Connect with us

Cerpen

Camilo Jose Cela : Tukang Foto Keliling Bernama Sanson Garcia

mm

Published

on

SANSON GARCIA CERCEDA Y EXPOSITO DE ALBACETE menggunakan mata kenangannya ketika mengintip lewat corong dalam kerudung alat pemotretnya. Mata kirinya, karena suatu kejadian tak terelakkan, tercampak di Sorihuela Provinsi Jaen pada hari San Claudio di awal maas kediktatoran, dalam pertengkaran dengan seorang Prancis tak berprinsip—Juanito Clermond—yang dijuluki orang Aristides Briand II.

Sejak kecil Sanson Garcia sudah menyenangi fotografi yang menyebabkan ayahnya, Don Hibrido Garcia Exposito Y Machado Coscuelluela, memukulnya sampai lebam sambil berkata—tentulah karena ia tahu kenapa—bahwa fotografi bukanlah pekerjaan yang layak buat laki-laki.

“Tapi Ayah, saya ragu,” sanggah Sanson untuk mengatasi rasa sedihnya, “Mana ada tukang foto perempuan yang bergerak dari satu kota ke kota lainnya.”

“Diam, kataku! Lebih hormatlah pada bapakmu, anak cacing! Lebih hormatlah pada orangtua!”

Dan Don Hibrido, seorang penganut dialektika, tak pernah beranjak dari pendiriannya. Melihat ayahnya bersikeras seperti keledai, Sanson diam, karena kalau tidak keadaan akan bertambah buruk.

“Tenang, Ayah, tenang! Saya akan memikirkan usul Ayah.”

“Bagus begitu…..”

Don Hibrido Garcia Exposito dulu seorang pemilik penginapan. Selama kurang lebih empat puluh tahun ia memiliki sebuah penginapan yang hasilnya kecil tapi teratur di Cabezarados, daerah La Mancha di kaki Sierra Gorda, tidak jauh dari Telaga Carrizoca dan Perdiguera. Pada masa itu Don Hibrido adalah seorang bos yang mandiri, seperti yang selalu dibanggakannya.

“Aku senantiasa menyukai orang mandiri, yang jika bilang begini diikuti semua orang, baik mereka senang atau tidak. Orang seperti itulah yang kusebut lelaki sejati. Sialnya sekarang tak ada lagi orang seperti itu. Contoh telaki sejati adalah kardinal Cisneros dan Agustine de Aragon. Bandingkan dengan cacing-cacing yang sudah jatuh pingsan hanya karena menyaksikan setengah lusin orang yang luka. Tak tahulah aku mau jadi apa dunia ini.”

Dengan sikap mandiri yang tegar itulah Don hibrido mengaggap enteng semua orang, kecuali istrinya yang berasal dari lalin, yang satu hari setelah kawin menggosok satu telinga suaminya dengan setrika, hingga telinga itu keriput seperti kol Brussel.

Sanson yang agak urakan—sehingga terus-menerus menggelisahkan Don hibrido—banyak menderita. Setelah perang berakhir ia membaca pernyataan Sekretaris Departemen Industri dan Perdagangan tentang kewajiban mandiri yang membuatnya gemetar, gelisah, dan sedih.

Apa jadinya kita ini, pikirnya. Air sudah sampai ke leher!

            Sanson Garcia yang sangat alergi pada kata mandiri, dengan mata sebelah, kamera berkaki tiga dan kerudung seperti akordion itu, telah melengkapi klub fotografi Spanyol dengan gambar anak-anak manis berambut-jurai memakai sandal, anggota pasukan infanteri yang menyerahkan tanda mata pada buah hati, para babu berambut kelabu di kuduk, dan sekelompok gadis kota kecil yang kecantikan alamiahnya tiba-tiba bertukar dengan terima kasih pada segelas anggur putih dan pawai perkawinan yang sumbang.

Sanson Garcia sebenarnya sangat liris; ia penyair sejati yang merasa sangat bahagia dengan pekerjaannya yang terus berpindah dari satu tempat ke tempat lain.

“Aku puas,” kadang-kadang ia berpikir setelah menyantap makanan hangat, “dapat bekerja sambil melihat orang-orang tersenyum. Aku pikir tak ada pekerjaan seperti ini di seluruh dunia. Bahkan tidak tukang goreng pastel!”

Sansom menyukai alam, anak-anak kecil laki-perempuan, hewan dan pohon-pohon. Matanya hilang dalam pertengkaran dengan Aristides Briand II, karena orang Prancis itu hendak mencoba guillotine tipe barunya pada beberapa ekor kucing yang malang.

Aristides Briand Ii berkata, “Aku menyukai kemajuan dan aku gembira dapat menyumbangkan sesuatu pada evolusi teknik. Lagi pula aku ini orang asing dan memerintah diriku menurut hukum Prancis.”

Sanson Garcia menjawab, meskipun Aristides orang asing tapi kucing-kucing itu tetap Spanyol, dan ia tak akan tenggang rasa terhadap kezaliman. Sebagai jawabannya, Aristides menghardik, “Babi! Keledai kampung tak makan sekolah!” Dan sanson langsung menyambung dengan dua kali babi, dua kali keledai kampung dan dua kali tak makan sekolah. Lalu si Perancis memberi tinju yang menyebabkan mata sanson tingggal satu untuk seumur hidupnya.

Setelah sembuh, Sanson menempelkan kain hitam pada bagian matanya yang hilang, sedangkan Aristides Briand II kabur bersama guillotine tipe barunya untuk bereksperimen di tempat lain, karena kecuali beberapa orang, penduduk Sorihuela memihak Sanson Garcia dan hendak menghukum orang Perancis itu.

***

“YANG Anda lihat ini,” kata Sanson sambil memperlihatkan foto seorang gadis sintal pada saya, “Genovevita Munoz, penyanyi asal Valencia del Mombuey, provinsi Badajos dekat sempa dan Portugal, tepat di depan Cerro Mentiras, Saya mencintai nona ini sedikit.”

Dengan gaya seorang Don Juan yang berpengalaman, Sanson meneguk anggur dan melanjutkan, “Meskipun menggairahkan kalau ia mau, Genovevita agak cepat naik darah, kenyal-liat seperti tak bertulang-tengkorak, sehingga kalau lagi datang anginnya—biasanya sebulan sekali—hindarilah dia seperti menghindari wabah. Sungguh, siapa pun yang dekat akan celaka, karena Genovevita menyimpan penyodok tukang sepatu dalam tasnya. Coba lihat ini!”

Lekukan yang ditunjukkan Sanson di tengkuknya cukup untuk sebuah mata uang logam.

“Tetapi perlu juga anda tahu, Genovevita sangat memikat dan berbakat, perempuan yang selalu dirindukan lelaki. Tak pernah dipersoalkannya berapa tebal dompet Anda seperti yang biasa dilakukan perempuan lain, tapi yang pertama dia tanyakan adalah lelaki macam apa Anda. Sebelum mulai bicara, dia memastikan dulu apakah lawan bicaranya itu orang Spanyol atau bukan. Dia selalu bilang, ‘Saya ini Spanyol, seperti Sang Perawan dari Pilar. Dan saya tak mau tahu tentang orang Prancis.’ Barangkali dia benar.”

Sanson meneguk habis anggur di gelasnya dan memanggil pelayan.

“Dua anggur putih.”

“Baik, baik!”

Apabila Sanson merasa sedih dan sentimentil, penutup hitam matanya berubah dari warna sayap terkembang menjadi hijau berkabung.

“Dan lanjutan ceritanya, Genovevita Munoz pada usia sangat muda sudah menjadi pembantu rumah tangga di Barcarrota, tempat arena pertandingan sapi yang berada dalam puri seperti kaki di dalam kaus. Karena gajinya kecil, banyak kerja dan tafsiran sang majikan untuk istilah babu-penuh sudah melampaui batas, Genovevita pun terbang pada kesempatan pertama; ia terdampar di Valverde del Carmino di wilayah Huelva, di bawah naungan bukit-bukit Sedundaralejo, tempat dia bergabung dengan kelompok Seni Pertunjukan Rakyat Oriflamas de Andalucia yang menyebabkan dia terombang-ambing antara berkeringat dan menahan lapar dari satu peristiwa ke peristiwa lain sepanjang ciptaan Tuhan. Karena pada mulanya ia tidak pandai menyanyi  dan menari, sang manajer menyuruhnya berjalan hilir-mudik di atas panggung memakai rok dalam. Baru dalam lakon Para Pemandi New York, La Genovevita menjadi tenar dan disukai umum, sehingga terbukalah harapan pekerjaan yang lebih baik.”

Pelayan berkemeja kotor, celana cururoy dan celemek bergaris hijau dan hitam meletakkan dua gelas anggur putih di atas meja, dan sebuah piring kecil berisi dua butir limau yang sudah kisut.

“Saya berjuma La Genovevita di San Martin de Valdeiglesias, sebuah kota subur-makmur di antara Avila dan Toledo. Dia sudah menjadi anggota paduan suara dalam lakon Gema Panas Karibia, menarikan rumba dan danzon sedikit sebelum bagian kedua berakhir. Sebenarnya dia mencoba meniru Suara Api Camaguey yang dinyanyikan Belan Baracoa, gadis mulatto dari Betanzoz yang terkenal dengan aksen Galisia itu. Menonton La Genovevita dan jatuh cinta padanya, saya lalu bersumpah demi semua yang penting dalam hidup ini. Itu saya katakan degnan cara terbaik menurut saya, dan dia menjawab dengan ya yang penuh gairah; dan karena tak ada tempat buah saya dalam Gema Panas Karibia kami pun pergi ke ibukota, tinggal di alam terbuka seperti pasukan jalan-kaki, sambil berpikir alangkah malangnya kami, karena di ibukota anjing-anjing ditambat dengan sosis. Segera kami menyadari kekhilafan itu—jika anjing-anjing ditambat dengan sosis, sosis itu tentu rapat di perut majikannya—lalu setelah berpikir masak-masak, kami pun pergi dari situ dengan kesimpulan lebih baik mati di hutan seperti kelinci daripada seperti kucing di tempat terbuka. Dua anggur putih!”

“Apa?”

“Bukan, bukan kepada Anda. Saya memanggil pelayan. Ia tidur. Oi, dua anggur putih!”

“Ya, ya.”

“Seperti sudah kukaktakan tadi, saya ini berbakat pencemburu dan tidak terlalu ambil pusing soal profesi La Genovevita sebagai artis, sebab seperti Anda tahu para artis biasanya punya reputasi buruk—begitulah pada suatu hari saya bangkitkan keberanian, pergi kepadanya dan berkata, ‘Dengarkan, Genovevita sayang. Cinta dalam kehidupan tak boleh disamakan dengan yang di atas panggung.’ Dia lalu menggeliat, siap menyerang. Darahnya mendidih, lalu menghamburkan diri sambil menghadiahkan satu pukulan yang kalau tak segera dihentikan—saya tidak malu mengakui ini—pastilah menyebabkan saya tak dapat mengisahkan cerita ini pada Anda.”

Wajah Sanson bersinar dengan senyuman tipis.

“Bukan main cantiknya La Genovevita dengan rambut merebang dan mata seperti harimau! Maafkan saya karena tak dapat mengingat hal itu tanpa rasa pilu. Jika Anda punya perasaan sama seperti saya, kita lanjutkan cerita ini lain kali.”

“Terserah.”

“Terima kasih. Hari ini saya tak bisa melanjutkannya. Pelayan, empat ya.!”

***

ESOKNYA, Sanson Garcia tampak seperti enggan melanjutkan cerita tentang La Genovevita.

“Bagaimana sambungan cerita perempuan kemarin?”

Sanson menyeringai.

“Lebih baik kita tinggalkan saja kisah itu. Penutupnya tidak bagus, artinya cerita itu buruk di ujung. La Genovevita memang cantik, itu tidak saya sangkal, tapi rasa pemarahnya tak tertanggungkan. Dia sendiri heran dan selalu bertanya pada saya, ‘Sanson, tololkah saya ini?” Tentu saja saya menyangkal, “Tidak, Sayang. Kau sama seperti orang lain. ‘Tapi itu tidak benar. Percayalah, La Genovevita lebih tolol dari kebanyakan orang. Lebih baik kita cerita yang lain saja.”

“Terserah.”

Sanson Garcia terdiam.

“Terima kasih. Maukah Anda jika saya ceritakan tentang Senorita Tiburcia del Oro Y Gomis, juru rawat lautan kasih yang menggantikan tempat la Genovevigta di hati saya?”

“Ceritakan saja.”

Sanson menggeser kursinya ke belakang sedikti dan berkata, “Ya, begitulah. La Tiburcia del Oro, meskipun namanya seperti matador perempuan, adalah seorang gadis yang punya prinsip, terdidik, rajin, terpelajar. La Tiburcia del Oro—maaf, menyebutnya Tiburcia saja rasanya kurang sopan—saya jumpai di Cuenca, ibukota provinsi tempat dia mengurus anak-anak orang kaya, yang makan sup dengan tangan dan sehari suntuk berjingkrak di atap rumah. ‘Tak ada yang dapat melarang mereka,’ kata Tiburcia pada saya. ‘Paling-paling hanya membiarkan dan melihat mereka jatuh. ‘Beberapa hari sesudah itu saya bertemu dia dengan rasa iman yang mendalam. Anda dengar tidak?”

“Ya, tentu. Teruskan!”

“Begitulah. Beberapa hari setelah berkenalan, seorang di antara anak-anak yang diurusnya, bernama Julito, jatuh dari atap dan meninggal. Ah, si bandel cilik!”

Sanson diam sebentar.

“Lalu orangtua si anak menendang La Tiburcia del oro sampai ke jalan raya dan tidak membayarnya satu sen pun. Kemudian, setelah terlunta-lunta sendirian, La Tiburcia del oro tiba di tempat saya menginap di gang del Clavel; di situlah kami bertemu; saya, La Tiburcia del oro, ibu pemilik penginapan bernama Donna Ester, dan pedagang keliling berwajah bopeng bekas cacar. Simeoncito namanya, yang meskipun tubuhnya seperti raksasa, ia sudah berpisah dengan istrinya dan diam bersama kami. Dengan bersimbah airmata, La Tiburcia del oro hanya dapat berkata, ‘Malapetaka! Malapetaka!’ Untuk menenangkan dia, kami semua berkata, ‘Jangan berduka. Julito itu memang bandel.’ Anda pasti tahu tak banyak kata-kata yang dapat kami keluarkan dibanding sedih-pedih yang ditanggung La Tiburcia del Oro.”

Sanson Garcia berhenti dan melihat orang-orang yang naik ke atas atap.

“Mereka seperti anak-anak kecil, bukan? Anak-anak yang jatuh dari atap.”

“Hah?”

Sanson melanjtukan ceritanya.

“Polisi, yang banyak tahu soal hukum, menyarankan jalan terbaik bagi la Tirbucia; lari dari situ. ‘Kalau kau suka, kau boleh pergi bersamanya,’ kata polisi itu, ‘tapi yang penting dia harus segera bergi sebelum keadaan bertambah buruk.’ Ibu pemilik penginapan dan Simeoncito setuju pada usul itu. Begitulah. La Tirbucia dan saya membeli dua karcis kereta kelas tiga dan tiba di Calencia, sebuah kota di Turia kata orang, tempat saya mendapat pekerjaan di studio foto El Arco Iris; dan membuat foto-foto besar dan berwarna tentang orang-orang yang meninggal dalam perang. Ketika itu perang baru saja usai dan kenangan pada si mati masih mencengkeram banyak keluarga, dan pesanan pun banyak dan saya mendapat banyak keuntungan.”

“Ck, ck, ck.”

“Demikianlah, di kota Turia itu, seperti saya katakan tadi, La Tiburcia del oro dan saya sangat bahagia. Dia menjajakan saputangan dan renda, dan hasilnya disatukan dengan pendapatan saya hingga banyak; sehingga kadang-kadang kami dapat pergi ke bioskop, meneguk berliter anggur putih tanpa meminta potongan harga yang merendahkan derajat. Itulah hari-hari bahagia itu. Setiap detik menjadi kenangan. Percayalah, badan saya menggelenyar oleh ingatan terhadap dia.”

“Apa yang kemudian terjadi dengan Tiburcia del oro?”

“Apa yang terjadi? Saya tak mau mengingatnya. Kami sedang berada di puncak bahagia; tak seorang pun, tak satu pun yang dapat merusak cinta kami, tapi tiba-tiba La Tiburcia dipukul seorang bajingan busuk—terkutuklah bajingan yang penuh jumbai di bahu itu—tapi orang busuk itu kemudian jadi fanatikus sukses, sendangkan La Tiburcia justru meninggal di rumah sakit karena dijangkiti penyakit yang obatnya ditemukan oleh Pasteur. Perempuan malang, sangat memalukan akhir hidupmu!”

“Betul. Maafkan saya, saya sudah mengingatkan Anda pada cerita sedih ini.”

“Oh, tak apa. Semuanya sama saja akhirnya.”

Sanson Garcia berdiri, meraih tasnya, dan meletakkan tiga lusin lebih foto Tiburcia del Oro di atas meja.

“Lihat, begitu bergaya, alangkah tenang pandangan matanya!”

***

ESOKNYA Sanson Garcia mengais-ngais lagi foto-foto miliknya.

“Lelaki ini lucu sekali Ha, ha, ha. Orang bisa mati ketawa karena ulahnya. Anda kenal orang ini?”

“Mana saya tahu. Siapa?”

“Anda benar-benar tidak mengenalnya?”

“Sama sekali tidak. Siapa orang ini?”

Sanson meneguk anggurnya perlahan-lahan, mengecap lidahnya beberapa kali dan berkumur sedikit.

“Baiklah kalau begitu, akan saya ceritakan …….” (*)

 

| Penerjemah: Fransiskus Asmana

______________________

CAMILO JOSE CELA (Nobel Prize for Literature 1989)

Lahir di Madrid, Spanyol tahun 1917, Cela pernah  menjadi anggota parlemen Spanyol, menggeluti pekerjaan sebagai matador, pengawai negeri, pelukis, dan aktor sebelum mencurahkan perhatiannya pada dunia sastra. Sebagai sastrawan, ia dikenal biasa bicara blak-blakan, dengan logat yang khas, bahasa yang lugas dan mudah dicerna; di mana di dalam karya-karyanya ditemukan “situasi” yang kelabu, yang ditulis dengan simpati sangat besar terhadap orang-orang “terkutuk” (pelacur, orang-orang miskin, dan bodoh).

Cela lebih dikenal sebagai novelis, meski ia juga menulis puisi. Karya-karyanya yang banyak dibicarakan antara lain La Familia de Pascual Duarte (1942), La Colmena (1951), Viaje a la Alcarria (1958), San Camilo 1939 (1969), dan Mazurca Para Dos Muertos (1984).

Dalam keterangan pers-nya Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Kesusastraan pada Cela dengan pertimbangan: “…untuk kekayaan dan intensitas prosanya yang dengan bentuk rasa kasih yang tertahan, menghasilkan visi yang menantang atas integritas kemanusiaan ….

Cela adalah sastrawan kelima Spanyol (setelah Jose Echegaray Y Eizaguirre tahun 1904, Jacinto Benavente tahun 1922, Juan Ramon Jimenez tahun 1956, dan Vicente Aleixandre tahun 1977) yang memperoleh penghargaan tersebut. (*)

Cerpen

Api Diana

mm

Published

on

Aku ingin bercinta sampai mati, tetapi acara bedah buku itu sudah berakhir. Diana dan aku harus bergegas, dan kepada tuan rumah yang juga sekaligus pembicara utama di bedah buku kali ini, kukatakan dengan wajah tanpa dosa: “Sering-seringlah menerbitkan karya dan undang aku seperti malam ini.”

Oleh Ken Hanggara *)

Aku hanya bercanda. Penulis yang juga sahabatku itu pacar Diana, dan aku bukan jenis pemain yang suka menantang bahaya. Berhubungan intim dengan pacar sahabatmu pada waktu bersamaan, di bangunan yang seatap dengan suatu acara penting yang mana sahabatmu itu menjadi rajanya, adalah kekurang-ajaran yang pantas mendapat ganjaran. Aku tidak berharap ganjaran berat kelak menimpaku.

Orang bilang aku sinting, tetapi Diana diam-diam menggilai kesintinganku. Sudah berkali-kali kumohon kepadanya agar berhenti merayuku dan berhenti memesan kamar hotel diam-diam untuk kami berdua.

Diana bilang, “Dia tidak seistimewa kamu.”

Pertama kali bertemu Diana, kukira gadis ini bahagia. Sahabatku pengarang yang sukses dengan buku-buku fiksi yang luar biasa. Dia layak mendapat penghargaan dan uang dan ketenaran. Dia juga pantas menggaet perempuan seindah Diana, dan keduanya terlihat bahagia dengan semua yang mereka miliki.

Aku yang bukan siapa-siapa menyadari itu.

Pada satu kesempatan aku turut datang merayakan kemenangan sahabatku di jagat literasi tanah air. Dia memang tidak pernah melupakan keberadaanku yang dulu sering membantu ketika sedang kesulitan. Aku dulu beruntung dengan bisnis rumah makanku, dan sahabatku mendapat manfaat dari bisnis itu sebelum suatu telepon datang untuknya, mengabarkan jika karyanya yang tempo hari dikirim ke sebuah penerbit diterima untuk diterbitkan. Sejak itu sahabatku bukan lagi penulis muda yang miskin.

Roda berputar. Akulah yang kemudian sering kena masalah. Bisnisku naik-turun dan lama-lama bangkrut. Utang menumpuk sampai kujual beberapa aset, dan kini yang tersisa hanya rumah kecil dan pekerjaan yang tak kuinginkan. Aku tidak perlu menyebut pekerjaan itu. Aku malu. Jelas aku tak seberuntung sahabatku.

Dalam undangan-undangan bedah buku atau sekadar bincang sastra yang diadakan sahabatku, atau di mana dia menjadi narasumbernya, aku selalu melihat sosok lain di panggungnya. Aku melihat perwujudan manusia sukses dengan masa depan cerah. Jauh berbeda dariku yang merana dengan pakaian yang sering kali sengaja tak kucuci sampai seminggu lebih demi menghemat deterjen.

Pertemuanku dengan Diana dimulai di salah satu pesta, dan itu terjadi secara tidak sengaja. Diana tidak benar-benar lebur ke acara-acara yang menjadikan pacarnya raja dalam semalam. Itu karena dia sibuk mengurus bisnisnya dan dia juga masih kuliah. Ketika Diana benar-benar ikut dan aku juga kebetulan di sana, sahabatku mengenalkan gadis itu sebagai masa depan keduanya.

“Diana masa depan keduaku setelah semua yang kucapai hari ini,” katanya waktu itu.

Aku ingat kalimat tersebut. Suatu kalimat yang seorang sahabat dari masa kecil katakan, di acara yang membawa nama besarnya, sementara tidak jauh dari kami berdiri perempuan anggun yang mirip sebagai mimpi di siang bolong. Aku benar-benar merasa ditarik ke alam mimpi, tetapi tidak diizinkan masuk, sebab tiket yang disediakan untuk istana masa depan hanya tersedia untuk sahabatku dan gadis bernama Diana itu.

Aku tidak berpikir ingin merebut Diana atau apa. Sejak awal pikiranku cuma satu: betapa beruntung sahabatku. Kurasa dia layak mendapat semuanya. Tapi, Diana datang padaku suatu sore. Dia bilang, dia bisa mencari info soal di mana tempat tinggalku atau di mana aku bekerja, meski saat kami berjabat tangan dulu, aku tidak menjabarkan siapa diriku dengan mendetail.

Aku tidak tahu kenapa Diana datang ke tempatku, tetapi mendadak aku ditarik ke celah antara sepasang kekasih ini. Aku diajak bermain api oleh Diana dalam percintaan yang membuat jantungku nyaris copot setiap mendapat telepon dari sahabatku.

Diana cantik. Setiap lelaki tidak akan tahan oleh godaan yang dia lakukan. Tidak perlu keahlian khusus untuknya demi melakukan dosa semacam itu. Ia jauh lebih cantik dari bayangan bidadari yang dapat kuimajinasikan seumur hidupku.

Awalnya aku merasa sangat berdosa. Terkadang diam-diam kupukul pipiku sendiri, lalu kukecap darah dari bagian dalam mulutku, sehingga asinnya mengingatkanku pada masa lalu sahabatku yang belum sukses. Aku sering memandangi wajahku lama-lama di depan cermin sebelum tidur. Di sana kubayangkan akulah yang berdiri dengan gagah di podium tempat sahabatku selama ini menyapa para pengagum karyanya.

“Ya, doakan saja karya terbaru saya segera terbit,” katanya selalu, ketika menutup perjumpaan di setiap acara.

Kubayangkan, bibirku yang tebal yang mengucap kalimat basi macam itu di depan penonton. Sayangnya, aku bukan pengarang sukses. Aku hanya lelaki biasa yang sedang kehilangan masa jayanya saat usiaku masih terbilang muda. Betapa menyedihkan. Aku bahkan tak pernah sekalipun bercita-cita menjadi pengarang.

“Tidak ada yang menyedihkan, Dakir,” sangkal Diana. “Kamu masih bisa membuat kisah suksesmu. Dari nol. Tak ada yang tak mungkin. Kamu mampu, kalau kamu mau. Aku bisa bantu, dan pacarku tidak keberatan membantumu, karena dia pernah bercerita kalau dulu kamulah satu-satunya yang membantunya.”

Aku tak benar-benar yakin hidupku akan membaik setelah perselingkuhan dengan pacar sahabatku berlangsung dan justru kami nikmati, karena tidak ketahuan dan sebab tak ada yang curiga. Pertemuan-pertemuan kami tidak terendus karena saking sibuknya sahabatku, dan jarangnya jadwal mereka bertemu. Aku sendiri bisa menggunakan waktu luangku yang banyak.

Saat perselingkuhan ini kupikir akan menjadi penyakit akut yang tak tersembuhkan, aku bayangkan Diana milikku seutuhnya. Aku bayangkan Diana tidak punya hubungan dengan sahabatku. Aku bayangkan kelak akulah yang menjadi suami gadis itu. Bahkan, perlahan dan pasti, beberapa teman kerjaku tahu permainan ini. Tentu aku tidak bodoh. Tidak ada di antara mereka yang mengenal sahabatku, tetapi kemudian oleh tiap orang di tempat kerja, aku disebut-sebut sebagai orang tersinting yang pernah ada.

Itu bukan sekadar julukan. Aku mungkin sinting saat menerima rayuan Diana demi membuat sensasi tersendiri di antara kami. Maksudku, dalam acara bedah buku waktu itu; di bangunan yang sama di mana acara sahabatku dimulai, kami malah asyik bercinta di antara rak-rak buku. Semua itu terjadi begitu saja.

Hanya saja, rasa takut tetap ada di dadaku. Diana tidak pernah terlihat benar-benar takut, tetapi dia bilang, “Setiap orang punya rasa takut. Aku juga takut kalau sampai dia tahu. Bagaimana hubungan kalian? Bagaimana rencana pernikahanku? Di sini, sekarang, aku merasa sahabatmu mengintip, padahal kamu dengar sendiri dia sedang berbicara di ruang tengah.”

Biasanya, selesai kami berbuat gila di tempat-tempat tak terduga, yang berjarak tak terlalu jauh dari sahabatku, aku langsung menjauh dari Diana dan kadang berpikir amat lama tentang bagaimana semua ini berakhir. Sahabatku, barangkali tetap berjaya dengan karyanya. Diana jadi istri yang baik, atau barangkali menolak semua yang mereka telah rencanakan? Kukira itu bisa terjadi. Diana mengaku tak bahagia dengan sahabatku.

Aku sendiri?

Bertahun-tahun setelah ini, yang muncul di pikiranku hanya satu: apa sahabatku itu masih menganggapku sahabat? Jawabannya tergantung dari apa dia tahu permainanku dan Diana atau tidak sama sekali. (*)

*) KEN HANGGARA lahir di Sidoarjo, 21 Juni 1991. Menulis puisi, cerpen, novel, dan skenario FTV. Karyanya terbit di berbagai media. Bukunya: Museum Anomali (2016), Babi-Babi Tak Bisa Memanjat (2017), Negeri yang Dilanda Huru-Hara (2018), dan Dosa di Hutan Terlarang (2018).

Continue Reading

Cerpen

Panggilan Masuk Untuk Orang Mati

mm

Published

on

“Mohon maaf, Bapak tidak ada. Bapak sudah mati, 40 hari yang lalu. Kalau Anda ingin bertemu, silakan pergi ke San Diego Hills.” Tak kudengar suara apa-apa di seberang.

Oleh: Inas Pramoda *)

Bapak mati. Tak perlu aku memperhalus kata. Meninggal, wafat, berpulang, jasadnya sama-sama terkubur satu depa di bawah tanah. Seribu hari lagi juga bakalan menyusul jadi tanah. Dan kalau pusaranya ditanami rumput teki, bakalan tumbuh subur, sebab tanahnya peroleh nutrisi dari daging bapak hingga jadi humus. Dua kali ibu menelepon dari rumah selepas bapak mati. Pertama buat mengabari kalau bapak mengembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Fatmawati. Kali keduanya panggilan masuk dari ibu, untuk sebuah pertanyaan singkat, “Marian, kamu ingat pin ATM Bapak?”

Untung saja aku ingat. Tak lain tanggal lahir Ras, adik bontotku. Sementara pin ATM ibu juga aku hafal betul, yang merupakan tanggal lahirku. Mengapa juga mereka berdua senang sekali bikin pin pakai tanggal lahir anaknya? Padahal seumur-umur aku buat pin, dan Ras juga sepertinya, tak pernah kepikiran pakai tanggal lahir mereka.

Bapak mati tanggal 14 bulan 5. Mungkin satu hari nanti ini bisa kugunakan jadi pin, atau kode gembok koper. Hari itu, aku tak bisa mengantar keranda bapak sampai ke San Diego Hills. Dan stok baju setelan hitamku tertinggal di rumah semua. Jadi saat hari berkabung, aku tetap mengenakan jaket hodie hijauku. Foto terakhir bapak saat masih terbaring di ICU tampak kurus, pipinya agak cekung, dan garis tulang rahangnya terlihat tegas. Yang di pikiranku adalah, itu bakal mengurangi beban bagi para penggotong kerandanya, juga orang-orang yang ikut menurunkan badan kaku bapak ke lantai tanah.

Om Hendra, adik bapak, ia yang meluruskan mayat bapak dan melepas ikatan kafannya mulai kepala. Sebelum lahadnya bakal ditutupi papan kayu yang hanya berjarak sekilan dari badannya yang lambat-lambat membusuk. Om Hendra jadi kerabat bapak paling dekat hari itu, sebab om-om yang lain sudah lebih dulu mati. Sementara Ras, putra kandung bapak, tak ada di rumah. Mungkin juga nanti kalau aku mati, dan suamiku sedang dinas keluar kota, maka Ras yang bakal turun merebahkan jasadku ke lubang kubur.

Berita bapak mati bisa jadi kabar buruk, tapi ada juga baiknya. Sewaktu bapak masih dirawat, aku masygul untuk ikut wisuda. Sebab khawatir kalau nunggu sampai wisuda keburu bapak mangkat. Kalau terlanjur begini, sudah barang tentu toga yang masih anteng di lemari itu bakalan kupakai. Setidaknya setelah bapak mati, ada beberapa hal yang jadi terang, ada beberapa keputusan yang bisa segera diputuskan. Hanya ada satu yang sempat kepikiran, bagaimana sebetulnya prosesi salat gaib yang layak?

Aku cukup rajin salat lima waktu, kubilang cukup karena ada yang terpotong libur bulanan. Namun salat gaib, kukira ini yang perdana. Aku mesti cari tahu dulu keterangannya di internet, dan karena dulu bapak pernah berpesan jangan percaya bulat-bulat apa yang terpampang di situ, aku meminjam buku yasin tahlil milik teman. Dan dari temanku itu, berita kematian bapak merembes dari kuping ke kuping. Hingga akhirnya banyak temanku merasa iba. Sebagian lagi kikuk bagaimana menghadapi orang yang sedang berduka. Kebanyakan adalah orang-orang golongan kedua ini.

Gambar kuburan bapak yang masih basah lalu beredar di media sosial, sambil beberapa menandai nama bapak, juga menyebut namaku dan Ras. Kebanyakan diunggah oleh sepupu dan tante yang datang melayat. Satu yang kusadari ketika orang yang kamu sayangi mati adalah, teleponmu akan lebih ramai dari hari-hari yang lain. Seperti euforia yang sesaat. Sebelum kemudian ingatan orang-orang disibukkan dengan perkara kecil lain yang tak boleh mereka luputkan. Dan perkara kecil itu tak termasuk kematian bapak.

Bagiku setelah bapak mati, itu hanya akan menambah alasan untuk melawat San Diego Hills. Aku bisa sekalian gelar tikar dan mengadakan piknik kecil-kecilan di sana. Pemakaman swasta itu memang dipermak sedemikian rupa hingga para peziarah tak perlu merasa takut, walau harus datang menjelang malam, atau malam sekali pun. Kalau saja tak ada tanda pengenal orang mati, tempat itu serupa taman kota, atau alun-alun. Sepertinya memang bagus kalau pemakaman jadi tempat yang menyenangkan. Meski di bawah tanah tetap dingin, dan cacing berkelindan dengan belulang. Dan bapak mungkin berbagi daging dengan cacing-cacing yang menggemburkan tanah di peraduan Om Rupawan. Toh nisan mereka bersebelahan.

Ternyata sepetak tanah itu sudah dibeli bapak jauh-jauh hari. Sejak kanker mulai menggerayangi tubuh kecilnya yang kian musim kian ceking. Bahkan orang mati masih ingin dikumpulkan bersama orang-orang terdekatnya, aku membatin. Dan sempat terpikir di tempurung kepalaku, apa perlunya begitu? Walau kubur berdempetan juga, kalau sudah jadi mayat tak mungkin kelayapan. Namun ibu potong, “Biar yang ziarah bisa sekalian ngunjungin kerabat.” Itu alasan yang bagus, dan tak perlu ditampik-tampik lagi. Aku harus belajar untuk mengarang alasan semacam itu, agar tak melulu diteror dengan pesan masuk berpuluh-puluh dari seorang lelaki yang menyangka kita pernah demikian dekatnya, dulu.

Ibu baru saja mendarat tadi sore. Hanya menenteng satu koper kecil yang isinya kastangel dan putri salju, juga rok batik yang ia pesan untuk kukenakan saat wisuda besok. Namun sial betul, hingga menjelang tengah malam, hujan tak kelar. Yang berarti esok bakal becek-becekan. Itu masih mending kalau bukan hujan lagi. Kampus pintar sekali menjadwalkan wisuda saat minggu basah begini, dan lebih pintar lagi karena menyiapkan tempat di lapangan. Serampungnya cari makan malam tadi, ibu langsung lemas terlelap. Kalau ada bapak, semestinya ia ikut terlelap di samping ibu sekarang. Karena bapak sudah mangkat, ia hanya datang lewat cerita-cerita ibu seharian tadi. Meski tanpa air mata, cerita ibu malah terdengar lebih menyayat lagi. Bisa kudengar getir kesepiannya saat mulai bercerita Kartu Keluarga yang baru telah dicetak, dan ibu kini jadi kepala keluarganya.

“Sekarang anak-anak gak boleh pulang malem-malem lagi, nanti ibu kunci dari dalem. Tidur di luar.”

Aku susah sekali tidur, padahal tujuh menit ke depan sudah bakal jam tiga. Dan nanti sebelum genap jam delapan kudu berkumpul di kampus. Mataku bergantian melirik layar hpku, lalu layar hp bapak. Itu dibawa ibu dari rumah, dan dibiarkan menyala. Sengaja kata ibu hp bapak tak dimatikan, bukan karena alasan sentimental misalnya banyak tertimbun foto mereka berdua di sana, tapi karena banyaknya langganan dan tagihan yang memakai akun bapak, nomor bapak. Jadi nomor hp bapak dibiarkan aktif, meski itu berarti pesan-pesan masuk ke nomor tadi terus berdatangan, dan terus mengganggu.

Ibu menepuk-nepuk pahaku, tak sampai menyakiti tapi cukup untuk membangunkan. Kelopak mataku rasanya berat, seperti ada kepompong yang memaksa bergelantungan di sana dan enggan jatuh, jadi aku hanya bisa membukanya perlahan, demikian pelannya. “Marian, kamu mau terus tidur apa wisuda?” begitu saja tanya ibu.

Wisuda itu aku membopong sepatu cantikku alih-alih mengenakannya seperti tuan putri. Dan terlihat jelas sendi-sendi jemari kakiku yang bulat-bulat. Sandal jepitku anggun sekali diapit dua jari yang biasa kugunakan untuk menyubit paha temanku saat bermain-main itu. Hari ini tepat 40 hari bapak mati. Kalau langit hujan karena menangisi bapak, akan lebih baik kalau ia diam saja, dan aku tak perlu menenteng-nenteng sepatu sambil menunggu rangkaian acara wisuda kelar. Belum lagi pakai jas hujan tembus pandang yang disiapkan kampus, agar toganya masih kelihatan. Sempurna.

Seharian yang melelahkan, dan menyenangkan, melihat orang-orang di sekitarku merayakan hari ini. Bagiku, dua perayaan. Perayaan kelulusan, dan 40 hari bapak mati. Dipikir-pikir, dengan matinya bapak, itu juga mengurangi biaya tiket pulang-pergi. Mungkin yang satu itu harus disyukuri. Namun tetap saja, semua jadi sepi. Ibu mengumpulkan aku dan Ras untuk membaca doa selepas isya. Bukan artinya kami hanya berdoa sekali waktu itu, tapi ini sedikit istimewa saja. Aku lelah. Ibu dan Ras juga mungkin lelah, tapi Ras habis dapat sepatu baru, dan ibu beli termos tenteng baru. Kedua-duanya itu, sepatu dan termos, bisa dibeli di rumah, kenapa mesti jauh-jauh ke China, protesku.

“Yang di rumah juga made in China Mar, sama aja toh,” tungkas ibu.

Malam itu aku habiskan dengan merapikan ponsel bapak. Aku meninggalkan obrolan-obrolan grup tak penting biar tak bikin ribut. Mungkin menurut bapak itu penting, tapi menurutku tidak, dan tak ada sangkut-pautnya dengan tagihan, jadi aku keluarkan. Aku membuka email-email masuk yang belum sempat dibaca, membalasnya bila perlu dibalas, dan memastikan tak ada sisa dari kotak masuk yang belum terjamah. Aku rasanya berperan menjadi bapak, sedikit. Ibu sudah jadi kepala keluarga baru. Ras? Anak yatim. Kalau dipikir seperti ini, makin yakin aku bapak betul-betul telah mati.

Lalu sesaat saja setelah aku menggeletakkan ponsel bapak di samping lampu meja, ia berdering. Panggilan whatsapp dari nomor tak dikenal. Padahal lampu sudah kumatikan, dan tinggal aku yang terjaga.

“Halo, malam.”

“Malam.” Suara wanita.

“Ini dengan siapa ya?”

“Betul ini nomornya Pak Nugros?”

“Iya, betul, dengan siapa ya?”

“Baik kalau begitu, Bapak ada?”

“Ini dengan siapa ya?”

“Bilang saja, ini dengan istrinya.”

Aku melihat ibu agak menggigil di sebelah. Kunaikkan sedikit selimut hingga ke tengkuknya. Lalu kumeraba-raba meja di samping kasur buat menggapai remot ac, dan menaikkan suhu di kamar. Selama jeda itu panggilan belum terputus. Untunglah.

“Mohon maaf, Bapak tidak ada. Bapak sudah mati, 40 hari yang lalu. Kalau Anda ingin bertemu, silakan pergi ke San Diego Hills.” Tak kudengar suara apa-apa di seberang. “Dan mohon, setelah ini, jangan menghubungi nomor Bapak lagi. Bapak sudah mati.” Baru kemudian aku yang menutup panggilan duluan. Aku mengelus kepala ibu, dengan alasan yang sentimental. Ibu sudah jadi kepala keluarga, Ras anak yatim, dan aku baru saja menerima panggilan atas nama bapak. Jadi benar, bapak sungguh-sungguh telah mati. (*)

Rabat, 8 Juli 2019

_______

*) Inas Pramoda lahir di Jakarta, 11 Agustus 1996. Merantau ke Singosari—bekas kerajaan yang menyisakan candi-candi—selepas sd. Bergabung dengan teater Sajadah Senja sewaktu sma, memilih jurusan bahasa dan sastra. Kuliah di Maroko sejak 2014, terhitung sampai 2019 ini sedang menempuh master perbandingan agama di Univ. Hassan II Casablanca. Inas Pramoda—meminjam istilah Seno—seorang Homo Jakartensis. Penulis antologi puisi “Purnama Merah” dan “Kasus Rindu”. Bisa disapa di ig: @inaspramoda

 

Continue Reading

Cerpen

Christin, dan Senja yang Hilang

mm

Published

on

Senja selalu memungut hal-hal yang berbeda tentang orang-orang yang berbeda dengan bahasa yang berbeda-beda. Senja kali ini mengisah sekaligus mencatat kisah tentang umat Tuhan di sebuah kampung. Dia, nama kampung itu. Silvano sedang duduk dengar kisah om Anselmus, Om Lazarus, om Bone, om Matius, dan om Don di sebuah Compang (Mesbah) di tengah kampung Dia. Om Matius bercerita bahwa sedari diperkenalkan kepada Tuhan…

by Melki Deni *) 

Om Matius bercerita bahwa sedari diperkenalkan kepada Tuhan dalam agama, umat kampung Dia sangat antusias terhadap kegiatan-kegiatan gereja. Entah bagaimana sampai umat kampung Dia berikan sebidang tanah untuk bangun tempat ibadat. Itu kurang terlalu penting. Sekitar tahun 1970-an mereka mendirikan kapela kecil, rumah Tuhan di dekat jalan raya dan kali besar, sumber batu dan pasir. Ekskavator dan truk belum tampak. Apalagi gerobak. Umat harus pikul batu dan pasir dari kali menuju tempat dirikan kapela kecil. Umat abaikan kesibukan di kebun masing-masing demi Tuhan dan kemudahan bagi pelayan Tuhan melayani umat Tuhan di satu tempat saja. Tak terhitung jumlah babi, sapi, kerbau, ayam dan lain-lain mati karena tak terurus baik selama berminggu-minggu. Ibu-ibu dan nenek-nenek hanya mengurusi anak-anak yang terbaring lemah karena gizi buruk, penyakit kulit dan serangan dukun santet di rumah bergubuk bambu reyot.

Malam selalu tuli bisu. Terang pelita bermerah tua dan tidak meluas. Kakus belum terbayang-bayang. Jika mau buang air malam-malam, bawa obor bersumbu besar dan ditemani dua atau lebih orang. Sebab, setan-setan berkeliaran menari-nari di bawah kolong dan di sekeliling rumah. Malam-malam terdengar suara bayi-bayi setan menangis di atas atap rumah, setan tua menghantui lewat jendela, dan seringkali mencekik manusia dalam mimpi. Iya, malam memang telanjur mati rasa.

Subuh pun seringkali gagap kata. Tak jarang subuh memberitakan orang-orang kerasukan setan yang tinggal di hulu air. Sebab waktu itu semua warga di kampung Dia harus timba air, mandi, dan cuci di satu pancuran. Itulah alasan mereka membutuhkan dan mencari Tuhan di dalam agama. “Manusia sekarang memang tidak percaya akan adanya setan dan kekuatan destruktifnya. Sekarang setan hadir berupa rupa-rupa teknologi.” Lanjut om Lazarus. Memang sebelumnya mereka bertuhan dalam agama Islam. Namun entah mengapa sejak sekitar tahun 1990-an mereka beriman kepada Yesus Kristus dalam agama Katolik. Om Anselmus bertutur bahwa sebelum nenek moyang mereka beragama Islam, mereka beragama Katolik. “Pokoknya mereka selalu pindah masuk agama.” katanya. “Tapi ‘kan Tuhan tetap satu?” tanya om Bone sambil membuang asap rokok.

Dua tahun kemudian.

Senja membalikkan kisah damai yang menteramkan relasi mesrah antara Tuhan dan umat kampung Dia. Senja itu seorang anak kecil menangis di sudut tempat tidur. Namanya Chirstin. Ia tak mau makan seusai pulang sekolah, tidak belajar dan tidak bantu orangtuanya. Ibu mulai pikir yang tidak-tidak menimpa anak yang manis itu.  Sedangkan sang ayah sedang berpikir tentang anggaran dana syukuran atas Penerimaan Komuni Pertama anaknya. Biasanya bulan Oktober itu masih musim panen jambu mete. Namun kali ini jambu mete tidak berbuah banyak seperti setahun lalu. Malam terus berlarut mereka bertanya mengapa anaknya menangis sejak pulang sekolah. Dia menangis karena dengar berita pastor paroki sudah keluarkan surat sanksi pastoral terhadap umat kampung Dia bahwa tidak akan ada pelayanan pastoral, tentu termasuk Sakramen sakramentali. Padahal mereka sudah siapkan semuanya, termasuk penagakuan dosa sudah dijalankan sehari sebelumnya. Mereka tentu mau seperti umat yang sudah terima Komuni Suci, bisa masuk seminari setelah tamat SD, jadi frater, pastor, bruder, suster, dan bisa mendapat status beragama.

Apa masalahnya sampai keluarkan surat sanksi pastoral seperti itu?

Kapela dan tanah di sekitarnya!

Ada apa dengan tanah itu?

Saya dengar samar-samar saja, masalahnya kita umat kampung Dia sudah bongkar kapela dan rebut kembali tanah di sekitar kapela.”

Memangnya kamu lihat kapela sudah dibongkar?

Tidak!”

Christin ketiduran seusai ceritakan masalah itu, sedangkan orangtuanya sibuk memikirkan masalah itu. Mereka juga bingung mengapa diadakan sanksi tanpa ada permasalahan.

Tuhan kita sedang lumpuh?

Christin mengigau. Orangtaunya sadarkan dia.

Kata siapa? Kau jangan omong seperti itu! Cukup kali ini berkata begitu. Itu penistaan agama.

Kata seorang kakek di dalam mimpi tadi. Kakek itu tinggal di sebuah gua kumal yang saya tidak pernah kenal sebelumnya di dunia nyata.”

Mustahil Tuhan lumpuh, nak! Itu takkan pernah terjadi. Jika itu benar, cakrawala dan bumi lenyap serentak. Dan kita pun tentu musnah sebelum cakrwala dan bumi runtuh total.”

Itu tidak berlebihan, ma pa.”

Sekali lagi, jangan katakan itu, nak. Awas orang-orang dengar dan viralkan itu melalui media. Lalu engkau akan melanjutkan sekolahmu di dalam penjara.”

Terserah. Lebih baik tinggal di penjara daripada hidup di luar, pa. Tapi di manakah Tuhan lumpuh ketika masalah ini sedang terjadi ? Saya mau mengobati Tuhan di mana saja. Tuhan tidak adil betul.

Tuhan tidak lumpuh. Hanya pikiran, sikap iman dan penghyatan iman kita yang lumpuh, nak!” sahut ibunya.

Oh iya. Kakek itu bilang Tuhan dilumpuhkan di mimbar-mimbar, ma. Tuhan dilumpuhkan demi kepentingan-kepentingan para pengkhotbah, ma.”

Tidak nak. Tuhan menghindar saat mau dilumpuhkan.”

Terus, di mana Tuhan sekarang, ma?

Ibunya mulai menjelaskan dengan peunuh kesabaran. Mengkin saja Tuhan sedang pesiar di Roma, Israel, Jerman atau Rusia. Tidak mustahil Tuhan sedang mendengar pengakuan dosa para perampok, koruptor, penculik, pemerkosa, investor kapitalis, cendikiawan idealis dan para pengobral murah gadis-gadis di pasar-pasar. Dapat terjadi Tuhan sedang mendengar baca mazmur para nabi sekuler materialis. Boleh saja jadi Tuhan sedang menangisi para imam feodalis yang sedang meraup tanah-tanah para petani miskin lagi melarat di kampung. Atau Tuhan sedang hitung jumlah oknum-oknum mati karena bunuh diri, obesitas, keracunan, stunting, kelaparan, perubahan iklim, dan penyakitan di dunia yang bisu. Barangkali Tuhan sedang jalan-jalan ke rumah-rumah para wakil rakyat, mencatat jumlah perut yang terlampau buncit akibat menelan mentah-mentah uang pajak tanah rakyat yang tak mampu dikelola. Tidak menutup kemungkinan Tuhan sedang melawati umat yang menderita sakit, miskin papa, tersingkirkan, terbuang, pengemis, gelandangan, tawanan, dan kaum buruh kasar.

Tapi, kok selalu mungkin, ma. Tuhan tinggal dalam kemungkinan begitu, ma?

Sudahlah. Itu kurang penting. Yang terpenting, nanti kita kerja sama dengan semua umat,  tanyakan ke pihak keuskupan tentang masalah apa saja yang dapat diberikan sanksi pastoral terhadap umat. Lalu kita coba laporkan masalah ini ke pihak pemerintah, karena ini termasuk pencemaran nama baik umat.

Sudah satu tahun masalah pelik nan sedih ini tidak kunjung usai. Pihak paroki (baca: pihak keuskupan) tidak bertanggung jawab terhadap sensus fidelium umatnya. Pemerintah setempat juga memalingkan diri dari antusias religiositas masyarakat. Setahun umat Tuhan tak bertemu Tuhan dalam Misa Kudus, Ibabat, Pengakuan Dosa, anak-anak tidak menerima Permandian Suci, tidak diberi kesempatan menerima Komuni Pertama, dan  pernikahan umat tidak direstui secara gereja. Dosa-dosa umat menumpuk dan mau tumpah di atas tanah yang gersang. Tuhan, Engkau di mana? Semoga Tuhan tidak dipasungkan di dalam gulungan uang merah. Semoga Tuhan tidak dilumpuhkan di dalam khotbah- khotbah panjang para nabi modern yang kapitalis-materlis. Tuhan. (*)

Catatan: Mohon maaf bila ada persamaan nama dan kisah.

___
*) Melki Deni, Mahasiswa STFK Ledalero-Maumere, berasall dari Reo-Manggarai. Ia bergabung dalam kelompok sastra ALTHEIA, KMK-L, dan penyair lepas pada beberapa media.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending