© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.

oleh: Tyo Prakoso

Untuk R

Tanganku bergetar saat menyentuh kayu nisan itu. Harum bebungaan terasa menusuk hidung. Air mata jatuh di pipi merahku. Pasmina abu-abu yang kukenakan terjatuh di bahu. Satu per satu pelayat meninggalkan pemakaman. Tinggal aku dan Fathir terduduk tersipu di atas gundukkan tanah merah. Samar-samar kicauan burung terdengar. Kilau matari perlahan-lahan masuk dari dedaunan bunga tulip. Nampak dari kejauhan sebuah kincir berputar kencang.

NAMAKU Benazir. Aku lahir dari rahim perempuan keturunan India, Arab, Aceh dan Maluku Utara. Aku memanggilnya; “Ummi”. Bapakku orang Jawa tulen. Aku lahir dan tumbuh di negeri Belanda. Tepatnya, di kota kecil di tepi Laut Utara, Samudera Atlantik, bernama Haarlem. Bapak seorang wartawan yang tengah melanjutkan studi di Belanda. Saat usiaku belum genap 7 tahun, aku kembali ke Indonesia.

Siang itu Ummi sedang sibuk di dapur, perutnya nampak semakin besar di balik bajunya yang berwarna putih. Bapak sedang tidak di rumah. Ia tengah melakukan liputan di luar kota. Aku tengah bermain kertas origami di ruang kerja Bapak. Sementara Ummi sedang membuat roti cane dan kari ayam di dapur.

Tiba-tiba terdengar suara benturan. Ummi terjatuh di kamar mandi. Keluar begitu banyak darah dari selangkangannya. Aku menjerit histeris: tak tahu apa yang mesti kulakukan. Ummi pingsan. Tangisku semakin keras. Seketika itu aku tak lagi mengingat apa-apa. Dalam kepalaku hanya ada satu hal: darah. Merah…

Ingatanku pulih saat aku sudah di rumah sakit yang berada di Jacobijnestraat, Haarlem. Di sampingku ada wanita yang berpakaian serba putih. Aku melihat Bapak yang tengah berjalan-jalan kecil di depan pintu ruang ICU. Ia panik. Wajahnya begitu cemas. Seorang lelaki yang juga berbaju serba putih keluar dari ruang tersebut. Ia berbicara pada Bapak. Aku tak mengerti apa yang dibicarakan. Tiba-tiba Ummi dikeluarkan dari ruang ICU ke ruang yang lain dengan sejumlah peralatan yang menempel di tubuhnya. Aku tak mengerti saat itu. Yang aku tahu Bapak begitu terlihat semakin cemas. Wajahnya kuyuh. Ia masih mengenakan mantel cokelatnya. Tas kerjanya terserak di sudut lantai.

Beberapa saat aku melihat Bapak meneteskan air mata. Ia menangis. Saat lelaki berbaju serba putih tadi berbisik kepada Bapak dan menepuk-nepuk pundaknya. Saat itu aku tak tahu apa yang terjadi. Baru kemudian aku mengetahui; Ummi meninggal dunia. Sementara bayi yang di kandungnya, adikku, Fathir selamat. Aku histeris. Tertegun.  Ummi dimakamkan di sebuah taman pemakaman di sebuah desa bernama Bussum. Tak terlalu jauh dari Haarlem. Saat itu aku berumur 5 tahun 2 bulan.

Kematian Ummi, membuat Bapak begitu tak bergairah menjalani hari. Berminggu-minggu Bapak hanya duduk-duduk di depan meja kerjanya. Ia hanya memandang lukisan Ummi yang tanpa busana. Sementara Fathir diasuh oleh tetangga kami, bernama Nyonya Christina Johanna Henderiks Djikhoff. Ia seorang janda. Suaminya telah lama meninggal dunia karena penyakit jantung. Anaknya, Reitze Djikhoff merantau ke Belgia.

Butuh waktu hampir 3 bulan untuk Bapak menerima kematian Ummi dan bisa beraktivitas seperti biasa. Dan, memang takkan pernah bisa menjadi biasa. Setelah satu tahun kematian Ummi, akhirnya kami memutuskan kembali ke Indonesia. Bapak meninggalkan studi dan pekerjaannya. Namun, rumah di Haarlem tak di jual. Hanya dititipkan pada Nyonya Johanna. Tumpukkan buku dan beberapa arsip koleksi Bapak tertinggal di rumah itu.  Nyonya Johanna mengantarkan kami ke stasiun. Ia menetes air mata.

Sesampainya di Indonesia, Bapak mengontrak rumah di daerah Bantul, Yogyakarta. Sebuah rumah kecil, yang di sampingnya memiliki halaman yang begitu luas; ada pohon rambutan, sawo, sukun, bunga anggrek, melati dan mawar. Di sudut-sudutnya tertanam juga berbagai tanaman obat-obatan. Rumah itu hanya memiliki 2 ruang tidur, 1 ruang kerja Bapak dan 1 ruang utama. Kamar mandi terpisah dengan rumah utama. Berada di tengah halaman samping rumah.

Semenjak di Indonesia, aku tak lagi melihat Bapak sering keluar rumah. Bapak banyak menghabiskan waktu di ruang kerja: menulis. Jika keluar rumah, Bapak pasti mengajakku dan Fathir. Seperti saat Bapak mengantarkanku untuk pertama kali masuk sekolah dasar. Bapak mengendarai motor bebek. Aku duduk di belakang, sementara Fathir duduk di depan dengan kain melilit di perut Bapak.

Sepeninggalnya Ummi, Bapak adalah orangtua sekaligus sahabatku. Aku selalu meniru-niru apa yang kerap dilakukannya: berlama-lama duduk di kursi rotan untuk membaca atau mengunting-gunting koran lalu menempelkan di sebuah bundelan kertas.

Seperti siang itu, saat Bapak tengah asik membaca buku tebal yang bersampul berwarna merah. Aku juga sibuk membolak-balik buku tebal yang berjudul Arus Balik. Walau aku tak tahu pasti apa yang sedang kubaca (baru dikemudian hari aku mengetahui itu karya sastrawan terkemuka Indonesia, Pram). Aku bangkit dari tempat duduk, saat mendengar Fathir bangun dari tidur siangnya. Seketika pun Bapak menyuruhku untuk menggendong Fathir. Saat itu Fathir berusia 3 tahun.

Hari-hari Bapak berjalan begitu tenang. Pagi hari ia memasak untuk sarapan kami bertiga. Kadang ia membuat bubur ayam atau kacang ijo. Kadang ia membuat nasi goreng. Atau memasak tumis-tumisan. Bapak berperan sebagai ayah sekaligus juga ibu. Apalagi saat Fathir tengah menangis. Terpaksa ia harus membuatkan susu dan menimang-nimangnya atau menganti popoknya. Jika kelelahan, Bapak meniduri Fathir di sebuah ayunan dari kain yang mengantung di kusen pintu kamar. Tepat pukul 7, ia harus mengantarkan aku ke sekolah sambil membawa Fathir. Sesampainya di rumah lagi, Bapak mulai bekerja. Menulis dan menulis. Untung saja, ada Mbok Har, tetangga kami, yang kerap bantu-bantu di rumah: bebersih rumah atau sekedar menjaga Fathir saat Bapak tengah bekerja.

Di akhir pekan, biasanya Bapak mengajak aku dan Fathir berkunjung ke kota Yogya. Untuk sekedar bertemu teman-temannya, atau menyaksikan sebuah pameran lukisan di gedung Bentara Budaya Yogya dan menonton pentas teater. Atau, jika tak pergi ke kota Yogya, Bapak kerap mengajarkanku melukis atau membaca puisi di halaman samping rumah yang luas. Di pojok halaman, terdapat sebuah pendopo yang tak terlalu besar. Di sanalah biasanya Bapak membacakan puisi-puisi dan cerita-cerita buatannya. Aku hanya duduk terpukau sambil menggendong Fathir. Saat itu, aku diam-diam belajar membuat puisi dan menulis cerita. Walau tanpa sepengetahuan Bapak.

Jika sedang libur sekolah, aku kerap berusaha untuk ‘menjadi Bapak’: duduk berlama-lama di kursi rotan sambil membaca buku-buku yang tebal dan berlama-lama di depan komputer jinjing untuk menulis. Atau mengunting-gunting koran yang tadi pagi dibeli dan dibacanya. Melihat tingkah lakuku, Bapak hanya hanya tersenyum-senyum, lalu mencium keningku sambil ia mengajarkan Fathir berjalan. Dan satu lagi tingkah pola Bapak yang kerap aku tiru, yakni menyiram tanaman di sore hari tepat pukul 4 lewat 15 menit. Mengapa pukul 4 lewat 15 menit? Aku tak pernah tahu alasannya. Bapak hanya tersenyum dan memberiku selang air saat aku menanyainya.

Semenjak kematian Ummi, Bapak sangat jarang sekali berbicara, sekalipun itu pada aku dan Fathir. Saat bapak menyuruhku, hanya beberapa kata saja keluar dari mulutnya. Tapi sorot matanya seolah berbicara. Itu yang membuatku tak pernah membantah perintahnya dan selalu mendengarkan kata-katanya. kata-kata yang begitu mahal keluar dari mulutnya. Dari kata-katanya, kejadian sore itu akan selalu kuingat.

Begini: saat awal masuk di kelas 1 SMP, aku diwajibkan memperkenalkan diri di depan kelas oleh guruku: nama, asal daerah, asal sekolah, tanggal tempat dan tahun kelahiran, nama orangtua hingga kegemaran. Aku maju ke depan. Kakiku terasa bergetar. Seluruh tatap mata mengarah ke arahku. Seisi ruangan memperhatikan hidungku yang mancung, rambutku yang cokelat, pipiku yang merah, bola mataku yang cokelat dan tubuhku yang tinggi dari rata-rata anak seusiaku. “Namaku Benazir. Aku dari….,” tak mampu aku melanjutkan kata-kataku. Tatapan mata seisi ruangan membuatku begitu minder. Aku merasa aneh. Seketika aku menangis. Berlari ke luar kelas. Guruku, Bu Fatimah mengejar. Kudengar, seisi ruangan tertawa terbahak-bahak. Tapi aku terus berlari ke arah rumah. “Orang bule! Orang bule!” kata sebagian teman kelasku. “Bule masuk desa! Bule masuk desa!” kata yang lainnya. “Bukan bule, tapi arab! Arab! Arab masuk desa!” sambut yang lainnya lagi. Semuanya tertawa. Terdengar sayup-sayup di telingaku.

Sesampainya di rumah, Bapak yang tengah mengajarkan Fathir membaca, terheran-heran melihat aku menangis. Aku peluk Bapak. Air mataku tumpah di pundaknya. “Kenapa, nak?” kata Bapak sambil membelai rambutku yang cokelat. Aku didudukkan di kursi rotannya. Pipi merahku yang basah diusapnya. Aku menceritakan kejadian di ruang kelas tadi. Bapak hanya tersenyum. Diusapnya lagi pipi merahku yang basah. “Kamu orang Indonesia, nak. Bukan orang Aceh, Arab, Malaku atau jawa. Tapi Indonesia! Ummi orang Indonesia. Bapak orang Indonesia. Fathir juga orang Indonesia….” kata Bapak sambil mencium keningku.

Siang itu banyak kata keluar dari mulut Bapak, selain saat ia membaca puisi atau cerita. Aku merasa senang. Bukan saja hanya karena penjelasan Bapak, tapi juga kata-kata yang keluar dari mulutnya. Itu seperti beberapa tahun lalu saat Ummi masih hidup. Aku memeluknya lagi. “Sudah jangan menangis, nak. Kalau kamu menangis, Ummi ikut menangis di surga.” Bisik Bapak. Kemudian ia mengelus-elus rambutku yang cokelat. Dan Fathir memelukku dari belakang.

Bapak adalah ayah, sekaligus ibuku. Ia menjadi tempatku bertanya dan mengadu. Dulu, Ummi yang selalu menemaniku belajar membaca dan berhitung. Ummi juga yang memberitahuku tentang arti perempuan dan keperawanan. Ia mengenalkan alat-alat vitalku, seperti vagina dan payuhdara. Yang tak boleh sekalipun disentuh oleh orang lain, terlebih lawan jenisku. Sepeninggalnya Ummi, aku tak lagi mendapatkan pelajaran tentang seks. Oleh karena itu, akupun mencari tahu sendiri tentang seks dan permasalahan perempuan lainnya. Dan sesekali bertanya pada Bapak.  Waktu pertama kalinya datang bulan, misalnya, usiaku 10 tahun, aku merasakan begitu sakitnya perut dan vaginaku. Darah kental terus mengalir dari alat vitalku. Bapak kebingungan. Ia mondar-mandir membeli minuman pereda sakit perempuan datang bulan di swalayan. Tapi tak berhasil. Sakit itu pun terasa sampai ke leher. Lebih dari seminggu aku hanya jungkir-balik di tempat tidur. Bapak terus mondar-mondir panik. Lebih 10 merk pereda sakit perempuan datang bulan dibelinya. Hasilnya nihil. Akhirnya, Mbok Har datang. Ia bawakan jamur beras kencur dan air rebusan daun sirih. Aku dipaksa meminumnya. Rasanya tak karuan. Memang, sakitnya agak reda. Tapi, aku masih jungkir-balik di tempat tidur.

Setelah kejadian itu, aku teringat Ummi. Aku katakan pada Bapak: ‘Aku sangat merindukan Ummi.’ Ia hanya tersenyum. Aku pun ceritakan pada Fathir: ‘Sebelum kau merasakan haid dan melahirkan, janganlah pernah menyakiti perempuan, terlebih ibumu sendiri’. Ia menangis. Bapak memeluk kami berdua. “Jangan kalian menangis. Nanti Ummi ikut menangis.” Kata Bapak. Memang, sebelum aku ceritakan waktu itu, Fathir tak pernah tahu cerita di balik kelahirannya dan kematian Ummi. “Kelahiran dan kematian adalah cerita klise dalam kehidupan.” Begitu tulis Bapak dalam salah satu ceritanya, yang aku baca secara diam-diam di surat kabar Kedaulatan Rakyat.

Semenjak tinggal di Bantul, jika tak perlu-perlu amat, kami jarang sekali pergi keluar kota. Jikalau pun pergi, pasti bapak mengikutsertakan aku dan Fathir. Bapak seolah tak ingin meninggalkan aku dan Fathir di rumah tanpa pengawasannya. Jika kutanya mengapa, Bapak tak menjawab. Ia hanya tersenyum. Kemudian ia memandang lukisan Ummi yang tanpa busana menggantung di ruang kerjanya.

Seperti saat Aku mendapatkan kesempatan berkuliah di Institut Teknologi Bandung. Bapak melarangku. Lebih baik di UGM atau ISI, katanya. Akupun patuh. Lalu aku kuliah di ISI Yogya.

Begitu juga saat Mas Samudera, suamiku, melamar 7 tahun lalu. Raut wajah Bapak berubah. Bukan karena ia tak setuju pada Mas Samudera. Jangan pergi dari rumah ini, nak. Kata Bapak saat Mas Samudera dan rombongan keluarganya pulang seusai acara lamaran. Saat kutanya mengapa, lagi-lagi Bapak hanya tersenyum. Dan akhirnya akupun meninggalkan rumah juga. Meninggalkan Bapak. Aku ikut Mas Samudera yang ditugaskan di Kalimantan setelah acara pernikahan. Bapak tersedu, tapi akhirnya melepasku juga. Bapak di rumah bersama Fathir yang telah tumbuh menjadi dewasa. Saat itu, Fathir sudah kelas 3 SMA semester akhir.

Kepergianku ke Kalimantan, membuat aku hanya berkomunikasi dengan Bapak melalui surat elektronik atau telepon seluler. Aku tahu Bapak kesepian. Karena Fathir mulai sibuk di kampus. Tapi ia tak pernah mengatakan secara terang. Ia tetap menyembunyikan kerinduannya.

Seperti malam itu: saat aku menelponnya. Kira-kira pukul 8 malam. Aku bercerita tentang keinginanku untuk pulang ke Yogya saat libur tahun baru. Dan akupun mengabari, aku tengah mengandung 4 bulan. Bapak sumringah. Tapi seketika nada bicaranya berubah. Tak usahlah, nak, kata Bapak, tunggu sampai anakmu lahir, barulah kamu pulang ke rumah. Bilang ke Samudera, jangan terlalu sering diluar rumah, lanjut Bapak.

Benar, saat Dipa dan Sjam lahir, anakku kembar, dan setelah berusia 3 bulan, aku pulang ke Yogya. Bapak senang melihat cucu pertama yang kembar. Digendongnya Dipa dan Sjam lama-lama secara bergantian. Meskipun  kerap mengompol dan berak di gendongannya, Bapak hanya tertawa dan cepat-cepat menggantikan popok. Hanya beberapa minggu di Yogya, aku harus kembali ke Kalimantan. Mas Samudera harus kembali bekerja. Raut wajah Bapak berubah. Ia nampak sudah begitu tua. Walau usianya baru saja melewat setengah abad.

Hingga beberapa bulan kemudian, aku mendapat kabar melalui surat elektronik dari Fathir: ‘Bapak sakit, sudah hampir satu minggu. Tapi menolak untuk dirawat di rumah sakit.’ Aku panik. Segera menelpon Fathir. Dan akupun memutuskan, untuk ke Yogya 5 hari kedepan. Tanpa Mas Samudera.

Sehari sebelum keberangkatan, Fathir menelpon. Bapak koma di rumah sakit, katanya. Aku kaget. Segera menuju Bandar Udara Supadio. Sial, keberangkatan ke Yogya baru ada esok hari, pukul 4 pagi. Aku menelpon Fathir. Tak ada jawaban. Aku berdoa. Semoga baik-baik saja. Entah mengapa saat itu aku teringat Ummi.

Pagi hari, aku berangkat. Sebelum dan sesudah perjalanan kuhubungi Fathir, tak ada jawaban. Pukul 7 pagi, aku sampai. Lekas menuju RSUD Panempaham Senopati. Di lorong rumah sakit aku melihat Fathir di depan ruang 007 Ahmad Yani. Ia terduduk lesu. Matanya merah. Ia menangis. Aku memeluknya. Fathir berbisik, tapi tak kedengaran. Bisiknya bercampur tangis. Tapi aku paham. Kutemui lelaki baju yang serba putih yang baru saja keluar daru ruang 007 Ahmad Yani. Lelaki itu menepuk-nepuk pundakku. Sabarlah, ini sudah kehendakNya, katanya. Aku paham. Aku menangis.

Aku masuk ke dalam ruang 007 Ahmad Yani. Tangisku tumpah. Bapak sudah terbujur kaku. Di kantong kemejanya kulihat kertas kusam. Terdapat tulisan dari bolpoin berwarna biru; ‘Bussum’. Ya, hanya ‘Bussum’ tulisan di kertas itu. Dan akupun paham: Ummi.

Bapak disemayamkan di rumah. Para tetangga hadir. Sanak-keluarga datang. Kejadian 19 tahun lalu teringat lagi.

‘Jenazah akan dimakamkan di Bussum, Belanda.’ kataku di depan  para pelayat.

***

AKU bangkit dari dudukku di gundukkan tanah merah. Harum wewangian bunga masih menusuk hidung. Mataku lembam sepenuhnya. Fathir masih menunduk. Tiupan angin Samudera Atlantik begitu kencang. Pasminaku jatuh sepenuhnya di bahu. Kincir angin masih nampak begitu kencang berputar. Seolah menyejukkan perjalanan Bapak menemani Ummi di Bussum.(*)

Jatikramat, Agustus 2014

*Cerpenis dan Mahasiswa Sejarah, @cheprakoso

Share Post
No comments

LEAVE A COMMENT