ketidakadilan dan penderitaan akan tetap ada, dan bagaimanapun itu dibatasi, tetap akan menjadi sasaran amuk. Dimitri Karamazov berteriak, “Kenapa?” dan teriakannya akan terus terdengar. Seni dan pemberontakan akan mati hanya dengan matinya manusia terakhir di dunia ini.

Ada sebuah kejahatan—tidak diragukan lagi—yang terakumulasi karena keinginan manusia untuk bersatu. Tapi, ada kejahatan lain yang berakar di dalam gerakan yang tidak dapat ditebak. Berhadapan dengan kejahatan, kematian, manusia—dari hatinya yang paling dalam—akan berteriak untuk keadilan. Sejarah Kristen hanya akan menjawab protes terhadap kejahatan itu dengan janji akhirat dan kehidupan abadi—yang membutuhkan keimanan. Namun, penderitaan memupuskan harapan dan iman, lalu membiarkan manusia sendirian, sehingga penderitaan itu menjadi tidak terjelaskan. Umat yang bekerja keras dan tanpa henti, lelah oleh penderitaan dan kematian, adalah umat tanpa Tuhan. Karena itulah kita harus bersama mereka.

Sejarah Kristen menunda sebuah fase yang berkaitan dengan sejarah kejahatan dan pembunuhan. Materialism kontemporer juga memercayi bahwa para penganutnya bia menjawab segala macam pertanyaan. Tapi sebagaii budak sejarah, ia menambah jumlah pembunuhan, dan pada saat yang sama meninggalkannya tanpa penjelasan, kecuali untuk masa depan—yang lagi-lagi tergantung pada iman. Dalam kedua kasus di atas, orang-orang mesti menunggu, dan selama menunggu itu manusia-manusia tak bersalah terus meneruh mati. Selama 20 abad jumlah total kejahatan di dunia tidak berkurang. Tidak ada surga, baik dari Tuhan ataupun yang secara revolusioner bisa kita wujudkan. Sebuah ketidakadilan tetap terikat pada semua penderitaan, bahkan penderitaan yang paling pantas dijatuhkan sekalipun. Sikap diam Prometheus yang berkepanjangan terhadap kekuatan-kekuatan yang melampauinya terus bergema dalam protes. Tapi Prometheus, sementara itu, telah melihat manusia berlomba dan melindasnya. Ia terjepit di antara kejahatan manusia dan takdirnya, di antara terror dan ketidakpastian, yang memberikan kekuatan kepadanya untuk memberontak, menyelamatkan mereka dari pembunuhan, tanpa menyerah pada arogansi kemurtadan.

Lalu kita mengerti bahwa pemberontakan tidak mungkin ada tanpa cinta—dalam bentuknya yang asing itu. Mereka yang tidak menemukan ketenangan dengan penghambaan pada Tuhan atau tidak menemukan ketenangan dalam sejarah, lalu hidup bagi orang lain—yang seperti mereka—malah tidak bisa hidup, karena mereka hanya hidup untuk orang-orang yang dipermalukan. Karena itu, bentuk paling murni dari gerakan pemberontakan digambarkan oleh teriakan keras Karamazov: jika semua orang tidak terselamatkan, apa gunanya menyelamatkan diri sendiri? Maka, para tahanan Katolik—di dalam rumah tahanan di Spanyol—menolak misa karena para pendeta telah memutuskan misa itu sebagai kewajiban di beberapa penjara. Para saksi yang kesepian yang menyaksikan penyaliban orang-orang tak berdosa juga menolak penyelamatan jika itu harus dibayar dengan ketidakadilan dan penindasan.

Kedermawanan gila ini adalah kedermawanan pemberontakan, yang tanpa ragu-ragu memberikan kekuatan pada cinta dan tanpa sedikitpun penundaan untuk melawan ketidakadilan. Kebajikannya terlihat dengan ketiadaan perhitungan, rela menyerahkan apa saja yang dimiliki demi kehidupan semua orang. Ini adalah berkah yang diturunkan untuk umat di masa depan. Kedermawanan yang nyata di masa depan akan terlihat pada pemberian secara total terhadap masa kini.

Pemberontakan, dengan cara ini, membuktikan bahwa ia adalah sebuah geliat kehidupan dan ia tidak bisa ditolak, kecuali dengan menolak kehidupan itu sendiri. Sebuah pemberontakan menggiring manusia menuju eksistensinya. Pemberontakan adalah cinta, kemajuan, atau bukan apa-apa sama sekali. Revolusi tanpa kehormatan—revolusi yang dikalkulasikan dengan memilih antara konsep abstrak manusia atau tubuh nyata manusia—adalah sebuah gerakan yang menolak eksistensi manusia selama mungkin, dan menaruh dendam sebagai pengganti peran cinta. Pemberontakan yang tergesa, melupakan kedermawanan sebagai watak aslinya, membiarkan dirinya dinodai oeh dendam. Ia menolak kehidupan, melesat menuju kehancuran dan hanya melahirkan kelompok pemberontak yang tidak tangguh. Mereka semua adalah embrio budak, yang akan berakhir dengan menawarkan diri mereka untuk dijual di semua pasar di Eropa, untuk pelayanan dalam bentuk apapun.

Ini tidak lagi menjadi revolusi atau pemberontakan, tapi akan menjadi kebencian, kejahatan dan tirani. Ketika revolusi—atas nama kekuatan dan atas nama sejarah—berubah menjadi tindakan pembunuhan dan menolak perubahan, barulah pemberontakan muncul atas nama perubahan dan atas nama kehidupan. Saat ini kita sedang berada di antara kedua kutub itu. Di ujung terowongan itu kita bisa melihat secercah cahaya yang sudah kita percayai dan harus kita perjuangkan. Di antara reruntuhan, kita sedang mempersiapkan sebuah pencerahan di luar batas-batas nihilisme. Tapi hanya sedikit di antara kita yang mengetahuinya.

Dalam kenyataannya, pemberontakan—tanpa klaim—dapat memecahkan segala masalah, setidaknya berusaha menghadapi masalah itu. Sejak saat ini terik cahaya siang tidak lagi dapat menerangi arus deras sejarah. Dalam gejolak api yng membakar, bayangan-bayangan tentang perang tiba-tiba menyiksa manusia, lalu tiba-tiba menghilang, dan orang buta, dengan jari-jari menjepit kelopak mata mereka, meneriakkannya pada sejarah.

Orang-orang Eropa, telah ditinggalkan oleh bayangan-bayangan itu, kepala mereka telah berpaling dari titik bercahaya itu, juga berpaling dari masa kini. Masa kini dilupakan demi masa depan, nasib kemanusiaan ijual demi ilusi kekuasaan, kesedihan di kekumuhan demi kemegahan kota-kota abadi, keadilan demi sebidang tanah yang dijanjikan. Mereka juga melupakan keputusasaan mereka terhadap kebebasan pribadi dan mimpi tentang kebebasan yang asing dari sebuah spesies; menolak keterasingan dalam kematian dan memberi nama keabadian sebagai kesedihan kolektif. Mereka tidak lagi percaya pada hal-hal yang hidup di dunia, juga pada kehidupan manusia. Rahasia Eropa adalah ia tidak lagi mencintai hidup.

Orang-orang buta di kalangan mereka mempercayai bahwa untuk mencintai satu hari kehidupan cukup dengan menjustifikasi keseluruhan abad penindasan. Karena itulah mereka ingin menghilangkan kebahagiaan dari dunia dan menundanya hingga beberapa saat kemudian. Ketidaksabaran pada batas-batas, penolakan terhadap sisi ganda dari hidup mereka, dan keputusasaan  menjadi manusia, telah mebuat mereka berlebih-lebihan dan tidak manusiawi. Untuk menolak kenikmatan hidup yang sebenarnya, mereka harus mempertaruhkan semua kebaikan mereka. Untuk melakukan hal yang lebih baik, mereka mendewakan diri sendiri, dan ketidakberuntungan mereka pun dimulai; dewa-dewa itu telah membutakan mata mereka. Sebaliknya, Kaliyev, dan saudara-saudaranya di seluruh dunia, menolak untuk didewakan dan menolak kekuasaan tak terbatas untuk melawan kematian. Mereka memilih, dan memberikan contoh kepada kita perihal bagaimana kehidupan hari ini mesti dijalani, yakni untuk belajar hidup dan belajar mati, dan untuk menjadi manusia, menolak menjadi dewa.

Sampai di titik ini, si pemberontak menolak kedewaan demi membagi perjuangannya dengan takdir seluruh umat manusia. Kita akan memilih Ithaca, tanah keianan, dengan mempertaruhkan semuanya, dengan pemikiran yang mengejutkan, aksi nyata, dan kedermawanan dari orang-orang yang mengerti. Saudara-saudara kita bernapa di bawah langit yang sama dengan kita. Keadilan adalah hidup itu sendiri. Kini, telah lahir kegirangan baru yang dapat membantu seseorang, hidup dan mati, dan tidak akan kita pernah lagi menundanya hingga waktu yang akan dating. Di atas bumi yang sedih ada duri-duri yang tak pernah beristirahat, cairan pahit, angina laut yang kasar, fajar lama dan baru. Dengan kegembiraan ini, melalui perjuangan panjang, kita akan menciptakan kembali ruh bagi zaman ini, dan Eropa tidak akan menciptakan kembali ruh bagi zaman ini, dan Eropa tidak akan mengenyampingkan apapun. Tidak pula Nietzsche si hantu—yang setelah 20 tahun sejak kejatuhannya—tetap mempengaruhi Barat dengan pengetahuannya yang mengagumkan, juga nihilismenya. Tidak juga nabi keadilan tanpa belas kasih yang hadir—karena kesalahan, dalam rencana orang-orang tak beriman—dipemakaman Highgate. Tidak juga mumi yang didewakan. Tidak juga bagian manapun dari kecerdasan dan energy Eropa yang telah menjadi kebanggaan, padahal sesungguhnya tak pantas dibanggakan. Semuanya dapat hidup kembali secara berdampingan dengan martir pada 1905, dengan syarat mereka saling membenarkan satu sama lain, dan itulah sebuah batas, di bawah matahari, yang mengendalikan semuanya. Satu sama lain saling mengatakan bahwa ia bukan Tuhan. Inilah akhir dari romantisisme. Kini, kita harus menarik busur guna melesatkan anak panah menuju sasaran baru, untuk menguasai kembali—baik di dalam maupun karena sejarah—apa yang sesungguhnya sudah kita miliki, cinta yang singkat di bumi ini, di zaman ini. Busur dikekang; kayu menegang. Pada ketegangan tinggi, akan melesatkan sebuah anak panah yang kokoh dan bebas. (*)

Continue Reading

Classic Prose

Trending