© 2016 GALERI BUKU JAKARTA. ALL RIGHTS RESERVED.
 

Basis Pemikiran Edward Said dalam “Orientalism”

Selama beberapa tahun, banyak orang yang dijuluki sebagai  “self-Satisfied Liberal Elite” atau orang yang menganggap dirinya sebagai seorang elite liberal (atau semacam itu) – percaya bahwa argumen Edward Said di dalam buku Orientalism (1978) menjadi bisa diterima dan sesuai dengan konteks hari ini.

Namun, jika bicara dalam konteks lebih luas, Said kemudian berargumentasi bahwa perbedaan konsepsi kita terhadap budaya dan sejarah antara “Barat” dan “timur” diproduksi oleh intelektual Eropa dan sastra Eropa. Konsepsi tersebut kemudian dibesar-besarkan dan terdistorsi oleh ragam perbedaan-perbedaan. Atas dasar itu, kemudian terbentuk sebuah narasi di mana “barat” lebih beradab, disiplin, rajin dan tercerahkan dan “timur” adalah eksotis, mundur, hawa nafsu, malas, pasif, berbahaya dan irasional.

Buku “Orientalism” Karya Edward W. Said. (Getty Image)

Tradisi dari orientalisme yang kembali terbentang pada abad pertengahan—datang untuk membenarkan kolonialisme, tanah dan pencurian sumber daya, perbudakan, dan agresi imperialis atas nama peradaban dan keselamatan, bahkan para orientalis Eropa dan para penulis memiliki pemahaman yang bernuansa budaya lain, nuansa seperti ini hilang dalam mempopulerkan dan penggunaan instrument dari gagasan mereka.

Intervensi teoritis Said ke dalam diskursus orientalis menunjukkan bahwa “benturan peradaban” merupakan metafor yang mencakup interaksi ratusan tahun antara “barat dan sisanya” atau dari dunia yang memiliki sejarahnya sendiri—hal tersebut kemudain dijadikan sebagai alasan untuk mendominasi dan mengeksploitasi.

Barat dan timur merupakan dua peradaban yang terlihat masuk akal. Kristen, salah satu kunci dari landasan perdaban barat, merupakan sebuah agama Timur. Aristoteles, sebagai fondasi dari pemikiran barat, telah dipertahankan selama bertahun-tahun oleh cendekiawan islam, di mana mereka sering melakukan dialog dengan pemikir Yunani, di mana mereka juga sering berdialog dengan para pemikir dari Afrika Utara.

Hubungan timbal balik dan korespendensi antara benua dan budaya yang tak terhitung banyaknya. Tetapi dengan munculnya apa yang kita sebut sebagai “populisme” dalam beberapa dekade terakhir, nuansa dari sejarah intelektual telah hilang.

Hingga hari ini,  kita nyaris tidak pernah melihat seorang intelektual seperti Edward Said. Ia adalah seorang intelekutal berkebangsaan Palestina yang berbicara dan menulis secara kritis sebagai seseorang yang berasal dari Timur Tengah dengan keahlian dalam literature barat dan sejarah. Fakta tentang diri seorang Edward Said menjadi pusat dari pemikiran wacana orientalis, seperti yang Said katakan pada tahun 1978:

Orientalisme dan Islam memiliki semacam kenyataan extra, status fenomenologis yang berkurang menempatkan mereka keluar dari jangkauan semua orang kecuali ahli barat. Dari awal, Spekulasi Barat tentang Orientalisme, adalah Orientalisme tidak bisa merepresentasikan dirinya sendiri.

Kita dapat menerima apa pun tentang “timur” dengan menggunakan kata lain, kecuali jika kata tersebut disaring terlebih dulu melalui lensa administrasi dari “ahli” Eropa-Amerika, di mana sering diantara mereka yang memiliki pandangan ekstrimis, memiliki sedikit keahlian ilmiah, dan gagasan mereka sering datang dari novel dan filosophy orientalist.

Teori-teori Said dalam Orientalisme telah menerima cukup banyak kritik dari seluruh spektrum politik. Dia telah dituding sebagai seorang yang membalikkan rasisme melawan “bule” atau orang kulit putih yang selama ini selalu dianggap sebagai intelektual.

Said menelusuri sejarah kolonialisme dari Euro-Amerika dengan tingkat kedalaman yang menunjukkan kontinuitas yang luar biasa sebagai jalan dari kekuatan Kolonial Eropa dan Amerika.—para penerus dari abad ke 20—mengkonstruksi gagasan dari exceptionalism dan keunggulan melalui retorika yang sama.

Untuk sebuah gambaran dari pemikiran Said tentang Orientalisme, ia menjelaskan secara tidak langsung bahwa dirinya adalah “seorang pemimpin global dalam pemikiran kritis.” Sebagai produk sastra “Orientalisme nyaris merupakan sebuah penemuan Eropa”, Said menuliskan pendahuluannya, namun sebagai sebuah wilayah, buku itu menjelaskan “adalah bagian tak terpisahkan dari budaya dan peradaban Eropa”. Pada akhirnya tidak ada satu orang atau peradaban pun tanpa (terhubung) dengan yang lain. (*)

————————————-

Diterjemahkan dari “Animated Introductions to Edward Said’s Groundbreaking Book Orientalism” oleh Gui Susan dan Sabiq Carebesth (ed).

Written by

Penterjemah, seorang pekerja sosial dan pecinta buku. @GuiSusan

No comments

LEAVE A COMMENT