Connect with us
a a

Cerpen

Bussum

mm

Published

on

oleh: Tyo Prakoso

Untuk R

Tanganku bergetar saat menyentuh kayu nisan itu. Harum bebungaan terasa menusuk hidung. Air mata jatuh di pipi merahku. Pasmina abu-abu yang kukenakan terjatuh di bahu. Satu per satu pelayat meninggalkan pemakaman. Tinggal aku dan Fathir terduduk tersipu di atas gundukkan tanah merah. Samar-samar kicauan burung terdengar. Kilau matari perlahan-lahan masuk dari dedaunan bunga tulip. Nampak dari kejauhan sebuah kincir berputar kencang.

NAMAKU Benazir. Aku lahir dari rahim perempuan keturunan India, Arab, Aceh dan Maluku Utara. Aku memanggilnya; “Ummi”. Bapakku orang Jawa tulen. Aku lahir dan tumbuh di negeri Belanda. Tepatnya, di kota kecil di tepi Laut Utara, Samudera Atlantik, bernama Haarlem. Bapak seorang wartawan yang tengah melanjutkan studi di Belanda. Saat usiaku belum genap 7 tahun, aku kembali ke Indonesia.

Siang itu Ummi sedang sibuk di dapur, perutnya nampak semakin besar di balik bajunya yang berwarna putih. Bapak sedang tidak di rumah. Ia tengah melakukan liputan di luar kota. Aku tengah bermain kertas origami di ruang kerja Bapak. Sementara Ummi sedang membuat roti cane dan kari ayam di dapur.

Tiba-tiba terdengar suara benturan. Ummi terjatuh di kamar mandi. Keluar begitu banyak darah dari selangkangannya. Aku menjerit histeris: tak tahu apa yang mesti kulakukan. Ummi pingsan. Tangisku semakin keras. Seketika itu aku tak lagi mengingat apa-apa. Dalam kepalaku hanya ada satu hal: darah. Merah…

Ingatanku pulih saat aku sudah di rumah sakit yang berada di Jacobijnestraat, Haarlem. Di sampingku ada wanita yang berpakaian serba putih. Aku melihat Bapak yang tengah berjalan-jalan kecil di depan pintu ruang ICU. Ia panik. Wajahnya begitu cemas. Seorang lelaki yang juga berbaju serba putih keluar dari ruang tersebut. Ia berbicara pada Bapak. Aku tak mengerti apa yang dibicarakan. Tiba-tiba Ummi dikeluarkan dari ruang ICU ke ruang yang lain dengan sejumlah peralatan yang menempel di tubuhnya. Aku tak mengerti saat itu. Yang aku tahu Bapak begitu terlihat semakin cemas. Wajahnya kuyuh. Ia masih mengenakan mantel cokelatnya. Tas kerjanya terserak di sudut lantai.

Beberapa saat aku melihat Bapak meneteskan air mata. Ia menangis. Saat lelaki berbaju serba putih tadi berbisik kepada Bapak dan menepuk-nepuk pundaknya. Saat itu aku tak tahu apa yang terjadi. Baru kemudian aku mengetahui; Ummi meninggal dunia. Sementara bayi yang di kandungnya, adikku, Fathir selamat. Aku histeris. Tertegun.  Ummi dimakamkan di sebuah taman pemakaman di sebuah desa bernama Bussum. Tak terlalu jauh dari Haarlem. Saat itu aku berumur 5 tahun 2 bulan.

Kematian Ummi, membuat Bapak begitu tak bergairah menjalani hari. Berminggu-minggu Bapak hanya duduk-duduk di depan meja kerjanya. Ia hanya memandang lukisan Ummi yang tanpa busana. Sementara Fathir diasuh oleh tetangga kami, bernama Nyonya Christina Johanna Henderiks Djikhoff. Ia seorang janda. Suaminya telah lama meninggal dunia karena penyakit jantung. Anaknya, Reitze Djikhoff merantau ke Belgia.

Butuh waktu hampir 3 bulan untuk Bapak menerima kematian Ummi dan bisa beraktivitas seperti biasa. Dan, memang takkan pernah bisa menjadi biasa. Setelah satu tahun kematian Ummi, akhirnya kami memutuskan kembali ke Indonesia. Bapak meninggalkan studi dan pekerjaannya. Namun, rumah di Haarlem tak di jual. Hanya dititipkan pada Nyonya Johanna. Tumpukkan buku dan beberapa arsip koleksi Bapak tertinggal di rumah itu.  Nyonya Johanna mengantarkan kami ke stasiun. Ia menetes air mata.

Sesampainya di Indonesia, Bapak mengontrak rumah di daerah Bantul, Yogyakarta. Sebuah rumah kecil, yang di sampingnya memiliki halaman yang begitu luas; ada pohon rambutan, sawo, sukun, bunga anggrek, melati dan mawar. Di sudut-sudutnya tertanam juga berbagai tanaman obat-obatan. Rumah itu hanya memiliki 2 ruang tidur, 1 ruang kerja Bapak dan 1 ruang utama. Kamar mandi terpisah dengan rumah utama. Berada di tengah halaman samping rumah.

Semenjak di Indonesia, aku tak lagi melihat Bapak sering keluar rumah. Bapak banyak menghabiskan waktu di ruang kerja: menulis. Jika keluar rumah, Bapak pasti mengajakku dan Fathir. Seperti saat Bapak mengantarkanku untuk pertama kali masuk sekolah dasar. Bapak mengendarai motor bebek. Aku duduk di belakang, sementara Fathir duduk di depan dengan kain melilit di perut Bapak.

Sepeninggalnya Ummi, Bapak adalah orangtua sekaligus sahabatku. Aku selalu meniru-niru apa yang kerap dilakukannya: berlama-lama duduk di kursi rotan untuk membaca atau mengunting-gunting koran lalu menempelkan di sebuah bundelan kertas.

Seperti siang itu, saat Bapak tengah asik membaca buku tebal yang bersampul berwarna merah. Aku juga sibuk membolak-balik buku tebal yang berjudul Arus Balik. Walau aku tak tahu pasti apa yang sedang kubaca (baru dikemudian hari aku mengetahui itu karya sastrawan terkemuka Indonesia, Pram). Aku bangkit dari tempat duduk, saat mendengar Fathir bangun dari tidur siangnya. Seketika pun Bapak menyuruhku untuk menggendong Fathir. Saat itu Fathir berusia 3 tahun.

Hari-hari Bapak berjalan begitu tenang. Pagi hari ia memasak untuk sarapan kami bertiga. Kadang ia membuat bubur ayam atau kacang ijo. Kadang ia membuat nasi goreng. Atau memasak tumis-tumisan. Bapak berperan sebagai ayah sekaligus juga ibu. Apalagi saat Fathir tengah menangis. Terpaksa ia harus membuatkan susu dan menimang-nimangnya atau menganti popoknya. Jika kelelahan, Bapak meniduri Fathir di sebuah ayunan dari kain yang mengantung di kusen pintu kamar. Tepat pukul 7, ia harus mengantarkan aku ke sekolah sambil membawa Fathir. Sesampainya di rumah lagi, Bapak mulai bekerja. Menulis dan menulis. Untung saja, ada Mbok Har, tetangga kami, yang kerap bantu-bantu di rumah: bebersih rumah atau sekedar menjaga Fathir saat Bapak tengah bekerja.

Di akhir pekan, biasanya Bapak mengajak aku dan Fathir berkunjung ke kota Yogya. Untuk sekedar bertemu teman-temannya, atau menyaksikan sebuah pameran lukisan di gedung Bentara Budaya Yogya dan menonton pentas teater. Atau, jika tak pergi ke kota Yogya, Bapak kerap mengajarkanku melukis atau membaca puisi di halaman samping rumah yang luas. Di pojok halaman, terdapat sebuah pendopo yang tak terlalu besar. Di sanalah biasanya Bapak membacakan puisi-puisi dan cerita-cerita buatannya. Aku hanya duduk terpukau sambil menggendong Fathir. Saat itu, aku diam-diam belajar membuat puisi dan menulis cerita. Walau tanpa sepengetahuan Bapak.

Jika sedang libur sekolah, aku kerap berusaha untuk ‘menjadi Bapak’: duduk berlama-lama di kursi rotan sambil membaca buku-buku yang tebal dan berlama-lama di depan komputer jinjing untuk menulis. Atau mengunting-gunting koran yang tadi pagi dibeli dan dibacanya. Melihat tingkah lakuku, Bapak hanya hanya tersenyum-senyum, lalu mencium keningku sambil ia mengajarkan Fathir berjalan. Dan satu lagi tingkah pola Bapak yang kerap aku tiru, yakni menyiram tanaman di sore hari tepat pukul 4 lewat 15 menit. Mengapa pukul 4 lewat 15 menit? Aku tak pernah tahu alasannya. Bapak hanya tersenyum dan memberiku selang air saat aku menanyainya.

Semenjak kematian Ummi, Bapak sangat jarang sekali berbicara, sekalipun itu pada aku dan Fathir. Saat bapak menyuruhku, hanya beberapa kata saja keluar dari mulutnya. Tapi sorot matanya seolah berbicara. Itu yang membuatku tak pernah membantah perintahnya dan selalu mendengarkan kata-katanya. kata-kata yang begitu mahal keluar dari mulutnya. Dari kata-katanya, kejadian sore itu akan selalu kuingat.

Begini: saat awal masuk di kelas 1 SMP, aku diwajibkan memperkenalkan diri di depan kelas oleh guruku: nama, asal daerah, asal sekolah, tanggal tempat dan tahun kelahiran, nama orangtua hingga kegemaran. Aku maju ke depan. Kakiku terasa bergetar. Seluruh tatap mata mengarah ke arahku. Seisi ruangan memperhatikan hidungku yang mancung, rambutku yang cokelat, pipiku yang merah, bola mataku yang cokelat dan tubuhku yang tinggi dari rata-rata anak seusiaku. “Namaku Benazir. Aku dari….,” tak mampu aku melanjutkan kata-kataku. Tatapan mata seisi ruangan membuatku begitu minder. Aku merasa aneh. Seketika aku menangis. Berlari ke luar kelas. Guruku, Bu Fatimah mengejar. Kudengar, seisi ruangan tertawa terbahak-bahak. Tapi aku terus berlari ke arah rumah. “Orang bule! Orang bule!” kata sebagian teman kelasku. “Bule masuk desa! Bule masuk desa!” kata yang lainnya. “Bukan bule, tapi arab! Arab! Arab masuk desa!” sambut yang lainnya lagi. Semuanya tertawa. Terdengar sayup-sayup di telingaku.

Sesampainya di rumah, Bapak yang tengah mengajarkan Fathir membaca, terheran-heran melihat aku menangis. Aku peluk Bapak. Air mataku tumpah di pundaknya. “Kenapa, nak?” kata Bapak sambil membelai rambutku yang cokelat. Aku didudukkan di kursi rotannya. Pipi merahku yang basah diusapnya. Aku menceritakan kejadian di ruang kelas tadi. Bapak hanya tersenyum. Diusapnya lagi pipi merahku yang basah. “Kamu orang Indonesia, nak. Bukan orang Aceh, Arab, Malaku atau jawa. Tapi Indonesia! Ummi orang Indonesia. Bapak orang Indonesia. Fathir juga orang Indonesia….” kata Bapak sambil mencium keningku.

Siang itu banyak kata keluar dari mulut Bapak, selain saat ia membaca puisi atau cerita. Aku merasa senang. Bukan saja hanya karena penjelasan Bapak, tapi juga kata-kata yang keluar dari mulutnya. Itu seperti beberapa tahun lalu saat Ummi masih hidup. Aku memeluknya lagi. “Sudah jangan menangis, nak. Kalau kamu menangis, Ummi ikut menangis di surga.” Bisik Bapak. Kemudian ia mengelus-elus rambutku yang cokelat. Dan Fathir memelukku dari belakang.

Bapak adalah ayah, sekaligus ibuku. Ia menjadi tempatku bertanya dan mengadu. Dulu, Ummi yang selalu menemaniku belajar membaca dan berhitung. Ummi juga yang memberitahuku tentang arti perempuan dan keperawanan. Ia mengenalkan alat-alat vitalku, seperti vagina dan payuhdara. Yang tak boleh sekalipun disentuh oleh orang lain, terlebih lawan jenisku. Sepeninggalnya Ummi, aku tak lagi mendapatkan pelajaran tentang seks. Oleh karena itu, akupun mencari tahu sendiri tentang seks dan permasalahan perempuan lainnya. Dan sesekali bertanya pada Bapak.  Waktu pertama kalinya datang bulan, misalnya, usiaku 10 tahun, aku merasakan begitu sakitnya perut dan vaginaku. Darah kental terus mengalir dari alat vitalku. Bapak kebingungan. Ia mondar-mandir membeli minuman pereda sakit perempuan datang bulan di swalayan. Tapi tak berhasil. Sakit itu pun terasa sampai ke leher. Lebih dari seminggu aku hanya jungkir-balik di tempat tidur. Bapak terus mondar-mondir panik. Lebih 10 merk pereda sakit perempuan datang bulan dibelinya. Hasilnya nihil. Akhirnya, Mbok Har datang. Ia bawakan jamur beras kencur dan air rebusan daun sirih. Aku dipaksa meminumnya. Rasanya tak karuan. Memang, sakitnya agak reda. Tapi, aku masih jungkir-balik di tempat tidur.

Setelah kejadian itu, aku teringat Ummi. Aku katakan pada Bapak: ‘Aku sangat merindukan Ummi.’ Ia hanya tersenyum. Aku pun ceritakan pada Fathir: ‘Sebelum kau merasakan haid dan melahirkan, janganlah pernah menyakiti perempuan, terlebih ibumu sendiri’. Ia menangis. Bapak memeluk kami berdua. “Jangan kalian menangis. Nanti Ummi ikut menangis.” Kata Bapak. Memang, sebelum aku ceritakan waktu itu, Fathir tak pernah tahu cerita di balik kelahirannya dan kematian Ummi. “Kelahiran dan kematian adalah cerita klise dalam kehidupan.” Begitu tulis Bapak dalam salah satu ceritanya, yang aku baca secara diam-diam di surat kabar Kedaulatan Rakyat.

Semenjak tinggal di Bantul, jika tak perlu-perlu amat, kami jarang sekali pergi keluar kota. Jikalau pun pergi, pasti bapak mengikutsertakan aku dan Fathir. Bapak seolah tak ingin meninggalkan aku dan Fathir di rumah tanpa pengawasannya. Jika kutanya mengapa, Bapak tak menjawab. Ia hanya tersenyum. Kemudian ia memandang lukisan Ummi yang tanpa busana menggantung di ruang kerjanya.

Seperti saat Aku mendapatkan kesempatan berkuliah di Institut Teknologi Bandung. Bapak melarangku. Lebih baik di UGM atau ISI, katanya. Akupun patuh. Lalu aku kuliah di ISI Yogya.

Begitu juga saat Mas Samudera, suamiku, melamar 7 tahun lalu. Raut wajah Bapak berubah. Bukan karena ia tak setuju pada Mas Samudera. Jangan pergi dari rumah ini, nak. Kata Bapak saat Mas Samudera dan rombongan keluarganya pulang seusai acara lamaran. Saat kutanya mengapa, lagi-lagi Bapak hanya tersenyum. Dan akhirnya akupun meninggalkan rumah juga. Meninggalkan Bapak. Aku ikut Mas Samudera yang ditugaskan di Kalimantan setelah acara pernikahan. Bapak tersedu, tapi akhirnya melepasku juga. Bapak di rumah bersama Fathir yang telah tumbuh menjadi dewasa. Saat itu, Fathir sudah kelas 3 SMA semester akhir.

Kepergianku ke Kalimantan, membuat aku hanya berkomunikasi dengan Bapak melalui surat elektronik atau telepon seluler. Aku tahu Bapak kesepian. Karena Fathir mulai sibuk di kampus. Tapi ia tak pernah mengatakan secara terang. Ia tetap menyembunyikan kerinduannya.

Seperti malam itu: saat aku menelponnya. Kira-kira pukul 8 malam. Aku bercerita tentang keinginanku untuk pulang ke Yogya saat libur tahun baru. Dan akupun mengabari, aku tengah mengandung 4 bulan. Bapak sumringah. Tapi seketika nada bicaranya berubah. Tak usahlah, nak, kata Bapak, tunggu sampai anakmu lahir, barulah kamu pulang ke rumah. Bilang ke Samudera, jangan terlalu sering diluar rumah, lanjut Bapak.

Benar, saat Dipa dan Sjam lahir, anakku kembar, dan setelah berusia 3 bulan, aku pulang ke Yogya. Bapak senang melihat cucu pertama yang kembar. Digendongnya Dipa dan Sjam lama-lama secara bergantian. Meskipun  kerap mengompol dan berak di gendongannya, Bapak hanya tertawa dan cepat-cepat menggantikan popok. Hanya beberapa minggu di Yogya, aku harus kembali ke Kalimantan. Mas Samudera harus kembali bekerja. Raut wajah Bapak berubah. Ia nampak sudah begitu tua. Walau usianya baru saja melewat setengah abad.

Hingga beberapa bulan kemudian, aku mendapat kabar melalui surat elektronik dari Fathir: ‘Bapak sakit, sudah hampir satu minggu. Tapi menolak untuk dirawat di rumah sakit.’ Aku panik. Segera menelpon Fathir. Dan akupun memutuskan, untuk ke Yogya 5 hari kedepan. Tanpa Mas Samudera.

Sehari sebelum keberangkatan, Fathir menelpon. Bapak koma di rumah sakit, katanya. Aku kaget. Segera menuju Bandar Udara Supadio. Sial, keberangkatan ke Yogya baru ada esok hari, pukul 4 pagi. Aku menelpon Fathir. Tak ada jawaban. Aku berdoa. Semoga baik-baik saja. Entah mengapa saat itu aku teringat Ummi.

Pagi hari, aku berangkat. Sebelum dan sesudah perjalanan kuhubungi Fathir, tak ada jawaban. Pukul 7 pagi, aku sampai. Lekas menuju RSUD Panempaham Senopati. Di lorong rumah sakit aku melihat Fathir di depan ruang 007 Ahmad Yani. Ia terduduk lesu. Matanya merah. Ia menangis. Aku memeluknya. Fathir berbisik, tapi tak kedengaran. Bisiknya bercampur tangis. Tapi aku paham. Kutemui lelaki baju yang serba putih yang baru saja keluar daru ruang 007 Ahmad Yani. Lelaki itu menepuk-nepuk pundakku. Sabarlah, ini sudah kehendakNya, katanya. Aku paham. Aku menangis.

Aku masuk ke dalam ruang 007 Ahmad Yani. Tangisku tumpah. Bapak sudah terbujur kaku. Di kantong kemejanya kulihat kertas kusam. Terdapat tulisan dari bolpoin berwarna biru; ‘Bussum’. Ya, hanya ‘Bussum’ tulisan di kertas itu. Dan akupun paham: Ummi.

Bapak disemayamkan di rumah. Para tetangga hadir. Sanak-keluarga datang. Kejadian 19 tahun lalu teringat lagi.

‘Jenazah akan dimakamkan di Bussum, Belanda.’ kataku di depan  para pelayat.

***

AKU bangkit dari dudukku di gundukkan tanah merah. Harum wewangian bunga masih menusuk hidung. Mataku lembam sepenuhnya. Fathir masih menunduk. Tiupan angin Samudera Atlantik begitu kencang. Pasminaku jatuh sepenuhnya di bahu. Kincir angin masih nampak begitu kencang berputar. Seolah menyejukkan perjalanan Bapak menemani Ummi di Bussum.(*)

Jatikramat, Agustus 2014

*Cerpenis dan Mahasiswa Sejarah, @cheprakoso

Continue Reading
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Cerpen

Ziarah Bit

mm

Published

on

Apa yang akan mereka lakukan bila sungguh-sungguh ketemu? Mungkin mereka akan jalan-jalan sepanjang sore, membeli es krim di Taman Bungkul, atau menyesap kopi di Kafe Cakcuk. Atau mungkin juga mereka akan memutuskan untuk menghabiskan waktu di H20, memilih sebuah meja dan duduk berseberangan, lalu saling diam, saling memandang, tangan mereka bertaut di atas meja, dan penjaga berkacamata akan berkali-kali melirik untuk memastikan mereka tidak melakukan perbuatan mesum. Mereka memang tidak akan berbuat mesum. Tidak. Dari semua kemungkinan yang bisa terjadi, berbuat mesum tidak termasuk di dalamnya. Salah satu dari mereka mungkin akan beranjak ke rak terdekat setelah berpandangan sepuluh detik dan mulai merasa rikuh, mengambil satu buku puisi secara acak, membuka halaman juga secara acak, dan melisankan puisi apa pun yang terpacak di dalamnya lirih-lirih. Setelah itu mereka tertawa tertahan.

“Puisi ini lebih bagus dari puisi Suyitno,” demikian Bit barangkali akan berkata.

“Tapi tidak ada puisi yang lebih penting ketimbang puisi Suyitno,” Aliya menanggapi.

Dan mereka kembali tertawa.

Dunia memang penuh perdebatan, pertentangan, perbedaan, ketidaksetujuan dari satu pihak kepada pihak lain atas satu hal. Agama, politik, penggusuran, drama korea, Tere Liye, Kusala Sastra Khatulistiwa, Jerusalem, tingkat kepahitan kopi, cara menyuguhkan bubur ayam, definisi soto, dan banyak lagi. Namun semua, tidak bisa tidak, akan bersepakat bahwa puisi Suyitno, seseorang yang satu-satunya cita-citanya adalah menjadi penyair namun jelas-jelas tak memiliki kemampuan untuk itu, adalah puisi yang buruk. Buruk sekali, malah. Demi Tuhan, salah satu berkah terbesar yang merungkupi Suyitno adalah ia hidup di zaman media sosial telah melebarkan sayap dan menancapkan cakar-cakarnya sedemikian rupa hingga lelaki ceking dengan kumis melintang dan rambut abu-abu itu sanggup mengumumkan puisi-puisi ciptaannya ke khalayak. Bebas. Tanpa mesti melewati tatapan bengis mata redaktur yang senantiasa dicurigai keobyektifan dan kapasitas keilmuannya. Bertahun-tahun sebelumnya, mati-matian Suyitno mengirim ratusan, kalau tidak ribuan, puisi ke koran-koran dan majalah-majalah, mulai dari yang dianggap memiliki wibawa dan pengaruh dalam bidang kesusatraan hingga yang acak adut dan sama sekali tidak masuk radar halaman bermutu. Dan tak satu pun yang dimuat. Ia juga tak kapok-kapok mengirim manuskrip puisi, yang dilambari pengantar muluk-muluk yang ia tulis sendiri, ke penerbit. Dan tak satu pun penerbit yang membalas kirimannya. Media sosial membuatnya mungkin melakukan apa yang dulu tidak mungkin ia lakukan. Dan dengan kegirangan yang luar biasa, ia mengumumkan siapa dirinya: aku penyair!

Di bawah kuasa ilusi bahwa puisi-puisi yang dihasilkannya adalah puisi-puisi paling adiluhung yang pernah diproduksi manusia sepanjang peradaban, seperti kebanyakan – atau kalau tidak, semua – penyair, Suyitno merasa ia memiliki tanggungjawab untuk memaksa orang lain membaca puisi-puisinya. Tak lega dengan mengunggah puisi-puisinya belaka (khususnya dan terutama di Facebook), ia juga menandai akun-akun orang lain dalam unggahannya. Dan untuk kerja kerasnya, ia setidaknya menuai lima tanda suka dan nol komentar dari empat puluh tanda paksaannya. Itu sudah cukup membuatnya tersenyum puas.

Tak ada pola khusus mengenai bagaimana Suyitno menentukan akun-akun siapa yang akan ia tandai. Dalam seminggu, kadang satu akun ia tandai lima kali, kadang satu kali, dan kadang tidak sama sekali. Dengan lima ribu akun yang berteman dengannya, ia memiliki banyak komposisi kemungkinan. Pada akhir September 2017, murni ketidaksengajaan, ia menandai Bit dan Aliya dalam penandaan yang sama atas puisi singkatnya. Berteman di Facebook, itu judul puisinya. Isinya singkat belaka, hanya dua baris: sejak aku mengenalmu/aku bertambah teman.

Bit dan Aliya bukan orang yang suka puisi. Apalagi pembaca puisi yang baik. Apalagi mengerti teori-teori dalam dunia perpuisian. Namun tak urung, mereka tertawa ngakak sehabis membaca puisi Suyitno. Sebagai orang yang lahir dan tumbuh besar di Indonesia dan pernah mengenyam Sekolah Dasar, mereka pernah membaca beberapa puisi Chairil Anwar, Rendra, dan Toto Sudarto Bachtiar. Dan tentu saja puisi-puisi mereka tidak bisa dibandingkan dengan puisi Suyitno. Dan puisi dari ketiga penyair itu, setidaknya, memberi Bit dan Aliya dasar seperti apa puisi itu sebenarnya.

Bit punya waktu berlimpah. Umurnya dua puluh lima dan orangtuanya memperlakukannya laiknya porselen yang gampang retak. Kakaknya meninggal diseruduk motor yang dikendarai pemuda mabuk pada usia sepuluh tahun. Sejak itu, Bit menjadi anak tunggal. Trauma mendalam yang mendera orangtuanya menyebabkan mereka begitu protektif terhadap Bit. Bit, yang berselisih usia lima tahun dari kakaknya, tumbuh dalam begitu banyak larangan. Jangan menyeberang jalan sembarangan. Jangan bermain dengan anak itu.  Jangan lari-larian. Jangan bermain lumpur. Jangan hujan-hujan. Jangan jajan permen. Jangan pulang sekolah telat. Jangan naik sepeda pancal. Jangan lupa pakai sandal. Jangan memanjat pohon. Jangan menyentuh beling. Jangan pergi ke ujung gang. Jangan sampai tisunya ketinggalan. Jangan pakai kaos kaki ungu. Jangan petak umpet, cuma bikin capek. Jangan ikut kasti, nanti kakimu patah. Jangan ini. Jangan itu. Pada akhirnya, tanpa disadari, Bit telah menjelma pemuda tanpa keberanian melakukan apa pun. Ia lebih memilih menghabiskan waktu di dalam rumah bila tidak ada sesuatu yang memaksanya untuk beraktivitas di luaran. Ia juga cenderung kesulitan dalam pergaulan sosial secara langsung, yang mendorongnya menjauh dari kehidupan sosial semacam itu. Ia, praktis, tak pernah memiliki teman, apalagi teman dekat. Dan orangtuanya, yang masih dihantui tragedi kematian anak sulungnya, menganggap itu yang terbaik bagi Bit. Sebagai kompensasi dari tindak protektif mereka, mereka menyediakan apa pun yang berpotensi membuat Bit nyaman dan krasan di rumah. Mulai dari konsol game hingga akhirnya gawai-gawai termutakhir dengan koneksi internet yang lajak. Selepas kuliah, Bit yang tidak kunjung mendapat pekerjaan menghabiskan waktu dengan berselancar di media sosial. Lalu ia, pada suatu hari, menerima permintaan pertemanan dari Suyitno di Facebook. Dan akhir September itu, ia ditandai dalam sebuah kiriman puisi yang menyedihkan. Keberlimpahan waktu yang dimiliki Bit lah yang menyebabkan pemuda itu secara iseng mengklik tanda reaksi tawa, satu-satunya reaksi yang didapat puisi Suyitno tersebut, dan mendapati nama akun Aliya.

Bit yakin ia jatuh cinta pada saat itu. Gambar profil Aliya menampilkan sosok gadis ideal masa kini: kulit putih, hidung mancung, bibir tipis segar, mata sipit, rambut lurus sepunggung, dan tubuh langsing semampai. Bit mengklik akun itu dan mulai berjalan-jalan di linimasa Aliya. Bit tidak mendapat banyak info dari keterangan akun. Hanya bahwa Aliya tinggal di Surabaya. Di unggahan foto Aliya dan keterangan yang menyertai foto tersebut, Bit mendapat gambaran bagaimana suasana kafe Cakcuk atau bagaimana rak-rak buku berderet-deret di perpustakaan H20. Itu semua adalah tempat-tempat yang asing bagi Bit meski sepanjang hayatnya hingga saat itu ia tinggal di Surabaya.

Dengan gelegak aneh di kedalaman dadanya, Bit menjelajahi waktu yang membeku di linimasa Aliya. Sebelumnya, tentu saja, ia mengajukan permintaan pertemanan. Untung saja akun Aliya diatur publik hingga ia tidak perlu menunggu permintaan pertemanannya disetujui untuk segera memulai perjalanannya membongkar jejak-jejak arkeologis kehidupan Aliya.

“Ia punya banyak teman,” batin Bit setelah beberapa saat. Ia menemukan ratusan reaksi dan komentar yang didapat Aliya dari setiap unggahannya, dan ratusan foto-foto yang menandakan betapa perempuan itu suka dan acap jalan-jalan serta kumpul-kumpul dengan banyak orang. Bit juga kerap bercanda dengan teman-teman media sosialnya, namun itu terbatas di media sosial. Dari tiga ribu teman Facebook-nya – dua ratus di antaranya cukup sering berinteraksi dengannya – ia belum pernah ngopi darat dengan mereka dan ngobrol bertatap muka secara langsung. Ia terlalu pemalu. Beberapa teman mayanya yang berdomisili di Surabaya pernah mengajaknya kopi darat. Namun Bit tak pernah menanggapi permintaan itu. Bukannya tidak ingin, namun ia hanya gentar. Ia tak tahu harus bersikap bagaimana bila pertemuan langsung itu terjadi. Ia juga tak tahu apa yang akan mereka bicarakan nantinya. Facebook dan platform media sosial lainnya telah menyelamatkannya dari kegagapan semacam itu, namun tak pernah benar-benar membantu menyelesaikan semua masalahnya. Hal pertama yang terlintas di benaknya setiap kali mendapatkan ajakan untuk kopi darat adalah pengalaman-pengalamannya selama sekolah atau kuliah, di mana ia senantiasa menghabiskan waktu sendirian di sudut kelas dan memandang teman-temannya saling bercanda. Beberapa kali ada teman yang mencoba mengajaknya bercakap, namun secara reflek, ia melindungi diri dengan cara membungkam; hanya mengangguk atau menggeleng.

Empat menit setelah mengklik akun Aliya untuk pertama kalinya, Bit merasakan dorongan untuk mengirim pesan pribadi ke kotak pesan Aliya. Namun dengan segera ia mendapati bahwa ia tak tahu apa yang akan ia tulis. Ia tugur. Lalu ia meneruskan menjelajahi linimasa Aliya. Tiga jam setelah permintaan pertemannya terkirim, Aliya menyetujuinya. Dan sepuluh detik kemudian, Aliya memperbaharui statusnya. Siap-siap kopi darat nih, tulis Aliya. Bit merasakan dadanya panas. Mangkel. Cemburu? Bit tidak tahu.

Bit menunggu. Ia ingin mengomentari status itu. Namun baru satu kata ia tulis, buru-buru ia hapus. Begitu berulang-ulang. Tak ada kata atau kalimat yang layak untuk ditulis di kolom komentar, pikir Bit. Hingga akhirnya Bit membanting dirinya sendiri ke atas kasur. Ia berguling-guling seraya membayangkan apa yang akan mereka lakukan bila mereka benar-benar bertemu. Bertemu sebagai sepasang kekasih. Mungkin mereka akan jalan-jalan sepanjang sore. Atau membeli es krim di Taman Bungkul. Atau membaca buku puisi sambil tertawa-tawa di H20.

Namun khayalan Bit tidak akan pernah terjadi. Tiga jam empat puluh lima menit setelah Aliya memperbaharui statusnya, puluhan kiriman menyesaki dinding akun Aliya. Semuanya muram. Semua menyampaikan pernyataan duka cita. Bit tak percaya apa yang jelas-jelas tersurat dari kiriman-kiriman itu, bahwa Aliya ditemukan dengan leher nyaris putus digorok oleh lelaki yang dikenalnya melalui Facebook pada perjumpaan langsung mereka yang pertama. Beberapa akun memacak foto pembunuh, seorang pemuda sepantaran Bit, dengan cambang dan kumis lebat dan model rambut undercut, yang telah berhasil dibekuk polisi setengah jam setelah kejadian.

Bit mengunggah gambar karangan mawar di dinding akun Aliya. Berulang-ulang setiap hari. Sebuah ziarah yang seakan abadi ke kuburan yang dibangun dengan pondasi algoritma dan bit komputer. Akun Aliya terkesan singun.  Begitu singun. (*)

*) Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

 

 

 

Continue Reading

Cerpen

Samuel Beckett: Molloy

mm

Published

on

Aku ada dikamar Ibu. Sekarang aku memang tinggal di sana. Aku tak tahu, bagaimana aku bisa sampai ke sana. Barangkali dengan ambulans, sejenis kendaraan atau angkutan tertentu. Aku tidak betah. Heran. Aku tak pernah disana sendirian.

Ada seorang laki-laki yang rutin berkunjung setiap minggu. Mungkin aku harus berterima kasih padanya. Dia tidak banyak bicara. Dia memberiku uang dan mengambil berkas-berkas. Lebih banyak berkas, akan lebih banyak uang. Ya, aku bekerja sekarang. Setidak-tidaknya, yang kuangankan, sedikit mirip. Lagi pula aku tidak tahu persis, bagaimana sesungguhnya bekerja itu. Agaknya ini tidak penting.

Apa yang sesungguhnya kuinginkan sekarang adalah membicarakan hal-hal yang telah lewat, mengucapkan selamat tinggal, lalu mengakhiri dengan kematian. Tetapi mereka tak mengiinginkan hal itu terjadi padaku. Ya, kukatakan mereka, karena lebih dari satu—tampaknya begitu. Tetapi, hanya orang itu-itu saja yang datang. Kamu akan bisa mengerjakannya nanti, katanya. Baguslah.

Nyatanya, aku tak akan membiarkan semua ini terus tertinggal. Yaitu ketika dia datang dengan berkas-berkas baru yang ia bawa minggu berikutnya. Mereka sibuk menandai dengan tanda-tanda yang sama sekali tidak kumengerti. Karena itu, aku sengaja tak membacanya. Dan ketika aku tidak mengerjakan apa-apa, mereka tidak memberiku apa-apa. Bahkan mengancamku.

Sebenarnya aku tidak bekerja demi uang. Lalu, untuk apa? Aku tidak tahu. Sungguh, aku tidak tahu banyak. Sebagai contoh, kematian Ibu. Apakah berliau sudah meninggal waktu aku datang? Ataukah beliau meninggal kemudian, yaitu baru meninggal beberapa saat setelah kedatanganku?

Kukira Ibu sudah dimakamkan. Entahlah. Mungkin mereka malah belum menguburkannya. Yang pasti, di sisi lain, aku memiliki kamarnya. Aku tidur di ranjangnya. Aku buang air dan meludah di pispotnya. Aku sudah mengambil alih tempatnya. Barangkali, semakin lama aku semakin mirip dengannya.

Yang lebih kubutuhkan sekarang sebenarnya seorang anak laki-laki. Barangkali suatu saat nanti aku akan memiliki satu. Tapi kupikir tidak. Dia sudah sangat tua sekarang. Hampir setua aku. Dia hanyalah pelayan rendahan. Ini bukan cintaku yang sesungguhnya.

Cinta yang sejati telah kupersembahkan pada orang yang lainnya lagi. Kita akan membicarakannya setelah ini. Namanya? Ah, aku sudah lupa. Dan agaknya, bagi diriku sendiri, kadang-kadang seakan aku merasa begitu mengetahui ihwal anak laki-lakiku tadi. Aku bentul-betul menganguminya. Kemudian aku meyakinkan diriku kalau itu tidak mungkin. Seperti juga tidak mungkinya aku dapat mengagumi orang lain. Aku bahkan sudah lupa, bagaimana mengeja dan memilah kata-kata. Tampaknya ini tidak penting.

Baiklah. Dia adalah kartu ajaib bagiku, yang datang secara khusus untuk menjengukku. Agaknya dia datang hanya setiap hari Minggu. Pada hari-hari yang lain, dia libur. Dia selalu keharusan. Dialah yang membentakku kalau aku mulai mengerjakan sesuatu yang menurutnya salah; dan aku seharusnya mengerjakannya secara berbeda. Mungkin dia benar. Aku harus memuliai dari permulaan lagi; seperti meneliti suatu kesalahan yang usang dan membingunkan—bisakah kalian bayangkan?

Ini permulaan bagiku. Mungkin karena itulah mereka membiarkannya saja.Aku menemui banyak kesulitan. Padahal ini baru permulaan—kalian lihat? Seolah-olah sekarang aku sedang mendekati titik akhir. Apakah yang kukerjakan saat ini jauh lebih baik? Entahlah.

Kota itu tidak jauh. Ada dua orang, mungkin tidak mudah kalian pahami. Yang satu pendek, yang satunya lagi lebih tinggi. Mererka bergerak meninggalkan kota. Mula-mula yang satu, kemudian yang lainnya. Dan kemudian, dengan susah-payah mereka mengingat-ingat semua perbuatan yang telah mereka kerjakan. Udara dingin menusuk tajam, sehingga mereka mengenakan mantel-mantel tebal. Mereka tampak serupa satu sama lain.

Tetapi tak ada lagi yang mereka kerjakan. Pada awalnya jarak yang lebar membentang diantara mereka. Mereka tidak saling melihat. Padahal mereka sudah mencapai keadaan di mana kepala mereka saling berhadapan. Namun, dikarenakan jarak yang lebar, ruang yang lapang, dan kemudian karena tanah yang bergelombang yang menyebabkan jalanan jadi ikut bergelombang—meskipun tidak curam dan terjal tapi cukup berkelok. Tetapi saatnya tiba, ketika mereka berdua tiba di sebuah ruang yang sama dan akhirnya tikungan-tikungan itu bertemu.

Untuk mengatakan bahwa mereka saling memperkenalkan diri, tidak, tidak ada apa pun yang jadi jaminannya. Tetapi, barangkali dari suara langkah-langkah kaki atau ditandai gemerisik uap insting yang samar-samar, mereka saling mendongakkan kepala dan saling menyelidiki satu sama lain, untuk menentukan langkah-langkah yang baik sebelum akhirnya mereka berhenti dan saling berhadapan.

Ya, mereka tidak saling melewati, tetapi mengendap-endap, berhadap-hadapan, mengadu wajah seperti ketika di desa: pada suatu senja di ruas jalan yang sejuk, dua sosok bayang-bayang saling berkelebat, tanpa terjadi sesuatu yang luar biasa. Tetapi barangkali saja mereka sudah saling mengenal satu sama lain, mengagumi satu sama lainnya, saling memuji, bahkan setelah mereka sampai ke sudut-sudut kota.

Mereka berjalan memutar, melewati laut yang ada di ujung timur. Jauh dari padang-padang rumput, memanjat cakrawala tinggi dengan menggubah sedikit kata-kata. Kemudian keduanya berjalan ke arah masing-masing. A melintasi kota, B melewati jalanan yang seolah teramat sulit untuk dia mengerti. Atau semuanya.

Selama dia pergi dengan langkah-langkah tak menentu dan terkadang terlalu sering menghentikan langkahnya untuk mengamati apa saja, dia seperti seseorang yang mencoba memperbaiki letak penanda batas-tanah-milik di dalam benaknya. Pada suatu hari, barangkali dia harus berkali-kali membalikkan langkahnya—kalian tak akan pernah tahu kenapa.

Dia tampak tua. Dan dengan pandangan mata penuh penyesalan, ia menekuri kesunyian yang telah ditempuhnya berabad-abad, bertahun-tahun, berhari-hari, dan bermalam-malam tanpa bernah berpikir untuk membiarkan keajaiban-keajaiban itu muncul justru pada hari kelahirannya, atau bahkan jauh-jauh hari sebelumnya.

Apa yang harus kulakukan? Apa yang harus kulakukan? Sekarang, perlahan, sebuah bisikan. Sekarang, lebih teliti dari apa yang telah dikerjakan seorang pelayan teladan. Dan selanjutnya? Sesudah itu? Dan sering pula muncul sebagai jeritan. Dan pada akhirnya, aku harus percaya padanya. Aku tahu, tinggal ini kesempatanku. Tinggal ini saja. Aku percaya lagi pada umur panjangku. Dan sekarang aku mengunyah apa saja dengan asyik.

Apa yang kubutuhkan sekarang adalah dongeng-dongeng yang membutuhkan waktu sangat lama untuk memahaminya, dan aku tidak yakin apakah itu ada, memberi informasi padamu, pada kalian, hal-hal tertentu; tentang benda-benda yang kuketahui, tentang hal-hal yang tidak kumengerti. Hal-hal yang begitu menyulitkanku, juga yang tak pernah menyulitkanku.

Apapun bahasanya. Apa pun istilahnya. Aku bahkan telah mempelajari apa profesinya, karena aku tertarik pada keahlian-keahlian. Dan berpikir: aku mencoba mengerjakan yang terbaik untuk tidak bercerita tentang diriku sendiri. Pada suatu ketika aku mungkin akan bercerita tentang ternak-ternak, tentang langit dan apa saja, apabila aku mampu melakukannya.

Aku di sana, kemudian dia meninggalkan aku. Dia tampak terburu-buru. Dia mengembara, seperti yang sudah pernah kukatakan pada kalian; tetapi, setelah tiga menit berbicara denganku, dia tampak terburu-buru. Aku percaya padanya. Dan sekali lagi, aku tak akan menceritakan diriku sendiri. Tidak, itu tidak seperti aku. Tetapi bagaimana aku harus mengatakannya, aku tidak tahu.

Memperbaiki diri sendiri, menyempurnakan diri sendiri, oh tidak. Aku tak akan bisa membiarkan diriku sendiri. Bebas. Ya. Aku tak tahu apa artinya itu, tetapi itulah kata yang kupilih dan kugunakan. Bebas untuk mengerjakan apa saja, bebas untuk tidak melakukan apa-apa, bebas untuk mengetahui—tapi apa? Mungkin hukum-hukum pemikiran; pemikiran-pemikiranmu sendiri yang serupa air mengalir secara proporsional ketika ia memutuskan untuk membasahimu. Dan kalian akan mengerjakan hal-hal yang baik, paling tidak, tidak terlalu buruk untuk menghapus teks-teks, menghilangkan margin-margin, mengisi lubang kata-kata, sampai segalanya menjadi kosong dan datar. Sehingga segala kesibukan yang tampaknya dahsyat, menakutkan dan tak berperasaan atau semacamnya menjadi tak terkatakan, sampai tak ada lagi isu kemiskinan. Jadi aku tak merasa ragu untuk mengerjakan semua yang lebih baik, paling tidak, tidak terlalu buruk, dan tidak menyusahkan diriku sendiri dengan serangkaian observasi tentang segala sesuatu yang akan terjadi nanti.

Aku memiliki cacat untuk dapat membangkitkan semangat orang lain, yaitu orang-orang yang bertongkat. Kemudian bisik-bisikan dan gumam-gumam itu kembali dimulai. Untuk bersunyi sendiri; mengembalikan peranan lebih dari sekadar objek-objek.

Kemudian, aku masih hidup. Mungkin kehadiranku masih berguna. Mahkota dan pakaian kebesaran kupandang sebagai sesuatu yang belum layak kubicarakan sekarang, karena masih terlalu dini. Tanpa ragu-ragu aku akan membicarakannya nanti, jika sudah tiba saatnya untuk membicarakan penemuan kebaikan-kebaikan serta harapan-harapan milikku. Jika tidak, aku akan merelakannya hilang, terselip di antara hari-hari sekarang dan nanti. Tetapi, bahkan ketika semua itu hilang, mereka tetap akan mendapat tempat, di dalam daftar semua barang kesayanganku. Tetapi, mudah bagi ingatanku; tidak seharusnya aku menghilangkannya. Seperti tongkat setiaku, yang tidak seharusnya kuhilangkan juga.

Barangkali sekarang aku sedang berada di puncak atau di lereng, di antara orang-orang penting dan terkenal, demi orang lain. Kalau tidak, bagaimana mungkin aku dapat melihat begitu jauh, begitu dekat di tangan, begitu banyak hal yang tetap dan yang berpindah-pindah. Tetapi, apa yang akan dilakukan seseorang yang sudah sangat terkenal di tempat yang hampir-hampir tak beriak ini? Dan aku, apa yang kukerjakan di sini, dan kenapa mesti datang?

Ada banyak hal yang mesti kita coba dan temukan. Tetapi ada hal-hal tertentu yang tidak seharusnya kita pikirkan dengan serius. Ada sebagian dari segala sesuatu yang secara penampakan wajud lahirnya memiliki cacat tersendiri. Dan pada suatu ketika aku mungkin menjadi bingung oleh kontrasnya perbedaan-perbedaan itu. Tetapi pertentangan-pertentangan adalah tempat kediamanku. (*)

_______________________

*) Samuel Beckett: Peraih Nobel Prize for Literature 1969. Lahir di Dublin, Irlandia tahun 1906 dan meninggal tahun 1989 di Paris, Prancis. Beckett dianggap sebagai salah satu pengarang abad ke-20 yang paling inovatif dan berpengaruh. Hal ini berangkat dari keyakinannya, yang lalu membekas dalam karya-karyanya, bahwa hidup manusia adalah absurd, tidak jelas, keras, dan akhirnya tidak memiliki tujuan. Secara pribadi, ia gigih menyuarakan metafora-metafora tentang malaise moral manusia.

Beckett terutama dikenal sebagai penulis drama, tetapi ia juga menulis novel dan puisi. Ia telah menulis enam novel, empat naskah drama serta lusinan framen yang lebih pendek, selain sebuah esai dan satu kumpulan puisi. Tetapi yang membuat namanya dikenal adalah karya drama Waiting for Godot (1952) yang disebut-sebut sebagai drama paling penting dalam abad ke-20.

Dalam keterangan pers-nya, Akademi Swedia menganugerahkan Hadiah Nobel Keusastraan pada Beckett sebagai pengakuan: “…..untuk karangan-karangannya yang dalam serta mengungkap kekurangan manusia modern, mendapatkan tempat yang luhur lewat bentuk novel dan drama gaya baru…..

Beckett adalah sastrawan kedua Irlandia (Setelah William Butler Yeats tahun 1923) yang memperoleh penghargaan tersebut. Atau sastrawan ketiga setelah George Benard Shaw (tahun 1925) yang kemudian hijrah dan menjadi warga negara Inggris.

**) Penerjemah: Endang Susanti R.A.

 

 

 

Continue Reading

Cerpen

Kotak Kardus Aulina

mm

Published

on

Aulina berusia empat tahun tiga bulan ketika mengejutkan bapaknya dengan berkata, “belikan aku hape android. Aku mau liat youtube.” Bapaknya menyemburkan kopi pagi yang baru dihirupnya ketika itu. Pedagang peracangan itu meletakkan piring gelasnya yang masih berisi kopi, lalu memandang lekat-lekat bocah playgroup tersebut. “Apa yang kau katakan?” tanyanya tak percaya.

“Teman-teman bawa hape ke sekolah,” jawab si bocah. “Dan mereka liat youtube.”

Bapaknya mengangkat si bocah, lalu meletakkannya di pangkuannya. “Emangnya ada apa di youtube?

“Banyak Yah. Ada video-video bagus,” ujar si bocah. Lalu mulutnya nyerocos menceritakan lagu-lagu dan aneka jenis jogetan yang ia saksiksan di layar ponsel temannya, juga kisah seorang putri yang mampu menciptakan salju dari kibasan tangan atau bagaimana seorang putri artis seumuran dengannya menghabiskan hari di salon untuk mencuci rambut dan melumuri tubuh dengan krim entah apa. “Setelah itu, dia main kuda-kudaan dan sepatunya yang bagus robek,” sambung Aulina. Mulut mungilnya tampak menggemaskan dan matanya berkilauan. “Tapi dia pinter Yah, soalnya dia gak nangis,” tambahnya. Bapaknya tertawa sebelum mencubit pipinya.

“Kamu juga pintar. Hayo mandi sana. Sebentar lagi kamu harus berangkat. Mana ibumu?”

“Tapi hapenya?”

“Kamu kan masih kecil,” jawab bapaknya seraya tertawa.

Permintaan itu terus diulang Aulina hingga seminggu kemudian. Seiring hari, rengekan dan rayuannya lebih dahsyat dari sebelumnya. Bapak dan ibunya, yang mulanya mengira Aulina akan segera melupakan keinginannya, segera merasa terteror. Awalnya, mereka mencoba mengalihkan perhatian Aulina dengan mengajaknya jalan-jalan ke pasar kecamatan dan menjajaninya sosis goreng kesukaan si bocah. Itu berhasil membujuk Aulina, tapi tak lama. Keesokan harinya, Aulina kembali merengek. Ibunya mengambil boneka panda kesukaan Aulina dan mengulang dongeng bagaimana seorang bocah yang durhaka kepada orangtuanya dikutuk menjadi binatang yang di kemudian hari disebut panda. Biasanya, dongeng itu cukup mangkus meredam kerewelan Aulina. Namun tidak kali itu. Aulina berteriak bahwa ia bosan pada kisah panda dan satu-satunya yang ia ingini adalah hape android supaya ia bisa lihat youtube seperti teman-temannya di playgroup. Bapaknya tidak diam saja dalam episode runyam itu. Lelaki tiga puluhan tahun tersebut menyalakan televisi dua puluh satu inchi dan menyetelnya pada chanel yang menayangkan Shaun The Sheep. “Aku mau youtube,” Aulina kembali berteriak, kali ini sambil memuntahkan air mata. Pada hari kedelapan, tak tahan dengan rengekan tanpa akhir dan mustahil diredakan tersebut, mereka memarahi Aulina dan mengatakan beberapa perkara dengan cara yang tidak semestinya mereka gunakan kepada anak berusia empat tahun tiga bulan. Perkara-perkara itu meliputi bahwa Aulina selayaknya bersyukur bisa makan tiap hari dan berkesempatan merasakan playgroup dan tak perlu meminta yang aneh-aneh mengingat pekerjaan bapaknya yang hanya pedagang pracangan tak memungkinkan mereka untuk hidup mewah. Sementara cara tidak pantas yang mereka terapkan antara lain, berkata dengan suara keras dan cenderung membentak, mata merah, dan ludah yang berkali-kali muncrat menimpa wajah si bocah. Aulina sempat membantah perkataan bapaknya. Ia bilang bahwa Sri, yang sudah tidak punya bapak, bisa punya hape android. Bapaknya merespon ucapan Aulina yang terkesan meremehkan dan mencabik harga diri seorang bapak itu dengan sebuah tamparan di pipi yang merupakan puncak dari ketidakpantasan tersebut.

Hari itu, Aulina mengurung diri di kamar. Itu adalah suatu hari Minggu yang cerah. Likuran tahun sebelumnya, pada hari libur seperti itu, bapak dan ibu Alina akan menghabiskan waktu dengan bermain petak umpet atau sondah atau bentengan di luar rumah bersama kawan-kawan mereka. Namun hari itu, lingkungan sekitar mereka tampak kalis dari anak kecil. Orangtua Alina tahu, zaman sudah berubah. Tak ada lagi pemandangan bocah yang berlarian dan bermain di luar rumah hingga lupa waktu sehingga memaksa orangtua mereka untuk marah-marah menyuruh mereka pulang. Anak-anak kini lebih suka mendekam dalam rumah dengan gawai di tangan, menghabiskan hari dengan menekuri benda ajaib mungil tersebut. Mereka sesungguhnya menginginkan Aulina tumbuh seperti anak-anak lain sezamannya. Mereka tak ingin Aulina menjadi aneh karena merupakan satu-satunya anak yang tidak punya gawai. Namun apa daya, mereka memang belum memiliki cukup uang untuk memenuhi keinginan tersebut.

Di dalam kamar, Aulina menghabiskan hari dengan menangis dan terus menangis. Ia tidak mempedulikan panggilan ibunya dan malah memperkeras volume tangisannya. Bapaknya, alih-alih ikut membujuknya, justru menyibukkan diri dengan barang dagangan. Kepada istrinya, lelaki itu hanya berkara singkat, “nanti kalau capek juga berhenti nangis.”

Kenyataannya, bukan Alina yang capek, melainkan ibunya. Dan pada akhirnya, capek  membujuk Alina, ibunya menyetujui pendapat suaminya. Mengerti bahwa ibunya juga tidak lagi berusaha membujuknya, Aulina malah menjadi-jadi. Ia tidak hanya menangis, melainkan juga membongkar kotak mainannya dan melempar-lemparkan isinya. Sisi si boneka berambut merah terlontar hingga ambang pintu, panci dan kompor plastik kecil berserakan di bawah meja, buku cerita bergambar robek beberapa halaman, dan bola-bola plastik kecil aneka warna bergelindingan ke seantero ruangan.

Kotak mainan itu sesungguhnya adalah kardus bekas bungkus televisi dua puluh satu inchi dan cukup besar untuk menyembunyikan tubuh Aulina. Setelah mengosongkan kardus tersebut dan ibunya tidak kunjung muncul, Aulina meneruskan ngambeknya dengan memasuki kardus tersebut. Di sanalah, kelelahan menangis dan mengacak-acak mainannya, ia jatuh tertidur.

Belum lama matanya terpejam ketika ia merasa terjatuh. Tubuhnya yang payah membuatnya terlelap dengan cepat ketika otaknya belum siap. Otak itu, merespon tubuh yang tiba-tiba lemah, memerintahkan otot untuk bersiap dan menegang. Itulah sesungguhnya yang terjadi namun Aulina mengira ia terpeleset lantas terjatuh dalam tidur. Ia tersentak dan terbangun. Dan di sanalah ia menemukan dirinya, di antara gumpalan salju, langit biru cerah, dan angin yang membawa lagu-lagu merdu. Lagu itu memiliki syair dalam bahasa yang tidak ia mengerti. Namun tubuhnya bergoyang secara intuitif. Semua terasa begitu asing, tentu saja. Namun alih-alih takut, ia justru tertawa. Ia melonjak-lonjak. Rambutnya terkibas kencang hingga ujungnya terjuntai ke depan dadanya. Ia terkejut. Rambutnya hanya sepanjang bahu. Jadi mustahil rambut itu bisa terkibas hingga ke dada. Ia meraba rambutnya. Panjang hingga pantat dan terkepang. Warnanya merah tembaga. Mengingatkannya pada rambut seorang putri yang mampu menciptakan salju dari kibasan tangan. Dan pada waktu itu pula ia menyadari bahwa tubuhnya juga telah berubah. Dadanya membusung. Ia merabanya. Ia menjerit mendapati dua buah dada besar kencang di sana. Ia meraba pinggulnya. Jauh lebih besar dari yang ia ingat. Bajunya juga bukan baju motif polkadot yang ia kenakan sebelumnya, melainkan gaun seperti yang ia lihat dalam video youtube yang dikenakan oleh para putri.

Aulina tak tahu apa yang terjadi. Dan perutnya mulai bernyanyi. Ia lapar.

Ia mengamati sekelilingnya lebih cermat. Hamparan yang begitu luas, seperti tak terbatas. Gumpalan salju jauh lebih banyak dari yang ia sangka, menjadikan lanskap itu seakan medan berwarna putih semata. Dan itu membuatnya takut. Ia berteriak. Lanskap mengembalikan teriakannya. Itu membuatnya semakin kalut. Ia berteriak lebih kencang. Dan pantulan yang ia dengar lebih mengerikan. Ia berlari. Ia memanggil ibunya. Ia memanggil bapaknya. Namun tak ada sahutan. Ia berlari lebih kencang, sekencang yang ia bisa. Hamparan itu, kenyataannya, bukannya seperti tak terbatas, melainkan memang tak memiliki batas. Aulina mengira ia telah berlari sepanjang hari namun yang membentang di depannya tetaplah hamparan putih dengan gundukan salju terserak di mana-mana. Beberapa saat kemudian, sebuah gundukan salju menghalangi langkah kakinya. Ia terantuk dan terjatuh dengan muka membentur lantai terlebih dahulu. Ia merasa semua menggelap dengan cepat. Ia menangis. Namun tak ada suara yang keluar dari tenggorokannya.

Aulina terbangun dua jam kemudian, ketika tangan ibunya menepuk-nepuk pundak dan pipinya. “Kamu kok tidur di sini? Ayo bangun,” ujar ibunya. Aulina menguap pelan. Lalu celingukan.  Tak ada hamparan tak bertepi dengan gundukan salju di sana-sini. Tak ada langit biru cerah. Tak ada angin yang menyanyikan lagu-lagu dengan lirik dalam bahasa yang ia tidak mengerti. Ia meringkuk dalam kotak kardus bekas bungkus televisi yang digunakan sebagai kotak penyimpan mainannya. Ia berada dalam kamarnya belaka, dengan langit-langit internit yang dikotori sejumlah sarang laba-laba. Ia meraba rambutnya. Sebahu dan tidak terlalu tebal. Ia menyentuh dadanya. “Ibu,” ia berkata lirih seraya menatap ibunya. Matanya berkaca-kaca.

“Hei, apa itu?” sang ibu mengangkatnya. “Apa yang terjadi di sini?”

Di dalam kardus itu, terserak butiran-butiran berwarna putih. Basah dan dingin.

“Kau tak apa?” ibunya meletakkan telapak tangan di kening Aulina. “Kau demam,” lirih ibunya.

Sore itu, Aulina dibawa ke bidan kampung. Bapaknya yakin bahwa demam tersebut disebabkan permintaan Aulina yang tidak dituruti dan akan sembuh dengan sendirinya. Namun ibunya tak mau ambil resiko. (*)

*) Dadang Ari Murtono, lahir dan tinggal di Mojokerto, Jawa Timur. Buku ceritanya yang sudah terbit berjudul Wisata Buang Cinta (2013) dan Adakah Bagian dari Cinta yang Belum Pernah Menyakitimu (2015). Sedang buku puisinya berjudul Ludruk Kedua (2016). Saat ini bekerja penuh waktu sebagai penulis dan terlibat dalam kelompok suka jalan.

Continue Reading

Classic Prose

Trending