Connect with us

Tabloids

Budi Darma: Menata Bangsa dengan Menulis

mm

Published

on

“Tanpa tulisan, kebudayaan tidak akan maju. Kita bisa belajar karena ada tulisan. Oleh karena itu, menulislah. Supaya mampu menemukan inti persoalan, menata bangsa dan karenanya tak membuat kita menjadi (bangsa) pelupa.”—Budi Darma

Semangat dan keyakinan menulis itulah yang disebarkan oleh Sastrawan Budi Darma (76), novelis yang juga Guru Besar Universitas Negeri Surabaya. Ia mengajak orang-orang di sekitarnya untuk menulis dan dengan menulis turut menata bangsa.

Berikut adalah wawancara yang diolah dari berbagai sumber oleh editor Galeri Buku Jakarta dengan penulis “Olenka” dan “Orang-Orang Bloomington” yang melegenda itu:

Apa makna tulisan dan menulis buat Anda?

Tulisan (dokumen) adalah sumber pembelajaran generasi berikutnya. Tanpa tulisan, kebudayaan tidak akan maju. Kita bisa belajar karena ada tulisan. Oleh karena itu, menulislah.

Anda pernah dipercaya memberikan pengajaran meulis pada penulis berbakat dari Indonesia, Malaysia, dan Brunei dalam program penulisan Majelis Sastra Asia Tenggara, apa yang Anda pikirkan tentang pengajaran mengarang?

Mendorong orang menulis bukan dengan menggurui atau memerintah. Sebab, orang justru akan enggan kalau disuruh atau diperintah. Intinya disemangati menulis, tetapi pelan-pelan saja.

Menulis bukan sekadar menorehkan huruf dan kata. Menulis membiasakan seseorang dengan literasi khususnya membaca. Literasi tentang apa pun juga, baik tentang lingkungan, alam, manusia, atau hal lain. Literasi akan mengajarkan kita membuat rencana dengan baik. Sebab dengan menulis, itu mendorong kita merencanakan segala sesuatu. Bagaimana tulisan dibuat dengan ekonomisasi kata, bagaimana tulisan disusun dalam ruang yang ada, dan bagaimana tulisan itu akan diarahkan.

Lalu bagaimana kaitannya menulis dengan membaca?

Menulis akan mengajarkan kita membaca atau melihat masalah. Menemukan inti persoalan, membuat abstraksinya, lalu mencari solusi. Menulis beda dengan mendongeng. Yang dilakukan bangsa ini kebanyakan adalah mendongeng. Semua bicara dan bercerita, terkungkung dengan kemegahan masa lalu. Saling tumpang tindih, sahut-menyahut, hingga nyaris tidak bisa menemukan akar persoalan sesungguhnya.

Apa akibatnya?

Akibatnya, kita tidak bisa mengidentifikasi persoalan sebenarnya. Kita dengan mudah melupakan hal-hal lalu. Ujung-ujungnya kita jadi bangsa pelupa. Lupa akan kesalahan, kejahatan, dan penipuan yang merugikan bangsa. Lupa akan korupsi, kolusi, nepotisme, serta kekerasan yang terjadi berulang-ulang. Lama-lama kesalahan itu terlembaga dan sistematis. Celakanya, kekeliruan itu kemudian dimaklumi dan dianggap wajar.

Dengan menulis, kita mampu mengidentifikasi dan mengabstraksi masalah. Ini membuat kita bisa melacak kembali informasi pada masa lalu. Tidak melupakan yang telah berlalu. Menulis adalah juga kerja menolak lupa dengan hal-hal pada masa lalu.

Apa yang seharusnya kita tulis?

Semua hal di sekitar kita bisa jadi bahan tulisan. Saat masih kecil, saya bisa menulis situasi tentang malam hari. Saya menuliskannya saat diajak Ayah bertandang ke rumah temannya, yang memiliki mesin tik. Tahukah Anda bahwa karya itu mendapat penghargaan majalah Budaya di Yogyakarta.

Zaman berubah, segala hal jadi mudah, sarana dan alat, bagaimana menurut Anda?

Dahulu, masa penjajahan, sangat sulit mendapatkan sarana menulis. Harusnya, saat ini yang semua serba ada, bisa dijadikan jalan untuk menulis lebih matang dan produktif.

Terakhir, apa hal penting yang ingin Anda sampaikan khususnya pada generasi (penulis) muda zaman ini?

Seperti sudah saya katakana, menulis sepertinya sepele, tetapi bisa menggambarkan hal besar. Dengan menulis, kita belajar menata hidup dan kehidupan. Menata bangsa dari yang terbiasa ”mendongeng”, menjadi bangsa yang terbiasa menemukan inti persoalan, lalu menyelesaikannya. Jadi menulislah dan bantu bangsa ini menemukan inti persoalannya. Dengan begitu kita mungkin jadi bangsa maju. (SC)

Continue Reading
Advertisement

Inspirasi

Buku Harian Steinbeck dan Proses Kreatifnya

mm

Published

on

John Steinbeck in 1950 / Getty Image via Wikipedia

“Setiap buku tampaknya merupakan perjuangan seumur hidup. Dan kemudian, ketika sudah selesai – pouf! Sudah! Tidak pernah terjadi. Jadi hal terbaik adalah menurunkan kata-kata setiap hari. Dan sekarang saatnya untuk memulai kembali. Dan beberapa hari kemudian, ia kembali ragu-ragu: “Banyak kelemahan saya mulai menunjukkan kepada mereka. Saya harus mengeluarkan benda ini dari sistem otak saya. Saya bukan seorang penulis. Saya telah membodohi diri sendiri dan orang lain. Aku berharap begitu. Keberhasilan ini akan menghancurkan saya dengan pasti. Mungkin tidak akan bertahan lama, dan itu akan baik-baik saja. Saya akan mencoba melanjutkan pekerjaan sekarang. Hanya menjalankan tugas setiap hari. Saya selalu lupa.”

by MARIA POPOVA | (p) Virdika R Utama (ed) Sabiq Carebesth

 

Bagaimana Steinbeck Menggunakan Buku Harian sebagai Alat mendisiplinkan diri? membebaskan dirinya dari keraguan dan menjadikan hal itu sebagai alat pacu bagi detak jantung kreatifnya? “Cukup atur pekerjaan satu hari di depan pekerjaan hari terakhir. Begitulah caranya. Dan itulah satu-satunya cara. ”

Banyak penulis terkenal menjadian buku harian sabagi detak jantung kreatifnya, hal itu melebihi apa yang bisa kita duga. Tapi tidak ada yang menempatkan buku harian itu untuk penggunaan praktis yang lebih mengesankan dalam proses kreatif daripada John Steinbeck (27 Februari 1902 – 20 Desember 1968).

Pada musim semi 1938, tak lama setelah melakukan salah satu aksi keberanian artistik terbesar – yaitu mengubah pikiran seseorang ketika sebuah proyek kreatif berjalan dengan baik, seperti yang dilakukan Steinbeck ketika dia meninggalkan sebuah buku yang dia rasa tidak sesuai dengan tugas kemanusiaannya. Dia memulai pengalaman menulis paling intens dalam hidupnya. Buah publik dari kerja ini akan menjadi karya utama tahun 1939, “The Grapes of Wrath” –sebuah judul yang politis dan radikal, Carol Steinbeck, muncul setelah membaca The Battle Hymn of Republic oleh Julia Howe. Novel ini menghasilkan Hadiah Pulitzer bagi Steinbeck pada tahun 1940 dan merupakan landasan bagi Hadiah Nobelnya dua dekade kemudian, tetapi buah catatan pribadinya  yang tersimpan dalam buku harian, dalam banyak hal setidaknya sama pentingnya dan instruktif secara moral.

Bersamaan dengan novel, Steinbeck juga mulai membuat buku harian, akhirnya diterbitkan sebagai Hari Kerja: Jurnal The Grapes of Wrath (perpustakaan umum) – catatan hidup yang luar biasa dari perjalanan kreatifnya, di mana penulis yang luar biasa ini berselisih dengan keraguan diri yang luar biasa ( persis seperti Virginia Woolf) tetapi tetap maju ke depan, dengan semangat dan laju yang setara, ia terus didorong oleh tekad yang teguh untuk melakukan yang terbaik dengan hadiah yang ia miliki, terlepas dari keterbatasannya. Jurnal hariannya menjadi praktik baik penebusan dan juga transenden.

Steinbeck hanya memiliki dua permintaan untuk buku harian itu: bahwa itu tidak akan dipublikasikan pada masa hidupnya, dan bahwa itu harus dibuat tersedia untuk kedua putranya sehingga mereka dapat “melihat ke belakang mitos dan desas-desus dan sanjungan dan fitnah seorang pria yang hilang menjadi dan untuk mengetahui sampai batas tertentu seperti apa manusia ayah mereka.” Ia berdiri, di atas segalanya, sebagai bukti tertinggi akan fakta bahwa satu-satunya substansi kejeniusan adalah tindakan harian yang muncul.

Steinbeck menangkap ini dengan sempurna dalam catatannya yang berlaku juga untuk bidang usaha kreatif apa pun:

“Dalam menulis, kebiasaan tampaknya menjadi kekuatan yang jauh lebih kuat daripada kemauan atau inspirasi. Akibatnya harus ada sedikit kualitas keganasan sampai pola kebiasaan sejumlah kata ditetapkan. Tidak ada kemungkinan, setidaknya dalam diriku, untuk mengatakan, ‘Aku akan melakukannya jika aku menginginkannya.’ Seseorang tidak pernah merasa seperti bangun setiap hari. Bahkan, mengingat alasan terkecil, seseorang tidak akan bekerja sama sekali. Sisanya adalah omong kosong. Mungkin ada orang yang bisa bekerja seperti itu, tetapi saya tidak bisa. Saya harus menurunkan kata-kata saya setiap hari apakah itu ada gunanya atau tidak.”

Jurnal itu kemudian menjadi alat disiplin diri (dia bersumpah untuk menulis di dalamnya setiap hari kerja, dan melakukannya, menyatakan dalam salah satu catatan pertama: “Bekerja adalah satu-satunya hal yang baik.”), Sebuah mekanisme mondar-mandir (dia memberi dirinya tujuh bulan untuk menyelesaikan buku itu, mengantisipasi itu hanya akan memakan waktu 100 hari, dan menyelesaikannya dalam waktu kurang dari lima bulan, rata-rata 2.000 kata per hari, lama, tidak termasuk buku harian), dan papan suara untuk diri positif yang sangat dibutuhkan -Berbicara dalam menghadapi keraguan terus-menerus (“Saya sangat malas dan hal di depan sangat sulit,” ia putus asa dalam satu catatan; tetapi ia meyakinkan dirinya sendiri di catatan lain: “Keinginan saya rendah. Saya harus membangun kembali keinginan saya. Dan saya bisa melakukannya. ”) Yang terpenting, ini adalah alat pertanggungjawaban untuk membuatnya terus maju meskipun ada banyak gangguan dan tanggung jawab dalam hidup. “Masalah menumpuk sehingga buku ini bergerak seperti siput Tide Pool dengan cangkang dan teritip di punggungnya,” tulisnya, namun yang penting adalah meskipun ada masalah, terlepas dari teritip, ia bergerak. Dia menangkap ini dalam salah satu catatan yang paling pedih, tak lama sebelum menyelesaikan paruh pertama novel:

“Setiap buku tampaknya merupakan perjuangan seumur hidup. Dan kemudian, ketika sudah selesai – pouf! Sudah! Tidak pernah terjadi. Jadi hal terbaik adalah menurunkan kata-kata setiap hari. Dan sekarang saatnya untuk memulai kembali. Dan beberapa hari kemudian, ia kembali ragu-ragu: “Banyak kelemahan saya mulai menunjukkan kepada mereka. Saya harus mengeluarkan benda ini dari sistem otak saya. Saya bukan seorang penulis. Saya telah membodohi diri sendiri dan orang lain. Aku berharap begitu. Keberhasilan ini akan menghancurkan saya dengan pasti. Mungkin tidak akan bertahan lama, dan itu akan baik-baik saja. Saya akan mencoba melanjutkan pekerjaan sekarang. Hanya menjalankan tugas setiap hari. Saya selalu lupa.”

Memang, setelah memulai buku harian itu, Steinbeck memiliki tujuan jelas, pendisiplinan dan perannya sebagai pengingat kemajuan kerjanya saban harian yang semakin meningkat, sering lambat dan kecil, justru yang menghasilkan keseluruhan yang lebih besar. Dalam salah satu catatan pertamanya pada awal Juni, ia menulis:

John and Elaine Steinbeck in 1950 / Getty Image via Wikipedia

“Ini adalah buku harian terpanjang yang pernah saya simpan. Tentu saja bukan buku harian tetapi upaya untuk memetakan hari dan jam kerja novel yang sebenarnya. Jika satu hari dilewati maka akan terlihat mencolok pada catatan ini dan akan ada beberapa alasan yang diberikan untuk hal seperti kekeliruan..”

Komitmen Steinbeck terhadap disiplin bukan hanya kesombongan moral atau fetisisme produktivitas—keinginannya sungguh-sungguh untuk menciptakan karya terbesar dalam hidupnya, puncak kemampuannya sebagai manusia yang sadar dan kreatif. Dalam salah satu catatan awal, ia memutuskan:

“Ini pasti buku yang bagus. Itu harus. Saya tidak punya pilihan. Pasti jauh dan jauh dari hal terbaik yang pernah saya coba—lambat tapi pasti, menumpuk detail pada detail sampai gambar dan pengalaman muncul. Sampai semuanya berdenyut-denyut muncul. Dan saya bisa melakukannya. Saya merasa sangat kuat untuk melakukannya.”

Tetapi menurut Dani Shapiro, ada perbedaan tajam antara keyakinan dan keberanian, ini adalah pernyataan yang terakhir, kebajikan yang lebih benar—Steinbeck sangat menyadari segala sesuatu yang mungkin menggagalkan usahanya, kekesalan baik eksternal maupun internal, namun ia tetap memutuskan untuk mengerahkan dirinya, untuk sepenuh hati tentang upaya, meskipun kurangnya kepercayaan diri yang mendalam. Inilah keberanian, hidup yang berdenyut, dari catatan awal lainnya:

“Segala macam hal mungkin terjadi dalam perjalanan buku ini tetapi saya tidak boleh lemah. Ini harus dilakukan. Kegagalan kemauan bahkan untuk satu hari memiliki dampak buruk pada keseluruhan, jauh lebih penting daripada hanya kehilangan waktu dan kata-kata. Seluruh dasar fisik novel ini adalah disiplin penulis, materialnya, bahasa. Dan cukup menyedihkan, jika salah satu dari disiplin itu hilang, semuanya menderita.”

Menulis kadang seperti sebuah tujuan yang puncak, dalam satu catatan ia menyatakan:

Setelah buku ini selesai, saya tidak akan peduli seberapa cepat saya mati, karena pekerjaan utama saya akan berakhir.

Dan di tempat lain:

Ketika saya sudah selesai saya akan bersantai tetapi tidak sampai saat itu. Hidup saya tidak terlalu lama dan saya harus menulis satu buku yang bagus sebelum berakhir.

Tetapi beberapa hari, tekadnya nyaris mengalahkan keraguan dirinya:

“Kalau saja saya bisa mengerjakan buku ini dengan benar, itu akan menjadi salah satu buku yang sangat bagus dan buku yang benar-benar Amerika. Tetapi saya diserang oleh ketidaktahuan dan ketidakmampuan saya sendiri. Saya hanya harus bekerja dari latar belakang ini. Kejujuran. Jika saya dapat menjaga kejujuran, itulah yang dapat saya harapkan dari otak saya yang buruk – jangan pernah marah kepada prasangka pembaca, tetapi bengkokkan seperti dempul untuk pengertiannya.”

Dan beberapa waktu kemudian, keraguan diri itu menjadi sangat luar biasa:

Jika saya bisa melakukan itu semua …. Karena tidak ada orang lain yang tahu kurangnya kemampuan saya seperti yang saya lakukan. Saya mendorongnya sepanjang waktu. Kadang-kadang, saya tampaknya melakukan pekerjaan kecil yang baik, tetapi ketika hal itu dilakukan, itu akan menjadi biasa-biasa saja.

Pada orang lain, ia bisa mengenali keraguan tetapi tidak setuju:

Untuk beberapa alasan saya sedikit gugup. Itu tidak selalu berarti apa-apa. Saya hanya akan menyelam lari dan mengatur apa yang terjadi.

Di satu sisi, ini adalah kualitas jurnal (Catatan Harian) yang paling berani—hampir merupakan tulisan suci Buddhis, beberapa dekade sebelum Bradbury’s Zen dalam Seni Menulis, ketika Steinbeck menghadapi pasang surut dan aliran pengalaman. Dia merasakan perasaan keraguannya sepenuhnya, membiarkannya melewatinya, namun mempertahankan kesadaran yang lebih tinggi bahwa mereka hanya: perasaan, bukan Kebenaran.

Namun, yang paling mengejutkan dan paling aneh meyakinkan semua – terutama bagi mereka yang juga bekerja di kuali mendidih ketidakpastian yang merupakan karya kreatif – adalah kasus kronis dan akut Sindrom Impostor milik Steinbeck. Meskipun ia telah mencapai keberhasilan yang kritis dan finansial dengan pekerjaannya sebelumnya, ia tampaknya tidak hanya tidak percaya tetapi juga meremehkan keberhasilan itu, melihat di dalamnya bukan sumber kebanggaan tetapi juga rasa malu. Dalam jurnal awal, ia menulis:

Untuk saat ini, beban keuangan telah dihapus. Tapi itu tidak permanen. Saya tidak dibuat untuk sukses. Saya menemukan diri saya sekarang dengan reputasi yang berkembang. Dalam banyak hal itu adalah hal yang mengerikan … Di antara hal-hal lain saya merasa telah meletakkan sesuatu. Bahwa keberhasilan kecilku ini curang. (*)

 

Continue Reading

Tabloids

Memikirkan Kata?

mm

Published

on

Layout isi buku "Memikirkan Kata" | Photo by Sabrina Puisi AZ

Editor’s Note

Memikirkan Kata?

Menulis dan buku-buku adalah sebuah seni. Melampaui keliteraturan—dalam arti kenikmatan yang dikandung di dalamnya memerlukan hampir seluruh dari diri kita, menghabiskan nyaris semua waktu yang kita miliki jika ingin mencecap nikmatnya.

Seorang bisa saja memiliki kenikmatan itu—dengan membeli buku-buku terbaik karya para pengarang. Seorang juga bisa memasak untuk dirinya sendiri, atau menghidangkan kreasi final masakannya bagi yang lain agar bisa turut mencecap kenikmatan puncak yang bisa dicapainya.

Apa pun pilihannya meski tidak semua harus menjadi Chef, setiap orang harus bisa memasak—bisa menulis. Paling tidak untuk memberi makan batinnya sendiri.

Buku “Memikirkan Kata” dikerjakan salah satunya dengan motif semacam itu. Agar setiap kita, para pembaca, bisa memasak, menulis paling tidak untuk diri sendiri. Sebab bagaimana pun membaca dan juga menulis adalah aktivitas yang memberi pengayaan batin dan intelektual. Jika kita percaya lebih dari itu, bahwa dengan menulis seorang bisa berkontribusi bagi kebaikan dan majunya peradaban, maka motif yang tampaknya sederhana tersebut mungkin juga mengandung motif politik (kebudayaan).

Sementara itu untuk bisa memasak, orang butuh tahu ragam bumbu-bumbu yang pada setiap masakan yang dikehendaki, berbeda pula rupa bumbu maupun teknik mengolahnya; juga kapan memasukkan masing-masing bumbu, kapan mengurangi atau membesarkan apinya, semua itu butuh dipelajari dan hasilnya selalu khas, unik dan personal—bahkan dengan bumbu sama, bisa menghasilkan rupa dan rasa hidangan yang berbeda-beda—juga penikmat yang khas dan berbeda pula.

Dalam andaian semacam itu, teknik memasak, teknik menulis, pengetahuan akan bumbu-bumbu, cara mengolah dan cara menghidangkan perlu dipelajari dan dimiliki, meski hasil akhir, dan pada tahapan “pengalaman dan jam tempuh”, semua fase kaidah dan pelajaran teknik itu boleh dilanggar dan dilampaui. Tak terkecuali dalam seni menulis, berlaku juga hal serupa.

Seperti para pendaki menuju puncak, ia sudah lagi berjalan dengan spirit, ketenangan, serta kematangan batin yang didapat tak lain dari semua proses tidak mudah dan tidak sebentar dalam melampaui kaidah-kaidah teknis tersebut. Ia telah menempa diri dengan kejujuran, komitmen dan kesadaran malampui pencapaian subjektif semata. Hemingway suatu kali berujar: “Hal tersulit yang harus dilakukan penulis adalah menuliskan prosa dengan sejujur-jujurnya. Pertama, ia harus tahu subjek yang hendak diceritakkan, lalu tahu caranya menulis—keduanya butuh latihan seumur hidup.”

Sementara Natalie Goldberg pada puncaknya menyeru hal senada: “Soalnya akan seperti seorang master Zen yang mengajarkan kepadamu tentang bermeditasi selama setahun, dan pada tahun berikutnya dia berkata, ‘Abaikan rasa iba kasihan. Berdiri dengan kepala kita sendiri itu juga termasuk ke dalam meditasi’.”

Meski demikian buku “Memikirkan Kata” bukan pertama-tama disusun untuk menjadi “buku panduan” ia dikerjakan untuk membuat kita memiliki kesadaran akan pentingnya dunia buku, membaca dan juga menulis. Juga segala kemungkinan kemajuan yang bisa dibuat dengan “berpikir” dan “kata”.

Ia adalah awalan dan pondasi: pikiran yang kritis, logis, sebab luasnya wasasan dan berlimpahnya pengalaman, bisa menjadi bahan baku utama bangunan peradaban yang kita harapkan—tetapi ia membutuhkan perangkat, dan “kata” adalah bahan baku utamanya, ia disusun menjadi kata-kata, menjadi kalimat, sehingga memiliki makna dan dengan cara itu ia memperlihatkan eksistentinya untuk dipahami, memberi harapan dan sekalian menghadirkan keindahan. Saya rasa itu juga maksud dari judul yang dipilih untuk buku ini—Memikirkan Kata.

*

Sementara itu  mari kita bicara realitas faktual. Tetapi tidak dalam bahasan tentang angka dan pencapaian memerangi buta huruf, tinggi dan rendahnya minat baca, angka perpustakaan dan toko buku yang bangsa ini meiliki, atau kualitas pendidikan dan penyelenggaraanya, itu terlampau besar untuk bisa diwacankan dengan pengerjaan buku ini.

Faktualitas yang menjadi pijakan keinginan menghadirkan buku ini adalah faktualitas kultural: bahwa nyaris tanpa perdebatan untuk menyebut budaya literasi, khususnya “budaya menulis” masyarakat kita belum lagi memadai, atau terfasilitasi dalam kaitannya dengan kebijakan publik, atau untuk mengatakan secara lebih konstan: membaca dan menulis belum menjadi budaya bangsa ini. Pada tahap budaya artinya ia menjadi cara hidup masyarakat—bukan sekadar kebutuhan praktis misalnya karena soal pekerjaan atau sekolah barulah seseorang menulis. Budaya menulis itu penting, tetapi harus dimulai juga dari kesadaran bahwa membaca dan menulis adalah begitu penting bagi kemajuan peradaban kita.

Secara praktis, pentingnya kemampuan menulis sebenarnya tidak hanya baik dan diperlukan mereka yang butuh berkembang dalam dunia sastra dan menulis buku-buku, tapi juga dunia industri, iklan, film, kampanye lembaga sosial, kebutuhan dalam ruang pendidikan, benar dan hoaks dalam relatifitas dunia politik, bahkan juga kebutuhan personal branding di era serba digital saat ini.  Di sisi lain perkembangan dunia digital dan teknologi informasi saat ini butuh diimbangi dengan kemampuan literasi dalam artinya yang luas. Dan menulis adalah salah satu pokok yang bisa menjadi pondasi penting khususnya bagi generasi muda dalam peningkatan kapasitas dan perkembangan logika berpikirnya sehingga dapat berkompetisi dan memahami dinamika sosial yang bergerak kian lekas—disruptive. Kemampuan dan kemajuan budaya literasi semacam itu tidak hanya memberi dampak kemajuan tapi juga sekaligus penangkal yang diharpkan mampu mengalahkan lubang hitam puritanisme dan radikalisme. Karenanya yang terpenting dari hal itu adalah terawatnya kemanusiaan dan empati sosial.

*

Buku “Memikirkan Kata” sendiri terdiri dari 9 bab utama, yaitu:  (1) Pengantar tentang berpikir, membaca dan pada akhirnya menulis. (2) Voice of Editor; Menilik Dapur Pikiran Para Editor Tentang Dunia Kepengarangan (3) The Prose Reader: Retorika Pengantar Tentang Teknik Penulisan (4) Tulisan Bermutu Tinggi: Panduan Tidak Sederhana Tentang Cara Menulis Bermutu  (5) Tentang Inspirasi: Bagaimana ide bekerja—dari Saul Bellow hingga Gabriel Marquez (6) Writing Tips: Menulis Itu Terkadang Mudah (7) Artist at Work—Bagaimana Pengarang itu Begitu Keras Bekerja. (8) Interview—Merayakan Obrolan Tentang Semesta Seni. (9) Nasihat Mengarang dari Penulis Buku Best Seller Dunia.

Kesembilan bab tersebut ditujukan untuk tiga pondasi utama yaitu; Pertama: melalui bab 1-2 para pembaca disuguhi “spirit” dunia buku, dunia menulis, bahwa menulis bukan pekerjaan mudah dan untuk menjadi penulis bermutu para penulis dunia telah melalui proses yang tidak satu pun gampang dan instan, bahkan memerlukan waktu belajar seumur hidupnya. Kedua; melalui bab 3-5 pembaca akan mendapatkan dasar teknikal bagaimana menullis baik dan bermutu, bahwa menulis bukan sekedar “mengarang”, ia membutuhkan kapasitas, wawasan pengetahuan, dan pendidikan teknis yang tuntas tentang bahasa, tentang tema, tentang ide dan teknik yang dibutuhkan dalam dunia tulis-menulis lainnya. Ketiga: melalui bab 6 pembaca mendapat “bonus” berupa tips atau panduan untuk menjadikan kerja menulisnya efektif. Dan Keempat: melalui bab 7-8 pembaca akan mendapatkan keluasan perspektif bahwa menulis bukan hanya soal teknik, kemampuan bagus dan tujuan menjadi penulis besar, tapi dunia menulis memiliki tanggung jawab moral sebagaimana pengakuan puncak yang ditulis para peraih nobel dalam bab tersebut. Terakhir adalah bonus bagaimana para penulis dunia terkini, umumnya penulis best seller dunia menghasilkan karya-karya terbaik mereka.

Buku ini memuat catatan dari mereka yang telah begitu lama memikirkan kata, tersesat dalam kegelapannya, mengambil dari wilayah pribadi kata-kata untuk menghasilkan cerita dan pencerahan yang dibutuhkan manusia. Para editor media ternama, para penyair, esais dan para sastrawan berkumpul dalam buku ini melalui ulasan atas karyanya, penerjemahan dan juga wawancara atas proses kreeatifnya. Semua untuk membantu kita hidup dalam seni, hidup dalam kata-kata; untuk menjadi pribadi yang tumbuh, khas, berbahagia dan memberi makna bagi kehidupan—dengan menjadi pembaca, pemikir dan pada akhirnya penulis dalam artinya yang paling luas.

*

Dalam ruang editor’s note yang sempit dan terbatas ini, izinkan saya—dan sekalian saya meminta maaf untuk menjadikan paragraf ini menjadi begitu pribadi—tapi saya harus menyampaikan rasa terimakasih mendalam kepada para “penyumbang” tulisan dalam buku ini melalui karya penerjemahan yang dikerjakan: Ladinata, Virdika R Utama, Susan Gui, Marlina Sopiana, Regina N. Helnaz, Addi M Idham, Fleur d Nufus, Agus Teguh—mereka orang-orang dengan bertumpuk-berlimpah pekerjaan pribadi dalam profesinya masing-masing—sebagai pengajar/ dosen, jurnalis, editor penerbitan dan pimpinan lembaga, begitu rupa kesibukan dan padatnya jadwal tapi dedikasinya untuk penerjemahan bagi buku ini dengan sigap mereka “singsingkan lengan baju !”—meski kita berjalan begitu lambat, tapi itu semua sepadan dengan hasilnya! Nama yang tidak bisa ditinggalkan adalah Aldia Putra, tanpa dia buku ini tidak bisa hadir dengan perwajahan yang telah diupayakan membuat anda menyukainya, untuk berkenan membawanya ke dalam kamar dan menempatkannya di tempat layak. Aldi untuk empat bulan lebih menemani saya duduk bekerja menggarap desain dan layout isi buku ini, sigap bekerjasama untuk ide yang kadang berubah saban jam bahkan menit, menggeser dan memindah, membuang dan menambahkan apa yang berkelebat dan terasa lebih bagus, itu selalu dengan gairah seorang berusia cukup lanjut dan tiap kali sesak nafas untuk melewati pukul sebelas malam. Kepada Genta dan Ndari, terimakasih untuk mengerjakan sampul buku ini degan sangat mendalam! Begitulah buku ini melibatkan orang-orang dedikatif, ceria dan tanpa batas dalam bekerja untuk hal yang mereka pikir baik dan akan bermanfaat. Tanpa mereka semua, buku ini dengan segala kekurangannya tidak akan di tangan anda saat ini. Hampir satu tahun lebih pengerjaan buku ini, semoga bermanfaat untuk  generasi indonesia dan terutama kemanusiaan kita.

Pada ujungnya, saya ingin menutup dengan keyakinan Virginia Wolf yang pemikirannya tentang kata-kata dan seni menulis juga tertuang dalam buku ini: “Kata-kata seperti halnya kita, untuk dapat hidup dalam ketenangannya, membutuhkan wilayah pribadi mereka. Kata-kata, menginginkan kita untuk berpikir, dan mereka menginginkan kita untuk merasa; sebelum kita menggunakannya; tetapi mereka juga ingin kita berhenti sejenak; untuk menjadi tak sadar. Ketidaksadaran kita adalah wilayah pribadi mereka; kegelapan kita adalah cahaya bagi mereka…”

Selamat membaca, selamat memikirkan kata…

*) Sabiq Carebesth, editor dan Pendiri Galeri Buku Jakarta

 

Continue Reading

Tabloids

Rekomendasi Buku Klasik dari editor “Book Review” Galeri Buku Jakarta: Dari Hamlet Hingga Animal Farm

mm

Published

on

photo by Toby Melville / via Today

Classic books recommended by the editors of galeribukujakarta.com Book Review: Frankenstein, by Mary Shelley: Sebenarnya agak mengagetkan, saat orang-orang yang hanya menonton filmnya, memiliki anggapan kurang lebih sama soal monster di novel ini. Padahal, sebenarnya tidak begitu. Film menggambarkan monster itu sebagai binatang buas yang bisu dan berjalan lamban. Sementara di dalam novel, makhluk itu (namanya bukan Frankenstein, itu nama dokter) dikisahkan secara berbeda —Novel ini dipecah menjadi beberapa bagian berbeda, dengan beberapa pencerita. Makhluk itu dikisahkan mengatakan hal-hal seperti, “Hidup, meskipun itu mungkin hanya akumulasi kesedihan, sangat berharga bagiku, dan aku akan mempertahankannya.” Gambaran soal monster ini di dalam novel jauh lebih menarik dan puitis serta jauh lebih kompleks ketimbang sekadar adanya beberapa baut di lehernya. | Heart of Darkness by Joseph Conrad | Novel yang menginspirasi film Apocalypse Now (1979) tersebut sebenarnya lebih dari sekadar kata-kata si aktor Marlon Brando yang bergumam, “Kengerian … kengerian.” Novel ini bercerita tentang kisah perjalanan dengan perahu menyusuri sebuah sungai tidak bernama di Afrika untuk mencari pedagang gading jahat bernama Kurtz. “Seorang utusan dari belas kasihan, sains dan kemajuan” merupakan istilah bagus untuk menyebut bahwa Kurtz mungkin agak gila. Novel ini sebenarnya berkisah soal horor yang dibawa imperalisme, dan bagaimana “orang-orang liar” sebenarnya tidak seperti yang dinarasikan peradaban modern kepada kita.| Anna Karenina, by Leo Tolstoy: Novel ini setebal 864 halaman. Karenanya tidak banyak siswa sekolah menengah yang secara disiplin menandaskan seluruh isinya. Hal itu sebuah kerugian bagi mereka. Novel klasik Karya Tolstoy ini, di mana semua orang jatuh cinta dengan seseorang yang tidak mencintai mereka kembali, seperti film komedi romantis terbaik yang tidak pernah diproduksi. Dikisahkan, Konstantin ingin menikahi Kitty Shtcherbatsky, yang hanya terpikat dengan Count Vronsky, yang lebih tertarik pada Nyonya Karenina. Ada banyak pelajaran penting yang bisa Anda dapatkan, termasuk contoh kasus soal jangan terburu-buru menjalin hubungan. Dan, mengutip parafrase Rolling Stones: “Anda tidak selalu bisa mendapatkan apa yang Anda inginkan” — tetapi jika Anda berusaha, Anda mungkin menemukan kekasih yang Anda inginkan. | The Diary of a Young Girl, by Anne Frank: Adalah tidak mungkin membaca buku harian, yang ditulis seorang gadis muda saat bersembunyi dari Nazi bersama keluarga mereka di sebuah loteng rumah di Amsterdam, ini dan tidak terpengaruh olehnya. Dengan banyak pelajaran untuk masa depan dan wawasan soal bagaimana manusia dapat menjadi sangat mengerikan sekaligus baik terhadap satu sama lain, buku ini akan mengubah Anda dengan cara yang bahkan tidak dapat Anda pahami. Jika Anda sekarang menjadi orangtua, bersiaplah untuk bercucuran air mata saat membaca buku ini. | Their Eyes Were Watching God, by Zora Neale Hurston | Salah satu topik penting di novel inovatif ini — tentang kemauan keras seorang perempuan yang ingin lari dari harapan masyarakat kulit hitam di awal tahun 1900-an—adalah bahwa Anda hanya bisa menemukan kepuasan sejati jika mau melihat ke luar diri Anda. Tidak mudah bagi remaja untuk menghargai pelajaran ini. Lebih penting lagi, buku ini, yang ditulis oleh seorang wanita yang disebut “Faulkner kulit hitam,” memiliki lebih banyak humor subtil daripada yang mungkin anda temui saat pertama kali membacanya. | Sun Also Rises by Ernest Hemingway: Sekelompok ekspatriat Amerika berpesta pora di Paris karena mereka begitu kecewa dan bosan dan kemudian mereka pergi ke Spanyol untuk menonton adu banteng dan minum-minum lagi. Apakah itu yang disebut the Lost Generation berkelana tanpa tujuan, ataukah itu termasuk liburan terbaik? (Juga, mencoba memahami misteri “luka perang” Jake yang membuatnya impoten jelas lebih menyenangkan bagi orang dewasa yang mengerti anatomi.) | Great Expectations by Charles Dickens: Di pertengahan abad 19 di Inggris, seorang anak yatim miskin bernama Pip meyakini bahwa entah bagaimana dia akan keluar dari penderitaan, hidup miskin dan menjadi seorang pria berharta, dan akhirnya meyakinkan perempuan idamannya, Estella, agar jatuh cinta padanya dan menikah. Lalu seorang dermawan yang tak diketahui identitasnya menjadikannya kaya, dan tak mengejutkan bahwa hal itu tidak membuatnya bahagia, dan pada akhirnya dia kehilangan segalanya. Buku ini seperti 500 halaman yang mengingatkan mengapa kau tak seharusnya bermain lotre. | The Invisible Man by Ralph Ellison: Saat pertama kali membacanya di masa sekolah menengah, kau mungkin kecewa karena bukunya sama sekali tak mendekati film dengan judul yang sama, karena kisahnya tidak melibatkan seorang pria tak terlihat yang berbalut plester sungguhan. Mem-bosankan! Tapi saat dewasa, kau bisa memahami simbolismenya dengan lebih baik bahwa Ellison dengan sangat cerdas menyelipkan ke dalam ceritanya, sebuah penggambaran bukan hanya soal seorang pria yang merasa dirampas haknya oleh negeri yang dia usahakan dengan keras untuk beradaptasi, tapi tentang goresan-goresan luka rasisme yang bergelayut di bawah permukaan, dan bagaimana orang kulit hitam bisa merasa tak terlihat di tengah masyarakat Amerika. | Catcher in The Rye by J. D. Salinger: Holden Caulfied mungkin terlihat seperti karakter yang hanya dapat dipahami oleh reamaja yang penuh kekecewaan. Tapi saat kau menjauh dari masa itu, kau menyadari betapa mudahnya melihat dunia lewat pandangan Holden, mencemooh kepalsuan dan siapa pun yang tidak hidup sesuai dengan standar moralmu, dan kau mulai memahami bagaimana pemberontakkan remaja tak selalu layak ditiru, dan sebagian dari mereka mungkin hanya anak orang kaya manja yang butuh diabaikan. “Semua orang dungu tak suka saat kau memanggilnya dungu,” kata Holden, yang mungkin saja dirinya dungu. | Fahrenheit 451 by Ray Bradbury: Jika adaptasi terbarunya (diperanan Michael Shannon dan Michael B. Jordan) tak membangkitkan seleramu untuk memungut salinan kumal distopia klasik Bradbury milikmu, kami hanya akan berasumsi bahwa kamu tak tahu itu berasal dari sebuah buku. Benar, itu dari buku. Dan dongeng mengerikan tentang masa depan distopia di mana buku-buku tak diizinkan dan dibakar oleh “petugas pemadam kebakaran”-dan satu-satunya hiburan yang legal adalah menonton televisi raksasa sebesar dinding, menyetir sangat kencang, dan mendengarkan “Seashell Radio” dengan alat-alat yang menempel di telinga-mungkin terlihat sedikit lebih familiar dengan kehidupan nyata sekarang dibanding saat kau di sekolah menengah dulu. | To Kill a Mockingbird by Harper Lee: Novel pemenang hadiah Pulitzer ini baru saja terpilih sebagai “Novel Amerika yang paling disukai” sebagai bagian dari seri PBS “Great American Read”, dan rasanya tak mungkin para fans Mockingbird hanya membacanya satu kali saat mereka ada di kelas dua sekolah menengah. Hal yang menakjubkan dari melihat kembali kisah ini adalah sebesar apa risiko yang dihadapi Atticus Finch, yang bukan hanya bisa menerima kekalahan dalam satu kasus hukum. Membela seorang pria kulit hitam dengan tuduhan palsu di Alabama tahun 40an merupakan simbol dari pekerjaan yang sia-sia, tetapi Atticus berjuang dengan kesungguhan moral dari seseorang yang tahu bahwa hal yang benar tidak selalu berarti hal yang mudah atau aman. | Animal Farm by George Orwell: “Hadapilah,” kata salah satu karakter dalam satir brutal karya Orwell, “hidup kita menyedihkan, melelahkan, dan pendek.” Tentu saja, dia merujuk pada binatang-binatang di peternakan Manor yang terlalu keras bekerja dan disiksa, yang pada akhirnya memutuskan untuk memberontak terhadap penindas dan mendirikan pemerintahan baru yang mirip sekali dengan Soviet Union di masa kekuasaan Komunis tetapi dengan lebih banyak tapal kuda. Kisah ini merupakan sebuah alegori tentang kodrat kekuasaan, dan penurunan moral bahkan dalam hal-hal baik, dan meskipun kisah itu ditulis sesuai pada masanya, diyakini di dalamnya terdapat tanda-tanda mengenai totalitarianisme modern yang membuat buku itu terasa semakin relevan. The Divine Comedy by Dante Alighieri: “Tak ada kesedihan yang lebih besar dibanding mengenang kebahagiaan di saat kau menderita.” Tunggu, benarkah kalimat itu ada di dalam buku Dante, yang mungkin kau ingat sebagai puisi yang ditulis dengan aneh tentang seorang pria yang berjalan-jalan di kehidupan setelah mati, tempat penyucian, dan surga, dan kemudian menulis cerita tentangnya? Ada banyak sekali penggalan seperti ini-yang terdengar seperti ditulis oleh seorang lelaki paruh baya yang terbangun dengan perasaan sedih-seperti kau telah melewatkan babak pertama kekhidupanmu.| The Great Gatsby by F. Scott Fitzgerald: Wajar saja untuk melebih-lebihkan simbolisme dalam karya besar Fitzgerald. Ya, cahaya hijau di ujung dok rumah Daisy mungkin mewakili harapan-harapan dan aspirasi Gatsby tentang masa depan. Atau mungkin saja itu hanya cahaya hijau. Dan Jay Gatsby yang memesona dan kaya raya mungkin contoh nyata American Dream, dengan segala kelemahannya dan ideal-idealnya dan jiwa muda yang gelisah untuk kehidupan yang lebih baik. Atau dia mungkin hanya seorang bajingan yang kaya. Apa pun jadinya, buku ini benar-benar mengagumkan. | Beloved by Toni Morrison: Buku ini tak selalu mudah dibaca-terutama jika kau masih muda, dan mempelajari kapasitas manusia untuk menghadirkan penderitaan bagi manusia lain terasa seperti beban yang berat di bahumu-tapi ini kisah yang penting untuk diingat, terutama dalam dunia masa kini, di mana luka dari rasisme tak pernah sebegitu terang benderang seperti sekarang. Berlatar pasca-perang sipil di Ohio, buku ini mengisahkan seorang bekas budak yang meyakini hantu dari anaknya yang meninggal-yang mati demi melindungi calon bayi dari pemilik budak yang menangkap mereka – bereinkarnasi menjadi seorang gadis muda bernama Beloved. Buku ini juga menciptakan kosa kata baru untuk mendeskripsikan sebuah respon emosional “rememory,” yang berarti mengenang masa lalu sekaligus dengan berani menolak untuk kembali ke masa itu. | Hamlet by William Shakespeare: Mungkin pikiran kami saja, tapi saat kami pertama kali membaca Shakespeare, kami tak mengerti separuhnya. Kami biasanya berpura-pura bahwa kami mengerti apa yang dikatakan karakter-karakternya. Kami tahu intinya: Hantu dari mendiang ayah Hamlet memberitahu dia telah dibunuh oleh pamannya, Claudius, jadi Hamlet membunuhnya dan sekelompok orang lain, dan kemudian bunuh diri. Tapi keindahan dari Hamlet bukan soal pembantaianya; tapi bahasa Shakespeare yang puitis. “To be, or not to be: that is the question,” Hamlet berkata dalam monolognya yang paling terkenal; “Whether ’tis nobler in the mind to suffer the slings and arrows of outrageous fortune, or to take arms against a sea of troubles, and by opposing end them? To die: to sleep.” | Brave New World by Aldous Huxley: Teknologi bukanlah sahabat kita di dunia yang menakutkan dalam ramalan masa depan ini, di mana cloning telah menggantikan reproduksi manusia dan ada pil yang berfungsi menghilangkan beragam jenis emosi buruk manusia. Pemerintah telah mengubah penduduknya menjadi budak virtual dengan menjaga merka berada dalam kebahagian yang abadi. Tapi ketika amukan salah satu karakter, dia menginginkan hak untuk tak bahagia, “Tak perlu disebutkan hak untuk menua dan buruk rupa dan impoten; hak untuk merasakan kelaparan; hak untuk menjadi ceroboh; hak untuk hidup dalam ketakutan terus-menerus atas apa yang akan terjadi esok.” Kisah ini pengingat yang baik bahwa kegembiraan sepanjang waktu mungkin terdengar seperti ide yang bagus secara teori, akan tetap kebebasan selalu lebih baik dibanding euforia yang terkondisi. | I Know Why The Caged Bird Sings by Maya Angelou: Diterbitkan saat Angelou baru berusia 40an, memoar ini-yang pertama dari seri dengan tujuh bagian-hanya mengisahkan 17 tahun awal hidupnya di pedesaan Arkansas, tapi kekuatan dan kegigihannya di hadapan begitu banyak kebencian rasial mengejutkan. Seorang gadis muda dengan inferiority complex menemukan kepercayaan dirinya, dan di usia saat kita biasanya hanya memikirkan tentang pasangan prom dan pekerjaan rumah, dia belajar menemukan jalannya lewat “teka-teki ketidaksetaraan dan kebencian.” | The Odyssey by Homer: Kenapa bersusah payah membaca ulang puisi Homer yang sangat sangat sangat panjang tentang perjalanan Odysseus yang sangat sangat sangat panjang menuju pulau kampung halamannya Ithaca, di mana dia bertemu dengan monster laut, cyclops, pemakan teratai, dan banyak lagi makhluk yang mengancam raganya? Hanya saja, meski ditulis 2800 tahun lalu dan mengandung 12.110 bait dacrylic hexameter (apapun artinya itu), orang-orang terus terpukau oleh Odysseus. | Mrs. Dalloway by Virginia Woolf: Setidaknya di permukaan, novel modern ini terlihat benar-benat simple. Kita mengikuti kisah Clarissa Dalloway di musim panas kota London seperti biasanya, selagi dia melakukan hal-hal tak biasa-biasa saja seperti berjalan di taman atau mengobrol dengan teman lama atau membeli bunga atau berpapasan dengan pengagum lamanya yang masih mengira dia mempunyai pernikahan yang bahagia. Akan tetapi keindahan narasi ini terletak dalam detail-detail yang tak disebutkan, seperti keangguhan kelas atas Clarissa dan kebiasannnya “menggali secara berlebihan atas apa pun itu yang merusak,” dan kesan umum bahwa ada sesuatu yang lebih serius bersembunyi di bawah permukaan, sesuatu yang tak pernah benar-benar kita lihat tetapi selalu di sana. | Waiting for Godot by Samuel Beckett: Buku ini terlihat tak berarti sama sekali saat pertama kali kita membacanya semasa remaja. Tanpa kita sadari bahwa dongeng Beckett tentang dua pria dengan topi bowler, Vladimir dan Estragon, menunggu seorang kawan bernama Godot-yang jelas-jelas tak punya niat untuk datang-sebenarnya merupakan metaphor besar bagi krisis eksistensial manusia modern. | The Bell Jar by Sylvia Plath: Cerita tentang seorang penyair yang mencoba mengakhiri hidupnya, ditulis oleh penyair yang mengakhiri hidupnya, hanya sebulan setelah penerbitan The Bell Jar, mengandung cukup banyak ironi untuk memenuhi seribu esai bahasa Inggris anak sekolah menengah. Akan tetapi alasan buku ini layak dibaca ulang bukan karena banyaknya bagian dari satu-satunya novel Plath ini yang berupa autobiografi. Mulai dari ekspektasi atas perempuan dalam masyarakat sampai bagaimana hidup di kota besar bisa membuatmu merasa terisolasi, ada banyak hal dalam 234 halaman ini yang akan membuatmu mengangguk setuju. | Metamorphosis by Franz Kafka: Seorang sales keliling bernama Gregor Samsa terbangun pada suatu pagi dan mendapati dirinya dengan tak masuk akan telah bertransformasi “menjadi seekor serangga raksasa.” Buku ini mengandung keangkuhan yang luar biasa, akan tetapi cepat membuat bosan jika kamu tak cukup tua untuk mengapresiasi kisahnya. Bukan karena remaja tak punya imajinasi yang kuat, tapi karya agung Kafka yang mengerikan ini sebenarnya bukan tentang keganjilan seorang manusia yang berubah menjadi hama. Seperti kita ketahui, Samsa seorang yang gila kerja, menjerumuskan dirinya sendiri pada kematian muda lewat stress yang berkelanjutan dan komitmen yang tak berujung. Kerangka luar tubuhnya bukan hanya aneh, itu juga merepresentasikan sebagaimana Kafka tunjukkan, seorang lelaki yang “telah terpenjara oleh pekerjaan dan hutang-hutang orang tuanya.” | The Adventures of Huckleberry Finn by Mark Twain: Huck Finn lari dari ayahnya yang pemabuk, menyusuri sungai Mississippi menggunakan rakit bersama temannya Jim, seorang budak pelarian. Buku ini dianggap salah satu novel terbaik Amerika, dan sekaligus buku yang tak seharusnya kau baca lagi karena terlalu banyak penggunaan julukan-julukan rasial. Bisa dikatakan bahwa Twain hanya menggunakan rasisme yang menyolok sebagai satir untuk zamannya. Atau mungkin apa yang dianggap rasisme di tahun 1884 tidak sama dengan apa yang dikenal di tahun 2018. Apa pun pendapatmu, novel itu layak dibaca ulang, dan biarkan ia mendorongmu untuk mengikuti langkah Huck dan mengutuk keyakinan terbelakang dan beritahu mereka yang ingin menakutimu soal perbuatan immoral untuk memeriksa diri mereka sendiri. | Moby-Dick by Herman Melville: Bahkan jika kamu tak membacanya saat sekolah, kamu mungkin sudah tahu cerita tentang Kapten Ahab dan si paus putih. Lalu untuk apa membacanya, apalagi kalau butuh waktu lama untuk sampai ke bagian menariknya, dan ada satu bab penuh yang membahas kehidupan laut? Secara spesifik karena bukunya berisi momen yang bikin garuk-garuk kepala seperti ini. Moby Dick bukan hanya novel tentant paus, akan tetapi buku yang menantang keseluruhan ide tentang penulisan narasi literatur. Sebagai pengarang Nathaniel Philbrick menjelaskan dalam eksplorasinya atas karya klasik yang tak lekang waktu, Why Read Moby-Dick?, Melville “menarik tabir fiksi dan memasukkan cuplikan yang tampaknya tak relevan atas dirinya saat menyusun komposisi.” | Jane Eyre by Charlotte Brontë: Dibuang oleh satu-satunya keluarga yang pernah ia kenal, Jane Eyre bertahan dan bahkan berprestasi di sekolah asrama, menjadi seorang tutor, jatuh cinta pada bosnya, dan akhirnya menikahi cinta sejatinya. Tapi dia melakukan semua itu tanpa sedikit pun kehilangan integritasnya atau kemandiriannya. Ini yang membuat Jane menjadi sosok yang luar biasa dalam literatur; dia bukanlah gadis sengsara, yang menunggu untuk diselamatkan, tapi seorang pahlawan perempuan yang sangat mampu mengurus dirinya sendiri, bahkan ketika dia gagal atau membuat kesalahan, karena dia ingin mendefinisikan hidupnya dengan caranya sendiri. “Aku bukan burung; dan tak ada sarang yang mejerat diriku,” Jane berkata pada suatu kali. “ Aku manusia bebas dengan kehendak yang merdeka.”. (by Marlina Sopiana, Addi M Idham, Sabiq Carebesth)

 

__
Lebih banyak rekomendasi buku lainnya, baca selengkapnya dalam buku “Memikirkan Kata”, terbit Agustus 2019.

 

Continue Reading

Memikirkan Kata

Trending