Connect with us
a a

Cerpen

Bussum

mm

Published

on

oleh: Tyo Prakoso

Untuk R

Tanganku bergetar saat menyentuh kayu nisan itu. Harum bebungaan terasa menusuk hidung. Air mata jatuh di pipi merahku. Pasmina abu-abu yang kukenakan terjatuh di bahu. Satu per satu pelayat meninggalkan pemakaman. Tinggal aku dan Fathir terduduk tersipu di atas gundukkan tanah merah. Samar-samar kicauan burung terdengar. Kilau matari perlahan-lahan masuk dari dedaunan bunga tulip. Nampak dari kejauhan sebuah kincir berputar kencang.

NAMAKU Benazir. Aku lahir dari rahim perempuan keturunan India, Arab, Aceh dan Maluku Utara. Aku memanggilnya; “Ummi”. Bapakku orang Jawa tulen. Aku lahir dan tumbuh di negeri Belanda. Tepatnya, di kota kecil di tepi Laut Utara, Samudera Atlantik, bernama Haarlem. Bapak seorang wartawan yang tengah melanjutkan studi di Belanda. Saat usiaku belum genap 7 tahun, aku kembali ke Indonesia.

Siang itu Ummi sedang sibuk di dapur, perutnya nampak semakin besar di balik bajunya yang berwarna putih. Bapak sedang tidak di rumah. Ia tengah melakukan liputan di luar kota. Aku tengah bermain kertas origami di ruang kerja Bapak. Sementara Ummi sedang membuat roti cane dan kari ayam di dapur.

Tiba-tiba terdengar suara benturan. Ummi terjatuh di kamar mandi. Keluar begitu banyak darah dari selangkangannya. Aku menjerit histeris: tak tahu apa yang mesti kulakukan. Ummi pingsan. Tangisku semakin keras. Seketika itu aku tak lagi mengingat apa-apa. Dalam kepalaku hanya ada satu hal: darah. Merah…

Ingatanku pulih saat aku sudah di rumah sakit yang berada di Jacobijnestraat, Haarlem. Di sampingku ada wanita yang berpakaian serba putih. Aku melihat Bapak yang tengah berjalan-jalan kecil di depan pintu ruang ICU. Ia panik. Wajahnya begitu cemas. Seorang lelaki yang juga berbaju serba putih keluar dari ruang tersebut. Ia berbicara pada Bapak. Aku tak mengerti apa yang dibicarakan. Tiba-tiba Ummi dikeluarkan dari ruang ICU ke ruang yang lain dengan sejumlah peralatan yang menempel di tubuhnya. Aku tak mengerti saat itu. Yang aku tahu Bapak begitu terlihat semakin cemas. Wajahnya kuyuh. Ia masih mengenakan mantel cokelatnya. Tas kerjanya terserak di sudut lantai.

Beberapa saat aku melihat Bapak meneteskan air mata. Ia menangis. Saat lelaki berbaju serba putih tadi berbisik kepada Bapak dan menepuk-nepuk pundaknya. Saat itu aku tak tahu apa yang terjadi. Baru kemudian aku mengetahui; Ummi meninggal dunia. Sementara bayi yang di kandungnya, adikku, Fathir selamat. Aku histeris. Tertegun.  Ummi dimakamkan di sebuah taman pemakaman di sebuah desa bernama Bussum. Tak terlalu jauh dari Haarlem. Saat itu aku berumur 5 tahun 2 bulan.

Kematian Ummi, membuat Bapak begitu tak bergairah menjalani hari. Berminggu-minggu Bapak hanya duduk-duduk di depan meja kerjanya. Ia hanya memandang lukisan Ummi yang tanpa busana. Sementara Fathir diasuh oleh tetangga kami, bernama Nyonya Christina Johanna Henderiks Djikhoff. Ia seorang janda. Suaminya telah lama meninggal dunia karena penyakit jantung. Anaknya, Reitze Djikhoff merantau ke Belgia.

Butuh waktu hampir 3 bulan untuk Bapak menerima kematian Ummi dan bisa beraktivitas seperti biasa. Dan, memang takkan pernah bisa menjadi biasa. Setelah satu tahun kematian Ummi, akhirnya kami memutuskan kembali ke Indonesia. Bapak meninggalkan studi dan pekerjaannya. Namun, rumah di Haarlem tak di jual. Hanya dititipkan pada Nyonya Johanna. Tumpukkan buku dan beberapa arsip koleksi Bapak tertinggal di rumah itu.  Nyonya Johanna mengantarkan kami ke stasiun. Ia menetes air mata.

Sesampainya di Indonesia, Bapak mengontrak rumah di daerah Bantul, Yogyakarta. Sebuah rumah kecil, yang di sampingnya memiliki halaman yang begitu luas; ada pohon rambutan, sawo, sukun, bunga anggrek, melati dan mawar. Di sudut-sudutnya tertanam juga berbagai tanaman obat-obatan. Rumah itu hanya memiliki 2 ruang tidur, 1 ruang kerja Bapak dan 1 ruang utama. Kamar mandi terpisah dengan rumah utama. Berada di tengah halaman samping rumah.

Semenjak di Indonesia, aku tak lagi melihat Bapak sering keluar rumah. Bapak banyak menghabiskan waktu di ruang kerja: menulis. Jika keluar rumah, Bapak pasti mengajakku dan Fathir. Seperti saat Bapak mengantarkanku untuk pertama kali masuk sekolah dasar. Bapak mengendarai motor bebek. Aku duduk di belakang, sementara Fathir duduk di depan dengan kain melilit di perut Bapak.

Sepeninggalnya Ummi, Bapak adalah orangtua sekaligus sahabatku. Aku selalu meniru-niru apa yang kerap dilakukannya: berlama-lama duduk di kursi rotan untuk membaca atau mengunting-gunting koran lalu menempelkan di sebuah bundelan kertas.

Seperti siang itu, saat Bapak tengah asik membaca buku tebal yang bersampul berwarna merah. Aku juga sibuk membolak-balik buku tebal yang berjudul Arus Balik. Walau aku tak tahu pasti apa yang sedang kubaca (baru dikemudian hari aku mengetahui itu karya sastrawan terkemuka Indonesia, Pram). Aku bangkit dari tempat duduk, saat mendengar Fathir bangun dari tidur siangnya. Seketika pun Bapak menyuruhku untuk menggendong Fathir. Saat itu Fathir berusia 3 tahun.

Hari-hari Bapak berjalan begitu tenang. Pagi hari ia memasak untuk sarapan kami bertiga. Kadang ia membuat bubur ayam atau kacang ijo. Kadang ia membuat nasi goreng. Atau memasak tumis-tumisan. Bapak berperan sebagai ayah sekaligus juga ibu. Apalagi saat Fathir tengah menangis. Terpaksa ia harus membuatkan susu dan menimang-nimangnya atau menganti popoknya. Jika kelelahan, Bapak meniduri Fathir di sebuah ayunan dari kain yang mengantung di kusen pintu kamar. Tepat pukul 7, ia harus mengantarkan aku ke sekolah sambil membawa Fathir. Sesampainya di rumah lagi, Bapak mulai bekerja. Menulis dan menulis. Untung saja, ada Mbok Har, tetangga kami, yang kerap bantu-bantu di rumah: bebersih rumah atau sekedar menjaga Fathir saat Bapak tengah bekerja.

Di akhir pekan, biasanya Bapak mengajak aku dan Fathir berkunjung ke kota Yogya. Untuk sekedar bertemu teman-temannya, atau menyaksikan sebuah pameran lukisan di gedung Bentara Budaya Yogya dan menonton pentas teater. Atau, jika tak pergi ke kota Yogya, Bapak kerap mengajarkanku melukis atau membaca puisi di halaman samping rumah yang luas. Di pojok halaman, terdapat sebuah pendopo yang tak terlalu besar. Di sanalah biasanya Bapak membacakan puisi-puisi dan cerita-cerita buatannya. Aku hanya duduk terpukau sambil menggendong Fathir. Saat itu, aku diam-diam belajar membuat puisi dan menulis cerita. Walau tanpa sepengetahuan Bapak.

Jika sedang libur sekolah, aku kerap berusaha untuk ‘menjadi Bapak’: duduk berlama-lama di kursi rotan sambil membaca buku-buku yang tebal dan berlama-lama di depan komputer jinjing untuk menulis. Atau mengunting-gunting koran yang tadi pagi dibeli dan dibacanya. Melihat tingkah lakuku, Bapak hanya hanya tersenyum-senyum, lalu mencium keningku sambil ia mengajarkan Fathir berjalan. Dan satu lagi tingkah pola Bapak yang kerap aku tiru, yakni menyiram tanaman di sore hari tepat pukul 4 lewat 15 menit. Mengapa pukul 4 lewat 15 menit? Aku tak pernah tahu alasannya. Bapak hanya tersenyum dan memberiku selang air saat aku menanyainya.

Semenjak kematian Ummi, Bapak sangat jarang sekali berbicara, sekalipun itu pada aku dan Fathir. Saat bapak menyuruhku, hanya beberapa kata saja keluar dari mulutnya. Tapi sorot matanya seolah berbicara. Itu yang membuatku tak pernah membantah perintahnya dan selalu mendengarkan kata-katanya. kata-kata yang begitu mahal keluar dari mulutnya. Dari kata-katanya, kejadian sore itu akan selalu kuingat.

Begini: saat awal masuk di kelas 1 SMP, aku diwajibkan memperkenalkan diri di depan kelas oleh guruku: nama, asal daerah, asal sekolah, tanggal tempat dan tahun kelahiran, nama orangtua hingga kegemaran. Aku maju ke depan. Kakiku terasa bergetar. Seluruh tatap mata mengarah ke arahku. Seisi ruangan memperhatikan hidungku yang mancung, rambutku yang cokelat, pipiku yang merah, bola mataku yang cokelat dan tubuhku yang tinggi dari rata-rata anak seusiaku. “Namaku Benazir. Aku dari….,” tak mampu aku melanjutkan kata-kataku. Tatapan mata seisi ruangan membuatku begitu minder. Aku merasa aneh. Seketika aku menangis. Berlari ke luar kelas. Guruku, Bu Fatimah mengejar. Kudengar, seisi ruangan tertawa terbahak-bahak. Tapi aku terus berlari ke arah rumah. “Orang bule! Orang bule!” kata sebagian teman kelasku. “Bule masuk desa! Bule masuk desa!” kata yang lainnya. “Bukan bule, tapi arab! Arab! Arab masuk desa!” sambut yang lainnya lagi. Semuanya tertawa. Terdengar sayup-sayup di telingaku.

Sesampainya di rumah, Bapak yang tengah mengajarkan Fathir membaca, terheran-heran melihat aku menangis. Aku peluk Bapak. Air mataku tumpah di pundaknya. “Kenapa, nak?” kata Bapak sambil membelai rambutku yang cokelat. Aku didudukkan di kursi rotannya. Pipi merahku yang basah diusapnya. Aku menceritakan kejadian di ruang kelas tadi. Bapak hanya tersenyum. Diusapnya lagi pipi merahku yang basah. “Kamu orang Indonesia, nak. Bukan orang Aceh, Arab, Malaku atau jawa. Tapi Indonesia! Ummi orang Indonesia. Bapak orang Indonesia. Fathir juga orang Indonesia….” kata Bapak sambil mencium keningku.

Siang itu banyak kata keluar dari mulut Bapak, selain saat ia membaca puisi atau cerita. Aku merasa senang. Bukan saja hanya karena penjelasan Bapak, tapi juga kata-kata yang keluar dari mulutnya. Itu seperti beberapa tahun lalu saat Ummi masih hidup. Aku memeluknya lagi. “Sudah jangan menangis, nak. Kalau kamu menangis, Ummi ikut menangis di surga.” Bisik Bapak. Kemudian ia mengelus-elus rambutku yang cokelat. Dan Fathir memelukku dari belakang.

Bapak adalah ayah, sekaligus ibuku. Ia menjadi tempatku bertanya dan mengadu. Dulu, Ummi yang selalu menemaniku belajar membaca dan berhitung. Ummi juga yang memberitahuku tentang arti perempuan dan keperawanan. Ia mengenalkan alat-alat vitalku, seperti vagina dan payuhdara. Yang tak boleh sekalipun disentuh oleh orang lain, terlebih lawan jenisku. Sepeninggalnya Ummi, aku tak lagi mendapatkan pelajaran tentang seks. Oleh karena itu, akupun mencari tahu sendiri tentang seks dan permasalahan perempuan lainnya. Dan sesekali bertanya pada Bapak.  Waktu pertama kalinya datang bulan, misalnya, usiaku 10 tahun, aku merasakan begitu sakitnya perut dan vaginaku. Darah kental terus mengalir dari alat vitalku. Bapak kebingungan. Ia mondar-mandir membeli minuman pereda sakit perempuan datang bulan di swalayan. Tapi tak berhasil. Sakit itu pun terasa sampai ke leher. Lebih dari seminggu aku hanya jungkir-balik di tempat tidur. Bapak terus mondar-mondir panik. Lebih 10 merk pereda sakit perempuan datang bulan dibelinya. Hasilnya nihil. Akhirnya, Mbok Har datang. Ia bawakan jamur beras kencur dan air rebusan daun sirih. Aku dipaksa meminumnya. Rasanya tak karuan. Memang, sakitnya agak reda. Tapi, aku masih jungkir-balik di tempat tidur.

Setelah kejadian itu, aku teringat Ummi. Aku katakan pada Bapak: ‘Aku sangat merindukan Ummi.’ Ia hanya tersenyum. Aku pun ceritakan pada Fathir: ‘Sebelum kau merasakan haid dan melahirkan, janganlah pernah menyakiti perempuan, terlebih ibumu sendiri’. Ia menangis. Bapak memeluk kami berdua. “Jangan kalian menangis. Nanti Ummi ikut menangis.” Kata Bapak. Memang, sebelum aku ceritakan waktu itu, Fathir tak pernah tahu cerita di balik kelahirannya dan kematian Ummi. “Kelahiran dan kematian adalah cerita klise dalam kehidupan.” Begitu tulis Bapak dalam salah satu ceritanya, yang aku baca secara diam-diam di surat kabar Kedaulatan Rakyat.

Semenjak tinggal di Bantul, jika tak perlu-perlu amat, kami jarang sekali pergi keluar kota. Jikalau pun pergi, pasti bapak mengikutsertakan aku dan Fathir. Bapak seolah tak ingin meninggalkan aku dan Fathir di rumah tanpa pengawasannya. Jika kutanya mengapa, Bapak tak menjawab. Ia hanya tersenyum. Kemudian ia memandang lukisan Ummi yang tanpa busana menggantung di ruang kerjanya.

Seperti saat Aku mendapatkan kesempatan berkuliah di Institut Teknologi Bandung. Bapak melarangku. Lebih baik di UGM atau ISI, katanya. Akupun patuh. Lalu aku kuliah di ISI Yogya.

Begitu juga saat Mas Samudera, suamiku, melamar 7 tahun lalu. Raut wajah Bapak berubah. Bukan karena ia tak setuju pada Mas Samudera. Jangan pergi dari rumah ini, nak. Kata Bapak saat Mas Samudera dan rombongan keluarganya pulang seusai acara lamaran. Saat kutanya mengapa, lagi-lagi Bapak hanya tersenyum. Dan akhirnya akupun meninggalkan rumah juga. Meninggalkan Bapak. Aku ikut Mas Samudera yang ditugaskan di Kalimantan setelah acara pernikahan. Bapak tersedu, tapi akhirnya melepasku juga. Bapak di rumah bersama Fathir yang telah tumbuh menjadi dewasa. Saat itu, Fathir sudah kelas 3 SMA semester akhir.

Kepergianku ke Kalimantan, membuat aku hanya berkomunikasi dengan Bapak melalui surat elektronik atau telepon seluler. Aku tahu Bapak kesepian. Karena Fathir mulai sibuk di kampus. Tapi ia tak pernah mengatakan secara terang. Ia tetap menyembunyikan kerinduannya.

Seperti malam itu: saat aku menelponnya. Kira-kira pukul 8 malam. Aku bercerita tentang keinginanku untuk pulang ke Yogya saat libur tahun baru. Dan akupun mengabari, aku tengah mengandung 4 bulan. Bapak sumringah. Tapi seketika nada bicaranya berubah. Tak usahlah, nak, kata Bapak, tunggu sampai anakmu lahir, barulah kamu pulang ke rumah. Bilang ke Samudera, jangan terlalu sering diluar rumah, lanjut Bapak.

Benar, saat Dipa dan Sjam lahir, anakku kembar, dan setelah berusia 3 bulan, aku pulang ke Yogya. Bapak senang melihat cucu pertama yang kembar. Digendongnya Dipa dan Sjam lama-lama secara bergantian. Meskipun  kerap mengompol dan berak di gendongannya, Bapak hanya tertawa dan cepat-cepat menggantikan popok. Hanya beberapa minggu di Yogya, aku harus kembali ke Kalimantan. Mas Samudera harus kembali bekerja. Raut wajah Bapak berubah. Ia nampak sudah begitu tua. Walau usianya baru saja melewat setengah abad.

Hingga beberapa bulan kemudian, aku mendapat kabar melalui surat elektronik dari Fathir: ‘Bapak sakit, sudah hampir satu minggu. Tapi menolak untuk dirawat di rumah sakit.’ Aku panik. Segera menelpon Fathir. Dan akupun memutuskan, untuk ke Yogya 5 hari kedepan. Tanpa Mas Samudera.

Sehari sebelum keberangkatan, Fathir menelpon. Bapak koma di rumah sakit, katanya. Aku kaget. Segera menuju Bandar Udara Supadio. Sial, keberangkatan ke Yogya baru ada esok hari, pukul 4 pagi. Aku menelpon Fathir. Tak ada jawaban. Aku berdoa. Semoga baik-baik saja. Entah mengapa saat itu aku teringat Ummi.

Pagi hari, aku berangkat. Sebelum dan sesudah perjalanan kuhubungi Fathir, tak ada jawaban. Pukul 7 pagi, aku sampai. Lekas menuju RSUD Panempaham Senopati. Di lorong rumah sakit aku melihat Fathir di depan ruang 007 Ahmad Yani. Ia terduduk lesu. Matanya merah. Ia menangis. Aku memeluknya. Fathir berbisik, tapi tak kedengaran. Bisiknya bercampur tangis. Tapi aku paham. Kutemui lelaki baju yang serba putih yang baru saja keluar daru ruang 007 Ahmad Yani. Lelaki itu menepuk-nepuk pundakku. Sabarlah, ini sudah kehendakNya, katanya. Aku paham. Aku menangis.

Aku masuk ke dalam ruang 007 Ahmad Yani. Tangisku tumpah. Bapak sudah terbujur kaku. Di kantong kemejanya kulihat kertas kusam. Terdapat tulisan dari bolpoin berwarna biru; ‘Bussum’. Ya, hanya ‘Bussum’ tulisan di kertas itu. Dan akupun paham: Ummi.

Bapak disemayamkan di rumah. Para tetangga hadir. Sanak-keluarga datang. Kejadian 19 tahun lalu teringat lagi.

‘Jenazah akan dimakamkan di Bussum, Belanda.’ kataku di depan  para pelayat.

***

AKU bangkit dari dudukku di gundukkan tanah merah. Harum wewangian bunga masih menusuk hidung. Mataku lembam sepenuhnya. Fathir masih menunduk. Tiupan angin Samudera Atlantik begitu kencang. Pasminaku jatuh sepenuhnya di bahu. Kincir angin masih nampak begitu kencang berputar. Seolah menyejukkan perjalanan Bapak menemani Ummi di Bussum.(*)

Jatikramat, Agustus 2014

*Cerpenis dan Mahasiswa Sejarah, @cheprakoso

Continue Reading

Cerpen

Rahwana Di Tepi Kolam Pemancingan Ikan

mm

Published

on

Memancing adalah usahaku menyelamatkan diri dari kematian. Bagaimana bisa? Iya, setiap ikan yang kudapat dari kolam pemancing mampu menyelamatkanku dari kematian itu. Kematian macam apa? Mengusahakan hidup bahagia bukankah kalimat lain dari menghindari kematian. Dan buatku itu mulia. Sedangkan hidup yang penuh duka nestapa, kesedihan, kesusahan, kemurungan, kegalauan dan lain sejenisnya serupa dengan kematian. Kematian semasa hidup. Tak ada yang lebih buruk dari itu. Siapa tahu, apa yang sudah menggerakkan pikiranku hingga setubuhku, sepagi itu, mematung hidmat di tepi kolam pemancingan ikan. Yang kulakukan bukan laku orang suci yang menyepi di dalam gua Tsur atau naik ke Sinai atau Olympus.

Seperti aku yang beribu, kota ini semestinya memiliki asal-usul yang bisa ditelusuri secara genetika sejarah. Itu akan berguna seperti markah jalan yang akan menolong para sopir. Sopir itu adalah anak-anak zaman dalam perjalanannya menuju kehidupan agung, bukan kematian. Manusia, dalam ekspedisi hidupnya, mengikatkan diri pada dua mitologi, ibu dan rumah. Sehingga, Abdul Wachid BS pun tak kuasa menolak, maka jadikannya sekumpulan puisinya, Rumah Cahaya. Bahkan, sebuah negara menyebut pusat administrasi pemerintahannya dengan nama ibu kota. Jakarta adalah tempat yang kupilih untuk tinggal, meninggalkan ibu di kampung kelahiranku. Sebagai penghormatan, aku menyematkan nama kampung itu di belakang namaku dalam kartu nama.

Kota bagi ibuku tak ubahnya sawah yang ditumbuhi gedung pencakar langit sebagai gulma. Sedangkan gulma adalah sianggit yang akan merebut dengan serakah hara yang menjadi cikal bakal bulir-bulir padi yang hanya mahal ongkos produksinya.

Pernah suatu ketika, aku terbangun dengan mata yang tak awas karena sisa-sisa kantuk mengira terjadi gempa. Sepasang sandal murahan, kipas angin yang sudah rusak, dan keyboard mengapung di atas air setinggi dengkul. Beruntung, laptop dan flashdisk sempat kutaruh di meja sebelum tidur. Kalau dua benda itu ikut terendam, itu akan menjadi subuh terkutuk kedua terbesar dalam sejarah dosa manusia seperti yang menyebabkan Ratna Anjani dan dua saudaranya mewujud segawan, kera.

Tapi, benarlah kata ibu, segala yang di dunia adalah nisbi. Terbatas ruang dan waktu. Dari derita Anjanilah kemudian lahir Anoman yang agung. Kota ini begitu arogan dan culas, hujan pun dituduh sebagai penyebab banjir yang mengapungkan sampah tak berharga dalam kamarku itu. “Menanam padi, pasti akan tumbuh gulma, tapi tak kebalikannya,” kata ibuku suatu hari.

Apa sudah menjadi tabiatnya, manusia takut perubahan, apalagi yang mendadak. Yang membuat kaget. Jantungan. Yang darah tinggi bisa stroke, kalau tak modar sekalian. Bukankah manusia dibekali kemampuan menalar, menganalisis, bersistesis, mengevalusi hingga berimajinasi untuk mengada dari yang ada sesuai kebutuhan dan seleranya. Orang di kota ini, ibarat menanam benih padi kualitas terbaik di atas tanah subur, tapi tak dirawat. Ia akan  menjadi rumpun liar. Angker. Anak-anak takkan menjadikannya tempat bermain, orang dewasa tanpa kesaktian yang mumpuni akan mati sia-sia tak mampu menaklukan ketakutan dan kesunyian di dalamnya.

Kota ini kapankah lepas dari kutukan. Penduduknya diharamkan dari sinar matahari. Tubuh mereka terhimpit bangunanan yang semakin hari makin tinggi besar seperti Rahwana yang lahir dari ayah ibu yang terhasut nafsu. Bahkan, ayam jago tak tahu kapan waktu berkokok, makan, dan kawin. Anak-anak tak bisa membedakan fajar atau senja, timur atau barat, siang atau malam, bagaimana mereka ingat pulang ke rumah dan ibu?  Wajah mereka letih dan tua, bosan dengan permainan hingga berubah friksi.

Sementara itu, kota ini makin sempit karena penduduk harus berbagi tempat dengan koloni tikus, kecoa, dan lalat. Mereka bukan hewan biasa—kalau manusia tak mau disamakan—dari leher hingga kaki mereka adalah manusia, hanya kepala saja yang menyerupai hewan-hewan yang akrab dengan sampah itu. Ah, penduduk kota yang manusia seutuhnya makin punah, dalam satu malam mereka telah berrevolusi menjadi manusia berkepala hewan hanya dengan hasutan dan fitnah. Mereka yang sadar dan tak sanggup menerima perubahan itu memutuskan mengakhiri hidup alih-alih hidup tersiksa tak kuat menahan malu. Ah, kata mereka yang bertahan, malu takkan buat orang kenyang dan hidup.

Hari ini, di kota yang tak penah ibu injak tanahnya, semua kata-kata ibu menjadi nyata. Aku membayangkan, kota ini akan bebas dari kutukan kesialannya bila tanahnya sekali saja ibuku menginjakkan telapak kakinya yang penuh tuah. Seakan kebenaran itu datang kepadaku hanya untuk menggatikan jasadnyanya. Ia datang ketika ibu telah memantapkan dirinya untuk tinggal seorang diri di rumah sunyi tanpa pintu dan jendela. Tapi, aku sendiri menjadi geli ketika tersadar aku sendiri—sebagai penghuni kota—tak pernah menginjak tanahnya dalam arti yang sesungguhnya, kecuali latai keramik atau marmer dan jalan beton atau aspal.

Tanggal merah di hari Jumat—kemewahan yang langka untuk para buruh urban sepertiku—menjadi tanpa makna. Umumnya, orang sepertiku akan pulang kampung, atau menepi ke puncak Bogor menyewa vila untuk satu atau dua malam. Di antara keduanya tak satupun kupilih. Ibarat orang luka parah, hanya diberi obat penahan rasa sakit, bukan disembuhkan lukanya.

Aku tak punya lagi alasan untuk pulang kampung. Berkereta empat atau lima jam hanya untuk menziarahi kuburan rasanya hanya akan menambah deritaku. Aku bahkan tak tahu di sebalah mana ibuku dikuburkan. Apa yang mesti kukatakan pada orang-prang kampung. Mereka akan bertanya, kenapa tak pulang di hari kematian ibumu? Apa tempat kerjamu di tengah samudera sehingga tak dapat dihubungi? Untuk apa pandai dan bersekolah di luar negeri kalau sekarang hanya jadi buruh? Bukankah bos di perusahaanmu yang tak selesai kuliah karena dropout?

Ibu tidak menyukai hobiku yang satu ini meski tak pernah mengatakan dan melarangku. Satu-satunya hal yang tidak pernah ia mau lakukan untukku adalah memasak ikan pancinganku. Karenanya, aku terbiasa mengolah ikan sendiri. Ikan-ikan itu tak pernah kumakan, melainkan kuberikan pada tetangga kanan-kiri rumah. Kepada ibu, mereka kerap memberi pujian atas kemampuanku mengolah ikan. Karena itu pula, ibu sering mendapat kiriman balasan dari para tetangga dalam bentuk masakan yang lain.

Joran yang kuletakkan di lantai tepi kolam yang disemen kasar itu bergerak. Umpannya disambar ikan. Kaki kananku sigap menginjak pangkal joran. Tangan kananku angkat ujung jorannya. Berat. Joran itu membentuk parabol yang indah seperti lengkungan pelangi. Aku merasa joran itu akan patah. Aku melepaskan kuncian tali, memberi jarak yang cukup untuk ikan melakukan perlawanan.

Perlawanan ikan segera berganti pada kejadian empat puluh hari setelah kematian ibu. Satu jam tertidur di dalam mobil, getar ponsel di saku kemeja yang tak lagi rapi membangunkanku. Sejam kemudian, kami baru sampai di rumah setelah kujamu mereka makan malam di restoran mewah. Tak ada pembicaraan serius selama perjamuan, hanya perkenalan seorang gadis yang turut bersama paman.

Selepas subuh, gadis itu sudah berada di dapur yang aku sendiri tak pernah memakainya. Memasak air untuk membuat kopi, kebiasaan yang entah kapan terakhir kali lakukan.

Setelah membicarakan masalah rumah dan sawah peninggalan ibu dan ayah yang harus kuurus agar tak terbengkalai, dia mengingatkanku tentang perjodohanku dengan anak perempuan saudari sepupu ibuku, anak tetangga yang dulu sering kukirim ikan pancingan.

Astaga, ibu pun membaca bahasa cinta masa kecilku yang aku sendiri hampir lupa. Aku berkecil hati karena pernah menyembunyikan sesuatu di balik punggungku dari ibu, dan itu gagal. Meski bukan sesuatu yang perlu ditutupi karena bukan dosa seperti yang pernah melahirkan Rahwana.

Tapi, itu baru hidangan pembuka di restoran, hidangan intinya adalah akulah Rahwana itu sendiri. Gadis yang dijodohkan dengaku oleh ibu adalah Sinta yang hatinya telah dikuasai Rama. Sinta datang kepadaku untuk meminta pembebasan atas ikatan perjodohan yang disepakati antara ibuku dan kedua orang tuanya.

“Bagaimana?”

Aku tak merasa perlu segera menjawab. Kuminum kopi buatan Sinta. Dua tamuku terlihat tegang menunggu jawabanku. Tanpa sadar, aku menghabiskan satu cangkir kopi itu dalam satu teguk saja.

“Aku setuju melepas perjodohan itu.”

Sejam berlalu, ikan menghentikan perlawanannya kemudian bersikap tenang meski mata kail sudah menancap di antara bibir dan matanya. Aku menunda ikan yang hampir pasti kudapat untuk menjawab telfon. Baru kuambil ponsel itu dari dalam tas, berhenti. Kubaca notifikasi, sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor yang sama, Sinta. Kubuka pesan WA, foto undangan pernikahan dengan desain sampul gunungan wayang. Tercetak tulisan emas dua nama Sinta dengan Rama, pamanku.

Joran yang sejak tadi kuinjak pangkalnya itu kuangkat. Berasa ringan. Ikan lepas bersama kailnya. Aku membuka tas kecil di pinggang, mengmbil dan memasang kail yang baru. (*)

Bunga Pustaka, 2017

*) Mufti Wibowo. Penulis, tinggal di Jalan Perintis Kemerdekaan 06 Purwokerto. Email: bowoart60@yahoo.co.id

Continue Reading

Cerpen

Jika Neraka Itu Ada…

mm

Published

on

Ole: Ferry Fansuri

Terkadang saat kuberdiri diantara senja itu kubisa merasakan hawa dingin yang pekat, bisa kusentuh aliran udara disekitarku. Terasa waktu berhenti seketika, entah ini sebuah ilusi tapi yang kurasakan nyata. Gejala itu selalu terjadi ketika mata ini menemukan burung-burung gereja berkeliaran di sekeliling diriku. Cuma aku tak habis berpikir kenapa burung-burung gereja ini ada disini, apalagi kampung ini tidak ada tradisi atau jejak burung-burung gereja itu.

Mereka begitu jinak berjalan dihamparan sawah kampung kami, melompat-lompat sesekali terbang rendah di dahan-dahan, ranting pada pohon-pohon rindang disana. Munculnya burung-burung gereja ini semenjak pertikaian itu terjadi di kampung kami. Dulu kampung ini yang dibelah sungai yang mengalir di tengah-tengah memberikan penghidupan bagi penduduk disini. Tanah disini bagai melempar sebuah biji akan menghasilkan buah-buahan, tumbuh subur dan tak pernah habis.

Disini dulunya terdapat dua kampung yang saling berdekatan biarpun secara harfiah berbeda. Kampung Maidiling ada diutara sungai ini, disana tengah bangunan kokoh bertahtakan tembok dan diatas tanda salib. Gereja bergaya renaisance menjulang dan dipuja masyarakat Maidiling. Sedangkan bagian selatan dari sungai besar tersebut Kampung Sidempuan setiap senja atau saat ayam belum berkokok, alunan ayat-ayat suci begitu merdu ditelinga. Dua kampung saling berdekatan dan bersahabatan, berabad-abad tak pernah sekalipun bermusuhan atau menumpahkan darah untuk hal yang konyol sekalipun.

Tapi tepat dua ratus abad setelah bulan Oktober yang lalu, masa kelam merudung kedua desa tersebut. Diawali gemuruh awah hitam bukan menandakan hujan, muncul sosok asing yang meracuni kedua desa tersebut. Dia datang entah darimana atau dari dunia antah berantah, mulutnya begitu berbisa dan siapa saja yang mendengarkannya seperti dihipnotis untuk membenarkan semua perkataannya. Berkoar tentang kemurnian ajaran, siapa sesat atau bukan, pilihan neraka atau surga dan hal-hal yang tak bisa dipikirkan oleh akal pikiran.

“Tak maukah engkau janji Surga bagimu jika masih membenarkan Neraka untukmu”

Doktrin-doktrin itu membangkitkan napsu purba dalam penduduk kampung tersebut. Orang asing menuduh bahwa toleransi adalah bahaya laten yang harus diberantas sampai akar-akarnya. Semua perbedaan akan menimbulkan pertikaian di masa depan jika tidak ditekan sejak dini.

“Sesuatu yang murni itu merupakan hal mutlak dan tidak bisa diganggu gugat”

Entah kenapa dari sanalah kemudian muncul wajah-wajah beringas kesetanan yang terus merangsek ke ubun-ubun. Hawa iblis keluar dari cangkang manusianya, saling olok, ejek kemudian adu fisik tak terhindarkan. Aku dulu merasa hawa yang begitu panas melingkupi kampungku ini, Sidempuan dulu berhawa sejuk karena konon kadar oksigen disini tinggi hingga harapan hidup penduduknya tinggi diatas rata-rata. Tak heran disini tak pernah jatuh sakit biarpun sudah berumur lebih 100 tahun.

Tapi saat ini berbeda, pertumpahan darah terus terjadi. Gesekan kecil atas nama agama pun berujung bertikai tak habis-habisan. Aku sendiri tak habis pikir mengapa mereka menumpahkan darah hanya janji-janji surga dan neraka sesuai ajaran yang mereka pegang. Apakah nalar dan logika mereka tak dipakai untuk mencerna semua ini?.

Tiap kali ada hinaan dari kampung sebelah, kumpulan pemuda kampung ini terbakar emosi dan menyulut emosi. Tangan-tangan mereka berkumpul benda-benda tumpul yang dikit demi dikit diasah menjadi tajam. Tapi aku tak bergeming sedikitpun atas ajakan mereka, caci maki dilontarkan dari mulut-mulut mereka yang berbusa dan berbau arak.

“Pengecut !!”

“Penista !!”

“Murtad!!”

Ocehan dan rancuan mereka tan aku gubris sama sekali, lebih baik aku moksa daripada harus menebas orang-orang yang tak sejalan dengan kita. Manusia diciptakan dengan derajat yang sama yang membedakan amalan dan napsunya.

Mereka selalu pulang dengan bersimbah darah apakah itu sebuah kemenangan atau kekalahan, itu sama saja. Andai aku bisa menghentikan semua tanpa kaki ini tetap terjejak masuk kedalam tanah.

Sebenarnya aku membenci mereka yang melakukan ini. Demi apa? demi rancuan-rancuan tak becus menerangkan apa itu Surga atau Neraka.

Aku membenci mereka yang culas menjual agama demi sebuah kemurnian yang omong kosong belaka.

Aku menghujat mereka yang begitu gampang menumpahkan darah saudara-saudara yang tak sejalan atau tidak seiman. Mereka menganggap apa yang dilakukan adalah perang suci yang direstui penguasa langit.

Kuingin melenyapkan mereka !

Memberanggus !

Menggibas !

Menghembuskan topan !

Memporak porandakan !

Tapi aku hanya manusia lemah hati dan pikiran, ada secuil ketakutan yang berkutat dalam rongga dadaku. Menyerah akan keadaanku yang ganjil dan mereka pun mengucilkan dan memasung diriku di tanah antah berantah. Hingga mereka bisa bebas melakukan pekerjaan nistanya itu tanpa diriku.

Hura-hara itu sudah sampai ke titik pedih, kulihat langit mendung berbalut merah jingga hampir semerah darah. Teriakan-teriakan menyayat dari wanita serta bocah kecil membahana beriringan kegelapan menelusup.

Kejadian itu terus bergulir dari hari ke hari, minggu ke mingu sampai berbulan-bulan. Entah aku tak tahu sampai kapan ini akan berakhir, dulu disini gemah lo jinawi berganti gersang sengsara. Tanah disini kering membentuk petak-petak pecah, tak ada juluran padi atau korekan katak, semua hilang kusam.

***

            Kehampaan dan keheningan ini selalu kurasakan saat memasuki kampung ini, udara sekitarnya sekali lagi terhenti. Kaki ini mencoba melangkah dan sejurus mata ini melihat rumah-rumah itu tampak kosong melompong tanpa penghuni. Kemana orang-orang beringas itu, apakah masih trengginas untuk menyerang kampung sebelahnya? Atau semua tewas ditebas parang terbang kiriman dukun sakti milik kampung seberang.

Tidak ada jejak kaki atau saksi mata yang nyata untuk ditanyakan, makhluk hidup tak diijinkan menghirup napas di bumi Sidempuan ini. Sungai disana tampak keruh hitam pekat bak tinta yang akan dikuaskan pada lukisan kesedihan. Langit diatas tidak sejingga dulu, sekarang merah sedarah. Tiba-tiba gemuruh beriringan  kilat berkejaran dengan guntur, awan hitam itu menyemburkan airmata yang tersampaikan hujan. Titik-titik air itu mengenai mata dan mukaku, bau amis dan sangir terasa di hidungku.

Ini darah!!

Guyuran hujan itu berubah menjadi darah mengenangi tanah, kaki telanjangku merasakan gemericik air darah itu. Tapi yang kurasakan beda, rinai hujan perlahan menetes seperti waktu terhenti seketika. Ujung jariku bisa menyentuh bulir-bulir itu, aku bisa menyibak dan menepisnya. Gejala apakah ini?

Bersamaan itu muncul burung-burung gereja berkeliaran di sekitarku. Kasat mata aku melihat ratusan bahkan ribuan burung gereja itu terbang berseliweran tak tentu arah. Berputar-putar diatas kepalaku, kemudian hinggap diatas kubah berujung bintang rembulan itu.

Sunyi dan senyap.

Terkadang ada sebuah pertanyaan yang dalam tempurung otak ini bergeliat saat melihat burung-burung gereja yang nangkring di kubah bulan bintang ini. Agama apakah yang tepat buat mereka? Mereka dikenal burung gereja yang bisa hinggap kemana mereka mau tanpa kuatir. Jika mereka punya agama, tak mungkin rela menjejakkan kakinya diatas kubah itu.

Suara-suara koak-koak itu muncul dari burung-burung gereja itu, menciptakan senandung kematian yang memekakkan telinga ini. Mata bulat hitam itu menatap tajam ke arahku, mereka seperti menginginkan diriku. Sekali kepak berterbangan jingkat diatas ubun-ubun, berputar-putar. Sekali kibas, burung-burung gereja itu menerjang. Mata ini melihat itu dengan terbelalak tak percaya, mereka mengincar mata ini. Paruh burung-burung itu menusuk kedua mata ini, masuk kedalam menyelinap dan melesat hilang dalam pupil bola mata ini. Mereka terus masuk tanpa henti, aku hanya berteriak kesakitan.

“Hentikan !!”

Teriakanku tak membuat mereka berhenti memasuki mataku, tidak hanya satu tapi ribuan terus dan terus. Akhirnya terhenti saat burung gereja terakhir lenyap kedalam kedua mataku. Aku merasakan perih yang amat sangat, disela-sela kelopak mataku meleleh darah hitam pekat. Aku hanya bisa memegangi dan menutupi salah satu mataku, raunganku menggelegar.

Aku pun tertunduk.

Saat kubuka mata ini, kulihat sekitarku bergelimpang mayat-mayat bersimbah darah dan tangan kananku lunglai begitu saja meloloskan sebilah parang belepotan darah segar yang tercecer beku.  (*)

Surabaya, November 2017

Continue Reading

Cerpen

Layar Sebelah

mm

Published

on

Galeh Pramudianto *)

Untuk pertama kalinya Pentol bertemu dan berbincang lama dengan seorang produser film. Hal yang awalnya sering ia bayangkan, namun tidak secepat ini terjadi. Tiga hari yang lalu sebelum ia dimaki-maki dan dinasihati Bang Nide, Pentol mendapat telepon dari salah satu rumah produksi film.

“Ini dengan Mas Pentol? Bisa ke kantor Layar Sebelah sekarang? Kami sedang butuh penulis skenario horror.”

Tanpa pikir panjang Pentol langsung menuju kantor Layar Sebelah. Ini awal yang bagus untuk masuk ke industri film di Indonesia, Pentol meyakini. Maka bergegaslah ia ke kantor Layar Sebelah. Pentol duduk di ruang tunggu, ketika satpam sedang memanggil salah seorang kru. Ia perhatikan benar-benar kantornya. Dinding dengan balutan warna kuning gading, dibubuhi banyak kata-kata motivasi dan penyemangat hidup. Ia mendelik. Merasa belum mendapatkan atmosfer rumah produksi yang bergerak di bidang sinematografi, ia melihat ke sudut dinding lainnya.

Terpampang poster-poster film berjudulkan ajaib: Hantu Terbang Tanpa Hati, Setan Asem Manis, Jenglot Jengkol, Kuntilanak Kekanak-kanakan dan lain sebagainya. Pentol menelan ludah. Awalnya ia ingin mengabadikan gambar-gambar tersebut lewat telepon genggamnya, namun urung ia lakukan karena sudah keburu dipanggil oleh salah satu kru Layar Sebelah. Masuklah ia ke dalam suatu ruangan.

“Dengan Mas Pentol?” tanya salah seorang kru perempuan dengan tatapan sedikit heran.

“Iya Mbak, betul.”

“Mas selama ini sudah pernah nulis apa aja?”

Langsung dihujam dengan pertanyaan oportunis, Pentol langsung menjawab diplomatis.

“Sejauh ini satu film televisi (FTV) dan serial horor, Mbak. Tergantung kebutuhan dari

pihak Layar Sebelah, saya siap untuk menulis genre apapun.”

“FTV dan horor? Judulnya apa? Pol skenario atau hanya sinopsis?”

“Ehm, satu skenario dan satu sinopsis mbak.”

Pentol seperti tidak siap menerima jawaban. Ia sedikit terbata menjawab. Mbak-mbak yang belum memperkenalkan nama tersebut, memandang wajah Pentol dengan terukur. Dari kening sampai dagu. Seolah kualitas penulis skenario dapat dilihat dari tampangnya.

“Oke, jadi begini. Saya dapat kontakmu dari Mas Jae. Kenal kan?” Pentol kembali

kebingungan.

“Saya kenalnya bang Nide mbak.”

“Oalah Nide. Iya, Jae dapet kontakmu dari Nide. Jadi gini mas, kenalin saya Okta. Layar

Sebelah lagi ada proyek untuk film layar lebar. Mas sudah sering bikin horor?”

“Sering sih nggak mbak Okta, tapi saya orangnya mau belajar dan terus terpacu

menghasilkan karya-karya terbaik unuk belantika film Indonesia.” Dengan sok gagah

Pentol menjawab.

“Oke, film horor terakhir apa yang kamu tonton? Terus kenapa kamu suka itu?”

“Lokal atau luar?”

“Terserah.”

“Saya suka film Rekah. Manifestasi horor yang begitu kuat lewat atmosfer dan

pembangunan karakter. Premis kuat dengan mengambil mitos kebudayan di Indonesia. Dicampur dengan realisme magis ala prosa latin, membuat Rekah begitu manis dalam mise en scène—”

“Oke, oke cukup. Kalau sutradara favorit?” Mbak Okta memotong.

“Tapi yang luar negeri belum Mbak?”

“Udah, udah. Nggak masalah.”

“Kalau untuk dalam negeri saya suka sama mas Girang Negeri. Karya-karyanya begitu

berisi dengan konten yang artistik dan kedalaman cerita. Ia sering kali mengangkat nuansa lokal diimbangi dengan kebudayaan populer. Mas Girang bisa mengimbangi antara estetika dan komersil. Antara film sebagai seni dan sebagai bisnis, lalu—”

“Oh oke, cukup. Cukup.”

Mbak Okta kembali memotong penjelasan Pentol. Kemudian ia menelpon atasannya. Produser yang dimaksud.

“Ayo ikut saya ke atas. Kita ketemu Pak Kapur.”

**

“Sebelum kita masuk ke konsep cerita, deal di awal dulu deh ya mas. Nanti udah sepakat, malah harganya yang nggak cocok lagi.” Ujarnya terkekeh.

Pentol kembali belum siap langsung ditembak harga. Ia berpura-pura memasang wajah sok tahu dan berpengalaman. Ia yakin bahwa harga ini langsung cocok dan kesempatan dia untuk menulis skenario layar lebar dapat terwujud.

“Empat, Pak Kapur.”

“Wah gila kamu. 40? Memang kau sebelumnya sudah pernah nulis layar lebar?”

“Empat juta Pak.”

Raut muka Pak Kapur langsung berubah. Pria keturunan India ini nampak menyunggingkan senyum. Kemenangan seperti berada di kubu Layar Sebelah. Pentol nampak merasa menyesal. Ia begitu lugu dan tidak mengetahui industri film seperti apa dan berapa upah yang layak untuk dibayarkan.

“Oke kalau begitu Pak. Jadi saya ada proyek film layar lebar. Bapak belum pernah nulis untuk layar lebar kan? ini kesempatan bapak untuk masuk ke industri. Kalau film ini meledak, yang untung jelas bapak. Bapak akan dicari ke mana-mana dan dapat banyak tawaran,” Pak Kapur tersenyum.

“Nah sekarang kita lihat cuplikan film ini dulu. Setelah itu saya jelaskan.”

Pak Kapur pun menjelaskan dengan rinci. Ia mengatakan akan membuat film horor berjudul Vila Berhantu. Pentol awalnya ragu, karena Pak Kapur menyomot alur di film yang telah ditonton sebelumnya untuk kepentingan film yang ia inisiasi. Tapi Pentol berpikir lebih jauh. Ia menganggap ini sebagai batu loncatan untuk karir menulisnya. Selama ini, sebagai mahasiswa prestasi menulisnya hanya sampai tingkat universitas. Label medioker erat dengannya. Maka ia terima lah film hantu yang aji mumpung itu.

“Bagaimana Pak? Sepakat? Saya tunggu 3 hari dari sekarang sudah jadi draf 1 ya?”

“Nggak kerangka dulu pak? Outline?”

“Wah saya maunya langsung skenario. Orang yang kerja sama dengan saya semua

langsung skenario. Saya nggak mau capek-capek dan buang-buang waktu banyak baca. Ya, you tau sendiri kan, I sibuknya kaya apa? pendanaan, pemasaran, pengawasan dan lain-lain. Yah, you tau lah kayak beginian.”

Keduanya pun bersalaman dan sepakat. Pentol keluar Layar Sebelah dengan perasaan berkecamuk. Senang karena mendapat kesempatan nulis film layar lebar, dan bingung karena masih belum tau birokrasi dan ritme kerja dari industri ini.

**

Saat mengendarai motor untuk sampai rumah, Pentol tersenyum-senyum sendiri. Ia kilas balik dengan pengalamannya saat ikut unit kegiatan mahasiswa (UKM) di bidang sinematografi. Dari mulai pertama kali ia menjadi boom man ketika produksi bersama seniornya di UKM, sampai menulis dan menyutradarai film pendek pertamanya sendiri. Meski prestasi terbaiknya di bidang audio visual hanya sampai tingkat nominasi di sebuah kompetisi film pendek, namun ia yakin dengan semua pelajaran itu.

Vila Berhantu sekali lagi baginya bisa menjadi batu loncatan untuk melangkah lebih jauh. Ia kesampingkan egonya ketika berhadapan dengan film festival art-house yang semua orang awam tidak mengerti. Ia singkirkan pandangan bahwa long shot dengan objek yang statis adalah manifestasi semiotik gambar yang luhur. Ia sekarang fokus pada permukaan saja: jam weker menandakan pagi hari, kokok ayam, matahari terbit, adegan berlari dengan latar musik kencang, dialog-dialog klise dan lain sebagainya. Pentol mulai mendalami itu semua. Hal yang sebenarnya ia jauhi saat bergiat di UKM-nya terdahulu.

Tiga hari telah berlalu. Beberapa kali ponsel Pentol berdering. Pak Kapur menagih janji yang sudah disepakati: Draf 1 Villa Berhantu. Namun, Pentol panik. Naskahnya belum selesai. Tinggal beberapa adegan untuk mencapai garis finis. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan Pentol, karena ketika mendapat mandat ia langsung mengejar hal yang tidak ia ketahui secara mendalam. Ia riset tentang berbagai formula film horor. Jump scare yang tidak kacangan. Membangun atmosfer ketakutan dengan logika. Semua ia bangun dengan presisi. Ia tidak mau namanya buruk di kalangan kritikus ketika lagi-lagi film horor yang keluar berbau seks dan cacat logika. Namun, hal tersebut malah menyita waktunya. Ia riset selama seharian penuh, dan dua hari ia kebut untuk adegan serta dialog.

“Pentol! Kau jangan malu-maluin saya! Sudah benar namamu saya rekomendasikan.

Kredibilitas saya yang hancur, bukannya kau!”

Pentol pun menjelaskan dengan panjang lebar ke bang Nide lewat telepon. Bang Nide adalah guru teater dan filmnya ketika masa SMA. Ia mengatakan tidak bisa mengatur ritme kerja ketika ditawarkan nulis layar lebar namun hanya dengan 3 hari harus sudah selesai. Mendengar 3 hari tenggatnya, bang Nide pelan-pelan mulai memahami masalahnya.

“Ya, harusnya kau kabarkan ke Pak Kapur dong kalau belum selesai. Jangan hilang

ditelan bumi begini. Kan yang kena semprot saya juga.”

“Iya bang. Saya takut kalau bilang belum selesai nanti saya dicoret dari proyek ini. Masalahnya saya belum tekan kontrak.”

“Memangnya kau pasang tarifmu berapa—3 hari bisa selesai?”

“4 juta bang.”

“Tolol kau Tol! Masak bikin layar lebar dihargain 4 juta. Merendahkan penulis skenario

itu namanya. Merendahkan saya juga. Layar lebar tuh minimal 10 juta.”

Pentol makin tersudut ketika mengetahui fakta langsung dari praktisi. Ia arahkan kursor untuk menyimpan hasil ketikannya selama 3 hari belakangan. 3 hari yang membuatnya tak beranjak dari manapun kecuali kamar mandi dan dapur.

“Oke begini deh. Sebenernya keterlaluan juga 3 hari jadi draf 1. Tidak ada itu di industri.

Minimal skenario layar lebar itu 2 bulan. Revisi sana-sini. Itu pun kalau kita ngomongin kualitas. Nah sekarang coba kita kerjain bareng-bareng. Kau besok ke rumahku, deh ya.”

**

Untuk pertama kalinya Pentol bertemu dan berbincang lama dengan seorang produser film. Hal yang awalnya sering ia bayangkan, namun tidak secepat ini. Tidak secepat ini menerima kenyataan pahit bahwa skenario yang ditulisnya dengan susah payah belum ada kabar sampai setengah tahun lebih. Setelah bang Nide dan Pentol sepakat untuk menawarkan harga 20 juta kepada Pak Kapur, maka dari itu pula Pentol belum mendapat kabar lanjutan dari bang Nide dan Pak Kapur.

Ia menyadari bahwa batas antara reel life dan real life itu memang begitu tipis. Setipis harapannya saat ini yang terbentur dengan realita. Dari kejadian tersebut Pentoel jadi teringat salah satu cerpen yang ia pernah baca saat awal kuliah. Cerpen tersebut berjudul What is Really Good Picture for Me karya Misbach Yusa Biran. Sambil telentang di atas kasur, Pentol membaca kalimat akhir cerpen tersebut, begini bunyinya: Mereka menuntut betul adanya film Indonesia yang bermutu, masa tidak mau sedikit mempertaruhkan uangnya demi kemajuan seni film Indonesia? Siapa tahu!

*) Galeh Pramudianto, bekerja sebagai tenaga pendidik dan mengelola media Penakota.id bersama handai tolannya. Naskah teaternya Poligon masuk nominasi Rawayan Awards 2017 (DKJ) Karya-karyanya telah dimuat di media lokal dan nasional. Beberapa cerpennya termaktub di antologi bersama Kelas Melamun (2017). Buku puisi perdananya Skenario Menyusun Antena (IBC, 2015).

Continue Reading

Classic Prose

Trending