© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

”Birahi Menulis” dan Upaya Meninggalkan Jejak

Nilla A. Asrudian*

Terkesan berlebihan? Mungkin saja. Tapi itulah yang terjadi di masa awal kepenulisan saya. Pada tahun 1996, terdapat banyak malam seperti itu. Malam dimana saya mengalami ’birahi menulis’ jika boleh disebut demikian.

Saya menulis karena saya membutuhkannya. Karena saya harus! Itu terjadi setiap kali saya tidak bisa tidur padahal saya telah meringkuk manis di atas kasur. Semakin saya mencoba terpejam dan mengelabui diri bahwa sebentar lagi saya akan tertidur, semakin liar pikiran saya mencari sesuatu yang bisa meredakan amukan perasaan yang mendesak minta dipuaskan.

Sesuatu dalam diri saya pada saat itu meluap-luap, menuntut pembebasan. Maka, ketika malam meninggi dan waktu menitik sangat lambat; ketika tak ada satupun yang saya lakukan terasa benar, itulah pertanda bahwa saya harus mencari pena dan kertas lalu menuangkan kata-kata yang menghambur deras.

Terkesan berlebihan? Mungkin saja. Tapi itulah yang terjadi di masa awal kepenulisan saya. Pada tahun 1996, terdapat banyak malam seperti itu. Malam dimana saya mengalami ’birahi menulis’ jika boleh disebut demikian.

Di masa itu, tulisan bergaya tutur ’norak’ dan alur ngalor-ngidul lahir dari pena saya. Tulisan pertama saya adalah – tentu saja – tentang cinta yang berangkat dari pengalaman pribadi. Kata-kata lahir sendiri, nyaris tak terkendali, sampai tahu-tahu terciptalah cerita pendek sebanyak empat halaman berjudul ”Taman” (belakangan, cerpen ini menjadi pembuka buku ”Warna Cinta(-mu Apa?)).

            Cerpen ini pertama kali dibaca seorang rekan saya di kantor (2001). Reaksinya adalah tertawa mengikik, menggoda saya sambil berteriak ”Oh” atau ”Kejam!” dengan ekspresi dibuat-buat. Saya tidak merasa sakit hati. Pertemanan kami sangat dekat sehingga saya selalu pasrah dan akhirnya ikut mengikik malu-malu setiap kali ia meniru potongan dialog yang menurutnya terlalu dramatis itu.

Mundur enam tahun sebelumnya, saya pun pernah belajar menulis puisi. Berkat sebuah buku tulis berisi puisi karya pacar abang saya yang tergeletak di tempat tidurnya – yang saya ’culik’ sejenak dan salin isinya cepat-cepat – saya belajar membuat puisi cinta dan patah hati (ternyata buku itu diberikan sebagai tanda putus sang pacar kepada abang saya). Itulah pelajaran pertama saya dalam menulis puisi.

Yang menarik, dalam keluarga saya tidak ada tradisi membaca atau menulis yang konon seringkali melahirkan seorang penulis. Awalnya, saya tidak tampak menggilai buku kecuali kenyataan bahwa saat masih kecil, di antara enam bersaudara, sayalah yang paling sering meminjam buku cerita dari perpustakaan sekolah. Hal menarik lainnya, di umur dua puluhan, saya sering menggunting halaman koran yang memuat cerpen yang saya anggap menarik. Saya mengklipingnya, menyimpannya lalu membacanya lagi di kemudian hari.

Walau seringkali melihat cerpen penulis-penulis terkenal dimuat di koran, belum terpikir untuk mencoba peruntungan dengan mengirimkan karya saya sendiri. Di malam “birahi menulis’ datang, saya hanya butuh menulis. Itu saja! Tulisan-tulisan itu saya cetak dan jilid seadanya sebagai bacaan pribadi. Beberapa teman kuliah (saat itu saya bekerja sambil kuliah) pernah membacanya. Seorang dari mereka kemudian meminta sejumlah karya saya untuk dimuat dalam terbitan sastra kampus. Saya pun memberikannya.

Setelah menikah di tahun 2008, suami saya mendorong untuk membukukan karya saya dan menyarankan agar mengirimkan yang lainnya ke koran. Saya sempat berpikir, kenapa tidak menjadikan urusan kepengarangan ini sebagai profesi?

Saya mencobanya, mengirimkan karya saya ke berbagai koran. Ragu sempat memenuhi perasaan saya. Sejumlah judul saya kirimkan, tak satupun dimuat atau ketahuan rimbanya. Sejumlah lain saya kirimkan lagi, hasilnya sama. Saya mulai meneliti satu per satu gaya tulisan cerpen yang dimuat di koran; dari satu koran ke koran lainnya. Kabarnya, mereka memiliki standard dan gaya penulisan tertentu. Lalu, saya pun menulis lagi dengan gaya yang (berdasarkan penelitian saya) mereka kehendaki. Namun, karya yang saya kirimkan terapung-apung entah dimana dalam kotak surat elektronik sejumlah redaksi koran. Entah dibaca tapi tak layak muat atau dilewatkan tanpa dibaca. Saya sedih. Tidak dimuat adalah satu hal, ketiadaan kabar-berita adalah hal lain yang lebih menyakitkan. Sebab bagaimanapun, adanya jawaban adalah penghargaan tersendiri bagi upaya penulis.

Hati saya patah. ’Birahi menulis’ saya menurun. Pada malam-malam sunyi dimana waktu berjalan sangat lambat dan udara terasa pas untuk menulis, saya malah tenggelam dalam pemikiran yang menyusahkan hati: mungkin koran tidak memberi kesempatan pada penulis tanpa reputasi; mungkin koran hanya menerima tulisan dewa-dewi sastra meski tulisan mereka kadang kurang sedap dibaca; atau mungkin…. tulisan saya memang hanya sampah, tak layak dipublikasikan kepada pembaca kecuali teman-teman yang ingin menghibur hati saja.

Di antara karya yang saya kirimkan, saya juga rutin mengirimkan cerita anak ke Kompas Minggu. Untuk yang satu ini, saya cukup senang. Saya tidak perlu menunggu dan berharap-cemas sebab redaksi selalu memulangkan setiap karya yang tidak dimuat. Duapuluhan amplop dikembalikan ke alamat rumah saya hingga akhirnya pada 2 Mei 2010 sebuah wesel datang, mengabarkan bahwa dongeng ”Semut yang Sombong dan Pemalas” dimuat. Itu adalah hal paling membahagiakan dalam perjalanan saya sebagai penulis: bahwa akhirnya karya saya ’dihargai’. Dari puluhan karya yang pernah saya kirimkan ke koran, akhirnya saya mendapatkan honor sebesar dua ratus lima puluh ribu rupiah untuk sebuah dongeng yang dianggap layak baca!

”Semut yang Sombong dan Pemalas” menjadi karya pertama dan terakhir yang pernah ’dihargai’ oleh koran bergengsi dalam kurun 2008-2016. Namun sebuah penghargaan lainnya saya dapatkan ketika seorang jurnalis/sastrawan ternama mendukung terbitnya buku kumpulan cerpen ”Warna Cinta(-mu Apa?)” pada tahun 2012. Beliau kemudian menjadi salah seorang penyemangat saya dalam menulis.

Saat ini, berbagai pemikiran tentang hidup-mati, sosial, politik, budaya dan lingkungan menjadi minat saya sehingga menuntut saya untuk lebih banyak belajar dan membaca. Menulis tidak lagi soal datangnya malam ’birahi menulis’ saja melainkan juga proses belajar terus-menerus.

            Untuk dapat hidup layak, saya pernah memiliki berbagai jenis pekerjaan. Tetapi menulis telah lekat dalam darah dan pori-pori: mungkin ia tak menafkahi lahir, tetapi memperkaya batin.

Seiring waktu dan pengalaman menjadi penulis yang kesulitan mendapatkan tempat untuk karyanya, pemikiran tentang honor serta dimuat atau tidak, bukan lagi hal utama. Kini, saya punya banyak kesempatan yang tak dimiliki oleh mereka yang tidak menulis. Sebagai warga negara biasa yang tak mengerti kemana harus menyuarakan pemikirannya secara langsung, saya bisa menyampaikan apa yang ingin saya katakan dengan menulis; sebagai individu yang diharuskan menuntut ilmu, saya memiliki alasan untuk terus belajar; sebagai perempuan yang tidak pernah melahirkan anak dari rahimnya, saya bisa meninggalkan jejak berupa karya yang membuktikan bahwa saya pernah ada di dunia.

Jika memang manusia hidup seperti kerikil yang dilempar ke lautan dan menciptakan riak-riak kecil yang akhirnya lenyap (tanpa bekas) di muka bumi, sebagaimana dikatakan Komarudin Hidayat, bukankah karya adalah jejak terbaik untuk ditinggalkan? (*)

*Nilla A. Asrudian: Penulis lepas dan pegiat tari, bisa disapa melalui akun twitter @dNillaz

 

Share Post
Written by

Galeri Buku Jakarta (GBJ) merupakan portal berita literasi; “halaman kebudayaan” yang memuat dan menayangkan karya-karya tulis (literature) mau pun ragam karya seni lain dalam bentuk fotografi, video, mau pun lukisan dengan tujuan mendampingi proses pembangunan manusia Indonesia. Kirim karyamu ke email redaksi: galeribukujakarta@gmail.com Twitter @galeribuku_jkt

No comments

LEAVE A COMMENT